Anda di halaman 1dari 37

PRESENTASI KASUS

KARSINOMA MAMMAE

Disusun oleh: Umi Astarawati NIM: 1102005280

Pembimbing: Dr. Dhian Hangesti, Sp.B (K) Onk

DEPARTEMEN ILMU BEDAH RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO JAKARTA PERIODE 9 AGUSTUS-23 OKTOBER 2010

PRESENTASI KASUS A. IDENTITAS Nama Jenis kelamin Umur Agama Status perkawinan Alamat Pekerjaan Suku bangsa Pendidikan ` No CM : Ny. S : Perempuan : 52 tahun : Islam : Menikah : Bandung : Ibu rumah tangga : Sunda : SD : 35.72.64

B. ANAMNESA Diambil secara Autoanamnesis Pada tanggal 24 Agustus 2010 KELUHAN UTAMA Pasien mengeluh nyeri yang hilang timbul pada benjolan pada payudara kiri sejak 1 bulan SMRS. KELUHAN TAMBAHAN Tidak ada

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG 9 bulan SMRS pasien merasa ada benjolan bulat di tengah payudara kiri yang awalnya sebesar kelereng. Pasien tidak demam dan benjolan tersebut tidak terasa nyeri sehingga pasien tidak pergi berobat ke dokter. Sekitar 6 bulan SMRS pasien merasa benjolannya sedikit bertambah besar menjadi sebesar bola bekel. Pasien pergi ke dokter di RS Dustira Cimahi dan disarankan untuk biopsi (direncanakan tanggal 10 Maret 2010, namun tidak dilakukan oleh pasien karena belum sempat). 1 bulan SMRS pasien mengeluh payudara kirinya agak nyeri, demam, dan panas dingin. Nyeri dirasakan hilang timbul. Lalu pasien pergi ke dokter, dan diminta untuk segera biopsi pada payudara kirinya. 12 hari SMRS (2 Agustus 2010) pasien dibiopsi, didapatkan hasil Carcinoma mamma kiri duktal infiltratif. Saat ini benjolan tersebut sebesar telur, padat, tidak berbenjol-benjol. Benjolan tidak terasa panas, tidak didapatkan nanah atau darah yang keluar dari puting payudara kiri. Pasien tidak merasa ada benjolan di leher maupun di ketiak. Pasien mengatakan tidak ada keluhan pada payudara sebelah kanan. Tidak ada keluhan lain seperti nyeri pada tulang, rasa sakit pada ulu hati, batuk, sesak, dan sakit kepala hebat. Nafsu makan baik, berat badan turun disangkal oleh pasien. Buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan. Pasien tidak memiliki tekanan darah tinggi, sakit jantung, sakit paru, maupun diabetes melitus namun pasien mengaku kadar kolesterolnya tinggi.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU - Riwayat penyakit paru, jantung, diabetes melitus, hipertensi disangkal oleh pasien. - Tidak ada riwayat infeksi pada payudara. - Tidak ada riwayat operasi pada payudara ataupun pada organ lain.

- Tidak ada riwayat operasi kandungan. - Tidak ada riwayat sinar pada dada. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA tidak ada yang menderita kanker payudara/ kanker ovarium/ kanker

lain tidak ada yang menderita kanker usus /kanker lambung /kanker prostat

/ kanker lain RIWAYAT REPRODUKSI - Menarche usia 18 tahun, teratur setiap bulan satu kali selama 7 hari, ganti + 3 pembalut setiap hari. Saat ini pasien masih menstruasi. Tidak ada keluhan terhadap benjolan pada payudara kiri saat menstruasi. -Pasien menikah saat usia 19 tahun. -Memiliki tiga orang anak, pernah keguguran satu kali. -Melahirkan anak pertama pada usia 20 tahun. -Menyusui anak pertama selama 5 bulan, anak kedua selama 18 bulan, dan anak ketiga selama 24 bulan. -Riwayat penggunaan KB IUD spiral selama 10 tahun. Tidak ada riwayat pemakaian KB hormonal, pil, susuk atau injeksi.

FAKTOR RESIKO LAIN Pasien sering dan suka makan makanan yang berlemak. Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol.

C. PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Keadaan umum Kesadaran Tanda Vital : Tampak sakit ringan : Compos mentis : TD: 120/80 mmHg N: 80 x/menit RR: 20 x/menit Suhu: afebris Kepala : normocephal, simetris, tidak ada deformitas, rambut hitam distribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak rontok. Kulit Mata Telinga : warna coklat sawo matang, sianosis (-) : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor, RCL +/+, : tidak ada deformitas, tidak ada perdarahan masif, tidak ada sekret. Leher : tidak ada deviasi trakea, KGB infra dan supraklavikula tidak membesar Aksila Toraks : KGB aksila kiri membesar : I = simetris dalam keadaan statis dan dinamis P = Fremitus taktil dan vocal simetris kanan dan kiri P = sonor di seluruh lapang paru A = Paru suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/Jantung S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Abdomen : I = Dinding perut simetris, datar, tidak tampak kelainan kulit A = Bising usus +, normal. P = Timpani pada seluruh lapang abdomen, nyeri ketok (-) P = Supel, NT (-), NL (), defans muskuler (-) Ekstremitas : akral hangat, edema -/-

STATUS LOKALIS

Regio Mamma Sinistra : Inspeksi : - mammae asimetris, mamma sinistra lebih kecil daripada mamma dekstra - perubahan kulit : kulit jeruk (peau d orange) (+), ulserasi (-), kemerahan (-), dimpling (-), edema (-) - puting susu (nipple) : tertarik/retraksi (+), erosi (-), krusta (-), discharge (-)

Palpasi : 1. Massa tumor: -Letak : Kuadran sentral, subareolar -Ukuran: 5 x 3 x 2 cm -Batas tidak tegas -Konsistensi padat, keras -Permukaan licin, rata -Nyeri tekan (-) -Tidak dapat digerakkan dari dasarnya (otot dinding dada) -Dengan pemijitan pada papilla mamma tidak keluar cairan, darah, ataupun pus.

