Anda di halaman 1dari 13

PEMERIKSAAN SPUTUM dan ANALISA GAS DARAH Bab 1 Pemeriksaan Sputum

1.1 Pengertian Sputum Sputum (dahak) adalah bahan yang dikeluarkan dari paru dan trakea melalui mulut Biasanya juga disebut dengan ecpectoratorian (Dorland, 1992). Sputum, dahak, atau riak adalah sekret yang dibatukkan dan berasal dari tenggorokan, hidung atau mulut. Perbedaan ini hendaknya dijelaskan kepada pasien yang dahaknya akan diperiksa. Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi sumber, warna, volume, dan konsistennya karena kondisi sputum biasanya memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan sputum itu sendiri. Pemeriksaan sputum diperlukan jika diduga terdapat penyakit paru-paru. Membran mukosa saluran pernafasan berespons terhadap inflamasi dengan meningkatkan keluaran sekresi yang sering mengandung mikroorganisme penyebab penyakit. Sputum berbeda dengan sputum yang bercampur dengan air liur. Cairan sputum lebih kental dan tidak terdapat gelembung busa di atasnya, sedangkan cairan sputum yang bercampur air liur encer dan terdapat gelembung busa di atasnya. Sputum diambil dari saluran nafas bagian bawah sedangkan sputum yang bercampur air liur diambil dari tenggorokan.

1.2 Jenis Pemeriksaan Sputum 1) Pewarna gram :

Pemeriksaaan dengan pewarnaan gram dapat memberikan informasi tentang jenis mikroorganisme untuk menegakkan diagnosis presumatif. 2) Kultur Sputum :

Pemeriksaan kultur sputum dilakukan untuk mengidentifikasi organisme spesifik guna menegakkan diagnosis definitif. 3) Sensitivitas :

Pemeriksaan sensitivitas berfungsi sebagai pedoman terapi antibiotik dengan mengidentifikasi antibiotik yang mencegah pertumbuhan organisme yang terdapat dalam sputum. 4) Basil tahan asam (BTA) :

Pemeriksaan BTA dilakukan untuk menentukan adanya Mycobacterium tuberculosa, yang setelah dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh alkohol asam 5) Sitologi :

Pemeriksaan sitologi ditujukan untuk mengidentifikasi adanya keganasan (karsinoma) pada paru-paru. Sputum mengandung runtuhan sel dari percabangan trakheobronkhial; sehingga mungkin saja terdapat sel-sel malignan. Sel-sel malignan menunjukkan adanya karsinoma, tidak terdapatnya sel ini bukan berarti tidak adanya tumor atau tumor yang terdapat tidak meruntuhkan sel. 6) Tes Kuantitatif :

Pengumpulan sputum selama 24 sampai 72 jam. Pemeriksaan kualitatif harus sering dilakukan untuk menentukan apakah sekresi merupakan saliva, lendir, pus, atau bukan. Jika bahan yang diekspektorat berwarna kuning-hijau biasanya menandakan infeksi parenkim paru (pneumonia). Untuk pemeriksaan kualitatif, klien diberikan wadah khusus untuk mengeluarkan sekret. Wadah ini ditimbang pada akhir 24 jam. Jumlah serta karakter isinya dicatat dan diuraikan. 1.3 Manfaat Pemeriksaan Sputum Pemeriksaan sputum bersifat mikroskopik dan penting untuk diagnosis etiologi berbagai penyakit pernapasan. Pemeriksaan mikroskopik dapat menjelaskan organism penyebab penyakit pada berbagai pneumonia bacterial, tuberkulosa, serta berbagai jenis infeksi jamur. Pemeriksaan sitologi eksfoliatif pada sputum dapat membantu diagnosis karsinoma paru-paru. Sputum dikumpulkan untuk pemeriksaan dalam mengidentifikasi organisme patogenik dan menentukan apakah terdapat sel-sel malignan atau tidak. Aktifitas ini juga digunakan untuk menkaji sensitivitas (di mana terdapat peningkatan eosinofil). Pemeriksaan sputum secara periodik mungkin diperlukan untuk klien yang mendapat antibiotik, kortikosteroid, dan medikasi imunosupresif dalam jangka panjang, karena preparat ini dapat menimbulkan infeksi oportunistik. Secara umum, kultur sputum digunakan dalam mendiagnosis untuk pemeriksaan sensitivitas obat dan sebagai pedoman pengobatan. Jika sputum tidak dapat keluar secara spontan, klien sering dirangsang untuk batuk dalam dengan menghirupkan aerosol salin yang sangat jenuh, glikol propilen yang mengiritasi, atau agen lainnya yang diberikan dengan nebulizer ultrasonic. 1.4 Cara Pemeriksaan Sputum 1) Perlengkapan Wadah specimen steril dengan penutup, Sarung tangan disposable (bila membantu klien), Disinfektan dan alat pengusap, atau sabun cair dan air, Handuk kertas, Label yang berisi lengkap, Slip permintaan laboratorium yang terisi lengkap, Obat kumur. 2) Persiapan Tentukan metode pengumpulan dan kumpulkan peralatan yang sesuai. 3) Pelaksanaan

