Anda di halaman 1dari 6
BAB 4 TAWADHU, TA’AT, QANA’AH DAN SABAR

BAB 4 TAWADHU, TA’AT, QANA’AH DAN SABAR

STANDAR KOMPETENSI

KOMPETENSI DASAR

4. Membiasakan perilaku terpuji

4.1. Menjelaskan pengertian tawadhu, ta’at, qana’ah dan sabar

4.2. Menampilkan contoh-contoh perilaku tawadhu, ta’at, qana’ah dan sabar

 

4.3. Membiasakan perilaku tawadhu, ta’at, qana’ah dan sabar

PERILAKU TERPUJI

Iman seseorang dapat dibuktikan dengan beribadah kepada Allah SWT dan melakukan perbuatan- perbuatan (amal) saleh kepada sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan seseorang tidak hanya tercermin dalam ibadahnya namun juga dalam perilaku sehari-hari. Perilaku seorang mukmin dalam kehidupan sehari-hari telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. yaitu berupa akhlak- akhlak mulia (akhlaqul karirnah). Rasulullah SAW merupakan teladan bagi seluruh umatnya. Segala perilaku Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan maupun kepribadiannya merupakan contoh yang baik untuk ditiru. Di antara perilaku Rasulullah yang patut untuk ditiru adalah tawaddu', taat, qana'ah, dan sabar. Bagaimana gambaran perilaku tersebut? Marilah kita kaji melalui uraian berikut!

TAWADHU DAN PENERAPANNYA

Tawaddu' berarti rendah hati, sehingga orang yang tawadhu senantiasa menempatkan dirinya tidak lebih tinggi dari orang lain. Dengan demikian orang yang tawadhu mau menerima kebenaran, apapun bentuknya dan dari siapapun asalnya. Ketika melakukan suatu kesalahan dan diingatkan, maka orang yang tawadhu segera mengakuinya serta berterima kasih kepada orang yang mengingatkan. Mengapa demikian? Kren aorang yag tawadhu menyadari bahwa sebagai makhluk dirinya tentu masih mempunyai kekurangan, dan hanya Allah SWT yang sempurna. Itulah gambaran orang yang tawadhu? Bagaimana dengan kalian? Apakah dalam kehifupan sehari-hari sudah berlaku demikian? Lawan sifat tawadhu adalah sombong atau takabur. Orang yang takabur selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Dengan demikian orang yang sombong pasti sulit diingatkan, bahkan tidak jarang kalau diingatkan akan marah. Dia tidak menyadari bahwa setiap manusia itu pasti mempunyai kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.

Setiap muslim ditekankan agar selalu bersikap tawaddu'. Tawaddu' membuat seseorang disenangi dan disegani orang lain. Perhatikan contoh berikut! Ada seorang juara kelas yang pandai namun rendah hati. Walaupun pandai, ia tidak menyombongkan diri. Ia merasa bahwa masih banyak orang lain yang lebih pandai darinya. Kepandaiannya hanya sebagian kecil dibandingkan kepandaian Allah SWT. Ia juga dengan murah hati membagi kepandaiannya dan mau belajar kepada orang lain. lbarat ilmu padi. semakin berilmu maka is semakin merendah. Teman-teman di kelas pasti menyenanginya. Contoh lain, ada seorang konglomerat (orang kaya) yang tidak sombong dengan kekayaannya. Ia selalu mengeluarkan zakat dan sedekah kepada fakir miskin. Baginya, di dunia ini tidak ada orang yang kaya karena kekayaan hanyalah milik Allah SWT. Harta yang dimilikinya tidak lain hanyalah titipan Allah SWT yang harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Siapa yang tidak senang dengan orang yang memiliki sifat ini?

Allah SWT sangat menyukai orang yang memiliki akhlak tawaddu' dan sangat membenci orang yang sombong dan takabbur. Firman Allah SWT dalam Alquran:

Artinya: Dan harnba-harnba Tuhan Yang Ma ha Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil men yapa mereka, mereka mengticapkan kata-kata yang baik. (QS. Al Furcan: 63)

Berdasarkan firman Allah SWT tersebut jelas bahwa orang yang memiliki sifat tawaddu adalah hamba-hamba yang disayangi Allah SWT. Salah satu ciri sifat tawaddu' adalah selalu berbuat baik termasuk kepada orang-orang yang bodoh. Untuk memiliki dan mengembangkan sifat tawaddu' memang tidak mudah. Perlu pembiasaan secara bertahap. Ada beberapa langkah awal yang bisa dilakukan untuk melatih munculnya sifat tawaddu'. antara lain sebagai berikut.

