Anda di halaman 1dari 33

BAB II PEMBAHASAN

SEPSIS PUERPERALIS A. Definisi


Sepsis adalah adanya mikroorganisme patogen atau toxic lain didalam darah atau jaringan tubuh. Dalam hal ini sepsis adalah suatu peradangan yang terjadi sistemik atau biasa disebut Systemic Inflamation Respon Syndrom ( SIRS). Sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genitalia yang dapat terjadi setiap saat antara awitan pecah ketuban (ruptur membran) atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus. Tanda Tanda dan Gejala Sepsis Puerperalis

Nyeri pelvik Lochea yang abnormal Suhu >380C atau <36 C Denyut jantung >90 x permenit leukosit >12.000/mm2 Nyeri tekan uterus Pada laserasi/luka episiotomi terasa nyeri, bengkak, mengeluarkan cairan nanah Lochea yang berbau busuk Keterlambatan dalam kecepatan penurunan ukuran uterus (sub involusi uterus)

B.

Etiologi

Bakteri Penyebab Sepsis Puerperalis, diantaranya : 1. Streptococcus Hemoliticus Aerobicus. Streptococcus ini merupakan sebab infeksi yang berat khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen ( dari penderita lain, alat atau kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan orang lain)

2.

Stapylococcus Aureus, kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas walaupun kadang-kadang dapat menyebabkan infeksi umum. Stafilococcus banyak ditemukan di Rumah Sakit dan dalam tenggorokan orang yang terlihat sehat

3.

E.Coli, kuman ini umumnya berasal dari kandung kencing dan rektum dan dapat menyebabkan infeksi terbatas dalam perineum, uvula, dan endometrium. Kuman ini merupakan sebab penting dari infeksi traktus urinarius.

4.

Clostridium Welchii, infeksi dengan kuman ini yang bersifat anaerobik jarang ditemukan, akan tetapi sangat berbahaya, infeksi lebih sering terjadi pada abortus kriminalis.

Infeksi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gabungan antara beberapa macam bakteri. Bakteri tersebut bisa endogen atau eksogen. Bakteri Endogen Bakteri ini secara normal hidup di vagina dan rektum tanpa menimbulkan bahaya (misal, beberapa jenis stretopkokus dan stafilokokus, E. Coli, Clostridium welchii).Bahkan jika teknik steril sudah digunakan untuk persalinan, infeksi masih dapat terjadi akibat bakteri endogen. Bakteri endogen juga dapat membahayakan dan menyebabkan infeksi jika : Bakteri ini masuk ke dalam uterus melalui jari pemeriksa atau melalui instrument pemeriksaan pelvic Bakteri terdapat dalam jaringan yang memar, robek/ laserasi, atau jaringan yang mati (misalnya setelah persalinan traumatik atau setelah persalinan macet) Bakteri masuk sampai ke dalam uterus jika terjadi pecah ketuban yang lama. Bakteri eksogen Bakteri ini masuk ke dalam vagina dari luar (streptokokus, Clostridium tetani, dsb). Bakteri eksogen dapat masuk ke dalam vagina: melalui tangan yang tidak bersih dan instrumen yang tidak steril melalui substansi / benda asing yang masuk ke dalam vagina (misal, ramuan / melalui aktivitas seksual.
2

jamu, minyak, kain)

Di tempat tempat di mana penyakit menular seksual (PMS) (misal, gonorrhea dan infeksi klamidial) merupakan kejadian yang biasa, penyakit tersebut merupakan penyebab terbesar terjadinya infeksi uterus. Jika seorang ibu terkena PMS selama kehamilan dan tidak diobati, bakteri penyebab PMS itu akan tetap berada di vagina dan bisa menyebabkan infeksi uterus setelah persalinan.

C.

Faktor Predisposisi
Faktor Predisposisi yang penting pada waktu nifas adalah :

1. Keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita seperti perdarahan banyak, preeklampsia, juga adanya infeksi lain seperti pneumonia, penyakit jantung dan sebagainya. 2. Partus lama terutama ketuban pecah lama 3. Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir 4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah 5. Setelah kala III, daerah bekas insersio plasenta merupakan sebuah bekas luka dengan diameter 4cm, permukaan tidak rata, berbenjol-benjol karena banyakknya vena yang tertutup trombus. Daerah ini merupakan tempat yang baik bagi tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenis-jenis yang patogen dalam tubuh wanita. Serviks sering mengalami perlukaan dalam persalinan begitu juga pulva, vagina, dan perineum, yang semuanya merupakan tempat masuknya kuman patogen, proses radang dapat terjadi terbatas pada luka tersebut atau dapat menyebar keluar luka asalnya.

Faktor resiko pada Sepsis

puerperalis

Ada beberapa ibu yang lebih mudah terkena sepsis puerperalis, misalnya ibu yang mengalami anemia atau kekurangan gizi atau ibu yang mengalami persalinan lama. Anemia/kurang gizi Higiene yang buruk Tehnik aseptik yang buruk
3

Manipulasi yang sangat banyak pada jalan lahir Adanya jaringan mati pada jalan lahir (akibat kematian janin intra uterin, fragmen, atau membrane plasenta yang tertahan, pelepasan jaringan mati dari dinding vagina setelah persalinan macet) Insersi tangan, instrumen atau pembalut/tampon yang tidak streril persalinan macet/lama Pemeriksaan vagina yang sering Kelahiran dengan SC Laserasi vagina atau laserasi servik yang tidak diperbaiki Penyakit Menular Seksual (PMS) yang diderita Haemorargi post partum Tidak diimunisasi terhadap tetanus Diabetes Melitus Riwayat persalinan dengan kpd

Gambar 1.1 faktor resiko sepsis peurperalis

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi sepsis peurperalis mencakup factor masyarakat dan factor pelayanan kesehatan. Hal ini menyebabkan bahaibiotik yang ya kematian akibat sepsis peurperalis menjadi semakin besar. Faktor-faktor resiko di masyarakat Tidak adanya transportasi dan sarana lain Jarak rumah ibu yang jauh ke fasilitas kesehatan Status sosio ekonomi yang rendah Faktor-faktor kultural yang memperlambat pencarian perawatan kesehatan, status wanita yang rendah Kurangnya pengetahuan tentang tanda-tanda dari sepsis peurperalis

Faktor-faktor resiko pelayanan kesehatan di masyarakat Pemantauan suhu badan yang tidak adekuat pada perslainan lama dan setelah pelahiran Tidak adanya asepsis selama persalinan Penatalaksanaan yang tidak adekuat Ketidaktersediaan antibiotic yang tepat

D.

