Anda di halaman 1dari 57

SCIENTIA VOL. 1 NO.

1, 2011 ISSN : 2087-5045

ISSN : 2087-5045

Volume 2, Nomor 1, Februari 2012

Scientia, V ol. 1, No. 1, 2011 ; halaman 1 58 ISSN : 2087-5045 Se kolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Pe rintis Padang

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

SCIEN T IA
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
TE RBIT DUA KALI SETAHUN SETIAP BULAN FE BRUARI DAN AGUSTUS

D E W AN RE D A KSI
Penanggung Jawab : Prof. H. Syahriar Harun, Apt Pemimpin Umum : DR.H.M. Husni Mukhtar,MS, DEA, Apt Redaktur Pelaksana : Verawati, M.Farm, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt Sekretariat : Afdhil Arel, S.Farm, Apt Khairul Dewan Penyunting : Prof.H. Syahriar Harun,Apt Prof.DR.H. Amri Bakhtiar,MS,DESS,Apt Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt Drs. Yufri Aldi, MSi, Apt Drs. B.A. Martinus , MSi Hj. Fifi Harmely, M.Farm ,Apt Farida Rahim, M.Farm, Apt Revi Yenti, M.Si, Apt Verawati, M.Farm, Apt Ria Afrianti, M.Farm ,Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt

Penerbit : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang ISSN : 2087-5045 Alamat Redaksi/Tata Usaha : STIFI Perintis Jl. Adinegoro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang Telp. (0751)482171, Fax. (0751)484522 e-mail : stifpadang@gmail.com website : www.stifi-padang.ac.id

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

SALAM REDAKSI

Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya. Di awal tahun 2012 ini pengelola Jurnal Scientia kembali dapat menghadirkan jurnal ilmiah Scientia Vol. 2 No. 1 kehadapan para rekan-rekan sejawat di bidang farmasi dan kesehatan. Kami berterima kasih kepada rekan-rekan yang telah berpartisipasi untuk mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal kami. Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi akan bahan baku obat dan peralatan kesehatan asal impor yang berdampak pada mahalnya harga obat dan biaya kesehatan. Sementara itu potensi alam Indonesia yang kaya akan tumbuhan berkhasiat obat belum lagi dimanfaatkan secara optimal untuk memecahkan permasalahan kesehatan ini. Dengan adanya pasar bebas, obat tradisional Indonesia dapat terdesak olah obat tradisional dari negara lain. Oleh karena itu perlu ditingkatkan dukungan terhadap obat tradisional Indonesia, salah satunya melalui pembuktian khasiat tumbuhan obat secara ilmiah. Setiap kita para peneliti/akademisi dapat berperan serta dalam memberikan dukungan. Lebih lagi saat ini pemerintah memiliki program Saintifikasi Jamu, sehingga sangat tepat rasanya bila kita para sejawat bidang kesehatan dapat bersama-sama mewujudkan agar obat tradisional mendapatkan posisi yang sama dengan obat-obat kimia sintetis dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Padang, Februari 2012 Salam Sehat

a/n Redaksi Scientia

ISSN : 2087-5045

DAFTAR ISI

PENENTUAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI BEBERAPA EKSTRAK SAYUR-SAYURAN SEGAR DAN DIKUKUS DENGAN METODE DPPH Elka Yuslinda, Husni Mukhtar dan Khairunnis ISOLASI KOFEIN DARI DAUN KOPI (Coffea arabica, L) DENGAN METODA SUBLIMASI Dira PENGARUH SUPLEMENTASI VITAMIN C TERHADAP KAPASITAS VITAL PARU PADA PEROKOK Pudia M. Indika dan Arif Fadli Muchlis STUDI PREFORMULASI SENYAWA SINTESIS TURUNAN KALKON 3-(3-NITROPHENIL)-1-PHENILPROP-2-EN-1-ON : KELARUTAN INTRINSIK DAN KONSTANTA IONISASI Gressy Novita, Kamal Rullah dan Anwar Syahadat PENGARUH PEMBERIAN MINYAK IKAN GELODOK RAKSASA (Periophthalmodon schlosseri) TERHADAP AKTIVITAS SEKSUAL MENCIT PUTIH JANTAN Husni Mukhtar, Farida Rahim dan M. Adam Faridh Mufas TOKSISITAS SUB KRONIS EKSTRAK ETANOL DAUN BERINGIN (Ficus benjamina L) TERHADAP FUNGSI GINJAL MENCIT PUTIH BETINA Syilfia Hasti, Gressy Novita dan Gusti Wahyu Ramadhani FORMULASI PASTA GIGI MINYAK CENGKEH(Oleum caryophylli) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Streptococcus mutans Fifi Harmely,Vinny Hosiana dan Rina Reskika SKRINING AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI DAUN TUMBUHAN SIDAGURI Ema Ratna Sari UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN Eupatorium odoratum L. TERHADAP LARVA (Artemia salina Leach) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BST) Revi Yenti UJI AKTIFITAS HEPATO-PROTEKTIF EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) TERHADAP TOKSISITAS ALKOHOL PADA MENCIT PUTIH JANTAN Eka Fitrianda, Ria Afrianti dan Resta Novie Yunasti

1-5

6-10 -

11-14

15-23

24-28

29-35

36-40

41-44 45-48

49-52

ISSN : 2087-5045

Halaman 1-52

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

PENENTUAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI BEBERAPA EKSTRAK SAYUR-SAYURAN SEGAR DAN DIKUKUS DENGAN METODE DPPH
Elka Yuslinda1), Husni Mukhtar2), Khairunnisa1) 1) Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau Pekanbaru 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang

ABSTRACT Antioxidant activities of five vegetetables were determined by DPPH method. The vegetables were bayam (Amaranthus hybridus L.), kangkung (Ipomoeae aquatic Forsk), singkong (Manihot utilissima Pohl.), katu (Sauropus androgynus L., Merr.) and kacang panjang (Vigna unguiculata (L.) Walp.). Leaves of those vegetables were prepared as fresh and steamed samples and extracted by maceration using ethanol, n-hexane and methanol. As result, methanolic extract of steamed Manihot utilissima had the highest antioxidant activity (IC 50 = 0,287 mg/ml). Key words : antioxidant, DPPH, vegetables

PENDAHULUAN Sayuran hijau seperti daun bayam, daun kangkung, daun singkong, daun katu, dan daun kacang panjang memiliki beragam manfaat bagi kesehatan. Kandungan zat gizi alami dalam sayuran hijau sangat banyak, diantaranya karotenoid yang dapat melawan radikal bebas. Klorofil pada sayuran hijau merupakan pigmen tanaman yang warnanya hijau dan terdapat dalam kloroplas sel tanaman (Smith, 2002). Secara umum sayuran mengandung berbagai macam vitamin, mineral dan pigmen yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan dapat menetralkan radikal bebas sebelum menimbulkan kerusakan sel-sel tubuh (Aqil et al, 2006). Proses penuaan dan penyakit degeneratif seperti kanker, ateroklerosis, stroke, tekanan darah tinggi, katarak serta terganggunya sistem imun tubuh, merupakan beberapa penyakit yang berkaitan dengan aktivitas radikal bebas (Cadenas, et al, 2002 ) Radikal bebas adalah atom atau molekul yang sifatnya tidak stabil. Radikal bebas mempunyai 1 elektron atau lebih yang tanpa pasangan sehingga untuk menjadi stabil cenderung mengambil elektron dari molekul lain yang kemudian menimbulkan senyawa yang tidak normal dan memulai reaksi berantai yang dapat merusak jaringan. Reaksi berantai akan berhenti bila radikal bebas itu diredam. Untuk ISSN : 2087-5045

meredam efek negatif dari radikal bebas ini diperlukan senyawa yang disebut antioksidan (Elfita et al, 2006). Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat oksigen reaktif atau nitrogen reaktif (ROS/RNS) dan juga radikal bebas sehingga antioksidan dapat mencegah penyakitpenyakit yang dihubungkan dengan radikal bebas seperti karsinogenesis, kardiovaskuler dan penuaan (Anshory et al, 2006). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sayuran segar mengandung zat antioksidan yang berfungsi melindungi sel-sel tubuh dari proses oksidasi yang mempercepat proses penuaan dan mencegah adanya radikal bebas yang merusak sel atau program genetik (Smith, 2002). Berdasarkan hal di atas dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dari 5 jenis sayursayuran yaitu daun bayam (Amaranthus hybridus L), daun kangkung (Ipomoea aquatica Forsk), daun singkong (Manihot utilissima Pohl), daun katu (Sauropus androgynus L. Merr), daun kacang panjang (Vigna unguiculata (L.) Walp). Sayur-sayuran ini diekstraksi secara maserasi dengan berbagai pelarut yang berbeda kepolarannya dalam keadaan segar dan setelah dikukus. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan menggunakan metode pengukuran serapan radikal DPPH.

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 METODA PENELITIAN Alat dan bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah rotary evaporator (BUCHI), spektrofotometer UV-Vis (Simadzu ), ultrasonic (BRANSON), timbangan analitik (AND), botol gelap, penangas air, dandang, pipet mikro (SGE), alat-alat gelas, spatel, kertas saring dan corong. Bahan yang digunakan adalah daun bayam (Amaranthus hybridus L), daun kangkung (Ipomoea aquatica Forsk), daun singkong (Manihot utilissima Pohl), daun katu (Sauropus androgynus L. Merr), dan daun kacang panjang (Vigna unguiculata (L.) Walp yang diambil dari Pasar Dupa Pekan Baru. Bahan penyari adalah etanol 96 %, n-heksan, metanol. Bahan kimia lainnya : DPPH dan vitamin C. Ekstraksi Sebelum proses ekstraksi dilakukan, sampel diberikan 2 perlakuan yang berbeda yaitu : A. Sampel segar Masing-masing sampel sebanyak 200 g dicuci bersih dengan air mengalir dan dirajang halus. B. Sampel yang dikukus Masing-masing sampel sebanyak 200 g dicuci dengan air mengalir kemudian dikukus selama 3 menit pada suhu 100oC kemudian dirajang halus. Terhadap kelima jenis tanaman baik dalam keadaan segar dan dikukus diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut yang berbeda yaitu : 1. Ekstrak etanol Sampel dimaserasi dengan etanol 96 % selama 5 hari sambil diaduk. Maserat yang diperoleh disaring dan ampasnya dimaserasi ulang dengan pelarut yang sama sebanyak 2 kali. Filtrat yang diperoleh digabungkan dan dipekatkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental etanol 2. Ekstrak n-heksan Sampel dimaserasi dengan n-heksan selama 5 hari sambil diaduk. Maserat yang diperoleh disaring dan ampasnya dimaserasi ulang dengan pelarut yang sama sebanyak 2 kali. Filtrat yang diperoleh digabungkan dan ISSN : 2087-5045 dipekatkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental n-heksan yng bersifat lipofil. 3. Ekstrak metanol Ampas dari hasil ekstraksi dengan n-heksan diekstraksi lagi dengan metanol selama 3x5 hari. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan methanol yang bersifat hidrofil. Penentuan aktivitas antioksidan Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH. Masing-masing larutan sampel (konsentrasi 0,25, 0,5 dan 1 mg/ml dalam metanol) dipipet 0,2 ml dengan pipet mikro ke dalam vial, kemudian tambahkan 3,8 ml larutan DPPH 50 M dalam metanol. Campuran larutan ini dihomogenkan dengan bantuan ultrasonik dan serapan diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum DPPH yaitu 517 nm (Molyneux, 2004). Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan untuk masing masing konsentrasi larutan sampel. Larutan standar yang digunakan adalah Vitamin C dengan konsentrasi 1, 3, 7 g/ml dan diperlakukan sama seperti sampel. Aktivitas antioksidan sampel ditentukan oleh besarnya hambatan serapan radikal DPPH melalui perhitungan persentase inhibisi serapan DPPH dengan menggunakan rumus:
% Inhibisi = Absorban kontrol Absorban sampel x 100% Absorban Kontrol

Selanjutnya IC50 dihitung berdasarkan konsentrasi dan persentase inhibisi menggunakan persamaan regresi linier. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dari beberapa jenis sayursayuran yang segar dan dikukus. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode pengikatan radikal bebas DPPH (2,2-difenil-1pikrilhidrazil). Senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan akan bereaksi dengan DPPH melalui pemberian elektron dari senyawa antioksidan kepada DPPH yang mempunyai elektron sunyi, sehingga elektron tersebut menjadi berpasangan. Reaksi ini menyebabkan perubahan warna larutan DPPH dari ungu

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 menjadi kuning. Perubahan warna inilah yang akan diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Visible, semakin rendah serapan semakin tinggi daya antioksidan dari larutan (Ozcelik, et al, 2002 ; Simpson, 2006). Pengukusan sayuran bertujuan untuk menguraikan pektin yang terkandung pada dinding sel agar teksturnya menjadi lunak, membunuh kuman penyakit, agar senyawa beracun alami tidak aktif, menguraikan residu pestisida agar tidak berbahaya bagi tubuh, dan mengubah senyawa komplek menjadi lebih sederhana, sehingga mudah untuk dicerna dan diserap tubuh. Hasil pengujian aktivitas antioksidan diperoleh nilai persentase inhibisi seperti pada tabel I berikut;

Tabel I: Persentase inhibisi ekstrak etanol, heksan dan metanol pada konsentrasi 1 mg/ml terhadap radikal bebas DPPH 50 M (serapan DPPH 0,528) Persentase Inhibisi (%) Sampel Ekstrak etanol Ekstrak heksan Ekstrak metanol (daun) Segar Dikukus Segar Dikukus Segar Dikukus Bayam 67,80 60,13 47,92 47,35 50,66 57,39 Kangkung 82,20 59,75 45,55 46,31 85,23 71,69 Singkong 63,26 87,97 58,24 44,41 87,88 94,70 Katu 59,19 67,33 48,20 46,31 56,44 57,01 Kacang panjang 53,22 54,73 55,87 50,28 50,19 55,30 Hasil pengujian aktivitas antioksidan lebih lanjut terhadap ekstrak yang memiliki nilai persentase inhibisi 80% pada konsentrasi 0,25 dan 0,5 mg/ml terdapat pada tabel 2. . Tabel 2. Persentase inhibisi ekstrak kental etanol, metanol pada konsentrasi 0,25 dan 0,5 mg/ml (serapan DPPH 0,546) Persentase inhibisi (%) Ekstrak Ekstrak Metanol Singkong dikukus Ekstrak Metanol Singkong segar Ekstrak Etanol Singkong dikukus Ekstrak Metanol Kangkung segar Ekstrak Etanol Kangkung segar Konsentrasi 0,25 mg/ml 42,49 37,64 34,43 33,70 28,39 Konsentrasi 0,5 mg/ml 71,43 60,16 56,68 54,95 47,53

ISSN : 2087-5045

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Setelah dihitung menggunakan persamaan regresi linier diperoleh nilai IC50 dari masing-masing ekstrak seperti tabel 3 berikut. Tabel 3. Nilai IC50 dari sampel No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sampel (daun) Vitamin C Ekstrak etanol daun kangkung segar Ekstrak metanol daun kangkung segar Ekstrak etanol daun singkong yang dikukus Ekstrak methanol daun singkong segar Ekstrak methanol daun singkong yang dikukus IC50 4,016 g/ml 0,542 mg/ml 0,463 mg/ml 0,443 mg/ml 0,399 mg/ml 0,287 mg/ml

IC50 (Inhibition Concentration) adalah konsentrasi ekstrak yang memberikan persen aktivasi antioksidan senilai 50% dibanding kontrol melalui suatu persamaan garis regresi linier. Semakin kecil nilai IC50, maka senyawa tersebut semakin aktif sebagai antioksidan (Kikuzaki et al, 2002; Anshory, 2006). Dari hasil pengujian didapatkan ekstrak metanol Manihot utilissima Pohl (Singkong) yang dikukus memiliki aktivitas antioksidan tertinggi, dengan nilai IC50 0,287 mg/ml. Kandungan rutin dari daun singkong merupakan salah satu senyawa yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Zielinska et al, 2010), disebabkan karena kemampuannya menangkap radikal bebas dan oksigen aktif (Hanasaki et al, 1994). Sebagai pembanding digunakan vitamin C karena vitamin ini merupakan antioksidan sekunder alami yang memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat (Cholisoh, 2007), dari hasil pengujian diperoleh IC50 Vitamin C sebesar 4,016 g/ml. KESIMPULAN Hasil pengujian aktivitas antioksidan dari beberapa sayur-sayuran yang ada di Pasar Dupa Pekanbaru diperoleh ekstrak metanol daun singkong (Manihot utilissima Pohl) yang dikukus memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi, dengan IC50 sebesar 0,287 mg/ml sedangkan standar vitamin C memiliki IC50 sebesar 4,016 g/ml. DAFTAR PUSTAKA Anshory, H., Suparini, dan Setiadi, A., 2006, Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum L.) terhadap penangkapan ISSN : 2087-5045

radikal bebas DPPH, Majalah Farmasi Indonesia. 3(1), 9-13. Aqil, F., Ahmad, I. and Mehmood, Z., 2006. Antioxidant and Free Radical Scavenging Properties of Twelve Traditionally Used Indian Medicinal Plants. Turk J Biol. 30:177-183. Cadenas, E. and Packer, L.,2002, Handbooks of Antioxidants. Edisi II, Marcel Decker Inc., New York. Cholisoh, Z dan Hanwar, D., 2006 Aktivitas Antiradikal Ekstrak Etanol Daun, Bunga, dan Biji Selasih (Ocimum sanctum) Serta Hubungannya Dengan Karateristik Kandungan Polifenol, Pharmacon. 7(1), 16-20. Elfita, Supriyatna., Bahti, H.H., Dachriyanus, 2006, Kandungan Kimia Fraksi Aktif Antioksidan Dari Daun Kandis Gajah (Garcinia griffithii T. Anders). Pharmacy. 4(3), 138-143 Hanasaki, Y., Ogawa,S., and Fukui, S., 1994, The Correlation Between Active Oxygen, Scavenging and Antioxidative Effect of Flavonoid, J. Free Radical Biol Med., 16, 845-850. Kikuzaki H, Hisamoto M, Hirose K, Akiyama K, Toniguchi H., 2002 Antioxidants properties of ferulic acid and its related compounds. J Agric Food Chem, 50;21- 61 Molyneux, P., 2004, The Use of Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for estimating Antioxidant Activity, J. Sci. Technol, 26 (2), 211-219. Ozcelik, B., Lee, J., Min, D.B., 2002, Effects of Light, Oxygen, and pH on the Absorbance

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 of 2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl, Journal of Food Science, 68(2), 487-490. Simpson, J.A. 2006. Antioxidant Properties of Peanut Plant Leaves and Roots and Contribution of Specific Phenolic Compounds To Antioxidant Capacity. Tesis, Raleigh, North California State University. Smith,Y.E, 2002, Terapi sayuran, Prestasi Pustaka, Jakarta. Zielinska D, Dorota S.W and Henryk Z., 2010, Determination of The Antioxidant Activity of Rutin and Its Contribution To The Antioxidant Capacity of Diversifed Buckwheat Origin Material By Updated Analytical Strategies, Journal Of Food and Nutrition Sciences, 60 (4), 315-321.

