Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah

Betapa pentingnya bahasa bagi manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. Hal ini tidak saja dapat dibuktikan dengan menunjuk pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat dibuktikan dengan banyaknya perhatian para ilmuwan dan praktisi terhadap bahasa.

Orang mempelajari bahasa agar dapat menemukan ciri kata atau kalimat dan gaya bahasa yang dapat menyentuh hati nurani orang-orang di sekitar sehingga dapat mempengaruhi mereka.Demikian juga bahasa dipelajari disekolah-sekolah dengan segala tingkat pendidikan, mempelajari bahasa sebagai salah satu mata pelajaran pokok dalam kegiatan belajar mengajar.

Kesalahan berbahasa dalam kehidupan baik itu secara lisan maupun tulisan akan berakibat fatal bagi penggunanya, terlebih kesalahan berbahasa terjadi dalam penulisan.

Jika hasil sebuah tulisan yang salah dalam penggunaan bahasa, kemudian tulisan tersebut dibaca. Apa yang tejadi?. Mengarang berasal dari kata dasar karang yang menurut artinya adalah batuan yang tersusun dari partikel-partikel kecil dan menjadi karang, sedangkan mengarang artinya menyusun sesuatu menjadi arti tertentu yang dapat dilihat atau dinikmati. Berdasarkan pengertian ini maka dalam pelajaran bahasa khususnya bahasa Indonesia, mengarang berarti menyusun kata menjadi kalimat dan menyusun kalimat menjadi suatu tulisan yang dapat dinikmati oleh yang membaca atau yang mendengar dari orang yang membaca karangan tersebut. Karangan sendiri terdiri dari bermacam-macam bentuk berdasarkan maksud, tujuan, dan kegunaan suatu karangan. Salah satu bentuk karangan yang akan penulis angkat dalam karya tulis ini adalah karangan narasi. Karangan narasi adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak tanduk, perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu. Narasi berasal dari kata narration atau bercerita. Karangan narasi sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa yang baik dan mudah dipahami oleh yang membaca dan dimengerti oleh yang mendengarkan. Bagi yang membaca karangan narasi akan dapat menggunakan intonasi yang tepat sesuai dengan yang tertulis dan yang mendengar memahami maksud dan tujuan karangan yang dibacakan tersebut. Sehingga kesalahan berbahasa dalam karangan narasi akan sangan berpengaruh terhadap hasil, maksud, dan tujuan penulisan karangan tersebut. 2

Penulis melihat permasalah kesalahan berbahasa dalam karangan narasi di tingkat sekolah menengah pertama sangat besar, kesalahan yang dapat berakibat fatal jika tidak segera diperbaiki atau disadari, khususnya sebagai pendidik. Penulis mengamati pada pra penelitian, di tingkat SMP, kesalahan berbahasa yang terjadi adalah penggunaan kata yang tidak tepat, penggunaan tanda baca, penggunaan huruf dan sebagainya yang seharusnya tidak dipergunakan atau yang seharusnya dipergunakan tidak ditulis atau digunakan. Kesalahan berbahasa yang sederhana, akan mengubah arti dari tulisan tersebut, mengingat pentingnya kemampuan menulis atau mengarang maka dalam penelitian ini penulis harapkan mendapar mesukan yang berguna baik bagi penulis sendiri maupun bagi sekolah tempat penulis melakukan penelitian.

1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat di identifikasikan masalah sebagai berikut: 1) Minat mengarang khususnya mengarang narasi pada siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 masih rendah. 2) Kemampuan mengarang narasi pada siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 masih kurang. 3) Kesalahan berbahasa dalam karangan narasi pada siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 masih lemah.

4) Kemampuan mengarang narasi dan kesalahan berbahasa pada siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung tahun pelajaran 2008/2009 belum optimal. 1.3. Pembatasan Masalah Berdasarkan masalah dalam penulisan ini, penulis membatasi pada butir 3, yaitu analisis kesalahan berbahasa dalam karangan narasi pada siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/2010.

1.4. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi dan kesalahan berbahasanya?

1.5. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.5.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase kesalahan berbahasa dalam karangan narasi pada siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/2010. 1.5.2 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut:

1) Tambahan ilmu pengetahuan bagi siswa tentang kesalahan berbahasa dalam menulis karangan narasi. 2) Melatih siswa menulis karangan narasi yang benar menurut aturan mengarang yang baik dan benar. 3) Meningkatkan kemampuan mengarang narasi yang akan berguna bagi siswa untuk mengetahui kesalahan berbahasa, khususnya bahasa Indonesia. 4) Tambahan pengetahuan bagi guru untuk mengajarkan pada siswa pentingnya kemampuan mengarang narasi menurut aturan yang berlaku dalam menulis bahasa Indonesia. 5) Bahan masukan bagi pihak sekolah untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam menyusun rencana pendidikan dan pengajaran berikutnya.

