Anda di halaman 1dari 63

SECARIK CATATAN BPH SUMODININGRAT KRISOLOGI Translasi secarik kertas ketikan kuno BPH.

Sumodiningrat Bahwa apa yang disebut kerisologi itu adalah pengetahuan tentang keris. Seperti sosiologi yaitu pengetahuan bermasyarakat, masyarakat (sosio). Antropologi pengetahuan tentang manusia (antropogos), geologie pengetahuan tentang bumi, patologie pengetahuan tentang penyakit dan lain-lainnya. Keris itu bahasa Jawa ngoko, bahasa halusnya Dhuwung, bahasa yang lebih tinggi lagi (luhur) Wangkingan. Kata Wangkingan itu asalnya dari kata Wangking yang artinya pinggang. Kata wangking itu bahasa umumnya, berhubungan dengan keris adalah kata NYENGKELIT (ngoko). Jadi Wangkingan berarti barang yang disengkelit. Keris itu untuk sebagian orang menjadi salah satu pelengkap busana untuk pakaian sekaligus sebagai senjata untuk jaga diri, menangkis bahaya. Kalau orang berkata keris, dhuwung, wangkingan tentu yang dimaksudkan adalah Dhuwung yang sudah mrabot, artinya sudah lengkap dengan jejeran (ukiran), rangka (sarung), juga kandelan (pendok). Lalu yang berbentuk besi panjang gepeng seperti pisau itu dinamai wilah (bilah), istilahnya wilahing dhuwung. Umumnya bilah dhuwung tadi yang umum dibuat dari besi, tapi juga ada yang dibuat dari perunggu. Kalau dhuwung perunggu tadi bukan barang tiruan, tetapi betul-betul asli (tulen), itu pasti pusaka. Karena dhuwung perunggu tadi lebih tua daripada dhuwung besi. Sebab ketika jaman perunggu, orang belum mengenal besi. Setelah mengenal besi yang lebih kuat itu, maka kemudian dhuwung tadi di masyarakat Jawa dipundi-pundi, disimpan rapi, di hormati, makanya juga disebut Wesi Aji bahasa tingginya Tosan Aji. Kenyataan dhuwung tadi dihormati, dirawat, disimpan rapi, dianggap barang yang suci, karena menurut kepercayaan orang jawa, dhuwung tadi punya daya gaib (magic power, magische kracht). Juga bab daya gaib (magic power) itu, para sarjana, para mitra budaya, yang senang memperhatikan dan mempelajari tosan aji, kebanyakan mengalami sendiri menjadi pengalaman pribadinya, bahwa tosan aji itu benar-benar nyata punya daya gaib. Adanya tosan aji tadi punya daya gaib ini oleh para sarjana jaman modern yang sudah mengerti ilmu atom sama sekali bukan barang yang tidak masuk akal, bukan yang aneh, sebab kawruh modern sudah mengakui jika dunia yang luas ini sejatinya bukan benda yang berhenti, tapi benda bergerak yang hidup. Atom dan electron yang memenuhi dunia tadi, selalu bergerak meskipun batu padas yang segebyaran jika diamati dikira diam dan mati, sejatinya bergerak, sebab atom yang terdapat pada batu padas tadi bergerak terus (in trilling = bergetar) jadi mempunyai vibrasi. Kesimpulannya semua barang yang ada di alam ini mempunyai vibrasi, begitu juga swasana (eter). Sebab dari daya atom dan vibrasi tadi, maka sekarang ada radio, televisi, computer dan lain-lain sebagainya. Daya gaib yang keluar dari tosan aji, dapat mengandung radiasi, tapi sejatinya dayanya gaib itu berbeda dengan radiasi. Radiasi ini berasal dari daya vibrasi (thrilling, getaran), kalau daya gaib (magic power) umumnya baru dapat dibuktikan kalau ada keperluan terdesak marabahaya atau menemui hal bahaya. Jadi ini ada 3 bab, vibrasi, radiasi dan daya gaib, vibrasi ini getaran dhuwung (trilling), dan radiasi tadi biasa disebut Yoni.

Meskipun dhuwung tadi mempunyai vibrasi, belum tentu mempunyai yoni (radiasi). Orang yang tajam rasanya, sering dapat melihat besar kecilnya yoni pada dhuwung atau pada waos (tumbak). Jadi kalau begitu semua dhuwung, waos (tumbak), kadga (keris), cundrik, patrem itu semua mempunyai vibrasi, tetapi yoninya (radiasi) belum tentu sama. Apalagi tidak semua tosan aji mempunyai daya gaib. Meskipun demikian vibrasi yang keluar dari tosan aji tadi asalnya dari vibrasinya besi, vibrasinya baja, vibrasinya pamor, vibrasinya api (dahana), vibrasinya air (tirta), vibrasinya angin (maruta) sudah sedemikian rupa mempunyai daya sendiri-sendiri. Besi dan pamor yang sudah digarap sang Empu dapat menjadi dhuwung yang bagus. Menjadi dhuwung yang bagus tadi terjadinya dari konsentrasinya sang Empu. Konsentrasi tadi asalnya dari rasa dan cipta. Karena bersatunya rasa, cipta dan karya, dapat menjadikan terbentuknya tosan aji. Kalau kebetulan cocok memilih besi, tepat memilih pamor, tepat waktunya suasana menggarap, juga tepat rasa nuraninya Empu, pengerjaan tadi akhirnya berwujud tosan aji, maka yang tercipta adalah karya yang hebat prabawa dan dayanya kuat, sebab sang Empu waktu itu sebenarnya sedang mendapat wahyu dari Pangeran yang Maha Agung. Hal begini ini sebetulnya juga tidak aneh, karena sebelum Empu mulai mengerjakan, ia bertapa dulu, bersuci lahir batin, pasrah kepada Hyang Murbeng Dumadi. Vibrasinya sang Empu sudah dapat manunggal dengan vibrasinya alam raya (resonantie).

BPH. Sumodiningrat adalah seoran cucu PB X, yang merupakan tokoh perkerisan ahli Isoteris Keris. Beliau melanjutkan Kerisologi yang dicetuskan oleh KGP. Hadiwidjojo Maharsitama.

QUO VADIS ESTETIKA KERIS

Keris Tangguh Purwacarita, besinya nyerat, grenengnya bernyanyi serta rancang bangun luknya goyang pinggul. Koleksi : Hengki Joyopurnomo.

Keris telah menjadi barang yang tua dalam peradaban modern ini. Keris tidak lagi dijamah oleh generasi muda pada peradaban modern ini. Kenapa? Barangkali treatment atau perlakuan kita terhadap keris yang terlalu kuno untuk beradaptasi pada dunia modern. Atau barangkali kita telah tidak mampu bersaing dengan MTV dan ngakngekngok dan sebangsanya? Sebuah kemunduran yang bukan ketertinggalan .... Kita selalu mendengar kekaguman para penggemar keris memuji keris-keris tertentu misalnya pada jenis besinya, padahal yang dimaksud besi yang bagus juga tidak jelas kriterianya. Secara teoritis jenis besi yang bagus sering dikaitkan dengan estetika penglihatan bukan keberadaan teknologi kekerasan atau ketajamannya. Lalu ada diantara kita berdebat tentang jenis tampilan pamor dan motif pamor, diantara mubyar (pamor byor/deling) dan pamor kelem memiliki penggemarnya masing-masing, hingga menjadi perlakuan para pewarang (ahli jamas) untuk membuat byor atau kelem. Konon dari kraton justru kemubyaran harus disimpan untuk tidak sombong atau bersahaja, maka pamor keris dikelem alias dibuat kusam. Lalu dibeberapa pihak menghargai garap pamor yang sulit (pamor sempurna atau pamor jadi), dipihak lain lebih baik pamor kandas asal karya itu punya garap yang bagus. Lalu kita dihadapkan pada contoh-contoh yang sebetulnya kita sendiri tak tahu apakah contoh itu barang sempurna atau barang gagal. Apalagi jika telah memasuki sebuah rancang bangun yang disebut garap .....oh! Kala kita berbincang tentang keris Kamardikan, kita sering berdosa karena selalu menghilangkan arti dan pemaknaan estetika yang telah tertanam didalamnya. Keris Kamardikan dianggap tidak berguwaya lalu dicarilah cacat dan kekurangannya, dengan mencari persesuaian patron kraton Jogya ataupun Surakarta. Teman saya, pengrajin dari Madura bahkan mengeluh, katanya sudah njiplak pleg sebilah keris yang dianggap master yang sengaja dibawa ke Madura oleh pemesannya, contoh kerisnya didepan mata alias ngerpek, dengan ukuran sketmat yang pasti. Akan tetapi hasilnya tetap dikritik disana-sini oleh para pinisepuh .... lantas iapun termenung, apa betul para pinisepuh itu memang orang ahli yang bisa menilai karya itu ansich, atau karena si pengrajin bukan dari Solo atau Jogya?

Ketika kita kembali bercermin, ternyata perdebatan dan adu keahlian menilai keris telah membawa langkah kita ke dalam rongga-rongga kusut, untuk memaksakan persamaan pendapat yang ternyata kusut pula. Konon ada anak muda yang semakin bingung tatkala telah yakin keris yang dimiliki sudah tepat, ternyata luput juga. Bahkan dirundung ketidak mengertian dengan adanya madzab-madzab pada kriteria pernilaian yang kemudian muncul seperti rumusan-rumusan .... ada Tanjeg ...ada Tarikan .... ada wangun dan ada-ada yang lainnya yang semakin mengkusutkan pemahaman sistematik yomorjosingun! Sementara yomorjosingun pun belum selesai karena masih dituntut untuk membuktikan kesahihannya .....sing kepiye tho ....yomorjosingun sing apik. Tampaknya betul, bahwa kita selalu berbudaya keterkucilan, merasa keterhinaan (humiliated cultural) jika tidak dapat mengikuti sesuatu yang seolah telah dipakemkan bahkan merasa takut jika tak masuk dalam suatu madzab penilaian...... "iki lho keris sing apik ...!", kata salah seorang pinisepuh, sementara oleh sebab ucapan itu beribu-ribu keris terdampar dan terhampar seolah tanpa nilai! Keris memang barang egoistik! Kita tidak pernah berani berbudaya penuh harapan (cultural hope), kepeloporan, visioner, positif progresif untuk mengejar konsep modernitas dalam pelestarian perkerisan. Kita selalu pula berbudaya untuk diselami, harus selalu diikuti, dituruti dan tidak peduli ..... padahal kita bukan untuk ditunggu melainkan harus menghadang berdiri di depan para generasi muda! Jika mau membuka mata, ada sebuah pertanyaan : Apakah kita telah pernah membahas sebuah estetika yang menantang dan berlawanan dengan pemahaman yang ada sekarang? Padahal estetika itu telah digoreskan pada sebilah keris yang ada sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu .... di jaman Purwacarita. Monggo dilaras fotonipun (mari dihayati foto diatas). Mungkin justru pada keris inilah, nilai-nilai estetika ......itu? (TJ). Keris dan Budaya Spiritual Kejawen Tantangan pelestarian 'budaya spiritual' pada keris Kamardikan Oleh : KRT. Toni Junus Kartiko Adinagoro(1)

Foto 1 : Besalen Empu KRT. Subandi Suponingrat - Menggarap pamor dari bahan logam meteor. Abstrak Budaya keris tak lepas dari dua aspek pemahaman yaitu bendawi dan non-bendawi; Eksoteri dan esoteri. Awalnya, fungsi keris adalah sebagai senjata tikam, dalam perjalanannya bergeser sebagai status sosial bermuatan spiritual, sebagai ageman atau pusaka turun-temurun. Prosesi pembuatan keris, merupakan narasi ritual yang dilatari perlakuan esoteristik Kejawen. Karena itu keris adalah ekspresi kultural sang empu dalam ibadahnya.

Gerbang Kejawen dari kata Jawa (Java): Javanism, adalah kegiatan orang Jawa dalam pencarian pengetahuan tentang hidup yang benar, menjadi ketauladanan kerohanian masyarakatnya turuntemurun, serta dipraktekkan dalam tatacara kehidupan lahiriahnya. Salah satu prinsipnya adalah mencari urip sejati (urip = hidup; sejati = true) mencapai hubungan yang harmonis antara hamba dan Tuhan, Jumbuhing Kawulo Gusti (jumbuh = a good relation, menyatunya, kawulo = hamba, gusti = Tuhan, Allah). Kejawen merupakan ajaran spiritual asli leluhur tanah Jawa, yang dahulunya belum terkena pengaruh budaya luar. Artinya sebelum budaya Hindu dan Budha masuk ke tanah Jawa, para leluhur tanah Jawa sudah mempunyai budaya spiritual sendiri. Seperti terbukti adanya beberapa cara pandang spiritual Kejawen yang tidak ada pada budaya Hindu maupun Budha. Namun demikian, sekarang kita mewarisi Kejawen yang telah melalui proses sinkretisme budaya lain bahkan sinkretik dengan agama-agama.(2) Kejawen memiliki arti yang luas meliputi sopan santun, keyakinan, filosofi, kesenian, tradisi, kekaryaan, kesatryaan, kepemimpinan, dlsb. Dalam catatan kuno dikenal adanya istilah Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (Sastra = tulisan; Jendra = Harjendra, Dewa Indra, Tuhan sebagai manifestasi alam semesta dan kehidupan; Hayu = tenteram dan baik; Ing Rat = di dunia dan di dalam diri pribadi; Pangruwat = merubah; Diyu = Raksasa, angkara, watak buruk, kebiadaban). Tulisan atau buku Ketuhanan untuk menuju ketentraman dengan merubah watak biadab menuju peradaban (to civiliziation). Sastra Jendra dalam sisi pandang universal bisa dipahami sebagai Sastra Ketuhanan (3) yang tumbuh dari keimanan manusia melalui penghayatan maguru alam dan kehidupan (jagad gede), merupakan software yang terprogram dalam diri manusia (jagad cilik) serta menyelia di segala aspek kehidupan manusia. Sastra Jendra dalam buku Betaljemur Adam Makna disebut : Mustikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, karaharjan, katentreman lan sak panunggilipun, memayu hayuning bawana. Artinya mustikanya ilmu Ketuhanan sebagai pedoman hidup menuju keselamatan, kesejahteraan dan ketenteraman dalam kehidupan diri sendiri maupun untuk kebaikan dunia. Pemahaman Sastra Jendra Hayuningrat melahirkan konsepsi Memayu Hayuning Bawono menjaga keseimbangan dunia dalam arti yang luas; melestarikan alam semesta untuk kesejahteraan kehidupannya; dimulai dari antara manusia dengan manusia; dan antara manusia dengan alam semesta didasari oleh hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. Kemudian dari kepercayaan Sastra Jendra itu, muncul suatu perenungan tentang hal keutamaan manusia yang dimaknai oleh budi-pekerti.

Prosesi Pembuatan Keris Pusaka Pada catatan anonim yang didapat dari salah satu buku tanpa judul di perpustakaan Radhya Pustaka - Surakarta yang bertulis Jawa carik (huruf Jawa), disulih secara bebas dalam bahasa latin(4), antara lain disebutkan secara runtut : 1. Kyahi empu nyamektakaken ubarampening wilah tuwin tosan waja, sinambi nindakaken samadi supados pikantuk wisik ngingingi wujud punapa ingkang gegayutan kaliyan dhuwung ingkang badhe kadamel, kalarasaken kaliyan pakaryaning tiyang ingkang nyuwun kadamelaken dhuwung punika, kadosta: supados kathah rejekinipun utawi kangge kapangkatan. Inggih ing wekdal punika mujudaken wekdal panyrantos ingkang panjang, amargi kyahi empu boten miwiti pakaryanipun saderengipun angsal tumuruning pitedah. (1. Kyahi empu menyiapkan dan memantrai bahan besi-besi baja, sambil melakukan samadi untuk mendapatkan inspirasi tentang hal bentuk keris yang akan dibuat, selaras dengan profesi pemesannya; seperti agar banyak rejekinya atau berfaedah untuk suatu kepangkatan. Pada tahap inilah merupakan penantian panjang karena kyahi empu tidak akan memulai sebelum mendapatkan petunjuk Tuhan YME). Pembahasan ad. 1 : Kalimat agar banyak rejeki atau berfaedah untuk suatu kepangkatan; memberi pengertian bahwa keris memang diciptakan agar mempunyai daya (tuah) untuk sesuatu tujuan dan kemanfaatan bagi seseorang melalui petunjuk Tuhan YME. 2. Manawi tataran ngajeng kala wau sampun dipun lampahi, mila kyahi empu miwiti benjing

punapa anggenipun badhe miwiti pandameling dhuwung punika, kyahi empu ugi ngetang dhawahing dinten ingkang anggenipun kedah kendel nyambut damel, amargi mujudaken dinten awon. Kyahi empu kedah lebda dhateng ngelmi Candrasengkala saha ngelmi petangan dinten. (2. Setelah tahap pertama selesai, kemudian kyahi empu memulai dengan perhitungan kapan hari baik dimulainya pembuatan keris itu, dan kapan harus berhenti istirahat dahulu untuk melewati hari jelek. Kyahi empu dalam hal ini memang menguasai ilmu Candrasengkala dan perhitungan hari). Pembahasan ad. 2 : Dalam perilaku sehari-hari, bangsa kita (Nusantara) memiliki kepercayaan untuk terhindar dari malapetaka, yaitu kepercayaan pada hitungan hari baik. 3. Sasampunipun katamtokaken dinten wiwitanipun, mila kyahi empu nyamektakaken sajen kangge nindakaken tatacara ingkang ancasipun nyuwun idin tuwin berkah miwah nyenyapa dhateng kekiyatan-kekiyatan ngalam ingkang mujudaken titahing Hyang Tunggal. Sajen punika wonten kalih warni: Sajen baku inggih punika sajen ingkang dipun tindakaken turun-tumurun antawisipun: tumpeng, sekar setaman, sekar telon, pisang raja, jenang abrit, jenang baro-baro, jenang rajah, jenang bolong, bekaka ayam, sambel goreng ati, kinangan sata, sedhah, apu, teh pait saha kopi pait, sentir, wewangen mliginipun kutukan menyan saha dupa. Wonten sajen wewahan sinebat sajen barikan inggih punika manawi kyahi empu angsal wisik mligi kadosta mewahi tigan ceplok, sok ugi kawewahan rah ayam pethak mulus lan sapanunggilanipun. Kyahi empu pancen lebda dhateng ngelmi sarana, utawi ngelmi sajen. Amargi sajen ingkang kagelar punika anggadhahi pralambang ingkang boten sok tiyanga mangretos. (3. Sesudah menentukan hari baik untuk memulai, maka kyahi empu melengkapi sesaji untuk upacara memohon ijin kepada kekuatan-kekuatan alam yang juga merupakan ciptaan sang Hyang Tunggal. Sesajinya ada 2 (dua) macam yaitu sesaji baku yang dilakukan turun temurun sesuai pakem, seperti tumpeng, bunga setaman, bunga tiga rupa, pisang raja, jenang merah, jenang baro-baro, jenang rajah, jenang bolong, bekakak ayam, sambel goreng ati, kinangan tembakau, daun sirih, kapur sirih, teh pahit, kopi pahit dan lampu minyak, diseling dengan membakar kemenyan. Sesaji yang kedua disebut sesaji barikan, merupakan sesaji tambahan karena kyahi empu mendapat petunjuk atau inspirasi misalnya harus menambahkan telur mata sapi, ayam putih mulus atau yang lainnya, kemudian disantap bersama-sama. Kyahi empu memang menguasai ilmu Sarono atau ilmu sesaji, satu persatu dari sesaji itu memiliki perlambangan yang tidak semua orang tahu). Pembahasan ad. 3 : Sesuai kepercayaan maguru alam sebagai interaksi manusia dengan alam, muncul kesadaran keikhlasan untuk melakukan persembahan kepada Tuhan perwujudan alam yang menghidupinya (alam semestawi). Persembahan manusia kepada alam dengan pernyataan symbol atau perlambangannya sering menjadi pengharapan dan atau kebalikannya seolah alam meminta untuk dilakukannya. Kata meminta dalam konteks sebagai inspirasi manusia mendapat gambaran mengetahui situasi ketimpangan alam yang membutuhkan keharmonisannya. Persembahan itu disebut sesaji (menyajikan ..), maka dalam prosesi penciptaan keris dilakukan sesaji pokok (sesuai aturan turun-temurun) serta ada sesaji barikan. Sesaji Barikan adalah sebagai pelengkap tambahan yang dapat mengharmoniskan tujuan penciptaan keris tersebut. Merupakan inspirasi yang terbersit oleh sang empu, dimana tidaklah setiap keris harus memakai sesaji barikan. Sebagai contoh : karena situasi wabah penyakit pada masa itu, sang Raja menitahkan membuat keris penangkal, maka dalam hal ini dipastikan ada sesaji barikannya. Pada waktu Suran (1 Suro tahun 1997?) di Kraton Surakarta Hadiningrat pernah mengumumkan sajen barikan madu mongso (ketan hitam yang diberi gula), agar setiap keluarga-keluarga juga mengadakan sesaji tersebut atau dimakan bersama-sama. Sebagai upaya untuk menolak suatu bencana yang diperkirakan (diramalkan) terjadi, sesaji barikan diharapkan agar alam dapat harmonis kembali. 4. Pangucaping japamantra, nalika jaman rumiyin padatanipun taksih angginakaken basa Jawi Kina, nanging ing pungkasaning jaman Majapait ewah sacara Islam. Tuladhanipun: jaman rumiyin kawiwitan kanthi ngucap Hong wilaheng, utawi niyat ingsun, nalika jaman para wali kawiwitan kanthi ngucap Bismillaah hirrahma nirrahiim.... lan salajengipun. (4. Pengucapan mantra, pada jaman dahulunya mantra masih berbahasa Jawa kuno atau bahasa Kawi, tetapi setelah Majapahit runtuh mulai berubah secara doa Islam. Antara lain jaman dahulu dimulai dengan mengucap Hong Wilaheng, atau niat ingsun, maka jaman para wali dimulai dengan Bismillah hirrahmanirahim .... dan seterusnya).

