Anda di halaman 1dari 158

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah i

ii Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah iii
Griya Jawa Tengah
Duta Daerah di Timur Tengah

Penyusun
Muhyidin Basrani

Editor: Fakhruddin Aziz, Lc, Khoirun Niat, Lc.


Pra Cetak: Achmad Chosim
Tatak Letak: Tariez
Ilustrasi: Om Asim
Desain Sampul: Muhtariz Mahasin

Diterbitkan Oleh:
Griya Jawa Tengah
7/1 Ahmed El Zumr St. Block 21
10th District, Nasr City, Cairo, Egypt
Phone : (202) 24099113
E-mail : griyajateng@gmail.com

Cetakan I : September 2007

Copyright @ 2007

iv Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Pengantar
Penyusun

Assalamu'alaikum wr. wb.


Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur ke hadirat Allah SWT
pantas sekali diutarakan, mengingat
segala yang telah diberikan oleh-Nya
dalam proses penyusunan buku ini
sejak awal hingga akhir.
Terimakasih sebesar-besarnya juga
layak disampaikan kepada segenap
pihak yang terlibat aktif dalam proses
penyusunan buku ini. Penyusun
mendapat sebuah tugas berat untuk
mengumpulkan data-data terutama
untuk mengetahui sisi sejarah
pengadaan Rumah Daerah Jawa Tengah
(RDJT) Cairo yang kini lebih dikenal
sebagai Griya Jawa Tengah. Untuk
pekerjaan satu inilah penyusun merasa

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah v


tidak memiliki kemampuan jika tanpa
bantuan dari pihak-pihak terkait.
Bermula dari keinginan badan
pengelola Griya Jawa Tengah 2005-
2007 untuk mengabadikan catatan
sejarah tentang proses pengadaan
Griya Jawa Tengah, kemudian berlanjut
menjadi sebuah kesepakatan tentang
disusunnya sebuah buku mengenai
segala seluk beluk Griya Jateng.
Penyusun yang mendapat amanat dari
badan pengelola sejauh ini telah
berusaha semaksimal mungkin dalam
proses penyusunan buku. Namun
demikian karena keterbatasan yang
dimiliki penyusun, buku ini masih
menyisakan beberapa kekurangan
yang patut dikoreksi.
Untuk itu penulis memohon maaf
sebesar-besarnya atas segala
kekurangan tersebut. Dan sekali lagi
ucapan terimakasih penulis sampaikan
ke beberapa pelaku sejarah perjalanan
Griya Jateng yang memberikan
dukungan penuh dalam proses
penggalian data yaitu sdr. Fakhruddin
Aziz Lc, H. Abdillah As'ad, Nabih
Shiddiqi Lc, Khoirun Niat Lc, Khusnul
Khitam, dan Rois Mahfudz Lc.

vi Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Semoga amal bersama ini dapat
menjadi sumbangsih bagi perjalanan
Griya Jateng selanjutnya, menjadi
wujud pengabdian ikhlas kepada
negara dan bangsa, sekaligus menjadi
amal ibadah kepada Allah SWT.

Wa Billahi Tawfiq ila Aqwamith Thariq


Wassalamu'alaikum wr. wb.

Cairo, 22 Juli 2007

Muhyidin Basrani

Sambutan
Direktur Griya
Jateng

Bismillahirrahmanirrahim

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah vii


Mengemban amanat untuk
mengelola Griya Jawa Tengah Cairo
merupakan sebuah kehormatan besar.
Keberadaannya merupakan hasil nyata
jerih payah warga Kelompok Studi
Walisongo (KSW), wadah aktifitas
warga Jawa Tengah di Mesir, selama
bertahun-tahun melalui kerja sama
dengan Pemda Jateng dan KBRI Cairo.
Dengan demikian Badan Pengelola
Griya Jawa Tengah bekerja dengan
penuh keikhlasan dan berkeyakinan
bahwa amanat yang diemban
merupakan wujud ibadah dan amal
bakti kepada seluruh warga KSW,
masyarakat Jawa Tengah secara
umum, serta Pemda Jateng.
Sebagai wujud rasa syukur dan
terima kasih terhadap segala pihak
atas perkembangan Griya sejauh ini,
badan pengelola Griya Jawa Tengah
2005-2007 berinisiatif untuk
menerbitkan sebuah buku yang
merangkum sekelumit proses
perjalanan Griya plus segala seluk-
beluknya. Dan di tangan para pembaca
yang budiman, terdapat sebuah buku
sederhana yang diharapkan mampu
memberikan sedikit informasi tentang

viii Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Griya Jawa Tengah Cairo. Merupakan
sebuah keharusan bagi kami untuk
selalu mengabadikan sebentuk
pengorbanan dan kerja keras penuh
keikhlasan dari segenap pihak. Dan
merupakan kewajiban pula untuk
memberikan informasi bagi segenap
khalayak tentang keberadaan Griya
sebagai salah satu usaha
pengembangan Griya Jawa Tengah
Cairo.
Walhasil, kami atas nama badan
pengelola Griya Jawa Tengah
menyampaikan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada segenap tim
penyusun buku atas kerja kerasnya
selama ini. Tak lupa ucapan terima
kasih disampaikan kepada para saksi
sejarah pengadaan Griya yang tanpa
kenal lelah senantiasa mendampingi
tim penyusun buku, terutama dalam
proses pengumpulan data.
Akhirnya, semoga buku ini mampu
memberikan manfaat bagi segenap
pihak serta benar-benar mampu
menjadi bingkisan indah dari badan
pengelola Griya Jawa Tengah Cairo
periode perdana.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah ix


Cairo, 1 Agustus 2007

Nur Hidayah Al-Amin


Direktur Griya Jateng 2006-2007

Sambutan
Ketua Kelompok Studi
Walisongo

Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur ke hadirat Illahi Rabbi
yang telah memberikan umat manusia
segala nikmat dan karunia. Shalawat
serta salam terhatur kepada Nabi besar
sayyiduna Muhammad SAW, yang
karena beliaulah kita bisa menikmati
indahnya hidup berinteraksi sosial
dalam sebuah komunitas.
Griya, sebuah simbol yang
memberikan kesan sebuah hunian
dengan gaya khas Jawa. Kesan
demikianlah yang mungkin akan
didapatkan ketika kita untuk pertama

x Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


kali menginjakkan kaki di sebuah
rumah di pinggiran kota Cairo yaitu
Griya Jawa Tengah. Salam hangat
gebyok berukir khas Jawa Tengah
seakan menyapa kita dengan
ramahnya. Senyum manis para
pengelola yang selalu siap setiap saat
melayani tamu semakin menambah
hangat aura miniatur keraton
kartasuran ini.
Begitulah kira-kira gambaran
Griya. Adapun ide awal pembentukan
rumah ini adalah hasil inisiatif para
pendahulu akan kebutuhan warga KSW
(Kelompok Studi Walisongo) terhadap
sebuah sekretariat permanen sebagai
wahana dinamika mahasiswa dalam
studi maupun organisasi. Walaupun
pada akhirnya proposal yang
dialamatkan ke Pemda Jateng itu
mencair dengan wujud rumah daerah,
akan tetapi wahana berkreasi
mahasiswa pun tidak diabaikan begitu
saja oleh Pemda. Maka dibangun
pulalah aula pertemuan serta
sekretariat permanen yang sangat pas
jika dijadikan sarana berkumpul dan
berbagi antar sesama.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah xi


Dari sini kita dapati bahwa Griya
sangat berperan aktif dalam membantu
keberhasilan para mahasiswa Indonesia
pada umumnya dan mahasiswa Jawa
Tengah-DIY pada khususnya dalam
berdinamika. Lebih dari itu, Griya
mampu memberikan kontribusi aktif
kepada warga KSW dalam bentuk
bantuan-bantuan baik finansial maupun
material, semisal pemberian bantuan
sembako yang telah terlaksana dua
tahun terakhir.
Ke depan semoga Griya mampu
lebih eksis dengan berbagai terobosan,
sehingga komunitas dan intelektualitas
warga Jawa Tengah-DIY semakin
terakomodir demi kemajuan dan
kesuksesan bersama.

Cairo, 1 Agustus 2007

Alek Mahya Shofa


Ketua KSW 2006-2007

Daftar Isi
xii Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Pengantar Penyusun  v
Sambutan Direktur Griya Jateng  vii
Sambutan Ketua Kelompok Studi Walisongo
 ix
Daftar Isi  xi

Bab I
Dinamika Mesir-Indonesia dalam Kilasan
Sejarah  1
- Sekelumit Sejarah Bangsa Mesir  3
- Mesir dan Para Pelajar Indonesia  9
- Hubungan Bilateral Mesir-Indonesia 
14
Bab II
Kelompok Studi Walisongo (KSW) dan
Eksistensi Masyarakat Jawa Di Mesir  19
- Sejarah Awal Berdirinya Kelompok
Studi Walisongo (KSW) Mesir  21
- Kiprah KSW Sebagai Organisasi
Kedaerahan dan Kelompok Studi 
28
BAB III
Program Pembangunan Rumah Daerah
Jawa Tengah (RDJT) Sebagai Usaha Promosi
Daerah  39
- Persoalan Akomodasi di Mata
Masyarakat Indonesia Mesir  41

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah xiii


- Usaha Pengadaan Rumah Daerah
Sekaligus Sekretariat Permanen KSW
 45
- Tanggapan Pemda Jateng atas
Rencana Pembangunan Rumah
Daerah  50
BAB IV
Catatan Peristiwa Pembangunan Rumah
Daerah Jawa Tengah (RDJT) Cairo  57
- Proses Pemilihan Rumah  59
- Proses Pembangunan Rumah  66

BAB V
Pengelolaan Rumah Tangga Griya Jawa
Tengah  73
- Peresmian Rumah Daerah Jawa
Tengah (RDJT) Cairo sebagai Griya
Jawa Tengah  75
- Perumusan Mekanisme Pengelolaan
Griya Jawa Tengah  81
- Peran Griya Jateng bagi Segenap
Pihak Terkait  86
BAB VI
Optimalisasi Dua Arah Potensi Jawa Tengah
dan Timur Tengah  95
- Selayang Pandang Sejarah Jawa
Tengah  97
- Peran Griya Jawa Tengah bagi Promosi
Aset Daerah  100

xiv Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


- Pengenalan Potensi Mesir Guna
Pengembangan Griya Jawa Tengah 
106

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah xv


Bab I
Dinamika Mesir-
Indonesia Dalam
Kilasan Sejarah

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 1


2 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Dinamika Mesir-Indonesia
Dalam Kilasan Sejarah
- Sekelumit Sejarah Bangsa Mesir
Dalam tatanan kehidupan
masyarakat dunia, kawasan Timur
Tengah merupakan salah satu bagian
belahan dunia yang tak pernah absen
dari catatan sejarah hingga saat ini.
Sejarah peradaban, kebudayaan,
agama-agama besar, hingga politik
adalah bagian tak terpisahkan dari
wilayah ini. Dan apabila menyoal
perkara dunia Timur Tengah lebih jauh,
Mesir merupakan sebuah negara
bangsa yang seolah mempunyai hak
besar untuk diperbincangkan. Betapa
tidak, Mesir yang saat ini
termanifestasi dalam institusi Republik
Arab Mesir telah mencatat beragam
warna sejarah dalam perjalanan
panjangnya. Sejarah kejayaan Mesir
kuno hingga percaturan politik Timur
Tengah kontemporer bahkan masih

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 3


menyisakan jejak material yang
terpelihara sampai sekarang.
Yang sempat terekam, Mesir
pernah mengalami kejayaan pada
masa keemasan Dinasti pharaonic.
Sepadan dengan kejayaan peradaban
masa awal lain semisal peradaban
sungai Eufrat-Tigris, peradaban sungai
Indus, peradaban sungai Kuning,
peradaban Sumeria, Yunani kuno,
Romawi, Persia, hingga Indian Amerika,
Mesir adalah salah satu ikon peradaban
masa lampau. Perjalanan dinasti
pribumi ini dimulai pada sekitar tahun
3000 SM hingga tahun 343 SM. Di
masa itulah dibangun monumen-
monumen yang masih bisa kita temui
saat ini semisal piramida, sphinx, dan
kuil-kuil peribadatan. Di masa itu
pulalah terjadi peristiwa penting bagi
agama-agama Samawi yaitu kisah nabi
Musa dan bangsa Israel di bumi Mesir.
Kejayaan dinasti-dinasti awal ini
menjadikan Mesir sebagai penguasa
yang sangat disegani semasa itu.
Wilayah koloninya mencakup berbagai
daerah yang saat ini menjadi bagian
tiga benua besar, Afrika, Asia, dan
Eropa.

4 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Di masa selanjutnya Mesir harus
menerima kenyataan interaksi dengan
bangsa lain walaupun melalui sebuah
proses kolonisasi. Persia adalah
penguasa asing pertama yang berhasil
mengontrol Mesir kuno. Tahun 343 SM
diyakini sebagai awal kekuasaan
Dinasti Archaemenid Persia di Mesir.
Namun apabila merunut pada sejarah,
sebenarnya Mesir pernah dianeksasi
oleh Persia mulai tahun 525 SM hingga
tahun 404 SM, setelah terjadi sebuah
kekalahan perang di daerah Pelusium,
tepi laut Tengah.
Pada saat kekalahan Persia atas
Makedonia di bawah kepemimpinan
Alexander Agung pada tahun 332 SM,
lagi-lagi Mesir harus tunduk kepada
penguasa asing yang lain. Melalui
kekuasaan Dinasti Aegead, peradaban
Helenistik mulai menyentuh kehidupan
bangsa Mesir. Salah seorang panglima
pasukan Alexander, Ptolemy,
menobatkan diri sebagai gubernur
wilayah Mesir pada tahun 305 SM,
setelah kematian Alexander. Sejak saat
itu hingga tahun 30 M kekuasaan atas
Mesir beralih ke tangan dinasti Ptolemic
yang melahirkan kisah tentang seorang

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 5


ratu termasyhur yaitu Cleopatra. Pada
masa itu tercatat terjadinya imigrasi
para penganut Yahudi dari daerah Asia
Tengah ke kota Alexandria.
Kemenangan Octavianus atas
Cleopatra dan Mark Antony menjadikan
Mesir beralih tangan ke kekuasaan
Bizantium. Di masa kekuasaan baru ini,
sekitar tahun 33 M, agama Nasrani
masuk ke Alexandria melalui tangan
St. Markus dan mulai menjadi agama
dominan di Mesir pada abad 3 M. Tahun
451 M terjadi perselisihan teologis di
dalam gereja Alexandria. Kolompok
Miaphysites yang berseberangan
dengan pihak gereja berkembang
menjadi sebuah kelompok yang hingga
saat ini masih eksis dengan nama
komunitas Koptik. Kelompok sempalan
yang justru berkembang menjadi
dominan ini seringkali menjadi sasaran
penindasan oleh penguasa Bizantium.
Penindasan ini justru menjadi jalan
pemudah bagi masuknya penguasa
Islam di Mesir pada tahun 639 M.
Panglima 'Amr bin 'Ash bersama 4000
pasukan utusan Khalifah Umar bin
Khattab kala itu dipandang oleh orang-
orang Koptik sebagai penguasa baru

6 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


yang lebih toleran dibandingkan
dengan penguasa Bizantium. Arab-
Islam kemudian menjadi sebuah
peradaban baru di wilayah Mesir.
Dibangunlah kota baru Fusthat sebagai
pusat pemerintahan. Di kota inilah
berpusat pengendalian Mesir sebagai
cabang kekuasaan khalifah Umar.
Berturut turut kemudian Fusthat
menjadi cabang kekuasaan Khalifah
Utsman, Khalifah Ali, kekuasaan Dinasti
Umayyah, hingga Dinasti Abbasiah
yang melahirkan dua kekuasaan dinasti
semi independen, yaitu Thuluniah dan
Ikhsidiah.
Tahun 969 M datanglah penguasa
Fathimiah untuk menguasai Mesir. Pada
masa dinasti ini dibukalah kota Cairo
sebagai pusat pemerintahan baru dan
di dalamnya dibangun sebuah masjid
dengan nama Al Azhar. Kemudian
kekuasaan silih berganti memerintah
Mesir mulai dari Dinasti Ayyubiah (1174
M), Mamluk (1252 M), hingga Turki
Utsmani (1517 M).
Mesir pada tahun 1798 mulai
merasakan pengaruh Revolusi Perancis
dengan kedatangan pasukan Napoleon
di Alexandria. Perancis menguasai

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 7


Mesir hanya dalam rentang waktu 3
tahun karena harus lebih banyak
memberikan perhatian terhadap
peperangan melawan Inggris. Namun
rentang tiga tahun ini banyak
memberikan pengaruh terhadap
kemajuan Mesir. Pengaruh Perancis ini
bahkan masih bisa dirasakan wujudnya
sampai sekarang.

