Anda di halaman 1dari 7

Dilema Gerakan Sosial di Tengah Kemajemukan1 Oleh : Rifki Hasibuan

Dalam sepuluh tahun terakhir, gerakan sosial di indonesia telah memasuki fase baru. Gelombang reformasi 1998 telah menarik kembali katup demokratisasi yang selama 32 tahun telah disumbatkan rezim Orde Baru (Orba). Paket liberalisasi politik telah menjadi lahan kondusif bagi menguatnya berbagai spektrum isu yang berkorelasi erat dengan pembiakan gerakan sosial. Isu-isu yang sebelumnya dianggap tabu untuk dibicarakan mulai mencuat ke permukaan wacana, mulai dari isu kesejahteraan, kebebasan, kesetaraan hingga isu lingkunga. Berbagai isu itu memunculkan varian yang sangat beragam, dan diusung oleh berbagai kelompok dan identitas yang sangat plural Penguatan berbagai isu tersebut, terjadi seiring perubahan sistem politik yang signifikan, yaitu diterapkannya kembali model Pemilu multi-partai. Model ini sekaligus menandai terbukanya kebebasan berserikat dan mengekspresikan pendapat. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan industri media meningkat pesat, beririsan dengan akses informasi dan pertukaran wacana. Indonesia mengalami masa euforia politik, tampaknya pendapat itu tidak berlebihan. Secara sepintas hal itu bisa dirasakan dari menjamurnya organisasi sosial dan partai politik yang ada. Masyarakat berduyun-duyun

mengekspresikan pendapatnya dengan melontarkan wacana melalui media massa, atau dengan membentuk organisasi, baik politik mau pun non-politik.

Disampaikan dalam acara sarasehan Perkembangan Gerakan Sosial dan strategi adaptasinya dalam peringatan 1 dekade Hijau-GPL , 2 Mei 2009

Di luar konteks itu, tak sedikit organisasi atau atau gerakan pro-demokrasi yang sudah terlebih dulu mengkonsolidasikan aktivitasnya. Setidaknya tercatat keberadaan Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan sebagainya, yang semenjak masa orde telah gencar menyuarakan wacana-wacana demokrasi dan perubahan. Lembaga-lembaga tersebut melakukan berbagai advokasi terhadap kelompok-kelompok marjinal, dan terus mengusung wacana-wacana yang dianggap tabu oleh rezim Orba. Dan pada masa ini, hampir semua gerakan sosial prodemokrasi dipersatukan oleh satu orientasi politik, menggeser suharto sebagai nahkoda rezim orde baru yang totaliter. Dalam konteks global, era reformasi di indonesia berlangsung di tengah iklim internasional yang abu-abu. Dalam hal ini, pembelahan kutub ideologis dalam perang dingin antara blok timur dan blok barat telah berakhir seiring runtuhnya rezim komunis Uni-Soviet. Dan kapitalisme dengan demokrasi liberal pun mendeklarasikan diri sebagai pemenang, bahkan tanpa sungkang menyatakan bahwa dunia telah memasuki periode akhir sejarah. Namun, jauh sebelum berakhirnya perang dingin tersebut, sebenarnya situasi global memang mengalami pergeseran-pergeseran signifikan dalam setengah abad terakhir. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari tida sudut pandang, yaitu secara politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Secara politik, telah terjadi perdebatan kuat tentang formulasi negara kesejahteraan dan negara liberal, yang menempatkan doktrin neo-liberalisme sebagai wacana dominan yang menggeser berbagai rezim pembangunan di negara dunia ketiga. Secara ekonomis, model fordisme telah menerapkan rangkaian produksi secara massal yang telah menggoyang hukum supply and demand sebagai salah satu prinsip dasar

