Anda di halaman 1dari 20

FENOMENA OPERASI TRANSEKSUAL DALAM PERSPEKTIVITAS HUKUM ISLAM

TESIS
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-2 Program Studi Magister Kenotariatan

Diajukan oleh : Andi Mukram 11504/PS/MK/03

Kepada

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2005

ii

iv

KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirrahim, Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan Hidayah-NYA, sehingga penulisan tesis yang berjudul FENOMENA OPERASI TRANSEKSUAL DALAM PERSPEKTIVITAS HUKUM ISLAM dapat terselesaikan dengan baik. Tesis ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat sarjana S-2 pada Program Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa pertolongan Allah Yang Maha Kuasa dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, mustahil tesis ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa hormat dan terima kasih serta penghargaan yang setulusnya kepada Bapak Prof. DR. H. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H., selaku dosen pembimbing tesis penulis, yang senantiasa memberikan bimbingan, koreksi dan arahan ditengah kesibukan beliau. Kepada semua pihak yang telah membantu penulisan tesis ini, dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus, khususnya kepada : 1. Ibu DR. HJ. Siti Ismijati Jenie, S.H., CN.,selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan pada Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. 2. Bapak/Ibu dosen Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada, yang telah memberikan tambahan wawasan dan ilmu pengetahuan

yang sangat berguna kepada penulis selama mengikuti pendidikan dan perkuliahan ini. Serta seluruh staf dan karyawan Program Studi Magister Kenotariatan. 3. Bapak KH Syafii Abdur Rahman selaku Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Kabupaten Tulungagung. 4. Bapak H. Moch Chamim Badruzzaman selaku Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Tulungagung. 5. Bapak Dr. H. Anang Imam Massa Arief, M.Kes selaku Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tulungagung. 6. Bapak Hisyam Karaman selaku Ketua Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Kabupaten Tulungagung. 7. Ike Pradasari, Dinda Ekawati, Gladis Puspaningsih, Orint dan Marlene serta teman-teman waria yang lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Untuk semua cerita perjalanan hidup yang penuh dengan sukadukanya. 8. Mammie tercinta HJ. Elizabeth Kuen, yang telah memberikan kasih sayang yang tak terhingga, dukungan baik moril maupun materil serta doa yang tiada lelah dan terputus yang selalu menyertai setiap langkah perjalanan hidup penulis, serta kedua mertua penulis 9. Kakanda Dr. H. Andi Munasser M.Kes, hanya Allah yang dapat membalas semua kebaikan yang tak ternilai ini dan semoga menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya, terima kasih kak.

vi

10. Teman-teman di Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada, khususnya angkatan 2003, Pak Shalman S.H., Pak Hasanuddin Rahman Daeng Naja S.H., M. Hum., Pak Agus Priyantoko S.H., M.Kn., untuk harihari yang menyenangkan selama penulis di Jogja serta semua teman-teman lainnya, atas bantuannya selama ini. 11. Teman-teman kost langit biru terutama adik Slamet S.E., yang selalu direpotin sejak awal kedatangan penulis di Jogja dan adik Faisol Amrik, thanks for everything. Secara khusus penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang dalam kepada istri tercinta HJ. Raudhotus Shofia, S.E. dan kedua anak-anak belahan jiwa penulis, Zakiratul Farah Nisa dan Muhammad Attijani, untuk semua pengertian, kesabaran dan ketabahannya selama ini, yang terus memotivasi penulis, hingga terselesaikannya kuliah dan penulisan tesis ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini jauh dari sempurna, baik substansi maupun penulisannya, karena itu sangat diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan tesis ini. Akhirnya dengan segala doa dan harapan semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan balasan yang lebih dari segala apa yang telah mereka persembahkan kepada penulis selama ini. Segala kerja keras dan upaya yang tidak mengenal lelah ini, semoga mendapatkan Ridha dari Allah Robbul Alamin. Yogjakarta, 30 April 2005. Penulis,

