Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS Pembahasan pada bab ini penulis akan menyajikan laporan kasus yaitu asuhan keperawatan jiwa

pada Tn. A dengan isolasi sosial di Ruang Elang Rumah Sakit Khusus Provinsi Kalimantan Barat, penulis melakukan asuhan keperawatan selama tiga hari dimulai dari tanggal 14 Juni 2012 sampai dengan 16 Juni 2012. A. PENGKAJIAN 1. Identitas Pasien Pasien bernama Tn. A, umur 28 tahun dan belum menikah, pendidkan terakhir STM, pasien masuk pada tanggal 1 Juni 2012 dan didiagnosa Skizofrenia Hebefrenik. Penanggung jawab pasien adalah Tn. F (adik ipar) yang berusia 27 tahun. 2. Alasan Masuk Berdasarkan catatan rekam medis, pada tanggal 1 Juni 2012 pasien di bawa ke RSK Provinsi Kalimantan Barat oleh keluarganya dengan alasan 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien marah-marah dan memukul warga setempat hingga menyerang warga menggunakan senapan angin. 34

Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada tanggal 14 Juni 2012 pasien mengatakan dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit dengan alasan pasien tidak suka melihat tetangganya yang suka omong kosong, pasien akan membentak orang tersebut dan akan meninju orang-orang yang suka omong kosong, sehingga pasien mengisolasi diri dikamar sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. 3. Faktor Predisposisi Faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa pada Tn. A adalah kehidupan keluarganya yang kurang harmonis, membuat pasien sering marah-marah dengan keluarganya, hal ini juga didukung dengan keadaan dimana pasien tidak suka dengan keluarga maupun tetangga pasien yang suka bicara omong kosong atau bicara tinggi. Menurut catatan keperawatan pasien mempunyai riwayat putus cinta 8 bulan yang lalu sejak ia pulang dari malaysia, sejak kejadian itu klien menjadi sensitif serta mudah marah.

Pasien pernah menjadi pelaku dalam kekerasan rumah tangga, pada usia 28 tahun. Pasien mengatakan kehidupan didalam keluarganya kurang harmonis dan ini yang menyebabkan pasien sering marah-marah dirumah dan bahkan menyerang ayahnya. Didalam anggota keluarganya Tn.A, tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, hanya saja adik Tn.A yang nomor 6 mengalami retardasi mental. Pasien mengatakan, pengalaman masa lalunya yang tidak menyenangkan terlalu banyak, sehingga ia tidak ingat lagi dan ia juga tidak mau mengingatnya lagi karena akan menbuat stres, pada usia 20 tahun pasien adalah alkoholik. Masalah keperawatan: Resiko perilaku kekerasan Inefektif koping individu 4. Faktor Presipitasi Sebelumnya pasien pernah mengalami gangguan jiwa. Tiga bulan yang lalu tanggal 29 Februari 2012 pasien berobat ke Rumah Sakit Khusus Kalimantan Barat dengan keluhan sering marah-marah dan terkadang mengisolasi diri dikamar tidak mau makan dan minum. Saat berada dirumah, pasien berobat jalan dipraktik dr. Ibnu, dan pasien juga mengatakan saat dirumah sering malas minum obat. Berdasarkan catatan keperawatan, pasien tidak minum obat secara teratur dan sering putus obat. Masalah Keperawatan: Inefektif regimen therapeutik 5. Pemeriksaan Fisik a. Tanda - tanda vital : TD = 100/60 mmHg, N = 64 x/mnt, S = 36, 2 C dan RR = 18 x/mnt. b. Berat badan 70 kg, tinggi badan 172 cm, berat badan ideal 65 kg. c. Pemeriksaan Fisik Head to Toe. 1) Kepala, leher Kepala: Pada saat diinspeksi rambut pasien lurus dan pendek, berwarna hitam, kebersihan baik, pada saat dipalpasi tidak terdapat benjolan dan nyeri tekan pada kepala. Leher: Pada saat diinspeksi tidak terdapat pembesaran vena jugularis, tidak terdapat nyeri tekan.

