Anda di halaman 1dari 28

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) TERAPI OKUPASI DAILY ACTIVITY Topik Sasaran Hari/Tanggal Jam Tempat A.

LATAR BELAKANG Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008). Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2009). Salah satu kegagalan berkaitan dengan fungsi penurunan daya kemampuan pada lansia adalah penurunan fungsi kognitif yaitu demensia. Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara lain pada intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian, dan : Terapi Okupasi Daily Activity : Lansia yang berada di Wisma Himawari PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur. : Selasa, 20 November 2012 : 09.30 Wib s/d selesai : Ruang tamu wisma Himawari

kemampuan bersosialisasi (Arif Mansjoer, 2010). Saat ini kasus demensia telah melonjak tajam dengan semakin besarnya jumlah lansia di Indonesia. Bahkan demensia diperkirakan akan melonjak dalam beberapa dekade mendatang, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hingga kini saja terdapat 35,6 juta orang yang hidup dengan demensia pada 2010. Angka itu berpotensi meningkat hingga dua kali lipat menjadi 65,7 juta pada 2030 (menurut WHO di Swiss). Pada 2050, kasus demensia bisa meningkat tiga kali lipat hingga mencapai 115,4 juta (menurut WHO di Swiss). Saat ini jumlah penyandang demensia di Indonesia hampir satu juta orang. Sebagian besar demensia tipe Alzheimer yang gejala dininya berupa pelupa dan kesulitan visuospasial sering terlewatkan sehingga sulit mengetahui waktu pasti munculnya penyakit. Biasanya penyandang dibawa ke rumah sakit (RS) atau ke dokter karena penyakit lain, seperti stroke, diabetes, depresi, hipertensi, atau kolesterol. Ketika diperiksa dokter baru disadari telah ada proses demensia. Angka kejadian demensia di Asia Pasifik adalah 4,3 juta per tahun (2005) yang akan meningkat menjadi 19,7 juta per tahun pada 2050. Artinya, laju demensia adalah 1 kasus baru setiap 7 detik. Menurut penelitian Graff et al (2007), salah satu cara untuk mengoptimalkan fungsi kognitif lansia adalah dengan menggunakan terapi okupasi. Terapi okupasi merupakan suatu bentuk psikoterapi suportif berupa aktivitas-aktivitas yang membangkitkan kemandirian secara manual, kreatif, dan edukasional untuk penyesuaian diri dengan lingkungan dan meningkatkan derajat kesehatan fisik dan mental pasien. Terapi okupasi bertujuan mengembangkan, memelihara, memulihkan fungsi dan atau mengupayakan kompensasi / adaptasi untuk aktifitas sehari-hari, produktivitas dan luang waktu melalui pelatihan, remediasi, stimulasi dan fasilitasi. Terapi okupasi meningkatkan kemampuan individu untuk terlibat dalam bidang kinerja berikut: (1) aktivitas hidup sehari-hari (misalnya makan, mandi, toileting, mobilitas fungsional) dan kegiatan instrumental hidup sehari-hari (misalnya makan

persiapan, belanja, keuangan salah satu pelaksana) , (2) pekerjaan dan kegiatan produktif (misalnya mengurus orang lain, kegiatan pendidikan dan kejuruan), dan (3) luang untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang secara budaya berarti bagi individu dan orang lain yang signifikan mereka. Dalam rangka untuk menentukan etiologi disfungsi dalam satu atau lebih bidang kinerja, terapis okupasi menilai komponenkomponen berikut kinerja: sensorimotor, neuromusculoskeletal, motorik, kognitif, dan psikososial. Dengan diterapkannya terapi okupasi pada lansia diharapkan dapat mempertahankan fungsi kognitif lansia dengan mengembangkan, memelihara, memulihkan fungsi atau mengupayakan adaptasi aktifitas sehari-hari sehingga tercapainya kemandirian dan kesejahteraan lansia. Sengaja Co-ners mengambil jurnal ini karena setelah melihat kasus di lapangan, terutama di PSTW, khususnya wisma H, tempat Co-ners praktik, sudah banyak simbah-simbah yang mengalami demensia. Demensia yang dialami pun beragam mulai dari yang ringan hingga berat. Co-ners berharap dengan adanya jurnal ini dan bisa diaplikasikan, sehingga dapat menurunkan gejala psikologis pada klien di Wisma H. B. PENGERTIAN/ LANDASAN TEORI 1. DEMENSIA a. Definisi Dimensia Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara lain pada intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian, dan kemampuan bersosialisasi. (Arif Mansjoer, 2010) Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi vegetatif atau keadaan yang terjadi. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak, penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat terganggu. (Elizabeth J. Corwin, 2009).

Demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari -hari. Demensia merupakan keadaan ketika seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari hari (Nugroho, 2008). Jadi, Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian. Penyakit yang dapat dialami oleh semua orang dari berbagai latar belakang pendidikan maupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat perawatan khusus untuk demensia, namun perawatan untuk menangani gejala boleh dilakukan. b. Etiologi Dimensia Yang paling sering menyebabkan demensia adalah penyakit Alzheimer. Penyebab penyakit Alzheimer tidak diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik, karena penyakit ini tampaknya ditemukan dalam beberapa keluarga dan disebabkan atau dipengaruhi oleh beberapa kelainan gen tertentu. Pada penyakit Alzheimer, beberapa bagian otak mengalami kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel danberkurangnya respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak. Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi. Demensia sosok Lewy sangat menyerupai penyakit Alzheimer, tetapi memiliki perbedaan dalam perubahan mikroskopik yang terjadi di dalam otak. Penyebab ke-2 tersering dari demensia adalah serangan stroke yang berturut-turut. Stroke tunggal ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah disebut infark.

Demensia yang berasal dari beberapa stroke kecil disebut demensia multi-infark. Sebagian besar penderitanya memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan pembuluh darah di otak. Tiap penyakit yang melibatkan otak dapat menyebabkan demensia, misalnya: gangguan peredaran darah di otak, radang, neoplasma, gangguan metabolic, penyakit degenerative. Semua hal ini harus ditelusuri. Gejala atau kelainan yang menyertai demensia kita teliti. Sering diagnose etiologi dapat ditegakkan melalui atau dengan bantuan kelainan yang menyertai, seperti : hemiparese, gangguan sensibilitas, afasia, apraksia, rigiditas, tremor. c. Klasifikasi 1. Klasifikasi Menurut Umur: a) Demensia senilis (>65th) b) Demensia prasenilis (<65th) 2. Menurut perjalanan penyakit : a) Reversibel b) Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B c) Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb. 3. Pada demensia tipe ini terdapat pembesaran vertrikel dengan a) Gangguan gaya jalan (tidak stabil, menyeret). b) Inkontinensia urin. c) Demensia. 4. Menurut kerusakan otak : Demensia tipe Alzameir Dari semua pasien dengan demensia, 50-60% memiliki demensia tipe ini. Demensia ini di tandai dengan gejala : 1) Penurunan fungsi kongnitif dengan onset bertahap dan progresif meningkatnya cairan serebrospinalis, hal ini menyebabkan adanya :

2) 3)

Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afaksia, apraksia, Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru.

agnosia, gangguan fungsi eksekutif. Penyakit Alzheimer terbagi atas 3 stadium berdasarkan beratnya detorisasi intelektual, yaitu: a. Stadium I Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami. b. Stadium II Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya antara lain : Disorientasi gangguan bahasa (afasia) : penderita mudah bingung penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi. Dan ada gangguan visuospasial, c. menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%. Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun. Gejala klinisnya antara lain: Penderita menjadi vegetative. tidak bergerak dan membisu. daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak bisa mengendalikan buang air besar/kecil.

tidak mengenal keluarganya sendiri.

lain. d. Manifestasi Klinik 1. 2. 3.

kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang kematian terjadi akibat infeksi atau trauma

Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat

demensia, lupa menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas. minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali 4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri Seluruh jajaran fungsi kognitif rusak. Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek. Gangguan kepribadian dan perilaku, mood swings Defisit neurologik motor & fokal Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang Gangguan psikotik: halusinasi, ilusi, waham & paranoia Agnosia, apraxia, afasia ADL (Activities of Daily Living)susah Kesulitan mengatur penggunaan keuangan dan gelisah

15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.