Pembahasan ad. 4 : Mantra dapat didefinisikan sebagai suara, bunyi, kata, atau kelompok kata yang dianggap mampu menciptakan transformasi. Mantra bervariasi sesuai dengan filosofi yang berhubungan dengan tujuan mantra. Dilakukan antara lain, termasuk dalam upacara-upacara permohonan hujan, keberkahan, menghindari bahaya, atau menghapuskan musuh. Setiap kelompok manusia atau suku bangsa memiliki mantra tersendiri, termasuk orang Jawa sejak jaman dahulu kala. Istilah mantra pertama ditulis tercatat pada adanya tradisi berasal dari Vedic (tradisi India, di masyarakat Jawa kuno sudah ada tetapi tidak ditemukan catatannya), kemudian menjadi bagian penting dalam tradisi dan praktek adat. Begitu pula, kemudian mendasari spiritual Hinduisme, Buddhisme, Sikhisme dan Jainisme. Penggunaan mantra kini meluas diberbagai gerakan spiritual yang sebelumnya ada pada tradisi-tradisi di Timur. Suatu mantra diucapkan dan digetarkan melalui sanubari manusia secara berulang-ulang, bahkan dari abad ke abad telah dilakukan, sehingga seolah terjadi sebuah konvensi (perjanjian) dengan alam semesta dan menghasilkan kekuatannya. Mantra lahir dari olah rasa yang tinggi dalam proses spiritualisasi manusia menyembah kepada Tuhan sebagai manifestasi alam dan kehidupan. Sehingga mantra menjadi wujud kekuatan itu sendiri. 5. Sasampunipun bakalan saton dados dipun tindakaken tuguran kaliyan bakalanipun dipun selehaken wonten ing pelataran supados manunggal kaliyan rembulan tuwin lintang ingkang wonten ing akasa. Ndungkap enjing asring wonten kadadosan gaib ingkang salajengipun dening kyahi empu dipun dadosaken gelaripun utawi namanipun sasampunipun kaaturaken dhumateng raja utawi ingkang andhawuhi damel. Tatacara punika kanamakaken 'sirepan', kyahi empu sareng kaliyan panjak utawi tangga-tepalih malah sok ugi kanca sesamining empu nindakaken tuguran ngantos subuh, sinambi linadosan nyamikan miwah unjukan. Nyamikan ingkang mligi padatanipun wajik. (5. Setelah kodokan jadi, lalu dilakukan tuguran/begadang, sambil kodokan itu diletakkan di alam terbuka agar ada penyatuan kekuatan dengan rembulan atau bintang di angkasa. Menjelang pagi sering terjadi peristiwa gaib yang nantinya disimpulkan oleh kyahi empu, untuk nama gelar keris yang dihaturkan kepada Raja atau pemesannya. Tata cara tahap ini disebut sirepan, kyahi empu bersama panjak dan tetangga bahkan teman sesama empu ikut begadang hingga subuh, sambil ditemani makanan kecil dan minuman. Makanan khas yang disajikan adalah wajik atau ketan yang dimasak dengan santan). Pembahasan ad. 5 : Perilaku prihatin atau nglakoni merupakan tradisi dalam Kejawen. Maka dalam proses penciptaan keris juga ada tahap-tahap dilakukan ritual sederhana. Bakalan keris (kodokan) dipersembahkan dan dipersatukan kembali dengan alam, agar saling doyo-dinoyo (saling mendayai), didasari sebuah pemaknaan bahwa aku bukanlah siapa-siapa; artinya sang empu melakukan observasi diluar obyeknya, seolah dia hanya tangan-tangan yang dipakai untuk menciptakannya. Tahap sirepan merupakan ekspresi kultural memaknai kerukunan, kegotong-royongan, toleransi, kerjasama, saling mengapresiasi, kumpul-kumpul tetangga...... dan hal ini adalah bagian kecil dari peradaban bangsa Nusantara yang mestinya harus tetap dipelihara. 6. Sasampunipun punika keris ingkang sampun dipun garap mawujud, lajeng ngancik tataran nyepuh, kyahi empu nyamektakaken bumbung ingkang dipun isi lisah klapa dipun jangkepi mawi lampah srengat tuwin sajen, padatanipun namung sekar telon, tumpeng alit, recehan kangge lelembut tumbas jajan peken saha wangen-wangen kukusing menyan. Dhuwung dipun mantrani kanthi kalarasaken kaliyan ingkang andhawuhing damel. Dhuwung dipun besmi ngantos marong lajeng dipun celupaken wonten ing salebeting bumbung ingkang dipun iseni lisah klapa. Wonten ingkang pucukipun dipun obong malih lajeng katindakaken sepuh dilat punika latu ingkang marong mawi dipun dilat dening kyahi empu ingkang sekti, padatanipun wewahan donganipun inggih punika waosan sastro pinodati, sastro gigir lan rajah kalacakra. (6. Setelah keris yang digarap sudah berwujud/selesai, masuklah tahap nyepuh/mengeraskan besi. Kyahi empu menyiapkan tabung dari bambu yang diisi minyak kelapa, dengan dilakukan ritual dan sesaji, biasanya hanya tumpeng kecil, bunga tiga rupa dan uang recehan untuk jajan pasar para lelembut, sambil dibakari kemenyan. Keris dimantrai berulang-ulang sesuai dengan tuah yang diinginkan. Keris kemudian dibakar membara dicelupkan ke dalam bumbung yang berisi minyak itu. Ada diantaranya yang pucuknya dibakar ulang kemudian dilakukan sepuh dilat(5) yaitu ujung yang membara dijilat oleh kyahi empu sakti, sebelumnya dibacakan sastra pinodati, sastra gigir dan rajah kalacakra). Pembahasan ad. 6 : Secara umum keris diagungkan oleh kawula perkerisan; antara lain pada keunikan teknologinya. Namun kurangnya informasi dalam hal pengerasan baja atau proses

sepuh keris pada waktu itu tidak diketahui tujuan yang sebenar-benarnya. Dalam tinjauan spiritual, prosesi penciptaan keris pada tahap sepuh ternyata aksentuasinya justru pada diadakannya ritual dan sesaji sebagai penyembahan kepada Hyang Gusti serta untuk kulo nuwun kepada baureksa disekitarnya. Bahkan Uang receh yang disebutkan adalah untuk jajan pasar para lelembut (makhluk halus); merupakan suatu kompensasi jika ada kelalaian atau kekurangan dalam sesajinya. Uang recehan itu bisa dibelanjakannya sendiri (makhluk halus) ke pasar. Kemudian pada kalimat : Ada diantaranya yang pucuknya dibakar ulang kemudian dilakukan sepuh dilat yaitu ujung yang dibakar membara dijilat oleh kyahi empu sakti .....dibacakan sastra pinodati, sastra gigir dan rajah kalacakra. Sepuh dilat adalah ritual berupa sebuah prosesi dengan menjilat sebilah besi membara biasanya pisau membara yang kemudian pisau itu dihentakkan (dicelup) pada air bunga, sebagai perlambangan bersatunya dua kekuatan. Ketika api dan air bersatu, disertai mantra sang empu terucap, maka tertanamlah kekuatan pada sebilah keris yang disepuh dilat. Sepuh dilat dapat diartikan sebagai ngenjingaken doyo (memantek Yoni). Dalam ajaran Sastro Jendro Hayuningrat (khusus pada paguyuban Sastro Jendro pimpinan KPH. Darudriyo Sumodiningrat yang pusatnya di Jakarta), sepuh dilat adalah bagian dari ritual manembah; yang dapat dijelaskan sebagai pembersihan diri. Tentunya bagi para pengikutnya yang telah melalui inisiasi (wejangan) terlebih dahulu. Pembersihan diri yang disebut asesuci ada empat macam yaitu asesuci dengan media bumi, angin, tirta dan api. Asesuci bumi dan angin tidak dilakukan (secara komunal) karena ritual ini sangat pribadi dan merupakan tahapan yang tinggi. Maka asesuci biasanya dilakukan dengan media air/tirta dan api. Dalam ritual asesuci api dilakukan 7 (tujuh) kali jilatan; sesuai diagram chandra manusia yang menyatakan bahwa manusia memiliki 7 konstruksi jasmani dimana di dalam kejawen Sastra Jendra disebut sapta arga (bulu, kulit, daging, urat, darah, tulang, sungsum). Maka 7 (tujuh) konstruksi itu dibersihkan (disucikan) satu per satu. Sedangkan asesuci air adalah mandi keramas dengan bunga-bungaan, hal ini sangat lazim dilakukan. Sepuh dilat sering pula dianggap sebagai demonstrasi kanuragan, karena masyarakat awam terhadap hal ini (bahkan begitu pula panitia yang mengadakan), tidak mengetahui maksud dari prosesi ritual 'sepuh dilat' itu. Sepuh dilat biasanya dilakukan pada Upacara Sinidhikara Pusaka; dan selain itu merupakan ritual manembah rutin malam Jumat Kliwon-an. Dalam komunitas penghayat Sastro Jendro Hayuningrat; sepuh dilat disebut dengan istilah jamasan. 7. Dhuwung dipun kum ing salebeting toya klapa wayu supados rereged obongan gogrog, padatanipun dipun rendhem ngantos setunggil dalu supados guwayanipun saged boten burem, saengga pamor dhuwung anggadhahi prabawa ingkang endah. Sasampunipun makaten, dhuwung dipun pulihaken mawi jeram pecel ngantos resik, saha lajeng dipun kum warangan. Dhuwung ingkang sampun dipun kum warangan dipun oser-oseri lisah tumunten dipun sanggaraken kaseleh ing papan padupan dangunipun ngantos sawatawis dalu, kedah nglangkungi malem Jumuwah Kliwon utawi Selasa Kliwon. Bab punika katindakaken supados mantra manjing sayektos saha dhuwung ampuh saestu. Sasampunipun rampung saestu, dhuwung kadamelaken warangka jumbuh kaliyan wujuding dhuwung tuwin pun saged netepaken, awit mranggi ingkang sae adamel warangka saged kinunci. (7. Kemudian keris direndam ke dalam air kelapa yang sudah basi, agar kerak-kerak besi pembakaran terlepas, biasanya direndam semalam sehingga keris cemerlang guwayanya, serta muncul pamornya yang indah. Setelah itu keris dibersihkan dengan air jeruk nipis hingga putih, lalu diwarangi. Keris yang selesai diwarangi diolesi minyak kemudian disanggarkan dengan cara ditaruh ditempat pedupaan beberapa hari sampai melewati Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Hal ini dilakukan agar mantranya betul-betul manjing dan keris betul-betul ampuh. Setelah selesai semua, keris dibuat warangkanya yang cocok oleh mranggi/tukang warangka yang mahir dan biasanya warangka bisa terkunci). Pembahasan ad. 7 : Kalimat yang menarik pada point 7 ini adalah dalam ada kata disanggarkan. Kata sanggar artinya ruang atau rumah pemujaan. Disanggarkan artinya keris diletakkan dalam ruang pemujaan itu. Maksudnya adalah agar semua yang telah dilakukan secara bendawi dan non-bendawi dapat mengendap. Sesuai kepercayaan Kejawen ditentukan meliwati hari tertentu, seperti Jumat Kliwon yang dianggap sebagai hari besar atau Selasa Kliwon yang dipercaya sebagai penyatuan kasih Angkasa dan Bumi yang juga disebut Anggoro Kasih (Anggoro = Selasa; Kasih = Kliwon).

Foto 2 : Keris karya Brojoguno I - Pamor Tumpuk, Koleksi KRA. Sani Gondoadiningrat. Pemahaman Eksoterik Esoteris keris adalah hal-hal non-bendawi pada keris meliputi segala aspeknya; seperti telah diuraikan prosesi pembuatan keris dengan ritual yang menyimpulkan adanya perlakuan esoteristik spiritual dari awal penciptaannya. Keris, secara wujud fisik atau eksoteris memuat pula senirupa simbolik, sesuai karakter dan tuah yang diinginkan, tertuang dalam bentuk keris (disebut dhapur) dan motif pamornya. Dhapur atau bentuk keris secara senirupa merupakan simbolisasi dari tujuan diciptakannya. Antara lain adanya bentuk keris lurus (dhapur bener) menyimpulkan ketakwaan kepada Hyang Maha Kuasa. Dhapur Jangkung (luk 3) melambangkan terjangkaunya cita-cita. Dhapur Pandawa (luk 5) agar pemiliknya dapat berdiplomasi dan memiliki watak agung seperti Pandawa lima. Begitu seterusnya hingga dapur yang lekuknya banyak seperti dhapur Ngamper Bantolo (luk 15) yang melambangkan si pemilik bisa menguasai tanah dan wilayah yang luas. Selain dhapur, ternyata keris juga diciptakan dengan grand design sempurna dan agung; divisualkan pada motif pamor berkaitan dengan tujuan esoteriknya (tuah). Simbol-simbol senirupa pamor itu tergolong dalam 5 kelompok; yang diekspresikan dalam media sebidang bilah keris, sesuai chandra manusia' dengan pemahaman unsur (anasir) tubuh manusia dan semesta (pandangan Kejawen); antara lain : 1. Jika pemantraan keris ditujukan untuk kerejekian, pergaulan, dikasihi, kejayaan, kemakmuran, keduniawian atau kehidupan lahiriah lainnya maka motif pamornya ditata berbentuk meliuk-liuk dan berpusar-pusar dilambangkan sesuai karakter tirta (unsur air). Contohnya : beras wutah, udanmas, segoro muncar dlsb. 2. Konfigurasi pamor bergaris-garis seperti lidi berjajar dianggap sebagai simbolisasi penyapu bencana, penolak bala, penolak segala kelicikan, santet dan perlakuan jahat baik secara fisik maupun maya. Serta merupakan simbol kebijaksanaan. Konfigurasi garis-garis tergolong dalam sebutan pamor singkir dan pamor hadeg. Karakter yang tegar ini dilambangkan kekuatan 'bayu' (unsur angin) yang sanggup menyapu segalanya, menerbangkan debu, dedaunan, bahkan atap dengan tidak tampak namun tetap dapat dirasakan keberadaannya. 3. Pamor rekayasa (dirancang atau pamor rekan) berbentuk motif daun palem, daun genduru, sekar-sekaran, lebih spesifik untuk tuah kejayaan, martabat, kekuasaan, kederajatan pemiliknya. Konfigurasi ini coraknya berjuntai keatas seperti karakter dari kobaran 'agni' (unsur api). Tetap dalam lingkup sebagai representasi alam, contohnya pamor Ron Genduru, Blarak Sinered, Sekar Lampes, Sekar Pala, Sekar Kopi, Mayang Mekar, Pari Sauli, dlsb. 4. Kesentosaan juga disimbolkan dengan adanya keris polos tanpa pamor (disebut : keleng)

mengibaratkan dalam diri manusia memiliki jiwa pengabdian yang tulus. Keris keleng biasanya dibuat oleh sang empu untuk kebutuhan ketentraman, orang-orang spiritual, pembela kejujuran dan sifat-sifat kesentosaan lainnya. Karakter unsur 'bantolo' atau 'bumi' disimbolisasikan dengan keris keleng tanpa pamor itu. 5. Bahwa kemanunggalan aku atau pancer-nya ditengah saudara empat atau sedulur papat yang dalam proses spiritual adalah tahap transcendental, tercapainya kemanunggalan dalam ruang bapa angkasa dan ibu bumi ditengah kiblat timur-selatan-barat-utara dalam aku jagad(6), sanggup melahirkan kekuatan dahsyat dalam perwujudan goresan rajah. Pamor rajah diciptakan oleh empu yang sakti dengan tujuan tertentu. Hingga saat ini, hanya beberapa bentuk pamor rajah pada keris yang bisa dimengerti seperti rajah batu lapak memiliki tuah si pemilik dapat menghilang, lolos dari tembakan, kebal peluru, tidak tampak walaupun di depan mata musuh, dlsb; serta rajah 'pilulut' untuk kasengseman, pelet, kebahagiaan seksual, dlsb, ada pula rajah Alif, kalacakra dlsb, masih banyak bentuk rajah yang lain seperti ekspresi abstrak dari sang empu yang sulit diselami maknanya.

Gambar diagram jenis pamor dianalogikan dengan unsur-unsur semesta dan keperuntukannya. Cakrawala Melalui kajian tentang keberadaan keris pusaka dalam kaitannya dengan budaya spiritual Kejawen; pada pembahasan prosesi pembuatan keris di jaman dahulu; menyimpulkan adanya fakta bahwa keris dari awal penciptaannya dimuati kepercayaan Kejawen; kita tidak perlu tabu membahasakannya. Tidak mendalihkan pula ke hal-hal teknis (modern) dengan membuang fakta-fakta spiritual yang ada pada keris. Atau kita tersedak oleh kegundahan karena terjebak penilaian syirik dalam koridor agama. Pembuatan keris dimasa sekarang, mengalami kemajuan pesat seperti di Solo, Jogya, Muntilan, Malang, Gresik, Madura dan Bali. Dalam hal meningkatnya ketrampilan para seniman keris memberikan angin segar karena keris baru (keris Kamardikan) secara eksoteristik (fisik) semakin bagus dan menyamai kualitas keris tua, tentu sangat perlu diapresiasi sebagai sebuah kebangkitan kebudayaan di bumi Nusantara dalam rangka menebalkan jati diri bangsa melalui budaya keris. Pertanyaan fundamental dan tantangan bagi kita bersama adalah; Bagaimanakah seniman keris kita (empu-empu muda), sanggup berkarya dengan bobot spiritual dan mumpuni seperti empu jaman dahulu?. Sehingga keris Kamardikan dapat memberi kemanfaatannya pula untuk sesama manusia dalam kerangka konsepsi 'memayu hayuning bawana'. Semoga! (TJ)