Ilustrasi kota Thebes, ibu kota Mesir kuno.

Alexandria, ibu kota Mesir masa klasik yang


dibangun oleh Alexander Agung

8 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Masjid Amr bin Ash, sisa-sisa kejayaan kota
Fusthat, ibu kota Mesir pada masa sahabat
Pasca pendudukan Perancis
terjadilah kekosongan kekuasaan yang
akhirnya memunculkan nama
Muhammad Ali, seorang mantan
perwira pasukan Turki Utsmani
keturunan Albania, sebagai penguasa
baru. Semenjak saat itu Mesir melewati
masa kekuasan para wali, khedive,
sultan, dan raja sebelum akhirnya
dideklarasikan sebagai Republik Arab
Mesir pada tanggal 18 Juni 1953.
Sebelum deklarasi ini Inggris juga
pernah mendapatkan hak kontrol atas
Mesir dari tahun 1882 hingga tahun
1922.
Mesir modern menjadi babakan
baru perjalanan sejarah Mesir dan
masih berlangsung hingga saat ini.
Sejarah mencatat bagaimana Negara
Mesir menjadi salah satu negara Timur
Tengah yang memiliki pengaruh sangat

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 9


kuat dalam konstelasi politik dunia
abad ke 20. Hal yang tidak
mengherankan jika dirunut dari
perjalanan sejarah Mesir yang panjang.
Mesir berada di benua Afrika tepi
Laut Tengah yang sangat berdekatan
dengan benua Eropa dan berbatasan
dengan benua Asia. Posisi ini sangat
strategis karena terletak di antara
sekian lokus peradaban dan
menjadikan Mesir sebagai jalur
transmisi berbagai kebudayaan.
Kebudayaan asli Mesir kuno,
kebudayaan Eropa klasik helenistik,
kebudayaan agama samawi yang
menyertakan corak kebudayaan Asia,
kebudayaan Eropa modern, semuanya
meninggalkan warna-warni nuansa
yang menjadi bagian inheren dari
kehidupan masyarakat Mesir.

10 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Istana Abidin di Cairo, ibu kota Mesir modern.

Dari rupa-rupa jejak peradaban


inilah Mesir menyimpan cukup banyak
potensi yang menjadi daya tarik dalam
berbagai bidang. Ia menjadi sebuah
wilayah yang diperhitungkan di Timur
Tengah sebagai pusat kegiatan
ekonomi, sosial, politik, spiritual,
budaya dan wisata, pendidikan, serta
sederet bidang yang lain. Tak heran jika
Cairo sebagai ibu kota merupakan kota
terbesar dan terpadat di kawasan
Timur Tengah dan Afrika.

- Mesir dan Para Pelajar Indonesia


Bagi bangsa Indonesia, Mesir
memiliki arti penting tersendiri dan

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 11


sejarah hubungan yang cukup panjang.
Hal pertama yang menjadi perekat
relasi antara Indonesia dengan Mesir
adalah kenyataan bahwa keduanya
adalah negara dengan mayoritas
penduduk beragama Islam.
Semangat keberagamaan Muslim
Indonesia yang meyakini bahwa
tempat tinggalnya bukan merupakan
wilayah pusat kebudayaan Islam
mendorong sebuah fenomena baru
dalam hal pendidikan agama Islam.
Para penimba ilmu agama Islam yang
tadinya hanya belajar di pesantren-
pesantren tanah air mulai melirik
wilayah Timur Tengah sebagai daerah
tujuan pendidikan.

12 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Peta Republik Arab Mesir.
Awal abad ke 20 menandai sebuah
babakan baru dunia yang efeknya
sangat terasa dalam berbagai bidang,
termasuk ekonomi, industri, dan
transportasi. Kemajuan inilah yang
menjadi salah satu faktor pemacu
peningkatan jumlah pelajar Indonesia
di Timur Tengah. Sebelumnya telah ada
pelajar Indonesia di Timur Tengah
namun masih dalam jumlah yang
sedikit.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 13


Dari sekian banyak negara Timur
Tengah inilah, Mesir menjadi salah satu
tujuan utama pendidikan agama Islam.
Alasannya jelas, karena di sinilah
terdapat banyak lembaga pendidikan
Islam termasuk salah satu universitas
tertua di dunia, sebuah perguruan
tinggi Islam yang bernafaskan faham
sunni, yaitu Al Azhar. Beberapa Negara
Timur Tengah lain memang
menawarkan pendidikan agama Islam
yang tak kalah bermutu. Namun
dengan beberapa alasan Mesir tetap
menjadi pilihan bagi sejumlah pelajar
dan mahasiswa tanah air.
Apabila kita menengok kondisi
keagamaan Islam di tanah air, mungkin
kita akan paham kenapa Mesir menjadi
tujuan. Faktanya, mayoritas penganut
Islam di Indonesia menganut faham
sunni dan mengakui beberapa mazhab
fiqh. Sedangkan Al Azhar, meski
semula dibangun oleh Dinasti Syiah
Fathimiyyah, namun semenjak Dinasti
Ayyubiah hingga sekarang telah
menjadi sebuah institusi pendidikan
berasaskan faham sunni.
Masjid Al Azhar dibangun
bersamaan dengan direbutnya Mesir

14 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


oleh Dinasti Fathimiyyah yang berpusat
di Tunisia pada tahun 969 M. Pada saat
itu dibangunlah Cairo sebagai kota baru
plus masjid Al Azhar oleh panglima
Mu'izzuddin li Dinillah. Sebagai sebuah
pusat kegiatan keagamaan dan
kegiatan sosial peran masjid Al Azhar
berkembang menjadi sebuah pusat
kegiatan pendidikan. Bulan Ramadhan
tahun 975 M menandai dimulainya
aktifitas pendididikan di masjid
tersebut. Hingga saat ini Al Azhar
berkembang menjadi sebuah
universitas termasyhur yang berusia
tak kurang dari satu milenium. Usia ini
hanya ditandingi oleh Universitas
Qarawiyin di kota Fez, Maroko, yang
berdiri sejak tahun 859 M.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 15


Masjid Al Azhar Cairo, cikal bakal Universitas Al
Azhar.

Universitas Al Azhar inilah yang


menjadi akar dinamika masyarakat
Indonesia di Mesir terutama para
pelajar dan mahasiswanya. Jumlah
pelajar Indonesia di Al Azhar yang
meningkat pada awal abad 20
mendorong dibentuknya sebuah
organisasi bernama Al Jami’ah Al
Khairiyah li al Thalabah al Azhariyah al
Jawiyah. Organisasi ini dibentuk pada
tahun 1923 untuk mewadahi aktifitas
pelajar dan mahasiswa Indonesia dan
Melayu secara umum. Pada tahun 1937
organisasi ini berubah nama menjadi
Perhimpunan Indonesia Malaya
(Perpindom). Karena peningkatan
jumlah pelajar dan mahasiswa yang
signifikan, pada tahun 1951 terjadi
pemisahan antara mahasiswa
Indonesia dan mahasiswa Malaysia
dalam keorganisasian. Pelajar dan
mahasiswa Indonesia mendirikan
Ikatan Indonesia yang kemudian
berubah nama menjadi Himpunan
Pemuda Pelajar Indonesia (HPPI) pada
tahun 1956. Pada tahun 1970
organisasi ini berubah nama kembali

16 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


menjadi Perhimpunan Pelajar Indonesia
(PPI).

Lambang Persatuan Pelajar dan


Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir
Pada tahun 1987 PPI harus bubar
karena perdebatan tentang asas
tunggal, dan diganti dengan organisasi
baru bernama Himpunan Pelajar dan
Mahasiswa Indonesia (HPMI). Melalui
Musyawarah Besar yang digelar pada
tanggal 27-28 November 1995
organisasi ini menggunakan nama baru
yaitu Persatuan Pelajar dan Mahasiswa
Indonesia (PPMI) hingga saat ini.
Kini jumlah warga Indonesia di
Mesir telah mencapai angka 5000.
Angka ini didominasi oleh mahasiswa
dan pelajar yang sebagian besar
belajar di universitas Al Azhar. Di luar

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 17


itu ada sebagian mahasiswa Indonesia
yang belajar di perguruan tinggi lain
seperti Universitas Cairo, Universitas
Ain Shams, Institut Studi Islam Baqury
Zamalek, Institut Riset dan Studi Arab
Cairo, dan sebagainya.

- Hubungan Bilateral Mesir-


Indonesia
Selain persoalan pendidikan,
nampaknya Indonesia mempunyai
ikatan erat dan memiliki pengalaman
tak terlupakan dengan Mesir dalam
sejarah perjuangan kemerdekaan.
Setelah memproklamasikan diri
sebagai sebuah negara yang merdeka
pada tahun 1945, Indonesia pada saat
itu sangat membutuhkan dukungan
dari bangsa-bangsa lain. Pengakuan
bangsa lain terhadap kemerdekaan
sebuah bangsa merupakan syarat
mutlak bagi kedaulatan negara. Dan
saat itu pula Mesir menjadi negara
yang pertama kali mengakui
kemerdekaan Indonesia. Lewat
dukungan besar dari rakyat Mesir,
didukung oleh usaha lobi serta

18 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


diplomasi para pelajar dan mahasiswa
Indonesia di Mesir, Perdana Menteri
Mahmud Fahmi al Nukrashi Pasha
mengakui kedaulatan pemerintah
Republik Indonesia (RI) pada tanggal 22
Maret 1946. Pada tahun 1947 H. Agus
Salim selaku Menteri Luar Negeri
memimpin utusan kenegaraan RI yang
dikirim ke Mesir. Sebaliknya Konsul
Jenderal Mesir di Mumbay India,
Muhammad Abdul Mun'im, melakukan
kunjungan ke Yogyakarta pada tahun
itu juga. Masih di tahun yang sama
pemerintah RI membuka Kedutaan
Besar Republik Indonesia (KBRI) di
Cairo sebagai perwakilan pemerintahan
yang sah.

Salah satu gedung di komplek Kedutaan Besar


Republik Indonesia (KBRI) Cairo.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 19


Di masa pasca kemerdekaan, Mesir
dan Indonesia pernah tampil bersama
dalam pentas politik internasional. Dua
presiden, Gamal Abdul Nasser dan
Sukarno menjadi tokoh utama dalam
memprakarsai diadakannya Konferensi
Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada
tahun 1955. Dan buah dari hubungan
baik kedua presiden, nama presiden
Muhammad Sukarno diabadikan
menjadi salah satu nama jalan utama
di Cairo.

Presiden Sukarno dan Gamal Abdul Nasser.

Saat ini dua negara berkembang


dari benua yang berbeda ini tetap

20 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


menjalin hubungan baik melalui kerja
sama di berbagai bidang. Kedua negara
berkiprah dalam beberapa organisasi
yang sama di kancah internasional
seperti Persatuan Bangsa-Bangsa
(PBB), Organisasi Konferensi Islam
(OKI), Group of Fifteen (G-15), serta
Development Eight (D-8).
Melalui rentetan peristiwa sejarah
inilah hubungan baik antara
pemerintah Mesir dan Indonesia tetap
terpelihara. Masyarakat Indonesia
Mesir (Masisir) yang begitu heterogen
berdinamika dalam berbagai wadah di
bawah naungan KBRI Cairo. Sedangkan
yang berperan sebagai payung utama
bagi organisasi pelajar dan mahasiswa
yang jumlahnya dominan adalah PPMI.
Di luar itu terdapat banyak organisasi
tempat di mana Masisir berkecimpung,
baik berupa organisasi kekeluargaan-
kedaerahan, organisasi masyarakat
afiliatif, organisasi kepartaian,
organisasi almamater, organisasi
akademik, kelompok studi, kelompok
seni budaya, kelompok spiritual,
lembaga swadaya masyarakat, maupun
komunitas-komunitas informal dengan
kecenderungan masing-masing.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 21


22 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 23
Bab II
Kelompok Studi
Walisongo dan
Eksistensi
Masyarakat Jawa
di Mesir

24 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 25
Kelompok Studi Walisongo
(KSW) dan Eksistensi
Masyarakat Jawa di Mesir

- Sejarah Awal Berdirinya Kelompok


Studi Walisongo (KSW) Mesir
Dalam dinamika Masyarakat
Indonesia Mesir (Masisir) yang begitu
energik masing-masing organisasi dan
komunitas seolah saling berlomba
untuk tetap eksis dan dinamis. Dengan
jumlah yang melimpah, Masisir
tergabung dalam sekian banyak
organisasi yag tak kalah melimpah
jumlahnya. Jika organisasi merupakan
sebuah pilihan, maka di Mesir warga
Indonesia akan disodori banyak pilihan
dengan spesifikasi masing masing.
Kondisi seperti ini menjadikan dinamika
Masisir cukup menonjol di antara
komunitas masyarakat Indonesia di
mancanegara.