Tidak bisa pulang ke rumah bila bepergian Lupa meletakkan barang penting Sulit mandi, makan, berpakaian, toileting Pasien bisa berjalan jauh dari rumah dan tak bisa pulang Mudah terjatuh, keseimbangan buruk Akhirnya lumpuh, inkontinensia urine & alvi Tak dapat makan dan menelan Koma dan kematian.

e. Pencegahan dan Perawatan Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya 1. 2. 3. adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti : Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif a. Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama. b. Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi 4. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat. 2. BPSD (Behavior and Psychological Symptoms of Dementia) a. Gangguan Perilaku 1) Disinhibisi alkohol dan zat adiktif yang berlebihan dilakukan setiap hari.

Perilaku berupa impulsive, mudah terganggu, emosi tidak stabil, memiliki wawasan yang kurang sehingga sering menhakimi, dan tidak mampu mempertahankan tingkat perilaku social sebelumnya. Gejala: menangis, euphoria, agresi verbal, agresi fisik terhadap orang lain dan benda-benda, perilaku melukai diri sendiri, disinhibisi seksual, agitasi motorik, campur tangan, impulsive, dan mengembara. 2) Agitasi Adalah aktivitas yang tidak pantas, baik secara verbal, vocal, atau motor.

3)

Wandering

Perilaku dapat berupa memeriksa (mencari care giver berulang kali), menguntit, berjalan tanpa tujuan, berjalan waktu malam, aktivitas berlebihan, mengembara, dan berulang kali mencoba meninggalkan rumah. 4) Reaksi ledakan amarah

Ledakan marah/ agresif dikaitkan dengan meningkatnay aktivitas dan perilaku agresif. Tidak ditemukan hubungan antara agresif dan penampilan sikap apati, depresi, atau kegelisahan. Perilaku agresif memberikan

kontribusi paling banyak terkait gejala non kognitif dan ledakan marah tibatiba. Reaksi bencana dapat ditimbulkan oleh gejala kognitif dan non kognitif seperti salah paham, halusinasi, dan delusi. b. Gangguan Psikologis 1) Gejala Mood a) Depresi Gangguan depresi dapat berupa mood depresi yang meresap dan anhedonia, pernyataan menyalahkan diri sendiri dan menyatakan ingin mati, serta ada riwayat keluarga depresi. b) Apati Apati ini menonjol pada demensia frontotemporal, Alzheimer serta kelumpuhan supranuclear progresif. Ditandai dengan minat kurang dalam aktivitas, DPD, penurunan interaksi social, ekspresi wajah, modulasi suara, respon emosional, dan inisiatif. c) Cemas Terjadi secara independen, ada ekspresi keprihatinan terhadap masalah keuangan, masa depan, kesehatan (memori mereka), kekhawatiran jauh dari rumah. 2) Gejala Psikotik a) Waham Biasanya untuk demensia tipe waham yaitu: (1) Barang kepunyaan sendiri telah dicuri (2) Rumah bukan milik sendiri (misidentifikasi) (3) Pasangan (pengasuh lain) adalah penipu (sindrom capras) (4) Pengabaian/ ditinggalkan (5) Ketidaksetiaan b) Halusinasi

