Anda di halaman 1dari 13

DISKUSI KELOMPOK KE 5 BLOK 19 KEDOKTERAN KELUARGA Hari, Tanggal: Selasa, 5 Oktober 2010 Jam: 12.00 15.

.50 Tema : Cerebral Palsy Sub Pokok Bahasan : Gangguan Perkembangan Pokok Bahasan : Tumbuh-Kembang Anak Tingkat pencapaian SKDI : 3B Penanggung jawab Nara sumber : Ukas Cukasah dr, SpAK : - Ina Setiawati dr, SpA - Yoke A dr, SpA

Sasaran belajar : Setelah mengikuti diskusi kelompok ini, mahasiswa mampu: 1. Melakukan penilaian terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. 2. Mendiagnosis gangguan tumbuh kembang 3. Mencari faktor penyebab gangguan tumbuh kembang 4. Merencanakan strategi penyelesaian masalah pasien ini 5. Menyebutkan tanda-tanda yang mengharuskan merujuk pasien ini dan ke mana merujuknya (menyebutkan departement atau bagian atau dokter layanan sekunder yang dituju)? 6. Menjelaskan kepada pasien dan atau keluarganya tentang masalahnya. 7. Menjelaskan peran pasien dan keluarga dalam penyembuhan 8. Merencanakan cara pencegahan penyakit ini Pembagian Waktu: 1. Pembukaan (5 menit) 2. Pembagian sub kelompok (A, B, C), ketua dan sekretaris, pemahaman skenario (10 menit) 3. Diskusi dalam sub kelompok (45 menit) 4. Presentasi dilanjutkan dengan diskusi (3 x 20 menit) 5. Penyusunan laporan (20 menit) 6. Umpan balik dan penutup (10 menit) Skenario Seorang ibu berusia 33 tahun mempunyai anak laki-laki 15 bulan yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Sang ibu ingin mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang dirasakan tidak sama dengan anak seusianya. Usia kehamilan pasien ini selama 8 bulan 10 hari. Hari pertama haid terakhir ibu tidak ingat. Jarak usia antara penderita dengan kaka keduanya adalah 4 tahun. Gizi ibu selama kehamilan cukup. Selama hamil dan sebelum hamil, ibu tidak pernah merokok ataupun minum-minuman keras. Selama hamil ibu tidak pernah makan obat-obatan atau jamu selain vitamin dari dokter atau bidan. Riwayat penyakit berat selama ibu hamil dan sebelum hamil seperti diabetes melitus, penyakit jantung, hipertensi, tidak ada. Ibu

memeriksakan kehamilannya secara teratur tiap bulan ke dokter dan bidan hingga kelahiran bayi. Bayi laki-laki lahir dari ibu G3P2A0 secara spontan, partus lama dengan lilitan tali pusat, tidak langsung menangis. APGAR 1 menit = 1, 5 menit = 3. Mendapat bantuan nafas dan dirawat di ruang perawatan intensif selama 1 minggu dengan dibantu mesin pernafasan dan cairan infus. Selanjutnya dirawat diruang perawatan bayi sampai umur 2 minggu. Berat badan anak ketika lahir adalah 2500 gram, panjang badan 48 cm, ukuran lingkar kepala dan lingkar dada, ibu tidak dapat mengingat ukurannya. Ibu membawa anaknya kontrol ke poliklinik didekat rumahnya dan hanya diberikan vitamin. Saat berusia 6 bulan sampai sekarang anak mengalami kejang tanpa disertai demam. Kejang lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kejang kurang lebih selama lima menit. Kejang bisa kambuh dua hari berturut-turut dan bisa terjadi beberapa kali dalam 1 bulan. Sampai saat ini pertumbuhan dan perkembangannya pasien tidak pernah sesuai dengan usia seharusnya. Pasien hanya bisa tengkurap, berteriak dan menangis bila menginginkan sesuatu. Anak tinggal di rumah bersama ayah, ibu dan dua orang kakaknya. Semua yang tinggal di rumah tersebut dalam keadaan sehat, dan tidak ada yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Pemeriksaan fisik Umur : 15 bulan Berat badan : 10,2 Kg Tinggi badan : 80,5 cm Lingkar kepala: 46,8 cm Status generalis : dalam keadaan normal Status neurologis : lesi di UMN (upper motor neuron) Pemeriksaan perkembangan: Denver II : Perkembangannya, sama dengan anak 6 bulan Tugas mahasiswa: jawablah pertanyaan berikut ini! 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bagaimana cara penilaian perkembangan anak? Diagnosis gangguan perkembangan yang mungkin? Apa faktor penyebabnya? Tanda-tanda dan gejala-gejalanya? Bagaimana strategi penyelesaian masalah pasien ini? Sebutkan tanda-tanda yang mengharuskan anda merujuk pasien ini dan ke mana merujuknya (sebutkan departemen atau bagian atau dokter layanan sekunder yang anda tuju)? 7. Apakah yang anda jelaskan kepada pasien dan atau keluarganya tentang masalahnya? 8. Apakah peran pasien dan kelurga dalam penyembuhan? 9. Dapatkah penyakit ini dicegah? Caranya?