Catatan kaki : (1). Penulis adalah alumni STSRI ASRI Jogyakarta, pegiat pelestarian Keris sebagai SekJen Panji Nusantara dan Pimpinan Redaksi majalah semi jurnal tosanaji PAMOR. Mantan pengurus DPP. Paguyuban Sastro Jendro berdomisili di Jakarta. (2). Wikiepedia; Kejawen. (3). Tentang Sastra Ketuhanan" dibaca dari tulisan Prof. Dr. Budya Pradipta - SASTRO JENDRO HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU; Jurnal Kertagama edisi I No. 1; hal 1 Februari-April 2009; kutipan : Adalah buku tulisan Jawa berjudul serat Arjuna-sasrabau (1870), karya pujangga Sindu Sastra, yang memuat ungkapan terkenal: Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu. Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah Sastra Ketuhanan Penyelamat Dunia Pelepas Sifat Raksasa. Sastro Jendro Hayuningrat adalah ilmu (ajaran) dan lakunya bangsa Jawa yang menggayuh kesempurnaan hidup. Dengan kata lain Sastro Jendro berisi teori dan praktek hidup sempurna. Istilah Sastro Jendro atau Sastra Ketuhanan mengandung makna yang sangat luas,

berisi Ilmu Ketuhanan tentang ilmu dan laku Ketuhanan yang membahas bagaimana mengolah hidup mulai dari lahir sampai tiba waktunya dipanggil Tuhan. Luas sekali. Pendek kata berisi tentang pengetahuan mikro-kosmos berikut hukum-hukumnya. Menurut penelusuran sistem nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sebenarnya tiap-tiap bangsa di anugerahi Sastra Ketuhanan, yang nama dan strukturnya tergantung pada sistem dan konvensi budaya masing-masing yang khas. Kepada bangsa Jawa, Tuhan menganugerahkan Sastra Ketuhanan di dunia yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada jenis manusia sesuai dengan alam dan lingkungan masing-masing. Sepanjang sejarah hidup manusia, Tuhan menurunkan Sastro Jendro yang oleh manusia dipersepsikan sebagai ajaran Ketuhanan yang beraneka ragam. Kalau Adam dipercaya sebagai manusia pertama, maka seharusnya Adam pun dahulu telah menerima Sastro Jendro. Sayangnya tidak ada petunjuk tentang nama dan struktur Sastra Ketuhanan yang diterima oleh Adam itu. Mungkinkah kitab Adam makna? Di dunia dikenal ada dua wilayah yang melahirkan Sastra Ketuhanan, yaitu : pertama, Sastra Ketuhanan yang berasal dari India. Ini yang paling tua, seperti Kitab Wedha (diperkirakan ditulis 5100 tahun yang lalu oleh Resi Wiyasa) bagi umat Hindu dan kitab Tripitaka (diperkirakan ditulis 2600 tahun yang lalu oleh Budha) bagi umat Budha. Kedua, Sastra Ketuhanan yang dari Timur-Tengah ini lebih muda dari pada yang berasal dari India, seperti: Sastra Ketuhanan yang tertuang di dalam Kitab Zaratustra untuk umat Zind-Avesta, Kitab Taurat untuk Nabi Musa, Kitab Zabur untuk umat Nabi Daud, Kitab Injil untuk umat Nabi Isa, dan Kitab Al-Quran untuk umat Nabi Muhammad. Ini belum kitab-kitab suci lain yang diterima oleh bangsa-bangsa di luar bangsa-bangsa India dan Timur-Tengah. Tanpa keutamaan manusia itu, akan mengakibatkan perilaku manusia bergeser melenceng dari keharmonisan memayu hayuning bawana. Antara lain terjadinya: kerusuhan yang disebabkan oleh konflik antar agama, penindasan hak-azasi manusia, hilangnya moral dan etika, dan terutama hilangnya esensi berketuhanan itu sendiri. Budi-pekerti dalam lingkup keharmonisan memayu hayuning bawana, terbaca pada realitas adanya tradisi-tradisi ritual yang alam semestawi. Berinteraksi pada kehidupan sehari-hari manusia, dan merupakan kompleksitas keimanan yang horizontal - vertikal. Seperti ritual "bersih desa", ruwatan, upacara selametan termasuk prosesi pembuatan keris pusaka dalam upacara sidikaranya (sinidhikara = pemantraan; Bhs. Kw.). (4). Diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Jawa oleh Adie Deswijaya, Sarjana Sastra Jawa yang bermukim di Sukohardjo-Solo. dan hari jelek. Proses pembuatan keris pun begitu agungnya tak lepas dari kepercayaan terhadap perhitungan hari tersebut. (5). Kata sepuh dilat pernah ditulis dalam ritual yang diadakan oleh Sinuhun Paku Buwana X dihadapan tamu raja Siam yaitu Rama ke IV (Chulalonkorn) di Alon-alon Utara; artikel S. Lumintu (kliping Buana Minggu) dan buku stensil Sri Susuhunan Pakoe Boewono X Kenanganku Sepanjang Masa oleh KPH. Djojohadinegoro S.H. (Juli 1990). Dalam buku Keris Jawa; antar Mistik dan Nalar ditulis oleh Haryono Guritno, empu terakhir yang tercatat mampu melakukan sepuh dilat adalah Wirasukadgo di jaman Paku Buwana X. 6. Kondisi terjadinya aku jagad harus dipahami dahulu bahwa manusia memiliki abstraksi empat saudara yang analog dengan pasaran; mata angin; unsur tubuh; aura; dan Caraka, sbb, adalah : 1. Puser : Legi Timur Unsur Angin Aura Putih HO NO CO RO KO 2. Getih/darah : Paing Selatan Unsur Api Aura Merah DO TO SO WO LO 3. Kakang Kawah/ketuban : Pon Barat Unsur Air Aura Kuning PO DHO JO YO NYO 4. Adi Ari-ari : Wage Utara Unsur Bumi Hitam MO GO BO THO NGO Aku jagad adalah bersatunya jagad kecil dan jagad gede, dimana AKU jadi ratu ing jagad yang duduk ditengah-tengahnya kiblat dinaungi bapa angkasa dan ibu bumi. Kondisi kemanunggalan inilah melahirkan kekuatan yang dapat divisualisasikan dalam sebuah goresan rajah. Kontributor Foto 1 : RT. Cahyo Dipuro - Surakarta; Foto 2 : dok. majalah Pamor. Kepustakaan : 1. Anonim. tahun - . Kagungan dalem Serat Saranduning Dhuwung. Koleksi Radhya Pustaka. 2. Haryono Haryoguritno. 2005. Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar. Jakarta. Indonesia Kebanggaanku. 3. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta. Balai Pustaka. 4. KPH. Djojohadinegoro S.H. Juli 1990.Sri Susuhunan Pakoe Boewono X - Kenanganku Sepanjang Masa. Stensil. 5. Mulder, Niels. 1984. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil. Jakarta. Gramedia. 6. Situs Wikiepedia. Kejawen.

7. S. Prawiro Atmojo. 1980. Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta. Gunung Agung. 8. S. Harjanto. 1978. Sastra Jendra. Jakarta. Jambatan. 9. T. Sianipar, Alwisol, Munawir Yusuf. 1989. Dukun, mantra, dan kepercayaan masyarakat. Pustakakarya Grafistama. 10. Tan Khoen Swie. 1929. Serat Sastrahardjendra Anjarijosaken pupuntoning kawruh kasampurnan, sarta tjunduk kalijan pikajenganipun ngelmi marifat. Kediri. Penerbit Tan Khoen Swie. 11. Tan Moh Goan. 1912. Riwajat Modjopahit. Petak Baroe Batavia Stad. Penerbit Eng Hoat.

RICIKAN KERIS adalah perincian dari bagian-bagian sebilah keris dengan istilah-istilah yang telah ada turun-temurun. Ricikan sebilah keris dapat dianalogikan dengan suku cadang atau komponen mobil. Di antara komponen mobil ada yang namanya piston, gardan, bumper, pelek, dashboard, altenator, dlsb. Demikian pula, tiap bagian keris yang berlainan bentuknya berlainan pula namanya. Rincikan keris juga merupakan variasi dari sebilah keris untuk dapat disebut dhapurnya. Misalnya pada keris sederhana dhapur Brojol hanya memiliki rincikan Blumbangan atau pejetan saja. Sedangkan Dhapur Sepaner adalah memiliki rincikan sekar kacang, tikel alis, sraweyan, sogokan dan greneng. Setiap nama dhapur keris ditentukan oleh adanya Rincikan keris dan bilah lurus atau bentuk luknya. Secara garis besar, sebilah keris dapat dibagi atas tiga bagian yakni bagian bilah atau wilahan, bagian ganja dan bagian pesi. Bagian wilahan juga dapat dibagi tiga, yakni bagian pucukan yang paling atas, awak-awak atau tengah dan sor-soran atau bidang bawah. Pada bagian sor-soran inilah ricikan keris paling banyak ditempatkan. Nama-nama ricikan keris adalah: 1. Pesi 2. Metuk 3. Gonjo 4. Greneng 5. Rondo Nunut 6. Buntut Cecak 7. Punukan 8. Dho 9. Ri Pandan (8+9 = Ron Dho) 10. Tingil 11. Sraweyan 12. Bungkul 13. Janur 14. Sogokan (ada yang rangkap ada yang depan saja) 15. Poyuhan 16. Pejetan/Blumbangan 17. Gandik 18. Tikel Alis 19. Jenggot 20. Sekar Kacang atau Kembang Kacang 21. Jalen 22. Lambe Gajah 23. Pundak atau Sumping 24. Pudak Sa'tegal Depan 25. Pudak Sa'tegal Belakang 26. Adha-adha atau Geger Sapi 27. Lis-lisan 28. Gusen 29. Kruwingan atau Gulo Milir 30. Kruwingan Cucuk Manuk 31. Pucukan Mbuntut Tumo 32. Pucukan Anggabah Kopong 33. Sogokan Sampir atau Sinebo 34. Bawang Sebungkul

35. Sekar Kacang Pogok 36. Lambe Gajah Rangkep 37. Gonjo Wuwung 38. Gonjo Kelap Lintah 39. Gonjo Wilut 40. Kanyut 41. Wetengan Gonjo 42. Sirah Cecak 43. Buntut Cecak Sebit Lontar 44. Sirak Cecak Melinjo atau Nyangkem Kodok 45. Buntut Cecak Nguceng Mati 46. Gandik Pethuk atau Laler Mengeng 47. Mendak 48. Ukir atau Deder 49. Kinatah emas

Nama bagian-bagian atau Rincikan Keris ini digunakan untuk keris se Nusantara. Hanya sering ada perbedaan penyebutan dipengaruhi oleh bahasa lokal. Misalnya di Sulawesi menyebut Keris itu Sele atau Tappi, Gonjo adalah Kancing, Pesi disebut Oting. Demikian pula di Madura Pesi disebut Pakseh, Gonjo disebut Ghencah, bilah keris disebut Ghember sementara di Bali ada beberapa perbedaan pula menyebut Keris dengan Kadutan, Pesi disebut Panggeh, Gonjo disebut Ganje, Hulu keris disebut Danganan dslb. Untuk pengetahuan perkerisan, baik sebagai kolektor atau pemerhati, ricikan keris walaupun merupakan pengetahuan dasar menjadi sangat penting karena setidaknya dapat untuk membedakan jenis-jenis Dhapur. Seseorang tidak akan mungkin mengetahui nama dapur bilamana ia tidak hafal terhadap ricikan keris ini.

KAMARDIKAN PROGRESIF Abstrak I-E-O adalah sebuah konsep senirupa yang lekat dengan sebuah proses penciptaan menuju kelengkapan sebagai karya berbobot. I-E-O pada keris bisa diartikan sebagai pemenuhan ekspresi Intelektual, Estetika dan Orisinalitas ide pada sebuah karya keris. Intelektual menyangkut latar belakang kultural, komunikasi, kritikal maupun penalaran. Dikemas dalam estetika perkerisan, sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.

Kanjeng Kyahi Gelombang Cinta karya modern empu Sukamdi Intelektual Seorang intelektual (dari kata sifat yang berarti "yang melibatkan pemikiran dan alasan") adalah orang yang menggunakan kecerdasan dan analisis berpikir (Samuel Coleridge), dalam profesinya. "Intelektual" dapat digunakan untuk arti luas, termasuk dalam tiga klasifikasi kegiatan manusia: 1. Individu yang terlibat secara mendalam dalam abstraksi ide dan teori. 2. Profesi yang hanya melibatkan sosialisasi dalam bentuk produksi ide, yang berbeda dengan pelaksana atau pelayanan dalam sebuah pekerjaan. 3. Setiap keahlian yang melatari kegiatan budaya dan seni, keahlian seseorang yang memungkinkan melahirkan otoritas budaya, yang kemudian mereka publikasikan di depan umum tentang hal-hal berbeda dari biasanya. Istilah "intelektual" sering untuk menyampaikan gagasan umum yang sifatnya edukatif dan kreatif. Pendapat dalam buku The Evolution of an Intelektual (1920) tulisan John Middleton Murry, mengatakan adanya konotasi umum bahwa perilaku 'intelek' selalu diterapkan pada cabang-cabang kesenian seperti dalam kegiatan sastra.

Konfigurasi abstrak dari keris brojoguno empu Brojoguno I, koleksi: KRAT. Sani Gondo Adiningrat Estetika Estetika secara sederhana adalah ilmu yang membahas 'keindahan', bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Lebih lanjut mengenai estetika adalah pendalaman dari sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan falsafah seni. Sedangkan interpretasi terhadap Seni menurut Leo Tolstoy adalah suatu estetika yang dipengaruhi oleh adanya intelektual dan pengalaman (experience). Artinya jika dikaitkan dengan interpretasi seni dalam perkerisan, apa yang disebut estetika keris sudah tentu melibatkan pengalaman (atau wawasan) pada penghayatannya terhadap nilai keris. Seperti pakem (pedoman pokok) Yo Mor Jo Si Ngun misalnya; kita dapat menangkap maksud kata-kata itu yakni Guwoyo Pamor, Wojo, Besi, Wangun yang bagus, namun jika diperdalam lagi aspek Yo atau Guwoyo dari Yo Mor Jo Si Ngun yang bagaimana yang dianggap bagus, tentu ada pendalaman pada obyek tersebut. Begitu pula Mor atau Pamor yang bagaimana yang dianggap baik, Jo atau Wojo yang dianggap baik dan terutama garap atau Wangun pada Ngun sangat berkait dengan harmonisasi, maka untuk menjadi mengerti keris dibutuhkan pengalaman analisis yang melatari wawasannya. Masalah ini memang subyektif tetapi jika pemahamannya tepat, maka nilai-nilai itu ternyata universal, dapat dipertanggung jawabkan secara umum, dan bukan tik gotak gatik gatuk (dicaricari dan dihubung-hubungkan; bhs. Jw). Estetika berasal dari Bahasa Yunani, dibaca aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf

Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan. Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu: 1. Studi mengenai fenomena estetika. 2. Studi mengenai fenomena persepsi. 3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis. Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam bentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi pernilaian terhadap keindahan. Misalnya dalam sejarah seni pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya (menuruti realitas visual yang ada). Pada masa modern, maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang serta kemampuan mengabstraksi benda (dalam senirupa). Pada sekitar abad 19 inilah munculnya aliran seni lukis abstrak. Perkembangan selanjutnya menyadarkan kita bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide dan gagasan yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah, selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar. Serta the ugly adalah suatu karya yang memang tidak dianggap memiliki standar secara umum, justru menampilkan keburukan, seronok namun kenyataannya itu merupakan sebuah ekspresi dari realita yang ada. Orisinalitas Ide Jika aliran abstrak (de Stijle di Belanda) dan pada umumnya senirupa abstrak di barat dimulai abad 19-an, sebenarnya di Nusantara, beratus-ratus tahun bahkan beribu tahun yang lalu telah dilakukan penciptaan karya abstrak. Contohnya dalam kesenian wayang, arsitektur dan juga perkerisan. Kenapa?

Keris Singosari dengan estetika modern koleksi Hengky Joyopurnomo dengan mahar yang sulit dinilai lagi karena kelangkaan dan keutuhannya. Kepercayaan maguru alam (berguru pada alam), merupakan budaya spiritual yang mengisi kegiatan utama yang lekat dengan kehidupan sehari-hari pada masyarakat agraris di Nusantara ini. Maka dalam seni perkerisan tak akan lepas istilah-istilah penyampaian sebagai tranformasi ide dari apa yang dihayatinya terhadap alam dan kehidupan. Istilah seperti menyebutkan bentuk keris disebut dhapur adalah sebuah metafora kata dari bahasa Jawa menyebut wajah, bentuk atau rupa, dan istilah pamor merupakan sebuah pergeseran asal kata dari dimor atau dicampurkan (layer-layer berbahan nikel ditumpuk disatukan dengan besi) menjadi kata "pamor". Kondisi berkesenian seperti di Jawa ini tidak pernah memenuhi golongan romantisme Perancis maupun realisme Yunani. Ia telah tampil sebagai elemen fundamental dalam ekspresinya berupa ricikan (bagian-bagian keris) atau motif pamor yang selalu simbolis yang diabstraksikan dari alam oleh empu-empu kita. Selanjutnya keris tetap bergaul dengan istilah-istilah yang berkaitan dengan simbolisme alam dan kehidupan. Seperti istilah pamor wos wutah (beras berlimpah bertumpahan atau luber), kenanga ginubah, pari sakwuli, udanmas, blarak sinered, ron genduru, dlsb. Pamor-pamor itu ditata dalam sebidang kecil bilah keris dengan konfigurasi visual yang bermaksud mengabstraksi obyek alam yang terlibat dalam kesehariannya. Empu-empu kita telah lama berhasil mengutarakan sebuah basic kultural yang hingga kini menjadi ciri dan merupakan suatu nilai, yaitu berdaulatnya budaya spiritual maguru alam yang dituangkan pada keris dengan abstraksi penghayatan terhadap alam. Kemudian dhapur dan motif pamor keris diputrani (diduplikasi) terus menerus dan tak lekang oleh jaman. Lebih dari 140 bentuk master (dhapur babon/pancer) yang berbobot I-E-O

(intelektual-Estetik-Orisinal) dan pula ratusan motif (konfigurasi) pamor, yang sebenarnya merupakan seni abstrak dalam nilai senirupa. Keris Kamardikan kontemporer Keris (tangguh tua) pada waktu itu sudah mengalami prosesi intelektualism, estetik dan orisinalitas ide, seperti pada penciptaan awal pada dhapur babon/pancer dan jenis-jenis pamornya. Maka, bukanlah hal yang mengada-ada jika keris Kamardikan akan memenuhi prosesi tersebut dengan latar kultural modern sebagai ekspresi para seniman keris, bahkan mungkin berbicara hingga pada tataran kritik sosial politik. Jika ada ruang publik yang tersedia untuk kawula perkerisan, maka ajang yang perlu digelar adalah dengan konsep keris Kamardikan kontemporer yang memenuhi bobot I-E-O. Sebagai implementasi pelestarian menuju nilai universal sebuah karya seni (keris) untuk tidak hanya dikhusyuki oleh komunitas yang kecil terbatas, melainkan dapat dinikmati oleh banyak orang. Maka pada perilaku penghayatan maguru alam dan kehidupan, serta perenungan religius keris otomatis akan mendudukkan kembali kepada pesan spiritual yang esensial dalam dunia modern sebagai manusia modern. Bukan keris dalam kungkungan klenik dan gaib yang sensasional. Keris pada saatnya, dapat berbicara kepada awam baik melalui 'rupa' maupun kedalaman konsepnya (bukan tuahnya) tanpa pengetahuan yang terlalu ekslusif. Marilah kembali, kita coba menelaah apa yang dimaksud dengan keris Kamardikan sebagai sebuah aktifitas pelestarian. Keris Kamardikan adalah istilah. Kamardikan berasal dari kata Mahardika yang artinya merdeka. Jika keris umumnya selalu lekat dengan atribut jaman pembuatan yang sering disebut tangguh, dan terkait pula dengan gaya keris yang memiliki kekhasannya dari setiap kerajaan. Keris Kamardikan memiliki dua makna, pertama, yaitu adalah keris-keris yang dibuat pada jaman setelah Indonesia merdeka, dimana kerajaan-kerajaan menyatu dalam Republik. Makna yang kedua adalah kemerdekaan pada keris-keris yang diciptakan berdasarkan konsep-konsep baru yang bebas. ( kutipan Katalog Pameran Kamardikan Award 2008 ). Prosesi intelektualism, estetika dan orisinalitas ide dalam karya keris (yang bukan mutrani) adalah kebutuhan seniman keris pada saatnya nanti, serta membawa keris Kamardikan berbobot dan yang dapat diterima umum serta sanggup menjadi masterpiece atau mahakarya dikemudian hari. (Toni Junus; sebuah perenungan). Dikutip dari PAMOR 11. Kepustakaan : 1. Agus Sachari; 2002, Estetika, Penerbit ITB 2. AM. Jelantik; 1987, Pengantar dasar ilmu estetika, Akademi Seni Tari Indonesia 3. Bender, T., (1993), Intellect and Public Life, The John Hopkins University Press. 4. Macmillan; 1911, The Intellectual Life, Norwegian Press Ltd. 5. Modern Art and Modernism: A Critical Anthology. ed. Francis Frascina and Charles Harrison, 1982. 6. Robertson, Jean and Craig McDaniel: Themes of Contemporary Art, Visual Art after 1980, page 16. Oxford University Press, 2005. 7. Bincang-bincang dengan DR. Dharsono M.Sn. Keris & Tantangan Para Pelestari Blambangan Blambangan - Sejak kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1527, Blambangan berdiri sendiri, namun dalam kurun waktu dua abad lebih (antara tahun 1546-1764) menjadi rebutan kerajaan di sekitarnya. - Antara lain kerajaan Demak dan Mataram di Jawa Tengah, juga kerajaan di Bali (Gelgel, Buleleng dan kemudian Kerajaan Mengwi) bergantian menyerang Blambangan dalam kurun dua abad itu. - Selama 42 tahun (1655 sampai 1697) terjadi 4 kali pemberontakan, dan 4 kali perpindahan

