Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Geothermal (energi panas bumi) merupakan sumber energi lokal yang tidak dapat di ekspor dan sangat ideal untuk mengurangi peran bahan bakar fosil guna meningkatkan nilai tambah nasional dan merupakan sumber energi yang ideal untuk pengembangan daerah setempat. Selain itu, energi panas bumi adalah energi terbarukan yang tidak tergantung pada iklim dan cuaca, sehingga keandalan terhadap sumber energinya tinggi. Dari segi pengembangan sumber energi ini juga mempunyai fleksibilatas yang tinggi karena dalam memenuhi kebutuhan beban dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfataannya diperlukan proses penambangan. Panas bumi adalah sumber daya alam yang dapat diperbarui, berpotensi besar serta sebagai salah satu sumber energi pilihan dalam keanekaragaman energi. Panas bumi merupakan sumber energi panas yang terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi. Sumber energi tersebut berasal dari pemanasan batuan dan air bersama unsur-unsur lain yang dikandung panas bumi yang tersimpan di dalam kerak bumi. Energi panas bumi memiliki manfaat yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan jika energi panas bumi kurang dieksplor. Untuk bisa memanfaatkan secara maksimal diperlukan pengetahuan tentang pembentukan energi panas bumi.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka perumusan masalah dapat diuraikan sebagai berikut: a. b. c. d. e. Bagaimana proses pembentukan energi panas bumi? Apa saja jenis-jenis energi panas bumi? Apa saja manfaat dari energi panas bumi? Apa keuntungan dan kerugian energi panas bumi? Apa saja dampak dari energi panas bumi?
1

f. g.

Dimana saja sumber energi panas bumi di Indonesia? Bagaimana penerapan energi panas bumi di Indonesia?

1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah: a. b. c. d. e. f. g. Mengetahui proses pembentukan energi panas bumi. Mengetahui jenis-jenis energi panas bumi. Mengetahui manfaat dari energi panas bumi. Mengetahui keuntungan dan kerugian energi panas bumi. Mengetahui dampak dari energi panas bumi. Mengetahui sumber energi panas bumi di Indonesia. Mengathui penerapan energi panas bumi di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Proses Pembentukan Energi Panas Bumi Energi panas bumi (geothermal) di Indonesia tersedia sebanyak 40 % energi panas bumi dunia. Semakin ke bawah, temperatur bawah permukaan bumi semakin meningkat atau semakin panas. Panas yang berasal dari dalam bumi dihasilkan dari reaksi peluruhan unsur-unsur radioaktif seperti uranium dan potassium. Reaksi nuklir yang sama saat ini masih terjadi di matahari dan bintang-bintang yang tersebar di jagad raya. Reaksi ini menghasilkan panas hingga jutaan derajat celcius. Permukaan bumi pada awal terbentuknya juga memiliki panas yang dahsyat. Namun setelah melewati masa milyaran tahun, temperatur bumi terus menurun dan saat ini sisa-sisa reaksi nuklir tersebut hanya terdapat di bagian inti bumi saja. Pada kedalaman 10.000 meter atau 33.000 feet, energi panas yang dihasilkan bisa mencapai 50.000 kali dari jumlah energi seluruh cadangan minyak bumi dan gas alam yang masih ada. Terbentuknya panas bumi, sama halnya dengan prinsip memanaskan air (erat hubungan dengan arus konveksi). Air yang terdapat pada teko yang dimasak di atas kompor, setelah panas, air akan berubah menjadi uap air . Hal serupa juga terjadi pada pembentukan energi panas bumi. Air tanah yang terjebak di dalam batuan yang kedap dan terletak di atas dapur magma atau batuan yang panas karena kontak langsung dengan magma, otomatis akan memanaskan air tanah yang terletak di atasnya sampai suhu yang cukup tinggi (100 - 2500 C). Sehingga air tanah yang terpanaskan akan mengalami proses penguapan. Apabila terdapat rekahan atau sesar yang menghubungkan tempat terjebaknya air tanah yang dipanaskan tadi dengan permukaan maka pada permukaan kita akan melihat manifestasi thermal. Salah satu contoh yang sering kita jumpai adalah mata air panas, selain solfatara, fumarola, geyser yang merupakan contoh manifestasi thermal yang lain. Uap hasil penguapan air tanah yang terdapat di dalam tanah akan tetap tanah jika tidak ada saluran yang menghubungkan daerah tempat keberadaan uap dengan permukaan. Uap yang terkurung akan memiliki nilai tekanan yang tinggi dan apabila pada daerah tersebut kita bor sehingga ada saluran penghubung ke permukaan, maka uap tersebut akan mengalir keluar. Uap yang mengalir dengan cepat dan mempunyai
3

