Anda di halaman 1dari 119

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL TAPIOKA DI DESA KARANG TENGAH KABUPATEN BOGOR

Oleh KEMAS BUYUNG FIKRY WARDHANA H 24102071

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN


ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL TAPIOKA DI DESA KARANG TENGAH KABUPATEN BOGOR

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Oleh KEMAS BUYUNG FIKRY WARDHANA H 24102071

DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR


2006

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL TAPIOKA DI DESA KARANG TENGAH KABUPATEN BOGOR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Oleh KEMAS BUYUNG FIKRY WARDHANA H 24102071

Menyetujui, Juni 2006

Prof.Dr.Ir.H. Musa Hubeis, MS, Dipl. Ing, DEA Dosen Pembimbing I

Farida Ratna Dewi, SE, MM Dosen Pembimbing II

Mengetahui,

Dr.Ir. Jono M. Munandar, M.Sc Ketua Departemen

Tanggal Ujian : 6 Juni 2006

Tanggal Lulus :

ABSTRAK
Kemas Buyung Fikry Wardhana H24102071. Analisis Strategi Pengembangan Industri Kecil Tapioka Di Desa Karang Tengah, Kabupaten Bogor. Di bawah bimbingan H. Musa Hubeis dan Farida Ratna Dewi. Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dilaksanakan dengan mempertimbangkan potensi sumber daya yang dimiliki Kabupaten Bogor, salah satunya sebagai sentra produsen ubikayu. Desa di Bogor yang merupakan sentra ubikayu ialah Desa Karang Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi posisi industri kecil (IK) tapioka dalam persaingan industri, mengidentifikasi kondisi IK tapioka saat ini, mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi IK tapioka dan merumuskan strategi yang tepat bagi IK tapioka. Proses pengumpulan data menggunakan metodologi Penelitian Aksi Partisipatif atau Participatory Action Research (PAR). Tahap pengumpulan data dibagi menjadi dua, yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diambil dengan menggunakan 3 (tiga) metode yaitu wawancara, Focus Group Discussion (FGD) dan Resource Mapping. Data sekunder diambil dari instansi pemerintah dan pengambil kebijakan, serta sumber lainnya yang bersifat dokumenter. Dalam input stage metode pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah analisis lingkungan ekternal dan internal perusahaan melalui Internal Factor Evaluation (IFE), External Factor Evaluation (EFE) dan matriks Competitive Profile (CP). Dalam matching stage, untuk mengetahui posisi perusahaan dalam menghadapi persaingan dianalisis menggunakan matriks IE dan SWOT. Dan pengambilan keputusan alternatif strategi menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Nilai pada matriks IFE 2,173, dengan kekuatan paling besar ditunjukkan oleh faktor iklim kerja yang baik (nilai 0,264), serta kelemahan terbesar diperoleh dari faktor mutu produk dan harga yang kurang bersaing (nilai 0,096). Nilai pada matriks EFE 2,321, peluang utama ialah faktor kurangnya ancaman dari produk pengganti (nilai 0,325) dan ancaman terbesar ialah faktor cuaca dan kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi (nilai 0,116). Pada matriks CP diketahui bahwa nilai Desa Karang Tengah didasarkan pada faktor penentu keberhasilan 2,239. Desa Cibuluh mendapatkan nilai 2,830, desa Ciluar mendapatkan nilai 3,112 dan Desa Kadumangu mendapatkan nilai 3,383. Pada matriks IE, posisi perusahaan terletak pada sel 5 yang berarti sebaiknya menggunakan strategi hold dan maintain, yang dalam pelaksanaannya terdapat strategi diversifikasi konsentrik, diversifikasi konglomerasi dan strategi pengembangan produk. Berdasarkan matriks QSP, nilai Total Atractive Score (TAS) tertinggi terletak pada strategi penggunaan teknologi yang efisien (nilai 5,515).

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di kota pahlawan, Surabaya pada tanggal 30 Oktober 1984 dari pasangan Kemas Abdul Rochim dan Niken Lila Widyawati sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Dalam pendidikan formal, dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai SMU, penulis menghabiskan di sebuah kota kecil di Jawa Timur, yaitu Mojokerto. Mengawali pada Taman Kanak-kanak Shandy Putera pada tahun 1989-1990, setelah itu penulis melanjutkan pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kranggan III dan lulus pada tahun 1996. Selepas dari Sekolah Dasar, penulis melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri (SLTPN) 1 hingga tahun 1999. Lalu selepas itu penulis melanjutkan ke SMU Negeri 1 Puri dan lulus pada tahun 2002. Pada tahun yang sama, penulis diterima di Departemen Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) lewat jalur Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI). Selama masa pendidikan, penulis aktif mengikut kegiatan dan organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Pada waktu kuliah, penulis pernah aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa/Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa IPB (DPM/MPM KM IPB) sebagai anggota komisi keuangan. Pada waktu di Fakultas pernah menjabat sebagai Sekjen Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB periode 2003/2004, anggota komisi Internal DPM FEM IPB periode 2004/2005. Pada tataran ekstra kampus, pernah menjabat sebagai Staf Departemen Komunikasi Umat HMI Cabang Bogor periode 2004/2005 (ressufle), Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Bogor Komisariat FEM periode 2004/2005 dan Ketua Umum HMI Cabang Bogor Komisariat FEM IPB 2005/2006 dan Ketua Bidang Kewirausahaan Himpunan Mahasiswa Surabaya dan Sekitarnya (Himasurya). Selain di kelembagaan kampus juga menjadi pegiat pada LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup yaitu Pusat Informasi Lingkungan Hidup Indonesia (PILI-NGO Movement) melalui program Sahabat PILI.

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, tiada daya dan upaya melainkan atas izin-Nya. Ungkapan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul Analisis Strategi Pengembangan Industri Kecil Tapioka Di Desa Karang Tengah Kabupaten Bogor sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Dalam proses pembuatan skripsi ini, penulis sepenuhnya sadar akan banyaknya dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh karena itu ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya penulis ucapkan kepada : 1. Prof. Dr. Ir. H Musa Hubeis, MS. Dipl. Ing, DEA dan Farida Ratna Dewi SE, MM sebagai dosen pembimbing yang telah memotivasi, mengarahkan dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Ibu Hardiana Widiyastuti, S.Hut, MM yang telah bersedia menjadi penguji pada sidang skripsi, sehingga ujian sidang dapat terlaksana. 3. Seluruh staf pengajar Departemen Manajemen yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis. 4. Kedua orang tuaku Kemas Abdul Rochim, MM dan Niken Lila Widyawati, S.Pd serta adik-adikku Oby dan Ica, yang telah mendoakan dan terus memberikan dukungan moril dan materiil kepada penulis. Semoga penulis dapat memberikan yang terbaik untuk membalas semuanya. 5. Dhesy Purwandhany, yang tak pernah lelah untuk memberikan inspirasi dan perhatiannya selama proses skripsi. 6. Pusat Informasi Lingkungan Indonesia selaku LSM yang telah memberikan data dan informasi mengenai Desa Karang Tengah. 7. Mas Thomas dan Mas Bogel yang telah membantu dalam pelaksanaan teknis penelitian ini. 8. Seluruh kawan-kawan di kelas Manajemen Angkatan 39 untuk warna-warni persahabatan, dan kerjasamanya selama 4 tahun kuliah di IPB.

9. Rini, Mimi, Novianti, Nani, Griselda, Ade Holis dan rekan-rekan di HMI khususnya HMI Komisariat FEM yang telah membantu dalam meringankan beban skripsi. Terima kasih banyak untuk semuanya. 10. Teman-teman Perumdos, Arya, Ihsan, Aghi, Gempar, Andri, Hendra, Nanto Denden, Mpu atas semua bantuannya. 11. Berbagai pihak yang telah membantu dan tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis sangat terbuka untuk menerima kritik dan masukan yang konstruktif, agar skripsi ini berguna bagi orang banyak, khususnya para pengusaha kecil yang bergerak di sektor pertanian. Semoga. Bogor, Juni 2006 Penulis

DAFTAR ISI
ABSTRAK ........................................................................................................... ii RIWAYAT HIDUP ............................................................................................iii KATA PENGANTAR ........................................................................................ iv DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii DAFTAR GAMBAR........................................................................................... ix DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... x I. PENDAHULUAN ............................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah ................................................................................. 4 1.3. Tujuan Penelitian .................................................................................... . 5 II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 6 2.1. Definisi Industri kecil .............................................................................. 6 2.2. Karakteristik dan Manfaat Tapioka ......................................................... 7 2.3. Definisi dan Konsep Perumusan Strategi ................................................ 7 2.4. Hasil Penelitian Terdahulu ....................................................................... 9 III. METODOLOGI PENELITIAN ............................................................... 10 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian .............................................................. 10 3.2. Pengambilan Contoh .............................................................................. 12 3.3. Pengolahan dan Analisis Data ............................................................... 14 3.4. Definisi Operasional .............................................................................. 17 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................... 18 4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian ...................................................... 18 4.1.1. Desa Karang Tengah ..................................................................... 18 4.1.2. Karakteristik Tanaman Singkong dan Hubungannya Dengan Ekosistem Desa Karang Tengah .................................................... 23 4.1.3. Sejarah Industri Kecil Tapioka ..................................................... 24 4.1.4. Profil Responden .......................................................................... 26 4.1.5. Lokasi Industri Kecil Tapioka di Desa Karang Tengah ............... 26 4.1.6. Aspek Teknis dan Teknologi ........................................................ 27 4.1.7. Proses Pembuatan Tapioka ........................................................... 30 4.1.8. Aspek Manajemen ........................................................................ 33 4.2. Proses Perumusan Strategi...................................................................... 37 4.2.1. Peumusan Strategi Industri Kecil Tapioka ................................... 37 4.2.2. Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal Industri........................ 49 4.2.3. Tahap Masukan.............................................................................. 55 4.2.4. Tahap Pencocokan ......................................................................... 59 4.2.4.1. Matriks IE ......................................................................... 59 4.2.4.2. Matriks SWOT ................................................................. 61

4.2.5. Tahap Keputusan .......................................................................... 67 KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 68 1. Kesimpulan ..................................................................................................... 68 2. Saran ................................................................................................................ 68 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 70 LAMPIRAN........................................................................................................ 72

DAFTAR TABEL
No Halaman

1. Perkembangan penyerapan tenaga kerja menurut kelompok usaha pada tahun 2000 dan 2003 ....................................................................................... 2 2. Daftar pembeli tapioka yang diproduksi oleh pengusaha tapioka di Bogor . 36 3. Standar mutu tapioka SNI 01-3451-1994 ..................................................... 41 4. Hasil analisis matriks IFE ............................................................................. 56 5. Hasil analisis matriks EFE ............................................................................ 58 6. Matriks CP .................................................................................................... 59 7. Matriks SWOT .............................................................................................. 66

DAFTAR GAMBAR

No

Halaman

1. Model manajemen strategik ........................................................................... 8 2. Kerangka pemikiran penelitian ..................................................................... 12 3. Matriks IE ..................................................................................................... 16 4. Pola distribusi poduk ekonomi dari Desa Karang Tengah ke luar daerah ataupun sebaliknya......................................................................................... 22 5. Diagram alir pembuatan tapioka ................................................................... 33 6. Hasil Matriks IE ............................................................................................ 61

DAFTAR LAMPIRAN

No

Halaman

1. Kuesioner penelitian ..................................................................................... 73 2. Profil responden ............................................................................................ 77 3. Penentuan bobot ............................................................................................ 78 4. Penentuan bobot faktor strategik internal IK tapioka di Desa Karang Tengah.................................................................................. 79 5. Hasil pengisian kuesioner pembobotan faktor internal industri ................... 80 6. Penentuan bobot faktor strategik eksternal IK tapioka di Desa Karang Tengah ................................................................................. 82 7. Hasil pengisian kuesioner pembobotan faktor eksternal industri ................. 83 8. Penentuan rating ........................................................................................... 85 9. Penentuan rating strategik internal IK tapioka di Desa Karang Tengah ....... 87 10. Hasil pengisian kuesioner penilaian rating faktor internal industri .............. 88 11. Penentuan rating faktor strategik eksternal IK tapioka di Desa Karang Tengah ................................................................................. 90 12. Hasil pengisian kuesioner penelitian rating faktor eksternal industri ........... 91 13. Kuesioner penelitian penentuan strategi terpilih dengan QSPM .................. 93 14. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi diversivikasi konsentrik ................................................................................ 94 15. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi diversivikasi konglomerasi ........................................................................... 96 16. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi pengembangan produk ................................................................................... 98 17. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi penggunaan teknologi yang efisien dalam proses produksi ........................ 100 18. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi pembuatan kelembagaan yang dapat melindungi para pengrajin dari kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi ................................. 102 19. Hasil matriks QSP ....................................................................................... 104

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Perekonomian Indonesia yang terlalu menitikberatkan pada usaha ekonomi skala besar telah meletakkan ekonomi Indonesia pada krisis ekonomi yang berkepanjangan hingga saat ini. Sebagian besar bahan baku industri berskala besar di Indonesia masih bergantung kepada impor. Oleh karena itu ketika krisis ekonomi melanda, maka biaya bahan baku ikut melambung tinggi akibat nilai rupiah pada waktu itu terlalu berfluktuatif. Dengan ikut terpuruknya sektor perbankan dan meningkatnya bunga pinjaman, telah memperparah sektor usaha dari segi permodalan, khususnya industri berskala besar. Industri kecil memang turut terpengaruh dampak dari krisis tersebut, tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena sektor tersebut relatif sedikit menggunakan bahan baku impor. Anggaran belanja pemerintah setiap tahunnya dianggarkan 93% untuk usaha berskala besar dan sisanya (7%) untuk usaha kecil menengah (Dinsi, 2004). Padahal pada tahun 2000-2003 peranan industri kecil menengah (IKM) dalam meningkatkan nilai tambah telah meningkat dari 54,51% pada tahun 2000 menjadi 56,72% pada tahun 2003, di sisi lain usaha berskala besar mengalami penurunan dari 45,49% pada tahun 2000 menjadi 43,28% pada tahun 2003. Selain itu pada tahun 2003, pertumbuhan ekonomi usaha mikro dan kecil (UMK) sebesar 4,1%, usaha menengah tumbuh 5,1%, sedang usaha besar hanya tumbuh 3,5%. Pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah telah meningkatkan kontribusi usaha mikro, kecil dan menengah untuk pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 2,37% dari total pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,1% (Departemen KUKM, 2004). Dari segi penyerapan tenaga kerja, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan kelompok usaha yang lebih banyak menyerap tenaga kerja apabila dibandingkan dengan kelompok industri berskala besar. Hal tersebut menandakan bahwa kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan sebuah jawaban bagi perekonomian Indonesia, sekaligus perlu

dikembangkan Indonesia.

dengan

sungguh-sungguh

oleh

pemerintah

untuk

membangun struktur perekonomian yang lebih berkeadilan bagi rakyat

Tabel 1. Perkembangan penyerapan tenaga kerja menurut kelompok usaha pada tahun 2000 dan 2003
No
1 2 3

Skala Usaha
Usaha Mikro dan Kecil (UMK : unit) Usaha Menengah (UM : unit) Usaha Besar (UB : unit) Jumlah Tenaga Kerja

2000
62.856.765 (88,79%) 7.550.674 (10,67%) 382.438 (0.54%) 70.789.877 (100%)

2003
70.282.178 (88,43%) 8.754.615 (11,02%) 438.198 (0,55%) 79.474.991 (100%)

Pertumbuhan
7.425.413 (11,81%) 1.203.941 (15,94%) 55.760 (14,58%) 8.685.114 (12,27%)

Sumber: Departemen KUKM, 2004. UMK umumnya memiliki keunggulan dalam bidang yang memanfaatkan sumber daya alam (SDA) dan padat karya, seperti pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, perdagangan, dan restoran. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan merupakan kelompok usaha yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap struktur PDB (16,89%) dan sektor tersebut didominasi oleh kelompok usaha kecil, maka sektor ini harus dikembangkan. Dalam era otonomi daerah (otoda), masing-masing daerah berusaha untuk mengembangkan potensi daerahnya. Salah satu daerah yang mengembangkan potensinya adalah Kabupaten Bogor. Pengembangan UMKM dilaksanakan dengan mempertimbangkan potensi sumber daya yang dimiliki Kabupaten Bogor, salah satunya sebagai sentra produsen ubikayu (Hafsah, 2003). Produsen ubikayu tersebar di tiap desa dari 10 kecamatan di wilayah Bogor, yaitu Sukaraja, Babakan Madang, Sukamakmur, Cariu, Klapanunggal, Gunung Putri, Citereup, Cibinong, Bojonggede dan Kemang (Firdaus, 2002). Ubikayu merupakan salah satu komoditas tanaman pangan

yang prospektif untuk dikembangkan, baik sebagai bahan pangan, bahan baku industri maupun komoditi ekspor. Dalam perspektif ekonomi, ubikayu (Manihot utilissima) juga mempunyai keunggulan. Ekspor ubikayu Indonesia dalam bentuk gaplek (keratan ubikayu yang dikeringkan), tepung gaplek, ataupun tepung tapioka cukup meyakinkan dan dapat bersaing, seperti gaplek Indonesia sangat terkenal di mancanegara, terutama di Masyarakat Eropa (ME), sehingga harganya mampu bersaing dengan produk sejenis dari beberapa negara di Afrika, juga dari India dan Thailand, yaitu rataan dengan harga 65-75 dollar AS/ton, dan meningkat sampai 130 dollar AS/ ton, padahal produk yang sama dari India, Thailand, dan negara-negara di Afrika, hanya mencapai 60 dollar AS/ ton dan tidak lebih dari 80 dollar AS/ton (Suriawiria, 2002). Produksi ubikayu di kabupaten Bogor berada di atas rataan produksi nasional. Rataan produksi nasional berada pada 9,4 ton per hektar (Suriawiria, 2002), sedangkan di Kabupaten Bogor mencapai 18,9 ton per hektar (Hafsah, 2003). Hal tersebut menandakan bahwa, Kabupaten Bogor merupakan sentra ubikayu yang perlu dikembangkan. Ditinjau dari perspektif ketahanan pangan, kondisi pangan di Indonesia masih dihadapkan pada ketergantungan kepada beras. Impor beras di tahun 1998, sebesar 5,8 juta ton dan 4 juta ton pada tahun 1999, serta rataan 2 juta ton/tahun, telah menjadikan Indonesia sebagai importir beras terbesar di dunia (Husodo, 2002). Dalam kondisi seperti ini, tepat kiranya apabila Indonesia menerapkan diversifikasi pangan dengan sumber daya lokal. Dalam diversifikasi pangan, ubikayu sangat potensial peranannya. Kandungan ubikayu atau ketela pohon atau ubikayu, mempunyai kandungan karbohidrat cukup tinggi (32.4) dan kalori 567,0 dalam 100 g ubikayu. Maka ubikayu dapat dipakai sebagai pengganti beras (LIPI, 2006), atau dengan kata lain, ketergantungan pada beras harus sedikit demi sedikit dikurangi. Salah satu produk olahan dari ubikayu adalah tepung tapioka yang dapat digunakan sebagai bahan makanan atau pakan ternak. Pembuatan tepung tapioka ini relatif sederhana, tidak memerlukan modal kerja dan

sumber daya manusia (SDM) yang terlalu banyak. Oleh karena itu, pada kegiatan produksi sampai pemasaran dapat digolongkan sebagai industri kecil (IK). IK tersebut diharapkan dapat mengangkat keadaan ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja. Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang merupakan salah satu lokasi produksi ubikayu dan IK tapioka (Veriasa, 2005), tetapi pengelolaannya masih belum optimal. Misalnya, jarang sekali UK tapioka yang menggunakan mesin dalam mengubah ubikayu menjadi tapioka, sehingga menyebabkan kuantitas produksinya kalah dengan UK tapioka di daerah lain yang menggunakan mesin dalam proses produksinya. Selain itu, produk olahan ubikayu berupa tapioka hanya dijual berupa tepung tapioka mentah dan ampas, padahal tapioka tersebut akan bernilai ekonomi lebih besar jika diolah lebih lanjut. Dari sisi SDM, desa Karang Tengah dapat dikatakan desa yang relatif tertinggal apabila dibandingkan dengan desa lain. Hal ini menyebabkan keterbatasan pengetahuan tentang pengolahan tapioka yang baik dan efisien secara ekonomi. Jika ditinjau secara lokasi, desa Karang Tengah tidaklah jauh dari kota Bogor maupun Jakarta sebagai pusat dari sumber daya teknologi yang dapat membantu mengangkat potensi IK tersebut, yang menjadi masalah ialah infrastruktur yang jelek telah mengakibatkan transportasi tidak lancar dan apabila menggunakan jasa transportasi, maka diperlukan biaya relatif besar (Veriasa, 2005). Untuk memajukan IK tapioka di desa Karang Tengah diperlukan suatu strategi yang tepat dan benar agar dapat bertahan dan bersaing, sehingga nantinya akan menciptakan suatu nilai tambah produk, menciptakan sumber pendapatan bagi penduduk dan dapat berkontribusi terhadap negara melalui perannya sebagai UKM. 1.2. Perumusan Masalah IK merupakan jawaban bagi kondisi perekonomian Indonesia yang terlalu menitikberatkan pada industri berskala besar, karena IK telah berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi Indonesia, baik melalui indikator pertumbuhan ekonomi, Produk Domestik Bruto (PDB) maupun penyerapan tenaga kerja. Sebagai ilustrasi, sektor pertanian sebagian besar didominasi

