Anda di halaman 1dari 55

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Kebutuhan masyarakat tentang informasi keuangan yang andal memerlukan jasa profesi akuntan publik. Jasa akuntan publik ini sangat dibutuhkan untuk menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh manajemen kepada pihak luar perusahaan. Di satu pihak, manajemen perusahaan ingin menyampaikan informasi mengenai

pertanggungjawaban pengelolaan dana yang berasal dari pihak luar ; di pihak lain, pihak luar ingin memperoleh informasi yang andal dari manajemen perusahaan mengenai pertanggungjawaban dana yang mereka investasikan. Adanya dua kepentingan yang berlawanan inilah yang menyebabkan timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik. Manajemen perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga agar

pertanggungjawaban keuangan yang disajikan kepada pihak luar dapat dipercaya, sedangkan pihak luar perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga untuk memperoleh keyakinan bahwa laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen perusahaan dapat dipercaya sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Baik manajemen perusahaan maupun pihak luar perusahaan yang berkepentingan terhadap perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga yang dapat dipercaya. Tanpa menggunakan jasa auditor independen, manajemen perusahaan tidak akan dapat meyakinkan pihak luar perusahaan bahwa laporan keuangan yang disajikan berisi informasi yang dapat dipercaya.
1

Karena pihak luar perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga untuk menilai keandalan pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh manajemen dalam laporan keuangannya, keadaan ini memicu timbulnya kebutuhan jasa profesi akuntan publik. Profesi ini merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Dari profesi akuntan publik inilah masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) adalah lembaga pimpinan bersama suatu organisasi masyarakat di suatu desa dan atau kelurahan dan berbentuk dewan atau majelis warga yang tinggal di desa atau kelurahan tersebut untuk merumuskan kebijakan dan pengambilan keputusan tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan warga masyarakat, khususnya yang menyangkut kemiskinan. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) juga merupakan suatu organisasi sektor publik. Dalam jangka panjang Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) membangun modal sosial dengan menumbuhkan kembali nilai-nilai

kemanusiaan, ikatan-ikatan sosial dan menggalang solidaritas serta kesatuan sosial sesama warga agar saling kerja sama demi kebaikan dan kebutuhan bersama, serta pada saatnya akan memperkuat keswadayaan warga masyarakat. Ada (3) tiga unit pengelola di Badan Keswadayaan Masyarakat yaitu unit pengelola keuangan, unit pengelola lingkungan dan unit pengelola sosial. Masing-masing pengelola mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri. Unit

Pengelola Keuangan (UPK) merupakan gugus tugas dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang dibentuk dan dibubarkan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Pengurus Unit Pengelola Keuangan (UPK) yaitu manajer dan staf lainnya diangkat serta diberhentikan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) melalui mekanisme rapat anggota. Oleh karena itu, secara struktural pengurus Unit Pengelola Keuangan (UPK) bertanggung jawab langsung pada Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) sebagai unsur pengelola sumber daya, dalam hal pengelolaan keuangan. Unit Pengelola Keuangan (UPK) tidak dapat mengambil keputusan strategis, selain menjalankan keputusan serta kebijakan yang telah ditetapkan oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPKBKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal mendapatkan dana dari pemerintah melalui APBN dan APBD. Dana tersebut dimanfaatkan, salah satunya untuk pelayanan pinjaman bergulir yang dipinjamkan kepada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai modal kerja usaha produktif baik untuk usaha baru maupun pengembangan usaha yang sudah ada. Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPKBKM) Kelurahan Panggung Kota Tegal harus melakukan kegiatan berdasar prosedur operasional standar dalam pengelolaannya. Tujuannya adalah agar proses pengelolaan pinjaman bergulir yang dilaksanakannya menjadi seragam.

Keseragaman pengelolaan pinjaman bergulir menjadi memudahkan dalam proses monitoring, evaluasi, dan supervisi.

penting agar

Sebagai salah satu organisasi sektor publik, Unit Pengelola KeuanganBadan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal juga memiliki tujuan yang ingin dicapai dengan cara yang efektif. Salah satunya dengan cara menyampaikan informasi mengenai pertanggungjawaban pengelolaan dana kepada masyarakat, dalam hal ini laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen perusahaan dapat dipercaya. Oleh karena itu, jasa pihak ketiga yaitu akuntan publik sangat di butuhkan untuk memeriksa kewajaran atas laporan keuangan perusahaan. Manajemen perusahaan wajib membuat sebuah laporan pertanggung jawaban atas pengelolaan perusahaan kepada pihak perusahaan. Bentuk laporan pertanggungjawaban yang dibuat manajemen perusahaan yaitu laporan keuangan yang telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim. Pengujian substantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung

mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan. Pengujian substantif menghasilkan bukti audit tentang kewajaran setiap laporan keuangan. Di lain pihak, pengujian substantif dapat mengungkapkan kekeliruan atau salah saji moneter dalam pencatatan dan pelaporan transaksi dan saldo akun. Akun aktiva tetap merupakan salah satu komponen yang penting dalam neraca. Meskipun transaksi yang mempengaruhi akun aktiva tetap sangat rendah frekuensi terjadinya. Pada pemeriksaan mungkin sekali akuntan tidak

menemukan perubahan akun tersebut selama tahun yang diperiksa dan hanya menemui satu atau dua pendebitan atau pengkreditan. Selain itu, dalam melakukan pemeriksaan terhadap akun aktiva tetap, seorang akuntan harus bekerja dengan lebih seksama terhadap perubahan akun aktiva tetap itu sendiri. Tujuan pemeriksaan terhadap akun aktiva tetap pada dasarnya adalah untuk membuktikan keberadaan, kewajaran penilaiannya dan untuk

membuktikan kewajaran penyajian saldo akun aktiva tetap itu, baik dalam buku pembantu akun aktiva tetap dan dalam neraca. Agar tujuan tersebut tercapai, seorang akuntan harus melakukan pengujian substantif. Pengujian substantif merupakan proses pemeriksaan yang bertujuan untuk membuktikan kewajaran jumlah rupiah yang disajikan dalam laporan keuangan. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengambil judul ANALISIS PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP AKTIVA TETAP PADA UNIT PENGELOLA KEUANGAN-BADAN KESWADAYAAN MASYARAKAT (UPK-BKM) MANDIRI SEJAHTERA KELURAHAN PANGGUNG KOTA TEGAL.

1.2

Tujuan Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kewajaran penyajian aktiva tetap dalam laporan keuangan pada Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal.

1.3

Batasan Masalah Melihat luasnya permasalahan dalam hal ini, maka perlu diadakan pembatasan masalah sehingga penelitian tetap terfokus pada tujuan dan hanya dibatasi pada : 1. Objek penelitian hanya dilakukan pada Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal. 2. Data yang diteliti adalah data yang bersifat keuangan yaitu laporan keuangan, berupa laporan laba rugi dan neraca tahun 2010. 3. Daftar rincian dan penyusutan aktiva tetap tahun 2010.

1.4

Perumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah Apakah penyajian aktiva tetap dalam laporan keuangan pada Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan

Panggung Kota Tegal sudah wajar?.

1.5

Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis Menambah pemahaman yang lebih mendalam mengenai analisis pengujian substantif terhadap aktiva tetap.

Bagi Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPKBKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal Diharapkan dapat membantu dalam menentukan prosedur dan kebijakan dalam pengendalian terutama di bagian akun aktiva tetap untuk menghindari terjadinya penyimpangan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen.