entalpi, inilah yang dapat dimanfaatkan dan disalurkan untuk memutar turbin sehingga dihasilkan energi listrik.

Di permukaan bumi sering terdapat sumber-sumber air panas, bahkan sumber uap panas. Panas itu datangnya dari batu-batu yang meleleh atau magma yang menerima panas dari inti bumi. Magma yang terletak di dalam lapisan mantel memanasi suatu lapisan batu padat. Di atas lapisan batu padat terletak suatu lapisan batu berpori yaitu batu yang mempunyai lubang-lubang kecil. Bila lapisan batu berpori ini berisi air yang berasal dari air tanah atau air resapan hujan atau resapan air danau maka air itu turut dipanaskan oleh lapisan batu padat yang panas. Bila panasnya besar maka terbentuk air panas bahkan dapat terbentuk uap dalam lapisan batu berpori. Bila di atas lapisan batu berpori terdapat satu lapisan batu padat maka lapisan batu berpori berfungsi sebagai boiler. Uap dan juga air panas bertekanan akan berusaha keluar. Dalam hal ini ke atas yaitu permukaan bumi. Gejala panas bumi pada umumnya tampak pada permukaan bumi berupa mata air panas, geyser, fumarola dan sulfatora.

2.2 Jenis Energi Panas Bumi Energi panas bumi yang ada di Indonesia pada saat ini dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu uap alam, air panas, dan batuan kering panas. Sejauh ini ketiga jenis panas bumi itu keberadaannya masih belum dimanfaatkan secara maksimal di Indonesia. Pemanfaatan energi panas bumi memang tidak mudah. Energi panas bumi yang umumnya berada di kedalaman 1.000-2.000 meter di bawah permukaan tanah sulit ditebak keberadaan dan karakternya. Untuk mengeksplorasi ke tiga jenis energi panas bumi diperlukan sumber daya yang tidak sedikit. Tiga jenis energi panas bumi yaitu: 2.2.1 Energi Uap Basah Pemanfaatan energi panas bumi yang ideal adalah bila panas bumi yang keluar dari perut bumi berupa uap kering, sehingga dapat digunakan langsung untuk menggerakkan turbin generator listrik. Namun uap kering yang demikian ini jarang ditemukan termasuk di Indonesia dan pada umumnya uap yang keluar berupa uap basah yang mengandung sejumlah air yang harus dipisahkan terlebih dulu sebelum digunakan untuk menggerakkan

turbin. Jenis sumber energi panas bumi dalam bentuk uap basah agar dapat dimanfaatkan maka terlebih dahulu harus dilakukan pemisahan terhadap kandungan airnya sebelum digunakan untuk menggerakan turbin.

Uap basah yang keluar dari perut bumi pada mulanya berupa air panas bertekanan tinggi yang pada saat menjelang permukaan bumi terpisah menjadi kira-kira 20 % uap dan 80 % air. Atas dasar ini maka untuk dapat memanfaatkan jenis uap basah ini diperlukan separator untuk memisahkan antara uap dan air. Uap yang telah dipisahkan dari air diteruskan ke turbin untuk menggerakkan generator listrik, sedangkan airnya disuntikkan kembali ke dalam bumi untuk menjaga keseimbangan air dalam tanah.