oleh kelompok usaha kecil (UK), maka sektor ini perlu diperhatikan dan dikembangkan. Kabupaten Bogor yang merupakan sentra ubikayu dan produk olahannya, yaitu tepung tapioka sudah semestinya untuk mengembangkan hasil pertanian tersebut yang sebagian besar berasal dari UK. Dari hal yang telah dikemukakan, maka dapat disusun perumusan masalah yang diteliti, yaitu : 1. Bagaimana kondisi dan posisi IK tapioka di desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor ? 2. Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi IK tapioka di desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor? 3. Rumusan strategi apakah yang tepat bagi IK tapioka di desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor? 1.3. Tujuan Penelitian 1. Mengidentifikasi kondisi dan posisi IK tapioka di desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor dalam persaingan industri. 2. Mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi IK tapioka di desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. 3. Merumuskan strategi yang tepat bagi IK tapioka di desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Industri Kecil Pembahasan UKM mengenai pengelompokan jenis usaha meliputi usaha industri dan usaha perdagangan. Definisi usaha kecil mencakup paling tidak dua aspek, yaitu aspek penyerapan tenaga kerja dan aspek pengelompokan perusahaan ditinjau dari jumlah tenaga kerja yang diserap dalam gugusan atau kelompok perusahaan tersebut (Partomo dan Soejoedono, 2004). Departemen KUMKM (2004) mendefinisikan UK sebagai kegiatan ekonomi rakyat yang memenuhi kriteria berikut : a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). c. Milik Warga Negara Indonesia. d. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan UM atau UB. e. Berbentuk usaha perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum (termasuk koperasi). Selain itu, Industri ini memiliki total aset maksimal Rp 600 juta, termasuk rumah dan tanah yang ditempati dengan tenaga kerja dibawah 250 orang dikategorikan sebagai industri kecil (KADIN dalam Suhendar, 2002). Menurut Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang UK, kriterianya dilihat dari segi keuangan dan modal yang dimiliki, yaitu : 1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) 2. Memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 1 miliar/tahun.

2.2. Karakteristik dan Manfaat Tapioka Ubikayu (Manihot utilissima) disebut juga ubikayu atau ketela pohon, mempunyai kandungan karbohidrat cukup tinggi, yaitu 32,4 dan kalori 567,0 dalam 100 g ubikayu. Dengan demikian ubikayu dapat dipakai sebagai pengganti beras. Aneka olahan dan bahan baku ubikayu cukup beragam, mulai dari makanan tradisional seperti makanan getuk, timus, keripik, gemblong, putu, dll. Produk olahan ubikayu dalam industri dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu hasil fermentasi ubikayu (tape/peuyem), ubikayu yang dikeringkan (gaplek) dan tepung ubikayu atau tepung tapioka. Tepung tapioka digunakan dalam industri makanan atau pakan ternak, dekstrin dan glukosa (gula). Dekstrin digunakan dalam industri tekstil, industri farmasi, atau industri lain. Sedangkan glukosa digunakan dalam industri makanan, dan industri kimia seperti etanol, dan senyawa organik lainnya (LIPI, 2006). Selain kegunaan tersebut, tapioka digunakan sebagai bahan baku kerupuk (Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, 2003). 2.3. Definisi dan Konsep Perumusan Strategi Manajemen strategik sangat dibutuhkan perusahaan untuk mengetahui posisinya pada suatu industri, dan selanjutnya merumuskan kebijakan yang tepat untuk mengoptimalkan sumberdaya yang dimilikinya guna mencapai tujuan perusahaan. Stephanie K. Marrus dalam Umar (2003) menyebutkan bahwa strategi ialah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat tercapai. Dirgantoro (2004) mengartikan bahwa manajemen strategi sebagai suatu proses berkesinambungan yang membuat organisasi secara keseluruhan sesuai dengan lingkungannya. David (2003) mendefinisikan manajemen strategis sebagai ilmu tentang perumusan, pelaksanaan dan evaluasi keputusankeputusan lintas fungsi (pemasaran, keuangan, SDM, produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, sistem informasi) yang memungkinkan organisasi mencapai tujuannya. Pearce dan Robinson (1997) mendefinisikan manajemen strategik sebagai kumpulan keputusan dan tindakan yang

menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana perusahaan. Perumusan strategi merupakan tahap yang harus dilalui dalam manajemen strategis sebelum tahap penerapan dan evaluasi strategi. Indentifikasi visi, misi dan tujuan merupakan awal yang harus dilalui dalam perumusan strategi, lalu mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal organisasi dalam menetapkan tujuan jangka panjangnya melalui perumusan strategi yang tepat. Proses manajemen strategi melingkupi proses perumusan, pelaksanaan dan evaluasi strategi (Gambar 1). Feedback yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran

Melakukan audit eksternal

Membuat pernyataan visi dan misi

Menetapkan tujuan jangka panjang

Membuat, mengevalu asi dan memilih strategi

Melaksa nakan strategi isu-isu manajem en

Melaksana kan strategi Isu-isu pemasaran, keuangan, akuntansi, litbang, dan SIM

Mengukur dan mengevalua si kinerja

Melakukan audit internal

Perumusan strategi

Pelaksanan strategi

Evaluasi strategi

Gambar 1. Model manajemen strategik (David, 2004)

2.4. Hasil Penelitian Terdahulu Kesenja (2005) menyatakan bahwa faktor yang menentukan permintaan tapioka kasar ialah faktor pendapatan usaha tapioka dan penawaran tapioka kasar. Penawaran tepung tapioka kasar adalah tersedianya tapioka kasar yang diproduksi oleh pengusaha tapioka kasar. Apabila faktor cuaca, harga dan permodalan tidak mendukung, maka produksi tapioka kasar akan berkurang untuk sementara waktu. Firdaus (2002) melakukan penelitian tentang strategi pemasaran koperasi tapioka sebagai perusahaan yang membeli tapioka kasar dari industri kecil tapioka kasar dan mengubahnya menjadi tapioka halus, menyatakan bahwa faktor yang menjadi peluang terbesar industri tapioka ialah potensi pasar yang besar dan tingginya permintaan tapioka. Industri pengolahan tapioka halus sebaiknya menerapkan strategi integrasi ke belakang dengan pengadaan unit bisnis tapioka basah, mempertahankan dan meningkatkan kualitas dan diferensiasi produk, mengoptimalkan kegiatan penelitian dan pengembangan pasar untuk mendukung proses produksi dan produk-produk bermutu, mempertahankan dan meningkatkan volume penjualan dengan melakukan penetrasi pasar. Purba (2002) menyatakan bahwa pendapatan IK tapioka dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu skala usaha yang meliputi banyaknya tenaga kerja, besarnya modal dan jumlah produksi. Selain itu juga dipengaruhi oleh harga dan biaya usaha. Berdasarkan penelitian terdahulu diatas, penelitian tentang strategi IK tapioka kasar perlu untuk dilaksanakan, agar industri tapioka khususnya di Desa Karang Tengah memiliki daya saing.

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian IK tapioka perlu dikembangkan, karena berbasis sumber daya lokal, yaitu ubikayu, sedikit banyak akan menyerap tenaga kerja di sekitarnya dan berkontribusi positif terhadap perekonomian negara. Upaya untuk mengembangkan IK tersebut memerlukan strategi yang tepat. Langkah pertama mengetahui secara rinci tentang gambaran industri tapioka di desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor. Dengan mengetahui gambaran industri, dapat digambarkan misi dan tujuan organisasi. Misi merupakan pernyataan yang menyebutkan mengapa perusahaan harus ada, sedangkan tujuan merupakan hasil akhir yang ingin dicapai oleh perusahaan. Misi dan tujuan memiliki kedudukan penting, karena keduanya dapat menuntun agar strategi yang dikembangkan dapat sesuai dengan misi dan tujuan akhir perusahaan. Langkah berikutnya menganalisis lingkungan internal dan eksternal dari industri tapioka. Lingkungan internal dapat digambarkan dengan kekuatan dan kelemahan industri, sedangkan analisis eksternal direfleksikan oleh peluang, ancaman industri, ketersediaan lahan di desa tersebut dan dampak pengembangan IK tapioka terhadap lingkungan perdesaan (batasanbatasan pengembangan, misalnya intensifikasi atau ekstensifikasi). Untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan utama pesaing dalam hubungannya dengan posisi strategis industri. Pengidentifikasian tersebut dijabarkan dalam matriks Competitive Profile (matriks CP). Perbandingan tersebut dapat memberikan informasi relevan tentang strategi internal yang penting. Tahap selanjutnya memadukan antara analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman industri dalam bentuk analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT). Dengan analisis SWOT dapat dikembangkan 4 tipe strategi, yaitu strategi kekuatan dan peluang (SO), kelemahan dan peluang (WO), kekuatan dan ancaman (ST), serta kelemahan dan ancaman (WT). Selanjutnya memposisikan suatu

perusahaan ke dalam matriks yang terdiri dari 9 sel yang disebut matriks Internal Eksternal (IE). Keluaran dari alternatif strategi tersebut akhirnya dipilih strategi yang terbaik melalui matriks Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Output matriks QSPM berbentuk skor. Skor tertinggi merupakan prioritas utama untuk diterapkan, sehingga dihasilkan umpan balik yang akan dipertimbangkan dalam penentuan visi dan misi berikutnya. Dengan dipilihnya strategi terbaik dan manfaat dari IK tapioka sebagai penyedia lapangan kerja bagi masyarakat, maka diharapkan IK tapioka di desa Karang Tengah dapat bersaing dengan IK berbahan baku ubikayu lain maupun yang sejenis di daerah lain, sehingga pada gilirannya dapat mensejahterakan masyarakat disekitarnya.

IK yang dikembangkan : - berbasis bahan baku lokal - banyak menyerap tenaga kerja berpengaruh positif terhadap negara (pendapatan dari pajak)

IK tapioka

Misi, visi dan tujuan organisasi

Analisis lingkungan internal

Analisis lingkungan eksternal

Identifikasi kekuatan dan kelemahan pesaing (matriks CP)

Analisis SWOT

Matriks IE

Penentuan strategi alternatif terbaik melalui matriks QSPM

Gambar 2. Kerangka pemikiran penelitian 3.2. Pengambilan Contoh Penelitian ini diadakan di desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor yang merupakan sentra produksi tapioka di wilayah Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2006. Menurut Sugiyono (1999), jumlah responden pada penelitian deskriptif paling tidak sebnyak 10% dari jumlah populasi atau 20% untuk jumlah populasi yang sedikit. Jumlah pengusaha tapioka kasar di Desa Karang Tengah sebanyak 40 UK. Oleh karena itu, contoh yang diambil sebanyak tujuh. Yang akan dijadikan responden pada penelitian ini ialah

para pengusaha tapioka (7 orang), pengambil kebijakan (2 orang) dan pengusaha pengolahan tapioka halus (2 orang). Proses pengumpulan data menggunakan metodologi Penelitian Aksi Partisipatif (PAP) atau Participatory Action Research (PAR), yaitu sebuah metode yang melibatkan dan sekaligus mendorong masyarakat mengenali potensi dan permasalahan (usaha kecil ubikayu) yang ada di desa sehingga masyarakat berinisiatif untuk melakukan tindakan penyelesaian masalahnya sendiri. Penelitian Aksi Partisipatif (PAP) ini akan melalui beberapa tahapan yaitu tahap pra kondisi, tahap pengumpulan data dan tahap validasi data. Tahap pra kondisi dimulai dengan merancang proses dimana masyarakat terlibat dalam penelitian ini. Berikutnya, sosialisasi akan dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tujuan penelitian serta manfaatnya bagi masyarakat. Tahap pengumpulan data dibagi menjadi dua yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diambil dengan menggunakan 3 (tiga) metode, yaitu : 1. Wawancara langsung dengan obyek penelitian alat bantu kuesioner (Lampiran 1) kepada para pengusaha tapioka dan pihak yang terkait dalam penelitian ini. 2. Focus Group Discussion (FGD), yaitu diskusi kelompok terfokus yang melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam industri tapioka. 3. Resource Mapping adalah kajian lapang bersama masyarakat untuk memetakan potensi dan permasalahan sumber daya (ubikayu). Sedangkan data sekunder diambil dari instansi pemerintah dan pengambil kebijakan, yang berkaitan dengan penelitian seperti Depperindag, BPS, Pemkab Bogor, Pemerintah Desa maupun Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) sebagai LSM yang selama ini menjadikan desa Karang Tengah sebagai desa binaan. Tahap validasi data adalah sebuah proses untuk melakukan cross check dan verifikasi kebenaran data yang telah dikumpulkan. Proses ini mengunakan metode Focus Group Discussion (FGD), yaitu diskusi

kelompok terfokus yang melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam industri tapioka. Secara umum, data pada penelitian ini ialah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif akan disajikan dalam bentuk tabel, diagram dan grafik sedangkan data kualitatif akan dijelaskan secara deskriptif. 3.3. Pengolahan dan Analisis Data Proses penentuan strategi dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu tahap pengumpulan data atau input stage, tahap pencocokan atau matching stage dan terakhir adalah tahap pengambilan keputusan atau decision stage. Rincian dari proses penentuan strategi adalah : a. Pengumpulan Data Pada tahap ini, data yang diambil berkaitan dengan visi, misi, tujuan organisasi, faktor internal industri, yaitu kelemahan dan kekuatan industri, serta faktor eksternal yang berkaitan dengan peluang dan ancaman industri. Data aspek internal organisasi digali dari beberapa fungsional dan dapat dikontrol oleh perusahaan seperti aspek manajemen, keuangan, SDM, pemasaran, sistem informasi dan produksi/operasi. Sedangkan data dari aspek eksternal dikumpulkan untuk menganalisis peubah yang tidak dapat dikontrol oleh perusahaan seperti aspek ekonomi, sosial budaya, hukum, stabilitas politik, teknologi dan data eksternal lainnya. Hal ini penting, karena faktor eksternal akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap perusahaan. Data tentang faktor internal akan dirumuskan dalam sebuah matriks yang dinamakan matriks IFE dan data tentang faktor eksternal akan dirumuskan dalam matriks EFE. Selain itu juga akan dipergunakan matriks CP yang berguna untuk mengetahui posisi industri kecil tapioka di Desa Karang Tengah dengan industri lain yang sejenis di desa lain berdasarkan faktor penentu keberhasilan tertentu. b. Pencocokan Data Tahap pencocokan data merupakan tahap dimana terdapat usaha untuk mengkombinasikan antara sumber daya internal dengan peluang

dan risiko yang terdapat pada faktor-faktor eksternal. Pada tahap ini digunakan perangkat berikut : a. Analisis SWOT Analisis ini merupakan model untuk merumuskan alternatif strategi yang dikombinasikan dari data internal dan eksternal organisasi. Alternatif strategi tersebut ialah strategi kekuatan-peluang (strategi SO) strategi kelemahan-peluang (strategi WO), strategi kelemahanancaman (strategi WT) dan strategi kekuatan-ancaman (strategi ST). Penjabaran dari alternatif strategi adalah : i. Strategi SO : strategi untuk mengerahkan segala kekuatan organisasi dalam merebut peluang yang terjadi di eksternal organisasi (strategi ofensif). ii. Strategi WO : strategi untuk meminimalkan kelemahan dalam merebut peluang yang ada (strategi defensif atau konsolidasi). iii. Strategi WT : strategi meminimalkan kelemahan agar terhindar dari ancaman eksternal (strategi diversifikasi). iv. Strategi ST : strategi ini diterapkan dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk mengatasi ancaman yang ada (strategi diferensiasi). b. Matriks IE Matriks IE menempatkan suatu organiasi ke dalam 9 sel, yang didasarkan pada dua dimensi kunci, yaitu total nilai IFE yang diberi bobot pada sumbu X dan total EFE yang diberi bobot pada sumbu Y. Pada sumbu X matriks IE, total nilai IFE yang dibobot dari 1,0 1,99 menunjukkan posisi internal yang lemah, nilai 2,0 - 2,99 dianggap sedang, sedangkan nilai 3,0-4,0 dianggap kuat. Demikian pula dengan sumbu Y, total nilai EFE diberi bobot dari 1,0-1,99 dianggap rendah, nilai 2,0-2,99 dianggap sedang, dan nilai 3,0-4,0 dianggap tinggi.

4,0 Tinggi 3,0 - 4,0

Kuat (3,0-4,0)

3,0

Rataan (2,0-2,99)

2,0 lemah (1,0-1,99) 1,0

I
(Strategi Intensif)

II
(Strategi Intensif)

III
(Hold dan Maintain)

3,0
Sedang 2,0 - 2,99

IV
(Strategi Intensif)

V
(Hold dan Maintain)

VI
(Harvest dan Divestiture)

2,0
Rendah 1,0 - 1,99

VII
(Hold dan Maintain)

VIII
(Harvest dan Divestiture)

IX
(Harvest dan Divestiture)

1,0

Gambar 3. Matriks IE (David, 2003) c. Pengambilan Keputusan Pada tahap ini, strategi alternatif terbaik akan diputuskan melalui metode QSPM. Metode tersebut secara obyektif menunjukkan strategi alternatif yang paling baik karena metode QSPM menggunakan masukan dari analisis tahap pertama yaitu tahap masukan dan hasil analisis tahap pencocokan (David, 2004). Beberapa langkah untuk mengembangkan QSPM adalah : 1) Membuat QSPM 2) Memberi bobot pada setiap faktor eksternal dan internal 3) Memeriksa matriks-matriks pada tahap pencocokan dan mengenali strategi alternatif yang harus dipertimbangkan organisasi untuk diterapkan. 4) Menentukan Nilai Daya Tarik atau Atractiveness Score (AS) yang didefinisikan sebagai angka yang menunjukkan daya tarik relatif masing-masing strategi pada suatu rangkaian alternatif tertentu. 5) Menghitung Total Nilai Daya Tarik atau Total Atractiveness Score (TAS) daftar peluang/ancaman eksternal kunci dan kekuatan/kelemahan internal kunci dari perusahaan di kolom kiri

