Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Katarak kongenital adalah kekeruhan lensa yang timbul sejak lahir, dan merupakan salah satu penyebab kebutaan pada anak yang cukup sering dijumpai. Katarak kongenital mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Pencegahan gangguan penglihatan dan kebutaan yang disebabkan oleh katarak kongenital dan infantil merupakan sasaran internasional yang penting saat ini. Salah satu komponen penting program WHO adalah untuk mengeliminasi kebutaan yang dapat dicegah pada tahun 2020. Strategi pencegahan memerlukan informasi tentang etiologi yang mendasari katarak kongenital tersebut, dimana kebanyakan belum diketahui secara pasti. Beberepa kasus katarak kongenital yang tidak diketahui penyebabnya ini mungkin didasari oleh faktor genetik, tapi infeksi selama kehamilan dan faktor lingkungan lain yang mempengaruhi kehidupan janin juga dicurigai sebagai penyebab yang mendasari. Katarak kongenital dapat dicegah dengan primary prevention misalnya dengan program imunisasi rubella, atau atau lebih umumnya dengan secondary prevention melalui early diagnosis untuk memastikan dilakukannya prompt treatment. Di negara-negara berkembang, biasanya pasien datang berobat sudah dalam keadaan terlambat dengan berbagai komplikasi seperti nistagmus, ambliopia, dan strabismus. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang rendah, pendidikan orang tua yang rendah, rendahnya perhatian orang tua terhadap perkembangan anak, dan terbatasnya pelayanan kesehatan spesialis mata di daerah-daerah. Di samping itu belum dilaksanakan skrining terhadap semua bayi baru lahir yang sangat membantu menegakkan diagnosis dini katarak kongenital.

1.2. Batasan Masalah Dalam makalah Meet The Expert (MTE) ini akan dibahas etiologi katarak kongenital dan yang berkaitan dengan katarak kongenital.

1.3. Tujuan Penulisan Penulisan makalah ini bertujuan untuk memahami dan menambah

pengetahuan tentang etiologi katarak kongenital.

1.4. Metode Penulisan Metode penulisan makalah ini merujuk pada berbagai literatur dan kepustakaan berupa buku, jurnal, dan internet.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI LENSA 2.1.1. Anatomi Lensa Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan hampir transparan sempurna. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Di belakang iris, lensa ditahan di tempatnya oleh ligamentum yang dikenal sebagai zonula (Zonula Zinnii), yang tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliare dan menyisip ke dalam ekuator lensa. Di sebelah anterior terdapat aquaeus humor, di sebelah posteriornya vitreus humor.

Permukaan lensa bagian posterior lebih cembung daripada permukaan anterior. Lensa terdiri dari Kapsul anterior dan posterior, Epitel lensa, Korteks anterior dan posterior, serta Nukleus. Kapsul lensa adalah suatu membran yang semi permeabel yang akan memperbolehkan air dan elektrolit masuk. Di sebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. Epitel lensa di ekuator dan bawah kapsul depan membentuk korteks yang berlapis-lapis. Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Nukleus dan korteks terbentuk dari lamella konsentris yang panjang. Masing-masing serat lamella mengandung sebuah inti gepeng yang berada di bagian perifer lensa di dekat ekuator dan bersambung dengan lapisan epitel subkapsul.

2.1.2. Fisiologi Lensa Enam puluh lima persen lensa terdiri dari air, sekitar 35% protein, dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah, atau saraf di lensa. Secara fisiologik, lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu kenyal atau lentur karena memegangn peranan terpenting dalam akomodasi menjadi cembung.

Selain itu, lensa jernih atau transparan karena diperlukan dalam media penglihatan, dan terletak pada tempatnya. Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil. Fungsi retina memfokuskan objek jauh ke retina ini dinamakan Refraksi. Dalam posisi ini, daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya paralel akan terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat, otot siliaris berkontraksi, sehingga tegangan zonula berkurang. Kapsul lensa yang elastik kemudian mempengaruhi lensa mejadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya. Kerjasama fisiologik antara korpus siliaris, zonula, dan lensa untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai Akomodasi.