Proses Terjadinya Sepsis Puerperalis

Sepsis puerperalis dapat terjadi di masa intrapartum atau postpartum. Sebelum kelahiran, membran amniotik dan membran korionik dapat terinfeksi jika ketuban pecah (ruptur membran) terjadi berjam - jam sebelum persalinan dimulai. Bakteri kemudian mempunyai cukup waktu untuk berjalan dari vagina ke dalam uterus dan menginfeksi membran, plasenta, bayi, dan ibu. Korioamnionitis merupakan suatu masalah yang sangat serius dan dapat membahayakan hidup ibu dan bayinya. Setelah persalinan, sepsis puerperalis mungkin terlokalisasi di perineum, vagina, serviks, atau uterus. Infeksi pada uterus dapat menyebar dengan cepat sehingga menyebabkan infeksi pada tuba fallopi atau ovarium, parametritis, peritonitis, dan menyebar ke pembuluh limfe, yang kemudian akan menyebabkan septikemia jika masuk ke aliran darah.
5

Ini kemudian semakin diperumit dengan adanya syok septik dan koagulasi intravaskular diseminata (disseminated intravaskular coagulation (DIC) yang dapat menimbulkan masalah perdarahan. Ibu di masa postpartum (masa nifas) memang rentan terhadap infeksi karena adanya faktor berikut: Sisi perlekatan plasenta merupakan tempat yang besar, hangat, gelap, dan basah. Ini memungkinkan bakteri untuk tumbuh dengan sangat cepat. Tempat seperti ini merupakan suatu media yang ideal untuk pembiakan bakteri. Di laboratorium, kondisi - kondisi yang hangat, gelap, dan basah sengaja dibuat untuk membantu bakteri tumbuh dan berkembang.
1.

Sisi plasenta memiliki persediaan darah yang kaya, dengan pembuluh - pembuluh darah besar yang langsung menuju sirkulasi vena utama. Hal ini memungkinkan bakteri di sisi plasenta untuk bergerak dengan sangat cepat ke dalam aliran darah. Ini disebut septikemia. Septikemia dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat.
2.

Sisi plasenta tidak jauh dari bagian luar tubuh ibu. Hanya panjang vagina (9 - 10 cm) yang memisahkan jalan masuk ke uterus dan lingkungan luar. Ini berarti bahwa bakteri yang biasanya hidup di rektum (seperti E Coli) dapat dengan mudah pindah ke dalam vagina dan kemudian menuju uterus. Di sini bakteri menjadi berbahaya atau "patogenik" karena menyebabkan infeksi pada sisi plasenta.
3.

Selama Persalinaan, area serviks ibu, vagina, atau area perineunmya mungkin robek atau diepisiotomi. Area jaringan yang terluka ini rentan terhadap infeksi, terutama jika teknik steril pada pelahiran tidak digunakan. Infeksi biasanya terlokalisasi, tetapi pada kasus - kasus berat infeksi ini dapat menyebar ke jaringan di bawahnya.
4.

http://www.obstetriginekologi.com/2011/05/proses-terjadinya-sepsis-puerperalis.html

E.

Klasifikasi

a. Bentuk infeksi lokal 1) Infeksi pada luka episiotomy 2) Infeksi pada vagina 3) Infeksi pada serviks yang luka 4) Infeksi pada endometrium
6

b. Bentuk infeksi general (menyebar 1) Parametritis 2) Peritonitis 3) Septikekemia dan piemia 4) Tromboflebitis 5) Salpingitis

Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, cerviks dan endometrium

Vulvitis Pada infeksi bekas sayatan episiotomi atau luka perineum jaringan sekitarnya membengkak, tepi luka menjadi merah dan bengkak ; jahitan ini mudah terlepas dan luka yang terbuka menjadi ulkus dan mangeluarkan pus.

Vaginitis Infeksi vagina dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui perineum. Permukaan mukosa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus, dan getah mengandung nanah yang keluar dari daerah ulkus. Penyebaran dapat terjadi, tetapi pada umumnya infeksi tinggal terbatas.

Servisitis Infeksi sering juga terjadi, akan tetapi biasanya tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung kedasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. Endometritis a) Pengertian Endometritis adalah suatu peradangan endometrium yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada jaringan. Endometritis adalah suatu infeksi yag terjadi di endometrium, merupakan komplikasi pascapartum, biasanya terjadi 48 sampai 72 jam setelah melahirkan.

b) Etiologi Endometritis sering ditemukan pada wanita setelah seksio sesarea terutama bila sebelumnya ada riwayat koriomnionitis, partus lama, pecah ketuban yang lama. Penyebab lainnya dari endometritis adalah adanya tanda jaringan plasenta yang tertahan setelah abortus dan melahirkan. Hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi pada wanita adalah: Waktu persalinan lama, terutama disertai pecahnya ketuban. Pecahnya ketuban berlangsung lama. Adanya pemeriksaan vagina selama persalinan dan disertai pecahnya ketuban. Teknik aseptik tidak dipatuhi. Manipulasi intrauterus (pengangkatan plasenta secara manual). Trauma jaringan yang luas/luka terbuka. Kelahiran secara bedah. Retensi fragmen plasenta/membran amnion.

c) Klasifikasi Endometritis akuta Terutama terjadi pada masa post partum / post abortum. Pada endometritis post partum regenerasi endometrium selesai pada hari ke-9, sehingga endometritis post partum pada umumnya terjadi sebelum hari ke-9. Endometritis post abortum terutama terjadi pada abortus provokatus. Pada endometritis akuta, endometrium mengalami edema dan hiperemi, dan pada pemeriksaan mikroskopik terdapat hiperemi, edema dan infiltrasi leukosit berinti polimorf yang banyak, serta perdarahan-perdarahan interstisial. Sebab yang paling penting ialah infeksi gonorea dan infeksi pada abortus dan partus. Infeksi gonorea mulai sebagai servisitis akut, dan radang menjalar ke atas dan menyebabkan endometritis akut. Infeksi gonorea akan dibahas secara khusus.

