Anda di halaman 1dari 13

REFLEKSI KASUS ABORTUS

Penguji : dr. Gunawan K, Sp.OG

Disusun oleh : Astrid Ermastuti 01.206.5139

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2011

ABORTUS INCOMPLETE
A. PENDAHULUAN Dalam terminology kedokteran, abortus adalah gugurnya suatu kehamilan secara tidak terduga, tidak direncanakan, spontan, sebelum janin cukup berkembang untuk bertahan hidup di luar kandungan. Pada tahun 1977, Organisasi WHO mendefinisikan aborsi dengan pengeluaran atau ekstraksi janin atau embrio yang berbobot 500 gram atau kurang, dari ibunya, dan atau panjang badan kurang dari 25 cm, yang kira-kira berumur 20-22 minggu kehamilan. Masyarakat awam menggunakan kata keguguran untuk menguraikan peristiwa yang spontan ini. Bila suatu kehamilan diakhiri dengan sengaja dengan menggunakan tehnik tertentu, masyarakat menyebut dengan istilah aborsi, sedangkan dalam dunia medis lebih dikenal dengan istilah pengakhiran kehamilan. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan, disebut abortus spontan. Abortus buatan adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia 20 minggu, akibat tindakan. Frekuensi abortus sukar ditentukan karena abortus buatan banyak yang tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi, juga karena abortus spontan hanya disertai gejala dan tanda yang ringan sehingga pertolongan medik tidak dilakukan. B. ETIOLOGI Abortus dapat disebabkan oleh: 1. Kelainan pertumbuhan konsepsi: Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin pada hamil muda atau cacat. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan adalah: Kelainan kromosom: trisomi,poliploidi, kelainan kromosom seks. Lingkungan kurang sempurna: lingkungan endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian, zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu. Pengaruh dari luar: radiasi, virus, obat-obatan. 2. Kelainan pada plasenta: Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales, dan menyebabkan oksigenasi plasenta terganggu. Sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Bisa terjadi karena hipertensi menahun.

3.

Faktor ibu: Penyakit pada ibu: adanya penyakit mendadak seperti pneumonia, malaria, tifus abdominalis bisa menyebabkan abortus, karena toksin, bakteri, virus dan plasmodium bisa melalui plasenta masuk ke janin. Penyakit menahun, seperti toksoplasmosis juga bisa menyebabkan kematian janin. Faktor psikologis: adanya syok fisik dan emosional mendadak dapat menyebabkan abortus. Kelainan traktus genitalis: inkompetensi servik, retroversi uteri, dan kelainan bawaan pada uterus.

C. MACAM- MACAM ABORTUS 1. Abortus imminens : peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus

pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih di uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks 2. Abortus insipien : peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus 20 minggu, di mana hasil konsepsi

pada kehamilan sebelum

masih di uterus, dan dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat 3. Abortus incomplete : pengeluaran sebagian hasil

konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus 4. Abortus complete 5. Missed abortus : semua hasil konsepsi sudah keluar dari uterus : kematian janin sebelum 20 minggu,

tetapi janin tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.

D. PATOGENESIS Pada awal abortus terjadi perdarahan desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, Villi korialis belum menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8- 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam lagi, sehingga plasenta tidak dapat dilepaskan seluruhnya, dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada ke Pada kehamilan diatas 14 minggu, setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta.

E. MANIFESTASI KLINIK ABORTUS INCOMPLETE Manifestasi klinik untuk mengetahui terjadinya abortus antara lain: 1) terlambat haid kurang dari 20 minggu, 2) pemeriksaan fisik yang terdiri dari: keadaan umum tampak lemah, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, dan suhu badan normal atau meningkat, 3) perdarahan pervagina yang disertai keluarnya jaringan janin, mual, dan nyeri pinggang akibat kontraksi uterus, 4) pemeriksaan ginekologi meliputi inspeksi vulva dengan melihat perdarahan pervaginam, ada jaringan janin. 5) perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka, ada jaringan keluar dari ostium, dan ada cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium, 6) colok vagina dengan melihat porsio terbuka, teraba jaringan dalam kavum. F. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1) Tes kehamilan akan menunjukkan hasil positif bila janin masih hidup bahkan 2-3 hari setelah abortus, 2) Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup dan sisa jaringan. G. PENATALAKSANAAN Abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian janin pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vaginal, servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Perdarahan pada abortus inkompletus dapat banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan. Penanganannya, apabila abortus inkompletus disertai syok karena perdarahan, segera diberikan infus cairan NaCl fisiologik atau cairan Ringer yang disusul dengan transfusi. Setelah syok diatasi, dilakukan kerokan (kureage). Pasca tindakan disuntikkan intramuskulus ergometrin untuk mempertahankan kontraksi otot uterus.

