P. 1
konflik

konflik

|Views: 255|Likes:
Dipublikasikan oleh Nathan Blue Silence
Contoh konflik dalam masyarakat
Contoh konflik dalam masyarakat

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Nathan Blue Silence on Feb 01, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2015

pdf

text

original

CONTOH KONLIK DALAM REALITA MASAYARAKAT

TUGAS INDIVIDU UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Analisis Kebijakan dan Pengambilan Keputusan yang dibina oleh Ibu Prof. Dr. Ali Imron M.Si

oleh Desy Pranita Kusumawati 110131436543

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN Januari 2013

1.

Konflik Adat Istiadat Bentrok massal antarwarga desa adat di Bali hingga kini masih sering kali muncul

ke permukaan, bahkan sampai merenggut korban jiwa, meskipun awalnya konflik itu hanya dipicu masalah sepele. Konflik adat selama tahun 2011 terjadi di sejumlah tempat di Bali, antara lain melibatkan ratusan warga Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, menyerang warga Banjar Kawan di Kota Bangli, 45 kilometer timur Denpasar. Mendengar kentongan yang dikeramatkan itu berbunyikan sebagai tanda bahaya, warga Banjar Kawan tumpah ruah ke luar rumah dengan bersenjatakan pedang, golok, panah, pentungan kayu, potongan batu bata, dan lain-lain. Akibatnya, bentrok fisik massal antarwarga yang datang menyerang dengan yang diserang, tidak bisa dihindarkan hingga mengakibatkan jatuhnya korban tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka pada peristiwa tragis pada 19 Juli 2011. Tidak lama kemudian peristiwa yang mencoreng citra pariwisata Bali kembali dihebohkan dengan peristiwa bentrok antara warga Kemoning dan Budaga, Kecamatan Semarapura, Kabupaten Klungkung, pada Sabtu, 17 September 2011. Peristiwa yang kedua itu juga merenggut seorang korban jiwa, I Ketut Ariaka (56) dan puluhan warga dari kedua belah pihak, termasuk polisi yang mendamaikan kedua kelompok yang bertikai itu juga mengalami luka-luka. Bentrok antarwarga yang saling bertetangga itu dipicu perebutan tempat suci (Pura) Dalem, kuburan (Setra) dan pura Prajapati (tempat suci dalam lingkungan kuburan). Konflik antarbanjar itu sebenarnya terjadi sejak pertengahan 2010 dan berbagai pihak yakni Pemkab Klungkung, Polres, dan Mejelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Provinsi Bali berusaha mendamaikan dan mencarikan jalan yang terbaik, namun tidak membuahkan hasil sesuai yang diharapkan. Konflik yang bernuansa adat itu terus bergulir hingga akhirnya meletus bentrok antarwarga, meskipun sebelumnya telah diantisipasi Polres Klungkung dengan menempatkan personel dibantu satuan Brimob Polda Bali. Antisipasi itu dilakukan jauh sebelum meletusnya bentrok karena ada informasi warga Kemoning akan memasang papan batas wilayah. Sementara masyarakat Desa Budaga sebelumnya sudah memasang papan nama Adat Budaga di jalan Pudak menuju Pura Dalem. Berbagai antisipasi sebenarnya telah dilakukan Polres Klungkung agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan bahkan, bahkan Kapolres Klungkung memfasilitasi rapat bersama Muspika yang melibatkan pengurus adat dan tokoh masyarakat kedua desa yang bersengketa itu. Menurut Guru besar Fakultas Sastra Universitas Udayana Prof Dr I

