Anda di halaman 1dari 16

Kata Pengantar

Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kelangsungan hidup masyarakat Indonesia. Pemerintah pun telah mencanangkan program Indonesia sehat, demi meningkakan kulitas dan mutu kesehatan di Indonesia. Namun masih saja banyak kendala seperti penyakit yang menyerang masyarakat, terutama masyarakat daerah kumuh dan miskin. Banyak upaya dan cara dilakukan untuk meberantasnya, baik dalam segi pencegahan maupun pengobatan. Tetapi, tetap saja masih banyak terjadi kasus penyakit yang merugikan masyarakat hingga menyebabkan kematian. Dalam makalah ini menjelaskan tentang Rrickettsia yang sering menyerang masyarakat yang kurang menjaga kebersihan. Makalah ini menjelaskan mengenai pengertian, penyebab, cara penyebaran, gejala-gejala, jenis dan cara pencegahan serta pengobatan itu sendiri. Namun, kami menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sekiranya dapat kami gunakan sebagai masukan untuk makalah ini. Untuk itu, atas partisipasi, saran dan kritiknya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Januari 2013

Penulis,

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Bakteri merupakan mikroba prokariotik uniselular, termasuk klas Schizomycetes, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Bakteri tidak berklorofil kecuali beberapa yang bersifat fotosintetik. Cara hidup bakteri ada yang dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam, dalam tanah, atmosfer (sampai + 10 km diatas bumi), di dalam lumpur, dan di laut. Bakteri mempunyai bentuk dasar bulat, batang, dan lengkung. Bentuk bakteri juga dapat dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan tertentu. Bakteri dapat mengalami involusi, yaitu perubahan bentuk yang disebabkan faktor makanan, suhu, dan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri. Selain itu dapat mengalami pleomorfi, yaitu bentuk yang bermacam-macam dan teratur walaupun ditumbuhkan pada syarat pertumbuhan yang sesuai. Umumnya bakteri berukuran 0,5-10 . Berdasarkan klasifikasi artifisial yang dimuat dalam buku Bergeys manual of determinative bacteriology tahun 1974, bakteri diklasifikasikan berdasarkan deskripsi sifat morfologi dan fisiologi. Dalam buku ini juga terdapat kunci determinasi untuk mengklasifikasikan isolat bakteri yang baru ditemukan.. Sedangkan Virus ukurannya sangat kecil dan dapat melalui saringan (filter) bakteri. Ukuran virus umumnya 0,01-0,1 . Virus tidak dapat diendapkan dengan sentrifugasi biasa. Untuk melihat virus diperlukan mikroskop elektron. Sifat-sifat virus yang penting antara lain:

1. Virus hanya mempunyai 1 macam asam nuklein (RNA atau DNA). 2. Untuk reproduksinya hanya memerlukan asam nuklein saja. 3. Virus tidak dapat tumbuh atau membelah diri seperti mikroba lainnya. Virus memiliki sifat-sifat khas dan tidak merupakan jasad yang dapat berdiri sendiri. Virus memperbanyak diri dalam sel jasad inang (parasit obligat) dan menyebabkan sel-sel itu mati. Sel inang adalah sel manusia, hewan, tumbuhan, atau

pada jasad renik yang lain. Sel jasad yang ditumpangi virus dan mati itu akan mempengaruhi sel-sel sehat yang ada didekatnya, dan karenanya dapat mengganggu seluruh kompleks sel (becak-becak daun, becak-becak nekrotik dan sebagainya.

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang di atas maka penulis akan mengangkat rumusan masalah yaitu sebagai berikut: 1. Penjelasan secara singkat masalah bakteri Rickettsia Tujuan Penulisan Makalah 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui dan menambah wawasan penulis jauh lebih luas mengenai bakteri dan virus secara umum. 2. Tujuan khusus a. b. dan virus tersebut. c. Untuk mengetahui epidomologi, pencegahan, dan dignosis bakteri riccketsia Untuk mengetahui struktur bentuk, gambaran Mencari tahu bagaimana pengobatan, bakteri klinik, penularan bakteri riccketsia.

