Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Leukore adalah cairan putih yang keluar dari liang sanggama secara berlebihan. Hal ini normal dialami oleh setiap wanita saat menjelang haid dan setelah haid. Terkadang bisa menimbulkan gangguan rasa nyaman bila keluanya berlebihan, terasa gatal dan berbau. Sebagian wanita yang mengalami leukore merasa terganggu apalagi di saat akan dan selesai melakukan hubungan seks dengan suaminya karena bisa memperbanyak keluarnya keputihan. Diagnosa dini dan intervensi yang operatif serta berkesinambungan untuk drainase atau ekstripasi adalah penting untuk menghindari akibat yang serius bahkan fatal. Dengan harapan wanita dengan leukore tidak mengalami komplikasi lebih lanjut, maka penulis tertarik mengambil kasus ini. 1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 mahasiswa komprehensif. 1.2.2 leukore leukore leukore Mengidentifikasi kebutuhan segera pada klein dengan Mengantisipasi masalah potensial pada klien dengan Tujuan khusus Melakukan pengkajian / pengumpulan data pada klien Mengidentifikasi masalah/ diagnosa pada klien dengan Tujuan Umum dapat melaksanakan asuhan kebidanan secara Setelah melakukan saham asuhan kebidanan pada klien dengan leukore

dengan leukore.

1.3 Metode Penulisan

Membuat rencana tindakan pada klien dengan leukore. Melaksanakan rencana asuhan pada klein dengan leukore Mengevaluasi asuhan pada klein dengan leukore.

Asuhan kebidananan : 1. Observasi Mengadakan pengamatan langsung pada klien 2. Wawacara Mengadakan tanya jawab langsung pada klien guna mengetahuai keluhan yang dirasakan oleh ibu, sehingga dapat memberikan asuhan yang tepat dan benar sesuai masalah yang ada. 3. Praktek Melakukan praktek langsung melalui pendekatan manajemen kebidanan 4. Studi Pustaka Membaca sumber buku yang dapat mendukung terlaksananya asuhan dan dapat membandingkan antara teori dan praktek . 1.4 Sistematikan Penulisan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Penulisan C. Metode Penulisan D. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Leukore B. Konsep Asuhan Kebidanan BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Pengkajian B. Identifikasi Diagnosa dan Masalah C. Antisipasi Masalah D. Identifikasi Kebutuhan Segera E. Intervensi F. Implementasi

G. Evaluasi BAB IV PETUTUP DAFTAR PUSTAKA BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Laukore / Flour Albus Leukore bukan penyakit melainkan gejela dan merupakan gejala yang paling sering kita jumpai dan genekologi. Secara normal, seorang wanita selalu mengeluarkan cairan dari kemaluannya yang berasal dari : 2.1.1 2.1.2 2.1.3 Transudat dinding vagina Lendir serviks Lendir kelenjar-kelejar Bartholini dan Skene.

1. Definisi Leukore / Fluor Albus a. Leukore adalah semua pengeluaran cairan alat gentalia yang bukan darah (Manuaba : hal 385) b. Leukore adalah cairan yang keluar dari vagina selain darah atau cairan normal vagina yang berlebihan (Kapita Selekta : 376) 2. Etiologi Leukore / Fluor Albus a. Ketidakseimbangan pada menstruasi, penyakit kencing manis, pemakaian obat-obata hormonal. b. c. d. e. Kelelahyan dan stress sehingga keasaman terganggu dan kuman-kuman yang dapat menyebabkan infeksi. Kurang bersihnya menjaga kebersihan dari terutama vagina Infeksi yang biasanya menimbulkan fluor yang berwarna kuning / hijau. Bertambahnya secret normal yang sifatnya jernih.

f. hepatic). g. endokrin.

Konstitusional : pada keadaan asthenia, anemia, nephritis kronis dan bandungan umum (decompensation cordis, Cirrhosis Kelainan endokrin seperti pada functional bleeding (kadar estrogen tinggi) pada kehamilan karena hydraemia dan pengaruh

h.

