Anda di halaman 1dari 6

Nama : M.

Ryan Azhadi NIM : H1A 009 003

1. Transisi Epedemiologi Transisi epidemiologi bermula dari suatu perubahan yang kompleks dalam pola kesehatan dan pola penyakit utama penyebab kematian dimana terjadi penurunan prevalensi penyakit infeksi (penyakit menular), sedangkan penyakit non infeksi (penyakit tidak menular) justru semakin meningkat. Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya gaya hidup, sosial ekonomi dan meningkatnya umur harapan hidup yang berarti meningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya. Teori transisi epidemiologi pertama kali dikeluarkan oleh seorang pakar Demografi Abdoel Omran pada tahun 1971. Dimana ia mengamati perkembangan kesehatan di negara industri sejak abad 18. Ia menuliskan bahwa ada 3 fase transisi epidemiologis, yaitu:
1. The age of pestilence and famine ditandai dengan tingginya mortalitas dan

berfluktuasi serta angka harapan hidup kurang dari 30 tahun,


2. The age of receding pandemics era di mana angka harapan hidup mulai

meningkat antara 30-50, dan


3. The age of degenerative and man-made disease fase dimana penyakit infeksi

mulai turun namun penyakit degeneratif mulai meningkat. gambaran itu memang untuk negara Barat.
2. Faktor resiko merupakan karakteristik, tanda, gejala pada penyakit individual yang

secara statistik berhubungan dengan peningkatan insiden penyakit. Dimana kegunaan identifikasi factor resiko yaitu:
1. Prediksi untuk meramalkan kejadian penyakit. Misal : perokok berat

mempunyai

kemungkinan 10 kali untuk kanker paru daripada bukan perokok.

2. Penyebab Kejelasan faktor resiko dapat mengangkatnya menjadi faktor

penyebab, setelah menghapuskan pengaruh dan faktor pengganggu (Confounding Faktor ).


3. Diagnosis Membantu proses diaognosis

Prevensi Jika satu faktor juga sebagai penyebab, pengulangan dapat digunakan untuk pencegahan penyakit meskipun mekanisme penyakit sudah diketahui atau tidak. Tiga Level untuk Tiap Step pada Surveilans Faktor Risiko

Ukuran Level Core (inti) Ekspansi Opsional

Step 1 (Verbal) Demografi, Tembakau, Alkohol, Gizi, Aktifitas fisik Pendidikan, Pekerjaan, Ekonomi Pengetahuan Sikap Perilaku Kualitas hidup

Step 2 (Fisik) Berat + Tinggi, Lingkar pinggang, Tekanan darah Lingkar pinggang, Lipatan kulit, Pedometer

Step 3 (Biokimia) Kolesterol, Glukosa darah puasa

HDL-Kolesterol, Trigliserida Urin, dll.

Surveilans : Kegiatan yg terus menerus dlm pengumpulan, analisis, interprestasi dan diseminasi data kesehatan 3. Perjalanan Alamiah serta pencegahan primer, skunder, tersier : a. AIDS - Perjalanan Alamiah HIV terdapat di dlm cairan tubuh seseorang yg telah terinfeksi seperti : darah, air mani/cairan vagina. Sebelum HIV berubah menjadi AIDS, penderitanya akan tampak sehat dlm waktu 5 sampai 10 tahun(window period). Walau tampak sehat mereka dapat menularkan virus HIV pd orang lain melalui hubungan seks yg tdk aman, transfusi darah atau pemakaian jarum suntik scr

bergantian. Melalui Ibu hamil yg HIV (+) kpd bayi yg dikandung lewat air susu ibu. - Pencegahan primer PHBS, Screening darah donor, Sex education, Konseling pra dan post voluntary test - Pencegahan skunder
1. One needle program

2. Peer motivation 3. Konseling pra dan post voluntary test - Pencegahan Tersier
1.

Pengobatan pemeriksaan HIV sedini mungkin Pelayanan ODHA

2.

b. TBC 1. Perjalanan Alamiah Patogenesis penyakit tuberkulosis paru berawal dari penderita tuberkulosis paru BTA positif sebagai sumber penularan. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan bakteri dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung bakteri dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya bakteri parunya. 2. Pencegahan primer Pencegahan primer TBC adalah: 1. mencegah orang sehat tidak sampai sakit. yang dikeluarkan dari

2. Proteksi diri dengan pasien dengan riwayat TBC 3. Rekomendasi WHO dengan pemberian vaksinasi Bacille Calmette Gu rin (BCG) segera setelah bayi lahir.

3. Pencegahan skunder 1. Skrining dengan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. 2. Bila screening didapat skor < 5, kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5 10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG, imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai. 3. Pemeriksaan laboratorium terhadap penderita tuberkulosis paru. 4. Pencegahan Tersier Sasaran dari pencegahan tertier dilakukan pada penderita yang telah parah, misalnya penderita tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, yang terjadi karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavit as atau efusi pleura. c. Malaria 1. Perjalanan Alamiah Masa inkubasi ekstrinsik (waktu mulai saat masuknya gametosit ke dalam tubuh nyamuk sampai terjadinya stadium sporogoni dalam tubuh nyamuk, yaitu dengan terbentuknya sporosoit yang kemudian masuk ke dalam kelenjar liur nyamuk). Masa inkubasi intrinsik ( waktu mulai masuknya sporosoit ke dalam darah sampai timbulnya gejala klinis/demam yaitu sampai pecahnya sison sel darah merah yang matang dan masuknya merosoit darah ke aliran darah,

waktu ini meliputi waktu yang dibutuhkan oleh fase eksoeritrositer ditambah dengan siklus sisogoni ) 2. Pencegahan primer 1. Kepada manusia a. Edukasi setiap pelancong atau petugas yang akan bekerja di daerah endemis. b. Penyuluhan pada masyarakat tentang cara pencegahan malaria. c. Proteksi pribadi, seseorang seharusnya menghindari dari gigtan nyamuk dengan menggunakan pakaian lengkap, tidur menggunakan kelambu, memakai obat penolak nyamuk, dan menghindari untuk mengunjungi lokasi yang rawan malaria.
d. Modifikasi perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah

mulai senja sampai subuh di saat nyamuk anopheles umumnya mengigit. 2. Kemoprofilaksis (Tindakan terhadap Plasmodium sp) 3. Kemoprofilaksis adalah klorokuin, meflokuin (belum tersedia di

Indonesia), doksisiklin, primakuin dan sebagainya. Dosis kumulatif maksimal untk pengobatan pencegahan dengan klorokuin pada orang dewasa adalah 100 gram basa. 4. Pencegahan skunder Pencarian secara aktif melalui skrining yaitu dengan penemuan dini penderita malaria dengan dilakukan pengambilan slide darah dan konfirmasi diagnosis (mikroskopis dan /atau RDT (Rapid Diagnosis Test) ) dan secara pasif dengan cara malakukan pencatatan dan pelaporan kunjungan kasus malaria. 5. Pencegahan Tersier - Penanganan akibat lanjut dari komplikasi malaria Kematian pada malaria pada umumnya disebabkan oleh malaria berat karena infeksi P. falciparum.

Manifestasi malaria berat dapat bervariasi dari kelainan kesadaran sampai gangguan fungsi organ tertentu dan gangguan metabolisme. Rehabilitasi mental / psikologis Pemulihan kondisi penderita

malaria,memberikan dukungan moril kepada penderita dan keluarga di dalam pemulihan dari penyakit malaria, melaksanakan rujukan pada penderita yang memerlukan pelayanan tingkat lanjut.