2.2.2 Energi Panas Bumi Air Panas Air panas yang keluar dari perut bumi pada umumnya berupa air asin panas yang disebut brine dan mengandung banyak mineral. Karena banyaknya kandungan mineral ini, maka air panas tidak dapat digunakan langsung sebab dapat menimbulkan penyumbatan pada pipa-pipa sistim pembangkit tenaga listrik. Untuk dapat memanfaatkan energi panas bumi
6

jenis ini, digunakan sistem biner (dua buah sistem utama) yaitu wadah air panas sebagai sistem primemya dan sistem sekundernya berupa alat penukar panas (heat exchanger) yang akan menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin.

Energi panas bumi uap panas bersifat korosif, sehingga biaya awal pemanfaatannya lebih besar dibandingkan dengan energi panas bumi jenis lainnya.

2.2.3 Energi Panas Bumi Batuan Panas Energi panas bumi jenis ketiga berupa batuan panas yang ada dalam perut bumi terjadi akibat berkontak dengan sumber panas bumi (magma). Energi panas bumi ini harus diambil sendiri dengan cara menyuntikkan air ke
7

dalam batuan panas dan dibiarkan menjadi uap panas, kemudian diusahakan untuk dapat diambil kembali sebagai uap panas untuk menggerakkan turbin. Sumber batuan panas pada umumnya terletak jauh di dalam perut bumi, sehingga untuk memanfaatkannya perlu teknik pengeboran khusus yang memerlukan biaya cukup tinggi. Energi yang berada pada Hot Dry Rock ( HDR ) ini disebut juga sebagai energi petrothermal, yang merupakan sumber terbesar dari energi panas bumi. HDR terletak pada kedalaman sedang dan bersifat impermeabel. Untuk menggunakan energi yang dimiliki HDR, perlu menginjeksikan air pada HDR dan mengembalikannya kembali ke permukaan. Hal ini membutuhkan mekanisme transportasi untuk dapat membuat batuan impermeabel menjadi struktur permeabel dengan luas permukaan perpindahan panas yang besar. Permukaan yang luas ini diperlukan karena sifat batu yang memiliki konduktivitas termal yang kecil. Proses perubahan batuan permeabel dapat dilakukan memecahkan batuan tersebut dengan menggunakan air bertekanan tinggi ataupun ledakan nuklir .Proses eksplorasi yang dilakukan terhadap jenis ini lebih aman dibandingkan dengan jenis hydrothermal yang

kemungkinan besar memiliki fluida, baik berupa uap maupun air panas. Hal ini disebabkan jenis energi panas bumi ini memiliki tingkat korosi, erosi serta zat-zat beracun yang lebih rendah dibandingkan dengan jenis hydrothermal.

2.3 Manfaat Energi Panas Bumi Energi panas bumi dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal, yaitu: 2.3.1 Pembangkit Listrik Energi panas bumi berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi sejak planet ini diciptakan. Panas bumi juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Energi panas bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, tetapi terbatas hanya pada dekat area perbatasan lapisan tektonik. Dikatakan ramah lingkungan karena unsurunsur yang berasosiasi dengan energi panas tidak membawa dampak lingkungan atau berada dalam batas yang berlaku. Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun di sekitar lempeng tektonik yang bertemperatur tinggi dari sumber panas bumi tersedia di dekat permukaan. Pengembangan dan penyempurnaan teknologi pengeboran serta ekstrasi telah memperluas jangkauan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi dari lempeng tektonik terdekat. Sebagian besar energi panas-bumi yang diperoleh dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Lebih dari 200 lokasi panas-bumi terletak di daerah terpencil seperti Nusa Tenggara dan Maluku berpeluang untuk pengembangan listrik pedesaan. Pengembangan sumber panas-bumi skala kecil (<10 MW) dimanfaatkan untuk listrik pedesaan disamping untuk keperluan pertanian/perkebunan dan industri kecil. Direktorat Perencanaan PT. PLN memproyeksikan kebutuhan energi listrik pada tahun 1998/1999 sebesar 17.247 MW dan pada tahun 2003/2004 sebesar 27.284 MW. Soegianto menggambarkan kebutuhan sumber energi pada tahun 1998/1999 untuk pembangkitan tenaga listrik dari kelima jenis sumber energi (migas & batubara, tenaga-air, panas-bumi) sebesar 664,8 SBM atau sebesar 1130,16 MW dengan perincian 51% BBM, 24% gas, 18% batubara, 5% tenaga air, dan 2 % panas bumi (12 SBM=20,4 MW). Sedangkan pemasokan masing-masing energi untuk pembangkitan listrik berjumlah 242,2 SBM atau sebesar 411,74 MW, dengan perincian: 31% BBM, 22% gas, 28 % batubara, 14 % tenaga air, dan 5 % panas bumi. Apabila ditinjau
9