1.Mengenal Allah Dengan mengenal Allah beserta sifat-sifatnya, maka akan muncul kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan kecil. Begitu kuasa, kaya, dan besamya Allah. Oleh karena itu tidaklah pantas bagi manusia untuk menyombongkan diri.

Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, clan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan Kati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl : 78)

2.Mengenal diri

Dilihat dari asal usulnya. manusia berasal dari setetes air mani yang hina. Kemudian manusia lahir ke dunia tanpa daya dan tidak mengetahui apapun. Firman Allah SWT dalam Alquran:

Oleh karena itu manusia tidak berhak sombong. Sudah seharusnyalah manusia bersikap tawaddu', sebab ia lemah dan tidak banyak mempunyai pengetahuan.

3. Mengenal kekurangan diri

Seseorang dapat terjebak pada kesombongan bila ia tidak menyadari kekurangan yang ada pada dirinya. Botch jadi seseorang mengira bahwa dirinya telah banyak melakukan kebaikan. padahal ia justru melakukan kerusakan dan aniaya. Oleh karena itu setiap muslim hams selalu melakukan introspeksi diri sebelum melakukan, saat melakukan, dan sesudah melakukan sesuatu. Hal itu dilakukan setiap muslim agar sadar akan kekurangan dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawaddu' dan tidak sombong kepada orang lain.

4. Merenungkan nikmat Allah

Pada hakikatnya, seluruh nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba--Nya adalah ujian untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Namun banyak di antara manusia yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga mereka membanggakan dan menyombongkan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Semua manusia pada hakekatnya diciptakan sama. la berasal dari bahan yang sama dan keturunan yang satu. yaitu Adam dan Hawa. Tidak ada kelebihan antara satu dengan yang lainnya dihadapan Allah SW I' kecuali derajat ketakwaannya. Memang benar di dunia ini manusia terbagi alam dua golongan sifat yang saling berlawanan: ada yang kaya ada pula yang miskin, ada yang pintar ada pula yang bodoh, ada yang normal ada pula yang cacat. ada yang tinggi ada pula yang pendek. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena memang merupakan ketentuan Allah (sunnatullah). Sikap tawadclu'-lah yang berfungsi untuk menyamakan dua golongan sifat itu pada satu derajat dan satu kedudukan, sehingga tidak ada lagi yang merasa lebih tinggi ataupun lebih rendah ketimbang lainnya

TAAT DAN PENERAPANNYA

Taat berarti tunduk dan patuh untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Sifat taat dalam menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan ini sangat diperlukan dalam kehidupan beragama, dalam keluarga, bermasayarakat, maupun bernegara. Dalam beragama seseorang diperintahkan untuk taat kepada Allah SWT dan rasul-Nya, dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang taat akan tetap melaksanakan shalat dalam keadaan sesibuk apapun, orang yang taat juga tetap menjalankan puasa walaupun merasaklan lapar dan dahaga. Orang yang taat juga senang berzakat dan berderma walaupun kalau dihitung secara matematis hartanya berkurang, namun dia meyakini bahwa pada hakikatnya harta itu tidak berkurang karena Allah SWT akan memberikan balasan yang lebih banyak.

Di dalam berkeluarga maka seluruh anggota keluarga harus taat kepada tatanan keluarga, suami bertanggung jawab menafkahi dan menyayangi anak istrinya; Istri taat kepada suami dan menjaga harta serta mendidik anak-anaknya dengan baik; anak taat dan patuh kepada kedua orang tuanya. Sikap taat dalam kehidupan berkeluarga juga dapat diwujudkan dengan menjalankan tugas di lingkungan keluarga dengan baik. Jika seluruh anggota keluarga menerapkan sikap taat, maka akan terwujud keluarga yang bahagian dan tenteram atau sakinah. Penerapan sifat taat dalam kehidupan bermasayarakat adalah dengan mematuhi peraturan dan menjaga ketertiban di lingkungan masyarakat. Jika seluruh anggota masyarakat menerapkan sifat taat maka akantercipta lingkungan yang aman, tenteram dan damai. Suasana semacam ini akan membuat seluruh anggota masyarakat merasakannya. Demikan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap warga negara harus taat kepada pemerintah dan aturan-aturan yang berlaku. Dengan demikian tujuan utama Allah SWT memerintahkan kita agar menjadi orang yang taat adalah agar tercipta keidupan di dunia yang tenteram, damai, aman, dan membahagiakan. Sebaliknya jika saja seluruh manusia tidak memiliiki sifat taat, maka akan terjadi ketidakteraturan dan kerusakan.

