Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh satu dari empat bahan antigenik yang dikenal serotipe 1-4 virus DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4) dari genus Flavivirus, family Flaviridae. Virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus tersebut di dalam tubuh manusia. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan yang serius dibanyak daerah tropis dan subtropis di dunia. Penyakit yang ditimbulkannya hiperendemis di Asia Tenggara, dengan bentuk yang paling berbahaya DBD dan Sindrom Syok Dengue (SSD) yang biasanya bersifat fatal, terutama pada anak-anak.1WHO melaporkan 1,8 milyar orang terinfeksi virus dengue di Asia Pasifik dengan case fatility rate (CFR) 1% di Asia Tenggara, kecuali di India, Indonesia, dan Myanmar CFRnya 3-5% karena sering terjadi wabah.2,3 Demam Berdarah Dengue secara epidemiologi di dunia berubah secara cepat. Infeksi dengue merupakan penyakit menular melalui nyamuk yang paling sering terjadi pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, sehingga masih merupakan masalah kesehatan dunia. WHO mengestimasi bahwa 2,5 miliar manusia tinggal di daerah virus dengue bersikulasi. Penyebaran secara geografi dari kedua vektor nyamuk dan virus dengue menyebabkan munculnya epidemi demam berdarah dengue dalam dua puluh lima tahun terakhir, sehingga berkembang hiperendemisitas di perkotaan di Negara tropis. Pada tahun 2007 di Asia Tenggara, dilaporkan peningkatan kasus dengue sekitar 18% dan peningkatan kasus dengue yang meninggal sekitar 15% dibanding tahun 2006.4 Di Indonesia, demam berdarah dengue masih merupakan malasah kesehatan masyarakat yang penting. Infeksi dengue terjadi secara endemis di Indonesia selama dua abad terakhir dari gejala yang ringan dan self limiting disease. DBD masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 1968, di kota Jakarta dan Surabaya. Sejak itu penyakit ini meningkat terus hingga kini, seolah tidak dapat dikendalikan meskipun berbagai upaya sudah dilakukan mulai dari penanganan penderitam gerakan pemberantas sarang nyamuk, fogging dan sebagainya.
Infeksi virus dengue masih merupakan masalah kesehatan utama dan dapat menyebabkan kejadian luar biasa secara nasional dengan mortalitas tinggi. Pada tahun 2010 dilaporkan jumlah kasus DBD di Indonesia adalah 80.065 orang. Berdasarkan profil penyakit DBD pada anak di BLU RSUP Prof. R. D. Kandou tahun 2008-2010, DBD menempati urutan pertama dibandingkan infeksi tropis lainnya dengan jumlah pasien pada tahun 2008 sebanyak 339 anak, tahun 2009 288 anak dan pada tahun 2010 sebanyak 320 anak.5,6,7

Patogenesis DBD masih belum jelas. Berdasarkan epidemiologi DBD di duga berhubungan dengan infeksi sekunder oleh serotipe virus dengue DEN 1, 2, 3 dan 4, tetapi berdasarkan pengalaman empirik tidak semua penderita DBD pada anak adalah infeksi sekunder. Pathogenesis DBD bias dijelaskan oleh teori virulensi virus, teori ini mengatakan bahwa timbulnya DBD tidak perlu dua kali infeksi, satu kali saja sudah cukup bila virusnya virulen.8,9

Manifestasi klinis DBD ditandai dengan demam tinggi mendadak 2-7 hari, anoreksia, lemah, nyeri punggung, nyeri tulang sendi dan kepala disertai dengan muka kemerahan. Manifestasi perdarahan pada umumnya muncul pada hari ke 2-3 demam. Beberapa penderita mengeluh nyeri menelan dengan farings hiperemis ditemukan pada pemeriksaan, namun jarang ditemukan batuk pilek. DHF diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit, secara klinis dibagi menjadi 4 derajat (Menurut WHO, 1986) :4,10 Derajat I Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, , trombositopenia dan hemokonsentrasi.uji tourniquet Derajat II Derajat I dan disertai pula perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain. Derajat III Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah (hipotensi), gelisah, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari (tanda-tanda dini renjatan). Derajat IV Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur

Penanganan pada pasien DBD pada dasarnya bersifat simtomatis dan suportif. DBD ringan tidak perlu dirawat, DBD ringan kadang-kadang tidak memerlukan perawatan, apabila orangtua dapat diikut sertakan dalam pengawasan penderita di rumah dengan kewaspadaan terhadap terjadinya syok. Yang paling ditekankan adalah nutrisi dan hidrasi alias makan dan minum yang cukup. Lebih ditekankan untuk minum yang banyak untuk mengatasi efek kebocoran plasma darah dan meningkatkan jumlah trombosit, setidaknya memenuhi kebutuhan cairan harian perharinya. Prognosis pada penderita DBD, kematian telah terjadi pada 40-50% penderita dengan syok, tetapi dengan perawatan intensif yang cukup kematian

akan kurang dari 2%. Ketahanan hidup secara langsung terkait dengan manajemen awal dan intensif.

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Berat lahir Alamat Agama Kebangsaan Suku bangsa Nama ibu Umur ibu Pekerjaan ibu Pendidikan ibu Nama ayah Umur ayah Pekerjaan ayah Pendidikan ayah Tanggal MRS Jam MRS : Christiano Kalengkungan : 5 7/12 tahun : 2000 gram : Karombasasn : Kristen Potestan : Indonesia : Minahasa : Adita Manopo : 32 tahun : IRT : SMA : Lucky Kalengkongan : 34 tahun : Wiraswasta : SMA : 23 November 2012 : 13.20 WITA

FAMILY TREE

Anamnesis diberikan oleh ibu penderita Keluhan Utama : Demam sejak 4 hari SMRS

Penderita dikeluhkan demam sejak 4 hari SMRS. Demam dirasakan tinggi pada perabaan dan demam turun apabila minum obat penurun panas. Demam terjadi terus menerus sepanjang hari, demam tidak pernah turun ke suhu normal. Demam tidak disertai kejang, menggigil, perdarahan disekitar gusi atau hidung disangkal. Sejak 1 hari SMRS penderita muntah berisi makanan, air dengan volume gelas aqua. Muntah tidak disertai darah dan lendiri. BAB dan BAK volume, fekuensi, dan konsistensi tidak ada perubahan Anamnesis Antenatal ANC TT : di puskesmas secara teratur sebanyak 5 kali : ada 2 kali

Waktu hamil ibu sehat dan tidak pernah sakit saat hamil

Penyakit Yang Sudah Pernah Dialami (tanggal dan riwayat) Morbili Varicella Pertusis Diarrhea Cacing Batuk / pilek : (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (+)

Kepandaian / Kemajuan Bayi

Pertama kali membalik Pertama kali tengkurap Pertama kali duduk Pertama kali merangkak Pertama kali berdiri Pertama kali berjalan Pertama kali tertawa Pertama kali berceloteh Pertama kali memanggil mama Pertama kali memanggil papa

: 3 bulan : 3 bulan : 6 bulan : 8 bulan : 12 bulan : 13 bulan : 3 bulan : 24 bulan : 11 bulan : 11 bulan

Anamnesis Makanan Terperinci Sejak Bayi Sampai Sekarang Asi Pasi Bubur susu Bubur saring Bubur halus : Lahir bulan : Lahir 6 bulan : 6 bulan 10 bulan : 12 bulan 24 bulan : 12 bulan 24 bulan

Imunisasi

Imunisasi I BCG Polio DTP Campak Hepatitis + + + + +

Dasar II III

+ +

+ +

Riwayat Keluarga Hanya penderita yang sakit seperti ini dalam keluarga

Keadaan Sosial, Ekonomi, Kebiasaan, dan Lingkungan Penderita tinggal di rumah beratap seng, berdinding beton, lantai semen. Jumlah kamar tidur terdiri dari 4 bilik, dihuni oleh 11 orang. 5 orang dewasa dan 6 orang anak-anak. WC/KM di luar rumah, sumber air minum dari air isi ulang. Sumber penerangan listrik dari PLN. Penanganan sampah dengan dibuang.