2) Mata Bentuk mata simetris, penglihatan baik, tidak memakai alat bantu penglihatan. 3) Telinga

Bentuk simetris, pendengaran baik dibuktikan Tn. A dapat menjawab pertanyaan perawat, kebersihan telinga cukup dan Tn. A tidak menggunakan alat bantu pendengaran. 4) Hidung Hidung Tn. A simetris, fungsi penciuman baik dibuktikan Tn. A dapat mencium wangi sabun, tidak terdapat polip. 5) Mulut Bibir Tn. A simetris, gigi Tn. A lengkap dan bersih, mukosa bibir lembab. 6) Integumen Warna kulit sawo matang, kulit tampak kering, turgor kulit cukup. 7) Dada a) Rongga Torax Bentuk dada simetris, respirasi 18x/menit. b) Abdomen Saat diispeksi tidak terdapat lesi, tidak terdapat nyeri tekan. c) Punggung Tidak terdapat kelainan pada tulang belakang. d) Ekstremitas Atas: Bawah: pergerakan tangan baik, turgor kulit kurang, kulit berwarna sawo matang. pergerakan kaki baik, tidak terdapat odema pada kaki, kebersihan kaki baik. 6. Psikososial a. Genogram
28

Ket : = perempuan = laki-laki = meninggal = pasien = tinggal serumah

Berdasarkan hasil pengkajian, pasien tidak mampu menjelaskan silsilah keturunan secara keseleruhun, terutama kakek dan nenek pasien, karena pasien kesulitan dalam

mengingatnya, sehingga hanya didapatkan data sebanyak dua generasi (keturunan). Didalam catatan keperawatan juga tidak terdapat genogram tiga keturunan. b. Masalah komunikasi, pengambilan keputusan, dan pola asuh Pasien mengatakan, ia anak ke-5 dari 7 bersaudara, ia hanya tinggal bersama ayah, ibu dan adiknya yang ketujuh, sedangkan saudaranya yang lain ada yang telah menikah dan bekerja. Pasien mempunyai pola asuh yang baik, hanya saja pasien mengatakan kehidupan keluarganya kurang harmonis. Semenjak ia dan keluarga lainnya pisah, dalam hal pengambilan keputusan, ayah pasien selalu memusyawarahkannya terlebih dahulu. c. Konsep Diri 1) Citra Tubuh Pasien mengatakan ia menyukai seluruh tubuhnya, karena pasien menyadari bahwa seluruh anggota tubuhnya ini telah diciptakan Allah SWT sesempurna mungkin, sehingga ia selalu bersyukur dengan yang diberikan allah SWT. 2) Identitas Diri Pasien dapat menyebutkan namanya dan pasien mengatakan bahwa pasien adalah seorang laki- laki, penampilan Tn. A sesuai dengan identitasnya sebagai seorang laki-laki. Tn. A merasa tidak puas sebagai seorang laki-laki karena belum menikah. Tn. A bekerja sebagai petani. Pasien anak kelima dari tujuh bersaudara, pasien tamatan STM. 3) Peran Pasien berperan sebagai anak yang belum menikah dan bekerja sebagai petani. Dirumah sakit pasien berperan sebagai pasien yang mentaati praturan rumah sakit 4) Ideal Diri Pasien berharap cepat sembuh dan berkumpul bersama keluarganya. Dan bisa bekerja lagi untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan ingin segera sembuh agar segera menikah. 5) Harga Diri Pasien merasa sedih karena ia sekarang sakit, tidak bisa berkumpul dengan keluarganya dan menyusahkan keluarganya saja.

