Anda di halaman 1dari 75

MAARIF Vol. 2, No.

4, Juni 2007
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

MEDIA MAARIF
Edisi Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
Salam Redaksi ........................................................................................ 2
Artikel
Menyoal Moral-Politik Agama di Ruang Publik
Ivan A. Hadar.................................................................... 3

Dari “Politisasi Agama” Menuju “Moral Publik Agama”


Zuhairi Misrawi ................................................................. 11

Agama dan Nalar Negara-Kekuasaan


Benny Susetyo.................................................................. 18
Opini
Islam Moderat adalah Sebuah Paradoks
Ahmad Najib Burhani ........................................................ 28
Risalah
Megatruh Kambuh
WS.Rendra ........................................................................ 31
Bedah Buku
Membangun Toleransi Berbasis Al-Quran ......................... 43
Catatan Redaksi
Dicari, Pemimpin Visioner dan Bernurani !
Fajar Riza Ul Haq ............................................................. 47

Saat Negara Membangun Jembatan Dialog


Siti Sarah Muwahidah ...................................................... 51
Call for Paper
Peranan Syafii Maarif dalam Membangun Pluralisme
Andriansyah ................................................................... 55
Perspektif
Belajar dari Negeri Para Mullah
Fauzi Fashri .................................................................... 67

Pengelola

Penasehat : Abdul Munir Mulkhan, Jeffrie Geovanie,


Haedar Nashir, M. Deddy Julianto, M.Amin Abdullah,
Rizal Sukma, Sudibyo P. Lapidus. website : www.maarifinstitute.org
Pemimpin Umum : Raja Juli Antoni e-mail : jurnal@maarifinstitute.org
Pemimpin Redaksi : Fajar Riza Ul Haq
Rekening
Dewan Redaksi : Ahmad Imam Mujadid Rais, Endang
Yayasan Ahmad Syafii Maarif :
Tirtana,Joko Sustanto, Siti Sarah Muwahidah
Bank Permata Cabang MID Plaza.
Sekretaris : M. Supriadi
No. Rekening : 0701136993
Distribusi dan Sirkulasi : Iwan Setiawan

Redaksi mengundang para cendekiawan, agamawan, peneliti, dan aktifis untuk mengirimkan
tulisan, baik berupa hasil penelitian maupun gagasan, sesuai dengan visi dan misi MAARIF
Institute. Tulisan merupakan hasil karya sendiri, belum pernah dipublikasikan, penulisan
mengacu standar ilmiah, dan panjang tulisan 6000-10.000 karakter. Redaksi berhak menyeleksi
dan mengedit tulisan tanpa mengurangi atau menghilangkan substansi. Media MAARIF terbit
perbulan. Tema edisi mendatang

1
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Salam Redaksi

Pada dasarnya, bangsa kita memiliki cukup banyak potensi dan


sumber daya yang bisa membuatnya bergerak keluar dari kemelut
masalah serta mendorong bandul kesejahteraan ekonomi pada saat yang
sama. Setidaknya, suksesi kepemimpinan nasional (pilpres) yang relatif
demokratis, arus demokratisasi politik di semua level pemerintahan, dan
kehadiran partisipasi kelompok-kelompok sipil dalam ruang publik
merupakan modal penting bagi upaya pembangunan demokrasi, baik
politik dan ekonomi, yang berpijak pada keadilan. Pertanyaan mendasar
yang sering mengemuka adalah mengapa bangsa Indonesia belum dapat
keluar dari krisis yang cukup lama mendera kita; lalu, apa yang dapat
kita lakukan bersama sebagai jalan untuk mengakhiri krisis tersebut
sekaligus meletakkan arah pencerahan bangsa yang berkeadilan, baik
dari perspektif agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Pada konteks ini, peran partisipasi bahkan kontrol kelompok-


kelompok sipil dalam proses perbaikan kualitas hidup bangsa tidak bisa
diabaikan. Meskipun negara Indonesia bukanlah negara agama namun
pada kenyataannya organisasi keagamaan dan kelompok lintas agama
telah diakui berkontribusi penting dalam rentang sejarah bangsa ini.
Panggilan tanggungjawab moral, sosial, dan kemanusiaan agama adalah
alasan mendasar mengapa kelompok agamawan serta aktivis sosial harus
aktif berpartisipasi di ruang-ruang publik yang selama ini didominasi
petualang-petualang politik tanpa visi keadilan dan kemanusiaan.

Di saat sistem politik serta kepemimpinan mengalami kebuntuan


dan tidak pro keadilan, partisipasi gerakan moral- politik agama dalam
ruang publik mutlak diperlukan. Ironisnya, agama lebih banyak
dieksploitasi sebagai instrumen bahkan dibajak untuk kepentingan
politik jangka pendek. Agama menjadi kehilangan karakter kiritis dan
keberpihakannya yang dibangun nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Secara substansial, tindakan moral kelompok maupun aktivis agama bisa
bersifat ataupun berdampak “politik” dalam makna pembebasan,
sebagaimana lontarkan Antonio Gramsci. Tema “Menyoal Moral-Politik
Agama di Ruang Publik” di edisi awal tahun ini hendak
mempertanyakan sekaligus memberi arah bagi keharusan peran-peran
institusi dan aktivis agama untuk pencerahan dan kemandirian bangsa.

2
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Artikel

MENYOAL MORAL-POLITIK AGAMA


DI RUANG PUBLIK
Ivan A. Hadar
Koordinator Nasional TARGET MDGs – Beppenas/UNDP

Secara ringkas dan padat, demokrasi


didefenisikan sebagai Regierung der Regierten -
pemerintahan dari mereka yang diperintah. Defenisi
ini mengandung arti bahwa mereka yang diperintah
harus mendapatkan akses pengaruh ke dalam sistem
politik. Peluang partisipasi politis warga negara
dalam arti seluas-luasnya ini, antara lain berupa
ungkapan opini, kepentingan, serta kebutuhan
secara diskursif dan bebas tekanan. Semua itu
merupakan inti ide ruang publik politis1.
Dalam negara hukum demokratis, ruang publik
politis berfungsi sebagai sistem alarm dengan sen-
sor peka yang menjangkau seluruh masyarakat.
Pertama, ia menerima dan merumuskan situasi prob-
lem sosio-politis. Melampaui itu, kedua, ia juga
menjadi mediator antara keanekaragaman gaya
hidup dan orientasi nilai dalam masyarakat di satu
pihak dan sistem politik serta sistem ekonomi di lain
pihak. Kita bisa membayangkan ruang publik politis
sebagai struktur intermedier di antara masyarakat,
negara, dan ekonomi. Organisasi-organisasi sosial
berbasis agama, lembaga swadaya masyarakat,
perhimpunan cendekiawan, paguyuban etnis,
kelompok solidaritas, gerakan inisiatif warga, dan
masih banyak lainnya dalam ruang publik
memberikan isyarat problem mereka agar dapat
dikelola oleh negara.
Sebenarnya, dalam perkembangan terakhir
sistem demokrasi, hampir tak ada lagi lokus yang
netral dari pengaruh ekonomi dan politik. Karena
3
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

itu, ruang publik politis harus sebagai alat yang dipakai untuk
dimengerti secara “normatif”, yaitu tujuan-tujuan di luar diri mereka.
tidak hanya berada di dalam forum Ketiga, harus ada aturan bersama
resmi, melainkan di mana saja yang melindungi proses
warga negara bertemu dan komunikasi dari represi dan
berkumpul mendiskusikan tema diskriminasi sehingga partisipan
yang relevan serta bebas dari dapat memastikan bahwa
intervensi. Ruang publik politis konsensus dicapai hanya lewat
juga bisa ditemukan, misalnya, argumen yang lebih baik.
dalam gerakan protes, dalam aksi Singkatnya, ruang publik politis
advokasi, dalam forum perjuangan harus “inklusif”, “egaliter”, dan
hak-hak asasi manusia, dalam “bebas tekanan”. Ciri-ciri lainnya
perbincangan politis interaktif di adalah pluralisme,
televisi atau radio, dalam multikulturalisme, toleransi, dan
percakapan keprihatinan di seterusnya2.
warung-warung, dan seterusnya. Dalam konteks ini, kontribusi
Dengan demikian, ruang publik moral-politik agama menjadi
politis yang berfungsi baik identis sesuatu yang menarik untuk
dengan kedaulatan rakyat. dikaji, terutama ditilik dari
Bagi Habermas, ruang publik maraknya upaya
politis adalah kondisi-kondisi mengejawantahkan “syari’ah”
komunikasi yang memungkinkan dalam kehidupan masyarakat di
warga negara membentuk opini negeri ini berbarengan dengan
dan kehendak bersama. hilangnya nilai-nilai bersama
Persyaratannya, adalah sebagai akibat gempuran kapitalisme.
berikut. Pertama, kondisi tersebut Maraknya legislasi dan regulasi
hanya mungkin ketika semua berdasarkan Syari’ah yang
warga menggunakan bahasa yang melanda berbagai daerah di Indo-
sama dengan semantik dan logika nesia selama beberapa tahun
yang konsisten. Kedua, semua terakhir ini, telah menimbulkan
partisipan dalam ruang publik tiga jenis spekulasi. Pertama,
politis memiliki peluang yang sama mengingat hal ini dilakukan di
untuk mencapai suatu konsensus daerah-daerah dengan mayoritas
yang fair dan memperlakukan penduduk muslim, “gerakan” ini
mitra komunikasinya sebagai dimaksudkan untuk kepentingan
pribadi otonom yang mampu politik pemerintah daerah
bertanggung jawab dan bukanlah setempat dalam rangka mencari
4
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

dukungan politik dan penyebabnya terkait kenyataan


mengukuhkan legitimasi bahwa banyak pejabat
kekuasaan dengan basis pemerintahan daerah, termasuk
keagamaan. Kedua, hal ini bisa mereka yang diindikasikan terlibat
dianggap sebagai upaya kelompok kejahatan-kejahatan korupsi,
politik Islam untuk Islamisasi terlibat sebagai penganjur
negara pada tingkat lokal setelah Syari’ahisasi. Hal, yang
ggal di tingkat nasional melalui dikalkulasikan bisa menjadi
pemberlakuan kembali Piagam “proyek politik” yang
Jakarta dan pembentukan Negara menguntungkan.
Islam Indonesia. Ketiga, Sementara itu, secara global,
merupakan indikasi terjadinya bagi mereka yang pesimis,
kolaborasi politik antara kekuatan mensinyalir gempuran kapitalisme
Islam garis keras dengan telah memunculkan sebuah sistem
kekuatan-kekuatan politik lokal kemasyarakatan (Gesellschaft) dunia
untuk saling mendukung dalam yang tidak lagi memiliki
kepentingan masing-masing. kesepakatan etika (ethical consensus).
Harus diakui bahwa perda- Untuk waktu yang cukup lama,
perda Syari’ah menyangkut isu- terutama di Eropa yang sekuler,
isu tertentu seringkali justru agama tidak (terlalu) diperdulikan.
mendatangkan masalah sosial Siapa pun yang terlalu sering
baru, misalnya ketidakadilan gen- berkutat dengan agama, bakal
der dan marginalisasi atau dianggap terbelakang. Baru sejak
pembatasan kebebasan beberapa tahun terakhir, agama
perempuan dalam kehidupan kembali ada dan menjadi – tidak
publik. Selain itu, dengan sekedar – bumbu dalam perdebatan
menganggap seolah-olah sosial-politik. Di Jerman, misalnya,
moralitas Syari’ah terbatas pada berkembang diskusi tentang
isu-isu syahwat dan hedonisme, seberapa menentukan nilai-nilai
para perancangnya jelas agama Kristiani bagi berfungsinya
menghindari masuk ke wilyah sebuah masyarakat? Pada saat
moralitas struktural yang lebih sama, muncul pertanyaan
bersifat publik seperti praktek bagaimana seharusnya bersikap
korupsi, penyelahgunaan terhadap konsep-konsep moral
kekuasaan, kejahatan HAM, agama lain: diintegrasi ataukah
pencucian uang dan kejahatan- diisolasi? Pertanyaan yang sama
kejahatan publik lain. Boleh jadi, juga berlaku di Indonesia, terutama
5
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

ketika maraknya Perda Syar’ah di kepentingan apa yang berbicara


beberapa propinsi dan kabupaten/ terkait kepercayaan. Karena,
kota. ketika banyak berbicara tentang
Dalam politik internasional, moral, biasanya banyak pula
kembalinya agama sebagai alat menyangkut kekuasaan.
kekuasaan pun semakin kasat mata. Mengakui bahwa dua hal tersebut
Pemerintahan George W. Bush, saling terkait, tidak berarti
misalnya, mendulang sumber terjerembeb ke dalam sifat non-
legitimasinya dari moral dan lobi demokratis agama ataupun,
kelompok-kelompok sebaliknya, kehilangan nilai-nilai
fundamentalis Kristen. Padanannya bersama.
dalam Islam, memanfaatkan strenge Yang tak kalah penting adalah
Glaeubigkeit (kepercayaan yang kenyataan berikut. Vernunft (yang
rigid) sebagai strategi politik. sering diterjemahkan sebagai akal
Agama sebagai alat kekuasaan juga sehat, rasional) seperti yang
terbaca dalam konflik di Kashmir, ditemukan pada masa Aufklaerung
Sri Langka dan Irlandia Utara. (pencerahan), kini, banyak
Dalam kadar tertentu, juga terseret dikritik, terutama terkait
dalam konflik komunal di tingkat dampaknya dalam mendudukkan
lokal. Pertanyaan yang manusia sebagai “penguasa”
mengemuka, adalah apa saja alam. Pada saat yang sama,
persyaratan politik yang menjadi kepercayaan (agama), telah
pemicu konflik agama? Apa pula banyak melakukan otokritik dan
kemampuan integratif yang dekonstruksi teologis yang
ditawarkan agama-agama? membebaskan. Beberapa tahun
Bagi publisis Gret Heller, lalu, ada diskusi antara Kardinal
“pemisahan antara gereja dan Ratzinger – yang kini, menjadi
negara samasekali tak terkait Paus, dengan Habermas, filosof
dengan pemisahan antara agama Jeman terkenal, terkait bagaimana
dan politik”. Hal tersebut diyakini menemukan basis moral bagi
tidak mempertanyakan keabsahan sebuah masyarakat pluralistis.
masyarakat sekuler serta tatanan Menurut Ratzinger, rasionalitas
demokrasi. Perdebatan tentang sekuler bukanlah sesuatu yang
berbagai perspektif agama, universal, Vernunft dan
biasanya berjalan relatif demokratis. kepercayaan harus melakukan
Yang lebih sulit, karena tidak begitu reposisi. Bagi Habermas, baik
jelas ketika berbicara tentang kesadaran religius maupun
6
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
sekelur, perlu melakukan harapan. Dalam ajaran asli dan
penyesuaian. Klaim atas intinya agama boleh jadi mulia, tapi
kebenaran absolut oleh agama, bagaimana ia nyaris selalu
perlu dihindari. Namun, mereka berkembang tak sesuai denga ideal
yang menganggap Vernunft seperti itu? Para pengikut (agama)
sebagai kebenaran universal, dari acapkali menjadikan pemimpin-
segi jumlah terbilang minoritas. pemimpin, doktrin-doktrin, dan
Harus diakui bahwa mayoritas keperluan untuk mempertahankan
umat manusia, adalah mereka struktur-struktur institusional,
yang percaya akan keberadaan sebagai kendaraan dan justifikasi
Tuhan. Bagi kelompok mayoritas bagi perilaku yang tak dapat
ini, agama adalah yang terpenting, diterima”, termasuk “
lebih penting ketimbang metransendensikan kepentingan-
demokrasi, misalnya. kepentingan diri yang sempit ke
Meski bukan tanpa dalam pengejaran nilai-nilai dan
sanggahan, jauh lebih banyak or- kebenaran-kebenaran yang lebih
ang menjawab penyebab tinggi”4.
kebutuhan untuk beragama ada Tak heran banyak yang
dalam fitrahnya manusia – mensinyalir telah muncul krisis
betapapun sebagian ilmuwan agama-agama, terutama tampak
menisbahkan hal tersebut pada dalam kian merosotnya penampilan
ilusi, ketakutan dan supresi. agama di tengah kehidupan publik.
Dalam klaim kebenaran absolut, Sejauh ini, krisis tersebut
penganutan agama memendam termanifestasikan dalam gejala
potensi konflik. Sumbernya, politisasi dan komersialisasi agama.
bukan terletak pada agama itu Politisasi agama bisa dilihat dari
sendiri, melainkan lebih sering maraknya penggunaan nilai-nilai,
akibat manipulasi untuk symbol-simbol, dan jargon-jargon
keperluan-keperluan opresif atau agama demi kepentingan
agenda-agenda lain 3, termasuk kelompok, tak jarang dengan tujuan
dalam upaya mewarnai atau politik jangka pendek. Sedangkan
mengatur ruang publik. Charles komersialisasi agama muncul
Kimbal, professor ahli sejarah dalam bentuk pendomplengan
agama yang juga seorang pastor modal dalam berbagai jenis institusi
menulis: “Di jantung orientasi dan dan tradisi agama-agama untuk
pencarian religius, manusia komodifikasi. Pada titik ini agama
mendapatkan makna dan sebenarnya berada dalam posisi
7
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

yang terancam dari perannya bahasa keadilan, ekonomi sebagai


sendiri sebagai sumber ilham bagi bahasa pemerataan, dan sosial
perubahan, yang tak jarang bersifat sebagai bahasa perdamaian bagi
revolusioner. semua tanpa tersekat dalam
Saat ini, menurut Mudji kepentingan kelomok atau
Sutrisno5, sedikitnya terdapat tiga kepentingan sesaat. Mengatasi
persoalan menyangkut bagaimana fundametalisme, dapat dilakukan
merumuskan kembali peran agama lewat mempertemukan
dalam wilayah publik. Pertama, spiritualitas agama-agama yang
persoalan internal agama itu sendiri kemudian ditransformasikan ke
terkait tafsiran mengenai Tuhan dalam kehidupan publik. Hal ini,
yang penuh kasih dan Tuhan yang bisa diarahkan utuk
menghukum. Ringkasnya, mengembangkan cara interaksi
menyangkut ketegangan antara antar manusia yang didasarkan
tafsir etis dan tafsir legalis. Kedua, pada persamaan dan keadilan
agama yang diwakili tokoh- sebagai sebuah “agama” seperti
tokohnya, menjadi idenifikasi yang diajurkan Rouseau dan
untuk membela kepentingan- dipopulerkan Robert N. Bellah
kepentingan politik dan ekonomi. dengan istilah agama sipil atau
Ketiga, munculnya agama madani.
fundamentalisme sebagai bentuk Dalam bayangan Bellah,
pemurinan agama-agama dalam negara Amerika itu – seperti
merespon dinamika yang berada halnya Indonesia, yang
diluar dirinya. hakikatnya berdasarkan nilai-nilai
Untuk mengatasi tiga persoalan agama, tidak akan pernah menjadi
di atas, Muji menekankan perlunya sekuler. Karena itu, diperlukan
merumuskan peran baru agama sebuah agama yan dianut oleh
melalui jalan kebudayaan. Caranya, seluruh warganegara. Dalam
dengan menafsirkan kitab suci bayangan Bellah, agama sipil
agama secara kontekstual. Sebagai adalah sebuah keberagamaan
jalan kebudayaan, dialog antar yang tidak terbatas pada agama-
agama pada dasarnya adalah dia- agama tradisional yang ada, tetapi
log nilai-nilai, terutama yang bisa merupakan seperangkat
memberika kedamaian dan keyakinan dasar yang mengikat –
kemanusiaan dalam kehidupan dalam kasus ini, warga Amerika.
bersama. Konkretnya, Intinya, seperti halnya
memengaruhi hukum sebagai Rosseau, Bellah memikirkan
8
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

sebuah agama yang bisa itu, ia membayangkan akan tumbuh


menyediakan kesetiaan tunggal motivasi umat Islam untuk
teradap negara. Pemikiran seperti memperjuangkan kesejahteraan
ini, bagi Jalaluddin Rakhmat 6 , bangsa oleh perasaan beragama,
cocok dengan situasi Indonesia tanpa sekat. Agama sipil, dengan
saat ini ketika agama-agama resmi, demikian, menempatkan dirinya
termasuk Islam, ternyat sebagai legitimasi normatif bagi
menawarkan kesetiaan ganda negara. Bukan agama yang
yang seringkali bersifat dikotomis, membebek pada negara, tetapi
saling menegasikan antara Negara sebuah agama yang kontributif bagi
dan agama. Ini membuat “umat” usaha kolektif umat-warganegara
dan “warganegara” sebagai dua untuk berpartisipasi di dalamnya.
kategori yang berlawanan. Untuk memperkenalkan Islam
Agama-agama seperti Islam, dalam paradigma sebagai agama
Kristen, Katolik, Hindu, Budham Madani, Kang Jalal mengakui
atau Konghucu, menurut Kang mendasarkan kerangka
Jalal, tidak bisa diandalkan karena metodologinya pada apa yang
bersifat partikular, dan hanya diperkenalkan oleh Kuntowijoyo
berfungsi sebagai acuan doktrinal untuk mengubah umat Islam dari
bagi para pemeluknya. Agama- cara berpikir subjektif ke objektif.
agama partikular hanya mampu Dengan kerangka ini, berpikir
memberikan kesetiaan partikular objektif tentang agama tidak
yang tertutup, bukan kesetiaan memerlukan pertimbangan-
terbuka yang bersifat civic pertimbangan teologis tentang
terhadap negara. benar salahnya agama lain. Agama-
Khusus terkait agama agama lain tidak memerlukan
anutannya, putera seorang kyai pembenaran teologis secara Islam
yang menjadi kepala desa di untuk menjamin eksistensinya
daerah cicalengka, Bandung ini, masing-masing di tengah-tengah
mengatakan Islam harus masyarakat Islam. Bahwa agama
berkembang menjadi agama lain ada secara objektif, cukuplah
madani, agar tersedia suatu bagi umat Islam. Umat tidak perlu
argumen teologis yang mampu repot-repot berpikir tentang
membuat warganegara kedudukan teologis agama lain
berkhidmat kepada negara seperti dalam Islam.
mereka berkhidmat kepada Perubahan cara berpikir
agama. Dengan gagasan seperti subjektif ke objektif, berarti
9
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

pengakuan sepenuhnya bahwa Catatan Kaki


agama yang ada di luar itu ada
secara objektif. Sesuatu yang
1
Juergen Habermas, Strukturwandel der
Oeffentlicgkeit, Frankfurt aM, 1990.
menjadi dasar bagi eksistensi Lihat juga F. Budi Hardiman, Ruang
bersama, dasar dari pluralisme Publik Politis: Komunikasi Politis dalam
agama-agama, termasuk agama- Masyarakat Majemuk, Jakarta.
agama yang secara resmi tidak 2
Lihat F. Budi Hardiman, Ruang Publik
diakui – bahkan dari kalangan non- Politis: Komunikasi Politis dalam
agama, agama-agama tradisional, Masyarakat Majemuk, Jakarta.
aliran kepercayaan, agnostik dan 3
Lihat Haidar Bagir, Agar Agama Tidak
atheis. Agama madani, harus dijaga Menjadi Evil, Reform Review, April-
dan memang tidak dimaksudkan Juni 2007
berada di bawah suatu otoritas 4
Charles Kimball, When Religion
politis apapun. Ia dimaksudkan Becomes Evil – dikutip dari Haidar
Bagir, Reform Review, April-Juni
hanya untuk kepentingan negara
2007, halaman 83-84
bukan penyelenggara negara serta
dirumusknan untuk memberikan
5
Lihat Reform Review, April-Juni 2007,
halaman 38-39
justifikasi etis dan rasional untuk
perjuangan bersama
6
Jalaluddin Rakhmat, Membangun Islam
Sebagai Agama Madani , makalah
mensejahterakan bangsa. dipresentasikan pada ulang tahun
Memakai kata-kata Kang Jalal, Yayasan Paramadina, 20 November
agama madani dimaksudkan 2006.
menjadi semacam kerangka politik
etis, misalnya, untuk memberantas
korupsi atau menentang
kapitalisme global yang
menyingkirkan pedagang-
pedagang kecil, menentang tipu
muslihat privatisasi demi
kepentingan neoliberalisme.
Sebuah landasan bagi sebuah
moral-politik agama-agama,
termasuk Islam, dalam
merumuskan perannya di ruang
publik.