KGB : Regio axilla Inspeksi : Tidak tampak pembesaran KGB pada axilla sinistra dan dextra Palpasi : Axilla sinistra Teraba pembesaran KGB, soliter, sebesar kelereng, batas jelas dengan diameter 1 cm, permukaan licin rata, konsistensi padat kenyal, tidak ada nyeri tekan, mobile. Axilla dextra Tidak teraba pembesaran KGB Regio supraclavicular dextra - sinistra Inspeksi Palpasi : Tidak tampak pembesaran KGB : Tidak teraba pembesaran KGB

Regio infraklavicular dextra-sinistra Inspeksi Palpasi :Tidak tampak pembesaran KGB : Tidak teraba pembesaran KGB

D. DIAGNOSIS KERJA Tumor mamma sinistra suspek keganasan, T4bN1Mx

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Telah dilakukan biopsi pada mamma sinistra pada tanggal 2 Agustus 2010 di RS Dustira Cimahi, didapatkan hasil Carcinoma mamma kiri duktal infiltratif.

Laboratorium darah rutin Jenis pemeriksaan 25 / 8 / 2010 Hemoglobin Hematokrit 12,6 38 4,6 4900 328000 115 400 84 27 33 25 * 7,2 4,0 3,2 23 23 17 * 1,2 86 114 * 12 -16 g/dL 37 47 % 4.3 6.0 juta/ uL 4800-10800/uL 150000-400000/uL 1-3 menit 1-6 menit 80 96 fl 27 32 pg 32 36 g/dL < 15 mm/1 jam 6 8.5 g/dL 3.5 5.0 g/dL 2.5 3.5 g/dL < 40 U/L < 35 U/L 20 50 mg/dL 0.5 1.5 mg/dL 70-100 mg/dl < 98 U/L Nilai rujukan

Eritrosit Leukosit Trombosit Bleeding time Clotting time MCV MCH MCHC LED Protein total Albumin Globulin SGPT SGOT Ureum Kreatinin Glukosa puasa Alkali fosfatase

USG mammae (26/8/10) Mamma dextra: -Kutis, sub kutis normal -Struktur jaringan fibro glanduler mottled pattern

-Tampak lesi kistik di retro areola +/- 6,9 x 6,6 mm dan di jam 12; 2 cm dari papilla +/- 6 x 3 mm

Mamma sinistra: -Kutis, subkutis menebal dengan echostucture meningkat -Tampak massa hipoechoic berbatas stelata pada retroareola meluas ke belahan atas terutama sisi medial -Tampak bintik-bintik kalsifikasi intra massa ; vaskularisasi intra massa (+)

Tampak pembesaran KGB axilla sinistra, agaknya dua berkelompok

Kesan: - Fibrocystic changes pada mamma dextra -Neoplasma maligna mamma sinistra dengan pembesaran axilla disertai inflamasi.

Foto toraks (24/8/10) -Sinus, diafragma dan cor normal -Kedua hilus normal -Tak tampak proses spesifik aktif di kedua paru -Tak tampak infiltrat di paru-paru Kesan : cor / pulmo normal Tidak tampak adanya metastasis

USG abdomen (26/8/10) -Hepar, kd empedu, pancreas, lien: normal -Ginjal kanan/kiri, v. urinaria: normal -Uterus: normal -Tak tampak pembesaran KGB para aortal Tidak tampak adanya metastasis

Bone scan (25/8/10) Tidak tampak metastase pada tulang

F. DIAGNOSIS PASTI Carcinoma mamma sinistra maligna, stadium IIIb ( T4bN1M0)

G. TERAPI 1. Radiasi 2. Terapi hormon 3. Sitostatika (kemoterapi)

H. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : dubia : dubia ad malam

Quo ad cosmetikum : ad malam Quo ad sanationam : dubia

TINJAUAN PUSTAKA PAYUDARA EMBRIOLOGI Payudara sebagai kelenjar subkutis mulai tumbuh sejak minggu ke enam masa embrio, yaitu berupa penebalan ektodermal sepanjang garis yang disebut garis susu yang terbentang dari aksila sampai ke regio inguinal.

ANATOMI

Untuk dapat mengenal perjalanan penyakit kanker payudara dengan baik dan memahami dasar-dasar tindakan operasi pada kanker payudara maka sangatlah penting mengetahui anatomi itu sendiri.

Payudara terletak pada hemithoraks kanan dan kiri dengan batas-batas sebagai berikut: 1. Batas-batas yang tampak luar: Superior Inferior Medial Lateral : Iga II atau III : iga VI atau VII : pinggir sternum : garis aksilaris anterior

2. Batas-batas payudara yang sesungguhnya: Superior Medial Lateral : hampir sampai ke klavikula : garis tengah : m.latissimus dorsi

Payudara terdiri dari berbagai struktur: Parenkim epitalial Lemak, pembuluh darah, saraf, dan saluran getah bening Otot dan fascia

Parenkim epitalial dibentuk oleh kurang lebih 15-20 lobus yang masing-masing mempunyai saluran tersendiri untuk mengalirkan produknya, dan bermuara pada puting susu. Tiap lobus dibentuk oleh lobulus-lobulus yang masing-masing terdiri dari 10-100 kelompok asini. Lobulus-lobulus ini merupakan struktur dasar dari glandula mammae. Payudara dibungkus oleh fascia pektoralis superfisialis dimana permukaan anterior dan posterior dihubungkan oleh ligamentum cooper yang berfungsi sebagai penyangga. Vaskularisasi payudara 1. Arteri Payudara mendapat perdarahan dari a. Cabang-cabang perforantes a. Mammaria interna. Cabang-cabang I, II, III, dan IV dari a. Mammaria interna menembus dinding dada dekat pinggir sternum pada

interkostal yang sesuai, menembus m. pektoralis mayor dan memberi perdarahan tepi medial glandula mamma b. Rami pektoralis a. Torako-akromialis. Arteri ini berjalan turun diantara m. pektoralis minor dan m. pektoralis mayor. Pembuluh ini merupakan pembuluh utama m. pektoralis mayor. Setelah menembus m. pektoralis mayor, arteri ini akan mendarahi glandula mamma bagian dalam. c. A. Torakalis lateralis (a. Mammaria eksterna). Pembuluh ini berjalan turun menyusuri tepi lateral m. pektoralis mayor untuk mendarahi bagian lateral payudara. d. A. Torako-dorsalis. Pembuluh darah ini merupakan cabang dari a. Subskapularis. Arteri ini memperdarahi m. latissimus dorsi dan m. serratus magnus. Walaupun arteri ini tidak memperdarahi galndula mammae, tetapi sangat penting artinya. Karena pada tindakan radikal mastektomi, perdarahan yang terjadi akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol, sehingga daerah ini dinamakan the bloody angle.