d. Hubungan Sosial

1) Orang yang berarti Pasien mengatakan orang yang berarti baginya adalah kakaknya yang nomor empat. Jika ada masalah pasien kadang menceritakan kepada kakaknya. 2) Peran dalam kegiatan kelompok Pasien mengatakan malas untuk bersosialisasi dengan tetangganya, karena tetangganya sring berbicara kosong. 3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain. Pasien mengatakan mengatakan malas untuk berhubungan dengan orang lain, selain karena ia malas ngobrol dengan orang lain, juga karena pasien sering lupa nama orang dan tidak ada untungnya. Masalah keperawatan: e. Spiritual 1) Nilai dan keyakinan Pasien beragama Islam, dan pasien percaya dengan adanya Allah SWT. Menurut pasien, penyakitnya ini merupakan cobaan dari Allah SWT. 2) Kegiatan ibadah Saat di rumah pasien shalat lima waktu, namun selama dirumah sakit pasien tidak pernah shalat, karena pasien beranggapan bahwa dirinya ini kotor dan tidak suci untuk melakukan ibadah shalat. 7. Status Mental a. Penampilan Penampilan pasien rapi, pakaian bersih dan diganti setiap hari, serta pasien berpakaian sesuai. b. Pembicaraan Pasien berbicara dengan nada yang pelan dan lambat, jelas dan mudah dimengerti. Namun pasien tidak mampu untuk memulai pembicaraan kepada orang lain. Masalah Keperawatan: c. Aktivitas motorik Pasien tampak lesu, malas beraktivitas, pasien lebih sering berdiam diri dan sering menghabiskan waktunya ditempat tidur. Masalah keperawatan: Isolasi sosial Isolasi sosial Isolasi sosial

d. Afek dan Emosi 1) Afek pasien tumpul, berespon apabila di berikan stimulus yang kuat. 2) Emosi pasien stabil. Pasien mengatakan saat ini sedih karna tidak pernah lagi dijenguk keluarganya. Masalah keperawatan: Isolasi sosial

e. Interaksi selama wawancara Selama wawancara kontak mata pasien baik, pasien tampak ragu dalam menjawab pertanyaan perawat sehingga perawat harus mengulangi beberapa pertanyaan kepada pasien, tingkat konsentrasi pasien baik, ditandaidengan ketika wawancara, pasien terfokus kepada perawat. Selain itu pasien tidak memiliki keinginan untuk berinteraksi kecuali perawat yang memulai. Masalah keperawatan: Isolasi sosial f. Persepsi dan sensori Pasien tidak mengalami gangguan persepsi sensori ilusi dan halusinasi, baik itu halusinasi pendengaran, penglihatan, perabaan, pengecapan, dan penghidu. Ditandai dengan pasien mengatakan tidak pernah mendengar, melihat dan merasakan yang aneh-aneh tanpa wujud. g. Proses pikir (arus dan bentuk pikir) 1) Proses Pikir (arus dan bentuk pikiran) Saat bicara Tn. A kadang- kadang terdiam dan sulit memulai pembicaraan. Masalah keperawatan: Isolasi sosial

2) Isi Pikir Tn. A tidak mengalami gangguan isi pikir. Isi pikir Tn. A sesuai dengan kenyataan saat ini. Dibuktikan Tn.A tidak memiliki keinginan yang besar sesuai dengan keadaannya saat ini. h. Tingkat kesadaran

Tingkat kesadaran pasien bingung. Pasien mengalami gangguan orientasi tempat, terbukti dengan pasien mengatakan bahwa dirinya berada di rumah sakit Griya Husada. Orientasi waktu pasien baik di buktikan dengan pasien mengetahui hari dan tanggal. i. Memori Pasien mengalami gangguan daya ingat jangka panjang, namun pasien tidak mengalami gangguan mengingat jangka pendek dan saat ini. Pasien tidak dapat menceritakan kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu, terutama saat ia berada dimalysia. Pasien dapat menceritakan kejadian ketika pasien di bawa masuk oleh keluarganya. Pasien dapat mengingat nama perawat, serta janji / kontrak yang telah dibuat.