26 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Salah satu bentuk organisasi yang
menjadi simbol utama dinamika Masisir
adalah organisasi kekeluargaan-
kedaerahan yang mewadahi aspirasi
Masisir dari berbagai daerah dan suku
di Indonesia. Sampai saat ini terdapat
enam belas organisasi kekeluargaan-
kedaerahan di Mesir sebagai
representasi perwakilan provinsi, suku,
atau pulau tertentu di Indonesia.
Menyelisik lebih ke dalam masing-
masing kekeluargaan kita bahkan akan
menemukan organisasi sub ordinat
yang membawahi daerah dengan skala
kabupaten atau kota. Fenomena sangat
menarik dalam sebuah masyarakat
Indonesia di luar negeri. Logika yang
digunakan pada umumnya adalah
menguatkan sebuah institusi pusat
sebagai wadah representasi daerah.
Namun untuk kasus Masisir yang
terjadi adalah pengembangan potensi
daerah dalam rangka menyokong
pusat. Bagaimanapun ini harus
dipahami sebagai usaha para putra
bangsa untuk mewujudkan ke-bhineka-
an yang tetap satu dalam sebuah
institusi Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 27


Salah satu dari beberapa
komunitas kedaerahan yang
eksistensinya diakui di kalangan Masisir
adalah masyarakat Jawa. Saat itu, pada
tanggal 31 Januari 1987, dalam sebuah
urun rembug yang diadakan oleh
sekelompok mahasiswa, lahirlah
sebuah organisasi bernama Kelompok
Studi Walisongo (KSW). Semenjak
kelahiran organisasi inialh masyarakat
Jawa di Mesir telah resmi memiliki
sebuah payung aktifitas.
Yang menarik untuk diperhatikan
adalah realitas bahwa embrio KSW
merupakan sebuah kelompok studi
bernama Hadits al Ahad. Istilah hadits
al ahad ini mungkin bisa dimaknai
sebagai sebuah obrolan di hari Ahad.
Dan memang benar, kelompok studi
Hadits al Ahad ini memang selalu
melaksanakan pertemuan rutinannya
tiap hari Ahad. Dalam prakteknya
kelompok studi ini membidangi
kegiatan keilmuan semacam diskusi
bahasa Arab, penulisan karya ilmiah,
penerjemahan dan berbagai macam
kegiatan intelektual dan akademik
lainnya.

28 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Diskusi ilmiah, cikal bakal organisasi KSW.

Kenyataan lain adalah


keanggotaan kelompok studi ini tidak
melulu dikhususkan untuk pelajar dan
mahasiswa dari suku atau daerah
tertentu saja. Bahkan ada di antara
para aktifis yang merupakan
mahasiswa dan pelajar dari negara
tetangga. Dengan formasi yang
beraneka ragam, kumpulan mahasiswa
ini mengeksiskan kelompok studi
Hadits al Ahad secara murni sebagai
sebuah wahana studi intelektual.
Pada tahun 1987 dinamika Masisir
memacu semangat mahasiswa dan
pelajar yang berlatar belakang suku

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 29


Jawa dan Madura membentuk sebuah
wadah baru bagi mereka utuk
berkecimpung dalam wadah PPI. Dan
urun rembug 31 Januari 1987 tadi
memutuskan bahwa jika sekedar untuk
memenuhi kebutuhan akan adanya
perwakilan masyarakat Jawa dan
Madura di PPI, kelompok Hadits al Ahad
bisa dijadikan sebagai sebuah sarana.
Alasannya adalah karena Hadits al
Ahad banyak memiliki aktifis dari suku
Jawa dan Madura. Dan untuk
disesuaikan dengan kebutuhan
perwakilan daerah tersebut, Hadits al
Ahad dirubah namanya menjadi
Kelompok Studi Walisongo (KSW).

Lambang Kelompok Studi Walisongo (KSW)


Mesir

30 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Kendati demikian, pertemuan di
rumah sdr. Abdul Manan Usman yang
berasal dari Sulawesi Selatan tersebut
berhasil merumuskan beberapa
konsensus sebagai pedoman
perjalanan KSW. Saat itu disepakati
bahwa Kelompok Studi Walisongo atau
Usrah at Thalabah al Auliya at Tis'ah
adalah organisasi yang; pertama,
menonjolkan semangat akademik
bukan sosial kekeluargaan, kedua,
tidak bersifat kesukuan mengingat
keanggotaan yang plural, ketiga, selalu
tanggap dengan perkembangan yang
terjadi di tanah air. Dengan konsensus
tersebut KSW selanjutnya diharapkan
tidak akan terjerumus dalam sentimen
primordial. Nama-nama yang hadir
dalam pertemuan waktu itu adalah;
Munawir Abdurrahim, A. Tohirin (Jawa
Tengah), Noor Kholis Mukti, Amal
Fathullah (Jawa Timur), Maktum Jauhari,
Jakfar Busyiri (Madura), MA. Joban,
Sujadi, Anas Maulana (Jawa Barat),
Zuhid Mukhson, Jakfar Rosyidi, Sobri
Agung (Sumatera Selatan), Bahruni
Inas, Nuruddin Marbo (Kalimantan
Selatan), Abdul Manan Usman,

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 31


Syarifuddin Abdullah (Sulawesi
Selatan).
Tanggal 18 Juni 1987 terjadi
sebuah peristiwa besar pada saat
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang
tidak mengakui asas tunggal Pancasila
dibubarkan melalui SK Dubes No:
SKEP/013/VI/1987 dan digantikan
dengan Himpunan Pelajar dan
Mahasiswa Indonesia (HPMI).
Bersamaan dengan lahirnya organisasi
baru ini dinamika Masisir berkembang
ke arah pemberdayaan sumber daya
manusia dalam konteks kedaerahan
berdasarkan wilayah-wilayah tertentu
di Indonesia. Hal ini terlihat dari
semakin tingginya energi aktifitas
keorganisasian dari organisasi
kekeluargaan yang telah ada di
kalangan Masisir. Konsekuensi yang
ditanggung oleh KSW sebagai sebuah
organisasi yang bersifat plural adalah
semakin meningkatnya keaktifan
anggotanya di kekeluargaan masing-
masing di luar KSW. Aktifitas KSW
semakin didominasi oleh anggota yang
berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta,
Jawa Timur, dan Madura. Organisasi ini
semakin menyusut pula dengan

32 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


kepulangan beberapa anggotanya yang
telah berhasil menyelesaikan
pendidikan termasuk anggota senior
yang menjadi saksi sejarah berdirinya
KSW.
Sebagai organisasi yang sedianya
tidak mengarahkan diri ke arah
penekanan pada sentimen primordial,
KSW harus menanggapi perubahan
konstelasi saat itu dengan sedikit demi
sedikit mulai mengapresiasi aspirasi
semangat kedaerahan warganya yang
berlatar belakang suku Jawa dan
Madura.
Situasi semakin berkembang
ketika warga Jawa Timur dan Madura
berinisiatif untuk mendirikan organisasi
independen sebagai representasi
masyarakat yang berasal dari daerah
tersebut dalam dinamika Masisir. Pada
tanggal 15 November 1994
terbentuklah organisasi baru bernama
Forum Studi Keluarga Madura
(Fosgama) sebagai payung warga
Madura yang berada di Mesir. Hal ini
mengakibatkan pengaruh signifikan
bagi perjalanan KSW selanjutnya yang
pada awalnya juga dibesarkan oleh
elemen masyarakat Madura di Mesir.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 33


Setelah perubahan HPMI menjadi
Persatuan Pelajar dan Mahasiswa
Indonesia (PPMI) pada tahun 1995,
masyarakat Jawa Timur di Mesir
membentuk organisasi Gabungan
Masyarakat Jawa Timur (GAMAJATIM)
pada tanggal 12 Oktober 1998.
Organisasi ini sendiri pada tanggal 21
Oktober 1999 berubah nama menjadi
Keluarga Masyarakat Jawa Timur
namun masih menggunakan akronim
yang sama. Praktis setelah beberapa
perubahan ini KSW semakin jelas
statusnya menjadi sebuah organisasi
yang secara de jure mengayomi warga
Jawa Tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta yang berada di Mesir.
Namun secara de facto terdapat
beberapa anggota KSW yang tidak
bersal dari dua daerah tersebut.
Karena pergeseran yang dialami
tersebut, KSW bukan lagi menjadi
sebuah kelompok studi dalam arti
sebenarnya, namun menjadi sebuah
organisasi kedaerahan-kekeluargaan
yang membidangi beragam aktifitas,
tidak terbatas pada aktifitas intelektual
dan akademik saja. Namun demikian,
sesuai dengan sejarah dan maksud

34 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


awal didirikannya organisasi tersebut,
KSW berusaha untuk meletakkan target
pengembangan intelektual dan
peningkatan prestasi akademik sebagai
prioritas utama. Hal ini memang sudah
semestinya mengingat organisasi ini
didominasi oleh anggota yang
berstatus pelajar dan mahasiswa.
- Kiprah KSW Sebagai Organisasi
Kedaerahan dan Kelompok Studi

Dalam afiliasinya ke PPMI, KSW


diakui sebagai salah satu organisasi
kekeluargaan di antara sekian
kekeluargaan di lingkup Masisir.
Walaupun tetap menggunakan istilah
kelompok studi, namun hal ini tidak
menjadi persoalan dalam segala
aktifitas yang terkait dengan urusan-
urusan legal formal dengan PPMI
maupun KBRI Cairo. Penamaan sebuah
organisasi kekeluargaan dengan istilah
kelompok studi merupakan kebijakan
yang wajar dan sah-sah saja, serta
sejauh ini tidak pernah menuai
permasalahan berarti. Hal ini dialami
pula oleh sebuah organisasi
kekeluargaan lain di kalangan Masisir

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 35


yaitu Kelompok Studi Mahasiswa Riau
(KSMR), wadah aktifitas warga Riau
yang ada di Mesir.
Label kelompok studi inilah yang
selalu menjadi pelecut semangat warga
KSW yang notabene kebanyakan
merupakan pencari ilmu dalam
mencapai kesuksesan pendidikan
selama berada di negeri seribu
menara, Mesir. Untuk itu dalam
kebijakan organisasinya yang
dituangkan dalam Garis-garis Besar
Program Organisasi (GBPO) atau Al
Wilayat al Ansithatiyat, KSW
mengetengahkan tiga poin utama
sebagai pedoman pelaksanaan
organisasi di samping enam poin
penting yang lain. Tiga poin yang
termaktub dalam wilayah pelaksanaan
program ini adalah program
pengembangan sumber daya manusia,
program pengembangan sosial, serta
program aplikasi ke-Islaman. Dari
ketiga poin tersebut nampak bahwa
KSW sama sekali bukan dibentuk dalam
rangka menjunjung semangat
kedaerahan dan kesukuan yang
dangkal. Namun sebaliknya KSW justru
ingin menegaskan bahwa organisasi

36 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


yang menyandang label kedaerahan
hanya merupakan wadah aktifitas
dalam rangka pengembangan kualitas
warganya dalam bidang akademik-
intelektual, sosial, serta spiritual.
Di samping GBPO asas pedoman
perjalanan KSW juga termuat dalam
Anggaran Dasar atau Wilayat al
Ahdiyat, Anggaran Rumah Tangga atau
Wilayat al Idariyat, serta Motto atau
Wilayat al Syakhshiyat. Yang menarik,
semua pedoman ini tertuang dalam
jumlah sembilan, sesuai dengan nama
KSW yang memuat kata dalam bahasa
Jawa, sanga, yang berarti sembilan.
Oleh itulah gabungan dari seluruh
pedoman tersebut diistilahkan sebagai
Wilayat al Tusa'iyat atau bisa
diterjemahkan sebagai pedoman yang
sembilan.
Roda organisasi ini dijalankan
melalui mekanisme yang disusun
dalam bentuk hubungan sinergis
antara Dewan Pengurus KSW, Majelis
Permusyawaratan Anggota (MPA), serta
Dewan Penasihat. Dewan Pengurus
dipimpin oleh ketua yang dipilih melalui
mekanisme Rapat Permusyawaratan
Anggota (RPA) di setiap tahunnya. Pada

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 37


agenda tahunan inilah anggota MPA
dipilih sebagai representasi suara
warga dalam setiap pengambilan
kebijakan organisasi. Yang terakhir,
Dewan Penasihat, adalah warga KSW
yang dituakan. Biasanya diangkat dari
kalangan warga yang tidak lagi
menyandang status pelajar atau
mahasiswa. Pengangkatan tersebut
dilakukan oleh Dewan Pengurus atas
persetujuan MPA. Kebanyakan elemen
Dewan Penasehat adalah para staf
KBRI Cairo plus para warga KSW yang
bekerja di instansi-instansi lain di Mesir.
Melalui para sesepuh inilah, KSW
menerima sumbang saran dan
masukan sebagai bahan pertimbangan
dalam menentukan kebijakan
organisasi.
Kekuasaan tertinggi dalam
organisasi KSW yang memiliki otoritas
sebagai penentu arah kebijakan adalah
Rapat Permusyawaratan Anggota
(RPA). Untuk kebijakan internal baik
Dewan Pengurus maupun MPA memiliki
wadah rapat internal masing-masing.
Jika ditemui sebuah permasalahan
yang bersifat darurat dan mendadak
menuntut diambilnya kebijkan, maka

38 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Rapat Permusyawaratan Luar Biasa
(RPLB) menjadi sarana pencarian jalan
keluar.
Setiap periode kepengurusan
memiliki kebijakan masing-masing
dalam menyusun program kerja.
Perbedaan akan nampak dalam
persoalan format susunan
kepengurusan di tiap tahunnya.
Memang hal yang ditekankan oleh
periode tertentu sebagai sebuah
prioritas berbeda dengan prioritas
periode yang lain. Ini semua terkait
dengan bagaimana kondisi dan
kebutuhan saat itu serta aspirasi yang
muncul dari warga. Namun lazimnya,
kepengurusan KSW setiap tahunnya
selalu menyertakan departemen
pendidikan, kaderisasi, hubungan
masyarakat, olahraga dan seni, serta
beberapa departemen lain sebagai
elemen penting. Untuk kebutuhan
terhadap garapan yang bersifat
khusus, KSW membentuk Badan
Otonom (BO) yang dipercayai mampu
menyelesaikan garapan tersebut dan
mampu bekerja secara lebih leluasa.
Sebagai contoh, saat ini KSW memiliki
sebuah Badan Otonom (BO) yang

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 39


membidangi kegiatan jurnalistik
dengan nama BO Prestasi.

Rapat Permusyawaratan Anggota (RPA) sebagai


representasi kekuasaan tertinggi.

Dalam perjalanan usia yang telah


menapaki dua dasawarsa, KSW
mengalami berbagai macam peristiwa
yang silih berganti. Perjalanan tersebut
terlewati dengan sekian banyak
prestasi yang diraih dalam
kapasitasnya sebagai sebuah
organisasi berbasis akademik-
intelektual. Dengan jumlah anggota
yang relatif tinggi, lebih dari 500 orang,
KSW berhasil mencapai prosentase
tinggi pula dalam keberhasilan
akademik anggotanya. Sebuah prestasi
yang jarang dicapai oleh kekeluargaan

40 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


yang memiliki anggota dalam jumlah
banyak di kalangan Masisir. Prestasi
KSW ini didukung oleh salah satu
program unggulan tahunan KSW yaitu
bimbingan belajar dan ujian percobaan
(try-out) untuk menghadapi ujian
sebenarnya di bangku kuliah. Di luar
dunia akademik, KSW pun terkenal
sebagai organisasi yang tanggap
terhadap peningkatan kualitas
intelektual anggotanya. Ini terbukti
dengan maraknya diskusi dengan
berbagai tema yang disambut antusias
para anggota. Bukti konkret lain adalah
program penulisan buku ilmiah yang
memuat karya-karya warga sendiri.
Dalam bidang lain, KSW terkenal di
kalangan Masisir sebagai sebuah
kekeluargaan yang memiliki kepedulian
dan prestasi tinggi dalam bidang minat
bakat terutama olah raga dan seni.
Berbagai trofi dari sekian macam
kejuaraan selalu menghiasi sekretariat
KSW di setiap tahunnya. Kreatifitas dan
talenta warganya seringkali menghiasi
dinamika Masisir.
Dengan berbagai macam
keunggulan tersebut, KSW selalu
dituntut untuk tetap konsisten dalam

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 41


mempertahankan dan meningkatkan
apa-apa yang telah diraih selama ini.
Merupakan sebuah kewajiban bagi
seluruh elemen untuk menjaga nama
baik KSW yang telah terbangun sejauh
ini di mata khalayak Masisir.