Pada abortus septik dan sepsis puerperalis infeksi cepat meluas ke miometrium dan melalui pembuluh-pembuluh darah limfe dapat menjalar ke parametrium, ketuban dan ovarium, dan ke peritoneum sekitarnya. Gejala-gejala endometritis akut dalam hal ini diselubungi oleh gejalagejala penyakit dalam keseluruhannya. Penderita panas tinggi, kelihatan sakit keras, keluar leukorea yang bernanah, dan uterus serta daerah sekitarnya nyeri pada perabaan. Sebab lain endometritis akut ialah tindakan yang dilakukan dalam uterus di luar partus atau abortus, seperti kerokan, memasukan radium ke dalam uterus, memasukan IUD (intra uterine device) ke dalam uterus, dan sebagainya. Tergantung dari virulensi kuman yang dimasukkan dalam uterus, apakah endometritis akut tetap berbatas pada endometrium, atau menjalar ke jaringan di sekitarnya. Endometritis akut yang disebabkan oleh kuman-kuman yang tidak seberapa patogen pada umumnya dapat diatasi atas kekuatan jaringan sendiri, dibantu dengan pelepasan lapisan fungsional dari endometrium pada waktu haid. Dalam pengobatan endometritis akuta yang paling penting adalah berusaha mencegah, agar infeksi tidak menjalar. Gejalanya :

Demam Lochea berbau : pada endometritis post abortum kadang-kadang keluar flour yang Lochea lama berdarah malahan terjadi metrorrhagi. Kalau radang tidak menjalar ke parametrium atau parametrium tidak nyeri. Uterotonika. Istirahat, letak fowler. Antibiotika. Endometritis senilis perlu dikuret untuk menyampingkan corpus carsinoma. Dapat diberi

purulent.

Terapi :

estrogen Endometritis kronika

Endometritis kronika tidak seberapa sering terdapat, oleh karena itu infeksi yang tidak dalam masuknya pada miometrium, tidak dapat mempertahankan diri, karena pelepasan lapisan fungsional darn endometrium pada waktu haid. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit. Penemuan limfosit saja tidak besar artinya karena sel itu juga ditemukan dalam keadaan normal dalam endometrium. Gejala-gejala klinis endometritis kronika adalah leukorea dan menorargia. Pengobatan tergantung dari penyebabnya. Endometritis kronis ditemukan: 1. Pada tuberkulosis. 2. Jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus. 3. Jika terdapat korpus alineum di kavum uteri. 4. Pada polip uterus dengan infeksi. 5. Pada tumor ganas uterus. 6. Pada salpingo oofaritis dan selulitis pelvik. Endometritis tuberkulosa terdapat pada hampir setengah kasus-kasus TB genital. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan tuberkel pada tengah-tengah endometrium yang meradang menahun. Pada abortus inkomplitus dengan sisa-sisa tertinggal dalam uterus terdapat desidua dan vili korealis di tengah-tengah radang menahun endometrium. Pada partus dengan sisa plasenta masih tertinggal dalam uterus, terdapat peradangan dan organisasi dari jaringan tersebut disertai gumpalan darah, dan terbentuklah apa yang dinamakan polip plasenta. Endometritis kronika yang lain umumnya akibat ineksi terus-menerus karena adanya benda asing atau polip/tumor dengan infeksi di dalam kavum uteri. Gejalanya :
10

Flour albus yang keluar dari ostium. Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi.

Terapi : Perlu dilakukan kuretase.

d) Gambaran Klinis Gambaran klinis dari endometritis tergantung pada jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang lokhea tertahan oleh darah, sisasisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu yang segera hilang setelah rintangan dibatasi. Uterus pada endometrium agak membesar, serta nyeri pada perabaan, dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas penderita pada hari-hari pertama merasa kurang sehat dan perut nyeri, mulai hari ke 3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun, dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali, lokhea pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal yang terakhir ini tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa infeksinya berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokhea yang sedikit dan tidak berbau. Gambaran klinik dari endometritis: 1. Nyeri abdomen bagian bawah. 2. Mengeluarkan keputihan (leukorea). 3. Kadang terjadi pendarahan. 4. Dapat terjadi penyebaran. Miometritis (pada otot rahim). Parametritis (sekitar rahim). Salpingitis (saluran otot). Ooforitis (indung telur). Pembentukan penahanan sehingga terjadi abses.

Tanda dan gejala endometritis meliputi:


11

Takikardi 100-140 bpm. Suhu 38 40 derajat celcius. Menggigil. Nyeri tekan uterus yang meluas secara lateral. Peningkatan nyeri setelah melahirkan. Sub involusi. Distensi abdomen. Lokea sedikit dan tidak berbau/banyak, berbau busuk, mengandung darah Awitan 3-5 hari pasca partum, kecuali jika disertai infeksi streptococcus. Jumlah sel darah putih meningkat.

seropurulen.

e) Patofisiologi Kuman-kuman masuk endometrium, biasanya pada luka bekas insersio plasenta, dan waktu singkat mengikut sertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak seberapa patogen, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama-sama dengan bekuan darah menjadi nekrosis serta cairan. Pada batas antara daerah yang meradang dan daerah sehat terdapat lapisan terdiri atas lekosit-lekosit. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran. f) Komplikasi Wound infection Peritonitis Adnexal infection. Parametrial phlegmon Abses pelvis Septic pelvic thrombophlebitis.