ngka panjang:

ngka pendek:

at ini:

j. Tingkat konsentrasi dan berhitung Pasien mampu untuk berkonsentrasi penuh, pasien mampu berhitung sederhana dibuktikan dengan pasien dapat menyebutkan perhitungan dari 1-10 dan sebaliknya dari 10-1. k. Kemampuan penilaian Pasien tidak ada masalah pada kemampuan penilaian, terbukti dengan pada saat diberi pilihan mau makan setelah mandi atau mandi setelah makan, pasien memilih makan setelah mandi. l. Daya tilik diri Pasien mengatakan ia tidak tau sedang sakit apa, ia bertanya-tanya mengapa saya diberi obat yang efek sampingnya membuat saya mengantuk dan lemah. 8. Kebutuhan Perencanaan Pulang a. Kemampuan pasien memenuhi kebutuhan Pasien mampu memenuhi kebutuhan makan dan minum secara mandiri, sedangkan untuk kebutuhan lainnya seperti keamanan, perawatan kesehatan, pakaian, transportasi, tempat tinggal, keuangan dan lain-lain belum dapat dipenuhi secara mandiri.

b. Kegiatan hidup sehari hari (ADL) 1) Perawatan diri

Pasien mengatakan mandi dua kali sehari dengan menggunakan sabun, shampo serta menggosok gigi sebanyak dua kali sehari. Setelah mandi pasien tidak menyisir rambut karena sisir tidak ada diruangan. 2) Nutrisi Pasien makan 3x/hari, pasien tidak dapat menghabiskan 1 porsi yang telah di sediakan rumah sakit, karena terlalu banyak. Pasien makan menggunakan tangan, dan tempat yang disediakan, pasien sudah mampu membereskan makan setelah makan. 3) Tidur Pasien tidur sehari biasanya 6 8 jam, tidur siang 1 2 jam. Pasien tidur malam mulai dari jam 21.00 dan bangun jam 05.00 pagi, pasien tidak mengalami kesulitan saat memulai tidur dan pasien bangun tidur dengan kondisi segar. Pasien belum dapat merapikan tempat tidurnya sendiri, semua masih di arahkan oleh perawat. 9. Mekanisme Koping Pasien mengatakan apabila memiliki masalah lebih baik menghindar dari malasah tersebut, dan jika ada masalah, pasien akan memendam masalahnya itu dan lebih baik menyendiri dan menghindar dari orang lain. Masalah keperawatan: Isolasi sosial Inefektif koping individu 10. Masalah Psikososial dan Lingkungan Pasien mempunyai masalah dengan lingkungannya, karena jarang berinteraksi dengan orang lain. Pasien lebih suka menyendiri daripada berkumpul dengan orang lain. Masalah keperawatan: Isolasi sosial

11. Pengetahuan Tentang Masalah Kejiwaan Pasien mengatakan ia tidak tahu ia sakit apa, dan ia juga bingung mengapa ia diberi obat yang efek sampingnya akan membuat ia menjadi mengantuk dan lemah, pasien juga mengatakan saat dirumah pernah diberi obat, namun pasien malas untuk meminum obat tersebut karena akan membuatnya mengantuk. Masalah keperawatan: Inefektif regimen therapeutik

12. Aspek Medis Diagnosa medis: Terapi medis: Persidal Trihexipenidil Clorilex Vit. B6 Stelazine 13. Daftar Diagnosa Keperawatan a. c. Isolasi Sosial Inefektif Koping Individu b. Inefektif Regimen Therapeutik F.20.1 Skizofrenia Hebefrenik Fluoxetin 2 x 1 mg/hari 2 x 2 mg/hari 1 x 25 mg/hari 1 x 10 mg/hari 2 x 5 mg/hari 1 x 10 mg/hari

B. ANALISA DATA No 1. Data Ds: Pasien mengatakan malas untuk berinteraksi dengan pasien lain karena tidak ada untungnya. - Pasien mengatakan selama dirumah sakit, tidak ada satupun yang pasien kenal. Do: - Pasien tampak sering menyendiri dari Masalah Keperawatan Isolasi Sosial