ISSN : 2087-5045

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

ISOLASI KOFEIN DARI DAUN KOPI (Coffea arabica, L) DENGAN METODA SUBLIMASI
Dira STIFI Perintis Padang

ABSTRACT A research was carried out to isolate caffein from the fresh leaves of coffee plant (Coffea arabica, L) collected in the area of Lubuk Minturun Padang. The fresh leaves were extracted by water, followed by fractionation with chloroform. The chloroform fraction was then evaporated and the result was purificated by sublimation to obtain pure caffeine. The characteristics of caffeine obtained were determined, the characteristics include: organoleptic, melting point, murexide reaction, thin layer chromatography, ultraviolet spectrum and infrared spectrum. Organoleptic performance of isolated caffeine was slightly yellowish white, bitter, and odorless. The melting point was 223-225oC, and reacted positively with the mureksid reagent. Chromatogram of isolated caffeine gave the same Rf with the standard caffeine (0,26). Examination by UV spectrophotometric gave the maximum wavelength at 272.6 nm. Infrared spectra of coffeine showed significant peaks at 3100 cm-1 (C H stretch), 1700 cm-1 (C = O stretch), 1658 cm-1 (C = C stretch), 1550 cm-1 (C = N stretch). Overall, isolated coffeine in this study possed same organoleptics, physics and chemistry characteristics as the standard coffein. Key words : Caffein, sublimation, Coffea arabica, L. PENDAHULUAN Kofein merupakan alkaloida turunan Xantin, yaitu 1, 3, 7 trimetilxantin, bersifat basa lemah dan berkhasiat menstimulasi susunan saraf pusat, diuretik, stimulasi otot jantung yang telah lama dimanfaatkan orang. Dalam dosis rendah dapat meningkatkan kewaspadaan, menghilangkan rasa kantuk atau kelelahan dan meningkatkan kemampuan psikis. Kofein adalah stimulan paling populer di dunia. Pemakaian dalam bidang farmasi sangat luas biasanya dikombinasi dengan analgetik (Evans, 2000; Claus et al. 1976; Gan, 1995 & Mutschler, 1995). Tanaman kopi pertama kali diolah, ditanam di Ethiopia dan kemudian menyebar melalui perdagangan ke Arab sekitar tahun 800 dan akhirnya ke Eropa sekitar abad ke 13. Kofein yang diekstrak dari tumbuh-tumbuhan digunakan sebagai minuman. Melalui pengolahan biji kopi dengan cara yang baik, akan diperoleh minuman kopi yang mempunyai aroma khas dan rasanya yang nikmat (Burkill, 1966 & Anonim, 2006). Kofein adalah substansi alamiah yang terkandung dalam berbagai bagian tanaman ISSN : 2087-5045 seperti pada daun teh, daun mate, biji kopi, biji coklat, biji kola dan biji guarana. Pada tanaman kopi, bagian yang banyak menghasilkan kofein adalah bijinya. Biji kopi yang disangrai mengandung kofein sekitar 0.7 1.7 %. (Stahl, 1985). Di Sumatera Barat air rebusan dari daundaun kopi merupakan minuman tradisional bagi masyarakat. Air rebusan atau air godogan ini dinamakan kawah. Kawah sebagai suatu minuman yang dapat menyegarkan badan dan merupakan minuman yang sangat digemari. Dahulunya kawah juga disajikan pada pelancongpelancong yang kelelahan. (Heyne, 1987). Diduga senyawa yang memberikan rasa segar dan nikmat ini adalah kofein, karena mungkin saja kofein juga dijumpai pada daun. Sublimasi merupakan salah satu metode untuk memurnikan senyawa. Banyak zat padat akan langsung menjadi fase uap ketika dipanaskan dan akan terkondensasi kembali menjadi fase padat ketika uap didinginkan. Relatif sedikit senyawa organik yang bisa disublimasi pada tekanan atmosfer (Pasto, 1992; Pavia et al. 1995; Mohrig & Neckers, 1979 & 6

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Gennaro, 1990). Dilihat dari sifat fisikanya, kofein apabila dipanaskan akan dapat menyublim yaitu pada suhu 178 180 0C dan pada tekanan 1 atm (Evans, 2000; Clarke, 1971; Budavari, 1996 & Meyer, 1973) Berdasarkan hal diatas maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui secara pasti ada atau tidaknya kofein di dalam bagian daun tanaman kopi dan mengisolasinya. Isolasi dilakukan dengan metoda ekstraksi dan sublimasi Pengolahan Sampel Sampel dari daun kopi yang masih segar dikumpulkan kemudian dirajang, timbang sebanyak 1000 gram. Masukkan dalam beker gelas. Tambahkan aquadest 5 liter. Masukkan kalsium karbonat (CaCO3) 250 gram. Panaskan hingga mendidih. Setelah mendidih panaskan selama lebih kurang 30 menit sambil diadukaduk. Biarkan dingin, pisahkan ampas, saring dengan kertas saring. Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan alat destilasi vakum. Filtrat yang telah dipekatkan tadi difraksinasi dengan kloroform sebanyak 5 kali dalam corong pisah. Untuk 50 ml filtrat digunakan 150 ml kloroform (1 kali fraksinasi). Hasil fraksi kloroform diuapkan secara in vacuo dengan rotary evaporator, diuapkan sampai kering sehingga didapatkan serbuk. Serbuk ini dihaluskan dalam lumpang. Serbuk yang didapatkan ditimbang. Pemisahan Kofein secara Sublimasi Serbuk yang telah halus, dilakukan sublimasi dengan menggunakan alat sublimasi yang terbuat dari erlenmeyer vakum yang diberi pendingin yang dialirkan dengan air mengalir (Gambar 1). Serbuk yang dihasilkan ditimbang. Penentuan Perolehan Kembali Kofein dengan Metoda Sublimasi Ditimbang kofein standar 150 mg. Lakukan sublimasi dengan alat sublimasi. Hasil sublimasi ditimbang.

METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat Alat pemanas (Thermolyne), alat sublimasi, kertas saring, timbangan analitik (Precisa), timbangan teknis (Daema), pipet, gelas ukur, corong, corong pisah, batang pengaduk, beker gelas, chamber, erlenmeyer, alat destilasi, pompa vakum, erlenmeyer vakum, Spektrofotometer Inframerah, Melting Point Apparatus (Fisher-Johns), cawan penguap, termometer, spatel, cover glass, lampu UV 254 nm. Bahan Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun dari tanaman kopi yang diambil di daerah Lubuk Minturun Padang, Aquadest, kalsium karbonat (CaCO3), etanol, plat KLT Silika Gel PF 254, kalium klorat, kloroform p.a , kofein pembanding / standar (PT. Bayer Indonesia), HCl pekat, ammonium hidroksida.

ISSN : 2087-5045

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

Gambar 1. Alat sublimasi Analisa Kualitatif Kofein a. Organoleptik Meliputi warna, rasa, bau dan bentuk b. Pemeriksaan Jarak Leleh Ambil sedikit serbuk, letakkan diantara dua cover glass dan ditempatkan pada alat Melting Point Apparatus ( Fisher- Johns ) lalu amati suhu melelehnya serbuk dan dibandingkan dengan kofein standar. c. Pemeriksaan Spektrum dengan Spektrofotommeter Ultraviolet. Dibuat larutan kofein hasil sublimasi dengan konsentrasi 1 mg / 100 ml lalu dibuat kurva serapan dan diamati panjang gelombang serapan maksimumnya, dibandingkan dengan panjang gelombang serapan maksimum kofein standar. d. Pemeriksaan Spektrum dengan Spektrofotometer Inframerah Diambil sedikit serbuk kofein hasil sublimasi ditambahkan dengan KBr dalam lumpang, gerus sampai homogen kemudian dibuat pellet yang tipis dengan bantuan alat penekan. Spektrumnya diamati dan dibandingkan dengan kofein standar. e. Reaksi Kimia Dengan pereaksi Murexid, larutkan kurang lebih 5 mg kofein hasil sublimasi dalam 1 ml HCl pekat dalam cawan porselen, tambahkan 50 mg kalium klorat, uapkan di atas tangas uap hingga kering. Balikkan cawan di atas bejana berisi beberapa tetes ammonium hidroksida 6 N hingga berwarna lembayung yang hilang dengan penambahan larutan alkali ISSN : 2087-5045 kuat ( NaOH). Dibandingkan dengan kofein standar. f. Kromatografi Lapis Tipis Ambil kurang lebih 5 mg serbuk hasil sublimasi dan kofein pembanding. Masingmasingnya dilarutkan dalam kloroform. Totolkan pada plat KLT, masukkan dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan fase gerak kloroform : etanol (19 : 1). Kromatogram ini dilihat dibawah lampu ultraviolet pada panjang gelombang 254 nm. HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi kofein dari daun kopi ini menggunakan metoda sublimasi. Metoda ini dipilih karena pengerjaannya lebih mudah dan lebih murah. Sebelum disublimasi, terlebih dahulu kofein diekstraksi dari daun. Sebagai larutan untuk pengekstraksi digunakan aquadest. Penggunaan aquadest sebagai pelarut memberikan banyak keuntungan yaitu kelarutan kofein yang baik dalam air panas, harga murah dan mudah didapat. Penambahan kalsium karbonat bertujuan untuk mengikat senyawa tanin sehingga membentuk komplek tanat yang mengendap sehingga memudahkan dalam pemisahannya. Selain itu juga aktif melepaskan kofein dari bentuk garamnya dengan asam-asam organik sehingga lebih mudah terekstraksi. Selain kalsium karbonat dapat juga digunakan CaO ataupun MgO.

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Setelah mendidih larutan dipanaskan selama 30 menit, tujuannya agar kofein dapat keluar dengan sempurna dari dinding partikel daun dan terlarut dalam larutan pengekstrak. Filtrat yang dihasilkan dipekatkan, tujuannya supaya memudahkan dalam pengocokan sewaktu fraksinasi dalam corong pisah. Kofein yang berada atau terlarut dalam air difraksinasi dengan kloroform sehingga dapat memisahkan kofein dari senyawa-senyawa lainnya yang tidak larut dalam kloroform. Hasil fraksinasi dari kloroform ini diuapkan dengan rotary evaporator sehingga akan didapatkan serbuk kering yang mengandung kofein. Untuk pemurnianya dilakukan sublimasi. Alat sublimasi dibuat dari erlenmeyer vakum yang diberi pendingin yang dialirkan dengan air mengalir yang berfungsi sebagai kondensor. Bila kofein dipanaskan akan berubah menjadi gas dengan adanya pendingin akan terkondensasi sehingga membentuk kristal atau serbuk yang menempel pada permukaan pendingin dan dinding-dinding Erlenmeyer tersebut. Melalui cara sublimasi ini diperoleh kofein sebanyak 1,0831 g yang berasal dari 1,8818 g fraksi kloroform kering atau 1000 g sampel segar daun kopi. Pemeriksaan terhadap kofein hasil sublimasi meliputi organoleptis, fisika dan kimia dan hasilnya sesuai dengan kofein standar. Jarak lebur kofein hasil sublimasi adalah 223-225oC. Analisa kofein secara kualitatif digunakan reaksi mureksid. Reaksi ini spesifik untuk alkaloida turunan xantin yang berwarna ungu atau lembayung dengan penambahan uap amonia dan warna hilang dengan penambahan larutan alkali kuat ( NaOH ). Timbulnya warna ini karena adanya pemecahan oksidatif struktur purin. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap kofein hasil sublimasi dan standar. Hasil reaksi mureksid terhadap kofein hasil sublimasi adalah positif. Tabel 1. Pemeriksaan kofein hasil sublimasi No 1 Pemeriksaan Organoleptis a. Warna b. Rasa c. Bau d. Bentuk Jarak lebur Hasil Putih agak kekuningan Pahit Tidak berbau Serbuk halus 223-225 0C 9 3 Reaksi Mureksid Positif

Untuk melihat kemurnian hasil isolasi kofein dapat dilakukan dengan kromatografi lapis tipis pada plat silika gel PF 254 dengan fase gerak kloroform : etanol ( 19 : 1 ), kemudian dibandingkan dengan kofein standar yang hasilnya memberikan harga Rf yang sama yaitu 0.26. Kromatogram ini dilihat di bawah sinar ultraviolet 254 nm.

A B C Gambar 2. Hasil Kromatografi Kofein A = kofein standar + kofein hasil sublimasi, B = kofein hasil sublimasi C = kofein standar Hasil pemeriksaan spektrofotometri ultraviolet kofein hasil sublimasi memberikan panjang gelombang serapan maksimum yaitu 272.6 nm. Spektrum dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Spektrum ultraviolet kofein hasil sublimasi

ISSN : 2087-5045

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Pada penentuan panjang gelombang serapan maksimum kofein dalam HCl 0.1 N dengan spektrofotometer ultraviolet pada panjang gelombang antara 200-300 nm di dapat panjang gelombang serapan maksimum 272.6 nm. Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimun ini tidak sama dengan literatur dimana menurut literatur adalah 270 nm, tetapi jika dibandingkan dengan hasil pengukuran kofein standar, panjang gelombang serapan maksimumnya hampir sama yaitu 272.6 nm. Perbedaan ini terjadi dimungkinkan karena alat dan kondisi pengukuran yang berbeda. Pemeriksaan kualitatif digunakan spektrofotometer inframerah untuk identifikasi. Dengan membandingkan spektrum inframerah kofein hasil sublimasi dengan kofein standar. Hasil spektrumnya sama. Spektrum Inframerah dari kofein menunjukkan puncak-puncak yang penting pada bilangan gelombang 3100 cm-1 (Regang C H) , 1700 cm-1 (Regang C = O) , 1658 cm-1 ( Regang C = C ) , 1550 cm-1 (Regang C = N).
33.5 32 30 28 26 24
973 1026 759 610 3414 3112 2955 481

22
1359

1286

20 %T 18
1550 745 1484 1239

16 14 12 10
1700

8 6.0 4000. 0

1658

3600

3200

2800

2400

2000

1800 cm-

1600

1400

1200

1000

800

600

450.0

Gambar 4. Spektrum inframerah kofein hasil sublimasi dalam pellet KBr Hasil penentuan rata-rata perolehan kembali kofein dengan metoda sublimasi adalah 88.2 %. KESIMPULAN Dari penelitian ini telah berhasil diisolasi dan didapatkan kofein murni dari daun kopi (Coffea arabica, L) dengan menggunakan metoda sublimasi.

Budavari, S., 1996, The Merck Index, 12th Ed., Merck & Co., Inc, New York. Burkill, I. H., 1966, A Dictionary of Economic Product of Malay Peninsula, Vol 1, Government of Malaysia and Singapore, Kuala Lumpur. Clarke, E. C. G., 1971, Isolation and Identification of Drugs, The Pharmaceuticals Press, London. Claus, E.P., T.E. Varro, and B.L. Lynn.,1976, Pharmacognosy, 6th Ed., Published in Great Britain by Henry Kimpton, London. Evans, W. C., 2000, Pharmacognosy, 16th Ed., Saunders Edinburgh London New York Oxford Philadelphia st Louis Sydney Toronto. Gan, S., 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, Bagian Kedokteran Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta. Gennaro, A. R., 1990, Remingtons Pharmaceutical Science, 18th Ed., Mack Publishing Company, Easton Pensylvania. Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid III, diterjemahkan oleh Badan Litbang Kehutanan, cetakan ke-1, Jakarta. Meyer, L. H., 1973, Food Chemistry, Reynhold Publishing Corporation, New York. Mohrig., Neckers., 1979, Laboratory Experiments in Organic Chemistry, Third Edition, D. Van Nostrand Company New York. Mutschler, E., 1995, Dinamika Obat, Edisi kelima, diterjemahkan oleh Mathilda, B.W, Penerbit ITB Bandung, 1995. Pasto, D., Experiments and Tecniques in Organic Chemistry, Prentice Hall, New Jersey. Pavia., Lampman., Kriz., Engel., 1995, Introduction to Organic Laboratory Tecniques a Microscale Approach, Second Edition, Saunders Collage Publish. Stahl, E., 1985, Analisis Obat Secara Kromatografi dan Spektroskopi, Penerbit ITB, Bandung.

DAFTAR PUSTAKA ISSN : 2087-5045 10

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

PENGARUH SUPLEMENTASI VITAMIN C TERHADAP KAPASITAS VITAL PARU PADA PEROKOK


Pudia M. Indika, Arif Fadli Muchlis Program Studi Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang ABSTRACT This research was carried out to investigate the influent of vitamin C supplement to vital capacity of lung at smoker. The method used was casecontrol study with pre test and post test design. Smoker sample were divided in to two group: control and treatment which was given vitamin C for 30 days. The result showed that vital capacity of smoker which was given vitamin C for 30 days was significantly lower than control (p<0,05). Key words: Vitamin C supplement, Vital Capacity of lung

PENDAHULUAN Kebiasaan merokok dapat menimbulkan gangguan paru berupa bronkhitis dan emfisema. Pada kedua gangguan ini terjadi penurunan fungsi paru-paru. Selain itu pecandu rokok sering menderita penyakit batuk kronis, kepala pusing, perut mual, dan sukar tidur. Bila gejala-gejala di atas tidak segera diatasi, maka gejala yang lebih buruk dapat terjadi, seperti semakin sulit untuk bernafas, kecepatan pernafasan bertambah, serta kapasitas vital paru-paru berkurang. Penurunan fungsi paru akan mulai terlihat pada panjang pernafasan yang terjadi pada 2 tahun dan seterusnya akibat kebiasaan merokok (Adnil, 2000). Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran pernafasan dan jaringan paruparu. Pada saluran nafas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus bertambah banyak (hyperplasia) yang dapat mengakibatkan radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru- paru terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran nafas, pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya Penyakit Obstruktif Paru Menahun (Amalia, 2002; Corwin, 2001).

Merokok juga dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah, memekatkan darah sehingga mudah menggumpal dan menganggu irama jantung. Kandungan nikotin, gas CO, radikal bebas dan zat-zat tersebut dapat merusak lapisan endotel dalam pembuluh darah. Plak dalam pembuluh darah dapat menjadi pencetus awal terjadinya aterosklerosis yang dapat menyebabkan berbagai penyakit kardiovaskuler. Sehingga perokok tidak hanya beresiko mengalami gangguan paru-paru tetapi juga beresiko mengalami gangguan jantung dan pembuluh darah, hal ini akan berakibat pada penurunan kinerja jantung dan paru-paru (Putranto, 1997). Vitamin C sebagai salah satu vitamin yang larut dalam air dapat mencapai seluruh pembuluh darah perifer. Vitamin ini dapat bekerja sebagai antioksidan dalam tubuh. Dosis anjuran harian untuk vitamin C adalah 60 mg. Pada perokok, sebagian besar vitamin C di dalam tubuh digunakan untuk menghadapi sejumlah besar senyawa oksidasi di dalam asap rokok yang terserap (Pavlovic et al, 2005). Dalam Survey Kesehatan Rumah Tangga, prevalensi perokok pada tingkat pendidikan akademi atau universitas adalah sebesar 44,2 %. Distribusi frekuensi perokok berdasarkan usia antara 15 19 tahun adalah 24,2% sedangkan usia 2024 tahun sejumlah 62% (Tuminah, 2000).

ISSN : 2087-5045

11

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan yang memiliki kepadatan jadwal kuliah praktek olahraga, selayaknya memiliki kapasitas vital paru yang cukup baik. Tetapi dengan aktifitas merokok pada kalangan mahasiswa, umumnya dapat mempengaruhi kapasitas vital paru. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui pengaruh pemberian suplemen vitamin C terhadap kapasitas vital paru perokok. METODE PENELITIAN Analisis Data Penelitian ini bersifat studi eksperimental dengan menggunakan desain penelitian pretest posttest control group. Dimana perokok akan diberikan suplemen vitamin C 250 mg/hari selama 1 bulan. Pemeriksaan kapasitas vital paru pada perlakuan maupun kontrol dilakukan sebelum dan sesudah diberikan suplemen. Sampel Sampel penelitian adalah mahasiswa (lakilaki) Jurusan Kesehatan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan yang mengambil mata kuliah yang sama, usia 18 20 tahun yang telah merokok selama lebih dari 2 tahun. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 20 orang. Alat dan Bahan Penelitian 1. Alat Penelitian a. Rotary Spirometer b. Termometer air Bahan Penelitian a. Alkohol 70% b. Kapas c. Handscoon d. Vitamin C 250 mg Analisis data menggunakan uji Independent Samples T test digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang tidak berhubungan. Sebelum melakukan uji Independent Samples T test sebelumnya dilakukan uji kesamaan varian (homogenitas) dengan F tes (Levenes Test) dan Paired Samples. T Test digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan ratarata antara dua kelompok sampel yang berpasangan (berhubungan) dimana sebuah sampel mengalami dua perlakuan yang berbeda. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Kapasitas Vital Paru Terdapat 20 orang responden yang bersedia ikut serta dalam penelitian. Dengan menggunakan rotary spirometer masingmasing mahasiswa diukur kapasitas vital paru (CV) sebelum diberi perlakuan (pretest) pada tanggal 6 oktober 2010, dengan seperti terlihat pada pie chart dibawah ini : Cara Kerja Sampel dibagi menjadi 2 kelompok secara simple random sampling. Masing masing kelompok terdiri dari 10 orang. Setiap individu diukur kapasitas vital paru dengan menggunakan rotary spirometri. Untuk kelompok kontrol tidak diberikan suplemen vitamin C 250 mg, sedangkan kelompok kontrol diberikan suplemen vitamin C 250 mg selama 30 hari. Setelah 30 hari kapasitas vital paru kembali di ukur.