Pemberian penghargaan kepada warga


berprestasi di bidang akademik.
Persoalan mempertahankan nama
baik inilah yang mendorong KSW untuk
selalu menjaga keseimbangan
hubungan dalam interaksinya terhadap
seluruh elemen Masisir. Seperti telah
diketahui, elemen utama dinamika
Masisir adalah KBRI sebagai payung
warga secara umum, serta PPMI

42 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


sebagai payung warga yang berstatus
pelajar dan mahasiswa. Terhadap dua
institusi tersebut, KSW selalu
memberikan dukungan sepenuhnya
dan melakukan kerja sama semaksimal
mungkin sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki. Namun demikian KSW
selalu tanggap dan bersikap kritis
terhadap segala kebijakan yang diambil
oleh dua institusi tersebut, guna
menuju ke arah mekanisme
kelembagaan yang aspiratif dan efektif.
KSW selalu meyakini bahwa loyalitas
tidak selalu harus dimaknai sebagai
sikap selalu menurut yang sepi dari
usaha-usaha untuk memberikan kritik
membangun.
KSW juga berdampingan dengan
institusi-institusi lain yang terwujud
dalam organisasi-organisasi
kekeluargaan, ormas afiliatif, partai,
almamater, dan kelompok lain dengan
berbagai macam latar belakang baik
formal maupun informal. Dengan
mereka KSW selalu beritikad baik untuk
saling membantu dan memberikan
kerja sama terbaik guna terbinanya
hubungan sinergis antar semua elemen
Masisir.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 43


Kegiatan Intelektual KSW.

Pemberdayaan perempuan lewat kegiatan


keputrian.

44 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang
sehat. Tim Sepak bola KSW.

Sepanjang tahun, KSW tak pernah


sepi dari berbagai kegiatan dengan
berbagai spesifikasi, baik internal
maupun eksternal. Indikasi paling
sederhana adalah suasana sekretariat
yang selalu ramai oleh kehadiran
anggota. Kondisi semacam ini mungkin
tidak akan ditemui hanya pada suasana
ujian saja. Di luar itu, sekretariat selalu
diramaikan oleh berbagai aktifitas baik
yang telah diprogramkan, atau sekedar
berupa aktifitas informal sebagai
wahana silaturrahmi warga.
Bagi komunitas Masisir, sekretariat
memang merupakan ruang publik yang
penting bagi sebuah organisasi sebagai
pusat atau basis manajemen
organisasi. Di samping itu, sekretariat

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 45


adalah pusat komunikasi anggota serta
sentral aktifitas organisasi. Maka wajar
saja apabila suasana sekretariat
kemudian dijadikan parameter
dinamika sebuah organisasi Masisir.

Peringatan Idul Adha, salah satu kegiatan sosial


keagamaan KSW

Untuk kebutuhan ini organisasi-


organisasi Masisir menggunakan flat-
flat yang disewakan sebagai sekretariat
mereka. Dan apabila tidak mampu
menyewa flat sendiri, organisasi
kadang kadang hanya memiki
sekretariat yang menumpang pada
rumah yang disewa anggotanya.
Lewat berbagai cara dan usaha, setiap

46 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


organisasi selalu berkompetisi secara
sehat untuk menjadi yang terbaik
dalam lingkup Masisir.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 47


48 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Bab III
Program
Pembangunan
Rumah Daerah
Jawa Tengah
(RDJT) Sebagai
Usaha Promosi
Daerah

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 49


50 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Program Pembangunan
Rumah Daerah Jawa Tengah
(RDJT) Sebagai Usaha Promosi
Daerah

- Persoalan Akomodasi di Mata


Masyarakat Indonesia di Mesir
Dunia pendidikan luar negeri bagi
para pelajar dan mahasiswa Indonesia
merupakan sebuah pengalaman
menarik. Sebagaimana wajarnya hidup
di negeri orang, banyak plus dan minus
kondisi yang menjadi warna-warni
kehidupan perantauan. Tidak cuma
persoalan di bangku sekolah atau
kuliah yang dihadapi oleh mereka.
Persoalan lain yang menjadi sangat
penting dalam mendukung kegiatan
belajar tersebut adalah akomodasi
selama berada di luar negeri. Masalah
biaya hidup menjadi problem tak
terelakkan dan menjadi hal utama yang
harus dipertimbangkan bagi siapa saja
yang ingin belajar di luar negeri. Tak

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 51


terkecuali di Mesir, persoalan di luar
bangku kuliah menjadi faktor yang
mempengaruhi Masisir dalam
berdinamika.
Menjadi salah satu kebutuhan
utama yang wajib dipenuhi, tempat
tinggal adalah hal yang tak akan ada
habisnya diperbincangkan oleh Masisir.
Kondisi geografis dan politik Mesir
sangat berpengaruh dalam bidang
perumahan dan bisnis properti. Bidang
ini sama sekali merupakan hal baru
bagi warga Indonesia yang pertama
kali harus berinteraksi dengan dunia
Mesir.

Salah satu kawasan perumahan di Nasr City,


Cairo
Ada sedikit pelajar dan mahasiswa
Indonesia yang beruntung
mendapatkan tempat tinggal gratis di

52 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


dalam asrama yang didirikan oleh
masing-masing lembaga pendidikan
tempat mereka belajar. Sebagai
contoh, institusi Al Azhar mendirikan
Madinat al Bu'uts al Islamiyyah /
Islamic Missions City sebagai asrama
gratis bagi para penuntut ilmu di
lembaga-lembaga pendidikan Al Azhar.
Namun tidak semua pelajar dan
mahasiswa mampu menikmati fasilitas
tersebut dikarenakan rumitnya proses
birokrasi serta kuota maksimal yang
terbatas disamping soal
keberuntungan. Sebelum menembus
proses birokrasi, pelajar atau
mahasiswa harus mengajukan surat
permohonan yang belum tentu
diterima. Walhasil sebagian besar
pelajar dan mahasiswa Indonesia di
Mesir harus mencari tempat tinggal
sendiri dengan cara menyewa.
Dalam urusan sewa-menyewa
rumah inilah Masisir berada dalam
posisi tawar yang lemah karena
merupakan pihak yang membutuhkan.
Kebutuhan akan tempat tinggal yang
tinggi seringkali tidak sebanding
dengan ketersediaan tempat tinggal
yang memadai. Sejatinya, problem

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 53


kelangkaan tempat tinggal tidak terjadi
di Mesir. Hanya saja mayoritas Masisir
memiliki pertimbangan tersendiri
dalam memilih tempat tinggal. Jarak
antara tempat tinggal dengan kampus,
jauh tidaknya dari pusat kota, dan juga
kemudahan transportasi; semuanya
menjadi variabel dalam pemilihan
tempat tinggal. Lebih dari pada itu,
yang menjadi problem adalah mencari
tempat tinggal dengan harga sewa
sesuai dengan uang saku pelajar dan
mahasiswa Indonesia.
Kasus yang terjadi di Cairo
misalnya, Masisir seolah berebut untuk
mendapatkan rumah di daerah tertentu
yang rata-rata harga sewanya
dianggap relatif murah. Beruntung
Masisir yang tinggal di luar ibu kota
tidak mengalami hal tersebut karena
harga sewa tempat tinggal di daerah
masih sebanding dengan harga di
Indonesia. Keadaan di Cairo tersebut
kadang menjadi ladang permainan para
pebisnis properti pribumi yang ingin
menangguk keuntungan melimpah.
Persoalan harga sewa tidak berhenti
begitu saja, karena kadang diikuti
dengan problem yang muncul antara

54 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Masisir dengan tuan rumah atau
dengan warga sekitar, yang akhirnya
berujung pada pengusiran atau
pembatalan kontrak secara sepihak
yang sangat merugikan bagi Masisir.
Kenyataan yang ada saat ini
adalah Masisir terkonsentrasi pada
daerah sebelah timur Cairo, yaitu Nasr
City. Dalam pemerintahan Mesir, Cairo
merupakan sebuah wilayah yang
mungkin bisa disamakan dengan
daerah istimewa di Indonesia. Wilayah
ini beribu kota di kota Cairo, dan
memiliki beberapa wilayah sebanding
dengan kabupaten di Indonesia, yang
salah satunya adalah Nasr City. Dari
wilayah administrasi Nasr City ini, yang
merupakan pusat domisili Masisir
adalah Distrik 10 atau dalam bahasa
Arab disebut Al Hayyu al Asyir.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 55


Salah satu apartemen di Al Hayyu al Asyir

Sistem perumahan Mesir yang


menggunakan model apartemen
mengharuskan Masisir untuk tinggal
bersama-sama dalam flat-flat dengan
sistem pembayaran sewa secara
patungan. Dengan harga sewa yang
semakin membumbung dikhawatirkan
Masisir akan mengalami masalah besar
yang akan mengganggu proses belajar
dan berdinamika. Saat ini, telah terjadi
pergeseran pusat domisili Masisir yang
sebelumnya berada lebih dekat ke
pusat kota Cairo menuju ke arah
pinggiran. Di waktu yang akan datang,

56 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


pergeseran seperti ini mungkin sekali
terjadi kembali.
Seperti telah disinggung, bahwa
dinamika Masisir dalam kancah
organisasi sangat terkait erat dengan
persoalan sekretariat. Sebagaimana
halnya rumah tinggal, sekretariat
organisasi Masisir juga berlokasi pada
flat-flat yang ditempati dengan sistem
sewa. Apabila harga sewa semakin
membubung, maka sekretariat
organisasi akan cenderung berpindah-
pindah untuk menemukan rumah sewa
baru yang murah.

- Usaha Pengadaan Rumah Daerah


Sekaligus Sekretariat Permanen
KSW
Problem rumah sekretariat mulai
disadari dan diperhatikan oleh salah
satu organisasi Masisir yang eksis yaitu
KSW, semenjak periode kepemimpinan
kelima belas yaitu pada masa
kepemimpinan sdr. Lutfi Chakim tahun
2001-2002. Persoalan rumah
sekretariat selalu menjadi tema utama
dalam setiap obrolan santai para

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 57


pengurus teras yang menghuni
sekretariat KSW. Di sebuah rumah
mungil di kawasan jalan Hedr el Touni,
Nasr City, Cairo ini, obrolan tentang
organisasi dan seluk beluknya menjadi
salah satu hiburan bagi para penghuni.
Obrolan yang walaupun santai namun
berbobot dan intensif tersebut
mengarah pada sebuah angan-angan
tentang sekretariat permanen dengan
hak milik sepenuhnya atas nama
organisasi.
Sebuah angan-angan logis namun
masih teramat jauh dari kenyataan
mengingat harga rumah yang rata-rata
mahal dan proses pembelian serta
pembangunannya masih asing bagi
dunia pelajar dan mahasiswa. Namun
bukan untuk dihentikan begitu saja,
angan-angan ini ditindaklanjuti dengan
perumusan sebuah kesepakatan. Saat
itu disepakati bahwa mulai periode
tersebut, KSW akan menabung
sejumlah uang yang kemudian
diistilahkan sebagai dana abadi. Dana
ini diperoleh dari menyisihkan uang
yang didapatkan dari donatur, serta
uang iuran anggota yang memperoleh
kesempatan untuk terjun sebagai

58 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Tenaga Musiman (Temus) haji di Arab
Saudi. Program Temus haji ini adalah
program tahunan yang dicanangkan
oleh Departemen Agama Republik
Indonesia dengan melibatkan
mahasiswa Indonesia di Timur Tengah.
Periode KSW 2001-2002 telah
berhasil mencanangkan sebuah
tonggak baru bagi perjalanan
organisasi di masa datang. Melalui
sebuah niat mulia, periode ini
menabung sedikit demi sedikit. Usaha
awal tersebut dilakukan demi sebuah
obsesi sekretariat permanen sebagai
sebuah home base dan pusat aktifitas
generasi selanjutnya yang tak akan lagi
diganggu oleh keruwetan persoalan
sewa-menyewa rumah. Sempat muncul
ide untuk meminta bantuan kepada
Pemda Jateng dan DIY namun ide
tersebut tidak begitu direspon oleh
anggota. Untuk itu periode ini tetap
konsisten untuk menggunakan sistem
swadaya dan di akhir kepengurusan
berhasil mengumpulkan tabungan
sebesar 1000 USD.
Tongkat estafet kepemimpinan
periode selanjutnya dipegang oleh sdr.
Abdillah As'ad, seorang anggota KSW

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 59


yang berasal dari Banyuwangi Jawa
Timur. Dengan modal tabungan yang
diperoleh dari periode sebelumnya,
periode 2002-2003 ini semakin terpacu
untuk meneruskan amanah mulia guna
menuju terealisasinya program
pengadaan sekretariat permanen.
Di tengah masa kepengurusan
KSW ini Prof. Dr. H. Bachtiar Aly MA
diangkat sebagai Duta Besar Republik
Indonesia di Mesir. Hadirnya tokoh yang
terkenal mudah menerima aspirasi
masyarakat ini adalah awal mula
keberhasilan dalam program
pengadaan sekretariat KSW. Salah satu
program unggulan dari dubes Bachtiar
Aly saat itu adalah Program Pengadaan
Rumah Indonesia (PPRI) yang kemudian
diubah kebijakannya menjadi Program
Pengadaan Rumah Daerah (PPRD).
Duta besar sangat mendukung
semangat beberapa organisasi
kekeluargaan Masisir yang berencana
membeli rumah daerah melalui
bantuan dari pemerintah daerah.
Suasana baru ini sesuai dengan
semangat besar KSW untuk
mewujudkan sebuah sekretariat
independen. Ide tentang permohonan

60 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


bantuan dari pemerintah daerah yang
pernah muncul akhirnya terdengar
kembali.
Untuk aktifitas Masisir, sebenarnya
saat itu telah tersedia sebuah gedung
berbentuk villa kepunyaan Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
organisasi satuan (orsat) Cairo.
Menristek sewaktu itu, B.J. Habibie,
meresmikan bangunan berjuluk Wisma
Nusantara ini pada bulan Januari 1997.
Pengelolaan gedung lima lantai yang
memiliki satu ruang pertemuan ini
ditanggung oleh ICMI orsat Cairo
bekerjasama dengan Atase Pendidikan
dan Kebudayaan (ATDIKBUD) KBRI
Cairo serta PPMI Mesir. Dan dengan
beberapa fasilitas yang dimilikinya
Wisma Nusantara kemudian mampu
berperan sebagai sebuah pusat
aktifitas Masisir.
Namun ternyata ketersediaan
pusat aktifitas tersebut sama sekali
tidak mengurangi antusiasme setiap
organisasi kekeluargaan untuk
mencanangkan program pengadaan
rumah daerah. Apalagi saat itu satu
organisasi kekeluargaan yaitu
Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS)