partisipasi masing-masing jenis sumber energi tersebut, panas bumi dan tenaga air dapat memenuhi total kebutuhan yang direncanakan untuk jenis energi tersebut. Dalam hal ini ada peluang penggantian kebutuhan energi fosil dengan energi panas bumi maupun energi terbarukan lainnya.

2.3.2 Kegiatan Usaha Pemanfaatan Energi Selain untuk tenaga listrik, panas bumi dapat langsung dimanfaatkan untuk kegiatan usaha pemanfaatan energi dan/atau fluidanya, misalnya dimanfaatkan dalam dunia agroindustri. Sifat panas bumi sebagai energi terbarukan menjamin kehandalan operasional pembangkit karena fluida panas bumi sebagai sumber tenaga yang digunakan sebagai penggeraknya akan selalu tersedia dan tidak akan mengalami penurunan jumlah. Pada sektor lingkungan, berdirinya pembangkit panas bumi tidak akan mempengaruhi persediaan air tanah di daerah tersebut karena sisa buangan air disuntikkan ke bumi dengan kedalaman yang jauh dari lapisan aliran air tanah. Limbah yang dihasilkan juga hanya berupa air sehingga tidak mengotori udara dan merusak atmosfer. Kebersihan lingkungan sekitar pembangkit pun tetap terjaga karena pengoperasiannya tidak memerlukan bahan bakar, tidak seperti pembangkit listrik tenaga lain yang memiliki gas buangan berbahaya akibat pembakaran.

10

2.3.3 Tempat Pariwisata Di sektor pariwisata, keberadaan panas bumi seperti air panas maupun uap panas menjadi daya tarik tersendiri untuk mendatangkan orang. Tempat pemandian air panas di Cipanas, Ciateur, mapun hutan taman wisata cagar alam Kamojang menjadi tempat tujuan bagi orang untuk berwisata.

2.3.4 Pengeringan Selain diamanfaatkan pada sektor pariwisata, energi panas bumi juga dapat dimanfaatkan untuk pengeringan. Energi panas bumi dapat digunakan secara langsung (teknologi sederhana) untuk proses pengeringan terhadap hasil pertanian, perkebunan dan perikanan dengan proses yang tidak terlalu sulit. Air panas yang berasal dari mata air panas atau sumur produksi panas bumi pada suhu yang cukup tinggi dialirkan melalui suatu heat exchanger, yang kemudian memanaskan ruangan pengering yang dibuat khusus untuk pengeringan hasil pertanian.

11

2.4 Keuntungan dan Kerugian Energi Panas Bumi Seperti halnya pada energi yang lain, energi panas bumi atau geothermal ini juga memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungan dan kerugian tersebut akan dijelaskan seperti berikut. Keuntungan :

Mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil Emisi yang ditimbulkan sangat kecil. Energi yang dihasilkannya berkesinambungan mengingat panas yang

dimanfaatkan jauh lebih kecil daripada sumber panasnya.

Pembangkit yang memanfaatkan energi geothermal bisa beroperasi tanpa terpengaruh waktu dan iklim, sehingga bisa berfungsi untuk memenuhi beban dasar listrik. Kerugian :

Air/cairan yang bersumber dari geothermal bersifat korosif. Pada suhu relatif rendah, sesuai hukum termodinamika, efisiensi sistem menurun.

Pembangunan pembangkit listrik geothermal juga mempengaruhi kestabilan tanah di area sekitarnya.