Gde Parimartha MA, maraknya kasus-kasus bernuansa adat di Bali dirasakan sejak adanya Peraturan Daerah (Perda) Desa Pekraman Nomor 3 tahun 2001. Perda itu memberikan bobot yang tinggi atau otonomi desa adat (desa pekraman) yang berlebihan, namun tidak mampu membangun kedamaian bagi seluruh warganya. Akibat otonomi desa adat yang berlebihan itu mengakibatkan sedikit saja terjadi konflik terus berkembang, bahkan sampai melakukan pemekaran desa adat. Oleh sebab itu perda yang mengatur tentang desa Pekraman tersebut perlu direvisi dan disempurnakan oleh DPRD Bali, sekaligus mengatur beban tugas antara desa dinas dan desa pekraman di Bali. Revisi dan penyempurnaan itu penting, mengingat Perda Desa Pekraman Nomor 3 tahun 2001 itu hanya mengatur desa adat dan tidak menyebutkan adanya desa dinas, padahal antara desa adat dan desa dinas di Bali selama ini mengemban tugas masing-masing yang satu sama lainnya saling mendukung. "Revisi perda itu dinilai sangat penting dan mendesak untuk menyelamatkan desa pekraman, sekaligus mengemban tugas-tugas yang semakin berat di masa mendatang," harap Prof Parimarha. Meskipun konfik bernuansa adat belum berhasil ditangani secara tuntas, masyarakat Bali masih sangat kental menghargai adat dan budayanya di tengah era modernisasi dewasa ini. "Demikian pula tradisi kehidupan desa adat (Pakraman) di Bali hingga kini tetap kokoh dan eksis sesuai perkembangan zaman, meski hal itu diwarisi jauh sebelum Indonesia merdeka," tutur Guru besar Fakultas Hukum Universitas Udayana Prof Dr Wayan P. Windia. Masing-masing desa pekraman mempunyai adat kebiasaan atau "awig-awig" untuk mengatur tatanan kehidupan, sesuai situasi dan kondisi objektif tempat, waktu dan keadaan (desa, kala, patra). Di Bali hingga kini tercatat 1.453 desa adat, bertambah dibanding sepuluh tahun sebelumnya yang tercatat 1.371 desa tersebar di delapan kabupaen dan satu kota. Prof P. Windia menilai, peran desa pakraman dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul di wilayahnya masing-masing sangat besar. Jika ada masalah yang muncul, baik dipicu masalah pribadi, keluarga maupun masyarakat pertama-tama akan diselesaikan oleh perangkat pimpinan (prajuru) desa adat. Jika kata sepakat tidak tercapai, permasalahan akan dibahas dalam rapat (paruman) yang melibatkan seluruh warga desa pekraman. Warga desa yang terbukti melakukan pelanggaran adat, namun tetap bersikukuh dengan pendiriannya, tidak bersedia menaati keputusan rapat dapat dijatuhi sanksi. Sanksi tersebut mulai dari yang paling ringan berupa permintaan maaf kepada seluruh warga, sampai yang paling berat, berupa pemberhentian atau dikucilkan sebagai warga desa adat (kasepekang). Desa pakraman setelah

menjatuhkan sanksi menganggap permasalahannya telah selesai, tanpa perlu membahasnya lebih lanjut, apakah yang dikenakan sanksi itu menangis atau apakah sesuai atau tidak dengan hak azasi manusia (HAM). "Apapun jenis sanksi yang dijatuhkan tidak menjadi soal bagi orang lain atau desa pekraman yang lain, karena hal itu dianggap urusan intern desa pekraman sesuai desa ’mawacara’, yakni tradisi adat dan kebiasaan yang diwarisi secara turun temurun," tutur Prof Wayan P. Windia. Terjadinya konflik bernuansa adat di Bali bukan akibat memudarnya penghargaan masyarakat akan aturan adat -istiadatnya. Bahkan tidak benar jika masyarakat Bali dikatakan tak lagi menghormati adatnya. Modernisasi memang banyak pengaruhnya pada kehidupan adat masyarakat Bali, tetapi itu lebih pada konteks yang netral. Konteks netral yang dimaksud, kata Prof Windia, contohnya dalam investasi dan profesi. Sepanjang investasi tidak menyentuh lahan yang berhubungan dengan kepercayaan (kawasan suci), aturan yang dipakai adalah aturan pemerintah secara umum. Namun, jika menyangkut kawasan suci, aturan yang dipakai tetap bersinergi dengan aturan dalam adat Bali, dengan harapan mampu mewujudkan kedamaian, kenyamanan dan ketentraman bagi warga desa adat, dan seluruh masyarakat Bali termasuk wisatawan yang berliburan ke daerah ini, tutur Prof Windia.

2.

Suku, Ras, Daerah Pembangunan nasional disegala aspek kehidupan, khususnya aspek politik,

ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan telah menciptakan stabilitas nasional yang semakin hari semakin baik. Namun seiring dengan pembangunan itu tanpa disadari dalam era pembangunan telah berkembang pola sikap dan perilaku dari golongan tertentu baik pada tingkat birokrat maupun swasta / sipil yang telah melakukan hal-hal diluar norma-norma kehidupan, sehingga menumbuhkan kesenjangan sosial dan kerawanan sosial. Lahirnya reformasi belum meningkatkan stabilitas nasional. Akumulasi kekecewaan dimasa lalu meletus dan budaya masyarakat mengalami perubahan yang sangat radikal. Reformasi dibidang politik yang perkembangannya belum mampu diikuti oleh reformasi ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan berdampak terhadap kehidupan masyarakat yang cenderung kepada kekerasan dan pemaksaan kehendak. Hal tersebut diatas merupakan salah satu pemicu terjadinya berbagai konflik horisontal ditanah air seperti yang terjadi di Maluku dimana konflik tersebut merupakan salah satu akibat dari

suatu konflik yang berkembang dari permasalahan sederhana, dimana pertikaian antar dua individu, yang selanjutnya dengan cepat meningkat menjadi pertikaian antar dua kelompok masyarakat dengan isu “SARA” selanjutnya menjalar ke berbagai kawasan di Maluku dengan melibatkan semakin banyak orang. Eskalasi konflik di Maluku semakin kompleks, hal ini menyebabkan penyelesaiannya semakin sulit dan menimbulkan luka sosial berupa kebencian, rasa dendam, dan saling curiga-mencurigai. Kejadian ini telah menelan korban manusia dan harta benda, sehingga kehidupan masyarakat berjalan tidak seimbang dan sebagaimana mestinya dalam tatanan kehidupan sosial bermasyarakat. Berdasarkan teori, fakta dan pengamatan terhadap konflik dapat terjadi oleh karena beberapa faktor yang bepengaruh. Konflik sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal dalam tatanan kehidupan masyarakat. Pertentangan dapat diredam bila dalam tatanan kehidupan bermasyarakat menerapkan prinsip-prinsip demokrasi, transparansi dan toleransi. Tetapi bila ketiga tonggak ini rapuh, maka kondisi tatanan kehidupan masyarakat dapat dipastikan rawan terjadi konflik. Kondisi Internal merupakan kondisi dalam tatanan kehidupan masyarakat itu sendiri yang mendukung terwujudnya kehidupan yang manusiawi dengan menerapkan demokrasi, transparansi dan toleransi secara murni. Jika ketiga tonggak (demokrasi, transparansi dan toleransi) dapat diciptakan maka tercipta sebuah tatanan kehidupan masyarakat aman, tenteram dan sejahtera, jika tidak maka akan terjadi sebaliknya. Kondisi eksternal merupakan kondisi tatanan kehidupan masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor-faktor diluar dari masyarakat itu sendiri seperti kebijakan, penegak hukum, simpatisan, pers (media cetak dan elektronik). 3. Masuknya Budaya Luar Saat ini dua kutub budaya dunia yang amat rentan terjadi konflik adalah budaya Barat dan Timur. Meski kedua budaya ini telah bersinggungan selama ratusan tahun, kedua kutub tetap sangat berbeda. Film Innocence of Muslims dan aksi-aksi unjuk rasa yang memprotesnya itu adalah salah salah dari bentuk konflik budaya itu. Di Amerika Serikat dan di negara-negara Barat lainnya, film, apalagi film amatir, yang isinya menghujat, menghina ataupun memperolok-olokkan tokoh agama, tokoh politik, suku, dan sejenisnya, sangat gampang ditemukan. Hal ini, oleh budaya Barat yang mereka anut, dianggap hal yang wajar dan bagian apa yang mereka sebut sebagai ‘kebebasan berekspresi’. Begitu