2.

Kapasitas Vital Paru


10 % 15 % Baik(3,91-4,47) Sedang(3,05-3,90) Kurang(2,48-3,04) 75 %

Gambar 1. Diagram Karateristik Kapasitas Vital Paru. ISSN : 2087-5045 12

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Berdasarkan karakteristik di atas, frekuensi terbanyak kapasitas vital paru pada responden adalah klasifikasi sedang. Kapasitas vital paru normal adalah lebih atau sama dengan 4,6 liter. B. Perbandingan Kapasitas Vital Paru Kapasitas vital paru pada kelompok I sebagai kontrol dan kelompok II yang mendapat perlakuan suplemen vitamin C 250 mg diukur dengan menggunakan rotary spirometer setelah 30 hari. Dari pengukuran didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 1. Kapasitas Vital Paru Kelompok I (kontrol) No Nama CV Pre CV Post 1 APU 3600 3200 2 AS 4100 4000 3 OM 3900 3700 4 AN 3900 3600 5 RN 3500 3200 6 AE 3500 3600 7 YP 3800 3500 8 MS 4200 4400 9 PP 3800 3700 10 RA 4000 3600 Tabel 2. Kapasitas Vital Paru Kelompok II (perlakuan) No Nama CV Pre CV Post 1 DR 3200 3200 2 RAS 3400 3500 3 WS 3000 3400 4 AG 3200 3200 5 OJ 2900 3500 6 RR 2800 2900 7 OJ 3200 3500 8 YE 2500 2800 9 LRW 3400 3500 10 EH 3300 3400 Dari uji analisis statistik didapatkan, t hitung (Equal Variances assumed) adalah 2,594, t tabel adalah 20-2 =18 sebesar 2,101. Ho ditolak dengan -2,101< 2,594 > +2,101 dan signifikansi 0,018 < 0,05. Dari analisis Independent samples t-test terlihat ada perbedaan antara kapasitas vital ISSN : 2087-5045 paru kelompok kontrol dan kapasitas vital paru kelompok perlakuan. Berdasarkan tabel V responden yang mendapat perlakuan suplementasi vitamin C 250 mg dilakukan analisis menggunakan Paired Samples T Tes dengan tingkat signifikansi 5% atau 0,05, dengan t hitung adalah -3,254, t tabel adalah 20-1 =19 sebesar 2,093. Ho ditolak dengan -3,254 < -2,093 dan signifikansi 0,010 < 0,05. Dari uji statistik terlihat bahwa ada perbedaan antara ratarata kapasitas vital paru sebelum perlakuan dengan kapasitas vital paru sesudah perlakuan. Pada tabel Paired Samples T Tes terlihat ratarata (mean) sebelum perlakuan 3090 dan untuk sesudah perlakuan adalah 3290 artinya ratarata sebelum perlakuan lebih rendah dari pada rata rata sesudah perlakuan. Antioksidan adalah substansi yang diperlukan tubuh untuk menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas terhadap sel normal, protein, dan lemak dengan cara menyumbangkan elektron hidrogen kepada radikal bebas untuk menjadi radikal bebas stabil yang sifatnya tidak merusak. Antioksidan yang digunakan dalam penelitian ini adalah vitamin C. Kelompok yang diberi vitamin C menunjukkan adanya peningkatan kapasitas vital paru. Hal ini sesuai dengan Pavlovic et al (2005) yang menyatakan bahwa vitamin C mempunyai kemampuan mengubah vitamin C yang bersifat reaktif menjadi vitamin C yang stabil dan mampu meregenerasi vitamin E yang reaktif menjadi vitamin E yang stabil kembali (Christyaningsih, 2003). Untuk melawan bahaya radikal bebas, tubuh telah mempersiapkan penangkal yaitu antioksidan endogen. Antioksidan endogen ini akan menetralisir radikal bebas yang berlebihan sehingga tidak merusak tubuh. Antioksidan endogen misalnya Superoksida Dismutase (SOD), Gluthation Peroksidase dan Katalase. Sedangkan antioksidan yang berasal dari luar melalui makanan atau melalui suplemen dikenal sebagai antioksidan eksogen seperti carotenoid, curcumin, flavonoids, garlic, gingko biloba, glutathione, green tea, selenium, seng, vitamin A, vitamin C dan vitamin E (Gordon, 1990).

13

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian suplementasi vitamin C 250 mg selama 30 hari dapat meningkatkan kapasitas vital paru pada perokok. DAFTAR PUSTAKA Adnil, B., 2000. Sekilas Rokok dan Merokok. Diakses dari http:// www.waspada.co.id/2000/7/7 Amalia, 2002, Rokok dan Kesehatan Rongga Mulut, Waspada Online Hiperlink. Diakses dari http:// www.waspada.co.id/2002/3/15 Christyaningsih, J. 2003. Pengaruh Suplementasi Vitamin E dan C Terhadap Aktivitas Enzim Super Oxide Dismutase (SOD) dalam Eritrosit Tikus yang Terpapar Asap Rokok Kretek. JIPTU. Malang http://adln.lib.unair.ac.id Corwin, E. J., 2001, Patofisiologi, Terjemahan Brahm Untuk Pendidikan, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Gordon MH, 1990. The Mechanism of Antioxidants action in vitro. Food Antioxidants. Elsivier Applied Science, London Pavlovic V, C., S, Rankovic G and Stoiljkovic N. 2005. Antioxidant and Pro-oxidant Effect of Ascocbic Acid. Acta Medica Medianae. 44 (1): 65-69. Putranto B. E., 1997, Patologi Saluran Nafas, Semarang: Badan Penerbit UNDIP Tuminah S. 2000. Radikal Bebas dan Antioksidan-kaitannya dengan nutrisi dan penyakit kronis. Cermin dunia Kedokteran Vol.128 hal 49-51. Jakarta.

ISSN : 2087-5045

14

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

STUDI PREFORMULASI SENYAWA SINTESIS TURUNAN KALKON 3-(3-NITROPHENIL)-1-PHENILPROP-2-EN-1-ON : KELARUTAN INTRINSIK DAN KONSTANTA IONISASI
Gressy Novita, Kamal Rullah, Anwar Syahadat Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau ABSTRACT The preformulation study of 3-(3-nitrophenil)-1-phenilprop-2-en-1-on compound has been carried out. The study includes determination of ionization constant and intrinsic solubility. Determination of intrinsic solubility was done using various intrinsic phase comparison of drugs and solvents using ionization constants potensiometry method. The results showed that the intrinsic solubility of the compound was 0.001 g/mL in NaOH, whereas the ionization constant (pKa) was 6.25, these value showed that the compound was a weak acid. Key words : ionization constant, intrinsic solubility, preformulation. PENDAHULUAN Kalkon merupakan senyawa intermediet untuk sintesis senyawa flavonoid lain seperti flavanon, flavon, flavanol dan lain-lain yang dikenal mempunyai aktifitas biologi menarik antara lain antibakteri, antifungi, antivirus, antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, antimutagenik, dan antialergi (Vender et al, 1993). Beberapa metode telah dikembangkan untuk mensintesis turunan kalkon. Metode yang paling umum adalah dengan katalis basa reaksi Claisen-Schmidt, pada kondensasi keton dan aldehid menggunakan larutan NaOH, KOH dan juga reaksi kondensasi dalam kloroform menggunakan larutan piperidine serta menggunakan katalis BF3 pada suhu ruang. Salah satu derivat kalkon yang telah dihasilkan dengan metode kondensasi ClaisenSchmidt menggunakan KOH sebagai katalis yaitu 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dengan rendemen 82%. Derivat kalkon ini aktif sebagai antidiabetes serta dari uji toksisitas menunjukkan senyawa ini tidak toksik (Rahmi, 2009). Berdasarkan hal tersebut senyawa ini dapat dijadikan sebagai kandidat obat. Preformulasi dimulai bila suatu kandidat obat menunjukkan jaminan farmakologis yang cukup dalam model-model hewan untuk menjamin penilaian pada manusia. Pengkajian ini harus berpusat pada sifat fisika-kimia dari senyawa baru yang dapat mempengaruhi ISSN : 2087-5045 penampilan obat dan perkembangan suatu bentuk sediaan yang menunjukkan efikasi (Lachman et al, 1989). Menurut Wells (1988) ada dua sifat dasar zat yang perlu sekali diketahui dalam studi preformulasi yaitu berupa data kelarutan intrinsik dan konstanta ionisasinya. Data ini dengan segera menunjukkan kebutuhan dan kemungkinan membuat garam yang lebih larut dari obat untuk mengeliminir kelarutan yang berhubungan dengan masalah bioavaibilitas yang jelek, terutama bentuk sediaan padat. Kelarutan intrinsik merupakan kelarutan dari suatu senyawa dalam bentuk molekulnya (tidak terion) di dalam larutan. Dalam melihat kelarutan intrinsik suatu obat pertama dilihat kelarutan obat di dalam 0,1 N HCl, 0,1 N NaOH dan air (Wells, 1989; Lachman et al, 1989). Peningkatan kelarutan obat pada asam menyatakan obat tersebut basa lemah dan peningkatan kelarutan obat pada basa menyatakan obat tersebut asam lemah. Derajat terionnya suatu senyawa asam lemah ditentukan oleh suatu parameter yang disebut konstanta ionisasi yang dikenal dengan pKa. Nilai pKa merupakan suatu cara yang paling mudah untuk membandingkan kekuatan keasaman atau kebasaan senyawa-senyawa obat. Dalam formulasi sediaan obat berdasarkan nilai

15

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 pKanya, pH larutan dapat diatur untuk menjamin kelarutan maksimum senyawa obat dalam air dengan tetap mempertimbangkan kestabilan optimum dari senyawa obat. Penelitian ini dilakukan untuk menetapkan kelarutan intrinsik dan konstanta ionisasi dari senyawa sintesis turunan kalkon 3-(3-nitrofenil)1-fenilprop-2-en-1-on. Penentuan harga pKa secara potensiometri dilakukan dimana protolit dititrasi dengan asam atau basa yang sesuai, kemudian hubungan pH dengan volume pentiter yang ditambahkan ditentukan secara potensiometri dengan bantuan elektroda gelas dan elektroda pembanding. Tetapan protolisisnya ditentukan dari data pH dan volume tersebut. Untuk perhitungan pKa dapat dilakukan dengan cara paro-penetralan. Cara ini didasarkan pada persamaan Henderson-Haselbach. METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan adalah: Spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu), timbangan digital, pH meter, lumpang, alu, sudip, spatel, botol semprot, corong, pipet tetes, pipet mikro, pipet ukur, erlemeyer, gelas ukur, labu ukur, shaker, kaca arloji, pipet gondok, vial, kertas perkamen, kertas saring milipore (Whatman), alumunium foil dan corong Buchner. Bahan-bahan yang digunakan adalah: 3nitrobenzaldehid, asetofenon, etil asetat, nhexana, asam oksalat, natrium hidroksida, kalium hidroksida, asam klorida P, etanol absolut, asam asetat, fenolftalein dan aquadest. PROSEDUR KERJA Sintesis turunan kalkon Turunan benzaldehida yaitu 3nitrobenzaldehid (1,5112 gram) dan asetofenon (1,2015 gram), natrium hidroksida (0,784 gram) digerus cepat sampai terbentuk larutan. Larutan yang terbentuk disaring dalam corong Buchner dan dicuci dengan air dingin, kemudian dicuci dengan n-hexana, dikeringkan hingga didapatkan serbuk kuning. Selanjutnya produk yang diperoleh dilakukan beberapa pengujian diantaranya jumlah rendemen, spektrum IR, kemurniannya dengan KLT. ISSN : 2087-5045

Uji kelarutan intrinsik (Wells, 1989) Penentuan kelarutan intrinsik 3-(3nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dengan metoda perbandingan fasa obat- pelarut. Dibuat larutan 0,1 N HCL; 0,1 N NaOH dan air. Masing-masing larutan diambil 90 mL, masukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Ditambahkan sedikit demi sedikit 3-(3nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dengan jumlah tertentu (40 mg, 50 mg, 60 mg) ke dalam erlemeyer 100 ml tersebut sambil diaduk sampai terlihat bagian 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en1-on yang tidak terlarut (sampai jenuh). Kocok dengan Shaker selama 24 jam untuk mendapatkan kesetimbangan. Kemudian dicukupkan volume larutan sampai 100 mL dengan masing-masing pelarut diatas. Selanjutnya larutan disaring dan diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on. Penentuan konstanta ionisasi (pKa) 3-(3nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on secara potensiometri. (Albert and Searjeant, 1971) Uji coba metoda dengan menentukan pKa asam asetat 0,01 N. Pengukuran dengan potensiometri. Alat potensiometer dipasang dan elektroda dicelupkan ke dalam larutan 3-(3-nitrofenil)-1fenilprop-2-en-1-on 0,01 N. pH meter dikalibrasi dengan larutan dapar standar pH 7 dan pH 10. Shaker diletakkan sesuai skema, hidupkan dan atur kecepatannya pada posisi sedang. Biarkan sampai didapatkan pembacaan pH yang stabil. Penunjuk nilai pH dicatat pada posisi awal. Penambahan pentiter KOH 0,01 N dilakukan tiap 0,1 mL, biarkan selama interval tertentu (20 atau 30 detik), lalu baca nilai pH larutan. Perbedaan pH yang terjadi pada tiap langkah percobaan ini dicatat. Jika beda potensial mencapai nilai 20 unit, maka tingkat penambahan pentiter KOH 0,01 N diturunkan menjadi tiap 0,02 mL. Pada suatu keadaan akan didapat perbedaan nilai yang sangat mencolok, lanjutkan titrasi untuk 5 kali penambahan lagi sebelum titrasi dihentikan. Data titrasi diolah dengan membuat kurva titrasi

16

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 turunan pertama antara data pH vs volume pentiter. Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali. HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis senyawa 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2en-1-on Senyawa 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en1-on disintesa dengan metoda green chemistry. Larutan yang terbentuk disaring dalam corong Buchner dan dicuci dengan air dingin, kemudian dicuci dengan n-hexana, dikeringkan hingga didapatkan kristal berwarna kuning muda dengan berat sebanyak 2,1453 g. Rendemen yang dihasilkan sebesar 84,7 %.
O

CH3

NaOH gerus

NO2

NO2

Gambar 2. Reaksi sintesis 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on (Agrawal, 1989) Uji KLT dengan dua sistem pelarut menunjukkan satu noda dengan eluen; heksan : etil asetat (4:1) hal ini menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan relatif murni. Spektrum IR menunjukan adanya serapan pada bilangan gelombang 3070 cm-1 yang merupakan vibrasi CH aromatik, 1662 cm-1 menunjukkan adanya gugus C=O, 1528 cm-1 menunjukkan adanya ikatan C=C aromatik serta C=N, dan 1352 cm-1 menunjukkan adanya ikatan C-H. Selanjutnya produk yang telah dihasilkan dibandingkan dengan 3-(3-nitrofenil)-1fenilprop-2-en-1-on yang diperoleh dari hasil sintesa sebelumnya. Perbandingan dengan KLT menunjukkan satu noda dengan nilai Rf yang sama yaitu 0,48 begitu juga dengan Spektrum IR yang didapat tidak memperlihatkan perbedaan yang berarti.

Gambar 3. Spektrum IR Uji Kelarutan Intrinsik 3-(3-nitrofenil)-1fenilprop-2-en-1-on Pada penentuan panjang gelombang serapan maksimum 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop2-en-1-on dalam etanol absolut dengan spektrofotometer UV didapat 268,8 nm dengan ISSN : 2087-5045 serapan 0,733. Persamaan regresi yang didapatkan dari kurva kalibrasi adalah y = 90,05x-0,013 dan nilai koefisien korelasi adalah 0,998.

17

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Pemeriksaan kelarutan yang dilakukan disini menggunakan metode perbandingan fasa obat (Wells, 1988). Dengan metoda ini, zat ditambahkan dalam jumlah perbandingan yang berbeda pada volume pelarut yang sama. Dari persamaan yang diperoleh, diekstrapolasi ke garis ordinat sehingga dapat diperoleh nilai kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dalam keadaan murni. Pemeriksaan menggunakan tiga jenis pelarut yaitu air, HCL 0,1 N dan NaOH 0,1N.

Tabel 1. Kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dalam HCl 0,1 N Faktor No Serapan Konsentrasi (g/mL) Pengenceran 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 40 mg 1 0,249 1 0,0029 2 0,258 1 0,0030 3 0,256 1 0,0030 Rata-rata 0,254 1 0,0030 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 2,4 % 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 50 mg 1 0,324 1 0,0037 2 0,325 1 0,0038 3 0,326 1 0,0038 Rata-rata 0,325 1 0,0038 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 1,9 % 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 60 mg 1 0,330 1 0,0038 2 0,320 1 0,0037 3 0,327 1 0,0038 Rata-rata 0,326 1 0,0038 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 1,9 %

Kurva kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2en-1-on dalam HCl 0,1 N


0.005 0.004

Kelarutan (g/mL)

0.003 0.002 0.001 0 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 y = 0.04x + 0.001 R = 0.75

Rasio fasa obat: pelarut Gambar 4. Kurva kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dalam HCl 0,1 N

ISSN : 2087-5045

18

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Tabel 2. Kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dalam NaOH 0,1 N Faktor No Serapan Konsentrasi (g/mL) Pengenceran 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 40 mg 1 0,674 1 0,0076 2 0,672 1 0,0076 3 0,679 1 0,0076 Rata-rata 0,675 1 0,0076 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 0,93 % 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 50 mg 1 0,734 1 0,0083 2 0,736 1 0,0082 3 0,730 1 0,0083 Rata-rata 0,730 1 0,0083 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 0,85 % 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 60 mg 1 0,918 1 0,0103 2 0,925 1 0,0104 3 0,932 1 0,0105 Rata-rata 0,925 1 0,0104 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 0,68 %

0.012

Kurva kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2en-1-ondalam NaOH 0,1 N

0.01

Kelarutan (g/mL)

0.008 0.006 0.004 0.002 0 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 y = 0.14x + 0.001 R = 0.923

Rasio fasa obat: pelarut Gambar 5. Kurva kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dalam NaOH 0,1 N

ISSN : 2087-5045

19

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Tabel 3. Kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dalam Air Faktor Konsentrasi No Serapan Pengenceran (g/mL) 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 40 mg 1 0,235 1 0,0028 2 0,247 1 0,0029 3 0,248 1 0,0029 Rata-rata 0,243 1 0,0029 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 2,4 % 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 50 mg 1 0,251 1 0,0029 2 0,253 1 0,0030 3 0,254 1 0,0030 Rata-rata 0,253 1 0,0030 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 2,4 % 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 60 mg 1 0,330 1 0,0038 2 0,330 1 0,0038 3 0,340 1 0,0039 Rata-rata 0,333 1 0,0038 Standar Deviasi (SD) 0,000071 Koefisien Variasi (KV) 1,87 %

Kurva kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dalam air


0.004 0.0035 0.003 0.0025 0.002 0.0015 0.001 0.0005 0 0 0.01 0.02

Kelarutan (g/mL)

y = 0.045x + 0.001 R = 0.832

0.03

0.04

0.05

0.06

0.07

Rasio fasa obat: pelarut Gambar 6. Kurva kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on dalam Air Kelarutan 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2en-1-on dengan pelarut air adalah 0,001 g/mL (y = 0,045x + 0,001; r2 = 0,832); dengan HCl 0,1 N adalah 0,001 g/mL (y = 0,04x + 0,001; r2 = 0,75) dan dengan NaOH adalah 0,001 g/mL (y = 0,14x + 0,001; r2 = 0,923). Dari grafik terlihat kelarutan dari 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1on sangat kecil yaitu 0,001 g/mL di dalam ketiga larutan namun nilai regresi (r2 ) NaOH ISSN : 2087-5045 lebih besar yaitu 0,923 dibandingkan dalam HCl (0,832) dan dalam Air (0,75). Dapat dikatakan bahwa 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on adalah senyawa asam lemah karena kelarutannya pada pH basa (NaOH) lebih besar dibandingkan pada pH asam (HCl). Sedangkan kelarutannya pada pH netral (air), merupakan kelarutan

20

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 intrinsik 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on yang sebagian besar berada dalam bentuk molekulnya (tidak terion). Penentuan konstanta ionisasi (pKa) 3-(3nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on secara potensiometri. Pada uji coba metode menggunakan asam asetat 0,01 N diperoleh hasil titik akhir titrasi asam asetat secara diferensial yaitu 0,4 mL. Selanjutnya untuk penentuan pKa asam asetat digunakan cara paro-penetralan. Cara ini didasarkan pada persamaan HendersonHaselbach. Nilai pKa asam asetat yang diperoleh adalah 4,2. Hal ini menunjukkan bahwa alat yang cukup akurat karena nilai kisaran pH asam asetat adalah 3,76 sampai 5,76. Selanjutnya hasil uji penentuan titik akhir titrasi 3-(3-nitrofenil)-1fenilprop-2-en-1-on secara differensial yaitu 2,4 mL dan nilai pKa 3-(3-nitrofen il)-1-fenilprop-2en-1-on yang diperoleh adalah 6,25.

