Anda di halaman 1dari 17

USULAN TATA LETAK FASILITAS PABRIK UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIFITAS DAN MENURUNKAN ONGKOS MATERIAL HANDLING DI UD.

REKAYASA INDUSTRI WANGDI Fati Sahputra, Budi Kusuma, Elsa Suci Rahayu, Widya Indriastuti Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Email : widyaindriastuti@ymail.com ABSTRAK Perancangan tata letak material yang benar diperlukan untuk menunjang kecepatan aliran bahan baku dari gudang bahan baku ke bagian produksi. Kecepatan ini disebabkan karena dengan tata letak yang benar maka untuk mencari dan menyalurkan bahan baku ke bagian produksi akan lebih cepat daripada mencari bahan baku dari tata letak yang kurang teratur. Adanya kecepatan ini, maka efisiensi waktu dari perusahaan akan lebih meningkat. Pada UD.Rekayasa Industri Wangdi dalam proses produksi untuk aliran bahan terlihat masih terdapat kegiatan yang bolak-balik. Pada penelitian tata letak fasilitas ini penelitian difokuskan pada layout proses produksi box dryer. Namun tidak hanya melihat dari lantai produksi saja, tetapi juga menganalisis hubungan proses produksi dengan layout kantor, pelayanan produksi, dan pelayanan pabrik. Hal ini dikarenakan dalam proses produksi membutuhkan interaksi dengan departemen-departemen lainnya, sehingga dalam perhitungan juga melibatkan hubungan kedekatan antar departemen. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dilakukan penelitian untuk meningkatkan kelancaran proses produksi dengan menghitung jarak tempuh serta ongkos material handling. Keunggulan CRAFT adalah mampu menetapkan lokasi khusus dan waktu proses komputer pendek. Hasil analisis menunjukkan besarnya jarak tempuh awal yaitu 168 meter dan total tempuh usulan dengan perhitungan Euclidean Distance sebesar 438 meter. Besar total OMH untuk layout awal sebesar Rp. 15.154,00 dan untuk layout dengan jarak Euclidean Distance sebesar Rp. 80.942,00. Sedangkan hasil dari software Win QSB hanya membutuhkan OMH sebanyak Rp. 30.492,00. Dari hasil perhitungan dengan membandingkan layout awal dan layout usulan bahwa layout usulan lebih membutuhkan biaya lebih banyak dari layout awalan. Sedangkan jarak tempuh layout usulan lebih besar dari layout awalan. Kata Kunci : perancangan tata letak, Euclidean distance, ongkos material handling.

Pendahuluan
Perkembangan sistem manufaktur berdampak pada persaingan perusahaan yang cukup ketat. Hal ini diperlukan strategi dari segala aspek termasuk aspek produk, proses dan jadual. Permasalahan industri tidak hanya menyangkut seberapa besar investasi yang harus ditanam, sistem dan prosedur produksi, pemasaran hasil produksi dan lain lain, namun menyangkut pula dalam hal perencanaan fasilitas. Baik permasalahan lokasi fasilitas maupun menyangkut rancangan fasilitas. Perancangan fasilitas meliputi perancangan sistem fasilitas, tata letak pabrik dan sistem penanganan material (pemindahan bahan). Diantara ketiga aktivitas perancangan fasilitas di atas mempunyai keterkaitan yang sangat erat sehingga dalam