mudahnya ditemukan, terutama di media-media kelas kecil dan amatiran, baik media cetak dan elektronik, olok-olok tentang presiden, raja, menteri, bahkan agama dan suku. Karena ‘kebebasan berekspresi’ ini dijamin oleh undang-undang, pemerintah setempat pun tak dapat mengintervensi atau menghukum pelakunya. Kondisi ini berbeda jauh dengan kondisi di negara-negara Timur. Dalam budaya Timur, kebebasan berekspresi memiliki batasan-batasan tertentu. Publik dizinkan untuk bebas berekspresi dan mengeluarkan pendapat tapi jangan sampai melawati benang benang merah budaya Timur. Di hampir semua negara-negara Timur, menghina, menghujat atau pun mengolokolokkan agama, suku, raja atau presiden, dianggap sebagai kejahatan, bentuk dari kebebasan berekspresi yang berlebihan, melanggar adat istiadat timur. Ini lah yang terjadi dalam kasus-kasau seperti karikatur Nabi Muhammad, film ‘Fitna’ dan terakhir Innocence of Muslims itu. Di dunia Barat, pengekspresian hal-hal seperti itu dianggap biasa-biasa saja, tapi di dunia Timur dianggap sebagai penghinaan. Film Innocence of Muslims ini sendiri, sebagai sebuah film amatir, sebenarnya tidak akan dikenal publik begitu luas jika aksi-aksi protes dilakukan. Bahkan pembuatnya sendiri dipastikan tidak meramalkan filmnya itu akan seheboh seperti saat itu. Untuk menghindari hal seperti ini di masa depan, semua pihak semestinya harus bersikap untuk menghomati budaya pihak lain. Meski dijamin oleh undang-undang untuk bebas berekspresi, harus ada sikap bijaksana untuk mempertimbangkan ‘perasaan’ pihak lain. Kerusuhan ini tak menguntungkan siapa pun. Produk amatir dan sampah seperti ini hanya merusak hubungan internasional dan menumbuhkan bibit kebencian antar budaya. 4. Tafsir dan Ajaran Agama JAKARTA - Tragedi yang terjadi di Sampang, Madura potensial terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Jika penanganan pemerintah masih bergaya reaksioner, kasus serupa sewaktu-waktu bakal meletus dimanapun dan kapanpun. Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan kasus Sampang merupakan peringatan serius bagi bangsa Indonesia akan terjadinya eskalasi serupa yang terjadi dimanapun. "Ini gejala konflik sektarian, fanatisme buta keagamaan, yang berbeda dianggap salah," kata Fajar dalam diskusi "Perspektif Indinesia" di Gedung DPD RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, hari ini. Menurut dia, potensi konflik terbuka terjadi di beberapa daerah di Indonesia, tidak hanya antarumat bergama namun juga internal umat beragama. Situasi ini ditambah reaksi pemerintah yang setengah hati dalam menyelesaikan akar persoalan. "Dua bulan lagi,

kasus Sampang akan tenggelam. Banyak kasus agama yang tidak diselesaikan, sehingga kemana-mana," keluh Fajar. Dia menilai cara penanganan pemerintah dalam merespons konflik yang terjadi di beberapa daerah justru bias kepentingan mayoritas. Padahal, kata Fajar, kelompok minoritas memiliki hak yang sama sebagaimana diatur dalam konstitusi. "Bagaimana negara memenuhi janjinya dalam konstitusi? Saat ini pemerintah bersikap partisan," tegas Fajar. Dia menyebutkan ada beberapa cara menyelesaikan persoalan seperti yang terjadi di Sampang. Pendekatan budaya dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat jauh lebih efektif ketimbang membawa persoalan ke level lebih besar seperti internasionalisasi masalah. Selain itu, Fajar mengusulkan perlu pendekatan politik-hukum dengan mempertimbangkan berbagai suara yang muncul."Pemerintah harus mempertimbangkan suara kelompok yang banyak, bukan justru mengakomodasi kelompok tertentu saja," kritik Fajar. Jurnalis Freelance Rusdi Mathari yang melakukan investigasi terkait kejadian kerusuhan Sampang akhir 2011 lalu mengungkapkan dari sisi kronologis peristiwa Sampang dipicu paham keagamaan. "Jadi bukan karena keluarga. Bahwa keluarga menjadi pemicu, iya," ujar Rusdi. Dia menilai peristiwa Sampang yang mengakibatkan jatuhnya korban merupakan bentuk pembiaran oleh pemerintah. Menurut dia, ada rentang waktu selama tujuh bulan sejak peristiwa akhir 2011 lalu. "Ada ancaman ke kelompok Taju. Ada jarak 7 bulan sejak peristiwa akhir 2011, tapi tidak diantisipasi. Seharusnya Pemda dan aparat keamanan setempat bisa mencium ini," kata Rusdi. Dia menyebutkan pendekatan dialog antar kelompok masyarakat diyakini dapat menekan potensi konflik. Dia mencontohkan, inisiasi Pemda Bangkalan dengan mengumpulkan kelompok Syiah dan Sunni terbukti efektif. "Cara-cara dialog antarkelompok bisa menjadi model untuk menyelesaikan masalah," tambah Rusdi. Menurut Rusdi, peran NU dan kyai cukup penting untuk meminimalisir konflik. Dia memastikan tidak ada ajaran kyai dan NU untuk merusak dan menganggu ibadah orang lain. Anggota DPD RI dari Provinsi Jawa Timur Istibsyaroh mengatakan pemahaman masyarakat akar rumput terkait konstitusi masih rendah. "Publik tidak tahu apa itu UUD 1945, apalagi orang Madura," cetus Istibsyaroh. Dia meyakini, kejadian yang mengakibatkan kekerasan itu hanyalah bentuk ketidaktahuan masyarakat atas persoalan yang terjadi. "Saya percaya mereka tidak tahu, hanya ikut-ikutan saja," yakin Istibsyaroh.

