Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang

Selama ini bahan bakar fosil (minyak bumi) merupakan sumber energi utama dunia. Namun bahan bakar ini mempunyai cadangan yang terbatas dengan jumlah konsumsi yang semakin meningkat. Karena itu ketergantungan akan minyak bumi untuk jangka panjang tidak dapat dipertahankan lagi (sumber : Potensi Air Terjun Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH) Di Kabupaten Humbang Hasundutan SUMUT oleh Farel.H. Napitulu). Penggunaan energi dapat membawa dampak yang negatif bagi lingkungan. Penggunaan energi dapat menimbulkan polusi karena adanya limbah padat, limbah cair, dan gas buang. Seiring dengan meningkatnya penggunaan energi, saat ini aspek lingkungan dalam pembangunan mendapat perhatian yang serius. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang (UU) No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang ditujukan untuk mengurangi dampak negative kegiatan pembangunan terhadap lingkungan. Melengkapi UU tersebut diterbitkan UU No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). UU ini mengharuskan suatu kegiatan atau usaha yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan untuk menyusun dokumen AMDAL. AMDAL memuat secara lengkap rencana kegiatan, pelaksanaan konstruksi, upaya pengelolaan maupun pemantauan lingkungan serta instansi-instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan lingkup kegiatannya. Dalam perkembangan selanjutnya masalah ini selalu dikaitkan dengan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pengembangan sektor energi harus mengikuti kaidah pembangunan berkelanjutan. Aspek penting yang perlu mendapat perhatian adalah adanya kebijakan yang kondusif dan didukung oleh kemandirian finansial, teknologi dan sumber daya manusia. Salah satu opsi dalam pengembangan sector energi adalah pemnfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) untuk daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh jaringan PT PLN (Persero). Berbeda dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala besar yang memerlukan waduk, PLTM dan PLTMH memanfaatkan debit aliran air dengan beda ketinggian yang tidak yerlalu tinggi (sistem run of river). Pembangunan PLTM dan PLTMH tidak memerlukan relokasi tempat tinggal masyarakat setempat akibat pembuatan bendungan atau waduk. Lebih jauh pemanfaatan PLTM dan PLTMH diharapkan dapat menyediakan tenaga listrik yang murah dan ramah lingkungan serta dapat berdampak p[ada kesadaran masyarakat untuk melestarikan hutan sebagai penjaga kalestarian sumber daya air (sumber : Pemberdayaan Masyarakat dalam mengelola Potensi Sumber Daya Air melalui Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mini/Mikro Hidro oleh Agus Sugiyono).
1.2.

Identifikasi Masalah

Pengentasan kemiskinan dilakukan dengan meningkatkan pembangunan di segala bidang, salah satunya di bidang infrastruktur khususnya infrastruktur kelistrikan. Pembangunan kelistrikan yang ada belum bisa mencukupi kebutuhan masyarakat terutama di desa-desa terpencil. Pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH)

merupakan suatu pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan aliran air sungai sebagai tenaga(resources) untuk menggerakan turbin, mengubah energi potensial air menjadi kerja mekanis, memutar turbin dan generator untuk menghasilkan daya listrik skala kecil, yaitu sekitar 5-100kW, yang sama sekali tidak menggunakan bahan bakar. Penerapan PLTMH merupakan upaya positif untuk mengurangi laju perubahan iklim global yang sedang menjadi isu penting dewasa ini. PembangunanPLTMH membuat masyarakat semakin giat menjaga lingkungan, termasuk hutan demi terus tersedianya pasokan aliran sungai (sumber : http://www.scribd.com/doc/86204261/Jurnal-PLTMH-09-Khairul-Amri-Reintek 31 Mei 2012 pukul 13.27 WIB) 1.3. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)? 2. Apa saja kelebihan dan kekurangan pembangunan PLTMH?

3. Bagaimana potensi PLTMH di Indonesia? 1.4. Tujuan dan Manfaat


1. 2.

Mengetahui pengertian dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Mengetahui kelebihan dan kekurangan pembangunan PLTMH. Mengetahui potensi PLTMH di Indonesia.