10
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Artikel
Dari “Politisasi Agama”
Menuju “Moral Publik Agama”
Zuhairi Misrawi
Intelektual Muda Nahdhatul Ulama dan Direktur Moderate Muslim Society

Relasi agama dan negara merupakan diskursus


yang pada zaman ini paling banyak diperbincangkan.
Sejauh ini diskursus tersebut telah melahirkan
dualisme pandangan, yaitu antara mereka yang
mendukung sekularisme dan mereka yang menolak
mentah-mentah sekularisme dengan mengajukan pro-
posal formalisasi agama.
Hanya saja yang menjadi persoalan utama, baik
mereka yang mendukung sekularisme maupun yang
menghendaki formalisasi agama belum mampu
menjawab masalah utama yang sedang dihadapi oleh
publik. Kedua kubu tersebut seringkali berlindung
dibawah klaim nilai yang sebenarnya kalau dilihat
sama-sama absurd.
Lihat misalnya, negara-negara yang secara nyata
menjunjungtinggi nilai-nilai agama dalam politik
seperti Saudi Arabia, Pakistan, Irak, bahkan Malay-
sia. Negara-negara tersebut sedang menghadapi
masalah serius, terutama dalam rangka melindungi
kelompok minoritas, diskriminasi terhadap kalangan
perempuan, radikalisme dan terorisme. Agama yang
dijadikan sebagai sumber utama dalam politik tidak
mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-
politik. Kendatipun secara ekonomi relatif baik,
seperti Saudi Arabia dan Malaysia, tetapi dalam ranah
politik selalu ada diskriminasi terhadap kelompok-
kelompok minoritas. Secara nyata kedua negara
tersebut tercatat mempunyai catatan buruk perihal
perlindungan terhadap kaum buruh migran.
Di sisi lain, negara-negara yang menasbihkan
11
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

dirinya sebagai “negara sekuler” yang menganut politisasi agama,


juga dihadapkan pada hilangnya sikap politik semacam itu
moralitas publik di pentas global. merupakan praktik politik
Sekularisme yang tidak didasari murahan yang seringkali ibarat
pada kehendak untuk mewujudkan pisau bermata dua. Di satu sisi
kesetaraan dalam politik dan ingin menampakkan diri sebagai
kepentingan bersama kerapkali “pembela agama”, tetapi di sisi
melahirkan otoritarianisme yang lain sebenarnya lebih merupakan
berujung pada konflik sosial yang pembajakan terhadap nilai-nilai
bersifat permanen. Invasi Amerika agama. Sebab yang terungkap di
Serikat ke Irak merupakan contoh permukaan adalah pelanggaran
tentang ketidakmampun terhadap hak asasi manusia serta
“sekularisme” dalam ranah politik proses pemiskinan yang bersifat
dimaknai sebagai penghargaan massif. Agama tidak menjadi
terhadap kemanusiaan. Begitu pula unsur konstruktif, melainkan
perlindungan pemerintah Perancis justru dijadikan sebagai unsur
terhadap para imigran dinilai destruktif.
sebagai “kebangkrutan Maka dari itu, diperlukan
sekularisme” dalam menjawab pergeseran pemikiran baru dari
masalah keadilan sosial. sekadar pemisahan agama dan
Sementara di sisi lain, negara yang selama ini
pemandangan yang cukup dikampanyekan oleh penganut
mengejutkan yaitu kegagalan sekularisme atau mereka yang
dalam ranah politik ditutup-tutupi menganut penggandengan agama
dengan perselingkuhan antara dan negara. Pemikiran yang
“institusi agama” dan “institusi dibutuhkan di masa mendatang,
politik”. Negara-negara yang yaitu meletakkan agama sebagai
disebut sebagai sponsor utama unsur transformatif dan
sekularisme, seperti Amerika emansipatoris dalam ranah publik.
Serikat dan Perancis belakangan Agama bisa dan harus hadir pada
mulai telanjang terlihat bermain ranah publik, tetapi bukan dalam
mata dengan institusi agama, yang kapasitasnya sebagai “penguasa
secara implisit bisa dipahami otoriter” sebagaimana
sebagai cara untuk menutupi dipraktekkan oleh Pemerintah
kegagalan dalam menutupi Saudi melalui dominasi
kegagalan. wahabismenya maupun
Begitu halnya, di negara-negara pemerintah Malaysia dengan etnis
12
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Melayunya. Agama harus mampu nal agama. Sebab, dalam


mengambil jalan tengah sebagai sejarahnya, friksi dan polarisasi
penyeimbang dan kontrol sosial. dalam internal agama tidak kalah
Agama diharapkan dapat menjadi dahsyatnya dengan konflik antar-
kekuatan moral yang efektif bagi agama yang menghiasi sejarah
terwujudnya cita-cita keadilan, kemanusiaan.
kesetaraan, kedamaian dan Kaitannya dengan pluralisme,
kesejahteraan sosial. Peter L. Berger, dalam The Sacred
Canopy: Elements of a Sociological
Moral Publik Agama: Theory of Religion, sekularisasi
Transformatif-Humanis sesungguhnya mempunyai misi
Agama pada hakikatnya yang sama yaitu melahirkan
merupakan hasil pergulatan kesadaran tentang pentingnya
antara realitas dengan nilai. Dari pluralisme, yang pada akhirnya
posisi paradigmatik seperti ini, akan menjadi modal penting bagi
mau tidak mau, agama harus terwujudnya demokrasi.
menjadi nilai yang mampu Hanya saja, harus diakui dalam
diterjemahkan dalam realitas perjalanannya sekularisme juga
sosial. Paradigma agama sebagai tidak mampu menjamin lahirnya
nilai harus dimaknai secara lebih pluralisme, karena sekularisme juga
teliti dan hati-hati. Sebagai nilai, tidak terlepas dari kepentingan-
tentu saja berbeda dengan kepentingan subyektif mereka yang
pandangan agama sebagai terlibat dalam praktik politik
kekuatan simbolik. sekularistik. Karena itu, dalam tesis
Salah satu konsekuensi agama terbarunya, Berger memandang
sebagai kekuatan nilai, yaitu perlunya pluralisme didorong oleh
agama harus menjadi pembela dan kekuatan lain, yaitu agama. Dalam
pendorong bagi pluralisme. konferensi tentang pluralisme, The
Maksudnya, agama diupayakan New Religious Pluralism and Democ-
agar tidak terjerambab dalam racy, ia menyatakan bahwa saatnya
perebutan simbolik dan klaim agama juga memberikan
kebenaran kelompok tertentu. Di pengayaan nilai bagi pluralisme.
sini, agama sebagai kekuatan Di tengah-tengah kegagalan
pluralisme berlaku tidak hanya paradigma sekularistik, kalangan
dalam hubungan antar-agama, konservatif di Amerika Serikat
tetapi juga harus menjadi mulai bergerak untuk menjadikan
kekuatan pluralisme dalam inter- gereja sebagai pihak yang dapat
13
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

melakukan intervensi pada ranah mengusung agenda-agenda


publik. Mereka pun mulai Syariat secara politis. Artinya,
melibatkan agama dalam ranah yang diperjuangkan bukanlah
politik, yang merupakan ranah tujuan-tujuan utama Syariat
publik. Lihat misalnya dalam (maqashid al-syari’ah) melainkan
konvensi untuk pemilihan bagian-bagian partikular dari
Presiden Amerika, salah satu Syariat, seperti hukum potong
lembaga survei membuat sebuah tangan, pemakaian jilbab. Adapun
polling yang diantara sesuatu yang paling prinsipil dari
pernyatannya: Apakah Jesus Syariat diletakkan sebagai bahan
mendukung Obama atau Hillary sekunder, untuk tidak
Rodham Clinton. Dalam hasil mengatakan dilupakan. Kalangan
survei tersebut, Obama mendapat Islam formalis kerapkali bernaung
dukungan 64 menggungguli di balik jubah Syariat.
Hillary. Di sini, agama harus mampu
Sementara itu, gerakan dipahami secara progresif dalam
kembali ke Syariat juga menggema ranah publik. Fakta penggiringan
di dunia Islam. Setidaknya, wajah agama sebagai legitimasi
tersebut dapat terlihat dengan kekuasaan otoriter secara
nyata di Pakistan dan Indonesia. gamblang telah mereduksi agama
Berbeda dengan Saudi Arabia dan itu sendiri. Sebab dalam
Malaysia yang merupakan dua realitasnya agama tampil dalam
representasi negara Muslim yang wajah yang garang, bahkan
secara ekonomi relatif sejahtera kerapkali menistakan
dan maju, tapi Indonesia dan Pa- kemanusiaan dengan merebaknya
kistan merupakan potret negara pembunuhan. Untuk kasus Paki-
Muslim yang sedang dalam krisis stan, sudah berapa banyak korban
ekonomi dan politik. Di kedua yang tewas berjatuhan akibat
negara terakhir, Syariat menjadi ambisi untuk menegakkan Syariat
eskapisme dari kegagalan. Pilihan dalam politik.
terhadap Syariat sebenarnya Menurut Berger, dalam ranah
merupakan reaksi dan respon dari globalisasi yang semakin
kegagalan pemerintahan sekuler kompleks, agama-agama harus
untuk mewujudkan keadilan dan mampu melahirkan pluralisme
kesejahteraan sosial. Maka lahirlah baru (new pluralism). Yaitu
peraturan-peraturan daerah, baik pluralisme yang mampu
secara eksplisit maupun implisit membangun nilai-nilai sosial yang
14
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

transformatif seperti spirit agama adalah keragaman.


voluntarisme. Pluralisme harus Muhammad Thahir bin
membawa spirit pembebasan. ‘Asyur juga mempunyai
Ia menambahkan, bahwa Is- pandangan yang menarik tentang
lam, Protestan dan Katolik pentingnya membangun
merupakan fenomena agama glo- paradigma moral publik agama,
bal yang mempunyai tantangan yaitu pentingnya membumikan
yang kurang lebih sama. Agama- Maqashid al-Syariah pada ranah
Agama tersebut hampir dianut publik. Ia memandang, bahwa
oleh seluruh penduduk dunia Syariat dalam ranah publik harus
yang sedang menghirup angin diterjemahkan dalam tiga hal:
globalisasi. Sedikit banyak Pertama, agama harus mampu
perannya dalam ranah global tidak mendorong kesejahteraan publik,
bisa dihindari. baik itu sandang, pangan maupun
Di sini menurut Berger, agama papan. Agama harus mampu
harus mengubah perannya menyelesaikan masalah
sebagai pembawa pesan-pesan kemiskinan.
normatif-formalistik (heretical im- Kedua, menyediakan fasilitas
perative) menjadi pembawa pesan- demi terwujudnya kesejahteraan
pesan transformatif-humanis (vol- sosial. Dalam hal ini, harus ada
untary imperative). Pluralisme pada kebijakan publik yang dapat
hakikatnya akan membukakan menjamin terwujudnya lapangan
mata hati dan pikiran untuk pekerjaan. Bila menggunakan
melihat, bahwa masalah utama paradigma ini, maka anggaran 20
yang sedang mengancam persen untuk pendidikan
kemanusiaan bukanlah merupakan kebijakan yang sejalan
keragaman, melainkan untuk Syariat. Perlindungan
ketidakadilan dan kemiskinan terhadap anak-anak juga menjadi
yang dialami oleh setiap agama. kebijakan yang bernuansa Syariat.
Kemiskinan bukan hanya Subsidi yang progresif terhadap
fenomena masyarakat Muslim, para petani untuk meningkatkan
melainkan juga menimpa umat hasil petani juga menjadi
agama-agama lain, baik itu Kristen kebijakan yang sesuai dengan
maupun Yahudi. Karena itu, Syariat.
agama harus keluar dari jebakan Ketiga, memperhatikan
fundamentalisme yang pentingnya menghargai hak asasi
menganggap masalah utama manusia dan mengedepankan
15
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

kepentingan orang banyak. Di sini, sebenarnya merupakan contoh


kepentingan publik harus yang sangat baik dalam rangka
didahulukan daripada kepentingan menerjemahkan nilai-nilai
golongan yang bersifat transformatif agama dalam ranah
sektarianistik. Pada suatu hari publik. Pancasila merupakan salah
puterinya Fatimah dan satu bentuk konstitusi yang
menantunya Ali bin Abi Thalib menjamin nilai-nilai hadir dalam
tidak mempunyai makanan yang bentuknya yang melindungi
cukup di rumahnya. Keduanya semua kalangan. Karena itu,
mencoba meminta kepada Nabi menurut Nadirsyah Hosen dalam
Muhammad SAW sebagai orang Shari’a and Constitutional Reform in
tua dan mertuanya. Tetapi Nabi Indonesia, konstitusi yang kita
menyatakan akan mendahului miliki sebenarnya memuat nilai-
umatnya, yang sedang didera nilai substansi dalam agama,
kelaparan dari pada keluarganya. khususnya Islam. Konstitusi
MItulah teladan pembebasan yang tersebut lebih baik daripada Turki
diwariskan Nabi Muhammad SAW yang menganut sistem sekuler
kepada umatnya. Kepentingan maupun Pakistan, Malaysia, Iran
umat harus diutamakan daripada dan Saudi Arabia yang menganut
kepentingan diri dan keluarganya. sistem Islam. Moral publik agama-
Dengan demikian, sebenarnya agama sudah terangkum dengan
agama-agama mempunyai potensi sangat baik di dalam Pancasila dan
untuk menjadi kekuatan publik UUD 1945.
yang transformatif daripada hanya
sekadar fundamentalistik- Kesimpulan
formalistik. Agama-agama tidak Moral publik agama
hanya kaya doktrin, melainkan juga sesungguhnya sudah menjadi
kaya pengalaman tentang modus vivendi pada bangsa ini sejak
transformasi sosial, yang sudah awal kemerdekaannya.
dipraktekkan sejak dahulu kala. Masalahnya adalah sejauhmana
Karenanya, tugas yang diemban seluruh pihak, baik kekuatan po-
sesungguhnya lebih mudah yaitu litical society maupun civil society
menagih kekuatan politik untuk mempunyai pemahaman yang
menerjemahkan nilai-nilai komprehensif tentang paradigma
transformatif tersebut dalam ranah transformatif sebagaimana tertera
sosial. dalam konstitusi. Sebab, masih
Para pendiri bangsa ini, banyak pihak yang kurang
16
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

mengerti tentang kelebihan dan Daftar Pustaka


keistimewaan konstitusi tersebut.
Tantangannya terdapat pada Peter L. Berger, The Secred Canopy:
sejauhama nilai-nilai yang Elements of a Sociological Theory of
diusung oleh konstitusi tersebut Religion, Anchor Books, New York, 1967
diterjemahkan dalam realitas ____________, Pluralism,
sosial politik. Jika nilai-nilai Prostetanization and he Voluntary
tersebut diterapkan dengan baik, Principle, makalah conferensi tentang
The New Religious Pluralism and
maka politisasi agama tidak akan
Democracy yang dilaksanakan pada
menemukan tempatnya di tanggal 21-22 April di Universitas
republik ini. Sebaliknya, bila Georgetown, Amerika Serikat
ditinggalkan maka bangsa ini telah Muhammad Thahir bin ‘Asyur, Maqashid
menelantarkan kesempatan emas al-Syari’ah al-Islamiyyah, Dar al-Salam,
untuk menjadi bangsa yang Kairo, 2005
unggul dan bermartabat. Di sini, Nadirsyah Hosen, Shari’a and Constitu-
pluralisme merupakan kenyataan tional Reform in Indonesia, ISEAS,
historis yang harus dikonstruksi Singapura, 2007
menjadi kekuatan transformatif
untuk mewujudkan perubahan.

17
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Artikel
Agama dan Nalar Negara-Kekuasaan
Benny Susetyo
Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan
Konferensi Waligereja Indonesia

PROBLEM kehidupan beragama di Indonesia


masih cukup banyak dan setiap saat muncul prob-
lem yang berbeda-beda. Untuk menjalankan
kehidupan beragama secara bersama-sama
antarpemeluk dengan semangat toleransi tinggi
masih menghadapi tantangan yang tidak kecil.
Walaupun wacana pluralisme dan toleransi antar
agama ini sudah sering dikemukakan dalam berbagai
wacana publik, namun praktiknya tidaklah semudah
yang dipikirkan dan dibicarakan. Walaupun sudah
terdapat kesadaran bahwa bangsa ini dibangun
bukan atas dasar agama, melainkan oleh kekuatan
bersama, namun pandangan atas ‘agamaku’,
’keyakinanku’ justru sering menjadi dasar dari
berbagai perilaku sehari-hari yang bermuatan
kekerasan.
Sekalipun kita menyadari pentingnya slogan
Bhinneka Tunggal Ika, namun praktik di lapangan
tak seindah dan semudah pengucapan slogan itu.
Masih banyak persoalan keagamaan di Indonesia
yang menghantui dan menghambat terwujudnya
solidaritas, soliditas, dan toleransi antarumat
beragama di Indonesia.
Gairah beragama yang tinggi tidak selalu
memiliki pengertian setara dengan semangat
beragama yang hakiki, yakni untuk mengubah cara
hidup yang lebih manusiawi. Sudah sering umat
beragama kehilangan visi dan perspektif hidup.
Mereka kehilangan kemampuan untuk menggambil
jarak kritis, dan kehilangan kemampuan untuk
18
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

menjadi hening. Mereka juga yang intoleran dan bersikap ingin


kehilangan kemampuan untuk menang sendiri. Akal budi dan
berkontak dengan Tuhan. Inilah kemanusiaan pun luntur karena
yang paradoks dalam kehidupan sikap individualistik yang semakin
beragama saat ini. Kehidupan hari semakin tajam. Orang
menjadi kontraproduktif karena beragama hilang kepeduliannya
gairah beragama tak lagi menjadi pada sesama.
bagian dari perubahan laku. Kecenderungan manusia
sekarang adalah pragmatisme. Kita
Beragama Secara Parsial dididik oleh ajaran-ajaran menjalani
Beragama dan ber-Tuhan kehidupan secara instan.
dengan mengedepankan toleransi Pragmatisme dalam konteks ini
sering hanya bisa diucapkan hanya melihat manusia dalam satu
melalui kata-kata. Dalam berbagai segi saja, yakni memilih salah satu
perilaku kehidupan toleransi di antara keduanya: material atau
beragama dan membumikan nilai- spiritual. Jika memilih aspek
nilai kemanusiaan yang sejatinya keduniawian, pola pikir seperti ini
diemban oleh semua agama sering akan sangat memuliakan materi.
hanya menjadi penghias bibir. Orientasi berkehidupan terjebak
Perilaku kehidupan yang dalam pemenuhan hal-hal
mementingkan keserakahan di inderawi. Orientasi keuntungan
satu sisi dan kesucian di sisi lain fisik belaka. Tak ubahnya barang,
seringkali berseberangan secara semua aspek terdalam dari manusia
ekstrim. Keduanya saling —seperti kemanusiaan— direduksi
mengklaim sebagai pembawa ke dalam perilaku mekanis,
kebenaran satu-satunya. Bagi individualis dan pragmatis. Hal
perkembangan kemanusiaan dan yang sama juga terjadi bila aspek
solidaritas, kedua pandangan ini spiritualitas yang dipilih tanpa
sering berkontribusi negatif. mengindahkan keberadaan materi.
Solidaritas tidak tumbuh Keberagamaan yang demikian
seiring dengan berbagai masalah hanya melahirkan manusia yang
yang dihadapi. Solidaritas mati di merasa dekat dengan Tuhannya
tengah sikap sombong manusia. tapi enggan bersentuhan dengan
Tugas agama untuk membawa realitas.
pesan-pesan keadilan dan Ketika terjadi musibah,
kedamaian hilang ditelan oleh manusia sudah “pasrah
tindak-tanduk kaum beragama bongkokan” alias fatalis dan
19
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

menyerahkan semua keadaan sebagai cara terbaik berketuhanan.


