Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Airtanah merupakan komponen utama dalam siklus hidrologi yang
memiliki dua peranan penting, dimana salah satunya adalah untuk kebutuhan
manusia. Aspek fenomena bentuklahan akan mempengaruhi kualitas maupun
kuantitas dari airtanah. Formasi geologi dari setiap mineral batuan akan
membentuk unsur atau senyawa kimia yang berpengaruh terhadap airtanah.
Secara alamiah, airtanah mengandung unsur-unsur dalam jumlah tertentu yang
berasal dari proses berlangsungnya siklus hidrologi dari pembentukan uap air di
atmosfer hingga selama pengalirannya di dalam tanah (Heraclitus, cf Biswas,
1970 dalam Appelo dan Postma, 1993). Distribusi hujan wilayah merupakan
jumlah/besarnya curah hujan yang diterima di suatu daerah. Besarnya curah hujan
tergantung dari intensitas dan durasi curah hujan tersebut. Curah hujan merupakan
sumber masukan bagi airtanah pada suatu wilayah.
Airtanah sebagai salah satu sumberdaya air yang potensial banyak,
sehingga mendapat perhatian dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan air
minum. Sebagai sumberdaya air yang potensial dan banyak digunakan oleh
manusia. Sumberdaya airtanah ini merupakan sumber kehidupan dan pendukung
kehidupan manusia, sekaligus merupakan sumberdaya yang sangat menentukan
hidup bagi kehidupan manusia. Kecamatan Imogiri memiliki ketersediaan
airtanah bebas sebesar 242.025.893 m3/tahun, dengan kebutuhan air irigasi
sebesar 445.465,66 m3/tahun dan kebutuhan air domestik sebesar 6.628.451,76
m3/tahun (Yuhdiyanto, 2007).
Sepanjang arah aliran airtanah dari daerah/zona resapan hingga daerah
penurapan airtanah melalui suatu perlapisan batuan. Setiap perlapisan batuan
memiliki nilai konduktivitas dan tahanan jenis yang berbeda-beda yang
menentukan kuantitas dari potensi airtanah. Kondisi akuifer tersebut memiliki
perlapisan batuan yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi aspek geomorfologi
yang terkait erat hubungannya dengan aspek hidrologi, dimana aspek dari
geomorfologi yaitu kontrol struktur geologi dan relief yang berpengaruh terhadap

1
sirkulasi airtanah di wilayah penelitian. Daerah penelitian memiliki karakteristik
bentuklahan yang bervariasi dengan jarak yang relatif dekat antara perbukitan
struktural, dataran koluvial dan bentuklahan fluvial. Kondisi sistem akuifer daerah
penelitian diilustrasikan pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1. Berbagai Sistem Akuifer dan Airtanah di Alam (Santosa dan Adji, 2004)

Dalam perjalanan siklus tersebut air akan mengalami perubahan komposisi


unsur-unsur kimia yang akan mempengaruhi kualitasnya. Memahami proses dan
reaksi yang terjadi pada airtanah, asal dan arah aliran airtanah dalam siklus
hidrologi dapat teridentifikasi dari kondisi awal hingga akhir arah aliran airtanah
dalam suatu jaring-jaring airtanah (flownets). Kualitas airtanah dapat diprediksi
dengan memahami proses dan reaksi yang terjadi dari awal hingga akhir aliran
airtanah. Komposisi kimia airtanah dan mineral batuan sebagai keseimbangan
massa. Proses reaksi pelarutan airtanah dapat diketahui dari nilai indeks
kejenuhan (Saturation Indeks/SI).
Hal ini berkaitan dengan proses pembentukan daerah di masa lalu yang
mempengaruhi keadaan masa sekarang. Wilayah Kecamatan Imogiri tersusun dari
beberapa formasi batuan. Berdasarkan Peta Geologi lembar Yogyakarta skala
1:100.000 Tahun 1995 Kecamatan Imogiri terdiri dari Formasi Semilir, Aluvium,
Endapan Gunungapi Merapi, Sambipitu, Wonosari dan Nglanggeran. Formasi
batuan tersebut ada dalam satu wilayah administrasi Kecamatan Imogiri. Adanya
perbedaan lapisan formasi batuan menyebabkan perbedaan sifat kemampuan

2
dalam menyimpan air, bahkan pada beberapa kasus dapat mempengaruhi kualitas
airtanahnya (Todd, 1980; Suyono, 2000; Santosa, 2000).
Beberapa dekade akhir ini selama kurun waktu 20 abad terakhir, sepanjang
sejarah manusia dapat diestimasi sekitar 6 juta senyawa telah dihasilkan. Pada saat
ini, sekitar 1.000 senyawa kimia telah dapat disintesis setiap tahunnya. Bahkan
sekitar 60.000 sampai 95.000 sintesa bahan kimia yang ada telah diproduksi untuk
tujuan komersil (www. walhi. 2005). Jumlah polusi yang banyak tersebut selain
memberikan dampak bagi rusaknya ekosistem, juga berdampak terhadap
kesehatan manusia.

1.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan kondisi geomorfologi Kecamatan Imogiri cukup beragam,
yang terkait dengan ketersediaan airtanah di daerah penelitian. Wilayah penelitian
sebagian besar dataran dan sebagian lainnya merupakan daerah perbukitan
struktural. Kondisi geomorfologi yang beragam tersebut, akan berpengaruh
terhadap variasi kimia airtanah pada wilayah penelitian. Selain didasarkan kondisi
lereng antara 3-8 % s.d. > 45 %, formasi batuan penyusun juga menentukan watak
atau karakteristik bentuklahan di wilayah penelitian.
Fenomena geomorfologi ini akan sangat berpengaruh terhadap aliran
airtanah, kondisi perlapisan batuan dan kimia airtanahnya. Berdasarkan
pemahaman di atas maka perlu dikaji secara mendalam aspek-aspek geomorfologi
wilayah Kecamatan Imogiri untuk menentukan hidrogeokimia airtanah. Maka
perumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirangkum sebagai berikut:
(1) Bagaimanakah kondisi airtanah bebas pada sistem akuifer
(hidrostratigrafi) dan jaring-jaring airtanah di daerah penelitian?
(2) Bagaimanakah karakteristik tipe hidrogeokimia airtanah dan
persebarannya pada sistem akuifer bebas di daerah penelitian?
(3) Bagaimanakah arahan pemanfaatan airtanah di daerah penelitian?

Berdasarkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya informasi


kondisi akuifer, flownets dan hidrogeokimia airtanah. Maka, penulis mencoba
untuk mengkaji karakteristik hidrogeokimia airtanah di Kecamatan Imogiri

3
sehingga penelitian ini berjudul: “Studi Hidrogeokimia Airtanah pada
Berbagai Kondisi Akuifer Bebas di Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul
Provinsi D.I. Yogyakarta”

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian dengan menggunakan pendekatan bentuklahan dan
pendekatan indeks kejenuhan airtanah, yaitu :
(1) Mengetahui kondisi airtanah bebas pada sistem akuifer (hidrostratigrafi)
dan jaring-jaring airtanah di daerah penelitian.
(2) Mengetahui dan menentukan karakteristik tipe hidrogeokimia airtanah dan
persebarannya pada sistem akuifer bebas di daerah penelitian.
(3) Menentukan arahan pemanfatan airtanah untuk kebutuhan air minum di
daerah penelitian.

1.4. Kegunaan Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan geografi fisik dan lingkungan, tentang studi hidrogeokimia airtanah
dalam memecahkan masalah yang terkait dengan airtanah. Kebutuhan airtanah
dalam kegunaannya banyak digunakan untuk kebutuhan air minum. Selain itu,
hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukkan dan pertimbangan rencana
penyusunan pemanfaatan airtanah bagi instansi pemerintah setempat yang terkait
dalam upaya pengelolaan dan pengembangan sumberdaya airtanah.

1.5. Tinjauan Pustaka dan Penelitian Sebelumnya


1.5.1. Tinjauan Pustaka
Menurut Hagget (1972), Geografi merupakan pengetahuan yang
mempelajari fenomena geosfer dengan menggunakan pendekatan keruangan,
kelingkungan, dan kompleks wilayah. Berdasarkan definisi geografi tersebut ada
dua hal penting yang perlu dipahami, yaitu: (a) obyek studi geografi, dan (b)
pendekatan geografi. Pendekatan Keruangan (Spatial Approach) merupakan suatu
cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang.

4
Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial
structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess).
Pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach) lebih menekankan pada
keterkaitan antara fenomena geosfer tertentu dengan variabel lingkungan yang
ada, bukan menekankan pada eksistensi ruang. Pendekatan lingkungan, kerangka
analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makhluk hidup dengan
lingkungan alam, melainkan dikaitkan pula dengan: (a) fenomena yang ada di
dalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan manusia, dan (b)
perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai geografis serta
kesadaran akan lingkungan.
Pendekatan kompleks wilayah lebih menekankan pada tinjauan
permasalahan yang terjadi di suatu wilayah yang tidak hanya melibatkan pokok
elemen di wilayah itu dan selalu terkait dengan pokok elemen di wilayah lain.
Keterkaitan antar wilayah di suatu tempat tidak dapat dihindarkan dan dipisahkan,
karena setiap masalah tersebut tidak disebabkan oleh adanya faktor tunggal
melainkan terdapat faktor determinan yang bersifat kompleks.
Studi geomorfologi adalah salah satu bagian ilmu yang mempelajari bumi
di dalam dan permukaan, atau studi yang menitikberatkan pada bentuklahan
penyusun konfigurasi permukaan bumi. Konfigurasi permukaan bumi merupakan
cerminan dan interaksi dari proses endogen dan eksogen. Pengertian mengenai
geomorfologi lebih rinci diberikan oleh Verstappen (1977). Menurut Verstappen,
geomorfologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bentuklahan (landform)
yang berada di permukaan bumi, baik yang berada di bawah atau di atas
permukaan air laut dengan penekanan pada asal mula (genesis) dan perkembangan
di masa mendatang kaitannya dengan konteks lingkungan dan material
penyusunnya.
Faktor-faktor geomorfologi menurut Panizza (1996), yaitu aspek
morfologi merupakan studi geomorfologi mengenai bentuklahan yang
mempelajari mengenai relief secara umum, yang meliputi morfografi, yakni aspek
yang bersifat pembagian suatu daerah seperti teras sungai, tanggul alam, kipas
aluvial, plato, kerucut gunungapi, dan sebagainya. Aspek lainnya adalah

5
morfometri, yakni aspek kuantitatif dari suatu daerah, seperti kemiringan lereng,
bentuk lereng, ketinggian, beda tinggi, kekasaran medan, bentuk lembah sungai,
tingkat pengikisan, dan pola aliran. Aspek morfogenesa merupakan studi
geomorfologi tentang proses yang menyebabkan terjadinya bentuklahan dan
proses yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan bentuklahan. Aspek
morfokronologi merupakan studi mengenai evolusi pertumbuhan atau
perkembangan bentuklahan, yang di dalamnya termasuk juga menentukan dan
membagi bentuklahan dan proses yang mempengaruhinya dari segi umur relatif
dan umur mutlak. Aspek morfoaransemen merupakan studi mengenai susunan
dari pertumbuhan atau perkembangan bentuklahan yang memberikan gambaran
tidak hanya dari luarnya saja, tetapi juga memberikan gambaran tentang asal mula
terjadinya dan struktur perlapisan bawah permukaannya.
Komposisi kimia airtanah adalah hasil kombinasi dari komposisi air yang
memasuki akuifer airtanah dan reaksi dengan mineral-mineral yang terdapat
dalam batuan yang mungkin mengubah komposisi air (Appelo dan Postma, 1993).
Di dalam pendistribusiannya airtanah terpengaruh adanya suatu sistem dari siklus
hidrologi, sehingga siklus tersebut memiliki faktor-faktor terjadinya siklus,
diantaranya adalah komposisi kimia dalam siklus hidrologi yang terjadi di sistem
tersebut seperti pada Gambar 1.2.
A Sc h em a t i c O v er v i ew
o f Pr o c esses t h a t Af f ec t t h10e Wa t er Q u a l i t y
i n T h e H y d r o l o g i c a l Cyc l e

1. Evaporation
1 2. Transpiration
10
3. Selective Uptake
2
3 by Vegetation
4 5 6
7 4. Oxidation/ Reduction
5. Cation Exchange
1 9 6. Dissolution of Mineral
1
7. Precipitation
7 1
of Secondary Mineral
clay 8 11
11
8. Mixing of Water
8 9. Leaching
sh
fre of Fertilisers, Manure
t
5 sal 10. Pollution
1. Evaporation 11. Lake/Sea
11. Lake/Sea
2. Transpiration 7. Precipitation Biological Processes
of Secondary Mineral Biological Processes
3. Selective Uptake
by Vegetation 8. Mixing of Water
4. Oxidation/ Reduction 9. Leaching
5. Cation Exchange of Fertilisers, Manure
6. Dissolution of Mineral 10. Pollution

