Anda di halaman 1dari 41

1

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Umum Desa 1. Geografi
Desa Tewang Darayu terletak di Kecamatan Pulau Malan Kabupaten Katingan. Luas wilayah Desa Tewang Darayu seluruhnya adalah 2.240 Ha. Penggunaan Desa Tewang Darayu antara lain digunakan untuk tanah pertanian, perkebunan, perkampungan, dan lain-lain.

2. Demografi
Jumlah penduduk Desa Tewang Darayu sebanyak 534 jiwa yang terdiri dari 143 kepala keluarga serta terbagi menjadi 3 (tiga) Rukun

Tetangga (RT) dan 1 (satu) Rukun Warga (RW). Untuk lebih jelasnya mengenai distribusi penduduk Desa Tewang Darayu dapat dilihat pada tabel di bawah ini. a. Kependudukan 1) Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tabel 1. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
No 1 2 Jenis Laki-laki Perempuan Total Kelamin 273 261 534

Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa penduduk terbanyak dengan jenis kelamin laki-laki yang berjumlah 273 orang. Total penduduk di Desa Tewang Darayu berjumlah 534 orang.

2) Jumlah Penduduk Menurut Agama Tabel 3. Distribusi Penduduk Menurut Agama


No 1 2 3 Agama Islam Kristen Protestan Hindu Kaharingan Total Jumlah (orang) 205 103 236 534

2 Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa penduduk terbanyak di Desa Tewang Darayu beragama Hindu Kaharingan.

3) Jumlah Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan Tabel 4. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Pekerjaan TNI POLRI PNS Pegawai Swasta Wiraswasta Petani Buruh Tidak bekerja Lain-lain Total Jumlah (orang) 2 2 17 6 27

Berdasarkan tabel diketahui bahwa distribusi penduduk terbanyak menurut jenis pekerjaan yaitu wiraswasta yang berjumlah 17 orang.

4) Sarana Ibadah Tabel 5. Distribusi Sarana Ibadah


No 1 2 3 4 5 6 Sarana Ibadah Masjid Gereja Pura Balai Basarah Wihara Lain-lain Total Jumlah (buah) 1 1 2

Berdasarkan tabel, sarana ibadah meliputi Gereja sebanyak 1 buah dan Balai Basarah sebanyak 1 buah.

3 5) Sarana Kesehatan Tabel 6. Distribusi Sarana Kesehatan


No 1 2 3 4 5 6 7 Sarana Kesehatan Puskesmas Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Posyandu Polindes Pos Obat Desa Lain-laim Total Jumlah (buah) 1 1

Berdasarkan tabel, sarana dan prasarana umum yang terdapat di Desa Tewang Darayu berupa Polindes sebanyak 1 buah.

6) Sarana Transportasi Tabel 8. Distribusi Sarana Transportasi


No 1 2 3 4 5 6 7 Sarana Transportasi Sepeda Motor pribadi Ojek Mobil pribadi Angkot Kelotok Lain-lain Total Jumlah (buah) 15 78 3 96

Berdasarkan tabel, sarana transportasi terbanyak yang terdapat di Desa Tewang Darayu berupa motor pribadi sebanyak 78 buah.

7) Sarana Kebersihan Diri


Tabel 10. Distribusi Sarana Kebersihan Diri

No 1 2 3

Sarana Air Bersih WC Kamar mandi Lain-lain Total

Jumlah (buah) 74 74 148

Berdasarkan tabel diatas sarana kebersihan diri yang terdapat di Desa Tewang Derayu yaitu berjumlah 74 buah WC dan 74 buah kamar mandi.

8) Hasil Pertanian Per Satuan Berat Per Tahun Tabel 11. Distribusi Hasil Pertanian Per Satuan Berat Per Tahun
No 1 2 3 4 5 6 Sarana Air Bersih Padi Jagung Kacang kacangan Sayur-sayuran Singkong Lain-lain Total Jumlah (ton) 125 5 130

Berdasarkan tabel diatas hasil Pertanian Per Satuan Berat Per


Tahun di Desa Tewang Darayu yaitu berjumlah 125 ton padi dan 5

ton jagung.

9) Hasil Perkebunan Per Satuan Berat Per Tahun


Tabel 12. Distribusi Hasil

Perkebunan
Jumlah (Ha) 66 66

No 1 2 3 4 5 6 7

Sarana Air Bersih Buah pisang Buah durian Buah rambutan Buah mangga Rotan Karet Lain-lain Total

Berdasarkan tabel diatas Hasil Perkebunan Per Satuan Berat Per Tahun di Desa Tewang Derayu yaitu berjumlah 66 Ha karet.

10) Jenis Organisasi Tabel 13. Distribusi Jenis Organisasi


No 1 2 3 4 5 Sarana Air Bersih Karang Taruna PKK Remaja Masjid Remaja Kristen Lain-lain Total Jumlah (buah) 1 1 2

5 Berdasarkan tabel diatas Jenis Organisasi Tahun di Desa Tewang Derayu yaitu berjumlah 1 buah Karang Taruna dan 1 buah PKK.

11) Tokoh Masyarakat atau Tokoh Agama Tabel 14. Distribusi Tokoh Masyarakat atau Tokoh Agama
No 1 2 3 4 5 6 7 Sarana Air Bersih Kyai/ Ustad Pendeta Pastur Biksu Kepala desa dan perangkatnya Damang Lain-lain Total Jumlah (0rang) 5 1 6 orang

Berdasarkan tabel, Tokoh Masyarakat atau Tokoh Agama terbanyak di Desa Tewang Derayu yaitu kepala desa dan perangkatnya berjumlah 5 orang.

b. Gambaran Umum Posyandu Posyandu di Desa Tewang Darayu terdapat 1 buah dan tiap bulan aktif, karena kader-kader yang turut aktif dalam mengembangkan posyandu. Tabel 8. Distribusi Kader Posyandu
No 1 2 3 4 5 Nama Kader Posyandu Seriwatie Maseiwu Norlita Nurie Norwatie Umur (Thn) 46 34 31 29 41 Alamat Rumah (RT) 02 02 03 02 02

a. b. c. d. e.

Nama Posyandu Alamat Posyandu Nama Ketua Posyandu Jumlah Kader Posyandu Jumlah Kader yang aktif

: Posyandu Asoka : Desa Tewang Darayu : Seriwatie : 5 orang : 5 orang : Setiap tanggal 10

f. Tanggal Kegiatan Posyandu g. Program Posyandu Imunisasi

: dilaksanakan

6 Penimbangan Penyuluhan Lain-lain : dilaksanakan ::-

h. Tempat Kegiatan Posyandu i. Ada tempat khusus Dimana : Kantor Desa : Desa Tewang Darayu : 40 balita dan bayi

Jumlah Balita yang dilayani

4. Karakteristik Sampel a. Balita Jumlah balita berdasarkan data yang diperoleh dari Desa Tewang Darayu Kecamatan Pulau Malan Kabupaten Katingan berjumlah 40 balita dan yang digunakan sebagai responden/sampel pada penelitian sebanyak 34 balita yang diambil dari RT 1, RT 2 dan RT 3. Deskripsi distribusi frekuensi karakteristik balita dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Balita
Karakteristik balita 1. Jenis kelamin a. Laki-laki b. Perempuan 2. Umur a. 12-30 bulan b. 31-40 bulan c. 41-60 bulan 3. Asupan a. Energi 1) Baik 2) Kurang b. Protein 1) Baik 2) Kurang c. VITAMIN A 1) Baik 2) Kurang d. Zink 1) Baik 2) Kurang e. Kalsium 1) Baik 2) Kurang n 23 11 19 10 5 % 67,6 32,4 55,9 29,4 14,7

7 27 21 13 10 24 2 32 5 29

20,6 79,4 61,8 38,2 29,4 70,6 5,9 94,1 14,7 85,3

4. Status Gizi a. BB/U 1) Lebih 2) Normal 3) Kurang 4) Sangat Kurang b. TB/U 1) Tinggi 2) Normal 3) Pendek 4) Sangat Pendek c. BB/TB 1) Gemuk 2) Normal 3) Kurus 4) Sangat Kurus 5. Kebiasaan makan 1) Baik 2) Kurang 6. Kesehatan Diri 1) Baik 2) Kurang

30 4

88,2 11,8

2 19 9 4 3 27 3 1

5,9 55,9 26,5 11,8 8,8 79,4 8,8 2,9

13 21 11 23

38,2 61,8 32,4 67,6

Berdasarkan tabel, terlihat bahwa balita dengan asupan zink sangat kurang yaitu terdapat 32 balita (94,1%).