Infeksi a. Disebabkan oleh : - Kuman-kuman : streptococcus, staphylococcus, haemophilus vaginalis, becil coli. Protozoa : trichomonas vaginalis Fungus : monilia Cacing oxyuris (pada anak) Vulvitisvulvo vaginitis

b. Vaginitis (colpitis) Vagina pada wanita dewasa agak resisten terhadap infeksi yang ditimbulkan oleh : becil doserlein, micrococcus catarrhalis, basil coli. Kemungkinan infeksi lebih besar pada anak dan wanita dalam menopause (vaginitis senilis) c. Cervicitis Oleh gonococcus, staphylococ dan streptococ d. Endometritis Terutama terjadi kalau ada sisa palsenta atau neoplasema e. Salpingitis Gonococ, streptococ, stanpylococ, bae tbe. 3. Tanda dan Gejala Leukore Menyebabkan keluhan-keluahan seperti perasaan gatal Menimbulkan bau yang kurang sedap dan panas pada vulva

4. .a Vulva

Menimbulkan bercak-bercak pada celana (berwarna Keluar cairan yang lengket Asal Fluor

kuning atau hijau)

Sekret dalam vulva dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar Bartholini dan Skene. Sekret ini bertambah pada perangsangan misalnya sewaktu coitus. Kalau kelenjar-kelenjar tersebut diatas meradang misalnya karena infeksi dengan gonococcus, maka secret berubah menjadi fluor. .b Vagina Vagina tidak mempunyai kelenjar dan dibasi oleh cairan transudat dan oleh lendir dari serviks. PH dalam vagina kurang lebih 5 disebabkan karena kegiatan hasil doderlein yang mengubah glycogen yang terdapat dalam epitel vagina menjadi acidum lacticum. Dalm kehamilan cairan bertambah secara fisilogis. .c dipengaruhi Cervix hormon-hormon avarium baik kuantitas mapun Secret cervix yang normal bersifat jernih, liat dan alkalis. Secret ini kualitasnya. Secret bertambah juga pada infeksi (cervicitis) yang dipermudah kejadiannya oleh robekan cervix dan tumor cervix. .d Corpus Uteri Hanya menghasilkan secre pada fase post ovulatoir. Sekre bertambah pada endometri akut, kalau ada sisa plasenta, polip, nyoman dan carcinoma. 5. Komplikasi Leukore / Flour Albus Bila penyakit ini tidak segera diobati secara tuntas, maka infeksi dapat merembet ke rongga rahim kemudian saluran telur dan sampai keindung terlur dan akhirnya ke dalam rongga panggul sehingga menyebabkan kemandulan pada wanita, pruritus, dan condyloma acuminta di sekitar vulva. Pencegahan

Hindarilah pakaian dalam yang ketat dan tidak menyerap keringat Pilihlah pakaian dalam yang terbuat dari katun Perhatikan kebersihan daerah intim Jangan duduk di toilet umum jika tidak sangat terpaksa Gantilah pakaian dalam setiap hari. 6. .a femotal b. Pemeriksaan penunjang Nilai secret dinding vagina (warna, konsistensi,bau) Kertas indicator PH (n = 4-4,5) Swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis Kultur (bila perlu) Pewarnaan gram Serologi sifilis Tes pap smear Pemeriksaan Pemeriksaan Fisik Insepksi kulit perut bawah terutama perineum, anus Inspeksi rambut pubis Inspeksi dan palpasi genetalia eksternal Pemeriksaan speculum untuk vagina dan serviks. Pemerksaaan bimanual serviks Palpasi pembesaran kelenjar getah bening inguinal dan

dan KOH 10%

Konsep Asuhan Kebidanan Asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu pasien atau klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara: - Bertahap dan sistematis - Melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan

Manajemen Kebidanan menurut Varney, 1997 1. Pengertian Proses pemecahan masalah Digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah. Penemuan-penemuan keterampilan dalam yang logis. Untuk pengambilan suatu keputusan Yang berfokus pada klien. 2. Langkah-langkah I. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk memulai keadaan klien secara keseluruhan. II. Menginterpretasikan data untuk masalah. III. Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya. IV. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien. V. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya. VI. Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman. VII. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang dilakukan, mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif. * Langkah 1: Tahap Pengumpulan Data Dasar mengidentifikasi diagnosa atau rangkaian atau tahapan

Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Yang terdiri dari data subjektif data objektif. Data subjektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa. Yang termasuk data subjektif antara lain biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biopskologi spiritual, pengetahuan klien. Data objektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus. Data objektif terdiri dari pemeriksaan fisik yang sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tandatanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), pemeriksaan penunjang (laboratorium, catatan baru dan sebelumnya). * Langkah II : Interpretasi Data Dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. * Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi. * Langkah IV: Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. * Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. * Langkah VI : pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. * Langkah VII: Evaluasi Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar tetap terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap efektif jika memang benar dalam pelaksanaannya.

