Anda di halaman 1dari 3

Seri Kajian Kitab Kuning Fathul Muin Bagian 1 Muqaddimah

Posted by Jundu Muhammad in Kajian Fiqh Syafi'iyyah. 8 Comments

Kitab ini bernama Fathul Muin Bi Syarhi Qurratil Ain Bi Muhimmatiddiin karya daripada Syaikh Zainuddin Ibni Abdil Aziz al-Malibari asy-Syafiiy. Kitab ini terkenal dengan sebutan kitab Fathul Muin, merupakan salah satu kitab fiqih yang banyak digunakan sebagai acuan di pesantren-pesantren. Insya Alloh, mulai sekarang blog Jundu Muhammad akan menyajikan kajian kitab Fathul Muin kepada para pembaca sekalian, dengan hanya mengharap ridho Allah Taaala semata. Dan mohon doanya agar kajian ini dapat lancar dan selesai.

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah Taaala, Yang Maha Pembuka Jalan, Maha Dermawan, dan Maha Penolong di dalam memahami ajaran agama bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang haq untuk disembah kecuali hanyalah Allah Taaala dengan kesaksian yang memasukkan kita ke dalam Surga yang kekal, dan aku bersaksi bahwasanya Sayyidinaa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, yang menempati kedudukan yang mulia, semoga Sholawat Allah atas beliau dan atas keluarga beliau beserta para shahabat beliau, sholawat dan salam yang aku berbahagia karenanya di hari kiamat.

Wa Badu: Maka inilah Syarh (penjelasan) yang membawa manfaat atas kitabku yang bernama Qurratul Ain Bi Muhimmatid-Diin, yang memberikan penjelasan, menyempurnakan isi, mengantarkan kepada maksud-maksud dan menjabarkan faidah-faidahnya, dan aku beri nama Fathul Muin Bi Syarh Qurratil Ain Bi Muhimmatid-Diin. Dan aku memohon ke hadirat Allah Taaala Yang Maha Mulia dan Maha Melimpahkan Anugerah, agar berkenan meratakan manfaat atas kitab ini ke seluruh orang-orang Khos (khusus) dan orang-orang awam daripada saudara-saudaraku, dan kiranya agar Allah Taaala berkenan menempatkan aku dengan sebab kitab ini ke dalam tempat yang aman di Surga Firdaus. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Mulia dan Maha Belas Kasih.

(Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) aku mulai menulis. Kata Ismun itu turunan dari kata Sumuwwun yang mana ia memiliki makna Mulya, bukan turunan dari kata Wasmun yang bermakna Alamat. Dan kata Allah adalah nama untuk Dzat yang Wujud-Nya Wajib, berasal dari kata Ilaahun, yakni nama segala jenis sesembahan, kemudian asal kata tersebut di marifatkan dengan Al dan hamzahnya dibuang. Setelah itu ditetapkan sebagai nama terhadap Tuhan

yang haq untuk disembah, dan lafadz Allah tersebut adalah nama Yang Maha Agung, menurut sebagian besar ulama, dan tidak dapat dinamakan Allah kecuali hanya Dia walaupun hanya sekedar taannut [penyangatan arti atas sebuah nama]. Dan kata Ar-Rahmaan Ar-Rahiim adalah dua kata sifat yang dibentuk mubalaghah dari fiil Rahima [artinya belas kasih], dan kata Ar-Rahmaan mempunyai arti yang lebih sempurna daripada kata Ar-Rahiim disebabkan tambahan pada bentuk kata tersebut menunjukkan adanya tambahan makna, seperti halnya perkataan: Rahman [belas kasih] di dunia akhirat, dan Rahiim [belas kasih] di akhirat saja. (Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan hidayah atas kami) yakni menunjukkan kami atas tulisan ini. (Dan tiadalah kami mendapatkan hidayah kecuali hidayah dari Allah) daripada penulisan karangan ini. Dan al-Hamdu [Pujian] ianya disifatkan dengan sifat yang terbaik.