1.6 1.6.1

Ruang Lingkup Penelitian Objek Penelitian

Objek yang diteliti adalah analisis kesalahan berbahasa dalam karangan narasi. 1.6.2 Subjek Penelitian

Kelas yang akan menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 25 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/2010. 1.6.3 Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tinjauan Pustaka

2.1.1 Berbahasa Keterampilan berbahasa atau language skill dalam kurikulum sekolah biasanya mencakup empat segi yaitu: a) keterampilan menyimak, b) keterampilan berbicara, c) keterampilan membaca, dan d) keterampilan menulis. (Silabus bahasa Indonesia SMP) Setiap keterampilan tersebut saling berkaitan dalam perkembangan anak didik untuk mencapai kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Dengan kemampuan berbahasa dalam hal ini menulis karangan yang baik akan memudahkan bagi siswa untuk menuangkan gagasan, pikiran dan ide-idenya dengan baik. Literatur bahasa yang ada menyatakan bahwa fungsi bahasa bagi setiap orang ada empat, yaitu: (1) sebagai alat/media komunikasi; (2) sebagai alat untuk ekspresi diri; 6

(3) sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial; (4) sebagai alat control sosial. (Keraf, dari L Finoza, 2003 ; 2).

Berdasarkan kenyataan ini maka berbahasa merupakan suatu cara atau tingkah laku manusia untuk menunjukkan jati diri, ekspresi, dan adaptasi sosial yang dapat dilakukan secara langsung (komunikasi) atau secara tertulis (kata, kalimat, atau karangan)

2.1.2 Berbahasa yang Baik dan Benar Bahasa sudah dapat dikatakan baik apabila dapat dimengerti oleh komunikasi kita dan ragamnya harus sesuai dengan situasi pada saat bahasa itu digunakan.(L. Finoza, 2003 : 11). Bahasa tulis ditandai dengan kecermatan menggunakan ejaan dan tanda baca (yang secara tepat dapat melambangkan intonasi), kosa kata, penggunaan tata bahasa dalam pembentukan kata, penyusunan kalimat, paragraf, dan wacana.(Widjono, 2005 : 18). Pendapat di atas menyatakan bahwa pentingnya berbahasa yang baik dan benar, dengan demikian siapapun yang akan membacanya dapat memahami maksud dari karya tulis atau karangan tersebut. Karangan yang dihasilkan tidak akan menimbulkan multi tafsir bagi yang membacanya dalam berbagai situasi dan tingkat pendidikan atau pengetahuan pembacanya.

2. 2 Karangan Narasi 2.2.1 Pengertian Mengarang

Karangan adalah karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Mengarang adalah pekerjaan merangkai kata, kalimat dan alinea dalam rangka menjabarkan atau mengulas topik dan tema tertentu untuk memperoleh hasil akhir berupa karangan. (Finoza, 2006 : 211). Pengertian lain dikemukakan oleh Martaya dan Sudiarti dalam Finoza (1997 : 77) menurut mereka mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Penulis karangan adalah kegiatan mewujudkan karangan yang utuh. (Suparno dan Yunus, 2004:3.38) Pendapat di atas, penulis menyimpulkan mengarang adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menuangkan gagasan atau ide seseorang dengan cara merangkai kata dalam bentuk tulisan untuk dapat dipahami pembaca. Setiap karangan yang ideal pada prinsipnya merupakan uraian yang lebih tinggi atau lebih luas dari alinea. Mengarang juga hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topik atau pokok bahasan. 2.2.2 Jenis-Jenis Karangan 8

Jenis-jenis karangan berdasarkan cara penyajian dan tujuan penyampaiannya, Menurut Finoza sebagai berikut : 1) 2) Karangan deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jelas melukiskan hakikat objek yang sebenarnya. Karangan narasi adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa dalam sebuah kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu. Karangan eksposisi adalah wacana yang bertujan untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu. Karangan argumentasi adalah karangan yang dibuat bertujuan untuk meyakinkan pembaca agar menerima atau mengambil suatu dokrin, sikap, dan ting-kah laku tertentu. Karangan persuasi adalah karangan yang bertujuan membuat pembaca percaya, yakin, dan terbujuk akan hal-hal yang memungkinkan berupa fakta, suatu pendirian umum, suatu pendapat/gagasan ataupun perasaan seseorang. Karangan campuran merupakan karangan yang isinya dapat berupa gabungan eksposisi dengan deskripsi, atau eksposisi dengan argumentasi. (Finoza, 2006 : 217)

3) 4) 5) 6)

Pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa penyajian karangan dapat disajikan dengan enam bentuk yang berbeda dalam cara penyajiannya. Perbedaan ini dapat dilihat berdasarkan jenis karangan narasi, karangan eksposisi, dan karangan persuasi sering ditemukan sebagai karangan yang utuh berdiri sendiri. Sedangkan karangan deskripsi dan argumentasi jarang ditemukan sebagai karangan yang utuh, biasanya karangan ini ada dalamjenis karangan tersebut sebelumnya. Hal ini disebabkan karena kedua bentuk karangan ini sering merupakan bagian karangan lain.