Tabel 5. Penentuan titik akhir titrasi 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop -2-en-1-on dengan metoda diferensial V 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0 1,1 1,2 1,3 1,4 1,5 1,6 1,7 1,8 1,9 2,0 pH 4.51 4.55 4.60 4.70 4.84 5.00 5.18 5.38 5.62 5.81 5.97 6.11 6.23 6.33 6.41 6.46 6.49 6.51 6.52 6.52 6.52 V pH pH/V

0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,1

0,04 0,05 0,1 0,137 0,157 0,177 0,2 0,24 0,19 0,163 0,14 0,12 0,103 0,077 0,047 0,03 0,02 0,01 0,003 0.00

0.40 0.50 1.00 1.37 1.57 1.77 2.10 2.40 1.90 1.63 1.40 1.20 1.03 0.77 0.47 0.30 0.20 0.10 0.03 0.00

ISSN : 2087-5045

21

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

kurva Diferensial 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 0,01 N


2.75 2.50 2.25 2.00 1.75 1.50 1.25 1.00 0.75 0.50 0.25 0.00 0 0.2 0.4

Ve

pH/V

0.6

0.8

1.2

1.4

1.6

1.8

2.2

Volume Pentiter (ml) Gambar 9. Kurva diferensial 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on

kurva pKa 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on 0,01 N


7 6.75 6.5 6.25 6 5.75 5.5 5.25 5 4.75 4.5 4.25 4 3.75 3.5 3.25 3 2.75 2.5 2.25 2 1.75 1.5 1.25 1 0.75 0.5 0.25 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 2.2

pH

Volume Pentiter (ml) Gambar 10. Kurva pKa 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on

KESIMPULAN 1. Senyawa 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1on bersifat asam lemah, ditunjukkan dengan nilai regresi (r2) kurva kelarutan pada pelarut basa (NaOH) lebih besar dibandingkan pada pelarut HCl dan air. Senyawa 3-(3-nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1on lebih mudah terion pada suasana basa karena mempunyai nilai pKa 6,25.

\ Saran Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk memperbaiki sifat fisikokimia senyawa 3-(3nitrofenil)-1-fenilprop-2-en-1-on tersebut dengan

2.

ISSN : 2087-5045

22

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 cara menaikkan kelarutan serta menjaga kestabilan pH agar dapat diformulasi dan lebih berguna dalam pengobatan. DAFTAR PUSTAKA Albert, A. and E. P. Serjeant. 1971. The Determination of Ionization Constant, A Laboratory manual. Second edition. Chapman and Hall Ltd, London. 115 p. Agrawal, P.K. 1989. Carbon-13 NMR of Flavonoids. Elsevier Science Publishing Company Inc : New York. Lachman, L., Lieberman, H. A, dan Kanig, J. L., 1989 , Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi ketiga, Jilid 1, diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), hal. 371. Rahmi, D., 2009, Sintesis dan Uji Aktivitas Antidiabetes 3-nitrocalkon, Skripsi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, Pekanbaru. Rateb, N. M., dan Zohdi, H. F., 2009, AtomEfficient, Solvent-Free, Green Synthesis of Chalcones by Grinding, Jurnal Synthetic Communications, 39: 2789-2794. Rivai, H., 2006, Asas Pemeriksaan Kimia, Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta, hal. 388-394. Vender, B., Haemers, A.,Vlieunek, A. J., 1993, In bioactive natural products; detection and structural determination, Ed.Collegate, S.M and Molyneux. CRC Press. 17, 186. 343-355. Wells, J. I., 1988, Pharmaceutical Preformulation, The Physicochemical Properties of Drug Substance, Ellis Horwood Limited, New York. p. 21-32.

ISSN : 2087-5045

23

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

PENGARUH PEMBERIAN MINYAK IKAN GELODOK RAKSASA (Periophthalmodon schlosseri) TERHADAP AKTIVITAS SEKSUAL MENCIT PUTIH JANTAN
Husni Mukhtar1), Farida Rahim2), M. Adam Faridh Mufas2) 1) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang 2) STIFI Perintis Padang ABSTRACT Research about the effect of giant mudskipper (Periophthalmodon schlosseri) oil to sexual activity of the male white mice has been done. Mices were allocated into 4 groups: group I was the control animals without administration of test substances, groups II, III and IV were given various doses of giant mudskippers oil: 0.025; 0.05; and 0.1 ml/20g mice.The oil was given per-oral at night, on 1st , 4th , and 7th day. Observations was done after 30 minutes of administration for 1 hour. The parameters observed were the activity of male mice getting close to female mice (moving), circling around the female mice or investigation arogenital of female mice (crawling under), riding the female mice (mounting) and sexual contact (coitus). Results were calculated based on scores that have been determined by Sexual Activity Index (IAS). The results showed that administration of giant mudskipper oil could increase sexual activity of male mice. All three doses showed significant difference effect on increasing sexual activity (p< 0.05). Key words : fish oil, Periophtalmodon schlosseri, sexual activity, giant mudskipper

PENDAHULUAN Ikan memiliki kandungan unsur-unsur penting yang berperan sangat menonjol bagi kesehatan dan sangat jarang terdapat pada bahan makanan lain, yaitu vitamin A dan D serta unsur iodium. Lemak ikan sebagian besar terdiri dari asam lemak tak jenuh (Suprapti, 2008). Asamasam lemak membentuk asetil ko.A yang kemudian membentuk kolesterol. Kolesterol adalah prekursor hormon kelamin yang menunjang sistem reproduksi manusia. Asetil ko.A dengan adanya enzim Mg2+ ATP-ase akan membentuk asetilkolin, yang akan menimbulkan efek pada otot polos (Guyton, 1990; Katzung, 1990). Pada pemakaian yang berlebihan dari asam-asam lemak dapat menyebabkan penyakit seperti kanker, kerusakan hati dan menurunkan daya pertahanan tubuh, jika digunakan sesuai dengan dosis terapi akan memberikan efek positif (Ubaidillah M, 2004).

makanan kesehatan. Mereka percaya ikan gelodok raksasa dapat meningkatkan gairah seksual, melancarkan peredaran darah pada organ genital pria dan wanita, sehingga secara tidak langsung dapat mengobati problem impotensi pada pria. Impotensi (disfungsi ereksi) adalah salah satu penyakit yang banyak diderita terutama oleh kaum laki-laki, dimana tidak adanya kemampuan untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan (Arsyad, 1997). Menurut Yatim (1990), sekitar 1015% pria yang menikah mengalami impotensi, dan sekitar 20 30% mengalami ejakulasi dini. Berdasarkan dari penjelasan di atas, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak ikan Gelodok Raksasa (Periophthalmodon schlosseri) terhadap aktivitas seksual mencit putih jantan. Minyak ikan diberikan secara oral kepada mencit putih jantan dan kemudian aktivitas seksualnya diukur melalui frekuensi munculnya kelakuan seksual setelah mencit tersebut diperkenalkan (dirangsang) dengan mencit putih betina estrus dalam ruang pengamatan. Kelakuan seksual itu antara lain mendekati mencit putih betina 24

Sebagian masyarakat melayu Riau Indonesia dan Malaysia, serta masyarakat Cina, Korea dan Jepang mengkonsumsi ikan gelodok raksasa (Periophthalmodon schlosseri) sebagai ISSN : 2087-5045

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 (moving), berputar disekitar mencit putih betina atau menyelidiki daerah arogenitalianya (crawling under), menunggangi mencit putih betina (mounting), dan melakukan kontak seksual (coitus) (Mayerson, 1981). METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah jarum oral, vial, spatel, gelas ukur, beaker glass, timbangan analitik, timbangan hewan, kandang mencit, panci stainless steel, pisau, penangas air, thermometer raksa, corong pisah, stamfer dan mortir, botol semprot, pipet tetes, kertas perkamen, kertas saring, erlenmeyer. Bahan yang digunakan antara lain Ikan gelodok raksasa (Periophthalmodon schlosseri), gom arab, NaCl, bentonit dan aquadest. Hewan percobaan adalah Mencit putih (Mus musculus) jantan 20 ekor dan mencit putih (Mus musculus) betina sebanyak 20 ekor. Ekstraksi Minyak Ikan Gelodok Raksasa Bagian badan ikan gelodok raksasa yang telah dipotong-potong (1x1x1) cm dimasukkan ke dalam panci stainless stell. Kemudian ditambahkan aquadest sebanyak 10% dari berat ikan. Ikan direbus sampai mendidih, kemudian didiamkan selama 20 menit (sambil diaduk perlahan-lahan). Rebusan ikan disaring untuk memisahkan antara minyak kasar dengan padatan. Minyak kasar yang diperoleh dimurnikan dengan menambahkan larutan NaCl 2,5 % dan dipanaskan pada temperatur 500C. lapisan minyak dan air dipisahkan dengan corong pisah. Bentonit ditambahkan ke dalam lapisan minyak sambil diaduk. Setelah didiamkan beberapa saat, lalu disaring untuk memperoleh a. Parameter peningkatan (Vogel, 2002). aktivitas seksual minyak yang bersih. Minyak yang diperoleh disimpan dalam wadah yang tertutup rapat serta terhindar dari kontaminasi langsung dengan sinar matahari dan udara (Rasyid, 2001). Parameter dan Uji Aktivitas Seksual

1. Mendekati mencit betina (moving) 2. Berputar disekitar mencit betina atau menyelidiki daerah arogenitalianya (crawling under) 3. Menunggangi betina (mounting) 4. Melakukan kontak seksual (coitus) b. Uji aktivitas seksual Pada penelitian ini digunakan mencit putih jantan sebanyak 20 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif atau kelompok I yang diberi larutan gom arab saja dan kelompok perlakuan yang diberi sediaan minyak ikan gelodok raksasa dengan dosis 0,025 ml/20g BB (kelompok II), 0,05 ml/20g dan 0,1 ml/20g BB (kelompok IV). Pemberian secara per-oral pada pukul 19.00 WIB dan pengamatan pada pukul 19.30 20.30 WIB dilakukan tiga kali pengulangan yakni pada hari 1, 4, dan 7. Setiap kelompok diambil 5 ekor mencit jantan dan didekatkan dengan 5 mencit betina yang estrus dengan memisahkan setiap pasangannya kemudian diamati dan dihitung aktivitas seksual mencit jantan sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan. Aktivitas dianalisa dengan menggunakan indeks aktivitas seksual yang dihitung berdasarkan frekuensi aktivitas dan skor. Pada keadaan normal dimana mencit tidak melakukan aktivitas seksual apapun maka diberi skor 1.

Tabel I. Penilaian Aktivitas Seksual dengan Perhitungan Menggunakan Skor Moving Crawling under Mounting Coitus Frekuensi Skor Frekuensi Skor Frekuensi Skor Frekuensi Skor 13 1,5 13 3,5 13 5,5 13 7,5 46 2 46 4 46 6 46 8 79 2,5 79 4,5 79 6,5 79 8,5 >9 3 >9 5 >9 7 >9 9

ISSN : 2087-5045

25

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Perhitungan indeks aktivitas seksual diperoleh dengan menyatakan perbandingan antara skor aktivitas seksual hewan perlakuan dibagi dengan skor aktivitas hewan kontrol. IAS = HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini digunakan sampel berupa minyak ikan gelodok raksasa (Periophthalmodon schlosseri) yang diekstraksi dengan metoda rendering kering. Metoda ini dipilih karena memiliki beberapa keuntungan dibandingkan metoda lain, diantaranya: relatif murah; cara kerja mudah dan dapat memperlama proses oksidasi pada minyak ikan. Minyak ikan yang diperoleh berwarna kuning dengan bau dan rasa khas ikan. Indeks bias minyak ikan adalah 1,3728 pada suhu 28,4oC sedangkan bobot jenisnya 1,0635. Pada penghitungan frekuensi aktivitas dari mencit percobaan terlihat perbedaan yang nyata dari tiap kelompok. Kelompok II dengan dosis 0,025 ml/20g BB memberikan frekuensi aktivitas seksual yang lebih tinggi daripada kelompok dosis lainnya. Dari 4 parameter aktivitas yang diamati, aktivitas coitus memberikan frekuensi lebih rendah dibandingkan parameter lainnya. Kemungkinan minyak ikan gelodok raksasa ini lebih berefek untuk meningkatkan libido mencit jantan. Frekuensi aktivitas seksual berbanding terbalik dengan peningkatan dosis.

SASE SASK

IAS = Indeks aktivitas seksual SASE = Skor aktivitas seksual pemberian dosis minyak ikan gelodok raksasa (Periophthalmodon schlosseri) SASK = Skor aktivitas seksual tanpa pemberian minyak ikan gelodok raksasa (Periophthalmodon schlosseri) (kontrol) Data yang diperoleh diolah dengan analisa statistik uji Anova 1 arah terhadap frekuensi ratarata aktivitas seksual mencit jantan selama hari perlakuan dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan.

Tabel I. Data Hasil Hasil Pengamatan Aktivitas Seksual Mencit Putih Jantan Setelah Pemberian Minyak Ikan Gelodok Raksasa Berdasarkan jumlah frekuensi rata-rata Pada Pengamatan Hari Ke-1, 4 dan 7 Aktivitas Frekuensi Moving Dosis Kontrol Dosis 0.025 ml/20 g BB Dosis 0.05 ml/20 g BB Dosis 0.1 ml/20 g BB 2,8 12 7,06 8,06 Crawling Under 1,46 32,33 6,46 6,2 Mounting 0 12,13 2,93 1,4 Coitus 0 5,66 0,73 0

Indeks kumulatif aktivitas seksual menunjukkan total aktivitas pada masing-masing dosis. Dosis 0,025 ml/20g BB memberikan aktivitas seksual tertinggi sedangkan dosis 0,1 ml/20g BB memberikan aktivitas terkecil dibandingkan dosis lainnya. ml/20g BB. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan dosis tidak memberikan kenaikan aktivitas seksual. Aktivitas

moving, crawling under, dan mounting menunjukkan keinginan seksual sedangkan aktivitas coitus menunjukkan potensi seksual dan kecepatan sampai terjadinya ejakulasi menunjukkan aksi seksual (Leavitt, 1982).

ISSN : 2087-5045

26

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Tabel II. Data Hasil Perhitungan Indeks Aktivitas Seksual Rata-rata Mencit Putih Jantan (Moving, Crawling Under, Mounting, Coitus) serta Indeks Kumulatif Rata-rata Pada Pengamatan Hari Ke-1, 4 dan 7 Aktivitas Rata-rata Moving Dosis Dosis 0.025 ml/20 g BB Dosis 0.05 ml/20 g BB Dosis 0.1 ml/20 g BB 1.673 1.4 1.583 Crawling Under 1.573 1.373 1.363 Mounting 4.9 5.9 3.8 Coitus 5.967 4.033 1 Indeks Kumulatif 14.113 12.707 7.747

Pada saat perlakuan, mencit jantan kelompok dosis 0,1 ml/20g BB menunjukkan aktivitas yang berbeda dibandingkan kelompok dosis lainnya. Pengamatan 30 40 menit pertama, mencit jantan berdiam diri dengan kepala tertunduk ke bawah seperti tertidur, kontraksi diafragma yang lebih besar dibandingkan keadaan normal. Terkadang mencit berdiri, berjalan dengan tubuh yang tidak seimbang hingga mencit kembali berdiam diri. Prilaku yang berbeda ini kemungkinan terjadi karena munculnya efek lain yang ditimbulkan oleh minyak ikan ketika pemberian dosis yang lebih tinggi. Pada tiap kelompok mencit perlakuan sering terjadi perbedaan aktivitas, hal ini bias disebabkan oleh faktor lainnya yakni faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal antara lain suasana gaduh saat pengamatan, kondisi ruangan yang tidak mendukung, waktu pengamatan yang bervariasi, bias cahaya juga mungkin mengganggu ritme biologis mencit. Sedangkan faktor internal berasal dari tubuh mencit itu sendiri, artinya walaupun semua kondisi sudah dibuat seseragam mungkin, namun sebagai makhluk biologis tetap akan menunjukkan nilai biologik yang berbeda. Berdasarkan perhitungan ANOVA 1 arah dengan menggunakan SPSS 19.0, untuk indeks aktivitas seksual mencit putih jantan pada analisa kelompok perlakuan yang dilanjutkan dengan uji berjarak Duncan, menunjukkan bahwa perlakuan dosis memberikan perbedaan yang nyata (p<0.01) dibandingkan dengan kelompok control pada semua aktivitas seksual.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian minyak ikan mempengaruhi aktivitas seksual dari mencit putih jantan yaitu terjadinya peningkatan aktivitas seksual pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol terutama pada aktivitas moving, crawling under, dan mounting. Peningkatan dosis minyak ikan tidak menunjukkan kenaikan pada aktivitas seksual antar kelompok perlakuan. DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, K.M., 1997, Peran Andrologi dalam Kesehatan Reproduksi, Majalah Kedokteran Indonesia, 47 (3), Hal 109117. Dalimartha, S., 2003, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 3. Puspa Swara, Jakarta. Guyton, A.C., 1990, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Edisi III, Diterjemahkan oleh P.Adrianto, Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Katzung, Bertram.G., 1990, Farmakologi Dasar dan Klinik, Diterjemahkan oleh Dripa Sjabana. Salemba Medika, Jakarta. Levitt, F., 1982, Drug and Behavior, Second Edition, John Wiley and Sons, Canada. Mayerson, B.J., 1981, Comparation of The Effect of -Endorphine and Morphine on Exploratory and Socio Sexual Behaviors in The Male Rat, Europ.J.Pharmacol, 69, Hal 153-163. Pramono, S, Katno., 2000, Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu, Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta.