3.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Pembangkit Listrik Tenga Mikro Hidro (PLTMH) Mikrohidro atau yang dimaksud dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), adalah suatu pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air. Mikrohidro merupakan sebuah istilah yang terdiri dari kata mikro yang berarti kecil dan hidro yang berarti air. Secara teknis, mikrohidro memiliki tiga komponen utama yaitu air (sebagai sumber energi), turbin dan generator. Mikrohidro mendapatkan energi dari aliran air yang memiliki perbedaan ketinggian tertentu. Pada dasarnya, mikrohidro memanfaatkan energi potensial jatuhan air (head). Semakin tinggi jatuhan air maka semakin besar energi potensial air yang dapat diubah menjadi energi listrik. Di samping faktor geografis (tata letak sungai), tinggi jatuhan air dapat pula diperoleh dengan membendung aliran air sehingga permukaan air menjadi tinggi. Air dialirkan melalui sebuah pipa pesat kedalam rumah pembangkit yang pada umumnya dibagun di bagian tepi sungai untuk menggerakkan turbin atau kincir air mikrohidro. Energi mekanik yang berasal dari putaran poros turbin akan diubah menjadi energi listrik oleh sebuah generator. Mikrohidro bisa memanfaatkan ketinggian air yang tidak terlalu besar, misalnya dengan ketinggian air 2.5 meter dapat dihasilkan listrik 400 watt. Relatif kecilnya energi yang dihasilkan mikrohidro dibandingkan dengan PLTA skala besar, berimplikasi pada relatif sederhananya peralatan serta kecilnya areal yang diperlukan guna instalasi dan pengoperasian mikrohidro. Hal tersebut merupakan salah satu keunggulan mikrohidro, yakni tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Perbedaan antara Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan mikrohidro terutama pada besarnya tenaga listrik yang dihasilkan, PLTA dibawah ukuran 200 KW digolongkan sebagai mikrohidro. Dengan demikian, sistem pembangkit mikrohidro cocok untuk menjangkau ketersediaan jaringan energi listrik di daerah-daerah terpencil dan pedesaan (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mikrohidro 2 Juni 2012 pukul 23.31 WIB).

Gambar 2.1 Potensi energi potensial yang dimiliki sungai dapat digunakan sebagai Pembangkit Listrik ZTenaga Mikro Hidro. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Mikrohidro 2 Juni 2012 pukul 23.31 WIB Mikrohidro juga dikenal sebagai white resources dengan terjemahan bebas bisa dikatakan energi putih. Dikatakan demikian karena instalasi pembangkit listrik seperti ini menggunakan sumber daya yang telah disediakan oleh alam dan ramah lingkungan. Suatu kenyataan bahwa alam memiliki air terjun atau jenis lainnya yang menjadi tempat air mengalir. Dengan teknologi sekarang maka energi aliran air beserta energi perbedaan ketinggiannya dengan daerah tertentu (tempat instalasi akan dibangun) dapat diubah menjadi energi listrik, Seperti dikatakan di atas, Mikrohidro hanyalah sebuah istilah. Mikro artinya kecil sedangkan hidro artinya air. Dalam prakteknya, istilah ini tidak merupakan sesuatu yang baku namun bisa dibayangkan bahwa Mikrohidro pasti mengunakan air sebagai sumber energinya. (sumber: http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduan-sederhana-pembangunanpembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB). Yang membedakan antara istilah Mikrohidro dengan Miniihidro adalah output daya yang dihasilkan. Mikrohidro menghasilkan daya lebih rendah dari 100 W, sedangkan untuk minihidro daya keluarannya berkisar antara 100 sampai 5000 W. Secara teknis, Mikrohidro memiliki tiga komponen utama yaitu air (sumber energi), turbin dan generator. Air yang mengalir dengan kapasitas dan ketinggian tertentu di salurkan menuju rumah instalasi (rumah turbin). Di rumah turbin, instalasi air tersebut akan menumbuk turbin, dalam hal ini turbin dipastikan akan menerima energi air tersebut dan mengubahnya menjadi energi mekanik berupa berputamya poros turbin. Poros yang berputar tersebut kemudian ditransmisikan/dihubungkan ke generator dengan mengunakan kopling. Dari generator akan dihasilkan energi listrik yang akan masuk ke sistem kontrol arus listrik sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban). Begitulah secara ringkas proses Mikrohidro, merubah energi aliran dan ketinggian air menjadi energi listrik. Terdapat sebuah peningkatan kebutuhan suplai daya ke daerahdaerah pedesaan di sejumlah negara, sebagian untuk mendukung industri-industri, dan

