ANALISIS RTWP PADA JARINGAN 3G

AXIS MENGGUNAKAN PERANGKAT
LUNAK LMT

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
DI PT. TRIMBA ENGINEERING

Oleh
Joko Pratomo Adi
NIM: 091344013







PROGRAM DIPLOMA D4
PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI NIR-KAWAT
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2012
i

HALAMAN PENGESAHAN

ANALISIS RTWP PADA JARINGAN 3G AXIS MENGGUNAKAN
PERANGKAT LUNAK LMT DI PT. TRIMBA ENGINEERING



Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Praktek Kerja Lapangan
Pada Program Diploma D4
Program Studi Teknik Telekomunikasi
Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Bandung



Oleh
Joko Pratomo Adi
NIM: 091344013



Bandung, Januari 2013
Telah diperiksa dan disetujui oleh:


Pembimbing I Pembimbing II




Ir. Enceng Sulaeman, MT Mochammad Arief Setiawan
NIP. 19641110 199403 1 002 Regional Manage West Java

ii

ABSTRAK
Gejala interferensi sulit untuk tidak dikaitkan dengan teknologi
telekomunikasi bergerak. Level interferensi yang kuat dapat mengakibatkan QoS
(Quality of Service) menjadi buruk dan akan berdampak besar pada layanan yang
diberikan kepada pelanggan sehingga akhirnya apabila tidak cepat ditangani akan
merugikan pihak operator. Untuk mencegah hal itu terjadi, pihak operator
bekerjasama dengan subkontraktor telekomunikasi melakukan pemeliharaan
terhadap jaringan 3G baik preventive maintenance maupun corrective
maintenance. PT. Trimba Engineering sebagai pihak subkontraktor memiliki
tanggungjawab managed service (manajemen pelayanan) untuk menjaga
ketersediaan jaringan 3G agar tetap baik, termasuk mencegah atau pun mengatasi
interferensi uplink.
RTWP (Received Total Wideband Power) merupakan total daya terima pada
jaringan W-CDMA (NodeB), mencakup noise yang diterima yang dihasilkan dari
penerima. Nilai RTWP ini dapat dijadikan suatu indikator/parameter sebagai
acuan suatu site mengalami interferensi uplink atau tidak serta untuk membantu
analisis dan solusi penanganan interferensi uplink pada site yang bersangkutan.
Kata kunci: interferensi uplink, preventive maintenance, corrective maintenance,
RTWP, W-CDMA, NodeB














iii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Praktek Kerja
Lapangan dengan judul “Analisis RTWP pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan
Perangkat Lunak LMT”. Tak lupa shalawat serta salam terlimpah kepada Rasulullah
Muhammad SAW, kerluarga, sahabat, serta seluruh umatnya di muka bumi ini.
Laporan Praktek Kerja Lapangan ini disusun untuk memenuhi salah satu
syarat dari mata kuliah Praktek Kerja Lapangan pada Semester 7 di Program Studi
Teknik Telekomunikasi D4 Politeknik Negeri Bandung.
Selama proses penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapangan ini, penulis
menerima banyak bantuan dari berbagai pihak, baik berupa dukungan moral
maupun moril. Sehingga ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada:
1. Bapak Mochammad Arif Setiawan selaku Regional Manager West Java PT.
Trimba Engineering yang telah mengizinkan kami melaksanakan program
Praktek Kerja Lapangan di tempatnya serta bersedia membimbing dan
memberikan arahan.
2. Bapak Asep Weli selaku Project Manager AXIS West Java PT. Trimba
Engineering yang telah mengizinkan kami ikut serta pada projek AXIS West
Java serta bersedia menjadi pembimbing industri dan meluangkan sedikit
waktunya untuk memberikan petunjuk yang membangun.
3. Bapak Ir. Enceng Sulaeman yang bersedia menjadi dosen pembimbing serta
telah sudi membaca dan memberikan petunjuk, ilmu, serta nasehat kepada
penulis dalam menyelesaikan penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapangan.
4. Bapak Willy selaku PIC MS Bandung Utara dan Mas Arif selaku PIC MS Bandung
Inner yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama berada di
lapangan.
5. Bapak Wardani, Mas Ghofur, Mas Buchori, serta staff TOC lainnya yang telah
bersedia berbagi kursi dan pengetahuan mengenai monitoring network AXIS
West Java.
6. Rekan-rekan praktek kerja lapangan Ranger Trimba yang telah bersama-sama
berjuang dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan.
7. Dan semua pihak yang telah membantu yang penulis tidak dapat sebutkan satu
per satu dalam laporan Praktek Kerja Lapangan ini.
Tanpa bantuan pembimbing dan rekan-rekan yang berharga, laporan
praktek kerja lapangan ini akan jauh kurang lengkap. Walaupun demikian, semua
iv

kekurangan dan kesalahan pada penyusunan laporan praktek kerja lapangan ini
adalah karena kelalaian penulis sendiri. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penulis di masa depan.
Semoga laporan kerja praktik ini akan ada manfaatnya.
Bandung, Januari 2013



Penulis



























v

DAFTAR SINGKATAN

2G = Second Generation Technology
3G = Third Generation Technology
3GPP = The 3rd Generation Partnership Project
AMPS = Advanced Mobile Phone System
AUC = Authentication Center
BER = Bit Error Rate
BSC = Base Station Controller
BTS = Base Transceiver Station
CDMA = Code Division Multiple Access
CEPT = Conference Europeance d’Administration de Post et Telecommunication
CME = Civil Mechanical Electrical
CN = Core Network
CSSR = Call Setup Success Rate
DCS = Digital Cellular System
DECT = Digital Enhanced Cordless Telecommunications
EDGE = Enhanced Data Rates for GSM Evolution
ETSI = European Telecommunication Standard Institute
FCC = Federal Communication Commission
FLM = First Level Maintenance
GGSN = Gateway GPRS Support Node
GMSC = Gateway MSC
GPRS = General Packet Radio Service
GPS = Global Positioning System
GSM = Global System for Mobile Communication
HC = Handover Control
HLR = Home Location Register
HSCSD = High-Speed Circuit-Switched Data
HSDPA = High Speed Downlink Packet Access
IBC = In-Building Coverage
IMT-2000 = International Mobile Telecommunications-2000
ITU = International Telecommunication Union
K3 = Keselamatan dan Kesehatan Kerja
LAN = Local Area Network
LMT = Local Maintenance Terminal
MDF = Main Distribution Frame
ME = Mobile Equipment
MS = Managed Service
MSC = Mobile Services Switching Center
vi

NF = Noise Figure
NMT = Nordic Mobile Telephony
NOC = Network Operation Center
PC = Power Control
PDH = Plesiochronous Digital Hierarchy
PHS = Personal Handy-phone System
PIC = Person In Charge
PSTN = Public Switched Telephone Network
QoS = Quality of Service
R99 = Release99
RF = Radio Frequency
RNC = Radio Network Controller
RNS = Radio Network System
RSSI = Received Signal Strength Indicator
RTO = Request Timed Out
RTWP = Received Total Wideband Power
SDH = Synchronous Digital Hierarchy
SGSN = Serving GPRS Support Node
SLA = Standard Level Agreement
SMS = Short Message Service
SOC = Service Operation Center
TACS = Total Access Communication System
TMA = Tower Mounted Amplifier
TOC = Trunk Operation Center
TT = Trouble Ticket
UE = User Equipment
UMTS = Universal Mobile Telecommunication Service
USIM = UMTS Subscriber Identity Module
UTRAN = UMTS Terrestrial Radio Access Network
VLR = Visitor Location Register
WARC = World Administrative Radio Conference
W-CDMA = Wideband-Code Division Multiple Access
WiMAX = Worldwide Interoperability for Microwave Access
WLAN = Wireless LAN




vii

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... i
ABSTRAK ....................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ............................................................................ iii
DAFTAR SINGKATAN ........................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR............................................................................... x
DAFTAR PERSAMAAN ......................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................1
1.1 Latar Belakang ......................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................2
1.3 Batasan Masalah ....................................................................2
1.4 Tujuan dan Manfaat ................................................................2
1.4.1 Tujuan ..........................................................................2
1.4.2 Manfaat .........................................................................3
1.5 Sistematika Penulisan ..............................................................3
BAB II PROFIL PERUSAHAAN ..................................................................4
2.1 Sejarah Singkat PT. TRIMBA Engineering ........................................4
2.2 Bidang Usaha ........................................................................4
2.3 Daftar Alat Ukur ....................................................................6
2.4 Struktur Organisasi .................................................................7
2.5 Pengalaman Perusahaan ...........................................................8
2.6 Pelanggan Perusahaan ........................................................... 12
BAB III DASAR TEORI ......................................................................... 13
3.1 3G ................................................................................... 13
3.1.1 Sejarah dan Perkembangan 3G ............................................ 14
3.1.2 Arsitektur Jaringan 3G ..................................................... 15
3.2 Managed Service .................................................................. 17
3.2.1 Preventive Maintenance ................................................... 18
viii

3.2.2 Corrective Maintenace ..................................................... 18
3.3 Interferensi ........................................................................ 18
3.3.1 Sumber dan Jenis Interferensi ............................................ 19
3.3.2 Pengaruh Interferensi Uplink .............................................. 20
3.4 RTWP ............................................................................... 20
3.4.1 Akurasi dan Kesalahan RTWP .............................................. 20
3.4.2 Pengaruh RTWP .............................................................. 22
3.5 VSWR ............................................................................... 23
3.5.1 Koefisien Pantulan Tegangan pada Beban ............................... 25
3.5.2 Return Loss .................................................................. 27
3.5.3 Reflected Power (Daya Pantul) ........................................... 27
BAB IV PROSEDUR PENANGANAN INTERFERENSI PADA JARINGAN 3G AXIS
MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK LMT ................................................ 28
4.1 Alarm RTWP pada iManager M2000 ............................................ 29
4.2 Mengumpulkan Data dan Mengkonfirmasi Interferensi Uplink ............. 31
4.3 Analisis Sumber dan Lokasi Interferensi ....................................... 35
4.3.1 Memeriksa Konfigurasi pada RNC atau NodeB (Configuration Issue) 36
4.3.2 Hardwared Issue (Kesalahan Instalasi atau Perangkat) ................ 36
4.3.3 Interferensi Eksternal ...................................................... 42
BAB V PENUTUP .............................................................................. 46
5.1 Kesimpulan ........................................................................ 46
5.2 Saran ............................................................................... 46
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 47









ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Daftar Alat Ukur ...................................................................6
Tabel 2.2 Pengalaman Perusahaan .........................................................8
Tabel 2.3 Daftar Pelanggan ................................................................ 12
Tabel 3.1 Persyaratan Akurasi Absolut ................................................... 21
Tabel 3.2 Persyaratan Akurasi Relatif .................................................... 21
Tabel 3.3 Pelaporan Pemetaan Total Daya Terima Wideband yang Terukur ....... 21



























x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Logo PT. TRIMBA Engineering .................................................4
Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT. Trimba Engineering ................................7
Gambar 3.1 Perangkat BTS 2G/3G (UMTS) AXIS di Atas Gedung ...................... 14
Gambar 3.2 Arsitektur Jaringan 3G ...................................................... 15
Gambar 3.3 Tampilan RTO saat Terjadi Penurunan Kecepatan Transfer Data ..... 20
Gambar 3.4 TMA pada sebuah BTS ....................................................... 23
Gambar 3.5 Gelombang Tegangan Berdiri ............................................... 24
Gambar 3.6 Kondisi Impedansi Beban terhadap Impedansi Saluran Transmisi ..... 26
Gambar 4.1 Diagram Alir Prosedur Penanganan Interferensi Uplink ................. 28
Gambar 4.2 Real-Time Alarm yang Ditunjukkan oleh iManager M2000 .............. 29
Gambar 4.3 Alarm RTWP pada Site ID JBKB516 (Istana BEC) ......................... 30
Gambar 4.4 Kabel Ethernet RJ45 yang Menghubungkan Laptop dengan BTS ....... 31
Gambar 4.5 User Login pada Perangkat Lunak LMT .................................... 32
Gambar 4.6 Tampilan Board RTWP pada LMT ........................................... 32
Gambar 4.7 Ilustrasi Interferensi yang Muncul pada Waktu Tertentu ............... 33
Gambar 4.8 Level Nilai Rata-Rata RTWP Berkaitan Interferensi Uplink ............ 34
Gambar 4.9 Tampilan Real-Time Nilai Rata-Rata RWTP dalam Bentuk Diagram ... 35
Gambar 4.10 Tampilan Nilai VSWR pada LMT di Site JBKB505 ........................ 36
Gambar 4.11 Standar AXIS untuk Nilai VSWR ............................................ 37
Gambar 4.12 Konversi Nilai VSWR terhadap Return Loss dan Reflected Power .... 37
Gambar 4.13 MDF di Lantai Satu pada site JBKB505 ................................... 38
Gambar 4.14 Connector yang Menghubungkan Feeder dengan Splitter ............. 39
Gambar 4.15 Combiner yang digunakan di Site JBKB505 .............................. 40
Gambar 4.16 Combiner Three dan Combiner AXIS ..................................... 41
Gambar 4.17 Perbandingan Nilai Rata-Rata RTWP ..................................... 41
Gambar 4.18 Grafik Nilai Rata-Rata RTWP Buruk ....................................... 42
Gambar 4.19 Ceiling Mount Omnidirectional Antennas ............................... 44





xi

DAFTAR PERSAMAAN

Persamaan (3.1) ............................................................................. 25
Persamaan (3.2) ............................................................................. 25
Persamaan (3.3) ............................................................................. 25
Persamaan (3.4) ............................................................................. 25
Persamaan (3.5) ............................................................................. 26
Persamaan (3.6) ............................................................................. 26
Persamaan (3.7) ............................................................................. 26
Persamaan (3.8) ............................................................................. 27
Persamaan (3.9) ............................................................................. 27
Persamaan (4.1) ............................................................................. 43
Bab I Pendahuluan
Joko Pratomo Adi, 091344013 1
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi telekomunikasi berkembang pesat menuju trend
teknologi konvergensi jaringan. Hal ini mengakibatkan mulai beragamnya
permintaan layanan yang saat ini bukan hanya layanan teks atau suara saja,
melainkan sudah merambah ke layanan paket data, video, dan juga multimedia.
Jaringan akses 3G atau lebih dikenal dengan layanan mobile broadband memilik
kecepatan transfer data untuk UMTS (Universal Mobile Telecommunication
Service) mencapai 384 Kbps download dan 154 Kbps upload. Namun
pengembangan dari UMTS yaitu HSPA dapat mencapai 7 Mbps untuk download dan
1.8 Mbps untuk upload, bahkan saat ini untuk donwload sudah mencapai 14 Mbps
[1]. Di Indonesia sendiri sudah banyak modem yang beredar di pasaran yang telah
mendukung kecepatan download up to 28 Mbps. 3G sering disebut dengan mobile
broadband karena keunggulannya sebagai modem yang praktis dan efisien [2].
Oleh karena itu, operator-operator telekomunikasi di Indonesia harus sudah
menyediakan cakupan atau jangkauan sinyal 3G yang baik. Jika tidak, maka kuat
sinyal terima akan jatuh dan mengakibatkan kecepatan transfer data menjadi
lambat. Disamping cakupan atau jangkauan sinyal 3G, ada hal lain yang perlu
menjadi perhatian untuk menjaga performansi suatu jaringan. Hal tersebut adalah
tingkat interferensi terhadap jaringan 3G. Gejala interferensi sulit untuk tidak
dikaitkan dengan teknologi telekomunikasi bergerak. Level interferensi yang kuat
dapat mengakibatkan QoS (Quality of Service) menjadi buruk [3]. Apabila tidak
cepat ditangani, maka akan berdampak besar pada layanan yang diberikan ke
pelanggan sehingga akhirnya akan merugikan pihak operator.
Untuk mencegah hal itu terjadi, pihak operator bekerjasama dengan
subkontraktor telekomunikasi melakukan pemeliharaan terhadap jaringan 3G.
Pemeliharaan dapat dilakukan baik dengan cara preventive maintenance maupun
corrective maintenance. PT. Trimba Engineering sebagai pihak subkontraktor
memiliki tanggungjawab managed service (manajemen pelayanan). Managed
service dimaksudkan untuk menjaga ketersediaan (availability) jaringan 3G serta
menyiapkan perangkat cadangan dalam situasi darurat (misalnya back-up Genset),
termasuk mencegah atau pun mengatasi interferensi.
Bab I Pendahuluan
Joko Pratomo Adi, 091344013 2
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang dihadapi penulis saat pelaksanaan Praktek Kerja
Lapangan berkaitan dengan interferensi uplink yang terjadi pada beberapa site IBC
(In-Building Coverage). Berdasarkan sumbernya, interferensi uplink terbagi
menjadi dua, yaitu berasal dari interferensi internal dan interferensi eksternal.
Penanganan interferensi di lapangan mengacu pada sumber interferensi tersebut,
sehingga untuk mengatasi permasalah interferensi uplink perlu dilakukan analisis
mendalam di site yang bersangkutan. Huawei sebagai pihak vendor atau penyedia
perangkat telah membuat pedoman/prosedur penanganan interferensi uplink
dimulai dengan menganalisis interferensi internal. Apabila tidak ditemukan
sumber interferensi pada sistem internal, maka selanjutnya menganalisis sumber
interferensi eksternal. Dengan menganalisis atau troubleshooting secara teliti dan
mendalam baik pada sistem internal atau pun eksternal maka akan mencapai pada
satu titik pemecahan masalah. Pemecahan masalah dapat berupa
perbaikan/penggantian perangkat pada sistem internal atau koordinasi dengan
pihak operator lain dan pengelola lingkungan site guna penyesuain kembali kondisi
site terkini.
1.3 Batasan Masalah
Penulis membatasi pembahasan masalah untuk menjaga agar Laporan
Praktek Kerja Lapangan tetap spesifik dan bersifat khusus. Jadi, dalam laporan ini
hanya dibahas mengenai analisis serta prosedur pengawasan maupun penanganan
interferensi uplink pada jaringan 3G AXIS wilayah Bandung untuk site IBC dengan
memperhatikan parameter RTWP pada perangkat lunak LMT (Local Maintenance
Terminal) di PT. Trimba Engineering.
1.4 Tujuan dan Manfaat
1.4.1 Tujuan
Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan dengan tujuan:
a. Mempelajari perangkat lunak LMT berkaitan dengan pengawasan serta
penanganan interferensi uplink
b. Mempelajari dampak interferensi uplink tehadap layanan ke pelanggan
c. Mampu membaca parameter RTWP serta mengindikasikan terjadinya
interferensi uplink pada suatu site
d. Mampu melakukan pengawasan serta penanganan interferensi uplink
Bab I Pendahuluan
Joko Pratomo Adi, 091344013 3
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
1.4.2 Manfaat
Penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapangan ini diharapkan dapat
bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya kepada pembaca agar dapat
memahami dengan sepenuhnya mengenai prosedur penanganan interferensi uplink
serta pembacaan parameter RTWP pada site IBC.
1.5 Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman Laporan Praktek Kerja Lapangan, maka
laporan disusun secara sistematis dengan membaginya ke dalam beberapa bab
seperti berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan hal-hal yang menjadi latar belakang, rumusan masalah,
pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penyusunan laporan, serta sistematika
penulisan Laporan Praktek Kerja Lapangan.
BAB II PROFIL PERUSAHAAN
Bab ini menjelaskan tentang profil PT. Trimba Engineering yang mencakup sejarah
singkat, bidang usaha, daftar alat ukur, struktur organisasi, pengalaman
perusahaan, serta pelanggan perusahaan.
BAB III DASAR TEORI
Bab ini menjelaskan teori dasar berkaitan dengan jaringan 3G, Managed Service,
interferensi, serta RTWP.
BAB IV PROSEDUR PENGAWASAN DAN PENANGANAN INTERFERENSI PADA
JARINGAN 3G AXIS DENGAN PERANGKAT LUNAK LMT
Bab ini menjelaskan kegiatan yang dilakukan penulis selama pelaksanaan Praktek
Kerja Lapangan mengenai prosedur penanganan interferensi uplink dimulai dengan
mengumpulkan data dan dilanjutkan dengan menganalisis sumber dan lokasi
interferensi uplink.
BAB V PENUTUP
Bab ini menjelaskan kesimpulan akhir dari Laporan serta saran kepada PT. Trimba
Engineering, Operator AXIS, serta Politeknik Negeri Bandung Program Studi Teknik
Telekomunikasi Nir-kawat.


Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 4
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
2.1 Sejarah Singkat PT. TRIMBA Engineering
TRIMBA Group berdiri pada tahun 1997 dan membangun perusahaan dengan
nama PT. TRIMBA Internusa. Pada tahun 2002 divisi rekayasa perusahaan tersebut
mengalami kemajuan yang sangat pesat. Akibat alasan efisiensi dan bisnis, maka
didirikan sebuah perusahaan yang khusus bergerak di bidang rekayasa, yaitu PT.
TRIMBA Engineering. PT. TRIMBA Engineering berlokasi di Rukan Dharma Jaya
Pejaten, Jalan Raya Pasar Minggu No. 99 I Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Gambar 2.1 menunjukkan logo PT. Trimba Engineering yang digunakan sejak
pertama kali berdiri hingga sekarang.


Gambar 2.1 Logo PT. TRIMBA Engineering

Misi utama dari PT. TRIMBA Engineering adalah untuk memberikan tingkat
kepuasan yang tinggi terhadap konsumen dalam memberikan solusi dan pelayanan
kepada pelanggan. PT. TRIMBA Engineering berkomitmen untuk menyediakan
sistem dan pelayanan yang dapat memberikan keuntungan, efisiensi dan daya
saing terhadap konsumen.
2.2 Bidang Usaha
PT. TRIMBA Engineering bergerak di berbagai bidang, yaitu:
1. Jaringan selular dan nirkabel.
Jaringan selular dan nirkabel ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
- Manajemen layanan proyek (project management services)
Contoh dari manajemen layanan proyek adalah manajemen logistik,
perencanaan jaringan, interferensi frekuensi radio, perencanaan jaringan
radio, perencanaan jaringan transmisi, survey line of sight, dan
pengaturan lisensi frekuensi kepada Departemen Pos dan Telekomunikasi.

Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 5
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
- Pelaksanaan layanan (implementation services)
Contoh dari pelaksanaan layanan adalah perangkat instalasi untuk
transcoder, Base Station Controller (BSC), Base Transceiver Station
(BTS), 3G, NodeB dan Radio Network Controller (RNC), microwave, serta
penambahan kapasitas dan commissioning.
- Pemeriksaan site dan optimasi jaringan (site audit and network
optimization)
Contoh dari pemeriksaan site dan optimasi jaringan adalah drive test,
network optimization, rehoming, repointing, test call, aktivasi Q1,
aktivasi EDGE (Enhanced Data Rates for GSM Evolution), serta aktivasi
UMTS.
- Manajemen pelayanan/FLM (managed services/First Level Maintenance)
Contoh dari manajemen pelayanan adalah pemeliharaan BSS (Base Station
Subsystem), pemeliharaan CME (Civil Mechanical Electrical), perawatan
dan pemeliharaan untuk jaringan selular, serta corrective maintenance
dan preventive maintenance.
- Pekerjaan sipil, konstruksi mekanik dan kelistrikan (civil works,
construction mechanical and electrical)
Contoh dari pekerjaan sipil, konstruksi mekanik dan kelistrikan adalah
survei site, perencanaan dasar dan terperinci, instalasi tower, shelter,
grounding, antena, alarm, serta negosiasi dengan pemilik
tanah/bangunan dan masyarakat sekitar site.