Pemeriksaan Fisik Umur Keadaan umum Keadaan mental Gizi Sianosis Anemia Ikterus : : : : : : : 5 7/12 tahun tampak sakit CM kurang (-) (-) (-) Berat Badan : 15 kg 105 cm 28 x/menit 100/70 mmHg 36,5 C 100 x/m

Tinggi Badan : Respirasi :

Tekanan darah : Suhu Nadi : :

Kulit Warna Efloresensi Pigmentasi Jaringan parut Lapisan lemak Lain-lain Kepala Bentuk Rambut Mata : Mesocephal : Hitam, tidak mudah dicabut : Exopthalmus/enopthalmus Tekanan bola mata Conjunctiva Sclera : -/- , -/: tidak dilakukan : (-) : (-)
8

: : : : : :

sawo matang (-) (-) (-) cukup Rumple Lead

Turgor Tonus Edema

: : :

kembali cepat eutoni (-)

(+)

Ubun-ubun besar

: menutup

Lensa : jernih Fundus: tidak dilakukan Visus : tidak dilakukan

Corneal Reflex Pupil

: normal

Gerakan: normal

: bulat isokor 3 mm/3mm Reflex cahaya +/+

Telinga Hidung Mulut

: secret -/: secret -/: Bibir: sianosis (-) Lidah: beslag (-) Gusi : caries (-) selaput mulut gusi bau pernapasan : mukosa basah : perdarahan (-) : normal

Tenggorokkan :

Tonsil Pharynx

: T1 T1 , hiperemis (-) : hiperemis (-)

Leher

Trachea : letak tengah Kelenjar : Pembesaran (-) Kaku kuduk: (-) Dan lain-lain

Thorax Bentuk Rachitic rosary Ruang intercostals Precordial bulging Lain-lain Paru-paru Inspeksi Palpasi : simetris kiri dan kanan : suara fremitus kiri dan kanan
9

: normal : (-) : normal : (-)

Xiphosternum Harrisons groove

: (-) : (-)

Pernapasan paradoxal : (-) Retraksi : (-)

Perkusi Auskultasi

: sonor kiri dan kanan : Sp. Bronkovesikular Ronkhi -/-, Wheezing -/-

Jantung Detak jantung : 118 x/m Iktus Batas kiri Batas kanan Batas atas Jantung Bunyi jantung apex Bunyi jantung aorta : m1 > m2 : A1 > A2 : cordis tidak tampak : linea midclavicularis sinistra : linea parasternalis dextra : ICS II-III

Bunyi jantung pulmo : P1 < P2 Bising : (-)

Abdomen Bentuk Lain-lain Lien Hepar Genitalia Kelenjar : tidak teraba : H 2-2 dibawah arcus costa : laki laki kesan normal : pembesaran (-)
10

: datar, lemas, BU (+) N

Anggota gerak Tulang belulang Otot-otot Reflek-reflek

: akral hangat, CRT <2 : deformitas (-) : atrofi (-) : Refleks fisiologi : +/+ Refleks Patologis -/-

Resume Keluhan Utama : Demam sejak 4 hari SMRS

Penderita dikeluhkan demam sejak 4 hari SMRS. Demam dirasakan tinggi pada perabaan dan demam turun apabila minum obat penurun panas. Demam terjadi terus menerus sepanjang hari, demam tidak pernah turun ke suhu normal. Demam tidak disertai kejang, menggigil, perdarahan disekitar gusi atau hidung disangkal. Sejak 1 hari SMRS penderita muntah berisi makanan, air dengan volume gelas aqua. Muntah tidak disertai darah dan lendiri. BAB dan BAK volume, fekuensi, dan konsistensi tidak ada perubahan T : 100/70 mmHg, N : 100 x.m, R : 32 x/m, S : 36,5 C KU Kepala : tampak sakit Kesadaran : CM