g) Penatalaksanaan
-

Antibiotika ditambah drainase yang memadai merupakan pojok sasaran terapi. Evaluasi klinis daan organisme yang terlihat pada pewarnaan gram, seperti juga pengetahuan
12

bakteri yang diisolasi dari infeksi serupa sebelumnya, memberikan petunjuk untuk terapi antibiotik. Cairan intravena dan elektrolit merupakan terapi pengganti untuk dehidrasi ditambah terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang tidak mampu mentoleransi makanan lewat mulut. Secepat mungkin pasien diberikan diit per oral untuk memberikan nutrisi yang memadai. Pengganti darah dapat diindikasikan untuk anemia berat dengan post abortus atau post partum. Tirah baring dan analgesia merupakan terapi pendukung yang banyak manfaatnya. Tindakan bedah: endometritis post partum sering disertai dengan jaringan plasenta yang tertahan atau obstruksi serviks. Drainase lokia yang memadai sangat penting. Jaringan plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan kuretase perlahan-lahan dan hati-hati. Histerektomi dan salpingo oofaringektomi bilateral mungkin ditemukan bila klostridia teah meluas melampaui endometrium dan ditemukan bukti adanya sepsis sistemik klostridia (syok, hemolisis, gagal ginjal).

PERITONITIS
a) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis / kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Peritonitis merupakan sebuah proses peradangan pada membrane serosa yang melingkupi kavitas abdomen dan organ yang terletak didalamnyah. Peritonitis sering disebabkan oleh infeksi peradangan lingkungan sekitarnyah melalui perforasi usus seperti rupture appendiks atau divertikulum karena awalnya peritonitis merupakan lingkungan yang steril. Selain itu juga dapat diakibatkan oleh materi kimia yang irritan seperti asam lambung dari perforasi ulkus atau empedu dari perforasi kantung empeduatau laserasi hepar. Pada wanita sangat dimungkinkan

13

peritonitis terlokalisasi pada rongga pelvis dari infeksi tuba falopi atau rupturnya kista ovari. Kasus peritonitis akut yang tidak tertangani dapat berakibat fatal. b) Etiologi Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena ninfeksi intra abdomen,tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas, Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain 15%, dan golongan Staphylococcus 3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat peritonitis TB, peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). c) Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Peritonitis Bakterial Primer 1. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau Pneumococus. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu:
14

Spesifik : misalnya Tuberculosis Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis.

Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi, keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus sistemik, dan sirosis hepatis dengan asites. Peritonitis Bakterial Akut Sekunder (Supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Pada umumnya organism tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Bakterii anaerob, khususnya spesies Bacteroides, dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. Kuman dapat berasal dari: Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal, misalnya appendisitis. peritoneal. kimia, perforasi usus sehingga feces keluar dari usus.

Peritonitis tersier, misalnya: Peritonitis yang disebabkan oleh jamur Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. d) Tanda dan Gejala

15

Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. e) Patofisiologi

Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan
16

yang tidak ada, serta muntah.Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan kuman S. Typhi yang masuk tubuh manusia melalui mulut dari makan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi masuk keusus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertropi ditempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi, perforasi ileum pada tifus biasanya terjadi pada penderita yang demam selama kurang lebih 2 minggu yang disertai nyeri kepala, batuk dan malaise yang disusul oleh nyeri perut, nyeri tekan, defans muskuler, dan keadaan umum yang merosot karena toksemia. Perforasi tukak peptik khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas keseluruh peritonium akibat peritonitis generalisata. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami perforasi ini
17

tampak kesakitan hebat seperti ditikam di perut. Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan di daerah epigastrium karena rangsangan peritonium oleh asam lambung, empedu dan atau enzim pankreas. Kemudian menyebar keseluruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi, belum ada infeksi bakteria, kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia, adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa mengenceran zat asam garam yang merangsang, ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bakteria. Pada apendisitis biasanya biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasi folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis dan neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan,makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen dan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan oedem, diapedesis bakteri, ulserasi mukosa, dan obstruksi vena sehingga udem bertambah kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau ganggren dinding apendiks sehingga menimbulkan perforasi dan akhirnya mengakibatkan peritonitis baik lokal maupun general. Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan trauma tumpul abdomen dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ yang berongga intra peritonial. Rangsangan peritonial yang timbul sesuai dengan isi dari organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia sampai dengan kolon yang berisi feses. Rangsangan kimia onsetnya paling cepat dan feses paling lambat. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya didaerah lambung maka akan terjadi perangsangan segera sesudah trauma dan akan terjadi gejala peritonitis hebat sedangkan bila bagian bawah seperti kolon, mula-mula tidak terjadi gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak baru setelah 24 jam timbul gejala akut abdomen karena perangsangan peritoneum. f) Komplikasi Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa berkembang dengan cepat. Gerakan peristltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum. Terjadi dehidrasi berat
18

dan darah kehilangan elektrolit. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utma, seperti kegagalan paru paru, ginjal atau hati dan bekuan darah yang menyebar Pemeriksaan Penunjang 1. Test laboratorium Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik 2. X. Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan : Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Usus halus dan usus besar dilatasi. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.

g) Penatalaksanaan Prinsip umum terapi pada peritonitis adalah : a) Penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. b) Terapi antibiotika memegang peranan yang sangat penting dalam pengobatan infeksi nifas. Karena pemeriksaan-pemeriksaan ini memerlukan waktu, maka pengobatan perlu dimulai tanpa menunggu hasilnya. Dalam hal ini dapat diberikan penicillin dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas, seperti ampicillin dan lain-lain. c) Terapi analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri. Antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Intubasi usus dan pengisapan membantu dalam menghilangkan distensi abdomen dan meningkatkan fungsi usus. Cairan dalam rongga abdomen dapat menyebabkan tekanan yang membatasi ekspansi paru dan menyebabkan distress pernapasan. d) Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang intubasi jalan napas dan bantuan ventilasi diperlukan. Tindakan bedah mencakup mengangkat materi terinfeksi dan memperbaiki penyebab.
19