kepada yang “Di Atas”. Semua Keduanya menjalani kehidupan
merupakan kehendak Tuhan, dan dalam bentuk yang ekstrim. Tak
manusia hanya bisa berpasrah diri. disadari bahwa keduanya sedang
Manusia dengan kategori seperti ini melihat Tuhan dalam dua sisi yang
tidak akan pernah menyalahkan berbeda. Mereka tidak melihat
semua kegagalan kepada dirinya, Tuhan dalam kacamata yang utuh.
karena semua sudah kehendak Sudah begitu, lantang diteriakkan
berkuasa. Tidak ada refleksi bahwa di antara merekalah yang
mendalam bahwa setiap bencana terbaik melihat segala aspek
selalu ada sebabnya. Tidak ketuhanan dan kemanusiaan.
mungkin ada api kalau tak ada bara, Tidak disadari bahwa ada
tak mungkin ada banjir kalau semangat yang hilang dalam
manusia tidak serakah menjarah. kedua cara tersebut memandang
Dalam keadaan seperti ini kehidupan. Bahwa aspek
manusia menyerahkan semua kemanusiaan dihilangkan,
nasibnya kepada yang di atas, dan persaudaraan dimatikan, dan
melihat semua fenomena sebagai merasa bisa hidup bahagia dengan
takdir. Mental pasrah dan keserakahan di satu pihak dan
menerima ini bahkan diyakini kesucian di lain pihak.
melekat dalam diri kita sebagai Kebahagiaan yang dicapai
kaum berbangsa dan beragama. melalui keserakahan dan kesucian
Semua ujung permasalahan ditarik yang diraih dengan menegasikan
ke dalam kubangan takdir, seolah menjadi cara pandang
manusia tidak pernah bersalah — berkehidupan yang mengabaikan
dan terkadang melihat nyata-nyata pesan-pesan luhur Tuhan dari
kesalahan manusia juga sebagai semua agama, yakni kemanusiaan.
takdir. Tidak sedikit pola pikir yang Manusia yang terbatasi dalam
pertama menjadi kecenderungan dirinya ruang dan waktu merasa
dan kekuatan bertindak-tanduk. sudah bisa memahami Tuhan
Tidak sedikit pula pola pikir yang yang berada dalam ruang dan
kedua menjadi kecenderungan waktu tak terbatas. Klaim
umat beragama di bangsa seribu kebenaran muncul di mana-mana.
satu bencana ini. Kebenaran yang dicari
Keduanya saling berebut dinyatakannya sudah berakhir
memperebutkan kedudukan dan dalam satu tafsir tunggal. Di antara
tempat terbaiknya dan mengaku mereka menyatakan sebagai
20
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

penafsir tunggal terbenar tentang permukaan. Serangkaian


segala hal terkait dengan Tuhan. perusakan, kekerasan, dan
Ketika agama dipahami penangkapan terhadap kelompok-
dengan cara parsial seperti itu, tak kelompok yang dianggap “sesat”
pernah disadari bahwa umat dan kelompok agama lain terjadi
manusia dan kemanusiaannya dan dipertontonkan kepada publik.
telah terjerambab dalam kubangan Sepanjang Januari-November,
lumpur yang dalam dan gelap. Setara Institite mencatat 135
Mereka yang melihat gajah dalam peristiwa pelanggaran kebebasan
satu sisi berkoar menyatakan gajah beragama dan keyakinan. Dari 135
berkaki dua, dan mereka yang peristiwa yang terjadi, tercatat 185
hanya sempat melihat belalainya tindak pelanggaran dalam 12
berkeyakinan gajah hanya kategori.
merupakan sesuatu yang Jumlah terbanyak kelompok
memanjang. Integrasi semangat (korban) yang mengalami
kedua keyakinan ini sulit menyatu pelanggaran kebebasan beragama
karena dalam diri mereka masing- dan berkeyakinan adalah al Qiyadah
masing telah tumbuh egoisme dan al Islamiyah. Aliran ini ditimpa 68
sikap yang sangat individualistik. kasus pelarangan, kekerasan,
Agama dengan tafsiran monolitik penangkapan dan penahanan.
seperti ini lalu menjadi cara Kelompok berikutnya adalah
pandang berkehidupan yang jemaah Kristen/ Katholik yang
utama dengan hasrat kuat untuk mengalami 28 pelanggaran, disusul
saling menguasai sekaligus Ahmadiyah yang ditimpa 21
mengabaikan faktor-faktor tindakan pelanggaran. Dari pelaku
kemanusiaan dan solidaritas 185 pelanggaran kebebasan
terhadap sesama. beragama dan berkeyakinan adalah
negara. Sejumlah 92 pelanggaran
Kekerasan dalam Beragama dilakukan oleh negara (commission)
Salah satu persoalan dalam bentuk pembatasan,
mendasar dalam demokrasi Indo- penangkapan, penahanan, dan
nesia adalah kebebasan vonis atas mereka yang dianggap
menjalankan ibadat dan sesat. Termasuk dalam tindakan
keyakinan. Pada 2007 adalah saat langsung ini adalah dukungan dan
di mana pelanggaran kebebasan pembenaran otoritas negara atas
beragama dan berkeyakinan penyesatan terhadap kelompok-
terjadi sangat nampak di kelompok keagamaan tertentu.
21
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Sedangkan 93 tindakan warga/ organisasi keagamaan


pelanggaran lainnya terjadi karena melakukan persekusi massal atas
negara melakukan pembiaran kelompok-kelompok keagamaan
(ommision) terhadap tindakan- dan keyakinan. Di sini kita melihat
tindakan kekerasan yang dilakukan banyak kontradiksi-kontradiksi.
oleh warga atau kelompok. Dalam konstitusi yang lebih tinggi,
Berbagai laporan yang kebebasan umat beragama dan
dikeluarkan menunjukkan eskalasi melakukan ibadah dijamin, tapi
kekerasan berbasis agama yang dalam peraturan di bawahnya
terjadi sepanjang 2007 mengandung terdapat kecenderungan
destruksi yang sangat serius dan menghambat umat untuk
mengkhawatirkan. Penyerahan beribadah. Ada pengekangan.
otoritas negara kepada organisasi Misalnya dalam konteks
keagamaan korporatis negara rumah ibadah, itu bukanlah soal
dalam menilai sebuah ajaran agama bagaimana suatu rumah ibadah
dan kepercayaan merupakan diserbu bahkan dibakar oleh
bentuk ketidakmampuan negara sekelompok orang yang menjadi
untuk berdiri di atas hukum dan persoalan utama. Itu sekedar ekses
bersikap netral atas setiap agama saja. Jauh lebih penting dipikirkan
dan keyakinan. Aparat hukum adalah bagaimana peran
bertindak di atas dan berdasarkan pemerintah menjadi mediator,
pada fatwa agama tertentu dan perumus dan pelaksana kebijakan-
penghakiman massa. Padahal kebijakan yang mengatur
institusi penegak hukum adalah pendirian rumah ibadah. SKB
institusi negara yang seharusnya yang menjadi dasar aturan itu
bekerja dan bertindak berdasarkan terkesan tidak adil. Dengan
konstitusi dan undang-undang. demikian pelaksanaannya
Dapat dilihat di sini negara melahirkan dampak umat yang
telah gagal mempromosikan, tidak dewasa memandang umat
melindungi, dan memenuhi hak lain. Bukanlah umat beragama
kebebasan beragama dan yang serta merta dipersalahkan
berkeyakinan. Negara, bahkan telah dalam kasus ini, melainkan
bertindak sebagai pelaku ketidakmampuan pemerintah
pelanggaran hak asasi manusia untuk melihat pluralitas dengan
(HAM) akibat tindakannya yang kacamata lebih adil dan
melarang aliran keagamaan dan menguntungkan bagi semua.
keyakinan dan membiarkan Negara gagal memberikan
22
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

perlindungan dan kesempatan Pancasila. Dengan begitu kebijakan


yang adil bagi semua pemeluk yang berpeluang untuk
agama untuk beribadah sesuai menumbuhsuburkan antipati
keyakinannya masing-masing. terhadap saudara sebangsanya
Jika demikian, lalu Pancasila yang lain perlu didudukkan ulang
untuk apa? Apa untuk gagah- untuk dibahas dan diganti dengan
gagahan saja? Untuk apa para kebijakan yang lebih adil dan
founding father merumuskan mencerahkan. Buat apa
falsafah bangsa yang demikian mempertahankan sesuatu yang
berharga dan terhormat itu jika dianggap tidak adil? Pemerintah
dalam perilaku sehari-hari kita harus mendengar dan benar-benar
tidak bisa mempraktikkannya mendengar tuntutan seperti ini.
dengan sepenuh hati? Kekerasan telah menjadi model
Walaupun kehidupan sosial yang sering dibungkus dengan
politik kita sudah mengalami ornamen keagamaan dan
kebebasan, nyatanya itu belum kesukuan. Inilah yang membuat
berimplikasi pada kebebasan asasi wajah kekerasan semakin hari
warga untuk beribadat. Beribadat, semakin subur di bumi pertiwi ini.
seperti kata Romo Magnis, adalah Meski kita seharusnya merajut nilai
hak warga paling asasi, dan hanya persaudaraan yang secara jelas
rezim komunis yang melarangnya. mengacu pada Pancasila, tapi kian
Rezim seperti apakah kita ini hari Pancasila tidak lagi menjadi
ketika membiarkan kekerasan tujuan hidup bersama. Pancasila
dalam beragama tanpa adanya yang seharusnya menjadi perekat
ruang dialog untuk membicarakan kehidupan bangsa tampak semakin
ulang secaralebih manusiawi? hari semakin terkikis oleh kefasikan
Pemerintah berkewajiban keagamaan, kedaerahan dan
untuk menjaga, melestarikan dan kesukuan. Pancasila sering
meningkatkan kesadaran dan diucapkan tapi sama sekali tak
kedewasaan umat terutama dalam dipahami maknanya.
pandangannya terhadap umat dan Pancasila tidak dijadikan
keyakinan beragama yang pembatinan nilai kehidupan
dianggap “lain”. Pemerintah bersama untuk mewujudkan
berkewajiban untuk memberikan bangsa yang beradab. Peradaban
pencerahan dan pendewasaan bangsa yang diukur dengan
pemikiran umat akan toleransi dan komitmen warga untuk
pluralisme. Itulah yang dimaui mewujudkan nilai kemanusiaan
23
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

dan keadilan tidak pernah berhasil. nya dan cita-cita negara kekuasaan
Tampak bangsa ini sangat melalui alat represi, menerima
mengagungkan formalisme ‘hujatan’ atas teorinya tidak saja di
keagamaan dan persatuan yang masa lalu ketika ia masih hidup,
dihayati secara “fasis”. Inilah yang bahkan sampai sekarang ia terus
membuat bangsa ini gagal dicerca. Pengabaiannya terhadap
melompat menjadi bangsa yang eksistensi moral dan prinsip baik
menekankan rasionalitas karena buruk dalam pemerintahan
kekerasan melekat menjadi kultur merupakan dasar-dasar di mana
dalam diri kita sebagai bangsa. kekerasan (represi) absah
Sampai sejauh ini dapat dilihat digunakan untuk tujuan
bahwa pemerintah dan DPR belum kekuasaan.
bersikap dan bertindak sama sekali Peperangan yang
atas setiap peristiwa kekerasan, melegitimasi piranti-piranti
diskriminasi, dan pelanggaran kekerasan di masa Alexander II
kebebasan beragama dan dan Julius Caesar II, Caesar Borgia
berkeyakinan. Padahal, berbagai dan Keluarga Medici, Maximilian
pernyataan, sikap, dan tindakan dan Louis XII, membuat
beberapa institusi mitra DPR itu Machiavelli gerah. Ia lantas
mengandung muatan destruktif, merumuskan teori kenegaraan
membiarkan kekerasan, dan turut modern, yakni menyarankan
serta melakukan pelanggaran penggunaan kekuatan represif
kebebasan beragama dan untuk membangun sebuah negara
berkeyakinan di Indonesia . Adalah yang kuat. Jalan satu-satunya
fakta, bahwa kebebasan beragama untuk menghentikan peperangan
dan berkeyakinan merupakan hak adalah hadirnya seorang pangeran
konstitusional warga yang dijamin yang kuat, yang mampu
oleh konstitusi. Karena itu, menyatukan kekuatan manusia
pengingkaran terhadap dan hewan.
pemenuhan hak-hak tersebut tidak Teori pencapaian kekuasaan
semata melanggar HAM tapi juga dengan segala cara ala
melanggar konstitusi. machiavellianism ini dikutuk oleh
negara-negara masa kini, tokoh-
Nalar Negara-Kekuasaan tokoh politik, agamawan serta
Adalah Machiavelli, masyarakat lain umumnya karena
cendekiawan politik yang masyhur bertentangan dengan
dengan Il Principe (Sang Pangeran)- humanisme/HAM. Namun,
24
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

betapapun demikian, kutukan yang gelap gulita. Persoalan demi


tersebut nampak hanya dalam persoalan datang tak terduga,
konsep saja. Realitasnya, cara saling tindih. Akibatnya, hampir
untuk mencapai kekuasaan tak satupun ada kasus kekerasan
dengan kekerasan, baik fisik/non yang tuntas diusut sampai akar-
fisik (dominasi/hegemoni), baik akarnya.
langsung/tidak, di dunia modern Dapat dicatat bahwa otoritas
ini nampak semakin sering kekuasaan kehilangan orientasi
digunakan. Terorisme yang untuk mewujudkan ketertiban
dilakukan negara atau kelompok umum. Mereka tak mampu
tertentu dalam masyarakat adalah mengatasi budaya premanisme
contoh baik untuk disebut. yang menjamur di kalangan sipil
Apa yang bisa kita petik dari dengan menggunakan baju
kisah di atas adalah pelajaran keagamaan, kedaerahan,
mengenai sikap manusia yang kesukuan, dan kepartaian. Ini
sering paradoksal. Tidak selalu akibat negara juga
niat baik menghasilkan tujuan mengembangkan budaya
baik, karena dalam perjalanannya premanisme yang hampir serupa,
manusia tergoda dan terbius yakni kerap mengintimidasi dan
kepentingan jangka pendek. Niat meneror! Tanpa kita sadari bahwa
damai tak selalu dipahami orang tumbuhnya kekerasan dalam
agar dicapai dengan jalan damai bungkus premanisme ini
pula. Sebagian dari mereka menghancurkan peradaban
cenderung menggunakan jalan kemanusiaan.
kekerasan. Perubahan peta politik Menurut Robert W. Heffner,
dan sosial yang berlangsung kelahiran pelbagai laskar,
dengan cepat ternyata tak misalnya, bisa dilacak saat
menghasilkan rasa tentram. kekuasaan Soeharto (alm) di
Kekerasan sosial akibat krisis ambang kehancuran, atau
ekonomi dan politik semakin sebelumnya sebagai kekuatan
meningkat tajam. untuk menyanggahnya.
Contoh kekerasan dalam Kenyataannya ada berbagai laskar
beragama selama beberapa waktu sipil yang bertumbuh dan
terakhir cukup ironis. Reformasi, berkembang subur dalam
yang diyakini sebagai masa masyarakat, di mana kelakuan
transisi demokrasi di Indonesia, militeristiknya kerap melebihi
diwarnai dengan segala sesuatu militer formal sesungguhnya.
25
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Keberadaan mereka selama ini Amangkurat II. Ia menikam dan


sering meresahkan daripada mencincang Trunajaya, lantas
membantu keamanan masyarakat. membagi-bagikan hatinya agar
Alih-alih menciptakan kekacauan dimakan para bupati yang hadir di
dan teror daripada ketentraman suatu balairung pembantaian itu
dan kedamaian. (!) (Catatan Pinggir Gunawan
Di sisi lain, kekuasaan-negara Muhammad).
tidak menyadari bahwa kelahiran Potensi kekerasan yang ada
berbagai laskar tersebut dalam kultur kita tersebut,
diakibatkan negara tak mampu haruskah kita pelihara sampai kini
melindungi masyarakat. Atau juga dalam sebuah situasi dunia di
karena sengaja dibentuk negara mana kita disebut sebagai bangsa
untuk beberapa kepentingan ramah? Maka, berangkat dari
jangka pendek para elitnya. Maka, pengakuan/kesadaran bahwa
tanpa sadar elit politik kita lebih kekerasan adalah potensi yang ada
mengedepankan nalar negara- dalam habitat kita, mengharuskan
kekuasaan (machiavellianism) bangsa ini untuk lebih banyak
daripada nalar negara-moral. Demi merefleksi diri. Kekerasan
alasan ini pula, kekerasan bisa diberikan legalisasi atas nama
digunakan atas nama negara. negara –yang lebih berkuasa
Harus diakui bahwa sejarah In- ketimbang nalar moral. Moralitas
donesia memang penuh kekerasan, politik tunduk pada nalar negara.
mulai dari Ken Arok di Singosari Akibatnya selama bertahun-tahun
sampai dengan Amangkurat I dan kita terjebak pada litani kekerasan.
II di Mataram. Dalam The History of Litani ini terus-menerus
Java, Raffles menceritakan betapa menghidupi politik, budaya,
sadis Amangkurat I: “Bila ia merasa agama, pendidikan dan militer.
tak enak hati, ia selalu menghabisi Litani ini bergerak menjadi
orang yang menjadi sumber lingkaran ‘fasis’ di mana jargon
ketidaksenangannya.” Ia bahkan agama, nasionalisme, ekonomi,
pernah mengumpulkan 6000 orang dan politik diusung para elit untuk
(para agamawan beserta kepentingan pribadinya sendiri-
keluarganya) ke alun-alun, dan sendiri.
membunuhnya tak kurang dari Karakter kekerasan inilah
waktu 30 menit. Atau cerita dari yang lebih lanjut beranak–pinak
Babad Tanah Jawi yang dalam bentuk radikalisme
menunjukkan betapa sadisnya keagamaan, kedaerahan dan
26
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

kesukuan. Ini membuat orang hidup dalam sikap: “Yang penting aku
menang, cara apapun yang dipakai tidak soal” (machiavelianism).
Keangkuhan untuk menang menyeret bangsa ini ke dalam mentalisme
dan fanatisme sempit yang lahir dari ketidakberdayaan dan keengganan
berkompetisi. Potensi kekerasan tidak hanya berada di luar sana, tapi
juga di dalam sini.

Lambertikirche, katedral bersejarah di Kota Muenster, Jerman, yang menjadi saksi atas kekejaman
fasisme Nazi terhadap orang-orang Yahudi di era Perang Dunia II. doc. Fajar

27
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Opini

Islam Moderat adalah Sebuah Paradoks


Ahmad Najib Burhani
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan
Associate Peneliti MAARIF Institute

Moderation
“Moderation” ... is Russell’s Paradox,
reduced to a single word.
For being moderate in moderation,
means one is immoderate in some respect;
and if one is completely moderate,
one is immoderate in moderation.

Rabbi Amos Edelheit


Willimantic, Conn.