2.2.3. Karangan Narasi

Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur. Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Contoh narasi yang berisi fakta adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi yang berupa fiksi adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.

Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal tengah akhir. Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca. Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda. Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri. Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H. 10

1 2 3 4 5 6

(Where) Di mana seting/lokasi ceritanya, (Who) Siapa pelaku ceritanya, (What) Apa yang akan diceritakan, (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung, (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan. Tujuan Menulis Karangan Narasi

2.2.3

Tujuan menulis karangan narasi secara fundamental menurut Suparno dan Yunus, yaitu: )1 Hendak memberikan informasi atau memberi wawasan dan memperluas pengetahuan pembaca. )2 Hendak memberikan pengalaman etis kepada pembaca. (Suparno dan Yunus, 2004 : 4,49) Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa mengarang narasi bertujuan untuk memberikan informasi yang berisi tentang wawasan dan pengetahuan pembaca. Melalui karangan narasi juga dapat memberikan pengalaman estetis penulis kepada pembaca. Sehingga pembaca dapat memahami karangan yang dibuat penulis.

2. 3 Jenis-Jenis Karangan Narasi Lamuddin Finoza berpendapat bahwa menurut sifatnya karangan narasi ada dua jenis yaitu:

11

1)

Narasi ekspositoris/narasi faktual adalah narasi yang hanya bertujuan untuk memberi informasi kepada pembaca agar pengetahuannya bertambah luas. Contoh narasi ekspositoris adalah kisah perjalanan, otobiografi, kisah perampokan, dan cerita tentang pembunuhan.

2)

Narasi Sugesti/narasi berplot adalah narasi yang mampu menimbulkan daya khayal pembaca, mampu menyampaikan makna kepada pembaca melalui daya khayal.

3)

Contoh narasi sugestif adalah novel dan cerpen. (Finoza, 2006 : 222)

Menurut Gorys Keraf, perbedaan pokok antara narasi ekspositoris dengan narasi sugestif adalah: Narasi Ekspositori 1. Memperluas pengetahuan 2. Menyampaikan informasi mengeani suatu kejadian. 3. Didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan rasional. 4. Bahasa lebih condong ke bahasa informasi dengan titik berat dari pada penggunaan kata-kata denotative. Narasi Sugestif 1. Menyampaikan suatu makna atau sesuatu amanat yang tersirat. 2. Menimbulkan daya khayal 3. Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar. 4. Bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitik beratkan penggunaan kata-kata konotatif. (Gorys Keraf, 2007 : 138) Menurut Atar Semi (2003: 38 ) jenis-jenis karangan narasi meliputi: 1) Narasi Ekspositorik (Narasi Teknis)

12

Narasi Ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya, satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini atay sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositprik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsure sugestif atau bersifat objektif. Contoh karangan narasi Ekspositorik ADOPSI ANAK INDONESIA OLEH ORANG ASING, MENGAPA TIDAK Suryati Wianata Beberapa tahun yang lalu, di Bandara Halim Perdana Kusuma sekali sekali kelihatan sepasang suami istri yang jelas berkebangsaan asing, mendorong kereta bayi berisi seorang bayi berkulit sawo matang, yang jelas berbeda dari rupa pasangan orang tua -nya. pemandangan seperti ini kemudian menjadi langka dan lenyap sama sekali, setelah beberapa orang yang berpengaruh di kalangan pemerintahan mulai angkat bicara soal citra pribadi dan harga diri bangsa yang direndahkan melalui praktek adopsi anak Indonesia oleh orang asing. Orang-orang pun mulai menjadi sibuk memberikan penilaian yang cenderung senada dengan bicara bapak dan Ibu yang berpengaruh itu, dan ramai-ramai mulailah kita menentang 13