Firman Allah SWT dalam Alquran:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasulnmajikaat dTc 0.li( ta3]TJ tarus-21.5683 0TD 28 T

Orang yang tamak selalu mengukur kemuliaan dengan harta, dia merasa semakin banyak harta maka akan menjadi semakin mulia. Dalam agama Islam diajarkan bahwa pada hakikatnya kemuliaan itu tidak tergantung pada banyak sedikitnya harta, namun kepada kemurahan jiwa. Hadis rasulullah :

(ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ) .ﺲﹾﹺ

ﻔﻨﻟﺍ ﻰﻨﻏ ﲎﻐﹾﻟﺍ ﻦ ﻜﻟﻭ ﺽﹺ

ﺮﻌﹾﻟﺍ ﺓﺮﹾﺜﹶﻛ ﻦ ﻋ ﲎﻐﹾﻟﺍ ﺲ ﻴﹶﻟ

Artinya : “Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari-Muslim)

Orang yang qana’ah akan senantiasa merasa tenteram dan merasa berkecukupan terhadap apa yang dimilikinya selama ini. Karena meyakini bahwa pada hakikatnya kekayaan ataupun kemiskinan tidak diukur dari banyak dan sedikitnya harta. Akan tetapi, terletak kepada kelapangan hatinya untuk menerima dan mensyukuri segala karunia yang diberikan Allah SWT. Hadis Rasulullah saw.

ﺎﹰﻓﺎﹶﻔﹶﻛ ﻕﹺ ﺯﺭﻭ ﻢﹶ ﻠﺳﹶﺍ ﻦ ﻣ ﺢﹶ ﻠﹾﻓﹶﺃ ﺪﹶ ﻗ : ﻝﺎﹶﹶ ﻗ ﷲﺍِ ﻝﹶ ﻮﺳﺭ ﱠﻥﹶﺃ ﻭﹴﺮﻤﻋ ﻦﹺ ﺑ ﷲﺍِ ﺪ ﺒﻋ ﻦ ﻋ

(ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ) ﻩﺎ ﺗﹶﺍ ﺎﻤﹺﺑ

ﷲﺍُ ﻪﻌﻨﹶﻗﻭ

Artinya : “Dari Abdillah bin Amr, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Sungguh beruntung orang yang beragama Islam dan dicukupkan rizqinya, kemudian merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. Muslim)

Tidak sedikit orang yang secara materi melimpah, tetapi tetap merasa miskin, tamak, serakah, dan rakus. Sifat qana’ah merupakan mesin penggerak batin yang senantiasa mendorong manusia untuk meraih suatu kemajuan hidup yang disesuaikan dengan kemampuan diri. Begitu pula segala gerak langkah dan orientasi hidupnya selalu tergantung kepada Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda :

ﻰﹺﻧﺎﹶﻄﻋﹶﺎﹶﻓ ﻢﱠ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﹶﻠﻋ ُﷲﺍ ﻰﱠﻠﺻ ﷲﺍِ ﻝﹶ ﻮﺳﺭ ﺖﹾﻟﹶﺄﺳ ﻝﺎﹶﹶ ﻗ ﻪﻨﻋ ُﷲﺍ ﺽﹺ ﺭ ﻡﺍﹴ ﺰﺣ ﻦﹺ ﺑ ﻢﹺ ﻴﻜﺣ ﻦ ﻋ ﺲﹾﹴ ﻔﻧ ﺓﻭﺎﺨﺴﹺﺑ ﻩﹶﺬﺧﹶﺍ ﻦ ﻤﹶﻓ .ﻮﹾ ﻠﺧ ﺮﻀﺧ ﻝﺎﹶ ﻤﹾﻟﺍ ﺍﹶﺬﻫ ﱠﻥﺍ ﻢﻴﻜﺣﺎﻳ :ﻝﺎﹶﹶ ﻗ ﻢﹸﺛ ﻰﹺﻧﺎﹶﻄﻋﹶﺎﹶﻓ ﻪﺘﹾﻟﹶﺄﺳ ﻢﹸﺛ ﻔﻧ ﻑﺍ