2. Vena Pada daerah payudara, terdapat tiga group vena: a. Cabang- cabang perforantes v. Mammaria interna. Vena ini merupakan vena terbesar yang mengalirkan darah dari payudara. Vena ini bermuara pada v. Mammaria interna yang kemudian bermuara pada n. Innominata. b. Cabang-cabang v. Aksilaris yang terdiri dari v. Torako-akromialis, v. Torakalis lateralis, dan v.torako-dorsalis. c. Vena-vena kecil yang bermuara pada v. Interkostalis. Vena interkostalis bermuara pada v. Vertebralis, kemudian bermuara pada v. Azygos (melalui vena-vena ini metastasis dapat langsung terjadi di paru).

Persarafan Persarafan kulit payudara bersifat segmental dan berasal dari segmen dermatom T2 sampai T6. Sela iga pertama terutama dipersarafi oleh saraf ke musculus subclavius. Segmen dermatom area ini bisa didenervasi total atau sebagian setelah elevasi flap kulit untuk

mastektomi radikal atau modifikasi. Dengan pemotongan flap kulit dalam axilla, maka suatu cabang utama nervus intercostobrachiales bisa dikenali dan dikorbankan. Saraf ini terutama terdiri dari serabut dari cabang cutaneus lateralis nervi intercostales kedua dan ketiga serta berjalan tegak lurus dan anterior terhadap musculus latissimus dorsi. Nervus thoracodorsalis Nervus thoracodorsalis terdapat pada m. subscapularis, mempersarafi m. latissimus dorsi dan muncul dari fasciculus posterior plexus branchialis (C5, C6, dan C7). Ia lewat di belakang fasciculus medialis dan pembuluh axillaries untuk berjalan lateral terhadap nervus thoracicus longus dan memasuki batas anterior musculus latissimus dorsi. Bila terpotong, rotasi interna dan abduksi akan melemah, walaupun tidak mengakibatkan deformitas. Gangguan fungsionalnya adalah oposisi kuat lengan atas ke dinding dada lateral, terutama bila penderita perlu membawa sesuatu yang dijepit diantara lengan atas dan dinding dadanya.

Nervus thoracalis longus Nervus thoracalis longus terdapat pada m. serratus anterior mempersarafinya. Cedera pada nervus ini menyebabkan morbiditas fungsional yang jauh lebih besar akibat kelemahan bahu dan menimbulkan deformitas winged scapula Nervus pectoralis lateralis Nervus pectoralis lateralis berasal dari fasciculus lateral plexus branchialis untuk mempersarafi m. pectoralis mayor dan minor. Saraf ini berjalan medial terhadap m. pectoralis minor dan harus dilindungi sewaktu melakukan modifikasi mastektomi radikal untuk mencegah atrofi musculus pectoralis mayor. Nervus pectoralis medialis Dalam pembedahan, nervus pectoralis medialis yang berasal dari fasciculus medialis plexus brachialis, berjalan lateral terhadap musculus pectoralis minor dan mensarafi musculus pectoralis mayor dan minor. Saraf ini biasanya dikorbankan sewaktu membuang musculus pectoralis minor sebagai bagian modifikasi mastektomi radikal. Jika nervus pestoralis

lateralis dilindungi, maka musculus pectoralis major tidak akan atrofi dan setelah operasi bentuk dinding dada akan sesuai dengan m. pectoralis mayor dan tidak dengan sangkar iga

Sistem limfatik payudara a. Pembuluh getah bening 1.Pembuluh getah bening aksila Pembuluh getah bening aksila ini mengalirkan getah bening dari daerah-daerah sekitar areola mamma, kuadran lateral bawah dan kuadran lateral atas payudara. 2. Pembuluh getah bening mammaria interna Saluran limfe ini mengalirkan getah bening dari bagian dalam dan medial payudara. Pembuluh ini berjalan di atas fasia pektiralis lalu menembus fasia tersebut dan masuk ke dalam m. pektoralis mayos. Lalu jalan ke medial bersama-sama dengan sistem perforantes menembus m. interkostalis dan bermuara ke dalam kelenjar getah bening mammaria interna. Dari kelenjar getah bening mammaria interna, getah bening mengalir melalui trunkus limfatikus mammaria interna. Sebagian akan bermuara pada vena kava, sebagian akan bermuara ke duktus torasikus (untuk sisi kiri) dan duktus limfatikus dekstra (untuk sisi kanan). 3. Pembuluh getah bening di daerah tepi medial kuadran medial bawah payudara. Pembuluh ini berjalan bersama-sama vasa epigastrika superior, menembus fasia rektus dan masuk ke dalam m. rektus abdominis. Saluran ini bermuara ke dalam kelenjar getah bening preperikardial anterior yang terletak di tepi atas diafragma di atas ligamentum falsiforme. Kelenjar getah bening ini juga menampung getah bening dari diafragma, ligamentum falsiforme dan bagian anterosuperior hepar. Dari kelenjar ini, limfe mengalir melalui trunkus limfatikus mammaria interna.

b. Kelenjar getah bening a. Kelenjar getah bening aksila Terdapat enam grup kelenjar getah bening aksila: 1. Kelenjar getah bening mammaria eksterna.

Untaian kelenjar ini terletak di bawah tepi lateral m. pektoralis mayor, sepanjang tepi medial aksila. Grup ini dibagi dalam dua kelompok: a. Kelompok superior. Kelompok ini terletak setinggi interkostal II, III b. Kelompok inferior. Kelompok ini terletak setinggi interkostal IV, V, VI 2. Kelenjar getah bening scapula Kelenjar getah bening terletak sepanjang vasa subskapularis dan torakodorsalis, mulai dari percabangan v. Aksilaris menjadi v. Subskapularis, sampai ke tempat masuknya v. Torakodorsalis ke dalam m. latissimus dorsi. 3. Kelenjar getah bening sentral (central nodes) Kelenjar getah bening ini terletak di dalam jaringan lemak di pusat ketiak. Kadangkadang beberapa diantaranya terletak sangat superfisial, di bawah kulit dan fasia pada pusat ketiak, kira-kira pada pertengahan lipat ketiak depan dan belakang. Kelenjar getah bening ini adalah kelenjar yang relatif paling mudah diraba. Dan merupakan kelenjar aksila yang terbesar dan terbanyak jumlahnya. 4. Kelenjar getah bening interpektoral (Rotters nodes) Kelenjar getah bening ini terletak di antara m. pektoralis mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis v. Torako-akromialis. Jumlah satu sampai empat. 5. Kelenjar getah bening v. Aksilaris Kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang v. Aksilaris bagian lateral, mulai dari white tendon m. latissimus dorsi sampai ke sedikit medial dari percabangan v. Aksilaris v. Torako-akromialis. 6. Kelenjar getah bening subklavikula Kelenjar ini terletak sepanjang v. Aksilaris, mulai dari sedikit medial percabangan v. Aksilaris v. Torako-akromialis sampai dimana v. Aksilaris menghilang di bawah tendo m. subklavius. Kelenjar ini merupakan kelenjar aksila tertinggi dan termedial letaknya. Semua getah bening yang berasal dari kelenjar-kelenjar getah bening aksila masuk ke dalam kelenjar ini. Seluruh kelenjar getah bening aksila ini terletak di bawah fasia kostokorakoid.