C.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. Rickettsia Rickettsia adalah genus bakteri gram-negatif. Rickettsia bersifat parasit intraselular obligat, dan dapat menyebabkan penyakit Rickettsia. Menjadi Parasit intra seluler obligat , kelangsungan hidup Rickettsia tergantung pada entri, pertumbuhan, dan replikasi dalam sitoplasma dari eukariotik sel inang (sel endotel biasanya). Metode perkembangan Rickettsia dalam embrio ayam ditemukan oleh Ernest William Goodpasture dan koleganya di Universitas Vanderbilt pada tahun 1930-an. A. Klasifikasi Kingdom : Bacteria Phylum Class Ordo Family Genus : Proteobacteria : Alpha Proteobacteria : Rickettsiales : Rickettsiaceae : Rickettsia

B. Morfologi Rickettsia Berdasarkan morfologi dinding selnya menunjukkan bahwa bakteri ini merupakan bakteri gram negatif berbentuk basil. Rickettsia merupakan genus organisme non-meotile, tidak memiliki bentuk spora, termasuk bakteri pleomorfik yang dapat berbentuk coccus (diameter 0,1) maupun batang (diameter 1,4 ). Bakteri ini memiliki membran luar dan lapisan muiren yang tipis. Muiren merupakan polimer yang ditemukan pada dinding sel dari organisme prokariotik. Lipoposakarida yang merupakan ciri bakteri gram negatif dapat ditemukan jelas pada membran luarnya.

Rickettsia dapat berbentuk batang, kokoid atau pleomorf. Rickettsia bersifat Gram negatif, berukuran 1 0,3 mikron, merupakan parasit intraseluler obligat kecuali Rochalimaea quintana yang dapat hidup dalam pembenihan tanpa sel. Kelangsungan hidup Rickettsia tergantung pada entri, pertumbuhan, dan replikasi dalam sitoplasma dari eukariotik sel inang (sel endotel biasanya). Karena itu, Rickettsia tidak bias hidup dalam lingkungan nutrisi buatan dan tumbuh baik dalam jaringan atau embrio budaya (biasanya, embrio ayam yang digunakan). Di masa lalu rickettsia ditempatkan di suatu tempat antara virus dan bakteri . Namun tidak seperti Chlamydia , Mycoplasma , dan Ureaplasma , organisme rickettsia memiliki dinding sel yang mirip dengan lainnya bakteri gram negatif. Mayoritas bakteri Rickettsia rentan terhadap antibiotik dari kelompok tetrasiklin.

C. Metabolisme Rickketsia a. Enzim Rickettsia mempunyai enzim yang penting untuk metabolisme. Dapat mengoksidasi asam piruvat, suksinat dan glutamat serta mengubah asam menjadi asam apartat. Rickettsia juga dapat tumbuh dalam biakan sel. Seperti bakteri, perbandingan kadar RNA dan DNA pada Rickettsia adalah 3,5 : 1. Dinding sel serupa dengan dinding sel kuman Gram negatif yang terdiri dari peptidoglikan yang mengandung asam muramat. b. Pertumbuhan Meskipun sangat kecil dan selalu terdapat didalam sel, Rickettsia bukanlah termasuk virus melainkan golongan bakteri. Rickettsia mempunyai sifat-sifat yang sama dengan sifat-sifat bakteri yaitu mengandung asam nukleat yang terdiri dari RNA dan DNA , berkembang biak dengan pembelahan biner , dinding sel mangandung mukopeptida, mempunyai ribosom, mempunyai enzim yang aktif pada metabolisme, dihambat oleh obat-obat anti bakteri dan dapat membentuk ATP sebagai sumber energi. Spesies Rickettsia dibawa oleh beberapa jenis parasit seperti kutu dan dapat menyebabkan penyakit seperti thypus, rickettsialpox, Boutonneuse fever dan Rocky Mountain spotted fever pada tubuh manusia. Bakteri ini juga dihubungkan dengan

beberapa penyakit pada tanaman. Seperti virus, bakteri ini juga dapat hidup pada sel yang hidup. Nama Rickettsia sering digunakan untuk banyak jenis dari ordo Rickettsiales. Rickettsia lebih dapat dimasukkan dalam keluarga bakteri karena Rickettsia mempunyai organella mitokondria yang tetap ada pada sebagian besar sel eukariot. Metode untuk menumbuhkan Rickettsia pada embrio ayam ditemukan oleh Ernest William Goodpasture dan universitas Vanderbilt pada awal tahun 1930. Segmen tertentu dari genom Rickettsia menyerupai mitokondria. Genom dari Rickettsia prowazekii adalah 1,111,523 bp panjang dan berisi 834 protein-kode gen. Genus Rickettsia sendiri dinamai menurut Howard Taylor Ricketts (1871-1910) yang bekerja dan mati disebabkan penyakit thypus.