Paling umum pada pasien demensia halusinasi yang terjadi yaitu visual, lebih banyak pada pasien dengan demensia moderat (sedang) dibanding ringan. Gambaran halusinasi biasanya berupa hewan atau orang. Pada demensia Lewy Body, kemungkinan juga mengalami auditori. c) Misidentifikasi Paling sering terjadi yaitu persepsi stimuli eksternal, terdiri dari: (1) Kehadiran orang di rumah pasien sendiri (Boarder Phantom Syndrome) (2) Kesalahan identifikasi diri pasien sendiri (tidak kenal bayangan diri di cermin) (3) Kesalahan identifikasi orang lain (4) Kesalahan identifikasi peristiwa di televisi (pasien mengimajinasikan peristiwa tersebut terjadi secara nyata) 3. Terapi Okupasi a. Pengertian Terapi Okupasi Terapi okupasi merupakan salah satu bentuk psikoterapi suportif yang penting dilakukan untuk meningkatkan kesembuhan pasien. Terapi okupasi (Occupational terapy) merupakan suatu ilmu dan seni dalam mengarahkan partisipasi seseorang untuk melaksanakan suatu tugas tertentu yang telah ditentukan dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat, meningkatkan kemampuan dan mempermudah belajar keahlian atau fungsi yang dibutuhkan dalam tahap penyesuaian diri dengan lingkungan. Juga untuk meningkatkan derajat kesehatan. Terapi okupasi adalah prosedur rehabilitasi yang di dalam aturan medis menggunakan aktivitas-aktivitas yang membangkitkan kemandirian secara manual, kreatif, rekreasional, edukasional, dan sosial serta industrial untuk memperoleh keuntungan yang diharapkan atas fungsi fisik dan respon-respon mental pasien.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan terapi okupasi, merupakan suatu bentuk psikoterapi suportif berupa aktivitas-aktivitas yang membangkitkan kemandirian secara manual, kreatif, dan edukasional untuk penyesuaian diri dengan lingkungan dan meningkatkan derajat kesehatan fisik dan mental pasien. b. Indikasi Terapi Okupasi Indikasi untuk terapi okupasi adalah sebagai berikut: 1) Seseorang yang kurang berfungsi dalam kehidupannya karena kesulitan-kesulitan 2) Kelainan tingkah yang laku dihadapi yang dalam terlibat mengintegrasikan dalam kesulitannya perkembangan psikososialnya. berkomunikasi dengan orang lain. 3) Tingkah laku yang tidak wajar dalam mengekspresikan perasaan atau kebutuhan yang primitif. 4) Ketidakmampuan menginterpretasikan rangsangan sehingga reaksi terhadap rangsangan tersebut tidak wajar. 5) Terhentinya seseorang dalam fase pertumbuhan tertentu atau seseorang yang mengalami kemunduran. 6) Seseorang yang lebih mudah mengekspresikan perasaannya melalui aktivitas daripada percakapan. 7) Seseorang yang merasa lebih mudah mempelajari sesuatu dengan cara mempraktekannya daripada membayangkannya. 8) Seseorang yang cacat tubuh yang mengalami gangguan dalam kepribadiannya. c. Fungsi Terapi Okupasi Fungsi terapi okupasi adalah sebagai berikut: 1) Sebagai perlakuan psikiatri yang spesifik untuk membangun kesempatan-kesempatan demi hubungan yang lebih memuaskan,

membantu pelepasan, atau sublimasi dorongan (drive) emosional, sebagai suatu alat diagnostik. 2) Terapi khusus untuk mengembalikan fungsi fisik, meningkatkan ruang gerak sendi, kekuatan otot, dan koordinasi gerakan. 3) Mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan, berpakaian, belajar menggunakan fasilitas umum (telepon, televisi, dan lain-lain), baik dengan maupun tanpa alat bantu, mandi yang bersih, dan lain-lain. 4) Membantu pasien untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan rutin di rumahnya dan memberi saran penyederhanaan (siplifikasi) ruangan maupun letak alat-alat kebutuhan sehari-hari. 5) Meningkatkan toleransi kerja, memelihara, dan meningkatkan kemampuan yang masih ada. 6) Eksplorasi prevokasional untuk memastikan kemampuan fisik dan mental pasien, penyesuaian sosial, dan ketertarikan, kebiasaankebiasaan kerja, keterampilan, dan potensial untuk dipekerjakan. 7) Sebagai suatu ukuran suportif dalam membantu pasien untuk menerima suatu periode kesembuhan atau masuk rumah sakit dalam jangka waktu yang lama. 8) Mengarahkan minat dan hobi agar dapat digunakan. d. Jenis Terapi Okupasi Okupasi terapi bergerak pada tiga area, atau yang biasa disebut dengan occupational performance yaitu, activity of daily living (perawatan diri), productivity (kerja), dan leisure (pemanfaatan waktu luang). Bagaimanapun setiap individu yang hidup memerlukan ketiga komponen tersebut. Individuindividu tersebut perlu melakukan perawatan diri seperti aktivitas makan, mandi, berpakaian, berhias, dan sebagainya tanpa memerlukan bantuan dari orang lain. Individu juga perlu bekerja untuk bisa mempertahankan hidup