Gambar 1.2. Siklus Hidrologi : Faktor Hidrologi yang Berpengaruh terhadap Kualitas Air
(www. walhi.com, 2005)

6
Komposisi kimia air secara alami dipengaruhi oleh faktor iklim, geologi,
geomorfologi/lereng, vegetasi, waktu dan aktivitas manusia. Berbagai proses dari
setiap komposisi kimia yang terjadi akan memiliki komposisi unsur atau senyawa
kimia tertentu, seperti proses pendinginan magma dengan kontak udara yang
menghasilkan mineral pembentuk batuan yaitu mineral batuan mafik dan mineral
batuan felsik. Mineral adalah suatu zat (fasa) padat dari unsur (kimia) atau
persenyawaaan (kimia) yang dibentuk oleh proses-proses anorganik, dan
mempunyai susunan kimiawi tertentu dan penempatan atom-atom secara
beraturan di dalamnya, atau dikenal sebagai struktur kristal (Doddy, 1987)
Perjalanan airtanah dari daerah imbuhan hingga daerah penurapan didalam
prosesnya mengalami proses waktu yang lama dan mengalami kontak dengan
berbagai batuan yang mempengaruhi perubahan komposisi kimia dan kualitas
airtanah itu sendiri. Sehingga dari beberapa proses pelarutan dan atau
pengendapan mineral dapat melalui pendekatan keseimbangan kimia termasuk
didalamnya hukum aksi massa dan perhitungan Nerst. Komposisi kimia batuan
kerak bumi, komposisi air laut dan atmosfer adalah signifikan dalam
mengevaluasi sumber pelarutan dalam air tawar secara alami (Hem, 1971).
Menurut Freeze dan Cheery, 1979 dalam Koedoatie, 1996 bahwa
komposisi kimia didalam air hujan umumnya terdiri atas : SiO2, Ca, Mg, Na, K,
NH4, HCO3, SO4, Cl, NO3. Kandungan unsur utama dalam airtanah meliputi
Calcium (Ca2+), Magnesium (Mg2+), Sodium (Na+), Potasium (K+), Chlorida (Cl-),
Sulfat (SO42-), dan Bikarbonat (HCO3-) atau Karbonat (CO3-). Beberapa unsur
tersebut bersama-sama unsur minor lainnya secara alamiah dapat menyebabkan
perubahan kualitas airtanah (Fetter, 1994)
Proses reaksi kimia antara unsur-unsur yang bereaksi dengan hasil reaksi-
nya akan membentuk suatu kesetimbangan, konsentrasi unsur yang bereaksi akan
sama dengan konsentrasi unsur yang dihasilkan. Reaksi kesetimbangan massa
yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut :
aA + bB ≈ cC + dD (1)
Nilai a, b, c dan d adalah jumlah molekul dari unsur-unsur tersebut. Waktu
yang dibutuhkan untuk mencapai kesetimbangan membutuhkan tahunan bahkan

7
ribuan tahun, yang dipengaruhi adanya intervensi atau gangguan. Gangguan atau
intervensi yang terjadi dapat berupa suatu unsur reaksi lain, pengambilan unsur
yang dihasilkan, perubahan tekanan dan perubahan temperatur. Kondisi dan status
mineral selama proses reaksi kimia dalam proses mencapai kesetimbangan pada
suatu titik waktu ataupun ruang dapat diketahui dengan suatu parameter yang
dikenal dengan nama indeks kejenuhan (Koedoatie, 1996).
Airtanah selama mengalir dalam akuifer mengalami proses pelarutan,
hidrolisis, pengendapan, penyerapan, pertukaran ion, oksidasi-reduksi. Pada suatu
massa batuan yang sama, kualitas airtanah yang terdapat di dalamnya kurang lebih
mempunyai kualitas yang seragam. Kualitas airtanah pada akuifer dapat berubah
dari tipe batuan satu ke tipe yang lain, melalui stratigrafi yang berbeda dan karena
proses hidrogeokimia yang berlangsung pada waktu tertentu akibat adanya proses
tersebut akan menentukan tipe airtanah. Proses perubahan tipe airtanah tersebut
akan mencapai kesetimbangan (Koedoatie, 1996).
Menurut Santosa dan Adji (2006), tentang potensi airtanah, baik dari segi
kualitas maupun kuantitasnya, tidak pernah lepas dari karakteristik material
penyusun batuan dimana airtanah itu berada, yang selalu terkait dengan akuifer.
Pembentukan akuifer merupakan proses yang berlangsung sangat lama, seiring
dengan proses geologi yang menyusun dan membentuk morfologi suatu daerah.
Genesis dan karakteristik batuan penyusun suatu daerah merupakan hal yang
sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan akuifer dan tipe akuifer yang
terbentuk.
Kualitas air sangat penting artinya bagi kehidupan saat ini. Kualitas air
dalam hal ini mencakup keadaan fisik, kimia, dan biologi yang dapat
mempengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan manusia, pertanian, industri
rekreasi, dan pemanfaatan lainnya (Asdak, 1995). Hal itu tergantung kekuatan ion
yang ada dalam air tersebut. Semakin tinggi konsentrasi unsur kimia terlarut
dalam airtanah maka kualitas airtanah semakin rendah. Daya Hantar Listrik
(DHL) dapat menjadi indikator berapa jumlah ion terlarut dalam airtanah.
Penggunaan airtanah untuk keperluan rumah tangga terutama untuk air minum

8
harus memenuhi syarat yaitu termasuk kelas tawar. Klasifikasi jenis air menurut
jumlah garam terlarut dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Klasifikasi Jenis Air Menurut Jumlah Garam Terlarut


No Jumlah garam terlarut (mg/l) Keterangan
1 0-1.000 Tawar
2 1.000-10.000 Payau
3 10.000-100.000 Asin
4 > 100.000 Sangat asin
Sumber: Todd, 1980