6) Menghitung jumlah Total Nilai Daya Tarik (TAS). Jumlah TAS mengungkapkan strategi yang paling menarik dari masing-masing rangkaian alternatif. 3.4. Definisi Operasional Pada penelitian ini digunakan beberapa istilah yang akan dijelaskan sebagai berikut : a. Diversifikasi Konglomerasi adalah strategi untuk menambah produk baru dan tidak terkait dengan produk atau jasa lama. b. Diversifikasi Konsentrik adalah strategi untuk menambah produk atau jasa baru, namun masih terkait dengan produk atau jasa lama. c. Focus Group Discussion (FGD) adalah diskusi kelompok terfokus yang melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan. d. Matriks Competitive Profile (CP) adalah matriks yang digunakan untuk mengidentifikasi pada pesaing utama perusahaan mengenai kekuatan dan kelemahan utama mereka dalam hubungannya dengan posisi strategis perusahaan. e. Matriks External Factor Evaluation (IFE) adalah matriks yang digunakan untuk mengevaluasi faktor eksternal industri. f. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) adalah matriks yang digunakan untuk mengevaluasi faktor internal industri. g. Matriks Internal External adalah matriks yang bertujuan untuk memposisikan perusahaan kedalam matriks yang terdiri dari sembilan sel. h. Matriks SWOT adalah matriks yang menghasilkan beberapa alternatif strategi seperti strategi SO (ofensif), WO (defensif/konsolidasi), ST (diferensiasi), dan WT (diversifikasi). i. Matriks Quantitative Strategic Planing adalah matriks yang digunakan untuk menentukan kemenarikan relatif dari pelaksanaan strategi alternatif. j. Participatory Action Research (PAR) adalah metode yang melibatkan sekaligus mendorong masyarakat mengenali potensi dan

permasalahannya, sehingga memiliki inisiatif untuk melakukan tindakan penyelesaian masalahnya sendiri. k. Resource Mapping adalah kajian lapang bersama masyarakat untuk memetakan potensi dan permasalahan sumber daya (ubikayu).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian 4.1.1. Desa Karang Tengah Desa Karang Tengah terletak didalam wilayah administratif kecamatan Babakan Madang kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat dan merupakan desa yang paling luas se-kecamatan Babakan Madang dari sembilan desa yang ada, yaitu 28.590 m2. Kondisi wilayah desa Karang Tengah sangat beragam mulai dari daerah dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian mencapai 1.529 m dari permukaan laut. Batas-batas desa Karang Tengah adalah sebagai berikut, sebelah utara berbatasan dengan desa Hambalang, sebelah selatan berbatasan dengan desa Bojong Koneng, sebelah barat berbatasan dengan desa Sumur Batu dan sebelah timur berbatasan dengan desa Cibadak. Secara administratif wilayah, desa Karang Tengah terbagi atas 3 Dusun dan 11 RW. Wilayah ini dibagi lagi ke dalam wilayah kelompok masyarakat, yakni 45 RT, yang menyebar di 13 kampung. Desa Karang Tengah didalamnya terdapat sebagian kawasan Taman Wisata Alam Gunung Pancar (TWAGP) yang termasuk hutan dataran rendah dan merupakan wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat I. Taman Wisata Alam Gunung Pancar ini mempunyai luas 447,5 Ha dan berbatasan langsung dengan: Sebelah Utara : Kampung Ciburial, Sukamantri dan Leuwigoong Sebelah Timur : Kampung Cimandala Sebelah Selatan : Cibimbing, Bojong Koneng Sebelah Barat : Kampung Karang Tengah dan Tegal Luhur. Kekayaan keanekaragaman hayati dan hutan yang dimiliki kawasan TWAGP menjadi sangat penting sebagai pendukung fungsi-fungsi hidrologis di daerah tangkapan air dan daerah penyangga kawasan. Manfaat sebagai penyediaan air, baik untuk

kebutuhan air minum maupun untuk pengairan bagi pertanian masyarakat, menjadi sangat vital jika keutuhan lanskap hutan terganggu. Sedikitnya ada beberapa anak sungai yang mengalir dari beberapa mata air yang ada di kawasan TWAGP. Anak-anak sungai itu ada yang mengalir ke Sungai Cimandala dan menyatu dengan Sungai Ciherang, selanjutnya bermuara ke Sungai Citeureup. Ada lagi mata air dari atas Kampung Leuwigoong yang menjadi anak sungai, lalu sebagian menyatu dengan Sungai Ciherang dan sebagian lagi ke Sungai Cipanas dan menyatu ke Sungai Cikeruh terus bermuara di Sungai Citeureup. Sebagian lagi mata air yang berasal dari atas Kampung Karang Tengah, membentuk anak Sungai Cibarengkok dan bersama anak-anak sungai kecil lain menyatu menjadi sungai kecil Cimalaya, yang kemudian menyatu dengan Sungai Ciparigi Sungai Citeureup. Sementara di daerah Kampung Wangun dan daerah sekitar Kampung Karang Tengah bagian Timur, tepatnya di kawasan pegunungan di banyak terdapat mata air yang kemudian menjadi anak sungai kecil dan menyatu ke Sungai Cibadak, seterusnya bertemu dengan Sungai Cijanggel yang berasal dari wilayah Kecamatan Jonggol (sebelah Timur Kec. Babakan Madang), dan bermuara di Sungai Cileungsi. Dua sungai besar yang berasal dari kawasan Gunung pancar ini yang kemudian menyatu menjadi sungai Ciliwung, dan terus ke Jakarta dan bermuara di Laut Jawa. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat ialah sebagai petani, yang menggunakan lahan kawasan Perhutani RPH Babakan Madang, karena kebanyakan lahan masyarakat telah dijual ke pihak asing, baik itu untuk perumahan ataupun yang masih berupa lahan tidur. Selain itu masyarakat desa Karang Tengah juga berprofesi sebagai pedagang kecil, tukang ojek, buruh kasar, pegawai negeri dan swasta (sangat sedikit). Para pengrajin seperti pengrajin bambu dan kayu sangat sedikit. mengalir ke Sungai Cikeruh dan bermuara ke

Jumlah penduduk saat ini adalah 12.830 jiwa, (laki-laki 6.385 jiwa dan perempuan 6.545 jiwa), dengan jumlah Kepala Keluarga 7.561 KK (BPS Bogor, 2005). Mutu sumber daya manusia di desa Karang termasuk rendah, hal itu dikarenakan kurangnya keinginan masyarakat untuk mengenyam pendidikan, sulitnya sarana transportasi ke kota sebagai pusat pendidikan, dan orang tua yang mengharuskan anak-anaknya pada usia sekolah untuk membantu mengangkat ekonomi keluarga dengan bekerja. Desa Karang Tengah kaya akan potensi ekonomi, baik itu berupa benda fisik yang akan habis bila ditambang terus menerus seperti pasir dan batu. Selain itu, kaya akan sayur-mayur, palawija, dan buah-buahan yang semuanya itu tumbuh dengan subur. Barang barang yang dihasilkan dijual ke Citeureup dan sebagian ke Jakarta. Masyarakat menjualnya melalui tengkulak, sehingga harganya sangat murah. Padahal kebutuhan yang didatangkan dari luar lebih banyak dan mahal. Hal ini cenderung menyebabkan masyarakat melakukan pembukaan lahan di kawasan Perum Perhutani dan pihak Wana Wisata Indah selaku pengelola taman wisata di Gunung Pancar, dan hal itu tidak dapat dibendung oleh instansi terkait.

Jakarta
Barang yang dijual dari desa Karang Tengah : Pasir Rebung Pisang Batu Pecah Pandan Wangi Sirih Nangka Kunyit Lengkuas Bakung Tapioka Bawang Kacang Pete Talas Daun Salam Pepaya Jagung Durian Daun Ubikayu Kelapa Ubi Kambing

Pasar Citeureup/Bogor
Barang yang dijual ke desa Karang Tengah : Shampo Sabun mandi Pakaian BBM Minyak sayur Barang elektronik Sikat ijuk Motor Mobil Mie Ikan asin Daging Sandal Sepatu sepeda Perhiasan Obat-obatan Tepung Bahan bangunan

Tengkulak

Desa Karang Tengah

Gambar 4. Pola distribusi poduk ekonomi dari Desa Karang Tengah ke luar daerah ataupun sebaliknya. Terdapat permasalahan desa yang secara tidak langsung merupakan suatu hubungan sebab-akibat sekaligus berpengaruh terhadap perkembangan industri kecil tapioka. Permasalahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Rusaknya Sarana dan Prasarana Yang Ada Hampir semua sarana yang ada di desa Karang Tengah rusak, sehingga menyulitkan masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Contoh yang paling nyata adalah rusaknya jalan desa yang memanjang dari pangkal desa sampai ke ujung. Bahkan di bagian ujung desa belum ada jalan yang dapat di lewati kendaraan roda empat. Pada saat musim hujan tiba kondisi jalan semakin parah, kerusakan terutama di sebabkan oleh pengangkutan batu dari lereng gunung Pancar, yang setiap harinya bisa mencapai puluhan truk pengangkut batu. Beratnya muatan tidak sebanding dengan kondisi jalan yang ada,

sehingga menyebabkan kondisi jalan semakin parah dan memprihatinkan. Kondisi tersebut menyebabkan terhambatnya akses pengusaha tapioka terhadap pasar, sumber permodalan dan sebagainya. 2. Lemahnya SDM Mutu SDM di Karang Tengah umumnya masih rendah, karena sebagian besar berpendidikan rendah. Hal tersebut dari disebabkan karena mereka kesulitan dalam masalah biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya, karena hasil yang ada bertani hanya cukup untuk makan saja dan kesadaran pentingnya pendidikan masih rendah. Lemahnya SDM di desa Karang Tengah menyebabkan kurangnya pengetahuan tentang cara pengolahan SDA yang mereka miliki secara optimal. Ubikayu sebagai hasil alam dari desa Karang Tengah misalnya, dalam meningkatkan nilai tambah hanya dijadikan tapioka dan onggok (ampas) secara tradisional. Padahal hasil olahan dari ubikayu sangat beragam. 3. Rusaknya lingkungan Kerusakan lingkungan ini banyak terjadi di Gunung Pancar yang masih termasuk dalam wilayah administratif desa Karang Tengah. Banyak hutan yang gundul akibat ditebang oleh masyarakat. Masyarakat yang hidup dalam ketidakcukupan, terpaksa menebang hutan dan mengambil kayunya untuk dijual. Selain itu, dalam mengembangkan usaha tapioka, masyarakat terkadang tidak mengindahkan aspek-aspek lingkungan. 4.1.2. Karakteristik Tanaman Ubikayu dan Hubungannya Dengan Keadaan Ekosistem Desa Karang Tengah. Desa Karang Tengah merupakan desa yang sebagian wilayahnya terdiri dari hutan dataran tinggi dan perbukitan yang sudah dalam keadaan kritis dan sudah harus dikonservasi. Adanya lahan kritis tersebut dikarenakan banyaknya aktivitas penggundulan hutan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang belum

mengerti akan fungsi hutan dalam ekosistem dan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab lainnya. Pembukaan lahan oleh masyarakat sekitar hutan bertujuan untuk membuka ladang sebagai tempat bercocok tanam. Tanaman yang ditanam berupa ubikayu, pepaya, durian, pisang dan sebagainya. Erosi merupakan persoalan yang serius pada areal Gunung Pancar sebagai bagian wilayah administratif Desa Karang Tengah. Pada sebagian kecil tetapi penting dari lahan yang berada di areal Gunung Pancar merupakan lereng-lereng yang curam, tanah yang mudah longsor dan penggunaan tanah yang tidak tepat dapat mengakibatkan erosi. Karena ubikayu bersifat khas dalam kemampuan tumbuhnya pada kondisi tanah yang tidak menguntungkan, maka ubikayu cenderung merupakan tanaman utama pada tanah-tanah semacam itu. Menurut Falcon, et al (1986), ubikayu merupakan tanaman yang mempunyai karakteristik tertentu yang menyebabkan tanaman ini mempercepat erosi, terutama pada daerah cukup curam dengan curah hujan cukup tinggi. Pertama, terbatasnya daun-daun yang menutupi selama pertumbuhan awal menyebabkan tingginya daya tumbuk air hujan langsung mencapai tanah. Kedua, menyangkut tanah yang bergerak saat dipanen. Selain itu ubikayu juga menyerap unsur hara yang banyak yang juga dapat mengurangi mutu tanah dan dapat menyebabkan erosi atau bahkan longsor. Oleh karena itu, penanaman ubikayu oleh pengusaha tapioka yang merangkap sebagai petani ubikayu di daerah yang curam seperti di sebagian wilayah Gunung Pancar perlu dihindari. Untuk mengganti pasokan bahan baku dari daerah tersebut maka bahan baku dapat dipasok dari wilayah lain. 4.1.3. Sejarah IK Trapioka IK tapioka sudah dijalani oleh penduduk desa Karang Tengah sejak dekade 60-an dan usaha tersebut berada dalam skala rumah tangga. Sebagian rumah tangga menjadikan UK ini sebagai mata pencaharian pokok dan sebagian lagi sebagai sampingan. Apabila

sedang tidak bekerja sebagai pengusaha tapioka karena faktor cuaca atau faktor yang lain, maka sebagian pengusaha tersebut bekerja sebagai petani ladang. Tanaman yang ditanam antara lain ubikayu, jagung, pisang dan sebagainya. Para pengusaha tapioka ini memiliki sebuah pabrik tempat mengolah ubikayu menjadi tapioka yang disebut penggilingan. Penggilingan ini tersebar di seluruh desa, dan rata-rata setiap RW mempunyai kurang lebih 5 penggilingan, namun tidak seluruh RW terdapat penggilingan tapioka. Alasan yang menyebabkan pengusaha menekuni usaha ini diantaranya karena tersedianya bahan baku, satu-satunya usaha yang bisa dilakukan dan dapat memberikan tambahan penghasilan bagi keluarganya. IK tapioka masih menggunakan alat-alat tradisonal dalam merubah input (ubikayu) menjadi output (tapioka), seperti saringan saripati perasan ubikayu masih berasal dari kain bekas, penggiling ubikayu yang berasal dari kayu, tempat penjemuran tapioka basah yang masih terbuat dari bambu dan sebagainya. Implikasi dari itu semua, dalam merubah input menjadi output usaha kecil tapioka tersebut sangat mengandalkan tenaga manusia. Dilihat dari kepemilikan usahanya, kegiatan usaha merupakan usaha milik sendiri dan tidak memiliki badan hukum. Pengelolaan usaha ini dilakukan secara berkelompok. Biasanya satu penggilingan dikelola oleh tiga sampai lima orang pengusaha, tergantung besar kecilnya skala produksi. Usaha kecil ini belum pernah melakukan kemitraan dengan pihak lain yang nantinya dapat berfungsi untuk meningkatkan produksinya, mengontrol harga, memperluas daerah pemasaran, membantu permnodalan dan sebagainya. Namun pada saat ini baru saja didirikan Koperasi Desa Karang Tengah yang nantinya dapat membantu pengusaha tapioka dalam memajukan usahanya, hanya saja koperasi tersebut belum bekerja sebagaimana mestinya.

Selain menjual produk olahan ubikayu berupa tapioka, pengusaha tapioka juga menjual ampas dari ubikayu setelah diperas yang disebut onggok. Produk sampingan tersebut biasanya digunakan sebagai pakan ternak, bahan baku saos dan sebagainya. Harga jual produk sampingan tersebut sekitar Rp 800-Rp 1.000/kg atau kurang lebih 30 % dari harga jual tapioka. 4.1.4. Profil Responden UK tapioka di desa Karang Tengah saat ini berjumlah kurang lebih 40 unit, dengan rataan 5 unit dari setiap RW. Dalam hal ini diambil satu contoh dari setiap RW yang terdapat usaha tapioka dengan alasan sampel tersebut dapat mewakili populasi pengusaha tapioka yang terdapat di desa Karang Tengah serta melibatkan pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian Kabupaten Bogor dan Pemerintah Desa (termasuk di dalamnya Tim Desa) sebagai responden untuk mengetahui kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan usaha kecil tapioka di desa Karang Tengah. Selain itu dimasukkan pihak pabrik pengolahan tapioka yang berperan sebagai pembeli dari pengusaha tapioka untuk mengetahui keadaan industri tapioka di desa lain. Usaha tapioka sebagian besar dikelola oleh pria dewasa dan remaja. Umur pengusaha tapioka berkisar 25-55 tahun. Rataan pengusaha tapioka tidak tamat sekolah, pendidikan paling tinggi ialah tamatan SD. Dalam operasinya, industri tapioka ini menggunakan tenaga kerja yang masih ada hubungan keluarga. Oleh karena itu, usaha ini merupakan usaha yang turun-temurun. Tenaga kerja industri tapioka merupakan tenaga kerja borongan. Yaitu tenaga kerja yang diupah berdasarkan satu kali pengolahan ubikayu menjadi tapioka. Pendapatan pekerja berkisar antara Rp 5.000-Rp 10.000 per kuintal tapioka. 4.1.5. Lokasi Industri Tapioka di Desa Karang Tengah Industri tapioka tersebar di seluruh RW di Desa Karang Tengah, rata-rata di setiap RW terdapat kurang lebih lima usaha

tapioka. Lokasi industri tapioka ini sebagian terletak di lahan sendiri dan sebagian lain menumpang di lahan milik PT. Sentul dan Perum Perhutani. Para pengusaha tapioka tidak memiliki tanah untuk menjadi lokasi produksi, karena pada dekade lalu sebagian telah dijual dalam rangka pembebasan tanah yang disebabkan perluasan komplek perumahan Bukit Sentul. Hal tersebut diijinkan oleh PT. Sentul, tetapi apabila nantinya akan diadakan perluasan bangunan perumahan, maka pengusaha tapioka harus memindahkan penggilingan ke tempat yang lain. Dalam memilih tempat produksi, pengusaha tapioka memilih tempat yang relatif dekat dengan sungai, agar suplai air dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, faktor jarak dengan pasar merupakan hal yang dipertimbangkan, karena berpengaruh terhadap ongkos angkut dari penggilingan ke tempat tapioka dipasarkan. Ongkos angkut tapioka berkisar Rp 10.000-Rp 15.000/kw, tergantung dari jarang tempuh yang diperlukan. Sekali angkut ke pasar biasanya berkisar antara 3-5 kw. 4.1.6. Aspek Teknis dan Teknologi Pada aspek teknis dan teknologi dibahas bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam pembuatan tapioka. Selain itu dibahas mengenai teknologi yang digunakan dalam proses pembuatan tapioka, meliputi peralatan-peralatan yang digunakan. a. Bahan Baku dan Bahan Penunjang Ketersediaan bahan baku dan bahan penunjang mempunyai peranan yang sangat penting bagi kelangsungan proses produksi, karena apabila bahan baku dan bahan penolong tidak tersedia, maka proses produksi tapioka tidak dapat berlangsung. Bahan baku yang diperlukan dalam pembuatan tapioka adalah ubikayu sedangkan bahan penolong yang diperlukan ialah air bersih, pemutih (Sulfur Dioksida) dan minyak solar.