praktek-praktek adopsi seperti itu. namun, dari realita yang ada, kelihatannya adopsi anak di Indonesia oleh orang asing tidaklah seburuk yang dinilai oleh banyak orang. mengapa kita harus omong besar soal harga diri dan hal abstrak lainnya kalau dalam kenyataan belum ada kesejahteraan yang merata dan memadai disini, sedangkan jaminan sosial yang lebih baik menanti anak-anak yang malang itu disana ? dilain pihak, praktek ini jelas menunjang program pemerintah yang telah kewalahan menahan lajunya pertumbuahan penduduk. Bicara soal harga diri suatu bangsa memang bukanlah masalah yang sederhana. siapa pula yang mau dianggap kepribadian dan bermental penjual anak pada bangsa lain dan masalahnya menjadi semakin kompleks ketika pihak yang menetang praktek adopsi ini memandangnya sebagai salah satu bentuk ekspor komoditi non-migas yang memberi keuntungan bagi segelintir manusia yang tidak punya harga diri. Tetapi rasanya anggapan ini salah kaprah, dan bisa diluruskan asalkan ada penataan administrasi yang lebih bertanggung jawab . Sebuah survey dan studi perlu dilakukan untuk meneliti dampak sosial, budaya, dan psikologis dari praktek adopsi ini sebelum orang-orang keburu menilai yang jelek-jeknya saja. Oleh karena itu, kalau kita memang ingin konsekuen menjadi bangsa yang berkepribadian yang mandiri, mungkin praktek-praktek seperti pinjaman dari luar negeri, penanaman modal asing, studi keluar negeri dan segala bentuk hubungan serta produk yang berbau luar negeri lebih baik dijauhkan. Hal ini tentu saja mustahil. kalau kita mau jujur tentang keberadan bangsa dan negara kita, kita ini sebenarnya masih jauh sekali dari impian mejadi negara yang mandiri, yang sejahtera dan mampu tampil sebagai negara yang menetukan di dalam percaturan dunia. 14

Jadi, jangan malu-malulah menerima uluran tangan pihak asing yang secara tidak langsung memperbaiki taraf hidup sebagaian bocah-bocah kita yang dinegaranya sendiri sukar mempertahankan kelangsungan hidupnya. Apalagi jika uluran tangan tadi didasarkan pada rasa kasih sayang yang tulus untuk menyayangi buah hati yang berlainan ras ini, dan bukan hanya sekedar take and give ; mereka cuma take babies dan give money saja. Prosedur pengangkatan anak yang benar dan bertanggung jawab akan diulai dengan mendeteksi keberadaan calon orang tua angkat, untuk memperoleh data mengenai kemungkinan jaminan kehidupan dan tunjangan pendidikan yang layak bagi anak yang akan diadopsi itu. Keinginan dan kerinduan untuk memelihara dan menyayangi anak itu sendiri pun dapat pula dipakai sebagai pegangan bahwa anak itu tidak akan ditelantarkan, apa lagi jika kita lihat kegigihan calon orang tua memperjuangkan anak mereka selama ini. dengan kata lain, hari depan yang lebih cerah diajanjikan disana, dibandingkan jika anak-anak itu tetap tinggal disini. tentunya ini tidak berlaku bagi keluarga-keluarga yang mapan. Tetapi bagaimana dengan keluarga yang tidak mampu, yang broken home, anak-anak diluar nikah, serta ribuan anak lain yang tidak mempunyai jaminan masa depan yang cerah dinegeri sendiri? salahkah jika ada pihak asing yang denan tulus bersedia mengasuh mereka? Adopsi anak Indonesia oleh orang asing seperti ini bukanlah pelarian tanggung jawab sosial di negara kita. Hal ini sebaiknya dipandang sebagai salah satu alternatif pemecahan-pemecahan masalah-masalah besar yang kita hadapi, seperti peledakan jumlah penduduk, peningkatan kesejahteraan keluarga yang tidak mampu, serta perluasan kesempatan bagi sebagian anak

15

2)

Narasi Sugestif

Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat atau berada didalam kejadian itu. Penggunaan bahasa dan gaya bahasa sangat besar pengaruhnya agar pembaca dapat terbawa dalam pengalaman penulisnya. Contoh Karangan Narasi Sugestif Mbok Inah Cerpen Elmas.Dienal Ha2 Adwijaya SMAN I GARUT Mbok Inah adalah pembantu rumah tangga kami. Kami sekeluarga sangat menyayanginya. Mbok inah sudah seperti saudara bagi kami karena dia sudah lebih dari dua puluh tahun tinggal bersama kami.bagi saya sendiri, mbok inah sudah seperti ibu, dilah yang mengurus saya sejak kecil. Selama ini, tidak ada masalah dengan mbok inah, sampai pada suatu waktu terjadilah sebuah peristiwa. Mbok Inah menangis tersedu-sedu setelah aku pulang dari sekolah. Aku merasa kaget melihat hal itu. Mbok,kenapa nangis ada apa sich? tanyaku. Mbok Inah tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil tetap menangis tersedu-sedu.