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 61


telah berhasil mewujudkan sebuah
sekretariat permanen.
KSW menyambut dengan baik
kesempatan emas tersebut dengan
segera membentuk panitia Program
Pengadaan Rumah Daerah (PPRD) KSW.
Panitia ini diketuai oleh Khoirun Niat
dengan dibantu oleh sekretaris Azhar
Muhammad N.T. serta bendahara Nabih
Shiddiqi plus tiga orang anggota yaitu
Muhammad Najib, Sukron Makmun, dan
Fatkhur Rahman. Bersamaan dengan
gencarnya semangat otonomi daerah
di tanah air, panitia ini menyusun
sebuah proposal yang rencananya akan
dikirim ke Pemda Jateng, DIY dan Jatim,
tiga daerah utama kebanyakan
anggota KSW berasal. Hubungan baik
yang terbina antara KSW dengan dubes
Bachtiar Aly saat itu membantu dalam
proses permintaan rekomendasi KBRI
atas proposal tersebut.
Karena pertimbangan bahwa Jatim
merupakan daerah asal anggota KSW
secara de facto saja, bukan secara de
jure, akhirnya proposal dikirim hanya
kepada Pemda Jateng dan DIY saja.
Untuk pengiriman ke Pemda Jateng,
panitia PPRD KSW mempercayakan

62 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


tugas ini kepada anggota yang pulang
ke kampung halaman. Sempat terjadi
beberapa kali pengiriman proposal ke
Pemda Jateng melalui orang yang
berbeda. Proposal yang dialamatkan ke
Pemda Jateng ini kadang kala
disampaikan tidak langsung ke pihak
Pemda, namun dititipkan kepada tokoh-
tokoh penting Jawa Tengah. Salah satu
tokoh penting yang sempat membantu
menyampaikan proposal ke Pemda
Jateng adalah H.M Thoyfoer M.C.
(almarhum), salah satu wakil DPRD
Jateng waktu itu, serta Drs. H. Achmad,
mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah.
Sedangkan untuk Pemda DIY, proposal
dikirim satu kali melalui budayawan
Emha Ainun Najib yang pada saat itu
sempat berkunjung ke Mesir.
Dari dua instansi tersebut, KSW
melihat bahwa peluang terbesar ada
pada Pemda Jeteng. Oleh karena itu
panitia PPRD KSW berusaha untuk lebih
berkonsentrasi pada pengajuan
proposal ke Pemda Jateng saja. Tidak
sekedar berkutat pada proposal saja,
lebih dari itu, panitia bahkan sudah
mulai mencoba melakukan survey dan
mencari-cari flat yang cocok untuk

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 63


dibeli sebagai sekretariat. Tetapi hingga
akhir kepengurusan ini di tahun 2003,
nasib proposal yang mencantumkan
angka sekitar 400 juta rupiah ini belum
mencapai titik terang. Pemda Jateng
sama sekali belum memberikan
tanggapan kepada pihak panitia.

- Tanggapan Pemda Jateng atas


Rencana Pembangunan Rumah
Daerah
Periode kepengurusan KSW masa
bakti 2003-2004 merupakan babak
baru dalam perjalanan PPRD KSW.
Tampuk kepemimpinan yang diemban
oleh sdr. Nur Salim diharapkan mampu
memberi kemajuan dari usaha yang
telah dirintis oleh periode sebelumnya.
Pihak panitia PPRD KSW sendiri
semakin gencar untuk berkomunikasi
dengan pihak-pihak terkait di Jawa
Tengah guna mengetahui sejauh mana
perjalanan proposal yang telah dikirim
selama ini. Proposal juga terus dikirim
bersamaan dengan banyaknya tokoh
Jawa Tengah yang berkunjung ke Mesir.

64 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Dari sekian banyak tokoh Jawa
Tengah tersebut, salah satu yang
merespon dengan sangat antusias kala
itu adalah H.M Thoyfoer M.C.
(almarhum). Beliau bahkan sempat
singgah ke Mesir dalam sebuah
lawatan untuk mengunjungi warga KSW
sekaligus mengadakan dialog tentang
proyek PPRD tersebut.
Setelah melalui usaha yang tak
kenal lelah dari panitia, akhirnya
datanglah respon dari pihak Pemda
Jateng yang selama ini ditunggu-
tunggu. Panitia mendapatkan sebuah
kiriman e-mail atas nama staf Biro
Kesejahteraan Rakyat Pemerintah
Provinsi Jateng. Isi surat tersebut
sekedar pertanyaan tentang kabar
warga KSW di Mesir serta pertanyaan
mengenai rencana pengadaan
sekretariat sekaligus rumah daerah
yang termuat dalam PPRD KSW. Dari e-
mail inilah komunikasi antara KSW
dengan Pemda Jateng berkembang
menjadi semakin intensif.
Setelah mempelajari beberapa
lama tentang proposal dan melakukan
komunikasi intens dengan KSW,
akhirnya Pemda Jateng mengambil

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 65


keputusan untuk mengakomodasi
aspirasi warga Jawa Tengah di Mesir.
Namun bentuk bantuan yang
disepakati oleh Pemda Jateng waktu itu
adalah berupa bantuan dana
penyewaan sekretariat yang besarnya
17 juta rupiah per tahun. Pada awalnya
panitia PPRD KSW merasa bahwa
bantuan tersebut tidak sesuai dengan
apa yang selama ini diinginkan oleh
KSW. Namun ketika menyadari tentang
kebutuhan daerah yang tinggi akan
biaya pembangunan, pihak panitia
menerima bentuk bantuan tersebut
dengan lapang hati. Dan asumsi yang
muncul saat itu adalah bahwasanya
walaupun uang bantuan Pemda tak
sesuai dengan apa yang diajukan di
proposal, namun jika terus ditabung
kelak akan cukup untuk digunakan
dalam merealisasikan obsesi
sekretariat permanen. Usaha
menindaklanjuti kerjasama dalam
bentuk ini dilakukan dengan
mendelegasikan salah seorang mantan
ketua KSW, saudara Lutfi Chakim,
sebagai duta KSW di Jawa Tengah yang
akan menyelesaikan segala persoalan
terkait dengan Pemda Jateng.

66 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Pada saat perkembangan PPRD
KSW ini disampaikan kepada pihak
KBRI, ternyata ada kesan keterkejutan
yang muncul dari pihak KBRI. Pemda
Jateng yang diyakini KBRI mampu
memberikan sumbangan sesuai
dengan apa yang termaktub di
proposal ternyata hanya menyanggupi
untuk memberikan bantuan yang
jumlahnya jauh dari apa yang diminta.
Melalui duta besar, KBRI meyakinkan
pihak KSW bahwa apa yang diharapkan
oleh KSW melalui proposal PPRD KSW
masih bisa terealisasikan. Bahkan duta
besar sendiri bersedia untuk
membantu menyampaikan keinginan
KSW kepada gubernur Jawa Tengah H
Mardiyanto.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 67


Mayjen TNI (Purn) H. Mardiyanto,
Gubernur Jawa Tengah 1998-2007.

Melalui sebuah kesepakatan


pengurus KSW dan panitia PPRD KSW,
tawaran duta besar diterima dengan
penuh keyakinan. Dan pada sebuah
kesempatan di Semarang, duta besar
Bachtiar Aly berhasil menemui
gubernur Mardiyanto untuk
membicarakan persoalan rumah
daerah bagi warga Jawa Tengah di
Mesir. Kabar tentang hasil pertemuan
tersebut diterima warga KSW di Mesir.
Ada sebuah perubahan yang sangat
mengejutkan. Pemda Jateng mau
mengucurkan dana berjumlah besar
guna merealisasikan program
pembangunan sekretariat dan rumah
warga Jawa Tengah di Mesir dengan
nama Rumah Daerah Jawa Tengah
(RDJT).

68 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Prof. Dr. H. Bachtiar Aly, M.A.
Duta Besar Indonesia untuk Mesir 2002-2005

Keterkejutan ini cukup beralasan


mengingat angka yang muncul jauh
melebihi apa yang diharapkan dan
diperkirakan sebelumnya. Warga KSW
juga sempat bertanya-tanya pada diri
masing-masing, apakan mereka
mampu mengemban sebuah proyek
besar dengan anggaran yang tak kalah
besar pula. Namun warga KSW tersadar
untuk tidak terus menerus terjebak
dalam sebuah kekagetan dan
kebingungan. Panitia yang telah
terbentuk selama ini dikonsolidasikan
kembali untuk bersiap menangani
sebuah pekerjaan besar. Pekerjaan

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 69


yang tidak bisa dianggap remeh karena
menyangkut amanah warga Jawa
Tengah baik yang berada di tanah air
maupun di Mesir. Tidak sepantasnya
apabila pekerjaan yang melibatkan
penggunaan uang rakyat dilaksanakan
dengan persiapan kurang matang dan
ala kadarnya.
Semenjak perubahan ini,
komunikasi semakin diintensifkan
dengan melibatkan tiga pihak. Pihak
pertama adalah KSW yang
terepresentasikan dalam panitia PPRD,
pihak Pemda Jateng sebagai
penyandang dana dalam program ini,
serta KBRI Cairo sebagai institusi
utama yang bertanggung jawab
terhadap segala pekerjaan yang
menyangkut nama Indonesia di Mesir.
Dari tanah air, terdengar kabar
bahwa pihak Pemda Jateng akan segera
mengirim utusan untuk meninjau
keadaan lapangan di Mesir. Pemda
ingin mempersiapkan secara matang
sebuah proyek pembangunan rumah
daerah Jawa Tengah yang pertama di
Timur Tengah ini.

70 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Lutfi Chakim,
Abdillah As'ad,

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 71


Ketua KSW 2001/2002 Ketua KSW
2002/2003

Nur Salim,
Khoirun Niat,
Ketua KSW 2003/2004 Ketua
PPRDJT

Bab IV

72 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Catatan Peristiwa
Pembangunan
Rumah Daerah Jawa
Tengah (RDJT)
Cairo

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 73


74 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Catatan Peristiwa
Pembangunan Rumah Daerah
Jawa Tengah (RDJT) Cairo

- Proses Pemilihan Rumah


Memasuki estafet kepengurusan
baru KSW masa bakti 2004-2005,
perkembangan proyek pembangunan
RDJT (Rumah Daerah Jawa Tengah) di
Mesir semakin mengerucut. Keseriusan
pihak Pemda Jateng nampak melalui
rencana untuk mengirim utusan ke
Cairo.
Pada bulan September 2004, salah
seorang pejabat Pemda Jateng, dr.
Anung Sugihantono M.Kes, yang saat
itu masih menjabat sebagai Kepala Biro
Pembangunan Daerah datang
berkunjung ke Cairo. Kedatangan ini
disambut oleh warga KSW dengan
mengadakan sebuah pertemuan
silaturrahmi sekaligus acara pelantikan

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 75


pengurus KSW periode yang baru pada
tanggal 16 September 2004.
Dewan Pengurus KSW yang
dipimpin oleh nahkoda baru, sdr. Rois
Mahfudz, beserta panitia pembangunan
RDJT yang diketuai oleh sdr. Khoirun
Niat memberikan penjelasan
semestinya kepada utusan Jawa Tengah
tentang rencana pembangunan rumah
tersebut.

Silaturahmi dr. Anung Sugihantono M.Kes.


dengan warga KSW pada tanggal 16
September 2004.

Selain dengan warga KSW, dr


Anung juga banyak berdiskusi dengan
pihak KBRI tentang rencana
pembangunan RDJT. Duta besar

76 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Bachtiar Aly yang menjadi kunci
keberhasilan turunnya dana dari Pemda
Jateng senantiasa meyakinkan kepada
dr Anung bahwa program ini
diperkirakan akan berhasil. Dari
kesepakatan ketiga pihak, wakil Pemda
Jateng, KBRI Cairo, serta pihak panitia
pembangunan RDJT dari KSW,
diputuskan bahwa proyek ini akan
segera direalisasikan.
Selama persiapan program ini
pihak panitia KSW telah memilih
beberapa sampel rumah yang layak
untuk dibeli. Kebetulan waktu itu ada
salah satu organisasi kekeluargaan
Masisir yang telah merealisasikan
program pengadaan rumah daerah
yaitu organisasi Keluarga Masyarakat
Jawa Timur (Gamajatim). Organisasi ini
berhasil memiliki sebuah flat megah di
kawasan Distrik 9, Nasr City, Cairo,
dengan nama Graha Jatim yang
diresmikan pada bulan September
2004. Dengan acuan Graha Jatim
tersebut, dicarilah rumah berbentuk
flat sebagai bakal dibangunnya RDJT.
Dari sekian pilihan rumah yang
telah dijajaki, nampaknya utusan
Pemda Jateng tertarik dengan salah

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 77


satu di antara tiga rumah yang
ditawarkan oleh pihak KBRI di jalan
Ahmad El Zumr, Distrik 10, Nasr City,
Cairo. Walaupun kunjungan pihak
Pemda Jateng ini belum sampai pada
tahap pemilihan rumah yang akan
dibeli, namun kunjungan ini besar
sekali maknanya bagi kelanjutan
pembangunan RDJT. Paling tidak
dengan melihat kondisi medan secara
langsung, utusan Pemda Jateng mampu
memberikan gambaran sejelas
mungkin tentang segala kemungkinan
proyek pada khalayak Jawa Tengah di
tanah air.
Selepas kunjungan yang relatif
singkat tersebut, komunikasi antar
segenap pihak yang terkait dengan
pembangunan RDJT makin
ditingkatkan. Kali ini panitia dari KSW
lebih berkonsentrasi pada persoalan
pemilihan rumah yang akan dibeli.
Dari beberapa urun rembug antar
panitia RDJT, pengurus KSW, warga,
serta sesepuh, didapatkan gambaran
bahwa uang yang akan dikucurkan oleh
Pemda Jateng mampu digunakan untuk
membeli rumah dalam bentuk villa,
bukan dalam bentuk flat. Villa yang

78 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


berupa satu gedung dengan beberapa
lantai serta sistem kepemilikan total
diyakini lebih efektif penggunaannya
dibanding dengan flat yang status
kepemilikannya hanya sebagian.
Pemilik flat tidak akan memiliki hak
kepemilikan terhadap seluruh
bangunan plus pekarangan di
sekitarnya, berbeda pemilik villa.
Pemilik flat hanya berhak atas
bangunan rumah yang ia miliki saja.

Bangunan mentah sebuah rumah di jalan


Ahmed el-Zumr.

Dari beberapa perbincangan itu


panitia KSW melakukan penjajakan
terhadap beberapa villa yang cocok
termasuk menggunakan bantuan dari

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 79


penyedia jasa properti. Perkembangan
terbaru ini senantiasa dikomunikasikan
kepada pihak KBRI untuk
ditindaklanjuti. Dalam beberapa
kesempatan pihak KBRI ikut meninjau
langsung bangunan villa yang dijajaki
oleh panitia dari KSW. Bahkan demi
pembelian rumah model villa, pihak
KSW meminta kesempatan kepada
KBRI untuk dapat melakukan tatap
muka dengan duta besar khusus untuk
membicarakan persoalan rumah model
villa. Namun dengan berbagai
pertimbangan, pihak KBRI tetap
memilih rumah bentuk flat untuk dibeli.
Dan memang, terlepas dari keunggulan
yang dimilikinya, beberapa villa yang
dijajaki oleh panitia KSW memiliki
kekurangan dalam masalah usia
bangunan. KBRI Cairo tidak ingin
bahwasanya nanti RDJT tidak bertahan
lama karena dibeli dalam kondisi
berupa bangunan lama.