Bagi Ilmu Pengetahuan a. Dapat digunakan sebagai bahan penelitian lebih lanjut bagi peneliti yang ada hubungannya dengan pengujian substantif terhadap akun aktiva tetap. b. Sebagai bekal ilmu dan pengalaman dalam mempersiapkan diri

menghadapi lingkungan kerja setelah menyelesaikan studi. c. Untuk menambah perbendaharaan pustaka dan bermanfaat bagi pembaca sebagai tambahan informasi dan pengetahuan.

1.6

Sistematika Penulisan Sistematika penulisan terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. 1. Bagian awal berisi halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman moto/persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, daftar lampiran. Bagian awal ini berguna untuk memberikan kemudahan kepada pembaca dalam mencari bagianbagian penting secara cepat. 2. Bagian isi terdiri dari lima bab, yaitu : BAB I Pendahuluan Pada bab ini berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. Pendahuluan ini berguna untuk

memberikan gambaran kepada pembaca dalam memahami tugas akhir. BAB II Landasan teori Pada bab ini memuat landasan teori yang mencakup tinjauan umum tentang pengujian substantif, pengujian substantif dengan menggunakan metode variabel sampling, pengertian aktiva tetap, tujuan audit atas aktiva tetap, penggolongan aktiva tetap, caracara perolehan aktiva tetap, prinsip penilaian aktiva tetap, dan pengujian substantif atas saldo aktiva tetap. Landasan teori ini

digunakan sebagai landasan berfikir atau acuan melakukan penelitian. BAB III Metodologi penelitian Pada bab ini berisi tentang metode yang digunakan dalam penelitian, seperti metode pengumpulan data, sumber data, dan metode analisis data. BAB IV Hasil dan pembahasan Bab ini berisikan tinjauan umum perusahaan, seperti sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi, tugas dan wewenang serta kondisi perusahaan saat ini. Bab ini juga berisikan tentang laporan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian sehingga data yang ada mempunyai arti. BAB V Kesimpulan dan saran Bab ini berisikan rangkuman hasil penelitian yang ditarik dari analisis data dan pembahasan. Saran berisi tentang perbaikanperbaikan atau masukan-masukan dari penelitian untuk perbaikan yang berkaitan dengan penelitian. 3. Bagian akhir berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran. Daftar pustaka berisi tentang daftar buku dan literature yang berkaitan dengan penelitian. Lampiran berisi perlengkapan dalam mendukung penelitian tugas akhir secara lengkap.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pengujian Substantif Pengujian substantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk menemukan kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung

mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan. Pengujian substantif menghasilkan bukti audit tentang kewajaran setiap asersi laporan keuangan yang signifikan. Di lain pihak, pengujian substantif dapat mengungkapkan kekeliruan atau salah saji dalam pencatatan dan pelaporan transaksi dan saldo akun. Dalam penyusunan program audit untuk pengujian substantif terdiri dari tiga tahap, yaitu : 1. Menentukan tujuan audit khusus untuk setiap pernyataan yang berkaitan dengan saldo akun. 2. Menentukan prosedur audit dalam pengujian substantif untuk mencapai tujuan audit khusus yang telah ditetapkan. 3. Menyusun program audit dengan mengelompokkan prosedur audit dalam pengujian substantif menurut proses audit. Sifat pengujian substantif mencakup jenis dan efektifitas prosedur audit yang dilakukan oleh auditor. Jika tingkat resiko deteksi yang dapat diterima adalah rendah, auditor harus menggunakan prosedur audit yang lebih efektif, dan biasanya memerlukan biaya yang lebih tinggi. Jika tingkat resiko deteksi

10

11

yang dapat diterima adalah tinggi, auditor dapat menggunakan prosedur audit yang kurang efektif, dan biasanya memerlukan biaya yang lebih rendah. Auditor dapat menggunakan pengujian substantif berikut ini (Mulyadi, 2002:237) : 1. Prosedur analitik Prosedur analitik dapat digunakan oleh auditor pada tahap perencanaan audit untuk mengidentifikasi bidang audit yang memiliki resiko salah saji yang tinggi, tahap pengujian dalam proses audit sebagai suatu pengujian substantif untuk memperoleh bukti audit tentang asersi tertentu, tahap pengujian rinci sebagai prosedur audit tambahan, tahap pengujian dalam pendekatan terutama substantif. Prosedur analitik umumnya memerlukan biaya yang lebih rendah. Oleh karena itu, auditor harus mempertimbangkan seberapa jauh prosedur analitik ini dapat membantu untuk mencapai resiko deteksi yang dapat diterima sebelum auditor memutuskan untuk memilih pengujian terhadap transaksi atau saldo akun rinci. 2. Pengujian terhadap transaksi rinci Dalam pengujian terhadap transaksi rinci ini, fokus perhatian auditor adalah menemukan kemungkinan kekeliruan atau salah saji moneter, bukan penyimpangan dari pengendalian intern. Pengujian terhadap transaksi rinci terutama berupa prosedur pengusutan dan pemeriksaan bukti pendukung. Pengusutan merupakan prosedur audit yang bermanfaat untuk menemukan kurang saji, sedangkan pemeriksaan bukti

12

pendukung merupakan prosedur audit yang bermanfaat untuk menemukan lebih saji. Pengujian terhadap transaksi rinci memerlukan waktu yang lebih banyak dan memerlukan biaya yang lebih besar bila dibandingkan dengan prosedur analitik. 3. Pengujian terhadap saldo rinci Pengujian terhadap saldo rinci difokuskan untuk memperoleh bukti secara langsung tentang suatu saldo akun, bukan pendebitan dan pengkreditan secara individual ke dalam akun tersebut. Semakin tinggi tingkat deteksi, semakin terbatas prosedur audit yang dilaksanakan oleh auditor terhadap asersi (pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang secara tidak langsung dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain) yang bersangkutan dan semakin rendah tingkat keandalan bukti audit yang diperlukan oleh auditor. Dalam pengembangan program audit untuk pengujian subtantif kerangka umum yang dapat dipakai sebagai acuan adalah sebagai berikut : 1. Tentukan prosedur audit a. Usut saldo pos yang tercantum di dalam neraca ke saldo akun yang bersangkutan di dalam buku besar. b. c. d. Hitung kembali saldo akun yang bersangkutan di dalam buku besar. Usut saldo awal akun yang bersangkutan ke kertas kerja tahun lalu. Usut posting pendebitan dan atau pengkreditan akun tersebut ke dalam jurnal yang bersangkutan.

13

e.

Lakukan rekonsiliasi akun kontrol tersebut dalam buku besar ke buku pembantu yang bersangkutan.

2.

Tentukan prosedur analitik yang perlu dilaksanakan Pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan dalam menentukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif.

3.

Tentukan pengujian terhadap transaksi rinci Pengujian terhadap transaksi rinci terutama terdiri dari prosedur pengusutan dan pemeriksaan bukti pendukung untuk membuktikan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, hak dan kewajiban, penilaian atau alokasi, penyajian dan pengungkapan transaksi atau golongan transaksi.

4. Tentukan pengujian terhadap akun rinci Auditor menentukan berbagai prosedur audit untuk membuktikan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, hak dan kewajiban, penilaian atau alokasi, penyajian dan pengungkapan akun tertentu. Setiap proses audit pasti ada pelaksanaan pengujian, yang terdiri dari dua pengujian utama, yaitu pengujian pengendalian dan pengujian substantif. Kedua pengujian ini berbeda dalam hal jenis, tujuan, sifat pengukuran pengujian yang digunakan, prosedur audit yang dapat diterapkan dalam masing-masing pengujian, saat penerapan, unsur resiko audit yang terdapat di dalamnya, standar pekerjaan lapangan yang melandasinya, dan sifat

14

kewajiban yang ditentukan oleh standar auditing. Perbedaan kedua jenis pengujian tersebut terdapat pada tabel di bawah ini (Mulyadi, 2002:245).

