Anda di halaman 1dari 13

Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak Dengan Baik? A.

Pendahuluan Pendidikan sangat diperlukan oleh siapapun dan di setiap lingkungan manapun, pendidikan merupakan sarana atau tempat kita berbagi ilmu pengetahuan dan berbagi ilmu yang kita ketahui. Pendidikan terbagi menjadi, pendidikan non formal dan pendidikan

formal. Pendidikan non formal bisa kita dapatkan di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan formal bisa kita dapatkan di sekolah atau perguruan tinggi. Dalam pendidikan di lingkungan keluarga yang paling berperan untuk mendidik anak adalah orang tua, banyak orang mengatakan yang paling berperan adalah ibunya sendiri, tapi menurut saya pendidikan yang baik dalam sebuah keluarga akan terjadi atas terjalinnya kerja sama antara ayah dan ibu itu sendiri. Masing-masing orang tua mempunyai perannya

tersendiri, tidak hanya seorang ibu yang memiliki peran penting lalu seorang ayah hanya mencari uang, tetapi ayah juga tidak kalah penting dibandingkan seorang ibu. Pada zaman sekarang banyak seorang ibu yang senang berkarier di luar rumah atau sebagai pekerja, tapi semua itu tidak mengurangi tugas sebagai ibu yang mempuyai peran untuk mendidik anak dalam sebuah rumah tangga. Banyak orang yang mengatakan bahwa seorang wanita karier tidak dapat mendidik anaknya sendiri dengan baik, karena pekerjaan yang lebih banyak di luar rumah ketimbang di rumahnya sendiri akan membuat perhatian dan pengajaran serta waktu di rumah pada anak akan berkurang atau malah tidak dilaksanakan dengan baik, bahkan tidak dilaksanakan sama sekali. Biasanya orang tua yang berkarier lebih memilih menyerahkan pendidikan anaknya pada seorang pengasuh atau seorang guru private yang telah dipercaya oleh kedua orang tua tersebut. Dalam buku yang akan saya bahas dengan judul Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak Dengan Baik? akan menjelaskan panjang lebar mengenai ibu yang berhasil dalam karier, namun berhasil pula dalam mendidik anak karena keterlibatannya langsung mendidik anak dengan berbagai cara atau metode yang dilakukan oleh ibu tersebut agar anak mendapat pendidikan yang baik di rumah dan di sekolah.

B. Isi Dalam buku ini saya akan menguraikan bagaimana seorang ibu yang sukses dalam berkarier, namun sukses pula dalam mendidik anak tanpa mengurangi sedikitpun kasih sayang dan perhatian pada anak tersebut.

Buku ini terdiri dari beberapa bab, yang mana di dalam bab-babnya itu terdapat penjelasan-penjelasan yang berbeda dengan cara dan metode yang berbeda pula. Pada bab awal dengan judul Menjadi Ibu Sekaligus Berkarier, Apanya Yang Salah? akan menjelaskan mengenai alasan seorang ibu ingin berkarier. Apakah bekerja di luar rumah adalah pilihan yang kurang tepat bagi seorang wanita? Pertanyaan itu sering menggelayuti benak kaum wanita yang sedang berada di persimpangan jalan, antara memilih berkarier dengan keinginan membesarkan dan mendidik anak di rumah. Memang, bisa dekat dengan anak-anak setiap saat merupakanimpian setiap ibu rumah tangga, dimanapun dan kapanpun. Bisa mengantarkan anak-anak ke sekolah serta menungguinya sampai pulang, atau bisa memasak dan bermain dengan anak-anak yang dikasihi, sungguh suatu kindahan di rumah tangga yang tak ternilai harganya. Namun pada saat yang bersamaan, kadang kita juga dihadapkan pada keinginan untuk bisa menghasilkan uang sendiri. Bagaimanapun, menjadi wanita yang memiliki penghasilan sendiri sama artinya menciptakan suatu kondisi kemandirian. Banyak hal posotif bisa kita lakukan bila menjadi wanita pekerja dan mendapatkan pengahasilan sendiri. Selain itu, wanita yang bekerja umumnya juga bisa memperkuat fondasi ekonomi keluarga. Alasan bekerja atau berkarier bagi wanita yang sudah berkeluarga pasti berbeda-beda. Ada yang bekerja karena harus membantu suami meringankan beban ekonomi keluarga yang semakin sulit. Ada yang bekerja karena perlu mengantisipasi kondisi terjelek, misalnya suami di PHK sehingga harus menggantikan posisi sebagai pencari nafkah, atau terpaksa harus menjadi orang tua tunggal akibat perceraian, dan lain-lain. Tidak bisa dipungkiri, masalah ekonomi menempati posisi pertama sebagai sumber masalah terbesar dalam kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, kalau seorang ibu rumah tangga tetap memiliki andil dalam ekonomi keluarga, pasti dia memiliki kesetaraan posisi dan peran sehingga dia lebih dihargai oleh suami. Apapun alasannya, yang pasti cukup realistis kalau kita tetap bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Dunia pekerjaan yang profesional bisa menambahkan banyak wawasan berharga dan lingkup pergaulan yang lebih luas. Ini sangat bermanfaat bagi pengembangan diri kita maupun sebagai jembatan bagi komunikasi yang intensif antara suami dan istri. Bagi wanita yang bekerja dan punya penghasilan sendiri, kemampuan dalam mengatasi berbagai masalah tampaknya bisa lebih baik. Umumnya, mereka terlatih untuk menghadapi berbagai masalah di tempatnya bekerja. Sementara, dari sisi problem keuangan , biasanya penghasilannyayang dimiliki pun berperan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Uang memang bukan segala-galanya, tapi itu penting untuk menghadapi