: konjungtiva tidak anemis, sclera tidak anemis, pupil bulat isokor 3 mm/3mm Refleks cahaya +/+

Thorax Abdomen

: simetris, retraksi (-), c/p dbn : datar, lemas, BU (+) N. Nyeri tekan epigastrium (-) Hepar 2-2 cm bac, L ttb

11

Ekstremitas

: akral hangat, CRT < 2 Rumple lead (+)

Diagnosis sementara DHF gr I Pemeriksaan : DL, DDR, IgG, IgM anti dengue Terapi : IVFD RL5 cc/KgBB/jam = 75 ml/jam = 25gtt/mnt

Pamol syrup 3 x tab Oralit ad libitum

Follow Up 23 November 2012 jam 13.00 wita S O : demam (+) : KU : Tampak sakit TD : 90/60 Kes : CM

N : 100 x/m R : 24 x/m S : 36,5 C

Kep: conj.An (-), Sklera ikt (-), PCH (-) Tho: simetris, retraksi (-), c/p dbn Hepar 2-2 cm bac, L ttb Ekst akral hangat, CRT 2 A P : DHF gr I (f.4) : IVFD RL 5 cc/kg/jam = 75 ml/jam = 25 gtt/mnt Jam 15.00 WITA PCV rutin 47% Observasi vital sign

12

Pemeriksaan Lab: Malaria (-) Hematocrit 39,7 % Hb 13,3 mg/dl Eritrosit 5,41 x 106/mm3 Leukosit 3600/mm3 Trombosit 51000/mm3 IgG (+) IgM (+) Jam 18.00 wita PCV 36% IVFD RL 3 cc/KgBB/jam

24 November 2012 S O : demam (-) : KU : Tampak sakit TD : 90/60 Kes : CM

N : 100 x/m R : 28 x/m S : 36,7 C

Kep: conj.An (-), Sklera ikt (-), PCH (-) Tho: simetris, retraksi (-), c/p dbn Hepar 2-2 cm bac, L ttb Ekst akral hangat, CRT 2 A P : DHF gr I (f6) : IVFD RL 3 cc/kgBB/jam = 15 gtt/m Sanmol/Pamol syrup 3 x 1 cth (kalau perlu)
13

Oralit ad lib PCV rutin 39% Pro: DL Hematocrit 39,3 % Hb 13,2 mg/dl Eritrosit 5,431 x 106/mm3 Leukosit 6100/mm3 Trombosit 44000/mm3

25 Oktober 2012 S O : demam (-), keluar bercak merah di kaki : KU : Tampak sakit Kes : CM

TD : 100/60 N : 100 x/m R : 24 x/m S : 36,3 C Kep: conj.An (-), Sklera ikt (-), PCH (-) Tho: simetris, retraksi (-), Rh -/-, Whz -/-, c/p dbn Hepar 1-1 cm bac, L ttb Ekst akral hangat, CRT 2 A P : DHF gr I : IVFD RL 3 cc/kgBB/jam 15 gtt/m Injeksi ceftriaxon 2x600 gr Pamol syrup 3x1 cth (kalau perlu) Oralit ad libitum

14

Pro

: PCV rutin, DL

PCV 35% Eritrosit 4,46 x 106/mm3 Leukosit 6100/mm3 Trombosit 53000/mm3 Hematocrit 32,3 % Hb 10,9 mg/dl

26 Oktober 2012 S O : demam (-), rash (+) : KU : Tampak sakit Kes : CM

TD : 110/70 mmHG N : 96 x/m R : 30 x/m S : 36,5 C Kep: conj.An (-), Sklera ikt (-), PCH (-), Gusi berdarah (-) Tho: simetris, retraksi (-), c/p dbn Hepar 1-1cm bac, L ttb Ekst akral hangat, CRT 2 A P : DHF gr I (f.7) : IVFD RL 3 cc/kgBB/jam 15 gtt/m Injeksi ceftriaxone 2x600mg (stop) Sanmol syr 3x1 cth Observasi TNRS Pro: DL Eritrosit 4,47 x 106/mm3
15

