Anda di halaman 1dari 15

A.

Konsep Terminal Illness Pasien terminal illness adalah pasien yang sedang menderita sakit dimana tingkat sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi. Oleh karena itu, pasien terminal illnes harus mendapatkan perawatan paliatif yang bersifat meredakan gejala penyakit, namun tidak lagi berfungsi untuk menyembuhkan. Jadi fungsi perawatan paliatif pada pasien terminal illnes adalah mengendalikan nyeri yang dirasakan serta keluhan-keluhan lainnya dan meminimalisir masalah emosi, sosial dan spiritual. Penjelasan tersebut mengindikasi bahwa pasien terminal illness adalah orang-orang sakit yang diagnosis dengan penyakit berat yang tidak dapat disembuhkan lagi dimana prognosisnya adalah kematian. B. Pengertian Terminal illness Kondisi Terminal adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami sakit atau penyakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh dan menuju pada proses kematian dalam 6 bulan atau kurang. Kematian sebagai wujud kehilangan kehidupan dan abadi sifatnya, baik bagi yang telah menjalani proses kematian maupun bagi yang ditinggalkan, kematian ini dapat bermakna berbeda bagi setiap orang. Kematian adalah sebuah rahasia Tuhan. Namun, sebab-sebab kematian merupakan fenomena yang selalu mengalami dinamika perubahan sesuai dengan dinamika perubahan manusia sebab kematian adalah akhir dari tahapan tugas-tugas perkembangan hidup manusia. Manusia bias mati karena sakit, kecelakaan, terbunuh, bunuh diri, euthanasia atau mungkin mati tanpa sebab apa-apa. Manusia yang mati secara mendadak tanpa melalui proses menuju kematian atau sekarat dalam jangka waktu yang relative pendek pasti tidak menunjukan dinamika sebagaimana yang dikemukakan oleh Kubbler Rose (1998) atau Pattison dalam Papalia (1977); sedangkan mereka yang mati melalui proses menuju kematian dalam jangka waktu yang relatif panjang seperti pasien erminal illness akan menunjukan dinamika yang sangat kompleks. Saat kematian itu datang, maka berhentilah semua aktivitas organ-organ yang menyokong kehidupan. Suasana berkabung dan emosi sedihlah yang biasa mendominasi

kematian. Semua makhluk yang pernah hidup pasti akan mati, termasuk manusia. Hanya saja kapan waktu tibanya kematian itulah yang tidak pasti. Ketakutan dan kecemasan akan suatu kematian merupakan fenomena yang umum dialami oleh semua manusia. Ketakutan dan kecemasan itu dapat muncul karena waktu tibanya yang tidak diketahui dan belum adanya kesiapan untuk menghadapi kematian itu sendiri. Kesiapan akan meninggalkan orang-orang yang disayangi, kesiapan untuk meninggalkan dunia yang mungkin penuh dengan kenikmatan, dan menuju suatu tempat atau kehidupan lain yang berbeda. Hal ini berarti bahwa waktu kematiannya lebih jelas diketahui dan menjadi suatu hal yang pasti. Meskipun waktu kematian yang sudah dapat dilihat dengan lebih pasti, namun rasa tidak terima, takut, marah, cemas, dan sedih menghinggapi pasien terminal illness setelah ia didiagnosis seperti itu. Diagnosis terminal illness dapat menyebabkan trauma bagi pasien dan keluarganya. C. Tanda Menjelang ajal Tipe-tipe Perjalanan Menjelang Kematian Ada 4 type dari perjalanan proses kematian, yaitu: a. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya perubahan yang cepat dari fase akut ke kronik. b. Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui, baisanya terjadi pada kondisi penyakit yang kronik. c. Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum pasti, biasanya terjadi pada pasien dengan operasi radikal karena adanya kanker. d. Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu. Terjadi pada pasien dengan sakit kronik dan telah berjalan lama. Tanda-tanda Klinis Menjelang Kematian o Kehilangan Tonus Otot, ditandai: a. Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun. b. Kesulitan dalam berbicara, proses menelan dan hilangnya reflek menelan.