16

Mbok, apa sebenarnya yang terjadi ? tanyaku kembali. Mbok Inah berhenti sesaat. Di pandangnya wajahku dalam-dalam. enggak ada apa-apa, Den, jawabnya perlahan-lahan. Aku tak percaya. Tidak mungkin kalau tidak ada masalah, Mbok Inah akan menangis akan menangis. Selama ini, kami melihat Mbok Inah sebagai sosok yang periang,suka humor, bahkan penuh optimis. Selama bekerja pada keluarga kami, saya tak pernah mendengar Mbok Inah mengelu. Semua situasi dihadapinya dengan tabah. Akh, yang bener Mbok. Saya tahu benar Mbok. Bagi saya Mbok sudah seperti ibu. Oleh karena itu apa yang Mbok rasakan, dapat saya rasakan, kataku sambil memeluk Mbok Inah. Merasa dirinya dipeluk Mbok Inah bukanya diam.tangisanya makin menjadi. Dan tak terasa air mataku juga ikut meleleh. Mbok, ada apa? Katakan padaku! kataku sambil merengek. Mbok Inah berusaha menghentikan tangisannya. Eh anu Den, Mbok akan berhenti bekerja. Mbok akan pulang kampung! Saat itu saya merasa terkejut seperti ada petir di siang bolong. Mbok, apa yang Mbok katakana? Mengapa Mbok pulang kampong? Mbok tidak betah lagi tinggal di rumah ini ? tanyaku beruntun. Sejenak Mbok Inah terdiam. Tapi akhirnya dia berkata juga, 17

Mbok tidak enak, karena tadi pagi tuan dan nyonya bertengkar. Mereka bertengkar saat Aden sekolah. Katanya, nyonya kehilangan perhiasan. Nyonya menuduh tuan telah menjualnya untuk diberikan kepada teman selingkuhannya. Nyonya menuduh tuan. Sedangkan tuan tidak merasa mengambilnya, Lalu apa hubungannya dengan Mbok Inah? tanyaku tak mengerti. Mbok Inah diam sejenak. Tiba-tiba air matanya kembali merembes melalui sela-sela mata. Anu, Den Mbok Inah yang mengambil perhiasan tersebut ! Jawabnya terbata-bata. Pengakuan Mbok Inah ini lebih mengejutkan lagi. Saya sama sekali tidak mempercayainya walaupun keluar dari mulut Mbok Inah. Selama ini, Mbok Inah orang yang sangat jujur. Mbok Inah tidak pernah melakukan kecurangan, apalagi mencuri. Mbok Inah sangat tekun beribadah. Berapa gram, Mbok ? Lima gram ? Hanya lima gram? Untuk apa Mbok melakukan semua itu ? Mbok Inah diam lagi. Kemudian dipandangnya wajahku dalam-dalam. Lalu merunduk kembali sambil berkata perlahan. Mbok melakukan untuk menolong si Inem, pembantu rumah sebelah. Kemarin Inem datang kesini. Inem menangis, kata dia sering disiksa oleh

18

tuannya, bahkan sering disulut oleh roko, dan bahkan disetrika. Dia mau kabur tapi dia tak punya uang. Dia minjem kepada Mbok, tapi tak ada, Mbok Inah diam sebentar. Lalu melanjutkan pembicaraannya. Karena kasihan, Mbok mencari uang ke laci kaca hias Nyonya. Tapi tak ada. Tiba-tiba Mbok melihat cincin Nyonya tergeletak di atas meja. Tak pikir panjang Mbok mengambilnya dan menyerahkannya kepada si Inem untuk dijual agar dia bisa pulang, Aku terenyuh mendengar kata-kata Mbok Inah. Ternyata Mbok Inah melakukan semuanya untuk menolong orang lain. Secara spontan aku memeluk kembali Mbok Inah kuat-kuat, lalu menciumnya. Mbok Inah tanpak heran. Mbok, ternyata Mbok berhati mulia. Aku bangga diasuh dan dibesarkan oleh Mbok. Jangan menyesali perbuatan yang sudah dilakukan, Aku punya tabungan Mbok,kita beli lagi cincin itu, ke toko mana si Inem menjualnya ? katanya ke toko Mustika ! Aku dan Mbok Inah pergi ke toko Mustika, tak lama, cincin itu masih ada. Aku membelinya kembali. Mbok Inah terlihat gembira, Mbok, jangan pulang ya ? kataku sambil tersenyum, kulihat mata Mbok Inah berkca-kaca.

Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa pokok-pokok perbedaan seperti yang dikemukakan di atas merupakan garis yang ekstrim antara narasi ekspo-

19

sitoris dan narasi sugestif antara kedua ekstrim itu masih terdapat percampuran-percampuran, dari narasi ekspositoris yang murni berangsur-angsur mengandung ciri-ciri narasi sugestif yang semakin meningkat hingga ke narasi sugestif yang murni. 2.3.1 Langkah-langkah Menulis Karangan Narasi Langkah-langkah praktis mengembangkan karangan narasi, menurut Suparno dan Yunus yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan. Tetapkan sasaran pembaca kita. Siapa yang akan membaca karangan kita, orang dewasa, remaja ataukah anak-anak? Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur, kejadian-kejadian apa yang akan dimunculkan?. Apakah kejadian-kejadian yang disajikan itu penting?. Adakah kejadian penting yang belum ditampilkan? Bagi peristiwa utama ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita. Peristiwa-peristiwa apa saja yang cocok untuk setiap bagian cerita?. Apakah peristiwa-peristiwa itu telah tersusun secara logis dan wajar? Susunan tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang. (Suparno dan Yunus, 2004 : 4,45)

Menurut Atar Semi (2003: 37 ) langkah-langkah menulis karangan narasi yaitu 1) 2) 3) 4) 5) 6) Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan Tetapkan sasaran pembaca kita Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita Rincian peristia-peristiwa uatama ke dalam detail-detail peristiwasebagai pendukung cerita Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang

Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa dalam mengarang narasi agar memperhatikan langkah-langkah dalam mengembangkan karangan narasi, sebab 20

karangan narasi yang dibuat dengan sistematis dan sesuai dapat dipahami oleh pembaca dan memahami suasana dan situasi cerita itu dibuat. 2.3.2 Prinsip-Prinsip Narasi Menurut Suparno dan Yunus prinsip-prinsip narasi antara lain: 1) Alur (Plot), yaitu jalan cerita sebuah kejadian yang ada sebab dan alasannya. Alur dalam narasi memang sulit dicari. Alur bersembunyi dibalik jalannya cerita. Alur sering dikupas menjadi elemen-elemen sebagai berikut:(a) Pengenalan, (b) Timbulnya konflik, (c) Konflik, (c) Konflik memuncak, (d) Klimaks, dan (e) Pemecahan masalah. 2) Penokohan, ciri khas narasi adalah mengisahkan tokoh cerita bergerak dalam suatu rangkaian perbuatan atau mengisahkan tokoh cerita terlibat dalam suatu peristiwa dan kejadian. 3) 4) Latar (Setting), adalah tempat dan waktu terjadinya perbuatan tokoh atau peristiwa yang dialami tokoh. Sudut pandang (Point of view), sudut pandang dalam narasi menjawab pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah ini. Kedudukan pencerita (narrator) dalam cerita secara pokok ada empat macam yaitu: (a) narator serba tahu (omniscient point of view), (b) narrator betindak objektif (objective point of view), (c) narrator (ikut) aktif (narrato acting), (d) narrator sebagai peninjau. Pemilihan detail peristiwa, salah satu ciri khas karangan narasi jika dibandingkan dengan karangan yang lain adalah organisasi detail-detail ke dalam urutan ruang waktu yang menyarankan adanya bagian awal, tengah, dan akhir cerita. (Suparno dan Yunus, 2004 : 4,35)

5)

Karangan Narasi menurut Keraf (2000:136) 1. Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan. 2. Dirangkai dalam urutan waktu. 3. Berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi? 4. Ada konfiks.

21

Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronlogis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut: 1 2 3 4 5 Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis. Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar- benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya. Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik. Memiliki nilai estetika. Menekankan susunan secara kronologis.

Ciri yang dikemikakan Keraf memiliki persamaan dengan Atar Semi, bahwa narasi memiliki ciri berisi suatu cerita, menekankan susunan kronologis atau dari waktu ke waktu dan memiliki konfiks. Perbedaannya, Keraf lebih memilih ciri yang menonjolkan pelaku secara tegas atau penonjolan tokoh utama lebih ditekankan secara mendalam dan tegas.

2.3.3. Tujuan menulis karangan narasi secara fundamental Tujuan menulis karangan narasi secara fundamental menurut Atar Semi (2003: 34 ) yaitu: 1. Hendak memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan, 2. Memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.