Pembangkit listrik yang memanfaatkan energi geothermal dengan tipe dry steam dan flash steam melepaskan emisi karbon dioksida, nitrit oksida, dan sulfur meski dalam jumlah yang sangat kecil.
12

Air yang bersumber dari geothermal juga akan berbahaya bagi mahluk hidup jika dibuang ke sungai karena mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, arsenik, antimony dan sebagainya.

2.5 Dampak Energi Panas Bumi Pemanfaatan energi geothermal atau energi panas bumi secara real dalam bentuk pembangkit listrik bersifat ramah lingkungan. Hal ini disebabkan karena pembangkit energi geothermal tidak membutuhkan bahan bakar untuk menghasilkan listrik sehingga level emisinya sangat rendah. Ia membebaskan 1 3% karbon dioksida (CO2) dari yang dikeluarkan energi fosil. Pembangkit tenaga geothermal menggunakan sistem pencuci untuk memebersihkan udara dari hidrogen sulfida (H2S) yang secara alami ditemukan di dalam uap air dan air panas. Pembangkit tenaga geothermal membebaskan kurang dari 97% hujan asampenyusun sulfur daripada bahan bakar fosil. Setelah uap air dan air dari reservoir tenaga geothermal digunakan, air kemabali diinjeksikan ke tanah. Selebihnya, karena level emisinya rendah, maka pemanfaatannya pun mengurangi keberlanjutan global warming. Namun adanya pembangkit geothermal ini, akan merusak keberadaan hutan lindung, amblesan tanah, pengurangan air, penggundulan hutan dan erosi. Dan tentunya ini menimbulkan dampak negatif sosial terhadap masyarakat seperti, resahnya masyarakat apabila sewaktu-waktu amblas, hancur, kekeringan, kebakaran, dan ketidakpastian hingga akhir. Dampak terhadap lingkungan yang lainnya berupa, akuisisi lahan, penggangguan flora dan fauna, emisi udara , kebisingan, thermal effluents, chemical discharge, limbah padat, penggunaan air, dan dampak sosial-ekonomi.

13

2.6 Sumber Energi Panas Bumi di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan yang terdapat beberapa gunung berapi yang telah non aktif, gunung api nonaktif inilah sebagai penghasil panas bumi, secara geologis terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama yaitu : Lempeng Eropa-Asia, India-Australia dan Pasifik yang berperan dalam proses pembentukan gunung api di Indonesia. Kondisi geologi ini memberikan kontribusi nyata akan ketersediaan energi panas bumi di Indonesia. Manifestasi panas bumi yang berjumlah tidak kurang dari 244 lokasi tersebar di P. Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, P. Sulawesi, Halmahera dan Irian Jaya, menunjukkan betapa besarnya kekayaan energi panas bumi yang tersimpan di dalamnya.

2.7 Penerapan Energi Panas Bumi di Indonesia Penggunaan listrik di Indonesia, menurut laporan Asian Development Bank (ADB) tentang investigasi di tahun 2010 mengindikasikan kapasitas listrik di Indonesia, dirasa cukup mengkhawatirkan dan perlu mendapatkan perhatian yang serius ke depan. Dari kapasitas maksimum listrik 18.000 MW yang harus dibagi oleh 300 juta penduduk di Indonesia dan praktis, masing-masing individu hanya mendapat 60 Watt saja, yang setara dengan 1 buah lampu pijar, tentunya ini kondisi yang sangat memprihatinkan.

14

Indonesia merupakan negara dengan konsumsi listrik terendah di ASEAN setelah Kamboja dan Laos. Apabila rata-rata konsumsi listrik masih 2.3-2.5% maka bukan tidak mungkin pada tahun 2030 nanti konsumsinya mencapai 16.000 TWh. Tentunya diperlukan peningkatan investasi di bidang pembangkit listrik dengan tingkat energi primer berskala besar seperti minyak bumi, batu-bara, gheotermal, nuklir ataupun gas alam. Berdasarkan data International Energy Agency di tahun 2010, Indonesia dengan pendapatan USD 3.500 per kapita, konsumsi listrik Indonesia baru 591 KWh per kapita. Menurut data PLN di tahun 2011, konsumsi listrik rumah tangga menyerap energi paling besar hingga 15.300 GWh, konsumsi listrik di Industri sebesar 13.000 GWh, pelanggan bisnis 6.700 GWh, dan sisanya sebesar 2.400 GWh diserap oleh kelompok lain. Pemerintah sangat tidak mungkin untuk mengandalkan teknologi