c. Penurunan kegiatan traktus gastrointestinal, ditandai: nausea, muntah, perut kembung, obstipasi, dsbg. d. Penurunan control spinkter urinari dan rectal. e. Gerakan tubuh yang terbatas. o Kelambatan dalam Sirkulasi, ditandai: a. Kemunduran dalam sensasi. b. Cyanosis pada daerah ekstermitas. c. Kulit dingin, pertama kali pada daerah kaki, kemudian tangan, telinga dan hidung. o Perubahan-perubahan dalam tanda-tanda vital a. Nadi lambat dan lemah. b. Tekanan darah turun. c. Pernafasan cepat, cepat dangkal dan tidak teratur. o Gangguan Sensoria. a. Penglihatan kabur. b. Gangguan penciuman dan perabaan. Tanda-tanda Klinis Saat Meninggal o o o o o o o Pupil mata melebar. Tidak mampu untuk bergerak. Kehilangan reflek. Nadi cepat dan kecil. Pernafasan chyene-stoke dan ngorok. Tekanan darah sangat rendah. Mata dapat tertutup atau agak terbuka.

Tanda-tanda Meninggal secara klinis Secara tradisional, tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat melalui perubahanperubahan nadi, respirasi dan tekanan darah. Pada tahun 1968, World Medical Assembly, menetapkan beberapa petunjuk tentang indikasi kematian, yaitu:

a. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total. b. Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan. c. Tidak ada reflek. d. Gambaran mendatar pada EKG. D. Beberapa Reaksi terhadap Penyakit Terminal Beberapa pasien mungkin masih punya waktu untuk kematian psikologis, o mereka mungkin akan menyerah pada keadaan o Beberapa orang mencari cara untuk mengurangi nyeri dan gangguan o emosional dari penyakit yang lama serta menunggu kematian dengan tenang o Sebagian lagi menjadi takut atau marah dan menunjukkan suasana hati yang bergeser dari menolak sampai depresi o Sebagian yang lain mencoba mencapainya, mencoba mengungkapkan perasaannya dan pikirannya tentang masa depan yang tidak pasti o Yang lain putus asa dan cemas atau periode mencari, pertanyaan yang masih kabur E. Adaptasi Dengan Terminal illness Bagaimana cara seseorang beradaptasi dengan terminal illness sesuai dengan umurnya dijelaskan Sarafino (2002) sebagai berikut: 1. Anak Konsep kematian masih abstrak dan tidak dimengerti dengan baik oleh anak-anak. Sampai umur 5 tahun, anak masih berpikir bahwa kematian adalah hidup di tempat lain dan orang dapat datang kembali. Mereka juga percaya bahwa kematian bisa dihindari. Kematian adalah topik yang tidak mudah bagi orang dewasa untuk didiskusikan dan mereka biasanya menghindarkan anaknya dari realita akan kematian dengan mengatakan bahwa orang mati akan pergi atau berada di surga atau hanya tidur. Pada anak yang mengalami terminal illness kesadaran mereka akan muncul secara bertahap. Pertama, anak akan menyadari bahwa mereka sangat sakit tetapi akan sembuh.

Kemudian mereka menyadari penyakitnya tidak bertambah baik dan belajar mengenai kematian dari teman seumurnya terutama orang yang memiliki penyakit mirip, lalu mereka menyimpulkan bahwa mereka juga sekarat. Saat ini, para ahli percaya bahwa anak-anak seharusya mengetahui sebanyak mungkin mengenai penyakitnya agar mereka mengerti dan dapat mendiskusikannya terutama mengenai perpisahan dengan orang tua. Ketika anak mengalami terminal illness biasanya orang tua akan menyembunyikannya, sehingga emosi anak tidak terganggu. Untuk anak yang lebih tua, pendekatan yang hangat, jujur, terbuka, dan sensitif mengurangi kecemasan dan mempertahankan hubungan yang saling mempercayai dengan orang tuanya. INFANT a. b. Konsep kematian belum ada, berpisah dari ortu (separation) Respon dan tingkah laku yang muncul dianggap sebagai kematian 1) Bereaksi kuat terhadap separation = terpisah dari ortu sbg caregivers 2) menangis keras, menendang-nendang c. Implikasi untuk komunikasi 1) Memahami strategi penanganan separation anxiety 2) Bantu anggota keluarga untuk koping terhadap kematian sehingga mereka siap untuk kematian bayi EARLY CHILDHOOD a. Konsep kematian dipengaruhi oleh attitude ortu 1) 2) 3) Saat konsep kematian berkembang, kematian dianggap sbg Wishes (berkeinginan), misbehavior, unrelated action ? kematian Bila punya pengalaman mengenai kematian, konsepnya lebih temporer, gradual, reversibel dan menurunkan kontinuitas hidup

matang walau ia belum bisa mengungkapkannya b. Respon dan tingkah laku yang muncul