serangkaian masalah atau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini adalah fakta hidup yang harus dilihat dan nyata dalam kehidupan sekarang ini. Pada bab kedua pada buku ini akan membahas mengenai Menyikapi Perasaan Bersalah Karena Berkarier. Kita semua sepakat bahwa dalam kondisi sekarang ini, anakanak tidak cukup hanya memiliki kecerdasan atau IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi. Fakta membuktilkan bahwa kecerdasan emosi atau EQ (Emotional Quotient) serta kecerdasan sosial atau SQ (Social Quotient) ternyata juga berperan sangat penting dalam menopang keberhasilan seseorang. Baik EQ maupun SQ ikut berperan besar dalam

membangunmentalitas anak agar lebih siap dan lebih kuat dalam menghadapi kehidupannya kelak. Sambil bekerjapun kita bisa berperan dalam mengarahkan anak-anak agar memaksimalkan dan mengembangkan potensi IQ, EQ, dan SQ mereka. Memang, tidak mudah mengarahkan anak kepada pengembangan potensi terbaiknya, sementara pada saat yang sama kita hanya memiliki sedikit waktu untuk berinteraksi dengan mereka. Kita semua ingin bisa tetap bekerja, tapi anak juga bisa terawat dan berkembang dengan baik. Pada umumnya, orang hanya bisa berhasil di salah satu dari kedua pilihan tersebut, sukses sebagai wanita karier tapi tidak sukses menjadi ibu rumah tangga, atau sebaliknya, sukses menjadi ibu rumah tangga, tapi gagal dalam karier. Realitanya, wanita yang sibuk berkarier tetap bisa mengendalikan pendidikan anakanaknya di rumah dengan sistem dan aturan yang jelas. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa ada rasa bersalah karena kita sudah meninggalkan anak-anak untuk bekerja. Bagi sebagian wanita karier, perasaan bersalahnya itu justru diperbesar dan diperparah sendiri. Akibatnya, dia memberikan kompensasi atas rasa bersalahnya itu dengan cara memanjakan anakanaknya. Memanjakan anak-anak bisa berwujud memberikan kemudahan-kemudahan dalam hal materi. Semua keinginan anak dituruti karena adanya perasaan bersalah itu tadi. Padahal, sikap mengompensasi rasa bersalah dengan kemudahan dan pemanjaan ini justru secara tidak langsung telah memberikan efek negatif dalam perkembangan mental anak. Akibatnya, bisa saja anak-anak akan berpandangan bahwa apapun yang diinginkan pasti dan harus dituruti. Mereka tahu cara memanfaatkan kelemahan orang tuanya. Agar tidak mengompensasi rasa bersalah kita, maka kita harus memberi pengertianpengertian kepada anak-anak kita dan harus disertakan dengan alasan-alasan yang tentu anak kita bisa menerimanya dengan cepat sesuai pemikiran anak kecil. Jadi, dengan cara tersebut kita tidak perlu mengompensasi perasaan bersalah dengan memanjakan anak-anak. Sebaliknya, kita harus sadar akan konsekkuensi pilihan berkarier, yaitu kewajiban untuk