dan mendapat kepuasan atau makna dalam hidupnya. Selain itu, penting juga dalam kegiatan refresing, penyaluran hobi, dan pemanfaatan waktu luang untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat disela-sela kepenatan bekerja. Semua itu terangkum dalam terapi okupasi yang bertujuan mengembalikan fungsi individu agar menemukan kembali makna atau arti hidup meski telah mengalami gangguan fisik atau mental. Jenis terapi okupasi yaitu: 1) Aktivitas Sehari-hari (Activity of Daily Living) Aktivitas yang dituju untuk merawat diri yang juga disebut Basic Activities of Daily Living atau Personal Activities of Daily Living terdiri dari: kebutuhan dasar fisik (makan, cara makan, kemampuan berpindah, merawat benda pribadi, tidur, buang air besar, mandi, dan menjaga kebersihan pribadi) dan fungsi kelangsungan hidup (memasak, berpakaian, berbelanja, dan menjaga lingkungan hidup seseorang agar tetap sehat) 2) Pekerjaan Kerja adalah kegiatan produktif, baik dibayar atau tidak dibayar. Pekerjaan di mana seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya biasanya menjadi bagian penting dari identitas pribadi dan peran sosial, memberinya posisinya dalam masyarakat, dan rasa nilai sendiri sebagai anggota yang ikut berperan. Pekerjaan yang berbeda diberi nilai-nilai sosial yang berbeda pada masyarakat. Termasuk aktivitas yang diperlukan untuk dilibatkan pada pekerjaan yang menguntungkan/menghasilkan atau aktivitas sukarela seperti minat pekerjaan, mencari pekerjaan dan kemahiran, tampilan pekerjaan, persiapan pengunduran dan penyesuaian, partisipasi sukarela, relawan sukarela. Pekerjaan secara individu memiliki banyak fungsi yaitu pekerjaan memberikan orang peran utama dalam masyarakat dan posisi sosial, pekerjaan sebagai sarana dari mata pencaharian, memberikan

struktur untuk pembagian waktu untuk kegiatan lain yang dapat direncanakan, dapat memberikan rasa tujuan hidup dan nilai hidup, dapat menjadi bagian penting dari identitas pribadi seseorang dan sumber harga diri, dapat menjadi forum untuk bertemu orang-orang dan membangun hubungan, dan dapat menjadi suatu kepentingan dan sumber kepuasan. 3) Waktu Luang Aktivitas mengisi waktu luang adalah aktivitas yang dilakukan pada waktu luang yang bermotivasi dan memberikan kegembiraan, hiburan, serta mengalihkan perhatian pasien. Aktivitas tidak wajib yang pada hakekatnya kebebasan beraktivitas. Adapun jenis-jenis aktivitas waktu luang seperti menjelajah waktu luang (mengidentifikasi minat, keterampilan, kesempatan, dan aktivitas waktu luang yang sesuai) dan partisipasi waktu luang (merencanakan dan berpatisipasi dalam aktivitas waktu luang yang sesuai, mengatur keseimbangan waktu luang dengan kegiatan yang lainnya, dan memperoleh, memakai, dan mengatur peralatan dan barang yang sesuai). e. Tahapan Terapi Okupasi Adapun tahapan terapi okupasi, antara lain: 1) Tahap Evaluasi Tahap evaluasi sangat menentukan bagi tahap-tahap berikutnya. Pada tahap awal ini mulai dibentuk hubungan kerjasama antara terapis dan pasien, yang kemudian akan dilanjutkan selama tahap terapi okupasi. Tahap ini juga disebut tahapan kognitif yang memfokuskan kemampuan pekerjaan yang berorientasi pada keterampilan kognitif. Tahap evaluasi dibagi menjadi 2 langkah. Langkah pertama adalah profil pekerjaan (occupational profile) dimana terapis mengumpulkan informasi mengenai riwayat dan pengalaman pekerjaan pasien, pola