proses perancangan perlu dilakukan secara integral. Tata letak pabrik atau tata letak fasilitas merupakan cara pengaturan fasilitas- fasilitas pabrik untuk menunjang kelancaran proses produksi (Wignjosoebroto, S., 1996). Tata letak pabrik ini meliputi perencanaan dan pengaturan letak mesin, peralatan, aliran bahan dan orang-orang yang bekerja pada masingmasing stasiun kerja. Jika disusun secara baik, maka operasi kerja menjadi lebih efektif dan efisien. Di dalam dunia industri, perancangan tata letak merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam proses produksi perusahaan. Perancangan tata letak yang baik akan memberi kontribusi positif bagi perusahaan dalam mengoptimalkan proses produksi. Tujuan utama perancangan tata letak adalah optimasi pengaturan fasilitas-fasilitas operasi agar nilai yang diciptakan oleh sistem produksi akan maksimal (Hari Purnomo, 2004). Perancangan tata letak material yang benar diperlukan untuk menunjang kecepatan aliran bahan baku dari gudang bahan baku ke bagian produksi. Kecepatan ini disebabkan karena dengan tata letak yang benar maka untuk mencari dan menyalurkan bahan baku ke bagian produksi akan lebih cepat daripada mencari bahan baku dari tata letak yang kurang teratur. Adanya kecepatan ini, maka efisiensi waktu dari perusahaan akan lebih meningkat. Bengkel yang didirikan oleh Wangdi Wusono sebagai pemilik ini adalah sebuah terobosan baru di dunia perindustrian teknik. Alat-alat yang sudah diproduksi merupakan hasil rancangan dari pemiliknya yaitu Wangdi Wusono, lebih dari 100 jenis alat dan mesin yang sudah di produksi dan dipasarkan di masyarakat. Alat yang diproduksi merupakan alat untuk bidang Pertanian/ Pasca Panen, Perkebunan, Peternakan, dan Perkebunan atau untuk mengolah dari hasil tersebut. Bengkel Rekayasa Wangdi memproduksi alat dan mesin dari Besi, Alumunium, dan Stainless. Bengkel Rekayasa didirikan di Cambahan, Nogotirto, Gamping, Sleman. Bengkel Rekayasa dapat membuat peralatan atau mesin sesuai dengan pesanan dari pelanggan. Pada penelitian tata letak fasilitas ini penelitian difokuskan pada layout proses produksi box dryer. Namun tidak hanya melihat dari lantai produksi saja, tetapi juga menganalisis hubungan proses produksi dengan layout kantor, pelayanan produksi, dan pelayanan pabrik. Hal ini dikarenakan dalam proses produksi membutuhkan interaksi dengan departemen-departemen lainnya, sehingga dalam perhitungan juga melibatkan hubungan kedekatan antar departemen. Analisis layout proses produksi yang dilakukan berdasarkan hasil dari perhitungan ongkos material handling yang terkecil. Perlu diingat bahwa material handling adalah seni dan ilmu yang meliputi penanganan, pemindahan, pembungkusan (pengepakan), penyimpanan, sekaligus pengendalian atau pengawasan dari bahan atau material dengan segala bentuknya, atau proses pemindahan bahan dari satu lokasi ke lokasi lain ( Wignjosoebroto, S., 1996 ). Kemudian peneliti memberikan usulan layout dengan pertimbangan luas area serta ongkos perpindahan. Usulan layout akhir yang dibuat menggunakan bantuan software Win QSB. Tetapi hasil yang terpilih memperhatikan kesesuaian bentuk layout tiap departemen dan tingkat prioritas kedekatan. Layout awalan proses produksi pada bengkel Wangdi memiliki dua bagian produksi yang terpisah. Bagian pertama terdiri dari proses pemotongan, pembolongan, dan pembengkokkan. Bagian pertama tersebut merupakan bagian inti dari pembuatan produk box dryer. Sedangkan bagian kedua, terdiri dari pengelasan, penggabungan, dan pengecatan yang merupakan proses finishing dari proses produksi. Layout usulan yang ingin diberikan akan menggabungkan kedua bagian proses yang terpisah menjadi satu area produksi. Tujuan dari penggabungan kedua bagian proses dimaksudkan agar kinerja pegawai lebih optimal. Perpindahan material dan pegawai yang lebih dekat akan membuat hasil kerja menjadi lebih baik. Berdasarkan hal tersebut maka akan dilakukan suatu penelitian guna mengevaluasi dan menentukan kembali tata letak fasilitas produksi dan pemindahan bahan yang diterapkan pada UD. Rekayasa Industri Wangdi agar Ongkos Material Handling (OMH) dapat mengalami penurunan.