80 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Salah satu bangunan villa yang pernah dijajaki
oleh panitia.

Untuk kedua kalinya dr Anung


Sugihantono berkunjung ke Mesir pada
bulan Desember 2004. Kedatangannya
kali ini disertai oleh Prof. Dr. H. Abdul
Djamil MA, rektor IAIN Walisongo
Semarang, dan seorang insinyur
sebagai peninjau persiapan pengadaan
RDJT.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 81


Kunjungan kedua dr Anung Sugihantono M.Kes.
disertai Prof. Dr. H. Abdul Djamil MA, rektor IAIN
Walisongo.

Tamu Jawa Tengah ini datang


dengan membawa sebuah rancangan
bangunan plus desain interior sebuah
rumah yang berada di kawasan jalan
Ahmad Al Zumr yang dulu pernah
ditinjau pada kesempatan kunjungan
sebelumnya. Pemda Jateng mengambil
pilihan rumah tersebut sesuai dengan
rekomendasi yang disampaikan oleh
KBRI Cairo ke Jawa Tengah.
Pihak KSW menerima apa yang
telah menjadi pilihan Pemda Jateng
namun bermaksud memberikan sedikit
sumbangan gagasan atas desain

82 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


rumah yang disesuaikan dengan
kebutuhan KSW sebagai sebuah
organisasi. Dalam sebuah pertemuan di
KBRI, terjadi sedikit tarik-menarik
pendapat antara perwakilan KSW
dengan perwakilan Pemda Jateng. Di
satu sisi, pihak KSW ingin agar RDJT ini
memberikan fasilitas maksimal bagi
aktifitas KSW dengan dibangunnya
kantor sekretariat beserta ruang
pertemuan di dalam rumah tersebut. Di
sisi lain, Pemda Jateng ingin
memaksimalkan fungsi RDJT sebagai
sebuah rumah promosi Jawa Tengah
dengan memiliki bangunan penginapan
serta showroom potensi perdagangan
dan pariwisata. Pembicaraan tersebut
berakhir dengan sebuah jalan tengah
yang mengkompromikan kedua
kepentingan. Sebuah rancangan rumah
baru tersusun, dengan menyertakan
rancangan bangunan showroom,
penginapan, sekretariat organisasi,
serta ruang pertemuan.
Tarik menarik pendapat terjadi
kembali ketika pembicaraan pada
kesempatan lain membahas tentang
penanggung jawab proses pembelian
hingga pembangunan. Pihak KSW

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 83


sangat bersemangat untuk menangani
sendiri seluruh proses pengadaan
rumah dari pembelian hingga
pembangunan. Sedangkan pihak
Pemda Jateng lebih condong untuk
mempercayakan seluruh proses kepada
KBRI. Akhirnya pihak Pemda Jateng
berhasil meyakinkan pihak KSW bahwa
proyek besar ini lebih baik
dipercayakan kepada KBRI, bukan
kepada para mahasiswa yang mungkin
kurang memiliki pengalaman dalam
urusan-urusan besar semisal
pembelian dan pembangunan rumah.
Kesepakatan baru telah tercapai
seiring dengan kepulangan utusan
Pemda Jateng. Panitia pembangunan
tinggal menunggu realisasi pengucuran
dana dari Pemda Jateng. Di awal
Januari 2005 terdengar kabar tentang
turunnya dana tersebut beserta
dengan gambar rancangan rumah yang
dibuat Pemda Jateng.

- Proses Pembangunan Rumah


Tepatnya pada tanggal 3 Januari
2005 terjadi sebuah peristiwa penting

84 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


yaitu penandatanganan kontrak
pembelian rumah yang telah dipilih
yaitu 3 buah flat atas nama pemilik
bernama Ibrahim yang beralamatkan di
apartemen No. 7, blok 21, jalan Ahmad
el Zumr, distrik 10, Nasr City, Cairo.
Perincian tiga flat tersebut adalah satu
flat di lantai dasar dan dua flat di
atasnya. Peristiwa penandatangan
kontrak tersebut menarik untuk diingat
karena diadakan di kantor KBRI pada
tanggal tiga, jam tiga sore, oleh tiga
belah pihak yaitu KBRI, KSW, dan pihak
pemilik rumah, yang masing-masing
terdiri dari tiga orang. Pihak KBRI terdiri
dari bapak Drs. Priyatno, pimpinan
proyek yang dalam kontrak ini tertulis
sebagai pihak kedua, serta bapak
Didiek Eko Prasetiyadi MM, serta bapak
Masykur. Dari pihak KSW hadir pada
saat itu sdr. Rois Mahfudz yang
menjabat sebagai ketua KSW, sdr.
Syaifuddin S.Ag. yang menjabat
sebagai ketua MPA, serta sdr. Charisul
Haq, seorang anggota senior.
Sementara pihak pertama yaitu pemilik
rumah disertai oleh dua orang
familinya.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 85


Peninjauan lokasi sebelum proses
pembangunan.

Semenjak penandatanganan
kontrak tersebut panitia menunggu
pengiriman dana hingga bulan April.
Segera setelah uang tersebut tersedia,
pihak KBRI beserta KSW mencari
kontraktor dengan harga terjangkau
untuk memulai pembangunan.
Kontraktor dimaksud akhirnya
didapatkan dengan ketentuan bahwa
kontraktor tersebut tidak terlibat dalam
proses pengadaan fasilitas rumah
semacam furniture dan alat-alat
elektronik. Kontraktor hanya
membangun rumah yang masih berupa
tiang-tiang pancang kontruksi itu

86 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


sampai pada proses finishing semisal
pemasangan pintu-pintu dan jendela,
pemasangan keramik, serta
pengecatan. Kemudian panitia
pembangunan dari KSW segera
menyusun tim untuk diterjunkan
langsung dalam proses pembangunan.
Tim dari KSW ini berupa semacam tim
asistensi bagi pihak KBRI untuk
mengawasi segala proses
pembangunan rumah yang masih
dalam bentuk mentah tersebut.

Pekerja yang bertugas selama proses


pembangunan.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 87


Mekanisme yang berjalan saat itu,
KBRI adalah pihak yang memiliki kuasa
sepenuhnya atas pembangunan rumah
dan pengelolaan uang. Pihak kontraktor
adalah pihak yang bertugas
menyelesaikan pembangunan sesuai
rencana dengan bayaran yang
didapatkan dari KBRI. Sementara pihak
pengawas dari KSW turun langsung ke
lokasi untuk mengawasi jalannya
pembangunan. Apabila terjadi hal yang
tidak sesuai dengan rancangan, pihak
pengawas dari KSW berhak menegur
pihak kontraktor termasuk para pekerja
lapangan. Dan apabila pihak pengawas
ini membutuhkan dana operasional,
dana bisa diminta dari KBRI.
Selama proses pembangunan ini,
ada pengalaman baru yang diperoleh
KSW terutama warga yang terlibat
sebagai tim pengawas. Interaksi yang
selama ini dialami oleh mereka dengan
warga pribumi hanya sebatas itu-itu
saja. Namun kali ini mereka dihadapkan
pada sebuah perkara baru, yaitu
proyek pembangunan rumah.
Seringkali terjadi kesalahpahaman
antara pihak pengawas KSW dengan
pihak kontraktor dan para pekerja. Ini

88 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


mungkin disebabkan oleh persoalan
komunikasi yang kadang kurang efektif
seratus persen, mungkin pula
disebabkan oleh perbedaan
kepentingan. Pihak kontraktor ingin
menangguk untung sebesar-besarnya,
para pekerja ingin melakukan
pekerjaan seringan dan secepat-
cepatnya, sementara pihak pengawas
menginginkan sebuah rumah dengan
sempurna. Terlepas dari semua ini,
pembangunan tersebut dapat
dikatakan mulus tanpa permasalahan
berarti, dan dapat menjadi sebuah
pengalaman langka dan mahal bagi
para pelajar dan mahasiswa yang
sedang merantau di negeri orang.
Sempat ketika itu, pada saat
pembangunan masih berlangsung,
diadakan sebuah pertemuan warga
KSW di rumah yang masih belum
sempurna guna pengenalan rumah
baru sekaligus doa bersama demi
kesuksesan proyek.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 89


Pengenalan RDJT kepada warga KSW

Proses penyempurnaan rumah


selanjutnya adalah dengan
pelengkapan fasilitas. Pekerjaan yang
meliputi pembelian alat-alat elektronik,
furniture, dan alat-alat rumah tangga
lainnya ini dilaksanakan oleh dua pihak.
Pihak pertama adalah tim dari KBRI,
pihak kedua adalah pihak KSW yang
yang dipercayai untuk mengelola dana
dalam pekerjaan tersebut.
Akhirnya pada pertengahan tahun
2005, telah sempurnalah proses
pembangunan RDJT yang berdiri
megah di kawasan pusat domisili warga
Indonesia di Cairo. Gedung yang
menjadi kebanggaan warga KSW dan

90 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


warga Jawa Tengah di tanah air ini siap
digunakan sebagai rumah pengayom
warga Jawa Tengah yang tengah
mengarungi kehidupan di bumi
Kinanah, Mesir.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 91


92 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Bab V
Pengelolaan
Rumah Tangga
Griya Jawa
Tengah

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 93


94 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Pengelolaan Rumah Tangga
Griya Jawa Tengah

- Peresmian Rumah Daerah Jawa


Tengah (RDJT) Cairo sebagai
Griya Jawa Tengah

Dengan selesainya pembangunan


RDJT pada pertengahan tahun 2005,
maka siaplah rumah tersebut untuk
digunakan sebagaimana mestinya.
Bulan Agustus menandai masa
pergantian kepengurusan KSW. Tongkat
estafet sebelumnya mengemban
amanah pengadaan RDJT hingga
selesai pembangunan. Pengurus
selanjutnya menanggung sebuah tugas
yang tak kalah berat yaitu menjaga,
merawat, dan mempertahankan
keberadaan rumah yang telah berdiri
megah itu.
Momen tahunan KSW yaitu Rapat
Permusyawaratan Anggota (RPA) pada
bulan Agustus 2005 merupakan

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 95


momen awal di mana warga KSW
menikmati keberadaan RDJT untuk
pertama kalinya. Walaupun rumah ini
belum diresmikan, warga KSW
berbondong-bondong hadir untuk
melihat seperti apa rupa rumah mereka
sekaligus hadir untuk melakukan
pemilihan ketua baru. Saat itu
terpilihlah sdr. Agus Hidayatullah,
mahasiswa asal Batang, sebagai ketua
KSW yang baru menggantikan
kepemimpinan sdr. Rois Mahfudz.

RPA KSW 2005, pertama kali warga KSW


menikmati aula Griya Jateng

Ibarat sebuah kapal, nahkoda baru


ini mendapatkan sebuah fasilitas besar
yang tidak pernah dimiliki oleh
nahkoda-nahkoda sebelumnya. Dengan
sebuah rumah besar nan megah dan
status milik sendiri tentu saja ketua
baru tidak akan dipusingkan dengan

96 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


persoalan sewa sekretariat atau sewa
tempat untuk kegiatan. Berbagai
kemudahan juga tersedia dengan
adanya fasilitas pelengkap RDJT yang
lain.
Namun di balik segala kemudahan
ini, pengurus baru dituntut agar
mampu memanfaatkan fasilitas ini
guna dinamika organisasi yang makin
produktif. Maka pengurus baru tidak
seharusnya malah bermanja-manja
dengan fasilitas dan kemudian
kehilangan semangat dalam
menjalankan roda organisasi.
Dengan keyakinan tersebut,
pengurus baru dan panitia pengadaan
RDJT yang masih ada segera
mempersiapkan rencana jangka
panjang guna pengelolaan RDJT lebih
lanjut. Yang diyakini sebagai hal paling
penting untuk dilaksanakan secepatnya
adalah peresmian. Rumah sekelas RDJT
yang memiliki sejarah cukup panjang
memang perlu sekali untuk diresmikan
secara formal mengingat peran
pelbagai pihak dalam pengadaannya.
Sesuai dengan rencana, pihak
yang akan meresmikan RDJT adalah
Pemda Jateng melalui gubernur H.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 97


Mardiyanto. KSW beserta panitia
pengadaan RDJT segera menyiapkan
segala hal untuk pelaksanaan
peresmian ini. Disepakati bersama
bahwa peresmian ini akan dilaksanakan
pada tanggal 25 September 2005.
Satu hal yang sempat menjadi
pembicaraan hangat waktu itu adalah
persoalan nama. Pada intinya banyak
sekali warga KSW yang turut
menyumbang ide tentang penamaan
rumah baru mereka. Masing-masing
memiliki nama-nama menarik untuk
rumah ini. Semangat ini tentunya
menggambarkan keinginan besar agar
rumah tersebut memiliki nama yang
indah sebagai sebuah pemacu diri
untuk selalu menjaga dan merawat
keberadaannya.
Kebanyakan pendapat yang
muncul berkaca kepada nama-nama
rumah Masisir yang telah ada yaitu
Wisma Nusantara dan Graha Jatim.
Dengan inspirasi ini warga mencoba
mencari-cari sebuah nama tepat yang
memberikan kesan kental Nusantara
atau Jawa pada khususnya. Dari
pembicaraan-pembicaraan informal
muncul sebuah nama menarik yaitu

98 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


griya. Nama yang berakar dari bahasa
Jawa inilah yang akhirnya disepakati
sebagai identitas RDJT karena
terdengar anggun, elegan, dan
memiliki makna filosofis yang dalam.
Dalam tradisi masyarakat Jawa,
seseorang harus memiliki unggah-
ungguh termasuk dalam persoalan
bahasa. Dalam terminologi bahasa
Jawa, basa krama merupakan tingkatan
tertinggi dan terhalus dalam
komunikasi. Lebih dari itu, terdapat
tata cara khusus dalam penggunaan
basa krama ini. Ada dua macam kata
yang penggunaannya disesuaikan
dengan subjek. Jika subjek adalah
orang kedua atau orang ketiga yang
dihormati, pembicara akan memilih
kata yang mengandung makna
memuliakan. Sebaliknya untuk subjek
diri sendiri, pembicara akan memilih
kata yang mengandung kesan andhap
asor. Pantang bagi orang Jawa
menggunakan kata yang terkesan
mengunggulkan diri sendiri atau
merendahkan orang lain.
Demikianlah bahwa KSW bukan
bermaksud berbangga hati dengan
rumah megah yang dimilikinya.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 99


Dengan sikapnya yang rendah hati dan
menghormati semua pihak, KSW
memilih nama griya bukan nama yang
lain semisal nama dalem. Dan dubes
Bachtiar Ali pun mendukung dipilihnya
nama ini.
Dan pada hari Ahad siang tanggal
25 September 2005, telah resmilah
berdirinya rumah Jawa Tengah di Cairo
dengan berjuluk Griya Jawa Tengah.
Peresmian ini sejatinya akan dilakukan
oleh gubernur Jawa Tengah. Namun
karena berhalangan akhirnya gubernur
mewakilkan peresmian ini kepada wakil
gubernur Drs. H. Ali Mufiz, MPA.
Kehadiran wakil gubernur beserta istri
dan rombongan termasuk dr. Anung
Sugihantono M.Kes. ini selain dalam
rangka meresmikan Griya Jateng juga
untuk melakukan dialog bersama
warga KSW. Pemotongan pita,
penandatanganan prasasti, serta dialog
dengan warga dilaksanakan di Griya
Jateng. Sebelum seremoni peresmian
ini, rombongan Jawa Tengah telah
mengikuti pertemuan di KBRI guna
membahas laporan
pertanggungjawaban pembangunan
Griya Jateng.