membangun komunikasi yang lebih baik dengan mereka serta menjaga agar kualitas pertemuan dalam keluarga tetap baik. Setiap kali bertemu dengan anak-anak, berikan pelukan yang setulus-tulusnya karena itu akan memberi ikatan batin yang amat kuat. Menurut para ahli, secara batin pelukan itu akan memberikan rasa percaya diri di dalam diri anak. Merekapun akan yakin sekali bahwa walaupun kita tidak selalu bersama orang tuanya, tapi mereka tahu kalau mereka sungguh sangat berarti buat kita, orang tuanya. Kualitas pertemuan dengan anak boleh sedikit, tapi kondisinya harus selalu menyenangkan dan berkualitas. Jika demikian suasananya, niscaya anak kita pasti bisa menerima pilihan kita dengan baik. Jadi, sekali lagi, kita tidak perlu merasa bersalah hanya karena telah meninggalkan mereka untuk bekerja. Pada bab ketiga buku ini, akan menjelaskan mengenai Mencegah Frustasi Anak dengan Komunikasi yang Baik. Salah satu problem umum yang cukup serius yang sering dihadapi anak yang ditinggal orang tua untuk bekerja adalah bahwa anak merasa kesepian dan asing dengan orang tuanya. Lebih jauh, mungkin akan terasa adanya ketidakharmonisan dalam hubungan mereka sekalipun orang tua mungkin merasa sudah memberikan yang terbaik untuk anak. Kadang, anak malah merasa frustasi dan tidak berharga sekalipun apa yang diinginkannya secara materi sudah dan selalu terpenuhi. Akibatnya, banyak anak yang ketika tumbuh semakin besar malah mencari perhatian orang tua dalam bentuk kenakalan-kenakalan yang tidak wajar saat di luar rumah. Bahkan, tak jarang anak-anak remaja yang frustasi itu mencari tempat pelarian yang tidak tepat, seperti menggunakan obat-obatan psikotropika atau malah seks bebas, misalnya. Untuk menghindari perilaku anak yang tidak baik menjadi apa yang kita harapkan, yaitu dengan cara komunikasi dua arah yang seimbang adalah syarat utama untuk keharmonisan sebuah keluarga dan kondusif bagi penciptaan pola komunikasi yang menyenangkan antara orang tua dengan anak. Jadi, kita tidak perlu ragu untuk sedini mungkin memulai berkomunikasi secara setara dengan anak-anak kita. Menjadi orang tua sekaligus sahabat berarti belajar mengerti apapun yang diperlukan dan ingin disampaikan oleh anak-anak kita. Kita harus memahami kebutuhan-kebutuhan anak untuk diperhatikan, disayangi, diajak berkomunikasi, serta didengar pendapatnya. Menjadi sahabat tidak bisa dilakukan kalau kita bersikap layaknya orang tua diktator. Selain itu, kita perlu menanamkan kepada mereka bahwa komunikasi yang terbuka dan hangat itu dibangun demi kebaikan semua anggota keluarga.

Pada bab keempat, akan menjelaskan mengenai Pentingnya Dasar Pendidikan Moral dan Disiplin. Bekal moral dan disiplin yang baik-perannya begitu penting dalam setiap tahap kehidupan kita-ternyata sudah banyak dilupakan oleh orang tua masa kini. Orang tua lebih cenderung mendorong anaknya untuk terus mengejar keberhasilan kurikulum sekolahnya. Mereka lupa dengan kedisiplinan, sikap moral, dan pelajaran budi pekerti yang baik. Padahal, kita tahu bahwa berbekal intelegensi saja tidak cukup untuk membawa kita kepada kesuksesan dalam hidup ini. Kita juga tidak mungkin hanya berharap agar anak-anak kita diberperilakukan dan sikap sesuai keinginan kita tanpa memberikan teladan yang baik kepada mereka disertai usaha untuk mengubah diri. Teladan perilaku itulah yang akan memengaruhi anak-anak secara efektif. Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, itulah kata pepatah yang relevan sekali untuk menggambarkan keberlanjutan atau keterkaitan perilaku orang tua dan anakanaknya. Biasanya, sikap dan perilaku anak tidak akan jauh berbeda dengan perilaku orang tuanya. Itu berarti kita sebagai orang tua punya pilihan, mau dibawa ke arah mana anak kita? Inilah persoalan besar yang sering menghantui setiap orang tua. Anak zaman sekarang cukup kritis, kita tidak cukup hanya memberitahu anak agar jangan begini dan jangan begitu. Yang lebih penting adalah memberikan contoh langsung dan konkret kepada mereka. Kalau ingin agar anak kita sopan pada orang lain, maka kita sendiri juga harus sopan kepada orang terlebih dulu. Kalau kita ingin anak ramah kepada orang lain, kitapun harus mulai bersikap ramah terlebih dahulu. Jangan sampai kita ingin anak kita berbuat baik kepada orang lain, tapi kita sendiri misalnya malah ribut dengan tetangga. Anak akan sulit menjadi penurut kalau kenyataannya kita justru memperlihatkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita ajarkan kepada mereka. Sikap dan teladan kita akan lebih mudah diserap dan dipraktikkan oleh anak-anak kita dari pada kita menyuruh atau menuliskan seribu kata-kata agar jangan ini dan itu, harus ini dan itu, dan lain-lain. Marilah kita intropeksi diri, apakah kita sudah menjadi orang tua yang patut untuk ditiru atau dijadikan teladan? Kalau belum tidak ada kata-kata terlambat untuk berubah. Jadilah cermin yang bersih buat anak-anak kita. Ajak mereka untuk saling mengisi dengan komunikasi yang baik. Yakinlah bahwa hanya lewat komunikasi yang baik kita bisa saling mengerti dan saling mendukung dalam konteks hubungan orang tua dengan anak-anak. Pada bab yang kelima, dengan judul Sayang Anak Tidak Sama Dengan Memanjakan. Mungkin, kita sering menyaksikan pemandangan di lingkungan kita