Tabel 1 Perbedaan pengujian pengendalian dan substantif


Pengujian pengendalian Jenis Bersamaan (concurrent) Tambahan Pengujian substansif Prosedur analitik Pengujian terhadap transaksi rinci Pengujian terhadap akun rinci Tujuan Penentuan efektivitas desain dan operasi pengendalian intern Sifat pengukuran pengujian Prosedur audit yang dapat diterapkan Permintaan keterangan, inspeksi, pelaksanaan kembali dan teknik audit berbantuan komputer Sama dengan pengujian pengendalian ditambah dengan prosedur analitik, penghitungan, konfirmasi pengusutan dan pemeriksaan bukti Saat pelaksanaan Komponen risiko audit Standar Kedua Ketiga Risiko pengendalian Terutama pada pekerjaan interim Terutama pada atau mendekatai tanggal neraca Risiko deteksi Frekuensi penyimpangan dari pengendalian intern Penentuan kewajaran aserasi laporan keuangan signifikan Kekeliruan rupiah dalam transaksi dan saldo akun

15

pekerjaan lapangan pokok Diharuskan oleh Tidak standar auditing Ya

(Sumber : Mulyadi, 2002 : 245)

2.2

Pengujian Substantif dengan Menggunakan Metode Variabel Sampling Variabel sampling merupakan teknik statistik yang digunakan auditor untuk menguji kewajaran suatu jumlah atau saldo dan untuk mengestimasi jumlah rupiah suatu saldo akun atau kuantitas yang lain. Seorang auditor dapat pula menggunakan variabel sampling untuk menilai kewajaran saldo suatu unsur yang dicantumkan di dalam laporan keuangan. Jika dalam auditnya, auditor mau menerima saldo suatu unsur yang tercantum di dalam laporan keuangan sebagai suatu jumlah yang benar, dan auditor tersebut hanya akan mengusulkan penyesuaian terhadap jumlah tersebut jika terdapat kekeliruan yang material dalam jumlah tersebut, maka auditor menggunakan uji hipotesis. Pada pengujian substantif dirancang untuk menentukan kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan. Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan dalam laporan keuangan kemungkinan terjadi karena kesalahan dalam : 1. Penerapan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. 2. Ketidakkonsistensian dalam penerapan prinsip akuntansi di Indonesia. 3. Ketidaktepatan pisah batas pencatatan transaksi.

16

4. Perhitungan (penambahan, pengurangan, pengkalian, dan pembagian). 5. Pekerjaan penyalinan, penggolongan, dan peringkasan informasi. 6. Pencantuman pengungkapan unsur tertentu dalam laporan keuangan. Pengujian substantif terhadap aktiva tetap memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktiva lancar. Aktiva tetap pada frekuensi transaksinya relatif sedikit, maka jumlah waktu yang dipakai dalam pengujian substantif terhadap akun aktiva tetap lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk pengujian substantif terhadap akun aktiva lancar. Tujuan pengujian substantif terhadap akun aktiva tetap sebagai berikut : 1. Memperoleh keyakinan tentang kendala catatan akuntansi yang

bersangkutan dengan akun aktiva tetap. 2. Membuktikan eksistensi akun aktiva tetap yang dicantumkan dalam neraca. 3. Membuktikan hak kepemilikan klien atas akun aktiva tetap yang

dicantumkan dalam neraca. 4. Membuktikan ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan akun aktiva tetap. 5. Membuktikan kewajaran penilaian akun aktiva tetap yang dicantumkan di dalam neraca. 6. Membuktikan kewajaran penyajian akun aktiva tetap di dalam neraca. Perbedaan karakteristik akun aktiva tetap dibandingkan dengan akun aktiva lancar adalah sebagai berikut (Mulyadi, 2002:244):

17

1.

Akun aktiva tetap mempunyai saldo yang besar dalam neraca. Transaksi peubahannya relatif sangat sedikit namun umumnya menyangkut jumlah rupiah yang besar.

2.

Kesalahan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan akun aktiva tetap mempunyai pengaruh yang kecil terhadap perhitungan laba rugi, sedangkan kesalahan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan akun aktiva lancar berpengaruh langsung terhadap perhitungan laba rugi tahun yang diperiksa.

3.

Akun aktiva tetap disajikan dalam neraca pada harga pokoknya dikurangi dengan akumulasi depresiasi, sedangkan akun aktiva lancar langsung disajikan di dalam neraca pada nilai bersih yang dapat direalisasikan pada tanggal neraca. Karena adanya perbedaan karakteristik antara akun aktiva tetap dan

akun aktiva lancar, maka mengakibatkan perbedaan pada pengujian substantif terhadap kedua macam aktiva tersebut, yaitu : 1. Karena frekuensi transaksi yang menyangkut aktiva tetap relatif sedikit, maka jumlah waktu yang dipakai untuk pengujian substantif terhadap akun aktiva tetap relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk pengujian substantif terhadap akun aktiva lancar. 2. Akuntan tidak mengarahkan perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan akun aktiva tetap pada akhir tahun, karena ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan akun aktiva tetap sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan laba

18

rugi. Sedangkan dalam pengujian substantif pada akun aktiva lancar, akuntan memusatkan perhatiannya terhadap ketetapan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan akun aktiva lancar, karena kesalahan atau ketidaktelitian penentuan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan akun aktiva lancar berdampak langsung terhadap perhitungan laba rugi tahun yang diperiksa. 3. Pengujian substantif terhadap akun aktiva tetap dititikberatkan pada verifikasi mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam waktu yang diperiksa. Verifikasi saldo akun aktiva tetap pada tanggal neraca tidak mendapat perhatian akuntan, karena akun aktiva tetap disajikan pada harga pokoknya, bukan nilai bersih yang dapat direalisasikan pada tanggal neraca seperti halnya dengan akun aktiva lancar. Di lain pihak pengujian substantif terhadap akun aktiva lancar dititikberatkan pada tanggal neraca, karena akun aktiva lancar disajikan di dalam neraca sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan pada tanggal tersebut.

2.3

Pengertian Aktiva Tetap Akun aktiva tetap terdapat pada laporan keuangan khususnya pada neraca perusahaan. Keadaan ini ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki yang disebut aktiva dan jumlah kewajiban perusahaan yang disebut pasiva. Dalam pengertian aktiva, selain barang-barang dan hak-hak yang dimiliki di dalamnya termasuk juga biaya-biaya yang belum dibebankan dalam periode yang bersangkutan, tetapi akan dibebankan pada periode-periode yang akan datang (Zaki Baridwan, 2002).

19

Dengan begitu aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan serta nilainya cukup besar (Mulyadi, 2002).

2.4

Tujuan Audit atas Aktiva Tetap Tujuan audit atas aktiva tetap adalah untuk memperoleh bukti mengenai setiap pernyataan signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo aktiva tetap. Tujuan audit ditentukan berdasarkan kelima kategori pernyataan laporan keuangan, yaitu : 1. Pernyataan keberadaan dan keterjadian Pada audit atas aktiva tetap, tujuan audit atas pernyataan keberadaan atau keterjadian menekankan pada apakah seluruh saldo aktiva tetap benar-benar ada pada tanggal neraca. Di samping itu, pernyataan ini juga menekankan pada apakah seluruh transaksi berkaitan dengan aktiva tetap yang tercatat benar-benar terjadi dan bukan rekaan semata. Berikut adalah rincian dari tujuan audit atas pernyataan keberadaan atau keterjadian : a. Saldo aktiva tetap yang tercatat merupakan harta yang ada pada tanggal neraca. b. Pendapatan dihasilkan dari transaksi dan kejadian atas aktiva tetap yang terjadi selama periode tersebut.