ANDI MUKRAM

vii

DAFTAR ISI HALAMAN HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................. ii PERNYATAAN....................................................................................................... iii KATA PENGANTAR ............................................................................................. iv DAFTAR ISI............................................................................................................ vii INTI SARI................................................................................................................ viii ABSTRACT............................................................................................................. ix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah..................................................................... 1 1. Perumusan Masalah ..................................................................... 10 2. Keaslian Penelitian....................................................................... 10 3. Manfaat Penelitian ....................................................................... 11 B. Tujuan Penelitian................................................................................ 11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Jenis Kelamin........................................................ 12 1. Struktur Alat Kelamin Wanita ..................................................... 12 2. Struktur Alat Kelamin Pria .......................................................... 19 B. Hermaproditisme dan Waria .............................................................. 19 C. Ijtihad Dalam Hukum Islam............................................................... 24 D. Hukum Waris Islam............................................................................ 28 1. Pengertian Kewarisan Islam......................................................... 28

viii

2. Sumber Hukum Waris Islam........................................................ 29 3. Prinsip Hukum Waris Islam......................................................... 35 4. Ahli Waris .................................................................................... 41 BAB III CARA PENELITIAN A. Penelitian Kepustakaan ...................................................................... 48 B. Penelitian Lapangan ........................................................................... 49 C. Jalannya Penelitian............................................................................. 51 D. Analisis Data ...................................................................................... 52 E. Kesulitan Dalam Penelitian................................................................ 53 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Prosedur Operasi Transeksual............................................................ 54 B. Ijtihad Ulama Terhadap Operasi Transeksual.................................... 60 1. Nahdlatul Ulama ........................................................................ 61 2. Muhammadiyah.......................................................................... 82 3. Al-Irsyad Al-Islamiyyah ............................................................ 85 4. Majelis Ulama Indonesia ........................................................... 86 C. Bagian Waris Khuntsa ........................................................................... 88 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan............................................................................................ 106 B. Saran...................................................................................................... 108 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 109 LAMPIRAN-LAMPIRAN

ix

FENOMENA OPERASI TRANSEKSUAL DALAM PERSPEKTIVITAS HUKUM ISLAM Andi Mukram 1 dan Abdul Ghofur Anshori 2 INTISARI Penelitian mengenai Fenomena Operasi Transeksual Dalam Perspektivitas Hukum Islam merupakan penelitian normatif. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gejala yang tampak pada masyarakat, bahwa maraknya keinginan dikalangan kaum waria untuk melakukan operasi transeksual, yaitu mengganti alat kelaminnya yang asli dengan yang baru dan orang khuntsa tentang operasi penegasan kelaminnya. Kedua operasi tersebut akan dianalisa dalam kaca mata hukum Islam, tidak saja mengenai halal haram yang dihasilkan dari ijtihad ulama, tetapi lebih jauh dari itu tentang akibat hukum setelah terjadinya operasi, yaitu kedudukan waris yang bersangkutan sebagai ahli waris. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini, adalah data primer yang diperoleh langsung dari responden dan nara sumber dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa pedoman wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka melalui studi dokumen. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif dan dibuat dalam bentuk laporan hasil penelitian yang bersifat deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa, operasi transeksual dan operasi lainnya dengan tujuan untuk mengubah ciptaan Allah SWT, dengan motivasi untuk mempercantik diri atau untuk kenikmatan, hukumnya adalah haram. Adapun status hukum waria yang telah melakukan operasi transeksual tetap dengan identitas kelamin sebelum operasi, dalam kaitannya sebagai ahli waris, sedangkan untuk khuntsa, operasi normalisasi hukumnya mubah atau boleh. Adapun bagian khuntsa sebagai ahli waris adalah bagian yang terkecil dari dua perkiraan laki-laki dan perempuan, sesuai dengan pendapat Madzhab Imam Hanafiah.

Kata Kunci : Operasi Transeksual dan Hukum Islam.

Jl. Dr. Sutomo No. 40 Tulungagung Jawa Timur. Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

THE PHENOMENA OF TRANSEXUAL SURGERY IN THE PERSPECTIVE OF ISLAMIC LAW (SHARIAH) Andi Mukram 3 and Abdul Ghofur Anshori 4 ABSTARCT

This is a juridical, emperical research on the Phenomena of Transexual Surgery in The Perspective of Islamic Law, which is conducted purposefully to identify the obvious symptoms in the society where there is increasing eagerness among transvestites to have Transexual operation to change his/her sex from the original state to a new one and khuntsa (hermaphroditic) with the surgical confirmation on his/her sex. Both surgeries will be analyzed from Shariah point of view, not only concerning the halal-haram aspects (the lawful and the prohibited) resulted from ijtihad (concerted efforts to interpret and produce law) by ulama (Islamic scholars), but also furthering on the legal consequences after the surgeries, i.e. his/her status in inheritance as heir. Throughout this research, we use primary data -which is obtained directly from respondents and resource persons with data gathering tools such as interviews- and secondary data obtained from literatures through studies on documents. The gathered data is analyzed qualitatively and the result of this research is written in the form of descriptive report. According to the outcome of this research, we found out that Transexual surgery and other operations with the purpose of changing Allah Swt creation motivated by eagerness to beautify oneself or for personal pleasures- is haram/prohibited. On the other hand, the legality of transvestites who have undergone operation to preserve their sex identity as before the operation and also for the khuntsa with normalization surgery, regarding to the position as heirs, is mubah (allowed). Khuntsa portion as heir to the legacy is the smallest portion from two estimations of man and woman, based on the school or madzhab of Imam Abu Hanifah.

