P. 1
Risalah Zakat Fitrah

Risalah Zakat Fitrah

|Views: 936|Likes:
Dipublikasikan oleh Agus Bs

More info:

Published by: Agus Bs on Feb 02, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2014

pdf

text

original

RISALAH ZAKAT FITRAH

Dirangkum dan disebarkan Oleh : Majelis Dzikir Wad Da’wah “ Riyadhus Sholihin “ Sekretariat : Jl. Wijaya Barat no.123 RT.03/RW.03 Singosari - Malang
Telah ditashih oleh : KH. Ach. Farichin Muhsan ( Wakil Katib II Wilayah NU Propinsi Jatim )

A. Pengertian Zakat Fitrah dan Hukumnya Zakat Fitrah atau dikenal dengan zakat badan, zakat ru’us atau shodaqoh fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan bagi setiap muslim yang mampu, sebab menemui sebagian bulan Romadhon dan bulan Syawal. Zakat fitrah khusus disyari’atkan kepada umat Nabi Muhammad SAW, dan mulai diwajibkan pada dua hari menjelang hari idul fitri pada tahun kedua hijriyah. Mengeluarkan zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap orang yang telah menetapi syarat wajibnya. Dalam sebuah hadits riwayat imam Bukhori Muslim rochimahumalloh di riwayatkan : “Dari ibnu Umar RA beliau berkata, Rosululloh SAW mewajibkan zakat fitrah satu sho’ dari kurma atau satu sho’ dari gandum atas hamba/budak dan orang merdeka, lakilaki dan perempuan, yang kecil dan yang besar dari kaum muslimin, dan Rosul memerintahkan supaya diberikan sebelum orang-orang keluar untuk sholat (Idul Fitri)“. Diantara hikmah syari’ah yang bisa kita ambil adalah : 1. Membersihkan jiwa dan memyempurnakan pahalanya orang yang telah berpuasa Romadhon. Dengan berzakat fitrah, nilai ibadah puasa Romadhon yang barangkali berkurang karena hal-hal yang kurang baik yang dilakukan seseorang muslim, menjadi sempurna. Sebagaimana sujud sahwi yang mnyempurnakan kekurangan dalam sholat. Sebagaimana keterangan dalam hadits : “Rosululloh mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan bagi yang puasa daripada sia-sia dan kekotoran mulut dan sebagai makanan bagi orang miskin……….“ (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Dalam riwayat lain disebutkan : “Puasa Romadhon itu digantungkan diantara langit dan bumi, tidak diangkat puasa tersebut kecuali dengan zakat fitrah“.(HR. Abu Hafs bin Syahin). Dalam kitab I’aanatut Tholibin dijelaskan, maksud dari “tidak diangkat“ adalah sebagai kinayah dari sempurnanya puasa (Romadhon) itu tergantung dari orang yang berpuasa, apakah mengeluarkan zakat fitrah atau tidak, bukan berarti tanpa zakat fitrah berarti puasa tidak diterima. 2. Membahagiakan orang-orang fakir, Rosululloh SAW bersabda (yang artinya) : “Kayakanlah mereka (orang-orang fakir) dari kehinaan meminta-minta di hari ini“ (HR. Daruqutni dan Baihaqi). B. Waktu Zakat Fitrah Waktu pembayaran zakat fitrah dibagi 5 : 1. Waktu Diperbolehkannya

2.

3.

4.

5.