sebagian untuk menyediakan penerangan di malam hari. (sumber : Studi Aplikasi Flywheel Energy Storage untuk Meningkatkan dan menjaga Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) oleh Moh. Syaikhu Aminudin; Ir. Sarwono, MM; Ridho Hantoro, ST. MT.) Gambar 2.2 menunjukkan betapa ada perbedaan yang berarti antara biaya pembuatan dengan listrik yang dihasilkan.

Gambar 2.2. Skala Ekonomi dari Mikro-Hidro (berdasarkan data tahun 1985) Sumber : http://dunia-listrik.blogspot.com/2008/09/panduanpembangunan-pembangkit-listrik.html 2 Juni pukul 23.41 WIB Keterangan gambar 1 Average cost for conventional hydro = Biaya rata-rata untuk hidro konvensional. Band for micro hydro = Kisaran untuk mikro-hidro Capital cost = Modal Capacity = Kapasitas (kW) 2.1.1. Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro PLTMH pada prinsipnya sama dengan PLTA yaitu memanfaatkan beda elevasi dan jumlah debit air yang ada pada aliran air.Aliran air ini akan memutar poros turbin sehingga menghasilkan energy meknik. Energi ini selanjutnya menggerakkan generator dan menghasilkan listrik. Pembangunan PLTMH dimulai dengan membangun bendungan untuk mengatur supply air. Bendungan perlu dilengkapi intake (pintu pembuka) dan saringan agar sampah bisa disaring. Bendungan ini harus terletak pada dasar sungai yang stabil dan aman dari banjir. Dari intake, air disalurkan melalui headrace yang dilengkapi saluran pelimpah untuk mengeluarkan air yang berlebih. Tapi bisa juga saluran pelimpah tak diperlukan, tergantung kondisi. Selanjutnya, air akan masuk ke kolam pengendap untuk mengendapkan pasir dan menyaring kotoran agar air yang masuk ke turbin bersih. Selanjutnya air akan masuk

penstock dan dialirkan menuju turbin. Dalam penstock, energi potensial air akan diubah menjadi energi kinetik. Dalam turbin, air akan mengenai inlet. Di dalamnya ada guided vane untuk mengaturjumlah air yang masuk ke baling-baling. Baling-baling ini terbuat dari baja yang kokoh yang dilas pada 2 buah piringan sejajar agar system seimbang. Turbin dilengkapi casing untuk mengarahkan ke baling-baling. Daya dai poros turbin ini ditransmisikan ke dalam generator untuk diubah jadi nergi listrik. Generator yang dipakai adalah generator sinkron dan generator induksi. Sistem transmisinya bias langsung maupun tidak langsung. Sistem transmisi langsung memiliki kelebihan lebih kompak, mudah memindahkan daya serta efisiensi tinggi. Namun sumbunya harus benar-benar lurus dan putaran turbin sama dengan putaran generator. Untuk mengatasinya dapat dipakai gearbox. Gearbox dapat dipakai untuk mengubah rasio kecepatan rotasi. Turbin dan generator sebaiknya diletakkan pada sebuah rumah yang terpisah. Pondasi dari turbin dan generator juga harus dipisahkan dari rumahnya. Hal ini bertujuan agar tidak ada masalah yang muncul akibat getaranListrik yang dihasilkan oleh generator dapat langsung ditransmisikan lewat kabel ataupun disimpan dalam storage (Sumber : http://niningf43.blogspot.com/2011/02/pltmh.html 3 Juni 2012 pukul 09.28 WIB).