banyaknya orang tua yang tidak mau melihat anaknya menangis. Bahkan, anak sangat diproteksi sedemikian rupa dari segala keadaan yang berpotensi mendatangkan kesulitan. Anak dikondisikan untuk tidak mengalami kesulitan apapun ketika menginginkan sesuatu, baik yang dibutuhkan maupun hanyauntuk kesenangan. Ternyata, kondisi demikian dijadikan senjata oleh anak yang cerdik untuk selalu mendikte atau mendapatkan apa yang diinginkan dari orang tuanya. Anak jatuh dalam sikap manja yang nantinya pasti mendatangkan masalah. Kita pasti sering melihat anak menangis setiap kali ingin mendapaykan sesuatu, bukan? Bahkan, ada anak-anak tertentu yang sampai berjungkal-jungkal atau bergulingguling di lantai, kapanpun dan dimana pun. Apakah kondisi demikian juga terjadi pada anak anda? Jangan takut untuk mengubahnya selagi masih ada kesempatan dan anak masih kecil. Kitalah yang memutuskan akankah membangun benteng mental anak kita dengan kokoh atau justru membuatnya lemah tak berdaya. Dalam konteks mendidik mental juang anak, pepatah yang mengatakan bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian, rasanya belum basi dan tidak akan pernah basi. Bahkan, pelajaran dari pepatah tersebut akan tetap menjadi dasar pemikiran positif yang sangat baik buat anak-anak dan diri kita dalam mengarungi naik turunnya gelombang kehidupan ini. Kalau kita melatih anak-anak agar memiliki spirit untuk selalu berjuang demi mendapatkan apa yang diinginkan, spirit itu akan tertanam hingga mereka besar. Mereka akan terbiasa bekerja keras agar mendapatkan apa yang diinginkan. Jika penanaman sikap mental juang ini berhasil, bisa jadi anak-anak kita malah akan malu sendiri jika bisa mendapatkan sesuatu dengan begitu mudahnya atau tanpa berusaha sama sekali. Pada bab keenam, yaitu dengan judul Menjadikan Pengasuh Sebagai Mitra dalam Mendidik Anak. Salah satu masalah paling krusial dalam mendidik anak sekaligus berkarier adalah soal pengasuh anak. Mengapa demikian? Ya, karena setiap hari kita sibuk bekerja dan hanya sedikit waktu di rumah. Mau tidak mau anak-anak akan selalu ditemani oleh pengasuh atau pembantu rumah tangga. Disinilah kita harus sadar betapa besar peran pengasuh dalam membantu kita menjalankan arahan pendidikan kepada anak seperti yang kita inginkan. Saat kita sedang tidak berada di rumah, pengasuh anaklah yang menjadi kepanjangan tangan kita dalam memberikan arahan kepada anak. Oleh sebab itu, kita harus memiliki pengasuh anak yang memang benar-benar bisa menjalankan peran yang kita inginkan. Jika kita tidak dibantu oleh pengasuh anak atau pembantu rumah tangga yang bisa menjalankan fungsi dengan benar, sesungguhnya kita seperti mempertaruhkan pendidikan anak-anak kita.