Petunjuk untuk Fasilitator DISKUSI KELOMPOK KE 5 BLOK 19 KEDOKTERAN KELUARGA Hari, Tanggal: Selasa, 5 Oktober 2010 Jam: 12.00 15.50 Tema : Cerebral Palsy Sub Pokok Bahasan : Gangguan Perkembangan Pokok Bahasan : Tumbuh-Kembang Anak Tingkat pencapaian SKDI : 3B Penanggung jawab Nara sumber : Ukas Cukasah dr, SpAK : - Ina Setiawati dr, SpA - Yoke A dr, SpA

Sasaran belajar : Setelah mengikuti diskusi kelompok ini, mahasiswa mampu: 1. Melakukan penilaian terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. 2. Mendiagnosis gangguan tumbuh kembang 3. Mencari faktor penyebab gangguan tumbuh kembang 4. Merencanakan strategi penyelesaian masalah pasien ini 5. Menyebutkan tanda-tanda yang mengharuskan merujuk pasien ini dan ke mana merujuknya (menyebutkan departement atau bagian atau dokter layanan sekunder yang dituju)? 6. Menjelaskan kepada pasien dan atau keluarganya tentang masalahnya. 7. Menjelaskan peran pasien dan kelurga dalam penyembuhan 8. Merencanakan cara pencegahan penyakit ini Pembagian Waktu: 1. Pembukaan (5 menit) 2. Pembagian sub kelompok (A, B, C), ketua dan sekretaris, pemahaman skenario (10 menit) 3. Diskusi dalam sub kelompok (45 menit) 4. Presentasi dilanjutkan dengan diskusi (3 x 20 menit) 5. Penyusunan laporan (20 menit) 6. Umpan balik dan penutup (10 menit) Skenario Seorang ibu berusia 33 tahun mempunyai anak laki-laki 15 bulan yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Sang ibu ingin mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang dirasakan tidak sama dengan anak seusianya. Usia kehamilan pasien ini selama 8 bulan 10 hari. Hari pertama haid terakhir ibu tidak ingat. Jarak usia antara penderita dengan kaka keduanya adalah 4 tahun. Gizi ibu selama kehamilan cukup. Selama hamil dan sebelum hamil, ibu tidak pernah merokok ataupun minum-minuman keras. Selama hamil ibu tidak pernah makan obat-obatan atau