Tabel. 2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan dan Keterampilan Gizi Ibu Balita.


Karakteristik 1. Pengetahuan gizi ibu - Baik - kurang 2. Keterampilan gizi ibu - Baik - Kurang n 10 24 11 23 % 29,4 70,6 32,4 67,6

Berdasarkan tabel, dapat diketahui di Desa Tewang Darayu sebanyak 24 orang (70,6%) ibu balita masih memiliki pengetahuan yang kurang dan 23 orang (67,6%) ibu balita yang keterampilannya kurang.

8 Tabel. 3 Distribusi Frekuensi Kesehatan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Ibu Balita.
Karakteristik 1. Kesehatan Lingkungan a. Baik b. Kurang 2. Sosial Ekonomi a. Baik b. Kurang n 7 27 9 25 % 20,6 79,4 26,5 73,5

Berdasarkan tabel, kesehatan lingkungan kurang sebanyak 27 orang (79,4%) dan sosial ekonomi kurang sebanyak 25 keluarga (73,5%).

Tabel 3. Mean, Median, Min, Max, status gizi, asupan, pengetahuan, keterampilan, kebiasaan makan, kesehatan diri dan kesehatan lingkungan Balita
Variabel 1. Status gizi a. BB/U b. TB/U c. BB/TB 2. Asupan gizi a. Energi b. Protein c. Vitamin A d. Zink e. Kalsium 3. Pengetahuan 4. Keterampilan 5. Kebiasaan makan 6. Kesehatan diri 7. Kesehatan lingkungan 8. Sosial ekonomi X SD -1.00351.09865 -.77032.07448 -.51591.55741 5.7777E22.6429E2 50.14711.2299E2 354.91184.2995E2 3.911811.26369 2.9097E26.2053E2 18.29412.79100 46.94126.23743 12.55882.16293 21.88244.24096 28.20594.27664 Median -1.1750 -1.0250 -.4750 Min -2.80 -4.26 -4.80 Max 1.90 5.60 3.40 1347.00 732.00 1767.00 67.00 3557.00 25.00 60.00 16.00 29.00 38.00 2838000

4.7000E2 202.00 21.0000 4.00 205.0000 20.00 1.0000 1.00 99.5000 22.00 18.0000 13.00 47.5000 31.00 12.5000 8.00 21.5000 13.00 27.5000 19.00

5.99059E55.7994E5 4.5670E5 80000

Berdasarkan tabel, status gizi balita menurut TB/U memiliki nilai max tertinggi sebesar 5,6 dan menurut BB/TB memiliki nilai min tertinggi sebesar -4,80. Asupan gizi tertinggi ada pada kalsium dengan 3557 dan terendah pada asupan zink sebesar 1.0. keterampilan ibu memiliki nilai max tertinggi yaitu 60 dan terendah pada kebiasaan makan yang hanya 8. Tingkat sosial ekonomi tertinggi sebesar 2838000.

b. Ibu Hamil Jumlah ibu hamil berdasarkan data dari Desa Tewang Darayu Kecamatan Pulau Malan Kabupaten Katingan berjumlah 3 orang sehingga seluruhnya dijadikan sampel. Tabel 7. Distribusi Frekuensi Karakteristik Bumil
1. Karakteristik bumil Umur a. < 18 tahun b. 18 - 39 tahun c. > 40 tahun Kesehatan Diri d. Baik e. Kurang Kebiasaan makan a. Baik b. Kurang Asupan a. Energi 1) Baik 2) Kurang b. Protein 1) Baik 2) Kurang c. Kalsium 1) Baik 2) Kurang d. Vitamin C 1) Baik 2) Kurang e. Serat 1) Baik 2) Kurang f. Asam folat 1) Baik 2) Kurang g. Asupan fe 1) Baik 2) Kurang Status Gizi a. LILA 1) KEK 2) Tidak KEK N 1 2 3 3 % 33,3 66,7 100 100

2.

3.

4.

3 1 2 3 3 3 3 3

100 33,3 66,7 100 100 100 100 100

5.

100

Berdasarkan tabel, kebiasaan makan, asupan energi, kalsium, vitamin C, serat, asam folat dan asupan Fe kurang sebanyak 3 orang (100%).

10 Tabel 8. Distribusi Frekuensi Pengetahuan dan Keterampilan Gizi Bumil.


Karakteristik 1. Pengetahuan bumil a. Baik b. kurang 2. Keterampilan bumil a. Baik b. Kurang N 3 1 2 % 100 33,3 66,7

Berdasarkan tabel, pengetahuan bumil kurang sebanyak 3 orang (100%).

Tabel 8. Distribusi Frekuensi Kesehatan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Bumil.


Variabel 1. Kesehatan lingkungan a. Baik b. Kurang 2. Sosial ekonomi a. Baik b. Kurang n 2 1 3 % 66,7 33,3 100

Berdasarkan tabel, sosial ekonomi kurang sebanyak 3 orang (100%).

11 Tabel 9. Mean, Median, Min, Max, Status Gizi, Asupan, Pengetahuan, Keterampilan, Kebiasaan Makan, Kesehatan Diri, Kesehatan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Bumil. Variabel 1. Status gizi a. LILA 2. Asupangizi a. energi b. Protein c. Kalsium d. Vitamin C e. Serat f. Asam Folat g. Fe 3. Pengetahuandanketerampil an a. Pengetahuan b. c. d. e. Keterampilan Kebiasaan makan Kesehatan diri Kesehatan lingkungan X SD 27.33332.51661 892.6667292.612 74 27.66671.52753 1.5733E28.7323 E1 37.666720.84067 7.33336.11010 68.666740.50103 4.33331.52753 Median 27.0000 809.000 0 28.0000 1.2600E 2 42.0000 6.0000 69.0000 4.0000 Min 25.00 651.0 0 26.00 90.00 15.00 2.00 28.00 3.00 Max 30.00 1218.0 0 29.00 256.00 56.00 14.00 109.00 6.00

17.00002.00000 51.33333.05505 7.66672.08167 27.00001.00000 32.00001.00000 4833332.16792E 5

17.0000 0 52.0000 7.0000 27.0000 27.0000 389000

15.00 48.00 6.00 26.00 26.00 16400 0

19.00 54.00 10.00 28.00 28.00 89700 0

4. Sosial ekonomi

12 c. Usia Lanjut Jumlah usia lanjut yang dijadikan sampel saat penelitian sebanyak 23 orang. Tabel 10. Distribusi frekuensi karakteristik usila
Karakteristik usila 1. Jenis kelamin a. Laki-laki b. Perempuan 2. Umur a. 50 - 59 bulan b. 60 - 69 bulan c. > = 70 bulan n 15 8 % 65,2 34,8

6 9 8

26,1 39,1 34,8

3. Kesehatan diri a. Baik b. Kurang


4. Kebiasaan makan a. Baik b. Kurang 5. Asupan a. Energi 1) Baik 2) Kurang b. Protein 1) Baik 2) Kurang c. Kalsium 1) Baik 2) Kurang d. Fosfor 1) Baik 2) Kurang e. Serat 1) Baik 2) Kurang 6. Status Gizi a. IMT 1) Gemuk 2) Normal 3) Kurus 4) Sangat Kurus 23

8 15

34,8 65,2

100

23 11 12 5 18 11 12 2 21

100 47,8 52,2 21,7 78,3 47,8 52,2 8,7 91,3

6 11 4 2

26,08 % 47,82 % 17,39 % 8,69 %

Berdasarkan tabel, kebiasaan makan dan asupan energi kurang sebanyak 23 orang (100%).

13 Tabel 11. Distribusi Frekuensi Pengetahuan dan Keterampilan Usila


Karakteristik 1. Pengetahuan usila a. Baik b. kurang 2. Keterampilan usila a. Baik b. Kurang N 2 21 1 22 % 8,7 91,3 4,3 95,7

Berdasarkan tabel, keterampilan usila kurang sebanyak 22 orang (95,7%).

Tabel 11. Distribusi Frekuensi Kesehata Lingkungan Dan Sosial Ekonomi Usia Lanjut.
Karakteristik 3. Kesehatan lingkungan a. Baik b. Kurang 4. Sosial ekonomi a. Baik b. Kurang N 7 16 5 18 % 30,4 69,6 21,7 78,3

Berdasarkan tabel, tingkat sosial ekonomi kurang sebanyak 18 orang (78,3%).