Dalam wacana keberagamaan sekarang ini, istilah


moderat memiliki konotasi yang sangat positif.
Moderat adalah kata yang menghipnotis. Islam
moderat, misalnya, dimaknai sebagai Islam yang anti-
kekerasan dan anti-terorisme. Islam moderat identik
dengan Islam yang bersahabat, tidak ekstrem kanan
dan tidak ekstrim kiri. Nahdlatul Ulama (NU) dan
Muhammadiyah pun dengan tegas mengklaim
dirinya sebagai representasi dari Islam yang moderat,
bukan liberal dan juga bukan fundamentalis.
Landasan teologis-ontologis pun dibangun untuk
mengokohkan pilihan ini. Dalam beberapa
kesempatan Azyumardi Azra, direktur pascasarjana
UIN Jakarta, dan Din Syamsuddin, ketua umum
Muhammadiyah, menjelaskan bahwa istilah Islam
moderat memiliki padanan dengan istilah Arab
ummatan wasathan atau al-din al-wasath (Qs 2:143) yang
berarti “golongan atau agama tengah”, tidak ekstrim.
Bagi Ali Syariati, pembaharu Islam di Iran, dan Buya

28
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Hamka, tokoh Muhammadiyah, Bagi organisasi seperti


al-din al-wasath berarti Islam Muhammadiyah dan NU,
berada di tengah antara esoterisme mengambil posisi moderat tampak
Kristiani dan eksoterisme Yahudi. seperti sebuah pengkhianatan
Dalam konteks percaturan terhadap misi pendirian mereka.
global saat ini, dan juga konteks Sifat ini akan menghilangkan peran
lokal Indonesia, menjadi Muslim mereka sebagai gerakan (movement)
moderat barangkali menjadi yang memiliki visi yang jelas.
pilihan yang pas dan “aman”. Tapi Menjadi moderat juga berarti
label moderat ini seringkali hanya membiarkan umat mereka terus
menjadi baju ketika seseorang berada dalam perebutan berbagai
tidak bisa menjelaskan posisi aliran ekstrim. Moderat adalah pasif
dirinya di tengah perebutan dan terus-menerus menjadi obyek.
pengaruh antara kelompok garis Bagi kedua organisasi itu, moderate
keras Islam dan kelompok liberal lebih berarti medioker daripada
Islam. “Tidak kanan” dan “tidak netral.
kiri” adalah sebuah negasi, belum Ahmad Dahlan, pendiri
menjadi sebuah identitas. Muhammadiyah, dan Hasyim
Bagi Muhammadiyah dan Asy’ari, pendiri NU, tentu bukanlah
NU, pemakaian nama Islam orang-orang moderat. Nabi
moderat adalah sebuah fenomena Muhammad pasti juga bukan orang
baru. Sebelumnya moderat. Jesus juga bukan orang
Muhammadiyah menyebut moderat. Mereka adalah para
dirinya sebagai Islam modernis revolusioner sejati. Pemaknaan al-
dan NU sebagai Islam Aswaja din al-wasath sebagai agama yang
(ahlussunnah wal jamaah). moderat atau agamanya orang
Muhammadiyah terkenal dengan moderat justru menyesatkan.
struktur dan infrastruktur Dalam konteks ini, wasath mesti
organisasi yang modern sejak dimaknai sebagai center atau heart,
pendiriannya di tahun 1912. agama yang menjadi pusat dan
Ketika identitas modernis yang jantung peradaban.
lama melekat di Muhammadiyah Kekuranglincahan NU dan
mulai luntur, maka Muhammadiyah saat ini terutama
Muhammadiyah tidak menolak bersumber pada keputusan mereka
ketika orang luar memberinya sifat untuk memposisikan diri sebagai
baru yang untuk saat ini umat yang tengah-tengah saja.
berkonotasi positif, moderat. Hanyut dalam dekapan penguasa,
29
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

baik yang tingkatnya nasional, dosen yang seratus persen tidak


seperti pada zaman Orde Baru, beragama daripada dosen yang
ataupun penguasa wacana global tidak sempurna bentuk
saat ini, seperti Amerika Serikat keberagamaannya. Mereka yang
atau kelompok radikal Islam. sudah jelas posisinya sering
Mengambil posisi moderat tentu terbukti lebih bisa menunjukkan
bebas dari beresiko, tak berbahaya, hormat kepada orang yang
dan terkesan taktis. Namun memiliki keyakinan berbeda
demikian, moderat tidak punya daripada orang yang masih belum
semangat pembaruan sedikitpun mapan pandangan
dalam dirinya. Selama kedua keagamaannya.
organisasi itu memilih posisi Karena itulah, Muslim
moderat, maka keduanya tidak moderat di Indonesia perlu
akan menjadi pemenang. menjelaskan identitas dirinya,
Beberapa waktu sebelum perlu menegaskan karakternya,
turunnya Soeharto dari bukan sekadar menunjukkan
kepresidenan tahun 1998, seorang negasi bagi kelompok lain, bahwa
tokoh penting dalam ormas Islam ia “bukan ini” dan “bukan itu”.
di Indonesia mengatakan kepada Bernegasi ria adalah ciri dari
saya, “Tidak usah meminta Bapak pseudo-moderate. Tanpa
turun, kita tunggu saja dengan memberikan definisi, maka Islam
sabar. Toh, tidak lama lagi dia akan moderat bisa dimaknai sebagai
turun dengan sendirinya. Berapa Muslim banci, seperti pernah
sih umurnya manusia?” Menunggu dituduhkan Abu Bakar Ba’asyir.
turunnya Soeharto dari
kepresidenan secara natural, dalam
arti meninggal dunia, berarti masih
perlu waktu 10 tahun. Sepanjang
waktu itu kita tidak perlu
melakukan apa-apa, yang
terpenting selamat. Ini adalah cara
berpikir moderat.
Sebagai mahasiswa kajian
agama di Amerika, secara pribadi
saya lebih suka menjadi murid dari
dosen yang benar-benar atheis atau
Muslim taat atau Kristen taat atau
30
Risalah2008
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari

Pengantar Redaksi

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menganugrahkan Doktor


Honoris Causa kepada budayawan WS Rendra. Pada pidato pengukuhannya,
5 Maret 2008, Si Burung Merak menyampaikan renungan yang berjudul
Megatruh Kambuh. Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada
Pendiri Teater Bengkel ini yang telah mengijinkan Jurnal MAARIF memuat
pidato pengukuhannya sebagai DR. HC ke-19 UGM.

MEGATRUH KAMBUH
Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu

Dr. (HC) W.S. Rendra*


Penyair besar Ronggowarsito, di pertengahan
abad 19, menggambarkan zaman pancaroba
sebagai “Kalatida” dan “Kalabendu”.
Zaman “Kalatida” adalah zaman ketika akal
sehat diremehkan. Perbedaan antara benar dan
salah, baik dan buruk, adil dan tak adil, tidak
digubris. Krisis moral adalah buah dari krisis akal
sehat. Kekuasaan korupsi merata dan merajalela
karena erosi tata nilai terjadi di lapisan atas dan
bawah.
Zaman “Kalabendu” adalah zaman yang
mantap stabilitasnya, tetapi alat stabilitas itu adalah
penindasan. Ketidakadilan malah didewakan.
Ulama-ulama mengkhianati kitab suci. Penguasa
lalim tak bisa ditegur. Korupsi dilindungi.
Kemewahan dipamerkan di samping jeritan kaum
miskin dan tertindas. Penjahat dipahlawankan,
orang jujur ditertawakan dan disingkirkan.
Gambaran sifat dan tanda-tanda dari
“Kalatida” dan “Kalabendu” tersebut di atas
adalah saduran bebas dari isi tembang aslinya.
Namun secara ringkas bisa dikatakan bahwa
“Kalatida” adalah zaman edan, karena akal sehat
diremehkan, dan “Kalabendu” adalah zaman
hancur dan rusaknya kehidupan karena tata nilai
dan tata kebenaran dijungkir-balikkan secara
31
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
Risalah
merata.
Lalu, menurut Ronggowarsito, dengan sendirinya, setelah
“Kalatida” dan “Kalabendu”, pasti akan muncul zaman “Kalasuba”,
yaitu zaman stabilitas dan kemakmuran.
Apa yang dianjurkan oleh Ronggowarsito agar orang bisa selamat
di masa “Kalatida” adalah selalu sadar dan waspada, tidak ikut dalam
permainan gila. Sedangkan di masa “Kalabendu” harus berani prihatin,
sabar, tawakal dan selalu berada di jalan Allah sebagaimana tercantum
di dalam kitab suci-Nya. Maka, nanti akan datang secara tiba-tiba masa
“Kalasuba” yang ditegakkan oleh Ratu Adil.
Ternyata urutan zaman “Kalatida”, “Kalabendu”, dan “Kalasuba”
tidak hanya terjadi di kerajaan Surakarta di abad ke-19, tetapi juga
terjadi di mana-mana di dunia pada abad mana saja. Di Yunani purba,
di Romawi, di Reich pertama Germania, di Perancis, di Spanyol, Portu-
gal, Italia, Iran, Irak, India, Russia, Korea, Cina, yah di manapun,
kapanpun. Begitulah rupanya irama “wolak waliking zaman” atau
“timbul tenggelamnya zaman”, atau “pergolakan zaman”. Alangkah
tajamnya penglihatan mata batin penyair Ronggowarsito ini!
Republik Indonesia juga tidak luput dari “pergolakan zaman”
serupa itu. Dan ini yang akan menjadi pusat renungan saya pagi ini
(saat pengukuhan doktor honoris cause-red).
Namun, sebelum itu perkenankan saya mengingatkan, menurut
teori chaos dari dunia ilmu fisika modern diterangkan, bahwa di dalam
chaos terdapat kemampuan untuk muncul order, dan kemampuan itu
tidak tergantung dari unsur luar. Hal ini sejajar dengan pandangan
penyair Ronggowarsito mengenai “Kalasubo”. Ratu Adil bukan lahir
dari rekayasa manusia, tetapi seperti ditakdirkan ada begitu saja.
Kesejajaran teori chaos dengan teori pergolakan zamannya
Ronggowarsito menunjukkan –sekali lagi— ketajaman dan kepekaan
mata batinnya.
Melewati pidato ini saya persembahkan sembah sungkem saya
yang khidmat kepada penyair besar Ronggowarsito.
Kembali pada renungan mengenai gelombang “Kalatida”,
“Kalabendu” dan “Kalasuba” yang terjadi di Republik Indonesia.
Usaha setiap manusia yang hidup di dalam masyarakat, kapan
pun dan di mana pun, pada akhirnya akan tertumbuk pada “Mesin
Budaya”. Adapun “Mesin Budaya” itu adalah aturan-aturan yang
mengikat dan menimbulkan akibat. Etika umum, aturan politik, aturan
ekonomi, dan aturan hukum; itu semua adalah aturan-aturan yang tak
bisa dilanggar begitu saja tanpa ada akibat. Semua usaha manusia
dalam mengelola keinginan dan keperluannya akan berurusan dengan
32
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari
Risalah2008

aturan-aturan itu, atau “Mesin Budaya” itu.


“Mesin Budaya” yang berdaulat rakyat, adil, berperikemanusiaan,
dan menghargai dinamika kehidupan, adalah “Mesin Budaya” yang
mampu mendorong daya hidup dan daya cipta anggota masyarakat
dalam negara. Tetapi, “Mesin budaya” yang berdaulat penguasa, yang
menindas dan menjajah, yang elitis dan tidak populis, sangat berbahaya
untuk daya hidup dan daya cipta bangsa.
Di dalam masyarakat tradisional yang kuat hukum adatnya, rakyat
dan alam lingkungannya hidup dalam harmoni yang baik, yang diatur
oleh hukum adat. Selanjutnya hukum adat itu dijaga oleh para tetua
adat atau dewan adat. Kemudian ketika hadir pemerintah, maka
pemerintah berfungsi sebagai pengemban adat yang patuh kepada
adat. Jadi hirarki tertinggi di dalam ketatanegaraan masyarakat seperti
itu adalah hukum adat yang dijaga oleh dewan adat. Kedua tertinggi
adalah pemegang kekuasaan pemerintahan. Sedangkan masyarakat
dan alam lingkungannya terlindungi di dalam lingkaran dalam dari
struktur keta tanegaraannya.
Dengan begitu, kepentingan kekuasaan asing dan bahkan
kekuasaan raja sendiri –yang politik ataupun yang dagang- tak bisa
menjamah masyarakat dan alam lingkungannya tanpa melewati kontrol
hukum adat dan dewan adat. Itulah sebabnya masyarakat serupa itu
sukar dijajah oleh kekuasaan asing, atau ditindas oleh rajanya sendiri.
Ditambah lagi kenyataan, bahwa masyarakat dan alam lingkungan
yang bisa hidup dalam harmoni baik –berkat tatanan hukum yang
adil— pada akhirnya akan melahirkan masyarakat yang mandiri,
kreatif dan dinamis, karena selalu punya ruang untuk berinisiatif.
Begitulah, daulat hukum yang adil akan melahirkan daulat rakyat
dan daulat manusia. Syah dan rakyat yang berdaulat sukar dijajah
oleh kekuasaan asing.
Memang, pada kenyataannya, suku-suku bangsa di Indonesia yang
kuat tatanan hukum adatnya, tak bisa dijajah oleh V.O.C. Dan juga
sukar dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda. Suku-suku itu baru bisa
ditaklukkan oleh penjajah pada abad 19, setelah orang Belanda punya
senapan yang bisa dikokang, senapan mesin, dan dinamit.
Sedangkan Sulawesi Selatan baru bisa ditaklukkan pada tahun
1905, Toraja tahun 1910, Bali tahun 1910 dan Ternate tahun 1923 serta
Ruteng tahun 1928.
Sedangkan, pada suku bangsa yang masyarakat dan alam
lingkungannya tidak dilindungi oleh hukum adat, rakyatnya lemah
karena tidak berdaulat, yang berdaulat cuma rajanya. Hukum yang
berlaku adalah apa kata raja. Kekuasaan asing dan para pedagang asing
33
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
Risalah
bisa langsung menjamah masyarakat dan alam lingkungannya asal bisa
mengalahkan rajanya atau bisa bersekutu dengan rajanya.
Adapun kohesi rakyat dalam masyarakat adat kuat karena bersifat
organis. Itulah tambahan keterangan kenapa mereka sukar dijajah.
Kohesi rakyat dalam masyarakat yang didominasi kedaulatan raja
semata, sangat lemah karena bersifat mekanis. Karenanya rentan
terhadap penjajahan. Begitulah keadaan kerajaan Deli, Indragiri, Jambi,
Palembang, Banten, Jayakarta, Cirebon, Mataram Senapati, Kerajaan
Surakarta, Kerajaan Yogyakarta, Kutai, dan Madura. Gampang
ditaklukkan oleh V.O.C. Sejak abad 18 sudah terjajah. Kemudian para
penjajah bersekutu dengan raja, sebagai anteknya, lalu langsung bisa
mengatur kerja paksa dan tanam paksa. “Kalatida” dan “Kalabendu”
pun melanda negara! - Persekutuan antara raja-raja Mataram,
Surakarta, dan Jogjakarta dengan penjajah ini, di zaman sekarang,
menjadi model persekutuan antara pemerintah atau partai-partai politik
dengan kekuatan dagang yang merugikan rakyat yang tak berdaulat
itu!
Ketika Hindia Belanda pada akhirnya bisa menaklukkan seluruh
Nusantara, maka yang pertama mereka lakukan, ialah dengan meng-
erosi-kan hukum adat-hukum adat yang ada. Para penjaga adat diadu-
domba dengan para bangsawan di pemerintahan, sehingga dengan
melemahnya adat, melemah pulalah perlindungan daulat rakyat dan
alam lingkungannya. Selanjutnya, penghisapan kekayaan alam bisa
lebih bebas dilakukan oleh para penjajah itu.
Di zaman penjajahan itu hukum adat yang sukar dilemahkan
adalah yang ada di Bali, karena hubungannya dengan agama dan pura,
dan yang ada di Sumatera Barat karena berhubungan dengan syariat
dan kitab Allah. Dan di Ternate karena nilai “bela kusu sei kano-kano”,
rakyat dan raja merupakan anggota keluarga sama rata di bawah adat.
Tata hukum dan tata negara sebagai “Mesin Budaya”, di zaman
penjajahan Hindia Belanda menjadi “Mesin Budaya” yang buruk bagi
kehidupan bangsa. Karena tata hukum dan tata Negara Hindia Belanda
memang diciptakan untuk kepentingan penjajahan. Ketika membangun
negara, pemerintah Hindia Belanda juga tidak punya kepentingan
untuk memajukan bangsa, melainkan membangun untuk bisa
menghisap keuntungan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan
kemakmuran dan kemajuan Kerajaan Belanda di Eropa.
Begitu pula industrialisasi dilakukan dengan mendatangkan modal
asing yang bebas pajak, alat berproduksi juga didatangkan dari luar
negeri dengan bebas pajak, dan bahan baku juga diimport dengan bebas
pajak pula, kemudian pabrik yang didirikan juga bebas dari pajak
34
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari
Risalah2008
berikut tanahnya. Yang kena pajak cuma keuntungannya. Itupun boleh
ditransfer keluar negeri. Jadi devisa terbuka! Alangkah total dan rapi
pemerintah Hindia Belanda membangun “Mesin Budaya” penghisapan
terhadap daya hidup rakyat dan kekayaan alam lingkungan Indone-
sia. Semuanya itu dikokohkan dengan “Ordonansi Pajak 1925”.
Setelah Indonesia Merdeka, ternyata cara membangun Hindia
Belanda masih terus dilestarikan oleh elit politik kita. “Ordonansi Pajak
1925” hanya diubah judulnya menjadi “Undang-undang Penanaman
Modal Asing”. Sehingga sampai sekarang kita sangat tergantung pada
modal asing. Pembentukan modal dalam negeri serta perdagangan
antardesa dan antarpulau tidak pernah dibangun secara serius.
Pembentukan sumber daya manusia hanya terbatas pada
melahirkan tukang-tukang, mandor dan operator. Kreator dan produsir
tak nampak ada. Mengkonsumsi teknologi yang dibeli disamakan
dengan ambil-alih teknologi.
Bagaimana mungkin mengembangkan sumber daya manusia
tanpa menggalakkan lembaga-lembaga riset sebanyak-banyaknya!
Tanpa riset kita hanya akan menjadi konsumen dalam perkembangan
ilmu pengetahuan.
Dan juga, melengahkan pembentukan industri hulu, seperti
penjajah tempo dulu, ini tidak bisa diterima! Sangat menyedihkan
bahwa pabrik baja kita ternyata tidak bisa mengolah bijih baja. Bisanya
hanya mendaur ulang besi tua.
Akibat dari tidak adanya industri hulu, industri kita -di hampir
semua bidang- pesawat terbang, mobil, sepeda, obat batuk hitam, obat
flu, cabe, kobis, padi, jagung, ayam potong, dll, dll, dll, semua assem-
bling! Alat berproduksi dan bahan bakunya diimport!
Dan, selagi kita belum mempunyai kemampuan menghasilkan
mesin-mesin berat dan tenaga-tenaga manusia tingkat spesialis yang
cukup jumlahnya, pemerintah kita, sejak zaman Orde Baru, telah
menjual modal alam. Akibatnya yang memperoleh keuntungan besar
adalah modal asing yang memiliki teknologi Barat dan tenaga-tenaga
spesialis. Alam dan lingkungan rusak karena kita memang tak berdaya
menghadapi kedahsyatan kekuatan modal asing.
Ketergantungan pada modal asing, pinjaman dari negeri-negeri
asing dan bantuan-bantuan asing, menyebabkan pemerintah kita, dari
sejak zaman Orde Baru, bisa tersesat ke dalam politik pertanian dan
pangan dari lembaga-lembaga asing dan perusahaan-perusahaan multi
nasional.
Dengan kedok “Revolusi Hijau” kekuatan asing bisa meyakinkan
bahwa kita harus meningkatkan swadaya pangan. Dan tanpa ujung
35
Risalah
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

pangkal akal sehat, pemerintah Orde Baru menetapkan bahwa swadaya


pangan itu pada intinya adalah swadaya beras. Seakan-akan dari
Sabang sampai Merauke beras menjadi makanan utama, dan tanah dari
Sabang sampai Merauke bisa ditanami beras. Dan solusi yang diambil
untuk mengatasi kenyataan bahwa tanah yang bisa ditanami padi itu
terbatas, maka para pakar asing menasihati agar ada intensifikasi
pertanian padi, artinya: impor lah bibit padi hibrida! Bibit asli terdesak
dan akhirnya hampir punah. Bibit hibrida perlu pupuk. Didirikanlah
pabrik pupuk dengan pinjaman asing. Pupuk itu mengandung beurat
yang lama kelamaan mengakibatkan tanah menjadi bantat. Lading-
ladang pertanian berubah menjadi pot-pot tanaman yang tergantung
pada pupuk.
Termasuk dalam program intensifikasi pangan dipakailah
berbagai racun: Pestisida untuk membunuh hama tanaman. Fumisida
untuk membunuh cendawan-cendawan, terutama cendawan di kebun
buah-buahan. Herbisida untuk membasmi gulma. Maka gulma, jenis-
jenis rumput yang ada di sela tanaman, dan dianggap mengganggu,
sebenarnya adalah bagian dari ekosistem tanah. Bisa disingkirkan
secara sementara dengan disiangi. Tetapi kalau ditumpas dengan
herbisida maka akan lenyaplah gulma selama-lamanya. Artinya
rusaklah ekosistem. Dan pada hakikatnya herbisida itu berbahaya
untuk semua organisme dan makhluk.
Beberapa ahli pertanian bersih hati mengatakan, bahwa
intensifikasi pemakaian pestisida, fumisida, dan herbisida ini
menyebabkan agrikultur kehilan gan “kultur” dan berubah menjadi
“agrisida” atau “ agriracun”.
Racun dari pestisida, fumisida dan herbisida ini tak bisa diurai
dan tak bisa ditahan. Pada akhirnya masuk ke tanah dan meracuni air
tanah. Sehingga penduduk yang tinggal di sekitar perkebunan-
perkebunan mengalami cacat badan dan melahirkan bayi-bayi cacat.
Pemakaian pupuk urea menyebabkan biaya produksi pangan naik
tinggi karena padi hibrida menuntut peningkatan jumlah pemakaian
pupuk, secara lama kelamaan. Mahalnya biaya produksi padi dan
rusaknya tanah ini yang mendorong kita tergantung pada impor bahan
makanan. Maksud hati ber-swadaya pangan, tetapi hasilnya justru
ketergantungan pangan.
Agrisida yang merusak lingkungan dan sumber pangan kita, serta
eksploitasi modal alam yang serakah sebelum kita menguasai
pengadaan mesin-mesin berat, modal nasional yang kuat, dan cukup
tenaga spesialis, semua itu merusak alam lingkungan. Hal itu
merupakan tanggung jawab dari begawan-begawan ekonomi dan
36
Risalah2008
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari

bapak pembangunan di zaman Orde Baru! Inilah salah satu faktor


“Kalabendu” yang kita hadapi saat ini. Dosa ini sama beratnya dengan
dosa korupsi dan dosa pelanggaran terhadap hak asasi. - Banyak korban
nyawa, cacat badan, dan rusak kesejahteraan hidup rakyat banyak,
sebagai akibat dari pembangunan sableng semacam itu.
Pembangunan dalam negara kita juga mengabaikan sarana-sarana
pembangunan rakyat kecil dan menengah kecil. Padahal mereka adalah
tulang punggung yang tangguh dari kekuatan ekonomi bangsa.
Jumlahnya mencapai 45 juta dan bisa menampung 70 juta tenaga kerja.
Sedangkan sumbangannya pada Gross National Product adalah 62%.
Lebih banyak dari sumbangan BUMN. Namun begitu, tidak ada pro-
gram pemerintah yang dengan positif membantu usaha mereka: Jalan-
jalan-darat yang menjadi penghubung antardesa, yang penting untuk
kegiatan ekonomi, rusak dan tak terurus. Bahan baku selalu terbatas
persediaannya. Banyak bank yang tidak ramah kepada mereka. Grosir-
grosir mempermainkan mereka dengan check yang berlaku mundur.
Dan pemerintah tidak pintar melindungi kepentingan mereka dari
permainan kartel-kartel yang menguasai bahan baku. – Notabene:
Ternyata data terakhir menunjukkan, bahwa jumlah UKM naik menjadi
48,5 juta, tetapi sumbangannya kepada GNP merosot menjadi 54%.
Sedangkan jumlah non-UKM 0,5 % berbanding dengan jumlah UKM
99,5% dari seluruh perusahaan di Indonesia. Jumlah non-UKM yang
0,5% itu sama dengan sekitar 5000 perusahaan. Dan sumbangan non-
UKM pada GNP hanya 46%. Jadi kalah dengan UKM. Angka-angka
ini menunjukkan bahwa akhir-akhir ini UKM dalam keadaan tertekan.
Maklumlah harga BBM dan bahan baku naik dan pengadaannya
langka, sedangkan infrastruktur makin rusak tidak karuan. Dan angka-
angka itu juga menunjukkan bahwa pemerintah hanya berorientasi
pada Makro Ekonomi, tetapi Ekonomi Rakyat diterlantarkan!
Dari sejak abad 7 telah terbukti bahwa rakyat kecil menengah
sangat adaptif, kreatif, tinggi daya hidupnya, dan ulet daya tahannya.
Di abad 7 mereka yang seni-pertaniannya menanam jewawut, dengan
cepat menyerap seni irigasi dan menanam padi serta beternak lembu
—yang diperkenalkan oleh Empu Maharkandia dari India Selatan.
Selanjutnya mereka juga bisa menguasai seni menanam buah-buahan
dari India; semacam sawo, mangga, jambu, dan sebagainya. Bahkan
pada tahun 1200, menurut laporan “Pararaton”, mereka sudah bisa
punya perkebunan jambu. Begitu juga mereka cepat sekali menyerap
seni menanam nila, bahkan sampai mengekspornya ke luar negeri.
Begitu juga mereka adaptif dan kreatif di bidang kerajinan perak, emas,
pertukangan kayu dan pandai besi, yang semuanya itu dilaporkan
37
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
Risalah
dalam kitab “Pararaton”.
Di zaman Islam masuk dari Utara, mereka juga cepat beradaptasi
dengan tanaman-tanaman baru, seperti kedele, ketan, wijen, soga, dan
lain sebagainya. Dengan cepat mereka juga belajar membuat minyak
goreng, krupuk, tahu, trasi, dendeng, manisan buah-buahan, dan kecap.
Bahkan dengan kreatif mereka menciptakan tempe. Di bidang kerajinan
tangan dengan cepat mereka menyerap seni membuat kain jumputan,
membuat genting dari tanah, membangun atap limasan, menciptakan
gandok dan pringgitan di dalam seni bangunan rumah. Pendeknya
unsur-unsur perkembangan baru dalam kebudayaan cita rasa dan tata
nilai cepat diserap oleh rakyat banyak.
Dan kemudian di jaman tanam paksa dan kerja paksa, ketika
kehidupan rakyat di desa-desa sangat terpuruk - karena meskipun
mereka bisa beradaptasi dengan tanaman baru seperti teh, kopi, karet,
coklat, vanili, dan sebagainya - tetapi mereka hanya bisa jadi buruh
perkebunan, atau paling jauh jadi mandor, tak mungkin mereka
menjadi pemilik perkebunan; namun, segera mereka belajar menanam
sayuran baru seperti sledri, kapri, tomat, kentang, kobis, buncis, selada,
wortel, dan sebagainya, untuk dijual kepada “ndoro-ndoro penjajah”
di perkebunan dan “ndoro-ndoro priyayi” di kota-kota. Akhirnya
bencana menjadi keberuntungan. Petani-petani sayur mayur menjadi
makmur.
Dan sekarang, meski mereka dalam keadaan teraniaya oleh
keadaan dan tidak diperhatikan secara selayaknya oleh pemerintah -
bahkan kini mereka digencet oleh kenaikan harga BBM- toh mereka
tetap hidup dan bertahan. Kaki lima adalah ekspresi geliat perlawanan
rakyat kecil terhadap kemiskinan. Luar biasa! Mereka lah pahlawan
pembangunan yang sebenarnya!
Seandainya pemerintah dan pemikir ekonomi memperhatikan dan
membela kemampuan mereka, sebagaimana Prof. Sri Edi Suwasono
yang selalu menganjurkan koperasi rakyat, dan pemerintah
menciptakan sarana-sarana kemajuan untuk mereka, mereka adalah
harapan kita untuk menjadi kekuatan ekonomi bangsa.
Tata Hukum dan Tata Negara yang berlaku sekarang ini masih
meneruskan semangat undang-undang dan ketatanegaraan penjajah
Hindia Belanda tempo dulu, yang sama-sama menerapkan keunggulan
Daulat Pemerintah di atas Daulat Rakyat. Dan juga, sama-sama
menerapkan aturan politik ketatanegaraan yang memusat, dan sama-
sama pula memperteguh aturan berdasarkan kekuasaan dan
keperkasaan, dan tidak kepada etika. Dengan sendirinya tata hukum
dan tata negara serupa itu tak akan bisa berdaya mencegah krisis etika
38
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari
Risalah2008
bangsa, bahkan malah mendorong para kuasa dan para perkasa untuk
mengumbar nafsu jahat mereka, tanpa ada kontrol yang memadai.
Tentu saja ada Pancasila, sumber etika bangsa yang cukup lebar
cakupannya. Tetapi ternyata Pancasila hanyalah bendera upacara yang
tak boleh dikritik, tapi boleh dilanggar tanpa ada akibat hukumnya.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, satu sila yang indah dari
Pancasila ternyata tak punya kekuatan undang-undang apapun bila
dilanggar oleh orang-orang kuasa atau perkasa. Lihat lah kasus
pembunuhan terhadap empat petani di Sampang Madura,
pembunuhan terhadap Marsinah, Udin, Munir, dan pembunuhan-
pembunuhan yang lain lagi.
Para buruh pabrik di Cengkareng yang mogok dan berjuang untuk
memperbaiki kesejahteraan hidupnya, dianiaya dan diharu-biru oleh
petugas keamanan. Biar pun kasusnya dimenangkan oleh pengadilan,
tetapi keputusan pengadilan tak pernah digubris dan dilaksanakan oleh
majikan pabrik. Malahan para aktivis buruh diteror oleh para petugas
keamanan dan para preman yang dibayar oleh majikan.
Rakyat juga tak pernah menang dalam perjuangan mereka untuk
melindungi diri dari polusi yang ditimbulkan olah limbah pabrik.
Petugas keamanan selalu memihak kepada kepentingan majikan
pabrik.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Keadilan Sosial, dan
Kedaulatan Rakyat, benar-benar tak ada implementasinya di dalam
undang-undang pelaksanaan. KUHP yang berlaku adalah warisan
penjajah Hindia Belanda yang tidak punya dasar etika.
Sungguh ironis, bahwa di dalam negara yang merdeka, karena
Kedaulatan Rakyat dan Kedaulatan Hukum diremehkan, maka hukum
dan undang-undang justru menjadi sebab merosotnya etika bangsa.
Apabila para ahli hukum terlambat membahas dan memperbaiki
kenyataan adanya gap antara ius dan lex, maka “Kalatida” akan berlaku
berkepanjangan dan masuk lah kita ke alam “Kalabendu”. Ah, gejala-
gejala bahkan menunjukkan bahwa “Kalabendu” sudah menjadi
kenyataan. Inilah zaman kacau nilai, zaman kejahatan menang, penjahat
dipuja, orang beragama menjadi algojo, kitab suci dikhianati justru oleh
ulama, kekuasaan dan kekayaan diperdewa. Pepatah “mikul duwur
mendem jero” sudah lepas dari konteks moralnya dan berganti makna
menjadi: kalau anda berkuasa dan perkasa maka berdosa boleh saja!
Hukum, perundang-undangan dan ketatanegaraan yang
menghargai daulat manusia, daulat rakyat, daulat akal sehat, dan daulat
etika akan menjadi “Mesin Budaya” yang mampu merangsang dan
mengakomodasi daya cipta dan daya hidup bangsa, sehingga daya
39
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
Risalah
tahan dan daya juang bangsa menjadi tinggi. Jadi, sangat penting para
ahli hukum segera membahas dan meninjau kembali mutu kegunaan
tata hukum dan tata negara Republik Indonesia dalam menyejahterakan
kehidupan berbangsa.
Bahkan Dr. Soetanto Soepiadhy, ahli tata negara dari Surabaya
berpendapat, bahwa redesigning konstitusi sangat diperlukan.
Kenyataan memang menunjukkan bahwa setiap ada amandemen untuk
membatasi kekuasaan presiden, bukannya menghasilkan daulat rakyat
yang lebih nyata, melainkan hanya menghasilkan daulat partai-partai
yang lebih kuat.
Bahkan, dalam proklamasi kemerdekaan dan UUD ‘45 yang asli,
wilayah Republik Indonesia tidak jelas ditunjukkan. Lalu pada
amandemen ke empat, disebutkan munculnya pasal 25a, yang
berbunyi: “Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara
kepulauan yang bercirikan Nusantara dengan wilayah yang batas-batas
dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang”.
Tidak ada perkataan maritim di dalam rumusan itu. Nama negara
pun hanya disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Padahal 60% dari negara kita terdiri dari lautan. Jadi lebih tepat kalau
nama negara kita adalah Negara Kesatuan Maritim Republik Indone-
sia.
Negara kita adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki
laut. Negara-negara lain hanya mempunyai pantai. Tetapi negara kita
mempunyai Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Laut Flores, Laut
Banda, Laut Aru, Laut Arafuru, Laut Maluku, Laut Seram, Laut
Halmahera, Laut Timor dan Laut Sawu. Namun toh ketatanegaraan
kita tetap saja ketatanegaraan negara daratan. Inikah mental petani?
Ataukah ini warisan dari budaya Mataram?
Sampai saat ini kita belum membentuk “Sea and Coast Guard”,
padahal ini persyaratan internasional, agar bisa diakui bahwa kita bisa
mengamankan lautan kita! Kita harus mempunyai “Sea and Coast
Guard”! Dunia Internasional tidak mengakui Polisi Laut dan Angkatan
Laut sebagai pengamanan laut di saat damai. Angkatan Laut, Polisi
Laut itu dianggap alat perang. Jadi apa sulitnya membentuk “Sea and
Coast Guard” yang berguna bagi negara dan bangsa? Apakah ini
menyinggung kepentingan rezeki satu golongan? Tetapi kalau memang
ada jiwa patriotik yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara,
bukankah tak akan kurang akal untuk mencari “win-win solution”?
Dalam soal perbatasan kita telah melengahkan pemetaan,
pendirian lagi beberapa mercusuar, dan mengumumkan claim yang
jelas dan rasional mengenai batas-batas wilayah negara kita, terutama
40
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari
Risalah2008
menyangkut wilayah di laut. Sudah saatnya pula lembaga intelejen
kita mempunyai direktorat maritim.
Sudah saatnya wawasan ketatanegaraan kita, di segenap bidang,
mencakup pengertian “Tanah Air”, dan tidak sekadar “Tanah” saja.
Pelabuhan-pelabuhan pun harus segera ditata sebagai “Negara
Pelabuhan” yang dipimpin oleh “Syahbandar” yang berijasah interna-
tional. Kemudian segera pula dicatatkan di PBB. Tanpa semua itu, maka
negara kita tidak diakui punya pelabuhan, melainkan hanya diakui
punya terminal-terminal belaka!
Perlu dicatat bahwa pembentukan Negara Nusantara untuk
pertama kalinya diproklamasikan oleh Baron Van Der Capellen pada
tahun 1821 dengan nama Nederlans Indie, dan sifat kedaulatannya
negara maritim dengan batas-batas dan mercusuar-mercusuar yang
jelas petanya.
Jadi, Van Der Capellen tidak sekadar mengandalkan kekuatan
Angkatan Laut untuk merpersatukan Nusantara, melainkan, alat politik
untuk meyatukan Nusantara adalah tata hukum dan ketatanegaraan
maritim!
Kita sebagai bangsa harus bersyukur kepada Perdana Menteri
Juanda dan menteri luar negari Mochtar Kusumaatmaja, yang dengan
gigih telah memperjuangkan kedaulatan maritim kita di dunia
Internasional, sehingga diakui oleh Unclos dan PBB. Tetapi kita harus
tanpa lengah meneruskan perjuangan itu sehingga kita mampu
mengimplementasikan semua peraturan kelautan internasional yang
telah kita ratifikasi.
Perlu disayangkan bahwa usaha untuk mendirikan Universitas
Maritim yang bisa memberikan ijasah internasional untuk syahbandar
dan nahkoda, belum juga mendapatkan izin dari Departemen
Pendidikan Nasional. Saya menganggap sikap pemerintah seperti itu
tidak patriotik dan tidak peka pada urgensi untuk menegakkan
kedaulatan bangsa dan negara di lautan.
Tata hukum, tata kenegaraan, dan tata pembangunan yang sableng
seperti tersebut di atas itulah yang mendorong lahirnya “Kalatida” dan
“Kalabendu” di negara kita.
Menurut penyair Ranggawarsita kita harus bersikap waspada,
tidak mengkompromikan akal sehal. Dan juga harus sabar tawakal.
Adapun “Kalasuba” pasti datang bersama dengan Ratu Adil.
Dalam hal ini saya agak berbeda sikap dalam mengantisipasi
datangnya “Kalasuba”. Pertama, “Kalasuba” pasti akan tiba karena
dalam setiap chaos secara “build-in” ada potensi untuk kestabilan dan
keteraturan, tetapi kestabilan itu belum tentu baik untuk kelangsungan
41
Risalah
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
kedaulatan rakyat dan kedaulatan manusia yang sangat penting untuk
emansipasi kehidupan manusia secara jasmani, sosial, rohani,
intelektual dan budaya. Dalam sejarah kita mengenal kenyataan, bahwa
setelah chaos Revolusi Perancis, lahirlah kestabilan pemerintahan Na-
poleon yang bersifat diktator. Tentu masih banyak lagi contoh semacam
itu di tempat lain dan di saat lain.
Kedua, harus ada usaha kita yang lain, tidak sekadar sabar dan
tawakal. Toh kita tidak menghendaki “Kalasuba” yang dikuasai oleh
diktator. Tidak pula yang dikuasai oleh kekuasaan asing seperti di
Timor Leste. Oleh karena itu kita harus aktif memperkembangkan
usaha untuk mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan
tata kenegaraan sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan
daya cipta bangsa.
Ketiga, situasi semacam itu tidak tergantung pada hadirnya Ratu
Adil, tetapi tergantung pada Hukum yang Adil, Mandiri, dan Terkawal

Wassalam.
Cipayung Jaya, Depok
Hotel Quality, Yogya
29 Februari 2008

Biodata Singkat:
W.S Rendra dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Beliau
mendapat pendidikan di Jurusan Sastera Barat Fakultas Sastra
UGM (tidak tamat), kemudian memperdalam pengetahuan
mengenai drama dan teater di American Academy of
Dramatical Arts, Amerika Syarikat (1964-1967).

Sekembali dari Amerika, beliau mendirikan Bengkel Teater di


Yogyakarta dan sekaligus menjadi pemimpinnya. Tahun 1971
dan 1979 dia membacakan sajak-sajaknya di Festival Penyair
International di Rotterdam. Pada tahun 1985 beliau mengikuti
Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman. Kumpulan
puisinya; Ballada Orang-orang Tercinta (1956), 4 Kumpulan
Sajak (1961), Blues Untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu
Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980),
Disebabkan Oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung
(1993) dan Perjalanan Aminah (1997).

Sumber: http://penyair.wordpress.com/2007/12/18/biografi-ws-
rendra (diakses 14 Maret 2008)

42
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Bedah Buku

Membangun Toleransi Berbasis Al-Quran


Judul Buku : Al-Quran Kitab Toleransi:
Inklusivisme, Pluralisme dan
Multikulturalisme
Penulis : Zuhairi Misrawi
Penerbit : FITRAH
Cetakan : 2007
Tebal : xxxiii+520 halaman

Al-Quran bagi banyak kalangan diyakini


memuat dan mengajarkan ajaran perdamaian dan
kedamaian. Tapi tak segelintir pula orang yang
mencomot beberapa teks kitab ini sebagai pijakan
dasar mereka untuk berbuat aksi kekerasan dan
permusuhan.
Kalau mau blak-blakan, al-Quran ialah sumber
kebaikan dan keadilan, bukan keburukan dan
kelaliman. Meski didapati sejumlah ayat yang ketika
dibaca literal bernuansa kekerasan, tapi ditemukan
pula ratusan ayat yang secara eksplisit tegas
menyerukan sikap toleransi terhadap orang lain yang
berbeda, apapun perbedaannya; agama, keyakinan,
budaya, ras, suku, bangsa. Ini sebagaimana bahwa
tak sedikit ayat yang mengecam kezaliman dan
tindak penganiayaan.
Ironisnya, ideologisasi dan fungsionalisasi al-
Quran untuk radikalisme dan ekstremisme seakan
terus terjadi, baik dalam bentuk perkataan ataupun
perbuatan. Basis itu semua ialah tafsir keagamaan
yang sempit dan cetek oleh sekelompok kecil orang.
Mereka menganggap pemahaman agama yang ada
di otak dan benaknya sama absolutnya dengan yang
ada di kitab sucinya. Mereka mengklaim diri sebagai
43
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

kebenaran itu sendiri. Siapa pun ayat-ayat yang berbicara tentang


yang beda keyakinan dengan kerahmatan (QS. al-Anbiya’: 107,
mereka adalah sesat dan layak di al-Saba’: 28), kebebasan dalam
lempar ke neraka. beragama dan berkeyakinan (QS.
Dalam kerangka itulah buku al-Baqarah: 256), atau larangan
Al-Quran Kitab Toleransi atas setiap bentuk paksaan dan
dituangkan. Ditulis oleh saudara kekerasan (QS. al-Nahl: 125).
Zuhairi Misrawi, seorang Adapun kategori tersirat
intelektual muda NU dan penggiat dicerminkan oleh ayat-ayat yang
toleransi, buku ini hendak membincang pesan Tuhan pada
menghadirkan al-Quran sebagai manusia agar selalu bertindak adil
kitab suci yang mampu mendobrak dan menebarkan amal saleh (QS.
pelbagai tindakan intoleransi al-Nisa’: 58, al-Nahl: 91, al-Maidah:
sekaligus mendorong pada 8, al-Baqarah: 82, dst). Ketika
toleransi, sehingga terwujud membincang untaian ayat-ayat al-
peradaban toleransi yang Quran perihal toleransi,
berlandaskan muatan-muatan al- setidaknya ada tiga paradigma
Quran. yang mesti perhatikan dengan
Pandangan bahwa al-Quran cermat.
ialah gudang ajaran toleransi Pertama, inklusivisme, yang di
sebenarnya bisa dibenarkan dengan sini dipahami sebagai paham yang
tumpukan hadits yang merekam menyatakan bahwa kebenaran
setiap perkataan dan tindak-tanduk juga terdapat pada agama lain. Ini
Nabi yang mengajak, baik eksplisit direfleksikan dalam sejumlah ayat
atau implisit, pada sikap santun dan perihal penghargaan dan
toleran terhadap orang lain yang penghormatan terhadap kitab suci
berbeda. Logikanya, jika hadits saja agama-agama lain berikut
memberikan perhatian secara ver- penganutnya, yaitu Taurat
bal tentang toleransi, apalagi al- (Yahudi) dan Injil (Kristen); (QS.
Quran yang notabene menempati al-Maidah: 44, 46, 68-69, 82-83, al-
urutan teratas sebagai pegangan Baqarah: 62, 183, al-Hajj: 17, Ali
utama umat Muslim sebelum ‘Imran: 113, dst). Bahkan, dalam
hadits. konteks teologi Islam, iman
Sebagai kitab toleransi, al- kepada kitab-kitab suci sebelum
Quran menghadirkan pesan al-Quran menjadi salah satu varian
adiluhungnya itu secara tersurat keimanan seorang Muslim yang
dan tersirat. Kategori tersurat ialah wajib dipegang.
44
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Aspek utama yang ditekankan menancapkan bendera ketuhanan