1) Meningkatkan keingintahuan mengenai hal-hal yang berhubunga dengan kematian, secara spontan mendiskusikan tentang kematian 2) berbincang-bincang dengan orang mati??? c. Implikasi untuk komunikasi 1) Pertanyaan tentang kematian dari anak 2) Diskusi tentang kematian, hal-hal yang kurang dimengerti 3) Kaji miskonsepsi terutama bila takut dan cemas 4) Beri pengertian, kematian merupakan bagian dari kehidupan dan hal itu wajar 5) Kesempatan untuk diperhatikan dan bercakap-cakap degan orang tua pada anak yag dying 6) Dekat dengan orang tua MIDDLE CHILDHOOD a. b. 2) Being death 3) Hub dg ritual 4) Ingin menyentuh corps bgmn rasanya 5) Bermain utk lebih mengerti kematian dan mengkoping perasaan c. Implikasi untuk komunikasi 1) Dengan memberikan penjelasan yg konkrit ttg penyebab kematian 2) Dengan bermain 3) Diskusi mengenai takut krn kehilangan ortu 4) Siblings: butuh kesempatan untuk tanya tentang sakit dan kematian saudaranya dan informasi yang spesifik tentang penyebab kematian 5) Ggn thd perasaan bersalah pd sibling thd saudaranya yang mati 6) Lebih concern thd separasi, nyeri, mutilition dan suffering Konsep kematian : 4 - 8 th mengerti semua yang hidup nanti Respon dan tingkah laku yang muncul akan mati ? universality, irreversible, nonfunctionality 1) Pertanyaan ttg kematian lebih detail

7) Cemas terhadap pengaruh kematiannya pada orang tua sehingga menutup komunikasi LATE CHILDHOOD a. kematian b. Respon dan tingkah laku yang muncul 1) Menggunakan ritual utk menurunkan cemas 2) TL: reckless (berani) 3) Tough demeanor: cara bertindak takut dan mudah terluka ? koping thd perasaan 4) Humor c. Implikasi untuk komunikasi 1) Pengungkapan rasa takut dan mengerti bahwa takut itu normal 2) Butuh informasi lebih detail mengapa ssorg hrs mati 3) Diskusi konsekwensi realistik dari reckless activity 4) Respon emosional 5) Bantu dying child merasa bahwa hidupnya penting dan berarti 2. Remaja atau Dewasa muda Walaupun remaja dan dewasa muda berpikir bahwa kematian pada usia muda cukup tinggi, mereka memimpikan kematian yang tiba-tiba dan kekerasan. Jika mereka mengalami terminal illness, mereka menyadari bahwa kematian tidak terjadi semestinya dan merasa marah dengan ketidakberdayaannya dan ketidakadilan serta tidak adanya kesempatan untuk mengembangkan kehidupannya. Pada saat seperti ini, hubungan dengan ibunya akan menjadi lebih dekat. Menderita terminal illness terutama pada pasien yang memiliki anak akan membuat pasien merasa bersalah tidak dapat merawat anaknya dan seolah-olah merasa bahagia melihat anaknya tumbuh. Karena kematian pada saat itu terasa tidak semestinya, dewasa muda menjadi lebih marah dan mengalami tekanan emosi ketika hidupnya diancam terminal illness. Konsep kematian: universality, irreversibelity, nonfunctioning of death, mulai cemas terhadap kematiannya sendiri, tertarik pada keadaan setelah

a. Konsep kematian 1) 2) 3) 4) 5) n after life b. Respon dan tingkah laku yang muncul 1) terancam 2) kematian c. Implikasi untuk komunikasi 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Kesempatan utk membuka percakapan mengenai kematian Kaji persepsi spesifik adolescence Peringatan thd perasaan bersalah, bermusuhan, cemas, dan bingung Treat feeling n concern dg respek yg sepenuhnya dan rasa percaya Terbuka saat sharing pendapat dan concern ttg kematian Betulkan miskonsepsi dan tdk menghakimi Dying adolescence sulit sharing concern dg keluarga Sering merasa terisolasi dr komunikasi kelompoknya Support utk mempertahankan harga diri Bantu dlm meningkatkan positive closure (pengakhiran) ttg arti Denial n avoidance of death menurunkan kecemasan akan Cemas krn kematian terutama krn citra diri dan konsep hidup yg Pengertian mengenai kematian lebih jelas here and now strong focus mencari identitas personal ? sulit menerima kematian masih memegang konsep kematian dari pengalaman dan working trough religious n philosophical views about life, death

komunikasi dr keluarga

saat komunikasi

hidup yg singkat Karakteristik kematian anak:

a. Tidak diharapkan dan tiba tiba b. Unexpected n lingering (tdk datang2 ? tetap hidup) c. Anticipated n expected d. Anticipated for the future but unexpected at the time of death e. Anticipated n lingering