c. Pemeliharaan Jika disimpan pada suhu 00 C Rickettsia akan kehilangan aktivitas biologiknya yang serupa aktivitas hemolitik dan respirasinya, toksisitas dan infektivitasnya. Semua aktivitas tersebut dapat dipulihkan jika ditambahkan Nicotinamida adenine dicnucleatide (NAD) . Aktivitas biologiknya juga dapat hilang jika disimpan pada suhu 360C kecuali jika ditambahkan glutamat, piruvat atau ATP. Rickettsia tumbuh dalam berbagai bagian dari sel. Rickettsia prowazekii dan Rickettsia typhi ( Rickettsia mooseri ) tumbuh dalam sitoplasma sedangkan golongan penyebab stopped fever tumbuh dalam inti sel. Rochalimaea quintana dapat tumbuh dalam pembenihan tanpa sel. Rickettsia dapat tumbuh subur jika metabolisme sel hospes dalam

tingkat rendah, misalnya dalam telur bertunas pada suhu 320C. Perkembangan kuman akan sangat berkurang jika suhunya dinaikkan sampai 400C. Pemberian sulfonamida akan memperberat penyakit yang disebabkan oleh Rickettsia karena obat ini meningkatkan pertumbuhan kuman. Sebaliknya para- amino benzoic acid ( PABA ) yang struktur molekulnya analog sulfonamida yang dapat menghambat pertumbuhan rickettsia. Efek hambatan ini dapat dihilangkan oleh parahydroxybenzoic acid. Tetrasiklin dan khloramfenikol dapat menghambat pertumbuhan kuman , keduanya dapat dipakai untuk pengobatan rickettsiosis. Pada umumnya rickettsia dapat dimatikan dengan cepat pada pemanasan dan pengeringan atau oleh bahan-bahan bakterisid. Rickettsia mudah mati jika disimpan pada suhu kamar tetapi dalam tinja serangga yang telah mengering dapat tetap infektif selama berbulan bulan meskipun dalam suhu kamar. Penyebab fever tahan terhadap tindakan pasteurisasi pada suhu 600C selama 30 menit.

RICKETTSIA Suharno Josodiwondo ORDO FAMILI GENUS : Rickettsiales : Rickettsiaceae : Rrickettsia

Meskipun sangat kecil dan selalu terdapat didalam sel, Rickettsia bukanlah termasuk virus, melainkan tergolong bakteri. Rickettsia mempunyai sifat yang sama dengan sifat-sifat bakteri, mengandung asam mukleat yang terdiri dari RNA dan DNA, berkembang biak dengan pembelahan biner, dinding sel mengandung mukopeptida, mempunyai ribosom, mempunyai enzim yang aktif pada metabolisme, dihambat oleh obat-obat anti bakteridan dapat membentuk ATP sebagai sumber energi. Rickettsia dapat berbentuk batang, kokoid atau pleomorf, bersifat negatif gram, berukuran 1-0,3 mikron, merupakan parasit intraseluler obligat, kecuali Rochalimaea quintana yang dapat hidup dalam perbenihan tanpa sel. Penyakit yang ditimbulkanya ditandai dengan demam dan kelainan pada kulit (skin rash). Rickettsiosis ditularkan lewat gigitan

serangga pada kulit, hanya penyebab Q fever yang ditularkan lewat udara (air borne), sehingga pada penyakit ini tidak ditemukan kelainan kulit. Beberapa jenis mamalia dan arthhropoda merupakan hospes alam untuk Rickettsia, bahkan yang terakhir dapat bertindak sbagai vektor dan reservoir. Infeksi pada manusia hanya bersifat insidentil, kecuali pada tifus epidemik yang faktor utamanya kutu manusia juga, yaitu Pediculus vestimenti. Penyakit demam semak (scrub typhus) disebabkan oleh Rickettsia tsutsugamushi, dapat dijumpai dibernagai tempat di Indonesia, misalnya di Sumatera Utara, Kalimantan, Pulau Jawa, Sulaweai dan Irian Jaya. Larva tungau trombiculid merupakan vektor utama pada penyakit demam semak, sedangkan tikus rumah atau tikus ladang bertindak sebagai reservoirnya.