BAB III TINJAUAN KASUS 3.1 Pengkajian Data Anamnesa dilakukan pada tanggal : 14 November 2007 jam RSAL Ramelan Surabaya oleh Erna .a Data Subyektif 1. Biodata Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Alamat Nama Suami Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Alamat 2. Keluhan Utama Ibu mengatakan keputihan setelah berhubungan dengan suami, warna kehijauan,banyak, kental dan sedikit berbau. 3. Riwayat Penyakit Sekarang Ibu mengatakan mengalami keputihan setelah selesai berhubungan dengan suami serta merasa sakit saat buang air kecil. : Ny. R : 27 tahun : Islam : SMP : IRT :: Jl. Gembili II/4 : Tn M : 30 tahun : Islam : SMA : Wiraswasta :: Jl. Gembili II/4 : 10.00 WIB di

4. Riwayat Penyakit Yang lalu Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit apapun seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes serta penyakit lain yang dapat mempengaruhi atau memperparah keputihannya. 5. Riwayat penyakit keluarga Ibu mengatakan dari pihak ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun ataupun menahun seperti hipertensi, diabeters, penyakit jantung dll. 6. Riwayat Pernikahan Menikah Umur menikah Lama menikah 7. Riwayat Haid Manarche Lama haid Banyaknya Nyeri haid Siklus haid Fluor albus 8. Riwayat KB Ibu mengatakan sejak menikah belum pernah memakai KB apapun 9. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu 10. Nutris Pola Kebiasaan Sehari-hari : makan 3 x sehari, porsi sedang dengan komposisi : BAK 6-7x/ sehari dan merasa sakit BAB 1x/ Kebiassaan yang dilakukan ibu : nasi, aluk sayur dan terkadang buah, minum 7-8 gelas/ hari. Eliminasi : hari Istirahat Ibu mengatakan tidur siang 1-2 jam. Tidur malam 7-8 jam : 12 tahun : 7 hari : 2-3 pembalut / hari : tidak pernah : 28 hari : kehijauan, gatal, sedikit berbau, banyak, kental : 1 kali : 23 tahun : 1,5 bulan

Aktifitas

Ibu tidak bekerja dan di rumah menyapu,

mencuci mengepel serta melakukan pekerjaan rumah tangga yang lain. Personal Hygines Ibu mandi 2x/hari ganti baju dan sikat gigi setiap kali mandi. Ganti celana dalam setiap kali mandi dan basah Pola Hubungan Seksual Saat berhubungan dengan suami tidak memakai alat konstrasepsi apapun. 12. Pola psikologis budaya Psikososial Ibu bertanya apakah penyakit dapat disembuhkan dan apakah nanti ibu akan sulit untuk mendapatkan anak. Hubungan ibu dan keluarga terutama suami baik. Budaya Ibu tidak minum jamu-jamunya untuk mengobati keputihannya. 13. Pola spistual Ibu beragama islam, sholat 5 waktu dan mengerjakan ajaran agamanya. .b Data Obyektif 1. Pemeriksaan Umum Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan a. Kepala Muka : Baik : Composmentis : 120/80 mmHg : 60 x/menit : 36.8 C : 16x/ menit Inspeksi : rambut bersih, ikal, tidak rontok dan hitam : bentuk oval, wajah terlihat tegang, pucat

2. Pemeriksaan Fisik

Mata Hidung Telinga Mulut Leher Dada Perut

: simetris, konjujungtiva tidak pucat, selera tidak icterus : Simetris, tidak tampak pernafasan cuping hidung, tidak tampak secret. : Simetris tidak tampak serumen, tidak ada gangguan pendengaran : bibir basah, tidak tampak stomatitis tidak pucat : simetris, tidak tampak pembesaran kelenjer tyroid dan bendungan vena jugularis : payudara bersih, semetris, putting susu menonjol serta tidak tampak retraksi dinding dada. : simetris, tidak nampak luka bekas operasi cair, sedikit berbau, kulit perineum berwarna coklat, rambut pubis terlihat kotor terutama disekitar vulva.