b. Kelenjar getah bening prepektoral

Kelenjar getah bening ini merupakan kelenjar tunggal yang kadang-kadang terletak di bawah kulit atau di dalam jaringan payudara kuadran lateral atas atau disebut prepektoralis karena terletak diatas fasia pektoralis. c. Kelenjar getah bening mammaria interna Kelenjar ini tersebar sepanjang trunkus limfatikus mammaria interna, kira-kira 3 cm dari pinggir sternum. Terletak di dalam lemak di atas fasia endotorasika, pada sela iga. Diperkirakan jumlah kelenjar ini ada 6-8 buah.

FISIOLOGI Ada beberapa perubahan fisiologi yang terjadi pada payudara, yang diakibatkan dari beberapa faktor yaitu: pertumbuhan dan proses penuaan, daur haid, dan kehamilan. Macam-macam perubahan yang dipengaruhi hormon: 1. Pubertas Pengaruh estrogen dan progesterone dan growth hormone yang diproduksi ovarium dan juga hormone hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan bercabang-cabang membentuk asinus. 2. Masa menstruasi Pada waktu menstruasi, duktus akan menciut dan sebagian epital akan berdesquamasi.

Serelah bersih ( 8 hari post menstruasi ), ductus berproliferasi, sel epitel membesar atau bertambah, jaringan periduktal diinflitasi oleh limfosit dan kemudian terjadi intersisial oedeme, sehingga bengkak. Hingga beberapa hari sebelum menstruasiberikutnya, terjadi pembesaran maksimal payudara, dan payudara menjadi tegang dan nyeri, sehingga kadang pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu ini, mammografi juga tidak terlalu berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang. Ada kalanya, dimana siklus menstruasi berubah, dapat timbul kelainan benigna. Keadaan mammae yang paling bagus adalah saat ovulasi. 3. Masa hamil dan menyusui Prolactin hormone memicu epitel duktus berpoliferasi dan tumbuh duktus baru, seolah-olah jaringan lemak bergeser oleh karena HCG 4. Partus Hormon placenta menutun dan merangsang peningkatan kadar hormone prolactin (dari hipofise anterior), sehingga mentrigger laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke putting susu. 5. Post lactasi Sebagian mengalami involusi / penyusutan duktus dan alveolin, dan sebagian lagi menetap hingga masa menopause. 6. Menopause Jaringan kelenjar mulai diganti oleh jaringan ikat. Banyak tetapi tidak padat. Jaringan periduktal tebal, sehingga seakan-akan ada obstruksi. Batas lobulus kabur, dapat terjadi dilatasi duktus dan Krista kecil-kecil.

KANKER PAYUDARA PENDAHULUAN Kanker payudara merupakan kanker dengan insidens tertinggi no.2 setelah kanker servik uteri di Indonesia dan terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun insidens ini meningkat; seperti halnya di negara barat. Kanker payudara merupakan 27% dari kanker pada wanita dan menyebabkan 20% kematian akibat kanker. Angka kejadian kanker payudara di Amerika Serikat 92/100.000 wanita per tahun dengan mortalitas yang cukup tinggi 27/100.000 atau 18% dari kematian yang dijumpai pada wanita. Di Indonesia berdasarkan Pathological Based Registration kanker payudara mempunyai insidens relatif 11,5%. Diperkirakan di Indonesia mempunyai insidens minimal 20.000 kasus baru per tahun; dengan kenyataan bahwa lebih dari 50% kasus masih berada dalam stadium lanjut. Sekitar 1 dari 11 wanita akan mengalami kanker payudara selama kehidupannya. Kanker payudara kebanyakan menyerang kelompok usia 40-70 tahun, tetapi resiko terus meningkat dengan tajam dengan makin bertambahnya usia. Kanker ini jarang terjadi pada usia dibawah 30 tahun; 3% terjadi selama kehamilan. Usaha-usaha untuk penemuan dini dapat dilakukan dengan baik dengan mengikutsertakan masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan. Apabila ditemukan dalam stadium dini dan mendapat terapi yang tepat dan adekuat maka bukan tidak mungkin kanker payudara dapat disembuhkan. Kemajuan-kemajuan dalam penemuan dini yang dilengkapi dengan kemajuan terapi pada dekade-dekade akhir, baik teknik operasi, radiasi, hormonal terapi dan kemoterapi serta imunoterapi ataupun pelaksanaan kombinasi terapi dari modalitas terapi yang didasarkan pada ketepatan penentuan staging dan pengenalan sifat-sifat biologis kanker yang baik, semakin membawa harapan baru untuk penderita kanker payudara.

DEFINISI Kanker payudara merupakan neoplasma ganas dimana terjadi pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya tumbuh infiltratif dan destruktif serta dapat bermetastase.