2. Kegiatan pelatihan (training activities)
Contoh dari kegitan pelatihan yang dilaksanakan oleh PT. TRIMBA Engineering
adalah pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), tali-temali, serta
pendakian tower dan pelaksananaan pekerjaan di atas bangunan.

3. Kegiatan perbaikan (repair activities)
Contoh dari kegiatan perbaikan yang dilaksanakan oleh PT. TRIMBA
Engineering adalah jasa perbaikan perangkat BTS, digital microwave radio,
rectifier, repeater GSM, antena GSM, duplexer, power amplifier dan modul.



Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 6
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
2.3 Daftar Alat Ukur
Tabel 2.1 menunjukkan daftar alat ukur yang dimiliki PT. TRIMBA
Engineering:

Tabel 2.1 Daftar Alat Ukur
No Deskripsi
1 Spectrum Analyzer HP 8562 A & HP 8586 A
2 Spectrum Analyzer Marconi
3 Spectrum Analyzer Advantest U494
4
Site Master 25-4000MHz Anritsu S331C dan S331D lengkap dengan
perlengkapan
5 Power Meter Bird SA 6000EX
6 Power Meter Bird 5000EX + perlengkapan
7 Oscilloscope 40 MHz dan Digital Storage Oscilloscope HP 54502 A
8 PDH BER TEST; C-Band Translator
9 Torque Spinner dan Feeder Cutter
10 SDH Digital Microwave Radio ALCATEL
11 PDH Digital Microwave Radio ALCATEL
12 SDH Digital Microwave Radio ERICSON
13 TVRO, De-Soldering, Digital Multi Meter
14 Radio Test Set Marconi 2965
15 Antenna HORN 2 - 8 GHz dan Antenna HORN 15 – 26.5 GHz
16 Omni Directional Antenna dan GSM Antenna
17 RF Dummy load 50 Ω, Attenuator 20/30 dB 50W DC-Power System
18
Step Ladder, Tool Kit, Connector Kit, Cable Ties Compass, GPS,
Binocular, Digital Cameras, Safety Belt dan lain-lain

Alat-alat ukur tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas kerja di
lapangan. Pengukuran juga merupakan penilaian numerik terhadap fakta - fakta
dari sebuah objek yang hendak diukur menurut kriteria dan satuan - satuan
tertentu. Setiap pengukuran yang dilakukan tidak selalu memberikan hasil yang
tepat dan akurat. Berbagai kesalahan mungkin terjadi dalam kegiatan pengukuran
yang bisa jadi diakibatkan oleh faktor akurasi pengukuran, kalibrasi alat ukur,
ketelitian dalam melakukan pengukuran atau bisa juga disebabkan oleh
sensitivitas alat pengukuran yang digunakan.
Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 7
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
2.4 Struktur Organisasi
Gambar 2.2 menunjukkan struktur organisasi dari PT. Trimba Engineering:



Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT. Trimba Engineering


Dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan, penulis berkesempatan
melaksanakannya pada bagian Manajemen Layanan/FLM (Managed Services/First
Level Maintenance) West Java Region. Selama 10 hari pertama penulis ditugaskan
ikut mendukung atau supporting PIC MS Bandung Utara di lapangan. Kemudian
dipindahkan ke bagian monitoring TOC bertempat di PT. INTI lantai 10 untuk
projek AXIS selama 2 bulan. Pada kesempatan lain, penulis juga bergabung dengan
Tim PIC MS Bandung Inner selama 1 minggu. Pada kesempatan inilah penulis
pertama kali menghadapi permasalahan interferensi uplink pada site IBC sehingga
tertarik untuk mengangkatnya sebagai topik pada Laporan Praktek Kerja
Lapangan.




Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 8
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
2.5 Pengalaman Perusahaan
Tabel 2.2 menunjukkan beberapa proyek yang telah ditangani oleh PT.
TRIMBA Engineering hingga saat ini:

Tabel 2.2 Pengalaman Perusahaan
Klien Pemilik Proyek Judul Proyek
Huawei Tech Investment AXIS
Project FLM Managed Services
TRS 2G/3G West Java Region
Huawei Tech Investment HCPT
Project FLM Managed Services
TRS 2G/3G West Java Region
Nokia Siemens Networks
Indonesia
HCPT
Project FLM Managed Services
TRS 2G / 3G Central Java
Area : 1026 sites
Nokia Siemens Networks
Indonesia
HCPT
Project FLM – CME Managed
Services TRS 2G / 3G
Pekanbaru-Padang, Central
Sumatera Area : 280 sites
Nokia Siemens Networks
Indonesia
TELKOMSEL
Project FLM Managed Service
TRS 2G / 3G West Java Area
: 133 sites
Nokia Siemens Networks
Indonesia
INDOSAT
Site Survey and Radio
Frequency Scanning for East
Java Area : 14 Hops
Nokia Siemens Networks
Indonesia
HCPT
1rst WAP Cyber Building –
Jakarta
NEC Indonesia TELKOM
Supply 852 Blocks Shamas
Battery 100AH ; 120AH ;
150AH ; 200AH /12V for Soft
Switch and MSAN 2007
Project

Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 9
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Tabel 2.2 (Lanjutan 1)
Telkomda KUKAR -
Indonesia
Pemda KUKAR
Repairing of BTS/TRS Module
CAPTEL; Re- ATP;
Commissioning; Test Call etc.
of 17 sites
KUKAR Networks
Local State Owns
Enterprises of
Kutai Kartanegara
Reinstall, re commissioning,
re ATP to make Network
available and in operation
GMI Networks Ericsson Indonesia
Site Survey and Frequency
Scanning Jabodetabek Area :
14 Hops
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project FLM Service TRS 2G /
3G Indosat East Java Area :
90 sites
Nokia Network Indonesia TELKOMSEL
Project FLM Service TRS 2G /
3G Telkomsel Central Java
Area : 144 sites
Nokia Network Indonesia TELKOMSEL
Project TI TRS PDH 3G : 32
Hops for Jabodetabek and
SDH 3G : 8 Hops for West &
Central Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project New Site TI 2006;10
BTS + 17 TRS E J Area
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Up & Down Grade;
419 sites East Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project EDGE Activation and
EDGE SWAP : 131 sites East
Java & 14 sites Bali Area
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Scope I; 5 TI + 5 TRS
East Java; Add. Work 1 TI + 2
TRS

Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 10
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Tabel 2.2 (Lanjutan 2)
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Scope II; 9 TI + 5 TRS
East Java;
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Scope III; 16 TI + 16
TRS East Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Scope IV; 30 TI + 30
TRS East Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Scope V; 3 TI + 3 TRS
East Java;
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Site Audit & Replacement of
Cable RG 233 to RG 214
System 300 Hops – East Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Care / Maintenance Service
BTS/TRS– East Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Sectorization; 15 TI
for BTS East Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Expansion RO 2005; 3
TI for BTS West Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Q1 Address; 186
nodes East Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Frequency
Arrangement; 212 Hops East
Java and 23 Hops for 3G
Implementation East Java
Nokia Network Indonesia INDOSAT
Project Up & Down Grade;
419 site East Java
Nokia Network Indonesia TELKOMSEL
Project Scope I; 5 TI + 3 TRS
West Java;
Nokia Network Indonesia TELKOMSEL
Project Scope II; SWAP 8 TRS
West Java;

Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 11
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Tabel 2.2 (Lanjutan 3)
Nokia Network Indonesia TELKOMSEL
Project Scope III; 5 TI + 5 TRS
West Java;
Alcatel Indonesia INDOSAT
RF Site Survey (Kalimantan;
Sulawesi; Denpasar; West
Java)
Alcatel Indonesia INDOSAT RF Site Survey Bali Areas
AlanDick INDOSAT
TI & TRS- Project Scope East
Java & Madura
Ericsson Indonesia INDOSAT
Minilink Manager Jabotabek
Region
Ericsson Indonesia INDOSAT SWAP Project , Jakarta
Ericsson Indonesia

LOS Site Survey – Batam
Nokia Network Indonesia

Supply: 19” Rack; Bracket
Maintenance Service
Center Division;
Long Distance Division
TELKOM
Repairing of Transmission
Equipment: NEC; Ericsson;
Alcatel; Siemens etc.
Year 2005-2006 Contract
Period
Related Repair Maintenance services from: TELKOM; Satelindo / Indosat;
Excelcom; Pasific Nusantara; Lintas Artha, PT. NEC Indonesia, ALCATEL,
Ericsson, PT GARUDA Maintenance Facility, etc.

PT. Trimba Engineering telah malang-melintang di dunia industri
telekomunikasi di Indonesia. Terbukti dengan banyaknya proyek yang telah
ditangani mulai dari awal berdiri hingga sekarang. Berikut pula dengan
tercapainya kepuasan pelanggan pada tiap proyek yang ditangani.


Bab II Profil Perusahaan
Joko Pratomo Adi, 091344013 12
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
2.6 Pelanggan Perusahaan
Tabel 2.3 menunjukkan beberapa pelanggan PT TRIMBA Engineering:

Tabel 2.3 Daftar Pelanggan
No Pelanggan
1 Hutchison Telecom Indonesia
2 Smartfren
3 Esia
4 Telkom Indonesia
5 XL
6 Telkomsel
7 Bakrie Telecom
8 Lintasarta
9 NEC
10 Protelindo
11 NOKIA
12 ZTE
13 Garuda Indonesia
14 Nokia Siemens Networks
15 GMI Networks
16 3
17 Kutai Kartanegara
18 AlanDick
19 Siemens
20 Ericsson
21 Natrindo Telepon Selular Indonesia/AXIS
22 Indosat
23 Motorola
24 Alcatel
25 Alcatel-Lucent

Pelanggan PT. Trimba Engineering tidak hanya berasal dari pihak operator
saja, melainkan juga berasal dari pihak vendor dan juga pemerintah. Projek yang
ditangani pun bervariasi, mulai dari instalasi, perbaikan, hingga pengawasan
terhadap perangkat telekomunikasi baik telepon maupun selular.
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 13
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
BAB III
DASAR TEORI
3.1 3G
3G (dari bahasa Inggris: third-generation technology) merupakan sebuah
standar yang ditetapkan oleh International Telecommunication Union (ITU) yang
diadopsi dari IMT-2000 untuk diaplikasikan pada jaringan telepon selular. Istilah ini
umumnya digunakan mengacu kepada perkembangan teknologi telepon nir-
kabel versi ke-tiga. Melalui 3G, pengguna telepon selular dapat memiliki akses
cepat ke internet dengan bandwidth sampai 384 kilobit setiap detik ketika alat
tersebut berada pada kondisi diam atau bergerak secepat pejalan kaki. Akses yang
cepat ini merupakan andalan dari 3G yang tentunya mampu memberikan fasilitas
yang beragam pada pengguna seperti menonton video secara langsung
dari internet atau berbicara dengan orang lain menggunakan video. 3G
mengalahkan semua pendahulunya, baik GSM maupun GPRS. Beberapa perusahaan
seluler dunia akan menjadikan 3G sebagai standar baru jaringan nirkabel yang
beredar di pasaran ataupun negara berkembang [4].
ITU pada tahun 1999 telah mengeluarkan standar yang dikenal sebagai
IMT-2000 (International Mobile Telecommunications-2000) yang meliputi GSM,
EDGE, UMTS, CDMA, DECT dan WiMAX, dimana 3G berada di bawah standar IMT-
2000 tersebut. Secara umum, ITU, sebagaimana dikutip oleh FCC mendefinisikan
3G sebagai sebuah solusi nirkabel yang bisa memberikan kecepatan akses:
- Sebesar 128 Kbps untuk kondisi bergerak cepat atau menggunakan kendaraan
bermotor.
- Sebesar 384 Kbps untuk kondisi bergerak.
- Paling sedikit sebesar 2 Mbps untuk kondisi statik atau pengguna stasioner.
- Penggunaan General Packet Radio Service (GPRS) mencapai 114 Kbps [5].
Teknologi pada 3G adalah UMTS (Universal Mobile Telecommunication
Service). Sekarang ini bentuk yang paling banyak digunakan adalah W-CDMA
(Wideband Code-Division Multiple Access) yang distandarisasi oleh 3GPP (The 3rd
Generation Partnership Project). W-CDMA merupakan pengembangan dari
teknologi CDMA dengan menggunakan 5 MHz sinyal radio serta laju chip 3.84 Mcps,
yang artinya tiga kali lebih dari laju chip CDMA2000 (1.22 Mcps) [6]. Kelebihan
utama wideband carrier dengan laju chip lebih tinggi adalah:
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 14
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
- Mendukung laju bit yang lebih tinggi
- Efisiensi spektrum yang lebih tinggi berkat perbaikan efisiensi trunking
- QoS yang lebih baik
Secara teori UMTS dengan 3GPP mendukung laju transfer data hingga 42
Mbps (dengan HSPA+), meskipun saat ini kenyataannya laju transfer data baru
sampai 384 Kbps untuk R99 (Realease99) handset dan 7 Mbps untuk HSDPA (High
Speed Downlink Packet Access) handset ketika aktivitas download. Ini masih jauh
lebih baik dari 9.6 Kbps tunggal GSM atau multipel kanal 9.6 Kbps pada HSCSD
(14.4 kbps untuk CDMAOne), dan perbandingan dengan teknologi jaringan lainnya
seperti CDMA2000, PHS, atau WLAN serta layanan data dan mobile lainnya.
Sejak 2006, jaringan UMTS di banyak negara sedang dalam proses upgrade
menjadi High Speed Downlink Packet Access (HSDPA), kadang disebut 3.5G. Saat
ini HSDPA telah mendukung kecepatan transfer data untuk download hingga 28
Mbps. Gambar 3.1 menunjukkan salah satu perangkat NodeB UMTS (W-CDMA),
pada roof-top (di atas gedung).