20

2.

Pernyataan kelengkapan Pernyataan ini menekankan pada apakah seluruh transaksi dan saldo yang semestinya tercantum dalam laporan keuangan sudah benarbenar dicatat dan disajikan. Berikut adalah rincian dari tujuan audit atas pernyataan kelengkapan : a. Semua aktiva tetap sudah tercakup atau dinyatakan dalam saldo aktiva tetap. b. Pengaruh dari seluruh transaksi aktiva tetap terhadap laporan arus kas selama periode yang bersangkutan sudah tercakup dalam pendapatan dari aktiva tetap.

3.

Pernyataan hak dan kewajiban Auditor, berkaitan dengan pernyataan ini, berusaha memastikan apakah entitas tersebut mempunyai hak kepemilikan yang sah atas saldo aktiva tetap. Tujuan pernyataan hak dan kewajiban adalah bahwa semua aktiva tetap yang tercatat memang merupakan harta yang dimiliki oleh perusahaan.

4.

Pernyataan penilaian dan pengalokasian Berkaitan dengan pernyataan penilaian, auditor akan berusaha memperoleh bukti mengenai apakah saldo aktiva tetap perusahaan telah disajikan pada laporan keuangan dalam jumlah yang tepat. Auditor juga akan memastikan apakah saldo tersebut diperoleh melalui penilaian yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Berikut adalah rincian dari tujuan audit atas pernyataan penilaian atau pengalokasian :

21

a.

Aktiva tetap dilaporkan di neraca pada harga pokok atau nilai pasar yang paling tepat.

b.

Pendapatan dari transaksi yang berkaitan dengan aktiva tetap dilaporkan dalam jumlah yang tepat.

5.

Pernyataan pelaporan dan pengungkapan Auditor juga perlu menghimpun bukti mengenai apakah transaksi dan saldo yang tercatat telah dengan tepat diklasifikasikan, dijelaskan, dan diungkapkan dalam neraca. Berikut adalah rincian dari tujuan audit atas pernyataan pelaporan dan pengungkapan : a. Saldo aktiva tetap telah dengan tepat diidentifikasikan dan diklasifikasikan dalam laporan keuangan. b. Dasar penilaian aktiva tetap sebagai jaminan telah diungkapkan secara memadai.

2.5

Penggolongan Aktiva Tetap Aktiva tetap dapat digolongkan dalam berbagai sudut antara lain (Abdul Halim, 2001) : 1. Sudut substansi, aktiva tetap dapat dibagi menjadi : a. Tangiable Asset atau aktiva tetap berwujud seperti lahan, mesin, gedung, dan peralatan. b. Intangiable Asset atau aktiva tetap tidak berwujud seperti hak patent, hak cipta, dan goodwill.

22

2.

Sudut disusutkan atau tidak a. Depreciated Plants Assets yaitu aktiva tetap yang disusutkan seperti bangunan, peralatan, mesin, dan lain-lain. b. Undepreciated Plants Assets yaitu aktiva tetap yang tidak dapat disusutkan seperti tanah.

3.

Berdasarkan jenis a. Lahan atau tanah Yaitu bidang tanah terhampar baik yang merupakan tempat bangunan maupun yang masih kosong. Dalam akuntansi apabila ada lahan yang didirikan bangunan di atasnya harus dipisahkan pencatatannya dari lahan itu sendiri. b. Bangunan atau gedung Gedung adalah bangunan yanng berdiri di atas bumi ini, baik di atas lahan atau di atas air, pencatatannya terpisah dari lahan yang menjadi lokasi gedung itu sendiri. c. Perabotan Dalam jenis ini termasuk perabotan kantor yang merupakan isi dari bangunan. d. Peralatan Peralatan yang dianggap merupakan alat-alat besar yang digunakan dalam perusahaan seperti inventaris kantor, inventaris perusahaan, inventaris gedung dan lain-lain.

23

2.6

Cara-cara Perolehan Aktiva Tetap Aktiva tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara, dimana masingmasing cara perolehannya akan mempengaruhi penentuan harga perolehan. Berikut ini adalah cara perolehan aktiva tetap (Zaki Baridwan, 2002) : 1. Pembelian Tunai Aktiva tetap berwujud yang diperoleh dari pembelian tunai dicatat didalam buku-buku dengan jumlah sebesar uang yang dikeluarkan. Dalam jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva tetap termasuk harga faktur dan semua biaya yang dikeluarkan agar aktiva tetap tersebut siap untuk dipakai, seperti biaya angkut, premi asuransi dalam perjalanan, biaya balik nama, biaya pemasangan dan biaya percobaan. Apabila dalam pembelian aktiva tetap ada potongan tunai, maka potongan tunai tersebut merupakan pengurangan terhadap harga faktur, tidak memandang apakah potongan itu didapat atau tidak. 2. Pembelian secara Lumpsum / gabungan Harga perolehan dari setiap aktiva yang diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar setiap aktiva yang bersangkutan. 3. Ditukar dengan surat-surat berharga Aktiva tetap yang diperoleh dengan cara ditukar dengan saham atau obligasi perusahaan, dicatat dalam buku sebesar harga pasar saham atau obligasi yang digunakan sebagai penukar. Apabila harga pasar saham atau obligasi itu tidak diketahui, harga perolehan aktiva tetap ditentukan

24

sebesar harga pasar aktiva tersebut. Kadang-kadang harga surat berharga dan aktiva tetap yang ditukar kedua-duanya tidak diketahui, dalam keadaan seperti ini nilai pertukaran ditentukan oleh keputusan pimpinan perusahaan. Nilai pertukaran ini dipakai sebagai dasar pencatatan harga peroleha aktiva tetap dan nilai surat-surat berharga yang dikeluarkan. 4. Ditukar dengan aktiva lain Banyak pembelian aktiva tetap dilakukan dengan cara tukar menukar, atau sering disebut tukar tambah, dimana aktiva lama digunakan untuk membayar harga aktiva baru, baik seluruhnya atau sebagian dan kekurangannya di bayar tunai.

2.7

Prinsip Penilaian Aktiva Tetap Dalam hubungannya dengan penilaian aktiva tetap berwujud, Prinsip Akuntansi Indonesia menyatakan : aktiva tetap dinyatakan sebesar nilai buku yaitu harga perolehan aktiva tetap tersebut dikurangi dengan akumulasi penyusutan.Yang dimaksud dengan harga perolehan akun aktiva tetap itu sendiri adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh aktiva tersebut. Jika aktiva tetap diperoleh dari pertukaran maka harga pasar aktiva yang diserahkan dipakai sebagai ukuran harga perolehan aktiva yang diterima. Apabila harga pasar aktiva yang diserahkan tidak diketahui, maka harga pasar aktiva yang diterima dicatat sebagai harga perolehan akun aktiva tetap tersebut. Sesudah aktiva tetap itu diperoleh dan dalam masa penggunaan maka untuk aktiva yang umurnya tidak terbatas seperti tanah, dilaporkan dalam

25

neraca sebesar harga perolehannya, sedang untuk akun aktiva tetap yang umurnya terbatas dicantumkan dalam neraca sebesar harga perolehannya dikurangi dengan akumulasi depresiasi. Harga perolehan dikurangi akumulasi depresiasi disebut nilai buku (Mulyadi, 2002:281).