5. Organisasi Sosial, Politik dan Ekonomi

Konflik terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), namun kini justru konflik politik muncul saat masyarakat sedang menikmati kedamaian itu. Situasi konflik politik terkait perbedaan pandangan mengenai hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) hingga kini belum lerai, meskipun Gubernur Irwandi Yusuf berencana melantik Bupati/Wakil Bupati terpilih pada September 2007. Bahkan, publik di Aceh sempat tersentak ketika sebuah granat meledak merusakkan bahagian kantor/pendopo bupati di Kutacane, ibukota kabupaten Aceh Tenggara, belum lama ini. Tersentak? Ya, karena saat wilayah lain menjadi langganan letusan mesin perang dan bahan peledak, Kabupaten Aceh Tenggara justru menjadi tempat yang paling aman dari derasnya arus konflik ketika itu. Konflik politik pascasuksesi bupati/wakil bupati diyakini sebagai pemicu ledakan dan serangkaian aksi massa yang mengobrak-abrik kantor bupati, sehingga membuat situasi keamanan memanas di kabupaten berjuluk “genap sepakat” itu. Rangkaian proses pilkada yang mestinya sudah sampai ke tingkat pelantikan pemenangnya, sempat terhambat karena rekapitulasi penghitungan suara diulang dan diambil alih Komisi Independen Pemilu (KIP) Provinsi NAD. Bahkan, sebagian besar camat, kepala dinas dan badan serta instansi di Kabupaten tersebut beramai-ramai mengembalikan kendaraan dinas plus stempel ke gedung DPRK karena merasa tidak puas atas proses suksesi pemilihan kepala daerah. Tidak hanya itu, belasan camat juga sempat “hijrah” ke Jakarta menemui sejumlah pejabat negara untuk menyampaikan protes mereka terhadap hasil pemilihan kepala daerah (pilkada). Khabar terbaru yang membuat publik dan tokoh Aceh kembali tersentak menyusul ancaman anggota DPRK yang menolak sidang paripurna pelantikan bupati/wakil bupati terpilih, pasangan Hasanuddin Beruh/Syamsul Bahri.DPRK Agara yang dipimpin H Umuruddin Desky menyatakan menolak pelaksanaan sidang paripurna istimewa pelantikan dan terah terima jabatan Bupati/Wakil Bupati Hasanuddin/Syamsul Bahri. Sah secara hukumMayoritas anggota dewan, 19 dari 24 anggota yang hadir menolak pelaksanaan sidang paripurna istimewa, sementara lima lainnya, antara lain M Sofyan Desky Fraksi Sepakat Segenap setuju digelar sidang tersebut. M Sofian Desky mengatakan, dirinya mendukung surat kawat Gubernur Aceh tentang akan dilaksanakannya pengambilan sumpah, pelantikan dan serah terima jabatan Bupati dan Wakil Bupati Agara, Hasanuddin dan Syamsul Bahri. Begitupun, Ketua DPRK Umuruddin menyatakan pelantikan Bupati/Wakil Bupati adalah hak gubernur, tetapi sidang paripurna merupakan hak DPRK Agara. Keputusan Mendagri adalah bukan Keputusan DPRK Agara, katanya. Sementara Wakil Ketua DPRK Agara, Syech Ahmadin, mengatakan, hasil rapat pleno sepakat bahwa DPRK menolak