H. KOMPLIKASI 1. Perdarahan Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya. 2. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiper retrofleksi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh terjadi perlukaan pada kandung kemih atau uterus. 3. Infeksi 4. Syok Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik) orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas. Mungkin pula

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2011 A. IDENTITAS 1. Nama penderita 2. Umur 4. No CM 5. Agama 6. Pendidikan 8. Status 3. Jenis kelamin : Islam : SMP : Menikah : 30 Juli 2011 : 15.00 WIB : Ny. K : Perempuan : 44 tahun : 114.88.53

7. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga 9. Tanggal Masuk 10. Masuk Jam 11. Ruang 12. Kelas 13. Alamat B. ANAMNESA Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 30 Juli 2011 pukul 15.30 WIB. 1. Keluhan Utama : Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien GIIIPIIA0 usia 44 tahun, datang ke poli dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir pada pukul 21.00 tanggal 29 Juli 2011, darah yang keluar warna merah segar disertai prongkolan. Keesokan harinya darah yang keluar semakin banyak. Pasien langsung periksa ke poli kandungan di RSI Sultan Agung dan oleh dokter disarankan untuk mondok di rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Sebelumnya pasien tidak pernah jatuh, tidak minum jamu, tidak dipijat dan tidak melakukan hubungan suami istri.

: Baitunnissa : Jamkesmas : Banjardowo 2/4 Genuk Semarang

2. Riwayat Kehamilan HPHT HPL Gravid : 13 Mei 2011 : 20 Februari 2012 : 11 minggu

Pasien tidak menstruasi sejak bulan Juni 2011, 2 minggu setelah terlambat haid pasien melakukan tes kehamilan dengan tes pack kehamilan dan hasilnya positif. Kemudian pasien periksa ke bidan dan oleh bidan dinyatakan hamil. Pada tanggal 29 Juli 2011 keluar darah warna merah segar disertai prongkolanprongkolan. 3. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Hipertensi Riwayat Penyakit Jantung Riwayat Penyakit Paru Riwayat DM : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

4. Riwayat ANC ANC dilakukan di bidan, dilakukan oleh pasien setiap bulan. Setiap kali periksa ke bidan, pasien mendapat multivitamin dan penambah darah. 5. Riwayat Haid Menarche Siklus haid Lama haid Dismenore HPHT HPL : 13 tahun : 30 hari : 7 hari : (-) : 13 Mei 2011 : 20 Februari 2012

6. Riwayat Perkawinan Pasien menikah yang pertama kali dengan suami sekarang. Usia pernikahan 28 tahun.

7. Riwayat Obstetri G III P II A 0 G I : laki-laki, BBL 4000 gram, persalinan normal, ditolong bidan, meninggal usia 20 tahun G II : laki-laki, BBL 33600 gram, persalinan normal, ditolong bidan, sekarang umur 25 tahun, sehat G III: hamil ini 8. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, suami pasien bekerja sebagai buruh. Kesan ekonomi : kurang, untuk biaya kesehatan ditanggung Jamkesmas. 9. Riwayat KB Pasien mengikuti program KB suntik 3 bulan selama 5 tahun 10. Riwayat Gizi Pasien nafsu makannya cukup baik, mual (-) muntah ( - ). Pasien makan 3x sehari. 11. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Hipertensi Riwayat Penyakit Jantung Riwayat Penyakit Paru Riwayat DM : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

C. PEMERIKSAAN FISIK a. Status Present Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign Nadi : Baik : Compos mentis : : 88 x/menit TB : 152 cm

