Anda di halaman 1dari 21

Case Report

ABSES PERITONSILER Oleh MAYANG CENDIKIA SELEKTA 0818011029

Pembimbing dr. Hadjiman Yotosoedarmo. Sp. THT dr. Rully Satriawan

Kepaniteraan Klinik RSUD A. Yani Metro Fakultas Kedokteran Universitas Lampung April 2012

Anamnesa : 4 hari yang lalu, pasien mengeluh demam dan rasa tidak enak pada tenggorokannya. Kemudian pasien meminum obat paracetamol, saat itu pasien tidak berobat ke dokter karena demam turun, tetapi keluhan pada tenggorokan masih belum membaik 2 hari yang lalu pasien mengeluh nyeri saat menelan, nyeri dirasakan begitu hebat sehingga pasien takut untuk menelan. Pasien juga mengeluh demam, nyeri pada leher sebelah kanan dan keluar air ludah terus menerus dalam jumlah yang banyak, pasien merasakan mulut berbau tidak enak serta sulit untuk membuka mulut. Pasien merasa mual tetapi tidak sampai muntah. Pasien menyangkal adanya nyeri pada telinga dan riwayat batuk pilek sebelumnya. Karena keluhan pasien semakin memberat sehingga pasien datang berobat ke RSAY.

Pemeriksaan Fisik: StatusGeneralis : Dalam Batas Normal Status THT : Telinga Daun Telinga Liang Telinga Belakang Telinga Membran Timpani Tes Pendengaran

: dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

Hidung Hidung Bagian Luar : dalam batas normal Pemeriksaan Rhinoskopi Anterior : dalam batas normal Pemeriksaan Sinus Paranasal : tidak dilakukan Pemeriksaan Rhinoskopi Posterior : tidak dilakukan

Tenggorokan Uvula Mukosa Tonsil Hipertrofi Hiperemis Kripta Detritus Peritonsiler dextra.

Hiperemis, bengkak, terdorong ke arah dekstra Hiperemis


T3 T1 + + + Hiperemis (+), tampak adanya abses pada peritonsiler

Leher Kelenjar limfe submandibula: teraba membesar 1 buah pada submadibula dextra berukuran 1x1 cm, permukaan licin, konsistensi kenyal, mobilitas(+), nyeri tekan (+) Kelenjar limfe servikal: tidak teraba membesar

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium WBC : 13,3 RBC : 4,75 HB :12,1 LED : 45 GDS : 137 mg/dL

Pemeriksaan Anjuran Pemeriksaan gram dan kultur kuman dari aspirasi pus peritonsil

Diagnosa Kerja Abses Peritonsiler Diagnosis Banding Abses retrofaring Abses orofaring Penatalaksanaan Cefotaxim 2x1gr (iv) Dexamethason 0,5mg 3x1 Ketorolac 2x1 (iv) Paracetamol 500mg Dilakukan tonsilektomi setelah 3 minggu (infeksi tenang) dan keadaan pasien membaik

Prognosa Ad vitam Ad functionam Ad sanationam

: ad bonam : ad bonam : ad bonam

Anatomi Tenggorokan

Tenggorokan merupakan bagian dari leher depan dan kolumna vertebra, terdiri dari faring dan laring. Faring bagian dari leher dan tenggorokan bagian belakang mulut. Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar di bagian atas dan sempit dibagian bawah. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring, dan laringofaring (hipofaring).

Vaskularisasi Yang utama berasal daricabang a. Karotis eksterna serta dari cabang a.maksilaris interna yakni cabang palatine superior (Eibling, 2003). Persarafan Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang dari n.vagus, cabang dari n.glosofaringeus dan serabut simpatis (Kartosoediro, Rusmarjono, 2007).

Berdasarkan letak, faring dibagi atas: (1). Nasofaring (2). Orofaring Disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum mole, batas bawahnya adalah tepi atas epiglotis kedepan adalah rongga mulut sedangkan kebelakang adalah vertebra servikal. (3). Laringofaring

Fisiologi Tenggorokan Fungsi faring yang terutama ialah untuk respirasi, waktu menelan, resonasi suara dan untuk artikulasi.

Anatomi dan Fisiologi Tonsil

Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal (Ruiz JW, 2009).