dalam inklusivisme adalah dan kemanusiaan universal. Dan,
pemahaman yang konstruktif semua agama pasti satu kata
terhadap kelompok keagamaan tentang ini.
lain. Artinya, harus ada keyakinan Semangat pluralisme acapkali
bahwa ada dimensi kesamaan ditunjukkan oleh al-Quran, bahkan
substansi dan nilai dalam agama- secara jelas dan gamblang. Setiap
agama, seperti keadilan, umat mempunyai kiblat, maka
kesetaraan, persamaan, dan hendaklah mereka berlomba dalam
perdamaian. Semua agama pasti kebaikan (QS. al-Baqarah: 148).
mengajarkan kebaikan dan Kebaikan bukanlah menghadapkan
kebajikan, kerukunan dan wajah-wajah kalian ke timur dan barat.
kedamaian. Karena, sumber utama Akan tetapi kebaikan ialah beriman
agama-agama hanyalah satu, yaitu kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab
Tuhan yang Maha Tunggal. Hanya suci, para nabi, dan menyalurkan harta
saja, syariat yang diberikan itu kepada saudara dekat, anak yatim, fa-
berbeda-beda kepada setiap umat kir-miskin, pejuang di jalan Allah,
(QS. al-Maidah: 48), juga cara-cara mereka yang memerlukan bantuan dan
beribadah (QS. al-Hajj: 34, 67). hamba sahaya. (QS. al-Baqarah: 177).
Kedua, pluralisme, sebagai Ringkasnya, pluralisme
paham yang pertama-tama menarik ruang inklusivisme dari
mengakui perbedaan dan ranah teologis-paradigmatik
keragaman. Mesti diyakini, menuju ranah sosial-praksis. Dari
perbedaan dan kemajemukan konstruk pemahaman menuju
ialah sebuah keniscayaan yang langkah-langkah konkrit.
telah dititahkan Tuhan kepada Ketiga, multikulturalisme. Di
setiap makhluk-Nya, dan fakta sini, perhatian utama diarahkan
yang harus diterima sebagai pada kaum minoritas. Karena, objek
sunnatullah. Usia perbedaan ialah toleransi paling penting adalah
seusia manusia itu sendiri ada di mereka yang selama ini tidak
jagad raya. Dalam pluralisme, ada disentuh secara moral dan hukum,
spirit toleransi yang sangat kuat selain kerap diperlakukan secara
dan kental. Ia menuntut kerjasama tidak adil. Tindakan intoleransi
dalam konteks memanusiakan seringkali mereka terima.
manusia: menegakkan keadilan Tuhan menciptakan manusia
dan kesejahteraan. Komitmen dalam kategori mayoritas dan
pluralisme adalah untuk minoritas sebenarnya bertujuan
45
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

agar yang pertama mengayomi yang berdasar, yang tak jarang


yang kedua. Padahal, kalau toh disertai aksi-aksi intoleransi dan
mau, Tuhan bisa menjadikan kekerasan. Di sini, toleransi dari
manusia itu satu umat dan tidak umat Islam terhadap kelompok
beragam. Di sinilah minoritas, baik dalam intra-agama
multikulturalisme menjadi salah maupun antar-agama, sedang
satu prinsip dasar dalam realitas dipertaruhkan. Buku yang ditulis
sosial. Artinya, demi terwujudnya oleh Gus Mis—panggilan akrab
masyarakat yang multkulturalistik, Zuhairi Misrawi—menjadi salah
dibutuhkan komitmen untuk satu jembatan untuk membangun
merangkul kelompok-kelompok toleransi berbasis al-Quran.
minoritas. Jadi, tindakan saling
benci dan diskriminasi sama sekali M. Zaenal Arifin, Penulis
tidak dibenarkan, apapun adalah pencinta buku dan peneliti
alasannya. Karena bisa jadi, yang masalah keislaman.
dibenci itu lebih baik ketimbang
yang membenci (QS. al-Hujurat:
11).
Ketiga paradigma toleransi
yang terdapat dalam al-Quran tadi
hendak mengemukakan
pentingnya toleransi dalam Islam.
Karena Islam, yang selalu
didengungkan sebagai agama
kerahmatan global, tentu niscaya
dibangun di atas pilar-pilar
toleransi dan kebersamaan.
Pada akhirnya, meski bisa
dibilang ambisius, buku lumayan
tebal ini memiliki urgensi cukup
besar dalam konteks
keindonesiaan, terlebih di tengah
kehidupan keagamaan kita yang
tak jarang dengan mudahnya
diserang penyakit truth claim,
memutus salah dan sesat kelompok
lain yang berbeda tanpa pijakan
46
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Catatan Redaksi

DICARI, PEMIMPIN VISIONER DAN BERNURANI!


Catatan Komitmen Gerakan Peduli Moral Bangsa

Fajar Riza Ul Haq

Dua orang perwakilan kelompok


masyarakat miskin membacakan Piagam
Warga (Citizen Charter) sebagai bentuk
kontrak sosial masyarakat dengan
pemerintah dan DPRD daerah. Piagam
Warga yang dideklarasikan dalam rangka
pengentasan kemiskinan di Kota Metro,
Lampung, itu difasilitasi oleh MAARIF
Institute for Culture and Humanity.
doc.Maarif

Dalam pidato pertamanya di depan para pembesar pribumi


Karesidenan Lebak, Max Haveelar, tokoh sentral dalam buku Max
Haveelar yang ditulis Multatuli (1860), menyampaikan kegembiraan yang
menyelimuti hatinya setelah dilantik menjadi Asisten Residen Lebak,
Banten Selatan. Ia gembira bukan karena telah menjadi pejabat penting
yang dapat sewenang-wenang mengeksploitasi rakyat kecil sebagaimana
layaknya prilaku pejabat kolonial Hindia Belanda. Lalu apa yang
membuatnya hatinya berbunga-bunga? Jawabnya, ia merasa bangga
karena terpilih untuk mengubah ratapan orang-orang miskin menjadi
syukur. “Karena saya tahu, bahwa Allah mencintai orang-orang miskin
dan bahwa Dia memberikan kekayaan kepada siapa yang akan diuji-
Nya. Tetapi kepada orang-orang miskin Dia mengirim orang yang diutus
menyampaikan firman-firman-Nya, agar mereka berikhtiar di dalam
kemelaratan” (Max Haveelar dalam Moechtar, 2005).
Meskipun diucapkan satu setengah abad lalu namun pesan moral
yang terkandung didalamnya masih aktual disaat kemiskinan serta
kesulitan hidup makin menohok mata di era reformasi ini. Kemelaratan
merupakan masalah kemanusiaan universal, melintasi aras waktu,

47
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

budaya, dan keyakinan. terjemahan) menginformasikan


Kemiskinan merupakan anomali betapa kemunculan gerakan-
sosial yang bersifat lintas golongan gerakan pembebasan serta
dan agama, bukan ancaman untuk perlawanan tidak lepas dari faktor
sekelompok orang. Pada saat yang sistem keyakinan masyarakatnya
sama, kehadiran satu pihak, baik dan kekuatan kepemimpinan para
perseorangan maupun kolektif, pemimpinnya.
yang mampu mementik harapan
dan menabalkan etos perubahan Memimpin = Memakmurkan,
merupakan keniscayaan sejarah. Kapan?
Simak saja petikan sebuah Hadis Agama bukanlah pelumas
Qudsi yang meriwayatkan bahwa apalagi bahan bakar politik.
“Carilah karunia Allah dengan Namun para pemimpin agama
mendekati orang yang dekat sangat berkepentingan dengan
dengan orang miskin karena pada kesejahteraan ekonomi, sosial
merelah Aku jadikan keridhaan- bahkan politik komunitasnya yang
Ku”. dalam konsep modern merupakan
Dalam lintasan sejarah, orang- inti kontrak politik dari eksistensi
orang bijak yang bermata dengan negara. Menurut Bhikkhu Sri
nurani selalu memberikan ruang Pannavaro Mahathera, pemimpin
hatinya untuk orang-orang yang Candi Mendut, hidup tidak
menderita, teraniaya, melarat, dan manusiawi (miskin dan melarat)
kehilangan orientasi hidup. menodai martabat manusia
Sekedar menyebut sebagai contoh, sebagai mahluk mulia. Tak pelak,
riwayat Sidharta Gautama yang inilah kewajiban moral politik para
tercerahkan (Buddha), Isa Al pemuka agama untuk
Masih AS, dan Rasullulah mengingatkan pemerintah yang
Muhammad SAW sarat dengan terpilih akan kewajiban politik-
nilai-nilai kemanusiaan; memberi konstitusi negara dalam menjamin
tongkat kehidupan pada orang- terrealisasinya kehidupan
orang yang terperosok ke dalam masyarakat secara layak dan lebih
parit penderitaan dan kenistaan. manusiawi.
Semangat profetik dan Dalam setiap pembicaraan
kemanusiaan selalu berjalan dengan tokoh-tokoh lintas agama,
seiring. Misalnya, gerakan teologi Buya Syafii berkali-kali
pembebasan di Asia sebagaimana mengutarakan kegusarannya
diurai Michael Amaladoss (2001, mencermati kondisi bangsa yang
48
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Tokoh-tokoh Gerakan Peduli Moral Bangsa, Ahmad Syafii Maarif, Kardinal Julius Darmaatmaja SJ, Pdt. Andreas Yengawoe,
Haksu Queshi Djaengrana, Nyoman Udayana Sungging, menyampaikan surat terbuka merespon kompleksitas permasalahan
bangsa, Metro, 26 Januari 2008

kian memprihatinkan. Belum Tanpa mengesampingkan


masalah korupsi birokrasi dan faktor-faktor lain, kepemimpinan
kemiskinan dituntaskan jalan yang tidak berkarakter merupakan
keluarnya, kini muncul ancaman akar tunjang kegagalan roda
kelangkaan pangan yang disertai pemerintahan selama ini.
kenaikan harga pelbagai Demokratisasi politik yang terus
kebutuhan dasar. “Secara umum, bergulir di semua lini, mulai dari
harus saya katakan secara jujur pemerintah pusat hingga desa/
meski pahit, pemerintah telah kelurahan, belum mencapai
setengah gagal di tahun 2007”, substansi demokrasi, yakni
ungkap mantan Ketua PP keadilan sosial dan kesejahteraan.
Muhammadiyah ini. Indikasi Pada kenyataannya, demokratisasi
kegagalan itu dapat dilihat dari politik belum berkorelasi positif
makin tidak terkontrolnya dengan kebijakan demokratisasi
kemiskinan dan pengangguran, pada aras ekonomi mikro ataupun
penyimpangan prilaku moral, kerakyatan. Padahal inilah urgensi
korupsi yang menggurita, dan demokrasi. Demokrasi telah
kesulitan hidup makin menyergap dibajak. Meskipun begitu, justru
masyarakat bawah. Reformasi melalui mekanisme demokrasi,
politik dan ekonomi masih sebatas yaitu partisipasi publik, kita dapat
slogan. mengontrol bahkan menekan
49
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

pemerintah untuk serius mengurus Ibrahim AS pada saat


negara dan rakyatnya. menyembelih putranya, simbol
Tokoh-tokoh agama seperti ego keduniawian. Karakter
Prof. Syafii Maarif, Kardinal Julius kepemimpinan semacam ini yang
Darmaatmaja, Pdt. A. Yengawoe, masih langka ditemukan dalam
Bhikkhu Sri Pannyavaro negara kita.
Mahathera, serta Haksu Xueshi Untuk menarik gerbong
Djaengrana Ongawijaya dan yang bangsa yang hampir lumpuh
tergabung dalam Gerakan Peduli diterpa gelombang badai ujian
Moral Bangsa sangat prihatin tentu dibutuhkan lokomotif
dengan ketidakseriusan pemerintah kepemimpinan yang kuat,
memberikan ketauladanan dan visioner, siap berkorban, dan kerja
mengutamakan kepentingan tuntas, meminjam istilah
rakyat. Kota Metro, Lampung, 26 Budayawan Jakob Oetama. Jika
Januari 2008 jadi saksi atas testimo syarat utama kepemimpinan
kebangsaan gerakan ini yang seperti ini terus diabaikan dalam
difasilitasi MAARIF Institute. setiap proses demokrasi maka bisa
Mereka menilai pemerintah tidak jadi kita (akan) memiliki
mampu menjaga jarak dengan pemimpin-pemimpin berjiwa
kepentingan partai-partai politik kolonial. Padahal Max Haveelar,
yang pada akhirnya merecoki seorang amtenar Hindia Belanda,
kebijakan di pelbagai sektor. Yang berani menyuarakan semangat
kita butuhkan saat ini adalah pencerahan dan ketidakadilan
pemimpin visioner yang ketika menyaksikan penderitaan
menempatkan kekuasaan sebagai yang dialami masyarakat jajahan
medium mensejahterakan negerinya. Lalu, bagaimana
masyarakatnya, bukan sebagai dengan para pemimpin kita yang
tujuan akhir. Memimpin harus berasal dari bahkan dipilih
berorientasi pada upaya bangsanya sendiri? Wallhu‘alam.
memakmurkan sebagian besar
masyarakat yang kurang
beruntung. Bukankah hakekat
memimpin adalah “menyalib”
kepentingan diri sendiri untuk
sebuah kebangkitan sebagaimana
ajaran Isa AS? Juga telah
ditunjukkan oleh ketauladan
50
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Catatan Redaksi

SAAT NEGARA MEMBANGUN JEMBATAN DIALOG


Catatan Program Indonesia-United Kingdom Interfaith Exchange

Siti Sarah Muwahidah

Delegasi program pertukaran tokoh


agama Indonesia-Inggris berfoto
bersama Bhikkhu Sri Pannyavaro
Mahathera di pelataran Vihara Mendut,
Magelang.

Medio Februari lalu, MAARIF Institute mendapat kepercayaan dari


Departemen Luar Negeri RI untuk menyusun dan mempersiapkan
Programme. Program ini merupakan program pertukaran/ ajang saling
kunjung beberapa aktivis interfaith Indonesia dan Inggris.
Embrio program ini sebenarnya muncul dua tahun yang lalu,
tepatnya saat mantan Perdana Menteri Inggris, Toni Blair berkunjung
ke Indonesia. Tertarik dengan kemajemukan agama dan budaya
masyarakat Indonesia, terutama corak kehidupan masyarakat Muslim
di negara ini, Toni Blair dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lantas
menyepakati terbentuknya suatu project dimana kedua negara dapat
saling mempelajari budaya dan isu-isu antaragama.
Tony Blair dan SBY lantas menyurati tujuh tokoh Islam di negara
mereka masing-masing, dan kemudian membentuk suatu badan yang
disebut Indonesia-UK Islamic Advisory Group (IUIAG). Anggota Islamic
Advisory Group dari Indonesia adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra (Ketua),
KH. Hasyim Muzadi, Prof.Dr. Din Syamsuddin, Marwah Daud Ibrahim,
PhD., Prof. Dr. Nasarudin Umar, Abdul Mu’ti, dan Yenny Zannuba
Wahid. Sementara, anggota Islamic Advisory Group Inggris adalah Dr.
Musharraf Hussain (Ketua), Asim Siddiqui, Shaykh Muhammad Bilal
51
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Abdallah, Mishal Husain, Yusuf Gereja Indonesia) telah mendapat


Islam, Moulana Shahid Raza, dan kesempatan untuk berkunjung ke
Sabira Lakha. Inggris untuk mempelajari
Tujuan utama pembentukan kehidupan beragama, dan
badan ini ialah untuk menyusun dinamika hubungan antar
rekomendasi-rekomendasi praktis kelompok iman disana.
bersama tentang cara terbaik Selanjutnya, pada 18-24
untuk menghadapi kelompok Februari lalu, enam orang aktivis
agama ekstrim, dan meningkatkan antariman dari Inggris
hubungan Islam dan Barat. Badan mengadakan kunjungan balasan
ini kemudian mempresentasikan ke Jakarta, dan Yogyakarta.
rekomendasi-rekomendasi Keenam orang tersebut adalah:
tersebut kepada pemerintah Indo- Khalil A. Kazi (Muslim Imam,
nesia dan Inggris. Batley), Peter Tarleton (Konsultan
Pada pertemuan pertama, dan Pembimbing Rohani, Batley),
sekaligus peresmian IUIAG, di Sughra Ahmed (Peneliti di The Is-
London, 31 Januari 2007, telah lamic Foundation, Leicester),
disusun delapan rekomendasi Cathy Morrison (Pengurus St.
utama (Eight Key Emerging Recom- Phillip’s centre, Leicester), C. Alan
mendations). Sementara, Amos (Pembimbing Rohani di
pertemuan IUIAG kedua di Rumah Sakit Medway Maritime,
Jakarta, 12-15 Juni 2007, sepakat Kent), dan Khabeer Bostan
untuk segera menjalankan tiga (Aktivis Forum Kristen Muslim
dari delapan rekomendasi. Salah UK).
satunya adalah melaksanakan pro- Kunjungan ini diawali dengan
gram pertukaran aktivis presentasi dan diskusi tentang
antariman ini. agama-agama di Indonesia, baik
Pada 29 Oktober- 3November dari sisi sejarah maupun undang-
2007, lima orang aktivis muda In- undang yang mengaturnya.
donesia: Raja Juli Antoni (Direktur Kedua narasumber Prof. Dr.
Eksekutif MAARIF Institute), Azyumardi Azra (UIN Jakarta)
Malik Haramain (Sekjen PB dan Dr. Atho Mudzhar
Ansor), Abidah Muflihati (Dosen (Departemen Agama), terutama
UIN Sunan Kalijaga), Natalis menjelaskan bahwa Indonesia
Situmorang (Ketua Pemuda bukan negara sekuler, tetapi juga
Katolik Indonesia), dan Favor bukan negara agama. Indonesia
Bancin (Pengurus Persekutuan tidak didominasi oleh suatu ajaran
52
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

agama tertentu, tetapi didasari bahwa ternyata kelompok-


oleh suatu rumusan yang kelompok tersebut tidak dapat
berlandaskan kepercayaan dianggap mewakili mayoritas umat
terhadap Tuhan YME, dan nilai- Islam Indonesia. Jumlah pengikut
nilai luur lainnya, sebagaimana kelompok ekstrem tersebut
terkandung dalam Pancasila. sebenarnya tidak banyak, tetapi
Selama di Jakarta, delegasi karena pendapat dan tindakan
dari Inggris ini mendapat radikal mereka seringkali diekspos
kesempatan untuk berdiskusi oleh pers, gaung mereka menjadi
secara langsung dengan Din lebih besar.
Syamsyudin, Hasyim Muzadi, Selanjutnya, pada saat
British Ambassador H. E. Charles kunjungan ke Daerah Istimewa
Humfrey dll. Mereka juga Yogyakarta, rombongan berdiskusi
melakukan kunjungan ke Masjid dengan pengajar dan mahasiswa
Istiqlal, Gereja Kathedral Jakarta, Center for Religious and Cross-cul-
Universitas Katolik Atmajaya, In- tural Studies dan Indonesian Con-
donesian Conference on Religion for sortium of Religious Studies di Uni-
Peace (ICRP). Selain versitas Gadjah Mada, juga dengan
membicarakan akar kultural aktivis antariman di Yogyakarta
yang menjadi dasar toleransi dan sekitarnya yang difasilitasi oleh
antar umat beragama, mereka Dian/Interfidei. Untuk
juga berdiskusi tentang masalah- mempelajari realitas kehidupan
masalah seputar identitas agama beragama di akar rumput, delegasi
yang belum tuntas, seperti juga berkunjung ke Dusun Kotesan.
ketidakjelasan hukum Dusun yang terletak di dekat
pernikahan antar agama, tanda Prambanan ini terkenal dengan
setrip di KTP bagi pemeluk aliran hubungan antaragamanya yang
kepercayaan, pengrusakan erat dan harmonis. Disini, anggota
tempat ibadah di beberapa delegasi mendapat kesempatan
daerah, dan juga penerapan untuk bertemu dan bercakap-cakap
syariah Islam di beberapa kota dengan tokoh-tokoh agama dan
dan provinsi. masyarakat lokal.
Adapun dalam pembicaraan Di Magelang, selain
tentang beberapa kelompok Is- mengunjungi Borobudur, dan
lam ekstrem yang sering Vihara Mendut, delegasi juga
menghalalkan kekerasan, berkunjung ke Pondok Pesantren
ternyata didapat informasi Pabelan, dan menunaikan shalat
53
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Jum’at disana. Anggota delegasi masalah yang mereka hadapi.


berkeliling pondok, sambil Secara umum, para delegasi
berdikusi dengan bahasa Arab dan merasa sangat terkesan dengan
Inggris dengan para santri putri dan kemampuan aneka suku bangsa
putra yang memandu mereka. dan kelompok agama di Indone-
Beberapa bangunan pondok, yang sia untuk hidup berdampingan
ternyata merupakan donasi dari bersama, tetapi sebagaimana yang
dermawan non-Muslim, dikatakan oleh beberapa aktivis
merupakan salah satu buah dan tokoh agama Indonesia,
kerjasama antaragama di Indonesia. situasi ideal ini tidak terjadi di
Di penghujung minggu, seluruh wilayah, sepanjang masa.
rombongan dari Inggris ini, Walaupun Indonesia memiliki visi
berpisah menjadi tiga kelompok kebhinekaan yang ideal dimana
dan masing-masing menginap di kemajemukan itu dihargai dan
tiga tempat yang berbeda, yaitu disyukuri bersama, friksi dan
Pondok Pesantren Pandanaran, ganjalan untuk merealisasikan visi
Pondok Pesantren Mu’allimin dan itu masing sering muncul. Namun,
Pusat Pengembangan Spiritual Uni- justru disitulah, menurut delegasi
versitas Kristen Duta Wacana (PPS UK, poin utama yang mereka
UKDW). Di kesempatan ini, para pelajari. Kesadaran banyak orang
anggota delegasi mencoba bahwa visi ideal belum tercapai,
membaur dan merasakan gaya pengakuan bahwa masih banyak
hidup santri-santri di pesantren dan tantangan yang harus dihadapi
mahasiswa di PPS UKDW. Mereka bersama merupakan suatu bukti
umumnya sangat terkesan dengan bahwa masyarakat Indonesia
semangat dan energi yang dimiliki peduli, dan mau terus berusaha
oleh para santri yang notabene untuk menciptakan Indonesia
memiliki jadwal kegiatan yang yang bhineka dan harmonis.
padat, dan jadwal istirahat yang
minim. Terakhir, rombongan
mengunjungi Padepokan Sapta
Darma di daerah Taman Siswa,
Yogyakarta. Mereka berkesempatan
untuk mengobrol langsung dengan
Pemimpin Sapta Darma, dan belajar
tentang sejarah, ritual, dan masalah-