ekonomi. Dalam hal ini, rangkaian aktivitas produksi telah memposisikan kebutuhan sebagai sesuatu yang diciptakan terus-menerus, dan akhirnya dunia pun terbentuk sebagai suatu masyarakat konsumen. Secara sosial-budaya, perkembangan teknologi telah mempercepat terjadinya arus pertukaran informasi. Peristiwa di suatu belahan kecil di dunia, bisa berimbas sangat cepat terhadap belahan dunia yang lain. Secara pelahan, fenomena ini pun mengkondisikan terbentuknya homogenisasi budaya, di mana budaya popular dominan mulai menjalar di seluruh bagian dunia. Dan efek yang tak bisa dielakkan dari pergeseran sistem dunia tersebut adalah, meluasnya kontradiksi atau pertentangan yang mendasari arus pewacanaan dalam masyarakat. Hal ini sekaligus menandai munculnya model gerakan sosial baru, yang memberikan demarkasi tegas terhadap gerakan sosial lama, yaitu gerakan kelas yang biasa direpresentasikan oleh gerakan buruh. Dalam hal ini, tak urung gerakan sosial yang tumbuh-subur di indonesia paska reformasi pun merupakan satu bagian dari fenomena gerakan sosial baru tersebut. Karakter gerakan sosial baru dintandai dengan penggunaan identitas kelompok sebagai penanda gerakan tersebut. Ada pun identitas itu ditetapkan tidak melulu berbasis kelas sosial konstituennya, melainkan lebih ditekankan pada fokus isu yang diusung. Hal ini terlihat jelas pada beberapa kasus, seperti: gerakan lingkungan, gerakan perdamaian dan sebagainya. Meski begitu, tak sedikit juga gerakan sosial baru yang masing menggunakan identitas konstituen sebagai penanda kelompoknya, salah satu yang menonjol yaitu gerakan gay. Keberagaman, kurang lebih itu yang terlihat dari fenomena gerakan sosial yang tumbuh subur paska reformasi 1998. Itu adalah fenomena yang tak terelakkan dari pergeseran

sistem dunia yang melingkupi. Secara umum, kompleksitas ekonomi, politik mau pun sosial budaya telah menciptakan isu yang beragam dalam menyikapi kompleksitas tersebut. Ironisnya, eforia politik paska reformasi ternyata tidak memberikan ruang konsolidasi yang cukup kuat bagi gerakan-gerakan sosial yang ada. Bergesernya Orba sebagai musuh bersama gerakan sosial turut mempengaruhi diaspora gerakan sosial yang ada. Yang terjadi kemudian adalah, masing-masing gerakan sosial banyak terjebak pada sektarianisme isu yang diusung. Satu gerakan sosial yang mengusung isu tertentu, tak jarang hanya bergelut masalah-masalah yang berkaitan dengan isu tersebut. Misal kan organisasi lingkunga, tak jarang hanya berkutat pada isu-isu lingkungan semata, tanpa memperhatikan isu-isu yang diusung kelompok gerakan yang lain, seperti: isu kesejahteraan, isu kesetaraan jender, dan sebagainya. Perdebatan dan pertukaran wacana antar organisasi gerakan yang mengusung isu-isu berbeda terhitung minim. Memang, masing-masing organisasi gerakan tak jarang juga bertemu dalam suatu forum konsolidasi, tapi hal itu lebih banyak terjadi secara kasuistik. Dengan kata lain, konsolidasi tersebut lebih didorong oleh kebutuhan untuk menyikapi permasalahan yang sedang mengemuka. Yang lebih strategis dalam hal ini adalah, perlunya pertukaran wacana antar organisasi gerakan yang berbeda, sehingga akan terjadi pematangan terhadap masing-masing itu yang diusung. Misalkan sebuah organisasi lingkungan, mungkin perlu melakukan penggodokan konsep dengan organisasi petani, sehingga terjadi penguatan laju gerakan lingkungan dan gerakan pertanian. Di sisi lain perdebatan yang juga sering muncul di kalangan organisasi gerakan sosial adalah, perdebatan tentang strategi gerakan. Yang paling sering muncul adalah wacana