2.1.3. Embriologi, Pertumbuhan, dan Perkembangan Lensa Mata berkembang dari tiga lapisan embrional primitif, yaitu ektoderm permukaan, termasuk derivatnya yaitu crista neuralis; ektoderm neural; dan mesoderm. Lensa berasal dari ektoderm permukaan. Pada usia 4 minggu, vesikel optik terbentuk dari pertumbuhan ektoderm neural ke luar dan arah permukaan. Vesikel optik berhubungan dengan otak depan melalui tangkai optik. Pada tahap ini terjadi penebalan ektoderm permukaan (lempeng lensa) berhadapan ujungujung vesikel optik. Saat vesikel berinvaginasi membentuk mangkuk optik, dinding luar vesikel mendekati dinding dalamnya. Invaginasi permukaan ventral dari tangkai optik dan dari vesikel optik terjadi bersamaan dan menghasilkan alur yaitu Fissura Optikum. Tepian mangkuk optik kemudian tumbuh mengitari fissura optik. Bersamaan dengan ini, lempeng lensa berinvaginasi pertama-tama membentuk mangkuk, kemudian membentuk bola berongga yang dikenal sebagai vesikel lensa. Vesikel lensa lalu melepaskan diri dari ektoderm permukaan dan terdapat bebas dekat tepian mangkuk optik.
6

Pada usia 6 minggu, sel-sel pada dinding posteriornya mulai memanjang, mengisi rongga yang kosong, dan akhirnya memenuhinya. Lalu sel-sel lensa mensekresi sebuah kapsul hialin. Serat-serat lensa sekunder memanjang dari daerah ekuatorial dan bertumbuh ke depan di bawah epitel subkapsular, yang tetap berupa selapis sel epitel kuboid. Serat-serat ini bertemu membentuk sutura lentis (Y) tegak di anterior dan (Y) terbalik di posterior, yang rampung pada bulan ke tujuh. Pertumbuhan dan proliferasi serat-serat lensa berlangsung terus selama hidup, tetapi dengan kecepatan yang makin menurun. Karenanya, lensa dengan perlahan membesar, sehingga menekan serat-serat lensa. Saat lahir, lensa berbentukk lebih bulat daripada kemudian, menghasilkan daya refraksi yang lebih kuat sebagai kompensasi diameter anteroposterior mata yang pendek. Lensa bertumbuh seumur hidup dengan menambahkan serat-serat baru di tepian, sehingga bertambah gepeng. Konsistensi lensa saat lahir seperti plastik lunak, sedangkan pada usia lanjut konsistensinya mirip kaca.

2.2. KATARAK KONGENITAL 2.2.1. Definisi Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies dan bahasa Latin Cataracta yang berarti air terjun. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau terjadi akibat kedua-duanya. Katarak kongenital merupakan kekeruhan pada lensa mata yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganan yang kurang tepat.

2.2.2. Epidemiologi

Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan terbanyak pada anakanak di seluruh dunia. Berdasarkan data WHO, terdapat sekitar 15% kebutaan yang terjadi pada anak merupakan katarak kongenital bilateral. Tiga dari 1000 anak yang lahir di negara industri didiagnosis katarak kongenital pada tahun pertama kelahiran. Katarak kongenital lebih banyak terjadi di negara berkembang. Dua puluh persen dari kejadian katarak kongenital bilateral disebabkan familial, 20% disebabkan sindroma atau kelainan metabolik, 5% disebabkan infeksi intrauterin, dan 50% idiopatik.