Keyword: Transexual Surgery and Islamic Law.

Jl Dr. Sutomo No. 40 Tulungagung Jawa Timur Faculty of law Gadjah Mada University

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Segalanya diciptakan saling berpasangan dan hal ini telah menjadi tanda atas kekuasaan-NYA. Bivalensi adalah kehendak Allah dan seks, yang merupakan hubungan antara pria dan wanita, merupakan pelaksanaan kehendak-

NYA.Hubungan seks dan yang saling berhubungan dengannya, merupakan media dalam proses universal yang dimulai dengan lawan jenis dan berlanjut sehingga terjadi pertemuan dan memuncak dalam doa. Pandangan Islam tentang seks, merupakan pandangan yang menyeluruh, yang bertujuan untuk mengintegrasikan seks dalam kehidupan sehari-hari. Islam merupakan suatu pengenalan, bukan menganggap seks sebagai hal yang salah, akan tetapi, pengenalan itu sendiri sangatlah tegas dan menekankan pada kenyataan utama yang sangat rinci dan serius. Alquran sendiri tidak menetapkan larangan tentang seks, akan tetapi mengatur hubungan seksual. Islam dengan tegas menentang segala cara dalam merealisasikan hasrat seksual, yang dianggap tak wajar sebab bertentangan dengan keselarasan hidup, yang dapat menjerumuskan manusia dalam kerancuan dan melanggar tujuan dari pembuatan alam semesta. Allah mengutuk mereka yang mengubah batasan yang menyangkut seksualitas. Terdapat empat jenis perbuatan yang membuat murka Allah, yaitu : laki-laki yang berpakaian selayaknya perempuan dan perempuan berpakaian selayaknya laki-laki, mereka yang bercinta dengan binatang dan mereka yang bercinta dengan sesama laki-laki.

Secara ekstrim, masyarakat sering kali hanya mengakui segala hal hanya pada dua wilayah yang saling bertentangan, seperti besar-kecil, hitam-putih dan lain sebagainya. Pada wilayah jenis kelamin dan orientasi seksualpun, masyarakat juga secara diskrit hanya mengakui jenis laki-laki dan perempuan secara tegas dan keduanya berposisi berpasangan. Laki-laki dengan perempuan. Tidak ada tempat bagi laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan. Laki-laki dengan kemaskulinannya dan perempuan dengan kefemininannya. Keduanya dikonstruksi pada posisi masing-masing dan tidak boleh bertukar. Misalnya lakilaki dengan identitas penampilan perempuan atau perempuan dengan identitas laki-laki. Meramu dua jati diri pada satu tubuh divonis sebagai sebuah penyimpangan, baik dalam dalam tafsir agama maupun sosial. Di dalam sejarah kebudayaan, hanya ada dua jenis kelamin yang diakui oleh masyarakat. Hal ini sangat beralasan karena pengertian jenis kelamin itu sendiri mengacu kepada keadaan fisik dan alat reproduksi manusia, sehingga seksual menjadi variable diskrit. Klasifikasi ini mengakibatkan hadirnya penilaian tentang perilaku, bahwa laki-laki harus seperti laki-laki dan perempuan juga sebagaimana layaknya perempuan. Orang-orang yang berperilaku menyimpang dari klasifikasi ini, akhirnya akan mendapatkan sebutan lain, misalnya ada istilah perempuan tomboi, laki-laki feminin dan sebagainya. Identitas dipengaruhi oleh tiga hal utama, yakni faktor prenatal, faktor yang terjadi pada masa-masa kecil dan kanak-kanak serta faktor-faktor yang menyangkut pubertas. Ketika anak di dalam janin sebenarnya telah terjadi pembedaan kelamin secara organis, yang diikuti pula dengan perkembangan otak.