Tindakan pembedahan diarahkan kepada eksisi terutama bila terdapat apendisitis, reseksi dengan atau tanpa anastomosis (usus), memperbaiki pada ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis dan drainase pada abses. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Disamping pengobatan dengan antibiotika, tindakan-tindakan untuk mempertinggi daya tahan badan tetap perlu dilakukan. Perawatan baik sangat penting, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan hendaknya diberikan dengan cara yang cocok dengan keadaan penderita, dan bila perlu transfusi darah dilakukan. Pada sellulitis pelvika dan pelvioperitonitis perlu diamat-amati dengan seksama apakah terjadi abses atau tidak. Jika terjadi abses, abses harus dibuka dengan menjaga supaya nanah tidak masuk kedalam rongga peritoneum dan pembuluh darah yang agak besar tidak sampai dilukai. h) Prognosis Prognosis untuk peritonitis lokal dan ringan adalah baik, sedangkan pada peritonitis umum prognosisnya mematikan akibat organisme virulen.

THROMBOPLEBITIS
a) Deskripsi 1. 2. 3. 4. Tromboflebitis adalah peradangan dari endotelium vaskular dengan pembentukan Sebuah trombus terbentuk ketika komponen darah (trombosit dan fibrin) Pulmonary embolism terjadi ketika bekuan bepergian melalui vena loge sistem Insiden pascamelahirkan tromboflebitis adalah 0,1% sampai 1%, jika tidak
20

gumpalan pada dinding pembuluh darah. bergabung untuk membentuk tubuh agregat (gumpalan). dalam sistem peredaran darah paru, menyebabkan oklusi atau infark. diobati, 24% dari emboli paru berkembang, dengan tingkat kematian 15%.

b) Etiologi Faktor risiko predisposisi meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sejarah tromboflebitis Kegemukan Sejarah kelahiran sesar Sejarah forceps Usia ibu yang lebih tua dari 35 Multiparitas Laktasi penekanan dengan estrogen Varises Anemia dan darah diskrasia

c) Patofisiologi 1. 2. 3. Tiga penyebab utama pembentukan trombus dan peradangan stasis vena, darah Kedua stasis vena (dalam pelvis dan ekstremitas bawah) dan darah hiperkoagulasi Tingkat faktor koagulasi sebagian besar (terutama fibrinogen, dan faktor III, VII, hiperkoagulasi, dan luka pada lapisan paling dalam dari pembuluh darah. yang hadir selama kehamilan. dan X) meningkat selama kehamilan. Peningkatan ini disertai dengan penurunan plasminogen dan antitrombin III, yang menyebabkan gumpalan hancur. 4. Cedera pada lapisan terdalam dari kapal mungkin tidak kontribusi, pada umumnya, selama kehamilan. Namun, ada kemungkinan jika kelahiran adalah dengan operasi caesar. d) Penilaian Temuan 1. Umum manifestasi klinis Thrombophlebitis superfisial dalam sistem vena saphena bermanifestasi sebagai nyeri betis, nyeri, kemerahan, dan kehangatan di sepanjang vena. DVT gejala termasuk nyeri otot, kehadiran tanda manusia (yaitu, nyeri pada betis pada dorsofleksi kaki pasif, mungkin disebabkan oleh DVT). Namun, kehadiran tanda Homans
21

tidak lagi diyakini konklusif karena sakit mungkin akibat dari penyebab lain seperti otot tegang atau memar. Tromboflebitis pelvis, biasanya terjadi 2 minggu setelah melahirkan, ditandai dengan menggigil, demam, malaise, dan nyeri. Tromboflebitis femoralis, umumnya terjadi 10 sampai 14 hari setelah melahirkan, memproduksi menggigil, demam, malaise, kaku, dan nyeri. Pulmonary embolism adalah digembar-gemborkan oleh nyeri dada tiba-tiba intens dengan dispnea berat diikuti dengan takipnea, nyeri pleuritik, ketakutan, batuk, takikardia, hemoptisis, dan suhu di atas 38 C (100,4 F). 2. Laboratorium dan temuan studi diagnostik Venography akurat diagnosis DVT. Ada risiko yang terkait dengan radiopaque dye yang digunakan. Real-time dan warna USG Doppler akan mendiagnosis trombosis vena dalam. Plethysmography Impedansi mengukur perubahan volume dan aliran darah vena.

Thrombophlebitis terjadi ketika terjadi pembengkakan dalam satu atau lebih pada vena sebagai akibat dari pembekuan atau penggumpalan darah. Thrombophlebitis terutama terjadi pada vena di kaki, dan kurang umum pada vena di lengan atau leher. Kondisi ini biasanya berkembang karena imobilitas untuk jangka waktu yang relatif lama, seperti istirahat setelah operasi atau perjalanan dalam waktu yang lama di pesawat. Jika vena yang terkena tepat di bawah kulit, kasus ini disebut trombophlebitis superfisial. Sedangkan trombophlebitis yang terjadi di dalam jaringan otot disebut dengan deep vein thrombosis (DVT). DVT dapat menyebabkan komplikasi serius jika bekuan menjadi gumpalan (emboli) dan mulai beredar dalam darah, karena dapat menyebabkan penyumbatan arteri paru-paru (emboli paru). Ada beberapa jenis pengobatan untuk penyakit ini mulai dari pencegahan perawatan diri dan metode untuk pengobatan dan pembedahan.
e) Penyebab

Kerentanan terhadap trombophlebitis meningkat oleh karena kondisi, antara lain:


22

1. 2. darah. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. f) Gejala

Imobilitas untuk jangka waktu yang relatif lama, seperti ketika bepergian, istirahat Beberapa jenis kanker, seperti dalam kasus kanker pankreas yang menyebabkan

setelah serangan jantung, atau operasi. peningkatan procoagulants dalam darah, yaitu zat yang diperlukan untuk pembekuan Memiliki lengan atau kaki lumpuh akibat stroke. Memiliki alat pacu jantung atau memiliki kateter di pembuluh darah pusat yang Hamil atau baru saja melahirkan mengakibatkan peningkatan tekanan darah di Kemungkinan peningkatan pembentukan bekuan darah akibat terapi penggantian Memiliki riwayat keluarga dengan kecenderungan pembentukan bekuan darah. Kegemukan Memiliki varises Merokok

dapat menurunkan aliran darah dan mengiritasi pembuluh darah. kaki dan vena pelvis. hormon atau obat pengontrol kelahiran.