2. -

teman-temannya. Pasien tampak tidak berinteraksi dengan orang lain. Pasien tidak mampu memulai pembicaraan Pasien banyak diam, pasien tidak mau mengikuti kegiatan Pasien tampak lesu, afek tumpul Pasien malas beraktivitas Ds: Pasien mengatakan pernah masuk rumah sakit ini, tapi lupa kapan waktunya. Pasien mengatakan saat dirumah malas minum obat. Do: Dari catatan keperawatan, pasien berobat jalan di dr. Ibnu dan mengalami perubahan, namun tidak minum obat secara teratur dan sering putus obat. Pasien pernah masuk rumah sakit khusus ini pada tanggal 29 Februari 2012 dan pulang pada tanggal 09 April 2012 Ds: Pasien mengatakan ia punya banyak masalah masa lalu yang malas untuk diceritakan karena akan membuat stres Pasien mengatakan lebih baik menghindari masalah Pasien mengatakan akan memendam masalahnya tersebut dan lebih baik menyendiri dan menghindar dari orang lain Do: Menurut catatan keperawatan, pasien mempunyai riwayat putus cinta 8 bulan sejak ia pulang dari malaysia, sejak kejadian itu klien menjadi sensitif serta mudah marah. Ds: Pasien mengatakan dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit karena tidak suka melihat tetangga yang suka

Inefektif Regimen Therapeutik

3. -

Inefektif Koping Individu

4. -

Resiko Perilaku Kekerasan

omong kosong, pasien akan membentak orang tersebut dan akan meninjunya. Pasien mengatakan kehidupan didalam keluarganya kurang harmonis dan ini yang menyebabkan pasien sering marah-marah dirumah dan bahkan menyerang ayahnya Do: Berdasarkan catatan rekam medis, pada tanggal 1 Juni 2012 pasien dibawa ke RSK Provinsi Kalimantan Barat oleh keluarganya dengan alasan 2 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien marah-marah dan memukul warga setempat hingga menyerang warga menggunakan senapan angin. Pasien pernah menjadi pelaku dalam kekerasan rumah tangga, pada usia 28 tahun.

C. POHON MASALAH DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Pohon Masalah Isolasi Sosial Core Problem Inefektif Koping Individu Inefektif Regimen Therapeutik Resiko Perilaku Kekerasan 2. Diagnosa Keperawatan a. c. Isolasi Sosial Inefektif Koping Individu b. Inefektif Regimen Therapeutik d. Resiko Perilaku Kekerasan

D. INTERVENSI KEPERAWATAN No Dx Diagnosa Keperawatan PERENCANAAN KRITERIA EVALUASI

TUJUAN

INTERV

1.

Isolasi sosial

Pasien mampu : 1. Menyadaripenyebab isolasi 2. Berinteraksi dengan orang lain.

Setelah 3 X pertemuan pasien mampu : 1. Membina hubungan saling percaya 2. Menyadari penyebab isolasi social, keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain. 3. Melakukan interaksi dengan orang lain secara bertahap.

SP 1 Pasien 1. Identifikasi penyeb a. Siapa yang satu pasien? b. Siapa yang dekat apa sebabnya? c. Siapa yang tidak pasien dan apa seba 2. Tanyakan keuntun berinteraksi dengan a. Tanyakan pendapa kebiasaan berintera lain. b. Tanyakan apa ya pasien tidak in dengan orang lain. c. Diskusikan keuntu memiliki banyak te akrab dengan orang d. Diskusikan kerug hanya mengurung bergaul dengan ora e. Jelaskan pengaru terhadap kesehatan 3. Latih berkenalan a. Jelaskan kepada berinteraksi dengan b. Berikan contoh c dengan orang lain. c. Berikan kesem mempraktikan ca dengan orang lain y hadapan perawat.

1. 2. 3.

SP 2 Pasien Evaluasi Sp 1 Latih berhubunga bertahap Masukkan dalam pasien.

1. 2.

SP 3 Pasien Evaluasi Sp 1 dan Latih cara berke

3. 3.

orang atau lebih Masukkan jadwal

Setelah tindakan keperawatan, keluarga dapat merawat pasien isolasi sosial.

1.

2. 3.

4.

5.