1. Tonsil Palatina Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring,. Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masingmasing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil 2. Tonsil Faringeal (Adenoid) Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di dinding belakang nasofaring. 3. Tonsil Lingual Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika.

ABSES PERITONSILER
Definisi Abses peritonsil merupakan kumpulan/timbunan (accumulation) pus (nanah) yang terlokalisir/terbatas (localized) pada jaringan peritonsillar yang terbentuk sebagai hasil dari suppurative tonsillitis (Soepardi, 2007).

Epidemiologi Abses peritonsiler dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering terjadi pada umur 20-40 tahun. Etiologi Abses peritonsil terjadi sebagai akibat komplikasi tonsilitis akut. Biasanya kuman penyebabnya sama dengan kuman penyebab tonsilitis.

Organisme aerob yang paling sering menyebabkan abses peritonsiler adalah Streptococcus pyogenes (Group A Betahemolitik streptoccus), Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae. Sedangkan organisme anaerob yang berperan adalah Fusobacterium.

Patofisiologi
Kemajuan episode tonsillitis eksudatif pertama menjadi peritonsillitis dan kemudian terjadi pembentukan abses yang sebenarnya (frank abscess formation) Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar, infiltrasi supurasi tersering menempati daerah ini, sehingga tampak palatum mole membengkak. Pada stadium permulaan(stadium infiltrat), selain pembengkakan tampak juga permukaan yang hiperemis daerah tersebut lebih lunak dan berwarna kekuning-kuningan. Tonsil terdorong ke tengah, depan, dan bawah, uvula bengkak dan terdorong ke sisi kontra lateral. Bila proses terus berlanjut, peradangan jaringan di sekitarnya akan menyebabkan iritasi pada m.pterigoid interna, sehingga timbul trismus. Abses dapat pecah spontan, sehingga dapat terjadi aspirasi ke paru.

Gejala Klinis dan Diagnosis


Selain gejala dan tanda tonsilitis akut, odinofagia (nyeri menelan) yang hebat, nyeri telinga (otalgia), muntah (regurgitasi), mulut berbau (foetor ex ore), banyak ludah (hipersalivasi), suara sengau (rinolalia), sukar membuka mulut (trismus), serta pembengkakan kelenjar submandibula dengan nyeri tekan. Bila ada nyeri di leher (neck pain) dan atau terbatasnya gerakan leher (limitation in neck mobility), maka ini dikarenakan lymphadenopathy dan peradangan otot tengkuk (cervical muscle inflammation).

Pada penderita PTA perlu dilakukan pemeriksaan: Hitung darah rutin Throat culture atau throat swab and culture: diperlukan untuk identifikasi organisme yang infeksius. Plain radiography: pandangan jaringan lunak lateral (Lateral soft tissue views) dari nasopharynx dan oropharynx dapat membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis abses retropharyngeal (Soepardi, 2007).

Komplikasi Abses pecah spontan, mengakibatkan perdarahan aspirasi paru, atau piema. Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses parafaring. Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan mediastinitis. Bila terjadi penjalaran ke daerah intracranial, dapat mengakibatkan thrombus sinus kavernosus, meningitis, dan abses otak (Mehta, Ninfa, 20011)

Diagnosis Banding Abses retrofaring, abses parafaring.

Terapi Pada stadium infiltrasi, diberikan antibiotika dosis tinggi dan obat simtomatik. Juga perlu kumur-kumur dengan air hangat dan kompres dingin pada leher. Bila telah terbentuk abses, dilakukan pungsi pada daerah abses, kemudian diinsisi untuk mengeluarkan nanah.

Kemudian pasien dianjurkan untuk operasi tonsilektomi a chaud. Bila tonsilektomi dilakukan 3-4 hari setelah drainase abses disebut tonsilektomi a tiede, bila tonsilektomi 4-6 minggu sesudah drainase abses disebut tonsilektomi a froid. Pada umumnya tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang, yaitu 2-3 minggu sesudah drainase abses.

Indikasi Tonsilektomi Indikasi Absolut Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi (Wanri, 2007). Indikasi Relatif Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik -laktamase resisten Hipertrofi tonsil unilateral yang dicurigai merupakan suatu keganasan (Wanri, 2007).