Gambar 2.3 Mikrohidro tipe crossflow Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Mikrohidro 23.31 WIB 2 Juni 2012 pukul

2.1.2. Komponen- Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro

Gambar 2.4 Komponen-komponen Besar dari sebuah Skema Mikro Hidro Sumber : http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduansederhana-pembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB

Diversion Weir dan Intake (Dam/Bendungan Pengalih dan Intake) Dam pengalih berfungsi untuk mengalihkan air melalui sebuah pembuka di bagian sisi sungai (Intake pembuka) ke dalamsebuah bak pengendap (Settling Basin).

Gambar 2.5 Diversion Weir dan Intake (Dam/Bendungan Pengalih dan Intake) Sumber : http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduan-sederhanapembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB Settling Basin (Bak Pengendap) Bak pengendap digunakan untuk memindahkan partikel-partikel pasir dari air. Fungsi

dari bak pengendap adalah sangat penting untuk melindungi komponen-komponen berikutnya dari dampak pasir.

Gambar 2.6 Settling Basin (Bak Pengendap) Sumber : http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduan-sederhanapembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB Headrace (Saluran Pembawa) Saluran pembawa mengikuti kontur dari sisi bukit untuk menjaga elevasi dari air yang disalurkan.

Gambar 2.7 Headrace (Saluran Pembawa) Sumber : http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduan-sederhanapembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB Headtank (Bak Penenang) Fungsi dari bak penenang adalah untuk mengatur perbedaan keluaran air antara sebuah penstock dan headrace, dan untuk pemisahan akhir kotoran dalam air seperti pasir, kayu-kayuan.

Gambar 2.8 Headtank (Bak Penenang) Sumber : http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduan-sederhanapembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB Penstock (Pipa Pesat/Penstock) Penstock dihubungkan pada sebuah elevasi yang lebih rendah ke sebuah roda air, dikenal sebagai sebuah Turbin.

Gambar 2.9 Penstock (Pipa Pesat/Penstock) Sumber : http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduan-sederhanapembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB Turbine dan Generator Perputaran gagang dari roda dapat digunakan untuk memutar sebuah alat mekanikal (seperti sebuah penggilingan biji, pemeras minyak, mesin bubut kayu dan sebagainya), atau untuk mengoperasikan sebuah generator listrik. Mesin-mesin atau alat-alat, dimana diberi tenaga oleh skema hidro, disebut dengan Beban (Load),dalam Gambar 2.10 bebannya adalah sebuah penggergajian kayu.

Gambar 2.10 Turbine dan Generator Sumber : http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduan-sederhanapembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB Tentu saja ada banyak variasi pada penyusunan disain ini. Sebagai sebuah contoh, air dimasukkan secara langsung ke turbin dari sebuah saluran tanpa sebuah penstock seperti yang terlihat pada penggergajian kayu di Gambar 2. Tipe ini adalah metode paling sederhana untuk mendapatkan tenaga air, tetapi belakangan ini tidak digunakan untuk pembangkit listrik karena efisiensinya rendah. Kemungkinan lain adalah bahwa saluran dapat dihilangkan dan sebuah penstock dapat langsung ke turbin dari bak pengendap pertama. Variasi seperti ini akan tergantung pada karakteristik khusus dari lokasi dan skema keperluan-keperluan dari pengguna. sumber: energiterbarukan.net Sumber : http://dunia-listrik.blogspot.com/2008/09/panduanpembangkit-listrik.html 2 Juni pukul 23.41 WIB 2.2. Kelebihan dan Kekurangan Pembangunan PLTMH 2.2.1. Kelebihan PLTMH 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Berikut adalah beberapa kelebihan PLTMH sehingga cocok untuk dimanfaatkan: Merupakan sumber saya terbarukan Biaya operasional dan pemeliharaan lebih murah dibanding mesin dengan energi fosil Penerapannya relatif mudah dan ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi udara dan suara. Efisiensinya tinggi Aman bila dipakai untuk memompa air, karena tidak digerakkan motor listrik. Selain itu efisiensinya lebih baik. Produk sampingan seperti air keluaran bisa dimanfaatkan untuk keperluan irigasi. Selain itu panas yang dihasilkan juga bisa dipakai. Masyarakat yang menikmati manfaat mikrohidro dapat membantu menjaga kondisi lingkungan daerah tangkapan airnya. pembangunan-