hidup sehari-hari, minat, dan kebutuhannya. Dengan pendekatan clientcentered, informasi tersebut dikumpulkan untuk dapat memahami apa yang penting dan sangat bermakna bagi pasien saat ini, apa yang ingin dan perlu dilakukannya, serta mengidentifikasi pengalaman dan minat sebelumnya yang mungkin akan membantu memahami persoalan dan masalah yang ada saat ini. Langkah kedua adalah analisa tampilan pekerjaan (analysis of occupational performance). Tampilan pekerjaan yang dimaksud adalah kemampuan untuk melaksanakan aktivitas dalam kehidupan keseharian, yang meliputi aktivitas dasar hidup sehari-hari, pendidikan, bekerja, bermain, mengisi waktu luang, dan partisipasi sosial. Hal yang juga diperhatikan pada tahap awal atau kognitif ini adalah membangkitkan ide saat waktu luang pasien, mempelajari berapa banyak kemungkinan atau waktu yang dihabiskan, membandingkan beberapa kegiatan yang menyenangkan dibanding bekerja, mengatur waktu untuk hal yang menyenangkan (kebutuhan, pilihan, hambatan, dan minat), dan mengatur waktu diri sendiri. Keterampilan dasar yang diharapkan mendapatkan keterampilan, memproses keterampilan, menyalurkan keterampilan, dan ketegasan pasien. 2) Tahap Intervensi Tahap intervensi yang terbagi dalam 3 langkah, yaitu rencana intervensi, implementasi intervensi, dan peninjauan (review) intervensi. Rencana intervensi adalah sebuah rencana yang dibangun berdasar pada hasil tahap evaluasi dan menggambarkan pendekatan terapi okupasi serta jenis intervensi yang terpilih, guna mencapai target hasil akhir yang ditentukan oleh pasien. Rencana intervensi ini dibangun secara bersamasama dengan pasien (termasuk pada beberapa kasus bisa bersama

keluarga atau orang lain yang berpengaruh), dan berdasarkan tujuan serta prioritas pasien. Rencana intervensi yang telah tersusun kemudian dilaksanakan sebagai implementasi intervensi yang mana diartikan sebagai tahap keterampilan dalam mempengaruhi perubahan tampilan pekerjaan pasien, membimbing mengerjakan pekerjaan atau aktivitas untuk mendukung partisipasi. Langkah ini adalah tahap bersama antara pasien, ahli, dan asisten terapi okupasi. Implementasi intervensi terapi okupasi dapat dilakukan baik secara individual maupun berkelompok, tergantung dari keadaan pasien, tujuan terapi, dan lain-lain. Metode individual bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak informasi dan sekaligus untuk evaluasi pasien, pada pasien yang belum dapat atau mampu untuk berinteraksi dengan cukup baik didalam suatu kelompok sehingga dianggap akan mengganggu kelancaran suatu kelompok, dan pasien yang sedang menjalani latihan kerja dengan tujuan agar terapis dapat mengevaluasi pasien lebih efektif. Sedangkan metode kelompok dilakukan untuk pasien lama atas dasar seleksi dengan masalah atau hampir bersamaan, atau dalam melakukan suatu aktivitas untuk tujuan tertentu bagi beberapa pasien sekaligus. Sebelum memulai suatu kegiatan baik secara individual maupun kelompok maka terapis harus mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatunya juga yang perlu menyangkut pelaksanaan kegiatan tersebut. Pasien

dipersiapkan dengan cara memperkenalkan kegiatan dan menjelaskan tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut sehingga dia atau mereka lebih mengerti dan berusaha untuk ikut aktif. Jumlah anggota dalam suatu kelompok disesuaikan dengan jenis aktivitas yang akan dilakukan dan kemampuan terapis mengawasi. Sedangkan peninjauan intervensi diartikan sebagai suatu tahap

berkelanjutan untuk mengevaluasi dan meninjau kembali rencana intervensi sebelumnya, efektivitas pelaksanaannya, sejauh mana perkembangan yang telah dicapai untuk menuju target hasil akhir. Bilamana dibutuhkan, pada langkah ini dapat dilakukan perubahan terhadap rencana intervensi. 3) Tahap Hasil Akhir Tahap terakhir pada terapi okupasi adalah hasil akhir (outcome). Hasil akhir disini diartikan sebagai dimensi penting dari kesehatan yang berhubungan dengan intervensi, termasuk kemampuan untuk berfungsi, persepsi kesehatan, dan kepuasaan dengan penuh perhatian. Pada tahap ini ditentukan apakah sudah berhasil mencapai target hasil akhir yang diinginkan atau tidak. Jadi hasil akhir dalam bentuk tampilan okupasi, kepuasaan pasien, kompetensi aturan, adaptasi, pencegahan, dan kualitas hidup. f. Tahapan Terapi Okupasi Kelompok Setiap akan melakukan terapi okupasi kelompok harus direncanakan dahulu. Terapis melakukan kontrak kepada kelompok. Terapis dan kelompok mempertimbangkan tempat, lokasi yang kondusif, alat, dan bahan yang harus disiapkan. Adapun tahapan aktivitas terapi okupasi kelompok, yaitu: 1) Orientasi Orientasi sangat membantu pasien untuk mengikuti kelompok terapi. Tujuan orientasi adalah meyakinkan bahwa pasien mempunyai orientasi yang baik tentang orang, tempat, dan waktu. Orientasi memerlukan waktu kurang lebih 5 menit. Aktivitas yang dilakukan selama tahapan orientasi adalah terapis melakukan orientasi kegiatan yang akan dilakukan oleh kelompok terapi. 2) Tahap Pendahuluan (Introduction)