Jelaskan kepada klien apa yang akan Anda lakukan, mengapa hal tersebut perlu dilakukan dan bagaimana klien dapat bekerja sama. Diskusikan bagaimana hasilnya akan digunakan untuk perawatan atau terapi selanjutnya. Berikan informasi dan instruksi berikut pada klien: a) Tujuan pemeriksaan, perbedaan antara sputum dan saliva, dan cara mendapatkan sputum, b) Jangan menyentuh bagaian dalam wadah specimen, c) Untuk mengeluarkan sputumlangsung ke dalam wadah sputum, d) Untuk menjaga bagian luar wadah tidak terkena sputum, bila memungkinkan, e) Cara memeluk bantal secara kuat pada insisi abdomen bila klien merasa nyeri f) Jumlah sputum yang diperlukan (biasanya 1-2 sendok the (5-10 ml) sputum cukup g) Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi lain yang sesuai. 2. Berikan privasi klien. 3. Berikan bantuan yang diperlukan untuk mengumpulkan specimen. a) Bantu klien mengambil posisi berdiri atau duduk (mis., posisi Fowler-tinggi atau- semi atau pada tepi tempat tidur atau kursi). Posisi ini memungkinkan ventilasi dan ekspansi paru yang maksimum. b) Minta klien untuk memegang bagian luar wadah sputum, atau, untuk klien yang tidak dapat melakukannya, pasang sarung tangan dan pegang bagian luar wadah tersebut untuk klien. c) Minta klien untuk bernapas dalam dan kemudian membatukan sekresi. Inhalasi yang dalam memberikan udara yang cukup untuk mendorong sekresi keluar dari jalan udara ke dalam faring. d) Pegang wadah sputum sehingga klien dapat mengeluarkan sputum ke dalamnya, pastikan sputum tidak kontak dengan bagian luar wadah. Memasukan sputum ke dalam wadah akan mencegah penyebaran mikroorganisme ke tempat lain. e) Bantu klien untuk mengulang batuksampai terkumpul jumlah sputum yang cukup. f) Tutup wadah segera setelah sputum berada di dalam wadah. Menutup wadah akan mencegah penyebaran mikroorganisme secara tidak sengaja ke tempat lain. g) Bila sputum mengenai bagian luar wadah, bersihkan bagian luar dengan disinfektan. Beberapa institusi menganjurkan untuk membersihkan seluruh bagian luar wadah dengan sabun cair dan air dan kemudian mengeringkannya dengan handuk kertas. h) Lepas dan buang sraung tangan. 4. Pastikan klien merasa nyaman. a) Bantu klien untuk membersihkan mulutnya dengan obat kumur, bila dibutuhkan. b) Bantu klien mengambil posisi nyaman yang memungkinkan ekspansi paru secara maksimal, bila diperlukan. saat batuk, analisis), spesimen