Tabel 12. Mean, Median, Min, Max, Status Gizi, Asupan, Pengetahuan, Keterampilan, Kebiasaan Makan, Kesehatan Diri, Kesehatan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Usila
Variabel 1. Status gizi a. IMT 2. Asupan gizi a. energi b. potein c. Kalsium d. Serat e. Fosfor 3. Pengetahuan 4. Keterampilan 5. Kebiasaan makan 6. Kesehatan diri 7. Kesehatan lingkungan 8. Sosial ekonomi X SD 20.91303.60445 858.8261275.20763 46.347825.21473 190.1304119.89477 29.4348119.45133 558.5652275.56831 15.47833.84790 41.52177.12148 3.56521.12112 20.52174.90704 28.78265.14301 371217.32.05760E5 Median 21.0000 Min 16.00 Max 28.00

811.0000 244.00 1384.00 39.0000 18.00 102.00 179.0000 65.00 569.00 4.0000 5.00 577.00 491.0000 171.00 1328.00 15.0000 6.00 24.00 40.0000 28.00 55.00 4.0000 1.00 5.00 21.0000 9.00 27.00 30.0000 18.00 39.00 288000 73000 853000

14

Berdasarkan tabel 23 di atas dapat diketahui bahwa di Desa Tewang Darayu dengan status gizi usila menurut IMT memiliki nilai tertinggi 28 dan nilai terendah 16 dengan rata-rata 20,91. Asupan memiliki nilai tertinggi pada asupan energi sebesar 1384 kkal dan memiliki nilai terendah pada asupan serat sebear 5 gram dengan ratarata 29,4 gram.

15 2. Hubungan Antar Variabel Tabel 4. Analisis Hubungan Pengetahuan, Keterampilan, Kebiasaan Makan, Kesehatan Diri, Kesehatan Lingkungan, Pendapatan dan Asupan Energi, Protein, Besi (Fe), Kalsium (Ca), Vitamin C, Asam Folat, dan Serat dengan Status Gizi Balita Berdasarkan BB/U Variabel a. Pengetahuan 1) Kurang 2) Baik b. Keterampilan 1) Kurang 2) Baik c. Kesehatan diri 1) Kurang 2) Baik d. Kebiasaan Makan 1) Kurang 2) Baik e. Kesehatan Lingkungan 1) Kurang 2) Baik f. Pendapatan 1) Miskin 2) Tidak Miskin g. Asupan Energi 1) Kurang 2) Baik h. Asupan Protein 1) Kurang 2) Baik i. Asupan Kalsium 1) Kurang 2) Baik j. Asupan Vitamin A 1) Kurang 2) Baik k. Asupan Zink 1) Kurang 2) Baik Kurang 2 2 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 3 1 4 0 Normal 22 8 20 10 20 10 18 12 24 6 22 8 24 6 10 20 26 4 21 9 28 2 X2 p-value 1.000

1.000

1.000

1.000

1.000

1.000

1.000

0,274

0.488

1.000

1.000

Berdasarkan tabel 24 diatas, hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi menurut BB/U tidak ada hubungan (P-value = 0,39), tidak ada hubungan yang signifikan antara keterampilan dengan status gizi balita (P-value = 1,00), tidak ada hubungan antara kesehatana diri balita dengan status gizi balita (P-value = 0,67), tidak ada hubungan antara kebiasan makan balita dengan status gizi balita (P-value

16 0,23), tidak ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi balita (P-value = 0,68), tidak ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi balita (P-value = 0,39)m tidak ada hubungan antara asupan vitamin A dengan status gizi balita (Pvalue = 1,00), tidak ada hubungan antara asupan kalsium dengan status gizi balita (P-value = 0,67). Semua ibu balita yang dijadikan sampel yaitu sebanyak 30 orang memiliki pengetahuan yang kurang.

Tabel 5. Analisis Hubungan Pengetahuan, Keterampilan, Kebiasaan Makan, Kesehatan Diri, Kesehatan Lingkungan, Pendapatan dan Asupan Energi, Protein, Besi (Fe), Kalsium (Ca), Vitamin C, Asam Folat, dan Serat dengan Status Gizi Usila Berdasarkan TB/U Variabel Pengetahuan Kurang Baik Keterampilan Kurang Baik Kesehatan diri Kurang Baik Kebiasaan Makan Kurang Baik Kesehatan Lingkungan Kurang Baik Pendapatan Miskin Tidak Miskin Asupan Energi Kurang Baik Asupan Protein Kurang Baik Asupan Kalsium Kurang Baik Asupan Vitamin A Kurang Baik Asupan Zink Kurang Pendek 10 3 7 6 8 5 6 7 10 3 9 4 10 3 4 9 11 2 4 9 13 Normal 14 7 16 5 15 6 15 6 17 4 16 5 17 4 9 12 18 3 6 15 19 X2 p-value 0,704

0.26

0.70

0.16

0.70

0.435

1,0

0,718

1,0

1,0

0,513

17 Baik 0 2

Berdasarkan tabel 25 diatas, hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi menurut TB/U ada hubungan (P-value = 0,04), tidak ada hubungan yang signifikan antara keterampilan dengan status gizi balita (P-value = 1,00), tidak ada hubungan antara kesehatana diri balita dengan status gizi balita (P-value = 0,42), tidak ada hubungan antara kebiasan makan balita dengan status gizi balita (P-value 0,71), tidak ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi balita (P-value = 0,25), ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi balita (P-value = 0,04)m tidak ada hubungan antara asupan vitamin A dengan status gizi balita (P-value = 0,23), tidak ada hubungan antara asupan kalsium dengan status gizi balita (P-value = 1,00). Semua ibu balita yang dijadikan sampel yaitu sebanyak 30 orang memiliki pengetahuan dan kesehatan lingkungan yang kurang.

18 Tabel 6. Analisis Hubungan Pengetahuan, Keterampilan, Kebiasaan Makan, Kesehatan Diri, Kesehatan Lingkungan, Pendapatan dan Asupan Energi, Protein, Besi (Fe), Kalsium (Ca), Vitamin C, Asam Folat, dan Serat dengan Status Gizi Usila Berdasarkan BB/TB

variabel Pengetahuan Kurang Baik Keterampilan Kurang Baik Kesehatan diri Kurang Baik Kebiasaan Makan Kurang Baik Kesehatan Lingkungan Kurang Baik Pendapatan Miskin Tidak Miskin Asupan Energi Kurang Baik Asupan Protein Kurang Baik Asupan Kalsium Kurang Baik Asupan Vitamin A Kurang Baik Asupan Zink Kurang Baik

Kurus 5 2 6 1 5 2 4 3 5 2 6 1 6 1 2 5 5 2 1 6 6 1

Normal 19 8 17 10 18 9 17 10 22 5 19 8 21 6 11 16 24 3 9 18 26 1

p-value 1,0

1,0

1,0

1,0

0,615

0.644

1,000

0,682

0,268

0,407

0,374

19

Berdasarkan tabel 26 diatas, hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi menurut IMT/U tidak ada hubungan (P-value = 0,37), tidak ada hubungan yang signifikan antara keterampilan dengan status gizi balita (P-value = 0,28), tidak ada hubungan antara kesehatana diri balita dengan status gizi balita (P-value = 0,39), ada hubungan antara kebiasan makan balita dengan status gizi balita (P-value 0,049), tidak ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi balita (P-value = 1,00), tidak ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi balita (Pvalue = 1,00) tidak ada hubungan antara asupan vitamin A dengan status gizi balita (P-value = 0,37, tidak ada hubungan antara asupan kalsium dengan status gizi balita (P-value = 0,64). Semua ibu balita yang dijadikan sampel yaitu sebanyak 30 orang memiliki pengetahuan yang kurang.

Penilaian status gizi balita yang digunakan adalah pengukuran secara antropometrik yang menggunakan indeks Berat Badan menurut umur balita (BB/U), indeks tinggi badan menurut umur balita (TB/U), dan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U), kemudian disetarakan dengan standar baku rujukan WHO-NCHS untuk mengetahui status gizinya. Status gizi seseorang erat kaitannya dengan permasalah kesehatan individu, karena dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan.Status gizi balita dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu kurangnya wawasan dan pengetahuan ibu tentang gizi. Rendahnya tingkat pendidikan ibu juga memberikan andil yang besar terhadap status gizi sangat kurang pada balita yang masih sering dijumpai di masyarakat. Pengetahuan dan pemahaman ibu yang terbatas akan mempengaruhi pola pemenuhan gizi balita. Ibu tidak paham pentingnya gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan balita, sehingga penerapan pola konsumsi makan belum sehat dan berimbang. Di Desa Tewang Darayu, pendidikan ibu sebagian besar adalah SD sehingga masih ditemukan balita yang memiliki status gizi sangat kurang. Pengetahuan ibu akan berpengaruh terhadap status gizi balitanya.