Sifat-sifat Kuman Dalam pewarnaan Giemsa, Rickettsia terlihat berwarna biru. Dapat dilihat dengan mikroskop biasa. Tumbuh dalam kntung kuning telur bertunas dan dengan cara sentri fungsi dapat diperoleh kuman murni. Rickettsia juga dapat tumbuh dalam biakan sel. Seperti bakteri, perbandingan kadar RNA dan DNA pada Rickettsia adalah 3,5:1. Dinding sel serupa dengan diding sel kuman negatif Gram, terdiri dari peptidoglikan yang mengandung asam muramat. Rickettsia mempunyai enzim yang penting untuk metabolisme, dapat mengoksidasi asam piruvat, suksinat dan glutamat serta mengubah asam glutamat menjadi asam aspartat. Jika disimpan pada suhu 0C, Rickettsia akan kehilangan aktivitas biologikanya yang berupa aktivitas hemolitik dan respirasinya, toksisitas dan infektivitasnya. Semua aktivitas tersebut dapat dipulihkan jika ditambahkan nicotinamide adenine dinucleotide (NAD). Aktivitas biologinya jga dapat hilang jika disimpan pada suhu 36C, kecuali jika ditambahkan glutamat, piruvat atau adenosine triphosphate (ATP). Rickettsia tumbuh dalam berbagai bagian dari sel. Rickettsia prowazekii dan Rickettsia typhi (Rickettsia mooseri) tumbuh dalam sitoplasma, sedangkan golongan penyebab spotted fever tumbuh dalam inti sel. Rochalimaea quintana dapat tumbuh dalam perbenihan tanpa sel. Rickettsia dapat tumbuh subur jika metabolisme sel hospes dalam tingkat yang rendah, misalnya dalam telur bertunas dalam suhu 32C. Perkembangan kuman akan sangat berkurang jika suhunya dinaikan sampai 40C. Pemberian sulfonamida akan memperberat penyait yang disababkan oleh Rickettsia karena obat ini meningkatkan pertumbuhan kuman. Sebaliknya para-aminobenzoic acid (PABA) yang setruktur molekulnya analog sulfonamida, dapat menghambat pertumbuhan rickettsia. Efek hambatan ini dapat dihilangkan oleh parahydroxybenzoic acid. Tetrasiklin dan khloramfenikol dapat menghambat pertumbuhan kuman, keduanya dapat dipakai untuk pengobatan rickettsiosi.

Pada umumnya rickettsia dapat dimatikan dengan cepat pada pemasan dan pengeringan atau oleh bahan-bahan bakterisid. Rickettsia muda mati jika disimpan dalam suhu kamar, tetapi dalam tinja serangga yang telah mengering dapat tetap infektif selama berbulan-bulan, meskipun disimpan dalam suhu kamar, penyebah Q fever tahan terhadapa tindakan pasteurisasi pada suhu 60C selama 30 menit.

Antigen dan Antibody Ada 3 macam antigen utama, yaitu antigen grup, antigen spesies, dan antigen yang serupa dengan proteues. Antigen grup larut dalam ether dan dapat ditemukan dilingkungan kuman. Antigen ini berasal dari permukaan lapisan pembungkus kuman. Masing-masing anggota dari golongan tyfus dan spotted fever mempunyai antigen grup yang sama. Anggota golongan scrub thypus mempunyai antigen grup yang sangat heterogen. Antigen spesies yang pada golongan scrub thypus merupakan antigen strain ternyata bertalian dengan badan kuman. Untuk ,memperoleh antigen ini, suspensi kiman di cuci bersih sehingga antigen grup ikut tersingkir. Antigen beberapa golongan rickettsia ada yang serupa dengan antigen beberapa strain kuman Proteus. Kenyataan ini dimanfaatkan untuk reaksi Weil-Felix. Antibodi pada rickettsiosis mulai muncul pada minggu kedua sakit dan akan mencapai puncaknya sewaktu atau sesudah penyembuhan berlangsung . untuk kepentingan diagnosis, titer antibodi dalam serum yang diambil pada saat demam tinggi dan dibandingkan dengan titer dalam masa konvalensen. Jika serum penderita dites dengan antigen dari beberapa strain, maka antigen yang memberikan reaksi paling kuat dianggap sebagai antigen penyebabnya. Reaksi Weil-

Reaksi weil-felix sebenarnya merupakan reaksi aglutinasi kuman proteus. Antibodi penderita rickettsiosis dapat bereaksi dengan antigen O polisakarida kuman proteus strain X. Strain ini hanya bereaksi dengan antigen O yang tidak tertutup oleh antigen H flagel dan disebut strain Proteus OX. Infeksi proteus yang sering terjadi didalam traktus urinarius dapat mengacaukan hasil reaksi ini, meskipun demikian tes ini masih tetap berguna dan masih merupakan cara diagnostik yang mudah. Pada reaksi Weil-Felix dipakai 3 macam strain Proteus, strain OX-2, OX-19 dan OX-K. Hasil reaksi ini dapat dipakai untuk membedakan beberapa macam rickettsiosis, OX-19 positif pada tifus epidemik dan endemik, OX-K positif pada demam semak, OK-2 dan OK-19 positif pada Rocky Mountain spotted fever, Mediterranean fever dan South African tick fever, sedangkan reaksi Weil-Felix negatif pada ricketssialpox dan Q fever.