Material batuan pembentuk akuifer atau formasi geologi yang dapat


berfungsi sebagai akuifer adalah endapan aluvial, batugamping, batuan vulkanik,
batu pasir, batuan beku, dan batuan malihan. Pada endapan aluvial, hampir 90%
airtanah terdapat pada material lepas, yaitu kerikil dan pasir. Batugamping
mempunyai variasi yang besar dalam densitas, kesarangan, dan kelulusan. Variasi
ini tergantung dari derajat pemampatan dan perkembangan rekahan pada saat
pembentukannya. Batuan vulkanik mempunyai sifat dapat membentuk suatu
akuifer dengan kelulusan tinggi, karena karakteristik dari batuan ini berpori-pori
dan mempunyai banyak retakan. Batu pasir dan konglomerat merupakan batuan
yang terbentuk dari kerikil dan pasir yang tersemen, bila keduanya mempunyai
banyak retakan akan diperoleh hasil air baik, sedangkan pada batuan beku dan
batuan malihan merupakan jenis batuan yang relatif kedap air dan bukanlah
akuifer yang baik (Todd, 1980).
Berdasarkan proses-proses yang terjadi pada akuifer, dapat disimpulkan
bahwa komposisi airtanah berasal dari pelarutan mineral batuan dan pelarutan
silika dan kation-kation pada tanah. Beberapa batuan menjadi sumber kandungan
klorida dan sulfat melalui proses pelarutannya, bahkan sebagai penerima ion
hidrogen. Ion hidrogen yang berperan dalam proses pelapukan batuan berasal dari
respirasi bahan organik dan oksidasi sulfida. Sebagian besar pelarutan bikarbonat
berkaitan erat dengan batuan karbonat, pada batuan non-karbonat ion hidrogen
terbentuk melalui proses pelarutan CO2 yang bereaksi dengan batuan
(Hem, 1970).

9
Geomorfologi berkaitan erat dengan hidrologi airtanah, yaitu sebagai
tempat terdapat dan berlangsungnya siklus hidrologi airtanah. Adanya rembesan
(seepage) dan mataair (spring) merupakan salah satu contoh pengaruh
geomorfologi terhadap airtanah, keberadaan mataair dikontrol oleh kondisi
topografi, kondisi geologi dan geometri akuifer. Sistem aliran airtanah
menghubungkan daerah resapan airtanah dengan daerah penurapan airtanah yang
dibatasi oleh berbagai kondisi akuifer yang tergantung dari perlapisan batuan
(stratigrafi). Aliran airtanah dalam satu sistem akan berpola tertentu dengan
volume air, bentuk material, sistem aliran, dan potensial perubahan energi. Dalam
suatu akuifer memiliki jenis material dengan karakteristik tertentu. Karakteristik
tersebut akan mempengaruhi kecepatan aliran air sehingga mempengaruhi lama
kontak air dengan material di dalamnya. Dengan demikian perubahan komposisi
kimia air dapat terjadi dalam suatu sistem aliran airtanah.
Menurut Toth (1963) dalam Kodoatie (1996), sistem aliran airtanah dibagi
menjadi tiga sistem yaitu; sistem aliran lokal, sistem aliran subregional, dan
sistem aliran regional. Sistem lokal memiliki karakteristik kedalaman dangkal,
jarak aliran pendek, arah aliran dan besarnya bervariasi, waktu tinggal di suatu
tempat pendek, temperatur dan tekanan rendah, lithologi homogen, memiliki
unsur dominan HCO3, Ca, dan Mg, Memiliki efek pembilasan penuh, TDS rendah
dan dipengaruhi musim. Aliran subregional dengan karakteristik antara sistem
lokal dan regional, memiliki unsur dominan NaSO4 dan Cl, memiliki efek
peningkatan TDS, sedikit atau tidak dipengaruhi musim, sedangkan sistem aliran
regional memiliki karakteristik kedalaman besar, jarak aliran panjang, laju aliran
tunak, waktu tinggal di suatu lama, temperatur dan tekanan tinggi, memiliki TDS
tinggi, tidak dipengaruhi oleh musim dan iklim. Sistem aliran ini dalam perubahan
aliran sulit berubah tetapi jika dalam waktu yang panjang bisa terjadi dan jika
terjadi perubahan sangat sulit untuk dibenahi. Sistem aliran airtanah digambarkan
pada model jaring-jaring airtanah yang berisikan kontur airtanah dan arah aliran
airtanah di suatu media akuifer.
Proses yang paling berpengaruh terhadap komposisi kimia airtanah adalah
proses pelarutan dan pengendapan mineral batuan. Analisis terhadap indeks

10
kejenuhan akan menjelaskan proses-proses yang terjadi di dalam kimia airtanah
terhadap reaksi airtanah dengan mineral batuan. Menurut Appelo dan Postma
(1994) dalam Jankowski (2001), indeks kejenuhan merupakan suatu indeks yang
menunjukkan kemampuan air dalam melarutkan mineral tertentu dalam batuan.
Indeks kejenuhan airtanah merupakan nilai log dari perbandingan daya larut
produk (K) dengan produk aktivitas ion (IAP) yang diperoleh dari analisis
airtanah.

1.5.2. Penelitian Sebelumnya


Widayatto (1990), melakukan penelitian pada DAS Serang tentang
pengaruh litologi terhadap kualitas air sungai. DAS Serang yang meliputi daerah-
daerah dengan litologi dan formasi batuan yang berbeda-beda, adanya perbedaan
ini tentunya akan berpengaruh terhadap kualitas air sungai yang mengalir
diatasnya. Berdasarkan analisis terhadap kualitas air mataair dan air aliran dasar
sebagai imbuhan aliran air sungai yang terdapat di daerah penelitian, diperoleh
hasil bahwa terdapat pengaruh litologi pada kualitas air sungai. Formasi Sentolo
dan sebagian daerah yang berbatuan andesit bertipe CaMg dan HCO3-, dengan
dominansi tipe CaHCO3 pada seluruh daerah. Penelitian yang dilakukan
membedakan pengaruh litologi terhadap tipe kimia air yang dihasilkan, sehingga
hanya dihasilkan pernyataan kualitas air yang sama berada pada litologi yang
sama.
Suwantinawati (1997), melakukan penelitian untuk mengetahui agihan dan
penyebab adanya airtanah asin yang terjadi di daerah antara Sungai Progo dan
Sungai Serang Kabupaten Kulonprogo, DIY. Penelitiannya dilakukan dengan
menggunakan dasar unit geomorfologi sebagai acuan pengambilan sampel dan
dianalisis dengan metode klasifikasi Revelle, sedangkan penentuan tipe kimia
airtanahnya menggunakan Diagram Piper Segiempat. Hasil penelitiannya
menunjukkan adanya sebaran airtanah asin yang terjadi dibeberapa unit
geomorfologi fluvial yang letaknya jauh dari pantai, dengan sebaran yang tidak
merata tetapi terjadi pada titik-titik tertentu. Satuan geomorfologi yang digunakan
sebagai dasar pengambilan sampel tidak dapat menunjukkan batas perubahan