ibukota. Kedudukan istana di Kedawung dipindahkan ke Bayu (1655), kemudian ke Macanputih dan akhirnya ke Kutalateng. - Selanjutnya perang yang berkepanjangan mengakibatkan istana pindah lagi ke Ulupampang, dan akhirnya ke Banyuwangi pada tahun 1774. Blambangan dalam kerahasiaan - Blambangan mentorehkan gejolak politik yang sangat ruwet dan tidak memiliki peninggalanpeninggalan penting yang dapat menyingkap kesejarahannya. - Tulisan-tulisan tentang Blambangan tercampur aduk dengan "mitos" dan legenda, fakta sejarah sangat sulit dirangkai. Padahal Blambangan sejak lama mendapat perhatian penulis asing. Brandes menulis dalam tinjauan filologi pada 1894, Pigeaud pada tahun 1932. Ann Kumar pada 1979, Winarsih Arifin pada tahun 1980, dan Darusuprapto menulis 1984. Semuanya tidak berani masuk dalam tulisan sejarah. Tahun 1927, J.W. de Stoppelaar berhasil menyelesaikan tulisannya, namun dalam bidang hukum adat. Kemudian Atmosoedirdjo menulis kajiannya dalam bidang yang sama pula (hukum Adat) tahun 1932. Hasil kajian mengenai Blambangan dengan demikian terbatas pada dua bidang ilmu, yaitu Filologi dan Hukum Adat. Keduanya di luar bidang Ilmu Sejarah. Tahun 1923 ada penulis C. Lekkerkerker (nama samaran) memberanikan menuliskan sejarah Blambangan. Blambangan sebagai daerah otonom Bukti autentiknya adalah Prasasti Gunung Butak 1294 M, menyebutkan perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam mendirikan kerajaan Majapahit bahwa "pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masingmasing mendapat sebagian". Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan dan Tigang Juru yang semua itu menjadi wilayah yang dikenal dengan Blambangan. Arya Wiraraja sebagai adipati pertama. (C. Lekkerkerker, 1923:220). - 16 tahun Arya Wiraraja memerintah Blambangan kemudian digantikan oleh Arya Nambi (1311-1331 M); di Majapahit, juga terjadi pergantian kekuasaan Raden Wijaya kepada anaknya, Jayanegara. - Jayanegara, tidak seperti ayahnya, ia melakukan penindasan dan menyengsarakan rakyat. - Oleh karena itu 1316 M, Arya Nambi menyerang Jayanegara, serentetan peristiwa yang kemudian berulang terus menerus menjadi pertarungan antara penguasa pusat dan penguasa Blambangan. - Hubungan Blambangan-Majapahit keruh ketika Bhre Wirabumi, anak Hayam Wuruk dari selir, bertahta di Blambangan (1364-1406 M) menentang pusat, perang Paregreg meletus. Namun Bhre Wirabhumi terbunuh pada 1328 Saka (1406 M) oleh prajurit pusat pimpinan Wikramawardhana. Blambangan dan pengaruh luar - Haagerdal (1995:106-107) dan Beatty (2001:17) menyebut bahwa Blambangan menjadi tempat pengungsian bangsawan dan cendekiawan Majapahit yang melarikan diri karena Majapahit juga semakin tak menentu, mereka mendekati Bali untuk membangun aliansi. Pengaruh budaya Mataram Islam - Pada tahun 1639 M, Mataram di Jawa Tengah berhasil menaklukkan Blambangan; rakyat Blambangan banyak yang terbunuh dan dibuang. (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). - Dibawah kekuasaan Mataram inilah penduduk Blambangan mulai masuk Islam, namun tidak terjadi pergeseran struktur sosial dan kebudayaan, oleh karena kuatnya adat Blambangan (suku/wong Using) yang terus dipertahankan. Keris Blambangan dan pengaruh jamannya Keris Blambangan mengalami tiga (pengaruh) jamannya : - Keris Blambangan dalam pengaruh Majapahit. - Keris Blambangan dalam pengaruh Mataram dan Madura, karena Blambangan saling membahu dengan Madura dimana merasa sehati dalam pemberontakan Trunojojo (melawan Amangkurat). - Keris Blambangan dalam pengaruh Bali, ketika jaman keemasan Dalem Waturenggong yang makmur, dan kerajaan Gelgel meluas ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Dalam bidang seni dan kesusastraan mencapai puncak keemasan.

Adanya indikasi terpengaruh Bali Pada saat Dalem Ngulesir menjadi raja, pusat pemerintahan dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel (Sweca Pura). Dalem Ketut Semara Kepakisan pada tahun Saka 1305 (1383 M) adalah satu-satunya raja dari Dinasti Kepakisan yang sempat menghadap Raja Sri Hayam Wuruk di Majapahit. Beliau mendapat hadiah keris Ki Durga Dungkul (wilut), Ki Bengawan Canggu kemudian Ki Sudamala keris ini masih disimpan di Puri Karang Asem berbentuk relief berserat sanak. Dalem Ketut Semara Kepakisan dalam perjalanannya singgah lama di Blambangan sebelum kembali. Keris Blambangan dan ciri-cirinya Menurut buku kuno : Gonjo sebit rontal; gandik agak pendek dan miring (doyong); Sogokan pendek dangkal (cekak); Luwes walau tidak rengkol luknya. Analisa dari realita sejarah: 1. Keris Blambangan era Majapahit, Tidak berbeda jauh dengan tangguh Majapahit, empu yang tercatat a.n: empu Bramakedali, Kekep, Luwuk, Kebolungan, Ki Pitrang/Rambang dan Jaka Sura (anak Pitrang). Ada catatan bahwa karya empu Pitrang paling tersohor, biasanya bilahnya gilig (wuwung), pamornya nyekrak (miring) dan bentuknya luwes, luknya rengkol sedang.

Gonjo Sebit Rontal Gandik Pendek Miring

Karya Pitrang/Ki Rambang atau Supa Mandrangi - Pangeran Sedayu

Gandiknya miring, bilah wuwung (gilig)

Kembang kacang nggantung Lambe gajah diatas tidak landai

2. Era keris Blambangan dalam pengaruh Mataram dan Madura. Ciri-cirinya jika memakai sogokan agak lurus dan dangkal, luk pertama tinggi, sering luknya datar. Besi dan pamornya menyerupai bahan besi keris Tuban, grenengnya seperti keris Madura, secara keseluruhan seperti Mataram, mungkin keris Blambangan menjadi patron keris Mataram, atau sebaliknya, bedanya pada ukuran bilahnya lebih panjang (corok). Jika bergandik naga, biasanya naga primitif.

Lihat rancang bangun Keris Madura dan keris karya Jaka Sura 3. Era keris Blambangan dalam pengaruh keris Bali. Ciri-cirinya mirip keris Bali, namun bahan besi dan pamornya seperti bahan keris Jawa dan penampilannya tidak licin seperti keris Bali. Pamornya mirip bahan pamor tangguh Tuban, grenengnya seperti greneng Majapahit, namun rincikan lain seperti kembang kacang dan lambe gajah seperti ciri keris Bali.

Pengaruh Bali - besi mirip bahan keris Tuban Akan kemanakah keris kamardikan gaya Blambangan? Para pelestari keris sering ingin mencari gaya spesifik kedaerahannya, namun keris tangguh Blambangan berdiri dalam berbagai pengaruh kekuasaan masa itu. Hal ini menjadi tantangan bagi pelestariannya. Namun ada hal yang perlu dipertimbangkan pula adalah bahwa keris dalam kenyataannya memiliki nilai non-bendawi yang harus diperhatikan dan dilestarikan. Selain menciptakan keris unggul dalam segi bentuknya, sebagai artefak budaya perlu dipahami adanya 7 (tujuh) aspek nilai non-bendawi keris yang harus dilestarikan : 1. Kesejarahan; 2. Fungsi Sosial; 3. Tradisi; 4. Filosofi; 5. Mistik/magis; 6. Seni/kesenirupaan; 7. Teknologi

Aspek Kesejarahan Secara ilmiah, keris selalu berkaitan dengan artefak budaya seperti relief pada candi, misal candi Sukuh, Penataran, Borobudur dll, Kata kris telah tertulis dalam Prasasti Rukam, Prasasti Dakuwu dll, Keris ditemui dalam buku sejarah, BABAD, kisah-kisah Legenda, buku-buku Padhuwungan dll. Sudut pandang pelestarian keris kamardikan dapat mencari sumber dari aspek kesejarahannya. Aspek Fungsi Sosial Awalnya sebagai senjata tikam, untuk perang campuh satu lawan satu. Bergeser menjadi jimat/piyandel/pusaka yang menjadi keyakinan. Karena campur tangan raja (kekuasaan), keris berfungsi sebagai penanda status sosial, kepangkatan, penggolongan profesi dll. Keris sebagai pelengkap busana. Cinderamata persahabatan antar kerajaan. Keris Kamardikan perlu dicari kemanfaatannya pula.

Relief di Candi Panataran (1347 SM) - dulu keris sebagai senjata tikam.

Sekarang sebagai pelengkap busana, keris semakin dibutuhkan oleh karena kesadaran terhadap budaya dan jati diri bangsa. Aspek Tradisi Adanya tradisi pemberian keris kepada menantu lelaki yang disebut kancing gelung. Sebagai legitimasi estafet pelimpahan kekuasaan. (Misal keris Kyai Joko Piturun, Kyai Plered di keraton MATARAM). Tradisi menjamas pusaka di bulan Suro atau Maulud dan kirab pusaka.

Tradisi membangkitkan kembali kekuatan (tuah) keris seperti upacara Sidhikara Pusaka dan Pasupati/Tumpak landep (di Bali). Perlunya melestarikan tradisi perkerisan dalam memberi bobot budaya pada keris kamardikan.

Upacara Pasopati/Tumpek Landep 2007 di Bali Aspek Filosofi Adanya ungkapan : curigo manjing warangka, warangka manjing curigo, filosofi menunggaling kawula Gusti. Makna bentuk bilah (dapur) dan makna motif pamor sebagai pengharapan dapat tercapainya suatu tujuan. Adanya penandaan dari empu untuk menuangkan pesan tertentu (semiotik). Keris kamardikan harus memiliki konsep dan filosofi yang argumentatif.

Motif Pamor memiliki makna sebagai pengharapan dapat tercapainya suatu tujuan. Aspek Mistik/Magis Karena kekaguman manusia saat itu, terhadap penemuan teknologi besi yang dianggap sebagai inspirasi dewa dan prosesi pembuatan dengan diiringi upacaraupacara. Pengagungan terhadap profesi para empu (panday wsi) berlanjut karena para Ksatrya dan Raja membutuhkan senjata ampuh, dan para empu dianggap sakti. Pengagungan ini melahirkan budaya spiritual ketika peristiwa-peristiwa gaib bersentuhan dalam masyarakatnya. Proses penciptaan keris kamardikan perlu adanya ritual atau penyertaan doa yang bertujuan untuk kebaikan manusia. Aspek Seni/Kesenirupaan Bentuk keris yang a-simetri dan unik, tiada duanya di dunia. Nilai harmoni yang sanggup dimuati oleh kebutuhan teknomik, keris dibuat condong dan

berluk untuk memaksimalkan fungsinya sebagai senjata tikam. Keris merupakan media ekspresi yang dituangkan dalam bentuk bilah (dapur), motif-motif pamor, rancang bangun dan variasinya, serta kelengkapan sarung dan asesorinya sebagai media seni. Seni keris kamardikan harus kreatif untuk konteks kontemporer, dan harus tepat pakem jika dalam konteks konvensional (mutrani keris tangguh tua).

Dhapur keris merupakan media ekspresi yang dapat dituangkan dalam bentuk-bentuk bilah (dapur). Aspek Teknologi Terdapat banyak hal yang menjadi kekaguman para peneliti asing, misalnya : - Pengadaan material (bahan dari meteor jatuh). - Teknik tempa penyatuan logam heterogen secara hand-made yang merupakan metallurgy kuno sebagai unggulan yang tiada duanya. - Teknologi kuno pengerasan (karburasi/nyepuh) besi low carbon menjadi high carbon yang keras/tajam tampaknya memiliki kekayaan variasi teknik dan rahasia yang belum diketahui secara teknologi modern. (Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno - ITB). Perlu pengadaan material bermutu, serta penjiwaan yang dalam dan sakral, walau telah menggunakan modernisasi peralatan. Dengan semangat membara, tulus dan sadar budaya. Pelestarian akan berlanjut hingga anak cucu kita, keris sebagai warisan budaya adiluhung bangsa Nusantara, tidak lagi dikawatirkan punah. Terima kasih kepada teman-teman yang koleksi kerisnya terpampang disini, etikad pembuatan makalah ini adalah untuk sebuah kemanfaatan bersama. Referensi: Beatty, Andrew. 2001. Variasi Agama di Jawa: Suatu Pendekatan Antropologi. Jakarta: Murai Kencana. Brandes, J. 1920. Verslag Over Een Babad Blambangan. TBG:XXXVI. Darusuprapta, 1984. Babad Blambangan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Epp. F. 1849. Banjoewangi. TNI I.ii: 242-246 DR. Dharsono, MSn; KERIS NUSANTARA Revitalisasi melalui upaya konservasi; 1926 thesis. Groneman, J. DR. (1910). Wet er van de Pamor Smeedkunts worden zal (The condition of pamor art in the future), Semarang: Harian De Lokomotif, 19 July. Harsrinuksmo, Bambang (tth), Katurangganing Dhuwung-dhuwung, Surakarta: Mangkunegaran Library H 124 & H 125. Haryono Haryoguritno; Keris Sebagai Warisan Budaya Dunia; Puri Wiji thesis, December 2007. Lekkerkerker. 1926. Banyuwangi 1880-1910. Indische Gids.

Raharjo, Sunaryo. (1977). Andalan Bab Pusoko Tosan Aji. Surakarta: Mangkunegaran Library H 128. Stoppelaar, J.W. 1927. Blambangan Adatrecht. Wageningen: H. Veenman & Zonen. Worsley, P.J. 1972. Babad Buleleng: A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague: KITLV-BI No.8. Wikipedia; Sites on internet, oral sources. Keris Luk 9 Dhapur Kidang Mas

"Sawijining kewan alasan memper wedhus, nanging ulese mrusuh kuning ngemu giring arane kidang kencana. Aja dumeh kidang, nanging beda lan kidang liyane, dheweke duwe prabawa kang gedhe, nganti gawe kepencute sapa kang wuninga. Mungguh sapa sejatine kang membamemba dad...i kidang iki, ora liya abdi kinasih, hiya pothete negara Ngalengka, kang ora ana liya kajaba Ditya Kala Marica saperlu nggora godha Dwi Sinta. Sang Dewi kapilu marang kandahan kidang Kencana nganti lali purwa duksina manawa tetelun lagi ana madyaning alas kang gawat kaliwat. Kidang musna lan Sang Dwi aminta ingkang raka Prabu Rama supaya arsa ambujung nganti kacandhak arsa kanggo klangenan.........". Kutipan di atas adalah penggalan dari epos Ramayana. Cerita ini memiliki latar waktu di zaman dahulu serta berlatar tempat di negri Mantili, Kerajaan Alengka, Hutan Dandaka, Gua Kiskendo dan Taman Argasoka. Cerita ini memiliki alur maju. Bagian dari sinopsis cerita adalah ketika Rama Wijaya, Shinta, dan Leksmana sedang bertualang ke hutan Dandaka. Rahwana sebagai Raja Alengka melihat Dewi Shinta dan ingin memperistrinya. Maka Rahwana menyuruh seorang raksaksa bernama Ditya Kala Marica untuk mengubah dirinya menjadi Kijang Kencana yang berarti Kijang Mas (Kidang Mas). Shinta yang terpesona melihat Kidang Mas tersebut menyuruh Rama menangkapnya. Lalu Rama pergi mengejar kijang itu. Setelah menunggu lama, Shinta merasa khawatir dan menyuruh Leksmana untuk menyusul Rama. Sebelum meninggalkan

Shinta, Leksmana membuat lingkaran magis sebagai berlindungan bagi Shinta. Dengan lingkaran itu, Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya. Kidang Mas atau Kidang Kencana, dalam kaweruh padhuwungan atau pengetahuan tentang keris, Kidang Mas diwujudkan dalam sebuah bentuk keris berluk 9 dengan ricikan gandik polos, memiliki pijetan, tikel alis serta greneng. Tanpa memiliki ada-ada ataupun kembang kacang dan jenggot. Dengan gandik lugas, seakan keris ini menjadi sederhana. Tetapi dibalik kesederhanaan itu, Kidang Mas sering menampilkan daya tarik tersendiri. Semakin dalam kita mengamati keris dapur Kidang Mas, maka semakin terlihat keindahan dibalik kesederhanaan itu. Demikian pula jika kita cermati, mencari keris berluk tanpa kembang kacang tetapi tetap terkesan indah dan luwes sesungguhnya juga tidaklah mudah seperti yang kita sangkakan. Tanpa Kembang Kacang, luk keris dari tarikan awal haruslah benar2 pas sesuai petungnya. Secuil paparan di atas hanyalah sekilas tentang keindahan keris dapur Kidang Mas dari aspek fisik semata. Lebih jauh dari itu, jika kita berusaha mengupas lebih dalam, sesungguhnya Kidang Mas memiliki makna filosofi hidup. Epos pewayangan "Ramayana", mungkin bisa menjadi salah satu titik tolak untuk mengupas dapur Kidang Mas. Cerita Ramayana memiliki banyak pituduh, kaweruh dan berbagai pelajaran hidup. Dari mulai kesetiaan, kepahlawanan, pengorbanan, cinta kasih, bahkan bisa digali sebagai perjalanan spirituil seorang perempuan. Disini memang tidak akan diulas hal2 yang lebih mendetail, tetapi hal yang lebih fokus pada pemaknaan atas dapur keris Kidang Mas. - Tulisan MM. Hidayat; Gallery Keris Ujung Galuh - Disadur posting Face Book 26 Des 2009; Wall Photos; Iklan Back Cover PAMOR #13

KERIS ibarat SATRIYO KINUNJORO

Pelukis Hardi Dalam suatu sarasehan keris di Fadli Zon Library, pada tgl 22 Desember ini, pembicara pakar senior Haryono Guritno mengatakan atau lebih tepatnya memberikan warning, kepada kita dan pemerintah, bahwasanya pengakuan UNESCO, bisa dicabut, bila kita tidak mampu mengilmiahkan keris, serta membangun sebuah konsep pendidikan berkelanjutan. Hadir pada acara tersebut adalah para pemikir/kolektor juga gallery keris. Suatu pertemuan skala kecil yang komplit. Mengingat umur penciptaan keris sudah berabad-abad, jauh lebih dulu daripada cabang senirupa lainnya, maka boleh dibilang wacana eksistensi keris jauh ketinggalan. Hal tersebut saya ibaratkan sebagai SATRIYO KINUNJORO atau satriya yang dipenjara, dengan analogi patung Budha dalam stupa di Borobudur. Keris, selama ini berada dalam tabir asap, remang-remang, terkurung dalam penjara mitos, klenik dan supra natural. Film-film horor menggunakan keris sebagai aksesori roh jahat. Para kolektornya di musyrik-musyrikkan, dan disirik-sirikkan, dianggap menyembah keris, tidak menyembah Tuhan. Sementara cabang seni yang lain seperti lukisan yang baru muncul di Jawa zaman Raden Saleh akhir abad 19, melejit dengan wacana-wacana dan prestige yang tinggi.

Pemarjinalan yang sistemik ini harus diakhiri, dibuka sekat-sekat yang mengelilinginya, sehingga Keris menjadi Satriya Kemerdekaan yang gagah. Sangat Patut dipuji upaya pribadi, atau lembaga seperti Bentara Budaya, serta kraton-kraton yang selama sebagai patron, dalam melestarikan keris perlu mendapatkan sebuah AWARD dari organisasi keris. Pemerintah belum melakukan upaya maksimal, kecuali dengan adanya Museum Keris di TMII (Taman Mini Indonesia Indah), tetapi upaya ini tidak dibarengi oleh suatu rekayasa Budaya yang komprehensip, juga kalau ada pameran-pameran masih bersifat sporadis. Kohin seorang pekeris (kalau saya Pelukis), mengatakan bahwa profesinya selama ini oleh masyarakat dipandang sebelah mata. Juga Toni Junus, dengan majalah PAMORnya adalah lambang optimisme dikalangan pekeris (akademik?) atau intelektual, terhadap eksistensi keris masa kini. Toni mencoba (berhasrat) mewacanakan atau merumuskan keadaan supaya para pekeris tidak lagi dalam tabir asap kemenyan. Saya juga heran sekaligus bangga, bahwa pekeris FaceBooker adalah orang-orang muda yang masih percaya bahwa republik ini hebat. Keris harus menjadi IKON tertinggi pencapaian SENI dan Kebudayaan, bagi bangsa nusantara ini. Kita, komunitas pekeris harus berani ngongrok2 DPR, membuka mata mereka hingga bangun dari tidurnya, merancang undang-undang kebudayaan, dan memasukkan Keris sebagai mata pelajaran wajib. Saya ingin para pekeris (meliputi empu, desainer, kolektor, galery komersial, simpatisan) bisa memiliki kebanggaan sebagai pelanjut dari tradisi kreatifitas besar, bangsa nusantara Indonesia. Kita canangkan sebuah kampanye besar untuk CINTA KERIS. Membeli keris, memamerkan dan industri kreatip ini akan bergulir, sekaligus menjadi ekonomi kreatip tidak berhenti sebagai konsep di departemen, dan uang rakyat diperlakukan sebagai barang jarahan oleh para birokrat. Disadur dari tulisan pelukis Hardi dalam facebook.