Perumusan Masalah
1. Berapa total jarak tempuh pada tata letak awal dan tata letak akhir? 2. Berapa total Ongkos Material Handling (OMH) tata letak awal dibandingkan tata
letak usulan ? 3. Apakah layout usulan yang dihasilkan layak diterapkan?

Tujuan Penelitian
1. Mengetahui usulan layout pabrik yang efektif pada UD. Rekayasa Industri Wangdi. 2. Menentukan besar total jarak tempuh dan total Ongkos Material Handling (OMH) tata
letak awal dibandingkan tata letak usulan. 3. Membuat suatu usulan tata letak fasilitas yang dapat menurunkan OMH dengan menggunakan software WIN Q SB? .

Manfaat Penelitian
Bagi Mahasiswa Menambah pengetahuan dalam memperbaiki tata letak fasilitas pabrik. 1. Menambah wawasan pada industri nyata. 2. Dapat mengimplementasikan teori pada bangku kuliah kedalam dunia industri. Bagi Perusahaan 1. Mendapat alternatif solusi tata letak fasilitas pabrik yang diberikan oleh mahasiswa. 2. Menambah wawasan teoritis dalam merancang tata letak fasilitas pabrik.

Asumsi-asumsi
1. 2.
diperluas. Tinggi lantai pada perusahaan adalah sama. Luas area lantai pada perusahaan adalah tetap, tidak dapat Tata letak mesin dan peralatan dapat diubah, sesuai dengan

3.
kebutuhan tata letak usulan.

4.

Gaji tenaga kerja yang melakukan pemindahan bahan adalah Rp. 1.200.000,00 per bulan. Waktu pembuatan untuk sebuah Box Dryer membutuhkan waktu 10 hari kerja. Sehingga total waktu penyelesaian sebesar 80 jam dengan waktu perpindahan selama 5 jam. Oleh karena itu rata-rata waktu perpindahan perhari adalah 0,5 jam. 5. Seluruh lantai departemen berbentuk persegi dan departemen dummy dianggap sebagai departemen tidak tetap dengan frekuensi pemindahan bahan = 0, dan Ongkos Material Handling (OMH) = 0. 6. Perubahan tata letak fasilitas tidak mengganggu proses produksi. 7. Tidak terdapat lokasi shipping, melainkan produk jadi langsung ditempatkan pada showroom. 8. Peneliti memberikan departemen tambahan pada usulan solusi layout sesuai studi kasus.

Identifikasi Produk (AC dan BOM)


Assembly Chart merupakan visualisasi grafis dari urutan-urutan aliran komponen dan rakitan-rakitan (sub assemblies) ke dalam rakitan suatu produk. Pembuatan assembly chart

dimulai dengan melakukan penyusunan terbalik proses disassembly produk jadi. Penggambaran assembly chart menggunakan pengkodean nomor susunan level. Berikut assembly chart dari produk box dryer:

Tabel 1. Informasi bill of materials No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Level 0 1 1 1 2 3 4 4 3 3 4 4 2 3 3 3 3 4 4 3 1 2 2 1 Nama Komponen Box Dryer Kompor Blower Unit Box Kerangka Frame Frame dalam Frame luar Cerobong Set Roda Screw Roda Badan Casing luar Pintu Casing dalam Rak Besi lis Kasa Rel Unit Panel Automatic Thermocontrol Thermo Payung Quntity (unit) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 12 4 1 1 1 1 16 1 1 8 1 1 1 1 Make or Buy? Make Buy Buy Make Make Make Make Make Make Make Buy Buy Make Make Make Make Make Buy Buy Buy Make Buy Buy Make Ket. 40 41 42 43 43.1 43.11 43.111 43.112 43.12 43.13 43.131 43.132 43.2 43.21 43.22 43.23 43.24 43.241 43.242 43.25 44 44.1 44.2 45