EPIDEMIOLOGI Insiden kanker payudara pada dekade terakhir ini memperlihatkan kecenderungan meningkat. Hal ini diperkirakan disebabkan semakin baiknya edukasi dan teknologi yang mempunyai dampak luas dalam penemuan penyakit, semakin tingginya keadaan status sosial ekonomi yang mempunyai dampak pula terhadap perubahan pola hidup. Di AS insiden kanker payudara 92 kasus baru/100.000 penduduk wanita dengan mortalitasnya 27/100.000 yaitu 18% dari angka kematian pada wanita. Di Indonesia insiden kanker payudara belum ada datanya, namun suatu data pathological base registration mencatat bahwa kanker payudara ini menduduki tempat kedua (15,8%) dari sepuluh kanker terbanyak setelah kanker mulut rahim. Distribusi menurut lokasi tumor Berdasar penelitian (Haagensen) kanker payudara lebih sering terjadi di kuadran lateral atas, kemudian sentral (subareolar). Payudara sebelah kiri sering terkena dibandingkan dengan sebelah kanan. Distribusi menurut umur Berdasarkan umur, kanker payudara lebih sering ditemukan pada umur 40-49 tahun (dekade V) sekitar 30% untuk kasus-kasus di Indonesia; di Jepang pun demikian yaitu 40,6% kanker payudara ditemukan pada usia 40-49 tahun (Goi Sakamoto).

ETIOLOGI Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun terdapat beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu: Usia > 30 tahun Tidak kawin dan nulipara Melahirkan anak pertama usia > 35 tahun Usia menarche < 12 tahun Usia menopause > 50 tahun

Pernah mengalami infeksi, trauma, atau operasi tumor jinak pada payudara Terapi hormonal lama Pernah mengalami operasi ginekologis, seperti tumor ovarium Pernah radiasi di daerah dada Riwayat keluarga dengan kanker payudara pada ibu, saudara perempuan ibu, saudara perempuan, adik atau kakak Diet tinggi lemak, alkohol

TINGKAT PENYEBARAN Kanker payudara sebagian besar mulai berkembang di duktus, setelah itu baru menembus ke parenkim. Lima belas sampai empat puluh persen kanker payudara bersifat multisentris. Prognosis pasien ditentukan oleh tingkat penyebaran dan potensi metastasis. Bila tidak diobati, ketahanan hidup lima tahun adalah 16-22%, sedangkan ketahanan hidup sepuluh tahun adalah 1-5%. Ketahanan hidup bergantung pada tingkat penyakit, saat mulai pengobatan, gambaran histopatologik, dan uji reseptor estrogen yang bila positif lebih baik.

PROSEDUR DIAGNOSTIK A. Pemeriksaan Klinis 1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik Anamnesis dan pemeriksaan fisik ditunjukan terutama untuk mengidentifikasi identitas penderita, faktor resiko, perjalanan penyakit tanda dan gejala kanker payudara, riwayat pengobatan dan riwayat penyakit yang pernah diderita. Setelah faktor resiko untuk kanker payudara ditemukan, pasien kemudian diperiksa untuk simptom yang spesifik. Nyeri payudara dan nipple discharge adalah keluhan yang paling sering, tapi tidak selalu petanda kanker, kelainan jinak seperti fibrocystic disease dan papiloma intraduktal juga bisa bergejala

seperti ini. Malaise, nyeri tulang dan kehilangan berat badan adalah keluhan yang jarang, tetapi merupakan adanya indikasi metastasis jauh.

Karena organ payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal, antara lain estrogen dan progesteron maka sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan disaat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin, yaitu setelah menstruasi lebih kurang satu minggu dari hari pertama menstruasi. Dengan pemeriksaan fisik yang baik dan teliti, ketepatan pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis cukup tinggi. Teknik pemeriksaan 1. Posisi duduk Penderita duduk dengan tangan jatuh bebas samping, pemeriksa berdiri di depan dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi. Pada inspeksi dilihat: simetris payudara kiri-kanan; keadaan papila; letak dan bentuknya; adakah retraksi puting susu; kelainan kulit, tanda-tanda radang; peau d orange, dimpling; ulserasi dan lain-lain. 2. Posisi berbaring Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar merata diatas lapang dada, sebaiknya punggung diganjal dengan bantal kecil, lakukan palpasi dengan menggunakan falang distal dan falang medial jari II, III, IV dan dikerjakan secara sistimatis mulai dari kranial setinggi iga ke-2 sampai distal setinggi iga ke-6, serta daerah subareolar dan papila atau dilakukan secara sentrifugal, terakhir dilakukan penekanan daerah papila untuk melihat apakah ada cairan yang keluar. Dengan pemeriksaan rabaan halus akan lebih teliti daripada dengan rabaan tekanan keras, rabaan halus akan dapat membedakan kepadatan massa payudara. 3. Menetapkan keadaan tumornya a. lokasi tumor berdasarkan kuadran di payudara atau terletak di daerah sentral (subareola dan di bawah papil). Payudara dibagi atas empat kuadran yaitu kuadran lateral atas, lateral bawah, medial atas, dan medial bawah serta ditambah satu daerah sentral.

b. Ukuran tumor, konsistensi, batas tegas/tidak c. mobilitas tumor terhadap kulit, otot pektoralis, atau dinding dada. 4. Memeriksa kelenjar getah bening regional a. Aksila, yang ditentukan kelompok kelenjar : Sebaiknya dalam posisi duduk, karena dalam posisi ini fossa aksila jatuh ke bawah sehingga mudah untuk diperiksa dan lebih banyak dapat dicapai. Pemeriksaan aksila kanan, tangan kanan pasien diletakkan atau dijatuhkan lemas di tangan kanan atau bahu kanan pemeriksa dan aksila diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa. Yang diraba kelompok kelenja getah bening: mamaria eksterna di anterior; di bagian anterior dan di bawah tepi otot pektoralis aksila subskapularis di posterior aksila sentral di pusat aksila apikal di ujung atas fasia aksilaris b. Supra dan infraklavikular, serta KGB leher utama, bagian bawah dipalpasi dengan cermat dan teliti. 5. Organ lain yang diperiksa untuk melihat adanya metastasis, yaitu hepar, lien, tulang belakang, dan tulang-tulang utama.