11
kualitas airtanah, pada satu satuan geomorfologi terdapat variasi tipe airtanah.
Keasinan yang terjadi bukan karena intrusi air laut, tetapi disebabkan oleh adanya
connate water yang terjebak pada material batuan saat pembentukan daratan
dimasa lampau.
Suyono (2000), menyebutkan bahwa di DIY terdapat 8 satuan airtanah
utama, yaitu: satuan airtanah Gunungapi Merapi; satuan airtanah Ledok
Wonosari; satuan airtanah Pegunungan Kulonprogo; satuan airtanah Perbukitan
Baturagung; satuan airtanah Akuifer Gumuk Pasir; satuan airtanah Akuifer daerah
Karst; satuan airtanah dataran Alluvial; dan satuan airtanah Perbukitan Sentolo.
Daerah penelitian termasuk ke dalam satuan airtanah Perbukitan Baturagung,
yang meliputi sebagian besar Kecamatan Imogiri. Setiap satuan airtanah memiliki
karakteristik yang berbeda, baik dari material penyusun (stratigrafi), proses
geologis dan geomorfologis yang mempengaruhi agihan airtanah dan ketersediaan
akuifer sebagai wadah airtanah tersebut.
Wibowo (2005), melakukan tentang hidrogeokimia airtanah bebas di
berbagai satuan bentuklahan di sebagian DAS Bogowonto wilayah Kecamatan
Kokap-Temon, Kabupaten Kulon Progo. Penelitiannya dilakukan dengan
menggunakan dasar satuan bentuklahan lalu membuat peta jaring-jaring airtanah
sebagai acuan pengambilan sampel airtanah dan mineral, setelah itu data dianalisis
dengan analisis tipe kimia airtanah menggunakan diagram piper segiempat,
analisis grafik, analisis mineral, dan analisis indeks kejenuhan. Hasil penelitian
hidrogeokimia ini menunjukkan bahwa sistem aliran airtanah di daerah penelitin
terbagi tiga sistem aliran airtanah lokal yaitu sistem aliran airtanah perbukitan
denudasional, sistem aliran airtanah dataran aluvial, dan sistem aliran airtanah
beting gisik.
Penelitian tersebut menghasilkan pula hidrokimia yang didominasi oleh
unsur-unsur HCO3-, Ca2+, dan Mg2+. Unsur-unsur Cl- dan SO42- yang dominan di
beberapa titik sampel bukan merupakan unsur kimia air yang berasal dari air laut
terjebak tetapi unsur yang bersumber dari pelapukan kelompok mineral
feldspathoids. Perubahan hidrogeokimia dipengaruhi oleh mineral dominan
penyusun akuifer. Komposisi mineral yang berpengaruh terhadap komposisi kima

12
airtanah dihasilkan dari pelapukan batuan penyusun akuifer, terutama oleh
kelompok mineral feldspathoids.
Berdasarkan hasil beberapa penelitian yang telah dilakukan di lokasi
penelitian yang akan diteliti, daerah penelitian mempunyai karakteristik yang
kompleks sehingga akan menghasilkan potensi airtanah yang bervariasi. Kualitas
airtanah selain dipengaruhi litologi turut juga dipengaruhi oleh proses yang
terjadi, sehingga batas litologi tidak dapat dijadikan tolok ukur pembatas kualitas
airtanah. Oleh karena itu letak perbedaan penelitian ini adalah pada tujuan antara
karakteristik mineral batuan dengan komposisi kimia airtanah pada daerah
penelitian yang menggunakan parameter tingkat kejenuhan reaksi berdsarakan
arah aliran airtanah dengan menggunakan analisis hidrogeokimia akuifer, analisis
kesetimbangan massa dan analisis resistivitas batuan penyusun akuifer.
Yuhdiyanto (2007), melakukan penelitian mengenai ketersediaan
airtanah bebas untuk kebutuhan domestik dan irigasi di dataran kaki volkan
merapi muda dan lereng kaki Perbukitan Baturagung Kecamatan Imogiri,
Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan dari penelitian tersebut
yaitu mengetahui karakteristik akuifer, menghitung ketersediaan airtanah bebas,
dan menganalisis kebutuhan airtanah bebas untuk kebutuhan domestik dan irigasi.
Hasil dari penelitian tersebut adalah untuk kebutuhan kegiatan irigasi
sebesar 445.465,66 m3/tahun, sedangkan untuk kebutuhan domestik 6.628.451,76
m3/tahun, sedangkan ketersediaan airtanah pada daerah peneltian adalah
242.025.893 m3/tahun. Oleh karena itu, daerah penelitian aman dalam
menggunakan ketersediaan airtanah dalam penggunaan airtanah untuk kebutuhan
domestik dan kegiatan irigasi.
Utami (2007), melakukan penelitian tentang variasi nilai indeks kejenuhan
airtanah terhadap mineral kalsit pada berbagai komponen aliran Gua Surupan,
Desa Argopeni, Kecamatan Ayah, Kebumen, Jawa Tengah. Penelitian tersebut
bertujuan mengetahui sebaran spasial dari indeks kejenuhan airtanah karst pada
berbagai komponen aliran di sepanjang Gua Surupan serta memberikan
gambaran mengenai agresivitas dan proses-proses hidrogeokimia terhadap
mineral kalsit di daerah penelitian. Sampel air yang dianalisis di laboratorium

13
meliputi kation (Ca2+, Mg2+, Na+, K+) dan anion (Cl-, SO42-, HCO3-). Selanjutnya,
setelah komposisi kimia airtanah ditentukan, dilakukan analisis indeks kejenuhan
(saturation indices = SI) airtanah terhadap mineral kalsit menggunakan bantuan
perangkat lunak NETPATH (Plummer 2.1.3, 1991) untuk mengenali derajat
proses-proses hidrogeokimia terhadap mineral kalsit.
Hasil analisa dari penelitian ini menunjukkan indeks kejenuhan
terhadap mineral kalsit menunjukkan bahwa variasi indeks kejenuhan pada
berbagai komponen aliran secara spasial tidak menunjukkan pola tertentu.
Namun secara temporal terdapat pola kecenderungan meningkatnya indeks
kejenuhan airtanah dari bulan Juni, Agustus dan November. Dari nilai indeks
kejenuhan juga dapat diketahui bahwa sebagian besar airtanah yang berada di
daerah penelitian telah jenuh terhadap mineral kalsit dan mengalami
pengendapan atau pengkristalan mineral kalsit. Faktor yang dapat berpengaruh
terhadap nilai indeks kejenuhan airtanah yaitu resistensi batuan, kandungan
CO2, pH, suhu, EC dan resident time (waktu tinggal). Secara ringkas penelitian
sebelumnya disajikan pada Tabel 1.2.