5. Beri label dan bawa spesimen ke laboratorium. a) Patikan informasi yang benar tertulis pada label dan slip permintaan laboratorium. Tempelkan label dan lampirkan perimintaan laboratorium pada wadah spesimen. Identifikasi dan/atau informasi yang tidak akurat pada wadah spesimen dapat membuat kesalahan diagnosis atau terapi. b) Atur agar specimen dikirim segera ke laboratorium atau di dinginkan. Kultur bakteri harus segera dimulai sebelum organisme yang mengkontaminasi tumbuh dan berkembang baik sehingga memberikan hasil positif palsu. 6. Dokumentasikan semua informasi yang relevan. a. Dokumentasikan pengumpulan spesimen sputum pada catatan klien. Pendokumentasian meliputi jumlah, warna, konsistensi (kental, lengket, atau encer), adanya hemoptisis (darah pada sputum), bau sputum, tibdakan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan sputum (mis., drainase postural), jumlah sputum yang dihasilkan secara umum, adanya ketidaknyamanan yang dialami klien.

1.5 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Pemeriksaan Sputum Pengambilan sputum sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dimana kemungkinan untuk mendapat sputum bagian dalam lebih besar. Atau juga bisa diambil sputum sewaktu. Waktu yang diperlukan untuk pengambilan sputum adalah 3 kali pengambilan sputum dalam 2 kali kunjungan, yaitu Sputum sewaktu (S), yaitu ketika penderita pertama kali datang; Sputum pagi (P) , keesokan harinya ketika penderita datang lagi dengan membawa sputum pagi ( sputum pertama setelah bangun tidur), Sputum sewaktu (S), yaitu saat penderita tiba di laboratorium, penderita diminta mengeluarkan sputumnya lagi. Pengambilan sputum pada pasien tidak boleh menyikat gigi. Agar sputum mudah dikeluarkan, dianjurkan pasien mengonsumsi air yang banyak pada malam sebelum pengambilan sputum. Sebelum mengeluarkan sputum, pasien disuruh untuk berkumur-kumur dengan air dan pasien harus melepas gigi palsu (bila ada). Sputum diambil dari batukkan pertama (first cough). Cara membatukkan sputum dengan Tarik nafas dalam dan kuat (dengan pernafasan dada) batukkan kuat sputum dari bronkus trakea mulut wadah penampung. Wadah penampung berupa pot steril bermulut besar dan berpenutup (Screw Cap Medium). Periksa sputum yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukkan adalah air liur/saliva, maka pasien harus mengulangi membatukkan sputum. Sebaiknya, pilih sputum yang mengandung unsur-unsur khusus seperti : darah dan unsur-unsur lain. Bila sputum susah keluarkan lakukan perawatan mulut Perawatan mulut dilakukan dengan obat glyseril guayakolat (expectorant) 200 mg atau dengan mengonsumsi air teh manis saat malam sebelum pengambilan sputum. Tehnik Lain Untuk Mengeluarkan Sputum : Bila sputum juga tidak bisa didahakkan, sputum dapat diambil secara: a. Aspirasi transtracheal (transtracheal aspirasi atau cuci transtracheal).

Teknik untuk mengumpulkan sampel dari eksudat bronkial untuk pemeriksaan histologis dan mikrobiologi. Sebuah jarum dimasukkan melalui kulit di atasnya trakea dan melalui ligamentum

krikotiroid. Sebuah kateter dimasukkan ke dalam trakea dan diteruskan ke tingkat bifurkasi trakea. Indikasi : Injeksi Transtracheal dilakukan untuk memblokir saraf laring berulang untuk laringoskopi terjaga, serat optik dan atau intubasi retrograd. Penghapusan tanggapan gag refleks atau hemodinamik untuk laringoskopi atau bronkoskopi. Digunakan untuk membantu menghindari Valsava seperti tegang yang dapat mengikuti yang lain "terjaga" intubasi (pasien dibius dan ventilasi spontan). b. Bronchial lavage (Bronchoalveolar lavage)