2.8

Pengujian Substantif Atas Saldo Aktiva Tetap Rekening aktiva tetap digunakan untuk menampung pencatatan atas aktiva perusahaan yang mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun. Aktiva-aktiva yang termasuk dalam kategori ini antara lain tanah, bangunan, mesin, peralatan, kendaraan dan perlengkapan. Aktiva tersebut tidak akan habis digunakan dalam waktu satu tahun. Rekening nominal yang berkaitan erat dengan aktiva tetap adalah biaya depresiasi, perbaikan, dan sewa gedung atau aktiva lainnya. Aktiva tetap sering kali merupakan komponen terbesar dari total aktiva dalam neraca perusahaan. Biaya-biaya yang berhubungan dengan aktiva tetap merupakan faktor yang material dalam laporan laba rugi. Pemeriksaan terhadap aktiva tetap memakan waktu dan biaya yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan pemeriksaan aktiva lancar.

BAB III METODELOGI PENELITIAN

3.1

Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi yaitu metode pengumpulan data yang dilaksanakan secara sistematis melalui pengamatan dan pencatatan pada Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan

Panggung Kota Tegal khususnya yang berkaitan dengan akun aktiva tetap.

3.2

Sumber Data Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dengan populasi yang diambil dari jumlah transaksi penambahan akun aktiva tetap selama satu periode akuntansi.

3.3

Metode Analisis Data 1. Analisis Deskritif Bukti audit diperoleh auditor melalui penerapan prosedur auditing. Pemilihan prosedur dilakukan saat tahap perencanaan audit. Pemilihan prosedur auditing mempertimbangkan efektifitas potensial prosedur dalam memenuhi tujuan spesifik audit, dan biaya untuk melaksanakan prosedur tersebut. Prosedur auditing pada pengujian substantif yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi meliputi: inspeksi, observasi, konfirmasi, wawancara, pengusutan (tracing), penelusuran (vouching),

26

27

penghitungan kembali (referforming), penghitungan (counting), dan pelaksanaan analisis. 2. Metode kuantitatif a. Pada pengujian substantif menggunakan perhitungan standar deviasi, tetapi sebelumnya menghitung jumlah rata-rata x () yaitu dengan rumus (Mulyadi,2002:290) : =

Keterangan : = jumlah rata-rata x (jumlah nilai buku) n = jumlah aktiva tetap

= jumlah nilai buku

Menghitung standar deviasi dengan rumus sebagai berikut : SD =


( )

Keterangan : SD = Standar Deviasi Xi = nilai ke-I dari variable x = Jumlah rata-rata X n = jumlah aktiva tetap

28

b. Evaluasi Hasil 1) Menghitung standar error dengan rumus (Mulyadi,2002:290) : SE =

Keterangan : SE = Standar Error SD = Standar Deviasi N = Jumlah Aktiva Tetap 2) Menghitung achieved precision A dengan rumus

(Mulyadi,2002:291) : A = UR . SE . N Keterangan : A = Besarnya ketetapan yang dapat diterima UR = Tingkat resiko yang ditanggung N = Jumlah aktiva tetap 3) Jika A tidak sama dengan A, maka menghitung A dengan rumus (Mulyadi,2002:291) : A = A + M ( Keterangan : A = Saldo yang masih dapat diterima A = besarnya ketetapan yang dapat diterima )

29

M = Materialitas yang dialokasikan pada obyek yang sedang diperiksa oleh audior A = Ketetapan yang diterima 4) Mengambil keputusan mengenai kewajaran saldo dengan membuat kriteria keputusan sebagai berikut (Mulyadi,2002:291) : Menerima Ho jika AV-BV< A, berarti saldo akun aktiva tetap dalam laporan keuangan tidak berisi kekeliruan yang material. Menolak Ho jika AV-BV> A, berarti saldo akun aktiva tetap dalam laporan keuangan berisi kekeliruan yang material. Untuk menentukan AV = .N BV = Nilai yang tercantum di dalam buku klien. A = Besarnya penyimpangan dari saldo yang masih dapat diterima oleh auditor.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Tinjauan Umum Perusahaan 1. Sejarah Singkat Perusahaan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal adalah suatu lembaga masyarakat dengan kedudukan sebagai pimpinan bersama (kolektif) dari suatu organisasi masyarakat warga di tingkat desa atau kelurahan. Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal dibentuk pada tanggal 20 Agustus 2003, melalui rembug warga Kelurahan Panggung dengan prosedur, dari tingkat RT dipilih beberapa orang untuk diajukan di tingkat RW dan selanjutnya dari setiap RW mengirimkan tiga orang terpilih untuk dipilih di tingkat kelurahan. Pada saat itu ada empat belas RW, jadi dari semua RW keseluruhanya ada empat puluh dua orang perwakilan untuk menjadi calon pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal. Dari empat puluh dua orang tersebut memilih satu sama lain, masing-masing orang memilih sembilan orang kandidat yang akan menjadi pengurus Badan Keswadaan Masyarakat (BKM) nantinya. Dari hasil nama-nama kandidat yang terkumpul tersebut diurutkan dari peringkat satu sampai tujuh belas, dari tujuh belas orang tersebut yang akan menjadi pengurus Badan
30

31

Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal. Pengurus baru yaitu sebagai Koordinator adalah Bapak Sihono, S.Pd, bagian Notulen Bapak Sudjatmo. Sedangkan Anggota-anggotanya adalah Sugeng Santoso, Soegeng Soejitno , Suwardi, Jaka Purnomo, Antonius DR Sede, Sugeng, Wato, Rubinem, Imam Teguh S, SH, Lusia Ulfa, SH, H. Mustofa Kamal, Bibiana Natalia, A. Kholik, Suharti dan Winarti dengan tugas menyusun Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) dan membentuk nama Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) menjadi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera, dan membentuk unit-unit pengelola kegiatan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera yaitu Unit Pengelola Keuangan (UPK), Unit Pengelola Lingkungan (UPL) dan Unit Pengelola Sosial (UPS). Berdasarkan hasil rembug warga tersebut dikukuhkan dengan Akta Notaris Farah Fauziah Hanun, SH Nomor 15 tanggal 29 Oktober 2003 tentang pernyataan keputusan rembug warga Kelurahan Panggung tentang Pembentukan Badan Keswadayaan Masyarakat Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor C-558.HT.03.01-Tahun 2001 tanggal 30 November 2001 dan PEJABAT PEMBUATAN AKTA TANAH KEPUTUSAN KEPALA BADAN PERTAHANAN NASIONAL Nomor : 31-XI-2000 tanggal 6 Oktober 2000 di Tegal telah resmi terbentuk kepengurusan Badan

32

Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera yang berlokasi di Kelurahan Panggung Jl. Perintis Kemerdekaan gang 23 Tegal. 2. Visi, Misi, Nilai-Nilai serta Prinsip-Prinsip Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal a. Visi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal Visi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) adalah menuju masyarakat yang berdaya dan mampu menjalin sinergi dengan pemerintah kota serta kelompok peduli setempat dalam menanggulangi kemiskinan dengan cara efektif secara mandiri dan berkelanjutan. b. Misi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal Misi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) adalah

memberdayakan masyarakat miskin perkotaan untuk menjalin kerja sama sinergis dengan Pemerintah Kota dan kelompok peduli lokal dalam upaya penanggulangan kemiskinan, melalui pengembangan kapasitas penyediaan sumber daya, melembagakan budaya kemitraan antar pelaku pembangunan (Stakeholder).

33

c.