2.2.3. Etiologi Pada kebanyakan pasien, penyebab atau etiologi yang mendasari katarak kongenital ini tidak diketahui atau idiopatik. Tapi dari berbagai penelitian, faktor keturunan atau herediter memainkan peranan yang besar dalam penyakit ini. Katarak kongenital ini diturunkan secara autosomal dominan sebanyak 23% dari seluruh kejadian katarak kongenital. Sering disertai dengan kelainan kongenital lainnya seperti mikroftalmus, aniridia, koloboma iris, keratokonus, lensa ektopik, displasia retina, dan megalokornea. Selain herediter katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita infeksi ketika masa kehamilannya. Infeksi intra uterin ini antara lain berupa infeksi Rubella, Varicella, Toxoplasmosis, Herpes Simplex, Rubeola, Cytomegalo virus, serta Poliomyelitis, terutama yang terjadi saat kehamilan trimester I . Penyebab lain yang diketahui adalah yang berhubungan dengan kelainan kromosom seperti Trisomi 21 (Sindrom Down), Sindrom Turner, Trisomi 13, Trisomi 18, Sindrom Cri du Chat. Selain itu, ada yang berhubungan dengan gangguan metabolik seperti Galaktosemia, Defisiensi galaktonase, Hipokalsemia, Hipoglikemia, Diabetes Mellitus. Ada juga yang diinduksi oleh pemakaian obat-obatan selama kehamilan
8

seperti Kortikosteroid dan Klorpromazine; diinduksi oleh paparan radiasi; berhubungan dengan Retardasi Mental; Sindrom kraniofasial; Penyakit neurometabolik; Penyakit muskular; dan Penyakit Dermatologikal.

2.2.4. Patogenesis Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa yang didapatkan sejak lahir, dan terjadi akibat gangguan perkembangan embrio intrauterin. Biasanya kelainan ini tidak meluas mengenai seluruh lensa. Letak kekeruhan sangat tergantung pada saat terjadinya gangguan metabolisme serat lensa. Katarak kongenital yang terjadi sejak perkembangan serat lensa terlihat segera setelah bayi lahir sampai berusia 1 tahun. Katarak ini terjadi karena gangguan metabolisme serat-serat lensa pada saat pembentukan serat lensa akibat infeksi virus atau gangguan metabolisme jaringan lensa pada saat bayi masih di dalam kandungan, dan gangguan metabolisme oksigen. Pada katarak kongenital, kelainan utama terjadi di nucleus fetal atau nucleus embrional (tergantung pada waktu stimulus kataraktogenik), atau di kutub anterior atau posterior lensa apabila kelainannya terletak di kapsul lensa. Stimulasi faktorfakator kataraktogenik (seperti infeksi intrauterine, trauma, penyakit metabolic) ke nukleus atau serat lentikuler, dapat menyebabkan kekeruhan pada media lentikuler yang jernih. Kekeruhan pada katarak kongenital jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Letak kekeruhannya tergantung saat terjadinya gangguan pada kehidupan janin, sesuai dengan perkembangan embriologik lensa. Bentuk katarak congenital memberikan kesan tentang perkembangan embriologik lensa, juga saat terjadinya gangguan pada perkembangan tersebut. Infeksi intrauterine menyebabkan katarak kongenital bilateral. Katarak yang terjadi pada infeksi intrauterine kekeruhannya sentral dan bisa

2.2.5. Klasifikasi Katarak lamelar atau zonular, katarak polaris anterior (piramidalis anterior, kutub anterior), katarak polaris posterior (piramidalis posterior, kutub posterior), katarak inti (nukleus), katarak sutural. Katarak Lamellar atau Zonular. Di dalam perkembangan embriologik dimana pada permulaan terdapat perkembangan serat lensa maka akan terlihat bagian lensa yang sentral yang lebih jernih. Kemudian terdapat serat lensa keruh dalam kapsul lensa. Kekeruhan berbatas tegas dengan bagian perifer tetap bening. Katarak lamelar ini mempunyai sifat herediter dan ditransmisi secara dominan. Katarak biasanya bilateral. Terlihat segera sesudah bayi lahir. Kekeruhan dapat menutupi seluruh celah pupil, sehingga bila tidak dilakukan dilatasi pupil sering dapat mengganggu penglihatan. Gangguan penglihatan pada katarak Zonullar tergantung pada derajat kekeruhan lensa. Bila kekeruhan sangat tebal sehingga fundus tidak dapat terlihat pada pemeriksaan oftalmoskopi, maka perlu dilakukan aspirasi dan irigasi lensa.