Bronchoalveolar lavage (BAL) merupakan prosedur medis dimana bronkoskop dilewatkan melalui mulut atau hidung ke paru-paru dan cairan yang disemprotkan ke bagian kecil dari paru-paru. Biasanya dilakukan untuk mendiagnosa penyakit paru- paru. Secara khusus, umumnya digunakan untuk mendiagnosa infeksi pada orang dengan masalah sistem kekebalan tubuh, pneumonia pada orang pada ventilator, beberapa jenis kanker paru-paru, dan jaringan parut pada paru-paru (penyakit paru interstitial). cara paling umum untuk sampel komponen cairan lapisan epitel (ELF) dan untuk menentukan komposisi protein saluran udara paru, dan sering digunakan dalam penelitian imunologi sebagai sarana sel sampling atau tingkat patogen di paru-paru. Contoh ini termasuk sel T dan tingkat populasi virus influenza. c. Lung biopsy Biopsi paru adalah prosedur untuk mendapatkan sampel kecil jaringan paru-paru untuk pemeriksaan. Jaringan biasanya diperiksa di bawah mikroskop, dan dapat dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk kultur. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan oleh ahli patologi. Biopsi adalah pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan jaringan tersebut bertujuan untuk mendeteksi adanya penyakit atau mencocokkan jaringan organ sebelum melakukan transplantasi organ. Resiko yang dapat ditimpulkan oleh kesalahan proses biopsi adalah infeksi dan pendarahan. Jaringan yang akan diambil untuk biopsi dapat berasal dari bagian tubuh manapun, di antaranya kulit, perut, ginjal, hati , dan paruparu. 1.6 Interpretasi Pemeriksaan Sputum Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi sumber, warna, volume, dan konsistensinya karena kondisi sputum biasanya memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan sputum itu sendiri. Klasifikasi bentukan sputum dan kemungkinan penyebabnya : 1) Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan, kemungkinan berasal dari sinus, atau saluran hidung, bukan berasal dari saluran napas bagian bawah. 2) Sputum banyak sekali&purulen proses supuratif (eg. Abses paru) 3) Sputum yg terbentuk perlahan&terus meningkat tanda bronkhitis/ bronkhiektasis 4) Sputum kekuning-kuningan proses infeksi. 5) Sputum hijau proses penimbunan nanah. Warna hijau ini dikarenakan adanya verdoperoksidase yg dihasikan oleh PMN dalam sputum. Sputum hijau ini sering ditemukan pada penderita bronkhiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkus yang melebar dan terinfeksi.

6) Sputum merah muda&berbusa tanda edema paru akut. 7) Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih tanda bronkitis kronik. 8) Sputum berbau busuk tanda abses paru/ bronkhiektasis.