Namun, kendalanya memang sulit mendapatkan pengasuh atau pembantu rumah tangga yang cocok serta bisa memenuhi tujuan-tujuan kita dalam hal mendidik anak. Jelas, pengasuh tidak bisa menggantikan posisi kita sebagai orang tua dalam hal mengarahkan dan mengawasi anak. Tetapi, posisi mereka tetap penting untuk membantu kita mendampingi anak. Jadi, tugas kitalah untuk membina mereka agar bisa menjalankan pekerjaan itu dengan baik. Untuk kondisi sekarang, memang susah susah gampang menemukan pengasuh atau pembantu yang terampil sekaligus cocok dengan suasana keluarga sebagaimana yang kita bangun. Terlebih, kita dihadapkan pada berbagai problem keterampilan maupun sikap mental pada umumnya. Tidak jarang pengasuh atau pembantu cepat bosan dengan tempatnya bekerja. Terkadang mereka juga sulit menoleransi keadaan maupun berbagai persoalan di dalam rumah tangga majikannya. Kadang, majikan juga menuntut berlebighan atau mempekerjakan mereka secara tidak semestinya. Ini sering menimbulkan masalah sehingga para pengasuh dan pembantu itu tidak bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik. Kondisi seperti ini lazim di hadapi oleh masyarakat dari segala kondisi, mulai dari kalangan ekonomi lemah sampai ekonomi menengah ke atas. Jika masalah pengasuh atau pembantu ini tidak bisa diselesaikan dengan baik, pasti kita akan kesulitan menjalankan karier sekaligus berusaha mendidik anak dengan baik. Prinsip yang digunakan adalah dengan memosisikan mereka sebagai bagian dari keluarga kita. Itu artinya, manakala mereka menjalankan tugas kesehariannya, merekapun harus membela kepentingan keluarga kita layaknya keluarga mereka sendiri, khususnya dalam hal mendidik anak-anak kita. Pada bab ketujuh, dengan judul Bila Anak Tidak Mau Nurut kepada Pengasuh. Ketika kita kembalki ke rumah setelah bekerja, mungkin sering kita mendapatkan laporan dari si pengasuh mengenai kenakalan-kenakalan anak kita selama kita tidak ada di rumah. Kasus yang banyak terjadi adalah anak tidak mau nurut kalau diberitahu oleh pengasuhnya. Bahkan, kadang anak-anak lebih galak ketimbang pengasuhnya. Ini akan menjadi masalah bila kita menjadikan pengasuh atau pembantu di rumah sebagai mitra sekaligus pengawas anak-anak. Sebenarnya, penyebab situasi semacam ini sangatlah sederhana. Anak-anak yang tidak menurut itu hanya mencontoh atau memfungsikan kondisi yang sudah ada dari orang tuanya. Saya yakin sekali, mayoritas dari kita pasti tidak sadar-bahkan sama sekali tidak

menyangka-kalau selama ini kita sudah menyampaikan pesan kepada anak-anak bahwa pengasuh atau pembantu itu memang tugasnya hanya sebagai pelayan mereka di rumah. Dengan pesan tersebut, kita seperti memberi hak veto kepada anak bahwa sebagai anak majikan mereka tidak bisa dibantah. Kecenderungan kita hanya bisa bersikap main perintah kepada pengasuh atau pembantu, ternyata diserap betul oleh anak-anak kita. Melihat contoh sikap seperti ini, anak pun akan memosisikan dirinya sebagai anak majikan yang juga berhak memerintah serta tidak boleh dibantah. Bagaimana anak bisa menurut pada penagsuhnya kalau kondisinya seperti itu? Akankah kita membiarkannya? Tentu tidak. Kita sadar bahwa kondisi demikian akan kontraproduktif dengan tujuan kita menjadikan pengasuh atau pembantu sebagai mitra dalam mendidik anak. Sesungguhnya, kita tetap bisa mengendalikan kondisi seperti itu tanpa membuat anak merasa tidak dihargai atau menjadikan pengasuh selalu di bawah status anak kita. Pada titik ini, kita harus menomorsatukan kepentingan bersama. Kalau anak-anak memang salah, pengasuh wajib memberikan teguran atas sikap mereka yang kurang atau bahkan tidak mau nurut. Kita harus tegaskan posisi pengasuh sebagai mitra orang tua di rumah untuk membantu membimbing anak-anak. Kita juga wajib memberikan pemahaman dan penjelasan kepada anak-anak akan pentingnya posisi si pengasuh. Pada saat yang sama, kita juga perlu menanamkan pengertian kepada si pengasuh untuk memperhatikan sikapnya agar mereka juga dihargai oleh anak. Sebab, pada usia yang cukup, anak biasanya cukup kritis terhadap perilaku pengasuhnya. Jika pengasuhnya tidak bisa menunjukkan perilaku yang baik, bisa saja anak yang sudah cukup paham akanhal itu menjadi tidak menghormati mereka. Kita juga harus menegaskan kepadanya mengenai apa saja yang boleh dilakukan terhadap anak kita. Intinya, fungsi mereka hanya sebatas pada pengawasan sikap. Mereka tidak diperkenankan melakukan tindakan lain selain pengontrolan, semisal menghukum anak secara fisik. Selanjutnya, bangun komunikasi saling percaya antara kita dengan pengasuh maupun antara kita dengan anak-anak. Kalau ada masalah yang dilaporkan pengasuh, kita perlu cross check pula dengan mendengarkan keterangan dari masing-masing pihak secara adil, baik pengasuh maupun anak kita. Setelah mendengarkan keterangan versi masing-masing lalu cari kebenarannya. Jika menemukan letak permasalahannya, tahu mana yang benar dan mana yang keliru, ambillah sikap yang bijaksana. Sikap ini akan menjadi modal untuk penanganan kasus-kasus serupa dikemudian hari.