100 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Pemotongan pita.

Penandatanganan prasasti.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 101


Pemotongan tumpeng.

Peresmian tersebut menjadi


tonggak bersejarah bagi kemajuan
Jawa Tengah di kancah luar negeri
khususnya di Timur Tengah. Dan segera
setelah itu, tepatnya pada tanggal 5
Oktober 2005, dilakukan
penandatanganan prasasti yang kedua
kali oleh dubes Bachtiar Aly.
Penandatanganan prasasti kali ini
dilaksanakan untuk mengenang peran
besar tokoh tersebut sebagai kunci
utama berdirinya Griya Jateng.

102 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Penandatanganan prasasti kedua Oleh Dubes
RI.

- Perumusan Mekanisme
Pengelolaan Griya Jateng

Memiliki sebuah rumah daerah


yang baru, KSW belum mampu
membentuk sebuah formulasi
manajemen rumah tangga Griya Jateng
secara serta merta. Dengan usaha trial
and error, KSW yang mendapatkan
amanat untuk mengelola Griya Jateng
dengan perlahan mencoba untuk
menyusun mekanisme penyelenggaran
rumah tangga Griya Jateng.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 103


Untuk masalah pengelolaan, pada
saat itu belum ada kepengurusan yang
dibentuk. Pengelolaan hanya dilakukan
oleh pengurus KSW beserta anggota
yang memiliki waktu luang untuk
secara sukarela membantu merawat
dan memelihara Griya Jateng.
Usaha-usaha pengelolaan dimulai
dengan mencoba membuka usaha
penyewaan ruang pertemuan. Dan
tanggapan yang ditunjukkan oleh
khalayak Masisir saat itu cukup
menggembirakan. Banyak acara-acara
Masisir yang mulai diselenggarakan di
ruang pertemuan Griya Jateng.
Seiring usaha-usaha tersebut,
dibentuklah sebuah tim yang bertugas
untuk merumuskan hal-hal yang
berkaitan dengan pengelolaan Griya
Jateng. Tim yang terkenal sebagai tim 7
ini mencoba untuk menentukan
struktur dan pedoman pengelolaan
maupun pengaturan tugas-tugas dan
bidang usaha yang akan diterjuni oleh
Griya Jateng. Tujuh orang yang
tergabung dalam tim ini adalah sdr.
Taufikurrohman S.Ag, Buya
Kharismanto Lc, Khoirun Niat Lc, Ulin

104 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Nuha Thoyyib, Agus Hidayatulloh, sdri.
Istiqomah dan Fitriana Wibawanti.
Dari hasil kerja keras tim tersebut,
tersusunlah sebuah rumusan bernama
Pedoman Pengelolaan Rumah Daerah
Jawa Tengah (PPRDJT) sebagai acuan
pengelolaan Griya Jawa Tengah.
Selanjutnya pada tanggal 6 Februari
2006 dilantiklah pengurus Griya Jateng
periode pertama di bawah
kepemimpinan sdr. Rois Mahfudz,
mantan ketua KSW sekaligus orang
yang tahu banyak tentang proses
pembangunan Griya Jateng. Sembilan
orang berikrar di depan Kuasa Usaha
Ad Interim (KUAI) KBRI Cairo H.M.
Muzammil Basyuni untuk mengabdi
sebagai pengelola Griya Jateng periode
pertama.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 105


Rois Mahfudz, ketua KSW periode 2004/2005
dan direktur pertama Griya Jateng

Kepengurusan tersebut dalam


struktur rumah tangga Griya Jateng
selanjutnya disebut sebagai Badan
Pengelola Griya Jawa Tengah.
Mekanisme pengawasan melibatkan
tiga unsur berikut: pertama; pihak
KBRI, kedua; sesepuh dan penasehat
KSW, yang ketiga adalah anggota dan
atau mantan anggota MPA KSW. Tiga
unsur itu selanjutnya disebut Badan
Pengawas. Laporan pengelolaan
disusun dan dilaporkan secara berkala
kepada Badan Pengawas serta Dewan
Kehormatan yang melibatkan pihak
Pemda Jateng. Akhir setiap perode
pengelolaan ditandai dengan laporan

106 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


pertanggungjawaban dalam momen
Rapat Tahunan.
Usaha-usaha konkret yang
dilakukan oleh badan pengelola
sebagai pelaksanaan amanah warga
Jawa Tengah adalah membuka usaha-
usaha yang bermanfaat bagi
kelangsungan Griya Jateng sendiri, bagi
dinamika KSW, serta bagi masyarakat
Jawa Tengah pada umumnya. Berbagai
usaha dilakukan oleh pengelola yang
susunannya terdiri dari direktur,
sekretaris, bendahara, bagian
perawatan, bagian pengembangan
usaha, serta bagian Trade and Tourism
Information Center (TIC).

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 107


Pelantikan Badan Pengelola Griya Jateng
periode pertama.

Bagian perawatan berkonsentrasi


pada usaha perawatan dan
pemeliharaan aset Griya Jateng. Bagian
pengembangan bertanggung jawab
atas usaha-usaha bisnis berupa usaha
utama penyewaan penginapan dan
ruang pertemuan serta usaha-usaha
lain. Bagian TIC bertanggung jawab
atas usaha pengembangan informasi
pariwisata Jawa Tengah di Mesir pada
khususnya serta Timur Tengah pada
umumnya.

108 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Usaha perawatan sangat penting
bagi keberlangsungan Griya Jateng
hingga masa yang akan datang. Usaha
pengembangan diperlukan untuk
memberikan suplai yang cukup bagi
keperluan operasional Griya Jateng
sekaligus memberikan bantuan bagi
aktifitas KSW. Bantuan ini diharapkan
mampu menutup donasi yang sebelum
berdirinya Griya Jateng digali dari
sumbangan para sesepuh. Bidang
selanjutnya yaitu TIC mutlak diperlukan
dalam memberikan bantuan riil
terhadap pembangunan dan kemajuan
Provinsi Jawa Tengah.
Dalam usia pertamanya Griya
Jateng sedikit demi sedikit
melaksanakan program yang telah
direncanakan. Usia pertama memang
masa-masa berat karena periode
perintis dituntut untuk bergerak sendiri
tanpa adanya program sebelumnya
yang bisa dijadikan acuan. Namun
demikian ada beberapa kemajuan yang
berhasil dicapai jika melihat pada
berkembangnya usaha bisnis
penginapan dan ruang pertemuan.
Ukuran yang dapat dipakai adalah
banyaknya tamu dari Indonesia yang

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 109


menyewa penginapan saat berkunjung
ke Mesir serta antusiasme Masisir
untuk menggunakan ruang pertemuan.
Dengan keuntungan yang diraih ini
Griya Jateng mampu belajar untuk
memenej keuangan guna pemeliharaan
dan pengembangan lebih lanjut.
Yang masih menjadi kendala pada
periode ini adalah program bidang TIC.
Konsentrasi Griya Jateng pada bidang
bisnis sebagai tulang punggung
pengelolaan, serta terbatasnya sumber
daya manusia yang berkompeten
dalam bidang tersebut melahirkan
sebuah persoalan tersendiri dalam
usaha pengelolaan TIC. Hal yang terus
dilakukan adalah komunikasi dan
konsultasi dengan pihak Pemda Jateng,
KBRI Cairo serta badan konsultatif yang
ada, guna merealisasikan program TIC.

- Peran Griya Jateng bagi Segenap


Pihak Terkait

Secara umum dapat dideskripsikan


bahwa Griya Jateng merupakan sebuah
rumah daerah di kalangan Masisir yang
mempunyai peran signifikan. Di antara

110 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


sekian banyak rumah daerah yang ada
di Cairo saat ini seperti Baruga
Sulawesi, Graha Jatim, Pesanggrahan
Jabar, Meuligou Aceh, Istana Maimun
Medan, dan beberapa nama lain, Griya
Jateng memiliki nilai tersendiri.
Kelengkapan berupa ruang pertemuan
serta lokasi yang strategis di tengah
'kampung melayu' Cairo menjadikan
Griya Jateng terasa lebih dekat dengan
dinamika Masisir. Terlepas dari plus dan
minus yang disandangnya Griya Jateng
merupakan sebuah prestasi besar
dalam kaca mata Masisir. Proyek yang
berhasil mewujudkan rumah dengan
jumlah 3 flat dengan lokasi strategis
plus aset bisnis sejauh ini masih
merupakan sebuah kelebihan dalam
lingkup Masisir.
Berbicara soal bisnis, memang ini
adalah hal yang sudah seharusnya
diutamakan oleh Griya Jateng. Dan
untuk itu telah tersedia modal besar
yang tak bisa begitu saja disia-siakan.
Ruangan di lantai dua dengan enam
kamar yang disewakan, plus berbagai
fasilitas pelengkap adalah aset bisnis
yang selalu berusaha dikelola secara
profesional. Rumah penginapan ini

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 111


menjadi begitu penting ketika angka
kunjungan warga Indonesia ke Mesir
semakin tinggi. Dan Griya Jateng
mampu menjawab sebuah kebutuhan
akan rumah hunian tamu yang
nyaman, relatif murah, dan
memberikan layanan bercita rasa
Nusantara.
Aset ruang pertemuan berupa aula
yang memenuhi standar aktifitas
Masisir juga telah dimiliki Griya Jateng.
Aula ini dilengkapi dengan berbagai
fasilitas, bisa digunakan untuk berbagai
kegiatan dengan bermacam spesifikasi,
serta menawarkan harga sewa yang
terjangkau. Bukan semata-mata bisnis,
namun keberadaan aula ini
dimaksudkan untuk memberikan
bantuan nyata bagi dinamika Masisir
secara umum atau KSW secara khusus.
Aset yang lain adalah showroom
yang dipercayakan pengelolaannya
kepada TIC sebagai wahana promosi
wisata dan perdagangan Jawa Tengah.
Showroom ini berada di posisi ideal,
lantai dasar yang menghadap ke
sebuah jalan utama.
Di luar persoalan bisnis, Griya
Jateng selalu memberikan dukungan

112 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


seratus persen bagi perkembangan dan
dinamika KSW sebagai induk dan cikal
bakal berdirinya Griya Jateng. Sesuai
yang diminta oleh panitia PPRD waktu
itu, KSW berhak atas ruang sekretariat
yang digunakan sebagai kantor, tempat
berkumpul, dan menyimpan barang-
barang kepunyaan KSW.
Aspirasi dan sumbang saran warga
KSW bagi pengelolaan Griya Jateng
menjadi salah satu pertimbangan bagi
setiap keputusan yang diambil oleh
badan pengelola Griya Jateng. Wujud
perhatian terhadap aspirasi warga ini
terwujud dalam pertemuan berkala
yang disebut sebagai rapat bersama.
Rapat ini melibatkan elemen badan
pengelola Griya Jateng, badan
pengawas Griya Jateng, dewan
pengurus KSW, serta MPA KSW guna
membicarakan segala persoalan yang
berkaitan dengan Griya Jateng dan
KSW.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 113


Showroom Griya Jateng

Aula Griya Jateng

114 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Ruang tamu penginapan Griya Jateng

Fasilitas lain penginapan Griya Jateng

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 115


Kamar penginapan Griya Jateng.

116 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Wujud nyata lain dari perhatian
Griya Jateng terhadap warga KSW
adalah alokasi sejumlah dana yang
diberikan kepada pengurus KSW
selama dan pada akhir periode
kepengurusan. Dana akhir periode
inilah yang kemudian dikelola oleh
pengurus KSW untuk mengadakan
acara pembagian sembako bagi warga
pada saat diadakannya RPA.
Terhadap pihak Pemda Jateng dan
KBRI Cairo sebagai kunci keberhasilan
pembangunan Griya Jateng, badan
pengelola tetap menjalin hubungan
yang baik. Badan pengelola tidak bisa
begitu saja melupakan jasa Pemda
Jateng dan KBRI Cairo dalam proses
pembangunan Griya Jateng.
Dengan pihak Pemda Jateng,
badan pengelola aktif melakukan
komunikasi guna melaporkan
perkembangan yang telah dicapai serta
meminta masukan bagi pengembangan
Griya Jateng terutama untuk program
TIC. Laporan tertulis secara berkala
juga selalu disampaikan kepada
Pemda Jateng.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 117


Badan pengelola juga melakukan
komunikasi intensif dengan pihak KBRI
Cairo, di mana kepemilikan Griya
Jateng tertulis atas nama institusi
tersebut. Komunikasi diwujudkan dalam
bentuk silaturrahmi dengan bapak-
bapak pegawai KBRI yang terlibat sejak
awal dalam proses pengadaan Griya,
serta dengan bapak-bapak yang
termasuk sebagai badan pengawas
Griya Jateng.
Dengan keadaan yang telah
dicapai ini diharapkan terjadi hubungan
yang sinergis di antara semua pihak
yang terlibat dalam pengelolaan Griya
Jateng. Hubungan sinergis yang akan
memberi manfaat dan keuntungan bagi
masing-masing pihak dengan
keberadaan Griya Jateng.
Badan pengelola diharapkan
mampu belajar untuk mempraktekkan
sistem manajemen yang profesional,
sementara KSW beserta warganya
diharapkan mampu semakin
meningkatkan kualitasnya. Harapan
bagi Jawa Tengah adalah semoga Griya
Jateng ini mampu memberikan bantuan
penuh dalam bidang promosi wisata
dan perdagangan. Bagi KBRI Cairo,

118 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


semoga Griya Jateng mampu menjadi
salah satu representasi
keanekaragaman bangsa dalam
mendukung tegaknya eksistensi
Negara Kesatuan Republik Indonesia di
tengah kancah mancanegara. Dan
untuk Masisir secara umum, Griya
Jateng diharapkan menjadi salah satu
pendukung dinamika guna peningkatan
sumberdaya manusia yang berkualitas.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 119


120 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Bab VI
Optimalisasi Dua
Arah Potensi
Jawa Tengah Dan
Timur Tengah

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 121


122 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah
Optimalisasi Dua Arah Potensi
Jawa Tengah Dan Timur
Tengah

- Selayang Pandang Sejarah Jawa


Tengah

Melalui proses panjang dan usaha


tak kenal lelah Griya Jateng telah
berdiri dan beroperasi hingga sekarang.
Keberadaannya bisa dikatakan sebagai
duta provinsi Jawa Tengah di Mesir
sekaligus di Timur Tengah secara lebih
umum. Status seperti ini baru dimiliki
oleh Griya Jateng Cairo saja mengingat
rumah daerah inilah yang baru
pertama kali dibangun oleh Jawa
Tengah di kawasan Timur Tengah.
Sebuah pilihan yang tidak keliru bagi
salah satu provinsi di Indonesia yang
memiliki banyak hal yang patut
dibanggakan
Sebagai sebuah wilayah
pemerintahan, Jawa Tengah memiliki