14
Tabel 1.2. Telaah Pustaka Penelitian Sebelumnya
Peneliti Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian
Widayatto, 1990 Pengaruh Litologi terhadap - Mengetahui pengaruh litologi - Analisa laboratorium kualitas - Terdapatnya pengaruh
Kualitas Air Sungai di DAS Serang terhadap kualitas air sungai dan airtanah litologi pada kualitas air.
Kabupaten Kulonprogo fomasi batuan yang berbeda- - Metode Diagram Piper - Formasi Sentolo dan
beda. segiempat dalam penentuan sebagian daerah berbatuan
- Mengetahui perbedaan kualitas tipe kimia air andesit bertipe CaMg dan
air sungai padaformasi batuan HCO3 dengan dominasi tipe
yang berbeda-beda. kimia air CaHCO3 pada
- Mengetahui kualitas mataair dan seluruh daerah.
air aliran dasar sebagai imbuhan - Kualitas air yang sama
air sungai di daerah penelitian berada pada litologi yang
sama pula
Suwantinawati, 1997 Agihan Airtanah Asin dan - Mengetahui agihan dan penyebab - Analisis kualitas air dengan - Adanya sebaran airtanah asin
Penyebab Keasinan Airtanah di airtanah asin yang terjadi di Metode Revelle yang terjadi pada beberapa
Daerah antara Sungai Progo dan daerah antara antara Sungai - Analisis tipe kimia air dengan unit geomofologi fluvial.
Sungai Serang Progo dan Sungai Serang Metode Diagram Piper - Terdapat variasi tipe airtanah
Kabupaten Kulonprogo Segiempat pada satuan geomorfologi
- Keasinan airtanah bukan
terjadi karena intrusi air laut,
akan tetapi karena adanya
connate water.
Suyono, 2000 Kajian Geografis Airtanah di D. I. - Mengetahui agihan airtanah di - Metode pemetaan satuan - Terdapat 8 satuan airtanah
Yogyakarta Provinsi D. I. Yogyakarta geomorfologi dalam utama, yaitu : satuan airtanah
- Mengetahui ketersediaan pembagian tipe satuan airtanah Gunung Api Merapi, satuan
airtanah akuifer sebagai wadah daerah penelitian. airtanah Ledok Wonosari,
airtanah tersebut. - Analisis kunatitatif dalam satuan airtanah Pegunungan
perhitungan ketersediaan Kulonprogo, satuan airtanah
airtanah di daerah penelitian Perbukitan Baturagung,
dengan “spesific yield” satuan airtanah akuifer
Gumuk Pasir, satuan airtanah
satuan airtanah akuifer
Daerah karst, satuan airtanah
dataran alluvial dan satuan
airtanah Perbukkitan
Sentolo.

15
Lanjutan Tabel 1.2.
Peneliti Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian
Wibowo, 2005 Hidrogeokimia Airtanah Bebas di - Mengetahui sistem aliran - Metode analisis yang - Terbagi 3 sistem aliran
Berbagai Satuan Bentuklahan airtanah. digunakan adalah analisis tipe airtanah, yaitu : sistem
Sebelah Timur Sungai Bogowonto - Menentukan karakteristik kimia dengan diagram piper airtanah lokal perbukitan
Kecamatan Temon Kabupaten hidrogeokimia airtanah bebas, segi empat, analisis grafik, denudasional, sistem
Kulonprogo. baik dari komposisi, proses analisis mineral, analisis indeks airtanah dataran alluvial,
sumber unsur penyusun dan kejenuhan dan sistem airtanah
sebarannya. - Metode pengambilan sampel betinggisik.
- Mengetahui karakteristik dengan dasar satuan - Dominasi unsur HCO3-,
hidrogeokimia dalam setiap bentuklahan dan flownets Ca2+, dan Mg2+.
satuan bentuklahan. dengan model 2 dimensi “three - Unsur Cl-dan SO42- dari
point problem”. pelapukan feldspathoids.
- Analisa laboratorium sampel
mineral batuan.
- Metode indeks kejenuhan
airtanah dengan klasifikasi,
yaitu : SI = 1 terjadi
kesetimbangan/ stabil, SI < 1
terjadi pelarutan dan SI > 1
terjadi pengendapan.
Yuhdiyanto, 2007 Ketersediaan Airtanah Bebas untuk - Menghitung ketersediaan airtanah - Metode Schlumberger analisa - Ketersediaan airtanah
Kebutuhan Domestik dan Irigasi di dan hasil aman penurapan model hidrostratigrafi resistivity 242.025893 m3/ tahun.
Dataran Kaki Volkan Merapi Muda airtanah. penyusun batuan akuifer. Kebutuhan irigasi sebesar
dan Lereng Kaki Perbukitan - Menganalisis kebutuhan airtanah - Metode anlisis kuantitatif 445.465,66 m3/ tahun,
Baturagung Kecamatan Imogiri, untuk kebutuhan domestik dan “spesific yield” sedangkan kebutuhan
Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa irigasi - Metode model 2 dimensi “three domestik sebesar
Yogyakarta - Menganalisis karakteristik akuifer. point problem” dalam 6.628451,76 m3/ tahun
pembuatan flownets.