1) Ubikayu Bahan baku pembuatan tapioka adalah ubikayu. Ubikayu yang bermutu baik mempunyai ciri keras, masa panen 11-12 bulan dan apabila dipatahkan akan terasa apakah ubikayu tersebut banyak mengandung butiran aci. Penggunaan ubikayu yang bermutu baik berpengaruh nyata terhadap mutu tapioka. Apabila ubikayu yang digunakan baik maka hasilnya akan lebih banyak tapioka yang dihasilkan. Ubikayu yang ditanam di daerah Karang Tengah rawan serangan hama yang menyerang bagian umbi tanaman yang oleh masyarakat disebut kuuk atau Pseudo Cocidae. Ubikayu dipasok para petani yang menanam ubikayu di daerah Sukabumi, Kedung Halang, Karang Tengah dan sebagainya. Ubikayu yang didapatkan oleh para pengusaha tapioka sudah berupa ubikayu kupasan. Harga dari ubikayu berkisar 550-650/kg tergantung dari mutunya dan banyaknya suplai. Menurut Ouwueme dalam Falcon et al. (1986), tanpa memperhatikan sistem penanamannya, ubikayu akan tumbuh dengan baik bila ditanam pada waktu curah hujan yang lebat, karena tanaman dapat bertoleransi dengan kekeringan kecuali pada periode dini pertumbuhannya. Musim penghujan pada tahun lalu (2005) berlangsung pada bulan September- Mei dan para petani ubikayu menanam ubikayu pada bulan Februari-April. Oleh karena itu, dengan memperhatikan bahwa umur ubikayu berkisar antara 11-12 bulan, maka panen akan terjadi pada bulan Januari-April dan hal tersebut berimbas pada harga tapioka. Para pengusaha tapioka mendapatkan ubikayu dari para petani serta ada juga yang melalui tengkulak dengan cara berhutang dan baru akan dibayar setelah ubikayu yang menjadi tapioka telah terjual. Tetapi ada juga yang dibayar

pada saat penyerahan barang, hal tersebut tergantung pada kecukupan modal. 2) Air Air merupakan bahan penolong yang digunakan dalam pembuatan tapioka. Pada industri tapioka ini sebagian mengambil air sungai yang telah diendapkan dan sebagian mengambil dari mata air. Kebersihan air merupakan hal yang penting dalam pembuatan tapioka. Semakin bersih dan jernih air yang digunakan maka tapioka yang dihasilkan akan semakin putih dan bersih. Hal tersebut merupakan peubah yang menentukan mutu tapioka. Dinding bak untuk menampung air ada yang langsung dari semen, tapi ada juga yang dilapisi plastik. Untuk yang dilapisi plastik akan lebih tahan lama sekitar 4-5 hari dan untuk yang hanya dilapisi semen, air hanya bertahan 2 hari. 3) Pemutih Pemutih atau Sulfur Dioksida kerap dibutuhkan untuk merubah tapioka agar dapat menjadi lebih putih dan tidak berbau apek akibat tapioka telah disimpan agak lama (beberapa hari). Peran pemutih disini bukanlah sesuatu yang dilarang, tatapi terkadang dianjurkan oleh pabrik sebagai pembeli. Harga dari pemutih tersebut 35.000/kg. Satu kwintal tapioka membutuhkan sekitar 2 sendok makan pemutih (kurang lebih 20 g). 4) Solar Solar digunakan sebagai bahan bakar dari mesin yang digunakan untuk menyaring tapioka dari tapioka kasar menjadi tapioka halus. Harga solar di pasaran saat ini Rp 4.300 per liter di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) resmi. Tidak semua usaha tapioka di Desa Karang Tengah ini menggunakan mesin, sebagian besar masih menggunakan tenaga manusia dalam proses produksinya.

b. Peralatan Dalam Industri Peralatan yang digunakan dalam pembuatan tapioka dikelompokkan menjadi peralatan pembangkit tenaga, peralatan pendukung, peralatan pengolah. 1) Peralatan pembangkit tenaga Peralatan pembangkit tenaga dipergunakan dalam menghasilkan digunakan tenaga untuk dalam pengoperasian menggerakkan peralatan alat mekanik lainnya. Peralatan tersebut ialah motor solar yang penyaringan/pengayakan tapioka yang oleh pengusaha tapioka disebut gobegan. 2) Peralatan pendukung Peralatan pendukung yang digunakan dalam industri tapioka ialah ember plastik untuk menampung tapioka yang telah diparut, pipa air untuk menyalurkan air dari sungai atau mata air ke bak tempat penampungan air atau dari bak penampungan air ke tempat penyaringan. Plastik untuk melapisi bak tempat menampung air. Kegunaan lapisan plastik ialah agar lebih tahan lama dalam penyimpanan air. Alat pendukung berikutnya ialah tampah yang digunakan untuk menjemur tapioka yang masih basah, dan yang terakhir ialah rak bambu untuk menjemur onggok. 3) Peralatan pengolah Peralatan pengolah yang digunakan ialah parutan, yang berfungsi memarut ubikayu menjadi halus. Kain pemeras digunakan untuk menyaring ubikayu yang sudah diparut dengan bantuan air. 4.1.7. Proses Pembuatan Tapioka Untuk memperoleh tepung tapioka yang bermutu tinggi, dipilih ubikayu dari jenis yang baik dan tidak mempunyai rasa pahit. Di samping itu, ubikayu yang akan proses ialah ubikayu yang dicabut pada hari itu juga atau masih dalam keadaan segar. Ubikayu

yang disimpan selama 2 hari atau terlalu lama, akan menyebabkan terjadi perubahan warna menjadi hitam akibat kerja enzim polifenolase yang terdapat dalam lendir daging ketela, yang mengakibatkan sarinya akan berkurang (Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, 2003). Pembuatannya mengikuti prinsip berikut : 1. Pengupasan Daging ubikayu dipisahkan dari kulit dengan cara pengupasan. Selama pengupasan dilakukan sortasi bahan baku dengan pemilihan ubikayu yang bagus. Ubikayu yang jelek dipisahkan dan tidak diikutkan pada proses berikutnya. 2. Pencucian Pencucian dilakukan dengan cara meremas-remas ubikayu di dalam bak berisi air, untuk memisahkan kotoran yang menempel pada ubikayu. 3. Pemarutan Umbi-umbi yang sudah dikupas dan dicuci selanjutnya ialah diparut, ini menghasilkan bubut atau parutan yang berisi zat tepung atau serat . Parut yang digunakan ada dua, yaitu : a. Parut manual, dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan tenaga manusia sepenuhnya. Ubikayu segar kupasan digiling diantara drum berputar (dipasangi pisau parut). b. Parut semi mekanis, yang digerakkan dengan generator. 4. Pemerasan/Ekstraksi Dengan bantuan air, residu berserabut itu disaring dan meninggalkan cairan semacam susu yang mengandung aci dan air pencuci. Ada dua cara untuk melakukan pemerasan yaitu: a. Pemerasan bubur ubikayu dengan menggunakan kain saring. lalu diremas-rernas dengan penambahan air Cairan yang diperoleh berupa pati yang ditampung di dalam ember atau bak kayu atau semen. Beberapa kilogram bubuk parutan itu

ditempatkan di dalam kain, air dituangkan dan campuran itu diremas-remas dengan tangan. Penyaringan dilakukan menggunakan air yang cukup sampai air saringan jernih untuk memisahkan butir tepung pati dari ampas. b. Pemerasan bubur ubikayu dengan saringan goyang (sintrik). Bubur ubikayu diletakkan di atas saringan yang digerakkan dengan mesin. sementara saringan tersebut bergoyang, ditambahkan air melalui pipa berlubang. Pati yang dihasilkan ditampung dalam bak pengendapan. 5. Pengendapan Pati hasil ekstraksi diendapkan dalam bak pengendapan selama 5-6 jam. Air di bagian atas endapan dialirkan dan dibuang, sedangkan endapan diambil dan siap dikeringkan. 6. Pengeringan Sistem pengeringan menggunakan sinar matahari dengan cara menjemur tapioka dalam nampan atau widig yang diletakkan di atas rak-rak bambu. Biasanya penjemuran dilakukan pada pukul 07.00-14.00 atau tergantung cuaca. Bila cuaca kurang baik, misalnya hujan, maka penjemuran dilakukan berkali-kali dan lebih dari satu hari. Tapioka yang bermutu baik ialah tapioka yang melalui proses penjemuran selama satu hari. Apabila lebih dari satu hari, akan timbul warna hitam akibat aktivitas mikroba yang dapat menyebabkan turunnya mutu tapioka. 7. Penepungan Tapioka kering yang masih kasar selanjutnya dihaluskan lagi melalui saringan. Setelah proses penepungan, produknya disebut tapioka halus. Dalam pembuatan tapioka tersebut terdapat produk sampingan yang disebut ampas atau onggok. Untuk produk sampingan, ampas yang dihasilkan dikumpulkan pada tempat tertentu, lalu dibentuk menjadi bulat-bulat. Selanjutnya dijemur pada tempat penjemuran tertentu yang biasanya sudah diatur. Penjemuran tersebut memakan

waktu 1-4 minggu tergantung pada cuaca. Setiap 7 kw ubikayu dihasilkan kurang lebih 50 kg onggok. Ubikayu Segar

Pengupasan Kulit dan Pencucian

Pemarutan dan Penyaringan

Penambahan air dan pemerasan

Pengambilan pati

Pengendapan dan pencucian

Pembuangan dan penghilangan air

Pengeringan

Penepungan

Tapioka Gambar 5. Diagram alir pembuatan tapioka 4.1.8. Aspek Manajemen Aspek manajemen memegang peranan yang penting dalam kelangsungan suatu usaha. Penerapan manajemen yang profesional

diharapkan dapat membantu IK untuk dapat bersaing dan selanjutnya tumbuh menjadi usaha menengah atau usaha skala besar. Kegiatan usaha perlu mengkombinasikan fungsi-fungsi manajemen seperti produksi/operasi, keuangan, SDM, pemasaran agar sumber daya perusahaan seperti manusia, modal, peralatan dapat difungsikan secara maksimal dan selanjutnya diharapkan IK tersebut dapat meningkatkan nilai tambah yang dimilikinya. a. Permodalan Modal yang diperlukan untuk mendirikan sebuah penggilingan kurang lebih Rp 30-80 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli alat-alat produksi, tanah, bahan bangunan dan sebagainya. Modal tersebut diperoleh dari dana swadaya dan pengusaha tapioka belum pernah memperoleh bantuan modal dari pemerintah ataupun dari lembaga keuangan. b. Tenaga Kerja Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam usaha kecil tapioka meliputi kegiatan pencarian bahan baku, penyortiran, pencucian, penggilingan, penjemuran, pengepakan, pengangkutan dan pemasaran. Kegiatan mulai dari pencarian bahan baku sampai dengan pemasaran diperlukan sekitar 4-10 tenaga kerja. Pekerja satu dengan pekerja lain tidak mempunyai tugas khusus dalam kegiatan produksi, tetapi dalam pencarian bahan baku dan pemasaran diperlukan tenaga kerja yang khusus karena tenaga kerja tersebut biasanya sudah mempunyai nama di tataran para pemasok ubikayu dan di pasar. Tenaga kerja yang dipakai yaitu laki-laki dewasa, anak-anak dan perempuan. Tenaga kerja perempuan biasanya bertugas untuk menjemur tapioka basah. Upah untuk tenaga kerja hingga menjadi tapioka basah sebesar Rp 5.000- Rp 6.000/kw, sedangkan untuk menjemur tapioka basah upahnya sebesar Rp 3.500 Rp 4000/kw. Tenaga kerja yang dipakai dalam industri tapioka ini pada umumnya masih merupakan kerabat atau tetangga dekat dengan pemilik

penggilingan. Pemilik penggilingan yang merangkap sebagai pengusaha tapioka lebih suka memakai tenaga kerja yang masih tergolong kerabat atau tetangga karena lebih fleksibel dalam penggajian tenaga kerja, waktu kerja dan lebih akrab dalam hubungan kerja. Dalam industri tapioka ini memakai sistem borongan dalam pemakaian tenaga kerja, yaitu sampai menjadi tapioka kering atau sampai menjadi tapioka basah yang siap dijemur. Dalam sistem pembayaran upah menggunakan dua sistem, yaitu tenaga kerja akan dibayar jika tapioka telah terjual atau langsung dibayar sesuai dengan kesepakatan. Dalam sistem penggajian sistem bagi hasil digunakan proporsi yang sama rata baik dengan pemilik maupun dengan pekerja yang lain. Waktu kerja dalam industri ini sangat fleksibel, yaitu 13 jam sehari dan 7 hari seminggu. c. Struktur Organisasi Struktur kerja dalam IK pada umumnya masih sangat sederhana, begitu juga dalaam industri tapioka ini. Pemilik modal biasanya juga merangkap sebagai pengelola dan karyawan. Keputusan strategis dilakukan oleh pemilik modal yang merangkap sebagai pengelola. d. Pemasaran Kotler (1999) mendefinisikan pemasaran sebagai proses sosial dimana manusia baik individu maupun kelompok mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan dengan menciptakan dan mempertukarkan nilai dengan individu kelompok lainnya. Pemasaran tapioka dilakukan oleh seseorang yang telah dipercaya oleh pemilik UK tapioka dan biasanya dilakukan juga oleh pemilik sendiri. Tapioka dari Desa Karang Tengah ini dipasarkan pada beberapa pembeli, seperti Koperasi Tapioka Ciluar (KOPTAR) dan beberapa pabrik yang berlokasi di Ciluar yang untuk selanjutnya dikemas lebih rapi, diberi

merek dan dijual ke pabrik tekstil, kerupuk di kota lain di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nama pabrik tersebut tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Daftar pembeli tapioka yang diproduksi oleh pengusaha tapioka di Bogor Nama Pabrik Produk Merek PT Kujang Semua Jenis Tapioka Kujang PT Setia PT Benteng Liaow Cui Kang Liaow Liong Yap PT Dua Udang Nagamas KOPTAR Semua Jenis Tapioka Tapioka Super dan nomor Satu Tapioka Super Tapioka Super Tapioka Nomor Satu Semua Jenis Tapioka Semua Jenis Tapioka Kupu-Kupu Dua Lombok Orang T ani Pak Tani Dua Udang Nagamas Anak Satu Tepung Tapioka KOPTAR Bambu Kuning

Arifin Makmur CV Bambu Kuning Sumber: Firdaus, 2002 Pengusaha

Semua Jenis Tapioka Tapioka nomor Satu dan nomor Dua

tapioka

dalam

memasarkan

produknya

cenderung memilih pabrik yang memberikan harga jual produk paling tinggi diantara pabrik lainnya. Pengusaha tapioka terlebih dahulu berkeliling dari pabrik ke pabrik untuk menemukan pabrik yang memberikan harga jual paling tinggi. Dalam penentuan harga jual dilakukan tawar-menawar antara pihak pengusaha tapioka dan pabrik, tetapi harga awal ditentukan oleh pabrik. Apabila terdapat kecocokan harga, dilakukan transaksi, tetapi jika terdapat ketidakcocokan harga maka pengusaha tapioka membawa kembali tapiokanya dengan harapan besok dapat dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Dalam menentukan mutu tapioka yang dijual, penentuan mutu dilakukan oleh pihak pabrik dengan cara konvensional, yaitu dengan rabaan tangan dan beberapa pabrik melakukannya dengan bantuan kaca untuk menentukan kadar air dalam tapioka tersebut. e. Keuangan Pencatatan keuangan yang dilakukan industri tapioka di Desa Karang Tengah masih sangat sederhana. Tidak ada laporan keuangan yang menggambarkan pendapatan ataupun biaya produksi yang diperlukan, yang ada hanya catatan penjualan yang menggambarkan data-data historis penjualan. Jadi perusahaan tidak dapat menganalisis secara pasti berapa biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi tapioka dalam sekali giling. 4.2. Proses Perumusan Strategi. 4.2.1. Perumusan Strategi IK Tapioka a. Analisis Lingkungan Internal Analisis lingkungan internal bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh industri kecil tapioka. Kelemahan maupun kekuatan dari industri ini nantinya dapat digunakan sebagai masukan untuk pengembangan strategi yang baik. Faktor yang akan dianalisis ialah struktur organisasi, fasilitas dan kegiatan produksi, produk, harga, lokasi, pemasaran dan sumber daya. 1. Struktur Organisasi IK Tapioka Pada umumnya, struktur organisasi pada IK tapioka ini sangat sederhana, yaitu terdiri dari pemilik modal yang merangkap menjadi pengelola atau karyawan yang langsung menangani aktivitas produksi, keuangan hingga pemasaran produk. Struktur organisasi ini memberikan kemudahan tersendiri dalam mengontrol jalannya kegiatan operasional perusahaan. Efektivitas dan efisiensi aliran tanggungjawab

dapat lebih memungkinkan untuk dikontrol dan hal tersebut dapat meminimalkan terjadinya kesalahan. 2. Budaya dalam Industri Tapioka Pengusaha tapioka pada umumnya memiliki etos kerja yang tinggi, memiliki disiplin dalam bekerja dan bersifat kekeluargaan. Berdasarkan pengamatan lapangan, etos kerja dan disiplin yang tinggi tersebut tercermin dari waktu kerja yang tidak mengenal lelah, yaitu kurang lebih 13 jam sehari dalam seminggu. Waktu kerja yang relatif lama dan disiplin yang tinggi tersebut disebabkan tingginya permintaan akan tapioka dan masa simpan tapioka yang relatif pendek, sehingga tidak dapat menyimpan persediaan seperti barang tahan lama lainnya. Faktor kekeluargaan menimbulkan semangat saling membantu, gotong-royong dan menimbulkan iklim yang baik dalam bekerja. Faktor kekeluargaan dalam masyarakat tersebut menyebabkan tidak adanya kesulitan bagi pengusaha tapioka dalam merekrut pekerja. Di sisi lain, waktu kerja yang terlalu lama tersebut menyebabkan fisik pekerja menjadi mudah lelah dan apabila dipaksakan dalam jangka waktu lama secara terus-menerus akan mempengaruhi hasil akhir produksi, yaitu mutu tapioka. 3. Sumber Daya Manusia Pengusaha tapioka memiliki mutu SDM yang minim. Hal tersebut digambarkan dalam contoh pengusaha tapioka yang dijadikan responden, yaitu 100% responden merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD). Tingkat pendidikan yang masih rendah tersebut mengakibatkan tentang rendahnya tingkat pengetahuan dan sanitasi. pengelolaan, pemasaran,

pendistribusian, menetapkan daya tawar, penerapan inovasi

Arsyad dalam Hafsah (2003) menyatakan bahwa pembangunan sistem usaha agribisnis akan lebih cepat terwujud, apabila sebagian besar masyarakat terutama masyarakat pedesaan berpendidikan, menguasai ketrampilan agribisnis (hulu, tengah, hilir). Jika sumber daya yang dimiliki rendah, maka hal tersebut akan berdampak negatif terhadap tingkat akseptabilitas dalam mengadopsi teknologi yang disebarkan kepada masyarakat tani. 4. Keuangan Permodalan yang dimiliki oleh para pengusaha tapioka seluruhnya berasal dari dana swadaya. Masyarakat masih cenderung takut untuk mengusahakan tambahan modal dari lembaga keuangan seperti bank. Selain itu, masih sedikit usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk merangsang kemajuan IK khususnya IK tapioka di Bogor dari sisi permodalan. Sejauh ini ada beberapa program pemerintah yang ditujukan untuk membantu industri kecil secara umum, yaitu Program Pembinaan Kecamatan (PPK) dan Pembinaan dan Usaha Kredit Antara Kecil Dinas (PUKK) yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kecamatan, Program Dana Bergulir Kerjasama Perindustrian Kabupaten Bogor dan Bank Jabar Unit Syariah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II. PPK dilakukan oleh pemerintah desa dan pemerintah kecamatan, sasarannya ialah usaha mikro seperti warung kecil-kecilan, usaha skala rumah tangga dan obyeknya biasanya kaum ibu rumah tangga dengan sistem kelompok. Besarnya pinjaman PPK berkisar antara Rp 500.000-Rp 1.000.000 dengan bunga yang relatif tinggi (20% per tahun). Sedangkan PUKK dilaksanakan oleh Perhutani melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) dengan sasaran masyarakat sekitar hutan, sehingga tidak semua IK mendapatkan bantuan tersebut. Besarnya

kredit PUKK antara Rp 1.000.000- Rp 3.000.000. Program Dana Bergulir ditujukan untuk IK pada umumnya di Kabupaten Bogor, besarnya bantuan sekitar 25 juta rupiah per usaha dan sudah berjalan 7 tahun, sedangkan permodalan yang diselengarakan oleh Dinas Perindustrian dan Bank Jabar Unit Syariah besarnya mencapai Rp 75.000.000 per usaha. Belum maksimalnya koperasi yang ada di Karang Tengah telah menyebabkan kurang berkembangnya IK tapioka dari sisi modal. Tidak maksimalnya fungsi koperasi dikarenakan belum pahamnya pengurus maupun masyarakat akan arti koperasi. Apabila koperasi telah berjalan maksimal, dalam artian banyak pengusaha tapioka yang menjadi anggota dan pemahaman akan manfaat sudah kuat ditataran masyarakat diharapkan sisi permodalan dapat diatasi. Di sisi lain ada hal yang menyebabkan sulitnya industri kecil di Desa Karang Tengah mendapatkan bantuan modal, yaitu kesadaran masyarakat untuk mengembalikan dana bantuan relatif rendah dan apabila mendapatkan bantuan modal, bantuan tersebut terkadang dialokasikan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif. Selain itu, sistem pencatatan keuangan yang dilaksanakan oleh industri tapioka di Desa Karang Tengah masih sangat sederhana. Pencatatan yang dilakukan hanya mencakup data-data historis penjualan. Atau dengan kata lain, perusahaan tidak dapat menganalisis secara pasti tentang biaya produksi yang diperlukan untuk satu kali giling, karena perusahaan tidak membuat laporan keuangan. 5. Produk dan Harga IK tapioka menghasilkan tapioka kasar dengan tingkatan mutu nomor 1-3, selain itu menghasilkan onggok atau ampas. Produk tapioka dari Desa Karang Tengah rataan

mutunya di bawah produk sejenis dari desa sekitar, seperti Desa Kadumangu, Cibuluh, Pasir Laja dan Ciluar. Salah satunya karena mekanisasi peralatan di Desa Karang Tengah belum secanggih di Desa Kadumangu, Cibuluh, Pasir Laja ataupun Ciluar. Hal tersebut mempengaruhi mutu tapioka pada akhirnya. Mutu tapioka menurut SNI dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Standar mutu tapioka (SNI 01-3451-1994) no
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Persyaratan Mutu I
- Kadar air (% maks.) - Kadar abu (% maks.) - Serat & kotoran (% maks.) - Derajat keasaman ( IN NaOH / 100 g ) - Kadar HCN (% maks.) - Derajat putih (BAS0 4 = 100) - Kekentalan (oEngler) 15 0,60 0,60 < 3 ml negatif 94,5 3-4

Mutu II
15 0,60 0,60 < 3 ml negatif 92,0 2,5 - 3

III
15 0,60 0,69 < 3 ml negatif 92,0 < 2,5

Sumber : Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, 2003 Mutu berbanding lurus dengan harga, yaitu apabila mutunya baik maka harga akan semakin tinggi dan berlaku sebaliknya. Dari segi harga, rata-rata produk tapioka Desa Karang Tengah masih kalah dengan Desa Kadumangu Cibuluh, Pasir Laja maupun Ciluar. Jika pengusaha tapioka dan pihak pabrik telah bertemu untuk menentukan harga, maka kesepakatan harga melibatkan kedua belah pihak, tetapi untuk harga pembukaan dalam tawar-menawar hanya pihak pabrik yang dapat menentukan. Dalam hal ini posisi tawar para pengusaha tapioka sangat lemah terhadap pabrik, hal tersebut disebabkan tidak adanya himpunan pengusaha tapioka. Daya simpan tapioka yang relatif singkat juga menyebabkan pengusaha tapioka tidak mempunyai pilihan

lain selain menjual tapioka pada tingkat harga berapapun. Harga tapioka sangat berfluktuatif, yaitu tergantung pada kualitas tapioka kasar yang dipasok oleh pengusaha tapioka dan jumlah pangusaha yang memasok tapioka. Apabila banyak penawaran dari pengusaha tapioka, maka harga tapioka kasar yang dipasok cenderung rendah, dan sebaliknya. Harga tapioka kasar tertinggi di tingkat pengusaha tapioka sampai saat ini berkisar Rp 400.000- Rp 420.000 /ku. Untuk saat ini harganya berkisar Rp 2.300-Rp 3.500 /kg. Sedangkan harga onggok berkisar antara Rp 800Rp 1.000 per kilogram atau sekitar 30% dari harga tapioka kasar. Penetapan harga yang dilakukan oleh pabrik pengolahan tapioka kepada produsen pangan mempertimbangkan kondisi dan situasi pemasaran yang terjadi. Kondisi pasar dengan permintaan yang rendah dan penawaran tinggi, maka pabrik pengolahan akan memberikan harga pokok penjualan pada produknya dengan harga tambahan terendah Rp 50,- /kg. Bila permintaan tinggi sedang penawaran rendah, sehingga harga tambahan yang diberikan Rp 200,- /kg. 6. Lokasi Industri Umumnya industri tapioka berlokasi di sekitar pemukiman penduduk, sebagian di tanah milik PT. Sentul atau Perum Perhutani dan sekitar aliran sungai. Perekrutan tenaga kerja akan lebih mudah sehubungan dengan dekatnya lokasi industri dengan pemukiman penduduk. Selain itu, pasokan air dan pembuangan limbah akan lebih lancar, karena lokasi industri yang berdekatan dengan sungai. Lokasi industri di daerah yang bukan milik pribadi merupakan suatu kelemahan, karena lahan yang digunakan merupakan milik PT. Sentul dan Perum Perhutani.