2.2.2. Kekurangan PLTMH Berikut adalah beberapa kekurangan PLTMH yang ada di Indonesia sehingga perlu dicari solusinya : 1. Biaya investasi untuk teknologi mikrohidro masih tinggi. 2. Kurangnya sosialisasi PLTMH, terutama potensinya sebagai penggerak mekanis seperti pompa air, penggiling padi, dll 3. Diperlukan sosialisasi mengenai dampak positip penerapan mikro hidro terhadap pengembangan kegiatan sosial ekonomi masyarakat pedesaan seperti industri kecil/rumah, perbengkelan, pertanian, peternakan, pendidikan, dll. (Sumber : http://niningf43.blogspot.com/2011/02/pltmh.html 3 Juni 2012 pukul 09.28 WIB). 2.3. Potensi PLTMH di Indonesia PLTMH saat ini sudah banyak diterapkan di Indonesia. Karena banyak sekali potensi aliran air yang bisa dimanfaatkan untuk teknologi ini, terutama di daerah yang sebelumnya belum mendapat aliran listrik. Akhir-akhir ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan PLTMH sebagai solusi energi listrik pedesaan yang selama ini belum terjangkau listrik PLN. Pembangkit mikrohidro yang dikembangkan LIPI telah dibangun di sejumlah daerah di Tanah Air seperti di Makki, Wamena, Papua, Enrekang, Sulawesi Selatan, dan Nagrak, Subang, Jabar. Di kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan misalnya, telah dibangun PLTMH dengan kapasitas 20 kW bagi 96 rumah, sarana umum, dan di masjid. Selain dari LIPI, pihak swasta juga turut membantu mengembangkan teknologi ramah lingkungan ini. Seperti di daerah Kemukiman Lhoong, Aceh. PLTMH ini terletak di Desa Kr Kala yang didiami 107 KK. PLTMH Lhoong merupakan bantuan dari PT Coca Cola Indonesia tahun 2005, pasca tsunami. Kapasitas yang terpasang pada mesin adalah 40 KW, sedangkan daya yang dihasilkan adalah 23 KW, dapat mengaliri 3 desa sekitar. Masyarakat tidak perlu takut dikenakan biaya listrik yang selangit karena tarif yang diberlakukan adalah tarif flat atau sesuai Ampere yang mereka gunakan. Bagi yang menggunakan listrik 2 ampere dikenakan biaya Rp.60 ribu/bulan, untuk yang memakai 1 ampere membayar Rp.30 ribu/bulan, sedangkan bagi yang cuma menggunakan ampere cuma dikenakan biaya Rp.15 ribu/bulan. PLTMH di indonesia memiliki potensi pengembangan yang banyak. Di antaranya adalah sebagai berikut : Harga BBM yang terus meningkat, membuat sumber energi terbarukan diperlukan Potensi mikrohidro di Indonesia sebesar 7500 MW, baru termanfaatkan 600 MW (Data tahun 2008) Belum terjaringnya semua wilayah di indonesia dengan listrik dari PLN, membuat diperlukan sumber energi listrik dari dekat lingkungan wilayah tersebut, salah satunya dengan PLTMH Dari analisis terhadap alternatif sumber energi seperti kincir angin, tenaga surya panas bumi, dan mikrohidro, menunjukkan mikrohidro lebih direkomendasikan. Terutama karena potensinya yang tersebar di banyak wilayah. (Sumber : http://niningf43.blogspot.com/2011/02/pltmh.html 3 Juni 2012 pukul 09.28 WIB).

1. 2. 3. 4.