KESIMPULAN ISSN : 2087-5045 27

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Sedianto, W.D., 1986, Profil Obat Tradisional Indonesia dan Arah Pengembangan Untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Proceding Simposium Penelitian Tumbuhan Obat X dan Jamu, Jakarta. Tjay T.H Dan K, Rahardja, 2002, Obat-Obat Penting, Elex Media Komputindo, Jakarta. Ubaidillah M., 2004, Pembuatan Minyak Kedele, Ikan Dengan Menggunakan Kolum Ion Perak Hiplo, http://library.usu.ac.id/download/fmipa/ki mia-ubaidillah.pdf., [12 juli 2010] Vogel, H.G., 2002, Drug Discovery and Evaluation. Pharmacologycal Assay Second Edition. Springer, Heidelberg. Yatim, W., 1990, Reproduksi dan Embriologi,

ISSN : 2087-5045

28

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

TOKSISITAS SUB KRONIS EKSTRAK ETANOL DAUN BERINGIN (Ficus benjamina L) TERHADAP FUNGSI GINJAL MENCIT PUTIH BETINA
Syilfia Hasti, Gressy Novita, Gusti Wahyu Ramadhani Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, Pekanbaru ABSTRACT A research on the effects of the ethanolic extract of banyan leaves (Ficus benjamina L.) to renal function of female albino mice at doses of 200, 400, and 800 mg/kg of weight was studied. The parameter observed were 24-hour urine volume, urinary creatinine quantity, serum creatinine, creatinine clearance and the kidney weight ratio of a female white mice in the 61st day. In this study, four groups of female white mice, each consisted of five mice, were utilized. Three groups were given suspension of ethanolic extracts of banyan leaves and the other group as a control was simply given suspension of Na CMC 1% orally. The measurement method used was the method of chemical reaction with using reagents Diasys and by ultraviolet-visible spectrophotometry (Microlab 200) at wave length around 501 m. The result shows that application of the ethanol extract of banyan leaves did not affect 24-hour urine volume, urinary creatinine quantity, serum creatinine, creatinine clearance and kidney weight ratio of female albino mice significantly (p> 0.05). Key words : Ficus benjamina L., creatinin clearance, kidney

PENDAHULUAN Daun beringin berkhasiat sebagai obat influenza, radang saluran napas (bronkitis), batuk rejan (pertusis), malaria, radang usus akut, disentri, dan kejang panas pada anak- anak (Dalimarta, 2000). Daun, akar dan kulit batang beringin mengandung beberapa senyawa kimia diantaranya saponin, flavonoid dan polifenol (Farihah, 2008). Berdasarkan hasil penelitian terdahulu diketahui bahwa ekstrak etanol akar gantung beringin memberikan efek antiinflamasi (Hasti, et al., 2009) dan antipiretik (Hasti, et al.,2011). Penelitian lainnya tentang Ficus benjamina L. telah diketahui dari daun beringin mengandung cinnamic acid, narigenin, lactosa, quercetin, dan cafffeic acid yang juga mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap cell line T-Limphoblastic Leucemic (CEM-SS), sedangkan pada kulit batangnya mengandung stigmastrerol ( Almahy et al.,2003). Farihah (2008) dalam penelitiannya pun menyatakan adanya sifat toksik daun beringin terhadap Artemia salina Leach. Penelitian lainnya menyatakan bahwa ekstrak etanol, fraksi heksan dan etil asetat akar gantung beringin memiliki efek analgetika (Hasti, et al., 2011). Sedangkan efek antipiretik daun beringin hanya terlihat pada fraksi heksan daun beringin (Hasti, et al., 2011). ISSN : 2087-5045

Agar obat tradisional dengan bahan baku ekstrak etanol daun beringin ini dapat menjadi obat herbal terstandar, maka perlu juga dilakukan uji praklinik berupa uji keamanan yang mencakup uji toksisitas akut, tertunda, toksisitas subkronis dan kronis dari ekstrak. Uji LD50 24 Jam dan Toksisitas Tertunda (Hasti et al., 2011) menunjukkan bahwa nilai LD50 24 jam ekstrak etanol daun beringin adalah > 16000 mg/kgBB dan diklasifikasikan praktis tidak toksik. Ginjal merupakan organ yang memiliki fungsi yang sangat penting yaitu mengekskresikan hasil akhir metabolisme protein yang mengandung nitrogen seperti kreatinin. Gangguan fungsi ginjal merupakan salah satu masalah yang cukup serius, jika tidak ditanggulangi akan menimbulkan bahaya yang lebih besar. Fungsi ini dapat terganggu karena faktor endogen dan eksogen, seperti penggunaan obat-obatan, infeksi, kanker atau pengaruh lainnya. Jika kedua ginjal gagal melakukan fungsinya, maka akan mengganggu fungsi organ vital tubuh dan akhirnya menimbulkan kematian (Price & Wilson, 1997). Untuk mengetahui fungsi ginjal ada beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain tes klirens ginjal (Guyton, 1997). Penurunan 29

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 klirens kreatinin dapat menjadi salah satu indikasi menurunnya fungsi ginjal (Price & Wilson, 1997). Dengan menggunakan parameter ini dapat diketahui pengaruh penggunaan tanaman Ficus benjamina L terhadap fungsi ginjal dan parameter yang diamati adalah kreatinin darah, kreatinin urin, rasio organ ginjal dan klirens kreatinin. METODE PENELITIAN Alat Alat yang digunakan adalah, rotary evaporator, stopwatch, jarum suntik, timbangan mencit, mortir dan stamfer, spektrofotometer (Microlab 200), sentrifus, tabung reaksi, pipet mikro, erlemeyer, gelas ukur, beker gelas, kaca arloji, timbangan analitik, jarum oral, vial, kapas, pisau , pinset, sudip, pipet tetes, kandang metabolit dan alat bedah. Bahan Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: daun beringin segar yang diperoleh dari lingkungan kampus Bina Widya Universitas Riau, Pekanbaru, aquadest, etanol dan Na CMC, larutan pereaksi kreatinin (Diasys) yang terdiri dari Sodium Hydroksida 0,16 mol/L , Asam Pikrat 4,0 mmol/L, Standar kreatinin 2 mg/dL (177mol/L). Hewan Percobaan Pengukuran Kadar Kreatinin Urin Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih betina dengan berat 20-25 gram. Penyiapan Ekstrak Daun beringin yang akan dijadikan sampel dibersihkan, dirajang dan diblender, kemudian ditimbang sebanyak 1 kg lalu diekstraksi secara maserasi yang dilakukan hingga sempurna dengan menggunakan etanol 96% dalam botol gelap ukuran 2,5 liter. Perendaman dilakukan selama 5 hari pada tempat yang terlindung dari cahaya sambil berulang-ulang diaduk. Kemudian disaring dan ampasnya kembali dimaserasi lagi dengan cara yang sama sampai maserat yang dihasilkan berwarna bening. Selanjutnya filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sampai memperoleh ekstrak kental serta bobot yang konstan . ISSN : 2087-5045 Pengukuran kadar kreatinin urin dilakukan pada hari ke-61 pengamatan, setelah urin dikumpulkan pada 24 jam terakhir. Pengukuran dilakukan dengan cara : urin diencerkan dengan air suling (1:49) v/v dalam labu ukur, lalu dipipet sebanyak 50 L, dimasukkan kedalam tabung reaksi, kemudian dicampurkan dengan 1 mL larutan pereaksi DiaSys, yaitu campuran 4 bagian reagen 1 dan 1 bagian reagen 2 lalu dihomogenkan dengan vortex. Pengukuran absorban sampel dilakukan pada panjang gelombang 501 nm. Kemudian dihitung kadar kreatinin urinnya.

Uji Toksisitas Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih jantan berumur 2-3 bulan dengan berat badan antara 20-30 gram dan diaklimatisasi selama 1 minggu sebelum perlakuan. Mencit dinyatakan sehat bila selama pemeliharaan bobot badan tidak mengalami penurunan lebih dari 10% serta secara visual menunjukkan perilaku normal. Suspensi daun beringin yang telah disiapkan diberikan pada masing-masing keompok mencit dengan dosis 200, 400, dan 800 mg/kg BB. Pada hewan kontrol hanya di berikan larutan Na CMC 1%. Rute pemberian sediaan uji diberikan secara oral dengan volume penyuntikan 1% dari berat badan. Perlakuan ini diberikan setiap hari selama 60 hari dan pada hari ke-61 dilakukan pengukuran volume urin 24 jam, kadar kreatinin urin, kadar kreatinin darah dan rasio berat organ ginjal. Selanjutnya dilakukan penghitungan klirens kreatinin hewan. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit putih betina sejumlah 25 ekor menggunakan rancangan acak kelompok. Pengukuran Volume Urin Pengukuran volume urin dilakukan pada hari ke 61 dengan cara meletakkan mencit dalam kandang metabolit. Urin yang diekskresikan selama 24 jam ditampung dan diukur volumenya.

30

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Pengukuran Kadar Kreatinin Serum Darah mencit diambil dengan cara memotong bagian vena leher mencit. Kemudian ditampung pada tabung reaksi sebanyak 1 mL. Darah didiamkan selama 15 menit dan disentrifus selama 10 menit pada kecepatan 3000 rpm pada panjang gelombang 501 nm hingga didapatkan serum (bagian yang jernih) dari darah. Serum dipipet sebanyak 50 L, dimasukkan kedalam tabung reaksi, kemudian dicampurkan dengan 1 ml larutan pereaksi DiaSys yaitu campuran 4 bagian reagen 1, dan 1 bagian reagen 2 lalu homogenkan dengan vortex. Pengukuran absorban sampel dilakukan setelah 1 menit dan 2 menit. Kemudian dihitung kadar kreatinin serumnya. Penentuan Ratio Berat Organ Ginjal Setelah hewan dikorbankan maka organ ginjal diambil lalu dibersihkan dan ditimbang, selanjutnya rasio bobot organ tehadap berat badan masing-masing hewan percobaan. Penentuan Klirens kreatinin Untuk menentukan Klirens kreatinin dihitung dengan menggunakan rumus (Kaplan et al, 1979): Pemberian sediaan uji dilakukan selama 60 hari karena untuk uji toksisitas subkronis dilakukan dengan memberikan zat kimia yang diuji secara berulang sekurang-kurangnya 1-3 bulan (Anonim, 2000). Setelah dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak etanol daun beringin terhadap fungsi ginjal mencit putih betina, maka didapat data volume urin, kreatinin urin, kreatinin serum, rasio berat organ dan klirens kreatinin. Volume urin 24 jam rata-rata mencit putih betina kontrol, dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB setelah pemberian ekstrak etanol daun beringin selama 60 hari dapat dilihat pada Gambar 1. berikut ini. Keterangan : t Vu Ucr Clcr Scr Clcr = waktu (1440 menit/24 jam) = volume urin yang diekskresikan selama 24 jam (mL) = kadar kreatinin dalam urin (mg/dL) = klirens kreatinin (mL/menit) = kadar kreatinin dalam serum (mg/dL) = klirens kontrol (mL/menit)

Analisa Data Hasil penelitian dianalisa dengan menggunakan Analisa Variansi (ANOVA) satu arah dengan menggunakan software statistik SPSS 17,0 for Windows Evaluation Version. HASIL DAN PEMBAHASAN

Clcr = Ucr x Vu Scr x t

Volume urin (mL)

1.3 1.2 1.1 1 Perlakuan

kontrol dosis 200mg/kgBB dosis 400mg/kgBB dosis 800mg/kgBB

Gambar 1. Diagram batang volume urin rata-rata mencit putih betina

ISSN : 2087-5045

31

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Pada penelitian ini pemberian ekstrak etanol daun beringin dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB tidak mempengaruhi volume urin 24 jam secara signifikan jika dibandingkan dengan kontrol (p > 0,05). Hal ini menunjukkan tidak terjadi kelainan dari fungi ginjal setelah pemberian ekstrak etanol daun beringin tersebut. Kadar kreatinin urin rata-rata mencit putih betina kontrol, dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB setelah pemberian ekstrak etanol daun beringin selama 60 hari dapat dilihat pada Gambar 2. berikut ini.

Kadar kreatinin urin (mg/dL)

32 30 28 26

kontrol dosis 200mg/kgBB dosis 400mg/kgBB dosis 800mg/kgBB

Perlakuan
Gambar 2. Diagram batang kreatinin urin rata-rata mencit putih betina Nilai kreatinin urin pada mencit yang diberi suspensi ekstrak etanol daun beringin dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB memberikan hasil yang tidak signifikan (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwah ekstrak etanol tidak mempengaruhi fungsi ginjal. Kadar kreatinin serum rata-rata mencit putih betina kontrol, dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB setelah pemberian ekstrak etanol daun beringin selama 60 hari dapat dilihat pada gambar 3. berikut ini.

0.75 0.7 0.65 0.6 0.55 0.5

Kadar kreatinin serum (mg/dL)

kontrol dosis 200mg/kgBB dosis 400mg/kgBB dosis 800mg/kgBB

Perlakuan
Gambar 3. Diagram batang kreatinin serum rata-rata mencit putih betina Nilai kreatinin serum pada mencit yang diberi suspensi ekstrak etanol daun beringin dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB tidak mempengaruhi kreatinin serum secara signifikan jika dibandingkan dengan kontrol (p > 0,05). Kreatinin merupakan suatu metabolit kreatin dan diekskresikan seluruhnya dalam urin melalui filtrasi glomerulus. Dengan demikian meningkatnya kadar kreatinin dalam darah merupakan indikasi rusaknya fungsi ginjal (Lu, 1995). Kreatinin difiltrasi oleh ginjal secara keseluruhan dan diekskresikan melalui urin ISSN : 2087-5045 dalam bentuk tidak berubah. Metoda pengukuran kreatinin ini dipilih selain merupakan cara yang paling lazim digunakan di laboratorium klinik juga merupakan cara yang paling sensitif walaupun biaya relatif mahal dan juga karena kreatinin produksinya konstan dan eksresinya ditentukan oleh proses filtrasi glomerulus (Ganiswara et al, 1996) karena sifat inilah penulis mengggunakan metode klirens kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.

32

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Rasio berat organ ginjal rata-rata mencit putih betina kontrol, dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB setelah pemberian ekstrak etanol daun beringin selama 60 hari, dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini.

Rasio berat organ ginjal

0.012 0.0115 0.011 0.0105 Perlakuan


Gambar 4. Diagram batang rasio berat organ ginjal mencit putih betina

kontrol dosis 200mg/kgBB dosis 400mg/kgBB dosis 800mg/kgBB

Pemberian ekstrak etanol daun beringin dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB tidak mempengaruhi rasio berat organ ginjal dari mencit putih betina secara signifikan (p<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Ini menunjukkan tidak terjadi perubahan pada berat organ ginjal.

Klirens kreatinin rata-rata mencit putih betina kontrol, dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB setelah pemberian ekstrak etanol daun beringin selama 60 hari dapat dilihat pada gambar 4 berikut ini.

Klirens kreatinin (mL/menit)

0.041 0.04 0.039 0.038 0.037 0.036 0.035

kontrol dosis 200mg/kgBB dosis 400mg/kgBB dosis 800mg/kgBB

Perlakuan
Gambar 5. Diagram batang klirens kreatinin mencit putih betina Pada penelitian ini nilai klirens kreatinin mencit yang diberi suspensi ekstrak etanol daun beringin dosis 200, 400 dan 800 mg/kgBB memberikan hasil yang tidak signifikan (p>0,05) dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan tidak terjadi penumpukan kreatinin ISSN : 2087-5045 dalam darah karena gangguan fungsi ginjal akan menurunkan nilai klirens kreatinin. Klirens kreatinin adalah volume plasma yang dibersihkan dari senyawa atau racun oleh mekanisme ekskresi ginjal setiap satuan waktu (Loomis,1978). Klirens kreatinin adalah volume plasma yang

33

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 dibersihkan dari senyawa atau racun oleh mekanisme ekskresi ginjal setiap satuan waktu (Loomis, 1978). Klirens kreatinin merupakan pengujian untuk mengevaluasi efisiensi ginjal. Kreatinin serum adalah uji saring tunggal yang lebih baik untuk menguji fungsi ginjal. Kreatinin serum dan kreatinin urin dapat digunakan untuk menghitung bersihan kreatinin dan merupakan metoda yang paling praktis untuk menentukan kecepatan filtrasi glomerulus (Speicher dan Smith, 1993). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa penggunaan ekstrak etanol daun beringin dosis 200, 400 dan 800mg/kgBB pada mencit putih betina tidak menimbulkan efek toksik terhadap organ ginjal. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun beringin, pada dosis 200, 400 dan 800mg/kgBB selama 60 hari tidak mempengaruhi fungsi ginjal yang terlihat dari volume urin 24 jam, kadar kreatinin serum, kadar kreatinin urin, klirens kreatinin dan rasio berat organ ginjal pada mencit putih betina. DAFTAR PUSTAKA Almahy, H.A., Mawardi,M., Mohd,A.S., & Abdul, M.A., 2003. The Chemical Constituents of Ficus benjamina Linn. and Their Biological Activities. Pertanika J.Sci & Technol.11(1): 73-81 Candra, M., 2008, Uji Efek Diuretik Ekstrak Etanol Akar Gantung Beringin (Ficus benjamina L) pada Tikus Putih Betina (Rattus norvegicus), KTI, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau. Dalimartha, S, 2000, Atlas Tumbuhan Indonesia, jilid II, Trubus Agriwidya, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat tradisional, Edisi 1, Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Jakarta. Dipiro, J.Y., R.L. Talbet, M. Dyce, G.R Matzke. B.G. Wells and Posey., 1997, Pharmacotherapy a Phatophysiologic Approach, Fifth Edition, Book One, Appleton and Large. Farihah, 2008, Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Daun Ficus benjamina L. terhadap Artemia salina Leach dan Profil Kromatograpi Lapis Tipis, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta. ISSN : 2087-5045 Ganiswara, G.G, 1995, Farmakologi Dan Terapi, Edisi 4, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Ganong, W.F., 1983, Review of Medical Physiology, Lange Medical Publiction, California. Guyton, A.C. dan J.E. Hall., 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 9, terjemahan Setiawan, I., Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Guyton, A.C., 1987, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Terjemahan P. Andrianto, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Guyton, A.C., 1997, Fisiologi Kedokteran, edisi 17, Terjemahan Setiawan, I., L.M. Ariati, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Hasti, S., Sandi, N.H. dan Firdaus,M., 2009, Uji Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Akar Gantung Beringin (Ficus benjamina L) pada Tikus Putih Betina (Rattus norvegicus), Laporan Penelitian Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, Pekanbaru. Hasti, S., Sandi, N.H., Sari, E.N. dan Sinaga,S., 2011, Uji Efek Analgetika Ekstrak Etanol, Fraksi Etil Asetat Dan Fraksi Heksan Akar Gantung Beringin (Ficus benjamina L.) Pada Mencit Putih Jantan (Mus musculus). Seminar Farmasi Up Date ke 3, Medan. Hasti, S., Sandi, N.H.,dan Srianti,T., 2011, Uji Efek Antipiretika Ekstrak Etanol, Fraksi Etil Asetat Dan Fraksi Heksan Daun Beringin (Ficus benjamina L.) Pada Tikus Putih Betina (Rattus norvegicus), Seminar Nasional Farmasi, Padang Hasti, S., Yuslinda, E., Sandi, N.H.,dan Liawati, W., 2011, Uji Efek Analgetika, Toksisitas Akut dan Tertunda Ekstrak Etanol Daun Beringin (Ficus benjamina L.) Pada Mencit Putih Betina , Seminar Nasional Farmasi, Semarang. Kaplan, A. dan L.L. Szabo. 1979, Clinical Chemistri: Interpretation and Techniques. Lea and Febiger, Philadelphia. Loomis, A.T., 1978, Essential of Toxycologi, 3rd edition, Lea and Febinger, Philadelphia. Lu, F.C., 1994, Toksikologi Dasar, edisi II, diterjemahkan oleh E. Nugroho. Z. S. Bustami dan Z. Firmansyah, Universitas Indonesia.

34

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Lu, F.C., 1995, Toksikologi Dasar, Asas, Organ Sasaran dan Penelititan Resiko, edisi II, diterjemahkan oleh E. Nugroho, Universitas Indonesia. Price, S.A., and L.M. Wilson., 1997, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, edisi 4, diterjemahkan oleh P. Anugerah. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Speicher, C., dan Smith J., 1993, Pemilihan Uji Laboratorium yang Efektif, diterjemahkan oleh Joko Suyono, EGC, Jakarta.