Lokasi yang relatif dekat dengan pasar merupakan keunggulan tersendiri bagi industri tapioka di Desa Karang Tengah. Biaya transportasi lebih murah dibandingkan dengan industri sejenis yang terletak di luar Bogor, seperti di Tasikmalaya, Lampung, Cianjur, Purwakarta, Sukabumi dan sebagainya. 7. Kegiatan Produksi Kegiatan produksi tapioka di Desa Karang Tengah sebagian besar masih menggunakan tenaga manusia dan secara teknologi relatif tertinggal, hal tersebut menyebabkan kurang bersaingnya industri tapioka di Desa Karang Tengah dengan industri sejenis di desa-desa lain. Untuk penyaringan misalnya, beberapa masih menggunakan tenaga manusia. Padahal di daerah lain seperti Desa Kadumangu, Desa Ciampea sudah menggunakan penyaringan dengan menggunakan mesin yang disebut sintrik, akibatnya

kapasitas produksi masih kalah dibandingkan desa tersebut. Pada beberapa kasus, dalam memperoleh air para pengusaha tapioka menggali sumur, akibatnya mutu air dalam hal kejernihan atau kebersihan tidak tergantung pada cuaca. Mekanisasi sudah tentu memerlukan investasi modal yang besar. Apabila mekanisasi tersebut benar-benar dilaksanakan, maka untuk mempertahankan operasi yang terus-menerus diperlukan input (ubikayu) dan modal yang besar pula. Dan hal itu bagi industri kecil skala rumah tangga seperti industri tapioka di Desa Karang Tengah merupakan masalah tersendiri. 8. Pemasaran Pemasaran produk dilakukan oleh pengusaha tapioka ada yang melalui tengkulak ada yang tidak. Target pasarnya ialah pabrik pengolahan yang ada di Ciluar. Tapioka dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kelas satu, dua dan tiga. Yang

membedakan mutu dari ketiga kelas tapioka tersebut secara kasat mata ialah warna, aroma dan kandungan air. Penentuan mutu tapioka biasanya didasarkan berdasarkan contoh yang diambil dari karung dan selanjutnya diperiksa dengan memegang contoh tersebut. Penentuan mutu tapioka dilakukan oleh pihak dari pabrik karena sudah berpengalaman. Untuk penjualan onggok, ada pengusaha tapioka yang menjual melalui tengkulak. Rata-rata pengusaha menjual sendiri onggok ke pabrik. Sedangkan yang menjual melalui tengkulak biasanya berpandangan bahwa perbedaan terjadi pada ongkos transportasi, sehingga tidak merasa dirugikan bila menjual melalui tengkulak. Semakin banyaknya pabrik pengolahan tapioka, membuat pengusaha tapioka kasar memiliki alternatif dalam menjual produknya. Pengusaha tapioka tersebut terlebih dahulu melakukan survai harga ke beberapa pabrik pengolahan dan selanjutnya menjualnya ke pabrik yang memberikan harga tertinggi. b. Analisis Lingkungan Eksternal 1. Analisis Lingkungan Makro a. Kebijakan Pemerintah Pembangunan ekonomi yang berbasis masyarakat seharusnya rakyat menjadi prioritas utama pembangunan yaitu ekonomi nasional, karena tujuan pembangunan ekonomi sesuai dengan amanat konstitusi meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Departemen Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Departemen KUMKM) dalam Rencana Strategis 2005-2009 berusaha mengembangkan UMKM dengan meningkatkan SDM yang dimiliki UMKM,

meningkatkan aksesabilitas KUKM terhadap sumbersumber pembiayaan, memperluas sumber pembiayaan bagi KUKM, baik bank maupun nonbank. Selain itu, Dinas Perindustrian Kabupaten Bogor mempunyai program yang bertujuan untuk mengembangkan industri kecil secara umum di Kabupaten Bogor. Programnya termasuk pelatihan yang meliputi pelatihan manajemen administrasi, peningkatan mutu, diversifikasi produk dan bantuan permodalan. Bantuan permodalan ini disebut Bantuan Dana Bergulir dan dikucurkan pemerintah sebesar Rp 25.000.000 dan sudah berlangsung tujuh tahun. Tapi sejauh ini usaha-usaha pemerintah tersebut belum dapat dirasakan oleh para pengusaha tapioka secara maksimal baik bantuan permodalan, upaya pencerahan teknologi, pembentukan kelembagaan, bantuan pemasaran dan lainlain. b. Kondisi Ekonomi Pendapatan per kapita masyarakat yang meningkat yang dapat diktahui dari naiknya Upah Minimum Wilayah juga merupakan pengaruh positif bagi pengusaha tapioka. Peningkatan pengeluaran rataan per kapita sebulan untuk makanan merupakan indikasi bagi peningkatan permintaan bahan makanan seperti tepung tapioka. Rendahnya inflasi juga mendukung daya beli masyarakat. Inflasi yang menggambarkan kenaikan hargaharga secara umum, masih pada level satu digit. Inflasi pada tahun 2006 bulan Januari sebesar 1,36%, Februari 0,58% dan Maret sebesar 0,03% (BPS, 2006a). c. Sosial Budaya Meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya diversifikasi pangan dan kandungan pada ubikayu menimbulkan efek positif bagi

tapioka. Tapioka sebagai hasil olahan dari ubikayu yang mengandung banyak karbohidrat dapat menggantikan kebutuhan akan beras. Selain itu, pada saat ini semakin banyak gerakan kampanye atau promosi yang diarahkan kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai lapisan bawah, sampai lapisan atas. Bahkan Departemen Pertanian RI mulai gencar mempromosikan hasil olahan makanan non beras yang mengandung karbohidrat tinggi. Peran dari ahli tata boga dan peneliti juga cukup besar dalam menciptakan variasi yang menarik dari makanan hasil olahan ubikayu atau tapioka. Lokasi ibukota negara yang berdekatan dengan Bogor juga berpengaruh terhadap tumbuhkembangnya industri tapioka di Desa Karang Tengah. Disisi lian, para pemuda dari desa banyak yang mencari kerja keluar desa sehingga jarang yang berprofesi sebagai pengusaha tapioka. d. Demografi Semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia tentu akan meningkatkan kebutuhan pangan. Meningkatnya jumlah penduduk harus diiringi oleh diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 206,264,595 jiwa dengan laju pertumbuhan 1,35 persen pertahun (BPS, 2006 ). e. Lingkungan Faktor lingkungan harus juga dipertimbangkan dalam pengembangan industri tapioka. Industri tapioka di Desa Karang Tengah banyak mengambil pasokan ubikayu dari daerah sekitar, terutama Gunung Pancar. Padahal ubikayu sendiri memiliki karakteristik banyak menyerap
b

unsur hara, sehingga apabila dibiarkan dalam waktu yang lama akan merusak struktur kimia tanah dan selain itu dapat menyebabkan erosi, hal tersebut berkaitan dengan terbatasnya daun-daun yang menutupi selama pertumbuhan awal yang menyebabkan tingginya daya tumbuk air hujan langsung mencapai tanah. Kedua, menyangkut tanah yang bergerak saat dipanen (Falcon et al., 1986). Gunung Pancar merupakan kawasan dataran tinggi yang mempunyai ketinggian 1.529 m diatas permukaan laut, dan dalam keadaan yang memprihatinkan dikarenakan banyaknya hutan yang gundul pada kawasan tersebut. Selain itu, lahan yang digunakan petani untuk bersawah dan berladang banyak yang dirubah menjadi areal pemukiman penduduk. Oleh karena itu pasokan ubikayu dari Desa Karang Tengah sendiri terancam akan berkurang, sehingga pengusaha tapioka akan mencari pemasok dari daerah lain dengan konsekuensi menambah biaya produksi yang disebabkan oleh biaya transportasi atau biaya angkut. 2. Analisis Lingkungan Industri a. Persaingan Industri Persaingan industri merupkan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari, begitu juga dengan industri tapioka. Rendahnya hambatan masuk merupakan ancaman tersendiri bagi industri tapioka yang sudah terlebih dahulu ada dan sudah mapan. Hambatan masuk tersebut bisa berupa mutu produk yang telah ada, sistem produksi yang relatif sedarhana dan mudah untuk ditiru. Industri tapioka ini telah ada selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Industri yang bertahan ialah industri yang menghasilkan

tapioka kasar bermutu tinggi dan didukung dengan modal yang cukup. b. Produk Substitusi Tapioka memiliki fungsi dan kandungan yang berbeda dengan jenis tepung yang lain seperti tepung maizena, tepung beras, tepung terigu, tepung kedelai dan tepung gaplek. Pada kasus tertentu seperti pada pembuatan bakso, tepung kedelai dapat menjadi barang substitusi bagi tapioka, tetapi hal tersebut tidak dianjurkan, sebab akan berpengaruh pada aspek rasa, warna dan bau (Purnomo, 2003) c. Kekuatan Tawar-Menawar Pembeli Pembeli dalam hal ini pabrik memiliki daya tawar yang cukup tinggi. Dalam penentuan harga tapioka ataupun onggok, pembeli memegang kendali. Karena pasokan tapioka tidak hanya datang dari pengusaha tapioka dari Desa Karang Tengah, tetapi juga dari desadesa lain di Bogor. Harga tapioka tergantung pada banyaknya permintaan akan tapioka dan pasokan tapioka. d. Kekuatan Tawar-Menawar Pemasok Penyediaan bahan baku tapioka yaitu ubikayu dilakukan oleh tengkulak dan petani ubikayu. Tengkulak tersebut membeli ubikayu dari para petani kemudian dijual kepada pengusaha tapioka, tetapi ada juga pengusaha tapioka yang membeli langsung dari petani ubikayu. Penetapan harga beli dan kuantitas ubikayu ini tergantung mutu barang dan kesepakatan dari kedua belah pihak, baik pengusaha tapioka dengan petani ataupun tengkulak tetapi harga awal dibuka oleh pengusaha ubikayu. Dalam mencari bahan baku, sering pemilik ubikayu mendatangi pengusaha tapioka dan jarang sebaliknya. Dalam hal ini, penjual ubikayu akan mencari pembeli dengan harga

tertinggi, sedangkan pengusaha ubikayu akan mencari penjual dengan harga terendah. Beberapa pengusaha tapioka memiliki langganan tertentu karena dirasa sudah cocok, tetapi sebagian besar pengusaha tapioka memiliki banyak alternatif penyedia bahan baku. Pembayaran sebagian besar dilakukan setelah tapioka laku di pasar. 4.2.2. Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal Industri Tapioka 1. Faktor Internal Industri a. Kekuatan Industri 1) Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan. Struktur organisasi perusahaan yang sederhana, yaitu pemilik modal merangkap sebagai pengelola dan karyawan, memudahkan pemilik modal untuk mengontrol kegiatan operasional perusahaan. Selain itu, eketivitas dan efisiensi aliran tanggungjawab dapat lebih dikontrol dan mengurangi adanya kesalahan. 2) Etos kerja dan disiplin yang tinggi. Etos kerja dan disiplin tinggi diantara karyawan menyebabkan kapasitas produksi berada dalam keadaan maksimal. Tidak pernah terjadi inefisiensi produksi yang disebabkan kinerja karyawan yang buruk. 3) Iklim kerja yang baik. Hubungan yang terjadi antar karyawan dan pemilik modal berjalan harmonis dan kekeluargaan. Jarang terjadi keluhan-keluhan yang menyebabkan renggangnya hubungan antar karyawan atau dengan pemilik modal. Hal ini disebabkan karyawan yang direkrut masih merupakan kerabat atau tetangga dekat. 4) Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja. Tenaga kerja yang dipekerjakan masih terhitung kerabat atau tetangga dekat. Oleh karena itu, pengusaha tapioka tidak pernah kesulitan dalam merekrut tenaga

kerja. Selain itu pengangguran yang tinggi juga merupakan faktor pendukung mudahnya perekrutan tenaga kerja. 5) Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar. Letak perusahaan relatif dekat dengan pasar, yaitu masih terbilang di daerah Bogor merupakan kekuatan tersendiri dibandingkan perusahaan sejenis yang berlokasi di luar kota. Jarak perusahaan dengan pasar mempengaruhi ongkos transportasi yang dibutuhkan dan akhirnya berpengaruh terhadap biaya produksi. b. Kelemahan Industri 1) SDM yang rendah. Sumber daya manusia yang rendah berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan untuk berinovasi, efisien, mengaplikasikan pembuatan tapioka yang

mengurangi kemampulabaan perusahaan serta berdampak negatif terhadap tingkat akseptabilitas dalam mengadopsi teknologi yang diberikan kepada masyarakat tani. 2) Terbatasnya modal. Terbatasnya modal usaha membuat industri tapioka mengalami stagnasi. Terbatasnya pengetahuan masyarakat akan tatacara pengajuan pinjaman modal kepada bank merupakan hambatan tersendiri. 3) Mutu produk dan harga yang kurang bersaing. Mutu produk tapioka Desa Karang Tengah masih kurang bersaing dibandingkan dengan tapioka dari desa lain, seperti Desa Kadumangu atau Ciluar. Hal ini disebabkan oleh kandungan air yang berbeda pada daerah tersebut. Masalah teknologi dan sanitasi juga menjadi hambatan bagi industri tapioka Desa Karang Tengah. Rataan industri tapioka Desa Karang Tengah mengandalkan tenaga manusia yang terkadang tidak konsisten dan hal tersebut mempengaruhi mutu produk.

Begitupun dengan sanitasi, industri tapioka di Desa Karang Tengah kurang mempehatikan sanitasi produksi, sehingga berpengaruh juga terhadap mutu produk. Mutu akan berbanding lurus dengan harga. Apabila mutu produk baik, maka harga akan tinggi, dan sebaliknya. 4) Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Sebagian industri tapioka Desa Karang Tengah berlokasi di lahan milik pihak lain, seperti PT. Sentul dan Perum Perhutani. Hal tersebut dalam jangka panjang akan mengancam keberadaan industri ini, karena jika sewaktuwaktu pihak yang memiliki lahan berniat mengambil haknya, maka hal tersebut akan mengancam keberadaan perusahaan. 5) Penggunaan teknologi yang masih terbatas. Keterlibatan teknologi pada proses produksi tapioka di Desa Karang Tengah dibilang masih kurang. Hal tersebut mempengaruhi mutu dan kuantitas produk, sehingga menjadi kurang bersaing dengan produk dari desa atau daerah lain. 6) Pencatatan keuangan yang masih sederhana. Pencatatan yang dilakukan oleh industri tapioka hanya mencakup data historis penjualan. Dan rataan perusahaan tidak dapat menganalisis biaya produksi yang dibutuhkan dalam pembuatan tapioka, karena tidak memiliki laporan keuangan. Perusahaan juga tidak dapat menentukan apakah sebenarnya mendapat laba atau mendapatkan kerugian. 7) Kesadaran dalam pengembalian pinjaman pada sebagian pengusaha dan masyarakat yang relatif rendah. Berdasarkan hasil wawancara dengan pabrik

pengolahan tapioka, rataan pengusaha tapioka dari Desa

Karang Tengah relatif sulit untuk diberi masukan konstruktif dalam rangka meningkatkan mutu produk tapioka kasar yang dihasilkan. Bagi rataan pengusaha tapioka, yang penting ialah menghasilkan laba. Selain itu, ditataran masyarakat, kesadaran untuk mengembalikan hutang masih rendah. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap pengusaha tapioka. 8) Rusaknya Infrastruktur Infrastruktur seperti jalan raya, jembatan berada dalam kondisi yang memprihatinkan sehingga sangat menyulitkan sehari-hari. masyarakat dalam melakukan kegiatan Kondisi tersebut menyebabkan sedikit

terhambatnya akses pengusaha tapioka terhadap sumber permodalan, akses informasi di tingkat pengambil kebijakan dan sebagainya. 2. Faktor Eksternal Industri a. Peluang Industri 1) Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Tingkat kesadaran masyarakat akan kebutuhan nutrisi telah mengubah persepsi bahwa bahan makanan yang merupakan sumber karbohidrat tidak hanya beras, tetapi juga didapatkan dari sumber-sumber yang lain. Selain itu, pada saat ini banyak pihak-pihak seperti pemerintah melalui Departemen Pertanian, restoran, hotel, pendidikan boga yang mempromosikan makanan berkarbohidrat pengganti beras. 2) Kondisi ekonomi yang stabil Kondisi ekonomi yang stabil digambarkan oleh inflasi yang berada pada level satu digit, naiknya pendapatan masyarakat yang digambarkan oleh naiknya

Upah Minimum Wilayah. Hal tersebut memberikan peluang daya beli masyarakat akan bertambah. 3) Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Semakin bertambahnya penduduk Indonesa dari tahun-ketahun permintaan secara otomatis akan meningkatkan terutama yang akan bahan makanan

mengandung nutrisi yang sama dengan makanan pokok. 4) Kurangnya ancaman dari produk pengganti. Tapioka memiliki produk pengganti, khususnya dari produk umbi-umbian seperti kimpul, ubi jalar bahkan tepung kedelai. Tetapi dalam substitusi produk, produk pengganti tersebut tidak dapat mengganti sebesar 100% karena hal tersebut tergantung dari uji organoleptik yang paling diterima. Pada kasus pembuatan bakso sapi, penggunaan produk substitusi yaitu tepung kedelai terbukti kurang disukai karena berpengaruh terhadap rasa, bau dan warna (Purnomo, 2003). a. Ancaman Industri 1) Kurangnya peranserta dari pemerintah. Baik pemerintah daerah, kecamatan maupun desa sejauh ini belum membuat program yang bertujuan untuk mengembangkan industri tapioka di Desa Karang Tengah. Bantuan seperti permodalan, penelitian, alih teknologi dan fasilitasi kelembagaan belum dirasakan oleh kalangan pengusaha tapioka. 2) Hambatan masuk industri relatif rendah. Hambatan masuk dalam industri ini relatif rendah. Ada beberapa peubah yang menyebabkan hal tersebut, yaitu modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar, SDM yang tidak menuntut syarat yang terlalu banyak dan rumit, dan sistem produksi mudah untuk ditiru.