Garuda bukan burung emprit yang terkurung oleh kebodohan kita, karena pembanggaanpembanggaan feodalistik, sisa-sisa stereotype hegemoni kraton masa lalu. Keris ini diciptakan terinspirasi oleh sebuah sajak WS Rendra. Garuda tetap terbang diangkasa - Karya : Toni junus 2009 - Pamor Largangsir. -

Berguru Pada PUDHAK SATEGAL Oleh : Wawan Wilwatikta Ungkapan yang sangat popular dalam kehidupan orang Jawa sejak dahulu yaitu Wong Jawa nggone semu, sinamun ing samudana, sesadone ingadu manis yang berarti Orang Jawa menyukai sesuatu yang semu, disamarkan dengan perlambang, diwujudkan dalam keindahan. Semu berarti tersamar atau tidak tampak jelas. Ungkapan ini menunjukkan sifat orang Jawa yang dalam menyampaikan gagasan kepada orang lain umumnya tidak secara langsung atau secara tegas lugas. Pandangan hidup, nasehat dan ajaran-ajaran dalam kehidupan orang Jawa, merupakan hasil olah rasa berbudaya. Rasa budaya yang tidak dapat dinyatakan dalam komunikasi pergaulan seharihari, sering dinyatakan dalam bentuk simbol. Dalam kehidupan sehari-hari dijumpai penggunaan simbol-simbol sebagai pengungkapan rasa budaya pada suatu karya seni, seperti: pakaian, kain batik, upacara, ukiran, arsitektur dan senjata. Simbol-simbol pada suatu karya seni diharapkan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi atau media untuk menitipkan pesan, nasehat atau ajaran bagi keluarga, masyarakat maupun generasi selanjutnya menuju peradaban luhur. Tidak ada rumusan maupun ukuran timbangan yang pasti, dalam mengungkapkan simbolsimbol, bahkan setiap pernyataan yang muncul dapat dianggap sebagai suatu pengkayaan makna, sepanjang masih selaras dengan maksud utamanya. Upaya mencari makna setiap simbol merupakan usaha untuk merawat sebagian dari budaya, agar memberikan arti yang sesungguhnya (esensi budaya). Dalam seni keris, salah satu simbol yang sangat menarik untuk dikaji dan diuraikan maknanya yaitu ricikan Pudhak Sategal.

Bunga pudhak atau pandan Pudhak Sategal Pudhak Sategal merupakan nama dari ricikan Keris yang terletak di bagian sor-soran di tepi bilah. Bentuk ricikan ini menyerupai daun Pudhak (Pandan) dengan ujungnya yang meruncing. Bentuk pola ini, untuk bagian belakang keris pangkal daun dimulai dari sisi tepi bagian bawah sor-soran kemudian meruncing ke atas, kurang lebih sejajar dengan panjang sogokan. Sedangkan untuk bagian depan, pangkal daun dimulai dari atas gandik. Menurut Serat Centhini, sekar Dhandhanggula, bait ke 24-28 (1992:75) Pudhak Sategal merupakan dapur keris yang mempunyai luk 5 dengan ricikan kembang kacang, sogokan dan sraweyan yang diputus bagian bawah. Sehingga, pola Pudhak Sategal merupakan sraweyan yang dibentuk menyerupai daun Pudhak.

Menurut Bambang Harsrinuksmo (2004:376), ricikan Pudhak Sategal baru ada setelah Jaman Mataram Akhir dan popular pada jaman Surakarta. Keris tangguh Tua seperti tangguh Majapahit, Blambangan, Tuban dan Madura Tua tidak ada yang memakai ricikan Pudhak Sategal. Apakah ricikan Pudhak Sategal merupakan pengganti atau terinspirasi pola Kinatah Kamarogan yang populer di jaman Mataram Sultan Agung? Ataukah, sebagai simbol cita-cita Panembahan Senopati saat berupaya mengembalikan kejayaan kerajaan Mataram dengan konsep ganda arum? Kata Mataram jika di jarwa dhosok-kan berasal dari kata Mata Arum yang berarti sumber keharuman. Konsep pemerintahan yang berdasar hati-nurani yang memberikan manfaat dan kemakmuran pada rakyat dan lingkungannya serta memberikan keharuman sepanjang masa. Belum ada catatan tertulis atau penelitian yang memastikan demikian dan tentu, masih memerlukan penelitian untuk pembuktian lebih lanjut.

Keris dengan phudak setegal berdhapur Jangkung Mangkunegoro (bhs: JW) koleksi Drs. Guntur Setyanto, MSc. Pudhak Sategal merupakan ricikan keris seperti halnya dengan ricikan lain yang terdapat pada sebilah keris, antara lain : gandik, sogokan, tikel alis, pijetan dan kembang kacang. Pembuatan setiap ricikan oleh empu pada keris selain mempunyai tujuan fungsional, juga memuat makna filosofis. Bentuk ricikan pudhak sategal pada bilah keris memang mirip dengan daun pandan/pudhak yang jika tampak dari depan, terlihat menyembul di kiri-kanan pohon dengan bentuk meruncing ke atas. Mengapa para pujangga/empu memilih pudhak sebagai simbol ajaran pada karyanya? Sebenarnya banyak pola yang serupa dengan daun pandan/pudhak yang meruncing misalnya: gading gajah, tanduk banteng, cula badak dan taring macan. Bentuk-bentuk tersebut mirip satu dengan lainnya, tapi mungkin saja kurang mempunyai makna yang mendalam dan kurang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Empu Keris jaman dahulu memberikan gambaran pada kita, bahwa mereka merupakan pekerja seni sekaligus spiritualis. Mereka mempunyai kesanggupan untuk memberikan tema universal yang menyangkut kehidupan sehari-hari manusia pada setiap karya mereka. Mereka menjadikan Keris menjadi suatu media introspeksi diri terhadap nilai-nilai humanis dan spiritual.

Pandan atau Pudhak Pandan (Pandanaceae) merupakan tumbuhan yang sangat lekat dengan kehidupan orang Jawa sejak jaman kuno. Daun pandan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pewarna makanan, penyedap masakan, sebagai obat, tikar, kosmetik, sarana upacara, maupun sebagai bahan pememeliharaan batik. Masyarakat banyak memanfaatkan pohon pandan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk daun pandan menghadap ke atas meruncing diujung dan sering melingkar di sebatang pohon, sehingga tampak dari depan mencuat di kiri dan kanan. Bunga pohon pandan dinamakan Pudhak, namun daun pandan sendiri sering disebut Pudhak. Pudhak merupakan bunga yang mempunyai aroma harum lembut (tidak menyengat) selama berhari-hari dan menebar aroma harum menjelang sore hari. Tumbuhan ini mudah hidup tanpa pemeliharaan khusus dan banyak ditanam dipekarangan atau ladang maupun sebagai tanaman pagar. Bagi para pujangga/empu jaman kuno, sifat dan manfaat dari Pudhak sangat menarik untuk diabadikan pada karyanya. Mereka berusaha untuk menghayati peranan alam bagi manusia atau sebaliknya. Mereka banyak belajar dan mengambil sesuatu dari alam sekitar sebagai bagian dari ajaran hidup yang bernuansa religi. Simbolisasi Pudhak pada bagian dari Keris merupakan jalan menuju pengalaman spiritual yang menumbuhkan kesadaran hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Para Empu membuka kesadaran manusia untuk selalu mengagumi alam, kemudian mengagumi sang Pencipta. Mereka berusaha mengabadikan dasar-dasar religius alam semesta pada hasil karya teknologi dan budaya untuk meningkatkan kualitas spiritual. Memberi Tanpa Diminta Pohon pandan merupakan pohon perdu yang banyak tumbuh dan dijumpai dipekarangan maupun dipinggir jalan pedesaan. Sekalipun tampak tidak berguna, pohon ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Daunnya dapat digunakan sebagai tikar, perwarna alami dan menambah aroma pada makanan, bahkan sebagai obat. Demikianlah, dalam kehidupan ini apakah hidup kita telah memberikan manfaat dan warna bagi orang lain, seperti daun pandan. Bukan sebaliknya seperti benalu, justru merugikan dan membebani orang lain. Ada piwulang Jawa yang mengatakan urip iku kudu migunani tumraping liyan yang berarti hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baiknya orang yaitu yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Sangat berbeda kehidupan modern yang jauh dari nilai-nilai tradisi. Hubungan antar manusia lebih banyak dihitung sejauh menguntungkan atau merugikan secara material. Kepuasan secara material, akan mengikat manusia pada kebudayaan pasar yang umumnya akan berdampak terhadap pemerosotan esensi budaya yang berorientasi spiritual. Terkadang kita merasa belum cukup untuk berbuat baik bagi orang lain, karena secara materi belum mampu atau merasa bahwa perbuatan kita tidak akan berdampak banyak bagi orang yang membutuhkan. Menjadi orang yang berguna bagi orang lain tidak harus selalu memberi sesuatu hal yang sifatnya materi (harta/uang). Tenaga, pengetahuan, nasehat, perbuatan yang baik, menentreramkan dan perhatian merupakan bantuan moril yang dapat kita berikan selain materi. Setiap saat kita dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain, asal kita ada keikhlasan hati untuk beramal (Jawa: Sepi Ing Pamrih). Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, sedikit kebaikan yang mampu kita berikan akan memberikan manfaat dan makna yang besar bagi orang lain. Di hadapan Tuhan, bantuan yang diberikan kepada orang lain tidak dilihat dari jumlahnya. Bobot suatu amal tergantung dari usaha yang kita lakukan dan keikhlasan hati. Pohon Pandan memberikan manfaat dan makna pada kehidupan manusia tanpa harus menunggu menjadi pohon Kelapa. Pohon pandan sangat memikat bagi para pencari spiritual, ia memberi manfaat bagi kehidupan tanpa diminta. Memberi bukan berarti kehilangan kepemilikan, akan tetapi merupakan pengungkapan perhatian manusia untuk mencintai kehidupan. Sehingga, memberi dan berkorban merupakan ekspresi paling tinggi dari suatu kemampuan. Maka, sekecil apapun kebaikan yang kita berikan, dapat besar artinya orang lain, berguna bagi sesama akan membuat hidup lebih bermakna. Keselarasan Hidup Daun Pandan tumbuh simetris-seimbang mengelilingi batang pohonnya dan menjulang ke atas. Daun pandan memberikan gambaran mengenai keharmonisan atau keselarasan. Pandangan Jawa mengenai keharmonisan atau keselarasan bagi sesama (sosial) dan lingkungannya (alam) menjadi suatu hal yang penting. Pandangan ini bukanlah sesuatu pengertian yang abstrak, melainkan berfungsi sebagai sarana dalam usahanya menghadapi masalah kehidupan. Leluhur

menyadari betul, bahwa mereka merupakan bagian dan fungsi dari alam, sehingga bahasa alam merupakan rujukan dalam menjalani kehidupannya. Dalam kehidupan ini, orang perlu menciptakan suasana ketentraman, ketenangan, dan keseimbangan batin pada dirinya maupun bagi sesamanya. Hal tersebut terwujud dengan menciptakan kerukunan, sikap hormat dan menghindari konflik. Dengan demikian, dalam kehidupan orang hendaknya selalu berusaha menjaga keselarasan sosial, bersikap menyesuaikan diri, bersikap sopan santun, dan mewujudkan kerja sama, serta bersikap menghormati kepada orang lain. Hal tersebut memposisikan akal dan rasa dalam diri secara seimbang untuk mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan. Menebar Keharuman Pudhak Sategal menggambarkan wangi yang terus menerus tiada henti (angambar-ambar ganda arum) dari ladang yang luas. Keharuman yang menebar memberikan rasa tenang dan meningkatkan kesabaran dan keheningan dalam berfikir dan bertindak. Keharuman memberikan rasa tenteram dan rasa menyenangkan bagi yang menciumnya. Orang hidup di dunia ini, hendaknya menebarkan aroma harum, seperti harumnya bunga pudhak. Harumnya nama baik manusia sepanjang masa dan selalu dikenang, hanya dapat diperoleh dengan perilaku nyata yang memberikan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya. Menebar aroma arum harus didasari ulat manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama. Ulat manis kang mantesi, yaitu bersikap ramah dan menyenangkan hati orang lain, menanggapi seseorang dilandasi dengan kebaikan hati. Ruming wicara kang mranani, yaitu setiap pembicaraan disampaikan dengan cara yang halus, menarik dan menentramkan hati orang lain, bukan sebaliknya justru membuat suasana menjadi gundah. Sinembuh laku utama, yaitu setiap perbuatan dilandasi dengan keikhlasan dan perilaku yang baik (laku utama). Dengan demikian, diharapkan dapat membuat orang menebarkan keharuman (kebaikan) hidupnya bagi orang lain. Kesimpulan Pudhak Sategal merupakan simbol dari bunga pandan (pudhak) satu ladang. Bunga pandan satu ladang yang jumlahnya sangat banyak, memberikan keharuman yang tiada habisnya bagi lingkungannya. Meskipun berlimpah, tetapi tidak menganggu, karena justru keharumannya menyenangkan dan menenteramkan. Daun-daun pandan tersusun secara harmonis melingkari batang pohonnya, terlihat selaras dan seimbang. Daun Pandan memberi warna dan aroma pada berbagai jenis makanan. Penamaan Pudhak/Pandan sebagai ricikan keris merupakan manifestasi dari besarnya manfaat bagi kehidupan manusia. Penggambaran Pudhak pada sebilah keris karena sarat dengan makna dan ajaran-ajaran hidup bagi manusia. Dalam menjalani kehidupan, orang mencapai keutamaan apabila bermanfaat, menyenangkan, menjaga keselarasan dan menentreramkan bagi orang lain dan lingkungannya. Pudhak Sategal memberikan makna bahwa dalam kehidupan, banyaklah berbuat kebaikan agar jati diri menebar harum dan dikenang sepanjang masa. (WW) Bahan Bacaan: Bambang Harsrinuksmo, Ensiklopedia Keris, cetk.1,Gramedia, Jakarta, 2004. Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa, Hanindita Graha Widia, cetk 4, Yogyakarta, 2001. Franz Magnis Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafah tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa., Cetk: 9, Gramedia, Jakarta, 2003 Ng. Ranggasutrasna, Sunan Pakubuwana V, Serat Centhini, Jilid II, Terjmh: Darusuprapta, cetk.1, Balai Pustaka, 1992 Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa, Cakrawala, cetk.2, Yogyakarta, 2006.

PENCERAHAN 2

Foto koleksi Hengki Joyopurnomo Mantera yang merupakan seruan sanubari itu telah menjadi sebuah konvensi manusia dengan alam, menebarkan kekuatan semestawi menjadi sebuah manifestasi berkah, ketentreman dan kesejahteraan. Ketika dalam sebuah ekstase, seorang empu mulai menggoreskan tantra. Ia merajahkan sebuah gambar yang belum ada dalam imajinasinya. Gambar yang lahir dengan niatan yang tak berniatan dalam Zen Budhisme disebutkan zero non doing non agir. Maka ketika zero sebenarnya ada, proses spiritual ini yang menjadi konvensi manusia dan alamnya yang melahirkan sebuah penandaan baru tanda rajah! Rajah dalam bahasa Kawi artinya gurat tangan... sebuah tulisan, atau lukisan dari sebuah kehendak. Tentunya kehendak Sang Hyang Maha Kuasa. Ketika bayi lahir melihat dunia disitulah manusia telah membawa kehendakNya, dan telah tergambar dalam rajah tangannya. Sebilah keris sering menjadi bidang ekspresi sang empu dengan menggurat rajah. Empu menuliskan pesannya sesuai apa yang telah menjadi perjanjian dengan alam semesta. Jika kita perhatikan empat gambar pamor rajah dalam foto keris dibawah ini... maka pemaknaan isoteri keris tergambar berupa rajah...

Isoteri sering dibayangkan sebagai kekuatan berfigur...(figuratif) sering menyesatkan.. namun isoteri juga sering dipahami sebagai Roh, serta pula dalam kalangan modern menterjemahkan isoteri dalam bahasa getaran elektro magnetik. Isoteri bisa ada karena spiritualisasi dalam pembuatan keris, bukan hanya keris tua jaman dahulu saja, namun spiritualisasi tetap berlangsung pada pembuatan keris seniman masa kini adalah karena adanya Subyek (seniman) yang melahirkan Obyek (keris) dalam sebuah prosesnya yang memiliki kehendak (intelektual). Pamor Rajah ... menjadi sebuah pemaknaan yang sulit dimengerti namun ia memiliki sebuah arti semiotik sebagai gambaran proses kehidupan manusia. Ibarat matahari dan cermin yang rot sinorotan lik winalikan saling daya-mendayai; ono hurip ono jodo lan ono pepesten; ono loro ono tombo... ada kelahiran ada jodo ada kematian; ada sakit ada obatnya... maka salah satu lambang pegiat bidang HIV-AID pun melukiskan pita yang tidak kita ketahui dari mana mereka mengadopsi. Namun itu yang pasti goresan itu sebuah lambang tentang keyakinan akan adanya kasih Sang Hyang Maha Kuasa... seperti dalam keris berpamor rajah.

PENCERAHAN 1.

Keris PB IV ini agak pendek, sekitar 32cm. Dhapurnya Sinom Robyong, dengan tinatah panjiwilis sak wedono simbang rojo (ada 3 garis mas). Keris ini dibuat oleh empu Brojoguno yang diperuntukkan pangeran ketika sunatan. Pamor keris ini menurut catatannya adalah pamor Ganggeng Kanyut. Keris kagungan dalem ini bergelar Kanjeng Kyahi Dewabrata, turun temurun hingga terakhir menjadi koleksi kawan saya di Riau. Sebelumnya pernah dimiliki BPH. Sumodiningrat cucu Srisusuhunan Paku Buwana X. Memilih keris akan lebih aman jika kita menguasai dahulu wujud atau eksoteri keris, barulah memahami apa yang ada dibalik keris tersebut. Dalam kriteria wujud yang bagus yang paling utama gunakan penilaian TUH SI RAP dahulu.... barang yang tak utuh sudah berkurang nilainya, besinya juga harus bagus, setelah itu hayatilah garapnya. Masalah isoteri itu subyektif... pemahaman paling tepat adalah mengerti maksud sang empu dalam mewujudkan karya tersebut. Pamor Ganggeng Kanyut merupakan ekspresi simbolisme dari sebuah harapan agar si pemegang menjadi seorang tokoh yang selalu teguh dalam keputusannya, dapat menjadi panutan dan selalu memberi pencerahan pada bawahannya. Ganggeng akarnya tetap menancap kuat sementara batang dan ujungnya melambai-lambai didera derasnya arus sungai. Sangat puitis... itulah empu kita... Sementara Dhapur Sinom Robyong mengandung arti tumbuh dari asalnya daun muda menjadi dedaunan yang ngremboko (berhimpun)... cultural hope (budaya harapan yang positif thinking) sudah ditanamkan oleh para empu... ia telah mendahului motivator yang ada sekarang serta visualisasinya telah mendahului seni abstrak de Stijl di Belanda....Salam budaya! -TJ

PURI AGENG KLUNGKUNG MELESTARIKAN KERIS KAMARDIKAN

Denpasar yang cerah, membawa sebuah perjalanan baru. Bersama berbagai tokoh masyarakat, mendorong seorang pande menjadi sebuah kelangsungan bagi sebuah identitas baru bagi suatu adat perkerisan. Banyak orang tak sadar akan hal ini, tetapi tokoh-tokoh Bali seperti Drs. A.A. Ngurah Puspayoga MBA (Wagub); AA. Agung Ngurah Agung SH.MM penglingsir Puri Gde Karangasem, Ir. Tjokorde Gde Agung Smaraputra penglingsir Puri Ageng Klungkung, tokoh masyarakat I Nyoman Gde Sudiantara dengan panggilan akrab Punglik... bahkan tokoh Puri Jero Kuta seperti A.A. Ngurah Djaka Jaya... Serta Tjokorda Pradnyana, bersama M. Bakrin... sangat jeli melihat sebuah kenyataan untuk masa depan perpandean keris Bali... Prosesi penyerahan keris Sabuk Tali sebagai pengikat masyarakatnya pada adat dan budaya Bali dilakukan di Puri Ageng Klungkung. Keris itu akan disemayamkan menjadi bagian dari Puri... Keris tersebut adalah karya pande muda Made Suardika atau dipanggil De Pande dari Prapen di Jl Kenyeri Denpasar yang diselesaikan hampir 2 bulan.

Upacara pamelaspas alit dilakukan sebagai rasa syukur yang telah mewujudnya sebilah keris. Setelah ini, dalam waktu dekat bersamaan upacara tumpak landep, keris akan di pasupati.