Leukosit 5600/mm3 Trombosit 107.000/mm3 Hematocrit 33,3 % Hb 11 mg/dl Rawat Jalan

16

PEMBAHASAN Pada kasus ini diagnosis demam berdarah dengue. Diagnosis demam berdarah dengue ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada pasien ini, ditemukan gejala-gejala klinis yang mengarah ke diagnosis demam berdarah dengue. Pada anamnesis, ditemukan keluhan yang merupakan khas dari demam berdarah dengue yaitu demam 4 terjadi terus menerus sepanjang hari, demam tidak pernah turun ke suhu normal. Panas turun dengan obat penurun panas tapi tidak sampai normal kemudian panasnya naik kembali. Di temukan juga gejala klinis lainnya seperti mual dan muntah, nafsu makan menurun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital sign suhu badan 36,5C, disertai dengan nadi cepat 100 x/menit. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang mengatakan gejala khas dari pasien demam berdarah dengue terjadi demam yang mendadak, suhu meningkat tinggi, kadang-kadang menggigil diikuti dengan sakit kepala, dan muka yang kemerahan. Dalam waktu 24 jam mungkin akan timbul nyeri di belakang mata, fotofobia, nyeri punggung, nyeri otot, dan persendian. Gejala lainnya adalah tidak ada nafsu makan, berubahnya indra perasa, konstipasi, nyeri perut, nyeri pada daerah lipat paha, dan radang tenggorokan. Pada pemeriksaan penunjang yaitu didapatkan hematokrit: 39,7%, Hb 13,3 mg/dl, eritrosit 5,41 x 106/mm3, leukosit 3600/mm3,trombosit 51000/mm3. Hal ini sesuai dengan kepustakaan jumlah leukosit biasanya normal pada awal demam, seterusnya terjadi leukopenia yang berlangsung selama masa fase demam. Pada penderita DBD, terjadi penurunan kadar trombosit dalam darah secara signifikan. Dalam perjalanannya trombosit akan turun terus menurun pada hari ke 3 dan ke 4. Penurunan jumlah trombosit 100.000 sel. Trombosit yang menurun menyebabkan terjadinya perdarahan pada kulit karena trombosit berfungsi sebagai salah satu zat pembeku darah. Trombosit yang rendah menimbulkan gangguan pada sistem pembekuan darah. Oleh karena itu, pada penderita DBD dengan kadar trombosit yang rendah akan mempermudah munculnya titik perdarahan pada kulit, hidung, gusi, bahkan otak.11 Kriteria klinis demam tinggi mendadak 2-7 hari, perdarahan baik dengan uji torniquetmaupun spontan, hepatomegali, dan trombositopenia. Dua gejala klinis ditambah dengan satu gejala laboratoris dianggap cukup untuk menegakkan diagnosis DBD. Pada penderita ini di diagnosis dengan DHF grade I. Dimana DHF grade I demam disertai gejala