54
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Call For Papper

Pengantar Redaksi
Dalam rangka menyuburkan tradisi berpikir terbuka dan kritis di kalangan
mahasiswa S1 dari pelbagai latarbelakang disiplin keilmuan, Redaksi Media
MAARIF mengadakan “Call for Paper I: Syafii Maarif dalam Perspektif”. Informasi
mengenai hal ini kami sebarkan ke pelbagai perguruan tinggi, organisasi
mahasiswa dan kepemudaan, serta milist di internet sejak awal Pebruari 2008.
Sampai batas deadline 8 Maret, redaksi menerima banyak tulisan dari beragam
kampus di Indonesia. Salah satu tulisan terpilih adalah “Peranan Syafii Maarif
dalam Membangun Pluralisme di Indonesia” yang ditulis oleh Andriansyah

PERANAN SYAFII MAARIF


DALAM MEMBANGUN PLURALISME DI INDONESIA:
Sebuah Telaah Deskriptif

Andriyansyah
Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Langlangbuana, Bandung

Pluralisme: Sebuah Pemahaman Awal


Prestasi sebuah bangsa yang demokratis sangat
berkaitan erat dengan penghargaannya atas
pluralisme. Hal ini akan menjadi tolok ukur, apakah
bangsa tersebut berhasil menegakan nilai-nilai
pluralis seperti toleransi, kesetaraan, dan kooperasi
atau hanya sebatas jargon saja. Penegakan pluralisme
merupakan “rukun iman” yang tidak bisa dinafikan
dengan alasan apapun. Mengabaikan nilai tersebut
berarti mencederai demokrasi yang sedang kita
bangun.
Namun demikian, pluralisme ternyata bukan
sesuatu yang mudah diterima, khususnya di negara-
negara yang memiliki tingkat kolektifitas dan
homogenitas yang tinggi. Nilai-nilai pluralistik bukan
sesuatu yang given atau terberikan begitu saja,
melainkan harus diperjuangkan. Dengan kata lain,
fakta bahwa masyarakat atau suatu bangsa itu plural
tidak serta merta menjadikan orang yang hidup
didalamnya memahami dan menghargai pluralisme.
55
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Oleh karena itu, penegakan karena pluralitas di Indonesia


pluralisme merupakan kewajiban tidak diimbangi dengan
mendasar bagi mereka yang pemahaman tentang pluralisme3.
peduli dengan demokrasi dan Sehingga, tidak mengherankan
keberlangsungan hidup bangsa jika benturan antar elemen
ini. masyarakat sering terjadi.
Pluralisme itu sendiri Fenomena kekerasan terhadap
berarti suatu pemahaman yang Jemaah Ahmadiyah belakangan
mengakui adanya keragaman atau ini merupakan ciri dari kurangnya
eksistensi yang berbeda-beda. sensitivitas terhadap pluralisme
Dalam bahasa Fanani, pluralisme itu sendiri. Karena, artikulasi yang
adalah sebuah pengakuan akan benar dari pluralisme bukan hanya
hukum Tuhan yang menciptakan membiarkan yang lain (the other)
manusia yang tidak hanya terdiri untuk hidup dengan caranya
dari satu kelompok, suku, warna sendiri, tetapi juga bagaimana
kulit, dan agama saja 1. Dengan memahami dan menghargai
demikian, pluralisme merupakan keyakinan the other tersebut dalam
ruh dari demokrasi yang bingkai kemanusiaan. Ide
mengakui adanya perbedaan. Di pluralisme diharapkan membawa
sisi lain, pluralisme juga paham kesetaraan antar orang or-
memberikan suatu arahan tentang ang beriman ke arah kerja sama di
bagaimana memahami suatu antara umat beragama (dan juga
kebenaran mutlak yang yang tidak beragama) untuk
disandingkan dengan realitas menanggulangi masalah-masalah
teologis yang bermacam-macam kemanusiaan seperti kemiskinan,
yang termanifestasi dalam agama- ketidakadilan sosial, diskriminasi
agama2. terhadap kaum perempuan, dan
Di Indonesia, fakta bahwa sebagainya 4 . Sayangnya,
masyarakat kita adalah kurangnya pemahaman terhadap
masyarakat yang plural adalah pluralisme diperparah oleh orang-
sesuatu yang tak terbantahkan. orang yang justru anti dengan
Namun, seperti yang saya pemahaman pluralisme itu sendiri
paparkan di atas, pluralitas bangsa serta menuduh pluralisme sebagi
ini tidak serta merta menggiring bagian dari paham impor yang
masyarakatnya untuk menghargai harus diwaspadai5.
pluralisme. Menurut Dawam
Rahardjo, hal itu disebabkan
56
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Posisi Syafii Maarif Ditengah yang meskipun sama-sama


Pejuang Pluralisme penganut pluralisme namun latar
Pemahaman tentang belakangnya adalah tradisionalis
pluralisme sebenaranya telah (turatsniyyun). Sehingga, latar
cukup lama diperkenalkan pada belakang yang berbeda ini
masyarakat Indonesia. Rintisan ini membawa perbedaan pula
telah dimulai oleh Harun Nasution terhadap perspektif keduanya
melalui bukunya, “Islam Ditinjau dalam memahami pluralisme.
dari Berbagai Aspeknya” 6 . Sedangkan Cak Nur, meskipun
Menurutnya, agama Islam banyak pemikirannya dipengaruhi
merupakan suatu nilai yang neo-modernisme Islam-nya Fazlur
terbuka. Islam merupakan Rahman namun ia seorang
keberlangsungan dari tradisi- akademisi. Cak Nur tidak memiliki
tradisi agama sebelumnya. pengalaman memimpin ormas Is-
Dengan demikian, Islam memiliki lam mainstream seperti halnya Gus
kekerabatan yang erat dengan Dur dan Syafii Maarif (kecuali
tradisi agama-agama lain untuk pernah menjadi Ketua Umum PB
saling melengkapi, bukan HMI-red).
membatalkan. Tren pemikiran ini Sebagai seorang akademisi per
kemudian diteruskan oleh se, Cak Nur memiliki privilege
generasi kedua, yakni Cak Nur, berupa kebebasan akademis yang
Abdurahman Wahid (Gus Dur), tidak dimiliki secara otomatis oleh
dan last but not least Syafii Maarif seorang pemimpin ormas Islam.
yang merupakan perwakilan dari Pada posisi sebagai pemimpin
kelompok reformis-modernis ormas Islam, ada kemungkinan
(attajdid wal hadatsah). Penulis pengaruh atau pamornya jatuh
sengaja menempatkan Syafii hanya gara-gara pendapatnya tidak
Maarif pada posisi yang berbeda sesuai dengan suara mayoritas di
dalam jajaran para pejuang tubuh ormas yang dipimpinnya.
pluralisme. Pendapat Syafii Maarif dan Gus Dur
Hal ini disebabkan beberapa tentang demokrasi, pluralisme,
alasan. Pertama, ia mewakili suatu kesetaraan, dan kemanusiaan
“tenda” besar, yaitu terkadang menuai kritik pedas
Muhammadiyah yang menjadi bahkan caci maki. Resiko inilah
tenda bagi kelompok pembaharu yang kemudian harus ditanggung
(mujaddid). Hal ini oleh Buya Syafii dan Gus Dur.
membedakannya dari Gus Dur Keduanya harus siap untuk tidak
57
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

populer karena lebih memilih bagaimana menerapkan nilai-nilai


nilai-nilai islam yang substantif Islam yang substantif dalam
dan manusiawi. Namun demikian, masyarakat9. Sehingga, tujuannya
sejarah mencatat mereka sebagai bukanlah menegakan negara Islam,
para pejuang nilai-nilai melainkan masyarakat yang Islami
kemanusiaan. yang pernah digagas oleh
Muhammadiyah merupakan Rasulullah dan para sahabat.
tenda bagi kaum puritan yang Namun demikian, gerakan
cenderung tidak toleran dengan puritanisme yang berhaluan
pandangan keagamaan yang tidak konservatif tetap ada. Sehingga,
ortodok7. Puritanisme inilah yang Muhammadiyah boleh dibilang
menimbulkan banyak telat dalam melahirkan kader-
kekhawatiran bahwa ormas kader yang progresif dan liberal.
modernis ini akan lebih Kalaupun ada, kelompok-
mendukung ide negara Islam kelompok yang progresif tersebut
ketimbang ide Pancasila8. Hal ini tidak terlalu menonjol
terbukti dengan generasi awal sebagaimana kader-kader NU.
tokoh-tokoh dari ormas ini yang Setelah kran reformasi dibuka,
mendukung pemberlakuan Piagam banyak kader-kader
Jakarta. Ini sangat berbeda dengan Muhammadiyah yang mulai
Nahdhatul Ulama (NU) yang cukup muncul dengan ide-ide segar.
progresif dengan menerima NKRI Menurut Sukidi, meruyaknya
dan asas tunggal Pancasila pada kader-kader liberal-progresif di
zaman Orde Baru. Namun sejarah tubuh Muhammadiyah tidak lepas
ternyata mengubah haluan dari peranan Syafii Maarif10. Syafii
Muhammadiyah dan Maarif dalam hal ini merupakan
perkembangan zaman telah transformator yang berperan besar
memodifikasi ideologi puritanisme dalam melahirkan kader-kader lib-
Muhammadiyah menjadi lebih eral-progresif. Bermunculannya
moderat. Pada akhirnya, kader-kader Muhammadiyah
Muhammadiyah juga menerima yang liberal dan progresif hampir
NKRI sebagai bentuk final dalam bersamaan ketika Syafii Maarif
kehidupan bernegara. Kewajiban memimpin Muhammadiyah11.
utama umat islam menurut
Muhammadiyah bukan menegakan Relativitas Pemikiran dan
Islam yang formalistik dalam Kemutlakan Pluralisme
bentuk negara, melainkan Ketika paper ini dibuat, saya
58
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

belum sempat membaca buku Lebih jauh lagi, Syafii Maarif


“Otobiografi Ahmad Syafii Maarif: mendeklarasikan sikapnya
Titik-titik Kisar di Perjalananku tentang kenisbian penafsiran yang
(2006)” yang konon merupakan dilakukan oleh manusia; apakah ia
sebuah pledoi tentang perubahan seorang mufassir atau seorang
pemikirannya selama ini. Namun mujtahid. Dalam pandangannya,
beberapa tulisannya, baik yang
tersebar di koran, majalah ataupun “Iman saya mengatakan bahwa al
buku, mengindikasikan bagaimana Qur’an itu mengandung
gigihnya pembelaan dia terhadap kebenaran mutlak, karena ia
berhulu dari yang mutlak. Tetapi,
pluralisme. Syafii Maarif sangat
sekali ia memasuki otak dan hati
menganjurkan sikap lapang dada manusia yang serba nisbi, maka
dan santun dalam menghadapi penafsiran yang keluar tidak
kehidupan ini, dengan tidak pernah mencapai posisi mutlak
memandang perbedaan latar benar, siapapun manusianya,
belakang agama, etnis, dan ideologi termasuk mufassir yang dinilai
politik. Dia menganggap agama punya otoritas tinggi, apalagi
yang digunakan untuk membela yang menafsirkannya itu
“rasisme” sebagai sesuatu yang manusia-manusia seperti saya”14
destruktif dan harus secepatnya
dimasukan dalam museum Dengan sangat cemerlang
sejarah12. Syafii Maarif membedakan antara
Pembelaan Syafii Maarif firman Tuhan dengan pemahaman
terhadap pluralisme juga terlihat manusia itu sendiri. Dimana yang
dengan jelas dalam kolom resonansi pertama bersifat mutlak dan
di HU Republika tentang Surat al ilahiah (divine) sedangkan yang
Baqarah ayat 62 dan al Ma’idah ayat kedua bersifat relatif dan profan.
69 bahwa orang-orang yang Perbedaan yang “jomplang” inilah
beriman, orang-orang Yahudi, yang jarang disadari oleh para
Nasrani, dan Shabiin akan sama- apolog Islam.
sama mendapat ganjaran kebaikan Kritikan terhadap sejumlah
dari Allah. Di sana, Syafii Maarif ulama terpandang serta karya-
merujuk pada Tafsir Al Azhar karya karya mereka memang masih
Buya Hamka yang merupakan menjadi tabu tersendiri. Hal ini
gurunya 13. Ia dengan jelas telah terlihat dari adagium mereka yang
melampaui pakem konvensional berusaha untuk menjaga nama
tentang masalah keselamatan. baik para ulama Islam, khususnya
59
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

mereka yang termasuk generasi which is not always necessarily


salafus shalih, dengan compatible with the prophet’s
mengesampingkan kekurangan true mission as a grace towards
mereka karena ilmunya. Oleh all mankind”16
karena itu, kritikan objektif atau
ilmiah bisa dituding sebagai suatu Mereka lupa bahwa lahirnya
penyimpangan. Bahkan aliran teks-teks yang berupa penafsiran
pembaharu yang mengklaim atas al Qur’an (termasuk
ijtihad sekalipun tidak bisa keluar penafsiran atas Islam) tidak lahir
dari “penjara” pengkultusan di ruang hampa, melainkan hasil
terhadap generasi awal Islam ini15. interaksi yang simultan antara
Absolutisme tafsir inilah yang realitas dan idealisme yang
merupakan pangkal segala jenis dikandung kitab suci tersebut.
pemahaman Islam yang eksklusif Dengan kata lain, penafsiran
dan anti-pluralisme. seorang ulama mengenai ayat
Apa yang luput dari tertentu al Qur’an boleh jadi
pemahaman para apolog Islam dipengaruhi oleh kondisi pada
ialah mereka tidak memiliki zamannya. Ia melanjutkan,
keberanian untuk keluar dari
“From this perspective, what we
bayang-bayang sejarah masa lalu.
know then as sunnism, shi’ism,
Bayang-bayang tersebut adalah and kharijism were no doubt
berupa kemapanan otoritas teks parts of the historical islam, and
dan ulama dimana sinergi every moslem has the right to
keduanya telah melahirkan masa question the validity and authen-
keemasan peradaban Islam di ticity of their claims for truth
masa lampau. Maarif when seen from the qur’anic
berpendapat: world view”17

“I want to propose two kinds of Syafii Maarif berpendapat


Islam, qur’anic and historical. bahwa pluralisme merupakan
The Qur’anic Islam is the one fakta keras sejarah. Pluralisme
that represents a total islamic memberikan peluang pada setiap
world view based on the genuine orang untuk berbeda dan
and authentic interpretation of meyakini agamanya sebagai
the Qur’an. The historical Islam
kebenaran mutlak. Tetapi ia
is the one resulted largely from
its wrestling and interaction with
mengingatkan bahwa hak serupa
the blood and flesh of history juga harus diberikan pada

60
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

penganut agama atau keyakinan sebagai sekumpulan kodifikasi


lain untuk memegang prinsip yang hukum yang terdapat dalam al
sama. Disini ia memberikan Qur’an, sunnah dan kitab-kitab
penekanan tentang perlunya sikap para ulama; yang dimulai dari bab
toleran atau tenggang rasa dengan thaharah (bersuci) sampai dengan
penganut agama atau kepercayaan bab daulah (negara). Pandangan
lain. Bahkan, seorang atheis demikian sebenarnya telah
sekalipun, dalam pandangannya, mereduksi ajaran Islam sebagai
harus tetap dihormati hak-haknya ajaran legal-formal belaka.
selama ia tidak melanggar hukum Pandangan demikian nyaris
positif yang berlaku. Penghakiman seperti pandangan kaum Yahudi
terhadap keyakinan seseorang terhadap agamanya yang dikecam
adalah mutlak hak prerogatif sedemikian rupa oleh para
Tuhan. Manusia tidak memiliki hak fundamentalis itu. Hanya saja,
tersebut dan perampasan hak perbedaanya Sebagai mana kita
prerogatif itu merupakan sebuah tahu, meskipun Agama Yahudi
kesombongan yang tidak adalah agama yang legalistik,
termaafkan18. namun tidak ada pandangan
keagamaan mereka yang
Syafii Maarif dan Syariat Islam menyangkut masalah-masalah
Pandangan lain yang profan seperti ekonomi, politik atau
menggambarkan Syafii Maarif hubungan internasional.
sebagai tokoh yang membela Misalnya, tidak ada pendapat
pluralisme adalah penolakannya rabbi Yahudi tentang bagaimana
terhadap perda-perda yang menegakan “Ekonomi a la
bernuansa Syariat Islam. Alasan Yahudi”.
yang dikemukakan olehnya bukan Kaum fundamentalis juga anti
karena alasan ketidaktahuan, tetapi dengan demokrasi, karena
justru karena pemahaman yang demokrasi memberi peluang pada
mendalam tentang syariat itu manusia untuk hidup damai
sendiri 19 . Apabila benar Syafii dalam iklim multi kultural dan
Maarif tidak memahami Syariat Is- multi agama. Mereka ingin
lam, maka akan sangat ganjil jika menegakan pemerintahan yang
dia bisa tampil sebagai orang nomor otoriter 20 . Dengan demikian,
satu di organisasi Muhammadiyah. agama ditangan mereka tidak
Dalam pandangan kaum lebih sebagai alat kekuasaan untuk
fundamentalis, syariat dipandang memonopoli kebenaran. Hal ini
61
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

ditempuh dengan melakukan terdaftar sebagai bangsa yang


Islamisasi (atau lebih tepatnya banyak melakukan pelanggaran
syariatisasi) dalam semua bidang: HAM berat. Tentunya hal
ekonomi Islam, negara Islam, demikian menjadi sangat
sistem Islam, dan lain kontraproduktif dengan tujuan
sebagainya21. awal Islam sebagai rahmat bagi
Pandangan ultra-legalistik semesta alam (rahmatan lil
seperti ini mengandaikan Islam ‘alamiin).
sama seperti ideologi Sekuler. Is- Salah satu aspek modernitas
lam dibayangkan sebagai sistem yang cukup menonjol adalah
totaliter yang mengatur semua berkembangnya kehidupan
aspek kehidupan manusia; yang manusia yang multi kultur; yang
berupa blue print dan dapat berarti multi etnik dan multi
diterapkan di setiap tempat dan agama. Syariat yang dipahami
keadaan. Namun, pandangan oleh kalangan pluralis seperti
demikian jelas sangat berbahaya, Syafii Maarif adalah syariat yang
kemungkinan besar islam akan mampu mengayomi aspek multi
mengalami kegagalan serupa kultural tersebut dalam bingkai
sebagai mana ideologi Marxisme22. kebangsaan yang adil dan
Yang tidak disadari oleh para manusiawi. Sungguh sangat ironis
pengagum syariat ini adalah jika syariat yang berisi pesan
kehidupan manusia terus Tuhan untuk kebaikan, maslahat,
berkembang. Akan tetapi mereka manusia namun hasilnya malah
membayangkan Islam sebagai menindas kemanusian itu sendiri.
sebuah formula atau kapsul ajaib Secara tidak langsung, Syafii
yang bisa menjawab setiap Maarif menganggap ada korelasi
persoalan yang dihadapi oleh antara syariat dengan pluralisme.
manusia modern. Penerapan perda-perda Syariat Is-
Apa yang terjadi di Arab lam yang lebih banyak
Saudi, Afghanistan pada masa mendiskriminasi (khususnya
Thaliban, Sudan atau Iran adalah kaum perempuan) dan
contoh par excellence bagaimana menimbulkan kecurigaan serta
syariat yang ideal harus kecemburuan penganut agama
berhadapan dengan realitas yang lain jelas bertentangan dengan
terkadang pahit. Alih-alih menjadi semangat pluralisme yang dicita-
negara yang maju yang makmur, citakan Islam. Syariat dengan
bangsa-bangsa tersebut malah demikian harus ditafsir ulang,
62
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

bukan dalam wujudnya yang tidak membawa perubahan


harfiah dan kaku, namun dalam apapun. Pluralisme jenis demikian
bentuknya yang fleksibel dan adalah buah dari era pasca-mod-
dinamis. Boleh jadi suatu aturan ern yang didapat bukan dari hasil
tidak membawa-bawa nama Islam, usaha atau perjuangan, namun
namun isi yang dikandungnya akibat dari ketidakmampuan
mampu menjamin maslahat bagi dalam memahami realitas.
manusia banyak. Maka, secara Syafii Maarif percaya bahwa
otomatis aturan tersebut Islami jalan keluar terbaik untuk
meski tidak ada label Islam disana. menangkal radikalisme dan
konservatisme ini adalah dengan
Penutup: Benteng Pluralisme menegakan demokrasi yang sehat.
Keindonesiaan Demokrasi yang bukan hanya
Peranan Syafii Maarif sebagai sekedar wacana, namun mampu
bapak sekaligus guru bangsa memberikan keadilan bagi
menjadi sangat menentukan. Hal masyarakat seluas-luasnya. Maarif
ini bukan semata-mata karena tidak menganggap bahwa
ketokohannya, namun juga karena gerakan-gerakan konservatif dan
percik-percik pemikirannya yang radikal, yang merebak sejak awal
berusaha untuk melawan, dengan era Reformasi, sebagai suatu jenis
santun, arus konservatisme dan kejahatan yang harus dimusuhi.
radikalisme yang kian menguat. Dia melarang menghukum
Sebuah pemikiran tandingan yang kelompok garang ini selama
ia gagas tidak digunakan untuk mereka masih taat pada konstitusi,
membinasakan lawan namun hukum, dan etika pergaulan23.
untuk memberi penerangan atau Radikalisme dan
pencerahan. konservatisme merupakan buah
Hal yang patut untuk dari ketidakadilan ekonomi, sosial,
direnungkan, bahwa sikap dan dan politik. Oleh karena itu, harus
pemikirannya yang pluralis dicarikan solusi yang berkaitan
tersebut bukanlah relativisme yang dengan masalah tersebut. Kita
a-nilai, melainkan sikap yang tidak bisa semata-mata
berpihak pada kebenaran, keadilan berpandangan pluralistik
serta nilai-nilai kemanusiaan yang sedangkan disebelah kita masih
universal. Pluralisme-relativistik menderita kelaparan dan
yang tidak berpihak, hanya akan kemiskinan. Sebagai sebuah ide,
melahirkan nihilisme besar yang pluralisme merupakan barang
63
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