Untuk tes aglutinasi juga dapat dipergunakan suspensi Rickettsia, hasilnya dapat memberikan reaksi dengan antibodi spesifik. Reaksi ini sangat sensitif dan dapat digunakan untuk membantu diagnosis. Untuk tes pengikatan komplemen dipergunakan antigen yang berasal dari dinding sel yang merupakan campuran protein. Bahan untuk antigen diperoleh dari biakan kuman pada kantong kuning telur bertunas atau pada biakan sel. Untuk tes imunofluoresensi indirek dipakai suspensi rickettsia yang dibuat dari biakan kuman pada kantong kuning telur bertunas yang telah dimurnikan. Untuk tes ini diperlukan globulin antihuman yang telah dilabel dengan flourescein. Dengan tes ini terutama dapat ditentukan group atau golongannya. Untuk tes hemaglutinasi pasif ada yang memakai sel darah merah manusia golongan O. Sel darah merah dipekakan dengan antigen dari ekstrak rickettsia yang dibuat dengan cara pemanasan dalam suasana alkali. Rickettsia yang masih hidup dapat membuat toksin yang serupa dengan endotoksin bakteri. Toksin ini yang serupa dengan endotoksin bakteri. Toksin ini berupa lipopolisakarida kompleks yang dapat menyebabkan kematian binatang percobaan dalam waktu beberapa jam setelah inokulasi Rickettsia. Antibodi antitoksin terbentuk selama terjadi infeksi dan bersifat khas terhadap khas terhadap toksin yang berasal dari golongan tifus, spotted fever dan scrub fever. Jika suspensi kuman yang telah dicampur dengan antibodi antitoksin disuntikan pasa binatang percobaan, maka binatang tersebut tidak akan mati karena toksin. Percobaan ini disebut tes netralisasi toksin.

Gambaran patologi Rickettsia berkembang biak di dalam sel endotel pembuluh darah kecil. Sel membengkak dan nekrosis, terjadi trombosis pembuluh darah yang dapat mengakibatkan ruptur dan nekrosis. Di kulit nampak nyata adanya lesi vaskuler. Vakulitis yang terjadi pada beberapa organ merupakan dasar terjadinya gangguan hemostatik. Dapat jaringan otak dapat ditemukan penumpukan limfosit, lekosit polimorfonuklear dan magrofag yang bertalian dengan kelainan pembuluh darah pada masa kelabu. Kelainan ini disebut nodul tifus. Pada pembuluh darah kecil jantung dan organ-organ lainnya pun dapat terkena kelainan yang serupa.

Imunitas Infeksi rickettsia pada manusia diikuti dengan timbulnya kekebalan yang tidak lengkap (hanya sebagian) terhadap reinfeksi yang berasal dari suatu sumber luar. Selain itu seringkali terjadi relaps. Dalam suatu biakan sel magrofag, rickettsia juga dapat difagositosis dan selanjutnya dapat berkembang biak intraseluler meskipun ada antibodi. Jika kedalamnya dimasukkan limfosit yang berasal dari binatang yang telah kebal, maka pembiakan tersebut akan terhenti.

Gambaran Klinik Semua infeksi Rickettsia ditandai dengan adanya demam, sakit kepala, malaise, lesu, kelainan di kulit (skin rash), pembesaran limpa dan hati, hanya pada Q fever tidak disertai adanya kelainan dikulit. Kadang kadang disertai dengan adanya perdarahan dibaeah kulit. Pada kasus-kasus yang berat dapat dijumpai gejala stupor, delirium dan bahkan shock atau bercak-bercak gangren di kulit atau jaringan subkutan. Mortalitasnya sangat variabel, mulai kurang dari 1% sampai setinggi 90%. Setelah sembuh pada umumnya timbul kekebalan. Masa tunas antara 1 sampai 4 minggu. Golongan tifus (typhus group) Golongan ini merupakan rickettsia penyebab tifus epidemik dan tifus endemik, yaitu Rickettsia prowazekii dan Rickettsia typhi. Kuman ini berkembang biak didalam sitoplasma sel hospes. Penyakit yang ditimbulkan disebut demam tifus. Masa tunas antara 5-18 hari. Pada dasarnya gambaran klinik demam tifus sama, hanya pada tifus endemik gejala penyakitnya lebih ringan jika dibandingkan dengan tifus episdemik dan jarang berakibat fatal.