Pelestarian keris telah menjamah tradisi yang pakem di Bali... tampaknya kebangkitan empu keris telah mulai terlengkapi dengan adanya upacara yang hampir berlangsung 4 jam ini.... Di dalam sebuah Puri Ageng Klungkung dengan sangat khidmat dan sakral, menjadikan kita yang mulai lagi terjamah oleh aura kedewaan (rohani), kembali seperti merasakan hembusan angin renaissance. Kegiatan ini merupakan sebuah dorongan bagi perkerisan, baik mereka yang fanatis pada keris sepuh, maupun yang memiliki cakrawala pandang modern, kita yang hadir; saat hening itu seolah telah dikembalikan dalam rotasi kalacakra, dimana berabad yang lalu seperti kita berada disaat ini. Keberadaan kita saat ini seperti berada pada saat lalu.

Sequential.... seperti jika kita menghayati secara holistik maka tak lagi ada dikotomi antara keris tua dan keris kamardikan selama perlakuan traditifnya sama. Bahwa beberapa keris sepuh yang menjadi pusaka dianggap lebih ampuh, bisa dimaklumi karena selain pada masa pembuatannya telah melampaui putaran kala, dan diupacarai tak terhitung lagi... Keris sepuh juga telah turuntemurun dengan aura mantera yang menjadi kuat ber-urutan dari pandita satu dengan pandita generasi berikutnya. Mantera yang merupakan seruan sanubari itu telah menjadi sebuah konvensi manusia dengan alam, menebarkan kekuatan semestawi menjadi sebuah manifestasi berkah, ketentreman dan kesejahteraan. Kita sering lalai, bahwa dimana kita berpijak diatas kita berpayung angkasa......

TANGGUH SEBILAH KERIS

Drs. Sukamto menangguh sebilah keris. Ilmu tangguh adalah pengetahuan (kawruh) untuk memperkirakan jaman pembuatan keris, dengan cara meneliti ciri khas atau gaya pada rancang bangun keris, jenis besi keris dan pamornya. Dalam catatan kuno, dituliskan ciri-ciri secara tertulis. Notasi itu meyakini akan adanya sebuah gaya atau langgam dari setiap kerajaan. Artinya pada jaman Majapahit diyakini kerisnya memiliki beberapa ciri gaya atau langgam yang seragam. Begitu pula jaman kerajaan Mataram dan seterusnya jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat diyakini memiliki gayanya masing-masing. Keyakinan terhadap bahan besi dan pamor juga menjadi panduan dalam ilmu tangguh ini. Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut: 1. Kuno (Budho) tahun 125 M 1125 M meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, Medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Pengging Witaradya, Kahuripan dan Kediri. 2. Madyo Kuno (Kuno Pertengahan) tahun 1126 M 1250 M. Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon. 3. Sepuh Tengah (Tua Pertengahan) tahun 1251 M 1459 M Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan. 4. Tengahan (Pertengahan) tahun 1460 M 1613 M Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram 5. Nom (Muda) tahun 1614 M 1945 Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta. 6. Kamardikan 1945 hingga seterusnya. Adalah keris yang diciptakan setelah Indonesia merdeka, 1945. Pada waktu itu pun raja di Surakarta Hadiningrat ke XII mendapat julukan Sinuhun Hamardika. Keris yang diciptakan pada era ini masuk dalam penggolongan keris kamardikan. Tangguh merupakan seni yang digandrungi oleh komunitas pecinta keris, karena disini terletak

suatu seni dalam nilai kemampuan; semacam uji kemampuan dari sesama penggemar keris. Tangguh juga menjadi sebuah nilai pada harga sebilah keris ... sesuai trend yang ada dari masa ke masa. Tangguh dalam kamus bahasa Jawa (S. Prawiroatmodjo) diartikan sebagai boleh dipercaya, tenggang, waktu yang baik, sangka, persangkaan, gaya, lembaga, macam (keris). Namun demikian, tuntutan modernitas dan keinginan yang kritis (sisi ilmiah) masa kini, tangguh dituntut menjadi pasti (exact), artinya ilmu tangguh akan bergeser menyesuaikan jaman untuk dapat melengkapi salah satu kriteria dalam melakukan sertifikasi sebilah keris. Tuntutan ini adalah hal yang realistik karena generasi muda tak lagi menyanjung sesepuh yang belum tentu memiliki wawasan yang benar. Penyanjungan sesepuh adalah ciri etnografis dari budaya paternalistik dalam sub kultur Jawa (Nusantara). Namun demikian ilmu tangguh harus tetap dipertahankan keberadaannya, kepercayaan pada sesepuh akan bergeser pada sertifikasi suatu badan bahkan mungkin institusional berskala nasional. Dalam sisi pandang yang kritikal pada abad modern ini, tangguh menjadi sebuah rangsangan baru untuk meneliti secara lebih pasti, betul dan tepat (exact) menentukan sebilah tangguh keris. Maka tingkat pengetahuan yang tertuang pada masa dulu melalui catatan, buku dan naskah kuno menjadi sebuah catatan yang masih kurang memenuhi hasrat keingin-tahuan perkerisan pada saat sekarang. Catatan atau buku kuno tidak melampirkan contoh sketsa atau foto apa yang dimaksudkan pada uraiannya. Tulisan kuno tentang tangguh juga belum bisa menjamin si penulis adalah orang mengetahui keris, bisa jadi penulis adalah seorang pujangga yang menulis secara puitis, karena waktu itu memang tidak memiliki target bahwa tulisannya akan menjadi sebuah kawruh yang meningkat menjadi ilmu seni menangguh. Ilmu tangguh sering menjadi sebuah polemik, karena terkendala oleh banyak hal, antara lain; kendala wawasan, kendala tempat (domisili atau keberadaan), kendala oleh narasumber yang sebetulnya berskala lokal, kendala oleh karena minat atau selera pada jenis keris dan banyak sekali hal-hal yang memancing perdebatan. Salah satu cara untuk membangun sebuah ilmu tangguh yang representatif tentu harus melakukan pendataan dan penelitian ulang, salah satunya adalah dengan meneliti penyesuaian antara keris penemuan (artefak) dengan situsnya (geografis); meneliti dan mengkaji ulang catatan kuno dan memperbandingkannya satu buku dengan buku yang lain. Saat ini pun di perpustakaan keraton masih banyak sumber yang dapat menjadi referensi, baik buku-buku bahkan contoh keris berserta kekancingannya. Dibawah ini ciri-ciri sebuah keris dan tangguhnya : Jenggala Ganja pendek, wadidangnya tegak, ada-ada seperti punggung sapi, besi padat-halus dan hitam pekat, pamor seperti rambut putih dan sogokan tanpa pamor. Pajajaran Ganja ambatok mengkurep, berbulu lembut, sirah cecak panjang, besi berserat dan kering, potongan bilah ramping, pamor seperti lemak/gajih, blumbangan atau pejetan lebar, sogokan agak lebar dan pendek. Majapahit Potongan bilah agak kecil/ramping, ganja sebit rontal kecil luwes, sirah cecak pendek dan meruncing, odo-odo tajam, besi berat dan hitam. Pamor ngrambut berserat panjang-panjang. Pasikutan keris Wingit. Tuban Ganja berbentuk tinggi berbulu, sirah cecak tumpul, pamor menyebar, potongan bilah cembung dan lebar. Bali Ukuran bilah besar dan panjang, lebih besar dari ukuran keris jawa, besi berkilau, pamor besar halus dan berkilau.

Madura Tua Besi kasar dan berat, sekar kacang tumpul dan pamor besar-besar/agal Mataram Bentuk ganja seperti cecak menangkap mangsa, sogokan berpamor penuh, sekar kacang seperti gelung wayang, pamor tampak kokoh, dan atas puyuan timbul/menyembul (ujung sogokan) Kartosura Besi agak kasar, bila ditimang agak berat, bilah lebih gemuk, ganja berkepala cicak yang meruncing Surakarta Bilah seperti daun singkong, besi halus, pamor menyebar, puyuan meruncing, gulu meled pada ganja pendek, odo-odo dan bagian lainnya tampak manis dan luwes. Yogyakarta Ganja menggantung, besi halus dan berat, pamor menyebar penuh keseluruh bagian bilah. Catatan diatas hanya sebagai contoh penulisan kriteria tangguh, yang tentu seharusnya disertai contoh barangnya berupa foto, sketsa atau blad. Maka hal yang sebenarnya ilmu tangguh memang masih perlu disempurnakan. (catatan ini diambil dari beberapa notasi diantaranya dari Forum Diskusi Keris Yahoo Grup)

Jejuluk : Kyai Sangkara Koleksi : Jimmy H.E.W Dhapur : Panimbal Pamor : Wengkon Isen atau masuk pula Ngulit Semangka Warangka : Sandang Walikat Spesifikasi tangguh keris ini bisa tergolong : Tangguh Tuban namun bisa pula tergolong Madura tua tergantung berpijak dari sisi mana menentukannya. Teknik dan pelipatan pamor masuk dalam tangguh Tuban, sementara corak yang unpredictable pamornya membentuk jenis-jenis pamor yang sering dibuat oleh empu Madura abad 16-an..

GANDIK 4 (TVRI, ANUGERAH PERSAHABATAN)

Mengutip Catatan Pelukis Hardi di Facebook (FB) 1. Keris For The World (KFTW), saya kira akan jadi fenomenal untuk tahun 2010. Proposal yang kami berikan kepada Budpar sudah disetujui walaupun belum punya legalitas. Bulan penyelenggaraan tgl 3 -8 Juni 2010. Sekaligus sambil memperingati hari kelahiran PANCASILA falsafah negara kita yang plural dan multikultural. Yang kami lakukan segera untuk mendrive kinerja dari DepBudPar jangan mereka bersemboyan KALAU BISA LAMA KENAPA HARUS CEPAT, ATAU KALAU BISA SULIT KENAPA HARUS MUDAH? Sebab kalau kita hitung mundur, masa kerja tinggal 3 bulan. Syukurlah barokah juga menghampiri. Soliditas para pekeris di seantero Nusantara mendukung dengan gegap gempita.

2. Persahabatan saya dengan Purnama Suwardi (35 tahun lamanya) membuahkan acara live KFTW pada hari Sabtu pagi. Crew TVRI, presenter, takjub memandang keris ... image mereka bahwa keris adalah property dari para dukun dan berisi jin, hilang sudah. disela break shooting mereka mengamati pamor yang bercahaya. Toni Junus dengan penuh passion menjelaskan dengan metode "cara singkat mengenal keris".

Mas Purnama dan mas Jon Anwar petinggi TVRI, menjanjikan untuk bisa didokumentasi para empu keris dan lingkungannya sebagai bahan sosialisasi....ini uluran tangan yang luar biasa. Andaikan ini yang bikin pemerintah....pasti akan di mark up biayanya menjadi 1 milyar dan hasilnya BURUK. Tapi ini, kami mendapatkan pertolongan tulus dari TVRI. Dengan idealisme, mereka akan pergi bersama kami ke Solo....adapun untuk Bali, saya mengusulkan TVRI-Bali mendokumentasikan komunitas pekeris disana. Sejatinya ini adalah pertolongan Allah taala. Modal niat dan plan bisa menggulirkan suatu cita2. 3. Pagi tadi pak Sutedja Neka (museum/jejeneng empu/Bali di ubud) telpon saya. Beliau cerita nostalgia kami. Tahun 1970, kami mandinya melalung di sungai campuhan, saya baru lulus SMA. Lukisan saya sebagai pemula yang pertama membeli adalah pak Neka. artshopnya kecil merangkap rumah. Kini beliau adalah pemilik museum lukisan dan keris di Bali. Beliau menawari kalau ke Bali sebagai tamunya. Saya bilang bahwa itu pasti. Karena kami akan ke komunitas pekeris Bali, seperti De Pande, Akin, Komang dll. semoga persahabatan-persahabatan ini menyiram bunga kebajikan. 4. Kemarin saya tertawa, ketika di running teks teve, pak Jero Wacik menginstruksikan seluruh hotel bintang lama untuk memajang Batik, Keris dan Wayang di lobynya. (andaikan para pekeris punya Institusi yang kuat, maka hal tersebut bisa mendatangkan uang, serta mensejahterakan para empu) .....Syukur alhamdulilah. Kita punya menteri yang cepat tanggap. Semoga diimbangi dirjen-dirjennya. Saya ingat ....ketika beliau berkata.....bahwa Budpar harus kerja keras ....Supaya tidak didemo.... kalau menterinya kerja keras, maka DIRJEN-DIRJE-nya harus kerja keras.... Sesungguhnya momentum ini sudah harus terjadi begitu UNESCO thn 2005 mengakui sebagai warisan dunia non bendawi dari Indonesia. Tapi 5 tahun sudah, ternyata tiada gerakan apapun. Ini bukti bahwa pemerintah memarjinalkan (meninggirkan ) KERIS. 5. Saya suka bila para pekeris di Facebook membikin note/catatan. yang sederhana. Sudah dicontohkan Toni Junus (majalah PAMOR ) tulisan bermutu dan memulai suatu kerisologi. Mohon kepada friends FB ikut memikirkan.wacana-wacana memberdayakan paguyuban. Note saya yang Gandik 1 (yang lalu). Mendapat reaksi, friends yang cenderung mistik dan tidak mampu membaca teks. Mereka tersinggung? Tersinggung apanya? Wong saya memuji Keris, memuliakan dan mendudukkan di forum modern dengan memiliki POSITIONING yang jelas. Yang tetep mistik, aku DELETE di FB ini...tak ada gunanya ...mas Rendra bilang itu KASUR TUA. Bung Karno bilang itu klenik, Islam bilang itu Musyrik. SETUJU. Top. Saya juga mohon, keris karatan, keris yang katanya tua dan ampuh, ndak usah ditanggapi. Itu menjerumuskan. Toni Junus menyebut sebagai KORUPSI IMAN. Keris bisa maju bila generasi muda tidak takut dengan keris. Eksekutip tidak takut keris, karena dibumbui ada jin, khodam, koramil. Sehingga orang takut. Saya tahu dan percaya Keris itu memiliki unsur magis dan keindahan menyatu sekaligus. Bahkan saya mendalami ilmu dari para sesepuh keris yaitu .....DHARMANING KERIS (jiwo keris) 6. Saya masih belum puas. Mari kita ke DPR RI (bawa keris?) kita minta dukungan komisi X. supaya pemerintah tidak melambat-lambatkan acara KFTW. Minggu depan kita ke DPR ....50 pekeris cukup. 7. Ibaratnya gerakan ini bermula kecil, bagaikan ombak kecil di tengah samodera, tapi oleh ANGIN leluhur, bisa jadi Gelombang Besar. Saya setuju Mualim Sukethi bilang ......keris akan menjadi Life Style. Dan yang diuntungkan adalah para pedagang, empu dan pecinta sejati. 8. Dengan Niat Baik, walaupun rezeki belum tiba, tetapi marabahaya sudah menyingkir. Itu ucapan Lao Tzi.

INTANGIBLE KERIS KARNO TINANDING

KARNO TANDING (Karno Tinanding) adalah suatu babak pertempuran terbesar Baratayudo di Padang Kurusetra. Pertempuran dua senopati pilih tanding yaitu Arjuno dari kesatrian Madukoro sebagai panglima perang Negara Amarta melawan Adipati Basukarno dari Awonggo sebagai panglima perang Negara Astina. ARJUNO..... Arjuno atau janoko lahir dari rahim seorang Ibu bernama Kunti Nalibronto dengan Raja Astina Pandu Dewonoto. Satria panengah Pandawa. BASUKARNO..... Basukarno atau karno lahir dari seorang rahim seorang Ibu bernama Kunti Nalibronto dengan seorang Dewa bernama Bethoro Suryo atau Dewa Matahari. Jauh sebelum Kunti Nalibronto belum bersuami pernah bermain main dengan aji pameling (sebuah kesaktian yang mampu mendatangkan siapapun yang dikehendaki). Sehingga datanglah Bethoro Suryo. Melihat kemolekan tubuh Kunti, Bethoro Suryo jatuh hati sehingga Kunti mengandung seorang bayi yang kemudian dilahirkan melewati telinga sehingga anak tersebut diberi nama "KARNO" yang berarti telinga. Sebagai seorang putri raja besar Kunti malu karena melahirkan seorang anak sedangkan dia belum bersuami, maka anak tersebut di larung di sungai gangga. Kelak bayi ini diketemukan dan dipelihara oleh seorang kusir kerajaan bernama Adiroto. Karno besar menjadi satrio tangguh, pintar memanah muncul pada waktu Pendadaran Siswa Sukolimo. Sepintar Arjuno dalam memanah tapi tidak bisa ikut berlatih di Padepokan Sukolimo

(Padepokan Resi Durno) karena bukan keturunan bangsawan. Karno di usir dari ajang Pendadaran Siswa Sukolimo karena bukan darah bangsawan. "Kamu Hanya Anak Seorang Kusir" kata Arjuno. Karno menjadi malu dan rendah diri sehingga pergi. Sebagai Satu-satunya Satria yang mampu menandingi kecepatan panah Arjuno, Karno dicari oleh Prabu Duryudono Raja Astina dan mengangkatnya sebagai Adipati di Awonggo. Sebuah Kadipaten di bawah kekuasaan Astina, sehingga Karno bisa berlatih di Padepokan Sukolimo. ............................ KARNO TANDING adalah Sebuah Pertempuran Dua Saudara Kandung Se Ibu tapi berlainan Ayah. Sama-sama Sakti, sama-sama pintar dalam memanah. Sama-sama mempunyai senjata Sakti dari Dewa. Kunti Nalibronto hanya bisa meneteskan air mata melihat kedua putranya saling bertempur. Sebelum pertempuran Baratayuda dimulai kedua ksatria ini pernah dipertemukan oleh Ibunya. Seorang Ibu yang lembut dan bijaksana ini rela bersimpuh di kaki Karno meminta ampun atas penderitaan karno karena telah dibuangnya dan memohon untuk bergabung dengan saudaranya di Pandawa atau Amarta. Karena Kunti tahu benar kalau pertempuran Baratayuda benar terjadi maka hanya Karnolah yang mampu menghadapi Arjuno, itu berarti kedua putranya akan saling berhadapan. Dengan arifnya pula Karno memohon maaf tidak bisa bergabung dengan Pandawa karena beberapa alasan : "Ibu, ....... sama sekali saya tidak dendam atas perlakuan Ibu kepadaku, hanyutnya aku di sungai gangga sampai aku besar sekarang ini adalah garis hidupku. Aku menjadi Adipati dan hidup bahagia adalah karena Prabu Duryudono, aku tidak mau disebut Satria Pengecut hanya muncul ketika ada kesenangan tapi lari dari kesusahan. Apa kata dewa kalau aku nanti bergabung dengan Pandawa. Suatu saat seandainya aku harus bertempur dengan adikku Arjuno itu juga sudah kehendak para dewa. Sekali lagi saya mohon maaf ibu, Nyuwun Agunging Wiloso. Biarkan aku menentukan hidupku Sendiri. " ......Kata Basukarno. Arjuno juga hanya bisa tertunduk menangis. Walau bagaimanapun Karno adalah kakaknya meskipun lain ayah, rasa menyesal yang mendalam telah mengusir dari pendadaran siswa sukolimo. Tangis Kunti semakin menjadi mendengar Jawaban Karno apalagi melihat kedua putranya itu saling berpelukan. Ketiganya larut dalam tangis kebahagiaan, kesedihan, keharuan, kebingungan hanya bisa berpelukan satu sama lain. ................................ Dikutip dari Face Book dinding MM. Hidayat.

Kerismania: Masa Depan Budaya Keris

Keris K.K. Siloponco oleh empu Toni Junus, bahan dari Nantan Meteorite (Guang Ji - China 1561). Pandenya Haji Ahmad, Sumenep. Dilaras oleh M. Jamil.

Kerismania: Masa Depan Budaya Keris Oleh : A. Ardiasto, SH (Alm). Melihat antusiasme anak-anak sekolah dasar di Jepang membuat pisau sebagai bagian dari pendidikan ekstrakurikuler dan menengok pandai besi di Malaysia yang terus berproduksi dengan disubsidi oleh negara, membuahkan satu pertanyaan yang perlu kita renungkan, akankah budaya keris di Indonesia mampu bertahan dan terus membudaya kelak di kemudian hari? Akankah garda depan pelestarian keris masih mempunyai nafas panjang dalam mempertahankan dan memajukan budaya adiluhung ini?