Kemudian pada masa kanak-kanak, bagaimana cara penempatan dan cara di besarkan seorang anak menjadi laki-laki atau perempuan sangat berpengaruh terhadap perkembangan identitas seseorang. Pada masa pubertas banyak terjadi perubahan dan produksi hormon yang menyebabkan timbulnya ciri-ciri seks sekunder baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan (Kelly, 1988: 130-133) Sebagai sebuah kepribadian, kehadiran seorang waria merupakan suatu proses yang panjang, baik secara individu maupun sosial. Secara individu antara lain, lahirnya perilaku waria tidak lepas dari suatu proses atau dorongan yang kuat dari dalam dirinya, bahwa fisik mereka tidak sesuai dengan kondisi psikisnya. Hal ini menimbulkan konflik psikologis dalam dirinya. Waria mempresentasikan perilaku yang jauh berbeda dengan laki-laki normal, tetapi bukan sebagai perempuan yang normal pula. Permasalahan tidak sekedar menyangkut masalah moral dan perilaku yang dianggap tidak wajar, namun merupakan dorongan seksual yang sudah menetap (Kartono, 1989: 257). Proses seseorang menjadi waria berlangsung dari masa kanak-kanak hingga ia mencapai dewasa. Bentuk kehidupan ini bukannya tanpa kendala, karena tatanan sosial maupun kultural belum sepenuhnya menempatkan waria sebagaimana sejajar dengan jenis kelamin yang dibedakan secara diskrit. Hal ini menyangkut satu bentuk konstruksi sosial waria itu sendiri yang dibangun secara dialektika antara waria dengan lingkungan sosialnya. Dialektika berlangsung karena kenyataan hidup sehari-hari memiliki dimensi obyektif dan subyektif. Manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang obyektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana kenyataan subyektif mempengaruhi kembali manusia

melalui proses internalisasi (Berger, et al, 1990: 31-33), karena itu Berger memandang masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat. Dimensi konflik dan perilaku yang dihadirkan oleh waria, tidak hanya dipandang sebagai sebuah tatanan yang menyimpang, bahwa perilaku mereka belum mendapatkan tempat dalam peran-peran sosial yang menyatu dengan masyarakat. Lingkungan sosial umumnya akan memperoleh keamanan psikologis yang cukup besar dari perasaan akrab dan menyatu, karena manusia dalam konteks kebudayaan dan hukum tidaklah sendirian, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu kelompok (zon piliticon), dalam kelompok itu ia diterima dan memainkan peran tertentu. Di dalam struktur masyarakat yang lebih luas, waria masih dianggap sebagai kelompok sosial yang menimbulkan masalahmasalah ketertiban umum, sejajar dengan pekerja seks komersial (psk), gelandangan dan pengemis, sehingga perlu penertiban di mata pemerintah. Hal ini terbukti dengan seringnya dilakukan operasi penertiban oleh aparat keamanan dan ketertiban untuk menberangus nafas kehidupan waria. Dibandingkan dengan kaum homoseksual, perilaku waria memiliki banyak problem. Kaum homoseksual sama sekali tidak mengalami hambatan-hambatan sosial dalam pergaulan dan perilaku mereka, karena mereka tidak mengalami krisis identitas. Terbukti, tidak sedikit diantara kaum homoseksual menempati posisi-posisi penting di berbagai profesi, baik sebagai politisi, birokrat, artis atau profesional lainnya. Di dalam lingkungan sosial kaum homoseksual sama sekali tidak dapat diidentifikasi secara nyata, sehingga mereka lebih leluasa bergaul dan

berperilaku sebagaimana laki-laki normal. Berbeda dengan kaum waria, di samping masih menghadapi berbagai tekanan-tekanan sosial, posisi mereka dalam struktur masyarakat juga kurang mendapat tempat. Di sisi lain, kehidupan waria yang mengelompok, baik melalui arena kehidupan malam di berbagai tempat, maupun melalui organisasi sosial kaum waria, pada akhirnya telah melahirkan satu sub-kultur tersendiri. Misalnya saja, mereka memiliki kode-kode bahasa tertentu sebagai media komunikasi antar waria, yang hanya dapat dimengerti oleh mereka sendiri (Koeswinarno, 2004: 6). Selain itu kehidupan seksual kaum waria memiliki tradisi yang berbeda dengan kehidupan seksual laki-laki maupun perempuan pada umumnya, bahkan diantara kaum homoseksual sekalipun. Fenomena gemblak dalam dunia warok di masyarakat Jawa Timur atau pun kesenian ludruk yang senantiasa menampilkan tokoh perempuan yang diperankan oleh laki-laki, sudah lama ada, baik dilihat maupun didengar, namun kenyataannya hingga saat ini, dunia waria masih belum dapat diterima oleh masyarakat. Dalam kehidupan sosial, waria masih dipandang sebagai individu yang patologis, sehingga ia perlu dikasihani disatu sisi, namun dicela disisi yang lain (Soedjono, 1982: 146-147). Kemudian secara kultural dunia waria juga belum sepenuhnya ditempatkan ke dalam pandangan dunia, dimana sebenarnya bentukbentuk ekspresi simbolis seksualitas merupakan satu produk dari pandangan itu. Hampir tidak ada satupun wacana yang membicarakan dunia waria di dalam sistem pandangan dunia, selain laki-laki dan perempuan sebagai tipifikasi