jamu selain vitamin dari dokter atau bidan. Riwayat penyakit berat selama ibu hamil dan sebelum hamil seperti diabetes melitus, penyakit jantung, hipertensi, tidak ada. Ibu memeriksakan kehamilannya secara teratur tiap bulan ke dokter dan bidan hingga kelahiran bayi. Bayi laki-laki lahir dari ibu G3P2A0 secara spontan, partus lama dengan lilitan tali pusat, tidak langsung menangis. APGAR 1 menit = 1, 5 menit = 3. Mendapat bantuan nafas dan dirawat di ruang perawatan intensif selama 1 minggu dengan dibantu mesin pernafasan dan cairan infus. Selanjutnya dirawat diruang perawatan bayi sampai umur 2 minggu. Berat badan anak ketika lahir adalah 2500 gram, panjang badan 48 cm, ukuran lingkar kepala dan lingkar dada, ibu tidak dapat mengingat ukurannya. Ibu membawa anaknya kontrol ke poliklinik didekat rumahnya dan hanya diberikan vitamin. Saat berusia 6 bulan sampai sekarang anak mengalami kejang tanpa disertai demam. Kejang lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kejang kurang lebih selama lima menit. Kejang bisa kambuh dua hari berturut-turut dan bisa terjadi beberapa kali dalam 1 bulan. Sampai saat ini pertumbuhan dan perkembangannya pasien tidak pernah sesuai dengan usia seharusnya. Pasien hanya bisa tengkurap, berteriak dan menangis bila menginginkan sesuatu. Anak tinggal di rumah bersama ayah, ibu dan dua orang kakaknya. Semua yang tinggal di rumah tersebut dalam keadaan sehat, dan tidak ada yang mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Pemeriksaan fisik Umur : 15 bulan Berat badan : 10,2 Kg Tinggi badan : 80,5 cm Lingkar kepala: 46,8 cm Status generalis : dalam keadaan normal Status neurologis : lesi di UMN (upper motor neuron) Pemeriksaan perkembangan: Denver II : Perkembangannya, sama dengan anak 6 bulan Tugas mahasiswa: jawablah pertanyaan berikut ini! 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bagaimana penilaian terhadap perkembangan anak? Diagnosis gangguan perkembangan yang mungkin? Apa faktor penyebabnya? Tanda-tanda dan gejala-geja;anya? Bagaimana strategi penyelesaian masalah pasien ini? Sebutkan tanda-tanda yang mengharuskan anda merujuk pasien ini dan ke mana merujuknya (sebutkan departement atau bagian atau dokter layanan sekunder yang anda tuju)? 7. Apakah yang anda jelaskan kepada pasien dan atau keluarganya tentang masalahnya? 8. Apakah peran pasien dan kelurga dalam penyembuhan? 9. Dapatkah penyakit ini dicegah? Caranya?

JAWABAN: PERKEMBANGAN BATASAN Bertambahnya kemampuan (skill), struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks PENILAIAN Deteksi dini perkembangan anak dilakukan dengan cara pemeriksaan perkembangan secara berkala, apakah sesuai dengan umur atau telah terjadi penyimpangan dari perkembangan normal Tahap penilaian 1. Penjaringan Perkembangan (skrining) Tujuannya untuk memisahkan anak yang diduga mempunyai kelainan perkembangan Dapat dilakukan 1 atau 2 tahap : Skrining 2 tahap terdiri dari Preskrining (mempergunakan kuesioner yang diisi oleh orang tuanya) Skrining (dilakukan bila hasil preskrining meragukan/abnormal) Waktu skrining menurut beberapa ahli Drilen : 9-10 bl, 2 th, 3 th Chamberlain : 1 th dan 3 th Frankenberg : 3-6 bl, 9-12 bl, 18-24 bl dan 3, 4, 5 th 2. Diagnostik Perkembangan Merupakan tindak lanjut dari skrining Tujuannya untuk menentukan secara tepat tingkat perkembangan anak dan penyebab terjadinya gangguan tersebut Pemeriksaaan meliputi anamnesis/riwayat penyakit, pemeriksaan fisis umum, penglihatan, pendengaran, neurologik, gangguan metabolik/genetik, gangguan bicara/bahasa, serta gangguan fungsi perkembangan intelektual/kecerdasan Integrasi dari hasil penemuan tersebut kemudian ditetapkan untuk penatalaksanaan, konsultasi dan prognosisnya Beberapa tes perkembangan yang sering digunakan di Poliklinik Tumbuh Kembang adalah : 1. Diagnostik Perkembangan Fungsi Munchen Tujuan utama adalah untuk mendeteksi keterlambatan dalam perkembangan dengan cara mengukur tahap perkembangan bidang fungsi tertentu Digunakan untuk umur 0-3 th 2. Denver Developmental Screening Test II (DDST II) Deteksi dini penyimpangan perkembangan anak umur < 6 th, berisi 125 gugus tugas yang disusun dalam formulir menjadi 4 sektor untuk menjaring fungsi berikut : 1. Personal social (sosial personal)