Tradisi Katana di Jepang, Keris di Melayu, atau Jambiya di Semenanjung Arabia hingga saat ini terus mengakar kuat karena sistem budaya yang kuat. Pedang Katana bagi orang Jepang, tidak terlepas dari semangat Bushido yang hidup abadi dalam diri setiap orang Jepang. Begitu pula keris bagi orang Melayu, Keris Lounge di bandara Changi Singapura dan pin keris yang dipakai oleh pramugari Singapore Airlines menandakan kebanggaan yang kuat atas budaya keris bagi orang Melayu. Jauh di semenanjung Arabia hingga ke arah timur laut Khaibar, lelaki remaja hingga dewasa tak pernah meninggalkan Jambiya yang bagaikan istri kedua bagi mereka. Sama-sama berwujud senjata atau alat membela diri, namun ada nilai lebih dari benda-benda tersebut, bahwa melihat ketiga contoh diatas, Katana, Keris, dan Jambiya, ketiga benda tersebut sudah menjadi gaya hidup bagi kebudayaan yang mereka miliki. Menjadikan keris sebagai gaya hidup merupakan tantangan kita di masa kini untuk menjawab pertanyaan, apakah budaya keris masih tetap dapat dipertahankan di masa depan? Atau tinggal menjadi konsumsi kalangan tertentu dan sekelompok kecil pecinta keris saja? Perspektif Pasca-Kolonial Indonesia begitu kaya akan etnis, suku, dan sub-suku yang masing-masing memiliki kebudayaan masing-masing. Sebagai negara baru yang baru berumur 65 tahun, Indonesia belum memiliki identitas budaya nasional yang baku. Identitas budaya nasional Indonesia, adalah keragaman budaya itu sendiri. Keragaman dari puluhan etnis dan ratusan suku bangsa yang hidup dan mendiami kepulauan Nusantara sejak ribuan tahun yang lalu. Masuknya kolonialisme Eropa di abad XVI hingga berakhir di pertengahan abad XX turut mempengaruhi pembentukan kebudayaan nasional. Eropanisasi menginfiltrasi kebudayaan dari atas ke bawah (top-down). Lihat saja pakaian yang dikenakan Raja-raja di Nusantara, kental sekali aroma Eropa nya. Nampaknya hal ini menjadi faktor yang turut mengeser budaya origin nusantara, walaupun dalam teorinya bahwa kebudayaan itu akan terus bergerak dan berkembang. Menjadikan keris sebagai identitas nasional, akan menghadapi kendala karena politik devide et impera yang terus ditiupkan oleh kolonialisme Eropa. Pertanyaan mereka, menjadikan keris sebagai identitas budaya nasional apakah cukup mewakili beragam kebudayaan yang ada di nusantara? Bagaimana dengan etnis atau suku yang tidak memiliki budaya keris? Dalam perspektif mereka, infiltrasi budaya Eropa adalah jawaban dari keraguan dan kebingungan dalam pembentukan identitas budaya nasional. Perspektif Neo-Liberal

Keris adalah benda budaya yang eksotik, origin, dan nampaknya laku di jual ke pasar seni. Rezim kapitalisme neo-liberal menangkap peluang ini sebagai komoditas pasar yang cukup menarik. Eksotisme oriental khas asiatik dengan perspektif keprimitifan ala barat, seakan-akan menjadi pembenar bahwa keris adalah obyek yang layak untuk dieksploitasi secara ekonomis. Negara-negara utara khususnya selalu haus akan karya seni oriental. Museum dan Art Shop di beberapa negara Eropa, menyediakan ruang khusus untuk karya seni dari Asia, dalam bentuk Oriental Space. Karya seni kontemporer maupun klasik laku keras di pasaran Eropa, termasuk diantaranya karya klasik keris. Pengamatan empirik penulis dalam 5 tahun terakhir ini, khususnya di Yogyakarta, setiap tahunnya tidak kurang dari 5-10 ribu bilah keris berbagai jenis dan kualitas yang melayang ke pasar luar negeri. Pedagang-pedagang keris dari Belanda, Jerman, Australia, dan Malaysia terus memburu keris dari Indonesia. Disamping alasan murahnya harga karya seni keris dari Indonesia, alasan lemahnya nasionalisme orang Indonesia menjadi dorongan bagi para pemburu keris luar negeri. Mereka beranggapan bahwa orang Indonesia sudah tidak membutuhkan identitas kebangsaan, lemahnya perekonomian nasional dan susahnya lapangan pekerjaan menjadi alasan bahwa negara tidak mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat, sehingga nasionalisme pun tergadaikan. Perspektif Etnisitas Dari sekian banyak kebudayaan yang mendiami kepulauan Nusantara atau khususnya negara Indonesia, keris lah yang hampir didapati ada pada kurang lebih 60% kelompok etnis dan suku di nusantara. Walaupun tidak selalu keris, paling tidak tehnik tempa lipat dan seni rupa pamor dipakai oleh pandai besi di nusantara untuk membuat senjata. Bahkan cara perawatan senjatasenjata tersebut kurang lebih sama dengan perawatan keris. Keris menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai Pencitraan Nusantara. Keris adalah karya seni sekaligus benda budaya asli Nusantara. Budaya keris terbentang dari Ujung pulau Sumatra di barat, Semenanjung Siam dan Sulu di Utara, Gugusan kepulauan Maluku di Timur dan Kepulauan Nusa Tenggara di Selatan. Keris menjadi identitas pengikat yang mendorong rasa kebangsaan itu tumbuh subur di Nusantara. Rasa kebangsaan memerlukan simbol, bukan hanya dalam pengertian simbol yang bersifat abstrak melainkan simbol nyata yang dapat mewakili hampir dari seluruh suku bangsa yang ada di Nusantara. Kerislah yang nampaknya dapat diangkat sebagai simbol persatuan Nusantara. Bukti sejarah menunjukkan pengaruh budaya keris dalam tehnik tempa logam yang digunakan oleh suku-suku bangsa yang mendiami kepulauan nusantara. Budaya keris menyebar sejalan dengan perdagangan dan hubungan diplomatik diantara kerajaan-kerajaan di Nusantara. Keris dan Studi Oriental Budaya Keris menjadi kajian studi yang menarik bagi orang barat. Puluhan buku tentang keris yang dikeluarkan oleh sarjana barat menjadi bukti bahwa keris adalah obyek studi oriental yang menarik. Lewat kajian studi oriental inilah bangsa-bangsa di Utara memahami dengan baik karakter bangsa-bangsa Asia khususnya Nusantara kita. Keris menjadi dasar pijakan bagi risetriset sosial yang mereka kembangkan. Lewat keris, ilmuwan barat mengkaji sejarah nusantara dengan baik, dengan metode penelitian kualitatif yang mendalam. Dampaknya adalah bahwa mereka mempunyai petunjuk, data base, dan peta sosiologis masyarakat Nusantara. Data inilah yang mereka gunakan sebagai acuan bagi proyek-proyek selanjutnya baik yang berperspektif ekonomis maupun sosial. Asia khususnya Nusantara, merupakan sumber inspirasi riset sosial yang tidak pernah kering dimata ilmuwan barat. Kekayaan seni dan budaya nusantara mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi ilmuwan barat. Begitu pula dengan peradaban masa lalu nusantara. Proyek-proyek penelitian yang berusaha menguak masa lalu, nantinya akan mereka gunakan sebagai bahan untuk merajut masa depan nusantara, yang ada dalam genggaman mereka.

Kejumudan Modernitas Moderenitas yang diwakili oleh kemajuan teknologi, membuat orang mapan merasa jenuh dan

bosan. Kehidupan yang serba nyaman dan otomatis membuat mereka rindu akan masa lalu. Romantisme sejarah, dimana kehidupan berjalan secara alamiah dan teratur mengikuti kehendak alam ingin mereka hadirkan ke alam yang serba moderen ini. Makanan Organik, Rumah Joglo, dan Hobi Keris menjadi bukti bahwa masyarakat moderen jenuh dengan hal-hal yang serba instan. Perpindahan masa lalu ke era moderen ini dapat kita lihat antara lain dalam seni arsitektur. Saat ini orang moderen lebih memilih rumah-rumah adat semisal joglo atau limasan Jawa ketimbang rumah tembok biasa. Selain lebih artistik, alasan rindu masa lalu menjadi dasar pembenar utama. Hasilnya, desa pindah ke kota dan kota pindah ke desa. Saat ini lebih gampang menemui rumah joglo di perkotaan ketimbang rumah joglo di pedesaan. Dan sekali lagi pasar luar negeri melirik hal ini sebagai peluang pasar yang potensial. Rumah joglo menjadi komoditas barang antik yang sangat laku di pasar Eropa. Dalam dunia hobi, rasa rindu atas masa lalu ini mulai menjangkiti para penghobis. Dan salah satu pilihan mereka adalah jatuh pada dunia koleksi keris. Keris dianggap benda yang dapat mewakili masa lalu, jauh menembus kehidupan alamiah yang saat ini tergerus oleh modernitas. Keris dapat mengobati kerinduan akan kebesaran masa lalu, sebuah romantisme yang kadangkadang menjadi bumbu dalam diskusi-diskusi perkerisan. Orang akan tetap mengagumi keris yang dianggap lahir pada era Kerajaan Shingasari atau Majapahit sembari membayangkan kehidupan masyarakat Shingasari atau Majapahit di masa lampau. Keris dan Kaum Muda Minat kaum muda terhadap keris, saat ini mengalami peningkatan yang cukup pesat. 10 tahun yang lalu, para penghobi keris masih didominasi oleh mereka yang berumur diantara 40-70 tahun atau mereka yang telah mapan secara ekonomi. Untuk saat ini, fakta diatas tergeser oleh semangat kaum muda dalam menyemarakkan dunia perkerisan. Hal ini harus segera direspon positif, sebab kaum muda adalah pewaris dan garda depan pelestarian budaya keris. Tantangan pelestarian keris yang diwakili oleh kaum muda antara lain anggapan bahwa koleksi keris adalah koleksinya kaum mapan, atau setidaknya orang yang tidak memiliki masalah dalam hal ekonomis. Ketertarikan mereka terbatasi oleh mahalnya harga keris. Sehingga pada akhirnya muncul rasa minder dan pupusnya harapan untuk memiliki keris. Hal-hal seperti ini nampaknya perlu diantisipasi dengan jalan menyemarakkan dan mempromosikan keris baru sebagai karya seni yang cukup membanggakan. Keris akan menjadi mahal bila jumlahnya menjadi semakin terbatas, dan inilah yang menimpa keris-keris tua bermutu yang kita miliki, dan sebagian besar sudah lari ke luar negeri. Cara lain menarik minat kaum muda dalam pelestarian keris dan nampaknya cukup efektif adalah dengan jalan menguri-uri pusaka warisan leluhur. Kita tahu bahwa budaya pusaka adalah budaya suku bangsa nusantara. Hingga saat ini masih banyak keluarga yang memegang tradisi ini. Celakanya adalah apabila keris pusaka yang mereka miliki jatuh ketangan orang lain, entah lewat perdagangan maupun lewat cara lain. Kaum muda yang mewarisi pusaka leluhur dapat diorganisir lewat paguyuban atau perkumpulan keris yang saat ini marak bermunculan. Memunculkan rasa bangga atas keris pusaka warisan leluhur Masa depan pelestarian keris berada di pundak kaum muda. Anggapan bahwa masa depan pelestarian keris hanya dilakukan oleh kaum mapan agaknya perlu dianulir. Tumbuhnya rasa kebangsaan dalam balutan idealisme nasional bisa diusung oleh ketertarikan kaum muda dalam pelestarian keris. Kaum muda cenderung terbuka pada perubahan dan dinamika wacana. Kaum muda cenderung menghindari feodalisme, yang kadang-kadang muncul dalam paguyuban atau perkumpulan penggemar keris. Sebagai pusaka sekaligus benda seni, kaum muda lebih rasional dalam memaknai sebilah keris. Keris menjadi inspirasi dan kebanggaan kaum muda namun bukan berfungsi sebagai benda ilusionis belaka. Kaum muda cenderung memaknai keris lebih luas dan tidak larut dalam romantisme sejarah yang mengilusi. Cerita-cerita romantisme sejarah hanya menjadi bumbu dan penyemangat dalam perubahan yang lebih besar, rasa perlawanan terhadap kooptasi dan dominasi asing atas tanah leluhur kita agaknya menjadi perhatian yang lebih menarik ketimbang mengangan-angankan masa lalu. Semangat keris pusaka yang mereka warisi dari leluhur menjadi modal bagi perwujudan idealisme dan semangat kebangsaan kaum muda, dan masa depan keris pun berada di tangan kaum muda.

Penulis aktif Ardiasto Sh, telah tiada meninggal pada tanggal 7 Mei 2010. Selamat jalan sobat baikku (TJ).

KANJENG KYAHI NOGO MANUK GAJAHELAR

Keris Kanjeng Kyahi Nogo Manuk Gajahelar Ragam hias tradisionil memiliki makna yang dalam, ragam hias tersebut menjadi simbol yang sanggup menembus jaman, serta menembus modernitas. Makna di balik sebuah simbol dari kraton Cirebon sangat terkenal dengan ragam hias Peksi Naga Liman. Ragam hias Peksi Naga Liman sering terbaca dalam seni ukir kereta istana, dan terutama motif batik kuno yang hingga sekarang masih diciptakan dan berkembang dalam kreasi baru. Simbol itu merupakan sebuah cerminan dari adanya perpaduan antar tiga agama. Peksi dianggap sebagai representasi dari kendaraan Nabi Muhammad saat isramiraj, Bouraq, kemudian naga adalah perlambang dari kebudayaan Budhisme. Sedangkan, Liman yang diartikan gajah, merupakan corak yang berasal dari agama Hindu. Namun pada jaman yang lebih tua (Hindu), pujangga Khadiri (Kediri sekitar abad 9-10), menggambarkan simbol yang disebut Nogo Manuk Gajahelar, memiliki makna sebuah keseimbangan yang tergelar pada jagat raya ini dengan simbol hewan udara (diwakili wujud manuk), hewan laut (diwakili wujud naga), dan simbol hewan darat (diwakili wujud gajah). Keris dengan simbol Nogo Manuk Gajahelar, merupakan harapan akan tercapainya sebuah niat atau kemauan yang besar dengan segala daya upaya untuk menyeimbangkan dunia. Menciptakan kemakmuran dan rahayu ing rat (ketentraman atau perdamaian dunia) dalam ruang lingkup negara hingga dunia. Sumpah Raja pada jaman kuno Khadiri selalu diupacarai dengan pemaknaan falsafah rahayu ing rat tersebut, sebagai tanggung jawab yang dipanggul oleh pucuk kekuasaan dan pimpinan tertinggi (raja). Pada jaman Mataram istilah Manuk menjadi kata Peksi, sedangkan Gajah menjadi kata Liman dan falsafah tentang keseimbangan dunia dituliskan lagi oleh para pujangga jaman Mataram Paku Buwana dengan falsafah yang kita kenal hingga sekarang Memayu Hayuning Bawana. Di jaman keemasan Paku Buwana IX dan ke X terjadi banyak notasi sebagai kejayaan epigramatik (banyaknya tulisan dari pujangga) yang terulang setelah pada jaman kuno Kediri terkenal nama-nama empu Kanwa, Baradah dlsb...

Keris Kanjeng Kyahi Nogo Manuk Gajahelar, memiliki dasar pikiran sebagai sebuah monumen yang mengingatkan manusia senantiasa harus bertakwa, menjaga jalinan keseimbangan antara

manusia dengan Tuhannya, menjaga jalinan kesimbangan manusia dengan Alam Semesta, serta menjaga jalinan manusia dengan sesama manusia yang di Bali dalam lingkup Hindu adat disebut Tri Hita Karana. Keris dengan nama atau gelar Kanjeng Kyahi Nogo Manuk Gajahelar memiliki prototype tangguh Kediri karena penyertaan sebutan yang ada pada jaman itu, jika keris seperti ini bergaya tangguh setelah jaman Majapahit maka akan lazim disebut Peksi Nogo Liman, seperti yang sering dijumpai pada peninggalan di keraton Cirebon. Kanjeng NYAI Sri Tanjung

KK. Sri Tanjung tangguh Kediri dan KN Sri Tanjung tangguh Kamardikan Keris dengan muatan Epigramatik telah dimunculkan kembali dalam ciptaan tangguh KAMARDIKAN. Mewarnai KONGRES NASIONAL I SNKI. Dijadikan cover buku Keris, Mahakarya Nusantara. Sebelumnya banyak keris yang sengaja untuk mengutarakan tema, dan menjadi media seni seperti memuat dongeng, kisah yang kemudian melegenda serta tulisan kakawin, seperti keris Kanjeng Kyahi Arjuna Wiwaha (tangguh Kediri) yang dihiasi relief tentang Arjuna yang digoda oleh bidadari cantik dalam pertapaannya. Jika pada jaman Kediri pernah dibuat keris Kanjeng Kyahi Sri Tanjung koleksi KRAT. Ali Rahmatdiningrat, kemudian yang sekarang karya Toni Junus menamakannya dengan Kanjeng NYAI Sri Tanjung. Kisah Sri Tanjung telah populer di dunia sastra kuno, memuat sebuah pesan tentang kejujuran,

tekad, kesetiaan dan niat suci. Pesan dari ikon keris Kanjeng Nyai Sri Tanjung perlu dihayati sebagai falsafah dengan nilai-nilai yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan, agar pembangunan dan perjalanan bangsa Indonesia tidak meninggalkan jati diri, Indonesia harus berbangga sebagai bangsa yang memiliki banyak sekali warisan budaya yang bermuatan falsafah, pekerti dan budi luhur. Sekelumit tentang kisah Sri Tanjung saya beberkan agar dapat dimengerti sebagai inspirasi. SRI TANJUNG Cihnane luwih, yan suganda nelikup, Hyang kala wus prapta.... Secuil doa, yang sempat dilantunkan oleh Sri Tanjung kepada dewata. Dalam duduk simpuhnya, perempuan jelita itu menyadari hidupnya tak akan lama. Saat doa ditutup, Sida Paksa, pria yang baru menikahinya, menghunjamkan keris dengan kemarahan membabi-buta. Gending selonding pun riuh rentak. Tubuh Sri Tanjung terkulai. Perlahan sukmanya menghadap ke kahyangan. Tapi pintu tertutup rapat, mungkin saat kematiannya belumlah tiba. Dalam keremangan, muncul Betari Durga, penguasa kematian. Sosoknya membara, pertanda dia hendak mengembalikan kesucian yang telah terenggut. Dengan tirai transparan membalut tubuh Sri Tanjung, Durga meruwat perempuan itu, dan Sri Tanjung kembali hidup. Kisah asmara segitiga antara Sida Paksa (Mahapatih), Sri Tanjung dan Prabu Sulakrama (sang Raja) dalam sastra kuno yang masih berkumandang. Sida Paksa dan Sri Tanjung merupakan dua sejoli yang tengah mabuk kepayang. Ketika Sida Paksa menikahi dan memboyong Sri Tanjung ke kerajaan, muncul petaka. Prabu Sulakrama, sang penguasa, kepincut pada kemolekan Sri Tanjung. Untuk memisahkan Sida Paksa dari Sri Tanjung, sang Raja mengutus Sida Paksa keluar memburu pengacau di belantara. Saat Sida Paksa berangkat kesana, Prabu Sulakrama merayu Sri Tanjung. Namun Sri Tanjung yang setia kepada Sida Paksa, menolak rayuan sang Raja. Nafsu berahi meruap, Sulakrama memerkosa Sri Tanjung. Sang Raja lalu memutarbalikkan kejadian ini. Kepada Sida Paksa yang telah kembali dengan selamat, dia justru menuduh Sri Tanjung merayu dirinya. Sida Paksa lebih percaya kepada sang penguasa ketimbang kepada belahan jiwanya. Tragedi pun terjadi. Sri Tanjung dibunuh oleh Sida Paksa atas keyakinannya bahwa ia telah bersalah mengotori kerajaan. Namun ditengah Sri Tanjung terkulai, darahnya justru menebar semerbak wewangian. (digubah dari artikel Sita P. Aquadini).

Pameran Ragam Hulu Keris dan Peluncuran Buku menjadi warna yang memoles BENTARA BUDAYA JAKARTA yang indah....

Ia memang sudah indah Kemudian ia ditaburi pemandangan hulu-hulu keris yang sangat indah Dari sini kita melihat betapa... Mahakarya seni kita telah ditorehkan oleh leluhur kita dan harus menjadi catatan budaya yang tidak lekang oleh jaman dan modernitas...

Setting pameran oleh Ir. Soegeng Prasetyo S.; Setting pameran ini banyak dipuji oleh pengunjung dan profesional.

Hulu keris Tunggak Semi Putri Kinurung dan hulu Wong-wongan Opsir dari Surakarta

Hulu keris Batara Guru dan Pulasir dari Madura

Hulu keris Punukan dari Palembang dan Ratmaja dari Bali

Hulu keris Pulungan dari Cirebon dan hulu Butha Bajang model Ganan dari Cirebon

Hulu keris dari Lampung merupakan penggambaran burung laut...