pembangkit listrik tenaga Minyak dan Gas, hal ini dirasa bukan lagi alternative energi primer yang menjajikan kedepannya. Pemerintah menyadari bahwa saat ini perlu adanya pengurangan energi jenis ini dengan pembatasan konsumsi energi tersebut serta pengalihan ke energi primer lainnya yang lebih menjanjikan lagi seperti batu-bara, gas bumi, dan panas bumi. Perlu diketahui bahwa cadangan energi panas bumi menurut PT.Pertamina Gheotermal Energy, Indonesia menyimpan 40 % energi panas bumi dunia. Cadangan ini dapat menghasilkan listrik hingga 27.000 MW, sementara yang termanfaatkan baru 1.12 MW saja. Tentunya bukan tidak mungkin apabila energi ini terus dikembangkan dan diteliti lebih lanjut, maka Indonesia akan menjadi kiblat bagi pengembangan energi panas bumi seluruh dunia. Pemenuhan ini harus segera dilaksanakan, ini merupakan kebutuhan yang mendesak, yang apabila tidak dipenuhi, tentunya akan terjadi krisis energi yang berkepanjangan, dan apabila Indonesia ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sector industri, maka pemenuhan listrik ini harus dipenuhi dengan baik. Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi merupakan energi kekinian yang dipakai untuk menjamin kestabilan suplai listrik di masa yang akan datang. Untuk membangun suatu pembangkit listrik tenaga panas bumi ini diperlukan 3.000 operator terlatih dan 1.000 orang tenaga ahli. Perusahaan di bidang panas bumi, Asosiasi Panas Bumi (API) mengatakan mereka membutuhkan tenaga yang siap diterjunkan dan diberi pelatihan hingga jangka 5 tahun ke depan.
15

Energi Panas Bumi tersebar di 276 titik, dengan total potensi 29.000 MW. Hingga saat ini yang sudah termanfaatkan baru sekitar 4 %. Hambatan dalam terlaksananya pembangkit listrik panas bumi ini adalah biaya investasi awalnya yang cukup besar untuk membangun PLTP ini. Energi panas bumi memiliki nilai panas yang sangat besar, untuk setiap 100 m penurunan terjadi peningkatan suhu sebesar 30 Celcius. Panas ini terdapat pada inti bumi, di Indonesia 20% adalah kawasan ring of fire, apabila panas ini dikonversi setara dengan minyak bumi yaitu 20 ribu MW dengan 8 Milyard Barrel minyak bumi. Pembangkit listrik tenaga panas bumi ini tidak membutuhkan bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Panas uap ini membebaskan H2S dalam atmosfer dan membebaskan kurang dari 97% hujan asam-penyusun sulfur daripada minyak bumi. Setelah air ini digunakan dalam gheotermal, air diinjeksikan kembali dalam tanah. Untuk 1 kali pengeboran dibutuhkan dana sekitar 70 milyar, hingga mendapatkan reservoir yang cocok. Dan apabila dilakukan pengeboran 1 kali, bukan berarti sumur tersebut dapat langsung memenuhi kebutuhan seluruhnya, dibutuhkan debit panas bumi yang cukup besar sehingga, butuh beberapa kali pengeboran untuk beberapa sumur, hal inilah yang membuat pengembalian modal yang cukup lama. Sehingga yang berani untuk mengaplikasikan teknologi ini hanyalah, perusahaan yang mempunyai pendapat yang cukup besar, butuh dukungan yang besar dari pemerintah apabila ingin mengembangkan teknologi ini.

