Anda di halaman 1dari 25

BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kerangka Teoritik 1. Pendekatan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) a. Pengertian Pendekatan Pembelaajaran (CTL) Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan yang telah lama berkembang di negara-negara maju dengan nama yang beragam. Seperti halnya di Amerika yang disebut dengan CTL Contextual Teachuig and Learning yang intinya membantu guru untuk mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi peserta didik untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari mereka.1 Berikut diungkapkan kembali beberapa pengertian pembelajaran kontekstual menurut beberapa ahli pendidikan. Johonson, mengartikan pembelajaran kontekstual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya.2 Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Gelar Dwirahayu menurutnya, sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.3
1 2 3

Kunandar, Guru Profesional, (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 2008). h. 295 Ibid., h. 295

Gelar Dwirahayu, Penetapan Contextual Teachung and Learning dalam pembelajaran Matematika di Madrasah, dalam Gelar Dwirahayu, Munasprianto Ramli, (ed), Pendekatan Baru dalam Proses Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar,, (Jakarta: IAIN Indonesia Social Equity Project, 2007). Cet. I. h. 89

Kunandar mengartikan Contextual Teaching and Learning adalah konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan kehidupan mereka seharihari.4 Lebih dikembangkan kembali oleh Junaedi yang menyatakan Contextual Teaching and Learning adalah salah satu bentuk pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.5 Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning merupakan bentuk pembelajaran yang dapat mengaitkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan peserta didik sehari-hari, dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya yang dapat menghadirkan pengalaman belajar pada siswa, sehingga mendorong peserta didik untuk dapat

menerapkannya dalam kehidupan mereka. Dari pengalaman tersebut, siswa diharapkan dapat memahami materi pelajaran, dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Pembelajaran kontekstual akan mendorong kearah belajar aktif.

Sebagaimana yang diungkapkan Confusius kira-kira 2.400 tahun yang lalu, ia mengungkapkan teori sebagai berikut, Apa yang saya dengar saya lupa; apa yang saya lihat saya ingat, apa yang saya kerjakan saya paham.6 Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL merupakan pembelajaran yang menuntut siswa-siswi untuk aktif mencari pengetahuannya berdasarkan pengalaman-

4 5

Kunandar, Guru Profesional, Op.cit.,h. 296.

Junaedi, dkk, Strategi Pembelajaran, (Learning Assistance Program For Islamic Schools LAPIS, 2008). h. 13-10 6 Kunandar, Op.cit., h. 294

pengtalaman yang dialaminya dalam situasi kehidupan sehari-harinya. Bukan sekedar mendengar atau melihat informasi mengenai materi pelajaran, tetapi peserta didik juga diajak untuk terlibat mencari pengetahuannya sendiri agar siswa dapat lebih paham mengenai hal yang sedang dipelajarinya. b. Landasan Pendekatan Pembelajaran CTL Landasan pendekatan pembelajaran CTL dipengaruhi oleh: landasan filosofis dan psikologis. Pada landasan filosofis dari implementasi pendekatan pembelajaran CTL sangat dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan kemudian dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran konstrutifisme mengemukakan pengetahuan merupakan struktur konsep dari subjek yang mengamati.7 Maksudnya pengetahuan merupakan suatu konsep fikiran yang dimiliki oleh subjek/seseorang dari hasil pengamatan yang dilakukan dalam waktu tertentu dan menghasilkan suatu pemahaman. Dari sanalah filsafat konstruktivisme mengembangkan pandangannya tentang hakikat pengetahuan mempengaruhi konsep proses belajar, bahwa belajar bukanlah sekedar menghafal, tetapi proses mengkonstruksi pengetaahuan melalui pengalaman.8 Kemudian dijelaskan kembali bahwa pengetahuan bukan hasil pemberian dari orang seperti guru, tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari pemberitahuan bukan menjadi pengalaman yang bermakna.9 Berdasarkan pandangan ini dapat dikatakan bahwa pengetahuan dihasilkan dari pengalaman setiap individu, bukanlah berdasarkan pemberian dari seseorang. Pengetahuan hasil dari pemberian orang lain bisa jadi masih diragukan oleh pembelajar, dan tidak akan dijadikan sebagai sesuatu yang bermakna. Berangkat dari pemahamai ini, maka untuk menjelaskan suatu konsep yang dianggap baru bagi peserta didik, pengajar dapat memberikan pengalamanpengalaman yang bermakna. Peserta didik diarahkan untuk mencari sendiri pengetahuannya melalui pengalaman dan peran aktifnya dalam proses
7 8