Pada bab yang kedelapan, yaitu dengan judul Mencatat dan Memuji Perilaku Baik Anak. Sering kita mendapati anak-anak menjadi lebih cengeng pada saat kita baru tiba di rumah setelah bekerja seharian. Bisa juga mereka menunjukkan sikap manja selagi kita berada di rumah karena cuti atau hari libur. Bahkan, sikap cengeng atau manja itu kadangkadang secara kasat mata malah ada yang berlebihan. Sampai-sampai si pengasuh pun merasa tidak mengenali anak asuhnnya karena si anak berubah 180 derajat. Dengan kata lain, kalau tidak ada ibunya anak tidak manja, tetapi begitu melihat ibunya di rumah anakmanjadi manja sekali. Kondisi semacam ini juga pernah saya alami sebelum saya menerapkan langkah-langkah pendisiplinan dan memberikan penjelasanpenjelasan yang tepat kepada mereka. Tentu sikap cengeng atau manja seperti ini ada sebabnya. Tanpa kita sadari, penyebabnya bisa jadi karenakita sendiri. Mungkin karena kompensasi perasaan bersalah kita yang telah bekerja dan seolah mengabaikan anak di rumah. Lalu, secara sadar atau tidak kita pun bersikap terlalu lunak kepada anak-anak, seperti misalnya memanjakan semua yang mereka inginkan. Ternyata, kondisi ini-selain tidak baik bagi perkembangan si anak-juga sangat merepotkan kita sebagai orang tua. Terlebih bila kita mendapati kondisi demikian itu saat baru pulang kerja dengan kondisi fisik yang sudah cukup lelah. Biasanya, dalam situasi demikian kecenderungan emosi jadi agak sulit dikendalikan. Saat anak sedang mencari perhatian dengan membuat ulah, tanpa sengaja kita membentak atau bahkan sampai memukul anak. Kondisi demikian ini pasti akan membuat anak-anak yang masih belum mengerti akan terpukul sekali kondisi psikologinya. Sikap emosional seperti ini bukanlah jalan keluar, bahkan cenderung menjadi pendidikan yang tidak sehat bagi anak-anak kita. Kita pasti tidak ingin membiarkan anak kita berada dalam kondisi seperti itu. Lalu, apa yang harus kita lakukan menghadapi sikap manja dan cengeng anak pada waktu-waktu yang tidak kondusif itu? Salah satu caranya adalah dengan memberikan pengertian dan penjelasan tentang sikap yang baik dan tidak baik dikaitkan dengan keberadaan orang tua di rumah. Bila mereka memahami dan mau melakukan sikap yang benar, berikan pujian setulusnya. Walaupun mereka hanya melakukan hal-hal kecil, tetap pujilah dengan setulus dan sewajarnya. Tunjukkan bahwa kita bangga dengan apa yang mereka lakukan selama mereka di tinggal bekerja. Pada bab kesembilan, yaitu dengan judul Ketegasan Komando Tunggal dan Sikap Demokrasi. Ada satu kendala yang sangat berpengaruh terhadap sukses tidaknya kita dalam