Tahap pendahuluan adalah tahap perkenalan baik dari terapis maupun pasien. Terapis memperkenalkan diri baru kemudian masing-masing pasien menyebutkan nama dan alamatnya. Cara yang biasa digunakan adalah dengan melemparkan balon yaitu pasien harus menyebutkan nama apabila mendapatkan bola yang telah dilempar. Setiap kali seorang pasien selesai memperkenalkan diri, terapis mengajak semua pasien untuk bertepuk tangan. Tahap pendahuluan memerlukan waktu 5-10 menit. 3) Tahap pemanasan (Warm-up activities) Setelah melakukan proses memperkenalkan diri, terapis mengajak pasien untuk aktivitas pemanasan (warm-up activities). Tahap ini memerlukan waktu 5-10 menit. Aktivitas yang digunakan adalah latihan fisik sederhana (simple physical exercise). Tujuannya adalah meningkatkan perhatian dan minat pasien melalui gerakan dasar tubuh dan agar pasien mampu mengikuti aturan atau instruksi sederhana seperti berputar, turunkan tangan, dan lain-lain. 4) Tahap aktivitas terpilih (selected activities) Tahap ini memerlukan waktu 10-20 menit. Mempertimbangkan kebutuhan kognitif, motorik, dan interaksi yang akan dikembangkan. Biasanya aktivitas yang dipilih adalah aktivitas dengan aturan sederhana dan aktivitas yang dilakukan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Terapis memberikan pujian setiap kali pasien selesai melakukan terapi okupasi dengan baik dan mengajak anggota kelompok bertepuk tangan. 5) Tahap Terminasi Tahap ini menandakan bahwa terapi okupasi akan berakhir. Terapis dan pasien mengumpulkan material (alat-bahan) bersama-sama dan mengadakan diskusi kecil tentang jalannya proses terapi okupasi.

4. Terapi Aktifitas Kelompok Terapi aktifitas kelompok adalah terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan, dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif. Metode Terapi Aktifitas Kelompok Metode yang digunakan pada terapi aktifitas kelompok (TAK) ini adalah metode: 1. Demonstrasi 2. Role model

TERAPI OKUPASI DAILY ACTIVITY PADA DEMENSIA Tujuan Untuk menurunkan tanda dan gejala dimensia melalui terapi okupasi Kriteria Anggota Klien sebagai anggota yang mengikuti terapi aktifitas kelompok ini adalah: 1. 2. 3. Klien yang mengalami dimensia baik ringan maupun sedang. Klien yang mau/ bersedia untuk mengikuti kegiatan TAK. Klien dapat diajak kerjasama (cooperative).

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Terapi Aktifitas Kelompok ini dilaksanakan pada: Hari, Tanggal Waktu Tempat : Selasa, 21 November 2012 : 09.30 s/d selesai WIB : Wisma Himawari PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur

Nama Klien dan Ruangan Klien yang mengikuti kegiatan berjumlah 4 orang, adapun nama-nama klien yang akan mengikuti TAK yaitu : No 1 2 3 4 5 Nama Pasien Ny. A Ny. N Ny. J Ny. T Ny. S Kondisi Klien saat ini Demensia Sedang Demensia Sedang Demensia Sedang Demensia Ringan (-) OA

Setting 1. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran

2. Tempat tenang dan nyaman

4 3 4 4 3 4 Keterangan : 1 : Leader 2 : Observer 3 : Fasilitator 4 : Peserta Petugas Pelaksana TAK No 1. 2. 3. 4. Nama Petugas I Made Budi Mustika Nur Vitasari Ros Saimon Rr. Fitriyana Kesumaningsih Penanggung Jawab Leader Observer Fasilitator Fasilitator