Junaidi, Op.cit., h. 13-11 Ibid., h.13-11 9 Ibid., h. 13-13

pembelajaran. Sehingga pengetahuan akan dapat lebih bermakna dan bertahan lama dalam benaknya. Sesuai dengan filsafat yang melandasinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peranan aktif subjek. Peranan aktif ini dapat dipandang dari sudut psikologis. CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Dalam buku yang ditulis oleh Junaedi, dkk aliran psikologis, menyatakan bahwa: Proses belajar terjadi karena pemahaman individu mengenai lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak pada dasarnya adalah wujud dari dorongan yang berkembang dalam diri seseorang. Sebagai peristiwa mental prilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu. Sebab manusia memiliki kebutuhan kebutuhan yang melekat dalam dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berprilaku.10 Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, terdapat beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam pembelajaran kontekstual.11 1. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi memproses mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki, oleh karena itulah, semakin banyak poengalaman, semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh. 2. Belajar bukan sekedar mengumplkan fakta yang lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami dengan pengetahuan yang dimiliki atau berpengaruh pada pola-pola prilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan permasalahan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, semakin efektif dalam berfikir. 3. Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya berkembang intelektualnya akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi setiap persoalan.

10 11

Ibid.,h.13-12 Ibid.

10

4. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu, belajar tidak dapat dilakukan sekalicgus, akan tetapi sesuai irama kemampuan peserta didik. 5. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh katena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (real word learning). Landasan yang tidak kalah pentingnya dari kedua landasan di atas adalah landasan yuridis. Landasan yuridis berkaitan erat dengan berbagai kebijakan dan peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran di SD/MI. Landasan yuridis tersebut adalah Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Undang-Undang ini menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.12 Pernyataan ini menjelaskan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Sementara itu, Undang-undang No. 20 tahun 2003 Bab X tentang kurikulum, menyatakan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.13 Pernyataan ini memberikan peluang kepada setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum pembelajaran yang sesuai dengan potensi dan tahapan perkembangan siswa. Atas dasar pertimbangan itu, pemerintah melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menetapkan bahwa: Pembelajaran di tingkat SD/MI harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi

Sugiyar, dkk, PembelajaranTematik,(Learning Assesteance Program for Islamic Schools: PGMI, 2009). h. 2-9 13 UU RI No.20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta, Depdiknas Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, 2003), hal. 13

12

11

prakarsa, kreaktivitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.14 Hal ini amat sejalan dengan karakteristik pembelajaran kontekstual yang ditulis oleh The Northwest Regional Education labolatory USE dalam buku yang ditulis Kunandar tahun 2007, menyatakan bahwa: Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar. Isi pembelajaran harus dikaitkan denegan standar lokal, provinsi, nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dunia kerja.15 Berdasarkan pernyataan di atas jelaslah bahwa pendekatan pembelajaran Contextual Teachung and Learning merupakan pembelajaran yang dilaksanakan sesuai KTSP. Pada pendekatan ini, pembelajaran dilakukan sesuai dengan pengalaman peserta didik ketika dilingkungannya, potensi yang dimiliki masingmasing daerah sangatlah mendukung dalam keberhasilam proses pembelajaran menggunakan pendekatan CTL. c. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Sebagaimana pendekatan pembelajaran yang lain, pendekatan

pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki karakteristik. Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunkan pendekatan CTL menurut Wina Sanjaya, sebagai berikut:16 1. Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting knowledege). 2. Pelajatran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquring knowledge). 3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan nyang diperoleh buka untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini. 4. Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applyng knowladge), artinya pengetahuan dan engalaman yang diperolehnya harus dapat

Depdiknas Badan Standar Nasional Pendidikan tentang Standar Proses, h.6 Kunandar, GuruProfesional, Op.cit., h. 298 16 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), cet. 8., h. 256.
15

14

12

diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan prilaku siswa. 5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi. The Northwest Regional Education labolatory USE (dalam Kunandar, 2007) juga mengidentifikasikan karakteristik pembelajaran kontekstual menjadi enam komponen, sebagai berikut:17 1) Pembelajaran bermakna; pembelajaran relefansi, penilaian pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasakan terkait dengan kehidupannyata atau siswa