No. 25 26 27

Level 2 2 2

Nama Komponen Unit Screw Terminal Kunci Kunci Pengait

Quntity (unit) 1 1 1

Make or Buy? Make Make Make Ket. 45.1 45.2 45.3

Gambar 1. Assembly Chart Produksi Box Dryer Sedangkan bill of materials merupakan informasi tentang daftar dan kuantitas komponen sub assemblies dan material yang dibutuhkan untuk merakit atau memproduksi satu unit produk. Berikut bill of materials dari produk box dryer:

Gambar 2. Bill of Material produk Box Dryer Dari penjelasan di atas, dapat dlihat langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproduksi sebuah boxdryer yang akan menjadi input dari routingsheet. Lembar pengurutan produksi (Route Sheet) memuat informasi mengenai beberapa langkah operasi yang dibutuhkan dalam memproduksi komponen-komponen tertentu yang telah diputuskan untuk dibuat dalam analisis buat-beli. Proses routing ini akan menyimpulkan langkah-langkah operasi yang diperlukan untuk merubah bahan baku menjadi komponen yang dikehendaki. Routingsheet berisi jenis pekerjaan, alat atau mesin yang digunakan, waktu proses atau operasi, jam kerja, efisiensi mesin, downtime, dsb. Mesin dan peralatan harus dicantumkan secara spesifik didalam proses routing ini karena akan berpengaruh terhadap pengaturan rata letak semua fasilitas produksi. Waktu operasi yang dibutuhkan akan membantu dalam proses penentuan jumlah mesin dan peralatan produksi lainnya. Dimana hal tersebut akan memberikan pengaruh terhadap jumlah stasiun kerja dan luas area dari masingmasing stasiun kerja yang dibutuhkan.

Alur Proses Produksi (FD, MPPC, OPC)


Kemudian dalam melakukan analisis proses, selain assembly chart, bill of materials, dan route sheet, diperlukan alat analisis lainnya seperti peta proses operasi (operation process chart/ OPC). Peta kerja ini merupakan salah satu alat yang digunakan untuk memberikan informasi kegiatan kerja produksi secara sistematis. Melalui peta kerja ini, setiap langkah dan perlakuan terhadap suatu benda kerja dapat dianalisis. OPC merupakan suatu diagram yang menggambarkan seluruh tahapan proses yang dialami oleh bahan baku sampai menjadi produk akhir (end product) maupun sebagai komponen. Tahapan tersebut meliputi urutan proses operasi dan pemeriksaan.

Gambar 3. Operation Process Chart Produk Box Dryer Pada OPC box dryer yaitu pengurutan dimulai dari pembuatan part box dryer yang pertama hingga penggabungan seluruh part sampai menjadi produk akhir. Metode OPC digunakan untuk melihat kegiatan assembly (penggabungan) yang terjadi pada produk box dryer. Kemudian peta operasi proses sebagai runtutan proses produksi menjadi salah satu acuan (referensi) dalam pembuatan box dryer atau barang jadi (finish product).

Gambar 3. Flow Diagram bahan material Penentuan pola aliran bahan secara umum merupakan langkah dasar dalam merancang fasilitas manufaktur terutama dalam physical arrangement. Pola aliran bahan memuat informasi tentang material masuk hingga menjadi produk akhir. Pada bengkel

wangdi memiliki pola aliran bahan material terlihat seperti pada gambar 3. dengan melihat arah aliran anak panah dimulai dengan angka pertama. Selain flow diagram terdapat juga beberapa metode untuk menganalisis aliran bahan, salah satunya adalah multi-product process chart (MPPC). MPPC merupakan diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan, baik bahan baku maupun bahan penunjang. Didalamnya memuat urutan-urutan tahapan operasi, pemeriksaan dan penyimpanan. MPPC merupakan pengembangan dari OPC yang bertujuan untuk menunjukkan keterkaitan antar komponen produk dalam urutan proses produksi sehingga MPPC dapat menggambarkan jumlah pemakaian kebutuhan mesin secara total.