Yaitu sejak awal Romadhon sampai awal bulan Syawal (waktu wajib), artinya zakat fitrah boleh diberikan sejak memasuki bulan Romadhon, bukan waktu sebelum Romadhon. Waktu Wajibnya Yaitu sejak setelah matahari terbenam akhir Romadhon/malam idul fitri (dengan mendapati akhir Romadhon dan awal Syawal). Oleh sebab itu orang yang meninggal setelah maghrib akhir Romadhon wajib dizakati (sebab dia mendapati Romadhon dan awal Syawal), sedangkan bayi yang lahir setelah maghrib akhir Romadhon tidak wajib dizakati (sebab dia tidak mendapati bulan Romadhon hanya mendapati awal Syawal saja). Waktu Utamanya Yaitu pada pagi hari raya idul fitri setelah terbit fajar (subuh) dan sebelum sholat idul fitri. Waktu Makruhnya Yaitu mengakhirkannya setelah sholat idul fitri hingga mendekati terbenamnya matahari, kecuali karena ada mashlahat seperti menanti kerabatnya atau tetangganya yang lebih membutuhkan, jika demikian maka tidak makruh asal tidak sampai matahari terbenam. Waktu Haramnya Yaitu mengakhirkannya setelah terbenamnya matahari idul fitri, kecuali karena ada udzur, misalnya menunggu hartanya yang tidak ada ditempat atau tidak ditemukannya mustahiq (walaupun untuk saat ini hal itu masih mustahil), hanya saja zakat fitrah yang dikeluarkan setelah 1 Syawal statusnya menjadi qodho’. Akan tetapi apabila tidak ada udzur yang demikian maka mengakhirkannya sampai setelah terbenamnya matahari idul fitri maka hukumnya adalah haram.

C. Orang Yang Wajib Membayar Zakat Fitrah Zakat fitrah diwajibkan atas tiap-tiap muslim yang menemui sebagian bulan Romadhon dan bulan Syawal, yang merdeka, baik lelaki atau perempuan, besar maupun kecil yang mempunyai kelebihan dari makanan pokok/materi untuk dirinya dan juga orang yang menjadi tanggungan nafkahnya untuk sehari semalam besok hari raya idul fitri, juga merupakan kelebihan dari hutangnya yang jatuh tempo dan juga pakaian serta tempat tinggal yang layak. Dalam kitab As-Syarqowi diterangkan, apabila pada hari idul fitri tidak mempunyai kelebihan, maka tidak wajib zakat walaupun (yakin) keesokan harinya punya kelebihan, namun sunnah untuk berhutang guna untuk fitrah. Setiap orang yang nafkahnya secara syar’i wajib ia tanggung maka ia wajib pula menanggung zakat fitrahnya, seperti istri, anak yang masih kecil, dan ayah/ibu sampai ke atas yang sudah tidak mampu mencukupi kebutuhannya dan didalam mengeluarkan zakat fitrah mereka tidak disyaratkan untuk minta ijin kepada mereka, dan dikecualikan dari hal ini adalah masalah seseorang yang secara syar’i wajib ia tanggung nafkahnya tetapi tidak wajib ditanggung fitrahnya seperti anak terhadap istri bapaknya begitu juga kerabat kafir yang melarat. Akan tetapi orang yang secara syar’i tidak wajib ia tanggung nafkahnya maka tidak wajib pula menanggung zakat fitrahnya seperti anak yang sudah baligh yang mampu untuk bekerja, kecuali setelah minta ijin kepadanya. D. Kadar/Ukuran Zakat Fitrah Salah satu dari hikmah syari'ah zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang kurang mampu pada hari yang berbahagia (hari raya), dengan memberikan barang yang paling diperlukan dalam hidup, yaitu makanan.

