Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Dalam perkembangan di dunia kesehatan seperti sekarang ini, diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit yang sering diperbincangkan oleh banyak orang di seluruh dunia karena merupakan ancaman bagi kesehatan manusia (Smeltzer & Bare, 2002).Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. Apabila dibiarkan tak terkendali, penyakit ini akan menimbulkan penyakit penyakit yang dapat berakibat fatal. Termasuk penyakit jantung, ginjal, kebutaan dan amputasi (PERKENI, 2006) Diabetes melitus (DM) menjadi masalah paling umum di dunia. Banyak negara maju dan berkembang yang penduduknya menderita penyakit ini (PERKENI, 2006). Penyakit diabetes mellitus ini bukan hanya diderita oleh kaum lajut usia saja. Kini semua kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa dapat terserang penyakit diabetes mellitus (Prince dan Wilson, 2006). Diantara penyakit degeneratif, Diabetes Mellitus adalah salah satu diantara penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya di masa mendatang. Diabetes sudah merupakan salah satu ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad 21. Penelitian yang dilakukan di Negara berkembang dan data terakhir dari WHO menunjukkan peningkatan tertinggi jumlah pasien Diabetes Mellitus berada di Asia Tenggara termasuk Indonesia (Sudoyo, 2009) Dalam Diabetes Atlas 2000 (Internasional Diabetes Federation) tercantum perkiraan penduduk Indonesia di atas 20 tahun sebesar 125 juta dan dengan asumsi prevelensi DM sebesar 4,6%, di perkirakan pada tahun 2000 pasien DM akan berjumlah 5,6 juta. Berdasarkan pola pertambahan penduduk seperti ini , diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada sejumlah 178 juta penduduk berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM sebesar 4,6% akan didapatkan 8,2 juta pasien diabetes (PERKENI, 2006). Menurut survei yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO), jumlah penderita DM di Indonesia pada tahun 1995 menempati peringkat tujuh di dunia dengan jumlah penderita 4,5 juta jiwa. WHO memperkirakan pada tahun 2025, Indonesia akan menempati peringkat no lima di dunia dengan jumlah penderita DM sebanyak 12,4 juta jiwa (Sudoyo,2009). Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bekerjasama dengan Bidang Pendidikan Pengembangan Departemen Kesehatan melakukan surveilens tahun 2006 terhadap faktor risiko penyakit tidak menular di Jakarta yang melibatkan 1591 subyek, melaporkan prevalensi diabetes mellitus di lima wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta sebesar 12,1 % dengan diabetes mellitus yang terdeteksi sebesar 3,8% dan diabetes mellitus yang tidak terdeteksi sebesar 11,2%. Dalam jangka 30 tahun penduduk Indonesia akan naik sebesar 40% dengan peningkatan jumlah pasien diabetes yang jauh lebih besar yaitu 86-138% (Sudoyo, 2009). Diabetes melitus ditandai dengan kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl , kadar glukosa darah puasa >126 mg/dl dan gejala khas dari DM berupa poliuria, polidipsia, dan polifagia. Jumlah penderita diabetes mellitus di Propinsi Bali dari tahun

A.

ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 jumlah penderita diabetes mellitus sebanyak 98.000 orang, tahun 2009 sebanyak 108.000 orang dan sebanyak 161.000 orang pada tahun 2010 (Dinkes propinsi Bali, 2011). Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Puskesmas III Denpasar Utara, didapatkan data pasien diabetes mellitus tipe II (relative) tahun 2011 sebanyak 888 orang jadi rata-rata perbulan pada tahun 2011 adalah 74 orang dan data diabetes mellitus tipe II pada bulan Januari 2012 sebanyak 156 orang. Jadi rata perbulan tahun 2011 dan bulan Januari 2012 mengalami peningkatan ( Register bulanan Puskesmas III Denpasar Utara). Individu yang berisiko tinggi terkena diabetes mellitus adalah mereka yang mempunyai berat badan berlebih (obesitas), umur di atas 40 tahun, perokok, pola makan yang tidak benar, dan gaya hidup yang santai (kurang olahraga / aktifitas fisik). Diabetes mellitus ini merupakan penyakit degeneratif yang bersifat kronik dan progresif, bilamana jika penanganan diabetes mellitus ini tidak baik maka akan menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan termasuk komplikasi berbagai macam penyakit. Komplikasi pada diabetes dapat berupa komplikasi akut dan kronik. Komplikasi akut meliputi hipoglikemi, ketoasidosis, dan hiperosmolar-non ketotik dan komplikasi kronik dibagi menjadi makroangiopati, mikrovaskular dan neuropati. Komplikasi makrovaskular di otak sebagai stroke, di jantung sebagai penyakit jantung vaskular, di jaringan perifer sebagai penyakit arteri perifer. Komplikasi mikrovaskular di mata sebagai retinopati dan juga glaukoma serta katarak. Di ginjal sebagai nefropati dan jaringan saraf sebagai neuropati (Smeltzer & Bare, 2002) Diabetes mellitus dapat dikendalikan dengan baik apabila terdapat keseimbangan yang baik antara diet, pengobatan, evaluasi kesehatan dan aktifitas fisik/olahraga. Penanganan Diabetes melitus dapat di kelompokkan kedalam empat pilar, yaitu edukasi, perencanaan makan, latihan jasmani dan intervensi farmakologis (Badawi, 2009).Untuk penderita diabetes tipe 2, penekanan adalah pada diet, pengendalian berat badan dan olah raga. Pengobatan seperti agen antidiabetes dan insulin digunakan seperlunya (Price & Wilson, 2006). Modalitas penatalaksanaan diabetes mellitus salah satunya adalah dengan terapi non farmakologis yang meliputi perubahan gaya hidup dengan melakukan pengaturan pola makan yang dikenal sebagai terapi gizi medis. Terapi gizi medis sangat direkomendasikan bagi penyandang diabetes yang pada prinsipnya adalah melakukan pengaturan pola makan dan melakukan diet berdasarkan kebutuhan individual. Terapi gizi medis memiliki manfaat untuk menurunkan berat badan, memperbaiki profil lipid, mengontrol kadar glukosa darah, dan memperbaiki sensitivitas reseptor insulin (Sudoyo, 2009). Pengaturan diet merupakan cara yang efektif untuk menurunkan kadar glukosa darah. Salah satu bahan makanan yang dihubungkan dengan penurunan kadar glukosa darah yaitu susu kedelai (Suarasana,2008; Runiana, 2009; Ghozali, 2010). Susu kedelai merupakan salah satu produk non-fermentasi kedelai yang dibuat melalui 2 tahapan. Susu kedelai termasuk sumber protein nabati yang lazim dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai minuman tambahan. Susui kedelai tergolong sumber minuman dengan kandungan asam amino esensial dan non esensial yang lengkap, kadar lemak jenuh rendah, isoflavon tinggi, serat tinggi, indeks glikemik rendah (glycemic index <55), dan mudah dicerna (Muchtadi, 2010). Protein susu kedelai tinggi

kandungan arginin dan glisin, yang terkait sekresi insulin dan glukagon dari pancreas (Bhathena, 2002 dalam Rimbawan, 2004). Keadaan hiperglikemia dapat memperberat keadaan resistensi insulin yang akhirnya dapat memperburuk DM dan menimbulkan berbagai komplikasi. Selain terapi konvensional pada penderita DM, perlu dipertimbangkan pemberian makanan tambahan yang dapat mengontrol kadar glukosa darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa susu kedelai dan isoflavon yang banyak terdapat dalam kedelai berperan untuk metabolisme glukosa darah. Susu kedelai banyak beredar di masyarakat, baik dalam bentuk cair ataupun bubuk. Susu kedelai bubuk buatan pabrik yang mengalami proses fortifikasi dianggap memiliki pengaruh yang lebih baik pada berbagai proses metabolisme, termasuk pada penyakit DM. Berdasarkan berbagai kandungan gizi yang dimiliki oleh susu kedelai, maka dari itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh susu kedelai terhadap glukosa darah puasa pada penderita diabetes mellitus tipe II, mengingat susu kedelai merupakan salah satu jenis produk olahan kedelai yang ekonomis dan mudah di dapat di masyarakat. Sehingga diharapkan susu kedelai dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes mellitus tipe II.

Daftar pustaka

Badawi, H.2009. Melawan Dan Mencegah Diabetes Panduan Hidup Sehat Tanpa Diabetes . Cetakan Pertama : PT Raja Grafindo Persada.

Bathena SJ, Verlasquez MT. 2002. Benefical Role of Dietary Phytoestrogen in Obesity and Diabetes. Am J Clin Nut

Ganong, W.F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta : Pnerbit Buku Kedokteran EGC.

Ghozali DS, Handharyani E, Rimbawan. 2010 . Pengaruh Tempe terhadap Kadar Gula Darah dan Kesembuhan Luka pada Tikus Diabetik. Cermin Dunia Kedokteran April .Vol. 37 No. 3.

Guyton, Arthur C. 1997. Insulin,Glukagon dan Diabetes Mellitus Dalam Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.

Guyton, A.C. 1996. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi 3. Jakarta : EGC

Guyton, A.C. and Hall J.E. 2000. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 10. Jakarta : EGC

, 2008. Buku Ajar Fisologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC

Hartini, S. 2009. Diabetes Siapa Takut, Qianita : PT Mizan Pustaka.

Muchtadi, Deddy. 2010. Kedelai Komponen Bioaktif Untuk Kesehatan. Bandung : Alfabeta.

Murti,B. 2006. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Nursalam. 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.

PERKENI. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta : PB PERKENI.

Rimbawan, Albiner S. 2004.Indeks Glikemik Pangan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Runiana ED. 2009. Distribusi Sel Insulin Pankreas Pada Tikus Hiperglikemia yang Diberi Diet Tempe [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

Sherwood, L. 2001. Fisologi Manusi dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.

Smeltzer & Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 2. Jakarta : EGC.