Gambar 4. Multy Product Process Chart dari Box Dryer Hasil dari MPPC produk box dryer terdapat selisih dari mesin teoritis dan aktual. Selisih terjadi pada proses produksi mesin pembolong, gergaji, tang besi, obeng, dan mesin las. Hasil yang signifikan berbeda antara mesin teoritis dan aktual yaitu pada mesin las dan obeng.

Penentuan Letak Antar Departemen (ARC, AAD Gabungan)


Activity Relationship Chart merupakan salah satu alat yang digunakan dalam kegiatan perencanaan hubungan antar kelompok aktivitas atau pusat kerja atau departemen yang saling berkaitan dalam suatu perusahaan. Analisis ARC pada perusahaan UD. Rekayasa Industri Wangdi meliputi beberapa area yaitu ruang kantor, pelayanan pabrik, proses produksi, dan pelayanan produksi. Pada masing-masing area memiliki beberapa departemen didalamnya. Kemudian melihat kebutuhan dan hubungan antar departemen dijelaskan kedalam jenis kedekatannya. Kedekatan dan hubungan antar departemen diterjemahkan kedalam kode serta warna yang telah ditentukan No. 1 2 3 4 5 6 Tabel 2. Keterangan hubungan Tingkat Kepentingan Kode Mutlak (Absolutely Necessary) A Sangat Penting (Especially Important) E Penting (Important) I Biasa (Ordinary) O Tidak Penting (Unimportant) U Tidak dikehendaki (Not desired) X Warna Merah Orange Hijau Biru Putih Coklat

Gambar 6. Activity Relationship Chart Ruang Kantor

Gambar 7. Activity Relationship Chart Pelayanan Pabrik

Gambar 8. Activity Relationship Chart Proses Produksi

Gambar 9. Activity Relationship Chart Pelayanan Produksi

Berdasarkan analisis dari activity relationship chart (ARC), didapatkan tingkat hubungan antar aktivitas/ fasilitas/ departemen. Hasil analisis tersebut merupakan input dari pembuatan activity relationship diagram (ARD). ARD berfungsi untuk menentukan kedekatan tata letak antar aktivitas/ fasilitas/ departemen. Kemudian ARD akan divisualisasikan dalam bentuk area allocation diagram (AAD) dengan menambahkan informasi kebutuhan ukuran luas lantai setiap aktivitas/ fasilitas/ departemen. Kemudian penggambaran layout dengan acuan dari ARC dan ARD yang telah dibuat. Penggambaran layout tersebut sering disebut AAD atau Area allocation diagram. Area allocation diagram atau istilah lainnya adalah space relationship diagram, merupakan visualisasi dari konfigurasi tata letak awal yang optimal dari ARD ke dalam bentuk template/ blok fasilitas dengan luas area sesungguhnya dari seluruh fasilitas/ departemen tersebut. Oleh karena itu diperlukan data hasil perencanaan kebutuhan luasan area sebelum membuat AAD.

Gambar 10. AAD Gabungan Terpilih

Gambar 10. AAD Layout Gabungan

Penentuan Jarak dan Ongkos Perpindahan Material


Faktor yang cukup penting dalam perancangan tata letak pabrik adalah aktivitas pemindahan bahan (material handling). Aktivitas tersebut dapat ditentukan dengan mempertimbangkan pola aliran bahan yang terjadi selama proses produksi berlangsung sehingga dapat ditentukan tipe tata letak yang tepat untuk mengakomodasi pola aliran bahan tersebut. Aktivitas pemindahan bahan akan berkontribusi terhadap biaya produksi. Sehingga diperlukan perhitungan ongkos material handling yang diperlukan untuk melakukan suatu pergerakan bahan dari suatu fasilitas/ departemen ke fasilitas/ departemen lainnya. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari ongkos material handling tiap meter. Informasi yang harus diketahui untuk perhitungan yaitu upah angkut pekerja, depresiasi mesin, waktu kerja, jarak antar departemen, frekuensi bolak-balik. Berikut perhitungan pencarian OMH:

Upah operator dalam sebulan adalah sebesar Rp. 1.200.000, operator tersebut dalam pemindahan material menggunakan box plastik. Namun, perpindahan tersebut hanya terjadi pada inventori ke mesin proses pertama. Harga untuk box plastik sebesar Rp. 1.000.000 dengan umur ekonomis selama 4 tahun.

Depresiasi = Biaya Operator Waktu pembuatan untuk sebuah Box Dryer membutuhkan waktu 10 hari kerja. Sehingga total waktu penyelesaian sebesar 80 jam dengan waktu perpindahan selama 5 jam. Oleh karena itu rata-rata waktu perpindahan perhari adalah 0,5 jam.

Ongkos Peralatan = Depresiasi = Rp 208,33/jam OMH = Ongkos Peralatan + Biaya Operator = Rp 104,67 + (Rp 6000 x 0,5 jam) = Rp 3104,67/ jam = Rp 3104,67 / 33,6 m = Rp 92,4/m

Tabel 3. Perbandingan Ongkos Material Handling No Input Flow Perpindahan Material From 1 Frame 2 Cerobong 3 Set roda 4 Chasing 5 Rel rak 6 Pintu 7 Lis Besi 8 Kasa 9 Unit Panel 10 T.Kunci 11 Kunci 12 Pengait Inventory M.Pemotong Inventory Inventory Inventory M.Pemotong Inventory Inventory Inventory Alat Pembengkok Inventory Inventory Inventory Tang Besi Inventory M.Pembolong Inventory To M.Pemotong M.Las Gergaji Obeng M.Pemotong M.Pembolong Gergaji besi Alat Pembolong Alat Pembengkok M.Las Tang Besi Obeng Tang Besi M.Pembolong M.Pembolong M.Las Tang Besi Ongkos per Pekerja per Meter Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 92.4 Jum. Pekerja 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Frekuensi Jarak Awal (m) 2 2 2 2 2 22 2 2 2 10 10 10 10 2 2 10 10 Jarak ReLayout (m) 53 9 16 49 53 8 65 41 25 5 5 49 5 20 25 5 5 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp OMH Awal OMH Akhir

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

370 370 370 370 370 4,066 370 370 370 1,848 1,848 1,848 1,848 370 370 1,848 1,848 18,850

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

9,794 1,663 2,957 9,055 9,794 1,478 12,012 7,577 4,620 924 924 9,055 924 3,696 4,620 924 924 80,942

Terlihat dari hasil perhitungan OMH awal dan akhir terdapat selisih yang sangat signifikan. Pada OMH awal biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp.18.850 sedangkan pada OMH akhir biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp.80.942. Ternyata pada OMH akhir lebih besar daripada OMH awal. OMH awal merupakan perhitungan dari tata letak aktual produksi dari perusahaan, sedangkan OMH akhir yaitu perhitungan berdasarkan tata letak usulan yang dibuat oleh peneliti dan di olah menggunakan Win QSB. Pencarian jarak relayout usulan dengan rumus euclidean distance.

Rekomendasi Layout Produksi


Data dan hasil analisis matriks aliran dan matriks ongkos pemindahan material yang terjadi pada blok fasilitas produksi, merupakan acuan yang digunakan dalam merancang layout produksi optimal. Proses optimasi dilakukan dengan meminimalkan ongkos pemindahan material dengan mengunakan aplikasi IT yaitu tata letak berbantu komputer. Aplikasi IT yang digunakan adalah software Win QSB. Sebelum pengolahan menggunakan software Win QSB perlu dilakukan pengukuran luas dengan pertambahan allowance dan penggambaran dengan blok-blok pada excel. Berikut data untuk penentuan layout usulan: Tabel 4. Penentuan luas layout usulan