ISSN : 2087-5045

35

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

FORMULASI PASTA GIGI MINYAK CENGKEH (Oleum caryophylli) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Streptococcus mutans
Fifi Harmely,Vinny Hosiana, Rina Reskika Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis Padang ABSTRACT A research to formulate toothpastes from clove oil (Oleum caryophylli) and determination of their inhibition against Streptococcus mutans were done. The toothpaste were varying in concentration of clove oil: 0.6%, 0.9% and 1.2%. Toothpaste base was used as negative control wheares positive control was used as comparison. Evaluations of preparations include toothpaste organoleptic, homogenity, pH, particle size, spread ability, and the foam test. Antibacterial activity test was carried out by the diffusion method (Cup-plate technique). The data obtained were processed by one-way ANOVA using SPSS 17 program. The evaluation of preparation showed that clove oil toothpaste gives good results and qualify as a toothpaste. The best antibacterial activity was showed by F3 formula (toothpaste containing 1.2% clove oil ) with inhibition diameter was 30.625 mm. Based on the results of statistical analysis by one-way ANOVA, these inhibition diameter was significantly different from F0 and comparison toothpaste (p <0.05). Key words : olleum caryophylli, clove oil, antibacterial activity, tootpaste formulation

PENDAHULUAN Kerusakan gigi dapat disebabkan oleh zat makanan, terutama yang mengandung karbohidrat yang tertinggal dan melekat pada bagian dan sela gigi. Karbohidrat merupakan substrat yang digunakan oleh bakteri untuk mensintesa asam dan polisakarida ekstrasel sehingga dapat membentuk plak pada gigi (Koswara, 2011; Mansjoer et al, 1999). Bakteri patogen penyebab karies sering dihubungkan dengan Streptococcus mutans. S. mutans merupakan salah satu bakteri yang mempunyai peranan dominan dengan populasi terbanyak di dalam mulut (Pelczar and Chan, 2008). Beberapa zat aktif yang bekerja sebagai antibakteri dalam pasta gigi diantaranya chlorhexidine, flourida dan minyak esensial. Namun ditemukan bahwa penggunaan chlorhexidine dan fluorida memberikan efek yang berbahaya bagi kesehatan (Wilkinson and Moore, 1982). Salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang sering digunakan dalam pengobatan sakit gigi secara tradisional adalah cengkeh (Syzigium aromaticum, (L) Merr) (Nurdjanah, 2004). Minyak cengkeh telah lama digunakan untuk ISSN : 2087-5045

tujuan pengobatan,dan di negara barat digunakan sebagai bahan anestesi gigi. Hasil penelitian menyatakan bahwa minyak cengkeh (Ol. caryophylli) mempunyai aktivitas antibakteri dan antibiofilm terhadap plak gigi, senyawa yang diduga memberikan aktivitas tersebut adalah eugenol (Ardani et al, 2010). Berdasarkan hal diatas dilakukan penelitian dengan dibuat suatu rancangan formula pasta gigi menggunakan zat aktif minyak cengkeh (Ol. caryophylli) kemudian dilakukan pengujian aktivitas antibakterinya terhadap bakteri S. mutans.

36

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 METODE PENELITIAN Bahan Untuk pembuatan pasta dibutuhkan bahanbahan antara lain: Minyak cengkeh (Ol. caryophylli) dari Bratacho Chemical, kalsium karbonat, gliserol, larutan Sorbitol 70 %, Na. CMC, Na. sakarin. Na. benzoat, Na. lauryl sulfat, Na. metabisulfi, Ol. menthae piperitae, dan air suling, semua bahan ini di dapatkan dari Bratacho Chemical. Biakan bakteri Streptococcus mutans ATCC 21752, Media Mueller Hinton Agar Darah diperoleh dari RS. Dr. M. Djamil Padang dan Pasta gigi pembanding.yang beredar. Alat Alat-alat gelas laboratorium, Jarum Ose, Kapas steril, Koran bekas, Kain kasa steril, Kertas cakram steril, Autoklaf, Oven, Mortir dan stamper, Inkubator (Memmert), Pot, Tube pasta, Kaca objek, pH meter Inolab level 1, Kertas grafik, Plastik transparan, Polarimeter, Magnetik stirer (ThermolyneTM), Timbangan analitik (Pioneer TM), Mikroskop elektrik yang dilengkapi Mikrometer okuler (Meiji) dan Cover glass, Kaca objek, Refraktometer Abbe (AtagoTM), dan Piknometer (Pyrex). Pembuatan Formulasi Basis Pasta Gigi dan Pasta Gigi Minyak Cengkeh

Tabel I. Formula basis pasta gigi dan pasta gigi minyak cengkeh Komposisi F0 (%) F1 (%) F2 (%) Minyak cengkeh 0 0,6 0,9 Kalsium karbonat 30 30 30 Gliserol 10 10 10 Sorbitol 70% 4 4 4 Na. CMC 1,5 1,5 1,5 Na. Sakarin 0,2 0,2 0,2 Na.Benzoat 0,1 0,1 0,1 Na.Lauryl sulfat 1 1 1 Na. Metabisulfit 0,1 0,1 0,1 Ol. Menthae piperitae 0,3 0,3 0,3 Air suling ad 100 100 100 Pembuatan pasta gigi minyak cengkeh Na. CMC ditaburkan diatas air panas dan didiamkan selama 15 menit, diaduk homogen sebagai Massa 1. Kemudian kalsium karbonat digerus, ditambahkan gliserol diaduk homogen, ditambahkan larutan sorbitol 70% dan diaduk homogen lalu ditambahkan massa 1 digerus homogen, campuran ini sebagai Massa 2. Na. sakarin, Na. benzoat dan Na. metabisulfit dilarutkan dalam sisa air, diaduk sammpai larut. Dimasukkan ke dalam massa 2 dan diaduk homogen. Na. lauryl sulfat ditambahkan kedalam massa 2 digerus homogen sampai terbentuk massa pasta. Lalu Ol. menthae piperitae dan minyak cengkeh dengan dimasukkan terakhir, diaduk homogen kemudian dimasukkan kedalam tube.

F3 (%) 1,2 30 10 4 1,5 0,2 0,1 1 0,1 0,3 100

Evaluasi pasta gigi minyak cengkeh Evaluasi pasta gigi minyak cengkeh dilakukan selama 6 minggu. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, bau, rasa, dan warna yang diamati secara visual. Pemeriksaan homogenitas, dimana pasta dioleskan pada kaca transparan dan dilihat penyebaran partikel-partikelnya. Pemeriksaan pH dengan menggunakan alat pH meter Inolab. Pemeriksaan ukuran partikel dengan menggunakan mikrioskop elektrik yang dilengkapi dengan mikrometer pentas. Uji daya menyebar menggunakan metode Ekstensometer. Dan Uji daya busa dengan mengukur tinggi busa yang dihasilkan pasta gigi minyak cengkeh yang diputar dengan magnetic stirer selama 2 menit.

ISSN : 2087-5045

37

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Pengujian aktivitas antibakteri pasta gigi minyak cengkeh Uji dilakukan dengan metode difusi Cupplate tevhnic, dimana dibuat sumur dengan diameter 5 mm, pada media agar padat dan telah ditanami mikroorganisme, kemudian kedalam sumur yang telah dibuat dimasukkan 35 mg pasta gigi minyak cengkeh masing-masing konsentrasi 0,6 %, 0,9 % dan 1,2 %, basis pasta gigi sebagai kontrol negatif dan pasta gigi Antiplaque sebagai kontrol positif dan diinkubasi dalam inkubator selama 24 jam. Amati pertumbuhan bakteri pada media dan diukur daya hambat masing-masing pasta gigi menggunakan jangka sorong elektrik. Analisis data Data hasil pengukuran aktivitas antibakteri formula pasta gigi minyak cengkeh terhadap bakteri S. mutans, diolah secara statistik dengan program SPSS 17 analisis varians satu arah (ANOVA). Hasil akan berarti bila perbandingan daya hambat pada setiap formula memberikan perbedaan yang nyata dan bermakna secara statistik. HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi organoleptis yang dilakukan secara visual selama 6 minggu menunjukkan bahwa bentuk pasta yang dihasilkan hampir sama namun perbedaan akan tampak pada pasta gigi dengan konsentrasi minyak cengkeh lebih banyak dimana F2 agak lembek dan F3 lembek, Bau khas mint dari Ol. menthae piperitae tergantikan oleh bau minyak cengkeh pada F2 dan F3, namun rasa segarnya masih bisa dirasakan, warna putih terang yang mengkilat pada F0 tidak lagi diberikan pada F1, F2 dan F3, ini dikarenakan oleh penambahan minyak cengkeh yang berwarna kekuningan pada masing-masing formula. Intensitas warna akan semakin jelas sesuai peningkatan konsentrasi minyak cengkeh dalam formula. Pemeriksaan homogenitas memperlihatkan hasil yang homogen dan terdispersi merata, kemungkinan disebabkan adanya pengadukan yang homogen pada proses pembuatan. Pemeriksaan ini dilakukan selama 6 minggu dan dalam jangka waktu tersebut basis pasta dan pasta gigi minyak cengkeh tetap menunjukkan susunan yang homogen. ISSN : 2087-5045

Evaluasi pH pasta gigi minyak cengkeh, menunjukkan hasil yang berubah-ubah setiap minggunya. pH pasta gigi yang dihasilkan harus berada pada range pH mulut agar tidak menimbulkan iritasi pada mukosa mulut, pH normal mulut yaitu berada dalam range 4,9 - 10,5 (Osol, 1975). Hasil pH yang diamati berkisar antara: F0 = 9,57 - 9,72, pada F1 = 9,46 - 9,72, pada F2 = 9,35 - 9,77 , dan pada F3 = 9,43 - 9,67. Sedangkan pH pasta gigi pembanding berada pada range 8,41 - 8,70. pH yang tinggi ini dapat disebabkan oleh konsentrasi bahan tambahan didalam pasta gigi terutama kalsium karbonat dan natrium lauryl sulfat, tetapi pH pasta gigi minyak cengkeh ini masih mendekati pH normal mulut. Pemeriksaan ukuran partikel dilakukan untuk sediaan yang memiliki komponen yang terdispersi. Farmakope Indonesia tidak mensyaratkan batas ukuran partikel untuk sediaan semi solid hanya berkisar antara rata-rata panjang < 60 m atau < 200m (Voight, 1994). Hasil evaluasi ukuran partikel pasta gigi minyak cengkeh pada F0, F1, F2 dan F3 memberikan hasil yang sama dimana diperoleh diameter partikel yaitu 12,5 m, hasil ini dinyatakan sesuai dengan kriteria yaitu < 60 m, artinya komponen pembentuk pasta gigi minyak cengkeh telah tersebar merata dan homogen. Ukuran partikel yang kecil ini, menjadikan pasta gigi aman digunakan karena ukuran partikel yang besar akan dapat mempengaruhi lapisan email gigi dan gusi. Pengukuran konsistensi dari pasta gigi dilakukan dengan metoda ekstensometer. Prinsipnya adalah menghitung pertambahan luas yang diberikan oleh sediaan apabila diberikan beban dengan berat tertentu yaitu 5 g, 10 g, dan 15 g. Dari hasil pertambahan luas, terlihat bahwa F3 memiliki pertambahan luas yang lebih besar. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh F3 yang mengandung konsentrasi minyak cengkeh yang lebih banyak, akibatnya konsistensi pasta gigi F3 lebih lembek dibandingkan F0, F1, dan F2. Pengukuran konsistensi pasta gigi ini bertujuan untuk menentukan masa pasta gigi yang dibuat, dimana pasta gigi yang baik adalah pasta gigi yang mudah dikeluarkan dari wadahnya atau mempunyai daya ekstrudability yang baik dan

38

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 mampu mempertahankan bentuknya pada bulu sikat gigi sesaat sebelum digunakan. Hasil evaluasi semua formula menunjukkan hasil yang baik. Evaluasi uji daya busa yang dihasilkan oleh surfaktan (natrium lauryl sulfat) dalam pasta gigi minyak cengkeh yang bertujuan untuk melihat banyaknya busa yang dihasilkan pasta gigi untuk mengangkat kotoran dan membersihkan mulut saat menyikat gigi dan busa yang dihasilkan harus mudah dibilas. Hasil evaluasi daya busa pasta gigi minyak cengkeh menunjukkan rata-rata yang lebih rendah dibanding pasta gigi pembanding, kemungkinan disebabkan oleh penggunaan konsentrasi natrium lauryl sulfat sebagai pembentuk busa pada pasta gigi pembanding lebih besar dari pasta gigi minyak cengkeh. Dari hasil evaluasi juga terlihat dengan semakin besarnya konsentrasi minyak cengkeh maka daya busa yang dihasilkan juga akan semakin rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan karena terjadinya proses emulsifikasi dalam pasta gigi minyak cengkeh, dimana konsentrasi minyak cengkeh bertambah namun konsentrasi natrium lauryl sulfat yang digunakan tetap sehingga jumlah natrium lauryl sulfat tidak cukup untuk mengemulsikan minyak cengkeh. Pengurangan daya busa yang terjadi tidak terlalu besar sehingga tidak terlalu memepengaruhi daya bersih yang dihasilkan pasta gigi minyak cengkeh. Pemeriksaan aktivitas antibakteri dari pasta gigi minyak cengkeh terhadap S. mutan dengan metode difusi Cup-plate technique menunjukkan F3 dengan kandungan minyak cengkeh lebih tinggi memiliki diameter hambat lebih besar yaitu 30,625 mm. Tabel II. Hasil pemeriksaan aktivitas antibakteri pasta gigi minyak Cengkeh Diameter hambat (mm) No Formula ( XSD, n=4) 1 F0 14,875 0,25 2 F1 20,875 0,63 3 F2 28,625 0,48 4 F3 30,625 0,48 5 Pembanding 23,250 0,29 F0 sebagai basis juga memberikan daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. mutans, ini kemungkinan disebabkan oleh adanya bahanbahan dalam pasta gigi yang juga memberikan aktivitas sebagai antibakteri seperti natrium lauryl sulfat sebagai detergen, natrium benzoat sebagi pengawet dan gliserol dan sorbitol 70 % sebagai humektan yang termasuk dalam golongan alkohol. Analisa statistik ANOVA 1 arahdengan program SPSS 17 terhadap aktivitas antibakteri pasta gigi menunjukkan perbedaan yang nyata antara formula pasta gigi minyak cengkeh dengan basis pasta gigi dan sediaan pembanding yang beredar. Analisis dilanjutkan dengan uji Duncan dan diketahui bahwa F3 (pasta gigi minyak cengkeh dengan konsentrasi 1,2 %) berbeda nyata (p<0,05) dengan F0 (basis pasta gigi) dan pasta gigi pembanding yang beredar.

Tabel III. Rekapitulasi hasil evaluasi pasta gigi minyak cengkeh dan aktivitas antibakteri
No. 1. Evaluasi Organoleptis Bentuk Bau Warna Rasa Homogenitas Rata-rata pH Ukuran partikel ( ) F0 SP KM PTr MP H 9,67 12, 5 F1 SP KM PT MP H 9,59 12, 5 F2 SP* KC PKl MP H 9,60 12, 5 F3 SP ** KC PK MP H 9,57 12, 5 P SP*** KM PT MP H 8,55 -

2. 3. 4.

ISSN : 2087-5045

39

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012


5. Uji daya menyebar 5 g (cm2 ) 10 g (cm2 ) 15 g (cm2 ) Rata-rata uji daya busa (cm) Aktivitas antibakteri Rata-rata diameter daya hambat (mm)

0,099 0,314 0,353 2,70 14,875

0,316 0,368 0,393 2,56 20,875

0,323 0,378 1,452 2,52 28,625

1,099 1,167 1,471 2,43 30,625

1,285 1,413 1,923 3,33 23,250

6. 7.

Keterangan : P = Pasta gigi pembanding SP = Setengah padat SP* = Setengan padat agak lembek, SP** = Setengah padat lembek, SP***= Setengah padat lebih lembek PT = Putih PTr = Putih terang PKl = Putih kuning lemah PK = Putih kekuningan KM = Khas mint KC = Khas cengkeh MP = Manis pedas H = Homogen KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diambil kesimpulan bahwa: Berdasarkan hasil evaluasi fisika, kimia dan mikrobiologi, pasta gigi minyak cengkeh (Oleum caryophylli) memberikan hasil yang baik dan memenuhi syarat sebagai pasta gigi. Dan dari hasil uji aktivitas antibakterinya, formula pasta gigi minyak cengkeh yang paling baik adalah F3 (pasta gigi dengan konsentrasi minyak cengkeh 1,2 %) memberikan diameter daya hambat 30,625 mm dan berdasarkan hasil analisa statistik ANOVA satu arah terdapat perbedaan yang bermakna dari formula pasta gigi minyak cengkeh dengan (p<0,05). DAFTAR PUSTAKA Ardani. M et al., 2010, Efek Campuran Minyak Atsiri Daun Cengkeh dan Kulit Batang Kayu Manis Sebagai Anti Plak, Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, Sekip Utara, Yogyakarta Butler, H., 1992. Pounchers Parfumes Cosmetik and Soaps, Ed. X, Kluwer Academic Publishers, London

DepKes RI, 1995, Farmakope Indonesia Ed IV, Penerbit Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Nurdjannah, N, et al., 2004, Diversifikasi Penggunaan Cengkeh, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian, Bogor http://perkebunan.litbang.deptan.go.id [7 Oktober 2010] Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Penerbit Erlangga, Jakarta Pelczar, M.J and S. Chan., 2005, Dasar-dasar Mikrobiologi 1, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta Pelczar, M.J and S. Chan., 2008, Dasar-dasar Mikrobiologi 2, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta Wilkinson, J, and Moore, R., 1982., Harrys Cosmetology, George Goodwin HC Press, London

ISSN : 2087-5045

40

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

SKRINING AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI DAUN TUMBUHAN SIDAGURI


Ema Ratna Sari Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Bhakti Pertiwi Palembang ABSTRACT The antimicrobial activity of four species belong to genus of Sida had been screened. Methanolic extract from leaves of Sida acuta, Sida rhombifolia, Sida retusa and Sida subcordata were tested for antimicrobial activities by disc diffusion method against S. aureus, S. epidermidis, P. aeruginosa and E. coli. The result showed that some samples had antimicrobial activity with inhibition diameter range between 8-11 mm at concentration 100mg/ml (1 mg/disc). Key words : Antimicrobial activity, Sida spp, disc diffusion method PENDAHULUAN Antibiotika merupakan segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (Hooten, 2001). Usaha mencari antibiotika sebagai antimikroba tidak hanya dari mikroba, tapi juga dari tumbuhan berupa metabolit sekunder. Adapun senyawa-senyawa antimikroba yang berasal dari tumbuhan tersebut antara lain seperti senyawa fenolik, terpenoid, alkaloid, lektin dan polipeptida, serta poliasetilen (Cowan, 1999). Tumbuhan yang memiliki aktivitas antimikroba diantaranya yaitu sidaguri dari jenis kelompok tumbuhan Sida spp. Beberapa penelitian telah dilakukan terhadap kelompok tumbuhan Sida spp ini. Sida acuta di Burkina Faso, dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri yang cukup baik, yaitu dari senyawa alkaloid indokuinolin dengan kriptolepin dan kuindolin sebagai komponen senyawa utamanya (Karou et.al, 2005). Ekstrak tumbuhan Sida rhombifolia memperlihatkan aktivitas antibakteri pada semua fraksinya, baik terhadap bakteri Gram positif maupun Gram negatif (Islam et.al, 2003). Di Sumatera Barat, ditemukan beberapa jenis spesies dari genus Sida ini, seperti Sida acuta, Sida rhombifolia, Sida retusa dan Sida subcordata. Secara tradisional penduduk lokal banyak menggunakan tumbuhan ini sebagai obat rematik, bisul, kudis, eksim, kurap pada kepala dan gatal-gatal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining aktivitas antimikroba dari keempat spesies Sida tersebut sebagai salah satu jalan untuk membuktikan penggunaan tradisional tumbuhan secara ilmiah. Uji aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi agar terhadap bakteri gram positif yaitu Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis dan bakteri gram negatif yaitu Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli. METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain; seperangkat alat rotary evaporator Rotavor R-210 (BUCHI ), alat soklet, timbangan analitik AND GR-200, labu (vacum flask) berbagai ukuran, spatel, vial, pinset, pipet mikro, cawan Petri, labu Erlenmeyer berbagai ukuran, tabung reaksi, jarum Ose, kertas saring (Whatman), kapas, kain kasa, lampu spritus, autoklaf (All American B-0001107), inkubator (Galenkamp Plus), Laminar Air Flow Cabinet (ESCO), vorteks (Fisons WhirlimixerTM). Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain; Serbuk kering dari daun Sida acuta, Sida rhombifolia, Sida subcordata dan Sida retusa, metanol, asam sulfat pekat, asam klorida pekat, asam asetat anhidrat, amoniak, logam