Katarak Polaris Anterior. Gangguan terjadi pada kornea belum seluruhnya melepaskan lensa dalam perkembangan embrional. Hal ini yang mengakibatkan terlambatnya pembentukan bilik mata depan pada perkembangan embrional. Kadang-kadang didapatkan suatu bentuk kekeruhan yang terdapat di dalam bilik mata depan yang menuju kornea sehingga memperlihatkan bentuk kekeruhan seperti piramid. Katarak jenis ini tidak progresif. Pengobatan sangat tergantung

10

keadaan kelainan. Bila sangat mengganggu tajam penglihatan atau tidak terlihatnya fundus pada pemeriksaan oftalmoskopi, maka dilakukan pembedahan.

Katarak Polaris Posterior. Disebabkan karena menetanya selubung vaskuler lensa. Kadang-kadang terdapat arteri hialoid yang menetap, sehingga mengakibatkan kekeruhan pada lensa bagian belakang. Pengobatan dengan melakukan pembedahan lensa.

11

Katarak Inti (Nuklear). Jarang ditemukan dan tampak sebagai bunga karang. Kekeruhan terletak di daerah nukleus lensa. Sering hanya merupakan kekeruhan berbentuk titik-titik. Gangguan terjadi pada waktu kehamilan 3 bulan pertama. Biasanya bilateral dan berjalan tidak progresif. Biasanya herediter dan bersifat dominan. Tidak mengganggu tajam penglihatan. Pengobatan, bila tidak mengganggu tajam penglihatan maka tidak memerlukan tindakan.

Katarak Sutural. Y suture merupakan garis pertemuan serat-serat lensa primer dan membentuk batas depan dan belakang daripada inti lensa. Katarak sutural merupakan kekeruhan lensa pada daerah sutura fetal, bersifat statis, terjadi bilateral dan familial. Karena letak kekeruhan ini tidak tepat mengenai media penglihatan maka ia tidak akan mengganggu penglihatan. Biasanya tidak dilakukan tindakan.

12

2.2.6. Manifestasi Klinis Pada pupil mata bayi yang menderita katarak congenital, akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria. Leukokoria dapat terjadi parsial maupun total, dan bisa terjadi pada satu mata (unilateral) atau pada kedua mata (bilateral). Pada setiap leukokoria diperlukan pemeriksaan yang lebih teliti untuk menyingkirkan diagnosis banding lainnya. Pemeriksaan leukokoria dilakukan dengan melebarkan pupil. Selain itu, bayi gagal menunjukkan kesadaran visual terhadap lingkungan sekitarnya. Pada katarak kongenital total, penyulit yang dapat terjadi adalah macula lutea yang tidak cukup mendapat rangsangan. Macula ini tidak akan berkembang sempurna sehingga walaupun dilakukan ekstraksi katarak, maka visus biasanya tidak akan mencapai 5/5. Hal ini disebut ambliopia sensoris (ambliopia ex anopsia). Katarak kongenital dapat menimbulkan komplikasi lain berupa nistagmus dan strabismus.

2.2.7. Pemeriksaan Selain memperhatikan manifestasi klinis yang terjadi, pemeriksaan lain yang bisa dilakukan adalah dengan melihat refleks fundus. Untuk mengetahui penyebab katarak congenital, diperlukan riwayat prenatal infeksi ibu seperti rubella pada kehamilan trimester I dan pemakaian obat selama kehamilan. Kadang-kadang terdapat riwayat kejang, tetani, ikterus, atau hepatosplenomegali pada ibu hamil. Bila katarak disertai uji reduksi pada urin yang positif, mungkin katarak ini terjadi akibat galaktosemia. Sering katarak congenital ditemukan pada bayi prematur dan gangguan system saraf seperti retardasi mental. Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungannya dengan diabetes mellitus, kalsium, dan fosfor. 2.2.8. Diagnosis Banding