Penyesuaian diri dengan masyarakat dan perhatian terhadap kebutuhan perorangan 2. Fine motor adaptive (motor halus adaptif) Koordinasi mata tangan, memainkan, menggunakan benda-benda kecil 3. Language (bahasa) Mendengar, mengerti dan menggunakan bahasa. 4. Gross motor (motor kasar) Duduk, jalan, melompat dan gerakan umum otot besar 3. VOYTA Untuk anak 0-12 bulan Untuk diagnostik dini gangguan motorik serebral serta diagnostik yang menyangkut perkembangan neurologik dengan cara melihat 7 reaksi sikap tubuh 4. SKALA BAYLEY Untuk anak 2-30 bulan Dibagi 3 bagian yaitu : Mental scale Motor scale Infant behavior record BEBERAPA GANGGUAN PERKEMBANGAN YANG SERING TERJADI Masalah perkembangan yang spesifik Temper tantrum Berbohong Mencuri Gangguan makanan Penolakan makan Pika, anoreksia nervosa Bulimia Gangguan tidur Gangguan tidur teror Tidur berjalan Gangguan proses eliminasi Enuresis Enkoporesis Retardasi mental Gangguan perkembangan pervasif (autisme) Gangguan perkembangan spesifik Gangguan ketrampilan akademis (berhitung, menulis, membaca, bicara) Gangguan perilaku destruktif (attention deficit hyperactivity disorders/ADHD)

CEREBRAL PALSY
Cerebral palsy adalah keadaan cacat badan yang terbanyak pada anak. Hansen (Denmark) mendapat angka 1,3 per seribu. Definisi. Kelainan dalam otak yang menetap dan non progresif yang mengakibatkan gangguan motorik dan/atau perubahan postural. Gangguan motorik ini dapat berupa perubahan tonus otot biasanya spastisitas, chorea-athetose, gangguan koordinasi. Kelainan di otak tersebut terjadi sebelum otak matur (usia < 2 tahun). Kelainan di otak tersebut dapat terjadi sewaktu prenatal, selama persalinan atau postnatal. Kemudian kelainan tersebut menetap dan non progresif. Gambaran klinis dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu. Etiologi. Menurut waktu terjadinya. Prenatal. Kelainan genetik/kromosom, beberapa penyakit diturunkan lewat gen atau anomali kromosom. Dan faktor lingkungan yaitu radiasi, penyakit-penyakit ibu. Masa perinatal (paling banyak). Berhubungan dengan kejadian pada akhir kehamilan dan persalinan: 1) Asfiksia, toksemia, perdarahan antepartum, penekanan umbilicus, plasenta terlepas dini, kesalahan pada anestesi selama persalinan, kegagalan untuk mendapatkan respirasi yang memuaskan. 2) Hyperbilirubinemia (kernicterus). 3) BBLR: Korelasi antara BBLR dan gangguan neuro-development di kemudian hari adalah tinggi. Premature sendiri tidak merupakan penyebab gangguan perkembangan, biasanya gangguan perkembangan oleh hal-hal lain. Misalnya anatomi dan fisiologi premature kurang menguntungkan sehingga mudah terjadi perdarahan otak, respiratory distress, hipoglikemi. 4) Trauma kelahiran. 5) Kelainan biokimia (hipoglikemi). Post natal: Infeksi susunan saraf pusat dan trauma kepala.