Nilai-Nilai Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera berpegang pada nilai-nilai universal kemanusiaan yang dijunjung tinggi, ditumbuh kembangkan dan dilestarikan, yaitu : 1) Kejujuran dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan

masyarakat dan penangulangan kemiskinan, dan dalam proses pengambilan keputusan, pengelolaan dana dan pelaksanaan kegiatan. 2) Keadilan dalam menetapkan kebijakan, menjawab dan memenuhi kebutuhan nyata dan kepentingan masyarakat miskin. 3) Kesetaraan dalam melibatkan masyarakat miskin dengan tidak membeda-bedakan latar belakang, asal usul, agama, status, jenis kelamin. 4) Kebersamaan, semua warga masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, lapisan dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan mendorong tumbuhnya kepedulian dan gerakan masyarakat. 5) Kerelawanan atau ikhlas dalam melaksanakan kegiatan

pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. 6) Dapat dipercaya semua pihak.

34

d.

Prinsip-Prinsip Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan panggung Kota Tegal Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal dalam melaksanakan kegiatanya menerapkan prinsip-prinsip universal kemasyarakatan, yaitu : 1) Demokratis; dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak, terutama

kepentingan masyarakat miskin, sehingga keputusan yang diambil secara kolektif dan demokratis. 2) Partisipasif; dalam setiap langkah kegiatan dilakukan secara partisipatif (melibatkan banyak pihak dari seluruh kalangan) sehingga mampu membangun rasa kepemilikan dan proses belajar melalui mekanisme bekerja sama. 3) Transparansi dan akuntabilitas; dalam proses manajemen organisasi masyarakat, sehingga masyarakat belajar dan melembagakan sikap bertanggung jawab serta tanggung gugat terhadap pilihan keputusan dan kegiatan yang dilaksanakannya. 4) Desentralisasi; dalam proses pengambilan keputusan yang langsung menyangkut kehidupan dan penghidupan masyarakat agar dilakukan sedekat mungkin dengan pemanfaat sehingga keputusan yang dibuat benar-benar bermanfaat bagi masyarakat banyak.

35

3. Struktur Organisasi Struktur organisasi merupakan suatu kerangka bentuk hubungan pekerjaan antara orang-orang atau kelompok di dalam menjalankan tugas sesuai dengan bidangnya masing-masing. Untuk terselenggaranya suatu kegiatan usaha secara efektif dan efisien maka diperlukan suatu struktur organisasi yang baik, agar dapat diketahui akan adanya pembagian tugas, tanggung jawab dan wewenang masing-masing karyawan secara jelas. Adapun susunan struktur organisasi terlampir.

4. Tugas dan Tanggung Jawab Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera

Kelurahan Panggung Kota Tegal a. Tugas dan Tanggung Jawab Koordinator 1) 2) 3) Tim pembinaan piutang macet Tim perancang pembukuan Mengamati dan memantau ketaatan seluruh pelaksana prosedur keuangan yang ditetapkan dalam dokumen kebijakan Badan Keswadayaan Masyarakat 4) Memberi saran dan dukungan kepada sekretariat, unit-unit pengelola dan Badan Keswadayaan Masyarakat mengenai masalah-masalah manajemen keuangan 5) Menyajikan atau memberi gambaran masalah-masalah yang berkaitan dengan manajemen keuangan

36

6) Bertanggungjawab atas auditor yang ditunjuk dan menyajikan laporan akuntansi tahunan yang teraudit saat Rembug Warga Tahunan (RWT). b. Tugas dan Tanggung Jawab Anggota Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal 1) Menyusun program kerja dan anggaran belanja Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). 2) Membuat review program jangka menengah penanggulangan kemiskinan. 3) Mengadakan pertemuan rutin sebulan sekali. 4) Pembinaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang macet. 5) Melaksanakan Rembug Warga Tahunan (RWT) tutup buku setiap tahun sekali. 6) Melaksanakan pendampingan Kelompok Swadaya

Masyarakat (KSM). c. Tugas dan Tanggung Jawab Sekretariat Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal 1) Menyusun agenda rapat atau pertemuan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). 2) Membuat dan menyebarkan surat undangaan.

37

3) Bertindak sebagai notulen dalam setiap acara rapat atau pertemuan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). 4) Mencatat administrasi keuangan operasional Badan

Keswadayaan Masyarakat (BKM) dan mencatat pengelolaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). 5) Melaporkan administrasi keuangan kepada Badan

Keswadayaan Masyarakat (BKM) secara berkala. d. Tugas dan Tanggung Jawab Unit Pengelola Keuangan (UPK) 1) Mengelola administrasi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). 2) Mengelola Keuangan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). 3) Membuat laporan keuangan setiap sebulan sekali dan laporan tahunan. e. Tugas dan Tanggung Jawab Unit Pengelola Lingkunagan (UPL) 1) Melaksanakan kegiatan program lingkungan. 2) Mengawasi program lingkungan. f. Tugas dan Tanggung Jawab Unit Pengelola Sosial (UPS) Tugas dan tanggungjawab Unit Pengelola Sosial adalah melaksanakan kegiatan program sosial.

38

g. Tugas dan Tanggung Jawab Unit Pengelola Pengaduan Masyarakat (UPPM) 1) Menerima pengaduan dari masyarakat untuk disampaikan kepada pengurus Badan Keswadayaan masyarakat (BKM). 2) Menjembatani pengaduan masyarakat dengan pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dan ikut

menyelesaikan masalahnya. h. Tugas dan Tanggung Jawab Badan Pengawas 1) Mengaudit secara internal laporan keuangan yang dikelola oleh Unit Pelayanan Keuangan (UPK). 2) Membina dan membimbing tugas-tugas Unit Pelayanan Keuangan (UPK). 3) Mengawasi pengeluaran keuangan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).

5. Perkembangan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal Sejak Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal berdiri hingga saat ini mengalami perubahan baik organisasi maupun kegiatan dan kinerjanya. Pada awalnya Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal membentuk unit-unit pengelola yaitu Unit Pengelola Keuangan (UPK), Unit Pengelola Lingkungan (UPL) dan Unit Pengelola Sosial (UPS). Untuk Unit Pengelola Keuangan (UPK)

39

terbentuk dari awal berdiri sampai sekarang masih terbentuk dengan pengurus yaitu Manajer, Pembukuan dan Kasir tetapi lain dengan Unit Pengelola Keuangan (UPK) dan Unit Pengelola Sosial (UPS) terbentuk kembali pada tahun 2008 tetapi belum lengkap dan dilengkapi pada tahun 2009 hingga sekarang. Dalam kepengurusannya setiap tiga tahun sekali terjadi perubahan kepengurusan dengan cara rembug warga, jadi pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat dipilih langsung oleh warga demikian juga dengan Unit Pengelola Keuangan (UPK), Unit Pengelola Lingkungan (UPL), Unit Pengelola Sosial (UPS). Untuk kegiatan yang bersifat berkesinambungan, kegiatankegiatan rutin, misal pertemuan sebulan sekali, Rembug Warga Tahunan (RWT) terus dilakukan. Penyaluran Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) ke Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai dana pinjaman bergulir juga terus diberikan ke masyarakat untuk ekonomi produktif dalam hal menangani kemiskinan dalam masyarakat. Dalam hal pemberian bantuan sosial juga diberikan berupa pelatihan-pelatihan dan Bea Siswa untuk Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam bantuan lingkungan berupa pembangunan fisik dengan sasaran Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), pembuatan paving , saluran air, pemberian gerobak sampah, dan lain-lain. Unit Pengelola Keuangan sangat berperan dalam pengelolaan

dana dari pemerintah. Dalam kinerjanya dari awal terbentuk hingga sekarang banyak perkembangan yang dialami. Dari tahun 2004 sampai

40

dengan 2006 alokasi laba hanya dari pendapatan-pendapatan, tetapi mulai tahun 2007 hingga sekarang alokasi laba didapatkan dari laba bersih, yang setiap tahunnya berubah-ubah. Tahun 2010 laba bersih dialokasikan untuk kegiatan sosial 15%, kegiatan lingkungan 15%, tabungan pembangunan kantor Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) 20%, cadangan modal kerja 15%, cadangan resiko kredit 5%, operasional Badan Keswadayaan Masyarakat 25%, tabungan pemilu Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) tahun 2011 sebanyak 5%. Dari segi memperoleh laba pertahun Unit Pengelola Keuangan (UPK) bisa dilihat perkembangannya, sebagai berikut: pada tahun 2004 dengan pendapatan Rp 45.211.158,56 memperoleh laba Rp 30.466.943,06 dan pada tahun 2010 yang lalu dengan pendapatan Rp 127.810.306,00 memperoleh laba Rp 54.185.254,00. Dari bertambahnya angka tersebut bisa dilihat kinerja Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) bisa dikatakan baik.