mendidik anak-anak, yaitu kecenderungan untuk terlalu mudah menoleransi keinginan anakanak. Ini biasa terjadi kerena ada perasaan bersalah dari orang tua akibat sibuk bekerja mencari nafkah. Kita sudah membahas hal ini sebelumnya dan sikap tegas serta pola komunikasi yang baik merupakan jawabannya. Mengajarkan sikap disiplin kepada anak-anak memang bukan hal yang mudah, tapi juga tidak terlalu sulit. Dari pengalaman mendidik anak, cara yang lebih efektif adalah melalui teladan sikap kita sendiri. Kalau kita ingin anak disiplin, tentu kita harus menunjukkan terlebih dahulu bahwa kita juga disiplin. Mengajarkan kedisiplinan juga bisa ditempuh dengan cara menunjukkan sikap konsekuen tehadap aturan main yang sudah disepakati bersama. Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan saat memberikan komando sekaligus mendidik kedisiplinan anak-anak, yaitu sikap demokratis. Maksudnya adalah, segala aturan main yang kita tetapkan hendaknya lahir dari proses pembicaraan dan keputusan bersama antara anak dan orang tua. Dengan cara ini, biasanya mereka bisa lebih bertanggung jawab terhadap aturan yang sudah disepakati dan diputuskan bersama. Merekapun biasanya akan lebih santai, tidak ada rasa terpaksa, serta lebih enjoy dalam menjalankannya. Adakalanya aturan bisa diubah sesuai dengan perkembangan kondisi dan kebutuhan anak. Tetapi, usahakan untuk selalu membicarakan perubahan itu dengan mereka. Kita tinggal memfalisitasi adanya komunikasi yang terbuka sehingga mereka pun bisa memberikan masukan untuk perbaikan. Dengan pola penanaman sikap disiplin yang dibarengi dengan ketegasan yang demokratis ini, maka hubungan orang tua dan anak pasti akan terjalin lebih harmonis lagi. Di satu sisi kita mendidik anak akan pentingnya kedisiplinan dan sikap konsekuen dengan aturan yang disepakati bersama. Disisi lain, sesungguhnya kita juga tengah mengembangkan sebuah pola komunikasi yang terbuka, demokratis, serta menyenangkan untuk dijalani bersamasama. Pada bab yang kesepuluh, yaitu dengan judul Mengelola Keinginan Anak. Pengalaman adalah guru yang paling baik. Semua hal bisa kita jadikan guru, baik itu pengalaman sendiri, pengalaman dari orang lain, atau hasil pengamatan atas keadaan disekitar kita. Kita hanya perlu menyaringmana yang baik dan mana yang tidak baik untuk kita ambil hikmahnya. Oleh karena itu, mulailah menjadi arsitektur yang baik bagi masa depan anak-anak kita. Berikan pendidikan moral dan mental yang baik di masa-masa keemasannya mereka, yaitu masa kanak-kanak. Sebab, masa itu adalah cerminan masa depan mereka. Kendalikan selagi masih ada kesempatan.

Poin posotifnya, ketika kita bisa menjalin komunikasi dengan anak, sebaiknya kita lakukan dengan jujur. Dalam arti, kata-kata kita tidak boleh menggantung. Kita harus memberikan alasan mengapa kita larang mereka mendapatkan atau melakukan sesuatu. Kalau kita melarang dengan kondisi tertentu, berarti kita harus bisa memberi dalam kondisi tertentu pula. Lakukan kalau memang harus kita lakukan. Hal ini penting agar kita bisa menunjukkan kepada anak kita bahwa kita tidak melarang semua yang akan dia lakukan. Kita pun bisa memberikan sesuatu yang dia minta asalkan sesuai dengan kondisi yang ada. Namun, pemberian itu tetap harus dengan alasan yang jelas. Pada bab kesebelas, dengan judul Beri Anak Kesempatan Belajar Melakukan HalHal Baru. Mungkin ada diantara kita yang kurang atau bahkan tidak menyadari bahwa kita tergolong orang tua yang over protective akibat rasa sayang yang berlebihan kepada anakanak. Akibatnya, kita sering melarang anak-anak melakukan hal-hal baru yang sebenarnya justru bisa membuat mereka belajar mandiri. Bahkan, kadang kita menganggap sesuatu yang baru itu terlalu sulit untuk dilakukan oleh anak kita. Akhirnya, bila kita melihat sesuatu yang menyulitkan anak sedikit saja, serta merta kita akan berusaha membantu mereka. Padahal, belum tentu anak kita tidak bisa atau menganggap sulit sesuatu yang hendak dilakukannya itu. Pepatah bisa karena biasa itu memiliki arti yang sangat positif. Contoh nyata misalnya, masalah anak makan sendiri sejak kecil. Banyak anak sekarang yang seharusnya sudah makan sendiri, tetapi tetap saja disuapi oleh pengasuhnya. Kenapa bisa terjadi? Karena, kita sendirilah yang tidak mau memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk melakukannya sendiri. Kita lebih mementingkan perasaan sayang dengan menyediakan seorang pengasuh yang melayani anak kita. Kalau perlu bahkan setiap anak didampingi oleh satu pengasuh tersendiri. Seharusnya, kita mungurangi sedikit ketakutan yang tidak beralasan seperti itu. Berilah anak kita kesempatan sebanyak mungkin untuk mengeksplorasi diri dan mengembangkan kemampuannya dengan melakukan hal-hal baru. Tidak ada salahnya belajar dari kondisi disekitar kita yang tidak punya pengasuh. Karena keadaan yang memaksa, akhirnya mereka harus melakukan semuanya sendiri. Toh, anak-anak tanpa pengasuh itu bisa, kan? Jadi, kenapa anak kita tidak bisa? Bukankah ketidakbisaan itu karena kita sendiri yang membuatnya? Mari kita bantu anak kita menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab

sejak dini serta siap menghadapi kondisi apapun. Caranya, beri mereka kesempatan mencoba melakukan banyak hal sendiri sesuai dengan tingkat perkembangannya. Pada bab yang terakhir atau bab yang kedua belas, yaitu dengan judul Buatkan Jadwal Harian Tertulis Sesuai Kebutuhan Anak. Apakah anda sering menghadapi masalah jadwal makan anak yang selalu tidak sesuai dengan yang kita inginkan? Idealnya, anak kita harus makan sehari tiga kali, kan? Tetapi, apa yang terjadi dengan anak-anak kita? Jadwal makan mereka tidak teratur. Kadang mereka tidak makan pagi atau tidak makan siang dengan berbagai macam alasan. Misalnya, karena pulang sekolah sudah siang, buru-buru mau pergi les, tidak sempat makan, sudah ngantuk, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Celakanya, kalau pengasuh di rumah ditanya kenapa anak tidak makan, apa penyebabnya, dan kenapa tidak dipaksa, biasanya si pengasuh malah merasa kesal. Pertanyaan kita kadang-kadang dipahami seakan-akan kita sedang menyalahkan mereka. Padahal, bisa jadi masalahnya memang karena si pengasuh yang tidak sabar atau tidak mau repot. Satu hal yang sangat penting untuk dicatat adalah bahwa begitu anak-anak dapat tumbuh sehat karena teratur jadwal makannya, merekapun akan jarang terserang penyakit. Alhasil, kita bisa menekan biaya pergi kedokter dan biaya membeli obat. Terlebih anak-anak juga harus dibiasakan meminum vitamin serta memakan buah-buahan secara teratur. Kita perlu membuat jadwal harian anak sesuai dengan kebutuhan mereka atau tujuantujuan yang ingin kita capai. Caranya mudah, buat saja aturan main terlebih dahulu, tentu dengan melibatkan anak-anak kita. Ajak mereka bicara secara dewasa mengenai ketentuan yang kita mau. Tanya bagaimana pendapat mereka dan bagaimana kesanggupan anak-anak untuk memenuhi kesepakatan itu nantinya. Intinya, peraturan yang dirumuskan itu nantinya harus bisa dijalankan dengan senang hati. Tidak boleh ada perasaan atau tertekan.

C. Penutup Setelah saya membaca dan mengerti apa sebenarnya isi buku ini, hati saya tergugah untuk cepat-cepat menerapkannya pada keluarga saya kelak. Tetapi berhubung saya belum berkeluarga maka saya hanya bisa menerapkan pada diri saya sendiri, agar saya menjadi apa yang terbaik bagi keluarga dan diri saya sendiri. Buku ini sebenarnya sangat bagus untuk dicaba orang tua agar dapat membimbing dan menagajari anak dari usia dini, agar masa depannya menjadi lebih baik dan tidak manja serta tidak salah pergaulan. Buku ini juga mengajari bagaimana cara agar orang tua sukses dalam berkarier dan sukses dalam mendidik anak.

DAFTAR PUSTAKA

Melly Kiong, Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak Dengan Baik?, Jakarta: Progressio Publishing, 2010.