Anda di halaman 1dari 15

BAB I KASUS

A. IDENTITAS Nama Umur Pekerjaan Status Perkawinan Agama Tanggal MRS dr. yang merawat B. ANAMNESIS Keluhan Utama OS datang dengan membawa surat rawat dari dokter karena rencana SC atas indikasi letak lintang. Riwayat Penyakit Sekarang Os hamil yang pertama, usia kehamilan 38 minggu, belum pernah melahirkan, belum pernah keguguran, MRS dengan rencana SC atas indikasi letak lintang. Os tidak merasakan sakit pada daerah pinggang, dan tidak merasakan adanya nyeri pada perut ataupun pada daerah jalan lahir. Keluar air-air, lendir dan darah dari jalan lahir disangkal. Os merasa mulas sedikit, namun belum teratur. Gerakan janin masih terasa aktif. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat asma disangkal Riwayat penyakit DM disangkal Riwayat hipertensi disangkal : Ny. SW : 23 tahun : ibu rumah tangga : Menikah : Islam : 23 Juli 2011 : dr. Bobbin Amirul, Sp.OG

Riwayat Operasi Os mengaku belum pernah operasi Riwayat Perkawinan Kawin ke-1, masih kawin, lama kawin 1,6 tahun Riwayat Haid Menarche : umur 13 tahun, teratur, tidak nyeri saat haid, lama haid 5-7 hari, siklus 28 hari. HPHT TP : 1 November 2010 : 8 Agustus 2011

Riwayat ANC ANC teratur setiap bulan di klinik kebidanan dan kandungan RSIJ Cempaka putih, tidak ada pesan khusus dari dokter. Riwayat Persalinan No Tempat Penolong Thn bersalin Aterm Jenis Penyulit Anak persalinan JK BB Keadaan (g) PB (cm

Hamil ini

C. PEMERIKSAAN FISIK KU Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan : baik : compos mentis : 130 / 90 mmHg : 92 x/menit : 20 x/menit

Suhu Status generalis Kepala Mata

: 36,20 C

: Normocephal : cekung -/Konjungtiva anemi -/Sclera ikterik -/Reflex pupil +/+

Leher Thorax :

: Pembesaran KGB (-) Pembesaran kelenjar tiroid (-) Jantung : Iktus cordis tidak terlihat, Bunyi jantung I/II murni reguler, murmur (-), gallop (-) Paru : Bentuk dan gerak simetris normal, perkusi sonor, ronkhi -/-, wheezing -/-

Ekstremitas atas : RCT < 2, edema (-/-) Ekstremitas bawah: RCT < 2, edema (-/-)

D. STATUS OBSTETRI I : cembung (+), linea nigra (+), striae gravidarum (-) P : TFU 34 cm Leopold I Leopold II Leopold III Leopold IV : teraba bagian kosong : teraba bagian bulat melenting di sebelah kiri, dan bagian bulat lunak di sebelah kanan : teraba bagian kosong :-

His : belum ada DJJ : 140x/mnt, teratur, kuat, punctum maksimum tunggal di kuadran bawah perut. Taksiran berat janin: (34-12) x 155 = 3410 gram 3

Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan E. ASSESSMENT Ibu bayi : Gravida 1 Para 0 Abortus 0, 29 tahun, hamil 38 minggu, belum inpartu dengan janin letak lintang. : janin tunggal hidup intrauterine letak lintang

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG 24 Juli 2011 HEMATOLOGI Hemoglobin Golngan darah A Rh + G. LAPORAN PEMBEDAHAN ( SEKSIO SESARIA ) 2 / 3 / 2011 Analgesi Spinal Insisi pfannestiel Perlengketan minimal Plica dibuka, air ketuban jernih Luksir kepala janin, bayi dilahirkan pada pukul 22.05, JK : perempuan, BB : 3200 gram, PB : 47 cm A/S: 8/9 Plasenta dilahirkan lengkap Ujung SBR dijahit, dilanjutkan jelujur kontrol perdarahan (-) Ovarium kanan/kiri normal Jahit dinding abdomen lapis demi lapis Jumlah Perdarahan 300 cc : 11,2 gr/dl