6. Program Kerja Yang Dilaksanakan Pada Tahun 2011 a. Bidang Organisasi 1) Rapat koordinasi pengurus atau anggota Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dengan mengadakan rapat rutin dan meningkatkan kinerja petugas-petugas Unit Pengelola KeuanganBadan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM). 2) Meningkatkan koordinasi dengan lembaga-lembaga yang ada di tingkat kelurahan dan pemerintah kota.

41

3) Melakukan kerjasama dengan lembaga perbankan. 4) Mengadakan Rembug Warga Tahunan (RWT) untuk tahun buku 2010. b. Bidang Administrasi 1) Pengadaan alat tulis kantor (ATK). 2) Pembenahan dan penyempurnaan pembukuan keuangan sesuai standar akuntansi. 3) Pembuatan laporan bulanan dan Laporan Pertanggung Jawaban RWT tahun buku 2010. 4) Mengadakan audit akuntan publik tahun 2010 c. Bidang Ekonomi 1) Pinjaman bergulir berkelanjutan untuk usaha produktif dengan meminjamkan dana bergulir untuk sembilan puluh empat Kelompok 726.200.000,2) Pengelompokan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang baik dan yang tidak baik. 3) Kenaikan pinjaman bagi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang baik dan aktif. d. Bidang Sosial 1) Penyaluran dana sosial hasil jasa tahun 2009 dan tahun 2010 dipergunakan untuk pembangunan gedung Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), posyandu, pengadaan gerobak dorong. Swadaya masyarakat (KSM) sebesar Rp

42

2) Pelaksanaan kegiatan fasilitator dan mendorong monitoring melalui rapat bulanan Badan Keswadayaan masyarakat (BKM) dan memeriksa kegiatan Unit Pengelola Keuangan (UPK) dan Unit Pengelola Sosial (UPS). e. Bidang Lingkungan 1) Penyaluran dana pembangunan fisik hasil jasa tahun 2009 dan tahun 2010 dipergunakan untuk pembangunan gedung, rehab rumah tidak layak huni, pavingisasi, dan saluran. 2) Fasilitator dan monitoring pelaksanaan kegiatan yang telah di programkan di setiap wilayah RW. f. Sarana Dan Prasarana 1) Pengadaan kantor Badan Keswadayaan masyarakat (BKM) dengan mengajukan permohonan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) ke Pemerintah Kota. 2) Pengadaan meja kursi dan almari kantor.

4.2

Analisis Data 1. Analisis Deskritif. Bukti audit diperoleh melalui penerapan prosedur auditing. Pemilihan prosedur auditing dilakukan saat tahap perencanaan audit. Dengan mempertimbangkan efektivitas potensial prosedur dalam memenuhi tujuan spesifik audit, dan biaya untuk melaksanakan prosedur tersebut.

43

Untuk memperlihatkan hubungan antara tipe bukti audit dan prosedur audit yang biasa digunakan untuk mendapatkan bukti audit, dapat dilihat pada tabel berikut ini ; Tabel 2 Hubungan antara tipe bukti audit dan prosedur audit Tipe audit Prosedur audit Bukti fisik Inspeksi Perhitungan Inspeksi mesin pabrik Perhitungan kas Contoh penerapan prosedur audit

Bukti dokumenter

Konfirmasi Inspeksi Penelusuran

Konfirmasi saldo bank Inspeksi faktur penjualan Menelusuri faktur penjulan ke dalam kartu piutang

Wawancara

Wawancara dengan penasihat hukum klien yang menghasilkan surat

pernyataan dari penasihat hukum tersebut Bukti perhitungan Perhitungan kembali Footing terhadap jurnal penjualan Cross-footing pembelian Bukti lisan Wawancara Meminta keterangan tentang tingkat keusangan persediaan di gudang terhadap jurnal

44

Bukti perbandingan

Prosedur analitik

Membandingkan realisasi penjualan dengan anggarannya

( sumber: Mulyadi, 2002:89) Berikut ini adalah keterangan dari table di atas yaitu prosedur auditing pada pengujian substantif yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi penguat, meliputi : 1. Inspeksi Inspeksi merupakan pemeriksaan secara rinci terhadap dokumen atau kondisi fisik. Dengan melakukan inspeksi terhadap sebuah dokumen, auditor akan dapat menentukan keaslian dokumen tersebut. Dengan melakukan inspeksi terhadap kondisi fisik suatu aktiva tetap, akan diperoleh informasi mengenai eksistensi dan keadaan fisik aktiva tersebut. 2. Observasi Observasi atau pengamatan merupakan proedur audit yang digunakan oleh auditor untuk melihat pelaksanaan kegiatan. Contoh observasi yaitu perhitungan fisik persediaan yang ada di gudang klien, cara penyimpanan kas yang ada di tangan klien, pembuatan dan persetujuan voucher. Dengan observasi akan diperoleh bukti visual mengenai pelaksanaan suatu kegiatan. 3. Konfirmasi Merupakan bentuk penyelidikan yang memungkinkan auditor memperoleh informasi secara langsung. Prosedur dalam konfirmasi

45

ini adalah dengan meminta klien untuk menanyakan informasi tertentu kepada pihak luar dan memberikan jawaban secara langsung tentang informasi tersebut. 4. Wawancara Merupakan prosedur audit yang dilakukan dengan meminta keterangan secara lisan. Bukti audit yang dihasilkan dari prosedur ini adalah bukti lisan dan bukti documenter. 5. Penelusuran Dalam melaksanakan prosedur audit ini, auditor melakukan penelusuran informasi dari data yang direkam pertama kali dalam dokumen, kemudian dilanjutkan dengan pelacakan pengolahan data tersebut dalam proses akuntansi. 6. Penghitungan Prosedur audit ini meliputi penghitungan fisik terhadap sumber daya berwujud seperti kas atau persediaan di tangan dan pertanggungjawaban semua formulir bernomor urut cetak.

Penghitungan fisik digunakan untuk mengevaluasi bukti fisik kuantitas yang ada di tangan, sedangkan pertanggungjawaban formulir bernomor urut cetak digunakan mengevaluasi bukti documenter yang mendukung kelengkapan catatan akuntansi.