3. Dewasa madya dan dewasa tua Penelitian membuktikan bahwa dewasa muda menjadi semakin tidak takut dengan kematian ketika mereka bertambah tua. Mereka menyadari bahwa mereka mungkin akan mati karena penyakit kronis. Mereka juga memiliki masa lalu yang lebih panjang dibandingkan orang dewasa muda dan memberikan kesempatan pada mereka untuk menerima lebih banyak. Orang-orang yang melihat masa lalunya dan percaya bahwa mereka telah memenuhi hal-hal penting dan hidup dengan baik tidak begitu kesulitan beradaptasi dengan terminal illness. F. Problem Yang Berkaitan Dengan Terminal Illnes 1) tampilan fisik. 2) 3) 4) 5) Problem psikologis (ketidakberdayaan): kehilangan control, Problem sosial, isolasi dan keterasingan, perpisahan. Problem spiritual. Ketidak-sesuaian, antara kebutuhan dan harapan dengan ketergantungan, kehilangan diri dan harapan. Problem fisik, berkaitan dengan kondisi (penyakit terminalnya): nyeri, perubahan berbagai fungsi sistem tubuh, perubahan

perlakuan yang didapat (dokter, perawat, keluarga, dsb).

G. Tahapan Penerimaan Terhadap Kematian

Kubler- Ross (dalam Taylor, 1999) merumuskan lima tahap ketika seseorang dihadapkan pada kematian. Kelima tahap tersebut antara lain: 1) Denial (penyangkalan) Respon dimana klien tidak percaya atau menolak terhadap apa yang dihadapi atau yang sedang terjadi. Dan tidak siap terhadap kondisi yang dihadapi dan dampaknya. Ini memungkinkan bagi pasien untuk membenahi diri. Dengan berjalannya waktu, sehingga tidak refensif secara radikal. Penyangkalan merupakan reaksi pertama ketika seseorang didiagnosis menderita terminal illness. Sebagian besar orang akan merasa shock, terkejut dan merasa bahwa ini merupakan kesalahan. Penyangkalan adalah awal penyesuaian diri terhadap kehidupan yang diwarnai oleh penyakit dan hal tersebut merupakan hal yang normal dan berarti. 2) Marah Fase marah terjadi pada saat fase denial tidak lagi bisa dipertahankan. Rasa kemarahan ini sering sulit dipahami oleh keluarga atau orang terdekat oleh karena dapat terpicu oleh hal-hal yang secara normal tidak menimbulkan kemarahan. Rasa marah ini sering terjadi karena rasa tidak berdaya, bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja tetapi umumnya terarah kepada orang-orang yang secara emosional punya kedekatan hubungan. Pasien yang menderita terminal illness akan mempertanyakan keadaan dirinya, mengapa ia yang menderita penyakit dan akan meninggal. Pasien yang marah akan melampiaskan kebenciannya pada orang-orang yang sehat seperti teman, anggota keluarga, maupun staf rumah sakit. Pasien yang tidak dapat mengekspresikan kemarahannya misalnya melalui teriakan akan menyimpan sakit hati. Pasien yang sakit hati menunjukkan kebenciannya melalui candaan tentang kematian, mentertawakan penampilan atau keadaannya, atau berusaha melakukan hal yang menyenangkan yang belum sempat dilakukannya sebelum ia meninggal. Kemarahan merupakan salah satu respon yang paling sulit dihadapi keluarga dan temannya. Keluarga dapat bekerja sama dengan terapis untuk mengerti bahwa pasien sebenarnya tidak marah kepada mereka tapi pada nasibnya. 3) Bargaining (menawar)