mengetahui manfaat isi pembelajaran. 2) Penerapan pengetahuan yaitu kemampuan siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kegidupan dan fungsi di masa sekarang atau di di masa yang akan datang. 3) Berpikir tingkat tinggi, yaitu siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berfikir kritis dan berikir kreatifnya dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu, dan pemecahan suatu masalah. 4) Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar. Isi pembelajaran harus dikaitkan denegan standar lokal, provinsi, nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dunia kerja. 5) Responsif terhadap budaya, yaitu guru harus memahami dan menghargai nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, teman, pendidikan, dan masyarakat tempat ia mendidik. Ragam individu dan budaya suatu kelompok serta hubungan antara budaya tersebut akan mempengaruhi pembelajaran dan sekaligus akan berpengaruh terhadap cara mengajar guru. 6) Penilaian autentik: penggunaan berbagai strategi penilaian, misalnnya penilaian proyek/tugas berstruktur, kegiatan siswa, penggunaan portofolio, rubric, daftar cek, pedoman observasi, dan sebagainnya.
17

Ibid., h. 297-298

13

Adapun beberapa karakteristik dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson, yang dapat di uraikan sebagai berikut:18 1) Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections) 2) Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works) 3) Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning) 4) Bekerjasama (collaborating) 5) Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking) 6) Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual) 7) Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards) 8) Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment) Berdasarkan karakteristik pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning diatas, dapat dikatakan bahwa, pembelajaran CTL merupakan pendekatan yang mengajak siswa belajar untuk dapat diterapkan dalam kehidupan siswa sehari-hari, sehingga pelajaran dapat lebih bermakna. Selain itu pembelajaran dengan pendekatan CTL dapat membimbing siswa untuk berpikir ketingkat tinggi terhadap masalah yang dihadapinya baik dibidang sosial atau budya. Pendekatan ini juga menjadikan pendidik dapat lebih leluasa untuk menilai segala aspek yang dicapai siswa, baik dari segi kofnitif, afektif, dan psikomotorik. Dari karakteristi pendekatan ini, selanjutnya dapat diungkap ciri dari pendekatan Contextal Teaching and Learning. d. Ciri-Ciri Pembelajaran Contekstual Teaching and Learning(CTL) Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Adapun ciri pembelajaran yang direncanakan tersebut adalah sebagai berikut:19 1) Kerjasama. 2) Saling menunjang.
Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah, Pembelajaran Berbasis Paikem, Derektorat Tenaga Kependidikan, 2010 h.27-29 19 Ibid. h.26
18

14

3) Menyenangkan, tidak membosankan. 4) Belajar dengan bergairah. 5) Pembelajaran terintegrasi. 6) Menggunakan berbagai sumber. 7) Siswa aktif. 8) Sharing dengan teman. 9) Siswa kritis guru kreatif. 10) Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain. 11) Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain. Sejalan dengan hal diatas, Kunandar juga mengutarakan ciri pembelajaran CTL antara lain:20 1) Adanya kerjasama antara seluruh pihak 2) Menekankan pentingnya pemecahan masalah atau problem 3) Bermuara pada keragaman konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda 4) Saling menunjang 5) Menyenangkan, tidak membosankan 6) Belajar dengan bergairah 7) Pembelajaran terintegrasi 8) Menggunakan berbagai sumber 9) Siswa aktif 10) Sharing dengan teman 11) Siswa kritis, guru kreatif 12) Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan kasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan sebagainya 13) Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya e. Penerapan Pembelajaran CTL Contextual Teaching and Learning dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:21 1) Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. 2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. 3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
20 21

Kunandar, GuruProfesional, Op.cit., h. 298-299 Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah, Op.cit.,h. 26

15

4) 5) 6) 7)

Ciptakan masyarakat belajar. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara. Agar dapat mengimplementasikan langkah-langkah umun pembelajaran

CTL diatas dengan baik, guru perlu melaksanakan hal-hal sebagai berikut:22 1) Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa. Artinya, isi kurikulum dalam metodologi yang digunakan untuk mengajar harus dilandaskan pada kondisi sosial, emisional, dan karakteristik intelektual siswa. 2) Membentuk grup belajar yang saling tergantung (interdependent learning groups). 3) Menyediakan lingkungan yang mendorong pembelajaran mandiri (self regulated learning) 4) Mempertimbangkan keragaman siswa (diversity of student). 5) Memperhatikan multi intelegensia (multiple intelligences) siswa. Artinya, dalam pembelajaran kontekstual guru harus peperhatikan kebutuhan dan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa yang meliputi; kecerdasan verbal linguistik, logis matematis, visual spiritual, kinestetik, fisik, intra pribadi, antar pribadi, dan naturalis. 6) Menggunakan tehnik-tehnik bertanya (Questioning) untuk meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Agar pembelajaran kontekstual mencapai tujuannya, maka jenis dan tingkat pertanyaan yang terdapat harus diungkap/ditanyakan. Pertanyaan harus secara hati-hati direncanakan untuk menghasilkan tingkat berpikir, tanggapan, dan tindakan yang diperlukan siswa dan seluruh peserta dalam proses pembelajaran kontekstual. 7) Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment). Penilaian autentik untuk mengevaluasi penerapan pengetahuan dan berpikir kompleks siswa.