22

Karangan narasi secara fundamental bertujuan menonjolkan situasi tokoh atau situasi, sehingga pembaca seolah-olah berada dalam situasi cerita atau memahami informasi yang disampaikan dalam karangan tersebut. Karangan narasi bentuk ini lebih banyak menggambarkan hal yang ada dengan penekanan bahasa propokatif, dalah hal ini penegasan dengan maksud agar pembaca dapat memahami informasi yang didapatnya dengan jelas dan tegas. 2.3.4 Contoh Karangan Narasi 1. Karangan narasi berupa fakta: Ir. Soekarno Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Ia memimpin PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menantang penjajah. Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal I Juni 1945. Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949. Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara bagi negara-negara nonblok

23

pada Konfrensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang. 2. Karangan narasi berupa fiksi Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa. Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga? Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya

2.4

Fokus Penelitian

Masalah yang sering terjadi adalah analisis kesalahan berbahasa dalam karangan narasi pada siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/ 2010, kesalahan berbahasa dalam penulisan karangan narasi sering terjadi karena banyak hal seperti kurangnya pemahaman jenis karangan, sedikitnya pelatihan penulisan karangan jenis narasi, dan sebagainya.

24

Penelitian ini penulis memfokuskan penelitian pada kesalahan berbahasa dalam karangan narasi pada siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/ 2010.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Metode Penelitian

Metode merupakan cara yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian, sehingga yang dimaksud dengan metode adalah : Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis.

25

Berdasarkan pokok permasalahan yang penulis ambil, maka dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, karena data yang diperoleh lalu dianalisis dan dideskripsikan berdasarkan kenyataan yang didapat pada saat pengumpulan data. Penulis juga mengacu pada pengertian metode deskriptip kuantitatif adalah metode yang menggambarkan dengan kata-kata menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Sedangkan yang dimaksud dengan metode deskriptip sendiri adalah : Suatu metode dalam meneliti suatu kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan, secara sistematis, faktual (nyata) dan akurat (teliti) mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

3.2 Variabel Penelitian Pengertian dari veriabel adalah, Gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam jenisnya maupun dalam tingkatannya. Variabel di dalam penelitian ini hanya satu yaitu kesalahan berbahasa dalam karangan narasi. 3.2.1 Defenisi Oprasional Variabel Defenisi oprasional variabel perlu dirumuskan untuk keperluan pengukuran variabel dalam penelitian ini. Defenisi oprasional variabel penelitian ini adalah sebagai berikut: Kesalahan berbahasa dalam hal ini adalah memahami kesalahan berbahasa siswa

26

dalam mengarang narasi guna meningkatkan kemampuan pemahaman kesalahan berbahasa dalam karangan narasi pada siswa. 3.2.2 Rencana Pengukuran Variabel Pengukuran variabel penelitian di dalam penelitian ini adalah dengan memberikan tugas mengarang narasi, dengan mempertimbangkan unsur-unsur penilaian yakni: a) pemahaman penulisan karangan narasi; b) menentukan cara-cara menulis karangan yang benar; c) tata bahasa dan pola kalimat atau diksi; d) ketepatan penggunaan unsur EYD dalam soal uraian; e) struktur kalimat dalam tata bahasa Indonesia. Tiap indikator diberi skor 20, sehingga rentang skor berada antara 0 100. Penelitian ini berlaku untuk penilaian sebelum diberi pemahaman tentang unsur intrinsik maupun sesudah diberikan pemahaman unsur intrinsik pada siswa. 3.2 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling

3.3.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 219 siswa. Sebaran populasi pada tiap kelas tergambar pada tabel di bawah ini:

Tabel 1 : Daftar Jumlah Siswa Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 25 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2009/2010 NO 1 2 Kelas VII A VII B Pembagian siswa Laki-Laki 13 11 27 Perempuan 17 21 Jumlah 30 32

3 4 5 6 7

VII C VII D VII E VII F VII G TOTAL

16 18 14 19 14 105

14 13 18 13 18 114

30 31 32 32 32 219

Sumber: Data SMP Negeri 25 Bandar Lampung Jadi, berdasarkan tabel 1 di atas, jumlah populasi penelitian ini adalah 219 orang siswa, terdiri dari 105 orang siswa dan 114 orang siswi.

3.3.2. Sampel Menurut Arikunto (1989: 104) yang dimaksud dengan sample adalah, Sebagian atau wakil-wakil populasi yang diteliti. Penentuan jumlah sample penelitian ini mengacu pada pendapat Arikunto (1989: 94) yang mengatakan bahwa, Untuk ancerancer jika populasi kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, jika subjeknya lebih dari 100 diambil antara 10% -15% atau 20%-25%. Sampel dalam penelitian ini penulis tetapkan sebesar 12%, jadi jumlahnya = 12% x 250 = 30 siswa. 3.3.3 Teknik Sampling Teknik sampling yang digunakan di dalam penelitian ini adalah teknik Stratifed Proporsional Random Sampling, digunakan teknik tersebut karena populasi penelitian bersifat heterogen, yakni kemampuan antar siswa yang berbeda.