Hal : 224

Tifus epidemik Demam tifus epidemik juga disebut louse-borne typhus, camp fever atau jail fever. Dahulu penyakit ini sempat menimbulkan korban yang sangat besar, misalnya pada tahun 1915 di Serbia terdapat 315.000 korban yang meninggal karena penyakit ini. Pada saat ini penyakit ini re;atif jarang ditemukan lagi, kebanyakan kasus hanya ditemukan di Afrika Utara. Penyakit ini ditularkan oleh kutu manusia, Pediculus vestimenti yang bersarang di dalam lipatan pakaian, dalam sehari kutu beberapa kali keluar untuk menghisap darah dari kulit hospes. Jika darah yang diisapnya mengandung kuman, maka sel-sel usus akan terkena infeksi, kuman berkembang biak didalamnya, sewaktu sel pecah kuman keluar dan

bercampur dengan tinja kutu. Sambil menghisap darah kutu mengeluarkan tinja. Gigitan kutu menimbulkan rasa gatal, sewaktu hospes menggaruk, tinja infeksius secara tidak sengaja masuk ke dalam luka gigitan dan menimbulkan infeksi pada hospes. Kelenjar ludah kutu tidak terkena infeksi dan tidak terjadi transmisi secara transovarium. Kutu yang telah infeksi mati dalam waktu 1-3 minggu. Rickettsia prowazeki dapat menimbulkan infeksi pada mamalia sebagai binatang percobaan, namun sampai saat ini hanya manusia yang dikenal sebagai reservoir alamnya. Kutu kepala juga dapat menularkan tifus epidemik, tetapi jauh kurang efektif jika dibandingkan dengan kutu badan. Pada tifus epidemik gejala penyakitnya berat dan demam berakhir dalam waktu 2 minggu. Bagi para penderita yang berumur 40 tahun keatas sering berakibat fatal. Selama masa epidemi mortalitasnya dapat mencapai 6-30%. Penyakit BrillZinser juga disebut tifus laten, merupakan relaps dari tifus epidemik sebelumnya. Gejala penyakitnya lebih ringan jika dibandingkan dengan tifus eppidemik yang klasik dan berlangsung lebih pendek, kurang dari 2 minggu. Tifus endemik Tifus endemik juga disebut murine typhus, ras typhus atau fleaborne typhus. Penyebabnya Rickettsia typhi yang dahulunya juga disebut Rickettsia mooseri. Penyakit ini ditularkan dari tikus dan dari tikus ke manusia oleh pinjal tikus (Xenopsylla cheopsis) dan kutu tikus (Polyplaz spinulosa), selain itu kutu manusia pun dapat menularkannya. Diantara pinjal dan kutu tidak terjadi transmisi secara transovarium. Mekanisme infeksinya serupa dengan yang terjadi pada tifus endemik, yaitu lewat tinja dan luka dikulit. Penyakit ini terutama dijumpai di tempat-tempat yang banyak tikus, misalnya didaerah pelabuhan atau di daerah pedesaan yang banyak tanaman biji-bijian. Pemakaian insektisida dapat menurunkan populasi kutu dan pinjal tikus, sedangkan tindakan selanjutnya memberantas tikus dengan racun. Dengan cara demikian kemungkinan terjadinya infeksi Rickettsia pada manusia dapat dicegah atau dikurangi. Dalam 2 dekade terakhir insidensinya terus menurun. Rickettsia typhi dan Rickettsia prowazeki mempunyai antigen yang serupa. Penderita yang telah sembuh dari salah satu infeksi oleh kuman ini ternyata kebal terhadap keduaduanya. Anehnya imunisasi dengan salah satu kuman di atas yang telah terlebih dahulu dimatikan, hanya dapat menimbulkan imunitas yang homolog. Hal ini terjadi karena infeksi alam atau imunisasi dengan kuman hidup pada umunya dapat memberikan kekebalan yang lebih lengkap dan lebih tahan lama daripada imunisasi dengan kuman yang telah dimatikan. Selain daripada itu setiap imunogen hanya mampu membangkitkan antibodi terhadap antigen reaksi silang dengan titer yang lebih rendah daripada terhadap antigennya sendiri. Rickketsia hal 225-226 Gejala penyakitnya lebih ringan jika dibandingkan dengan tifus epidemik. Jarang berakibat fatal, kecuali pada orang tua.