22

Kunandar, GuruProfesional, Op.cit., h. 303-305

16

Pelaksanaan

pembalajaran

merupakan

implementasi

dari

RPP.

Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, an kegiatan penutp. Untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan CTL guru dapat melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti dibawah ini:23 1) Pendahuluan a) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pembelajaran yang akan dipelajari b) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL - Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa - Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan obseervasi - Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan dilapangan c) Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa 2) Inti Di lapangan a) Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tuhas kelompok b) Siswa mencatat hal-hal yang mereka tamukan dipasar sesuai dengan alat observasi yang telah mereka lakukan sebelumnya Di dalam kelas a) Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing b) Siswa melaporkan hasil diskusinya c) Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain 3) Penutup a) Dengan bantuan guru siswa menyiapkan hasil observasi sekitar masalah pasar sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai b) Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka dengan tema pelajaran hari itu f. Komponen Utama Kontekstual Ada tujuh komponen utama pembelajatan yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual (CTL) di kelas, yaitu sebagai berikut:24

Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana Prenda Media Group, 2008), cet. 4, h.124-125 24 Ibid., h. 305-317

23

17

1) Konstruktivisme Dalam proses pembelajaran siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Dalam pandangan konstruktivisme strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. 2) Menemukan ( Inquiry) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual yang berpendapat bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Berikut langkah-langkah pembelajaran inkuiri: a) Merumuskan masalah b) Mengumpulkan data melalui observasi atau pengamatan c) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, table, dan karya lainnya d) Mengomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audience lainnya e) Mengevaluasi hasil temuan bersama 3) Bertanya (Questioning) Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis kontekstual. Dalam aktivitas belajar, kegiatan bertanya dapat diterapkan: antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain dan sebagainya. Kegiatan bertanya dalam pembelajaran berguna untuk: menggali informasi, baik administrasi maupun akademis; mengecek pemahaman siswa; memecahkan persoalan yang dihadapi; membangkitkan respon kepada siswa; mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa; mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; menfokuskan perhatian siswa kepada sesuatu yang dikehendaki guru; membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

18

4) Masyarakat Belajar (Learning Community) Dalam kelas kontestual, hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, natar kelompok, dan antar yang sudah tahu ke yang belum bahu. Guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar dengan siswa yang dibagi dalam kelompok-kelompok homogen. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang telibat dalam kegiatan masyarakat belajar member informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Setiap pihak harus merasa bahwa semua orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan berbeda yang perlu dipelajari. 5) Pemodelan (Modeling) Pemodelan artinya dalam sebuah pemebelajaran keterampilan atau

pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Dengan kata lain, model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melakukan suatu kegiatan, contoh karya tulis, dan sebagainya. Dengan begitu, guru memberi model tentang bagaiman cara belajar. 6) Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa lalu. Kegiatan refleksi ini dimaksudkan untuk dapat mengukur sejauh mana pemahaman materi yang disampaikan hari ini. Perwujudan dari refleksi ini dapat berupa: pertanyaan langsung tentang apaapa yang diperoleh hari itu, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, diskusi, hasil karya. 7) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment) Assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran pembelajaran siswa perlu diketahui oleh guru agar bias memastikan bahwa siswa memahami proses

19

pembelajaran dengan benar. Penilaian yang sebenarnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrument penilaian. Ciri-ciri penilaian autentik adalah: a) Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja, dan produk; b) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung; c) Menggunakan berbagai cara dan sumber; d) Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian; e) Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagianbagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari, mereka harus dapat mencerminkan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari; f) Penilaian harus menekankan keadaan pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas). Sejalan dengan pendapat Kunandar diatas, Wina Sanjaya juga

mengungkapkan 7 komponen yang melandasi pendekatan CTL sebagai berikut:25 1) Konstruktivisme 2) Inkuiri 3) Bertanya (Questioning) 4) Belajar Bermasyarakan (Learning Comunity) 5) Pemodelan (Modeling) 6) Refleksi (Reflection) 7) Penilaian Nyata (Autentic Assessment) Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka peneliti berpendapat bahwa Metode Contextual Teaching and Learning adalah cara belajar yang

membantu siswa mengkonstruksikan pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki berdasarkan fakta-fakta berdasarkan pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks yeng menjadikan pembelajaran bermakna untuk mencapai standar yang tinggi.
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), cet. 8., h. 263-268.
25