H. DIAGNOSA POST SC Para 1 Abortus 0, 29 tahun, post SCTPP atas indikasi janin letak lintang.

J. FOLLOW UP
Tanggal 24/7/11 S Nyeri perut bagian bawah, belum flatus, belum BAB, BAK di kateter 700 ml selama 4 jam, ASI belum keluar, payudara kencang,, mobilisasi miring kanan & kiri. O A P Infus : K3B 2000 cc/24 jam Terapi oral : 25/7/11 Nyeri perut bagian bawah, sudah flatus, belum BAB, BAK lancar, ASI belum keluar, payudara kencang,, mobilisasi duduk Celocid 2x1 Torasic 3x1 Feritin 2x1 Tricepin 2x1 Ketopain 2x1 Vit C 2x1 Alinamin F 2x1

TD : 100/60 P1A0 pasca mmHg, N : SCTPP 72,x/mnt S : 36,4,0 hari I C RR : 20x/mnt, konjungtiva tidak anemis, akral hangat pada ekstremitas atas dan bawah.

Terapi injeksi :

TD : 90/60 mmHg, P1A0 pasca Terapi oral : N :80,x/mnt S : SCTPP hari II - Celocid 2x1 36,4,0 C RR : 18x/mnt, - Torasic 3x1 konjungtiva tidak - Feritin 2x1 anemis, akral hangat pada Terapi injeksi : ekstremitas atas - Tricepin 2x1 dan bawah. - Ketopain 2x1 Vit C 2x1 Alinamin F 2x1

26/7/11

Nyeri bekas SC, belum BAB, BAK lancar, ASI sudah keluar dan banyak.

TD : 90/60 mmHg, P1A0 pasca Terapi oral : N :80,x/mnt S : SCTPP hari II - Celocid 2x1 36,4,0 C RR : 18x/mnt, - Torasic 3x1 konjungtiva tidak - Feritin 2x1 anemis, akral hangat pada Ganti verband ekstremitas atas Os sudah boleh pulang dan bawah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LETAK LINTANG 1. Definisi suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong pada sisi yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada pintu atas panggul. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior), di belakang (dorsoposterior) atau di bawah (dorsoinferior). 2. Epidemiologi Frekuensi letak lintang dalam literatur disebutkan sekitar 0,5%-2%. Sedangkan di Indonesia sekitar 0,5%. Letak lintang lebih banyak pada multipara daripada primipara, karena yang menjadikan letak lintang pada umumnya hampir sama dengan kelainan yang menyebabkan presentasi bokong. 3. Etiologi Penyebab paling sering adalah kelemahan otot uterus dan abdomen. Kelaianan letak paling sering terjadi pada wanita paritas tinggi (grande multipara). Faktor lain yang mendukung terjadinya letak lintang adalah plasenta previa, selain itu juga ada beebrapa faktor yang mendukung terjadinya letak lintang yaitu: kehamilan ganda, polihidramnion, abnormalitas uterus, pengkerutan pelvis, fibroid uterus yang besar. 4. Klasifikasi Letak lintang dapat dibagi menjadi 2 macam, yang dibagi berdasarkan: a. Letak kepala Kepala anak bisa di sebelah kiri ibu Kepala anak bisa di sebelah kanan ibu b. Letak punggung Jika punggung terletak di sebelah depan ibu, disebut dorso-anterior Jika punggung terletak di sebelah belakang ibu, disebut dorsoposterior 6

Jika punggung terletak di sebelah atas ibu, disebut dorso-superior Jika punggung terletak di sebelah bawah ibu, disebut dorso-inferior 5. Diagnosis Letak lintang mudah didiagnosis dalam kehamilan dari bentuk uterus, terlihat melebar, lebih menonjol ke salah satu bagian abdomen, dengan TFU rendah. Palpasi akan teraba kepala janin pada salah satu sisi dan bokong pada sisi yang lain, tetapi tidak ada bagian presentasi yang berada di pelvis. Pada palpasi kepala janin atau bokong ditemukan di salah satu bagian fossa iliaca. USG dapat digunakan untuk memastikan dignosis untuk mendeteteksi kemungkinan penyebab. Inspeksi Perut membuncit ke samping Palpasi Fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan Fundus uteri kosong dan bagian bawah kosong, kecuali kalau bahu sudah masuk ke dalam pintu atas panggul Kepala (ballotement) teraba di kanan atau di kiri Auskultasi Denyut jantung janin setinggi pusat kanan atau kiri. Pemeriksaan dalam (vaginal toucher) Teraba tulang iga, skapula, dan kalau tangan menumbung teraba tangan. Untuk menentukan tangan kanan atau kiri lakukan dengan cara bersalaman. Teraba bahu dan ketiak yang bisa menutup ke kanan atau ke kiri. Bila kepala terletak di kiri, ketiak menutup ke kiri. - Letak punggung ditentukan dengan adanya skapula, letak dada dengan klavikula. Pemeriksaan dalam agak sukar dilakukan bila pembukaan kecil dan ketuban intak, namun pada letak lintang biasanya ketuban cepat pecah.