Pengetahuan tentang cara memperlakukan bahan pangan dalam pengolahan, dengan tujuan membersihkan kotoran tetapi sering sekali dilakukan berlebihan sehingga merusak dan mengurangi zat-zat gizi yang dikandungnya, di Desa Tewang Darayu pengetahuan ibu yang berhubungan dengan keterampilan dalam mengolah bahan makanan yang benar masih kurang,

20 Di Desa Tewang Darayu, ibu yang memiliki keterampilan dalam hal mengolah makanan masih kurang, hal ini terlihat dari kebiasaan mengkonsumsi makan setiap hari yang hanya mengkonsumsi makanan pokok yang ditambah dengan lauk hewani atau sayuran yang jarang dalam satu kali makan dapat mengkonsumsi seluruh sumber zat gizi seperti, makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran dan buah. Pemahaman ibu yang terbatas akan mempengaruhi pola pemenuhan gizi balita. Ibu tidak paham pentingnya gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan balita, sehingga penerapan pola konsumsi makanbelum sehat dan seimbang, hal ini dapat terlihat dari kebiasaan makan balita. Dalam suatu rumah tangga, kebiasaan makan juga sering adanya perbedaan antara Pemahaman ibu yang terbatas akan mempengaruhi pola pemenuhan gizi balita. Ibu tidak paham pentingnya gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan balita, sehingga penerapan pola konsumsi makan belum sehat dan seimbang, hal ini dapat terlihat dari kebiasaan makan balita. Dalam suatu rumah tangga, kebiasaan makan juga ditemukan adanya perbedaan antara suami dan istri, orang tua dan anak-anak. Di desa Mandomai, sebagian ibu mengutamakan makanan untuk anak-anaknya. Kebiasaan makan terhadap bahan makanan yang dikonsumsi di desa Mandomai masih sangat minim. Masyarakat seringkali mengkonsumsi makanan pokok dan lauk hewani saja dan hanya sesekali mengkonsumsi sayuran hal tersebut juga dikarenakan karena pasar yang ada diDesa Tewang Darayu ini hanya pagi hari dan 1 minggu sekali sehingga masyarakat cenderung memasak dan mengkonsumsi menu yang sama dalam setiap harinya, selalu terjadin pengulangan menu tanpa adanya variasi makanan. Kesehatan diri balita di Desa Tewang Darayu, berdasarkan dari kebiasaan mandi sudah cukup baik yaitu mandi dua kali sehari atau lebih, kebiasaan menggosok gigi juga sudah diterapkan pada balita yaitu sebanyak dua kali sehari dan menggunakan pasta gigi untuk menggosok gigi, kebiasaan keramas dan menggunakan shampoo juga sudah dilakukan oleh balita, kebiasaan memotong kuku dan membersihkan kuku sudah dilakukan oleh ibu, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan juga sudah dilakukan pada balita di Desa Tewang Darayu. Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain mencakup: perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja), penyediaan air

21 bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor (air limbah), rumah hewan ternak (kandang) dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar merupakan media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya. Usaha memperbaiki atau meningkatkan kondisi lingkungan ini daro masa ke masa, dan dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain bervariasi dan bertingkattingkat, dari yang paling sederhana (primitif) sampai kepada yang paling mutakhir (modern).Perumahan yang berada di Desa Tewang Darayu sebagian besar masih menggunakan kayu sebagai bahan dasar rumahnya, dengan lantai yang terbuat dari kayu dan sebagian rumah juga sudah mempunyai jendela dan ventilasi. Kebersihan lingkungan disekitar rumah-rumah penduduk masih sangat kurang sekali mendapat perhatian, masih banyak masyarakat yang membuang sampah, kotoran dan limbah cair rumah tangga tidak pada tempatnya yaitu di sungai, di bawah rumah, dan di sekitar lingkungan rumah. Dan juga untuk buang air besar masih menggunakan WC cemplung (jamban), yang berada di pinggir-pinggir sungai dan biasanya masyarakat menggunakannya secara bersama-sama. Aliran sungai yang digunakan untuk mandi, mencuci dan buang air besar, juga digunakan untuk memasak dan air minum. Air sungai yang digunakan berwarna coklat dan masyarakat sudah menggunakan tawas untuk menjernihkan air, air tersebut digunakan untuk memasak dan air minum. Tetapi, ada sebagian masyarakat di Desa Tewang Darayu yang tidak merebus air untuk diminum, walaupun air yang akan dikonsumsi sudah dijernihkan menggunakan tawas, bakteri yang terdapat pada air belum mati. Untuk itu air yang akan diminum harus direbus terlebih dahulu sebelum diminum dan dapat menghilangkan bakteri yang terdapat pada air. Kebutuhan energi relatif besar dibandingkan dengan orang dewasa, sebab pada usia tersebut pertumbuhannya masih sangat pesat. Kecukupannya akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia. Kekurangan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan balita tergangguJika kekurangan ini bersifat menahun (kronik), artinya sedikit demi sedikit, tetapi dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi keadaan stunting. Stunting, yaitu anak menjadi pendek dan tinggi badan tidak sesuai dengan usianya walaupun secara sekilas anak tidak kurus.

22 Asupan energi balita di Desa Tewang Darayu kurang, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : asupan energi yang tidak sesuai dengan penggunaannya, gizi pada balita yang tidak mencukupi antara asupan dengan kebutuhannya, kurangnya pengetahuan ibu dan keterlampilan yang mempengaruhi gizi di bidang memasak, konsumsi anak, dan keragaman bahan makanan. Protein terdiri dari protein nabati dan protein hewani. Protein nabati contohnya kacang-kacangan (kacang panjang, kedelai), buncis. Protein hewani disebut juga dengan zat putih telur, Makanan yang mengandung protein biasanya cepat busuk. Dana makanan yang sudah busuk biasanya berubah menjadi racun. Untuk mengatasi hal itu, bahan makanan sumber protein sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan segar. Asupan protein balita di kelurahan sudah cukup baik, sebagian besar balita memiliki asupan protein yang baik. Hal ini didukung oleh adanya sungai-sungai yang dimanfaatkan masyarakat untuk mencari ikan. Sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan terhadap protein hewaninya. Dan untuk kebutuhan protein nabati masih sangat jarang ditemui karena harga yang mahal dan tidak sesuai dengan perekonomian masyarakat. Kekurangan vitamin A di kalangan balita tidak dapat lagi dianggap remeh karena bukan hanya menyebabkan kebutaan permanen, tetapi juga meningkatkan resiko kematian yang disebabkan oleh menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Walau selintas terkesan remeh, ternyata vitamin A bisa berakibat fatal kalau kurang dikonsumsi.Sumber vitamin A ditemukan dalam sayuran yang relative murah dan banyak ditemui di pasar yang berdaun hijau seperti kangkung, bayam dan daun singkong dan buah-buahan berwarna orange tua seperti mangga, papaya dan

wortel. Vitamin A juga banyak ditemukan dalam susu, daging, hati dan telur. Selain itu sejumlah produsen makanan seperti mie instan dan susu bubuk telah memfortifikasi produk mereka dengan vitamin A sehingga dapat menjadi sumber makanan kaya vitamin A yang baik. Asupan vitamin A balita di Desa Tewang Darayu secara keseluruhan masih kurang, hal ini dapat dipengaruhi oleh gangguan gizi pada bayi dan anak usia dibawah lima tahun (balita) adalah tidak sesuainya jumlah gizi yang mereka peroleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh mereka. Dan juga cara pengolahan makanan yang tidak disukai anak, sehingga anak tidak suka mengkonsumsi sayuran. Anak-anak di Desa Tewang Darayu lebih suka mengkonsumsi jajanan

23 warung, yang tidak sehat dan mengandung banyak pengawet. Sehingga anak hanya suka mengkonsumsi satu jenis makanan saja dan mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan tubuh. Karena itu perlu adanya peranan ibu dalam mengubah pola konsumsi anak menjadi pola konsumsi yang seimbang dan tercukupi kebutuhan zat gizinya. Kalsium erat kaitannya dengan kesehatan tulang sebab mineral inilah yang membentuk tulang. Selain itu, peranannya terhadap gigi juga tidak bisa diabaikan. Tanpa adanya asupan kalsium, otot tidak dapat berkontraksi dengan benar, darah tidak bisa membeku, dan saraf tidak dapat membawa pesan. Yang lebih penting lagi, kalsium juga berpengaruh terhadap masa depan kesehatan balita. Asupan kalsium balita di Desa Tewang Darayu sebagian besar masih kurang, karena kurangnya pengetahuan ibu tentang bahan-bahan makanan sumber kalsium, selain itu balita diberikan konsumsi susu yang tidak sesuai dengan umurnya, sehingga asupan kalsium pada balita tidak mencukupi dengan kebutuhannya.