Oleh sebab itu, makanan yang digunakan sebagai zakat fitrah distandarkan dengan makanan yang paling dominan dalam masyarakat pada masa itu. Diantara syarat-syarat benda yang digunakan sebagai zakat fitrah adalah : a. Berupa bahan makanan Menurut madzhab Syafi’i, benda yang digunakan sebagai zakat fitrah harus berupa makanan (bukan uang) yang pada masa (tahun/hari raya) itu dijadikan sebagai makanan pokok oleh mayoritas orang dalam daerah tersebut. Oleh karenanya zakat fitrah dengan menggunakan uang menurut madzhab syafi’i hukumnya tidak mencukupi/tidak sah. Apabila terdapat beberapa makanan pokok yang berlaku, maka boleh menggunakan salah satu dari jenis makanan tersebut, dan diperbolehkan menggunakan jenis makanan yang paling banyak mengandung kadar kekuatan (paling mengenyangkan). b. Sejenis (tidak campuran) Bahan makanan yang digunakan zakat fitrah harus sejenis, tidak campuran. Misalnya jenis beras, jenis gandum, jenis jagung, dan lain-lain. Oleh sebab itu, tidak boleh menggunakan makanan pokok campuran, seperti beras campur jagung, beras campur gandum dan lain-lain. c. Dikeluarkan ditempat orang yang dizakati. Apabila tempat dan standart makanan pokok dari orang yang dizakati dan orang yang menzakati berbeda, maka jenis makanan pokok yang digunakan zakat dan tempat memberikannya disesuaikan dengan daerahnya orang yang dizakati. Misalnya seorang ayah yang hidupnya di Malang dengan makanan pokok beras, menzakati anaknya yang berada di Kalimantan dengan makanan pokok gandum, maka makanan pokok yang digunakan zakat adalah gandum untuk diberikan pada golongan penerima zakat di Kalimantan. d. Satu sho’ untuk setiap orang. Makanan pokok yang dikeluarkan sebagai zakat fitrah kadarnya adalah satu sho’., sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Rosululloh SAW. Satu sho; tersebut kurang lebih 2,5 kg, namun ada pula yang mengatakan bahwa satu sho’ sama dengan 2,75 kg (lihat : Kitab Taqriirot, sy. Hasan alkaf, hal. 419). Walhasil jumlah 2,5 kg sudah mencukupi tetapi apabila dilebihi maka lebih baik E. Niat Zakat Zakat fitrah merupakan sebuah ibadah yang sudah barang tentu membutuhkan niat dan sudah maklum diketahui bahwa niat itu adalah didalam hati tidak cukup hanya dengan ucapan atau lisan saja. Contoh niat zakat fitrah : “ Ini zakat fitrahku fardhu karena Alloh ta’ala “ atau “ Saya niat menunaikan zakat fitrah untuk diriku fardhu karena Alloh ta’ala“ atau “ saya niat zakat fitrah untuk istriku fardhu karena Alloh “. Melihat bahwasannya zakat fitrah itu memungkinkan dilakukan oleh orang lain (yang menanggung nafkahnya atau yang mendapat ijin dari orang yang dizakati) maka pelaku niat zakat dalam zakat fitrah ada 3 macam : 1. Zakat untuk dirinya sendiri Apabila zakat fitrah itu atas nama dirinya sendiri ( pelaku zakat ), maka yang niat adalah pelaku zakat itu sendiri. 2. Zakat untuk orang yang kewajiban ia tanggung zakat fitrahnya

3.

Apabila zakat atas nama orang lain, yang fitrahnya secra syar’i wajib ia tanggung, maka yang melakukan niat adalah pelaku zakat tanpa harus mendapat ijin dari orang yang dizakati, seperti, seorang suami/kepala ruamh tangga mengeluarkan zakat atas nama istrinya, anaknya yang masih kecil, orang tua yang tidak mampu dan lain-lain. Dan diperbolehkan, pelaku zakat memberikan makanan pokok yang akan digunakan zakat kepada orang yang akan dizakati, agar melakukan niat sendiri. Zakat untuk orang yang tidak kewajiban ia tanggung zakat fitrahnya Apabila zakat atas nama orang lain, yang fitrahnya secara syar’i tidak wajib ia tanggung, maka zakat dan niat dari pelaku zakat dihukumi sah apabila sudah mendapat ijin dari orang yang dizakati, seperti seorang pelaku zakat mengeluarkan zakat atas nama anaknya yang sudah dewasa yang sudah kuasa untuk bekerja (tidak cacat/lumpuh), saudara, buruh, pembantu rumah tangga, atau orang lain yang fitrahnya secara syar’i tidak wajib ditanggung oleh pelaku zakat, jika tidak mendapat ijin dari orang yang dizakati, maka zakat dan niat dari pelaku zakat hukumnya tidak sah, alias tidak bisa menggugurkan kewajiban zakat fitrahnya orang yang dizakati, oleh sebab itu, orang yang dizakati wajib mengeluarkan zakat fitrahnya sendiri.