Adapun tanda dan gejala kanker payudara adalah : Ada benjolan yang keras di payudara dengan atau tanpa rasa sakit Bentuk puting berubah (retraksi nipple atau terasa sakit terus menerus) atau puting mengelurkan cairan/darah (nipple discharge) Ada perubahan pada kulit payudara diantaranya berkerut seperti kulit jeruk (peau dorange), melekuk kedalam (dimpling) dan borok (ulcus) Adanya benjolan-benjolan kecil di dalam atau kulit payudara (nodul satelit)

Ada luka puting dipayudara yang sulit sembuh (paget disease) Payudara terasa panas, memerah dan bengkak Terasa sakit/nyeri (bisa juga ini bukan sakit karena kanker) Benjolan keras itu tidak bergerak (terfiksasi) dan biasanya pada awal-awaknya tidak terasa sakit

Apabila benjoln itu kanker, awalnya biasanya hanya pada satu payudara Adanya benjolan di axila dengan atau tanpa massa di payudara

Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria inoperabilitas Haagensen sebagai berikut: Terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih dari 1/3 luas kulit payudara) Adanya nodul satelit pada kulit payudara Kanker payudara jenid mastitis karsinomatosa Terdapat nodul parasternal Terdapat nodul supraklavikula Adanya edema lengan Adanya metastasis jauh Terdapat dua atau lebih tanda-tanda locally advanced: Ulserasi kulit Kulit terfiksir pada dinding toraks Kelenjar getah bening aksila diameternya lebih dari 2,5 cm Kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain

CINICAL STAGING (TNM) T- Tumor Tx To Tis : Tumor primer tidak dapat ditetapkan : Tumor primer tidak dapat ditemukan : Carcinoma insitu [ Intraduktal Ca (DCIS), lobuler Ca in situ (LCIS), penyakit Paget pada papilla ] T1 : Tumor berdiameter < 2cm a. Tumor diameter < 0,5 cm b. Tumor diameter 0,5 - 1 cm c. Tumor diameter 1 - 2 cm T2 T3 T4 : Tumor diameter 2-5cm : Tumor diameter > 5cm : Tumor segala ukuran dengan ekstensi langsung ke dinding dan atau kulit 4a. Infiltrasi pada dinding dada ( fascia pectoralis ) 4b. Infiltrasi pada kulit ( edem, ulserasi, lesi satelit ) 4c. Infiltrasi pada dinding dada dan kulit 4d. Carsinoma inflamatory

N-kelenjar getah bening regional Nx No N1 N2a : Metastasis Inn tidak dapat ditetapkan : Metastasis Inn tidak dapat ditemukan : Metastasis Inn. axilla ipsilateral : Metastasis Inn. axilla ipsilateral terfiksir satu sama lain atau perlekatan dengan struktur sekitarnya N2b N3a N3b N3c : Metastasis Inn. mamaria interna tanpa metastasis ke Inn.axilla : Metastasis Inn. infraklavikula dengan atau tanpa metastasis ke Inn.axilla : Metastasis Inn. mamaria interna dengan metastasis ke Inn.axilla : Metastasis Inn. Supraklavikula dengan atau tanpa metastasis ke Inn.axilla

M- metastase Mx : Metastasis jauh tidak dapat ditetapkan

Mo M1

: Metastasis jauh tidak dapat ditemukan : Terdapat metastasis jauh.

STADIUM KLINIS Adalah mutlak untuk menentukan stadium pada setiap proses keganasan, termasuk pada kanker payudara. Berdasarkan stadium ini baru ditetapkan kebijakan pengobatan yang akan diambil. Penentuan stadium pada kanker payudara berdasarkan klasifikasi sistem TNM.

Stadium I Stadium II

: T1a : T0T1aT1b T2aT2b T2aT2b

N0N1a N1b N0N1a N1b N0N1 N2

M0 M0 M0 M0 M0 M0

Stadium IIIa

: T3aT3b T1a,b T2a,b T3a,b

Stadium IIIb

: T1a,b T2a,b T3a,b T4a,b

N3

M0

N apa saja N apa saja

M0 M1

Stadium IV

: T apa saja

B.

Pemeriksaan Radiodiagnostik/Imaging 1. Diharuskan (Recommended) USG payudara Mulai dikembangkan oleh Wild dan Reid pada tahun 1952,pemeriksaan dengan USG mempunyai beberapa keuntungan ,antara lain tidak menggunakan sinar pengion,jadi tidak ada bahaya radissi,dan pemeriksaan bersifat non-invasif,relative ,mudah dikerjakan,cepat dan dapat dipakai berulang-ulang serta biayanya relative rendah. Keuntungan menggunakan USG payudara sebagai pemeriksaan penunjung yaitu ; berperan pada payudara yang padat sangta bermanfaat untuk

membedakan apakah tumor itu solid/kistik :dapat mengenai pembesaran kelenjer aksiler yang dapat merubah pengobatan dan prognosis penderita,serta bermamfaat dalam penatalaksanaan pengobatan tumor payudara dan sekaligus dapat membantu menilai prognosis penderita. Tanda tomur ganas secara USG: Lesi dengan batas tegas dan tidak teratur Sktruktur echo lemah dan heterogen Batas echo anterior lesi kuat,posterior lesi lemah sempai tidak ada Adanya perbedaan besar tumor secara klinis dan secara USG

Tanda tumor jinak: Lesi dengan batas tegas,licin dan teratur Struktur echo biasa : 1. 2. tidak ada sonulen,misalnya kista lemah sampai menengah tetapi homogen misalnya pada

fibroadenoma batas echo abterior lesi dan posterior :lesi bervarasi dari kuat atau

menengah lateral acoustic shadow dari lesi dapat bilateral atau unilateral

Mammografi Teknik pemeriksaan foto rontgen untuk jaringan lunak, memberikan petunjuk adanya kelainan keganasan memeberikan tanda-tanda dan sekunder. Tanda primer = fibrosis reaktif,comet sign,perbedaan antara ukuran klinis dan radiologist,adanya mikrokalsifikasi,spikuler dan distorsi pada struktur payudara Tanda sekunder = retraksi,penebalan kulit perubahan posisi papilla dan areola,bertambahnya vaskularisasi,adanya metastasis ke kelenjar.

Foto toraks Pada foto thoraks,kita dapat mengetahui adanya atau tidaknya metastasis ke organ paru baik secara homatogen dan limfogen

1) Metastasis hematogen Gambaran radiologik Dapat bersifat tunggal ( soliter ) atau ganda ( multiple ) Bayangan bulat berukuran beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter Batas tegas Dapat mengandung bercak kalsifikasi

2) Metastasis limfogen Anak sebar melalui saluran limfogen sering menyebabkan pembesaran kelenjar mediastinum yang dapat mengakibatkan penekanan pada trakhea, esophagus, vena kava superior, dengan keluhan-keluhannya. Anak sebar juga biasanya menetap di saluran limfepribronkial atau perivaskular yang secara radiologik memberi gambaran. USG abdomen (hepar) Hal ini dilakukan untuk mencari jauhnya ekstensi tumor atau mencari metastasis jauh. Pemeriksaan ini umumnya hanya dilakukan apabila diperlukan. Pemeriksaan laboratorium untuk melihat toleransi operasi penderita, juga dapat melihat kemungkinan adanya metastasis, misalnya alkali fosfatase.