16
Lanjutan Tabel 1.2.
Peneliti Judul Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian
Utami, 2007 Variasi Nilai Indeks Kejenuhan - Mengetahui sebaran spasial dari - Metode indeks kejenuhan - Indeks kejenuhan terhadap
Airtanah terhadap Mineral Kalsit indeks kejenuhan airtanah karst airtanah dengan klasifikasi, mineral kalsit menunjukkan
Pada Berbagai Komponen Aliran pada berbagai komponen aliran yaitu : SI = 1 terjadi pola tidak tertentu pada
Gua Surupan, Desa Argopeni, di sepanjang Goa Surupan. kesetimbangan/ stabil, SI < 1 komponen aliran secara
Kecamatan Ayah, Kebumen, Jawa - Memberikan gambaran terjadi pelarutan dan SI > 1 spasial, namun secara
Tengah hubungan mengenai terjadi pengendapan. temporal dari bulan Juni,
- agresivitas dan proses-proses Agustus, dan November
hidrogeokimia terhadap mineral - menunjukkan pola
kalsit kecenderungan.
- Kondisi airtanah telah jenuh
terhadap mineral kalsit dan
mengalami pengendapan atau
pengkristalan mineral kalsit,
dengan faktor yang
berpengaruh, yaitu resistensi
batuan, kandungan CO2, pH,
suhu, EC, dan resident time
(waktu tinggal).
Riesdiyanto, 2008 Studi Hidrogeokimia Airtanah - Mengetahui kondisi airtanah bebas - Model hidrostratirafi akuifer Hasil yang diharapkan :
Bebas pada Berbagai Bentuklahan pada sistem akuifer dan metode 2 dimensi “three - Model hidrostratirafi akuifer
di Kecamatan Imogiri Kabupaten (hidrostratigrafi) dan jaring-jaring point problem” untuk dan sistem arah aliran
Bantul Provinsi D. I. Yogyakarta airtanah di daerah penelitian. pembuatan jaring-jaring airtanah dari berbagai kondisi
- Mengetahui dan menentukan airtanah. akuifer bebas di daerah
karakteristik tipe hidrogeokimia - Metode Diagram piper penelitian.
airtanah dan persebarannya pada segiempat untuk menentukan - Variasi indeks kejenuhan
sistem akuifer bebas di daerah tipe kimia airtanah. airtanah bebas dan
penelitian. - Metode indeks kejenuhan persebarannya dari berbagai
- Menentukan arahan pemanfatan airtanah dengan klasifikasi, kondisi akuifer bebas di
airtanah untuk kebutuhan air yaitu : SI = 1 terjadi daerah penelitian.
minum di daerah penelitian. kesetimbangan/ stabil, SI < 1 - Mengetahui dominasi tipe
terjadi pelarutan dan SI > 1 kimia airtanah di daerah
terjadi pengendapan. penelitian
- Baku mutu air PerMenKes PP
No. 82 Tahun 2001.

17
1.6. Kerangka Pemikiran
Tenaga geotektonik merupakan tenaga endogen di dalam bumi yang
mengakibatkan pengangkatan, pembumbungan, dan pelipatan. Tenaga tersebut
bekerja pada setiap satuan konfigurasi permukaan bumi yang mempengaruhi
material penyusun di dalam satuan bentuklahan. Proses-proses geomorfologi
pembentuk satuan bentuklahan, akan berpengaruh terhadap material penyusun,
dimana keterdapatan airtanah dalam wadahnya (akuifer) di suatu bentuklahan
terkait dengan material penyusun batuan di suatu wilayah pembentukannya akibat
dari proses yang bekerja pada masa lampau hingga sekarang dan akan datang.
Selain faktor material penyusun, besarnya curah hujan yang diterima di suatu
wilayah akan menentukan ketersediaan airtanah di dalam satuan bentuklahan.
Sumber utama airtanah adalah air hujan yang jatuh di permukaan bumi.
Selama proses pengalirannya menjadi airtanah, tidak keseluruhannya menjadi
airtanah, akan tetapi juga menjadi air permukaan (sungai, danau, dan komponen
air permukaan). Proses masuknya airtanah kedalam zone tanah terjadi secara
infiltrasi dan perkolasi di bawah zone perakaran. Infiltrasi merupakan masuknya
air hujan secara vertikal ke dalam tanah, sedangkan perkolasi merupakan
masuknya airtanah secara vertikal ke dalam batuan melalui pori-pori batuan. Oleh
karena itu, masukan air hujan bagi airtanah di setiap daerah sangat bervariasi.
Besarnya curah hujan yang diterima di setiap wilayah berbeda-beda tergantung
kepada topografi permukaan di suatu tempat.
Kondisi airtanah tidak terlepas dari aspek bentuklahan dari kondisi
geomorfologi lingkungan di suatu wilayah. Faktor geomorfologi tersebut
dipengaruhi oleh faktor proses geomorfologi yang berasal dari tenaga endogen
atau eksogen yang mempengaruhi dan membentuk suatu bentuklahan di
permukaan bumi (morfogenesa), faktor bentuk (relief/topografi) dari konfigurasi
permukaan bumi (morfografi) dan besarnya volume kuantitas bentuklahan
(morfometri); seperti bentuk lereng, ketinggian, beda tinggi, pola aliran. Faktor
evolusi dari pertumbuhan dan perkembangan bentuklahan yang menentukan dan
membagi bentuklahan dari segi umur relatif dan umur mutlak (morfokronologi).
Faktor susunan dari pertumbuhan atau perkembangan bentuklahan yang

18
memberikan gambaran tidak hanya dari luarnya saja, tetapi juga memberikan
gambaran tentang asal mula terjadinya dan struktur perlapisan bawah
permukaannya (morfoaransemen).
Kualitas airtanah memiliki komposisi kimia tertentu dari berbagai mineral
batuan penyusun di suatu media akuifer, dimana faktor geomorfologi yang terjadi
berpengaruh pada kondisi akuifer yang terbentuk pada wilayah penelitian.
Kualitas airtanah merupakan representasi dari komposisi unsur-unsur kimia yang
menyusunnya, komposisi kimia airtanah berasal dari hasil proses reaksi kimia air
dengan lingkungan yang dilalui selama poses pengalirannya. Kualitas airtanah
dapat pula dicirikan dari daya hantar listrik, yang befungsi sebagai penentu
potensi kualitas airtanah untuk peruntukan air minum. Akumulasi ion-ion terlarut
semakin tinggi maka semakin rendah kualitas airtanah tersebut.
Sistem aliran airtanah dari daerah tangkapan menuju daerah resapan
selama proses pengalirannya melalui berbagai kondisi akuifer. Proses pengaliran
tersebut menyebabkan perbedaan komposisi unsur-unsur yang terkandung di
dalam airtanah. Secara kualitas, airtanah akan mengalami proses reaksi kimia
yang mengalir di dalam suatu akuifer. Perbedaan proses dan reaksi kimia
menghasilkan perbedaan komposisi kimia air dengan kondisi akuifer melalui
sistem aliran airtanah.
Proses reaksi kimia airtanah dari awal hingga akhir dari kondisi
lingkungannya selalu menuju reaksi kesetimbangan. Reaksi tersebut terus-
menerus terjadi antara unsur-unsur yang bereaksi di suatu kondisi akuifer selama
proses pengaliran airtanah. Proses reaksi kimia airtanah dapat diketahui dengan
indeks kejenuhan airtanah. Apabila, indeks kejenuhan airtanah = 1, maka
mengalami kondisi setimbang atau stabil, indeks kejenuhan airtanah > 1, maka
mengalami pengendapan dan indeks kejenuhan airtanah < 1, maka mengalami
pelarutan.
Penelitian hidrogeokimia airtanah ini, berdasarkan sistem arah aliran
airtanah dari daerah tangkapan hingga daerah resapan airtanah di suatu kondisi
akuifer. Penelitian ini juga mengkaitkan unsur kimia mineral batuan, sehingga
mengetahui proses reaksi kimia yang terjadi. Oleh karena itu, penelitian ini