Waktunya niat zakat fitrah boleh dilakukan pada saat memisahkan makanan pokok yang digunakan zakat, atau saat memberikan zakat pada orang yang berhak menerimanya, atau dilakukan dikala menyerahkannya kepada wakil atau waktu antara memisahkan zakat dan memberikan zakat pada fakir miskin. . F. Menta’jil Zakat Fitrah Ta’jil zakat fitrah artinya membayarkan zakat fitrah sebelum memasuki waktu wajibnya. Boleh menta’jil zakat fitrah ini sejak awal Romadhon, tapi dengan syarat sampai masuk maghrib akhir Romadhon/malam hari raya (waktu wajibnya zakat fitrah) si penerima zakat fitrah adalah masih orang yang berhak menerima zakat, maka apabila si penerima zakat tadi menjadi kaya atau meninggal dunia di akhir Romadhon sebelum maghrib, maka zakat fitrahnya batal/tidak jadi dan hukumnya menjadi shodaqoh biasa, akan tetapi kalau si penerima zakat menjadi kaya atau meninggal dunianya setelah maghrib maka zakat tetap sah sehingga tidak wajib zakat lagi. G. Golongan Yang Berhak Menerima Zakat Dasarnya adalah firman Alloh SWT di dalam Surat At-Taubah ayat 60 :

Yang artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang faqir dan orangorang miskin dan amil dan para muallaf dan para budak dan orang-orang yang berhutang dan sabillah dan ibnu sabil sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan oleh Alloh dan Alloh maha mengetahui lagi maha bijaksana (Q.S. At-Taubah : 60) Berdasarkan ayat tersebut diatas, golongan yang berhak menerima zakat adalah ada 8 golongan/kelompok :

1. Fuqoro’ (orang-orang fakir) yaitu orang yang tidak mempunyai harta dan pekerjaan yang layak yang hasilnya bisa mencukupi kebutuhan pokoknya sendiri dan kebutuhan pokok orang yang menjadi tanggungan nafkahnya dengan penghasilan yang hanya bisa mencukupi kurang dari separuh kebutuhannya, misalnya : kebutuhannya 10 tapi dia hanya bisa mencukupi kurang dari 5. 2. Masakin (orang-orang miskin) yaitu orang yang memiliki harta atau pekerjaan tapi hasilnya hanya bisa mencukupi lebih dari separuh kebutuhan pokoknya, tidak penuh, misalnya : kebutuhannya 10 tapi dia hanya bisa mencukupi 8. 3. Amilin (para amil) yaitu orang yang diutus atau diangkat oleh kholifah/imam (kepala negara) untuk mengambil zakat, pembagi dan pengumpul zakat. Dari pengertian ini jelaslah bahwa panitia zakat yang ada dikampung-kampung/desa maupun di perkotaan yang sering kita lihat tidak bisa disebut amil karena kurangnya persyaratan secara syar’i sehingga tidak berhak mendapat bagian zakat dengan mengatasnamakan dirinya sebagai amil, ia hanyalah sebatas wakil dari pelaku zakat untuk menyalurkan zakatnya oleh karenanya maka apabila wakil keliru dalam menyalurkan zakat maka ia berkewajiban menanggung/menggantinya dan zakatnya orang yang mewakilkan kepadanya menjadi tidak sah (lihat : Kitab Roudhoh karangan Imam Nawawi dalam bab zakat, lihat juga keputusan muktamar NU tahun 1960 di Jakarta). 4. Muallafah Qulubuhum (para muallaf) yaitu orang masuk islam yang masih lemah mental keislamannya atau pula tokoh atau kepala suku yang telah masuk islam yang mempunyai wibawa dikaumnya yang dengan diberi zakat maka diharapkan bisa menarik para pengikutnya untuk turut masuk islam. 5. Riqob yaitu budak - budak mukatab yang perjanjian kitabahnya sah. 6. Ghorimin (para ghorim) yaitu orang-orang yang punya tanggungan hutang, dan ghorim ini dibagi 4 macam : a. Orang yang berhutang untuk dirinya sendiri atau untuk orang yang kewajiban ia tanggung nafkahnya, untuk kepentingan yang bukan maksiat, maka boleh diberi bagian zakat bila tidak mampu melunasi hutangnya, sekalipun rajin bekerja, sebab pekerjaan itu tidak bisa menutup kebutuhannya untuk melunasi hutang bila telah tiba jatuh tempo. b. Orang yang berhutang untuk keperluaan mendamaikan percekcokan, maka orang ini diberi bagian sejumlah hutangnya yang untuk keperluan tersebut, sekalipun ia kaya. Adapun jika tidak berhutang, tapi membiayai perdamaian itu dengan hartanya sendiri maka tidak diberi bagian zakat. c. Orang yang berhutang untuk kemashlahatan umum seperti menghormat tamu, membebaskan tawanan, membangun masjid, maka boleh diberi bagian sekalipun kaya. Akan tetapi apabila yang berhutang tersebut bukan orang tapi atas nama lembaga/organisasi maka tidak bisa disebut ghorim yang berhak mengambil bagian zakat, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan ta’mir atau panitia pembangunan masjid pada saat ini. d. Orang yang berhutang untuk menanggung hutang orang lain, bila penanggung dan yang ditanggung sama-sama melarat, maka penanggung boleh diberi sejumlah pelunasan hutangnya.