3) Kurangnya regenerasi kepemilikan Lokasi ibukota negara yang relatif dekat dengan segala daya tariknya membuat generasi muda lebih menyukai untuk bekerja disana. Hal ini menyebabkan kurang adanya regenerasi usaha tapioka yang diwarisi dari orang tua ke anak-anaknya. 4) Kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi Banyaknya pengrajin tapioka yang menjual tapioka kasar ke pabrik pengolahan tapioka menyebabkan harga tapioka sangat berfluktuasi. Pembeli memiliki kekuatan untuk menentukan harga tapioka pada tingkat harga tertentu dan pengusaha tapioka tidak memiliki pilihan lain selain menjualnya. 5) Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Tidak melindungi adanya lembaga tapioka atau himpunan yang pengusaha merupakan ancaman

tersendiri. Lembaga tersebut nantinya dapat berguna untuk memperkuat posisi tawar petani dalam negosiasi harga, permodalan dan lain-lain. 6) Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Kurangnya sarana telekomunikasi seperti telepon dan informasi seperti masyarakat televisi relatif dan surat kabar dalam menyebabkan terlambat

mengakses informasi dari luar desa. Hal tersebut berpengaruh pada tingkat kesadaran industri tapioka pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kapasistas internal dalam menghadapi persaingan dunia usaha yang semakin mengglobal. 7) Faktor Cuaca Cuaca sangat mempengaruhi berlangsungnya kegiatan pada industri pembuatan tapioka. Apabila cuaca cerah, maka tapioka akan bermutu baik dan apabila cuaca

mendung atau hujan maka tapioka akan bermutu jelek bahkan jika cuaca buruk tersebut berlangsung lama maka hal itu akan mengancam keberlangsungan industri tapioka. 4.2.3. Tahap Masukan (Input Stage) a. Matriks IFE Berdasarkan faktor-faktor internal yang telah dianalisis, maka dilakukan pembobotan dan pemberian rating oleh pengusaha tapioka dan para pembuat kebijakan untuk membentuk matriks IFE (tabel 4). Pada matriks IFE dapat dilihat nilai sebesar 2,173 yang menandakan bahwa dalam rata-rata industri secara internal perusahaan lemah atau dengan kata lain perusahaan belum memiliki strategi yang baik dalam mengantisipasi ancaman internal yang ada. Kekuatan utama yang dimiliki oleh industri kecil tapioka ialah iklim kerja yang baik, karena masih tingginya budaya gotong-royong dalam masyarakat desa. Sedangkan kekuatan yang lain ialah etos kerja dan disiplin yang tinggi, kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan, tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja dan kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar. Sedangkan kelemahan utama yang dimiliki ialah tentang mutu produk dan harga yang kurang bersaing, karena faktor proses pembuatan yang kurang baik.

Tabel 4. Hasil analisis matriks IFE


Faktor Strategis Internal No 1. 2. 3. 4. 5. A. Kekuatan Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Jumlah A Kelemahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain Penggunaan teknologi yang masih terbatas Pencatatan keuangan yang masih sederhana. Kesadaran pengembalian pinjaman pada sebagian pengusaha dan masyarakat yang relatif rendah. Rusaknya infrastruktur Jumlah B Total IFE (A+B) Bobot* (a) 0,066 0,081 0,081 0,061 0,051 Rating (b) 3 2,75 3,25 2,5 2 Nilai (c = a x b) 0,198 0,223 0,264 0,152 0,101

0,340

0,939

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

0,086 0,096 0,096 0,081 0,081 0,051 0,086 0,081 0,660 1,000

2 2 1 2,25 1,5 3 2 1,75

0,173 0,193 0,096 0,183 0,122 0,152 0,172 0,142 1,233 2,173

* Penentuan bobot internal dilakukan oleh para ahli yang mengetahui keadaan industri tapioka Desa Karang Tengah, yaitu Kepala Desa Karang Tengah (Ahmad Sugih), Ketua Tim Desa (Suheri) dan pengusaha tapioka (Rosyidin dan Neneng). b. Matriks EFE Berdasarkan analisis faktor-faktor eksternal perusahaan, dilakukan pembobotan, pemberian rating dan penetapan nilai (Tabel 5). Pada tabel matriks EFE menunjukkan skor terbobot sebesar 2,321. Hal tersebut menandakan bahwa kemampuan

pengusaha

untuk

memanfaatkan

peluang-peluang

dalam

mengatasi ancaman-ancaman yang dihadapi masih kurang, atau dengan kata lain industri kecil tapioka di Desa Karang Tengah belum memiliki strategi yang baik dalam mengatasi ancaman eksternal yang ada. Faktor yang menjadi peluang utama dalam industri ini ialah kurangnya ancaman dari produk pengganti, dikarenakan tapioka memiliki karakteristik yang khas, sehingga tidak dapat diganti dengan tepung yang menggunakan bahan baku selain ubikayu. Sedangkan faktor lain yang menjadi peluang diantaranya semakin bertambahnya jumlah penduduk, perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras dan kondisi ekonomi yang stabil. Faktor yang menjadi ancaman utama ialah faktor cuaca dan kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi. Sedangkan mengancam, kurangnya ancaman peran lainnya dari dari faktor rusaknya yang tidak paling adanya berturut-turut serta ialah infrastruktur,

pemerintah,

kelembagaan yang mendukung industri tapioka, hambatan masuk industri relatif rendah, kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi dan kurangnya regenerasi kepemilikan.

Tabel 5. Hasil analisis matriks EFE


Faktor Strategis Eksternal No 1. 2. 3. 4. A. Peluang Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kondisi ekonomi yang stabil Kurangnya ancaman dari produk pengganti. B. Total skor Peluang Ancaman Kurangnya peran serta dari pemerintah. Hambatan masuk industri relatif rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor cuaca Bobot* (a) 0,081 0,075 0,064 0,087 0,306 Rating (b) 2,25 3,25 2,5 3,75 Nilai (c = a x b) 0,182 0,244 0,159 0,325 0,910

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

0,116 0,069 0,081 0,116 0,110 0,087 0,116

1,5 3 3,25 1 1,75 3 1

0,376 0,173 0,243 0,116 0,192 0,195 0,116

Jumlah B Total EFE (A+B)

0,694 1,000

1,410 2,321

* Penentuan bobot eksternal dilakukan oleh para ahli yang mengetahui keadaan industri tapioka Desa Karang Tengah, yaitu Kepala Desa Karang Tengah (Ahmad Sugih), Ketua Tim Desa (Suheri) dan pengusaha tapioka (Rosyidin dan Neneng). c. CPM Dalam penelitian ini digunakan CPM yang menganalisis mengenai kekuatan dan kelemahan pesaing utama industtri kecil tapioka di Desa Karang Tengah berkaitan dengan posisi strategis perusahaan. Pada matriks ini yang digunakan sebagai faktor penentu keberhasilan ialah mutu, harga, teknologi, modal, lokasi industri dan kesadaran pengembalian pinjaman. Sedangkan desa yang dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai pesaing utama

ialah Desa Cibuluh, Kadumangu dan Ciluar. Hal ini dikarenakan desa tersebut merupakan desa yang relatif banyak memasok tapioka di pasaran Ciluar. Faktor penentu keberhasilan, bobot dan peringkat pada matriks CP diperoleh dari penilaian responden, diantarany pengusaha tapioka (Neneng, Rosyidin), kepala desa (Ahmad Sugih), dan ketua Tim Desa (Suheri). Pada matriks CP, Desa Karang Tengah mendapatkan nilai 2,239, Desa Cibuluh mendapatkan nilai 2,830, Desa Kadumangu mendapatkan nilai 3,383 dan Desa Ciluar mendapatkan nilai 3,112. Nilai tersebut menunjukkan bahwa respon Desa Karang Tengah dalam menanggapi faktor penentu keberhasilan masih kurang, apabila dibandingkan dengan desa-desa lain yang memasok tapioka kasar. Tabel 6. Matriks CP
Faktor Penentu Keberhasilan Mutu produk Harga Teknologi Modal awal Lokasi industri Kesadaran pengembalian pinjaman Total Bobot 0,191 0,213 0,128 0,170 0,128 0,170 1,000 Desa Karang Tengah Peringkat Nilai 2,25 0,430 1,75 2 3,25 2,25 2 0,373 0,256 0,553 0,288 0,340 2,239 Desa Cibuluh Peringkat 3 3 3 2 3 3 Nilai 0,573 0,639 0,384 0,340 0,384 0,510 2,830 Desa Kadumangu Peringkat Nilai 4 0,764 3,75 3,25 3 3 3 0,799 0,416 0,510 0,384 0,510 3,383 Desa Ciluar Peringkat 3,25 3,5 3 2,75 3 3 Nilai 0,621 0,746 0,384 0,468 0,384 0,510 3,112

4.2.4. Tahap Pencocokan (Matching Stage) 4.2.4.1. Matriks Internal-Eksternal (IE) Matriks IE bertujuan untuk memposisikan industri ke dalam sebuah matriks yang terdiri dari 9 sel. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai IFE 2,173 dan EFE 2,321, sehingga industri berada pada sel V matriks IE. Strategi pada posisi tersebut ialah strategi hold dan maintain, yang dapat berupa diversifikasi konsentris, diversifikasi konglomerasi atau strategi pengembangan

produk.

Hal-hal

yang

mendukung

industri

untuk

melaksanakan strategi tersebut diantaranya bahwa IK tapioka di Desa karang Tengah telah berjalan dengan baik walaupun belum dapat merespon ancaman internal dan eksternal dengan baik. Hal ini terlihat dari penjualan yang bersifat massal dan bekesinambungan. Strategi diversifikasi konsentris artinya menambah produk atau jasa baru, namun terkait dengan produk lama. Ketergantungan tapioka terhadap faktor cuaca dapat diatasi dengan diproduksinya produk olahan dari ubikayu selain tapioka yang juga memiliki nilai ekonomis tinggi, misalnya keripik ubikayu. Dengan begitu diharapkan kegiatan perusahaan dapat terus berjalan dan selain itu, diharapkan produk baru memiliki fluktuasi penjualan musiman yang menyeimbangkan fluktuasi penjualan perusahaan saat ini. Strategi diversifikasi konglomerasi ialah menambah produk atau jasa baru yang tidak terkait dengan produk atau jasa yang lama. Desa Karang Tengah juga merupakan wilayah sentra produksi pisang dan kopi, maka dalam rangka penerapan strategi konglomerasi, industri tapioka harus memanfaatkan potensi tersebut. Hasil olahan dari pisang atau kopi merupakan bahan makanan yang bernilai ekonomi tinggi dan berinvestasi pada keduanya merupakan hal menarik. Strategi atau pengembangan produk adalah strategi yang berupaya meningkatkan penjualan dengan memperbaiki memodifikasi produk atau jasa yang sudah ada. Penerapan dari strategi ini ialah IK tapioka di Desa Karang Tengah harus mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi mutu produk agar produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan industri sejenis dari desa lain.

Total nilai faktor internal = 2,173 4,0 Kuat 3,0 Rataan 2,0 Lemah 1,0

Tinggi Total nilai faktor eksternal = 2,321

I IV

II V

III

3,0 Sedang 2,0 2,0 Lemah 1,0

VI

VII

VIII

IX

Gambar 6. Hasil Matriks IE 4.2.4.2. Matriks SWOT Pada matriks ini didapatkan strategi berdasarkan gabungan antara faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman). Empat strategi utama yang disarankan yaitu strategi SO, ST, WO dan WT. Matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan analisis SWOT pada industri tapioka di Desa Karang Tengah dapat dirumuskan 14 alternatif strategi, yaitu : 1. Strategi SO a. Meningkatkan produksi perusahaan dengan memanfaatkan efektifitas dan efisiensi perusahaan. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan, etos kerja dan disiplin yang tinggi, iklim kerja yang baik, rekrutmen tenaga kerja yang mudah dan lokasi perusahaan yang dekat dengan pasar dapat dijadikan faktor pendukung agar perusahaan dapat meningkatkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan pangan khusunya tapioka.

b. Meningkatkan mutu produk dengan mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap mutu. Faktor mutu merupakan hal yang paling mendasar dalam industri tapioka agar permintaan yang ada dapat terpenuhi, karena mutu akan mempengaruhi harga jual produk. Dengan dekatnya lokasi industri terhadap pasar, didukung etos kerja dan disiplin yang tinggi dari para pengusaha tapioka, maka pengusaha tapioka dapat mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap mutu tapioka dari sesama pengusaha tapioka dari desa lain. Selain itu, dengan dan selanjutnya memfokuskan perbaikan pada faktor-faktor tersebut. 2. Strategi ST a. Mempertahankan budaya karyawan perusahaan. dan etos kerja

Iklim kerja yang baik dan etos kerja yang tinggi diantara karyawan perusahaan dapat dipertahankan dan ditingkatkan untuk meningkatkan efisiensi dan produkstivitas industri tapioka di Desa Karang Tengah, sehingga dapat meningkatkan daya saing dan hambatan masuk industri . b. Memperhatikan anggota keluarga yang lebih muda dalam merekrut karyawan. Dalam melakukan rekrutmen karyawan dengan segala kemudahannya, pengusaha tapioka harus mempertimbangkan anggota keluarga yang lebih muda dari segi usia, agar dalam perjalanan organisasi terdapat regenerasi dalam industri tapioka. c. Mengembangkan produk tapioka halus. Untuk mengatasi ancaman berupa hambatan masuk industri yang relatif rendah dan daya tawar

pembeli yang terlalu tinggi, maka dapat diatasi dengan mendirikan pabrik pengolahan tapioka halus. Dengan kekuatan industri, diantaranya kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan, etos kerja dan disiplin yang tinggi, iklim kerja yang baik, tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja diharapkan industri tapioka di Desa Karang Tengah dapat memperluas skala usaha dengan menguasai industri pengolahan tapioka halus, sehingga pasar tidak terlalu terkonsentrasi di wilayah Ciluar dan pengusaha tapioka dari Desa Karang Tengah tidak terlalu tergantung pada pabrik pengolahan di wilayah Ciluar. d. Menciptakan diversifikasi produk olahan dari ubikayu. Keadaan yang tidak mendukung seperti kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi, tidak adanya kelembagaan dan ketergantungan pada faktor cuaca dapat diatasi industri tapioka dengan diversifikasi produk, hal tersebut didukung dengan dekatnya lokasi perusahaan dengan pasar, baik di Bogor maupun Jakarta. Hal tersebut dapat memudahkan perusahaan memasarkan produk olahan yang dimilikinya. 3. Strategi WO a. Meningkatkan penggunaan sekaligus efisiensi teknologi dalam kegiatan produksi tapioka. Salah satu penyebab kalahnya mutu produk tapioka dari Desa Karang Tengah ialah kurang dimanfaatkannya teknologi dalam proses produksi. Ketika industri tapioka dari desa lain menggunakan teknologi, maka produksi akan meningkat tetapi hal tersebut akan mengurangi fungsi IK sebagai

penyerap tenaga kerja. Tetapi disisi lain, industri tapioka dapat bersaing dengan industri sejenis di desa lain dan permintaan tapioka dapat terpenuhi. b. Merelokasi sejak dini lokasi perusahaan yang menumpang pada lahan pihak lain. Lokasi perusahaan yang menggunakan lahan pihak lain seminimal mungkin harus dihindari. Oleh karena itu relokasi perusahaan harus dilakukan, karena apabila terjadi relokasi secara paksa oleh pemilik lahan maka hal itu akan merugikan pengusaha tapioka itu sendiri, dan akan menimbulkan biaya untuk membangun lokasi perusahaan yang baru. Sehingga perusahaan tidak akan bersaing dengan perusahaan yang sejenis dan permintaan akan tapioka tidak dapat terpenuhi. c. Mengajukan permohonan modal tambahan untuk peningkatan usaha baik kepada bank atau lembaga keuangan non bank. Modal merupakan permasalahan klasik pada IK. Modal untuk peningkatan usaha dapat diperoleh melalui bank atau pihak non bank seperti koperasi. Dengan mendapatkan modal tambahan, maka industri dapat berkembang dengan baik dan semua peluang yang menandakan akan meningkatnya permintaan tapioka dapat termanfaatkan. 4. Strategi WT a. Meningkatkan mutu SDM dengan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah maupun institusi pendidikan. Lemahnya SDM merupakan faktor penyebab kurang bisa bersaingnya industri tapioka pada khususnya dan pertanian pada umumnya. Lemahnya SDM merupakan penyebab kurangnya penyerapan teknologi atau solusi yang dilakukan

pemerintah

terhadap

industri

tapioka

pada

khususnya dan agribisnis pada umumnya. b. Bekerjasama dengan pemerintah dan atau pihak institusi pendidikan untuk mengembang alat pengering tapioka basah dan pelatihan pembuatan tapioka yang bermutu baik dan efisien. Faktor cuaca merupakan hal yang sangat menentukan keberlangsungan industri tapioka kasar. Sudah berpuluh tahun industri tapioka kasar hanya bergantung pada panas sinar matahari. Apabila cuaca panas, maka industri tapioka akan tetap berlangsung, tapi jika cuaca kurang baik atau hujan maka industri ini terancam tutup untuk sementara, padahal permintaan akan tapioka selalu ada. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah maupun institusi pendidikan bekerjasama untuk membuat alat pengering tapioka, sehingga industri tapioka tidak akan bergantung pada cuaca dan dapat memasok permintaan tapioka kasar setiap dibutuhkan. c. Pembuatan kelembagaan yang dapat melindungi para pengrajin dari kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi Kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi dan rendahnya SDM merupakan keadaan yang kurang menguntungkan bagi industri tapioka Desa Karang Tengah. Pembentukan kelembagaan atau usaha memperkuat fungsi koperasi dapat mengangkat daya tawar industri tapioka, selain itu juga berfungsi melindungi pengrajin dari harga yang terlalu rendah. Kelembagaan tersebut dapat berupa himpunan pengusaha tapioka atau sejenisnya.

Tabel 7. Matriks SWOT

Analisis Internal

Kekuatan (S)
1. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan. 2. Etos kerja dan disiplin yang tinggi. 3. Iklim kerja yang baik. 4. Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja. 5. Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Kelemahan (W)
Mutu SDM yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga yang kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Penggunaan teknologi masih minim. Pencatatan keuangan masih sederhana. Kesadaran pengembalian pinjaman pada sebagian pengusaha dan masyarakat relatif rendah.

Analisis Eksternal
Peluang (O)
1. Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kondisi ekonomi yang stabil Kurangnya ancaman dari produk pengganti.

Strategi S-O
1. Meningkatkan produksi perusahaan dengan memanfaatkan efektifitas dan efisiensi perusahaan (S1-S5,O2-O4) 2. Meningkatkan mutu produk dengan mempelajari faktorfaktor yang berpengaruh terhadap mutu.(S2&S5,O14) 1.

Strategi W-O
Meningkatkan penggunaan teknologi yang efisien dalam kegiatan produksi tapioka (W1&W5,O1-4) Merelokasi sejak dini lokasi perusahaan yang menumpang pada lahan pihak lain (W4,O1- 4) Mengajukan permohonan modal tambahan untuk peningkatan usaha baik kepada bank atau lembaga keuangan non bank (W2,O3)

2. 3. 4.

2.

3.

Ancaman (T)
1. 2. 3. 4. 5. Kurangnya peranserta dari pemerintah. Hambatan masuk industri relatif rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawarmenawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Rusaknya Infrastruktur 1.

Strategi S-T
Mempertahankan budaya dan etos kerja karyawan perusahaan (S2,T2) 2. Memperhatikan anggota keluarga yang lebih muda dalam merekrut karyawan (S4,W3) 3. Mengembangkan produk tapioka halus (S2S4,T2&T4) 4. Menciptakan diversifikasi produk olahan dari ubikayu (S5,W4,W5,W8) 1.