M E J A

Uraian Tugas Pelaksana a. Leader

Memimpin jalannya terapi aktifitas kelompok. Merencanakan, mengontrol, dan mengatur jalannya terapi. Menyampaikan materi sesuai tujuan TAK. Memimpin diskusi kelompok. Mencatat serta mengamati respon klien (dicatat pada format yang tersedia). Mengawasi jalannya aktifitas kelompok dari mulai persiapan, proses, hingga penutupan.

b. Observer

c. Fasilitator Membantu klien untuk menjembatani jika klien ada pertanyaan mengenai pemijatan yang dilakukan Alat dan Bahan 1. Baju 2. Teko 3. Gelas 4. Teh 5. Air Hangat 6. Sisir 7. Penutup kepala/jilbab 8. Cermin Metode 1. Demonstrasi 2. Role play Langkah kegiatan 1. Persiapan

a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan dimensia ringan atau sedang. b. Membuat kontrak dengan klien c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan 2. Orientasi a. Salam terapeutik Salam dari terapis kepada klien Perkenalkan nama dan panggilan terapis Menanyakan nama dan panggilan semua klien b. Evaluasi/validasi Menanyakan perasaan klien saat ini Menanyakan kondisi klien saat ini c. Kontak Topik Terapis menjelaskan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu menjelaskan cara penatalaksanaan terapi okupasi daily activity. Waktu Lama kegiatan 45 menit Terapis menjelaskan aturan main berikut o Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok harus minta izin kepada terapis o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai 3. Tahap kerja a. Mengucamkan salam b. Meminta klien duduk dengan nyaman c. Mempersiapkan alat dan bahan d. Menjelaskan dan demonstrasikan cara melipat baju, cara berhias/berdandan, dan cara membuat teh

e. Menganjurkan peserta untuk mendemonstrasikan cara berhias/berdandan, dan cara membuat teh

melipat baju, cara

f. Mempersilahkan peserta satu per satu untuk mengevaluasi hasil demonstrasi peserta lain. g. Mengevaluasi jalannya terapi h. Mengucapkan salam 4. Tahap terminasi a. Evaluasi Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok b. Tindak lanjut Menganjurkan semua klien untuk lebih aktif lagi menggikuti kegiatan dipanti seperti keterampilan, dendang ria, dan senam karena dapat membantu mengguranggi tanda dan gejala dari dimensia. Evaluasi dan Dokumentasi Evaluasi Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja, aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Dokumentasi Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti TAK penatalaksanaan demensia ringan dan sedang dengan menggunakan terapi okupasi daily activity. Klien mampu menceritakan pengalaman setelah dilakukan terapi.

DAFTAR PUSTAKA Efendi, Ferry & Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika Elizabeth.J.Corwin. 2009. Buku Saku : Patofisiologi. Ed.3. Jakarta: EGC. Graff, MJ L; Vernooij-Dassen, MJM; Thijssen,A; Dekker, Joost; Willibrord H L, Hoefnagels, MGM; Rikkert, Olde. 2007. Community Based Occupational Therapy For Patients With Dementia And Their Care Givers: Randomised Controlled Trial . BMJ; 333(7580): 1196. Mansjoer Arief. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta : Media Aesculapius Maryam, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan perawatannya. Jakarta: Salemba Medika Smeltzer, Suzanne; and Benda G Bare. (2008), Buku Saku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC Voigt-Radloff, S, Graff M, Leonhart R, Schornstein K, Jessen F, Bohlken J, Metz B, Fellgiebel A, Dodel R, Eschweiler G, Vernooij-Dassen M, Olde Rikkert M, Hll M. 2010. A Multicentre Rct On Community Occupational Therapy In Alzheimer's Disease: 10 Sessions Are Not Better Than One Consultation. BMJ Open 1(1):e000096.

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) TERAPI OKUPASI DAILY ACTIVITY DI WISMA HIMAWARI PSTW YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR

Oleh :

I Made Budhi Mustika Nur Vitasari Ros Saimon Rr. Fitriyana Kesumaningsih

3212014 3212022 3212026 3212027

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN III SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA 2012 Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta Telp (0274) 434200

LEMBAR PENGESAHAN

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) TERAPI OKUPASI DAILY ACTIVITY DI WISMA HIMAWARI PSTW YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR

Disahkan pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

Nama dan Tanda Tangan Mahasiswa 1. I Made Budhi Mustika 2. Rr. Fitriyana Kesumaningsih 3. Nur Vitasari 4. Ros Saimon .. .. ..

..