melaksanakan sidang paripurna istimewa bagi pelantikan pasangan Bupati terpilih Hasanuddin/Syamsul Bahri. “DPRK Agara menolak diadakannya sidang paripurna mengingat Mendagri belum membalas surat usulan yang telah dikirim DPRK. Dalam hal ini KIP NAD telah membuat pemenang tandingan,” ujar Syech Ahmadin. Berkaitan dengan konflik politik tersebut, pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Dr Iskandar A Gani MH menyatakan, pelantikan Bupati terpilih bisa dilakukan Gubernur NAD Irwandi Yusuf. “Secara hukum Hasanuddin/Syamsul Bahri yang terpilih sebagai Bupati/Wakil Bupati Aceh Tenggara sah karena sudah ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri, Widodo AS, red),” katanya. Gubernur Irwandi selaku pejabat perpanjangan tangan pemerintah pusat harus segera melantik Bupati/ Wakil Bupati Agara, sehingga roda pemerintah di daerah itu berjalan baik. Meskipun DPRK Agara tidak mengakui pasangan tersebut, tapi dalam sistem hukum tata negara, keputusan yang diambil dari lembaga tertinggi dalam hal ini Depgari adalah sah, sehingga mau tidak mau lembaga yang di bawahnya harus mengikutinya, kata Iskandar. Terkait dengan keputusan KIP Agara yang menetapkan Armen Desky/M Salim Fakri sebagai Bupati/wakil Bupati, ia menyatakan, keputusan itu dinilai melanggar peraturan sehingga KIP Provinsi Aceh mengambil alih, dan secara hukum itu dibenarkan. Segera dilantik “Jadi, secara hukum KIP Aceh dan KIP Agara memiliki satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dan itu diatur dalam qanun (peraturan pemerintah). Pemerintah dalam hal ini Mendagri menerima keputusan KIP provinsi yang kedudukannya lebih tinggi dari KIP Agara,” katanya. Iskandar menyayangkan penolakan legislatif Aceh Tenggara, karena sebagai lembaga negara DPRK tidak bisa bersikap seperti itu. Seharusnya DPRK Agara mendukung keputusan lembaga negara yang lebih tinggi, yakni Depdagri. Ketua PDI Perjuangan DPD NAD, Karimun Usman juga menyatakan Pemerintah Aceh tidak perlu takut pada ancaman DPR Kabupaten Aceh Tenggara yang menolak pelantikan bupati/wakil bupati terpilih pasangan Hasanuddin Beruh/Syamsul Bahri. “Saya berharap, Pemerintah tidak perlu takut dengan ancaman itu karena pelantikan bupati/wakil bupati terpilih. Sesuai undang undang, Gubernur memiliki dapat melantik Bupati/Wakil Bupati Agara agar roda pemerintahan berjalan normal,” katanya. Masalah pelantikan pejabat pemerintahan, termasuk gubernur dan bupati/walikota bisa dilakukan di mana saja, bahkan bila perlu di bawah pohon kayu sekalipun. Seperti pelantikan Abdullah Puteh medio 2000-an di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM). Wakil Gubernur (Wagub) NAD Muhammad Nazar menyatakan pihaknya segera menyurati DPRD dan Penjabat Bupati Aceh Tenggara untuk mempersiapkan pelantikan bupati

terpilih yang dijadwalkan berlangsung 1 September 2007.“Pagi ini kita sudah mengirim surat kawat No.131/25777. Kita minta DPRD dan Penjabat Bupati Agara melakukan persiapan seperlunya sehubungan dengan pelantikan Bupati terpilih,” katanya didampingi Sekda NAD Husni Bahri TOB. Menurut dia, pelantikan tetap dilaksanakan karena rapat paripurna yang bersifat istimewa tidak memerlukan quorum atau mengambil keputusan, tetapi hanya bersifat pelaksanaan. Bila pelantikan pasangan Bupati terpilih selesai dilaksanakan, situasi konflik yang kini dirasakan masyarakat Kabupaten penghasil jagung dan kimiri itu diharapkan dapat berubah menjadi sejuk dan damai. (ant/ Azhari) 6. Responsi Atas Kemajuan Lingkungan orang tua sangat berpengaruh bagi kalangan remaja. Teknologi juga berperan bagi manusia. Dalam hal ini harus ada kerja sama yang baik antara orang tua dan orang yang di sekitarnya. Peran orang tua sangat besar dalam membimbing para anak – anaknya. Handphone juga sering disalahgunakan seperti melihat atau mendownload situs – situs pornografi. Hal inilah yang perlu diwaspadai. Dalam diri manusia terdapat faktor – faktor tertentu , apa faktor internal yang berasal dari dalam diri manusia maupun faktor eksterbal yang berasal dari luar diri manusia. Seperti lingkngan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Tujuan dari karya ilmiah ini adala agar masyarakat mengetahui tentang kalangan remaja karena masyarakat perlu waspada terhadap tingkah laku para remaja. Perwatakan para manusia ditentukan pada saat remaja, jadi remaja tidak boleh dihadapkan dengan hal – hal yang buruk. Para remaja harus dibimbing dengan baim agar tidak terjerumus ke dalam masalah yang bermasalah, Penulis mempunyai beberapa kesimpulan disarankan para remaja lebih dihadapkan pada ilmu – ilmu pengetahuan / binbingan , pelajaran, dan akidah – akidah. Dari cara penggunannya handphone memiliki berbagai dampak, diantaranya, Perkembangan Handphone ini tidak berhenti sampai disini bahkan di seluruh dunia sudah menggunakan berbagai macam merek Handphone. Dari manfaat Handphone, Handphone digunakan untuk mencari informasi melalui akses / fasilitas internet yang ada di Handphone, memudahkan masyarakat untuk memperoleh informasi, hubungan sosial antar masyarakat dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Bagi sebagian orang handphone juga sebagai layanan hiburan seperti Game, Facebook, Chatting Dll. Handphone sangat efektif, apabila kita ingin menelepon teman / kerabat biayanya sangat murah tergantung pada jaraknya. Dampak Negatifnya adalah para remaja suka membuka situs – situs yang bersifat