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
Mikrohidro atau yang dimaksud dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro

(PLTMH), adalah suatu pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran irigasi, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air. Kelebihan PLTMH Berikut adalah beberapa kelebihan PLTMH sehingga cocok untuk dimanfaatkan: 1. Merupakan sumber saya terbarukan 2. Biaya operasional dan pemeliharaan lebih murah dibanding mesin dengan energi fosil 3. Penerapannya relatif mudah dan ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi udara dan suara. 4. Efisiensinya tinggi 5. Aman bila dipakai untuk memompa air, karena tidak digerakkan motor listrik. Selain itu efisiensinya lebih baik. 6. Produk sampingan seperti air keluaran bisa dimanfaatkan untuk keperluan irigasi. Selain itu panas yang dihasilkan juga bisa dipakai. 7. Masyarakat yang menikmati manfaat mikrohidro dapat membantu menjaga kondisi lingkungan daerah tangkapan airnya. Kekurangan PLTMH Berikut adalah beberapa kekurangan PLTMH yang ada di Indonesia sehingga perlu dicari solusinya : 1. Biaya investasi untuk teknologi mikrohidro masih tinggi. 2. Kurangnya sosialisasi PLTMH, terutama potensinya sebagai penggerak mekanis seperti pompa air, penggiling padi, dll 3. Diperlukan sosialisasi mengenai dampak positip penerapan mikro hidro terhadap pengembangan kegiatan sosial ekonomi masyarakat pedesaan seperti industri kecil/rumah, perbengkelan, pertanian, peternakan, pendidikan, dll. Potensi PLTMH di Indonesia PLTMH di indonesia memiliki potensi pengembangan yang banyak. Di antaranya adalah sebagai berikut : 1. Harga BBM yang terus meningkat, membuat sumber energi terbarukan diperlukan 2. Potensi mikrohidro di Indonesia sebesar 7500 MW, baru termanfaatkan 600 MW (Data tahun 2008)

3. Belum terjaringnya semua wilayah di indonesia dengan listrik dari PLN, membuat diperlukan sumber energi listrik dari dekat lingkungan wilayah tersebut, salah satunya dengan PLTMH 4. Dari analisis terhadap alternatif sumber energi seperti kincir angin, tenaga surya panas bumi, dan mikrohidro, menunjukkan mikrohidro lebih direkomendasikan. Terutama karena potensinya yang tersebar di banyak wilayah. 3.2. Saran Pengembangan PLTMH harus sejalan dengan pengelolaan sumber daya air secara terpadu. Besamya biaya pembangunan ini tentunya diharapkan dapat diimbangi oleh kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, mengelola dan mengembangkan PLTMH sebagai motor penggerak kegiatan ekonomi pedesaan dan kegiatan produktif kelompok masyarakat. Identifikasi potensi pengembangan kegiatan ekonomi produktif seperti agro processing, home industri dan agro, industri sangat penting dilakukan baik oleh masyarakat maupun pemerintah dan pihak-pihak yang interest dalam pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat untuk mengoptimalkan fungsi PLTMH selain untuk penerangan.

DAFTAR PUSTAKA Potensi Air Terjun Sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH) Di Kabupaten Humbang Hasundutan SUMUT oleh Farel.H. Napitulu Pemberdayaan Masyarakat dalam mengelola Potensi Sumber Daya Air melalui Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mini/Mikro Hidro oleh Agus Sugiyono http://www.scribd.com/doc/86204261/Jurnal-PLTMH-09-Khairul-Amri-Reintek 31 Mei 2012 pukul 13.27 WIB http://id.wikipedia.org/wiki/Mikrohidro 2 Juni 2012 pukul 23.31 WIB http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/06/11/panduan-sederhanapembangunan-pembangkit-listrik-tenaga-mikro-hidro-pltmh/ 2 Juni pukul 23.39 WIB Studi Aplikasi Flywheel Energy Storage untuk Meningkatkan dan menjaga Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) oleh Moh. Syaikhu Aminudin; Ir. Sarwono, MM; Ridho Hantoro, ST. MT. http://dunia-listrik.blogspot.com/2008/09/panduan- pembangunan-pembangkitlistrik.html 2 Juni pukul 23.41 WIB http://niningf43.blogspot.com/2011/02/pltmh.html 3 Juni 2012 pukul 09.28 WIB