20

g. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensioal Ada beberapa perbedaan antara CTL dengan pembelajaran konvensional perbedaan tersebut antara lain tertera dalam tabel dibawah ini:26 Tabel 2.1 Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensioal Contekstual Teaching and Konvensional Learning
Menetapkan peserta didik sebagai subjek belajar. Peserta didik berperan aktif dalam detiap proses pembelajaran dengan cara mengali sendiri materi pelajaran. 2 Peserta didik belajar melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi. Pembelajaran bersifat individualdengan menerima, mencatat, dan menghaal materi palajaran. 3 Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara realita. 4 Kemakpuan didasarkan atas penggalian pengalaman 5 Tujuan akhir pembelajaranadalah kemampuan diri 6 Prilaku yang dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan operbuatan tertentu karena ia menyadari ptilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat. 7 pengetahuan yang dimiiki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh karena itu setiap peserta didik bisa berbeda dalam memaknai hakikat pengetahuan yg dimilikinnya.
26

No 1

Pembelajaran konvensional menempatkan peserta didik sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.

Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak. Kelampuan diperoleh melalui latihan-latihan. Tujuan akhir pembelajaran adalah nilai dan angka Tindakan atau prilaku individu didasarkan oleh faktor dari liar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan hukuman. Kebenaran yang dimiliki individu bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan didominasi oleh orang lain.

Junaedi, Op.cit., h.13

21

No 8

Contekstual Teaching and Learning


Peserta didik bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pelajaran mereka masing-masing.

Konvensional
Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.

Pembelajaran dapat saja terjadi dalam konteks dan seting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan.

Pembelajaran terjadi hanya di dalam kelas.

10

Tujuan CTL adalah seluruh aspek perkembangan peserta didik. Maka keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cata, misalnya evaluasi postes, hasil karya peserta didik, penampilan, observasi, wawancara, dan lain dibagainnya.

Keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dengan tes.

2. Hasil Belajar IPA a. Pengertian Hasil Belajar IPA Hasil belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yang memiliki arti yang berbeda, yaitu hasil dan belajar. Menurut Purwanto, pengertian hasil (product) menunjukan input secara pada suatu perolehan Dan yang fungsional.27

mengakibatkan

berubahnya

Irwanto

mengungkapkan secara sederhana belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu (yang), terjadi dalam jangka waktu tertentu.28 Jadi, hasil belajar adalah suatu perolehan yang mengakibatkan perubahan input secara fungsional melalui suatu proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu, yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Senada dengan hal di atas Alisuf Sabri mengungkapkan pengertian belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat pengalaman atau
27 28

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Jogyakarta: Pustaka Belajar, 2009), h.44 Irwanto, Psiologi Umum, (Jakarta: Prenhallindo, 2002). h. 105.

22

latihan.29Jadi, belajar adalah suatu perubahan pengetahuan dan tingkah laku yang diperoleh melalui kegiatan belajar. Selanjutnya Ngalim Purwanto mengungkapkan, hasil belajar adalah

hasil-hasil pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa dalam jangka waktu tertentu.30 Hasil belajar yang dimaksud dapat berupa tes, ulangan harian, atau evaluasi akhir. Sedangkan Dimyati dan Mudjiono mengatakan, hasil belajar menekankan kepada diperolehnya informasi tentang seberapakah perolehan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan.31 Menurut mereka, hasil belajar merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk memperoleh informasi tentang baik dan buruknya hasil pencapaian dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Winkel mengemukakan hasil belajar adalah perubahan yang

mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dukembangkan oleh Bloom, Simposion, dan Harrow mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.32 Diungkapkan kembali oleh Purwanto hasil belajar adalah perwujudan kemampuan akibat perubahan prilaku yang dilakukan oleh usaha pendidikan. Kemampuan mencakup domain kogniti, afektif, dan psikomotorik.33 Jadi, dari hasil belajar yang diapai memerluakan suatu alat ukur yang dapat menilai aspek yang diperoleh dari hasil belajar yakni aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga aspek ini dapat dinilai dengan jelas ketika dikombinasikan dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan bukti pencapaian kemampuan belajar yang diperoleh siswa setelah

Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2010), h.55. 30 Ngalim purwanto, Prinsip-prtinsip dan Tehnik Evaluasi Pengajaran (bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2008),cet VII, h. 33 31 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006),cet III, h.190.
32 33