Golongan spotted fever Dalam golongan ini termasuk penyakit-penyakit demam yang disebabkan oleh Rickettsia yamg sukar dibedakan dari penyebab golongan tifus, tetapi dpat berkrmbang biak baik didalam sitoplasma ataupun inti sel hospes. Penyakitnya terutama ditularkan oleh Sangkenit (tick) dan bukan oleh kutu atau pijal. Dalam tubuh sangkenit, kuman tersebar diseluruh organ, termasuk ovarium dan kelenjar ludah, sehingga dapat terjadi transmisi secara transovarium dan lewat air ludah. Jadi selain sebagai vector, sangkenit juga berfungsi sebagai reservoir primer. Dalam golongan ini termasuk Rocky Mountain spotted fever yang disebabkan oleh Rickettsia rickettsia. Mediterranean fever (boutonneuse fever), South African tick bite fever, Kenya tick typhus dan Indian tick typhus, kesemuanya disebabkan oleh R. conorii. Nort Asian tick borne rickettsiosis yang disebabkan oleh Rickettsia sibirica dan Queensland tick typhus yang disebabkan oleh Rickettsia australis. Rickettcialpox dan Russian vesikuler rickettsiosis yang disebabkan oleh rickettsia akari; pada kedua penyakit ini ditemukan kelainan kulit yang berupa vesikel sehingga menyerupai chickenpox (varicella). Dan akhirnya penyakit demam yamg menyerupai Rocky Mountain spotted fever yang disebabkan oleh rickettsia Canada. Golongan spontted fever ini secara klinis. Gejala penyakitnya serupa dengan golongan tifus, hanya kelainan kulitnya mulai yimbul di ekstremitas dan selanjutnya menyebar secara sentripetal. Telapak tangan dan kaki juga terkena. Gejala penyakitnya dapat ringan, misalnya pada Mediterranean fever, dapat juga dengan gejala yang berat, misalnya Brazillian spotted fever. Angka mortalitasnya pun sangat variable,pada orangtua yang menderita Mountain spotted fever angka mortalitasnya dapat mencapai 60%. Golongan demam semak Demam semak atau scrub typus juga dikenal sebagai chigger typhus, miteborne thyphus, tropical typus, Japanes flood (river) fever, rural fever, demam Kedani atau penyakit tsutsugamushi. Penyebabnya mempunyai banyak nama, yaitu Rickettsia tsusutgamushi, Rickettsia nipponica, Rickettsia akamushi, atau Rickettsia orientalis. Penyakit demam semak bersifat endemic, terdapat di timur jauh penyebarannya meliputi daerah segitiga seluas 5 juta mil persegi, mulai dari Australia, Jepang, Korea, Vietnam sampai ke India, didalamnya termasuk Indonesia. Dalam Perang Dunia II, penyakit ini sempat menimbulkan banyak korban diantara pasukan Jepang dan Sekutu. Perkataan tsusutgamushi dari bahasa Jepang, tsutsuga berarti sesuatu yang kecil dan berbahaya, dan mushi berarti makhluk. Sebutam scrub Rocky