hubungan diantara mereka. Oleh sebab itu, semakin tegas dapat dilihat bahwa realitas sebagai waria adalah sebuah kehidupan dengan berbagai kendala yang harus dihadapi dalam berbagai dimensinya. Dunia waria bagi banyak orang merupakan bentuk kehidupan anak manusia yang cukup aneh dan unik. Secara fisik mereka adalah laki-laki normal, memiliki kelamin yang normal, namun secara psikis merasa dirinya perempuan, tidak ubahnya seperti kaum perempuan lainnya. Akibatnya perilaku sehari-hari tampak kaku, fisik laki-laki, namun cara berjalan, berbicara dan dandanannya mirip perempuan. Dengan cara yang sama dapat dikatakan bahwa jiwa mereka terperangkap pada tubuh yang salah. Dunia waria merupakan salah satu wilayah yang lepas dari sudut pandang di atas. Waria dianggap sebagai sebuah penyimpangan bahkan kelainan, karena pada tubuh seorang laki-laki bersemayam diri seorang perempuan. Oleh karena itu, menjadi waria bukanlah persoalan yang mudah, karena termasuk kategori melawan arus dominan (Koeswinarno, 2004: 34) Waria dalam konteks psikologis termasuk sebagai penderita

transeksualisme, yakni seorang yang secara jasmani jenis kelaminnya jelas dan sempurna, namun secara psikis cenderung untuk menampilkan diri sebagai lawan jenis (Heuken, 1979: 148). Seorang penderita transeksualisme dengan demikian secara psikis merasa tidak cocok dengan alat kelamin fisiknya, sehingga mereka seringkali memakai pakaian atau atribut lain dari jenis kalamin yang lain, jika laki-laki ia memakai pakaian perempuan, namun jika perempuan ia memakai pakaian laki-laki. Akan tetapi transeksualisme lebih banyak dialami oleh kaum

laki-laki dibanding perempuan. Neale (1990: 351) perbandingan jumlah transeksualisme laki-laki adalah 1 : 30.000, sedangkan untuk perempuan 1 : 100.000. Satu hal yang pasti, kaum waria dengan sendirinya termasuk penderita transeksual. Dalam Hukum Islam ada istilah yang hampir sama tetapi dengan pengertian yang sangat berbeda yaitu khuntsa. Khuntsa adalah seseorang yang mempunyai alat kelamin ganda yaitu alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan (hermaprodit) atau seseorang yang tidak mempunyai alat kelamin sama sekali (Rafiq, 1998: 141). Khuntsa dalam bahasa Arab diambil dari kata alkhans, dibentuk dengan wazan (timbangan) fula dengan arti asalnya lunak, halus dan lemah-lembut. Khanatsa yang berarti lunak atau melunak, misalnya khanatsa wa takhanatsa, yang berarti ucapan atau cara berjalan seorang laki-laki yang menyerupai wanita, lembut dan melenggak-lenggok, Dalam bahasa Indonesia, khuntsa diartikan sama dengan banci (Ensiklopedia Islam 3, 1999: 57-58), yang berarti: (1) bersifat laki-laki dan perempuan (tidak laki-laki, tidak perempuan); (2) laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian sebagai perempuan dan sebaliknya, wadam, waria. Khuntsa terdiri dari dua jenis, yakni : 1) Khuntsa gairu musykil (Khuntsa wadih), adalah seorang yang dapat diketahui mana yang lebih kuat antara unsur laki-laki dan unsur perempuannya, bila yang lebih kuat unsur laki-laki, maka ia dipandang sebagai laki-laki dan jika yang lebih kuat unsur perempuannya, maka ia dipandang sebagai perempuan. Tanda-