mewah yang hanya bisa dinikmati hadirnya orang-orang luar yang


oleh orang-orang terpelajar, orang- berbeda baik dari segi agama,
orang yang pernah bergaul dengan ekonomi maupun strata sosial.
“dunia luar” atau setidaknya orang- Pengalaman bangsa-bangsa
orang yang pernah membaca dan maju didalam mengembangkan
memahami (dari buku-buku mahal pluralisme tidak terlepas dari
tentunya!) “mahluk” yang bernama usaha mereka untuk mengurangi
pluralisme. kesenjangan dan ketidakadilan.
Bagi kebanyakan masyarakat, Masyarakat di Eropa, Amerika dan
pandangan keagamaan yang Jepang terkenal karena etikanya
konvensional dan hitam-putih jauh yang tinggi, penghormatan
lebih memadai. Pandangan bahwa terhadap hak-hak orang lain dan
hanya “kita” yang benar dan keuletannya didalam bekerja.
“mereka” salah, jauh lebih mudah Mereka tidak mempunyai waktu
dipahami, apalagi jika yang disebut untuk menghakimi semua jenis
“mereka” (the other) itu adalah lebih perbedaan, karena pribadi
kaya, kuat, dan elok. Pendeknya, seseorang dinilai dari kontribusi
segala kelemahan dan dan prestasinya di masyarakat.
ketidakberdayaan yang menerpa Disini, pendekatan nilai Islam
umat menjadi tertanggungkan yang mendukung pluralisme
dengan menerima paham yang harus dikaji kembali dengan
ekslusif dan konservatif. menggunakan pendekatan yang
Pluralisme, bagi masyarakat awam sesuai dengan kondisi Indonesia.
yang lemah, hanya dianggap akan Syafii Maarif dalam hal ini percaya
meruntuhkan benteng bahwa Islam mampu menjadi in-
ketidakberdayaan yang mereka tegrator atau pemersatu
bangun dengan susah payah. kehidupan berbangsa. Terpaan
Pluralisme yang ingin sejarah yang berkali-kali memukul
ditegakkan hendaknya dibarengi bangsa Indonesia bisa ditemukan
dengan usaha bagaimana akarnya pada kelalaian fatal elite
menciptakan struktur sosial-politik bangsa ini dalam menegakan
yang berkeadilan di masyarakat. prinsip keadilan. Padahal
Masyarakat yang sibuk mengatur menurutnya, Islam, jika
urusan “aqidah” orang lain, ditafsirkan dengan benar mampu
kebanyakan adalah masyarakat menjadi perekat yang sekaligus
yang secara ekonomi lemah. menguatkan pluralisme itu
Mereka merasa terancam dengan sendiri24.
64
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Sebagai bahan renungan, apa yang dilakukan oleh Syafii Maarif


lewat pemikirannya saat ini merupakan tonggak dari benteng-benteng
keindonesiaan yang sedang kita bangun. Benteng tersebut adalah
tegaknya pluralisme yang menjadi ruh bagi demokrasi. Syafii Maarif
dalam hal ini telah memulainya dengan menuangkan setiap gagasannya
lewat tulisan. Kewajiban kita sekarang adalah bagaimana
mempertahankan benteng tersebut agar tidak ambruk karena demokrasi
yang kokoh harus ditopang oleh pluralisme yang kokoh pula.

Catatan Kaki:
1
. Ahmad Fuad Fanani, Islam, Pluralisme, dan kemerdekaan beragama (12/09/2005). http://
islamlib.com/id/index.php?page=article&id=883
2
. Adnan Aslan, Menyingkap kebenaran: Pluralisme Agama dalam Filsafat Islam dan Kristen
Sayyed Hussein Nasr dan John Hick , cet 1, april 2004, Penerbit Alifya, Bandung.
3
. DawamRahardjo, Mengapa Semua Agama itu Benar (03/01/2006). http://islamlib.com/id/
index.php?page=article&id=962
4
. Budhi Munawwar Rahman dalam Wajah Liberal Islam di Indonesia, Cet 2002, Jaringan
Islam Liberal, Jakarta.
5
. Adhian Husaini, Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekuler-
Liberal , cet 2005, Gema Insani Press, Jakarta.
6
. Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Cet. 3, UI Press, 1979. Jakarta.
7
. Ciri menonjol puritanisme adalah keyakinannya yang absolut dan tidak kenal kompromi.
Dalam banyak hal, orientasi kelompok puritan ini cenderung tidak toleran terhadap
berbagai sudut pandang Islam yang berbeda, dan memandang realitas pluralis sebagai
suatu bentuk kontaminasi pada kebenaran sejati.Lih. Khaled Abou El Fadhl, Selamatkan
Islam dari Muslim Puritan, cet 1, Desember 2006, Penerbit Serambi, Jakarta. Hal 29.
8
. Menurut Syafii Maarif, Muhammadiyah sejak semula merupakan gerakan terbuka yang
membuka diri terhadap berbagai gagasan pemikiran Timur dan Barat yang kemudian
disaring sesuai dengan sumber pokok ajaran Islam. Syafii Maarif, Menggugah Nurani
Bangsa, cet 1, Juni 2005, Maarif Institute, Jakarta. Hal. 209
9
. www.muhammadiyah.or.id , khittah berbangsa. http://www.muhammadiyah.or.id/
index.php?option=com_content&task =view&id=16&Itemid=75
10
. Sukidi Mulyadi, …….,Tempo, (17 Juli 2005 ).
11
. Kader-kader Muhammadiyah tersebut antara lain Sukidi Mulyadi dan mereka yang
tergabung dalam Jaringan intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Ibid.
12
. Syafii Maarif, op. cit., hal. 28

65
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

13
. Republika, (Resonansi, 21/11/2006 )
14
. Syafii Maarif, (Republika online, 26/12/2006)
15
. Kelompok Salafy atau yang di Indonesia sering disebut Wahabi memiliki fanatisme yang
besar dalam hal ittiba terhadap “Manhaj Salaf”. Meski mereka mengaku tidak mengikuti
salah satu madzhab yang empat, namun ketundukan mereka terhadap fatwa-fatwa
Muhammad ibn Abdul Wahab, Bin Baz, Nashirudin Al Albany dan Syekh Utsaimin
nyaris mirip dengan seorang Muqallid . http://web.salafy.or.id/modules/konten/?id=2.
16
. Maarif, op.cit hal 186-187
17
. Loc. cit
18
. Syafii Maarif, (Republika online, 26/12/2006)
19
. Dengan sedikit agak berlebihan, Adian Husaini didalam kolom catatan akhir pekannya
menganggap Syafii Maarif bukan pakar dibidang syariat Islam. Meski benar Syafii Maarif
tidak dididik di perguruan tinggi Islam yang mengajarkan syariat, tetapi ini tidak bisa
dijadikan alasan bahwa ia tidak memahami syariat Islam. Lihat Catatan akhir pekan, Adian
Husaini, www.Hidayatullah.com/ catatan akhir pekan ( 17/07/2006 )
20
Maarif, Op.cit hal. 34
21
Di Indonesia, kelompok yang paling bersemangat menegakan semua hal yang berbau Islam
salah satunya adalah Hizbut Tahrir. Kelompok yang di inspirasi oleh Taqiyuddin An
Nabhani ini menyatakan bahwa Islam bukan sekedar agama, tapi juga sistem yang
menyeluruh yang mengatur hampir setiap aspek kehidupan manusia setindak demi
setindak. www.hizbut-tahrir.or.id
22
Ulil Abshar-Abdalla, Syariat Islam: pandangan muslim liberal , cet 1, Jaringan Islam
Liberal, Jakarta, 2007
23
Maarif, Op.cit hal 34
24
Dari Fundamentalis ke Pluralis, Otobiografi Ahmad Syafii Maarif, Suara Merdeka ( 19/06/
2006 )

66
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Perspektif

Belajar Dari Negeri Para Mullah


Fauzi Fashri
Penulis Buku Penyingkapan Kuasa Simbol: Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu

Chu buvad, Taneh-e man buvad (ketika ada, maka


Saya ada). Ini adalah sepenggal syair yang
dituturkan oleh Ferdowsi –penyair legendaris
bangsa Iran- dalam magnum opus-nya “Surat Raja”
(Shanameh). Karya Shanameh memuat syair-syair
kepahlawanan yang memberikan inspirasi bagi
masyarakat Iran guna meraih kedaulatan
bangsanya. Di saat bahasa Arab mendominasi kosa
kata kalangan cendekiawan dan penyair pada abad
ke 3-11 H, Ferdowsi dengan berani keluar dari
pakem mainstream dengan menceritakan kisah-kisah
kepahlawanan dan kebesaran bangsa Persia.
Shanameh ditulis Ferdowsi untuk
membangkitkan nasionalisme bangsa dan
menumbuhkan kebanggaan akan bahasa sendiri
yang sudah lama hilang akibat dominasi
penggunaan bahasa Arab pada masa itu. Lewat
karya genuine-nya, Ferdowsi menggugah kesadaran
nasionalisme masyarakat akan tradisi, sejarah, dan
cerita-cerita pahlawan bangsanya sendiri. Ia
membuka lembar-lembar kejayaan bangsanya dan
menegaskan bahwa untuk meraih kembali kejayaan
tersebut, semua komponen masyarakat mestilah
paham dan sadar akan sejarah bangsanya guna
menghidupkan kembali semangat nasionalisme
yang sempat redup.
Dengan begitu, rakyat memiliki gelora cinta
akan sejarah bangsanya, ketinggian peradaban yang
pernah dimiliki. Rakyat tidak akan rela ketika
bangsanya diinjak-injak, apalagi menjual tanah
airnya untuk dimiliki negara lain. Jiwa kebangsaan
67
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
tadi mendarah daging dalam mengikuti short course selama 2
pikiran dan tindakan rakyat bulan di Iran, penulis bertanya pada
(termasuk pemimpin) dengan salah satu Profesor yang menjadi
tidak membiarkan bangsa lain pengajar kami, “apa yang menjadi
mendiktenya, merampas faktor utama negara Iran dapat
kekayaan alamnya dan berkembang maju seperti sekarang
memberangus hak-hak rakyat ini?”. Profesor tadi menjawab
demi bangsa lain. Sudah singkat, “faktor utamanya karena
semestinya, secara rendah hati, Iran di embargo”. Sejarah telah
kita belajar dari bangsa yang mencatat bahwa sejak 22 Mei 1980,
mampu menjaga kedaulatannya - Iran mengalami embargo ekonomi
seperti Iran- yang mencontohkan oleh Amerika Serikat. Belum lagi
bagaimana membangun bangsa Iran didera perang selama delapan
lewat kemandirian dan keyakinan tahun setelah tahun pertama
bahwa bangsanya dapat maju revolusi Iran. Embargo berlangsung
karena dirinya sendiri, bukan hingga sekarang, tapi masyarakat
berharap dari pertolongan bangsa Iran masih tetap bertahan. Embargo
lain. bukan malah menjadikan orang-or-
Tidak bisa dipungkiri, Iran di ang Iran malas bekerja, memohon
bawah kepemimpinan Mahmoud dengan welas bantuan dari bangsa
Ahmadinejad, kini menjadi negara lain, atau mendorong perpecahan di
paling berpengaruh di Timur internal rakyat Iran.
Tengah. Belum lagi kemampuan Lewat embargo, orang-orang
nuklir yang membuat negara Barat Iran tersadarkan bahwa mereka
ketar-ketir. Iran menjadi simbol mesti hidup dengan keringat
perlawanan atas negara Adidaya mereka, bekerja keras guna
di samping Venezuela dan Bolivia. menunjukkan kepada dunia bahwa
Kepemimpinan Presiden Iran adalah bangsa yang mandiri
Mahmoud Ahmadinejad yang dan berdaulat. Mari kita dengar
dikenal sangat berani menentang sejenak ucapan Imam Khomeini
kesombongan Amerika Serikat di untuk memberi semangat rakyat
bawah kendali Presiden George W Iran dalam menghadapi embargo,
Bush, sungguh menggelitik untuk “Kita jangan pernah takut atas em-
dicermati di tengah-tengah bargo ini. Jika mereka
lemahnya kepemimpinan nasional mengembargo kita, kita akan lebih
bangsa kita. giat bekerja, dan hal ini bermanfaat
Ketika berkesempatan bagi kita. Orang-orang yang takut

68
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008
terhadap embargo hanyalah orang- tidak langsung. Setiap delapan
orang yang menjadikan ekonomi tahun sekali, rakyat memilih 86
dan duniawiah sebagai tujuan ulama dari berbagai penjuru
hidupnya semata”. Mata dunia negeri untuk duduk dalam sebuah
terbelalak saat melihat kemajuan dewan yang dikenal dengan istilah
Iran di berbagai bidang seraya Majles-e Khubregan (Dewan Pakar).
menunjukkan jikalau embargo Melalui Dewan Pakar inilah
bukanlah akhir sebuah dunia. Pada diadakan sidang untuk memilih
tahun 2006-2007, investasi asing satu ulama yang berhak
mencapai nilai tertingginya di Iran menduduki posisi Rahbar.
berbarengan dengan pemberitaan Rahbar juga memiliki
gencar mengenai resolusi embargo kekuasaan yang melebihi
terhadap Iran akibat proyek Presiden. Namun kekuasaannya
nuklirnya. tidak bersifat semena-mena, ia
Lazimnya, ketika kita mesti mengikuti prosedur legal.
mendengar negara Iran maka yang Bila Presiden dianggap melanggar
terbayangkan adalah negerinya hukum, setelah mendapat mosi
para mullah (ulama) di mana peran tidak percaya dari Parlemen dan
mullah sangat dominan dalam vonis bersalah dari Mahkamah
proses politik. Citra yang terbangun Agung, Rahbar-lah yang akan
di Barat, Iran adalah sebuah negara memecat Presiden. Kalau begitu
yang dikuasai oleh kepemimpinan siapa yang memiliki otoritas
otoritarian kaum agamawan yang mengawas Rahbar? Dewan
sertamerta dicap sebagai negara Pakarlah yang memiliki
tidak demokratis. Kalau kita teliti wewenang memecat Rahbar
lebih seksama, Iran memiliki sistem apabila telah melakukan
pemerintahan yang unik untuk pelanggaran hukum. Menjadi
kemudian mengembangkan sistem terang bahwa Iran bukanlah
demokrasi yang khas ala Iran. Meski negara yang tidak demokratis –
berbentuk republik, Iran mengenal kecuali kalau ukurannya adalah
posisi Rahbar atau leader yang demokrasi liberal Barat-. Iran
ditahbiskan sebagai pemimpin memiliki konsepsi demokrasi
tertinggi dalam Republik Islam Iran. tersendiri yang khas. Bukankah
Berbeda dengan opini yang tersebar yang terpenting dalam demokrasi
di Barat bahwa Iran is undemocratic yaitu tercapainya keadilan dan
state, Rahbar sebagai posisi tertinggi kesejahteraan bagi rakyat. Iran
sebenarnya dipilih rakyat secara sedang mengajarkan kepada kita
69
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

bagaimana demokrasi substantif Ahmadinejad mengembalikan


diselenggarakan secara baik yang martabat kemanusiaan pada posisi
tidak semata-mata berhenti pada tertinggi. Kedzaliman yang luar
demokrasi prosedural. biasa ketika negara-negara adidaya
Fenomena Iran menyeruak menindas rakyat yang tidak
ketika Presiden Ahmadinejad bersalah.
dengan lantang memimpin Ahmadinejad adalah simbol
bangsanya untuk melawan perlawanan terhadap
kedzaliman struktural dan penyimpangan, ketidakadilan, dan
ketidakadilan global yang kedzaliman. Ia merepresentasikan
dilancarkan Amerika Serikat psikologi mustadh’afin –meminjam
beserta sekutunya. Dalam istilah Azyumardi Azra-, sebuah
wawancaranya dengan TV CBS, jiwa yang bersarang di dalam
Ahmadinejad menuturkan bahwa tubuh-tubuh orang tertindas dan
dunia harus diatur dengan teraniaya. Psikologi mustadh’afin
undang-undang dan keadilan. bekerja efektif ketika berhadapan
Tanpa adanya undang-undang dengan kekuatan-kekuatan yang
mengakibatkan kehancuran segala menindas, baik itu rezim politik
sesuatu. Sembari mengutip dalam negeri maupun keputusan
pepatah Persia yang berbunyi, dan kebijakan politik negara-negara
“batu yang ditumpukkan di atas kuat yang menindas dan tidak adil.
batu tidak akan terikat satu sama Psikologi mustadh’afin mengakar
lain”, Ahmadinejad menegaskan kuat dalam masyarakat Iran dengan
bahwa kita membutuhkan tradisi Syiah yang kental. Sejatinya
undang-undang dan keadilan psikis mustadh’afin tidak saja
untuk mengatur dunia. Tanpa dimonopoli oleh negara Iran,
keduanya, untuk mengatur desa belahan dunia lainnya, seperti
pun kita tidak akan mampu. Amerika Latin, Afrika, sebagian
Kepemimpinan Ahmadinejad Asia, juga memiliki psikologi ini.
merupakan gabungan antara Psikologi mereka yang
keberanian untuk mengambil teraniaya dan tertindas ini
keputusan dan ketidaktakutan membutuhkan kepemimpinan
terhadap siapa pun kecuali Tuhan. kolektif yang diiringi dengan
Ketika wajah dunia kehilangan rona keberanian serta visi keadilan
kemanusiaannya akibat dari memimpin dunia. Dalam suratnya
ketidakadilan yang dipraktikkan kepada Presiden Amerika Serikat,
oleh negara-negara super power, Iran George W Bush, Ahmadinejad
di bawah kepemimpinan mempertanyakan mengapa

70
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Amerika menentang kepemimpinan nasional bangsa kita


kepemimpinan yang lahir dari bahwa pemimpin yang membela
proses pemilihan umum yang rakyat akan selalu dicintai rakyatnya;
demokratis, sementara pemimpin yang dilandaskan
kepemimpinan yang berasal dari keberanian untuk tidak tunduk pada
proses kudeta tidak ditentang kekuatan adidaya selalu
malah didukung. mengantarkannya pada simpati
Dengan “santun” Ahmadinejad rakyat banyak; sebuah prototype
menasehati Bush, “Menurut saya, pemimpin yang satu kata dan
Bush bisa lebih melayani rakyatnya langkah. Ahmadinejad dalam
sendiri. Ia dapat memperbaiki membangkitkan nasionalisme rakyat
kembali perekonomian Amerika Iran –dengan tidak menafikan
dengan metode yang benar kelemahan yang ada- menempatkan
tentunya. Tanpa perlu membunuh, bangsanya pada posisi tertinggi;
menjajah dan mengancam, ia perlu tidak menggadaikan martabat
pergi melihat warga Amerika bangsa di bawah kendali bangsa lain
sendiri dan mencari tahu apa yang dan yang terutama kepercayaan
mereka katakan tentangnya. Saya terhadap rakyatnya sendiri sebagai
sangat sedih ketika mendengar satu modal berharga untuk membangun
persen dari rakyat Amerika melalui negaranya, sebuah kepercayaan
hari-harinya di penjara, dua puluh untuk berdiri sendiri, berdikari dan
persen rakyat Amerika buta huruf melihat sejarah bangsanya dengan
dan sekitar empat puluh lima persen penuh kebanggaan.
warga Amerika tidak mendapatkan Akhirul kalam, masa depan negeri
pelayanan kesehatan. Yang paling ini berpulang pada keberanian
membuat saya sedih adalah dalam pemimpin kita untuk membangun
sejarah satu abadnya Amerika telah bangsa secara mandiri dan berdikari,
terjadi seratus sebelas kali mereka tidak berpangku tangan pada
melakukan peperangan. Menurut bantuan negara lain. Karena sejarah
saya, Bush bisa melihat masalah mencatat, pemimpin yang mampu
dengan kaca mata lain. Tentunya bertindak dan berkata untuk
beliau bebas untuk bersikap, namun kesejahteraan rakyatnya akan
jangan berharap masyarakat akan mendapatkan cinta dari rakyatnya.
mengikutinya dan pada waktunya Sementara pemimpin yang retak
mereka akan menjawab perilakunya antara kata dan lakunya tidak akan
selama ini.” mendatangkan simpati dari
Kemimpinan Ahamdinejad rakyatnya sendiri.
dapat dijadikan ilham bagi

71
MAARIF Vol. 3, No. 1, Pebruari 2008

Untaian kata-kata bijak tersebut ditanamkan di lingkungan lembaga pendidikan Kamehameha School,
Hawaii. Pesan moral yang terkandung di dalamnya sungguh universal dan mengajarkan manusia untuk
berjiwa besar: menyerap kebajikan dari manapun sumbernya dan berbuat mulia terhadap siapapun. doc.
Fajar

72