Sedangkan bagi interpretasi untuk penyakit TBC, berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi atas: a. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah: a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif b) Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif c) Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif b. Tuberkulosis paru BTA (-) a) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif b) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M. tuberculosis positif 1.7 Peran Perawat dalam Pemeriksaan Sputum Perawat mempunyai kontribusi dalam pengkajian status kesehatan klien dengan mengumpulkan specimen cairan tubuh. Semua klien rawat inap menjalani paling sedikit satu kali pengumpulan spesimen laboratorium selama dirawat di fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan laboraorium pada spesimen seperti urine, darah, feses, sputum, dan drainase luka memberikan informasi tambahan yang penting untuk mendiagnosis masalah kesehatan dan mengukur respons terhadap terapi. Perawat sering diberikan tanggung jawab untuk mengumpulkan specimen. Bergantung pada jenis specimen dan ketrampilan yang diperlukan, perawat dapat mendelegasikan tugas ini kepada UAP dibawah pengawasan perawat professional. Tanggung jawab perawat dalam pengumpulan spesimen meliputi hal-hal dibawah ini: 1) Berikan kenyamanan, privasi, dan keamanan bagi klien. Klien mungkin merasa malu atau tidak nyaman saat pengambilan spesimen. Perawat harus menjaga privasi klien semaksimal mungkin dan menangani specimen secara terpisah. Perawat tidak boleh menghakimi dan sensitive terhadap kemungkinan kepercayaan social dan budaya yang dapat memengaruhi keinginan klien untuk berpartisipasi dalam pengumpulan spesimen. 2) Jelaskan tujuan pengumpulan spesimen dan prosedur pengambilan specimen. Klien mungkin cemas terhadap prosedur, terutama bila dirasakan oleh klien sebagai gangguan atau klien takut terhadap hasil pemeriksaan yang belum diketahuinya. Keterangan yang jelas akan membuat klien mau bekerja sama dalam pengumpulan specimen. Dengan intruksi yang tepat, banyak klien yang mampu mengumpulkan spesimen mereka sendiri, yang meningkatkan kemandirian dan mengurangi atau menghindari rasa malu.

3) Gunakan prosedur yang benar untuk mendapatkan specimen atau pastikan klien atau staf mengikuti prosedur yang benar. Teknik aseptik digunakan dalam mengumpulkan specimen untuk mencegah kontaminasi, yang dapat menyebabkan hasil tes tidak akurat. Prosedur keperawatan atau petunjuk laboratorium sering tersedia bila perawat tidak terbiasa dengan prosedur tersebut. Bila ada pertanyaan tentang prosedur, perawat dapat menghubungi petugas laboratorium untuk mendapatkan pengarahan sebelum mengumpulkan specimen. 4) Perhatian informasi yang relevan pada slip permintaan laboratorium, contohnya, pengobatan yang sedang digunakan klien yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan. 5) Bawa spesimen ke laboratorium dengan segera. Spesimen yang segar memberikan hasil yang lebih akurat 6) Laporkan hasil pemeriksaan laboratorium yang abnormal kepada tenaga kesehatan pada waktunya sesuai dengan tingkat kelaparan hasil abnormal

Bab 2 Analisa Gas Darah 2.1 Pengertian Analisa gas darah adalah salah satu tindakan pemeriksaan laboratorium yang ditujukan ketika dibutuhkan informasi yang berhubungan dengan keseimbangan asam basa pasien (Wilson, 1999). Hal ini berhubungan untuk mengetahui keseimbangan asam basa tubuh yang dikontrol melalui tiga mekanisme, yaitu system buffer, sistem respiratori, dan sistem renal (Wilson, 1999). Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan ASTRUP,yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri.

2.2 Manfaat Pemeriksaan Analisa Gas Darah Analisa gas darah merupakan salah satu alat diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk mengetahui status oksigenasi dan keseimbangan asam basanya. Manfaat dari pemeriksaan analisa gas darah tersebut bergantung pada kemampuan dokter untuk menginterpretasi hasilnya secara tepat. Pemahaman yang mendalam tentang fisiologi asam basa memiliki peran yang sama pentingnya dengan pemahaman terhadap fisiologi jantung dan paru pada pasien-pasien kritis. Telah banyak perkembangan dalam pemahaman fisiologi asam basa, baik dalam suatu larutan maupun dalam tubuh manusia. Pendekatan tradisional dalam menganalisa kelainan asam basa adalah dengan menitik beratkan pada rasio antara bikarbonat dan karbondioksida, namun cara tersebut memiliki beberapa kelemahan. Saat ini terdapat pendekatan yang sudah lebih diterima yaitu dengan pendekatan Stewart, dimana pH dapat dipengaruhi secara independent oleh tiga faktor, yaitu strong ion difference (SID), tekanan parsial CO2, dan total konsentrasi asam lemah yang terkandung dalam plasma. Kelainan asam basa merupakan kejadian yang sering terjadi pada pasien-pasien kritis. Namun, pendekatan dengan metode sederhana tidak dapat memberikan gambaran mengenai prognosis pasien. Pendekatan dengan metode Stewart dapat menganalisa lebih tepat dibandingkan dengan metode sederhana untuk membantu dokter dalam menyimpulkan outcome pasien.