Setelah 3 X pertemuan, keluarga mampu: Menjelaskan masalah keluarga dalam merawat pasien isolasi sosial Menegerti penyebab isolasi sosial Memperagakan cara merawat pasien isolasi sosial Mempraktikan cara merawat pasien isolai sosial Menyusun perencanaan pulang bersama keluarga

1. 2.

3.

SP 1 Keluarga Diskusikan masal keluarga dalam me Jelaskan pengert gejala isolasi sosi pasien beserta pros Jelaskan cara-cara isolasi sosial

1.

2.

SP 2 Keluarga Latih keluarga m merawat pasien sosial Latih keluarga merawat langsun isolasi sosial

1.

2.

SP 3 Keluarga Bantu keluarga aktivitas dirumah obat (perencanaan Jelaskan tindaka pasien setelah pula

Strategi Pelaksanaan (SP 1) Isolasi Sosial A. Proses keperawatan 1. Kondisi pasien : komunikasi kurang, kontak mata kurang, kurang memperhatikan perawatan diri, ekspresi wajah sedih, pasien lebih banyak diam. 2. Diagnosa keperawatan : Isolasi sosial 3. Tindakan keperawatan : a. c. e. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain. Menganjurkan pasien untuk memasukkan latihan berkenalan dengan orang lain kedalam jadwal harian pasien. b. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain. d. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan orang lain.

B. Strategi pelaksanaan 1. Fase orientasi Selamat pagi pak...... Perkenalkan nama saya Herman Petrik, bapak bisa panggil saya Petrik, saya yang akan merawat bapak selama tiga hari. Ini dengan bapak siapa? Bapak senangnya dipanggil apa? Bagaimana perasaan bapak hari ini? Keluhan apa yang bapak rasakan hari ini? Bagaimana kalu kita berbincang-bincang tentang keluarga dan teman-teman bapak? Bapak maunya diman kita ngobrol? Bapak maunya berapa lama kita ngobrol? Bagaimana kalu 15 menit? 2. Fase kerja Baiklah pak, kalau boleh tau di rumah bapak tinggal dengan siapa saja? Menurut bapak siapa orang yang paling dekat dengan bapak? Kalau ada masalah biasanya dengan siapa bapak bercerita? Kalu di rumah dengan siapa paling sering napak berbicara? Siapa yang paling jarang berbicara dengan bapak? Kira-kira apa yang membuat bapak jarang berbicara?

Menurut bapak ada tidak keuntungannya kalau kita banyak teman? Kalau ada coba bapak sebutkan! Ya...benar sekali pak, kalau ada teman bisa diajak ngobrol. Apa lagi pak? Nah pak kalau ada keuntungannya berarti ada kerugiannya, nah coba sekarang bapak sebutkan apa kerugiannya kalau kita tidak punya teman! Wah betul sekali, terus apa lagi pak? Nah sekatrang bapak lebih memilih yang mana? Banyak teman atau tidak ada teman? Kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita belajar bagaimana cara bergaul dengan temanteman bapak agar bapak bisa punya banyak teman? baiklah sekarang kita akan latihan bagaimana cara berkenalan yang baik Kalau kita ingin berkenalan, pertama-tama kita ucapakan salam kemudian kita jabat tangannya, selanjutnya kita sebutkan nama kita dan nama panggilan yang kita suka, kemudian asal dan hobi kita. Contohnya begini ya pak, Pertama ucapkan salam, kemudian jabat tangan orang yang akan kita ajak kenalan lalu perkenalkan nama. Perkenalkan nama saya Herman Petrik, saya senang dipanggil Petrik, saal saya dari sanggau dan hobi saya membaca buku. Selanjutnya bapak tanyakan nama orang yang kita ajak kenalan. Contohnya begini pak, nama bapak siapa? Bapak senagnya dipanggil apa? Asalnya dari mana dan hobinya apa? Ayo sekarang coba bapak lakukan seperti yang saya ajarkan tadi? Misalnya bapak ingin berkenalan dengan saya. 3. Fase terminasi Bagaimana perasaan bapak setelah kita latihan cara berkenalan tadi?. Bapak tadi sudah bagus saat latihan berkenalan, nah sekarang coba bapak sebutkan apa saja yang dilakukan apabila kita akan berkenalan? Ya....bagus. Nah selanjutnya bapak bisa mengingat apa yang kita latih tadi dan bapak bisa mempraktekannya dengan teman-teman bapak di ruangan. Baiklah pak, bagaimana kalau sekarang kita masukan latihan berkenalan tadi kedalam jadwal kegiatan harian bapak. Bapak maunya berapa kali kita latihan? Jam berapa saja bapak mau? Baiklah pak sekarang kita telah selesai menyusun jadwal, bagaimana kalau besok kita ketemu untuk mengajak bapak berkenalan dengan satu orang sesuai dengan yang telah saya ajarkan tadi? Bapak maunya jam berapa? Dimana bapak mau kita bertemu? Bagaimana kalau ditempat ini lagi?, Baiklah pak, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat pagi.....