Klien mencoba untuk melakukan tawar menawar dengan tuhan agar terhindar dari kehilangan yang akan terjadi, ini bisa dilakukan dalam diam atau dinyatakan secara terbuka. Secara psikologis tawar menawar dilakukan untuk memperbaiki kesalahan atau dosa masa lalu. Pada tahap ini pasien sudah meninggalkan kemarahannya dalam berbagai strategi seperti menerapkan tingkah laku baik demi kesehatan, atau melakukan amal, atau tingkah laku lain yang tidak biasa dilakukannya merupakan tanda bahwa pasien sedang melakukan tawar-menawar terhadap penyakitnya. 4) Depresi Tahap keempat dalam model Kubler-Ross dilihat sebagai tahap di mana pasien kehilangan kontrolnya. Pasien akan merasa jenuh, sesak nafas dan lelah. Mereka akan merasa kesulitan untuk makan, perhatian, dan sulit untuk menyingkirkan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Rasa kesedihan yang mendalam sebagai akibat kehilangan ( past loss & impending loss), ekspresi kesedihan ini verbal atau nonverbal merupakan persiapan terhadap kehilangan atau perpisahan abadi dengan apapun dan siapapun. Tahap depresi ini dikatakan sebagai masa anticipatory grief, di mana pasien akan menangisi kematiannya sendiri. Proses kesedihan ini terjadi dalam dua tahap, yaitu ketika pasien berada dalam masa kehilangan aktivitas yang dinilainya berharga, teman dan kemudian mulai mengantisipasi hilangnya aktivitas dan hubungan di masa depan. 5) Penerimaan (acceptance) Pada tahap ini pasien sudah terlalu lemah untuk merasa marah dan memikirkan kematian. Beberapa pasien menggunakan waktunya untuk membuat perisapan, memutuskan kepunyaannya, dan mengucapkan selamat tinggal pada teman lama dan anggota keluarga. Pada tahap menerima ini, klien memahami dan menerima keadaannya yang bersangkutan mulai kehilangan interest dengan lingkungannya, dapat menemukan kedamaian dengan kondisinya, dan beristirahat untuk menyiapkan dan memulai perjalanan panjang. H. Dinamika Psikologis Dinamika psikologis secara umum sebagai berikut:

1) segera berakhir, 2) akan datang, 3)

Individu menyadari atau berkata bahwa kehidupannya akan Individu tidak pernah ada yang tahu kapan kematiannya Individu mulai mengalami keputusasaan akan treatmen-

treatmen yang didapat dan dijalankan, ia mulai yakin bahwa semua yang dilakukan tidak akan menyembuhkan penyakitnya bahkan ia yakin kematian telah dekat, 4) Individu mulai mengalami problem-problem pikiran, pada personalitnya yang cukup perasaan dan psikologis yang kesemuanyasulit untuk dipecahkan. Dinamika keempat ini tidak dialami secara signifikan mencapai acceptance/penerimaan. Dinamika tersebut ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu : umur, jenis kelamin, ras/suku bangsa, budaya kelompok, latar belakang sosial, dan personality/kepribadian. I. Tingkat Kesadaran Terhadap Kondisi Terminal Illnes 1. Closed Awareness Dalam hal ini klien dan keluarga tidak menyadari datangnya kematian, tidak tahu mengapa sakit dan percaya akan sembuh. 2. Mutual Pretense Dalam hal ini klien, keluarag, team kesehatan tahu bahwa kondisinya terminal tetapi merasa tidak nyaman untuk dan menghindari membicarakan kondisi yang dihadapi klien. Ini berat bagi klien karena tidak dapat mengekspresikan kekuatannya. 3. Open Awareness Pada kondisi ini klien dan orang disekitarnya tahu bahwa dia berada diambang kematian sehingga tidak ada kesulitan untuk membicarakannya. Pada tahap ini klien dapat dilibatkan untuk proses intervensi keperawatan. J. Tujuan & Peran Keperawatan Tujuan keperawatan klien dengan kondisi terminal secara umum/cara mengurangi syok : matang sehingg dinamika psikologisnya untuk menghadapi kematian lebih cepat