ﺮﺷﺎﹺﺑ ﻩﹶﺬﺧﹶﺍ ﻦ ﻣﻭ ﻪﻴﻓ ﻪﹶﻟ ﻙﹺ ﺭﻮﺑ

.ﻊﺒﺴﻳﹶﻻﻭ ﹸﻞﹸﻛﹾﺄﻳ ﻱ ﺬﱠﻟﺎﹶﻛ ﻥﺎﹶﹶ

ﻛﻭ ﻪﻴﻓ ﻪﹶﻟ ﻙ ﺭﺎﺒﻳ ﻢﹶ ﻟ ﺲﹾﹴ

(ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ)

Artinya: “Dari Hakim bin Hizam RA. Ia berkata : “Saya minta kepada nabi, maka beliau memberi kepadaku. Kemudian saya meminta lagi dan diberinya lagi, kemudian beliau bersabda : “Hai Hakim! Harta ini memang indah dan manis, maka siapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati, pasti diberikan keberkatan baginya. Sebaliknya siapa yang menerima dengan kerakusan pasti tidak berkah baginya, bagaikan orang makan yang tak kunjung kenyang.” (HR. Bukhari Muslim)

Untuk menumbuhkan sifat qona’ah tentunya tidak langsung jadi dengan sendirinya. Agar bisa mempunyai sifat itu, memerlukan latihan dan pembiasaan-pembiasaan sejak dini yang pada akhirnya sifat tersebut akan mendarah daging dalam diri seseorang sebagai bagian dari hidupnya. Dengan demikian, hatinya akan senantiasa merasa tenteram dan stabil selama di dunia serta senantiasa siap menyongsong kehidupan di akhirat. Qana’ah bukan berarti menerima apa adanya disertai dengan sikap malas, tetapi harus diiringi dengan usaha keras. Jika usaha tersebut hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, maka harus diterima dengan sikap sabar. Sebaliknya jika usaha tersebut memperoleh hasil yang memuaskan, maka yang menyertai adalah sikap syukur kepada Allah SWT.

Dengan sikap qona’ah ini berarti kita menanamkan pola hidup sederhana yang sehat, karena pada dasarnya orang yang selalu mengejar-ngejar harta kekayaan hatinya tidak akan tenteram.

B. SABAR DAN PENERAPANNYA

Sabar berarti tidak mudah putus asa, tahan uji, kuat menderita, terus berusaha, dan senantiasa bersikap tenang dalam menghadapi apapun yang terjadi. Di dalam penerapannya sabar harus mencerminkan sikap optimis, kerja keras, tekun, ulet, cermat, dan tangguh. Dengan demikian keliru besar jika sabar diartikan berdiam diri dan menunggu apapun yang terjadi tanpa berbuat sesuatu. Sabar merupakan salah satu sifat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW Salah satu kinci keberhasilan Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam adalah sifat beliau yang sangat sabar dalam menghadapi bebagai macam ujian dan rintangan. Disamping dicontohkan oleh Rasulullah saw. dalam kehidupan beliau, secara langsung Allah SWT juga memerintahkan manusia untuk senantiasa berlaku sabar, perhatikan ayat-ayat berikut ini :

Di dalam ajaran Islam, penerapan sabar dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu :

Sabar dalam menjaga diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT Pada dasarnya apapun yang dilarang oleh Allah SWT adalah sesuatu yang merugiakan manusia. Namun syaitan selalu menggoda dan memutarbalikkan hati dan pikiran manusia bahwa larangan-larangan Allah SWT itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan menggiurkan. Sebagai contoh, mengkonsumsi narkoba merupakan tindakan yang membahayakan dan merugikan manusia, namun banyak orang yang melakukanya karena tergiur dengan kenikmatan yang sesaat dan lupa akan bahayanya yang akan ditanggung di kemudian hari. Orang yang menerapkan sabar dalam hal ini diwujudkan dengan cara mempunyai prinsip dan memegang teguh pendiriannya untuk tidak goyah terhadap godaan dan rayuan yang menyesatkan.