Genetalia : terdapat pengeluaran pervaginam, berwarna kehijauan,

Ekstremitas : simentris, tidak oedema dan varises. b. Palpasi Leher Dada Perut Genetalia Inspekulo : Bentuk servix normal terdapat keputihan disekitar servix, servix tidak ada erosi dan tidak ada peradangan Bimanual servix : tidak ada nyeri goyang pada servix, tidak ada massa dan benjolan yang abnormal .c Asukultasi Dada Abdomen : tidak terdengar ronkhi dan wheezing : terdengar bising usus : tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid dan bendungan vena gujularis. : tidak terdapat benjolan yang abnormal pada payudara konsistensi lembek. : tidak ada massa dan benjolan yang abnormal

.II Dx Ds Do

Identifikasi Diagnosa dan Masalah : Ny. R dengan leukore 10 hari yang lalu : Ibu mengalami keputihan 10 hari, warna kehijauan, banyak, kental dan sediit berbau : Keluar darah putih dari vaginanya Inspekulo Warna kehijaun Sedikit berbau Konsitensi agak kental : Bentuk servix normal, terdapat keputihan disekitar servix servix tidak ada erosi dan tidak terdapat peradanan Bemanual servix Masalah Ds Do : Tidak ada nyeri goyang pada servix, tidak ada massa dan benjolan yang abnormal : Cemas sehubungan dengan keputihan dan nyeri saat berkemih : Ibu sering menanyakan tentang keputihannya apa dapat sembuh. : Wajah ibu tampak tegang Ibu sering bertanya pada petugas tentang masalah Ibu bertanya penyebab keputihannya. keputihannya

III. Antisipasi Masalah Potensial Infeksi Radang Panggul Ca servix

IV. Identifikasi Kebutuhan Segera KIE mengenai personal hygine terutama pada daerah genetalia ibu.

V.

Intervensi Dx : Ny R dengan leukore 10 hari yang selalu Tujuan : Setelah diberikan asuhan kebidanan diharapkan ibu dapat mengerti dengan keadaanya dan ibu kooperatif dalam menerapkan anjurkan petugas Kriteria hasil : Keluhan subyektif berkurang Intervensi Ibu merasa lebih nyaman Ibu tidak merasakan gatal pada daerah kemaluannya Keputihan tidak bertambah banyak Rasional Hubungan terapeutik menumbuhkan rasa percaya sehingga ibu lebih kooperatif Penjelasan yang baik dapat menambahkan pengetahuan ibu, jika pengetahuan ibu baik maka diharapkan ibu bersikap lebih kooperatif 3. Ajarkan pada ibu teknik aseptic dan septic 4. Anjurkan ibu untuk menggunakan celana dalam yang dapat menyerap keringat 5. Anjurkan ibu untuk menghentikan hubungan sex Tidak terjadi komplikasi yang lebih parah Terhindar dari infeksi dan memberi rasa nyaman Daerah ggenetalia tetap kering dan tidak lembab

Tanggal/Jam 14-11-2006 10.15

Intervensi 1. Lakukan pendekatan terapeatik pada ibu dan keluarga 2. Jelaskan keadaan ibu saat ini dan tindakan yang harus dilakukan

sementara waktu sampai penyebab keputihan ditemukan

6. Anjurkan pada pasien untuk ganti celana dalam tiap kali mandi dan basah 7. Anjurkan ibu untuk membersikah kemaluanya saat akan dan selesai berhubungan 8. Anjurkan ibu untuk sementara suaminya memakai kontrasepsi kondom 9. Anjurkan ibu dan suami untuk periksa ke laboratarium 10. Kolaborasi dengan tim medis

Menghindari keluarganya keputihan lebih banyak serta dapat memberi rasa nyaman Mencegah penularan penyakit pada pasangannya