Status gizi ibu sebelum dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang di kandung. Bila status gizi ibu normal pada masa sebelum dan selama hamil kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. Penilaian status ibu hamil yang digunakan adalah pengukuran secara antropometri yang menggunakan Lingkar Lengan Atas (LILA). Lingkar Lengan Atas (LILA) biasa digunakan pada anak balita serta wanita usia subur. Pengukuran LILA dipilih karena pengukurannya relatif mudah, cepat, harga alat murah, tidak memerlukan data umur untuk balita yang kadang kala susah mendapatkan data umur yang tepat. LILA mencerminkan cadangan energy sehingga pengukuran ini dapat mencerminkan status KEP pada balita atau KEK pada ibu WUS ( Wanita Usia Subur ) dan ibu hamil. Pengukuran LILA pada WUS dan ibu hamil adalah untuk menditeksi resiko terjadinya keadian bayi dengan BBLR ( Bearar Badan Lahir Rendah ). Cut Of Point untuk balita yang menderita KEP adalah < 12,5 cm sedangkan resiko KEK untuk WUS dan ibu hamil adalah < 23,5 cm. Pendidikan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada peningkatan kemampuan berpikir, dengan kata lain seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, umumnya terbuka untuk

24 menerima perubahan atau hal baru dibandingkan dengan individu yang

berpendidikan lebih rendah.Rendahnya tingkat pendidikan ibu juga memberikan pengaruh yang besar terhadap kasus Kekurangan Energi Protein (KEK) pada ibu hamil yang masih dijumpai pada masyarakat di desa Tumbang Empas. Karena pengetahuan dan pemahaman ibu yang terbatas akan mempengaruhi pola pemenuhan gizi ibu. Ibu tidak paham pentingnya gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan janin, sehingga penerapan pola konsumsi makan belum sehat dan seimbang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi dewasa ini walaupun berkembang sangat pesat masalah gizi yang timbul masih sangat kompleks, sehingga masalah ini sangat memprihatinkan dimana tingkat kematian ibu maternal masih sangat tinggi pada umumnya ibu hamil di lingkungan masyarakat kita masih banyak yang hidup digaris kemiskinan sehingga tidak dapat memenuhi nutrisi yang baik ditunjang lagi oleh pendidikan yang rendah, umur, pekerjaan, pengalaman, paritas, budaya, status sosial ekonomi yang berdampak pada ibu hamil terhadap kebutuhan gizi masa kehamilan masih sangat rendah. Pengetahuan ibu akan mempengaruhi asupan gizi janin. Pengetahuan ibu hamil terhadap gizi dan kesehatan di Desa Tewang Darayu sebagian besar adalah kurang. Dimana masih banyak ditemukan ibu ibu hamil yang tidak mengetahui tentang pentingnya makanan yang sehat dan bergizi. Pengetahuan ibu yang kurang dapat menyebabkan pemilihan makanan yang tidak sesuai dan ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah baik pada ibu maupun janin, sehingga dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi. Sedangkan untuk janinnya sendiri dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan) dan lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Keterampilan ibu selama kehamilan sangat penting, terutama dalam pemenuhan kebutuhan zat gizi. Selama hamil, ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang beragam baik dari jenis bahan pangan dan kandungan zat gizinya. Keterampilan ibu hamil di Desa Tewang Darayu masih kurang terutama dalam pemilihan bahan pangan yang akan dikonsumsi. Makanan yang dikonsumsi ibu hamil sangat mempengaruhi terhadap janin di dalam kandungan, dan juga akan

25 mempengaruhi status gizi ibu hamil. Untuk itu perlu adanya keterampilan dalam pemilihan dan pengolahan bahan pangan. Makanan yang baik dikonsumsi untuk ibu hamil adalah makanan segar atau setidaknya makanan beku. Sebaiknya jangan memilih makanan kaleng atau makanan kemasan yang mengandung banyak pengawet dan bahan tambahan. Buah dan sayur harus dicuci dengan baik untuk menghilangkan residu

pestisida.Selama kehamilan ibu membutuhkan asupan energi yang lebih, karena tidak hanya untuk ibu saja tetapi untuk janin yang ada di dalam kandungan. Di desa Tumbang Empas sebagian besar ibu hamil memiliki kebiasaan makan yang sudah cukup baik. Namun, banyak juga ibu hamil yang tidak mengkonsumsi sumber energi, protein, serta vitamin dan mineral seperti lauk hewani, lauk nabati, sayuran dan susu. Kebiasaan makan ibu hamil juga dipengaruhi oleh kurangnya ketersediaan sumber bahan makanan, serta perekonomian masyarakat yang rendah. Ibu hamil juga biasanya hanya mengkonsumsi susu biasa dan tidak mengkonsumsi susu khusus untuk ibu hamil.Kurangnya kesadaran ibu hamil juga mempengaruhi kebiasaan makan ibu hamil, sehingga pola konsumsi makan tidak diperhatikan. Asupan makanan sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan janin yang berada di dalam kandungan. Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya

(premature), perdarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat. Untuk itu perlu adanya perhatian khusus bagi pola konsumsi ibu hamil agar pertumbuhan dan perkembangan janin tidak terganggu dan dapat melahirkan bayi yang sehat. Sehat adalah suatu keadaan utuh yang dinamis dalam daur kehidupan, dimana manusia dapat berfungsi dan menyesuaikan diri secara terus menerus terhadap perubahan yang timbul, untuk memenuhi kebutuhan essensial dalam hidup sehari hari. Setiap pribadi mempunyai hak untuk memperoleh kesehatan secara optimal dalam batas-batas kemampuannya. Kesehatan diri selama masa kehamilan sangat perlu diperhatikan, hal ini terkait untuk meningkatkan kesehatan bagi ibu hamil, terlebih lagi dalam persiapan untuk melahirkan. Kesehatan diri yang baik akan meningkatkan system kekebalan tubuh dari serangan penyakit, sehingga pada masa kehamilan ibu tetap sehat.

26 Kehamilan akan menjadi saat yang menyenangkan jika kondisi kesehatan tubuh baik. Kesehatan diri pada ibu hamil di Desa Tewang Darayu sudah cukup baik terlihat dari kebiasaan mandi dua kali sehari dan menggunakan sabun, kebiasaan menggosok gigi dan menggunakan pasta gigi, keramas lebih dari tiga kali dalam seminggu, selalu mencuci tangan sebelum makan dan rutin membersihkan telinga. Kesehatan lingkungan dalam keluarga berpengaruh terhadap kesehatan ibu hamil. Lingkungan yang tidak baik dapat mengakibatkan ibu hamil terkena infeksi salah satunya adalah terinfeksi cacing. Ibu hamil yang terinfeksi penyakit cacingan yang sangat berat dapat beresiko melahirkan anak dengan berat badan rendah. Kesehatan lingkungan ibu hamil di Desa Tewang Darayu masih kurang. Terutama di sekitar lingkungan rumah, karena banyaknya masyarakat yan membuang sampah, kotoran, dan limbah cair rumah tangga tidak pada tempatnya yaitu di sungai, di bawah rumah, dan sekitar lingkungan rumah. Dan juga untuk buang air besar masih menggunakan WC cemplung (jamban) yang berada di pinggir pinggir sungai dan biasanya masyarakat menggunakannya secara bersama sama dan masyarakat menyebutnya jamban umum atau jamban bersama. Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna. Ibu hamil yang menderita Kekurangan Energi Kronik (KEK) mempunyai resiko kematian ibu mendadak pada masa perinatal atau resiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Pada keadaan itu banyak ibu yang meninggal karena perdarahan, sehingga akan meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Asupan energi pada ibu hamil yang menderita KEK di Desa Tewang Darayu masih kurang dan ditemukan ibu hamil yang menderita KEK. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya asupan energi pada ibu hamil. Pola konsumsi yang kurang diperhatikan menyebabkan salah satu faktor ibu hamil mengalami resiko KEK. Selama hamil, kebutuhan ibu akan zat-zat gizi meningkat, untuk itu perlu perhatian yang lebih terhadap pemilihan makanan yang banyak mengandung sumber-sumber energi. Sama halnya dengan energi, kebutuhan wanita hamil akan protein pun meningkat bahkan mencapai 68 % dari sebelum hamil. Bahan pangan yang