lampiran 2 Strategi pelaksanaan (SP 2) Isolasi sosial A. Proses keperawatan 1. Kondisi pasien : Komunikasi kurang, kontak mata kurang, tidak bisa memulai pembicaraan. 2. Diagnosa keperawatan : Isolasi sosial 3. Tindakan keperawatan : a. c. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien Menganjurkan pasien untuk memasukan dalam jadwal harian pasien b. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berkenalan

B. Strategi pelaksanaan 1. Fase orientasi Selamat siang pak? Bagaimana keadaanya hari ini? Masih ingat apa tujuan kita ketemu hari ini? Ya bagus. Bagaimana pak masih ingat apa yang telah kita latih kemarin? Coba sebutkan? Bagus sekali bapak masih ingat. Sesuai janji kita kemarin pada hari ini saya akan mengajak bapak berkenalan dengan teman saya. 2. Fase kerja Baiklah pak kita langsung kenalan dengan teman saya. Selamat siang E, ini ada yang mau berkenalan dengan E. Ayo pak sekarang bapak kenalan dengan teman saya seperti yang telah saya ajarkan kemarin?(pasien mendemonstrasikan cara berkenalan). Nah apa lagi yang mau bapak tanyakan pada E? Kalau tidak ada lagi yang ingin ditanyakan mari kita kembali ketempat kita berbincang-bincang tadi. Baiklah E karena Bapak A sudah selesai berkenalan, saya dan Bapak A akan kembali ketempat kami, Selamat siang E. 3. Fase terminasi Bagaimana perasaan bapak setelah berkenalan dengan E tadi?

Bapak sudah mempraktekan cara berkenalan dengan baik, nah bapak bapak bisa mengingat ingat yang kita latih tadi. Bapak bisa mempraktekannya dengan teman-teman yang lain. Bagaimana kalau sekarang kita masukan kedalam jadwal harian bapak. Bapak maunya berapa kali latihannya? Baiklah pak besok kita ketemu lagi intuk latihan berkenalan dengan orang yang berbeda?. Bapak maunya jam berapa? Dimana kita latihan? Bagaimana kalau ditempat ini lagi. Baiklah pak kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang........ lampiran 3 Strategi pelaksanaan (SP 3) Isolasi sosial A. Proses keperawatan 4. Kondisi pasien : Komunikasi kurang, kontak mata kurang, tidak bisa memulai pembicaraan. 5. Diagnosa keperawatan : Isolasi sosial 6. Tindakan keperawatan : d. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien e. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berkenalan

B. Menganjurkan pasien untuk memasukan dalam jadwal harian pasien C. Proses keperawatan 7. Kondisi pasien : Komunikasi kurang, kontak mata kurang, tidak bisa memulai pembicaraan. 8. Diagnosa keperawatan : Isolasi sosial 9. Tindakan keperawatan : f. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien g. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berkenalan h. Menganjurkan pasien untuk memasukan dalam jadwal harian pasien D. Strategi pelaksanaan 1. Orientasi "Selamat pagi A! Bagaimana perasaan A hari ini?" "Apakah A bercakap-cakap dengan perawat