Gambar 3.1 Perangkat BTS 2G/3G (UMTS) AXIS di Atas Gedung
3.1.1 Sejarah dan Perkembangan 3G
Pada dasarnya perkembangan teknologi komunikasi ini disebabkan oleh
keinginan untuk selalu memperbaiki kinerja, kemampuan dan efisiensi dari
teknologi generasi sebelumnya. Ada pun perkembangan teknologi nirkabel dapat
dirangkum sebagai berikut:
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 15
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
1. Generasi pertama: analog, kecepatan rendah (low-speed), cukup untuk suara.
Contoh: NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Analog Mobile Phone
System). Dimulai pada awal 1980-an sebagai bagian komersil dari AMPS.
Menggunakan format FDMA (Frequency Division Multiple Access) yang
membawa suara analog sebesar 800 MHz pita frekuensi [5].
2. Generasi kedua: digital, kecepatan rendah-menengah. Contoh GSM dan
CDMA2000 1xRTT. Berkembang di awal 1990-an saat operator selular
mengeluarkan 2 macam standar suara digital, yaitu GSM dan CDMA, dimana
GSM menggunakan sistem TDMA (Time Division Multiple Access) yang mampu
mengirimkan panggilan sampai 8 saluran di pita 900 dan 1800 MHz, sedangkan
CDMA sendiri adalah singkatan dari (Code Division Multiple Access) yang
mampu mengirimkan sinyal panggilan sampai 16 saluran di pita frekuensi 800
[5].
3. Generasi ketiga: digital, kecepatan tinggi (high-speed), untuk pita lebar
(broadband). Contoh: W-CDMA (atau dikenal juga dengan UMTS) dan
CDMA2000 1xEV-DO. 3G merupakan terobosan dalam pengiriman paket data
yang memungkinkan berbagai aplikasi jaringan diterapkan. Dengan kata lain,
3G menghadirkan sebuah perubahan evolusioner dalam kecepatan
pemindahan data [5].

3.1.2 Arsitektur Jaringan 3G
Arsitektur jaringan UMTS menggunakan W-CDMA sebagai air interface
dapat dilihat pada Gambar 3.2 di bawah ini:






Gambar 3.2 Arsitektur Jaringan 3G [7]
UE R99, 384 kbps
(UMTS)
UE HSDPA, 7 Mbps
(HSDPA)
UE HSDPA, 7 Mbps
(HSDPA)
UE R99, 384 kbps
(UMTS)
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 16
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Jaringan arsitektur UMTS digambarkan seperti Gambar 3.2, dimana
menggunakan air interface W-CDMA dan merupakan evolusi atau perkembangan
dari jaringan inti GSM. Dimana jaringan inti tersebut terdiri atas 3 daerah yang
saling berinteraksi, yaitu Core Network (CN), UMTS Terrestrial Radio Access
Network (UTRAN), dan User Equipment (UE) atau Mobile Station (MS) [8].
Core Network dibagi ke dalam daerah Circuit Switched dan Packet
Switched. Beberapa elemen dari Circuit Switched adalah Mobile services
Switching Centre (MSC) merupakan interface yang menangani MS berkaitan
dengan circuit switched data. Gateway MSC (GMSC) merupakan gerbang
penghubung antara UMTS dan jaringan luar circuit switched seperti PSTN, Visitor
Location Register (VLR), dan Gateway MSC. Elemen Packet Switched adalah
Serving GPRS Support Node (SGSN) yang merupakan interface dengan fungsi sama
dengan MSC tetapi digunakan untuk layanan packet switched. Gateway GPRS
Support Node (GGSN) merupakan gerbang yang menghubungkan UMTS menuju
jaringan packet switched. Beberapa elemen jaringan yang lain seperti HLR dan
AUC digunakan bersama oleh kedua daerah tersebut. Arsitektur CN dapat berubah
ketika terdapat layanan atau fitur yang baru. Transfer data di dalam jaringan inti
didukung oleh GGSN dan SGSN. Pada dasarnya, GGSN adalah sebuah fitur
pengaturan mobilitas tambahan, dan menghubungkan dengan berbagai macam
elemen jaringan melalui standart interface. Pada jaringan ini GGSN merupakan
interface fisik yang terhubung ke jaringan packet data external (misalnya
Internet). SGSN menangani pengiriman packet dari dan ke terminal-terminal
mobile. Masing-masing SGSN memungkinkan untuk mengirimkan packet ke
terminal di dalam service area. GGSN dan SGSN dapat mengirim data dengan
kecepatan hingga 2 Mbps [8].
UTRAN terdiri dari satu atau lebih RNS, dimana RNS tersebut terdiri dari
sebuah pengendali jaringan radio yang disebut dengan RNC, serta beberapa NodeB
(UMTS Base Station) dan User Equipment. UTRAN terhubung ke bagian Core
Network (CN) melalui Interface Iu dan menggunakan Interface Iub untuk
mengontrol NodeB, sedangkan Interface Iur yang menghubungkan antar RNC.
Interface Iur berfungsi untuk mengatur terjadinya soft handover diantara RNC
tersebut. RNC berfungsi untuk mengendalikan sumber-sumber radio dari beberapa
NodeB, fungsinya serupa dengan BSC di GSM. RNC juga berperan penting untuk
mengontrol radio resources UTRAN, seperti power control (PC) atau handover
control (HC), dimana sebagian diantaranya terdapat pada bagian RNC. BS (Base
Station) pada UMTS disebut dengan NodeB. NodeB pada jaringan ini sama seperti
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 17
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
pada GSM Base Station (BS), yaitu merupakan unit untuk sistem pengiriman dan
penerimaan radio dari sel. NodeB menunjukkan proses dari air interface yang
digunakan (W-CDMA), yakni meliputi channel coding, interleaving, rate
adaptation, dan spreading. NodeB juga memungkinkan terjadi softer handovers
dan power control [8].
Ikatan antara RNC dan NodeB disebut dengan Radio Network Subsystem,
yang memiliki interface Iub. Tidak seperti ekuivalennya, yakni interface Abis
dalam GSM, interface Iub memiliki standar yang terbuka sehingga dimungkinkan
masing-masing NodeB dan RNC dibuat oleh pabrik yang berbeda. Jika dalam GSM
tidak ada hubungan antar BSC, dalam UMTS yang disebut dengan UTRAN justru
sebaliknya. RNC satu dihubung dengan RNC lainnya melalui interface Iur. UTRAN
dihubungkan ke jaringan inti melalui interface Iu.
User Equipment (UE) mempunyai prinsip yang sama seperti pada GSM
Mobile Station (MS), memiliki modul identitas user, yang serupa dengan SIM pada
GSM. UE terdiri dari dua bagian, yaitu Mobile Equipment (ME) dan UMTS
Subscriber Identity Module (USIM) yang dihubungkan oleh interface Cu. ME adalah
perangkat untuk pengiriman radio, sedangkan USIM merupakan sebuah kartu yang
memuat identitas user dan informasi pribadi. Interface UE dengan jaringannya
disebut interface Uu, yang merupakan air interface W-CDMA.
3.2 Managed Service
Manajemen pelayanan atau dikenal dengan Managed Service yaitu proses
pengelolaan suatu jaringan agar jaringan tersebut dapat bekerja secara optimum.
Managed service dalam dunia telekomunikasi berarti memberikan layanan untuk
pemantauan, pengelolaan dan pemeliharaan suatu site yang sedang dikelola. Pada
jaringan GSM, manajemen pelayanan difokuskan pada suatu site agar ketersediaan
(availability) site dapat memenuhi KPI (Key Performance Indicator) yang telah
disepakati oleh pihak-pihak yang terkait. Manajemen pelayanan pada suatu site
dapat berupa maintenance.
Maintenance atau pemeliharaan menurut Lindley R. Higgis dan R. Keith
Mobley adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan
agar perangkat selalu memiliki kondisi yang sama dengan keadaan awalnya [9].
Maintenance pada suatu jaringan dilakukan untuk memelihara suatu jaringan atau
perangkat tetap berada pada kondisi yang dapat diterima oleh penggunanya.
Adapun tujuan dari dilakukannya maintenance adalah sebagai berikut:
- Menjamin availability (ketersediaan) dari suatu jaringan atau perangkat
dalam kondisi yang mampu memberikan keuntungan.
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 18
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
- Menjamin kesiapan perangkat cadangan dalam situasi darurat, misalnya sistem
pemadam kebakaran, pembangkit listrik dan sebagainya.
- Menjamin keselamatan manusia yang menggunakan perangkat.
- Memperpanjang masa pakai perangkat atau paling tidak menjaga agar masa
perangkat tersebut tidak kurang dari masa pakai yang telah dijamin oleh
pembuat perangkat tersebut [10].
Secara garis besar, maintenance pada jaringan telekomunikasi dapat
dibagi menjadi dua kategori yaitu, preventive maintenance dan corrective
maintenance. Preventive maintenance ini dilakukan oleh subkontraktor secara
periodik sesuai dengan jadwal yang ditentukan, sedangkan corrective maintenance
dilakukan ketika site mengalami permasalahan. Pada corrective maintenance,
permasalahan yang timbul pada suatu site diinformasikan melalui trouble ticket
oleh pihak vendor menggunakan layanan sms atau manajemen sistem yang dikenal
dengan istilah Work Forces Management System.
3.2.1 Preventive Maintenance
Preventive memiliki arti pencegahan, maka preventive maintenance ialah
kegiatan pemeliharaan yang dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati
guna mencegahnya hal-hal yang tidak diinginkan pada suatu site, sehingga site
dapat bekerja maksimal. Kegiatan ini dapat bersifat bulanan, dua bulanan, tiga
bulanan, enam bulanan, dan sesuai kebutuhan.
3.2.2 Corrective Maintenace
Corrective memliki arti perbaikan, maka corrective maintenance ialah
kegiatan perbaikan, penggantian ataupun penyesuaian perangkat yang diberada
pada site sertakerusakan dan kegagalan jaringan transmisi. Pihak subkotraktor
yang mengerjakan kegiatan ini harus siap menangani masalah yang timbul pada
site setiap saat (24x7x365). Waktu dari pengerjaan kegiatan ini pun ada
ketentuannya yaitu tidak boleh melebihi dari Standard Level Agreement (SLA).
3.3 Interferensi
Sinyal-sinyal yang mempengaruhi sistem komunikasi pada jaringan adalah
sinyal interferensi. Sinyal-sinyal yang tidak diperlukan untuk sistem komunikasi
juga merupakan sinyal interferensi. Satu lagi, sinyal-sinyal bukan termasuk di
dalam sistem internal yang muncul pada band frekuensi RX tetapi tidak
mempengaruhi kinerja sistem juga disebut sinyal interferensi [11]. Interferensi
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 19
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
uplink terjadi saat sinyal yang ditransmisikan dari UE ke NodeB mengalami
gangguan.
3.3.1 Sumber dan Jenis Interferensi
Interferensi berdasarkan sumbernya dibagi atas dua jenis, yaitu
interferensi internal dan interferensi eksternal.
a. Interferensi Internal
Interferensi internal meliputi:
- Interferensi berkaitan dengan intermodulasi pada sinyal kirim.
- Interferensi berhubungan dengan kanal transmisi.
- Interferensi berkaitan dengan kanal penerima, self-excitation penerima,
intermodulasi akibat sinyal kirim pada penerima, situasi unlocked, nilai
abnormal RTWP akibat frekuensi yang berubah-ubah, dan kongesti yang
disebabkan oleh sinyal yang kuat [11].
b. Interferensi Eksternal
- Interferensi antara GSM dan W-CDMA. Salah satunya adalah interferensi
antara W-CDMA 2100 MHz dan GSM 1900 MHz, dimana satu dengan lainnya
tidak dapat berdampingan.
- Interferensi akibat disain frekuensi yang tidak selektif serta ketidaktepatan
konfigurasi repeater dan penguatan mengakibatkan noise menginterferensi
UE.
- Jenis interferensi akibat transmisi microwave adalah interferensi bi-
directional (dua-arah), interferensi pada skala yang luas, dan interferensi
yang tetap dalam jangka panjang.
- Komponen non-linier pada Medan Elektromagnetik yang besar.
- Interferensi dari radar yang terjadi pada saat-saat tertentu.
- Interferensi dari handset yang terjadi pada waktu tertentu atau pada
waktu yang bekelanjutan, seperti hanya pada saat rapat di siang hari.
Interferensi dari handset bisa juga akibat pengaruh yang baerasal dari
pemerintah, militer, rumah sakit, atau SPBU.
- Sinyal intermodulasi dari bermacam-macam transmitter (khususnya Stasiun
TV) [11].
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 20
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
3.3.2 Pengaruh Interferensi Uplink
Interferensi uplink yang terlalu kuat dapat mengakibatkan penurunann
kinerja sistem jaringan terhadap pelayanan kepada konsumen, seperti:
- Layanan untuk panggilan menjadi buruk, sering terjadi drop call atau bahkan
tidak dapat melakukan panggilan (block call) [12].
- Layanan video call tejadi delay karena Call Setup Succes Rate (CSSR) turun.
- Kecepatan transfer data turun atau bahkan layanan data tidak dapat dilayani
akibat sering terjadinya request timed out (RTO) seperti yang ditunjukkan
Gambar 3.3.