o Menghilangkan atau mengurangi rasa kesendirian, takut dan depresi o Mempertahankan rasa aman, harkat dan rasa berguna o Membantu klien menerima rasa kehilangan o Membantu kenyamanan fisik o Mempertahankan harapan (faith and hope) Peran Perawat Saat Klien Dalam Kondisi Terminal Illness o Pengabdian yang tulus dengan hati nurani yang ikhlas o Seulas senyum yang ikhlas dari seorang perawat bisa memberikan secercah harapan kesembuhan untuk seorang pasien o Membantu klien agar siap meninggal dengan tenang o Memenuhi kebutuhan spiritual Intervensi Keperawatan Terhadap Respon Klien a. Tahap Denial Beri dukungan pada fase awal karena ini berfungsi protektif dan memberi waktu bagi klien untuk melihat kebenaran. Bantu untuk melihat kebenaran dengan konfirmasi kondisi melalui second opinion. b. Tahap Anger Bantu klien untuk memahami bahwa marah adalah respon normal akan kehilangan dan ketidakberdayaan. Siapkan bantuan berkesinambungan agar klien merasa aman. c. Tahap Bargaining Asah kepekaan perawat bila fase tawar menawar ini dilakukan secara diam-diam. Bargaining sering dilakukan klien karena rasa bersalah atau ketakutan terhadap bayangbayang dosa masa lalu. Bantu agar klien mampu mengekspresikan apa yang dirasakan, apabila perlu datangkan pemuka agama untuk pendampingan. d. Tahap Depresi Klien perlu untuk merasa sedih dan beri kesempatan untuk mengekspresikan kesedihannya. Perawat hadir sebagai pendamping dan pendengar. e. Tahap Menerima

Klien merasa damai dan tenang. Dampingi klien untuk mempertahankan rasa berguna (self worth). Berdayakan pasien untuk melakukan segala sesuatu yang masih mampu dilakukan dengan pendampingan. Fasilitasi untuk menyiapkan perpisahan abadi.

I. 1.

Asuhan Keperawatan Klien Dengan Kondisi Terminal Illnes Pengkajian

Hal-hal yang dikaji adalah : Tanda gejala ansietas ( misalnya, tanda vital, nafsu makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi). Dukungan yang disediakan yang penting bagi klien. Ekspresi tidak ada harapan atau tidak berdaya (misalnya, aku tidak dapat). Sumber ansietas (misalnya, nyeri malfungsi tubuh, penghinaan, pengabaian, kegagalan, akibat negatif dari survivor). 2. Perumusan Masalah Keperawatan Dan Diagnosa Keperawatan Ansietas berhubungan dengan takut terhadap proses menjelang ajal. Sedih kronis berhubungan dengan kesedihan yang mendalam karena meninggalkan keluarga sendirian setelah kematian. Distress spiritual berhubungan dengan gambaran kematian yang negatif atau pikiranpikiran yang tidak menyenangkan tentang semua kejadian yang berkaitan dengan kematian atau menjelang ajal. 3. Rencana Asuhan Keperawatan Kaji tanda gejala ansietas. R/ ansietas menunjukkan berkurangnya harapan hidup pasien. Kaji TTV. R/ penurunan tanda-tanda vital menandakan kondisi yang sangat kritis. Kaji dukungan yang disediakan oleh keluarga pasien. R/ dkungan dari keluarga klien akan membuat pasien tenang dalam menghadapi kematian. Kaji ekspresi tidak ada harapan atau tidak berdaya dari pasien. R/ ekspresi yang tenang menunjukkan kesiapan pasien menjelang ajal.

Kaji sumber ansietas pasien. R/ membantu klien menyelesaikan wasiat-wasiat akan mengurangi kecemasan pasien dalam menghadapi kematian. Berikan pemahaman kepada kepada keluarga pasien tentang penyakit pasien. 4. o Implementasi keperawatan Mengkaji gejala gejala ansietas(misalnya: nafsu makan , pola tidur,dan tingkat

konsentrasi). o Mengkaji anda-tanda vital dan evalasi tingkat kesadaran pasien. o Berikan dukungan lepada pasien dengan tidak menyinggung keyakinan pasien. o Megkaji ekspresi tidak adanya harapan hidup dan memberikan dukungan sepenuhnya terhadap apa yang diwasiatkan pasien. o Memberikan pemahaman pada keluarga tentang apa yang sedang dihadapi paien. o 5. Memberikan kejujuran dan jawaban langsung terhaadap pertanyaan pasien tentang Evaluasi proses menjelang kematian. o Klien mampu mempertahankan kenyamanan psikologis selama proses menjelang ajal. o Klien mampu mengungkapkan perasaan misalnya : marah, sedih, atau kehilangan dan pikiran dengan staf perawat dan/atau orang penting bagi klien. o Mampu mengidentifikasi area kontrol pribadi. o Mampu mengekspresikan perasaan yang positif tentang hubungan dengan orang penting bagi pasien. o Mampu menerima keterbatasan dan mencari bantuan sesuai kebutuhan.