17

klinis lain, tanpa perdarahan spontan, trombositopenia, dan hemokonsentrasi serta uji torniquet.12,13 Komplikasi yang bisa terjadi pada demam berdarah dengue Ensefalopati Dengue Umumnya terjadi sebagai komplikasi syok yang berkepanjangan dengan perdarahan tetapi dapat juga terjadi pada DBD tanpa syok. Didapatkan kesadaran pasien menurun menjadi apatis/somnolen, dapat disertai kejang. Penyebabnya berupa edema otak perdarahan kapiler serebral, kelainan metabolik, dan disfungsi hati. Kelainan ginjal, DIC, edema paru, serta syok juga bisa terjadi sebagai komplikasi. Pada penderita ini tidak ditemukan komplikasi seperti yang sudah disebutkan. Angka kematian sebanding dengan semakin beratnya manifestasi klinis. Kematian dapata disebabkan oleh banyak faktor antara lain keterlambatan diagnosis demam berdarah dengue, keterlambatan diagnosis syok, syok yang tidak teratasi, perdarahan masif karena DIC, dan lain-lain. Penatalaksanaan pada penderita ini berupa pemberian cairan Ringer Laktat 5 cc/kgBB/jam (25 tetes/menit), obat antipiretik pamol syrup3 x cth, oralit ad libitum. Dan juga dilakukan pengontrolan vital sign, serta pemberian cairan intra vena sesuai protokol sebanyak 3 cc/kgBB/jam, pasien ini berat badan 15 kg, jadi diberikan cairan isotonik Ringer Laktat 1 tetes/menit. Pengobatan secara simptomatik dan suportif dari keluarga. Obat antipiretik atau pengkompresan diperlukan untuk menjaga suhu di bawah 40C. jika pasien merasa kesakitan dapat diberikan obat analgetik atau sedativ. Pemberian cairan dan elektrolit oral sangat dianjurkan, apalagi pasien dengan keringat atau muntah yang berlebihan. Pasien di kontrol selalu, tanda vital harus dalam batas normal, dan sampai tidak demam lagi.14 Pada penderita diberikan antibiotik injeksi (ceftriaxone) dengan tujuan untuk profilaksis kemungkinan infeksi yang dapat terjadi. Pada penderita ini mempunyai prognosis baik karena tidak didapatkan manifestasi klinis atau komplikasi yang berat.

18

DAFTAR PUSTAKA 1. Demam berdarah dengue pada anak. Diunduh dari:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18425/5/Chapter%20I.pdf1 diakses 28 november 2012 2. Beasley DWC, BarretADT. The Infection Agent. Halstead SB. Dengue.. London; Imperial College Press, 2008:29-31. 3. WHO. Dengue haemorrhagic fever. Diagnosis, treatment, prevention, and control. WHO, Geneva, 1997 4. demam berdarah dengue. Diunduh dari: http://adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/demam-dengue.pdf 2 diakses 28 november 2012 5. 6. 7. Hastuti Oktri. Demam Berdarah Dengue. Penerbit Kanisius. Yogyakarta: 2008 Rampengan TH. Demam berdarah dengue pada anak di RSU Manado.MKI. 1986;6:300 Tata laksana demam berdarah dengue. Diunduh dari: http://www.depkes.go.id/downloads/Tata%20Laksana%20DBD.pdf November 2012 8. Demam berdarah dengue. Diunduh dari: diakses 28

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21504/4/Chapter%20II.pdf diakses 28 November 2012 9. Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 2000 10. WHO. Pencegahan dan pengendalian demam dengue dan demam berdarah. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta 2002 11. Dengue hemorrhagic fever pada anak. Diunduh dari:

http://www.scribd.com/doc/43419675/DHF-Pada-Anak diakses 11 November 2012 12. WHO. Demam Berdarah Dengue Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan, dan

Pengendalian. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta 13. Dengue hemorrhagic fever (DHF). Diunduh dari http://ppni-

klaten.com/index.php?option=com_content&view=article&id=78:dhf&catid=38:ppniak-category&Itemid=66 diakses 28 November 2012 14. Gambaran Nilai Trombosit Penderita DBD pada anak-anak. Diunduh dari:

http://www.scribd.com/doc/87939619/Gambaran-Nilai-Trombosit-penderita-DBD-pada-anakanak-di-RS-X diakses 28 November 2012

19

DAFTAR HADIR PEMBACAAN LAPORAN KASUS DENGAN JUDUL DEMAM BERDARAH DENGUE TANGGAL PEMBACAAN:

Nama NRI Gelombang Masa KKM

: Nur Eviriani Pahisa : 070111297 : III KBK : 8 Oktober 2012 16 Desember 2012

Daftar hadir Coass No. Nama NRI 070111297 Gelombang Tanda Tangan

Mengetahui, Residen Pembimbing Supervisor Pembimbing

20