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi oksigenasi sel atau jaringan adalah jumlah oksigen yang terkandung dalam darah. Tekanan gas darah tersebut dapat diukur dengan menganalisa darah arteri secara langsung atau melalui pulse oksimetri dengan melihat saturasi hemoglobin. Analisa gas darah (AGD) telah banyak digunakan untuk mengukur pH, PaO2, dan PCO2. Akan tetapi, makna dari hasil pengukuran tersebut tergantung pada kemampuan dokter untuk menginterpretasikannya. AGD biasanya diambil dari arteri radialis, meskipun dapat juga dari arteri lainnya seperti arteri femoralis. Pengambilan darah arteri dapat berakibat spasme, kloting intralumen, perdarahan, dan hematoma yang pada akhirnya akan menimbulkan obstruksi arteri bagian distal. Hal ini tidak terjadi jika arteri yang ditusuk memiliki kolateral yang cukup. Arteri radialis lebih dipilih karena memiliki cukup kolateral untuk menghindari terjadinya obstruksi dibandingkan dengan arteri brakhialis atau femoralis. Selain itu, letak arteri radialis lebih superfisial, mudah diraba dan difiksasi. Darah arteri diambil sebanyak 3 ml pada spuit yang sebelumnya telah diberikan heparin 0,2 ml. Sampel darah yang telah diambil harus terbebas dari gelembung udara dan dianalisa secepatnya. Hal ini disebabkan komponen seluler pada sampel masih aktif bermetabolisme, sehingga akan mempengaruhi tekanan gas. 2.3 Anatomi Daerah Target Analisa Gas Darah Anatomi daerah yang menjadi target tindakan analisa gas darah adalah sebagai berikut: 1) Arteri radial Arteri radial merupakan kelanjutan dari brakhial, tetapi lebih kecil dibandingkan dengan ulnar. Arteriradial dimulai di percabangan brakhial, dibawah lekukan dari siku dan melewati sisi radial dari bagiandepan lengan ke pergelangan tangan. Lalu ke daerah belakang, sekitar sisi lateral carpus, dibawah tendon abductor pollicis longus, extensors pollicis, dan brevis ke ruang bagian atas diantara tulang metakarpal ibu jari dan jari telunjuk. Terakhir, arteri radial melewati diantara dua kepala pertama interosseous dorsalis, kedalam telapak tangan, dimana arteri radial menyeberangi tulang metakarpal dan sisi ulnar tangan dengan deep volar branch dari arteri ulnar ke deep volar arch. Hal inilah yang menyebabkan arteri radial terdiridari tiga porsi, yaitu forearm, belakang pergelangan tangan, dan tangan.

2) Arteri brachial

Arteri brankhial dimulai dari batas bawah tendon pada teres major dan menurun kebawah lengan, danberakhir sekitar 1 cm dibawah lekukan siku dimana dibagi menjadi arteri radial dan arteri ulnar. Pertama,arteri brakhial terletak dari medial ke humerus, tetapi ketika arteri brachial menuju lengan secara perlahanmenuju atau terletak di depan tulang dan lekukan siku yang terletak diantara dua epicondyles.