7. Sabilillah yaitu orang-orang yang berperang membela agama Alloh yang sukarela (tanpa bayaran) sekalipun kaya, maka diberi bagian sebagai nafkahnya, pakaiannya dan juga untuk keluarganya selama pergi berperang, demikian pula diberi biaya alat peperangan. 8. Ibnu Sabil yaitu musafir dengan bepergian yang mubah (bukan maksiat), ia boleh diberi bagian secukup kebutuhannya dan kebutuhan pesertanya yang menjadi tanggungannya jika ia tidak mempunyai harta atau kehabisan harta ditengah perjalanan atau di tempat tujuannya. Catatan penting :  Harta zakat itu sama sekali tidak boleh digunakan untuk membangun masjid, pondok pesantren, membangun sekolah/madrasah, dll., dan apabila dilakukan maka hukumnya haram dan zakatnya juga menjadi tidak sah karenanya ia wajib mengeluarkan zakatnya kembali dan jika tidak maka ia tergolong mani’uz zakat (orang yang enggan membayar zakat).  Ketika masjid atau pondok pesantren itu roboh atau rusak yang berkewajiban membangun atau memperbaikinya adalah orang kaya, kalau harta zakat itu diberikan kepada pembangunan masjid maka berarti orang fakir miskin yang mestinya hidupnya bisa lebih baik karena terbantu dengan diberi zakat akhirnya hidupnya tetap kekurangan, dan karena zakat yang seharusnya menjadi hak mereka tersebut diberikan kepada masjid maka sama halnya yang membangun masjid adalah orang fakir/miskin sedangkan yang kaya tinggal menempati tentunya ini adalah suatu kedzoliman.  Sedangkan pendapat yang menyatakan zakat boleh diberikan kepada pembangunan masjid atas nama sabilillah adalah pendapat yang sangat lemah dan bertentangan dengan hadits rosul serta aimmatul mujtahidin (para imam mujtahid) oleh karenanya tidak boleh diikuti. H. Beberapa Hukum didalam Madzhab Syafi’i Terkait Pembagian Zakat 1. Hukum Pemerataan Zakat : Jika mustahiqqin (para penerima zakat) itu terbatas jumlahnya (bisa dihitung) sedangkan harta zakat cukup untuk meratai mereka semua maka wajib dibagi meratai semua, tapi kalau zakat itu sedikit (tidak cukup), maka tidak wajib membagi rata, tapi wajib membagikan kepada minimal 3 orang untuk setiap golongan/kelompok yang 8. 2. Hukum Penyamarataan Bagian Antar Golongan : Wajib menyamaratakan bagian antar golongan/kelompok yang 8, tapi tidak wajib menyamaratakan bagian masing – masing individu dalam satu golongan tersebut. 3. Hukum Apabila Salah Satu Golongan dari 8 Golongan Tidak Ada : Jika salah satu golongan dari 8 golongan tersebut tidak ditemukan maka bagiannya bisa diberikan/dikembalikan kepada golongan yang ada. (Tambahan : Ada qoul dho’if (pendapat lemah) didalam madzhab Syafi’i yang memperbolehkan memberikan zakat fitrah itu kepada 3 orang miskin saja atau 3 orang mustahiqin lainnya, bahkan menurut qoul Abu Ishaq zakat itu boleh diberikan hanya kepada 1 orang saja dan itu sesuai dengan pendapat Aimmatus Tsalatsah (3 imam mujtahid selain imam Syafi’i - Rodhiyalloohu ‘Anhum ).