Klasifikasi CP: Klasifikasi CP yang sering digunakan berdasarkan gangguan motorik yang dominan, bagian tubuh yang terkena dan derajat keparahan penyakit sesuai klasifikasi GMFCS (Gross Motor Function Classification System). Berdasarkan gangguan motorik yang dominan: 1) Spastic CP (70-80%): tetraplegi, hemiplegi, paraplegi, monoplegi. 2) Extrapyramidal cerebral palsy (10-15%): chorea athtose, dystonia. 3) Atonic CP: atonia diplegi, congenital cerebellar ataxia. 4) Mixed type (10%). GMFCS mengukur kemampuan mobilitas terbaik antara 6 bulan 12 tahun. Dibedakan atas 5 level berdasarkan limitasi fungsional, perlu tidaknya bantuan dan kualitas gerakan. Contoh 6-12 tahun. Level I, berjalan tanpa kesulitan, keterbatasan pada kemampuan yang lebih tinggi. Level II, berjalan tanpa bantuan, keterbatasan berjalan diluar rumah. Level III, berjalan dengan alat bantu, keterbatasan berjalan diluar rumah. Level IV, bergerak dengan keterbatasan, harus dibantu untuk berpindah atau menggunakan alat bantu mekanis. Level V, kemampuan bergerak sangat terbatas, walaupun dengan menggunakan alat bantu. Kelainan yang menyertai CP (komorbiditas): 1. Kejang (paling sering). 23-35% penderita CP disertai epilepsi. Sering didapatkan pada tipe hemiplegic yaitu 40% dan lebih kurang pada tipe spastic yang lain. Diskinetik jarang disertai kejang. Biasanya didapatkan pada masa bayi, tapi lebih sering antara umur 2-4 tahun. 2. Retardasi mental (25-75%) tergantung tipe CP. Insidens tertinggi pada mixed group, lebih kurang pada spastic group, lebih rendah lagi pada tipe athetose dan paling sedikit pada ataksia. 3. Gangguan bicara: aphasia, gangguan artikulasi, apraxia dan abnormalitas dari ritme.

4. Gangguan penglihatan strabismus, refraktor eror, gangguan lapangan penglihatan

dan cortical blind dan delayed visual maturation. 5. Gangguan pendengaran 6. Gangguan perilaku dan emosi (hiperaktif, agresif). Penyulit CP Penyulit CP: Gangguan nutrisi, gangguan ortopedi, ISK dan gangguan belajar oleh karena gangguan persepsi visual dan auditori. Terdapat gangguan makan dan menelan oleh karena adanya reflex menggigit yang meningkat, tongue thrust (menjulurkan/menolak lidah), inkoordinasi mekanisme menelan, bila minum bibir tidak dapat rapat pada cangkir, gangguan pola menghisap. Adanya distonik hiperekstensi dari kepala mengakibatkan mudahnya aspirasi bila diberi makanan. Laboratorium: Pemeriksaan laboratorium rutin (urin, darah perifer) tidak membantu dalam menegakkan diagnosis CP. Permeriksaan ini hanya menggambarkan bagaimana kondisi penderita. EEG tidak dapat dipakai sebagai alat untuk membedakan antara CP dan penyakit neurologis lain. Cairan serebrospinalis normal. Hal-hal yang mempersulit pembuatan diagnosis CP: Sebelum usia 6 bulan sangat sulit membuat diagnosis CP, oleh karena kelainan di otak pada masa bayi dini belum/tidak menimbulkan manifestasi klinis yang jelas. Selama beberapa bulan pertama kehidupan, aktivitas motorik merupakan refleks yang diatur oleh bagian otak kaudal dari korteks cerebri, tidak dibawah pengaruh korteks serebri karena belum terjadi myelinisasi pada traktus pyramidalis. Proses pematangan otak menyebabkan serangkaian perubahan pada manifestasi klinik. Banyak anak dengan CP spastik atau athethoid pada masa bayi berada dalam keadaan hipotonis. Pada CP spastik menjelang akhir tahun pertama masa bayi mulai menunjukkan perubahan tonus secara bertahap dan spastisitas tampak jelas pada usia 2 tahun. Pada CP athetoid setelah umur 12 bulan akan ada perubahan secara bertahap kearah rigiditas dan chorea athetose, dan pada usia 2-3 tahun rigiditas dan chorea athetose sudah tampak jelas.