27 dijadikan sumber protein sebaiknya (2/3 bagian) pangan yang bernilai biologis tinggi, seperti daging tak berlemak, ikan, telur, susu dan hasil olahannya. Protein yang berasal dari tumbuhan (nilai biologisnya rendah) cukup 1/3 bagian. Protein sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin yang ada di dalam kandungan. Selain sebagai sumber kalori, protein juga diperlukan untuk pembentukan sel dan darah. Ibu hamil membutuhkan protein sebanyak 60 gram per hari (lebih banyak 10 gram dari biasanya), yang dapat diperoleh dari daging, ikan, putih telur, kacang-kacangan, tahu, dan tempe. Asupan protein ibu hamil di Desa Tewang Darayu sudah cukup baik, hal ini didukung oleh masyarakat mempunyai hewan ternak seperti babi dan ayam yang dimanfaatkan masyarakat untuk konsumsi sendiri, meskipun sebagian lagi dijual. Sehingga masyarakat dapat memenihi kebutuhan protein hewaninya. Dan untuk kebutuhan protein nabati masih sangat jarang ditemui karena harga yang mahal dan tidak sesuai dengan perekonomian masyarakat. Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb (hemoglobin) berada di bawah normal. Di Indonesia anemia umunya disebabkan oleh kekurangan mineral zat besi, sehingga lebih dikenal dengan istilah Anemia Gizi Besi. Anemia defisiensi zat besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umunya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit zat besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme zat besi yang normal. Selanjutnya janin akan menjadi anemia pada saat kadar Hb ibu turun sampai di bawah 11 gr/ dl selama trisemester III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi besi dapat mengakibatkan kematian janin di dalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar. Asupan zat besi ibu hamil di desa Tumbang Empas masih kurang karena makanan yang dikonsumsi ibu-ibu hamil tidak mengandung zat besi yang sangat dibutuhkan bagi ibu dan janin yang dikandungnya. Kurangnya asupan zat besi pada ibu hamil dapat menimbulkan kematian ibu dan janin, untuk itu perlu adanya perhatian khusus untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung

28 sumber zat besi. Ibu hamil sangat rentan sekali terkena anemia gizi besi, oleh karena itu perlu adanya pola konsumsi yang baik dengan memperhatikan bahanbahan pangan yang mengandung sumber zat besi.

Tabel 12. Analisis Hubungan Pengetahuan, Keterampilan, Kebiasaan Makan, Kesehatan Diri, Kesehatan Lingkungan, Pendapatan dan Asupan Energi, Protein, Besi (Fe), Kalsium (Ca), Vitamin C, Asam Folat, dan Serat dengan Status Gizi Usila Berdasarkan IMT

Variabel Pengetahuan Kurang Baik Keterampilan Kurang Baik Kesehatan diri Kurang Baik Kebiasaan Makan Kurang Baik Kesehatan Lingkungan Kurang Baik Pendapatan Miskin Tidak Miskin Asupan Energi Kurang Baik Asupan Protein Kurang Baik Asupan Kalsium Kurang Baik Asupan Fosfor Kurang Baik Asupan Serat Kurang Baik

Kurang 18 1 18 1 17 2 19 18 1 9 3 19 7 12 16 3

Normal 10 1 11 0 5 6 11 5 6 9 2 11 5 6 9 2

X2

p-value 1.000

1.000

0.028 -

0.004

1.000

0.712

1.000

17 2

11 0

0.520

29 Berdasarkan tabel 28 diatas, hubungan antara pengetahuan dengan status gizi USILA menurut Indeks Massa Tubuh tidak ada hubungan (P-value = 1,00), tidak ada hubungan yang signifikan antara keterampilan dengan status gizi usila (P-value = 1,00), tidak ada hubungan antara kesehatana diri usila dengan status gizi usila (Pvalue = 1,00), tidak ada hubungan antara kesehatana lingkungan dengan status gizi usila (P-value = 1,00), tidak ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi usila (P-value = 1,00), tidak ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi usila (P-value = 1,00), dan Semua usila yang dijadikan sampel yaitu sebanyak 10 orang memiliki kebiasaan makan yang kurang serta asupan kalsium dan serat yang

30

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Dari hasil survei pengumpulan data dasar untuk mata kuliah

Perencanaan Program Gizi (PPG) pada Desa Tewang Darayu Kecamatan Pulau Malan Kabupaten Katingan. Kabupaten KapuasProvinsi Kalimatan Tengah, yang dilaksanakan pada tanggal 21-26November 2011 dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Desa Tewang Darayu adalah sebuah desa dengan jumlah penduduk 3.408 jiwa yang terdiri dari 1103 kepala keluarga dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 1722 orang dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 1686 orang. Usaha masyarakat desa ini rata-rata sebagai petani. 2. Puskesmas terletak di Desa Tewang Darayu dengan nama Puskesmas Mandomai. Pelayanan kesehatan antara lain : Pengobatan gratis, konseling dan penyuluhan-penyuluhan. 3. Posyandu di Desa Tewang Darayu ada 3 (tiga) buah, yang pertama dengan nama Posyandu Kelurahan/Melati dan alamatnya di jalan Kelurahan, dengan di kepalai oleh Kepala Posyandu bernama Ibu Rusmiyati, Am. Pd, dengan jumlah kader 4 orang., yang kedua posyandu Melati II yang beralamat di RT II Desa Tewang Darayu diketuai oleh Ibu Anisah, S. Pd dengan jumlah kader 3 Orang, dan yang ketiga posyandu Kalimpangan yang terletak di RT 12 dengan jumlah kader 5 Orang. 4. Karakteristik balita yang dijadikan sampel yaitu 30 orang (100%) balita dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 14 orang (53,3 %), dan balita yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 16 (46,7 %). 5. Berdasarkan perhitungan BB/U, dari 30 orang balita diketahui balita yang mempunyai status gizi normal sebanyak 21 orang balita (70 %), dan 6 orang balita (20 %) mengalami BB kurang, dan 3 orang (10%) mengalami berat badan sangat kurang. Berdasarkan perhitungan TB/U, dari 30 orang balita diketahui balita yang mempunyai tinggi badan normal sebanyak 19 orang balita (63,3 %), dan 6 orang balita (20 %) mengalami tinggi badan pendek, dan 5 orang balita (16,7%) yang memiliki tinggi badan sangat

31 pendek.Berdasarkan perhitungan IMT/U, dari 30 orang balita diketahui balita yang mempunyai status gizi sangat gemuk 1 orang (3,3%), resiko gemuk sebanyak 1 orang (3,3 %), 20 orang balita (66,7 %) memiliki status gizi normal, dan 5 orang balita (16,7 %) memiliki BB kurus, dan sangat kurus 3 orang (10%) 6. Diketahui pengetahuan 30 orang ibu balita(100%) termasuk dalam kategori berpengetahuan kurang. 7. Diketahui keterampilan dari 30 orangibu balita,4 orang ibu balita (13,3 %) termasuk dalam kategori keterampilan baik sedangkan 26 orang (86,7 %) ibu balita termasuk dalam kategori keterampilan masih kurang. 8. Diketahui kebiasaan makan balita, 17 orang (56,7%) termasuk dalam kategori kebiasaan makan baik sedangkan 13 orang (43,3%) termasuk dalam kategori kebiasaan makan masih kurang. 9. Diketahui kesehatan diri balita, 22 orang (73,3%) termasuk dalam kategorikesehatan diri baik sedangkan 8 orang (26,7%) termasuk dalam kategori kesehatan diri masih kurang. 10. Diketahui kesehatan lingkungan balita, 30 orang (100%) termasuk dalam kategori kesehatan lingkungan masih kurang. 11. Diketahui bahwa sebanyak 10 anak balita (33,3%) yang tingkat asupan energinya baik dan 20 anak balita (66,6 %) yang tingkat asupan energinya kurang. 12. Diketahui bahwa sebanyak 21 anak balita (70%) yang tingkat asupan protein baik dan 9 anak balita (30 %) yang tingkat asupan protein kurang. 13. Diketahui bahwa sebanyak 12 anak balita (25 %) yang tingkat asupan vitamin A baik dan 36 anak balita (75 %) yang tingkat asupan vitamin A kurang 14. Diketahui bahwa sebanyak 8 anak balita (26,7 %) yang tingkat asupan kalsium baik dan 22 anak balita (73,3%) yang tingkat asupan kalsium kurang. 15. Berdasarkan BB/U tidak ada hubungan antara pendidikan dengan status gizi balita (p-value = 0,39). 16. Berdasarkan BB/U tidak ada hubungan antara kebiasaan makan dengan status gizi balita (p-value = 0,23).