Hulu keris Coteng atau disebut Tajong dari Patani - Thailand

- The Beauty of Kris Hilt by Toni Junus - Publishing by Indonesia Kebanggaanku. - From the collection of Aswin Wirjadi

Kerisology
A. APA ITU KERIS? 1. Perkembangan senjata tikam keris Sejarah perkembangan sebuah masyarakat adalah sejarah konflik yang diwarnai dengan perebutan kekuasaaan. Kelompok pemenang perang adalah sebagai pemegang kekuasaan. Kemenangan dalam sebuah pertempuran terletak pada kekuatan pasukan dan senjata yang dimiliki. Semakin maju sebuah kelompok, semakin maju pula teknologi persenjataannya. Evolusi teknologi senjata dari primitive hingga dikenalnya logam berjalan seiring dengan perkembangan masyarakat, dan dari sinilah keris terlahir. Tidak ada catatan sejarah yang pasti kapan pertama kalinya keris tercipta. Indikasinya adalah pertama kali ketika bangsa-bangsa Nusantara mengenal logam besi, keris sebagai senjata tercipta dalam kategori senjata tikam. Tipologi senjata tikam sudah dikenal oleh bangsa Asia sejak jaman perunggu. Senjata tikam sangat praktis digunakan dalam pertempuran jarak dekat (perang campuh) oleh karenanya senjata ini biasanya digunakan dalam perkelahian satu lawan satu, sedang dalam pertempuran sporadic digunakan tombak dengan tangkai yang panjang (landeyan=Bhs. Jawa). Pada peninggalan kebudayaan perunggu, sudah ada jenis-jenis senjata tikam yang berbentuk menyerupai belati. Ada 2 fungsi yang tercatat, yaitu sebagai alat dan sebagai sarana pada upacara-upacara. Bentuk yang disebut belati dalam kebudayaan perunggu Indochina ditemukan pula di Nusantara, mempunyai dua sisi tajam pada bilahnya. Mungkin inilah inspirasi awal dari sebilah keris. Setelah itu, ada sejarah yang terputus dari evolusi senjata tikam jaman perunggu menuju bentuk keris dari logam besi. Bila diurut, evolusi senjata tikam jaman perunggu menuju bentuk keris dari besi, dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain; Pertama, karena adanya penemuan material pada suatu jaman yang berbeda dari senjata tikam perunggu, kedua, adanya teknologi pembuatan yang berbeda basis (yang satu system cor sedang pembuatan keris dengan teknik tempa lipat), ketiga, terjadinya perubahan fungsi social oleh pengaruh hegemoni system kekuasaan kerajaan. Oleh sebab faktor-faktor itu, mengakibatkan adanya keterlibatan proses estetika serta spiritualisasi, dan keempat, menyangkut soal genealogi awal kata Keris, memberi penandaan sudah adanya sebuah kebudayaan (keris) yang dapat berdiri sendiri. 2. Kata Keris. Bukti-bukti arkheologis kata keris sudah ditemukan sejak awal tarikh masehi. Dimana, penyebutan kata keris dapat dibuktikan pada penemuan prasasti-prasasti antara abad VII-IX masehi. Prasasti-prasasti itu antara lain : a. Prasasti Humanding (797 Saka/875M). Berisi penetapan sawah di Humanding sebagai sima (tanah yang seluruh hasilnya dipergunakan untuk biaya operasional dan perawatan bangunan suci) bagi prasada yang terletak di gunung yang. .mas ma 4 wdihan ranga yu 4 wadun 1 rinwas 1 patuk 1 kris 1 lukai 1 twak punukan 1 landuk 1 lingis Terjemahan : Emas 4 ma pola rangga 4 yu, sebilah wedung, sebilah kapak penebang kayu, sebilah beliung, sebilah keris, sebilah parang, sebuah parang dengan kapak dibelakang bilahnya, sebuah cangkul dan sebuah linggis. b. Prasasti Tukmas (748 Saka/842 M). Isinya tak jauh berbeda dengan Prasasti Humanding mengenai sesajian untuk menetapkan Poh sebagai sima. c. Prasasti Rukam (829 Saka/907 M). Berisi pengelompokan peralatan dan senjata yang terbuat dari besi. .wsi-wsi prakara, wadung, rinwas, patuk-patuk, lukai, tampilan, linggis, tatah, wangkiul, keris, gulumi, kerumbhagi, pamaja, kampi, dom. Terjemahan : Segala keperluan yang dibuat dari besi berupa kapak, kapak perimbas, beliung, sabit tampilan, linggis, pahat, mata bajak, keris, tombak, pisau, ketam, kampit, jarum. Kata keris, kris, cress ataupun kres telah lama popular dan sering disebut-sebut oleh penulis asing sejak sekitar abad 17-19, seperti diantaranya dalam buku History of Java karya Thomas Stamford Raffles, 1817. Dalam perkembangannya, terutama di Jawa karena adanya perlakuan istimewa terhadap keris maka keris dianggap sacral sehingga muncul istilah besi aji, wesi aji dan tosan aji. Diantara kata itu, yang terpopuler pada masyarakat local adalah sebutan tosan aji. Kata tosan

aji dianggap resmi sebagai bahasa Indonesia setelah termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbit pertama 28 Oktober 1988 saat pembukaan kongres ke-V Bahasa Indonesia. Sejak itu kamus tersebut telah menjadi sumber rujukan yang dipercaya oleh kalangan pengguna bahasa di dalam maupun di luar negeri. Kata tosan aji memiliki pengertian yang lebih luas jika dibandingkan dengan kata keris/kris/cress/kres yang lebih spesifik. Kata tosan aji memiliki pengertian untuk menyebut senjata atau benda perkakas yang terbuat dari besi (tosan=besi; bhs.Jw), dan bukan merupakan suatu kelompok yang bersifat gradual (bertingkat). Arti kata aji (bhs. Jawa) dalam lingkup keris artinya benda berharga sakral sebagai piandel (benda keyakinan), ajimat, pusaka temurun. Sedangkan kata tosan aji untuk menyebut kelompok benda-benda, perkakas dan senjata yang terbuat dari besi dengan teknik tempa yang sama, tetapi sebenarnya bukan termasuk dalam kategori aji (aji-aji = disakralkan). Benda-benda itu; misalkan pacul, petel, arit, godam, lingis dan perkakas lainnya memang memiliki kesamaan, dibuat dengan teknik tempa lipat namun bukan sebagai benda yang disakralkan dan tidaklah setingkat nilai budayanya dengan keris. Maka dari itu Kerisologi lebih mendalami hal-hal mengenai keris. Bila tidak ada catatan pasti tentang kapan keris pertama kali tercipta, maka sebagai ilustrasi awal bisa diperkirakan tercipta seiring dengan adanya bangunan batu tertua yang ditemukan dalam bentuk relief ataupun arca. Seperti adanya candi, prasasti, arca dan adapun yang terbuat dari batu. Perunggu tidak mungkin digunakan untuk mengerjakan karya batu, digunakanlah alat-alat dan besi, misalnya pahat besi. Penggunaan alat-alat dari besi, mengindikasikan bahwa senjata yang digunakan masyarakat pada waktu itu juga sudah terbuat dari besi. Artinya, kemungkinan keris telah diciptakan pada periode ini.

Nama keris Kanjeng Kyahi Katiban adalah hasil eksperimen Toni Junus, 2009

3. Pamor, Meteor dan Warangan Rancangan bangun keris umumnya berbeda dengan belati yang tegak lurus terhadap pegangannya atau hulunya. Bilah keris hamper rata-rata selalu condong (miring) terhadap pegangannya atau hulunya dan bidangnya selalu asimetri. Kecondongannya hingga 20-30 derajat atau berdiri dalam posisi tidak mutlak tegak lurus. Inilah bukti adanya evolusi progresif dari keris. Walau tetap sebagai senjata tikam, namun secara kualitas lebih maju dari senajta tikam jaman perunggu/belati. Empu dan pandai besi dimasa lalu telah menggunakan teori ergonomicdinamik. Senjata tikam yang memiliki kemiringan tertentu (condong) akan memiliki daya rusak yang lebih hebat dibandingkan dengan senjata tikam yang tegak lurus. Luka yang dihasilkan dari tusukan keris menjadi lebar karena bentuknya yang condong, begitu pula dengan momentum serta daya yang dihasilkan akan menjadi besar pula, sehingga si penusuk tidak perlu menggunakan tenaga penuh. Keris yang bagus sesuai fungsinya sebagai senjata adalah tidak mudah patah atau bengkok. Ini juga merupakan hasil evolusi-progresif dari Empu dan para pande besi. Mereka melakukan mixing atas berbagai jenis logam, setidaknya besi, baja dan logam lain. Sadar akan kelemahan masing-masing logam, maka dibuat percobaan mencampur berbagai jenis logam untuk menghasilkan senjata yang unggul dari sisi material. Baja yang keras, tajam, namun getas (mudah patah), diapit oleh logam lain yang lentur (seperti lapisan besi lunak dan nikel) untuk menutupi kelemahan baja yang keras dan mudah patah tersebut. Karena susunan berlapis itu keris memiliki keistimewaan lain, lapisan besi lunak dan nikel menimbulkan konfigurasi yang

indah dan itulah yang disebut pamor. Kata pamor berasal dari bahasa Jawa amor atau diwor yang artinya dicampur atau disatukan. Awalnya motif pamor tidak beraturan, tidak kontras dan muncul tanpa disengaja. Garisgaris itu merupakan layer baru akibat adanya proses over-reaktif antara dua lapis bahan yang tidak murni yang terkena bara api dan pukulan. Layer itu memiliki lapisan grafis disebut pamor sanak dan kemudian menjadi seni tersendiri. Oleh keadaan itu muncul ide dan metode mengatur terjadinya alur lapisan grafis (pamor sanak) dengan cara penambahan nikel atau logam yang lain. Beberapa bahan besi (heterogen) yang digunakan sering pula setelah diwarangi membentuk nuansa samar-samar keputihan tidak berupa alur yang jelas, lebih melebar seperti awan di langit disebut pamor ngapuk (dari kata kapuk = kapas; bhs.Jw). Catatan-catatan etnografis masa lalu menunjukan bahwa empu keris atau pande besi secara khusus memiliki kedudukan penting dalam masyarakat karena dianggap memiliki kesaktian dan tidak sembarangan atau setiap orang dapat menjadi empu. Oleh karena itu sangat menarik bahwa, seperti disebutkan di dalam kitab Slokantara, pande besi termasuk salah satu golongan masyarakat candala. Tempat pembuatan benda-benda logam pada abad ke 9 di sebut gusalyan dari istilah paryyen (jawa kuno) berubah menjadi paron. Tempat-tempat tersebut dianggap sacral karena memiliki aspek simbolik religius dimana paron (landasan tempa) adalah lambang bumi dan palu merupakan jatuhnya bahan besi (meteor) yang ditumbukkan, sebagai lambang terrestrial dan celestial yaitu simbolik dari persatuan bapa akasa dan ibu bumi. Artinya dalam pengertian ini adalah, bahwa selain fungsi teknomik dan sosioteknik, keris juga dianggap sebagai benda sacral yang dihasilkan dari pemahaman religius tentang manunggaling kawulo gusti. (kutipan dari makalah Prof. Dr. Timbul Haryono). Penyatuan material logam meteorit tersebut pada keris dianggap sebagai keterwakilan adanya kekuatan yang dahsyat. Penyatuan material logam meteorit tersebut pada keris dianggap sebagai keterwakilan adanya kekuatan yang dahsyat. The unity of the metal from the meteorite on keris represented an enormous power. Penggunaan logam meteorit itu memang dilakukan secara sengaja terutama ketika proses spiritual yang mengiringi penciptaan para Empu ikut memberikan aksentuasi, yaitu adanya kepercayaan manusia yang berdasar pada filosofi manunggaling kawula Gusti tersebut. Kemudian penyatuan material logam meteorit tersebut pada keris dianggap sebagai keterwakilan adanya kekuatan yang dahsyat. Kini, kepercayaan terhadap kekuatan yang ada pada keris itu memperkuat eksistensi keris, dengan sebutan adanya tuah, khasiat, yoni, daya magis, dlsb. Hasil ciptaan konfigurasi grafis dari lapisan pamor (meteorit) kemudian memiliki sebuah nilai estetika tersendiri apalagi setelah proses warangan. Dari beberapa sumber diketahui warangan adalah senyawa kimia arsenic As2S3 dibawa berasal dari daratan Indochina. Warangan (bie-soan; bhs. Cina) sering dipergunakan sebagai obat atau bahan ramuan untuk menyembuhkan luka dan mengurangi rasa sakit akibat asam lambung. Para tabib (shines) di daratan Indochina sering mengobati pasien ambeien dengan mengoles serbuk warangan. Selain itu warangan muda yang ditumbuk (digerus) dan diaduk dengan air 1 sendok teh, ditelan untuk menyembuhkan sakit maag, cara kerja dalam proses penyembuhannya hampir mirip dengan strocain pada obat-obatan modern.

Warangan atau kristal senyawa As2S3

Warangan atau kristal senyawa As2S3 Arsenic chemical (As2S3) Warangan yang dicampur asam citrate akan bereaksi sebagai senyawa kimiawi anti korosi pada besi. Senjata tua dari belahan Asia seperti Pokiam (pedang China) dibasuh warangan agar tidak berkarat. Transfer teknologi tentang asal-usul penggunaan anti korosi dengan warangan pada para Empu memang tidak pernah diketahui dengan pasti, apakah berasal dari China atau memang para Empu Nusantara jaman dahulu yang menemukannya. Selanjutnya, terjadinya pemahaman nilai yang kompleks dalam bentuk akulturisasi dan sinkretisasi kepercayaan ke-Tuhanan mengangkat keris untuk diagungkan. Maka, di wilayah Nusantara terutama di Jawa dikenal adanya tradisi jamasan pusaka atau membersihkan pusaka, biasanya dilaksanakan pada bulan Maulud atau bulan Suro. Jadi, dapat dirunut dan disimpulkan tujuan mewarangi keris awalnya adalah proses teknis untuk anti karat, yang berkembang menjadi media estetika (seni pada konfigurasi pamor) dan seterusnya kemudian berkembang pula adanya sebuah tradisi atau upacara. Hal ini karena keris mengalami pergeseran nilai dari sebuah senjata teknomik sosioteknik ideologis, menjurus sebagai benda khusus yang disakralkan, di-agungkan bahkan menjadi benda yang dipercaya sebagai jimat, maka sekarang eksistensi keris dapat dianggap sebagai benda budaya. Benda yang perjalanannya tak lepas dari sentuhan aspek sosiologis - etnografis, menjadi warisan budaya. Untuk menampakkan alur pamor itu keris direndam cairan warangan (campuran kimia arsenic As2S3 dengan asam dari jeruk nipis C3H4OH). Cairan warangan yang sudah bereaksi dengan asam akan melindungi besi dari korosi, dan merubah warnanya menjadi kehitaman. Sehingga alur pamor akan lebih tampak dengan tampilan putih keabu-abuan karena jenis unsur logam bahan pamor seperti unsur Nikel, Zink, Paspor, Allumunium yang terkandung tidak bereaksi terhadap warangan dan tidak berubah warnanya. Sedang besi akan menjadi hitam. Sehingga alur pamor akan lebih tampak kontras bisa dibedakan oleh penglihatan.

4. Rancangan bangun : Ada beberapa kesamaan yang mendasar pada bentuk keris yang tersebar di wilayah Nusantara (mantan wilayah kekuasaan Majapahit). Walaupun berbeda ukuran maupun berbeda bahannya, namun banyak diamati adanya ciri-ciri yang cukup untuk membuat definisi apa itu keris ditinjau dari bentuk dan ciri-cirinya : a. Ciri umum bentuk keris Bentuk keris tidak pernah ditemui kesamaannya dengan senjata logam lainnya di luar Nusantara, kompleksitas bentuknya yang spesifik dan asimetri bisa diamati pada : 1. Lebar pada bagian pangkal (disebut sor-soran; bagian ngisor = bawah, Bhs. Jawa) keujung bilahnya menyempit 2. Tebal pada bagian pangkal (sor-soran) kemudian keatas menipis. 3. Mempunyai sudut kemiringan (disebut condong leleh, bhs. Jawa) 4. Bagian sisi pinggir bilah (kiri dan kanan) mempunyai dua sisi yang tajam. 5. Adanya kesamaan bentuk pada bagian depan (side A) maupun bagian sebaliknya (side B) walaupun ada pula yang berbeda disebut dapur Tangkis. 6. bila keris ada yang berlekuk (disebut luk = meliuk) dan ada yang lurus. 7. luk selalu berakhir pada hitungan angka ganjil. b. Pembagian bilah : Ciri keris juga ditentukan adanya 3 pembagian pada bilah yang disebut : 1. Pesi atau tangkai bilah yang berfungsi sebagai pegangan hulu keris 2. Gonjo adalah bagian yang berfungsi sebagai penahan bilah ketika hulu keris dipegang tangan dan ditikamkan. 3. Bilah (wilayah; Bhs Jw.) adalah bagian tajam keris yang dibawahnya terbentuk sebuah bidang yang sering dibuat variasi senirupa oleh para empu dengan sebutan sogokan, greneng, kembang kacang dlsb.

c. Material mata bilah : Jika diteliti umumnya ditentukan adanya 3 pembagian pada bilah yang disebut : 1. Material pengapit adalah besi lunak (Fe) dan nikel (Ni) yang heterogen. Lapisan ini berfungsi sebagai bahan penahan kegetasan baja agar tak mudah patah, yang disebut lapisan pamor. Penambahan pamor sering dengan bahan iron meteorite karena meteorite mengandung 6-7% Nikel. Selain itu unsur Silikatnya (Si) akan membantu sebagai pengeras.

2. Bagian tengah yang diapit pamor disebut slorok atau ati. Kataslorok (bhs. Jw) artinya suatu diselipkan di tengah terjepit atau yang disorongkan di tengah. Bagian tengah yang diapit pamor disebut slorok atau baja ati. The middle part covered by pamor is called slorok or steel. Melipat-lipat lempengan besi. Folding the iron plague. Munculnya lapisan yang disebut Pamor. Pamor layer appears.

Bagian tengah yang diapit pamor disebut slorok atau baja ati.

Melipat-lipat lempengan besi.

Munculnya lapisan yang disebut Pamor. d. Tehnik pembuatan bilah : Seperti diutarakan diatas, pembuatan keris bukan dalam katagori teknik cor, melainkan dengan teknik ditempa dan dilipat (selanjutnya ditulis tempat lipat) yang dilakukan dalam

keadaan panas (bara), dipukul dipanjangkan dengan kemudian dilipat-lipat. Selanjutnya dibentuk dengan pahat, kikir dan grinda. e. Sarung dan hulunya : 1. Bagian pembungkus pesi keris yang sering dibuat bentuk hulu (pegangan) sering ditambah cincin penghias (ring) yang disebut mendak. Bentuk hulu keris sering dipahat seperti arca kecil sebagai penghias keris secara keseluruhan. 2. Sarung keris atau warangka biasanya terbuat dari kayu pilihan, atau gading, bahkan bahan lain seperti bahan tanduk. Bentuk warangka keris sangat beraneka ragam sesuai wilayah di Nusantara. Bentuk warangka itu dihasilkan oleh para pengrajin warangka dari sejak jaman dahulu, dengan patron atau blad, bentuknya spesifik sesuai dengan kerajaan masing-masing dimana pembuatan itu keris berada. Pengrajin warangka disebut mranggi (bhs. Jawa) Warangka, karena untuk suatu kebesarannya, terutama karena kemartabatan pemilik keris, serta karena kedudukan dan kepangkatannya maka sering warangka itu dibalut dengan bahan perak atau emas yang diukir indah. Empu KRT. Subandi Suponingrat dalam pameran di Taman Ismail Marjuki Jakarta (2009).

Teks KRISOLOGY Diprakarsai oleh media khusus tosanaji PAMOR Krisologi1 merupakan Bunga Rampai disunting oleh Toni Junus, tulisan dari para partisipan a.l. : Drs. Budi Hermawan, MM.; A. Ardiasto SH.; Ady Sulystiono S.Sos.; H.M. Arief Syaifuddin Huda. Kontributor : Empu KRT. Subandi Suponingrat, AA. Waisnawa Putra; M. Bakrin; Benny Sadar; Ir. Soegeng Prasetyo S.; Soewarso; Yakun Sunar; RT. Cahyo Suryodipuro; lIham Triadi; Herman Banyuwangi; Ashari B.SE.

Dengan panduan Kriteria Penilaian yang telah disepakati bersama, sebagai pedoman yang juga harus dimengerti dan ditaati oleh para peserta. Kriteria Penilaian tidak melakukan penggolongan, jenis, gaya, bahan, dari sebuah karya melainkan lebih mengutamakan pada suatu pencapaian hasil yang maksimal dari sebuah karya seni itu sendiri (Nilai Estetika). Berikut penilaiannya adalah :

Syarat penilaian adalah untuk bilah keris, warangka dan hulu keris harus karya baru/Kamardikan (bukan hulu kuno atau warangka randan/bekas).