berasal dari pendapat bahwa penyakit infeksi hanya terjadi setelah penderita memasuki semak belikar di daerah yang endemik. Dalam perkembangan yang selanjutnya bternyata bahwa infeksi Rickettsia tsusutgamushi juga dapat terjadi di daerah-daerah yang bukan merupakan semak belukar, misalnya di pantai berpasir, pegunungan pasir atau di hutan tropis di daerah khatulistiwa, sehingga untuk dapat memberikan gambaran yang lebih tepat, ada yang mengusulkan istilah chiggerborne typhus, karena penyakit ini ditularkan oleh tungau trombiculid dalam stadium larva (chigger). Tungau trombiculid dewasa meletakkan telurnya diatas tanah lembab yang kaya humus. Telur menetas dan keluar larva. Larva atau chigger merupakan satu-satunya stadium yang mengisap darah dari binatang vertebrata. Setalah mengisap darah, larva menjatuhkan diri ke tanah, berkembang menjadi limfa dan bentuk dewasa. Lingkaran hidupnya meliputi 50-70 hari. Tungau betina yang dewasa hidup lebih dari 1 tahun. Transmisi Rickettsia tsutsumugashi dapat terjadi secara trans-stadium atau transovarium. Tungau dapat berfungsi sebagai vector dan reservoir sekaligus. Di Indonesia terdapat beberapa spesies tungau yang dapat menjadi vector penyakit demam demak, yaitu Leptotrombidium deliense, Leptotrombidium arenicola, Leptotrombidium fletcheri dan Leptotrombidium scuttelare. Laporan ditemukannya Leptotrombidium akamushi masih diragukan kebenarannya, karena secara morfologis sukar dibedakan dari Leptotrombidium fletcheri. Leptotrombidium deliense merupakan vektor utama, terdapat hamper disegala macam habitat dan hospesnyapun paling banyak macamnya. Leptotrombidium arenicola ditemukan didaerah Ancol, Jakarta, habitat berupa semak beralang-alang. Leptotrombidium scuttelare hospes utamanya burung, oleh karena itu jarang ditemukan pada hewan yang berjalan di atas tanah. Sebagai reservoir untuk Rickettsia tsutsumugashi adalah tikus rumah dan tikus ladang. Secara klinis gejala penyakitnya menyerupai tifus endemik. Sering ditemukan adanya limfositosis dan limfadenopati. Satu sampai dua minggu setelah gigitan larva infeksius, timbul demam, menggigil dan sakit kepala hebat. Dalam beberapa hari selanjutnya, timbul kelainan di kulit dan pneumonitis. Demam query (Q fever) Demam query disebabkan oleh Coxiella burnetii yang termasuk keluarga Rickettsiaceae. Dibedakan dari Rickettsia lainnya, karena tahan hidup diluar sel hospes,

penularan pada manusia lewat inhalasi partikel infeksius dan bukan lewat gigitan serangga, gejala penyakit yang ditimbulkannya berupa pneumonitis tanpa kelainan kulit, dan tidak menyebabbkan timbulnya antibody terhadap Proteus strain OX. Binatang percobaan yang kebal terhadap coxiella tidak kebal terhadap infeksi Rickettsia lainnya. Dengan demikian penyebab demam query termasuk dalam genus tersendiri. Binatang ternak yang terkena infeksi coxiella, sekresi hidung dan ludahnya mengandung kuman, demikian juga dengan plasenta dan cairan amnionnya, yang pada waktu binatang sedang melahirkan dapat menyebarkan kuman kebenda-benda di sekitarnya. Kuman ini dapat tetap hidup dan tahan lama dalam sekresi dan ekskresi yang telah lama mongering, dalam wol, air ataupun dalam susu. Pada suhu 700C kuman dapat bertahan selama 48 jam, sedangkan dalam fenol 0,4 % dapat bertahan selama beberapa hari. Menurut penelitian di Australia, tikus berkantung (bandicoot) merupakam reservoir alam, sedangkan sengkenit (tick) dapat bertindak sebagai vektor. Sapi dan domba merupakan hospes insidental yang biasanya terkena infeksi lewat gigitan sengkenit. Sapi yang terkena infeksi dapat menyebarkan kuman lewat air susu yang dikeluarkannya. Kebanyakan kumannya telah dimatikan pada waktu pasteurisasi. Penyakit yang ditimbulkan coxiella pada manusia berlangsung mendadak, demam dan menggigil tanpa kelainan kulit. Yang sering penyakitnya berupa pneumonitis yang menyerupai pneumonia atipik. Jika terjadi endocarditis subakut oleh kuman ini, dapat berakibat fatal. Penyakit ini terutama dapat dijumpai para petugas penyembelihan hewan atau pada para ternak. Pada penderita sakit akut, kuman coxiella dapat ditemukan dalam dahak, air seni atau di dalam darah. Selaim itu serum penderita diperiksa untuk mengetahui adanya kenaikan titer antibodi.

Demam parit (trench fever) Demam parit atau trench fever juga disebut demam lima hari hari, demam quintana atau demam tulang kering (shin bone fever). Disebabkan oleh Rochalimaea qiuntana. Rochalimaea qiuntana berbeda dari Rickettsia lainnya, karena tidak dapat dibiakkan dalam binatang percobaan biasa, biakan sel ataupun dalam telur bertunas, tetapi dapat tumbuh dalam darah dalam suasana udara dengan