ISSN : 2087-5045

41

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 magnesium, pereaksi Mayer, pereaksi Liebermann-Bouchard, pereaksi besi (III) klorida, Nutrient Agar (Merck), , air suling steril, NaCl fisiologis, antibiotika pembanding (Kloramfenikol dan Klotrimazol), dimetil sulfoksida (DMSO) dan mikroba uji {Staphylococcus aureus (ATCC 6538), Staphylococcus epidermidis (ATCC 12228), Escherichia coli (ATCC 8739), Pseudomonas aeruginosa (ATCC 15442) }. PROSEDUR PENELITIAN Pemeriksaan Pendahuluan Kandungan Kimia Pemeriksaan alkaloid menggunakan metode Culvenor-Fitzgerald (Culvenor & Fitzgerald, 1963), pemeriksaan flavonoid, steroid, terpenoid, saponin dan fenolik menggunakan metoda Simes dkk (Simes et.al, 1959). Ekstraksi 10 gram serbuk kering daun S. acuta, S. rhombifolia, S. subcordata dan S. retusa diekstraksi dengan metode sokletasi menggunakan pelarut metanol. Filtrat yang diperoleh diuapkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental. Uji Aktivitas Antimikroba Uji aktivitas antimikroba ditentukan dengan metode difusi agar menggunakan media Nutrient Agar (NA). Ekstrak metanol dari masing-masing sampel dibuat dengan konsentrasi 100 mg/ml dalam pelarut DMSO. Tiap kertas cakram steril dibasahi dengan 10 l larutan sampel sehingga diperoleh konsentrasi 1 mg/cakram. Sebagai pembanding digunakan kloramfenikol 3 mg/ml (0,03 g/cakram). Konsentrasi Hambat Minimum juga ditentukan dengan metode difusi agar. Sampel dibuat dalam berbagai konsentrasi dan kemudian ditentukan konsentrasi terendah yang masih memberikan daya hambat sebagai KHM. Konsentrasi untuk uji KHM dibuat 200 mg/ml (2 mg/cakram), 100 mg/ml (1 mg/cakram), 50 mg/ml (0,5 mg/cakram) dan 10 mg/ml (0,1 mg/cakram) dalam pelarut DMSO. Cawan petri diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. HASIL DAN PEMBAHASAN Skrining dilakukan terhadap 4 ekstrak metanol daun sidaguri, yaitu Sida acuta, Sida rhombifolia, Sida retusa dan Sida subcordata. Ke empat spesies ini dipilih karena cukup banyak ditemukan di kawasan daerah Sumatera Barat dan seringkali digunakan oleh penduduk lokal sebagai obat, seperti pada berbagai penyakit infeksi. Masing-masing spesies Sida diuji fitokimia untuk mengetahui komponen kimia utamanya. Dari uji fitokimia yang telah dilakukan, tumbuhan sidaguri ini umumnya mengandung alkaloid, steroid dan fenolik, dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Skrining fitokimia ekstrak metanol daun Sida Kandungan Kimia No. Sampel Alkaloid Flavonoid Terpenoid Steroid Saponin Fenolik 1. Sida acuta + + + 2. 3. 4. Sida rhombifolia Sida retusa Sida subcordata + + + + + + + + +

ISSN : 2087-5045

42

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Skrining aktivitas antimikroba dilakukan dengan metoda difusi agar terhadap ekstrak kental metanol dari daun 4 spesies Sida. Bakteri uji yang digunakan adalah bakteri patogen penyebab infeksi pada manusia yaitu Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 yang mewakili bakteri Gram positif, Pseudomonas aeruginosa ATCC 15442 dan Escherichia coli ATCC 8739 yang mewakili bakteri Gram negatif. Pemilihan bakteri tersebut didasarkan pada sifat patogenitasnya. S. aureus dan S. epidermidis merupakan bakteri kokus penghasil nanah yang dapat menyebabkan infeksi pada kulit, pneumonia, menghemolisis darah dan mengkoagulasi plasma. P. aeruginosa merupakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada luka dan luka bakar, infeksi saluran kemih dan infeksi saluran pernafasan. Sementara E. coli merupakan salah satu bakteri koliform yang menyebabkan diare dan disentri. Berdasarkan skrining aktivitas antimikroba, keempat tumbuhan Sida menunjukkan rentang aktivitas dengan diameter hambat minimum berkisar 8 11 mm pada konsentrasi 100mg/ml atau 1mg/cakram. Sida acuta memiliki diameter hambat lebih tinggi dibandingkan spesies Sida lainnya. Sementara itu senyawa pembanding yaitu kloramfenikol memiliki rentang aktivitas antimikroba antara 17 20 mm pada konsentrasi 30 mg/ml (0,03 mg/cakram).

Tabel 2. Skrining aktivitas antimikroba ekstrak metanol daun Sida pada konsentrasi 100 mg/ml Diameter Hambat (mm) Sampel S.aureus S.epidermidis P.aeruginosa S. acuta 9 11 9 S. rhombifolia 9 S. retusa 9 10 S. subcordata 9 9 Untuk mengetahui potensi antimikroba dari masing-masing ekstrak Sida spp, maka dilakukan perhitungan nilai KHM (Konsentrasi Hambat Minimum), yaitu konsentrasi terkecil dimana ekstrak masih menimbulkan hambatan terhadap mikroba uji. Penentuan nilai KHM dilakukan dengan membuat sederetan konsentrasi ekstrak dan ditentukan diameter hambat minimumnya. Nilai KHM pada penelitian ini dinyatakan dengan rentang konsentrasi yaitu dari konsentrasi yang tidak memberikan daya hambat sampai konsentrasi terkecil yang masih memberikan hambatan. Hasilnya KHM dari S. acuta adalah 50-100 mg/mL terhadap S. aureus dan 10-50 mg/mL terhadap S. epidermidis, P. aeruginosa dan E. coli. KHM dari S. rhombifolia adalah 50-100 mg/mL terhadap S. epidermidis dan E. coli; 10-50 mg/mL terhadap S. aureus dan P. aeruginosa. Sedangkan KHM dari S. retusa dan S. subcordata masing-masing adalah 10-50 mg/mL terhadap S. aureus, S. epidermidis, P. aeruginosa dan E. coli. Nilai KHM ini dibandingkan dengan perhitungan KHM pada penelitian terdahulu, Spesies Sida pada penelitian ini ternyata ISSN : 2087-5045

E.coli 10 9 9 8

memberikan nilai KHM yang lebih besar daripada KHM S. acuta oleh Karou et.al, 2007, sedangkan pada penelitian Islam et.al, 2003 terhadap S. rhombifolia, penelitian ini memiliki nilai KHM yang lebih kecil. KESIMPULAN Uji aktivitas antimikroba terhadap 4 ekstrak metanol daun spesies Sida, yaitu S. acuta, S. rhombifolia, S. retusa dan S. subcordata, ke 4 ekstrak ini memiliki aktivitas antimikroba, baik terhadap bakteri Gram positif maupun bakteri Gram negatif. Sida acuta pada konsentrasi 1 mg/cakram memberikan diameter hambat lebih tinggi dari pada ekstrak tumbuhan Sida lainnya yaitu 9, 11, 9 dan 10 mm terhadap bakteri S. aureus, S. epidermidis, P. aeruginosa dan E. coli. DAFTAR PUSTAKA Cowan, M.M., 1999, Plant Product as Microbial Agents, Departement of Microbiology Miami University, Oxford, p. 564-582.

43

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Culvenor, C.C.J. & J.S. Fitzgerald, 1963, A Field Method for Alkaloid Screening of Plant, J.Pharm Sci, p. 52: 303-4. Islam, M.E., M.E. Haque & M.A, Mosaddik, 2003, Cytotoxicity and Antibacterial Activity of Sida rhombifolia (Malvaceae) Grown in Bangladesh, Departement of Pharmacy, University of Rajshahi, Rajshahi-6205, Bangladesh. Jawetz. B., J.L. Melnick, & E.A. Adelberg, 1982, Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan, Ed. 14, diterjemahkan oleh dg. Gerard Bonang, CV. EGC, Jakarta,. Karou, D., A. Savadogo, A. Canini, S. Yameogo, C. Montesano, J. Simpore, V. Colizzi & A.S. Traore, 2005, Antibacterial Activity of Alkaloids from Sida acuta, Af. J. Biotech. Vol., 4(12), December 2005, ISSN 16845315@2005, Africa, p. 1452-1457. Karou, S.D., Nadembega, W.M., Liboudo, D.P., Ouermi, D., Gbeassor, M., Souza, C.D., & Simpore, J., 2007, Sida acuta Burm.f.: A Medicinal Plant with Nomerous Potencies, Af. J. Biotech. Vol., 6 (25), Africa, p. 2953-2959. Pelczer, E., & E.C.S. Chan, 1988 Dasar-Dasar Mikrobiologi, diterjemahkan oleh R. Hadioetomo, T. Imas, S. Sutarmi, UI Press, Jakarta. Simes, J.JH., J.G. Tracey, L.J. Webb & W.J. Dunstan, 1959, An Australian Phytochemical Survey Saponins and Eastern Australian Flowering Plant, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, Australia. Steenis, C.G.G.J., 1981, Flora, Cet., 3, PT., Pradnya Paramita, Jakarta Pusat. Thomson, E.B, 1985, Drug Bioscreening, Fundamental of Drugs Evaluation in Pharmacology, Graceway Publishing Co., New York. Volk, W.A. & M.F. Wheeler, 1993, Mikrobiologi Dasar, Ed. V, Jilid 1 & 2, diterjemahkan oleh Sumarto Adisumartono, Erlangga, Jakarta. Wijayakusuma, H., 2005, Sehat dengan Sidaguri, Himpunan Pengobatan Tradisional dan Akupuntur Indonesia (HIPTRI)

ISSN : 2087-5045

44

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN Eupatorium odoratum L. TERHADAP LARVA (Artemia salina Leach) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BST)
Revi Yenti STIFI Perintis Padang

ABSTRACT Cytotoxic effect of Eupatorium odoratum L. leaf has been studied by the method of Brine Shrimp Lethality Test. Eupatorium odoratum L. leaf extracted using ethanol solvent. Test results showed that the leaf extract of Eupatorium odoratum L. has potential cytotoxic effect on Artemia salina Leach larvae with LC 50 value was 94,62 g/ml. Key words : Cytotoxic, Eupatorium odoratum, brine shrimp PENDAHULUAN Masyarakat Indonesia telah lama mengenal serta menggunakan obat-obatan alami atau yang dikenal dengan obat tradisional. Obat tradisional lebih mudah diterima oleh masyarakat karena selain telah akrab dengan masyarakat, obat ini lebih murah dan mudah didapat (Hyeronimus, S.B., 2006). Terdapat berbagai macam obat tradisional yang berasal dari tanaman dan telah banyak diteliti kandungan kimia dan khasiat yang berada di dalamnya. Namun masih banyak tanaman yang belum diketahui kadar toksisitasnya, sehingga perlu diteliti lebih lanjut (Hyeronimus, S.B., 2006). Salah satu jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah Euphatorium odoratum L. dari family Asteraceae. Bagian tumbuhan yang digunakan adalah daun. Secara tradisional daun Euphatorium odoratum L. digunakan sebagai obat dalam penyembuhan luka, obat kumur untuk pengobatan sakit pada tenggorokan, obat batuk, obat malaria, antimikroba, sakit kepala, antidiare, astringent, antispasmodik, antihipertensi, anti inflamasi dan diuretik (Vital and Rivera, 2009). Daun Euphatorium odoratum L. ini mengandung beberapa senyawa utama seperti tannin, fenol, flavonoid, saponin dan steroid. Minyak essensial dari daun Euphatorium odoratum L. memiliki kandungan pinene, cadinene, camphora, Bahan ISSN : 2087-5045 45 limonene, -caryophyllene dan candinol isomer (Benjamin, 1987). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi toksisitas ekstrak etanol daun Eupatorium odoratum L. dengan menggunakan metode Brine Shrimp lethality Test (BST). Metode ini sering digunakan sebagai skrining awal terhadap senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak tanaman, karena relatif murah, cepat, dan hasilnya dapat dipercaya, serta merupakan skrining awal obat anti kanker. Metode BST ini menggunakan larva udang laut Artemia salina Leach untuk menentukan LC50 (Mayer BNNR, Ferrigni ML, 1982; Dachriyanus, 2005). METODE PENELITIAN Alat Alat alat gelas standar laboratorium, kaca arloji, cawan penguap, botol semprot, corong, kertas perkamen, timbangan digital, botol maserasi, rotary evaporator, pipet tetes, batang pengaduk, pinset, spatel, pH meter inolab, desikator, furnace, oven, krus porselin, rotary evaporator, erlenmeyer, botol, vial, wadah pembiakan larva, airasi dan pipet mikro.

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Bahanbahan yang digunakan adalah daun Euphatorium odoratum L. yang diambil di daerah By Pass Km 17 Padang, etanol 95%, kloroform, FeCl3, serbuk Mg, norit, asam acetat anhidrat, H2SO4 2N, H2SO4 (p), HCl (p), kloroform amoniak 0,05 N, reagen mayer, dimetilsulfoksida (DMSO), air laut, kista udang Artemia salina Leach. Ekstraksi Daun Euphatorium odoratum L Sampel dibersihkan, ditimbang sebanyak 1 kg lalu dirajang kemudian dimaserasi dengan etanol 95% selama 3 x 5 hari. Maserat disaring kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental (Voight, 1995). Kemudian ditentukan rendemennya dan kandungan kimia daun Eupatorium odoratum L. Pengujian aktifitas terhadap ekstrak dengan metode Brine Shrimps a. Pembenihan hewan Pada percobaan ini yang digunakan adalah larva udang Artemia salina Leach. Larva ini diperoleh dengan cara menetaskan kista udang Artemia salina Leach selama 48 jam pada wadah pembiakan sebelum dilakukan uji. Penetasan dilakukan dengan cara membiakan telur tersebut di dalam air laut secukupnya pada bagian gelap dari wadah dan setelah menetas larva akan berenang ke tempat yang terang. b. Persiapan wadah pembiakan. Siapkan satu seri vial yang terdiri dari 9 vial uji dan 3 vial kontrol yang telah dikalibrasi 5 ml. Vial uji ditandai dengan konsentrasi 10 g/mL, 100 g/mL dan1000 g/mL masingmasing sebanyak 3 vial. c. Persiapan sampel Penyiapan sampel dilakukan dengan menimbang sebanyak 40 mg ekstrak yang telah dikentalkan dengan menguapkan pelarutnya. Kemudian dilarutkan dalam 4 ml pelarut (disebut larutan induk). Larutan induk ini di masukkan ke dalam vial uji masingmasing sebanyak 500 L, 50 L dan 5 L untuk konsentrasi 1000 g/mL, 100 g/mL, 10 g/mL. Biarkan sampai pelarutnya menguap. d. Uji aktifitas toksik dengan menghitung LC50 Setelah pelarut menguap pada masing-masing vial ditambah 50 L DMSO lebih kurang 3 ml air laut lalu masukkan 10 ekor larva udang yang baru menetas. Untuk vial kontrol hanya ditambahkan 50 L DMSO dan 10 ekor larva udang. Masing-masing vial volumenya dicukupkan dengan air laut hingga 5 mL, letakkan di tempat yang cukup cahaya. Setelah 24 jam hitung jumlah larva yang mati. Hitung LC50 dengan menggunakan tabel probit. HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi daun Eupatorium odoratum L. dengan pelarut etanol menghasilkan ekstrak dengan rendemen 2,37% terhadap berat segar. Hasil penelitian kandungan kimia ekstrak daun Eupatorium odoratum L. dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Uji Fitokimia Ekstrak Daun Eupatorium odoratum L. No Kandungan kimia Pereaksi 1. Fenolik FeCl3 2. Flavonoid Mg / HCl p 3. Saponin Test busa 4. Terpenoid Libermann buchard 5. Steroid Libermann buchard 6. Alkaloid Mayer 7. Tannin FeCl3

Hasil + + + + + +

ISSN : 2087-5045

46

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Pada Tabel 1. terlihat bahwa setelah dilakukan uji fitokimia terhadap ekstrak daun Eupatorium odoratum L. diperoleh hasil daun Eupatorium odoratum L. positif mengandung fenolik, flavonoid, saponin, terpenoid, steroid dan tannin. Senyawa alkaloid tidak ditemukan pada ekstrak ini. Hal ini dapat dilihat dari uji alkaloid dengan metode Culvenor-Fitzgerald dimana dengan penambahan pereaksi mayer tidak menghasilkan kabut putih ataupun gumpalan putih. Uji toksisitas ekstrak daun Eupatorium odoratum L. dengan metode BST dapat lihat pada Tabel 2. Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa berbagai konsentrasi ekstrak daun Eupatorium odoratum L. pada percobaan ini memperlihatkan pengaruh yang berbeda terhadap kematian larva Artemia salina Leach.

Tabel 2. Hasil Uji Aktivitas Sitotoksik dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BST) terhadap Hasil Ekstrak Etanol Daun Eupatorium odoratum L.
Konsen trasi 1000 ppm 100 ppm 10 ppm kontrol Jumlah Larva yang Mati 1 2 3 10 9 10 3 2 3 1 1 2 0 0 0 Total Kematian 29 8 4 0 Rata-rata Kematian 9,67 2,67 1,33 0 (%) Kematian 96,7 26,7 13,3 0 Nilai Probit 6,8384 4,3781 3,8877 Nilai LC50 94,55 g/ml

Uji toksisitas dipakai larva udang Artemia salina Leach dengan tiga konsentrasi sampel yang berbeda sesuai dengan metode, disamping itu juga murah, mudah pengerjaannya, tidak memerlukan kondisi yang aseptis dan cepat (Mayer BNNR, Ferrigni ML, 1982; Ghisalberti, 1993). Dari hasil pengujiaan toksisitas daun Eupatorium odoratum L. diperoleh nilai LC50 sebesar 94,55 g/ml, artinya ekstrak bersifat toksik. Suatu ekstrak tanaman dikatakan toksik berdasarkan metode BST jika harga LC50 <1000 g/ml merupakan konsentrasi zat yang menyebabkan terjadinya kematian pada 50 % hewan percobaan yaitu larva Artemia salina Leach (Mayer BNNR, Ferrigni ML, 1982). Menurut Hadi M., (2008) ekstrak Eupatorium odoratum L. mengandung sesquiterpen yang mampu mengendalikan tingkat mortalitas pada rayap. Ekstrak Eupatorium odoratum L. bersifat toksik terhadap rayap Coptotermes dimana nilai LC50 diperoleh adalah 2,5%. Penelitian Carballo JL, et al., (2002) menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara sitotoksisitas dan letalitas larva Artemia salina Leach pada ekstrak tanaman. Apabila harga LC50 suatu ekstrak tanaman bersifat toksik menurut metode BST, maka tanaman tersebut dapat dikembangkan sebagai obat antikanker. Beberapa senyawa antikanker telah berhasil diisolasi dari bahan alami yang dilakukan secara ekstraksi dan partisi termonitor oleh BST, dua senyawa ISSN : 2087-5045

diantaranya mampu menghambat pertumbuhan sel kanker (in vitro), dan uji klinisnya masih dilakukan. Dua senyawa tersebut diidentifikasi sebagai uvaricin yang diisolasi dari tanaman Uvarica acuminate (Jolad SD, et al., 1982) dan bullatacin yang berhasil diisolasi dari tanaman Annona bullata (Gu ZM, et. al., 1995). Uvaricin menunjukkan penghambatan pada in vivo sistem P-388 lympocytic leukimia pada mencit dan bullatacin menghambat kultur sel tumor lebih baik dari adriamycin yang secara klinis telah digunakan untuk mengobati tumor. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil uji sitotoksik ekstrak etanol daun Eupatorium odoratum L. dengan menggunakan metode brine Shrimp Lethality Test menunjukkan adanya potensi toksisitas terhadap larva Artemia salina Leach yang ditunjukkan dengan harga LC50 < 1000 g/ml, yaitu sebesar 94,62 g/ml.