(Dan Sholawat) yakni sholawat dari Allah Taaala adalah rahmat beserta pengagungan. (Dan Salam) yakni penyelamatan daripada setiap kelemahan dan kekurangan. (Atas Sayyidinaa Muhammad utusan Allah) bagi segenap jin dan manusia menurut ijma ulama. Dan demikian pula beliau diutus untuk kalangan malaikat menurut segolongan muhaqqiq. Adapaun kata Muhammad itu adalah nama yang diambil dari isim maful mudhoaf, diperuntukkan bagi orang yang padanya memiliki kemuliaan. Nabi kita diberi nama yang demikian itu atas ilham dari Allah Taaala yang diberikan kepada kakek beliau. Dan ar-Rasul adalah manusia laki-laki yang merdeka yang diturunkan atasnya wahyu berupa hukum-hukum syara dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada ummat, walaupun ia tidak mendapat nuskhah [kitab] sebagaimana halnya Nabi Yusya alaihissalaam. Adapun jika ia tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, maka ia disebut Nabi bukan Rasul. Dan Rasul itu lebih utama daripada Nabi menurut ijma ulama. Terdapat khabar yang shahih: bahwasanya jumlah para Nabi adalah seratus dua puluh empat ribu Nabi, dan jumlah para Rasul adalah tiga ratus lima belas Rasul. (Dan semoga sholawat serta salam atas keluarga beliau) yakni orang-orang mukmin yang termasuk kerabat beliau dari bani Hasyim dan bani Muththalib. Dan ada pendapat yang mengatakan: bahwa Keluarga Nabi yang dimaksudkan di dalam doa-doa atau yang semisalnya adalah setiap orang mukmin. Dan dipilihlah pendapat yang kedua ini berdasarkan hadits dhaif, hal ini ditegaskan oleh al-Imam an-Nawawi di dalam kitabnya Syarh Muslim. (Dan semoga sholawat salam atas shahabat-shahabat beliau) Kata Shahbi adalah isim jama untuk kata Shaahib yang memiliki makna Shahaabiyy. Dan yang dimaksud Shahabat ialah orang yang berkumpul dan beriman kepada Nabi Kita Muhammad Shollallaahu alaihi wa sallam, meskipun ia seorang yang buta dan belum mumayyiz. (Yang berbahagia dengan ridha Allah Taaala) Demikian kalimat ini untuk menyifatkan terhadap beliau-beliau yang telah disebutkan di depan [yakni para kerabat Nabi Shollallaahu 'alaihi wa sallam dan shahabat Nabi Shollallaahu 'alaihi wa sallam].

(Wa Badu kemudian daripada itu), yakni sesudah menyebut basmalah, hamdalah, dan sholawat serta salam atas Nabi Muhammad Shollallaahu alaihi wa sallam, keluarga beserta shahabat-shahabat beliau, maka telah siaplah karangan ini untuk ditulis, karangan ini adalah (mukhtashor) yakni ringkasan pendek yang padat isinya. Kata Mukhtashor berasal dari kata dasar Ikhtishaar [artinya ringkas]. (Penjelasan mengenai ilmu fiqh), Fiqh secara lughah [bahasa] artinya faham. Dan menurut istilah, fiqh adalah: Ilmu mengenai hukum syara amaliyyah, yang dipetik dari dalil-dalil secara terperinci. Dan pengambilan sumbernya adalah daripada al-Quran, as-Sunnah, al-Ijma, dan al-Qiyas. Faidah daripada fiqh itu ialah untuk menjunjung tinggi daripada perintah-perintah Allah Taaala dan menjauhi daripada segala larangan-larangan-Nya. (Adapun fiqh ini mengikut daripada madzhab al-Imaam) al-Mujtahid Abi Abdillah Muhammad bin Idris (asy-Syafiiy Rahimahullaah Taaala) dan semoga Allah melimpahkan ridho-Nya kepada beliau. Maksudnya adalah, menganut pendapat beliau di dalam menentukan hukum terhadap masalah-masalah yang ditemui. Dan Idris adalah ayah beliau, anak daripada Abbas, anak daripada Utsman, anak daripada Syaafii, anak daripada as-Saaib, anak daripada Ubaid, anak daripada abdi Yazid, anak daripada Hasyim, anak daripada al-Muththalib, anak daripada Abdi Manaaf. Syaafi adalah nama kakek eliau, dimana beliau disebut sebagai keturunannya. Syaafi dan as-Saaib ayahnya, beliau berdua masuk memeluk Islam sejak perang Badr. Dan dilahirkan Imam kita radhiyallaahu anhu pada tahun 150 H, dan beliau wafat pada hari Jumat di akhir bulan rajab tahun 204 H. (Dan aku namai mukhtashor ini dengan nama Qurratul Ain) padanya terdapat penjelasan atas (hal-hal yang penting) atas hukum-hukum (agama) yang aku memilihnya. Dan kitab syarh ini dari kitab-kitab mutamad [pegangan] karya Khatimatul Muhaqqiqin Syihabud-Diin Ahmad ibn Hajar al-Haytami dan karya mujtahid-mujtahid seperti Wajihud-Diin Abdur-Rahman bin Ziyad Az-Zubaidi Radhiyallaahu anhuma, dan karangan dua syaikh kita, yakni Syaikhul Islam al-Mujaddid Zakariyya al-Anshari dan al-Imam al-Amjad Ahmad alMuzjid az-Zubaidi Radhiyallaahu anhuma, dan daripada ulama ahli tahqiq mutaakhkhirin selain beliau. Di dalam pemilihan ini selalu dilakukan dengan berpegangan kepada ketetapan Syaikhunal Madzhab anNawawi dan ar-Rafii, kemudian ketetapan ulama-ulama ahli tahqiq mutaakhkhirin radhiyallaahu anhum. (Kami penuh pengharapan) ke hadirat Allah Taaala (ar-Rahmaan [Yang Maha Pengasih], semoga dapat memberikan kemanfaatan bagi orang-orang adzkiya [cendekiawan]) yakni yang menggunakan akalnya, (Dan meresaplah) yakni dengan sebab penulisan kitab ini (pandangan mataku kelak) yakni di hari akhirat (dengan melihat Allah Yang Maha Mulia) setiap saat, pagi dan petang. Amiin.