2. Optional (atas indikasi) Bone scanning dan atau bone survey (bila sitologi dan atau klinis

mencurigai pada lesi > 5 cm)

Indikasi : scanning tulang jauh lebih sensitive dari pada pemeriksaan Xray konvesional dalam mendeteksi destruksi tulang. Pemeriksaan ini berguna mendeteksi metastasis keganasan primer sebelum perubahan terlihat dengan pemeriksaan radiologik, serta dapat menetapkan lebih tepat luasnya penjalaran lesi. Dengan demikian akan sangat berguna untuk membuat rencana radioterapi. Dapat pula untuk menetapkan daerah biopsy serta menciptakan luasnya lesi nonmaligna seperti osteomielitis. Sering pula dimanfaatkan untuk membuat uji screening terhadap penderita keganasan di payudara, paru dan pelvis, sebelum dilakukan tindakan operasi. Untuk tulang yang sukar diperiksa diperiksa secara radiologist, misalnya scapula,iga, dab stemum, pemeriksaan ini akan sangat berguna. Pada osteogenik sarcoma, selain untuk mendeteksi tumor primer, juga mendeteksi metastasisnya di paru. Interoretasi: scanning positif bila aktivitas di tulang panjang dan tulang belakang tidak simetris, atau tidak uniform. Kenaikan aktivitas selalu berhubungan dengan luasnya lesi. Bila dikombinasikan dengan

pemeriksaan radiologist akan lebih bermanfaat.

CT scan Biasanya tumor ganas menyebabkan peningkatan densitas setelah penyuntikan kontras dibandingkan tunor jinak pada tumor ganas,CT dapat membantu : perencanaan radioterapi dalam menentukan tebal dinding dada mengenai adanya metastasis pada kelenjar mammaria internal mengenai pembesaran atau metastasis kelenjar aksiler atau adanya perluasan tumor ganas berupa destruksi dinding dada

C.

Pemeriksaan Sitologi FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy) Dilakukan pada lesi yang secara klinis dan radiologik curiga ganas.

FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy) merupakan salah satu diagnosis awal, untuk evaluasi masa di payudara. Pemeriksaan ini sangat berguna terutama lesi kistik. Masa presisten atau rekuren setelah aspirasi berulang adalah indikasi untuk biopsi terbuka(insisi atau eksisi).Belum merupakan Gold Standard. Bila mampu, dianjurkan untuk diperiksa TRIPLE DIAGNOSTIC (klinis, mammografi, dan FNAB)

D. Pemeriksaan Histopatologi (Gold Standard Diagnostic) Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan potong beku dan atau parafin. Bahan pemeriksaan diambil melalui: Core biopsy Biopsi eksisi, dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit jaringan sehat disekitarnya bila tumor < 5 cm Biopsi insisi, dengan mengangkat sebagian jaringan tumor dan sedikit jaringan sehat, dilakukan untuk tumor: Operabel ukuran > 5 cm inoperabel

E.

Laboratorium Pemeriksaan laboratorium rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai dengan perkiraan metastasis.

PENGOBATAN Dalam hal pengobatan yang perlu diketahui: 1. Pengobatan pada stadium dini akan memberi harapan kesembuhan dan harapan hidup yang baik. Baker (J.Hopkin), 1977; mengatakan harapan hidup 5 dan 10 tahun untuk stadium I adalah 90% dan 80%, stadium II adalah 70% dan 50% 2. Jenis-jenis pengobatan: Pada stadium I, II, III awal (stadium operabel), sifat pengobatan adalah kuratif. Semakin dini semakin tinggi kurasinya. Pengobatan pada stadium ini adalah operasi yang primer, terapi lainnya hanya bersifat ajuvant. Untuk stadium I, II pengobatan adalah radikal

mastektomi atau modified radikal mastektomi, dengan atau tanpa radiasi dan sitostatika ajuvant. Terapi radiasi pasca operasi radikal mastektomi atau modified radikal mastektomi, tergantung dari kondisi kelenjar getah bening aksila. Jika kelenjar getah bening aksila mengandung metastase maka diberikan terapi radiasi ajuvant dan sitostatika ajuvant. Jika kelenjar getah bening aksila tidak mengandung metastase, maka terapi radiasi dan sitostatika ajuvant tidak diberikan. Stadium IIIa adalah simpel mastektomi dengan radiasi dan sitostatika ajuvant.

Untuk stadium IIIb dan Iv, sifat pengobatannya adalah paliasi, yaitu terutama untuk mengurangi penderitaan penderita dan memperbaiki kualitas hidup. Untuk stadium IIIb atau yang dinamakan locally advanced pengobatan terutama adalah radiasi dan dapat diikuti oleh modalitas lain yaitu hormonal terapi dan sitostatika (kemoterapi). Stadium IV pengobatan yang primer adalah yang bersifat yang bersifat sistemik yaitu hormonal dan kemoterapi. Radiasi terkadang diperlukan untuk paliasi pada daerah-daerah tulang weigth bearing yang mengandung metastase atau pada tumor yang berdarah difuse dan berbau yang menganggu sekitarnya.

Operasi (Pembedahan) Operasi merupakan modalitas utama untuk penatalaksanaan kanker payudara. Modalitas ini memberikann kontrol lokoregional yang dapat dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologi dan dari spesimen operasi dapat ditentukan tipe dan grading tumor, status kelenjar getah bening aksila, faktor prediktif dan faktor prognosis tumor(sesuai faktor diatas tidak bisa diperoleh dari modalitas lain) Berbagai jenis operasi pada kanker payudara adalah Classic Radical Mastectomy (CRM), Modified Radical Mastectomy (MRM), Skin Sparing Mastectomy (SPM), Nipple Sparing Mastectomy (NSP) dan Breast Conserving Tretment (BCT). CRM adalah operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara beserta tumor, nipple areola komplek, kulit diatas tumor, otot pektoralis mayor dan minor serta diseksi aksila level I-III. Operasi ini dilakukan bila ada infiltrasi tumor ke fascia atau otot pektoral tanpa ada metastasis jauh. Jenis operasi ini mulai ditinggalkan karena morbiditas tinggi sementara nilai kuratifitas sebanding MRM.