Metode barier menghindari penularan penyakit pada suami

Memastikan penyebab terjadinya leukore Fungsi independent Masalah : Cemas sehubungan dengan keputihannya dan nyeri saat berkemih Tujuan : Ibu mengerti tentang konisi yang dialaminya Kriteria hasil : Secara verbal ibu mengatakan bawah rasa cemas akan keadaan dirinya sudah berkurang

Ibu tenang dan tidak banyak bertanya tentang kondisinya Wajah ibu tampak lega VI. Implementasi Dx : Ny R dengan leukore 10 hari yang lalu a. Melakukan pendekatan teraputik pada ibu dan keluarga dengan memperkenalkan diri, berbicara sopan serta mendengarkan semua keluhan pasien dengan rasa simpati sehingga pasien dapat kooperatif terdapat semua tindakan yang diberikan. b. Menjelaskan keadaan ibu saat ini dan tindakan yang harus dilakukan oleh ibu, sehingga pengetahuan ibu akan bertambah dan dapat melaksanakan semua yang dianjurkan petugas dengan sebaik-baiknya. c. Mengajarkan pada ibu teknik aseptic dan septic dengan melakukan vulva hygiene yaitu membersihkan genetalia dari arah depan ke belakang dengan air bersih dan sabun sehingga kuman dari anus tidak masuk ke lubang vagina d. Menganjurkan ibu untuk menggunakan celana dalam yang dapat menyerap keringat terutama dari bahan katun untuk menjaga daerah genetalia tetap kering / tidak lembab, karena media yang lembab merupakan media yang baik bagi berkembangnya kuman. e. f. Menganjurkan ibu untuk sementara waktu tidak berhubungan sex Menganjurkan pada pasien untuk ganti celana dalam tiap mandi sampai penyebab keputihan ditemukan dan basah untukmenghindari keluarnya keputihan lebih banyak serta dapat memberi rasa nyaman. g. Menganjurkan ibu untuk membersihkan kemaluannya saat akan dan selesai berhubungan untuk mencegah penularan penyakit pada pasangannya.

h.

Menganjurkan ibu untuk sementara suaminya memakai kontrasepsi

kondom sebagai metode barier yang dapat menghindari penularan penyakit dan suami juga untuk mengurangi pengeluaran keputihan pasca senggama i. j. Menganjurkan ibu dan suami untuk periksa ke labolatorium untuk Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi untuk memastikan penyebab terjadinya leukore kuman atau bakteri mengurangi bahkan menghilangkan keluhan subyektif pasien. Masalah : Cemas sehubungan dengan keputihan dan nyeri saat berkemih a. b. Memberi Memberi penjelasan kesempatan pada pada ibu ibu tentang untuk kondisinya dapat sembuh dengan perawatan dan pengobatan mengungkapkan perasannya dan sebagai petugas kesehatan harus mendengarkan dengan rasa empati sehingga dapat membantu meringankan beban pikiran c. Menganjurkan ibu untuk minum obat yang diberikan secara rutin yang telah diberikan dokter sehingga keputihan dapat berkurang sehingga akhirnya akan sembuh. d. Menganjurkan ibu untuk kontrol kembali apabila obatnya habis sewaktu-waktu bila ada keluhan lebih berat sehingga dapat mengetahui perkembangan penyakit ibu dan bisa segera diatasi apabila ada keluhan atau komplikasi lebih lanjut VII. EVALUASI Tanggal 14 November 2007 Pukul 10.30 WIB Dx : Ny. R dengan leukore 10 hari yang lalu S : ibu mengatakan telah mengerti dengan penjelasan petugas dan akan melaksanakan anjuran yang telah diberikan O : Wajah ibu tampak rileks A : Cemas tentang kondisinya dapat teratasi

P : lanjutkan intervensi Anjurkan untuk memakai kondom saat berhubungan sex Anjurkan ibu untuk minum obat sesuai petunjuk (metronidazol dan vagistin) Anjurkan ibu untuk kontrol 1 minggu lagi