Gejala-gejala penyakit ini, antara lain: 1. Bengkak dan kemerahan 2. Nyeri saat menyentuh dan sensasi hangat di daerah yang tersentuh Ketika vena dekat permukaan kulit terpengaruh, dapat terlihat pembuluh merah, keras dan lembut tepat di bawah permukaan kulit. Ketika vena di kaki terkena, kaki dapat menjadi bengkak, lembut, dan nyeri, akan sangat terasa ketika berdiri atau berjalan. Gejala penyakit ini juga dapat disertai dengan demam. Namun, banyak orang dengan trombosis vena tidak memiliki gejala. Ketika terlihat pembuluh tampak keras, merah, bengkak atau nyeri urat, harus segera mencari perawatan medis. Terutama jika pekerjaan seseorang memungkinkan imobilitas atau jika ada riwayat keluarga trombophlebitis. Perawatan medis darurat harus diusahakan jika gejala yang parah dan disertai dengan sesak nafas atau demam tinggi, yang mungkin merupakan kondisi dari DVT, yang dapat meningkatkan risiko pembekuan darah terutama ke paru-paru.
23

g).

Pengobatan

Jika pembuluh darah yang terkena cukup dangkal, perawatan seharusnya tidak berlangsung lebih dari 2 minggu, tanpa rawat inap. Pasien disarankan melakukan beberapa langkah perawatan diri, seperti mengangkat kaki, mengompres hangat atau menggunakan obat nonsteroidal antiinflammatory drug (NSAID). Thrombophlebitis termasuk trombosis dalam vena, dan mungkin memerlukan beberapa perawatan, antara lain: 1. Obat Obat yang biasa diberikan adalah obat antikoagulan, seperti dalam kasus suntikan heparin yang mencegah penggumpalan semakin membesar. Kemudian diikuti dengan pengobatan warfarin selama beberapa bulan yang memerlukan penentuan dosis secara hati-hati, karena merupakan obat kuat dan dapat mengarah pada efek samping serius jika terjadi kesalahan dosis. 2. Pembalutan daerah yang terkena Dalam beberapa kasus, selain dukungan resep obat yang dianjurkan, dapat dilakukan pembalutan 3. Filter Dalam operasi bedah yang tidak perlu rawat inap di rumah sakit, filter dapat dimasukkan ke dalam pembuluh darah utama dari perut (vena kava) untuk mencegah bekuan yang dari venavena kaki yang menuju ke paru-paru. Prosedur ini dilakukan pada pasien yang tidak dapat mengambil antikoagulan. 4. Penghilangan varises Seorang dokter bedah dapat menghilangkan varises yang menyebabkan nyeri atau trombophlebitis kambuhan dalam prosedur yang disebut Varicose vein stripping. Prosedur ini, biasanya dilakukan secara rawat jalan, melibatkan penghilangan vena panjang melalui sayatan kecil. Biasanya, pasien akan dapat melanjutkan aktivitas normal dalam > 2 minggu. Menghilangkan vena tidak akan mempengaruhi sirkulasi darah pada kaki karena pembuluh karena mengurangi potensi risiko DVT dan mencegah kambuhnya pembengkakan.

24

darah yang lebih dalam pada kaki mampu meningkatkan volume darah. Prosedur ini juga biasa dilakukan untuk alasan kosmetik. 5. Penghilangan bekuan atau bypass: Operasi kadang diperlukan untuk menghilangkan bekuan yang memblokir vena dalam panggul atau perut. Vena terus-menerus diblokir dapat diatasi dengan operasi untuk memotong vena yang direkomendasikan dokter, atau prosedur nonbedah yang disebut angioplasti untuk membuka pembuluh darah. Setelah angioplasti, para dokter memasukkan tabung mesh kawat kecil (stent) untuk menjaga pembuluh darah tetap terbuka.

Parametritis (selulita pelvika)


Parametritis yaitu infeksi jaringan ikat pelvis dapat terjadi melalui beberapa jalan : 1. Dari servisitis atau endometriosis tersebar melalui pembuluh limfe 2. Langsung meluas dari servisitis ke dasar ligamentum sampai ke parametrium 3. Atau sekunder dari tromboplebitis Patologi Menurut Mochtar (1998) parametritis dapat terjadi dengan 3 cara yaitu: a. Melalui robekan serviks yang dalam b. Penjalaran endometritis atau luka serviks yang terinfeksi melalui saluran getahbening. c. Sebagai lanjutan tromboflebitis pelvikaJika terjadi infeksi parametrium, timbulah pembengkakan yang mula-mulalunak, tetapi kemudian menjadi keras sekali. Infiltrat ini dapat terjdi hanya padadasar ligament latum, tetapi dapat juga bersifat luas, misalnya dapat menempatiseluruh parametrium sampai dinding panggul dan dinding perut perut depan diatas ligament inguinale. Jika infiltrate menjalar ke belakang dapat menimbulkanpembengkakan di belakang serviks (Krisnadi, 2005). Eksudat ini lambat laun diresorpsi atau menjadi abmemecah di daerah lipatpaha di atas ligament inguinale atau ke dalam cavem Douglas. Parametritisbiasanya unilateral dan karena biasanya sebagai akibat luka serviks, lebih seringterdapat pada primipara daripada multipara (Krisnadi, 2005). Manifestasi Klinis
25

Parametritis harus dicurigai bila suhu pasca persalinan tetap tinggi lebih dari1 minggu. Gejala berupa nyeri pada sebelah atau kedua belah perut bagian bawahsering memancar pada kai. Setelah beberapa waktu pada pemeriksaan dalam,dapat teraba infiltrate dalam parametrium yang kadang-kadang mencapai dindingpanggul. Infiltrat ini dapat diresorpsi kembali, tetapi lambat sekali, menjadi keras,dan tidak dapat digerakkan. Kadang-kadang infiltrate ini menjadi abses (Krisnadi,2005). Salpingitis (salfingo-ooforitis) Salpingitis adalah peradangan pada adnekssa. Terdiri atas akut dan kronik. Diagnosisdan gejala klinis hampir sama dengan parametritis. Bila infeksi berlanjut dapat terjadipiosalfing (Mochtar, 1998). Sering disebabkan oleh gonore, biasanya terjadi padaminggu ke-2. Pasien demam menggigil dan nyeri pada perut bagian bawah biasanyakiri dan kanan. Salpingitis dapat sembuh dalam 2 minggu, tetapi dapat mengakibatkankemandulan (Krisnadi, 2005).