6. Penatalaksanaan Mekanisme persalinan pada letak lintang Pada permulaan persalinan dalam letak lintang, pintu atas panggung tidak tertutup oleh bagian bawah anak seperti pada letak memanjang. Oleh karena itu seringkali ketuban sudah lebih dulu pecah sebelum pembukaan lengkap atau hampir lengkap. Setelah ketuban pecah, maka tidak ada lagi

tekanan pada bagian bawah, sehingga persalinan berlangsung lebih lama. His berperan dalam meluaskan pembukaan, selain itu dengan kontraksi yang semakin kuat, maka anak makin terdorong ke bawah. Akibatnya tubuh anak menjadi membengkok sedikit, terutama pada bagian yang mudah membengkok, yaitu di daerah tulang leher. Ini pun disebabkan karena biasnaya ketuban sudah lekas pecah dan karena tak ada lagi air ketuban, maka dinding uterus lebih menekan anak di dalam rahim. Dengan demikian bagian anak yang lebih rendah akan masuk lebih dulu ke dalam pintu atas panggul, yaitu bahu anak. Karena pada letak lintang pintu atas panggul tidak begitu tertutup, maka tali pusat seringkali menumbung, dan ini akan memperburuk keadaan janin. Bila pembukaan telah lengkap, ini pada awalnya tidak begitu jelas tampaknya. Karena tidak ada tekanan dari atas oleh bagian anak pada lingkaran pembukaan, makan lingkaran ini tidak dapat lenyap sama sekali, senantiasa masih berasa pinggirnya seperti suatu corong yang lembut. Penting untuk diketahui, bahwa tidak ada pembukaan yang benar-benar lengkap pada letak lintang seperti halnya pembukaan lengkap pada letak memanjang. Tandanya pembukaan itu sudah lengkap adalah lingkaran pembukaan itu mudah dilalui oleh kepalan tangan pemeriksa, sedangkan pada pembukaan yang belum lengkap, kepalan tangan pemeriksa sukar untuk memasuki lingkaran tersebut. Lain halnya dengan letak memanjang, pada letak lintang setelah pembukaan lengkap, karena his dan tenaga mengejan, badan anak tidak dapat dikeluarkan dari rongga rahim, akan tetapi sebagian besar masih di dalam uterus, meskipun tubuh anak menjadi semakin membengkok.. Jika ini terjadi terus menerus, maka akan terjadi suatu letak lintang kasep, dimana tubuh anak tidak dapat lagi didorong ke atas. Letak lintang kasep terjadi bukanlah karena lamanya persalinan, namun faktor yang penting ialah karena faktor kuatnya his. Pada letak lintang kasep, biasanya anak telah mati, yang disebabkan karena kompresi pada tali pusat, perdarahan pada plasenta, ataupun cedera organ dalam karena tubuh anak terkompresi dan membengkok.

Gambar

1.

Letak

lintang

Kasep

dengan

lengan

menumbung

Bila keadaan kasep ini dibiarkan saja, makan dapat terjadi ruptur uteri yang sangat berbahaya pada bagi ibu. Persalinan pervaginam pada letak lintang Kadangkala dalam letak lintang anak dapat dilahirkan secara pervaginam, ini dapat terjadi pada anak yang kecil (preterm), atau pada anak yang telah mati. Pada anak yang normal dan hidup, hal ini sama sekali tidak diharapkan Evolutio Spontanea, Karena tenaga his dan tenaga mengejan, maka bahu anak turun dan masuk ke dalam rongga panggul, sedangkan kepala tertekan dan tinggal di atas. Pada suatu waktu, bahu itu lahir di bawah

10

simfisis, dan sekarang dengan bahu itu sebagai hipomoklion, lahirlah berturut turut bagian atas badan, yaitu samping dada diikuti oleh perut, bokong , kaki dan kepala. Cara ini disebut cara DOUGLAS.