Strategi W-T
Meningkatkan mutu SDM dengan mengikuti pelatihan yang diadakan institusi pendidikan (W1,T1) Bekerjasama dengan pemerintah dan atau pihak institusi pendidikan untuk mengembang alat pengering tapioka basah dan pelatihan pembuatan tapioka yang bermutu baik dan efisien (W5&W8,T1) Pembuatan kelembagaan yang dapat melindungi

2.

6. 7.

3.

8.

Faktor cuaca

para pengrajin dari kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi (W1,T5)

4.2.5. Tahap Keputusan (Decision Stage) Analisis QSPM digunakan untuk mengevaluasi kemenarikan relatif (relative attractiveness) dari analisis yang dihasilkan oleh matriks IE, dan matriks SWOT. Proses pemilihan prioritas strategi berdasarakan kesepakatan antara Kepala Desa Karang Tengah, Ketua Tim Desa dan Pengusaha Tapioka yang memiliki kemampuan dalam memilih strategi. Beberapa alternatif strategi yang dipilih adalah : 1. Strategi diversifikasi konsentris 2. Strategi diversifikasi konglomerasi 3. Strategi pengembangan produk 4. Strategi penggunaan teknologi yang efisien 5. Strategi membangun kelembagaan Alternatif strategi lain yang tidak termasuk dalam daftar alternatif strategi di atas sudah termasuk ke dalam kesatuan strategi pilihan. Berdasarkan matriks QSP, maka nilai TAS tertinggi pada strategi strategi penggunaan teknologi yang efisien 5,515, berturutturut ialah strategi membangun kelembagaan 5,139, strategi pengembangan produk 5,029, strategi diversifikasi konsentris 4,917, sedangkan nilai TAS terendah ialah strategi diversifikasi konglomerasi 4,451. Dalam melaksanakan strategi, industri tapioka menyesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. Selain itu, harus dilakukan eveluasi secara terus-menerus agar IK tapioka di Desa Karang Tengah memiliki daya saing dan dapat bersaing dengan industri sejenis pada daerah lain.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan a. Desa Karang Tengah merupakan salah satu lokasi produksi ubikayu dan industri tapioka, tetapi pengelolaannya masih belum optimal, maka perlu dikembangkan. Proses pengembangan IK tapioka tersebut memerlukan sebuah strategi yang disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki oleh Desa Karang Tengah. Nilai pada matriks IFE 2,173, dengan kekuatan paling besar ditunjukkan oleh faktor iklim kerja yang baik (nilai 0,264), serta kelemahan terbesar diperoleh dari faktor mutu produk dan harga yang kurang bersaing (nilai 0,096). Nilai pada matriks EFE 2,321, peluang utama ialah faktor kurangnya ancaman dari produk pengganti (nilai 0,325) dan ancaman terbesar ialah faktor cuaca dan kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi (nilai 0,116). b. Pada matriks CP diketahui bahwa nilai Desa Karang Tengah didasarkan pada faktor penentu keberhasilan 2,239. Desa Cibuluh mendapatkan nilai 2,830, desa Ciluar mendapatkan nilai 3,112 dan Desa Kadumangu mendapatkan nilai 3,383. Pada matriks IE, posisi perusahaan terletak pada sel 5, berarti sebaiknya menggunakan strategi hold dan maintain, dengan pelaksanaan melalui strategi diversifikasi konsentrik, diversifikasi konglomerasi dan strategi pengembangan produk. c. Pada matriks QSP diperoleh beberapa alternatif strategi dari matriks IE dan SWOT, yaitu strategi dan diversifikasi strategi konsentrik, diversifikasi kelembagaan. konglomerasi, strategi pengembangan produk, strategi penggunaan teknologi yang efisien membangun Berdasarkan matriks QSP maka nilai TAS tertinggi pada strategi penggunaan teknologi yang efisien (5,515). 2. Saran a. Untuk menanggulangi kekuatan tawar-menawar pembeli yang sangat tinggi, perlu dibentuk kelembagaan yang beranggotakan para pengusaha tapioka khususnya di Desa Karang Tengah dan umumnya seluruh desa pemasok tapioka.

b. Faktor-faktor yang menentukan mutu sebaiknya dipelajari seperti teknologi, sanitasi dan selain itu kerjasama antara pemerintah dan intitusi pendidikan dengan IK tapioka untuk memberikan pelatihan tentang pembuatan tapioka yang baik sangat diperlukan. c. Industri tapioka di Desa Karang Tengah sebaiknya juga memperhatikan potensi lain yang dimilikinya seperti kopi, pisang maupun olahan ubikayu yang lain juga sangat layak untuk dikembangkan. Karena selain berpeluang untuk menjadi produk yang bernilai ekonomis lebih tinggi, pengolahan potensi tersebut relaif tidak terlalu tergantung pada faktorfaktor yang menjadi kelemahan dan ancaman dari pengolahan tapioka seperti faktor cuaca dan daya tawar pembeli yang pada saat ini dirasa terlalu tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2006 . Inflasi tahun 2006. http://www.bps.go.id. [24 April 2006] 2006 .

Populasi

tahun

2000.

http://www.bps.go.id/sector/population/table1.shtml. [24 April 2006] David, F. R. 2004. Manajemen Strategis : Konsep-konsep (Terjemahan). PT Indeks, Jakarta Departemen KUMKM. 2004. Rencana Strategis Pembangunan KUMKM. Departemen KUMKM RI, Jakarta. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Departemen Pertanian. 2003 Pedoman Pengolahan Ubikayu. Jakarta. Dinsi, V. 2004. Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian. LETS GO Indonesia, Jakarta. Dirgantoro, C. 2004. Manajemen Stratejik. Grasindo, Jakarta. Falcon, W.P., et al. 1986. Ekonomi Ubikayu di Jawa. Standford University Press bekerjasama dengan Penerbit Sinar Harapan. Jakarta Firdaus, H. 2004. Analisis Strategi Pemasaran Tapioka (Studi Kasus: Koperasi Pengrajin Tapioka Ciluar, Desa Pasir Laja Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Skripsi pada Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hafsah, M.J. 2003. Bisnis Ubikayu Indonesia. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta Husodo, S.Y. 2002. Membangun Kemandirian di Bidang Pangan : Suatu Kebutuhan Bagi Indonesia. Makalah pada Seminar Kemandirian Ekonomi Nasional. Pada tanggal 22 November 2002. Jakarta. LIPI. 2006. Tepung Tapioka. http://www.pdii.lipi.go.id , [20 Januari 2006]. Kesenja, Y.Y. 2005. Analisis Industri Kecil Tepung Tapioka di Bogor (Kasus: Industri Kecil Tepung Tapioka di Kelurahan Ciluar & Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor). Skripsi pada Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Kotler, P. 1999. Manajemen Pemasaran (Terjemahan). Ghalia Indonesia. Jakarta

Partomo dan Soejoedono. 2004. Ekonomi Skala Kecil/Menengah dan Koperasi. Ghalia Indonesia. Jakarta. Pearce, J.A dan Robinson, R. 1997. Manajemen Strategik : Formulasi, Implementasi dan Pengendalian. (Terjemahan). Binarupa Aksara. Jakarta. Purba, R.P. 2002. Analisis Pendapatan dan Nilai Tambah Pada Industri Kecil Tapioka (Kasus Industri Kecil Tapioka di Desa Ciparigi, Bogor Utara, Bogor). Skripsi pada Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Purnomo, H. 2003. Pengaruh Subtitusi Tepung Tapioka dan Tepung Kedelai Terhadap Kualitas Bakso. Agrivita vol.20 no.3. Jakarta. Sugiyono. 1999. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta. Jakarta Suhendar, H. 2002. Analisis Nilai Tambah dan Strategi Pengembangan Industri Kecil Tahu Sumedang (Studi Kasus di Bogor, Jawa Barat). Skripsi pada Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Suriawiria, H. U. 25 September 2002. Potensi Ubikayu. Kompas Cyber Media. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/25/iptek/pote30.htm [20 Januari 2006]. Umar, H. 2003. Strategic Management in Action. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Veriasa, T. O. 2005. Kajian Lapang di TWA. Gunung Pancar, Kabupaten Bogor. Di dalam : Hasil Belajar. Meminang Lawan Menjadi Kawan (Prosiding Shared Learning II); Taman Wisata Alam Gunung Pancar, 18-27 Agustus 2005. Bogor : CIFOR dan PILI-NGO Movement.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner penelitian

I. Pengrajin tapioka (IK tapioka) A. Identitas pengrajin dan Keluarga 1. Nama 2. Umur 3. Jenis Kelamin 4. Pendidikan Formal/Non Formal 5. Alamat 6. Jumlah Anggota Keluarga No. Nama Umur

: : : : : : L/P Pendidikan Pekerjaan

B. Informasi Umum Usaha 1. Bagaimana sejarah tapioka di desa ini ? siapa yang memulai ? mengapa memilih lokasi desa Karang Tengah ? 2. Sejak kapan Bapak/Ibu mengusahakan tapioka? 3. Bagaimana struktur organisasinya ? 4. Alasan memilih usaha tapioka ? 5. Sebelum mengusahakan tapioka, pernahkan mengusahakan tanaman produksi yang lain ? (Sebutkan....) 6. Usaha tapioka merupakan pekerjaan sambilan atau utama ? 7. Jelaskan kemudahan dan atau kesulitan dalam mengusahakan tapioka ! 8. Bagaimana prospek usaha tapioka ? 9. Bagaimana pemanfaatan pendapatan usahatani tapioka ? (kebutuhan primer atau sekunder) dan apakah mencukupi/tidak? 10. Apakah ada intervensi pemerintah dalam memajukan IK tapioka di desa Karang Tengah ? 11. Adakah pesaing dari desa lain ? jika ada, sejak kapan ? 12. Bagaimana kondisi pesaing tersebut ? (keunggulan dan kelemahan) 13. Apakah ada jalinan kerjasama yang berbentuk organisasi antar pengrajin tapioka di desa Karang Tengah ? mengapa ? 14. Mengapa anda memilih tempat disini ? 15. Apa kelebihan tapioka dari desa Karang Tengah ? C. Permodalan 1. Bagaimana memperoleh modal usaha ? 2. Berapa modal awal yang dibutuhkan dalam usaha ini ? 3. Berapa lama usaha ini mencapai Break Event Point ? D. Ketenagakerjaan 1. Darimana pengetahuan anda tentang pengolahan tapioka ?

Lanjutan Lampiran 1. 2. Berapa jumlah tenaga kerja dalam pabrik (rinci menurut jenis pekerjaan, jenis kelamin, umur dan pendidikan) ? 3. Bagaimana siklus kerja di pabrik ? 4. Berapa rataan jam kerja per hari ? (bedakan antara pria dewasa, wanita dewasa dan anak-anak) 5. Besarnya upah/gaji untuk pria dewasa, wanita dewasa dan anak-anak? (Sebutkan alasannya) ? 6. Cara pembayaran upah gaji ? Sebutkan jika lebih dari satu cara dan Adakah bonus/premi ? 7. Bagaimana cara merekrut tenaga kerja (jelaskan syarat yang diperlukan) ? 8. Dari mana saja asal pekerja itu ? 9. Dari desa setempat........orang (L/P atau anak-anak) 10. Dari luar desa..........orang (L/P atau anak-anak) 11. Adakah pendidikan/kursus tertentu yang diberikan kepada pekerja ? atau adakah keterampilan khusus yang harus dimiliki pekerja ? 12. Apakah ada pekerja yang memiliki pekerjaan lain? 13. Adakah perlindungan tenaga kerja ? dan bagaimana bentuknya ? 14. Apa masalah ketenagakerjaan yang dihadapi ? E. Perolehan input 1. Petani pemasok singkong: a. Siapa/darimana pemasok singkong ? b. Jumlah pemasok singkong ? c. Sudah langganan atau tidak ? 2. Apakah bapak/ibu mendatangi petani untuk memperoleh singkong ? bila tidak, bagaimana caranya ? 3. Bagaimana cara mengetahui tempat yang ada singkong ? 4. Berapa jumlah singkong yang ditampung/dibeli : a. Rataan perhari.... b. Jumlah terendah (kapan) ? c. Jumlah tertinggi (kapan) ? 5. Pertimbangan apa dalam menentukan jumlah yang ditampung/dibeli ? (demand pabrik, supply dari petani ) 6. Bagaimana fluktuasi jumlah yang ditampung (kenapa ) ? 7. Pernahkan mengalami over supply singkong dari petani (kenapa dan kapan) ? dan bagaimana mengatasinya ? 8. Jenis singkong yang ditampung/dibeli ? 9. Berapa harga singkong yang didapatkan dari petani (Rp/kg) a. Harga rataan ? b. Harga terendah ? (kapan dan kenapa) ? c. Harga ter tinggi ? (kapan dan kenapa) ? 10. Apakah singkong yang dibeli dalam bentuk kupasan ? 11. Apakah ada perbedaan harga beli untuk setiap jenis singkong yang dibeli ? bila ya, mengapa itu terjadi ? 12. Apakah ada perbedaan harga beli antara pemasok singkong ? bila ya mengapa itu terjadi ?

Lanjutan Lampiran 1. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Bagaimana fluktuasi harga beli singkong ? Bagaimana penentuan harga beli dan siapa yang menentukan ? Darimana memperoleh informasi harga ? Bagaimana pembayaran ke petani/pemasok singkong ? Bagaimana sarana transportasi yang ada ? Bagaimana ciri/karakteristik bahan baku yang bermutu ? apa efeknya terhadap tapioka yang diproduksi ? 19. Apakah ada kelas bahan baku ? F. Produksi 1. Bahan baku utama dan penunjang ? 2. Jumlah produksi pada awal beroperasi ? 3. Perkembangan jumlah produksi ? 4. Rataan kapasitas produksi sekarang ? 5. Produksi tertinggi dan terendah ? 6. Produksi secara kontinu atau pesanan ? 7. Jenis produk yang dihasilkan (utama dan sampingan) ? 8. Berapa jam kerja pabrik sehari, hari kerja pabrik dalam satu bulan dan berapa bulan dalam satu tahun ? 9. Sebutkan tahap-tahap proses produksi dan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam setiap tahap menurut jenis kelamin dan lama setiap tahap produksi ? 10. Gambarkan bagan organisasi produksi ! 11. Masalah/hambatan yang dirasakan dalam proses produksi (bahan baku, tenaga kerja, modal dan peralatan) ? 12. Pernahkah kesukaran dalam mendapatkan bahan baku ? kalau ada, sejak kapan dan kalau tidak ada, kenapa ? 13. Pernahkah mengalami kelebihan bahan baku (kapan dan mengapa) ? 14. Peralatan apa saja yang digunakan dalam industri ? G. Pemasaran output 1. Adakah proses promosi dalam pemasaran output ? 2. Jumlah output yang dijual...........kg 3. Harga jual (Rp/kg) 4. Output dijual kemana ? sebutkan alasannya? 5. Apakah penjualan output hanya kepada orang tertentu/langganan atau berubah-ubah menurut harga ? 6. Dimanakah penyerahan barang dilakukan ? 7. Adakah biaya angkut dan bongkar muat ? 8. Bagaimana fluktuasi harga output ? a. Berapa harga tertinggi dan kapan hal tersebut terjadi ? b. Berapa harga terendah dan kapan hal tersebut terjadi ? c. Berapa harga rataan ? 9. Siapa dan bagaimana yang menentukan harga output ? 10. Bagaimana cara pembayaran oleh pembeli ? 12. Jika disimpan :

Lanjutan Lampiran 1. a. Dimana disimpannya ? b. Berapa lama disimpan ? c. Berapa biaya penyimpanan ? d. Berapa susut berat/mutu ? e. Berapa susut harga ? 13. Adakah permasalahan/kesulitan dalam pemasaran output, jelaskan ! 14. Apakah terdapat hubungan tertentu antara pengrajin dengan pabrik atau pedagang perantara (misalnya, ikatan hutang dan kontrak) ? dan bagaimana aturan mainnya ? 15. Adakah intervensi pemerintah dalam pemasaran output ? II. Pihak pengambil kebijakan A. Identitas 1. Nama 2. Umur 3. Jenis Kelamin 4. Pendidikan Formal/Non Formal 5. Alamat 6. Jabatan 7. Jumlah Anggota Keluarga No. Nama Umur : : : : : : : L/P Pendidikan Pekerjaan

B. Kebijakan 1. Berapakah jumlah UK tapioka di desa Karang Tengah ? 2. Apakah pihak Desa/Kecamatan/Pemkab Bogor pernah memfasilitasi UK tapioka untuk melakukan pertemuan khusus ? 3. Apakah ada insentif/subsidi khusus kepada IK tapioka di desa Karang Tengah ? 4. Bagaimana menurut Anda tentang prospek IK tapioka di desa Karang Tengah ? 5. Apakah ada sebuah program pembinaan untuk IK tapioka ? jika ada, seperti apakah program tersebut ? 6. Pernahkan IK tapioka meminta bantuan permodalan kepada pihak pengambil kebijakan ? 7. Bagaimanakan hubungan antara pihak pengambil kebijakan dengan IK tapioka di desa Karang Tengah ?

Lampiran 2. Profil responden

No

Nama

Umur (tahun)

Alamat

Pendidikan

Jenis Kelamin

Rataan Kapasitas Produksi (kuintal/hari) 3 5 3 5 5 4 6 200

Jumlah Tenaga Kerja (orang) 3 4 5 4 4 4 6 20

Keterangan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

H. Mukti Mulyana H. Juhri Ukar H. Uki H. Rosyidin Neneng Achmad Sugih Ardi

51 32 60 45 50 55 50 40 45

RW 8 RW 1 RW 6 RW 9 RW 8 RW 5 RW 4 RW 1 Ds. Ciluar kec. Sukaraja Ds. Pasir Laja kec. Sukaraja -

SD SD SD SD SD SD SD Sarjana Sarjana

Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki

Pemilik penggilingan Karyawan penggilingan Pemilik penggilingan Pemilik penggilingan Pemilik penggilingan Pemilik penggilingan Pemilik penggilingan Kepala Desa Bagian pemasaran UD. Nagamas Pemilik UD. Anak Tani

10.

H. Idris

46

SLTA

Laki-laki

200

20

11.

Erwin Syarif

45

Sarjana

Laki-laki -

Staf Seksi Industri Agro dan Hasil Hutan Dinas Perindustrian Kab. Bogor

Lampiran 3. Penentuan bobot

PENENTUAN BOBOT

Tujuan : Mendapatkan penilaian para responden mengenai faktor-faktor strategik internal maupun eksternal industri, yaitu dengan cara memberikan bobot terhadap seberapa besar faktor tersebut dapat mempengaruhi atau membentuk keberhasilan pada IK tapioka di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Pentunjuk Umum : 1. Pengisian kuesioner dilakukan secara tertulis oleh responden. 2. Jawaban merupakan pendapat pribadi dari masing-masing responden. 3. Dalam pengisian kuesioner, responden diharapkan untuk melakukan secara langsung (tidak menunda) untuk menghindari inkonsistensi jawaban. 4. Responden berhak untuk menambahkan atau mengurangi hal-hal yang sudah tercantum dalam kuesioner ini, dengan responden lainnya atau dengan peneliti. Hal ini dibenarkan jika dilengkapi dengan alasan yang kuat. Petunjuk Khusus : 1. Alternatif pemberian bobot terhadap faktor-faktor strategik internal dan eksternal yang tersedia untuk kuesioner ini adalah : 1 = tidak penting 2 = kurang penting 3 = biasa 4 = penting 5 = sangat penting Pemberian bobot masing-masing faktor strategik dilakukan dengan memberikan tanda X menurut responden. 2. Penentuan bobot merupakan pandang masing-masing responden terhadap faktor-faktor strategik internal dan eksternal yang telah ditinjau pada tingkat kepentingan (1-5) yang paling sesuai

Lampiran 4. Penentuan bobot faktor strategik internal IK tapioka di Desa Karang Tengah

Bobot No 1. 2. 3. 4. 5. Faktor Internal Kekuatan Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Kelemahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. SDM yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Penggunaan teknologi yang masih minim. Pencatatan keuangan yang masih sederhana. Kesadaran pengembalian pinjaman sebagian pengusaha dan masyarakt yang relatif rendah. Rusaknya Infrastruktur 1 2 3 4 5

Lampiran 5. Hasil pengisian kuesioner pembobotan faktor internal industri* Bobot No Faktor Internal R1 R2 R3 R4 Rataan (R1-R4/4) Nilai Bobot**

Kekuatan
1. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Total 3 3 4 3 3,25 0,066

2.