( 22 : ﺪﻋﺮﻟﺍ ) ﺭﺍﹺ ﺪﻟﺍ ﻰﺒﹾﻘﻋ ﻢ ﻬﹶﻟ ﻚ ﺌﻟﻭﹸﺃ

(22 : ﺪﻋﺮﻟﺍ ) ﺭﺍﹺ ﺪﻟﺍ ﻰﺒﹾﻘﻋ ﻢ ﻬﹶﻟ ﻚ ﺌﻟﻭﹸﺃ ﺔﹶﹶﺌّﻴﹺﺴﻟﺍ ﺔﻨﺴﺤﹾﻟﺎﹺﺑ ﻥﹶ ﻭُﺀﺭﺪﻳﻭ ﺔﹰﻴﹺﻧﹶﻼﻋﻭ

Artinya : “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),” (QS. Artinya Ra’du : 22)

Sabar di dalam menahan kesusahan hidup, musibah, cobaan, dan penderitaan. Dalam menjalani kehidupan setiap orang pasti akan mengalami masa-masa senang dan susah, lapang dan sempit, semua itu datang silih berhanti. Dalam keadaan senang kita tidak boleh lupa diri, senaliknya ketika dalam kesusahan dan penderitaan juga tidak boleh menyesali diri. Orang yang beriman diajarkan untuk sabar ketika dalam keadaan menderita, menerima cobaan dan musibah. Orang yang tetap tabah dan ikhlas ketika menerima musibah dan maka di mata Allah SWT sikap tabah ini menjadi bernilai (berpahala).

Sabar dari kesulitan dalam menjalankan perintah agama karena tekanan dari orang lain, baik teman, keluarga, lingkungan, maupun penguasa yang zalim.

Kadang-kadang kita dihadapkan pada situasi lingkungan yang menghalangi kita dalam menjalankan ibadah. Misalnya, kita berada di lingkungan teman-teman yang tidak mau melaksanakan shalat. Ketika kita hendak menjalankan shalat dikatakan sebagai anak yang sok suci. Di sinilah kesabaran kita adlam memegang prinsip diuji, kita tetap melaksanakan perinta Allah SWt atau tidak. Orang yang sabar tentu tetap pada pendiriannya, dan tidak goyah karena yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar, jadi mengapa harus takut? Firman Alllah SWT :

yang benar, jadi mengapa harus takut? Firman Alllah SWT : ( 153 : ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ ) ﻦ

(153 : ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ) ﻦ ﻳﹺﺮﹺﺑﺎﺼﻟﺍ ﻊ ﻣ ﷲﺍَ ﱠﻥﹺﺇ ﺓﹶﻼﺼﻟﺍﻭ ﺮﹺ ﺒﺼﻟﺎﹺﺑ ﺍﻮﻨﻴﻌﺘﺳﺍ ﺍﻮﻨﻣﺍ ﻦ ﻳﺬﱠﻟﺍ ﺎﻬﻳﹶﺃﺎﻳ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 153)

Sabar dalam menghadapi hambatan, ujian, dan rintangan dalam mencapai keinginan dan cita-cita. Siapapun yang akan meraih cita-cita atau harapan hidup di masa mendatang yang lebih baik, tentu tidak akan lepas dari rintangan. Jika kita mempelajari kisah orang-orang yang sukses, maka mereka telah melalui berbagai hambatan dan rintangan yang sangat banyak dan beragam. Wujud sabar dalam hal ini adalah dengan menerapkan sikap tekun, ulet, teliti, tahan banting, dan tidak mudah menyerah. Orang seperti inilah yang akan mendapatkan karunia dari Allah SWT dan tidak didapat oleh orang yang mudah putus asa dan mudah menyerah. Firman Allah SWT :

(35 : ﺖﻠﺼﻓ) ﻢﹴ ﻴﻈﻋ ﻆّ ﺣ ﻭﹸ ﺫ ﱠﻻﹺﺇ ﺎﻫﺎﱠﻘﹶﻠﻳ ﺎﻣﻭ ﺍﻭﺮﺒﺻ ﻦ ﻳﺬﱠﻟﺍ ﱠﻻﹺﺇ ﺎﻫﺎﱠﻘﹶﻠﻳ ﺎﻣﻭ

Artinya : “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang- orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fussilat : 35)