Gambar 2. Evolutio Spontanea cara Douglas Ada keadaan dimana bahu dan kepala anak tertekan dan tinggal di atas pintu atas panggul. Yang tertekuk adalah punggung dan pinggang. Dengan demikian maka pada suatu ketika bokong sama tingginya dengan bahu dan selanjutnya lahir lebih dahulu bokong, dan kaki, dilanjutkan dengan badan dan kepala. Cara ini disebut cara DENMAN

11

Gambar 3. Evolutio Spontanea Cara Denman Conduplicatio Corpore Hal ini berlaku terutama pada panggul luar dan anak yang kecil, yaitu kepala anak tidak tertahan di atas, sehingga kepala dan perut sama-sama turun ke dalam rongga panggul dan dengan keadaan terlipat lahirlah kepala dan perut, dilanjutkan dengan bokong dan kaki.

12

Gambar 4. Conduplicatio Corpore Saat Hamil Pada saat hamil, pada usia kehamilan 34-36 minggu dapat dianjurkan untuk dilakukan knee chest position sampai usia kehamilan >36 minggu. Setelah itu , jika masih dalam letak lintang, maka dapat dilakukan versi luar jika syarat memenuhi Saat Persalinan Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam pertolongan persalinan pada letak lintang, yaitu ketuban dan pembukaan. Jika ketuban belum pecah, dan pembukaan masih kecil (<4cm), dapat dicoba untuk dilakukan versi luar hingga menjadi presentasi kepala atau presentasi bokong. Jika versi luar gagal dan tidak terjadi komplikasi maka dapat ditunggu sampai pembukaan lengkap. Namun jika pembukaan sudah besar, versi luar sangat tidak dianjurkan. Dalam hal ini ketuban harus dijaga jangan sampai pecah dan ibu diminta berbaring miring dan dilarang mengejan. Ditunggu sampai pembukaan lengkap, setelah lengkap , ketuban dipecahkan dan dilakukan versi ekstraksi. Jika ketuban sudah pecah, dan pembukaan belum lengkap, maka seksio sesarea adalah jalan terbaik. Meskipun pada literatur lama mengatakan dapat ditunggu sampai lengkap dan dilakukan versi ekstraksi, namun mungkin hal ini tidak relevan lagi pada masa sekarang. Jika pembukaan sudah lengkap, maka perlu diketahui apakah sudah terjadi letak lintang kasep atau belum. Jika sudah terjadi letak lintang kasep, cara mengetahuinya adalah

13

dengan mencoba mendorong bagian terbawah janin, jika tidak dapat didorong lagi, maka dapat ditegakkan diagnosis letak lintang kasep. Penatalaksanaanya adalah dengan melihat anak hidup atau sudah mati. Jika anak masih hidup, maka segera dilakukan seksio sesarea. Namun jika anak mati, dapat dipertimbangkan untuk dilakukan embriotomi. Jika belum terjadi letak lintang kasep, maka dapat dicoba untuk dilakukan versi ekstraksi. Bila tidak cepat diberikan pertolongan, akan terjadi ruptura uteri dan janin sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam rongga perut. Pada letak lintang biasanya : - ketuban cepat pecah - pembukaan lambat jalannya - partus jadi lebih lama - tangan menumbung (20-50%) - tali pusat menumbung (10%) 7. Prognosis Meskipun letak lintang dapat diubah menjadi presentasi kepala, tetapi kelainan kelainan yang menyebabkan letak lintang, seperti misalnya panggul sempit, tumor panggul dan plasenta previa masih tetap dapat menimbulkan kesulitan pada persalinan. Persalinan letak lintang memberikan prognosis yang jelek, baik terhadap ibu maupun janinnya Bagi ibu Bahaya yang mengancam adalah ruptura uteri, baik spontan, atau sewaktu versi dan ekstraksi. Partus lama, ketuban pecah dini, dengan demikian mudah terjadi infeksi intrapartum. Bagi janin Angka kematian tinggi (25 49 %), yang dapat disebabkan oleh : 1) 2) 3) 4) Prolapsus funiculi Trauma partus Hipoksia karena kontraksi uterus terus menerus Ketuban pecah dini5

14

DAFTAR PUSTAKA Cunningham FG, Leveno KJ, Gant NF. Obstetri Williams Paduan Ringkas. Edisi 21. EGC, 2009. Mochtar, dr. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi & Obstetri Patologi. Jilid I ed. ke-2. Jakarta : EGC. 1998. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo: 2008 S. A. Goelam. arts. Imu Kebidanan. Balai Pustaka Djakarta. 1958

15