5 5

4 4

3 3

4 4

4 4

0,081 0,081

3. 4.

0,061

5.

2,5

0,051

0,340

Kelemahan
1. Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga yang kurang bersaing. 5 5 5 4 5 4 4 4 5 4 5 5 4,25 4,75 4,75 0,086 0,096 0,096

2. 3.

Lanjutan Lampiran 5. Rataan No. Faktor Internal R1 Bobot R2 R3 4 4


(R1-R4/4)

Nilai Bobot **

R4 4 4 0,081

Kelemahan
4. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Penggunaan teknologi yang masih minim Pencatatan keuangan yang masih sederhana. Kesadaran pengembalian modal pada sebagian pengusaha dan masyarakat yang relatif rendah. Rusaknya infrastriktur Total Total 4

5.

0,081

6.

2,5

0,051

7.

4,25

0,086

8.

0,081 0,660

49,25

*) Hasil rataan dari responden 1-4 **) Penentuan bobot internal dilakukan oleh para ahli yang mengetahui keadaan industri tapioka Desa Karang Tengah, yaitu Kepala Desa Karang Tengah (Ahmad Sugih), Ketua Tim Desa (Suheri) dan pengusaha tapioka (Rosyidin dan Neneng).

Lampiran 6. Penentuan bobot faktor strategik eksternal IK tapioka di Desa Karang Tengah

Faktor Eksternal

Bobot 3

No
1. 2. 3. 4. Peluang Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Kondisi ekonomi yang stabil Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kurangnya ancaman dari produk pengganti. Ancaman Kurangnya peranserta dari pemerintah. Hambatan masuk industri relatif rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor cuaca

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Lampiran 7. Hasil pengisian kuesioner pembobotan faktor eksternal industri.* Bobot No Faktor Eksternal R1 R2 R3 R4 Rataan (R1-R4/4) Nilai Bobot**

Peluang
1. Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kondisi ekonomi yang stabil Kurangnya ancaman dari produk pengganti. 5 3 4 2 3,5 0,081

2.

3,25

0,075

3. 4.

1 2

3 5

4 4

3 4

2,75 3,75

0,064 0,087

Ancaman
1. Kurangnya peranserta dari pemerintah. Hambatan masuk industri relatif rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawarmenawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. 5 5 5 5 5 0,116

2.

0,069

3.

3,5

0,081

4.

0,116

5.

4,75

0,110

Lanjutan Lampiran 7. No. Faktor Eksternal R1 R2 R3 R4 Bobot Rataan (R1-R4/4) Nilai Bobot

Ancaman
6. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor cuaca Total 5 5 3 5 3 5 4 5 3,75 5 43,25 0,087 0,116 1, 000

7.

*) Hasil rataan dari responden 1-4 **) Penentuan bobot eksternal dilakukan oleh para ahli yang mengetahui keadaan industri tapioka Desa Karang Tengah, yaitu Kepala Desa Karang Tengah (Ahmad Sugih), Ketua Tim Desa (Suheri), dan pengusaha tapioka (Rosyidin dan Neneng).

Lampiran 8. Penentuan rating

PENENTUAN RATING

Tujuan : Untuk mendapatkan penilaian para responden mengenai faktor-faktor strategik internal maupun eksternal industri yaitu melalui pemberian rating terhadap seberapa besar faktor tersebut dapat mempengaruhi atau membentuk keberhasilan IK tapioka di Desa Karang Tengah. Petunjuk Umum : 1. Pengisian kuesioner dilakukan secara tertulis oleh responden. 2. Jawaban merupakan pendapat pribadi dari masing-masing responden. 3. Dalam pengisian kuesioner, responden diharapkan melakukan secara langsung (tidak menunda) untuk menghindari inkonsistensi jawaban. 4. Responden berhak untuk menambahkan atau mengurangi hal-hal yang sudah tercantum dalam kuesioner ini, dengan alasan yang jelas dan kuat. 5. Responden dapat memiliki pandangan berbeda mengenai suatu faktor dalam kuesioner ini, dengan responden lainnya atau dengan peneliti. Hal ini dibenarkan, jika disertai dengan alasan yang kuat. Petunjuk Khusus : 1. Alternatif pemberian rating terhadap faktor-faktor strategik internal (kekuatan) dan eksternal (peluang) yang bersifat positif adalah sebagai berikut : 1 = sangat lemah 2 = lemah 3 = kuat 4 = sangat kuat Sedangkan untuk faktor-faktor strategik internal (kelemahan) dan faktor strategik eksternal (ancaman) yang bersifat negatif adalah sebagai berikut : 1 = sangat sulit diatasi 2 = sulit diatasi 3 = mudah diatasi 4 = sangat mudah diatasi

Pemberian responden.

rating

masing-masing

faktor

strategik

dilakukan

dengan

memberikan pada tingkat kepentingan (1-4) yang paling sesuai menurut 2. Penentuan rating merupakan pandangan masing-masing responden terhadap kemampuan kegiatan industri tapioka di Desa Karang Tengah dalam menghadapi faktor-faktor stategik internal dan eksternal.

Lampiran 9. Penentuan rating faktor strategik internal IK tapioka di Desa Karang Tengah

Rating No 1. 2. 3. 4. 5. 1 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Faktor Internal Kekuatan Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Kelemahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga yang kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Penggunaan teknologi yang masih minim. Pencatatan keuangan yang masih sederhana. Kesadaran pengembalian pada sebagian pengusaha dan masyarakat yang relatif rendah. Rusaknya infrastruktur 1 2 3 4

Lampiran 10. Hasil pengisian kuesioner penilaian rating faktor internal industri. No Faktor Internal R1 Rating R2 R3 R4 Rataan Rating (R1-R4/4) 4 3 4 1 2 3 3 3 3 2 2 3 3 3 2 3 2 3 3 2 3 2,75 3,25 2,5 2

Kekuatan
1. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar

2. 3. 4.

5.

Kelemahan
1. 2. 3. Manusia (SDM) yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain Penggunaan teknologi masih minim Pencatatan keuangan masih sederhana. 2 1 1 2 2 1 2 3 1 2 2 1 2 2 1

4.

2,25

5. 6.

1 3

2 3

1 3

2 3

1,5 3

Lanjutan Lampiran 10. No Faktor Internal Rating R2 R3 3 2 Rataan R4 2 Rating (R1-R4/4) 2

Kelemahan
7. Kesadaran pengembalian pinjaman pada sebagian pengusaha dan masyarakat relatif rendah. Rusaknya infrastruktur

R1 1

8.

1,75

Lampiran 11. Penentuan rating faktor strategik eksternal IK tapioka di Desa Karang Tengah.

Rating No 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Faktor Eksternal Peluang Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Kondisi ekonomi yang stabil Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kurangnya ancaman dari produk pengganti. Ancaman Kurangnya peranserta dari pemerintah. Hambatan masuk industri relatif rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor cuaca 1 2 3 4

Lampiran 12. Hasil pengisian kuesioner penilaian rating faktor eksternal industri No Faktor Eksternal R1 Rating R2 R3 R4 Rataan Rating (R1-R4/4) 1 3 3 2 2,25

Peluang
1. Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kondisi ekonomi yang stabil Kurangnya ancaman dari produk pengganti.

2.

3,25

3. 4.

3 4

3 4

2 3

2 4

2,5 3,75

Ancaman
1. 2. 3. 4. Kurangnya peran serta dari pemerintah. Hambatan masuk industri relatif rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawarmenawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi 2 1 3 1 4 3 3 1 4 3 3 1 3 3 3 1 3,25 2,5 3 1

5.

1,75

6.

2,25

Lanjutan Lampiran 12. No Faktor Eksternal Rating R1 1 R2 1 R3 1 R4 1 Rataan Rating


(R1-R4/4)

Ancaman
7. Faktor cuaca

Lampiran 13. Kuesioner penelitian penentuan strategi terpilih dengan QSPM

KUESIONER PENELITIAN PENENTUAN STRATEGI TERPILIH DENGAN QSPM Tujuan : Untuk menentapkan kemenarikan relatif dari alternatif-alternatif strategi yang telah diperoleh melalui analisi matriks SWOT dan matriks IE, untuk menetapkan strategi yang terbaik untuk direkomendasikan kepada industri. Alternatif strategi pemasaran yang dihasilkan adalah : 6. Strategi diversifikasi konsentris, artinya ialah menambah produk atau jasa baru, namun terkait dengan produk lama. 7. Strategi diversifikasi konglomerasi, ialah menambah produk atau jasa baru yang tidak terkait dengan produk atau jasa yang lama. 8. Strategi pengembangan produk, adalah strategi yang berupaya meningkatkan penjualan dengan memperbaiki atau memodifikasi produk atau jasa yang sudah ada. 9. Strategi penggunaan teknologi yang efisien. 10. Strategi membangun kelembagaan, yaitu membangun kelembagaan yang dapat melindungi para pengrajin dari kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi. Petunjuk Pengisian : Tentukan Attractive Score (AS) atau daya tarik dari masing-masing faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) untuk masing-masing alternatif strategi sebagaimana disebut di atas dengan cara memberikan tanda ( ) pada pilihan bapak/Ibu. Pilihan AS pada isian berikut terdiri dari : 1 = tidak menarik 3 = secara logis menarik 2 = agak menarik 4 = sangat menarik

Lampiran 14. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi diversifikasi konsentrik No Faktor Internal Kekuatan 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Kelemahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. No SDM yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Penggunaan teknologi masih minim. Pencatatan keuangan masih sederhana. Kesadaran pengembalian pinajaman pada sebagian pengusaha dan masyarakt relatif rendah. Rusaknya infrastruktur Faktor Eksternal Peluang 1. 2. 3. 4. Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Kondisi ekonomi yang stabil Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kurangnya ancaman dari produk pengganti. Ancaman 1. 2. Kurangnya peranserta pemerintah. Hambatan masuk industri rendah. dari 2 relatif 3 2 3 2 3 2 4 2 3,25 3 3 3 2 2 3 3 2 3 3 3 2 2 4 3 2 2,5 3,25 3 2 2 1 3 2 2 2 1 2 2 1 3 2 2 2 2 2 1 1 3 1 2 2 2 2 2 1 3 2 2 2 1 2 1,75 1 3 1,75 2 2 1,5 Attractive Score R1 4 3 3 3 2 R2 4 3 3 3 1 R3 3 3 4 3 2 R4 4 3 3 3 2 3,75 3 3,25 3 1,75 Rataan
(R1-R4/4)

Lanjutan Lampiran 14. No. Faktor Internal Ancaman 3. 4. 5. 6. 7. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor cuaca Attractive Score R1 2 3 3 2 3 R2 2 4 3 2 3 R3 2 3 3 2 3 R4 2 3 3 2 3 Rataan
(R1-R4/4)

2 3,25 3 2 3

Lampiran 15. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi diversifikasi konglomerasi. No Faktor Internal Kekuatan 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Kelemahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. No SDM yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain.. Penggunaan teknologi masih minim. Pencatatan keuangan masih sederhana. Kesadaran pengembalian pinjaman pada sebagian pengusaha dan masyarakat relatif rendah. Rusaknya Infrastruktur Faktor Eksternal Peluang 1. 2. 3. 4. Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Kondisi ekonomi yang stabil Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kurangnya ancaman dari produk pengganti. Ancaman 1. 2. Kurangnya peran serta dari 1 pemerintah. Hambatan masuk industri relatif 2 rendah. 1 2 2 2 1 2 1,25 2 2 4 4 3 2 4 4 2 2 4 4 2 2 3 4 2 2 3,75 4 2,25 2 2 2 2 1 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1,25 2 2 1,5 2 1,75 Attractive Score R1 3 4 4 4 3 R2 3 4 4 3 3 R3 4 4 4 4 3 R4 4 4 4 3 3 Rataan
(R1-R4/4)

3,5 4 4 3,5 3

Lanjutan Lampiran 15. No. Faktor Internal Ancaman 3. 4. 5. 6. 7. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor Cuaca Attractive Score R1 2 1 2 2 1 R2 2 2 2 2 1 R3 2 1 2 2 1 R4 2 2 2 2 1 Rataan
(R1-R4/4)

2 1,5 2 2 1

Lampiran 16. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi pengembangan produk. No Faktor Internal Kekuatan 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Kelemahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 7. No SDM yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Penggunaan teknologi masih minim. Pencatatan keuangan masih sederhana. Kesaradan pengembalian pinjaman pada sebagian pengusaha dan masyarakat relatif rendah. Rusaknya infrastruktur Faktor Eksternal Peluang 1. 2. 3. 4. Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Kondisi ekonomi yang stabil Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kurangnya ancaman dari produk pengganti. Ancaman 1. 2. Kurangnya peranserta pemerintah. Hambatan masuk industri rendah. dari 2 relatif 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 3 2 2 3 4 2 2 3 3,25 2 2 1 3 2 2 2 2 1 1 3 2 2 2 2 1 1 3 1 2 1 2 1 2 3 2 2 2 1 1,25 1,25 3 1,75 2 1,75 1,75 Attractive Score R1 3 3 4 3 3 R2 3 4 4 4 3 R3 3 4 4 3 3 R4 3 3 4 3 3 Rataan
(R1-R4/4)

3 3,5 4 3,25 3

1,25

Lanjutan Lampiran 16. No. Faktor Internal Ancaman 3. 4. 5. 6. 7. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawar-menawar pembeli tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor cuaca Attractive Score R1 2 3 3 2 3 R2 2 4 3 2 3 R3 2 4 4 2 3 R4 2 4 4 2 3 Rataan
(R1-R4/4)

2 3,75 3,5 2 3

Lampiran 17. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada Strategi Penggunaan teknologi yang efisien dalam proses produksi. No Faktor Internal Kekuatan 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Kelemahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. No SDM yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga yang kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain.. Penggunaan teknologi yang masih minim. Pencatatan keuangan yang masih sederhana. Kesadaran pengembalian pinjaman sebagian pengusaha dan masyarakat yang relatif rendah. Rusaknya Infrastruktur Faktor Eksternal Peluang 1. 2. 3. 4. Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Kondisi ekonomi yang stabil Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kurangnya ancaman dari produk pengganti. 3 3 2 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3,25 2,5 3 2 1 4 2 3 2 3 2 1 4 2 3 3 2 2 2 4 3 3 2 3 2 1 4 3 3 3 3 2 1,25 4 2,5 3 2,5 2,75 Attractive Score R1 3 3 3 3 3 R2 3 4 3 2 2 R3 3 3 3 3 3 R4 3 3 3 3 3 Rataan
(R1-R4/4)

3 3,25 3 2,75 2,75

Lanjutan Lampiran 17. No. Faktor Internal Ancaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kurangnya peranserta dari 3 pemerintah. Hambatan masuk industri relatif 2 rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan 2 Kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor Cuaca 4 4 2 1 3 2 1 4 4 2 1 3 2 1 4 4 4 1 3 2 2 4 4 3 1 Attractive Score Rataan
(R1-R4/4)

3 2 1,5 4 4 2,75 1

Lampiran 18. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi pembuatan kelembagaan yang dapat melindungi para pengrajin dari kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi. No Faktor Internal Kekuatan 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Kelemahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. No SDM yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Penggunaan teknologi masih minim. Pencatatan keuangan masih sederhana. Kesadaran pengembalian pinjaman pada sebagian pengusaha dan masyarakt yang relatif rendah. Rusaknya infrastruktur Faktor Eksternal Peluang 1. 2. 3. 4. Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Kondisi ekonomi yang stabil Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kurangnya ancaman dari produk pengganti. Ancaman 1. Kurangnya pemerintah. peranserta dari 2 2 2 2 2 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 3 2 4 2 1 2 2 2 3 2 4 2 2 2 3 2 4 2 4 2 2 2 2 2 4 2 4 2 2 2 2,5 2 3,5 2 4 2 1,75 Attractive Score R1 4 3 4 3 3 R2 4 3 3 4 3 R3 4 3 4 4 3 R4 4 3 3 3 3 Rataan
(R1-R4/4)

4 3 3,5 3,5 3

Lanjutan lampiran 18. Hasil pengisian kuesioner QSPM untuk menentukan AS pada strategi pembuatan kelembagaan yang dapat melindungi para pengrajin dari kekuatan tawar-menawar pembeli yang terlalu tinggi. No Faktor Internal Ancaman 2. 3. 4. 5. 6. 7. Attractive Score R1 R2 3 2 1 2 2 1 R3 3 2 1 3 2 2 R4 2 2 1 2 2 1 Rataan
(R1-R4/4)

Hambatan masuk industri relatif 2 rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan 2 Kekuatan tawar-menawar pembeli yang tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor cuaca 1 2 2 1

2,5 2 1 2,25 2 1,25

Lampiran 19. Hasil matriks QSP No. Critical Success Factor Bobot Strategi Diversifikasi Konsentris AS 0,066 0,081 0,081 0,061 0,051 0,086 0,096 0,096 0,081 0,081 0,051 0,086 3,75 3 3,25 3 1,75 1,75 1 3 1,75 2 2 TAS 0,248 0,243 0,263 0,183 0,089 0,151 0,096 0,288 0,142 0,162 0,102 0,129 Strategi Diversifikasi Konglomerat AS 3,5 4 4 3,5 3 2 1,25 2 2 1,5 2 TAS 0,231 0,324 0,324 0,214 0,153 0,172 0,12 0,192 0,162 0,1215 0,102 0,151 Strategi Pengembangan Produk AS 3 3,5 4 3,25 3 1,25 1,25 3 1,75 2 1,75 TAS 0,198 0,284 0,324 0,198 0,153 0,108 0,12 0,288 0,142 0,162 0,089 0,151 Strategi Penggunaan teknologi yang efisien AS TAS 3 3,25 3 2,75 2,75 2 1,25 4 2,5 3 2,5 0,198 0,263 0,243 0,168 0,140 0,172 0,12 0,384 0,202 0,243 0,128 0,237 Strategi Membangun kelembagaan AS 4 3 3,5 3,5 3 2,5 2 3,5 2 4 2 TAS 0,264 0,243 0,284 0,213 0,153 0,215 0,192 0,336 0,162 0,324 0,102 0,151

1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Kekuatan Kontrol yang relatif mudah terhadap perusahaan Etos kerja dan disiplin yang tinggi Iklim kerja yang baik Tidak adanya kesulitan dalam merekrut tenaga kerja Kedekatan lokasi perusahaan dengan pasar Kelemahan SDM yang rendah. Terbatasnya modal. Mutu produk dan harga kurang bersaing. Sebagian lokasi industri menggunakan lahan pihak lain. Penggunaan teknologi masih minim. Pencatatan keuangan masih sederhana. Kesadaran pengembalian pinjaman sebagian pengusaha dan masyarakt yang relatif rendah.

1,5

1,75

1,75

2,75

1,75

Lanjutan Lampiran 19. 8. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Rusaknya infrastruktur Peluang Perubahan persepsi terhadap makanan alternatif pengganti nutrisi beras. Kondisi ekonomi yang stabil Semakin bertambahnya jumlah penduduk. Kurangnya ancaman dari produk pengganti. Ancaman Kurangnya peranserta dari pemerintah. Hambatan masuk industri relatif rendah. Kurangnya regenerasi kepemilikan Kekuatan tawar-menawar pembeli tinggi Tidak adanya kelembagaan yang mendukung industri tapioka. Kurangnya sarana telekomunikasi dan informasi Faktor cuaca Total 0,081 2 0,162 2 0,162 1,25 0,101 3 0,243 2 0,162

0,081 0,075 0,064 0,087 0,116 0,069 0,081 0,116 0,11 0,087 0,116

2,5 3,25 3 2

0,203 0,244 0,192 0,174 0,232 0,224 0,162 0,377 0,33 0,174 0,348 4,917

2 3,75 4 2,25

0,162 0,281 0,256 0,196 0,145 0,138 0,162 0,174 0,22 0,174 0,116 4,451

2 3 3,25 2

0,162 0,225 0,208 0,174 0,232 0,207 0,162 0,435 0,385 0,174 0,348 5,029

3 3,25 2,5 3

0,243 0,244 0,16 0,261 0,348 0,138 0,121 0,464 0,44 0,239 0,116 5,515

4 3 3 4

0,324 0,225 0,192 0,348 0,232 0,173 0,162 0,116 0,248 0,174 0,145 5,139

2 3,25 2 3,25 3 2 3

1,25 2 2 1,5 2 2 1

2 3 2 3,75 3,5 2 3

3 2 1,5 4 4 2,75 1

2 2,5 2 1 2,25 2 1,25

106