3) Arteri femoral Arteri femoral merupakan arteri yang melewati cukup dekat dengan permukaan atas, dibagi ke dalamcabang yang kecil untuk menyediakan darah ke otot dan jaringan superficial di daerah paha. Arterifemoral juga menyuplai kulit dan dinding abdominal bawah. Cabang arteri femoral yang penting meliputi: Arteri superficial circumflex iliac, arteri ke lymph nodes dan kulit Arteri superficial epigastric ke dinding kulit abdominal Arteri superficial dan arteri eksternal pudenal ke kulit abdomen bawah dan eksternal genital Arteri profunda, yang merupakan cabang paling besar pada arteri femoral dan menyuplai sendi paha dan berbagai otot di paha Arteri deep genicular ke bagian paling jauh pada otot paha dan menghubungkan jaringan impuls sekitar sendi lutut

6. Arteri tibialis posterior dan arteri doralis pedis 7. Bagian arteri lain ~ Pada bayi = arteri kulit kepala, arteri tali pusat. ~ Pada orang dewasa = arteri dorsal pedis. Bagian-bagian ini tidak boleh diambil oleh phlebotomis. Arteri femoralis atau brakialis sebaiknya tidak digunakan jika masih ada alternatif lain, karena tidak mempunyai sirkulasi kolateral yang cukup untuk mengatasi bila terjadi spasme atau trombosis. Sedangkan arteri temporalis atau axillaris sebaiknya tidak digunakan karena adanya risiko emboli otak. 2.4 Cara Pemeriksaan Analisa Gas Darah

A. Alat Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml Botol heparin 10 ml, 1000 unit/ml (dosis-multi) Jarum nomor 22 atau 25 Penutup udara dari karet Kapas alcohol Wadah berisi es (baskom atau kantung plastik) : bersifat optional Beri label untuk menulis status klinis pasien yang meliputi: a) Nama, tanggal dan waktu b) Apakah menerima O2 dan bila ya berapa banyak dan dengan rute apa c) Suhu B. Teknik Arteri radialis umumnya dipakai meskipun brakhialis juga dapat digunakan

Bila menggunakan pendekatan arteri radialis lakukan tes Allens. Secara terus menerus bendung arteri radialis dan ulnaris. Tangan akan putih kemudian pucat. Lepaskan aliran arteri ulnaris. Tes allens positif bila tangan kembali menjadi berwarna merah muda. Ini meyakinkan aliran arteri bila aliran arteri radialis tidal paten Pergelangan tangan dihiperekstensikan dan tangan dirotasi keluar. a) Penting sekali untuk melakukan hiperekstensi pergelangan tangan biasanya menggunakan gulungan handuk untuk melakukan ini b) Untuk pungsi arteri brakialis, siku dihiperekstensikan setelah meletakkan handuk di bawah siku 4. 1 ml heparin diaspirasi kedalam spuit, sehingga dasar spuit basah dengan heparin,dan kemudian kelebihan heparin dibuang melalui jarum, dilakukan perlahan sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dan tak ada gelembung udara. 5. Arteri brakialis atau radialis dilokalisasi dengan palpasi dengan jari tengah dan jari telunjuk, dan titik maksimum denyut ditemukan. Bersihkan tempat tersebut dengan kapas alcohol. 6. Jarum dimasukkan dengan perlahan kedalam area yang mempunyai pulsasi penuh. Ini akan paling mudah dengan memasukkan jarum dan spuit kurang lebih 45-90 derajat terhadap kulit. 7. Seringkali jarum masuk menembus pembuluh arteri dan hanya dengan jarum ditarik perlahan darah akan masuk ke spuit. 8. Indikasi satu-satunya bahwa darah tersebut darah arteri adalah adanya pemompaan darah kedalam spuit. Jarum dapat mengangkat sendiri jika spuit berkualitas bagus, tetapi jika spuit dengan kualitas rendah dapat dilihat melalui pulsasi darah. Bila kita harus mengaspirasi darah dengan menarik plunger spuit ini kadang-kadang diperlukan pada spuit plastik yang terlalu keras sehingga darah tersebut positif dari arteri.Hasil gas darah tidak memungkinkan kita untuk menentukan apakah darah dari arteri atau dari vena. Setelah darah 5 ml diambil, jarum dilepaskan dan petugas yang lain menekan area yang di pungsi selama sedikitnya 5 menit (10 menit untuk pasien yang mendapat antikoagulan), Gelembung udara harus dibuang keluar spuit. Lepaskan jarum dan tempatkan penutup udara pada spuit. Putar spuit diantara telapak tangan untuk mencampurkan heparin, Spuit diberi label dan bisa ditempatkan dalam es atau air es (optional), kemudian dibawa ke laboratorium. 2.5 Interpretasi Pemeriksaan Analisa Gas Darah