Kesimpulan :  Dari penjabaran ketiga hukum diatas jika dituangkan dalam contoh, misalkan pada zakat fitrah, katakanlah kita zakat fitrah sebanyak 2,5 kg, maka 2,5 kg tsb harus dibagi kepada 8 golongan (jika kesemuanya ada) dan tiap-tiap golongan dengan bagian yang sama dan masing-masing golongan tersebut minimal 3 orang.  Apabila hanya terdapat 2 golongan saja misalkan fuqoro’ dan masakin maka bagian golongan yang lain dikembalikan kepada golongan yang ada, dengan kata lain 2,5 kg dibagikan hanya kepada fuqoro’ dan masakin dengan bagian yang sama dan masing – masing golongan minimal 3 orang, jadi 11/4 kg diberikan kepada fuqoro’ minimal 3 orang dan yang 11/4 kg lagi diberikan kepada masakin minimal 3 orang.  Jika kita mengikuti qoul dho’if (pendapat lemah), maka 2,5 kg bisa langsung dibagikan kepada 3 orang saja, baik 3 orang tersebut fakir semua atau miskin semua, atau kita berikan kepada satu orang saja mengikuti pendapatnya Abu Ishaq Rochimahulloh.  Akan tetapi bagi panitia zakat, tidak diperkenankan memakai qoul dho’if ini, karena hal tersebut menyalahi maksud dari para pezakat yang menginginkan agar panitia menyalurkan zakatnya kepada para fuqoro’ dan masakin (berarti kepada banyak orang), sehingga dengan panitia memberikannya kepada hanya satu orang saja dari masing - masing zakat yang 2,5 kg tersebut, berarti ia telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya. SOLUSI : Untuk mensiasati agar masing-masing individu penerima zakat tidak menerima zakat dengan jumlah yang sedikit akibat pembagian tersebut diatas, maka zakat beberapa orang dicampur dijadikan satu selanjutnya dibagi sesuai aturan tersebut di atas. Contoh : zakat fitrahnya 10 orang, berarti 2,5 kg dikalikan 10 jumlahnya menjadi 25 kg, misalkan hanya terdapat 2 golongan saja yaitu fuqoro’ dan masakin maka 25 kg dibagi 2, yaitu 12,5 kg untuk fuqoro’ dan 12,5 kg untuk masakin dimana masing-masing minimal 3 orang, sehingga per orang akan mendapat ± 4 kg. Selain itu dengan pencampuran ini sama artinya masing-masing dari 10 orang yang berzakat tersebut telah memberikan zakatnya kepada 3 orang faqir dan 3 orang miskin. 4. Hukum Memindah Zakat : Tidak boleh memindah zakat dari balad (daerah) setempat harta itu ke daerah lain sekalipun berdekatan, juga zakatnya menjadi tidak sah menurut qoul (pendapat) yang masyhur didalam madzhab syafi’i. Sedangkan menurut qoul dho’if (pendapat lemah) boleh memindahkan zakat dari balad (daerah) setempat harta itu berada. 5. Zakat Juga Dihukumi Tidak Sah Apabila : a. Diberikan kepada orang kafir b. Diberikan kepada Bani Hasyim dan Bani Mutholib c. Diberikan kepada orang kaya, yaitu orang yang punya pekerjaan dan dengan pekerjaannya tersebut kebutuhan tiap harinya bisa tercukupi dengan baik (layak). Atau juga termasuk dihukumi kaya yaitu orang yang tidak bekerja tapi telah mempunyai biaya secukup hidup selama umur wajarnya, ada yang mengatakan secukup hidup satu tahun.