29

Purwanto, Op.cit., h. 45. Ibid., h. 49

23

melalui serangkaian kegiatan pembelajaran, yang bertujuan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Pada dasarnya IPA adalah ilmu yang mempelajari cara mencari tahu tentang alam semesta dan segala isinya secara sistematis. IPA merupakan mata pelajaran yang sangat berguna bagi kehidupan siswa, selain untuk mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, IPA juga dijadikan suatu wahana bagi peserta didik untuk mempelajari tentang diri sendiri dan cara menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.34 Menurut Permen No. 22 Tahun 2006, mata pelajaran IPA perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar adalah untuk membekali peserta didik cara memenuhi kebutuhan manusia dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.35 Dari pernyataan di atas terlihat dengan jelas bahwa pelajaran IPA memiliki peranan penting dalam menumbuhkan

kemampuan berfikir logis dan memerlukan keterampilan kerja siswa dalam memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan itu semua, kurikulum di Indonesia, yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merumuskan beberapa tujuan penting yang ingin dicapai dalam pembelajaran IPA SD, yaitu:36 1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya. 2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Mengambangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan keselarasan tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA,lingkungan, teknologi, dan masyarakat. 4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. 5. Meningkatkan kesadaran untuk berperasaan dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. 6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteratuannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. 7. Memperoleh bekal pegetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
Permendiknas No. 22 Tahun 2006. Lampiran Standar Kompetansi dan Pompetensi Dasar IPA SD/MI. 35 Ibid. 36 Ibid.
34

24

Berdasarkan tujuan tersebut tergambar dengan jelas bahwa arah dan orientasi pembelajaran IPA adalah mengarahkan siswa untuk mampu

mengembangkan segala pengetahuan yang dimiliki untuk memelihara dirinya sendiri, lingkungan serta jagad raya ini. Untuk menilai ketercapaian semua tujuan di atas, dibutuhkan suatu bukti yang menunjukkan tingkat penguasaan siswa terhadap konsep IPA yang telah diajarkan, yang meliputi pengembangan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, serta meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Bukti tersebut dapat ditunjukkan dengan pencapaian hasil belaja yangdipisahkan menjadi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, hasil belajar adalah bukti pencapaian kemampuan belajar yang diperoleh siswa setelah melalui serangkaian kegiatan pembelajaran, yang bertujuan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Sedangkan IPA adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis dalam memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, Hasil belajar IPA adalah bukti pencapaian pemahaman terhadap konsep-konsep IPA, yang meliputi pengembangan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, serta meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan di muka bumi ini. b. Jenis-Jenis Hasil Belajar Howard Kingsley membagi tiga jenis hasil belajar, yaitu keterampilan, pengetahuan dan pengertian, serta sikap dan cita-cita.37 Sedangkan Gagne membagi hasil belajar ke dalam lima kategori yakni: 1. Informasi verbal, yaitu penguasaan informasi baik secara lisan maupun tertulis, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definis, dan sebagainya.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Remaja Rosdakarya, 2001), h. 22.
37

25

2. Keterampilan intelektual, yaitu keterampilan individu dalam berinteraki dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya penggunaan simbol matematik, 3. Strategi kognitif, merupakan cara-cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada proses pemikiran 4. Kemampuan mengendalikan ingatan sikap, yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. 5. Keterampilan motoris, yaitu hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar itu merupakan suatu pencapaian belajar yang diperoleh siswa yang dapat diukur dari beberapa aspek, yang meliputi pengetahuan, pengalaman, maupun perubahan sikap ke arah yang lebih baik dengan proses belajar. Sementara itu, menurut Moh Surya, hasil belajar akan tampak dalam38: 1. Kebiasaan, misalnya siswa belajar bahas berkali-kali untuk menghindari penggunaan kata yang keliru, sehingga ia terbiasa dengan penggunaan bahasa secara baik dan benar. 2. Keterampilan, dalam halnya menulis dan berolah, yang meskipun sifat motorik, keterampilan-keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang diteliti dan kesadaran yang tinggi. 3. Pengamatan, yakni proses menerima, menafsirkan dan memberi arti ransangan yang masuk melalui panca indera sehingga peserta didik mampu ,menacapai pengertian yang benar. 4. Berfikir asosiatif, yakni berfikir dengan cara mengaitkan sesuatu dengan lainnya dengan menggunakan daya ingat. 5. Berfikir rasional dan kritis, yakni menggunakan prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan kritis seperti bagaimana (how) dan mengapa (why). 6. Sikap, yaitu kecenderungan yang relatif menetap untuk bertindak dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan. 7. Inhibisi atau menghindari hal yang mubazir. 8. Apresiasi atau menghargai karya-karya orang lain. 9. Perilaku afektif, yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih, gembaira, kecewa, senang, benci, dan sebagainya. Sedangkan dalam Sistem Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil
Akhmad Sudrajat,Lets Talk About Education-Hakikat http:akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/hakikat-belajar.
38