Septikemia dan piemia


Definisi: Septikhemia adalah keadaan dimana kuman-kuman dan atau toksinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum Piemia di mulai dengan tromboflebitis vena-vena daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil dibawa ke peredaran darah umum dan terjadilah infeksi dan abses pada organ-organ tubuh yang dihinggapinya (paruparu, ginjal, jantung, otak dan sebagainya).

Penyebab Disebabkan oleh kuman-kuman sangat pathogen dan biasanya Streptokokus beta hemolitik golongan A. infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari sebab kematian karena infeksi nifas. Gambaran klinis dan diagnosis a) b) Baik septikhemia maupun piemia adalah penyakit berat Gejala septikhemia lebih akut dari piemia, ibu kelihatan sakit dan lemah
26

c) d) e) f)

Suhu badan naik 39-40C, keadaan umum jelek, menggigil, nadi cepat 140-160 Tekanan darah turun bila keadaan umum memburuk Sesak nafas, kesadaran menurun, gelisah Pada piemia dimulai dengan rasa sakit pada daerah tromboflebitis tidak lama

atau lebih permenit

postpartum, setelah ada penyebaran thrombus terjadi gejala umum seperti diatas. Suhu meningkat lalu menggigil kemudian turun lagi seperti malaria g) h) i) entree). Prognosis Septikhemia dan piemia adalah infeksi berat dengan angka kematian yang tinggi, apalagi bila di ikuti oleh peritonitis umum. Kadang-kadang walaupun dengan pemberian antibiotic dan upaya yang cukup kematian ibu tidak terhindarkan. Karena itu pencegahan sedini mungkin adalah yang terbaik, jangan sampai terjadi keadaan yang buruk ini. Pemeriksaan laboratorium : lekositosis: pada kultur darah dijumpai kuman-kuman Lochia : berbau, bernanah dan involusi jelek Harus dicari sumber tempat masuknya kuman-kuman ke dalam tubuh (porte d yang patogen.

F.

Penatalaksanaan Sepsis Peurperalis


Prinsip-prinsip pengelolaan sepsis nifas adalah: kecepatan, keterampilan dan

prioritas.Penekanan terletak pada pentingnya bekerja dengan cepat dan menurut. Prioritas dalam mengelola sepsis nifas adalah: a. menilai kondisi pasien b. memulihkan pasien c. mengisolasi sesegera mungkin pasien yang diduga infeksi d. mengambil spesimen untuk menyelidiki organisme kausatif dan mengkonfirmasikan diagnosis e. memulai terapi antibiotik yang sesuai prioritas, ini berarti harus dilakukan pertama atau sebelum hal lainnya.
27

Penatalaksanaan sepsis puerperalis dalam kewenangan Bidan :


Jika diduga sepsis periksa ibu dari kepala sampai kaki, cari sumber terjadinya sepsis. Jika uterus nyeri, pengecilan uterus lambat, atau terdapat perdarahan pervaginam, rujuk ibu ke RS. Mulai memberikan infus RL Jika kondisi gawat dan terdapat tanda septic syok, dan terjadi dehidrasi beri cairan IV dan antibiotik sesuai dengan ketentuan, lalu rujuk ibu ke RS. Jika hanya sepsis ringan beri antibiotik ( co : Ampisilin 1 gr PE, diikuti 500 mg/oral setiap 6 jam,ditambah Metronidazol 500 mg setiap 8 jam selama 5hari ).

http://www.totalkesehatananda.com/sepsis5.html Manajemen Umum Sepsis Puerperalis 1. Mengisolasi pasien yang diduga terkena sepsis puerpuralis dalam pemberian pelayanan kebidanan. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran infeksi pada pasien lain dan bayinya. 2. Pemberian antibiotik Kombinasi antibiotik diberikan sampai pasien bebas demam selama 48 jam, dan kombinasi antibiotik berikut ini dapat diberikan : a. ampisilin 2 g IV setiap 6 jam, dan b. gentamisin 5 mg / kg berat badan IV setiap 24 jam, dan c. metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam. Jika demam masih ada 72 jam setelah pemberian antibiotik di atas, dokter akan mengevaluasi dan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat yang lebih tinggi mungkin diperlukan. Antibiotik oral tidak diperlukan jika telah diberikan antibiotik IV.Jika ada kemungkinan pasien terkena tetanus dan ada ketidakpastian tentang sejarah vaksinasi dirinya, perlu diberikan tetanus toksoid.