13

Setiap bayi dengan leukokoria sebaiknya dipikirkan diagnosis bandingnya seperti retinoblastoma, endoftalmitis, fibroplasi retrolental, hiperplastik vitreus primer, dan miopia tinggi di samping katarak sendiri. 2.2.9. Penatalaksanaan Katarak kongenital merupakan katarak perkembangan sehingga sel-sel atau serat lensa masih muda dan berkonsistensi cair. Umumnya tindakan bedah dilakukan dengan disisio lentis atau ekstraksi linear. Tindakan bedah biasanya dilakukan pada usia 2 bulah untuk mencegah ambliopia eks-anopsia. Pasca bedah pasien memerlukan koreksi untuk kelainan refraksi matanya yang telah menjadi afakia. a. Konservatif Pada katarak yang belum memerlukan tindakan operasi, pada tahap awal dapat diberikan obat untuk dilatasi pupil seperti atropine ED 1%, midriasil ED 1%, dan homatropin ED. Pemberian obat ini hanya bersifat sementara, karena jika kekeruhan lensa sudah tebal sehingga fundus tidak dapat dilihat, maka harus dilakukan operasi. Oleh karena itu, katarak congenital dengan kekeruhan sedikit atau parsial perlu dilakukan follow-up yang teratur dan pemantauan yang cermat terhadap visusnya. b. Operatif Pada beberapa kasus, katarak congenital dapat ringan dan tidak menyebabkan gangguan penglihatan yang signifikan, dan pada kasus seperti ini tidak memerlukan tindakan operatif. Pada kasus yang sedang hingga berat yang menyebabkan gangguan penglihatan, operasi katarak merupakan terapi pilihan. Operasi katarak congenital dilakukan bila reflex fundus tidak tampak. Biasanya bila katarak bersifat total, operasi dapat dilakukan pada pasien 2 bulan atau lebih muda bila telah dapat dilakukan pembiusan. Tindakan bedah pada katarak congenital yang umum dikenal adalah disisio lensa, ekstraksi linear, dan ekstraksi dengan aspirasi. Pengobatan katarak congenital bergantung pada:
14

1.

Katarak total bilateral, sebaiknya dilakukan pembedahan secepatnya segera setelah katarak terlihat.

2.

Katarak total unilateral, dilakukan pembedahan 6 bulan sesudah terlihat atau segera sebelum terjadinya juling; Pada katarak congenital total unilateral, mudah sekali terjadi ambliopia. Karena itu sebaiknya dilakukan pembedahan secepat mungkin dan diberikan kacamata segera dengan latihan bebat mata.

3.

Katarak bilateral parsial, biasanya pengobatan lebih konservatif, sehingga sementara dapat dicoba dengan kacamata atau midriatika. Bila terjadi kekeruhan yang progresif disertai dengan mulainya tanda-tanda juling dan ambliopia, maka dilakukan pembedahan, biasanya mempunyai prognosis yang lebih baik. Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler (EKEK) merupakan terapi operasi

pilihan. Berbeda dengan ekstraksi lensa dewasa, sebagian besar ahli bedah mengangkat kapsul posterior dan korpus vitreum anterior dengan menggunakan alat mekanis dan pemotong korpus vitreum. Hal ini untuk mencegah pembentukan kekeruhan kapsul sekunder, atau katarak ikutan, oleh karena pada mata yang muda kekeruhan lensa terjadi sangat cepat. Tindakan bedah pada disisio lentis adalah dengan menusuk atau merobek kapsul anterior lensa dengan harapan badan lensa yang cair keluar. Badan lensa yang keluar akan mengalir bersama cairan mata (aquos humor), atau difagositosis oleh makrofag. Setelah terjadi absorbsi sempurna, maka mata menjadi afakia atau tidak mempunyai lensa lagi. Disisio lensa sebaiknya dilakukan sedini mungkin, karena fovea sentralisnya harus berkembang waktu bayi lahir sampai umur 7 bulan. Kemungkinan perkembangan terbaik adalah pada umur 3-7 bulan. Syarat untuk perkembangan ini fovea sentralis harus mendapatkaan rangsangan cahaya yang cukup. Jika katarak dibiarkan sampai anak berumur lebih dari 7 bulan, biasanya fovea sentralisnya tidak dapat berkembang 100%, visusnya tidak akan mencapai 5/5 walaupun dioperasi. Operasi dilakukan pada satu mata dahulu. Bila mata ini sudah tenang, mata sebelahnya dapat dioperasi pula.
15