Gambar 3.3 Tampilan RTO saat Terjadi Penurunan Kecepatan Transfer Data

3.4 RTWP
RTWP pada NodeB adalah total daya terima uplink. Daya terima pada
wideband mencakup noise yang dihasilkan dari penerima pada bandwidth yang
ditentukan oleh pulsa pembentuk filter. Titik referensi untuk pengukuran adalah
konektor antena RX. Ketika bagian sel-sel telah ditetapkan, total daya terima
pada wideband dapat diukur pada bagian sel-sel tersebut.
3.4.1 Akurasi dan Kesalahan RTWP
Tabel 3.1 mencantumkan persyaratan-persyaratan agar performa NodeB
menjadi lebih baik.

Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 21
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Tabel 3.1 Persyaratan Akurasi Absolut
Parameter Satuan Akurasi [dB]
Kondisi
Range
Io dBm ± 4 -103 <= Io <= -74 dBm

Akurasi relatif (lihat Tabel 3.2) didefinisikan sebagai total daya terima
wideband yang terukur pada suatu frekuensi yang dibandingkan dengan total daya
terima wideband yang terukur pada frekuensi yang sama di waktu yang berbeda.

Tabel 3.2 Persyaratan Akurasi Relatif
Parameter Satuan Akurasi [dB]
Kondisi
Range
Io dBm ± [0.5]
Untuk perubahan <= ± 5.0 dB dan
-103 <= Io <= -74 dBm

Range pelaporan total daya terima wideband (RTWP) adalah dari -112 dBm
sampai dengan -50 dBm. Pada Tabel 3.3 di bawah ini ditetapkan pemetaan untuk
jumlah yang diukur. Range pada pengsinyalan bisa jadi lebih besar daripada
akurasi range yang telah dijamin.

Tabel 3.3 Pelaporan Pemetaan Total Daya Terima Wideband yang Terukur
Nilai yang Dilaporkan Kuantitas Nilai yan Diukur Satuan
RTWP_LEV _000 RTWP < -112.0 dBm
RTWP_LEV _001 -112.0 s RTWP < -111.9 dBm
RTWP_LEV _002 -111.9 s RTWP < -111.8 dBm


Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 22
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Tabel 3.3 (Lanjutan)
RTWP_LEV _619 -50.2 s RTWP < -50.1 dBm
RTWP_LEV _620 -50.1 s RTWP < -50.0 dBm
RTWP_LEV _621 -50.0 s RTWP dBm

Saat RTWP yang sebenarnya lebih kecil dari nilai -112 dBm, maka sistem
NodeB O&M tidak akan mencatat RTWP tersebut pada tracing RTWP.
3.4.2 Pengaruh RTWP
Protokol menentukan persyaratan pada akurasai pengukuran RTWP, yaitu
akurasi relatif ± 0.5 dB dan akurasi absolut ± 4 dB. Protokol menganjurkan
penggunaan RTWP untuk algoritma admisi kontrol. Pada awalnya RNC
menggunakan RTWP sebagai algoritma admisi kontrol, sehingga NodeB harus
melakukan penyesuaian untuk memenuhi persyaratan akurasi pada admisi kontrol.
Sebenarnya RTWP dipengaruhi baik oleh akurasi penguat kanal RF maupun
interferensi eksternal.
RTWP membantu memutuskan apakah NodeB dipengaruhi oleh interferensi
dan lokasi yang dipengaruhinya. Berikut ini standar nilai RTWP dari seri NodeB
Huawei dengan atau tanpa TMA (Tower Mounted Amplifier):
a. Jika semua NodeB tidak menggunakann TMA, antena match tahadap NodeB,
sistem sudah di-setting dengan baik, dan tidak ada sinyal eksternal
penginterferensi, nilai RTWP sekitar -105,5 dBm. Jika RTWP diatas -105,5 dBm
± 2 dB, penyebabnya bisa jadi adalah:
- Pengaturan sistem bermasalah, sehingga set penguatan sistem berbeda
dari penguatan yang sebenarnya
- Kesalahan pada koneksi antena dan feeder.
- Sinyal eksternal menginterferensi sistem.
b. Jika semua NodeB menggunakan TMA, antena match dengan NodeB, sistem
sudah di-setting dengan baik, dan tidak ada sinyal eksternal penginterferensi,
nilai RTWP sekitar -105,5 dBm. Jika RTWP diatas -105,5 dBm ± 2 dB,
penyebabnya bisa jadi adalah:
- Pengaturan sistem bermasalah, sehingga set penguatan sistem berbeda
dari penguatan yang sebenarnya
- Kesalahan pada koneksi antena dan feeder.
- Sinyal eksternal menginterferensi sistem.
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 23
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
- Atenuasi RF front-end bermasalah setelah menggunakan TMA
TMA (Tower Mounted Amplifier) atau Mass Head Amplifier merupakan
sebuah LNA (Low Noise Amplifier) yang dipasang sedekat mungkin dengan antena-
antena BTS. Sebuah TMA mengurangi Noise Figure (NF) BTS dan karenanya
meningkatkan keseluruhan sensitivitas, dengan kata lain antena BTS dapat
menerima sinyal lemah [13]. Gambar 3.4 menunjukkan TMA yang terletak di
belakang antena sektoral (kotak kecil berwarna putih) pada sebuah BTS.


Gambar 3.4 TMA pada sebuah BTS [14]
Dalam sistem komunikasi dua arah, ada kalanya dimana satu arah atau
satu link lebih lemah daripada yang lain. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan
link. Hal ini dapat diperbaiki dengan membuat transmitter pada link tersebut lebih
kuat atau pada penerima agar lebih sensitif terhadap sinyal lemah. TMA pada
jaringan bergerak digunakan untuk meningkatkan sensitivitas uplink pada BTS.
3.5 VSWR
VSWR adalah perbandingan antara amplitudo gelombang berdiri (standing
wave) maksimum (|V|
max
) dengan minimum (|V|
min
) [15]. Bila impedansi beban
tidak sesuai dengan impedansi saluran transmisi, maka sebagian dari energi
gelombang yang datang pada beban akan dipantulkan. Hal tersebut menimbulkan
suatu gelombang pantulan yang berjalan kembali di sepanjang saluran transmini
ke arah sumbernya [16].
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 24
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Begitu juga apabila impedansi sumber tidak sesuai dengan impedansi
saluran, maka pantulan selanjutnya dari gelombang yang sebelumnya terpantul
dari beban akan terjadi. Dengan demikian pantulan-pantulan majemuk dapat
ditimbulkan baik pada beban maupun pada sumber gelombang.
Efek keseluruhan dari peristiwa tersebut dapat diperlakukan sebagai
resultan dari suatu gelombang datang dan gelombang pantulan tunggal.
Gelombang-gelombang tersebut bila dilihat dari posisinya merupakan tegangan
diam (untuk frekuensi dan sinyal masukan tetap) dan karena itulah disebut dengan
Gelombang Tegangan Berdiri (Voltage Standing Wave = VSW).

Gambar 3.5 Gelombang Tegangan Berdiri

Pada setiap gelombang berdiri tegangan akan terjadi juga arus karena
yang disalurkan dari sumber menuju beban melalui saluran transmisi pada
prinsipnya adalah daya RF. Dengan demikian apabila impedansi saluran transmisi
tidak sesuai dengan impedansi beban maka akan timbul pantulan daya (Reflected
Power) pada saluran transmisi. Pantulan daya ini selanjutnya akan berinterferensi
dengan daya yang menuju beban (Forward Power) atau daya maju dan
menghasilkan gelombang tegangan berdiri seperti Gambar 3.5 (Voltage Standing
Wave) di atas.
Pantulan Daya (Reflected Power) ini pada nilai-nilai yang ekstrim (VSWR
>2,0) merupakan kondisi yang dianggap berbahaya dan selalu dihindari karena
akan berpengaruh langsung pada penambahan Desipasi Daya pada Komponen
Utama pada Penguat Akhir RF dan berpotensi merusaknya.
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 25
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Selanjutnya Perbandingan Gelombang Berdiri Tegangan (Voltage Standing
Wave Ratio = VSWR) sesuai Gambar 3.5 dapat didefinisikan sebagai:
=

atau =

+

(3.1)
Dimana:

= Tegangan Maju ke Beban Antena

= Tegangan Mundur dari Beban Antena
Tegangan maju adalah tegangan berasal dari sumber (transmitter)
menuju beban (antenna) sedangkan tegangan mundur adalah tegangan pantul dari
beban (antenna).
Untuk nilai-nilai yang berhubungan dengan Impedansi Beban
dan Impedansi Saluran Transmisi, nilai VSWR adalah:
=

0


0

=

0


0

(3.2)
Dimana:

= Impedansi Beban (Antena)

= Impedansi Karakteristik Saluran Transmisi
Misal, diketahui Impedansi Beban (antena) adalah 75 Ω dan Impedansi
Saluran Transmisi 50 Ω, maka nilai VSWR:
=

0
=
75Ω
50Ω
= 1,5 (3.3)
3.5.1 Koefisien Pantulan Tegangan pada Beban
Koefisien Pantulan Tegangan pada Beban dapat didefinisikan sebagai
Perbandingan Tegangan Pantulan terhadap Tegangan Datang yang terjadi pada
Beban atau Perbandingan Arus Pantulan terhadap Arus yang Datang pada Beban.