pornografi, para remaja juga suka membuka gambar – gambar seksual pada layanan yang berada di dalam Handphone, Handphone juga disalahgunakan seperti kejahatan “ Cyber Crime “ yang dilakukan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab. Ini adalah lampu kuning bagi orang tua untuk yang mempengaruhi anak remaja, munculnya berbagai kejahatan dengan modus baru, hadirnya situs jejaring sosial di dalam handphne menjadikan menurunnya tingkat kepercayaan diri seseorang karena jarang bersosialisasi dengan yang lain dsb. Melakukan aktivitas tanpa menggunakan handphone saat ini bagi sebagian orang akan terasa janggal. Mulai kita bangun tidur sampai tidur lagi, kita tidak bisa lepas dari yang namanya handphone. Dan seseorang seakan merasa tidak bisa hidup tanpa handphone. Sekarang handphone lebih dijadikan gaya hidup tersendiri, Tak hanya sekadar alat komunikasi saja, hanphone kini dilengkapi dengan berbagai fitur, seperti video call, internet , touch screen dll. Kemudian yang saat ini paling cepat perkembangannya adalah smartphone atau ponsel pintar, perkembangan smartphone telah mengalami lompatan yang luar biasa dalam aspek apa pun. Terutama aspek hardware, berbagai pabrikan ponsel pintar di seluruh dunia juga telah berhasil melangkah begitu jauh. Bila dianalogikan, maka perkembangan teknologi secara keseluruhan sungguh sangat sulit untuk dibayangkan. Tak hanya sampai disitu konsumen juga diimingi dengan bentuk handphone yang selalu berganti – ganti dan tentunya dengan berbagai fitur yang baru pula. Selain sebagai alat komunikasi, handphone juga menghasilkan berbagai peluang usaha baru, diantaranya penyedia layanan komunikasi (provider), pedagang penjual pulsa eceran, dan tentunya penjualan handphone itu sendiri. hal ini dapat kita lihat di sudut jalan – jalan kota maupun di desa.

7. Intervensi Pemerintah Banyaknya sms yang meminta kepada pemerintah untuk turun tangan menyelesaikan konflik PSSI, ditanggapi dingin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut orang nomor satu di Indonesia tersebut, pemerintah telah banyak ikut campur, padahal sesuai statuta FIFA, tak boleh ada intervensi atau campur tangan dari pemerintah. SBY mengakui, setidaknya tiga kali pemerintah melakukan campur tangan kepada PSSI. Meski dirinya yakin hal tersebut tidak melanggar aturan FIFA.

Yang pertama adalah, menggelar Kongres Sepakbola Nasional di Malang, Jawa Timur, pada 2010 dengan tujuan memajukan persepakbolaan nasional. "Waktu itu banyak suara-suara yang meminta untuk menurunkan Bapak Nurdin Halid dari jabatannya, namun saya langsung tidak setuju," ujar SBY. "Jangan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma organisasi. Kalo topiknya Kongres Sepakbola, mari kita bicara bagaimana memajukan sepakbola di negeri kita," tegasnya. Yang kedua, lanjut dia, ketika terjadi kenaikan tiket di tengah animo pendukung tim nasional yang menanjak pada penyelenggaraan Piala Asia di Jakarta. "Saya katakan jangan begitu dong. Rakyat sedang semangat-semangatnya justru dinaikkan," ujarnya. Dan yang ketiga, menurut SBY adalah ketika terjadi deadlock dan perselisihan antara pengurus PSSI yang sampai ke FIFA. "Kita hampir kena sanksi. Saya, dengan niat yang baik, undang ketua KONI, KOI, Menpora. Tolonglah pendekatan yang baik ke FIFA. Jika sampai dilarang atau dibekukan, yang marah dan sedih rakyat kita. Tolonglah dilakukan pendekatan yang baik. Alhamdulillah berkat hal cara kita itu, Indonesia tidak jadi dapat sanksi dari FIFA." Kini di tengah konflik PSSI yang baru dan menurutnya PSSI sudah tak lagi mendengarkan rakyat, SBY mengingatkan bahwa pemerintah tidak bisa terus-terusan mencampuri PSSI. "Ada suara, serahkan ke civil society, saya setuju. Tapi, saya berharap saudarasaudara kita yang ada di kepengurusan PSSI, dengarkanlah suara rakyat, jangan lukai rakyat," tegasnya. "Jangan sibuk ribut. Masa tidak ada habis-habisnya. Carikan solusinya dengan baik, sehingga semangat yang begitu tinggi dari rakyat kita, tidak justru dihadiahi dengan konflik dan perselisihan yang tidak habis." SBY pun tak lupa menghimbau kepada semua pihak, untuk memberi dukungan kepada PSSI untuk menjalankan tugasnya dengan baik. "Saya pikir pemerintah tidak harus selalu ikut campur tangan. Kita kasih kehormatan sekarang kepada PSSI untuk melakukan tugasnya, utamakan kepentingan rakyat. Kalo ada konflik, ada statuta dari FIFA. Jalankan itu," tegas SBY. (yul/end)