16

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dari pembahasan yang ada maka dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Proses pembentukan energi panas bumi terjadi karena air tanah yang terjebak di dalam batuan yang kedap dan terletak di atas dapur magma atau batuan yang panas karena kontak langsung dengan magma, otomatis akan memanaskan air tanah yang terletak di atasnya sampai suhu yang cukup tinggi (100 - 2500 C). Sehingga air tanah yang terpanaskan akan mengalami proses penguapan. Uap hasil penguapan air tanah yang terdapat di dalam tanah akan tetap berada di dalam tanah jika tidak ada saluran yang menghubungkan daerah tempat keberadaan uap dengan permukaan. Uap yang terkurung akan memiliki nilai tekanan yang tinggi dan apabila pada daerah tersebut kita bor sehingga ada saluran penghubung ke permukaan, maka uap tersebut akan mengalir keluar. Uap yang mengalir dengan cepat dan mempunyai entalpi, inilah yang dapat dimanfaatkan dan disalurkan untuk memutar turbin sehingga dihasilkan energi listrik. b. Jenis-jenis energi panas bumi adalah energi uap basah, energi panas bumi air panas, dan energi panas bumi batuan panas. c. Energi panas bumi dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, kegiatan usaha pemanfaatan energi, tempat pariwisata, dan pengeringan. d. Keuntungan dari energi panas bumi antara lain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil; emisi yang ditimbulkan sangat kecil; energi yang dihasilkannya berkesinambungan mengingat panas yang dimanfaatkan jauh lebih kecil daripada sumber panasnya; pembangkit yang memanfaatkan energi geothermal bisa beroperasi tanpa terpengaruh waktu dan iklim, sehingga bisa berfungsi untuk memenuhi beban dasar listrik. Sedangkan kerugian dari energi panas bumi adalah air/cairan yang bersumber dari geothermal bersifat korosif; pada suhu relatif rendah, sesuai hukum termodinamika, efisiensi sistem menurun; pembangunan pembangkit listrik geothermal juga mempengaruhi kestabilan tanah di area sekitarnya; pembangkit
17

listrik yang memanfaatkan energi geothermal dengan tipe dry steam dan flash steam melepaskan emisi karbon dioksida, nitrit oksida, dan sulfur meski dalam jumlah yang sangat kecil; air yang bersumber dari geothermal juga akan berbahaya bagi mahluk hidup jika dibuang ke sungai karena mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, arsenik, antimony dan sebagainya. e. Pemanfaatan energi panas bumi dapat menimbulkan dampak pada daerah di sekitarnya, yaitu merusak keberadaan hutan lindung, amblesan tanah,

pengurangan air, penggundulan hutan dan erosi. Dan tentunya ini menimbulkan dampak negatif sosial terhadap masyarakat seperti, resahnya masyarakat apabila sewaktu-waktu amblas, hancur, kekeringan, kebakaran, dan ketidakpastian hingga akhir. Dampak terhadap lingkungan yang lainnya berupa, akuisisi lahan, penggangguan flora dan fauna, emisi udara , kebisingan, thermal effluents, chemical discharge, limbah padat, penggunaan air, dan dampak sosial-ekonomi. f. Sumber energi panas bumi di Indonesia terletak di P. Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, P. Sulawesi, Halmahera dan Irian Jaya. g. Penerapan energi panas bumi di Indonesia masih sangat sedikit. Energi Panas Bumi tersebar di 276 titik, dengan total potensi 29.000 MW. Hingga saat ini yang sudah termanfaatkan baru sekitar 4 %. Hambatan dalam terlaksananya pembangkit listrik panas bumi ini adalah biaya investasi awalnya yang cukup besar untuk membangun PLTP ini.

18

DAFTAR PUSTAKA

http://118.98.214.163/edunet/PRODUKSI%202009/PENGETAHUAN%20POPULER/ ENERGI/Pemanfaatan%20Energi%20Panas%20Bumi/materi_3.html http://ririnyp.wordpress.com/ http://hendrickwarman.wordpress.com/ http://www.ristek.go.id/index.php http://www.kompasiana.com/channel/peristiwa http://www.indoenergi.com/p/kontak-indoenergi.html http://www.orbit-digital.com/ http://www.greenpeace.org/seasia/id/ http://energi-panas-bumi-vivie.blogspot.com/2011/06/energi-panas-bumi.html

19