Tensi : 110/70 mmHg

RR

: 24 x/menit

BB

: 50 Kg

Suhu : 36 0C b. Status Internus Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Leher Kulit Mamae Paru : Mesocephale : Conjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-) : Discharge (-), septum deviasi (-), nafas cuping hidung (-) : Discharge (-) : Bibir sianosis (-), bibir kering (-) : Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-) : Turgor baik, ptekiae (-) : Simetris, tegang (+/+), benjolan abnormal (-/-) : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis tidak teraba : Redup : ICS II linea sternalis sinistra : ICS III linea parasternalis sinistra : ICS V 2 cm medial linea midclavicularis sinistra Auskultasi : suara jantung I dan II murni, reguler, suara tambahan (-) : Superior Oedem Varises Reflek fisiologis -/-/+/+ Inferior -/-/+/+ : Hemithorax dextra dan sinistra simetris : Stemfremitus dextra dan sinistra sama, nyeri tekan (-) : sonor seluruh lapang paru : Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-)

Tenggorokan : Faring hiperemesis (-), pembesaran tonsil (-)

Jantung

Inspeksi Palpasi Perkusi

Batas atas jantung Batas pinggang jantung Batas kiri bawah jantung

Batas kanan bawah jantung : ICS V linea sternalis dextra

Extremitas

Reflek patologis c. Status Obstetri Abdomen Inspeksi simfisis Genitalia Externa

-/-

-/-

: Perut cembung, striae gravidarum (-)

Palpasi : nyeri tekan (-), fundus uteri teraba 2 jari di atas Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin

: darah segar (+), prongkolan (+) : Pembukaan 1 cm, teraba jaringan

Interna : VT

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan Laboratorium Darah : (tgl 30 Juli 2011 Jam 14.37) Hb Hematokrit Eritrosit Lekosit Trombosit : 13,5 g/dL : 40,9 % : 4.570.000 /uL : 6.200 /uL : 341.000 /uL

Waktu perdarahan: 2 : 00 Waktu pembekuan: 4 : 56 GDS : 105 mg/dl b. Pemeriksaan serologis : HbsAg (-) E. RESUME Pasien GIIIPIIA0 usia pasien 44 tahun, hamil 11 minggu , PPV (+), darah berwarna merah segar disertai prongkolan (+). Riwayat jatuh (-), minum jamu (-), dipijat (-), hubungan suami istri (-). Riwayat Kehamilan HPHT HPL Gravid : 13 Mei 2011 : 20 Februari 2012 : 11 minggu Lain-lain : Golongan darah O, Rhesus (+)

Pasien tidak menstruasi sejak bulan Juni 2011, 2 minggu setelah terlambat haid pasien melakukan tes kehamilan dengan tes pack kehamilan dan hasilnya positif. Kemudian pasien periksa ke bidan dan oleh bidan dinyatakan hamil. Pada tanggal 29 Juli 2011 keluar darah warna merah segar disertai prongkolanprongkolan. Status Present Vital sign : Tensi : 110/70 mmHg Nadi : 88 x/menit RR : 24 x/menit : Inspeksi simfisis Genitalia F. DIAGNOSA Pasien GIIIPIIA0 44 tahun hamil 11 minggu dengan abortus incomplete G. TERAPI 1. Terapi medicamentosa Infus dan transfusi darah (bila perlu) Antibiotic Uterotonika As. Traneksamat H. SIKAP Kuretage Externa Interna : VT : darah segar (+), prongkolan (+) : Pembukaan 1 cm, teraba jaringan Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin : Perut cembung, striae gravidarum (-) Suhu : 36 0C Status Obstetri Abdomen

Palpasi : nyeri tekan (-), fundus uteri teraba 2 jari di atas

2. Terapi operatif

1. Pasien rawat inap dan tirah baring 2. Pengawasan : KU, vital sign, Hb, PPV. 3. Keluarkan jaringan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretage. 4. Pemberian terapi. I. PROGNOSA Kehamilan J. EDUKASI 1. Rawat inap dan tirah baring 2. Memberitahu kondisi ibu dan janin pada keluarga. 3. Memberitahu tujuan terapi dan tindakan (kuretage) yang akan dilakukan serta kemungkinan terjadinya komplikasi setelah tindakan. 4. Memberitahu untuk kontrol satu minggu setelah keluar dari rumah sakit. 5. Diharapkan tidak hamil dalam waktu 3 bulan sehingga perlu memakai kontrasepsi seperti kondom atau pil : ad malam