46

7. Penghitungan kembali Prosedur audit ini merupakan pengulangan aktivitas yang dilaksanakan oleh klien. Contohnya adalah penghitungan ulang jumlah total dalam jurnal, perhitungan ulang biaya depresiasi. 8. Pelaksanaan analisis Merupakan review secara cepat terhadap dokumen, catatan, dan daftar untuk mendeteksi unsur-unsur yang tampak tidak biasa yang memerluka penyelidikan lebih mendalam. 2. Metode Kuantitatif a. Pada pengujian substantif menggunakan perhitungan standar deviasi yang dapat diperkirakan berdasarkan pertimbangan auditor guna memperoleh gambaran variasi antara jumlah dalam buku klien dengan jumlah menurut audit, terlebih dahulu menghitung jumlah rata-rata x ( ) sebagai berikut :

.
x Rp 2.565.000

= Rp 197.307,7

Keterangan : n : jumlah aktiva tetap

: rata-rata x (jumlah nilai buku)

47

: jumlah nilai buku

Berikut perhitungan standar deviasinya : SD =


( )

) ) )

( ( (

( ) ( (

) ( ) ) )

SD = Rp 275.867,54 Keterangan : SD = Standar deviasi Xi = Nilai ke i dari variabel x

= Jumlah rata-rata x

n = Jumlah aktiva tetap Standar deviasi dari aktiva tetap pada Unit Pengelola Keuangan Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal adalah Rp 275.867,54 yang akan digunakan untuk perhitungan selanjutnya.

48

b. Evaluasi Hasil 1) Menghitung standar error yang menggambarkan variasi nilai standar deviasi dengan jumlah aktiva tetap, untuk mengetahui nilai variasinya dengan rumus : SE =

SE = Rp76.511,89 Artinya nilai standar error yang menggambarkan variasi standar deviasi dengan jumlah aktiva tetap sebesar Rp 76.511,89. 2) Menghitung achieved precision A dengan rumus : A = UR . SE . N .

A = 1,96 x Rp 76.511,89 x13 x A = 0 Keterangan : A = besarnya ketetapan yang masih dapat diterima UR = tingkat resiko yang ditanggung N = jumlah aktiva tetap Dalam menentukan UR (menerima atau menolak) suatu jumlah yang dihasilkan oleh suatu populasi memiliki dua macam resiko alfa dan resiko beta. Dalam pengambilan populasi misalnya

49

didasarkan pada realibility 95% dari resiko alfanya 100%, itu berarti 100%-95%=5%. UR pada realibility level 95% adalah 1,96 (Tabel Z). 3) Jika A tidak sama dengan A maka auditor menghitung A. Untuk menentukan besarnya A, terlebih dahulu menghitung Z beta yaitu dengan rumus : Z beta =

Keterangan : R = Resiko akhir yang ditanggung IC = Resiko bahwa struktur pengendalian intern tidak akan dapat mendeteksi kekeliruan yang material ( kekeliruan yang lebih besar dari jumlah yang dapat diterima ) AR = Resiko bahwa review analitik ( analytical review) dan pengujian substantive yang bersangkutan tidak akan dapat mendeteksi kekeliruan yang material yang tidak terdeteksi oleh struktur pengendalian intern. Dimana : R ditetapkan sebesar 1% IC ditetapkan sebesar 15% AR ditetapkan sebesar 20% Maka Z beta =

50

Z beta = 0,33 Berdasarkan risiko beta 0,33 tersebut dicari Zbeta dengan menggunakan tabel Z, dengan mencari daerah kurva normal yang luasnya 0,5-0,33=0,17. Zbeta pada daerah seluas 0,17

adalah 0,44. Artinya 0,17 adalah untuk koefisien kekeliruan beta 0,44. Untuk menentukan A = M

= Rp 50.000 A = Rp 72.000 Keterangan : A = Ketetapan yang diterima

M = Materialitas yang dialokasikan pada objek yang akan diperiksa oleh auditor UR = Kesalahan alfa / risiko alfa Zbeta = Kesalahan beta / risiko beta A = A+ M * = 0 + Rp 50.000 * A = Rp 50.000 Keterangan : A = saldo yang masih dapat diterima

+ +

51

A = besarnya ketetapan yang dapat diterima M = materialitas yang dialokasikan pada objek yang diperiksa oleh auditor A = ketetapan yang diterima Perkiraan jumlah keseluruhan dalam populasi didasarkan pada besarnya kekeliruan yang dianggap material sebesar Rp 50.000. 4) Mengambil keputusan mengenai kewajaran saldo akun aktiva tetap. AV =

.N

=Rp 197.307,7 x 13 AV = Rp 2.565.000,1 Keterangan : AV = nilai hasil audit yang ditaksir dan pemariksaan terhadap aktiva tetap

= nilai rata-rata x

N = jumlah aktiva tetap Menerima Ho jika : | | Menolak Ho jika : | | | Rp 50.000 | Rp 50.000 | < Rp 50.000 | < Rp50.000

52

Keterangan : AV = nilai hasil audit yang ditaksir dan pemeriksaan terhadap aktiva tetap. BV = nilai yang tercantum didalam buku klien.

H0

H0

diterima

ditolak

Gambar 1 kurva daerah Ho diterima dan ditolak Karena selisih dari audited value dengan book value sebesar Rp 0,1 | | lebih kecil dari Rp

50.000 , maka Ho diterima, yang berarti saldo akun aktiva tetap yang tercantum dalam laporan keuangan Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM)

Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal disajikan secara wajar dengan tidak berisi kekeliruan yang material.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

KESIMPULAN Berdasarkan data yang terkumpul dan hasil pembahasan serta analisis maka ditarik kesimpulan yaitu : 1. Pengujian substantif selain untuk menemukan kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan juga untuk mengetahui bagaimana prosedur analisis pengujian substantif terhadap aktiva tetap pada Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal. Yaitu dengan cara inspeksi, observasi, konfirmasi, wawancara, penelusuran, penghitungan, penghitungan kembali, dan pelaksanaan analisis. 2. Pencatatan akun aktiva tetap dalam daftar aktiva tetap Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal yang berjumlah 13 jenis akun aktiva tetap dalam neraca telah disajikan secara wajar. Dari hasil penelitian dan dalam bab pembahasan dapat diketahui besarnya penyimpangan dari saldo populasi yang masih dapat diterima (A) Rp 50.000 masih lebih besar dari nilai pemeriksaan (AV) Rp 2.565.000,1 dikurangi dengan nilai bukunya Rp 2.565.000 yaitu sebesar Rp 0,1 yang berarti kesalahan pencatatan pada laporan keuangan Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan

53

54

Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal masih dianggap wajar, sehingga dapat dikatakan laporan keuangan disajikan secara wajar. 5.2 SARAN 1. Unit Pengelola Keuangan-Badan Keswadayaan Masyarakat (UPK-BKM) Mandiri Sejahtera Kelurahan Panggung Kota Tegal lebih meningkatkan ketelitian pencatatan terhadap aktiva tetap sehingga tidak akan terjadi kesalahan material yang lebih besar pada periode berikutnya. 2. Diharapkan Perusahaan melakukan pengujian laporan keuangan pada setiap periodenya dengan cara variabel sampling yang ditujukan untuk menilai kewajaran saldo akun yang telah dicantumkan dalam laporan keuangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Baridwan, Zaki. 2002. Intermediate Accounting. Edisi Kedelapan. BPFE. Yogyakarta Mulyadi. 2002. Auditing. Edisi Keenam. Salemba Empat. Jakarta Mulyadi. 2002. Pemeriksaan Akuntansi. Edisi Keempat. STIE. Yogyakarta Indra Bastian. 2007. Audit Sektor Publik. Edisi Kedua. Salemba Empat. Jakarta Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Direktorat Jenderal Perumahan dan Pemukiman. Buku Saku P2KP. PT. Tera Buana Manggala Jaya. Semarang Petunjuk Teknis Pelaksana UPK. Direktorat Jenderal Perumahan dan Pemukiman. Semarang I Gusti Agung Rai. 2010. Audit Kinerja pada Sektor Publik. Salemba Empat. jakarta

55