47

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 Saran Untuk melanjutkan penelitian ini disarankan untuk melakukan fraksinasi dan melakukan pengujian aktivitas sitotoksik lebih lanjut terhadap senyawa aktif sitotoksik dari fraksi daun Eupatorium odoratum L. dengan metode yang lebih spesifik. DAFTAR PUSTAKA Anderson, BC., 1975, Statistik, in A. Martin All. Remingtone Pharmaceutical Scince, fifteen education, Mach Publishing Company Eason, Pensylvania. Benjamin, V.T, et.al., 1987., Phytochemical and Antibacterial Studies on The Essential Oil of Euphatorium Odoratum, Available online at http://www.Pharmaceutical Biology.htm/, diakses : 24 Februari 2010. Carballo JL, Hernandez-Inda ZL, Perez P, Garcia-Gravaloz MD, 2002, Comparison between two brine shrimp assays to detect in vitro cytotoxicity in marine natural products, BMC Biotechnology ; 2:14726570. Dachriyanus, Oktima W., Stanias J., 2005, 1.7 dihidroksixanton, Senyawa Sitotoksik dari Kulit Batang Garcinia grifitti T. Anders, Jurnal Matematika dan Pengetahuan Alam, 14(1), 17-21. Ghisalberti, E.L., 1993, Detection and Isolation of Bioactive Natural Product, Bioactive Natural Products ; Detection, Isolation and Structural Determination, Steven M. Collegate and Russell J. Molyneux, CRC Press Inc, London. Gu ZM, Zeng L, Schwendler JT, Wood KV, McLaughlin JL. 1995, New Bioactive Adjecent Bis-THF annonaceous acetogenis from Annona bullata, Phytochemistry, 40(2), 467-477 Hyeronimus SB. 2006, Ragam dan Khasiat Tanaman Obat. 1st ed. Jakarta: Agro Media; Jolad SD, Hoffman JJ, Schram KH, Cole JR. Uvaricin, a New Antitumor Agent from Uvaria accuminata (Annonaceae), J Org Chem, 47, 3511-3513. Mayer BNNR, Ferrigni ML, 1982, Brine Shrimp, a convinient general bioassay for active plant constituents. J of Plant Medical Research ;45:31-34. Vital, P.G., and W.L, Rivera, 2009. Antimicrobacterial activity and citoxicity of Chromolaena odorata (L.f) King and Robinson and Uncaria perrottetii (A. rich) Merr. Extracts, Available online at http://www.academicjournals.org/JMPR Journal of Medicinal Plant Research Vol. 3(7), pp. 511-518. Voight, R, 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi V, Diterjemahkan oleh S.Noer, Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

ISSN : 2087-5045

48

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

UJI AKTIFITAS HEPATO-PROTEKTIF EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) TERHADAP TOKSISITAS ALKOHOL PADA MENCIT PUTIH JANTAN
Eka Fitrianda, Ria Afrianti, Resta Novie Yunasti STIFI Perintis Padang ABSTRACT This study was conducted to investigate the hepato-protective activity of ethanolic extract of red betel (Piper crocatum) against liver damage induced by alcohol. Experimental animals used were male albino mice, divided into 5 groups: negative control, positive control, 150 mg/kgBW dose, 300 mg/kgBW dose, and 600 mg/kgBW dose of ethanolic extract of red betel. Induction with alcohol 0.4 g/kgBW was carried out for 30 days along with ethanolic extract of red betel. Serum aspartate transaminase (AST) level, serum Alanine transaminase (ALT) level, weight and organoleptic characteristics of liver were measured on 31st day. As result, the ethanolic extract of red betel could reduce levels of AST and ALT significantly (P <0.05), but did not affect liver weight (P> 0.05). While the observation on the liver organoleptic characteristics showed that ethanolic extract of red betel leaf could protect the liver from changing in shape and color after alcohol-induced. Key words : Piper crocatum, hepato-protective, AST, ALT, liver PENDAHULUAN Organ hati memegang fungsi vital dalam membangun, mempertahankan, serta meregulasi status homeostatis tubuh. Hati terlibat dalam hampir seluruh jalur biokimia untuk tumbuh, melawan penyakit, suplai nutrisi, pengaturan energi dan reproduksi. Organ ini merupakan pusat metabolisme nutrisi seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta eksresi produk buangan dari tubuh. Asam empedu yang disekresikan oleh hati juga memegang peran vital dalam proses pencernaan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mempertahankan organ hati agar senantiasa berada dalam kondisi sehat (OShea, et al., 2010). Kerusakan sel-sel hati dapat disebabkan oleh sejumlah toksikan seperti agen kemoterapi, karbon tetraklorida, tioasetamida, mikroba, serta alkohol. Peningkatan oksidasi lipid saat hati memetabolisme alkohol mencetuskan terjadinya hepatitis yang dapat berakibat pada berkembangnya sirosis. Saat alkohol dimetabolisme di hati, sejumlah produk antara akan dihasilkan, seperti asetaldehid serta radikal bebas. Produk-produk antara ini berkontribusi besar dalam proses kerusakan sel-sel hati akibat alkohol (Mendez-Sanchez, et al., 2005). Asupan zat antioksidan yang bekerja menghambat radikal bebas secara teoritis diduga mampu mengurangi kerusakan sel-sel hati akibat metabolisme alkohol (Rubin, 1993). Tumbuhan obat seperti sirih merah (Piper crocatum) merupakan salah satu sumber antioksidan alami yang telah terbukti daya antioksidannya. Aktifitas antioksidan yang cukup signifikan dari sirih merah (Piper crocatum) ini diharapkan mampu menghasilkan efek hepato-protektif terhadap toksisitas alkohol pada sel-sel hati. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dilakukan suatu penelitian yang bertujuan untuk menginvestigasi efek hepato-protektif dari sirih merah (Piper crocatum) terhadap toksisitas alkohol pada sel-sel hati. Penelitian dilakukan secara in vivo menggunakan mencit putih jantan sebagai hewan percobaan serta ekstrak etanol dari daun sirih merah (Piper crocatum) sebagai sampel uji. Manifestasi klinis dari kerusakan pada sel-sel hati akibat alkohol diantaranya adalah akan terjadi perubahan fisik organ hati seperti perubahan warna, berat dan volume hati, serta peningkatan kadar enzim-enzim hati dalam darah seperti enzim Alanin aminotransferase

ISSN : 2087-5045

49

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 (ALT) dan Aspartat aminotransferase (AST). Oleh karena itu, parameter yang akan diamati dan diukur pada hewan percobaan dalam penelitian ini adalah: perubahan warna, berat dan volume hati, serta kadar ALT dan AST serum. Waktu dan tempat Penelitian dilaksanakan di laboratorium farmakologi STIFI Perintis Padang selama 5 bulan. Alat dan bahan Botol maserasi, rotary evaporator, kandang hewan percobaan, spuit, alkohol, Na CMC, reagen kit ALT dan AST, sampel berupa daun sirih merah (Piper crocatum), hewan percobaan mencit putih jantan. Pengolahan sampel Sampel berupa daun sirih merah (Piper crocatum) segar dibersihkan dan dirajang, kemudian dimaserasi dengan etanol 97% selama 5 hari. Maserat selanjutnya didestilasi vakum hingga didapatkan ekstrak kental. Pembuatan suspensi ekstrak Sebelum diberikan kepada hewan percobaan, ekstrak yang telah didapat terlebih dahulu dijadikan bentuk suspensi. Suspensi dibuat dengan cara menaburkan Na CMC sebanyak 50 mg dalam lumpang yang berisi 1 ml air panas, kemudian digerus hingga kental, selanjutnya ke dalam lumping dimasukkan ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) yang telah ditimbang sesuai dosis yang direncanakan, digerus homogen. Terakhir ditambahkan aquadest hingga 10 ml. Perlakuan hewan uji Sebelum digunakan mencit putih jantan terlebih dahulu diaklimatisasi selama 1 minggu. Hewan dianggap sehat apabila perubahan berat badan tidak lebih dari 10% serta memperlihatkan prilaku normal. Penelitian dirancang untuk melihat perbedaan parameter yang terjadi pada mencit yang diinduksi etanol tanpa pemberian sampel uji dengan yang diinduksi etanol dan disertai dengan pemberian sampel uji pada beberapa tingkatan dosis. Hewan uji yang ISSN : 2087-5045 Pada hari ke 31, darah mencit diambil dan diukur kadar ALT dan AST serumnya. Darah diambil dengan cara memotong pembuluh darah leher mencit dan ditampung dalam tabung reaksi. Darah diambil selama 15 menit dan disentrifus selama 20 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Bagian cairan jernih (serum) dari darah digunakan untuk pengukuran kadar ALT dan AST menggunakan reagen enzimatis untuk masing-masing enzim dan diukur kadarnya menggunakan spektrofotometer UV-Visibel. Organ hati mencit diangkat guna mengamati perubahan warna, berat, serta volume hati. Data hasil penelitian dianalisa secara statistika dengan analisa ANNOVA satu arah berdasarkan rancangan acak kelompok dan dilanjutkan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah dilakukan pengukuran ALT serum pada hari ke-31, maka didapatkan kadar enzim ALT untuk kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dosis ekstrak 150 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB masing-masing 50 digunakan dalam penelitian ini adalah mencit putih jantan dengan berat 20-25 gram sejumlah 25 ekor menggunakan rancangan acak kelompok. Mencit putih jantan dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 ekor mencit. Setiap kelompok akan mendapatkan perlakuan yang berbeda sebagai berikut: a. Kelompok I: merupakan kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan pembawa (NaCMC) b. Kelompok II: merupakan kontrol positif yang diinduksi alkohol 0,4 g/kg per hari selama 30 hari. c. Kelompok III: diinduksi alkohol 0,4 g/kg dan suspensi ekstrak etanol dengan dosis 150 mg/kg per hari selama 30 hari secara oral. d. Kelompok IV: diinduksi alkohol 0,4 g/kg dan suspensi ekstrak etanol dengan dosis 300 mg/kg per hari selama 30 hari secara oral. e. Kelompok V: diinduksi alkohol 0,4 g/kg dan suspensi ekstrak etanol dengan dosis 600 mg/kg per hari selama 30 hari secara oral. Pengumpulan dan Analisa Data

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 berturut-turut sebesar 34,2 U/L, 91,2 U/L, 49,4 U/L, 41,4 U/l dan 31,4 U/l. Dari data tersebut di atas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan kadar ALT pada kelompok hewan yang diinduksi alkohol selama 30 hari, dibandingkan dengan kelompok hewan yang hanya diberi NaCMC. Kenaikan kadar ALT serum ini merupakan salah satu parameter yang dapat mengindikasikan terjadinya kerusakan sel-sel hati akibat toksisitas alkohol. Pada kelompok hewan yang diberi ekstrak etanol daun sirih merah selama masa penginduksian dengan alkohol (kelompok III, IV dan V), terlihat terjadi penurunan kadar ALT dibandingkan kelompok kontrol positif. Kecenderungan penurunan ini mengindikasikan adanya aktifitas protektif ekstrak daun sirih merah terhadap kerusakan hati yang diinduksi oleh alkohol. Dari pengolahan statistika ANNOVA satu arah terlihat bahwa kadar ALT serum kelompok hewan yang diberi ekstrak sirih merah secara signifikan berbeda dengan kadar ALT pada kelompok kontrol (P<0,05). Dengan kata lain, pemberian ekstrak etanol daun sirih merah selama masa penginduksian dengan alkohol dapat menurunkan kadar ALT secara signifikan. Dari uji lanjut DUNCAN didapat bahwa pemberian ekstrak etanol pada dosis 300 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB dapat menurunkan kadar ALT hingga nilai yang sama dengan kadar ALT pada kelompok kontrol negatif, sedangkan dosis ekstrak 150 mg/kgBB masih dapat menurunkan kadar ALT, namun masih di bawah kadar ALT kelompok kontrol negatif. Hasil pengukuran kadar AST serum untuk kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dosis ekstrak 150 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB masing-masing berturut-turut adalah 36,2 U/L, 90,8 U/L, 50,6 U/L, 43,6 U/L dan 39,8 U/L. Data ini juga memperlihatkan terjadinya peningkatan kadar AST pada kelompok hewan yang diinduksi dengan alkohol selama 30 hari. Sama halnya dengan ALT, peningkatan kadar AST juga merupakan salah satu parameter yang dapat menunjukkan terjadinya kerusakan hati akibat toksisitas alkohol. Pada kelompok hewan yang diberi ekstrak sirih merah selama penginduksian, terjadi penurunan kadar AST dibanding kadar AST pada kelompok kontrol positif. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun sirih merah selama masa pengindiksian dengan alkohol dapat melindungi sel-sel hati dari toksisitas alkohol. Pengolahan statistika ANNOVA terhadap data kadar AST menunjukkan kelompok hewan yang diberi ekstrak daun sirih merah memiliki kadar AST yang berbeda signifikan dengan kelompok hewan uji yang diinduksi alkohol (P<0,05). Artinya, pemberian ekstrak etanol sirih merah selama masa penginduksian alkohol dapat menurunkan kadar AST secara signifikan. Hasil uji lanjut DUNCAN memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak etanol pada dosis 300 mg/kgBB dan 600 mg/kgBB dapat menurunkan kadar AST hingga nilai yang sama dengan kadar AST pada kelompok kontrol negatif, sedangkan dosis ekstrak 150 mg/kgBB masih dapat menurunkan kadar AST, namun masih di bawah kadar AST kelompok kontrol negatif. Kecenderungan penurunan ini juga merupakan indikasi adanya aktifitas protektif ekstrak daun sirih merah terhadap kerusakan hati yang diinduksi oleh alkohol. Hasil pengukuran berat organ hati pada kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dosis ekstrak 150 mg/kgBB, 300 mg/kgBB, dan 600 mg/kgBB masing-masing berturut-turut adalah 4,27 g, 4,23 g, 3,64 g , 3,82 g dan 3,86 g. Dari pengolahan statistika ANNOVA satu arah ternyata perbedaan berat organ hati antar kelompok ini tidak signifikan (P>0,05). Dari pengamatan organoleptis terhadap organ hati, terlihat bahwa organ hati kelompok kontrol positif mengalami perubahan warna dibanding kontrol negatif, sedangkan organ hati kelompok yang diberi ekstrak etanol memiliki warna dan bentuk yang sama dengan organ hati kelompok kontrol negatif. Dari penelitian-penelitian sebelumnya diketahui bahwa daun sirih merah memiliki aktifitas antioksidan yang cukup tinggi, hal ini diduga berkontribusi terhadap aktifitas hepatoprotektif daun sirih merah yang terlihat dari hasil penelitian ini. Kerusakan langsung sel-sel hati yang terjadi selama mengkonsumsi alkohol diyakini terjadi akibat radikal bebas. Radikal bebas merupakan fragmen molekular yang sangat reaktif dan biasanya mengandung oksigen. Sejumlah kecil radikal bebas dihasilkan sebagai produk normal dari proses metabolisme dalam tubuh. Namun, fragmen ini akan segera dihambat oleh molekul pelindung alami dalam sel-sel 51

ISSN : 2087-5045

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012 tubuh yang dinamakan dengan antioksidan (misalnya glutathione serta vitamin A dan E). Jika radikal bebas diproduksi dalam jumlah berlebih atau jika terdapat kondisi kekurangan antioksidan, maka radikal bebas akan berinteraksi destruktif dengan komponen sel dan mengakibatkan kematian sel (Allen, 2002). Hasil dari serangan radikal bebas adalah degradasi berantai pada membrane sel oleh suatu proses yang dikenal dengan peroksidasi lipid. Proses ini dapat merusak keutuhan membran baik di dalam maupun di sekeliing sel, sehingga akan mengganggu fungsi sel. Para peneliti telah membuktikan bahwa konsumsi alkohol kronis menginduksi peroksidasi lipid pada tikus dimana tingkat peroksidasi ini berhubungan dengan kerusakan organ hati (Allen, 2002). Berdasarkan mekanisme kerusakan hati akibat toksisitas alkohol tersebut, maka zat-zat yang bersifat antioksidan memiliki potensi yang besar dalam melindungi hati (hepato-protektif) terhadap kerusakan akibat alkohol. Antioksidan merupakan pertahanan sel dalam menghadapi radikal bebas. Konsumsi alkohol akan menurunkan kadar antioksidan dalam tubuh dan menepatkan organ hati pada keadaan resiko kerusakan akibat radikal bebas. Glutathione merupakan antioksidan penting yang kadarnya sangat dipengaruhi oleh konsumsi alkohol (Levitsky, 2004). KESIMPULAN Pemberian ekstrak etanol daun sirih merah memiliki aktifitas hepato-protektif. Ekstrak etanol sirih merah dapat menurunkan kadar AST dan ALT secara bermakna (P<0,05) pada mencit yang diinduksi alkohol, tetapi tidak mempengaruhi berat organ hati (P>0,05). Sementara pengamatan terhadap organoleptis organ hati memperlihatkan bahwa ekstrak etanol daun sirih merah dapat melindungi hati dari perubahan bentuk dan warna akibat induksi alkohol. DAFTAR PUSTAKA Allen, E. S., 2002, The Liver: Anatomy, Physiology, Disease and Treatment, Northeastern University December 7th. Levitsky, J., Mailliard ME, 2004, Diagnosis and therapy of alkoholic liver disease. Semin Liver Dis;24:233-247. Mendez-Sanchez N, Meda-Valdes P, Uribe M, 2005, Alkoholic liver disease. An update. Ann Hepatol;4:32-42. OShea, R. S., S.Dasarathy, and A. J. McCullough, 2010, Alkoholic liver desease, Hepatology, Vol. 51, No. 1, p 307-328. Rubin, E., 1993, The chemical pathogenesis of alkohol-induced tissue injury. Alkohol Health & Research World 17(3):272278.

ISSN : 2087-5045

52

SCIENTIA VOL. 2 NO. 1, FEBRUARI 2012

Petunjuk Penulisan Pada Jurnal Scientia


1. Naskah berupa hasil penelitian atau karya ilmiah dari bidang Ilmu Farmasi dan Kesehatan, baik berupa review maupun sintesis. Naskah belum pernah dan tidak akan pernah dipublikasikan pada media lain. 2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bila naskah dalam bahasa Inggris, maka abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia, sebaliknya bila naskah dalam bahasa Indonesia, maka abstrak ditulis dalam bahasa Inggris. 3. Naskah diketik menggunakan komputer, dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman kertas ukuran kuarto (A4) dengan spasi ganda. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang diketik dengan jarak 1 spasi. Naskah 1 rangkap beserta softcopy (dalam bentuk CD) dikirim ke redaksi. 4. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut : a. Judul, nama lengkap penulis dan lembaga b. Abstrak c. Pendahuluan : berisi latar belakang masalah, ditambah literatur pendukung yang relevan d. Metoda Penelitian e. Hasil dan Pembahasan f. Kesimpulan atau saran g. Daftar Pustaka (kutipan dari buku dengan susunan : nama penulis, tahun, judul buku (tulis miring), penerbit, kota terbit; kutipan dari jurnal dengan susunan : nama penulis, tahun, judul artikel, judul jurnal (ditulis miring), volume, nomor halaman) 5. Tabel dan gambar harus diberi judul dan keterangan yang jelas 6. Redaksi berhak merubah naskah tanpa mengurangi isi dan maksud naskah 7. Redaksi berhak menolak naskah yang kurang layak untuk dipublikasikan. Naskah akan dikembalikan jika dilengkapi perangko secukupnya 8. Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar dan lembaga/instansi tempat penulis bekerja 9. Pada bagian akhir naskah dicantumkan riwayat hidup penulis 10. Naskah & softcopy dapat dikirimkan ke : Alamat : Jl. Adinegoro/Simp. Kalumpang Km. 17 Lubuk Buaya Padang-25173 e-mail : stifipadang@gmail.com (khusus softcopy)

ISSN : 2087-5045