MRM adalah operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara beserta tumor, nipple areola kompleks, kulit di atas tumor dan fascia pektoral serta diseksi aksila level III. Operasi ini dilakukan pada kanker payudara stadium dini dan lokal lanjut. Merupakan jenis operasi yang banyak dilakukan. Kuratifitas sebanding CRM. SSM adalah operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara beserta tumor dan nipple areola kompleks dengan mempertahankan kulit sebanyak mungkin sera diseksi aksila level I-II. Operasi harus disertai rekonstruksipayudara secara langsung yang umumnya adalah TRAM flap (Transverese rektus abdominis musculotaneus flap), LD flap (latissimus dorsi flap) atau implant (silicon). Lakukan pada tumor stadium dini dengan jarak tumor ke kulit jauh (.2cm) atau stadium dini yang tidak memenuhi syarat untuk BCT. NSP adalah operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara beserta tumor dengan mempertahankan nipple areola kompleks dan kulit serta diseksi aksila level I-II. Operasi ini , juga harus disertai rekonstruksi payudara secara langsung yang umumnya adalah TRAM flap (Transverese rektus abdominis musculotaneus flap), LD flap (latissimus dorsi flap) atau implant (silicon). Dilakukan tumor stadium dini dengan ukuran 2cm atau kurang, lokasi perifer, secara klinis NAC tidak terlibat, kelenjar getah bening N0, histopatologi baik, dan potong beku sub areola: bebas tumor (Devita 2008, hal 1638). BCT adalah terapi yang komponennya terdiri dari lumpektomi atau segmentektomi atau kuadranektomi dan diseksi aksila serta radioterapi. Jika terdapat fasilitas, lymphatic mapping dengan Sentinel Lymph Node Biosy (SLNB) dapat dilakukan untuk menggantikan diseksi aksila. Terapi ini memberikan survival yang sama dengan MRM. Syarat dapat dilakukan yakni tepi sayatan bekas tumor (dipotong dengan potong beku), radioterapi dapat dilakukan dan kosmetik dapat diterima. Kontra indikasi yang tidak memenuhi ke 3 syarat tersebut adalah: a. Tumor yang multisentris , sehingga margin tidak bebas tumor b. Mikrokalsifikasi yang luas/difus c. Riwayat radiasi sebelumnya d. Penyakit kolagen (SLE, Scleroderma) terutama yang ketergantungan terhadap steroid e. Ukuran tumor yang besar sedangkan payudara kecil

f. Letak sentral atau dibawah g. Pada wanita hamil trisemester kedua atau ketiga tidak merupakan kontra indikaskarena radioterapi dapat ditunda hingga melahirkan h. Pada riwayat keluarga (+)

Radiotherapy Radiotherapy biasanya digunakan pada terapi kuratif Breast Conserving Treatment (BCT). Dan sebagai terapi tambahan atau sebagai paliatif. Radiotherapy kuratif sebagai therapy tunggal lokoregional ( kawasan payudara dan ketiak) tidak begitu efektif. Tetapi sebagai therapy tambahan pada tumor yang relative besar (T4) mungkin berguna. Biasanya seluruh payudara dan kelenjar supraclavicle diradiasi. Penyulitnya adalah pembengkakan lengan karena limfudem akibat rusaknya kel axilla supra clavicular. Kesimpulan : Radiasi harus dipertimbangkan pada Ca mammae yang inoperable atau jika ada metastasis. Kadang masih dapat dipikirkan amputasi mammae setelah tumor mengecil oleh radiasi.

Hormonal terapi Dari pemberian terapi hormonal ini adalah kenyataan bahwa 30-40% kanker payudara adalah hormon dependen. Terapi ini semakin berkembang dengan ditemukannya estrogen dan progesteron reseptor. Pada kanker payudara dengan estrogen reseptor dan preogerteron reseptor yang positif respon terapi hormonal sampai 77%.

Hormonal terapi merupakan terapi utama pada stadium IV disamping kemoterapi, karena kedua-duanya merupakan terapi sistemik. Dibedakan tiga golongan penderita menurut status menstruasi, yaitu premenopause, 1-5 tahun menopause, dan post menopause. Untuk premenopause terapi hormonal berupa terapi ablasi, yaitu bilateral oopharektomi. Untuk postmenopause terapi hormonal berupa pemberian obat anti estrogen. Untuk 1-5

tahun menopause, jenis terapi hormonal tergantung dari aktivitas efek estrogen. Efek estrogen positif dilakukan terapi ablasi, efek estrogen negatif dilakukan pemberian obat anti estrogen.

Kemoterapi Terapi ini bersifat sistemik, bekerja pada tingkat sel. Terutama diberikan pada kanker payudara yang sudah lanjut, bersifat paliatif; tetapi dapat pula diberikan pada kanker payudara yang sudah dilakukan operasi mastektomi, bersifat terapi ajuvant. Biasanya diberikan terapi kombinasi CMF. (C.Cyclophosphamide=endoxan; M=Methotrexate; F: 5 Fluorouracil).

PROGNOSIS Prognosis kanker payudara ditentukan oleh: 1. Staging (TNM) Semakin dini semakin baik prognosisnya Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV : 5-10 tahun : 5-10 tahun : 5-10 tahun : 5-10 tahun 90-80% 70-50% 20-11% 0% 96,2%

Untuk stadium 0 (in situ)

2.

Jenis histopatologi keganasan Karsinoma in situ mempunyai prognosis yang baik dibandingkan dengan karsinoma yang sudah invasif.

SCREENIG Metoda: 1. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) Dilakukan pada wanita mulai usia subur, setiap 1 minggu setelah hari pertama haid terakhir.

2. Pemeriksaaan fisik Dilakukan oleh dokter. 3. Mammografi Pada wanita usia 35-50 tahun : setiap 2 tahun Pada wanita usia > 50 tahun : setiap 1 tahun

DAFTAR PUSTAKA

Albar ZA, Tjindarbumi D, Ramli M. Protokol Peraboi 2003. Bandung. 2004; hal. 2-15. Anderson Silvia, McCarty Lorraine, et al. Patofisiologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit . Edisi VI. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. 2006; hal. 1140-1144. De Jong Wim, Sjamsuhidajat R, Editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. 2005;hal. 392. Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta. Binarupa Aksara. hal.322-341. Suyatno,dr, dkk.Bedah Onkologi Diagnostik Dan Terapi.Jakarta.2009.Hal 35-79