Sampel darah yang akan dianalisis dengan menggunakan tes ini merupakan darah arteri yang biasa digunakan yaitu arteri radialis karena mudah terambil. Tes PO2 Rentang Normal Dewasa 80-100 mmHg Interpretasi Meningkat: menandakan

pemberian O2 yang berlebihan Menurun: mengindikasikan penyakit CAL, bronkhtis kronis, Ca. bronkus dan paru-paru, cystic fibrosis, RDS, anemia, atelektasis, atau penyebab lain yang mengakibatkan hipoksia PCO2 35-45 mmHg Meningkat: mengindikasikan kemungkinan CAL, pneumonia, efek anestesi, dan penggunaan opioid (asidosis respiratori) Menurun: mengindikasikan hiperventilasi / alkalosis respiratori Ph 7,35-7,45 Meningkat: menandakan alkalosis metabolisme atau respiratori Menurun: menandakan asidosis metabolisme atau respiratori HCO321-28 mEq/L Meningkat: mengindikasikan kemungkinan asidosis respiratori sebagai kompensasi awal dari alkalosis metabolisme Menurun: mengindikasikan kemungkinan alkalosis respiratori sebagai kompensasi awal dari asidosis metabolisme SaO2 95-100% Menurun: mengindikasikan kerusakan kemampuan hemoglobin untuk mengantarkan O2 ke jaringan

2.6

Peran Perawat dalam Pemeriksaan Analisa Gas Darah

Keterampilan seorang perawat dalam pengambilan darah arteri sangat menentukan sekali terhadap akurasi hasil, dan sekaligus menentukan dampak komplikasi yang ditimbulkan. Hal ini tentunya tergantung dari berapa kali dia sudah pernah mengambil darah arteri AGD (pengalaman), pengetahuan perawat terhadap komplikasi yang bisa ditimbulkan dari pengambilan darah arteri yang tidak tepat, pemahaman perawat terhadap protap pengambilan darah arteri AGD, dan kondisivaskularisasi pasien, apakah masih bagus vaskularisasinya atau sudah kolaps (Bertnus, (2009).

Hal-hal yang harus diperhatikan bagi perawat dalam melakukan tindakan, antara lain: 1) Faktor yang menyebabkan kontra indikasi dalam penggunaan tindakan analisa gasdarah ini, meliputi amputasi, kontraktur, tempat atau area infeksi, balutan, mastektomi, atau arterio venous shunts (Potter & Perry, 2006), 2) Lakukan tes Allen sebelum memulai mengambil contoh darah dari arteri, 3) Area injeksi yang sebelumnya atau kondisi yang sesudahnya mungkin dapat mengeliminasikan menjadi area potensial. Arteri seharusnya dapat dijangkau, 4) Perawat harus memberikan pengajaran kepada klien bahwa segera melaporkan kepada perawat bila terjadi lumpuh atau mati rasa, dan terbakar di daerah tangan tepatnya di area injeksi, arteri radial.

DAFTAR PUSTAKA

Somantri,Irman.2007. Keperawatan Medikal Bedah Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika. Kozier, Barbara, & Glenora Erb.2003. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Edisi 5. Jakarta: Buku Kedokteran EGC Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika Yasmin Asih, Niluh Gede & Christantie Effendy. 2004. Keperawatan Medikal Bedah: Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: EGC Anomi. 2008. Cara-pengambilan penyimpanan dan pengiriman spesimen klinik. http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 14 Mei 2012 Anomi. 2011. Analisa Gas Darah. http://www.scribd.com/doc/75288842/Analisa-Gas-Darah-Agd. Diakses Pada Tanggal 16 Mei 2012