Perubahan ini dapat disalah-tafsirkan sebagai gambaran kelainan progresif dari susunan saraf pusat. Pada saat pemeriksaan bayi sering tidak dalam keadaan tenang, hal ini akan mempersulit penilaian tonus dan reflex asimetri sehingga mempersulit diagnose. Semua bayi dengan keterlambatan perkembangan harus dicurigai CP, tetapi harus diingat bahwa banyak keadaan lain yang mengakibatkan keterlambatan perkembangan dan hal ini perlu mendapat pertimbangan. Diagnosis. Didasarkan atas anamnesis yang teliti tentang riwayat atau hal-hal yang dapat mengakibatkan CP (faktor resiko), perkembangan dan pemeriksaan fisik terutama pemeriksaan neurologis. Bila bayi mempunyai risiko tinggi untuk CP, sebaiknya dilakukan follow-up dengan cara memeriksa perkembangan secara berkala sehingga dapat dilakukan deteksi dini CP dan dilakukan pengelolaan dini (sebelum umur 12 bulan, lebih baik lagi bila sebelum umur 6 bulan). Pengelolaan dini sangat penting karena pengelolaan pada umur dini memberikan hasil yang memuaskan. Pengelolaan dini memberikan kesempatan melatih pada seorang bayi saat masih plastis perkembangannya sehingga masih mudah dibentuk dan masih mudah diajar/dilatih mengikuti pola normal. Pengelolaan dini memungkinkan memberikan latihan pola pergerakan yang normal sebelum timbul pola pergerakan abnormal yang sulit diubah. Kelainan pada bayi yang mencurigakan kearah CP. Perubahan tonus hipotoni dan hipertoni. Refleks primitive ASTNR (Asymetrical Tonic Reflex) obligatoir atau menetap setelah usia 6 bulan, crossed extension reflex menetap setelah usia 4 bulan, dan refleks memegang menetap setelah usia 6 bulan. Deep tendon reflex meningkat, terutama KPR.

Diagnosis banding. Kelainan progresif SSP harus dicurigai bila ada pembesaran lingkaran kepala yang cepat, optic atrophy, kelainan sensoris (kehilangan rasa sakit, position sense, rasa raba dan sebagainya) dan hepatomegali/splenomegali. Prognosis. Anak dengan spastisitas cenderung mengalami kontraktur dan tanpa pengelolaan yang baik, kontraktur akan menghebat. Kejang yang sering dapat memperburuk keadaan dan asfiksia yang berulang-ulang dapat memperburuk IQ. Prognosis juga bergantung pada ada/tidaknya dan berat/ringannya retardasi mental. Selama IQ baik, dapat diharapkan adjustment yang baik meskipun disertai oleh gangguan motorik yang berat. Pada tipe ekstrapiramidal fungsi tangan dan kualitas gait tergantung pada beratnya kelainan. Bila IQ bagus anak dapat mengatur dirinya mendapatkan posisi dan melakukan gerakan pengganti yang menghindari gerakan involuntir. Koordinasi dan fungsi cenderung membaik dengan bertambahnya umur. Obat-obatan kurang berhasil pada tipe ekstrapiramidal karena banyaknya side efek. Reaksi anggota keluarga, adanya pendidikan dan fasilitas terapi yang baik ikut menetukan prognosis. Pengelolaan. Tujuan pengelolaan adalah mengoptimalkan mobilitas ekstremitas dan stabilitas postural dan mengusahakan supaya perkembangan seoptimal mungkin. Mencegah deformitas sendi, dislokasi dan skoliosis. Pengelolaan CP tergantung pada umur penderita, tipe CP, berat ringannya penyakit dan kelainan-kelainan yang menyertai (kejang, IQ, gangguan perilaku). Pengelolaan ditujukan pada anak dan keluarganya (medis, sosial dan pendidikan) Fisik: muscle strengthening, support and self care aids to promote better ambulation, dan eye-hand coordination; Speech skill; Pendidikan (termasuk vocational training); Social and emotional adjustment; Medicamentosa: mengatasi kejang, mengurangi hiperkinetik dan mengatasi spastisitas.