Koreksi optis sangat penting bagi bayi dan anak. Koreksi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan implantasi lensa buatan (IOL) setelah dilakukan ekstraksi lensa, pemberian kacamata atau lensa kontak. Implantasi lensa buatan pada bayi masih controversial. Alasannya antara lain karena kesulitan dalam menentukan kekuatan lensa yang harus diberikan, terutam pada mata yang masih dalam pertumbuhan. Selain itu lensa buatan tidak dapat berakomodasi. Oleh karena itu, beberapa pakar lebih menganjurkan penggunaan lensa kontak dan kacamata sebagai koreksi optis pada anak dan bayi setelah bedah katarak.

2.2.10. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada katarak congenital adalah kehilangan penglihatan, ambliopia, strabismus, dan nistagmus.

2.2.11. Prognosis Prognosis penglihatan pasien dengan katarak congenital yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien senilis. Adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali syaraf optikus atau retina, membatasi tingkat pencapaian penglihatan pada pasien. Perbaikan visus setelah tindakan operasi katarak kongental unilateral sekitar 40% mencapai 20/60 atau lebih baik, sedangkan pada katarak congenital bilateral sekitar 70% mencapai 20/60 lainnya. atau lebih baik. Prognosis lebih jelek pada pasien dengan kelainan okuler dan penyakit sistemik

16

BAB III KESIMPULAN

Katarak kongenital merupakan kekeruhan pada lensa mata yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganan yang kurang tepat. Pada kebanyakan pasien, penyebab atau etiologi yang mendasari katarak kongenital ini tidak diketahui atau idiopatik. Tapi dari berbagai penelitian, faktor keturunan atau herediter memainkan peranan yang besar dalam penyakit ini. Katarak kongenital ini diturunkan secara autosomal dominan sebanyak 23% dari seluruh kejadian katarak kongenital. Selain herediter katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita infeksi ketika masa kehamilannya. Infeksi intra uterin ini antara lain berupa infeksi Rubella, Varicella, Toxoplasmosis, Herpes Simplex, Rubeola, Cytomegalo virus, serta Poliomyelitis. Penyebab lain yang diketahui adalah yang berhubungan dengan kelainan kromosom seperti Trisomi 21 (Sindrom Down), Sindrom Turner, Trisomi 13, Trisomi 18, Sindrom Cri du Chat. Katarak kongenital juga ada berhubungan dengan gangguan metabolik seperti Galaktosemia, Defisiensi galaktonase, Hipokalsemia, Hipoglikemia, Diabetes Mellitus. Ada juga yang diinduksi oleh pemakaian obat-obatan selama kehamilan seperti Kortikosteroid dan Klorpromazine; diinduksi oleh paparan radiasi; berhubungan dengan Retardasi Mental; Sindrom kraniofasial; Penyakit neurometabolik; Penyakit muskular; dan Penyakit Dermatologikal.

17

DAFTAR PUSTAKA Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.2008 Ilyas, Sidarta. Katarak (Lensa Mata Keruh). Jakarta: FKUI.2003 Ilyas, Sidarta; Taim, Hilman, dkk. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi kedua. Jakarta:Sagung Seto. 2002 Ilyas, Sidarta; Ilyas, Ramatjandra. Klasifikasi dan Diagnosis Banding Penyakitpenyakit Mata. Jakarta: FKUI.1991 PERDAMI. Panduan Manajemen Klinis Perdami. Jakarta: PP PERDAMI.2006 Taylor, David;S.H. Greig. Pediatric Ophthalmology and Stabismus, third edition. USA: Elsevier. 2005 Vaugan daniel, Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva; alih bahasaJan Tamboyang, Braham U Pendit;editor Y. Joko Suyono. Oftalmologi Umum, edisi 14. Jakarta: Widya Medika. 2000

18