=

+
0

+
0

>
0
;

=

0

+
0

0
>

(3.4)
Dengan mengetahui nilai VSWR, dapat juga diketahui koefisien pantulan
tegangan pada beban:
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 26
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012

=
−1
+1
(3.5)
Dimana:

= Koefisien pantulan tegangan pada beban
sehingga nilai VSWR:
=
1+

1−

(3.6)
Pada saluran transmisi, gelombang arus datang akan selalu sefasa dengan
gelombang tegangan datang. Sedangkan gelombang arus pantulan akan selalu
berlawanan fasa dengan gelombang tegangan pantulan. Hal ini terjadi karena
salah satu dari medan listrik atau medan magnet dari gelombang harus berbalik
arah. Dengan demikian maka maksimal arus selalu berpasangan dengan minimal
tegangan dan maksimal tegangan selalu berpasangan dengan minimal arus. Berikut
ini kondisi RF pada saluran transmisi untuk berbagai kondisi Impedansi Beban
terhadap Impedansi Saluran Transmisi :

Gambar 3.6 Kondisi Impedansi Beban terhadap Impedansi Saluran Transmisi

Dari persamaan-persamaan di atas, ini berarti bahwa VSWR dapat
mempunyai nilai 1 sampai tak berhingga ;
1 ≤ ≤ ∞ (3.7)
Bab III Dasar Teori
Joko Pratomo Adi, 091344013 27
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Yang perlu diperhatikan bahwa VSWR adalah selalu suatu bilangan nyata,
yaitu bilangan yang tidak mempunyai bagian khayal. Nilai VSWR yang ideal
seharusnya adalah 1, karena ini merepresentasikan suatu keadaan yang
disesuaikan (matched), dan pengaturan-pengaturan praktis pada saluran transmisi
RF yang sering ditujukan untuk membuat VSWR yang minimum. Apabila
Nilai VSWR sama dengan 1 atau sangat mendekati satu dapat terpenuhi, maka
suatu sistem transmisi daya RF dapat dianggap telah memenuhi persyaratan
Optimalisasi dan Efisiensi Transmisi Daya RF [16].
3.5.2 Return Loss
Return loss adalah perbandingan antara amplitudo dari gelombang yang
direfleksikan terhadap amplitudo gelombang yang dikirimkan. Return loss dapat
terjadi karena adanya diskontinuitas di antara saluran transmisi dengan impedansi
masukan beban (antena). Pada rangkaian gelombang mikro yang memiliki
diskontinuitas (mismatched), besarnya return loss bervariasi tergantung pada
frekuensi seperti yang ditunjukkan oleh persamaan 3.8:
() = 20logΓ (3.8)
Nilai dari return loss yang baik adalah di bawah -9,54 dB, nilai ini diperoleh
untuk nilai VSWR ≤ 2 sehingga dapat dikatakan nilai gelombang yang direfleksikan
tidak terlalu besar dibandingkan dengan gelombang yang dikirimkan atau dengan
kata lain, saluran transmisi sudah matching. Nilai parameter ini menjadi salah satu
acuan untuk melihat apakah antena sudah dapat bekerja pada frekuensi yang
diharapkan atau tidak.
3.5.3 Reflected Power (Daya Pantul)
Daya pantul (reflected power) merupakan presentase energi yang
dipantulkan kembali kesumber akibat ketidaksesuaian (unmacthed) antara
impedansi saluran transmisi dengan impedansi beban, sehingga daya yang dikiri
dari sumber tidak sepenuhnya diteruskan ke pemancar. Daya pantul dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan 3.9 di bawah ini:
(%) = 100 ×

(3.9)

Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 28
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
BAB IV
PROSEDUR PENANGANAN INTERFERENSI PADA JARINGAN 3G AXIS
MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK LMT
Prosedur penanganan interferensi pada jaringan 3G AXIS dapat dipaparkan
seperti pada diagram alir (lihat Gambar 4.1) di bawah ini:


Gambar 4.1 Diagram Alir Prosedur Penanganan Interferensi Uplink
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 29
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
4.1 Alarm RTWP pada iManager M2000
Pengawasan terhadap BTS-BTS di Jawa Barat dimonitoring melalui BSC
(Base Station Controller) oleh TOC (Trunk Operation Center) dengan
memperhatikan alarm-alarm yang muncul secara real-time dari perangkat lunak
iManager M2000. Personal komputer pada bagian TOC langsung terhubung dengan
BSC Induk di Bandung menggunakan kabel ethernet RJ45 (LAN), sehingga
memungkinkan petugas TOC mengakses kondisi alarm terkini maupun alarm-alarm
terdahulu yang telah clear. Kondisi alarm terkini yang muncul dapat dipantau
dengan menampilkan tab Browse Alarm List by Status seperti ditunjukkan oleh
Gambar 4.2, sedangkan untuk memeriksa alarm yang pernah muncul pada suatu
site dapat dilihat dengan cara membuka tab Topology. Lalu klik kanan pada site
yang ingin diperiksa dan pilih Log Alarms.


Gambar 4.2 Real-Time Alarm yang Ditunjukkan oleh iManager M2000

Tugas TOC sama dengan tugas NOC (Network Operation Center) atau
sekarang ini lebih dikenal dengan SOC (Service Operation Center), yakni bertugas
menginformasikan alarm prioritas yang muncul dari iManager M2000 untuk
diteruskan ke PIC MS. Alarm yang diteruskan oleh TOC ke MS merupakan semua
alarm prioritas, baik yang sudah maupun yang belum dikeluarkan TT (Trouble
Ticket). Hal yang membedakan TOC dengan NOC adalah cara interaksinya dengan
MS. TOC secara langsung berinteraksi dengan PIC MS di lapangan melalui telepon
dan terus memantau kondisi terkini di lapangan yang mengacu pada laporan MS
serta kondisi alarm pada iManager M2000, sedangkan NOC hanya mengeluarkan TT
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 30
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
(create TT) melalui SMS yang di-broadcast ke pihak terkait termasuk PIC MS dan
menunggu konfirmasi dari MS atau TOC bahwa alarm telah clear sehingga TT dapat
ditutup (closing TT). Cakupan area pengawasannya pun berbeda, TOC biasanya
mengawasi area pada satu provinsi misalnya saja area Jawa Barat bertempat di
BSC Induk di Bandung, sedangkan NOC dapat mengawasi kondisi alarm untuk
hampir semua BTS di seluruh Indonesia (cakupan wilayah pengawasan TOC
termasuk ke dalam cakupan pengasan NOC) dengan akses langsung dari MSC di
Jakarta.
Dengan pengawasan yang dilakukan oleh TOC maka seluruh alarm dapat
terdeteksi termasuk juga alarm RTWP. Jadi, dapat langsung diketahui bahwa
interferensi uplink sedang terjadi pada suatu site. Seperti Alarm RTWP yang
muncul di Site ID JBKB516 (Istana BEC) pada Gambar 4.3 di bawah ini:



Gambar 4.3 Alarm RTWP pada Site ID JBKB516 (Istana BEC)

Ada tiga jenis alarm RTWP yang biasa muncul, yaitu:
- RF Unit RX Channel RTWP/RSSI Unbalanced, merupakan alarm RTWP pada
iManager M2000 yang berarti nilai RTWP atau RSSI (Received Signal Strength
Indicator) yang diterima tidak seimbang antara port antena main dan port
antena diversity.
- RF Unit RX Channel RTWP/RSSI Too Low, merupakan alarm RTWP yang juga
muncul pada iManager M2000 yang berarti nilai RTWP atau RSSI yang diterima
sudah terlalu jauh dari nilai batas normal RTWP.
RF Unit RX Channel RTWP/RSSI Unbalanced
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 31
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Alarm-alarm RTWP tersebut biasa muncul pada site IBC. Selanjutnya
setelah muncul alarm RTWP pada iManager M2000, sesegera mungkin PIC TOC
menginformasikan PIC MS, baik sudah ataupun belum dikeluarkannya TT. Dengan
begitu, PIC MS dapat langsung memeriksa serta mengumpulkan data berkaitan
dengan alarm RTWP pada site bersangkutan.
4.2 Mengumpulkan Data dan Mengkonfirmasi Interferensi Uplink
Langkah selanjutnya adalah mengkonfirmasi interferensi uplink pada site.
Untuk mengkonfirmasi diperlukan data-data yang valid berdasarkan keadaan
terkini yang muncul pada iManager M2000 dan di lapangan. Perlu adanya
pengecekan frekuensi munculnya alarm serta perubahan nilai rata-rata RTWP, baik
alarm yang muncul pada iManager M2000 maupun pada saat dilakukan pengecekan
dengan LMT di lapangan. Pengecekan berkaitan frekuensi munculnya alarm RTWP
pada iManager M2000 dapat diperiksa dengan cara mengamati Log Alarms,
diperiksa apakah alarm RTWP masih aktif atau sudah clear serta berapa lama
alarm tersebut muncul sebelum ditangani MS.
MS pun harus mengumpulkan data di lapangan sesegera mungkin setelah
alarm RTWP muncul. Pengumpulan data di lapangan dapat dilakukan dengan
mengakses Board RTWP dan mendokumentasikan (capture) nilai rata-rata RTWP.
Dari data nilai rata-rata RTWP tersebut dapat diputuskan apakah interferensi
uplink masih dalam batas toleransi atau tidak. Untuk mengakses Board RTPW
pastikan laptop sudah dihubungkan ke perangkat BTS dengan kabel ethernet RJ45
seperti pada Gambar 4.4 di bawah ini:


Gambar 4.4 Kabel Ethernet RJ45 yang Menghubungkan Laptop dengan BTS
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 32
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Serta sebelumnya perangkat lunak LMT telah terpasang (installed) pada
laptop. Kotak dialog User Login (Lihat Gambar 4.5) muncul saat pertama kali
membuka perangkat lunak LMT. Terdapat empat kolom yang harus diisi, yaitu User
ID, Password, Office, serta Proxy Server (jika diperlukan) untuk dapat masuk ke
jendela utama perangkat lunak LMT. Secara default, User ID dan Password dapat
diisi admin. Namun untuk menjaga kerasahasiaan serta keamanan konfigurasi BTS
maka User ID dan Password dapat diganti.

Gambar 4.5 User Login pada Perangkat Lunak LMT
Kemudian pada jendela utama LMT, pilih tab Maintenance (1) - Realtime
Specific Monitoring (2) – Board RTWP (3) seperti pada Gambar 4.6 berikut:

Gambar 4.6 Tampilan Board RTWP pada LMT
1
2
3
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 33
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Tab Board RTWP pada LMT ini dapat mengakses nilai variasi sampling RTWP
secara real-time baik dalam bentuk list (urutan nilai) maupun chart (diagram). MS
perlu mengumpulkan data frekuensi munculnya alarm RTWP (nilai rata-rata RTWP
buruk) di lapangan setidaknya selama 1 hari dan terus berkoordinasi dengan TOC.
Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah perubahan nilai rata-rata RTWP di
lapangan terjadi pada waktu-waktu tertentu atau tidak. Apabila nilai rata-rata
RTWP yang buruk terjadi pada waktu-waktu tertentu, maka kemungkinan
interferensi yang terjadi akibat interferensi eksternal (kepadatan trafik saat busy
hours, banyaknya jumlah subscriber, pengaruh dari operator lain). Namun, apabila
nilai rata-rata RTWP tidak dipengaruhi oleh waktu, artinya nilai RTWP buruk yang
muncul stabil, maka kemungkinan interferensi yang terjadi akibat interferensi
internal (hardwared issue, kesalahan instalasi).