Belajar,

dari

26

belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik.39 Bloom mengatakan, ranah kognitif merupakan hasil belajar yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual.40 Menurutnya, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir, diantaranya: 411) pengetahuan atau ingatan; 2) pemahaman; 3) penerapan; 4) analisis; 5) sintesis; 6) penilaian. Sementara itu, ranah afektif menurutnya, berkaitan dengan sikap dan nilai, yang terdiri dari lima aspek, yaitu:42 1) penerimaan; 2) jawaban; 3) penilaian; 4) organisasi; dan 5) interaksil. Sedangkan ranah psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tetentu. Ranah psikomotorik ada enam tingkatan, yaitu:43 1. 2. 3. 4. 5. 6. Gerakan refleks Gerakan dasar Gerakan persepsi Gerakan kemampuan fisik Gerakan terampil Gerakan indah dan kreatif Dari berbagai penjelasan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hasil belajar tidak dapat diukur hanya dengan menggunakan aspek pengetahuan saja, melainkan harus melibatkan segala aspek perubahan tingkah laku, baik secara intelektual, fisik, dan psikologis. c. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil belajar Pada dasarnya hasil belajar siswa yang baik dalam kegiatan pembelajaran di sekolah bukan hanya disebabkan oleh kecerdasan siswa itu saja, akan tetapi masih ada hal lain yang juga menjadi faktor penentu yang tidak dapat dipisahkan
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Remaja Rosdakarya, 2001), h. 22. 40 Nana Sudjana, Ibid.,h. 22. 41 Anas Soedijono, Pengantar Dasar Evaluasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h.50-53. 42 Ibid. h. 56 43 Ahmad Sofyan, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h.26-27.
39

27

dalam mencapai keberhasilan belajar siswa. Secara global, faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:44 1. Faktor internal dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni faktor biologis dan faktor psikologis. Yang dikategorikan faktor biologis antara lain: usia, kematangan, dan kesehatan. Sedangkan yang dikategorikan faktor psikologis antara lain: kelelahan, suasana hati, minat dan kebiasaan belajar. 2. Faktor eksternal dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni faktor dari manusia itu sendiri dan faktor seperti alam, hewan dan lingkungan fisik. d. Jenis Alat Penilaian Hasil Belajar IPA Secara garis besar, alat penilaian yang dapat digunakan untuk mengukur ketercapaian hasil belajar IPA dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu tes dan non tes. Tes dapat didefinisikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab atau pernyataan yang harus dipilih oleh orang yang dites dengan tujuan untuk mengukur aspek perilaku tertentu.45 Tes sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam berdasarkan cara mengerjakannya, yaitu tes tulis, tes lisan dan tes perbuatan. Sedangkan non tes adalah penilaian hasil belajar yang dilakukan tanpa mengadakan pengujian terhadap peserta didik secara langsung. Penilaian dilakukan dengan melakukan pengamatan secara sistematis (observasi), melakukan wawancara, menyebarkan angket, dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen yang dapat memberikan informasi terhadap kemajuan belajar siswa. Kedua tipe penilaian di atas sangat tepat digunakan untuk mengukur ketercapaian dalam pelajaran IPA. Para guru harus mengetahui bahawa tidak semua materi pelajaran dapat diukur dengan menggunakan tes, tetapi ada beberapa materi tertentu yang hanya dapat diukur dengan menggunakan tehnik non tes. Untuk itu, guru harus dapat memilih alat penilaian yang tepat agar dapat memperoleh data yang akurat dan objektif dalam menilai ketercapaian hasil belajar siswanya.

44 45

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 145. Lilik Nofijanti, Evaluasi Pembelajaran, (Surabaya: LAPIS PGMI, 2008), h.3-5.