tanda yang menunjukkan kearah itu antara lain : a. Sebelum khuntsa itu baliq, dapat dilihat dari cara buang air kecilnya. Jika ia buang air kecil melalui alat kelamin laki-laki, maka ia dihukumkan sebagai laki-laki dan jika ia buang air kecil melalui alat kelamin perempuan, maka ia dihukumkan sebagai perempuan. Tetapi jika ternyata ia buang air kecil melalui kedua alat kelaminnya, maka yang berlaku adalah alat kelamin yang lebih dahulu keluar air kencingnya. b. Sesudah baliq, bisa dilihat tanda-tanda lain. Jika tanda-tanda laki-laki lebih dominan, misalnya tumbuh kumis dan janggut, menyukai wanita atau ihtilam (bermimpi sebagaimana layaknya laki-laki bermimpi), khuntsa itu dihukumkan sebagai laki-laki. Tetapi jika tanda-tanda perempuan lebih menonjol, misalnya tumbuh payudara atau mengalami menstruasi, ia dihukumkan sebagai perempuan. 2) Khuntsa musykil, adalah seorang yang tidak dapat diketahui mana yang lebih kuat antara unsur laki-laki atau unsur perempuannya. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jenis kelamin yang lebih dominan. Dikatakan musykil karena pada dasarnya manusia diciptakan Allah SWT dalam bentuk berkelamin laki-laki atau perempuan dan setiap jenis mempunyai hukum tersendiri. Apabila dalam diri seseorang terdapat dua alat kelamin secara bersamaan atau tidak ada alat kelamin sama sekali, maka status jenis kelaminnya tidak jelas dan ini berarti pula tidak jelas status hukumnya. Dewasa ini, kemajuan pesat di bidang teknologi kedokteran, khususnya

dalam bidang rekayasa genetika dan bedah kosmetika, memungkinkan seseorang dapat menjalani operasi transeksual (ganti kelamin) dan operasi interseksual

(perbaikan bentuk dan fungsi alat kelamin). Pada operasi transeksual, yakni apabila seseorang mempunyai alat kelamin, akan tetapi kandungan hormon yang dikandungnya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, maka ia dapat menjalani operasi ganti kelamin. Sedangkan interseksual, yakni apabila seseorang mempunyai alat kelamin, akan tetapi alat kelaminnya tersebut mempunyai kelainan. Secara sosiologis pergantian jenis kelamin ini telah diterima oleh masyarakat. Bahkan dimata hukum pun yang bersangkutan telah digolongkan sebagai seorang perempuan, berikut tanda pengenalnya (kasus Dorce). Pergantian kelamin itu telah pula mendapatkan pengesahan dari pihak pengadilan, bahwa orang tersebut digolongkan sebagai perempuan (Lubis, et al, 1995: 68). Dalam Hukum Islam hal ini jelas menimbulkan persoalan yang baru, baik mengenai keabsahan operasi itu sendiri, status hukum orang yang melakukan operasi tersebut dan penentuan bagian warisannya. Tentunya dalam kewarisan khuntsa ini diperlukan adanya ijtihad, karena bagian waris khuntsa tidak habis dibagi dan kepada siapa sisanya diberikan (Anshori, 2002: 14). Berbagai fenomena menarik tersebut di atas, yang akan menjadi fokus utama dalam penelitian ini.

10

Perumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas, dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut : a. .Legalkah operasi transeksual tersebut dalam perspektif hukum Islam ? b. Bagaimana cara perhitungan waris dan berapa besar bagian ahli waris khuntsa yang sesungguhnya ? 2 Keaslian penelitian Penelitian tentang waria sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain diantaranya, Koeswinarno, hidup sebagai waria, pada tahun 2004 yang fokus penelitiannya adalah pada perilaku individu dan lingkungan sosial yang saling mempengaruhi serta konflik-konflik dalam berbagai bentuk pelecehan dari masyarakat yang mengisolasi kehadiran waria. Pada akhirnya konflik itu pulalah yang pada gilirannya menjadi realitas kehidupan waria. Namun demikian penelitian tentang fenomena operasi transeksual dalam perspektivitas hukum Islam, belum pernah dilakukan penelitian. Dengan demikian bahwa penelitian yang akan dilakukan ini adalah asli. Meskipun demikian penelitian terdahulu akan menjadi acuan dalam melakukan penelitian ini sepanjang ada korelasi dan relevansi dengan peneliti. Sehingga penelitian yang terdahulu dengan penelitian ini akan saling melengkapi dalam mengembangkan ilmu hukum, khususnya hukum Islam.