19
berguna untuk pemanfaatan airtanah, terutama untuk air minum bagi masyarakat
di daerah penelitian. Skema kerangka pemikiran pada Gambar 1.3.
Kondisi Geologi :
Proses 1. Struktur Geologi
Geomorfologi 2. Material Batuan Penyusun

Satuan Bentuklahan

Proses Infiltrasi dan Komposisi


Perkolasi Kimia Airtanah

Kondisi Akuifer : Proses Indeks


1. Sistem arah aliran airtanah Kejenuhan Airtanah
2. Penampang Vertikal Akuifer

Karakteristik Hidrogeokimia
Airtanah Daerah Penelitian

Arahan Pemanfaatan Kegunaan


Airtanah untuk Air Minum

Gambar 1.3. Diagram Alir Kerangka Pemikiran

1.7. Batasan Istilah


Airtanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah pada zone jenuh air
dengan tekanan hidrostatis sama atau lebih besar daripada tekanan udara di
dalam suatu wadah/akuifer (Todd,1980).
Akuifer adalah formasi sarang yang mengandung air dan bebatuan lulus, pasir, atau
kerikil yang mampu menyerahkan atau meluluskan jumlah air yang berarti
(Todd,1980).
Akuifer tidak tertekan adalah akuifer ini disebut juga sebagai akuifer bebas (freatik)
dengan batasnya adalah muka airtanah (Seyhan, 1990).
Akuifer tertekan adalah akuifer ini disebut juga akuifer artesis atau akuifer tekanan
di mana airtanah tertutup antara 2 strata yang relatif kedap air, identik dengan
batas piezometrik (Seyhan, 1990).

20
Akuifer semi tertekan adalah merupakan kasus khusus akuifer bertekanan yang
dibatasi oleh lapisan-lapisan semi permeabel (Seyhan, 1990).
Bentuklahan merupakan bentang permukaan lahan yang mempunyai relief khas
karena pengaruh kuat dari struktur kulit bumi dan akibat dari proses alam
yang bekerja pada batuan di dalam ruang dan waktu tertentu. Masing-masing
bentuklahan dicirikan oleh adanya perbedaan dalam hal struktur dan proses
geomorfologi, relief/topografi dan material penyusun (lithologi) (Suharsono,
1988).
Daya Hantar Listrik adalah perbandingan antara deciSiemens per meter atau
konsentrasi dari akumulasi kegaraman, dengan konduktans centimeter kubik
air dengan standar temperatur 25o C (Santosa, 2000b)
Eh adalah potensial reduksi-oksidasi di dalam sistem yang berhubungan dengan pH
untuk mengkalkulasikan distribusi penyebaran proses reduksi dan oksidasi
(Deutsch, 1997).
Geografi adalah ilmu tentang bumi; terutama menyangkut bentuk permukaan, iklim,
penduduk, fauna, flora dan potensi kegiatan ekonomi; dengan kata lain (a)
ilmu ini memperhatikan fisik permukaan bumi, persebaran penduduk/kegiatan
sosial dan persebaran potensi serta kegiatan ekonomi dalam kerangka
kewilayahan; ilmu geografi sangat dekat dengan penataan ruang, karena
memberikan peta data dan analisis geografi tentang wilayah tertentu (b)
geografi merupakan bagian yang sangat penting bagi perencanaan tata ruang
(www.google-wikipedia.com, 2004).
Geologi adalah ilmu yang mempelajari komposisi, struktur, dan sejarah bumi;
meliputi bahan-bahan yang membentuk bumi, kekuatan-kekuatan yang
mempengaruhi bahan tersebut, serta struktur yang menjadi akibatnya terhadap
lingkungannya (Panizza, 1996).
Geomorfologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bentuklahan (landform)
yang berada di permukaan bumi, baik yang berada di bawah atau di atas
permukaan air laut dengan penekanan pada asal mula (genesis) dan
perkembangan di masa mendatang kaitannya dengan konteks lingkungan dan
material penyusunnya (Verstappen, 1977).

21
Hidrogeokimia adalah ilmu yang berhubungan dengan susunan kimia air alam,
perubahannya dan penyebab itu, yang berkaitan dengan kerangka geologi
(www.google-wikipedia.com, 2004).
Indeks Kejenuhan (saturation index) merupakan suatu indeks yang menunjukkan
kemampuan air dalam melarutkan mineral tertentu dalam batuan (Jankowski,
2001).
Jaring-Jaring Airtanah adalah peta yang menunjukkan arah aliran dan ketinggian
muka airtanah, arah aliran selalu membentuk tegak lurus terhadap garis
ketinggian airtanah (Todd, 1980).
Model Hidrogeokimia adalah suatu alat yang membantu menginterpretasikan reaksi
hidrogeokimia di akuifer, sehingga diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan
seperti menghitung laju reaksi kimia airtanah, memprediksi tingkat
kontaminasi airtanah, dan juga untuk mengestimasi arah dan kecepatan aliran
airtanah (Jankowski, 2001 dalam Adji., dkk, 2005).
Model Hidrostratigrafi (hydrostratigraphy model) adalah suatu model yang dibuat
untuk menggambarkan stratum atau susunan geologis penyusun akuifer
(Todd, 1980 dan Zohdy, 1980; Santosa, 2000a).
Pendugaan geolistrik (geoelectrical sounding) adalah suatu metode geofisika untuk
mengetahui susunan perlapisan batuan atau material penyusun akuifer di
bawah permukaan tanah secara vertikal (Todd, 1980 dan Zohdy, 1980;
Santosa, 2000b).
pH adalah aktivitas ion hidrogen atau logaritma negatif dari kepekatan ion hidrogen
yang digunakan sebagai penunjuk keasaman (pH < 7) dan kebasaan (pH > 7)
(Deutsch, 1997).
Purposive Sampling adalah pengambilan sampel berdasarkan pada pertimbangan-
pertimbangan atau keinginan berdasarkan kemudahan dalam pengambilan
sampel (Krumbein, 1960 dalam Seyhan, 1980)
Sistem Airtanah adalah karakteristik dari batasan tipe-tipe airtanah dan aliran
airtanah, volume, dari konversi kapasitas energi, perubahan sistem secara
terus menerus dan kondisi wilayah (Engelen, 1986 dalam Koedoatie, 1996)
Stratigrafi adalah perlapisan batuan. Faktor litologi, struktur geologi dan stratigrafi
merupakan informasi penting dalam evaluasi sumberdaya air (Todd,1980)

22