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Didalam membuat suatu asuhan kebidanan diperlukan suatu pengkajian yang terarah dan spesifik, sehingga dapat mengankat suatu diagnosa yang mungkin timbul dan juga intervensi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi ibu. Dari pengkajian data pada Ny R didapatkan kesimpulan bahwa terjadi gangguan saat berhubungan suami istri dan nyeri saat berkemih. Kejadian yang dialami ibu ini terjadi selama 10 hari setelah melakukan hubungan seksual dengan suaminya. Untuk itu, kooperatif dari ibu dan keluarga serta tersedianya alat untuk melakukan pemeriksaan dan pertolongan, mempermudah tindakan yang akan dilakukan oleh penulis. Selama proses pengkajian, penulis tidak mengalami hambatan ataupun kesulitan. 4.2 Saran Intervensi secara menyeluruh yang melibatkan ibu dan suami akan Ketelitian dalam melaksanakan pengkajian akan mempermudah memberikan kemudahan dan perbaikan kondisi ibu. dalam menarik diagnosa / masalah yang ada sehingga kesalahan dalam penanganan dapat dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

Becker, Susan Martin, Standar Perawatan Pasien, Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, EGC: Jakarta 1998. Ramali, Ahmad. Kamus Kedokteran, Djambatan: Jakarta. 2000. Saifudin, Abdul Bari, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBP-SP : Jakarta 2000 UNPAD. Genekologi. Elstar Offset : Bandung. 1984 Woknojosastro, Hanifah. Ilmu Kebidanan. YBP-SP : Jakarta 2000.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT karena atas Berkah, Rahmat dan Hidayah-Nya, penulis bisa menyusun laporan proses belajar tentang Asuhan Kebidanan dengan Judul Asuhan Kebidanan Pada Ny R KB Suntik 3 bulan Dengan Leokorea di Ruang OK Kandungan RUMKITAL Dr. RAMELAN SURABAYA. Asuhan kebidanan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam rangka memenuhi tugas laporan atau lahan praktek. Dalam penulisan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang membentu dalam penyusunan. 1. Prof. DR. H.R. SOEDIBYO, H.P., dr. DTM selaku Direktur STIKES ABI Surabaya 2. LAKSAMANA Dr. M. GURITNO. S.MHS.DEA Selaku KARUMKITAL Dr. Ramelan Surabaya. 3. Dr. SUPRAYIONO SPOG.K. onk selaku KADEP KIA Dr Ramelan Surabaya 4. MALICHAH sekalu Kepala Ruang OK Kandungan 5. ANTIK WIDIYANTI, Amd.Keb selaku Pembimbing Ruang OK Kandungan 6. MAMAIK SKM. M.Kes selaku Pembantu Ketua II 7. HJ SRI MEKAR, SST, selaku Dosen Pembimbing di STIKES ABI Surabaya 8. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan moril maupun materi 9. Rekan-rekan mahasiswa AKBID STIKES ABI Surabaya yang telah memberikan motivasi dan masukan kepada penulis. Penulisa menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna karena itu penulis menerima kritik dan saran demi perbaikan laporan ini dan juga untuk laporan selanjutnya. Surabaya, November 2006

Penulis DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. KATA PENGANTAR...................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN............................................................................ Belakang ........................................................................................ n Penulisan ..................................................................................... de Penulisan ................................................................................... atika Penulisan ............................................................................... BAB II TINJAUAN TEORI.......................................................................... 2.1 Konsep Dasar Leukore / Fluor Albus ....................................... BAB III TINJAUAN KASUS........................................................................ 3.1 Pengkajian Data........................................................................ I. Identifikasi Diagnosa dan Masalah ........................................ II. Antisipasi Masalah Potensial ................................................. III. Identifikasi Kebutuhan Segera................................................ IV. Intevensi ................................................................................. V. Implementasi .......................................................................... VI. Evaluasi .................................................................................. BAB IV PENUTUP .......................................................................................

i ii iii 1 1 1 2 2 3 4 7 7 11 11 11 12 13 15 16

1.1...................................................................................................Latar 1.2...................................................................................................Tujua 1.3...................................................................................................Meto 1.4...................................................................................................Sism

4.1 Kesimpulan ................................................................................ 4.2 Saran .......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

16 16

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY R DENGAN LEUCOREA DI RSAL Dr. RAMELAN SURABAYA

OLEH: ERNA 430166

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ARTHA BODHI ISWARA PRODI D-III KEBIDANAN SURABAYA 2007