keterlibatan dalam proses politik. Banyak gerakan sosial yang membatasi diri pada ranah sosial-ekonomi, dan enggan terlibat dalam proses politik formal, misalnya dalam proses demokrasi elektoral atau Pemilu. Tak sedikit yang berpendapat bahwa keterlibatan dalam proses politik tersebut akan mengurangi tendensi gerakan sosial dari orientasi moral menjadi orientasi politik atau kekuasaan. Namun di sisi lain, tak sedikit ditemui fenomena di mana berbagai advokasi kebijakan yang dilakukan oleh kelompok gerakan sosial terbentur pada sistem politik formal. Hal ini yang memunculkan wacana bahwa gerakan sosial perlu memiliki saluran aspirasi dalam sistem politik formal. Hal ini bisa ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya dengan melakukan kontrak politik dengan para calon yang terlibat dalam kontestasi elektoral, misalnya dengan para para caleg yang akan maju dalam pemilu legislatif, atau dengan calon eksekutif dalam berbagai ajang pemilihan. Pada level gerakan lingkungan sendiri, perdebatan yang paling sering mengemuka yaitu antara gerakan konservasi lingkungan, dan gerakan politik lingkungan. Gerakan konservasi lebih menitikberatkan orientasi untuk melakukan kampanye dan berbagai aktivitas pelestarian lingkungan. Sementara gerakan politik lingkungan lebih

menekankan praktik-praktik yang mempengaruhi kebijakan lingkungan. Dua titik perdebatan ini pun tampaknya masih sulit mencapai titik temu. Secara umum, ketika gerakan sosial dipandang sabagai salah satu model partisipasi masyarakat terhadap kebijakan publik, maka perlu dipertimbangkan juga upaya-upaya untuk mencari titik-titik temu antar gerakan sosial yang berbeda. Di sini komunikasi memegang peranan penting, yang diharapkan mampu menjembatani proses negosiasi dan

melahirkan kesepakatan-kesepakatan bersama. Di situ lah gerakan sosial sebagai suatu seni perubahan diuji dalam menampilkan dirinya.

Tabel: Isu-isu Beberapa Organisasi Gerakan Sosial di Yogyakarta


Organisasi Organisasi Petani Relasi Sub-Ordinasi - Pertanian dikuasai pemodal - Pertanian kimia merusak lingkungan - Petani dipandang strata sosial rendah - Melunturnya cara hidup petani - Perdagangan bebas merugikan petani Organisasi - Kebijakan pemerintah memiskinkan petani - Perkembangan reformasi mengarah pada Demokrasi Antagonisme Kearifan local VS tekanan global

Pemuda

depolitisasi - Demokratisasi di Indonesia masih procedural - Neo-liberalisme tidak menciptakan

partisipatoris otoritarianisme,

VS

sistem fundamentalisme, neo-liberalisme Demokrasi Kerakyatan VS Neo-

Organisasi Mahasiswa Organisasi Buruh

distribusi berkeadilan - Neo-liberalisme memiskinkan rakyat - Pembelokan reformasi oleh reformis gadungan

- Masih bertahannya kekuatan orba Liberalisme - Model ketenagakerjaan neo-liberalisme (sistem Partisipasi buruh VS konrak, outsourcing, pencabutan jamsostek, dsb) ketenagakerjaan neosemakin memposisikan buruh sebagai komoditas - Lemahnya kesejahteraan industri buruh, nasional dan memperburuk memperlemah Kesetaraan jender VS liberal (labor market flexibility)

Organisasi Perempuan Organisasi Lingkungan

partisipasi buruh dalam proses produksi - Kultur patriarkhi merugikan perempuan

- Kapitalisme melangengkan kultur patriarkhi Patriarki - Eksploitasi lingkungan tidak menjamin Pengelolaan keberlanjutan berkelanjutan VS

- Pengelolaan lingkungan berorientasi pasar tidak Eksploitasi Organisasi Pekerja Hukum melibatkan komunitas - Hokum didominasi mafia peradilan, lingkungan tidak Hokum progresif VS Hukum positivistic

menjamin equality before the law - Rakyat kecil sering dirugikan dalam peradilan