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 123


sejarah panjang dan peran besar bagi
bangsa Indonesia. Tercatat dalam
sejarah bahwa pada abad VII M
terdapat pemerintahan dalam bentuk
kerajaan yang menguasai wilayah Jawa
Tengah. Kerajaan tersebut adalah
kerajaan Kalingga yang terletak di
daerah Jawa Tengah bagian utara.
Kemudian muncul kerajaan Mataram
Kuno di daerah Jawa Tengah bagian
selatan yang melahirkan dua dinasti
besar, Wangsa Sanjaya yang menganut
agama Hindu, serta Wangsa Syailendra
yang menganut agama Budha.
Kerajaan-kerajaan masa awal ini
memiliki leluhur dari daerah Indocina
yang mungkin tertarik untuk bermigrasi
ke sebuah wilayah nan subur dan
makmur yaitu Jawa Tengah.
Masa selanjutnya ditandai dengan
kekuasaan kerajaan Majapahit yang
berpusat di Jawa Timur namun
menguasai hampir sebagian besar
pulau Jawa. Kemudian kekuasaan
kerajaan ini makin surut di akhir abad
XIV berbarengan dengan semakin
berkembangnya agama Islam yang
dibawa oleh para pedagang dari India,
Arab, Persia, dan Tiongkok semenjak

124 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


abad XIII. Ramainya kedatangan para
pedagang asing di pelabuhan-
pelabuhan Jawa Tengah menunjukkan
betapa wilayah ini memiliki posisi yang
sangat strategis dalam aktifitas
perdagangan. Babak baru perjalanan
sejarah Jawa Tengah ditandai dengan
munculnya kerajaan-kerajaan Islam
yang dirintis oleh kerajaan Demak.
Proses penyebaran agama Islam pada
masa awal ini mencatatkan kisah
tentang para wali, terutama wali
sembilan atau walisongo.
Kekayaan alam yang melimpah
mengundang kedatangan bangsa lain
yang ingin menguasai wilayah
Nusantara termasuk Jawa Tengah, yaitu
bangsa Eropa. Diawali oleh Portugis,
bangsa Eropa kemudian menancapkan
kekuasaan kolonial di Jawa dan seluruh
wilayah Indonesia. Masa kolonial ini
merupakan masa-masa sulit bagi
bangsa Indonesia sebagai sebuah
negara jajahan. Perjuangan dilakukan
selama tak kurang dari 350 tahun
hingga Belanda meninggalkan
Indonesia pada tahun 1942. Masa
setelah itu hingga kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 125


1945 adalah masa kekuasaan Jepang
yang menyebut diri sebagai saudara
tua bagi sebuah negara makmur dan
memiliki lokasi strategis bagi lalu lintas
dunia.

Keraton Kasunanan Surakarta.

Keraton Mangkunegaran Surakarta.


Di tengah masa perjuangan
melawan penjajah ini, Jawa Tengah
tampil dalam perjuangan untuk

126 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


mengusir bangsa kolonial maupun
imperial. Melalui kerajaan-kerajaan
seperti Demak, Pajang, dan Mataram
Islam, rakyat Jawa Tengah berjuang
bersama para bangsawan untuk
mempertahankan tanah air
tercintanya. Dari perjuangan inilah
muncul banyak nama-nama pahlawan
yang merupakan putra-putra Jawa
Tengah. Hingga sekarang di masa
kemerdekaan, terdapat beberapa
kerajaan Jawa bagian tengah yang
masih berdiri eksis yaitu keraton
Kasultanan dan Pakualaman di wilayah
provinsi DIY, serta keraton Kasunanan
dan Mangkunegaran di wilayah
karesidenan Surakarta provinsi Jawa
Tengah.

- Peran Griya Jawa Tengah bagi


Promosi Aset Daerah
Kekayaan sejarah beserta
kekayaan alam memberikan kelebihan
tersendiri bagi Provinsi Jawa Tengah
terutama dalam bidang pariwisata.
Sebagaimana halnya wilayah lain di
Indonesia, target utama dalam bisnis

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 127


pariwisata Jawa Tengah adalah
wisatawan mancanegara. Namun
target utama tersebut belum tercapai
secara optimal karena kurangnya
usaha promosi. Padahal dalam bidang
pariwisata Jawa Tengah dan Indonesia
pada umumnya, telah tersedia fasilitas
yang memadai serta jaminan
keamanan yang cukup.
Permasalahan promosi ini memang
menjadi kendala bagi pariwisata
Indonesia secara umum. Pihak
berwenang dalam bidang pariwisata
Indonesia terlihat kurang berani dalam
mengalokasikan dana untuk promosi
wisata ke luar negeri dan kurang
agresif dalam mencari celah. Kasus di
Timur Tengah juga menunjukkan gejala
yang sama. Di wilayah ini Indonesia
masih kalah jauh dengan negara
tetangga semisal Malaysia dan
Singapura dalam soal promosi wisata.
Padahal apabila dibandingkan dengan
dua negara tersebut Indonesia tidak
kalah dalam modal potensi wisata.
Bahkan potensi wisata Indonesia yang
berupa ecotourism merupakan hal
yang sangat digemari oleh wisatawan
Timur Tengah. Sangat disayangkan

128 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


bahwa kenyataan yang terjadi adalah
kebanyakan khalayak Timur Tengah
tidak sama sekali atau sedikit
mengenal kekayaan wisata Indonesia.
Hal yang sama juga terjadi dalam
bidang perdagangan. Permasalahan
promosi juga menjadi penyebab masih
minimnya praktek perdagangan Timur
Tengah dengan Indonesia, termasuk
minimnya investasi usaha antar kedua
belah pihak.
Dari deskripsi ini dapat
disimpulkan bahwa Indonesia masih
sangat perlu untuk meningkatkan
upaya-upaya promosi wisata di Timur
Tengah. Berbagai simposium
diselenggarakan oleh berbagai pihak
khusus membicarakan persoalan
peningkatan promosi wisata Indonesia
di Timur Tengah. Bagi pemerintah
daerah Jawa Tengah persoalan ini
menjadi salah satu agenda utama yang
perlu dipecahkan permasalahannya.
Dan Jawa Tengah telah maju satu
langkah dalam pemecahan persoalan
ini. Di era otonomi daerah, keberadaan
Griya Jateng di sebuah metropolitan
Timur Tengah, Cairo, yang dibangun
oleh Pemda Jateng merupakan wujud

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 129


nyata usaha pengembangan wisata
Jawa Tengah sebagai bagian dari
kekayaan bangsa Indonesia.
Salah satu bidang garapan
unggulan Griya Jateng, yaitu Trade and
Tourism Information Center (TIC),
merupakan ujung tombak dalam
bidang promosi wisata dan
perdagangan Jawa Tengah. Sebuah
ruangan showroom yang dimilikinya
dimaksudkan sebagai pusat informasi
bagi khalayak Timur Tengah mengenai
segala hal yang berkaitan dengan
potensi wisata, investasi, dan
perdagangan di wilayah Jawa Tengah.
Bagi Griya Jateng, Cairo bukanlah
penghalang untuk usaha promosi yang
menyeluruh ke wilayah Timur Tengah.
Perlu diketahui bahwa Cairo merupakan
jantung utama Timur Tengah yang
berupa kota terbesar dan terpadat
sebagai rujukan utama berbagai
macam aktifitas mulai dari ekonomi
hingga pariwisata. Dapat dikatakan
bahwa Cairo merupakan kota paling
strategis di wilayah Timur Tengah.

130 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Candi Borobudur, Salah satu objek wisata
andalan Jawa Tengah

Menara Kudus, peninggalan Islam masa Walisongo

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 131


Gereja Blenduk, objek wisata peninggalan masa kolonial di
Kota Lama Semarang

Telaga Warna, Salah satu objek wisata Jawa


Tengah

132 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Wisata alam Pulau Karimunjawa

Grojogan Sewu, Tawangmangu, Jawa Tengah

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 133


Peran lain yang diperankan oleh
Griya Jateng sebagai duta Indonesia di
Tengah adalah sebagai salah satu pusat
aktifitas masyarakat Indonesia Mesir
atau Masisir. Dengan jumlah yang
melimpah, Masisir disibukkan oleh
berbagai kegiatan guna
pengembangan kualitas sumber daya
manusia. Dengan keanekaragaman
yang dimiliki, Masisir memiliki energi
dinamika yang sangat tinggi sebagai
sebuah kebanggaan di kancah luar
negeri. Namun melimpahnya energi ini
seringkali tidak diimbangi dengan
ketersediaan fasilitas yang memadai
dan terjangkau bagi Masisir yang
didominasi oleh mahasiswa. Griya
Jateng menjawab persoalan kelangkaan
fasilitas ini dengan menghadirkan
sebuah pusat kegiatan dalam bentuk
ruang pertemuan. Kelebihan ruang aula
ini antara lain adalah letaknya sangat
strategis di kawasan konsentrasi
domisili Masisir, serta ruangan besar
dengan kapasitas tinggi. Kelebihan lain
adalah interior yang apik, bersih,
nyaman, dan dilengkapi dengan
berbagai fasilitas yang disesuaikan
dengan standar Masisir. Harga sewa

134 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


yang ditawarkan tentu saja
disesuaikan dengan standar Masisir.

- Pengenalan Potensi Mesir Guna


Pengembangan Griya Jateng
Guna keberlangsungan operasional
Griya Jateng, badan pengelola
berusaha untuk selalu mandiri dalam
usaha-usaha yang dilakukannya. Griya
Jateng tidak akan pernah kehilangan
semangat dalam menjaga rumah yang
telah dibangun dengan keringat rakyat
Jawa Tengah ini. Semangat tersebut
dituangkan dalam optimalisasi bisnis
penginapan yang memang telah
diproyeksikan sejak awal. Bisnis ini
diyakini merupakan lahan yang
produktif jika mampu dikelola secara
rapi dan profesional.
Segmentasi yang ditargetkan Griya
Jateng dalam hal ini adalah tamu-tamu
kunjung yang berasal dari Indonesia
maupun negara-negara tetangga.
Target ini sangatlah sesuai dengan
format pelayanan yang menekankan
suasana kekeluargaan cita rasa
Nusantara.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 135


Apabila diperhatikan, tingkat
kedatangan tamu dari Indonesia
maupun negara tetangga ke Mesir
makin lama makin meningkat. Hal ini
sangat wajar karena Mesir merupakan
salah satu tujuan utama di Timur
Tengah dalam berbagai bidang.
Membaca kembali sejarah
perjalanannya, akan nampak jelas
betapa Mesir memiliki banyak
keunggulan dalam berbagai bidang.
Pariwisata Mesir merupakan salah
satu tujuan wisata favorit dunia.
Alamnya yang khas, ditunjang oleh
jejak-jejak peninggalan berbagai
episode sejarah, menjadikan Mesir
kaya akan objek wisata menarik.
Limpahan peninggalan historik ini
adalah hasil karya peradaban dari
berbagai masa seperti masa Mesir
Pharaonic, Mesir Helenistik, Mesir
Koptik, Mesir Islam, maupun Mesir
kolonial. Ini belum ditambah dengan
berbagai kemajuan yang dicapai oleh
Mesir modern.
Bidang lain yang menjadi
kelebihan Mesir adalah bidang
pendidikan, spiritual, dan kekayaan
budaya. Institusi pendidikan berkualitas

136 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


banyak terdapat di Mesir, terutama
Cairo. Lembaga Al Azhar adalah salah
satu tujuan utama para pelajar dan
mahasiswa Indonesia. Sementara itu
kehidupan beragama di negeri para
nabi ini menyajikan praktek religiusitas
yang khas serta objek-objek ziarah
yang sangat menarik untuk
dieksplorasi lebih dalam. Sedangkan
untuk urusan politik dan ekonomi,
Mesir menjadi penting karena posisinya
yang merupakan center of gravity
dunia Timur Tengah.
Satu lagi, keunggulan Mesir bagi
Indonesia adalah kedekatan emosi
kedua negara yang penduduknya
mayoritas beragama Islam. Ada
keramahan khas yang diberikan oleh
masyarakat Mesir kepada bangsa
dengan jumlah pemeluk agama Islam
terbanyak di dunia. Keramahan ini
dilengkapi dengan berbagai
kemudahan fasilitas serta
keterjangkauan berbagai kebutuhan.
Berbagai fasilitas penunjang disediakan
oleh pemerintah Mesir guna
kemudahan bagi para pelancong. Dan
satu fakta yang perlu diingat adalah
kenyataan bahwa Mesir adalah negara

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 137


dengan biaya hidup termurah di
kawasan Timur Tengah.

Piramid Giza, situs peninggalan Mesir kuno.

138 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


Sharm el Sheikh, objek wisata alam di Mesir

Masjid Muhammad Ali Pasha, salah satu objek


wisata peninggalan Islam.

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 139


Gereja St. Catherine, salah satu objek wisata
peninggalan Kristen Ortodoks Yunani.

Semua keunggulan inilah yang


menjadikan tingkat kunjungan ke Mesir
menjadi sangat tinggi. Dan kalaupun
bukan menjadi tujuan utama, Mesir
juga memiliki posisi sangat strategis
sebagai sebuah area transit untuk
tujuan negara-negara Timur Tengah.
Negara-negara Timur Tengah di
kawasan sepanjang laut Tengah
merupakan daerah tujuan yang tak
kalah menarik dalam bidang wisata
maupun pendidikan. Jazirah Arab yang
didominasi oleh wilayah Saudi Arabia
adalah tujuan aktifitas spritual-religius
utama sepanjang tahun. Sementara itu

140 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah


negara-negara Teluk adalah salah satu
zona bisnis dan perdagangan utama di
kawasan Asia.
Dengan demikian Mesir adalah
lokus utama bagi setiap usaha-usaha
yang menjadikan Timur Tengah sebagai
target bidikan. Sangatlah bijaksana
untuk memilih Mesir sebagai titik
utama promosi potensi Jawa Tengah di
wilayah Timur Tengah. Dan sebaliknya,
demi sinergi pengelolaan dan
perawatan, diharapkan potensi Mesir
dan Timur Tengah semakin terkelola
dengan baik sehingga memberikan
tambahan pemasukan bagi Griya
Jateng.
Segenap paparan ini dimaksudkan
sebagai deskripsi bahwa Griya Jateng
merupakan sebuah aset yang perlu
dikembangkan bersama oleh segenap
pihak terkait. Dengan pengembangan
dan pengelolaan profesional, dipastikan
keberadaan Griya Jateng mampu
memberikan keuntungan berharga bagi
segenap pihak tersebut.
Terakhir, ada sebuah harapan
besar semoga keberadaan Griya Jateng
di Cairo ini mampu merefleksikan
kepedulian bersama bagi

Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah 141


pengembangan sumber daya manusia
yang berkualitas. Kepedulian bersama
yang dengan rahmat Tuhan menjadi
sebuah wujud amal bakti dan
pengabdian yang ikhlas bagi
masyarakat, negara, dan bangsa
tercinta.

142 Griya Jawa Tengah, Duta Daerah di Timur Tengah