28

Langkah-langkah yang dilakukan dalam teknik Stratifed Proporsional Random Sampling adalah sebagai berikut: 1) Hasil skor siswa dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu, kelompok tinggi, kelompok sedang, dan kelompok rendah. Strata Prestasi Tinggi Sedang Rendah 2) Jumlah 68 120 63 Perbandingan 74 : 250 = 0,27 132 : 250 = 0,48 69 : 250 = 0,25

Berdasarkan perhitungan di atas, kemudian ditetapkan sample sebagai berikut: Kelompok tinggi Kelompok sedang Kelompok rendah 0,27 x 30 = 8 siswa 0,48 x 30 = 14 siswa 0,25 x 30 = 8 siswa

3)

Kemudian sampel tersebut dirandom berdasarkan kelompoknya masing-masing, Kelompok tinggi 8 siswa dirandom dari 68 siswa Kelompok sedang 14 siswa dirandom dari 120 siswa Kelompok rendah 8 siswa dirandom dari 63 siswa

3.4. Teknik Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data penelitian ini digunakan teknik-teknik : 3.4.1. Teknik Pokok Teknik pokok yang digunakan adalah teknik tes tertulis, dengan cara menugasi siswa

29

membuat karangan narasi dengan melihat pemahaman menulis karangan narasi pada siswa kelas VII SMP Negeri 25 Bandar Lampung. 3.4.2. Teknik Pelengkap Untuk melengkapi data yang diperlukan dalam hal keadaan sekolah, jumlah guru, keadaan ruang, siswa, serta fasilitas lainnya, maka digunakan teknik observasi, serta wawancara dengan pihak-pihak yang berwenang sesuai bidangnya masing-masing. 3.4.1. Teknik Observasi Teknik observasi ini dilakukan untuk mengamati kegiatan belajar mengajar di sekolah penelitian untuk mendapatkan data secara real dalam menunjang penelitian ini. Observasi dilakukan kepada siswa, guru, dan segala hal yang menunjang penelitian.

3.4.2. Teknik Kepustakaan Teknik kepustakaan ini digunakan untuk mengkaji teori-teori yang mendukung penelitian ini, agar penelitian ini mencapai tujuan yang diharapkan. Teori didapatkan dari para ahli yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini. 3.4.3. Teknik Dokumentasi Teknik ini dipergunakan untuk memperoleh data seperti: mengetahui keadaan siswa, data jumlah siswa, tingkan kemampuan atau daya serap siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia, kesesuaian guru dalam mengajar matapelajaran yang dikuasainya, dan sarana prasarana yang mendukung berlangsungnya penelitian dan pengajaran. 30

3.5. Analisis Instrumen Penelitian Mengingat pentingnya kedudukan dan peranan instrumen dalam penelitian, maka instrumen haruslah dipersiapkan agar dinyatakan layak dipergunakan dan tujuan dalam penelitian dapat tercapai. Untuk mencapai hal itu maka instrumen penelitian yang akan digunakan tersebut haruslah melalui kegiatan uji coba instrumen penelitian. Jadi instrumen yang berupa tes yang dipersiapkan sebelum diberikan kepada sample terlebih dahulu diujicobakan pada siswa di luar sampel.

3.6. Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul kemudian penulis melakukan penganalisisan data dengan menganalisis tingkat kesalahan yang dilakukan siswa dalam menentukan berita dari wacana yang disediakan. Hal-hal yang dianalisis adalah kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam menentukan informasi-informasi dan tema pokok dalam wacana yang tersedia dan dijadikan bahan penelitian. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut: 1) 2) Mengumpulkan data dari sample yang telah ditetapkan, Mengklasifikasikan dan mengidentifikasikan kesalahan yang dilakukan siswa atau sample, 3) Mengklasifikasikan dan mengidentifikasikan keunggulan yang dilakukan oleh siswa atau sample, 4) Menghitung persentase jawaban benar dengan rumus persentae sebagai berikut: 31

p=

F x 1 00 % N

Keterangan: P = Persentase F = Jumlah jawaban benar N = Nilai maksimal 5) Hasil perhitungan data di atas kemudian dikonsultasikan dengan kriteria tingkat kemampuan berdasarkan kriteria sebagai berikut:

Tabel 2 KRITERIA TINGKAT KEMAMPUAN HASIL BELAJAR PERSENTASE NILAI MUTU PENGUASAAN 86 A 4 74 - 85 B 3 63 - 73 C 2 50 - 61 D 1 < 50 E 0 Sumber: Effendi Sanusi (1998 : 119) TINGKAT KEMAMPUAN Sangat Baik Baik Sedang Kurang Sangat Kurang

32