8. Struktur Sosial SEMARANG Peristiwa pemukulan yang dilakukan beberapa siswa SMA Nasima kepada pelajar kelsa IX SMP Nasima,Akbar Rachman Hakim(13),dinilai telah menodai system pendidikan yang ada dikota Semarng.Sarana dan prasarana pendukung proses beljar kurang memadai,menjadi salah satu factor siswa berfikir tidak jernih jenuh dan tidak kreatif. Psikolgi remaja dari Universitas Diponegoro Semarang,Dr Hastaning Sakti M.Kes

Psikologi mengatakan,strata pendidikan yang berbeda antara SMP dan SMA yang berada di dalam satu kompleks juga menjadi salah satu penyebab tingginya emosional siswa,ditambah dengan cuaca Kota Semarang yang akhir-akhir ini tidak bersahabat. “Sekolah ini seharusnya mempertahankan keberadaan tempat olahraga dan lapangan bola.Pemisahan strata juga bisa meminimalisasikan terjadinya keruwetan.Siswa SMA sebagai yang lebih tua,seharusnya bisa menjadi pelindung bagi adik-adiknya,tidak kemudian merasa lebihnya lebih kuat dan lebih kuat dan lebih banyak teman”paparan Hastaning,kemarin. Selain itu kebiasaan siswa di rumah yang selalu menjadi salah satu factor sang siswa tersebut tidak memilki rasa sayang terhadap adik-adiknya,memberi nasehat,lebih bertanggung jawab penuh.Karena sekolah adalah lembaga penyelenggara pendidikan.

RUJUKAN Pengulangan Konflik Maluku. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pertahanan Republik Indonesia. (Online), (http:// http://www.balitbang.kemhan.go.id/?q=content/penanggulangan-konflik-maluku), diakses 29 Januari 2013. Sutika. 2011. Konflik Adat yang Tak Pernah Tuntas. Kompas. (Online), (http:// http://oase.kompas.com/read/2011/12/15/19221098/Konflik.Adat.yang.Tak.Pernah. Tuntas), diakses 29 Januari 2013 Konflik Budaya. 2012. (Online), (http:// http://www.analisadaily.com/news/read/2012/09/17/74851/konflik_budaya/#.UQeu Tx0UtmM), diakses 29 Januari 2013 Konflik Agama yang Terus Terjadi. 2012. (Online), (http:// http://www.waspada.co.id/index.php? option=com_content&view=article&id=258830:konflik-agama-terusterjadi&catid=77&Itemid=131), diakses 29 Januari 2013 Prasetyo. A. 2012. Konflik Politik dan Ekonomi. (Online), (http:// http://agusprasetiyo.blogspot.com/2012/03/konflik-politik-dan-ekonomi-di.html), diakses 29 Januari 2013 SBY, Tentang Intervensi Pemerintahdan Konflik PSSI. 2012. (Online), (http://http://www.merdeka.com/sepakbola/sby-tentang-intervensi-pemerintah-dankonflik-pssi.html), diakses 29 Januari 2013 Wijayanti. 2011. Siswa SMA Nasima Pukuli Siswa SMP Sekolah Harus Tanggung Jawab. (Online), (http://http://nanikwijayanti18.blogspot.com/2011/12/contoh-kasuspenyebab-konflik-sosial.html), diakses 29 Januari 2013

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->