N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Departemen Inventory Mesin Pemotong Mesin Las Gergaji/Gerin da Obeng Mesin Pembolong Gergaji Besi Alat Pembolong Alat Pembengkok Tang Besi Total

Kode A B C D E F G H I J

Luas Dep. (m2) 14 4 3 3 2 2 2 2 4 2 38

Allowance (m2) 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 22

Jenis Allowance Material Manusia Manusia Manusia Manusia Manusia Manusia Manusia Manusia Manusia

Luas Total (m2) 16 6 6 6 4 4 4 4 6 4 60

1 2 3 4 5 6

1 A A A A B B

2 A A A A B B

3 A A J J B B

4 A A J J I I

5 A A C C I I

6 A A C C I I

7 F F C C H H

8 F F D D H H

9 E E D D G G

1 0 E E D D G G

Gambar 11. Blok layout usulan Tabel 5. Koordinat Layout Rekomendasi 1 Departemen Sel ND Koordinat Inventory 16 A (1,1)-(4,2),(1,3)-(2,6) Mesin Pemotong 6 B (5,1)-(6,3) Mesin Las 6 C (3,5)-(4,8) Gergaji/Gerinda 6 D (3,8)-(4,10) Obeng 4 E (1,9)-(2,10) Mesin Pembolong 4 F (1,7)-(2,8) Gergaji Besi 4 G (5,9)-(6,10) Alat Pembolong 4 H (5,7)-(6,8) Alat Pembengkok 6 I (5,4)-(6,6) Tang Besi 4 J (3,3)-(4,4)
Dengan menggunakan titik koordinat dari blok layout yang telah dibuat, kemudian dimasukkan kedalam software Win QSB. Informasi yang harus ditambahkan untuk pengolahan layout usulan lainnya yaitu OMH tiap meter dari perusahaan. Setelah diolah menggunakan Win QSB didapatkan hasil layout dengan total cost baru.

Gambar 12. Iterasi 1 Layout Rekomendasi 1


Hasil layout produksi baru kemudian digambarkan kedalam software visio sebagai berikut:
SKALA 1:100

Gambar 13. Layout rekomendasi dari software Win QSB

Kemudian layout usulan produksi digabungkan dengan layout secara keseluruhan dengan departemen lainnya. Berikut penggambaran layout usulan setelah digabungkan :

Gambar 13. Layout usulan keseluruhan

Penutup
1.
2. Pada bagian produksi UD.Rekayasa Industri Wangdi total jarak tempuh awal sebesar 168 meter, sedangkan dengan perhitungan Euclidean Distance didapatkan hasil total jarak tempuh sebesar 438 meter. Biaya ongkos material handling yang harus dikeluarkan pada layout awalan sebesar Rp. 18.850,00, jika menggunakan perhitungan jarak Euclidean Distance biaya OMH yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 80.942 dan jika menggunakan hasil dari Win QSB menghasilkan biaya sebesar Rp. 30.492,00. Hasil perhitungan ongkos material handling dari layout rekomendasi mengartikan bahwa layout rekomendasi tidak layak digunakan pada UD. Rekayasa Industri Wangdi. Hal tersebut dikarenakan biaya yang dikeluarkan lebih banyak dikeluarkan.

3.

Daftar Pustaka
Purnomo, Hari. 2004. Perencanaan & Perancangan Fasilitas.Yogyakarta: Graha Ilmu Wigjosoebroto, S., 1996, Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan, Guna Widya, Jakarta. Susetyo, Joko. 2009. Perancangan Ulang Tata Letak Fasilitas Produksi Dengan Pendekatan Group Technology dan Algoritma Blocplan Untuk Meminimasi Ongkos Material Handling. ISTA. Yokyakarta Rahayu, Elsa. 2012. Relayout tata letak item klasifikasi C (Consumable) menggunakan metode association rule. Yogyakarta