d. Diberikan kepada orang yang telah tercukupi dengan nafkah wajib untuknya, baik dari suami atau kerabat. Adapun orang yang belum tercukupi dengan nafkah wajibnya, maka ia diperbolehkan menerima zakat baik dari si penanggung nafkahnya sendiri atau dari orang lain sehingga atas nama fakir. 6. Memberikan zakat kepada orang yang meninggalkan sholat : Imam Nawawi r.a memberikan fatwa bahwa orang yang sejak baligh sampai seterusnya sama sekali tidak pernah mengerjakan sholat karena malas mengerjakannya (bukan karena menetangnya sebagai kewajiban) maka ia tetap boleh diberi zakat, hanya saja ia tidak diperbolehkan menerima sendiri zakatnya tetapi yang menerimakan zakat untuknya adalah walinya, artinya ia dihukumi seperti anak kecil atau orang gila (tidak bisa menerima pemberian secara langsung). Lain halnya jika ia masih baru mengabaikan sholatnya, maka ia diperbolehkan menerima sendiri pemberian zakatnya. 7. Memberikan zakat kepada yatim piatu : Yatim piatu tidak termasuk kelompok yang 8 sehingga tidak boleh zakat diberikan kepada mereka, kecuali kalau dia fakir atau miskin maka boleh diberi zakat atas nama fakir atau miskin dan yang menerimakan untuknya adalah walinya atau orang yang mengurusinya. Oleh karenanya zakat – zakat yang diberikan atas nama yayasan panti asuhan hukumnya tidak mencukupi/tidak sah karena tidak termasuk ashnaf/golongan yang 8. 8. Tambahan : Zakat itu didalam penyalurannya dilakukan oleh si pezakat sendiri atau boleh juga mewakilkannya kepada orang lain, yang tentu saja ketika mewakilkannya kepada orang lain harus ada ijab atau ucapan yang menunjukkan perwakilan/penyerahan urusannya kepada orang lain tersebut, sebagaimana dijelaskan didalam bab wakalah (perwakilan) didalam kitab-kitab Fiqh, sebagai contoh si A mewakilkan urusan penyaluran zakatnya kepada si B, maka sudah seharusnya si A mengatakan kepada si B : “ Saya mewakilkan kepada Saudara untuk membagikan zakat saya ini kepada para fakir miskin “ atau “ Tolong zakat saya ini Saudara bagikan kepada para fakir miskin “ lantas si B mengatakan “ ya “ atau tidak menolak, maka sudah cukup, dan umpama didalam prakteknya nanti si B menyuruh orang lain lagi untuk membagikan zakatnya maka sudah seharusnya si B meminta ijin dulu kepada si A, sebab wakil itu tidak boleh mewakilkan lagi kepada orang lain tanpa seijin orang yang mewakilkan (lihat : Kitab Fathul Mu’in dalam bab Wakalah). Panitia/orang yang diserahi untuk menyalurkan zakat maka posisinya adalah sebagai wakil karenanya wajib mengetahui dan memahami akan hal-hal tersebut diatas beserta hukum-hukum seputar zakat yang lain. Walloohu A’lam. I. Do’a Menerima Zakat Fitrah

Referensi : Al-Qur’an, Sohih Bukhori, Sohih Muslim, Sunan Abi Dawud, I’anatut Tholibin, Roudhotut Tholibin, Al Bajuri, As Syarqowi, Kifayatul Akhyar, Nihayatuz Zain, Fathul Mu’in, At-taqriirotus Sadiidah.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->