Gambar 4.7 Ilustrasi Interferensi yang Muncul pada Waktu Tertentu

Gambar 4.7 merupakan ilustrasi yang menunjukkan frekuensi munculnya
alarm RTWP pada suatu site yang terjadi pada waktu tertentu dalam satu hari
selama 1 minggu. Mengacu pada ilustrasi tersebut kemungkinan terbesar penyebab
munculnya alarm RTWP adalah akibat jam kantor (busy hours), dimana kepadatan
trafik sedang tinggi dengan banyaknya subscriber (pelanggan) yang sedang aktif.
Nilai rata-rata RTWP bernilai normal (interferensi kecil) adalah saat
nilainya berada pada range -104,5 dBm sampai -105,5 dBm dengan toleransi ± 2
dB. Apabila nilai RTWP sudah berada di atas atau di bawah nilai normal dengan
selisih 2 dB, dipastikan interferensi uplink mempengaruhi kinerja NodeB.
Interferensi uplink yang sudah tidak dapat ditoleransi adalah saat nilai rata-rata
RTWP naik hingga -85 dBm atau bahkan lebih. Pada kondisi ini, interferensi uplink
sudah mempengaruhi kinerja jaringan dan mengakibatkan QoS serta kecepatan
transfer data menjadi buruk. Seperti level nilai RTWP yang ditunjukkan oleh
Gambar 4.8 berikut:
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 34
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012

Gambar 4.8 Level Nilai Rata-Rata RTWP Berkaitan Interferensi Uplink [12]

Nilai rata-rata RTWP ketika berada pada level -105 dBm artinya kinerja
jaringan masih bagus. Namun, jika sudah naik hingga -90 dBm akan berpengaruh
kepada penurunan kecepatan transfer data (layanan data), seperti downlink rate
turun serta layanan video call terjadi lag (suara lebih dulu muncul dibanding gerak
gambar). Tetapi level RTWP (saat -90 dBm) tersebut belum mempengaruhi layanan
suara. Layanan suara akan ikut terpengaruh (mengalami degradasi kualitas) ketika
nilai rata-rata RTWP naik hingga -65 dBm. Begitu pula pada layanan data bahkan
saat dilakukan ping, respon yang sering diterima adalah request timed out (RTO),
sehingga sulit untuk melakukan kegiatan browsing, apalagi download.
Pada kasus nyata dilapangan, sebagaimana mengacu kepada data-data yang
telah didapat, seperti Gambar 4.9 yang menunjukkan hasil dokumentasi (capture)
data nilai RTWP di site JBKB505 saat alarm RF Unit RX Channel RTWP/RSSI Too
Low tertangkap oleh iManagaer M2000 di TOC:
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 35
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012

Gambar 4.9 Tampilan Real-Time Nilai Rata-Rata RWTP dalam Bentuk Diagram

Telihat pada Gambar 4.9 Diagram Nilai RTWP, nilai rata-rata real-time
yang ditunjukkan mencapai -650 (0.1dBm) atau dibaca -65 dBm. Dimana nilai -65
dBm jauh dari nilai normal RTWP yaitu -105.5 dBm. Jadi, dengan data yang telah
didapatkan ini dapat dikonfirmasi bahwa interferensi uplink yang terjadi pada site
JBKB505 sudah sampai pada taraf mempengaruhi layanan suara. Oleh karena itu,
perlu dilakukan corrective maintenance untuk penanganan interferensi uplink di
site JBKB505.
4.3 Analisis Sumber dan Lokasi Interferensi
Setelah terkonfirmasi interferensi uplink pada suatu site (site JBKB505
misalnya) maka selanjutnya adalah menganalisis secara mendalam untuk
menemukan suatu titik pemecahan, hal-hal yang perlu dilakukan MS antara lain:
- Memeriksa konfigurasi pada RNC atau NodeB, berkaitan dengan kesalahan
konfigurasi (configuration issue)
- Setelah parameter setting pada konfigurasi terverifikasi, langkah selanjutnya
adalah melakukan pengecekan secara fisik (hardwared issue), khususnya
jumper (konektor+feeder) dan kabel, yang biasanya terpasang pada kondisi
terbalik. Perlu juga dilakukan pemeriksaan berkaitan kesalahan pada proses
pengiriman (faulty transmitter) atau masalah lain yang berhubungan dengan
munculnya intermodulasi antara NodeB dan antena.
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 36
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
- Apabila tidak ada masalah pada konfigurasi dan perangkat, kemungkinan
terbesar yang dihadapi adalah interferensi eksternal, seperti kepadatan trafik
atau pun pengaruh operator lain.
4.3.1 Memeriksa Konfigurasi pada RNC atau NodeB (Configuration Issue)
MS punya batasan dalam mengakses LMT, yaitu tidak diperkenankan untuk
melakukan atau pun memeriksa konfigurasi pada RNC maupun NodeB. Pihak yang
memiliki hak untuk melakukan konfigurasi adalah pihak vendor atau pihak
subkontraktor bidang instalasi dan konfigurasi (vendor merupakan pihak penyedia
perangkat BTS dan NodeB). Dalam hal ini adalah dari pihak Huawei, khususnya
bagian BO (Back Office) atau orang lapangannya, sehingga pada poin ini MS tidak
dapat melakukan analisis berkaitan pengecekan konfigurasi pada RNC dan NodeB.
4.3.2 Hardwared Issue (Kesalahan Instalasi atau Perangkat)
Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh MS adalah melakukan
pengecekan fisik terhadap perangkat NodeB, diantaranya jumper (konektor),
perkabelan, splitter, serta combiner. Sebelum melakukan pengecekan fisik,
sebaiknya perlu dilakukan pengecekan nilai VSWR pada LMT. Karena nilai VSWR
dapat menjadi salah satu indikator untuk mengetahui bahwa ada konektor serta
feeder yang tidak terpasang dengan kencang atau bahkan terlepas. Gambar 4.10
menunjukkan nilai VSWR pada site JBKB505 yang bisa diakses melalui LMT:


Gambar 4.10 Tampilan Nilai VSWR pada LMT di Site JBKB505

Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 37
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Seperti yang telah dijelaskan pada Bab 3 mengenai VSWR, bahwa nilai
VSWR ideal adalah 1 (biasa dibaca 1:1). Nilai VSWR yang ditunjukkan Gambar 4.10
adalah 11(0,1) atau dibaca 1,1:1. Artinya nilai VSWR pada site JBKB505 baik,
mendekati nilai ideal, dimana hanya sekitar 0,228% energi yang hilang (reflected
power). Disamping itu standar yang dikeluarkan AXIS (pihak opeartor) berkaitan
nilai VSWR adalah nilai VSWR tidak boleh lebih dari 1,3 (lihat Gambar 4.11)
dengan hanya kehilangan energi sebesar 1,71% dari total energi yang
ditransmisikan. Konversi nilai VSWR terhadap return loss serta presentase
reflected wave dapat dilihat pada Gambar 4.12 di bawah ini:
Max Value :


VSWR Max < 1.3
DTF (M1) < 1.05
DTF (M2) < 1.05
DTF (M3) < 1.05
DTF Antenna (M4) < 1.2
Return Loss (dB) < 17.69
Ripple On Feeder < 1.01
Gambar 4.11 Standar AXIS untuk Nilai VSWR


Gambar 4.12 Konversi Nilai VSWR terhadap Return Loss dan Reflected Power
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 38
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Dengan mengamati nilai VSWR tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak
ada masalah pada konektor atau feeder. Namun, pengecekkan fisik belum selesai
sampai di sini. MS harus memeriksa device lain, yaitu splitter dan combiner. Site
JBKB505 merupakan site IBC (In-Building Coverage) yang terdiri dari 3 lantai
dengan MDF (Main Distribution Frame) pada masing-masing lantainya. Splitter
terletak di MDF, dimana MDF merupakan pusat perkabelan yang mengoneksikan
feeder dari NodeB ke splitter untuk koneksi pribadi atau umum pada antena
omnidirectional yang tersebar pada masing-masing lantai [17]. Gambar 4.13
menunjukkan kondisi MDF yang terletak di lantai satu site JBKB505 (Istana Plaza).



Gambar 4.13 MDF di Lantai Satu pada site JBKB505
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 39
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Di dalam MDF dilakukan pemeriksaan kondisi splitter. Splitter adalah
perangkat pasif yang berfungsi untuk membagi sinyal [18]. Penggunaan splitter
disebabkan karena terbatasnya jumlah keluaran, sehingga dengan pengunaan
splitter arah penggelaran feeder ke antena-antena omniderecitonal pada masing-
masing lantai dapat diperbanyak. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara plug-
unplug konektor yang terhubung ke splitter induk (lihat Gambar 4.14), kemudian
amati perubahan nilai RTWP serta dokumentasikan hasil yang ditunjukkan.


Gambar 4.14 Connector yang Menghubungkan Feeder dengan Splitter

Ternyata setelah dilakukan pemeriksaan splitter induk pada masing-
masing MDF, nilai rata-rata RTWP masih belum berubah, masih dengan nilai yang
buruk. Beralih ke pemeriksaan device selanjutnya, yaitu combiner yang terletak di
ruang BTS. Combiner adalah sebuah alat pada BTS, yang melewatkan hubungan
dari beberapa pemancar ke antena (pemancar 2G dan 3G) [19]. Combiner
melewatkan tiap energi dari masing-masing pemancar RF ke antenna, sementara
ia juga menahan energi dari pemancar lain yang menggunakan antena yang yang
sama. Ada dua jenis Combiner, yaitu Hybrid Combiner dan Filter Combiner.
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 40
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012

Gambar 4.15 Combiner yang digunakan di Site JBKB505

Combiner di JBKB505 yang ditunjukkan oleh Gambar 4.15 adalah tipe
Filter Combiner keluaran Kathrein-793423 Dual Band Combiner. Filter combiner
adalah sebuah perangkat narrow band yang hanya melewatkan frekuensi yang
terpilih pada band pemancar. Pengecekan combiner dilakukan dengan cara plug-
unplug konektor feeder baik yang terhubung dengan port 2G maupun port 3G
padea combiner, kemudian periksa kembali nilai RTWP.
Pada saat feeder 2G dilepaskan terjadi perubahan nilai RTWP, yaitu
berubah menjadi -81 dBm. Namun ketika feeder kembali dipasang dan konektor
dikencangkan nilai RTWP kembali ke -68 dBm. Untuk memastikan sumber
interferensi berasal dari pemancar 2G atau combiner, maka dilakukan pengujian
combiner. Karena muncul dugaan kalau interferensi uplink terjadi akibat
ketidaklinieran combiner pada proses pemfilteran antara pemancar 2G dan 3G,
sehingga 2G menginterferensi 3G. Pengujian combiner dilakukan dengan cara
menghubungkan feeder pemancar 3G ke combiner lain. Pada satu ruangan BTS site
IBC, biasanya digunakan lebih dari satu operator. Pada site JBKB505 misalnya,
selain operator AXIS ada operator lain yang bersama-sama menggunakan ruang
BTS, yaitu operator Three (HCPT). Letak combiner AXIS dan Three saling
bersebelahan seperti pada Gambar 4.16 berikut:

Port 2 (3G/UMTS)
1920-2170 MHz

Port 1 (2G/GSM)
1710-1880 MHz

Port 3 (COMMON)
1710-1880/1920-2170 MHz

Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 41
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012

Gambar 4.16 Combiner Three dan Combiner AXIS

Pengujian dilakukan dengan meminjam port 3G combiner HCPT/Three.
Hasilnya setelah dilakukan cross-connect feeder 3G AXIS ke port 3G combiner
HCPT dan feeder 3G HCPT ke port 3G combiner AXIS, didapatkan nilai variasi
RTWP yang lebih baik. Hal ini memperkuat dugaan bahwa sumber interferensi
uplink adalah combiner, sehingga dengan ini solusinya adalah memperbaiki
combiner tersebut atau menggantinya dengan combiner yang baru yang telah diuji
sebelumnya. Penggantian combiner dapat dilakukan dengan pembuatan laporan
prihal kaitannya dengan interferensi uplink yang terjadi dan diajukan ke pihak
vendor (Huawei) untuk pengadaan combiner pengganti. Gambar 4.17 menunjukkan
perbandingan nilai RTWP sebelum dan sesudah penggantian combiner:

Gambar 4.17 Perbandingan Nilai Rata-Rata RTWP
Sebelum (kiri) dan Sesudah (kanan) Penggantian Combiner
Combiner Operator Three
Combiner Operator AXIS
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 42
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
Pada akhirnya terbukti bahwa apabila nilai rata-rata RTWP buruk yang
muncul tidak dipengaruhi waktu tertentu, maka kemungkinan terbesarnya
interferensi uplink terjadi akibat kesalahan perangkat atau instalasi (hardwared
issue). Hal ini sesuai dengan yang diterlihat pada grafik yang ditunjukkan oleh
Gambar 4.18 di bawah ini:

Gambar 4.18 Grafik Nilai Rata-Rata RTWP Buruk
yang Terjadi Terus-Menerus di site JBKB505

4.3.3 Interferensi Eksternal
Namun, apabila pada kasus site IBC (In-Building Coverage) yang lain, nilai
RTWP yang muncul masih buruk walau telah mencapai tahap pengujian combiner,
maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut berkaitan interferensi eksternal.
Interferensi eksternal yang terjadi biasanya akibat kepadatan trafik pada waktu
tertentu karena banyaknya subscriber yang sedang aktif (busy hours). Kadang
interferensi eksternal juga muncul karena pengaruh operator lain pada site
tersebut.
Kepadatan trafik dapat menimbulkan interferensi karena semakin banyak
subscriber yang aktif, maka semakin kecil kapasitas suatu kanal radio. Ini
merupakan konsekuensi dari W-CDMA, secara teoritis kapasitas W-CDMA
tergantung pada banyaknya kode spreading yang bisa dibangkitkan dari
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 43
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
pembangkit kode, tetapi secara praktis dibatasi oleh interferensi. Pada sistem
digital termasuk W-CDMA,
I
C
sangat terkait erat dengan
o
b
I
E
, ditunjukkan oleh
persamaan 4.1 di bawah ini:

(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
=
c
b
o
b
B
R
I
E
I
C
b
c
o
b
R
B
I
E
= (4.1)
Dimana: =
b
E energi per bit
=
0
I interferensi per hertz
=
b
R kecepatan data bit per detik
=
c
B bandwith kanal radio dalam hertz.
Bila jumlah kode dalam sebuah sel adalah N buah, maka setiap kode
dalam satu kanal radio akan diinterferensi oleh N-1 buah kode dari sel yang sama
ditambah interferensi dari kode-kode lain pada sel yang bebeda. Akibatnya level
interferensi selalu lebih tinggi dari level signal dan
I
C
lebih kecil dari 1.
I
C

yang diperlukan dapat dihitung menggunakan persamaan 4.1 dengan mengetahui
terlebih dahulu kecepatan bit, bandwith kanal dan perbandingan energi per bit
terhadap interferensi per hertz.
Sebagai contoh, jumlah kanal yang dihitung pada sel tunggal W-CDMA
menggunakan persamaan 4.1, sehingga untuk bit rate 1 = 9600 bps dengan nilai
o
b
I
E
= 5 dB, maka didapat jumlah kanal yang ditawarkan pada sel tunggal W-CDMA
sebesar 42 kanal. Dengan nilai
o
b
I
E
= 6 dB, maka didapat jumlah kanal yang
ditawarkan adalah 34 kanal. Sedangkan bila nilai
o
b
I
E
= 7 dB, maka jumlah kanal
yang ditawarkan menjadi lebih kecil nilainya yaitu hanya sebesar 27 kanal.
Namun, jika bit rate yang digunakan sebesar 14400 bps, terdapat
perubahan jumlah kanal ditawarkan pada sel tunggal tersebut. Untuk nilai
o
b
I
E
= 5
dB, maka jumlah kanal yang didapat adalah sebesar 28 kanal. Nilai
o
b
I
E
= 6 dB,
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 44
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
jumlah kanal yang ditawarkan sebesar 22 kanal. Sedangkan pada saat nilai
o
b
I
E
= 7
dB, jumlah kanal yang ditawarkan hanya 18 kanal.
Semakin besar nilai
o
b
I
E
maka jumlah kanal yang ditawarkan pada sel
tunggal W-CDMA akan semakin kecil atau dengan kata lain, semakin besar nilai
o
b
I
E
maka semakin sedikit pula subscriber yang dapat ditampung pada sel
tersebut. Jika dilihat pada bit rateyang ditawarkan, semakin besar bit rate yang
digunakan maka jumlah kanal yang ditawarkan juga akan semakin kecil.
Nilai
o
b
I
E
dan bit rate yang digunakan semakin besar, maka
mengakibatkan jumlah kanal yang ditawarkan akan semakin kecil, artinya beban
trafik yang ditawarkan juga akan semakin kecil yang mengakibatkan kualitas
sistem menjadi lebih baik. Semakin besar nilai Eb/No dan bit rate yang digunakan
juga akan mempengaruhi nilai sensitivitas BS menjadi semakin rendah, artinya
daya pancar MS juga rendah untuk mempertahankan nilai Eb/No agar tidak terjadi
drop call,sehingga nilai MAPL dan PL juga akan semakin kecil yang dapat
menyebabkan cakupan sel WCDMA semakin kecil. Untuk menanggulangi ini maka
perlu digunakan pengendalian daya setiap down link di setiap sel.
Faktor lainnya adalah pengaruh dari operator lain. Kemungkinan yang
terjadi adalah interferensi yang muncul akibat penggunaan bersama multi-sharing
ceiling mount omnidirectional antennas.


Gambar 4.19 Ceiling Mount Omnidirectional Antennas
Ceiling Mount Omnidirectional Antennas atau lebih dikenal antena
direksional seperti ditujunjukkan Gambar 4.19 adalah antena dengan disain
tertentu yang dipasang menempel pada langit-langit ruangan yang terlihat seperti
Bab IV Prosedur Penanganan Interferensi pada Jaringan 3G AXIS Menggunakan Perangkat
Lunak LMT
Joko Pratomo Adi, 091344013 45
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
lampu [20]. Antena direksional memiliki pola radiasi yang rendah pada vertikal
beamwidth, namun menyediakan 3,5 dB pada penguatan horizontal. Ini artinya
antena dapat menjangkau cakupan ruangan yang lebih baik pada suatu lantai.
Solusi untuk menangani masalah dengan operator lain adalah dengan berkoordinasi
dengan operator terkait mengenai pemecahan masalah serta langkah bersama
yang harus diambil.
Bab V Penutup
Joko Pratom Adi, 091344013 46
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di PT. Trimba
Engineering, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa sumber dan lokasi
interferensi uplink pada site JBKB505 (Istana Plaza) terjadi akibat interferensi
internal yang berasal dari filter combiner yang mengakibatkan pemancar 2G
menginterferensi pemancar 3G. Solusi yang diterapkan adalah mengganti combiner
dengan yang baru yang telah diuji sebelumnya. Sedangkan untuk site JBKB516
(Istana BEC) berkaitan dengan interferensi eksternal karena kepadatan trafik,
maka solusi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan pengendalian daya
setiap down link di setiap sel.
5.2 Saran
Penulis juga ingin menyampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat
berguna di kedepannya, yaitu:
1. Untuk tim instalasi sebaiknya perlu menguji komponen, apakah dalam
keadaan baik atau tidak sebelum dilakukan pemasangan perangkat pada BTS.
2. Untuk operator sebaiknya mengurangi multi-sharing omnidirectional antenna
dengan operator lain untuk menghindari terjadinya interferensi uplink, karena
penggunaan frekuensi ataupun hal lainnya yang berasal dari operator lain.
3. Untuk site owner, perlu diatur lebih baik lagi penataan MDF pada masing-
masing lantai agar jalur perkabelan dan transmisi sinyal tidak mempengaruhi
kinerja jaringan.


Joko Pratomo Adi, 091344013 47
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
DAFTAR PUSTAKA
[1] Josiah, Andy. (2008), The Difference Between UMTS & HSDPA. Available:
http://www.ehow.com/facts_7715915_difference-between-umts-hsdpa.html
[16 Desember 2012].
[2] Pinola, Melanie. (2009), What is Mobile Broadband?. Available:
http://mobileoffice.about.com/od/glossary/g/mobile-broadband.htm [13
Januari 2013].
[3] Pardosi, Wasit. Bahan Ajar Kuliah Jaringan Telepon Selular Bergerak, BAB IV,
Politeknik Negeri Bandung, 2007, pp. 29 – 32.
[4] Wikipedia. (2012), 3G. Available: http://en.wikipedia.org/wiki/3G [14
Desember 2012].
[5] Phifer, Lisa. (2009), 3G (third generation of mobile telephony). Available:
http://searchtelecom.techtarget.com/definition/3G [9 Januari 2013].
[6] Bandhu13. (2010), Wcdma. Available:
http://www.scribd.com/doc/45802071/wcdma [9 Januari 2013].
[7] JoBa2282. (2006), UMTS Network Architecture. Available:
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:UMTS_Network_Architecture.png
[20 Desember 2012].
[8] Jaringantelekomunikasi. (2009), Arsitektur 3g. Available:
http://jaringantelekominikasi.wordpress.com/2009/03/24/arsitektur-3g/
[13 Januari 2013].
[9] Mobley, Keith R. & Higgins, Lindley R. & Wikoff, Darrin J. Maintenance
Engineering Handbook, 7
th
, McGraw-Hill Inc, 2008, pp. 1-36.
[10] PT. Huawei Tech. Investment. Managed Service Project Field Maintenance
Technical Requirement, Huwei, 2010, pp 3-6.
[11] Junwei, Lin dan Jiang Lihong. W-Interference Processing Guide, 3
rd
,
Hongkong – Huawei, 2006, pp. 38-50.
[12] Admin. (2010), What is RTWP?. Available:
http://www.telecomhall.com/what-is-rtwp.aspx [17 Januari 2013].
[13] Wikipedia. (2012), Tower Mounted Amplifier. Available:
http://en.wikipedia.org/wiki/Tower_Mounted_Amplifier [9 Januari 2013].
[14] Chatfield, Les. (2005), PhoneMast Elsie. Available:
http://en.wikipedia.org/wiki/File:PhoneMast_Elsie.jpg [9 Januari 2013].

Joko Pratomo Adi, 091344013 48
Laporan Praktek Kerja Lapangan Tahun 2012
[15] Sirait, Dony Canisius. (2012), Parameter Antena. Available:
http://mhs.blog.ui.ac.id/dony/2012/02/24/parameter-antena/ [27 Januari
2013]
[16] Oprekzone. (2009), VSWR (Volt Standing Wave Radio) pada Transmisis Daya.
Available: http://oprekzone.com/vswr-volt-standing-wave-ratio-swr-meter-
saluran-transmisi-daya-rf/ [27 Januari 2013]
[17] Janssen, Cory. (2008), Main Distribution Frame (MDF). Available:
http://www.techopedia.com/definition/2233/main-distribution-frame-mdf
[10 Januari 2013].
[18] Informatika. (2010), Kabel Coaxial. Available:
http://aipmuhaipinformatika.blogspot.com/2010/02/kabel-coaxcial.html
[17 Desember 2012].
[19] Crofirli. (2009), GSM System. Available:
http://www.scribd.com/doc/22006729/70/COMBINER-DAN-UNIT-UNIT-YANG-
TERHUBUNG [17 Desember 2012].
[20] Bolton, Naomi. (2011), Omnidirectionals Antenna Types. Available:
http://www.ehow.co.uk/list_7461143_omnidirectional-antenna-types.html
[17 Desember 2012].

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times