28

3. Memberikan banyak cairan Tujuannya adalah untuk memperbaiki atau mencegah dehidrasi, membantu menurunkan demam dan mengobati shock. Pada kasus yang parah, maka perlu diberikan cairan infus. Jika pasien sadar bisa diberikan cairan oral. 4. Mengesampingkan fragmen plasenta yang tertahan Fragmen plasenta yang tersisa dapat menjadi penyebab sepsis nifas. Pada rahim, jika terdapat lokhia berlebihan,berbau busuk dan mengandung gumpalan darah, eksplorasi rahim untuk mengeluarkan gumpalan dan potongan besar jaringan plasenta akan diperlukan. Tang Ovum dapat digunakan, jika diperlukan. 5. Keterampilan dalam perawatan kebidanan Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan untuk membantu penyembuhannya. Berikut aspek perawatan yang penting: - Istirahat - Standar kebersihan yang tinggi, terutama perawatan perineum dan vulva - Antipiretik dan / atau spon hangat mungkin diperlukan jika demam sangat tinggi - Monitor tanda-tanda vital, lokhia, kontraksi rahim, involusi, urin output, dan mengukur asupan dan keluaran - Membuat catatan akurat - Mencegah penyebaran infeksi dan infeksi silang. 6. Perawatan bayi baru lahir Kecuali ibu sangat sakit, bayi baru lahir bisa tinggal dengannya. Namun, tindakan pencegahan diperlukan untuk mencegah infeksi dari ibu ke bayi. Pengamatan sangat penting untuk mengenali tanda-tanda awal infeksi, karena infeksi pada neonatus dapat menjadi penyebab utama kematian neonatal. Hal yang perlu diperhatikan : - Mencuci tangan : jika ibu cukup baik kondisinya, penting untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi baru lahir

29

- Menyusui: jika ibu cukup baik, menyusui bisa diteruskan. Jika ibu sangat sakit, dikonsultasikan dengan medis praktisi yang mengkhususkan diri dalam perawatan bayi baru lahir. - Ibu sangat sakit: jika tidak mungkin bagi bayi baru lahir dirawat oleh ibu, saudara dekat mungkin tersedia bagi merawat bayi sampai ibu cukup baik. Namun, harus ditekankan bahwa karena bayi yang baru lahir juga berisiko dalam mengembangkan infeksi. 7. Manajemen lebih lanjut

Jika tidak ada perbaikan dengan manajemen umum peritonitis di atas, laparotomi akan dilakukan untuk mengalirkan nanah. Jika uterus nekrotik dan sepsis, mungkin diperlukan histerektomi subtotal.

8.

Mengelola komplikasi

Pasien yang mengalami komplikasi peritonitis, septicemia dan abses, harus dirujuk segera ke fasilitas kesehatan tingkat yang lebih tinggi untuk pengelolaan lebih lanjut setelah perawatan darurat.

G.

Pencegahan
-Selama kehamilan

Oleh karena anemia merupakan predisposisi untuk infeksi nifas, harus diusahakan untuk memperbaikinya. Keadaan gizi juga merupakan factor penting, karenanya diet yang baik harus diperhatikan. Coitus pada hamil tua sebaiknya dilarang karena dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan terjadinya infeksi. Selama persalinan

Usaha-usaha pencegahan terdiri dari membatasi sebanyak mungkin kuman-kuman dalam jalan lahir, menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut, menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin, dan mencegah terjadinya perdarahan banyak. Semua petugas dalam kamar
30

bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker, alat-alat, kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. Pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan jika perlu, terjadinya perdarahan harus dicegah sedapat mungkin dan transfusi darah harus diberikan menurut keperluan. Menyarankan semua wanita hamil untuk mencari bantuan medis segera setelah keluar lendir darah atau cairan dari jalan lahir. Jika selaput ketuban pecah dan tidak mengalami kontraksi, kurangi melakukan pemeriksaan vagina. Jika persalinan tidak dimulai dalam waktu 18 jam setelah selaput ketuban pecah, berikan antibiotik profilaksis. Selama nifas

Sesudah partus terdapat luka-luka dibeberapa tempat pada jalan lahir. Pada hari pertama postpartum harus dijaga agar luka-luka ini tidak dimasuki kuman-kuman dari luar. Tiap penderita dengan tanda-tanda infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-wanita dalam nifas sehat.

BAB III KESIMPULAN


Sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genitalia yang dapat terjadi setiap saat antara awitan pecah ketuban (ruptur membran) atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus di mana terdapat dua atau lebih dan hal hal berikut ini : Nyeri pelvic, demam

31

38,5C atau lebih yang diukur melalui oral kapan saja; vagina yang abnormal; vagina berbau busuk; keterlambatan dalam kecepatan penurunan ukuran uterus (sub involusio uteri). Salah satu penyebab utama kematian ibu adalah sepsis puerperalis, yang menyebabkan 15% dari seluruh kematian ibu yang terjadi di negara berkembang. Jika tidak menyebabkan kematian, sepsis puerperalis dapat menyebabkan masalah masalah kesehatan menahun seperti penyakit radang panggul kronis (pelvic inflammatory disease (PID) dan infertilitas. Sangat penting untuk mampu mencegah sepsis puerperalis dan melakukan tindakan yang segera jika sepsis ini terjadi. Beberapa bakteri yang paling umum yang menyebabkan sepsis puerpuralis adalah :Streptokokus, Stafilokokus, Escherichia coli (E. Coli), Clostridium tetani, Clostridium width, Chlamidia dan gonokokus (bakteri penyebab penyakit menular seksual). Infeksi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gabungan antara beberapa macam bakteri. Bakteri tersebut bisa endogen atau eksogen. Prinsip-prinsip pengelolaan sepsis nifas adalah: kecepatan, keterampilan dan prioritas.Penekanan terletak pada pentingnya bekerja dengan cepat dan menurut. Prioritas dalam mengelola sepsis nifas adalah: menilai kondisi pasien, memulihkan pasien, mengisolasi sesegera mungkin pasien yang diduga infeksi.. mengambil spesimen untuk menyelidiki organisme kausatif dan mengkonfirmasikan diagnosis, dan memulai terapi antibiotik yang sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Mochtar,R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1 Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.

32

Saifuddin, AB. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta Yayasan Bina Pustaka. Cunningham F G, MD.2005. Puerperal Infection dalam Williams Obstetrics twenty-second edition. The McGraw-Hill Companies. Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Safe Matherhood : Modul Sepsis Puerperalis Materi Pendidikan Kebidana. Jakarta: EGC.

Saleha, Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika. Buku Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta : 2010 Kasus bidan. 2011. Proses Terjadinya Sepsis Puerperalis diakses dari http://obstetriginecology.com tanggal 15 september 2012

33