28

e. Fungsi dan Tujuan Penilaian Hasil Belajar IPA Penilaian adalah suatu cara yang sitematis dalam menganalisa suatu pekerjaan sehingga kita mengetahui sampai seberapa jauh pekerjaan itu dapat memperoleh hasil yang memuaskan dengan mempergunakan bahan-bahan dan cara-cara tertentu. Dalam hal ini penulis mengungkapkan fungsi penilaian hasil belajar adalah sebagai berikut: 1. Penentuan kekuatan dan kelemahan murid dalam menguasai materi yang telah diterima dalam proses belajar mengajar. 2. Penentuan kekuatan atau kelemahan guru dalam melaksanakan program belajar mengajar. 3. Menyediakan bahan untuk membimbing pertumbuhan dan perkembangan murid secara individual atau kelompok. 4. Untuk mengetahui karakteristik siswa dan tingkat kecerdasannya. 5. Hasil evaluasi dapat memberikan motivasi belajar terhadap anak-anak. 6. Petunjuk bagi guru, apakah metode dan bahan pelajaran yang diberikannya sudah cukup baik atau tidak. 7. Dengan penilaian hasil belajar, guru dapat memberikan saran-saran kepada para siswa dan orang tua tentang bagaimana cara yang baik dalam belajar dan bekerja. f. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran CTL terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Contextual Teaching and Learning adalah salah satu bentuk pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.46 Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran ini bertolak dari kegiatan yang dilakukan siswa di kelas yang dikembangkan oleh guru bersama
46

Junaedi, Ibid., h. 13-10

29

siswa dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran. Kegiatan yang dilakukan siswa di sini merupakan kegiatan yang aktif dan dekat dengan lingkungan siswa sehari-hari. Konteks yang dekat dengan siswa tersebut diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, diantaranya adalah: siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu konteks tertentu, mampu mempelajari pengetahuan dengan lebih mudah tanpa menghayalkan sesuatu yang jauh dari kehidupannya sehari-hari, memahami materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan, kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, sehingga siswa lebih

mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks yang jelas. IPA adalah mata pelajaran yang bertujuan mengarahkan siswa untuk mampu mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis dalam memelihara dirinya sendiri, lingkungan serta jagad raya ini. Untuk mencapai semua tujuan tersebut, mata pelajaran IPA di SD/MI sebaiknya dilaksanakan dengan menggunakan metode kontekstual, karena dengan karakteristik yang dimilikinya, yaitu mengarahkan siswa untuk mampu mengantarkan siswa dari yang sebelumnya berfikir secara kongktet operasional ke tahapan pra-operasional pada siswa sekolah dasar, maka pendekatan pembelajaran ini akan berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa. B. Kerangka Pikir Belajar merupakan suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkahlaku dan atau kecakapan. 47 Baik atau tidaknya belajar itu tergantung bermacam-macam faktor. Secara garis besar terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang terdapat

47

Ngalim Purwanti, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Remaja Rosdakarya, 2007), cet.2,

h.102

30

di luar individu salah satu diantara faktor eksternal adalah guru dan cara mengajarnya. Kemampuan kognitif siswa di sekolah banyak dipengaruhi oleh peranan guru dalam menyampaikan suatu teori. Penyampaian teori yang digunakan guru biasanya berkenaan dengan pendekatan, model, ataupun teknik dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang pernah buming dan banyak dipakai oleh pengajar ialah menggunakan metode ceramah, akan tetapi metode ini sekarang dianggap sebagai metode kuno atau konvensiolal. Banyak pendekatan yang memunculkan berbagai metode baru untuk meningkatkan hasil belajar siswa baik dibidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Salah satu pendekatan yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu pendekatan Contekstual Teaching and Learning. Pendekatan pembelajaran ini menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran. Siswa memiliki pengalaman dalam melakukan percobaan yang memungkinkan siswa menemukan informasi secara mandiri. Keberhasilan guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran

Contekstual Teaching and Learning bergantung pada kemampuan guru dalam menginformasikan pesan kepada siswa. Untuk mengetahui apakah pada penelitian ini pendekatan Contekstual Teaching and Learning berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, dapat dilihat dari interprestasi hasil nilai pretest dan postest siswa. Diduga bahwa hasil belajar IPA siswa yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan CTL lebih tinggi dari pada hasil belajar IPA siswa yang diperoleh dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. C. Pengajuan Hipotesis Berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka berpikir, yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis yang dibuat pada penelitian ini adalah: Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran Contekstual Teaching and Learning terhadap hasil belajar IPA siswa di SDN Cipayung II pada konsep gaya. : terdapat pengaruh yang signifikan kodel pembelajaran Contekstual Teaching and Learning terhadap hasil belajar IPA SDN Cipayung II pada konsep gaya.

Ha