32 17. Berdasarkan BB/U tidak ada hubungan antara kesehatan diri dengan status gizi balita (p-value = 0,67). 18. Berdasarkan BB/U ada keterkaitan antara kesehatan lingkungan dengan status gizi balita. 19. Berdasarkan BB/U ada keterkaitan antara pengetahuan dengan status gizi balita. 20. Berdasarkan BB/U tidak ada hubungan antara keterampilan dengan status gizi balita (p-value = 1,00). 21. Berdasarkan BB/U ada hubungan antara energi dengan status gizi balita (pvalue = 0,68). 22. Berdasarkan BB/U tidak ada hubungan antara protein dengan status gizi balita (p-value = 0,39). 23. Berdasarkan BB/U tidak ada hubungan antara vitamin A dengan status gizi balita (p-value = 1,00). 24. Berdasarkan BB/U tidak ada hubungan antara kalsium dengan status gizi balita (p-value = 0,67). 25. Berdasarkan TB/U ada hubungan antara pendidikan dengan status gizi balita (p-value = 0,04). 26. Berdasarkan TB/U tidak ada hubungan antara kebiasaan makan dengan status gizi balita (p-value = 0,71). 27. Berdasarkan TB/U tidak ada hubungan antara kesehatan diri dengan status gizi balita (p-value = 0,42). 28. Berdasarkan TB/U ada keterkaitan antara kesehatan lingkungan dengan status gizi balita. 29. Berdasarkan TB/U tidak ada keterkaitan antara pengetahuan dengan status gizi balita. 30. Berdasarkan TB/U tidak ada hubungan antara keterampilan dengan status gizi balita (p-value = 1,00). 31. Berdasarkan TB/U tidak ada hubungan antara energi dengan status gizi balita (p-value = 0,25). 32. Berdasarkan TB/U ada hubungan antara protein dengan status gizi balita (pvalue = 0,04). 33. Berdasarkan TB/U tidak ada hubungan antara kalsium dengan status gizi balita (p-value = 1,00).

33 34. Berdasarkan TB/U tidak ada hubungan antara vitamin A dengan status gizi balita (p-value = 0,23). 35. Berdasarkan IMT/U tidak ada hubungan antara pendidikan orang tua dengan status gizi balita (p-value = 0,37). 36. Berdasarkan IMT/U ada hubungan antara kebiasaan makan dengan status gizi balita (p-value = 0,049). 37. Berdasarkan IMT/U ada hubungan antara kesehatan diri dengan status gizi balita (p-value = 0,39). 38. Berdasarkan IMT/U ada keterkaitan antara kesehatan lingkungan dengan status gizi balita. 39. Berdasarkan IMT/U ada keterkaitannya antara pengetahuan dengan status gizi balita. 40. Berdasarkan IMT/U tidak ada hubungan antara keterampilan dengan status gizi balita (p-value = 0,28). 41. Berdasarkan IMT/U tidak ada hubungan antara energi dengan status gizi balita (p-value = 1,00). 42. Berdasarkan IMT/U tidak ada hubungan antara protein dengan status gizi balita (p-value = 1,00). 43. Berdasarkan IMT/U tidak ada hubungan antara kalsium dengan status gizi balita (p-value = 0,64). 44. Berdasarkan IMT/U tidak ada hubungan antara vitamin A dengan status gizi balita (p-value = 0,37). 45. Diketahui bahwa status gizi ibu hamil berdasarkan LILA dari 10 orang ibu hamil terdapat 4orang ibu hamil (40%) termasuk dalam kategori KEK dan 6 orang Ibu hamil (60%) ibu hamil yang NON KEK. 46. Diketahui pengetahuan 10 orang (100%) ibu hamil memiliki pengetahuan yang masih kurang. 47. Diketahui kebiasaan makan ibu hamil , dari 10 orang ibu hamil diketahui bahwa 1 orang ibu hamil (10%) ibu hamil memiliki kebiasaan makan yang baik, dan 9 orang ibu hamil (90%) ibu hamil memiliki keterampilan yang masih kurang. 48. Diketahui keterampilan ibu hamil , dari 10 orang ibu hamil diketahui bahwa 3 orang ibu hamil (30%) ibu hamil keterampilan baik, dan 7 orang ibu hamil (70%) ibu hamil memiliki keterampilan yang masih kurang.

34 49. Diketahui kesehatan diri ibu hamil terhadap gizi dan kesehatan ibu hamil, dari 10 orang ibu hamil diketahui bahwa 8 orang ibu hamil (80 %) ibu hamil kesehatan diri baik, dan 2 orang ibu hamil (20 %) ibu hamil memiliki kesehatan yang masih kurang. 50. Diketahui kesehatan lingkungan ibu hamil terhadap gizi dan kesehatan ibu hamil, dari 10 orang ibu hamil diketahui bahwa 1 orang ibu hamil (10%) ibu hamil kesehatan lingkungan baik, dan 9 (90%) ibu hamil memiliki kesehatan lingkungan yang masih kurang. 51. Diketahui bahwa sebanyak 10 orang (100 %) ibu hamil tingkat asupan energinya kurang. 52. Diketahui bahwa sebanyak 6 orang (60 %) ibu hamil yang tingkat asupan protein baik dan 4 orang (40 %) ibu hamil yang tingkat asupan protein kurang. 53. Diketahui bahwa sebanyak 10 orang (100 %) ibu hamil yang tingkat asupan asam folat kurang. 54. Diketahui bahwa sebanyak 2orang (20 %) ibu hamil yang tingkat asupan vitamin C baik dan 8 orang (80 %) ibu hamil yang tingkat asupan vitamin C kurang. 55. Diketahui bahwa sebanyak 10 orang (100 %) ibu hamil yang tingkat asupan zat besi kurang. 56. Berdasarkan Pengukuran LILA tidak ada hubungan antara pendidikan dengan status gizi ibu hamil (p-value = 1,00). 57. Berdasarkan Pengukuran LILA tidak ada hubungan antara kebiasaan makan dengan status gizi ibuhamil(p-value = 0,30). 58. Berdasarkan Pengukuran LILAtidak ada hubungan antara kesehatan diri dengan status gizi ibu hamil(p-value = 1,00). 59. Berdasarkan Pengukuran LILAada keterkaitan antara kesehatan lingkungan dengan status gizi hamil. 60. BerdasarkanPengukuran LILA ada keterkaitan antara pengetahuan dengan status giziibu hamil. 61. BerdasarkanPengukuran LILAtidak ada hubungan antara keterampilan dengan status gizi ibu hamil(p-value = 1,00). 62. BerdasarkanPengukuran LILA ada keterkaitan antara asupan energi dengan status gizi ibu hamil.

35 63. Berdasarkan Pengukuran LILA tidak ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi ibu hamil(p-value = 1,00). 64. Berdasarkan Pengukuran LILA tidak ada hubungan antara asupan vitamin C dengan status gizi ibu hamil(p-value = 1,00). 65. Berdasarkan Pengukuran LILA ada keterkaitan antara asupan asam folat dengan status gizi ibu hamil. 66. Berdasarkan Pengukuran LILA ada keterkaitan antara asupan serat dengan status gizi ibu hamil. 67. Berdasarkan Pengukuran LILA dengan status gizi ibu hamil. 68. Diketahui bahwa status gizi usila berdasarkan IMT dari 10 orangusila terdapat 1orang (10 %) termasuk dalam kategori Kelebihan BB tingkat ada keterkaitan antara asupan kalsium

berat, 2 orang (20%) termasuk dalam kategori kelebihan BB tingkat ringan, 5 orang (50%) termasuk kategori berat badan normal, dan 2 0rang (20%) termasuk kategori Kekurangan BB Tingkat Ringan. 69. Diketahui pengetahuan 1 orang (10%) memilikinkategori pengetahuan yang baik, dan 9 orang (90%) Usila atau pun keluarga usila yang memiliki pengetahuan yang masih kurang. 70. Diketahui kebiasaan makanusila , dari 10 orang usilamemiliki kebiasaan makan yangkurang. 71. Diketahui keterampilanusila , dari 10 orang ibu hamil diketahui bahwa 4orang usila (40%) usila keterampilan baik, dan 6 orang ibu hamil (60%) usila memiliki keterampilan yang masih kurang. 72. Diketahui kesehatan diri usila, dari 10 orang usila diketahui bahwa 7 orang ibu hamil (70 %) usila kesehatan diri baik, dan 3 orang usila (30 %) memiliki kesehatan yang masih kurang. 73. Diketahui kesehatan lingkungan ibu hamil, dari 10 orang usila diketahui bahwa 5 orang usila (50%) memiliki kesehatan lingkungan baik, dan 5 orang (50%) usila memiliki kesehatan lingkungan yang masih kurang. 74. Diketahui bahwa sebanyak 4 orang (40 %) usila tingkat asupan energy baik dan 6 orang (60% tingkat asupan energinya kurang. 75. Diketahui bahwa sebanyak 4 orang (40 %) usila yang tingkat asupan protein baik dan 6 orang (60 %) usila yang tingkat asupan protein kurang.