Terapi dikerjakan oleh banyak ahli (multi disipliner): fisioterapist, occupational therapist, speech therapist, psikiater, ortoped, dokter anak, ahli saraf anak, paedagog, psikolog. Fisioterapi untuk mencegah bertambahnya deformitas dan meningkatkan pergerakan dan postural yang fungsional dan berguna. Menurut Pain fisikal terapi yang dimulai sebelum usia 2 tahun dapat menghasilkan gait yang lebih baik dan kontraktur lebih sedikit. Obat-obatan sering kurang berhasil untuk mengurangi spastisitas (baclofen, diazepam dan dantrolen). Pemberian intrathekal baclofen infuse secara kontinyu dapat banyak berhasil menurunkan spastisitas ekstremitas bawah. Botox (botulinum toxin A) pada gastrosoleus dan hamstring group muscle dapat mempergaiki gait selama lebih kurang 6 bulan. Efek botox timbul setelah 12 jam 7 hari, efek berlangsung 2 10 bulan. Botox ini diberikan pada anak yang masih berkembang kontrol aparat motoriknya. Selected dorsal rhizobotomi berguna untuk menurunkan spastisitas. Memperkirakan kemungkinan anak dapat berjalan dikemudian hari. Anak kemungkinan dapat berjalan dengan baik bila: a) dapat mengontrol kepala pada usia < 9 bulan, b) dapat duduk pada usia < 24 bulan dan c) dapat merangkak pada umur < 30 bulan. Berjalan dengan dibantu bila: a) dapat mengontrol kepala pada usia 9-20 bulan, b) dapat duduk antara 24-36 bulan, dan c) dapat merangkak pada usia 30-60 bulan. Berjalan dengan buruk bila: a) dapat mengontrol kepala pada usia > 20 bulan, b) dapat duduk pada usia > 36 bulan dan c) dapat merangkak pada usia > 60 bulan. Manfaat deteksi dini Pengelolaan dapat dilakukan sejak dini (usia < 2 bulan): perkembangan lebih baik, kualitas otak lebih baik, latihan dilakukan saat komplikasi masih belum ada, dan ekonomis. Orang tua dari awal sudah dapat menerima keadaan anak, dan dari awal dapat mengusahakan hal-hal yang diperlukan bayi.

Referensi: 1) Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Ed. 18th. Vol 2. Nelson textbook of pediatrics. Saunders-elsevier: 2007. 2) Menkes JH, Sarnat HB, Maria BL. Child neurology. Ed 7th. Lippincott Williams & wilkins: Philadelphia. 2006. 3) Levine MD, Carey WB, Crocker AC. Developmental-behavioral pediatrics. Ed. 3rd. WB Saunders company: Philadelphia. 1999. 4) Ismael Sofyan. Menuju pelayanan professional yang lebih baik pada C.P. Diajukan pada Pertemuan Ilmiah C.P. Nasional ke-I. 2004.