36 76. Diketahui bahwa sebanyak 10 orang (100 %) usila yang tingkat asupan kalsiumkurang. 77. Diketahui bahwa sebanyak 10 orang (100 %) usila yang tingkat asupan seratkurang. 78. Berdasarkan IMT ada keterkaitan antara kebiasaan makan dengan status giziusila. 79. Berdasarkan IMTtidak ada hubungan antara kesehatan diri dengan status gizi usila(p-value = 1,00). 80. Berdasarkan IMTtidak ada hubungan antara kesehatan diri dengan status gizi usila(p-value = 1,00). 81. BerdasarkanIMTtidak ada hubungan antara keterampilan dengan status gizi usila(p-value = 1,00). 82. Berdasarkan IMT tidak ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi usila(p-value = 1,00). 83. Berdasarkan IMT tidak ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi usila (p-value = 1,00). 84. Berdasarkan IMT ada keterkaitan antara asupan kalsium dengan status gizi usila 85. Berdasarkan IMT ada keterkaitan antara asupan serat dengan status gizi ibu usila.

B. Saran Berdasarkan permasalahan yang kami temukan selama pengambilan data dasar di Desa Tewang Darayu, maka dapat kami buat beberapa saran sebagai bahan pertimbangan bagi pejabat yang berwenang dalam mengambil keputusan serta masyarakat di Desa Tewang Darayuakan memperbaiki status kesehatan bagi balita, ibu hamil, dan Usia Lanjut sebagai berikut: 1. Perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat khususnya keluarga balita, ibu hamil dan usia lanjut tentang perlunya penganekaragaman pangan dalam konsumsi sehari-hari agar dapat terpenuhi kecukupan zat gizi makro seperti kalori dan protein, dan zat gizi lainnya seperti vitamin dan mineral.

37 2. Posyandu sebagai sarana peningkatan kesehatan harus lebih ditingkatkan atau diaktifkan dan dikembangkan dalam rangka menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita. 3. Perlunya peningkatan variasi makanan dengan adanya membuat produk baru memanfaatkan hasil lahan sendiri dan menjadikan lahan sebagai tempat menanam bahan makanan. 4. Perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas penyuluhan, bagi orang tua balita, ibu hamil dan keluarga usia lanjut mengenai pentingnya pola makan yang seimbang dan kebiasaan makan yang baik. 5. Perlu peningkatan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya menjaga hygiene dan sanitasi individu melalui kegiatan gotong royong dalam memelihara kebersihan lingkungan masing-masing untuk mencegah

terjadinya masalah kesehatan yang lebih serius. 6. Perlunya peningkatan kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan

kehamilannya secara teratur kepada bidan atau kepada petugas kesehatan sekurang-kurangnya 4 kali selama kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA
Admin, 2007. Kurang Gizi pada Ibu Hamil: Ancaman pada Janin

(www.kesehatanonline.com) Bambino, 2010. Pentingnya Ventilasi dalam Rumahhttp://bambino.blogdetik.com/2010/09/19/pentingnya-ventilasi-dalamrumah/ DEPKES RI, 1996. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium, Jakarta F.G. Winarno. 2002. Kimia Pangan dan Gizi Jumirah, dkk. 1999. Anemia Ibu Hamil dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Serta Dampaknya pada Berat Bayi Lahir di Kecamatan Medan Tuntungan Kotamadya Medan. Laporan Penelitian. Medan

38 Kardjati, S. 1999. Aspek Kesehatan dan Gizi Anak Balita. Yayasan Obor Indonesia Zulhaida Lubis, 2003. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan (www. Asi.co.id, 2006, Gizi Ibu Hamil dan Menyusui, Breastfeeding Mothers Support Group) http://id.wikipedia.org/wiki/balita http://id.wikipedia.org/wiki/cuci-tangan http://id.wikipedia.org/wiki/kesehatan-lingkungan-dan-diri http://id.wikipedia.org/wiki/rumah-sehat http://id.wikipedia.org/wiki/usia-lanjut http://penjasfok.blogspot.com/p/kesehatan.html

39

LAPORAN
PERENCANAAN PROGAM GIZI (PPG) DI DESA TEWANG DARAYU KECAMATAN PULAU MALAN KABUPATEN KATINGAN

Disusun Oleh: Kelompok I Betriane Chandra Irawan Pratama Evilia Yulidya Tuwan Ira Listia Muhammad Arifullah

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA JURUSAN GIZI REGULER XI 2012

40 DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR..................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ A. Latar belakang ................................................................................... B. Rumusan masalah............................................................................. C. Tujuan ............................................................................................... D. Hipotesis ............................................................................................ E. Manfaat ............................................................................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... A. Kerangka Teori .................................................................................. 1. Balita ........................................................................................... 2. Ibu Hamil ..................................................................................... 3. Usia Lanjut .................................................................................. 4. Kesehatan Lingkungan ................................................................ 5. Kesehatan Diri ............................................................................. 6. Sosial Ekonomi............................................................................ B. Kerangka Konsep .............................................................................. C. Definisi Operasional .......................................................................... BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... A. Ruang Lingkup Penelitian .................................................................. B. Rancangan Penelitian ....................................................................... C. Populasi dan Sampel ......................................................................... D. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel ................................. E. Jenis dan Cara pengambilan data ..................................................... F. Pengolahan dan Analisis data ........................................................... BAB IV PENUTUP........................................................................................ A. Kesimpulan .................................................................................. B. Saran ........................................................................................... DAFTAR PUSTAKA 36 37 38 15 44 44 44 44 45 48 9 17 24 27 i ii 1 1 4 4 7 7 2

41 DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007.Ciri-ciri Kurang Gizi. Diakses 15 Desember 2008: Portal Kesehatan Online. Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15 Desember 2008:Republika Online Arisman, MB. 2007 .Buku Ajar Ilmu Gizi. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta . Buku kedokteran EGC. Arisman.2010.B u k u Ajar Ilmu Gizi: Gizi dalam Daur

K e h i d u p a n . J a k a r t a : Penerbit Buku Kedokteran. Dana. (2007). Proses Penuaan. Diambil tanggal 5 oktober 2012 dari

http://www.medicalzone.org. Marimbi,Hanum. 2010. tumbuh kembang, status gizi dan imunisasi dasar padabalita. Yogyakarta : Nuba Medika. Muaris, H. (2006). Sarapan Sehat untuk Anak Balita, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Notoadmodjo, S. 2005.Ilmu Kesehatan masyarakat.Jakarta: Rineka Cipta. Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Jakarta : DepertemenPendidikan Nasional. Soetjiningsing. 2005.Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : DepartemenPendidikan Nasional. Supariasa, I Dewa Nyoman. 2005. Penilaian Status Gizi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Prawirohardjo, S, 2009, Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta. Sabdono, E. & Sardjunani, N. (2007). Jumlah Lansia 2025. Diambil tanggal 1 oktober 2012 dari http://madib.blog.unair.ac.id. Supariasa, dkk, 2005, Penilaian Status Gizi, Depkes RI, Akademi Gizi, Malang. Soekirman, 2005. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. Undang-Undang Kesehatan RI. 1992. UU Kesehatan RI Tentang Kesehatan Nomor 23 Pasal 17 ayat 2. Jakarta : Sinar Grafika. Wilopo, Siswanto Agus. 2010. Kesehatan Perempuan Prioritas Pembangunan Abad Ke 21. Pusat Kesehatan Reproduksi Universitas Gajah Mada Laporan PSG Dinkes Provinsi Kalimantan Tengah, 2012)