Anda di halaman 1dari 13

Fahmina dan Diskursus Kaum Santri Pasca Era Reformasi Diajukan untuk memenuhi tugas UAS pada Mata

Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Dosen Pengampu: Prof Dr. Jamali Sahrodi MA

Oleh : Muhammad Syafaat

PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON 2012

Fahmina dan Diskursus Kaum Santri Setelah Era Reformasi

Menulis tentang Indonesia adalah menulis kembali sejarah panjang sejuta keberagaman latar yang ada di dalamnya. Walaupun memang dalam realita, terjadi pengerucutan kelamin Indonesia yang tertuju pada kultur agama tertentu, dalam hal ini adalah mayoritas penduduk yang beragama Islam, akan tetapi Islam yang hadir ini adalah bagian dari pewaris tradisi nenek moyang, terhitung semenjak masa antik nusantara hingga kekinian. Islam Nusantara antik yang diwakili oleh kalangan Sunan Sembilan (wali songo) tak lepas dari kelenturan sikap dan satu semangat penerimaan mereka atas segala keberagaman (/keberagamaan). Mukaddimah: Sebuah Nilai Pluralitas Kaum Santri Indonesia Sikap menerima atas segala keberagaman yang diwakili oleh Islam Indonesia tersebut kemudian kini menjadi ciri khas tersendiri yang cukup asing dijumpai di negara-negara mayoritas muslim lainnya. Nama lain dari kelenturan sikap penerimaan atas keberagaman itu, belakangan ini lebih dikenal dengan sikap pluralis. Kata pluralis yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu plural (jamak) dan kemudian bertranformasi pada sebuah gerakan penerimaan atas tradisi liyan (keberagaman). Di Indonesia kata pluralis menjadi kian popular terutama pasca era reformasi. Ide ini kemudian mewujud dalam kantong-kantong Intelektual Santri Indonesia. Diantaranya adalah, The International Center For Islam and Pluralism (ICIP) yang digawangi Syafii Anwar, atau beberapa lembaga pemikiran lain yang juga memperjuangkan ide yang sama, sebut saja: Wahid Insitute, dengan lokomotif Ahmad Suaedy, Lakpesdam NU Kawah Pemikiran Kaum Santri yang diimami oleh Yahya Maksum, Perhimpunan Pengembangan Pesantren (P3M) wadah pemikiran kaum Sarungan yang digerakkan oleh KH. Masdar Farid Masudi, Pusat Studi Indonesia dan Kenegaraan (PSIK) di bawah motor Yudi Latif, Forum Muda Paramadina dengan Direktur Ihsan Ali Fauzi, dan think tank think tank lainnya di Indonesia. Dan yang menarik dari perkembangan ide dan sikap pluralis tersebut adalah ketika Negara sebagai Institusi tertinggi yang dalam konteks ini diwakili Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyematkan kata pluralis menjadi nama gelar pada sosok Abdurrahman Wahid (Presiden RI ke IV), lepas dari kepergian sosok yang akrab dengan sapaan Gusdur ini. Gusdur atau Sang Bapak Pluralis, kemudian menjadi ikon pluralisme Indonesia berkenaan

dengan kiprah beliau dalam penjagaan tradisi warga Indonesia yang erat dan kental pada nilainilai kebhinekaan dan sikap pluralis atas ragam perbedaan. Salah satu kontribusi Gus Dur adalah mengakui ajaran Konghucu sebagai agama resmi ke enam negara di republik ini, sungguh sebuah langkah kebijakan yang luhung. Dengan menyebutkan sosok Gusdur dari contoh terakhir pejuang pluralisme di atas, sejujurnya penulis tidak hanya sekedar ingin menempatkan figur beliau sebagai individu an sich, namun turut pula menghadirkan pribadi seorang pluralis yang tampil dengan beberapa embel background pemikiran yang sangat khas Islam Indonesia yang lahir dari sebuah tradisi pendidikan nusantara, bernama pesantren. Apabila ditelaah lebih lanjut, istilah pesantren sebagai tempat bersemayangnya para pemikir santri semacam Gus Dur, akan mudah tersurat bagaimana Islam sebagai agama memposisikan keeratannya dengan kultur lokal tempat ia bermula berkembang. Kata Pesantren jika dikaji secara etimologi berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri. Profesor Johns berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C.C. Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.1 Dari asal-usul kata santri pula banyak sarjana berpendapat bahwa lembaga pesantren pada dasarnya adalah lembaga pendidikan keagamaaan bangsa Indonesia pada masa menganut agama Hindu Budhha yang bernama mandala yang diislamkan oleh para ahli pikir Islam.2 Hingga kini, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang asli Indonesia, yang menjadi warisan berharga dan terus berkembang, sebagai penyeimbang antara ajaran Islam klasik dan nilai-nilai kemajuan pengetahuan. Kekhasan lain dari tradisi pesantren adalah pilihan lembaga pendidikan tersebut pada ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran. Termasuk dalam sikap pluralis yang bergaung mesra di dalam dunia kepesantrenan, mutlak didasarkan pada ayat-ayat al-Quran yang sejalan berkelindan. Dalam hal ini seorang Intelektual Santri, Buddy Munawar Rahman, sempat mencatat beberapa landasan religius Al-Quran berkaitan dengan penerimaan Islam akan keberadaan
1 Zamakhsyari Dhofier Tradisi Pesantren LP3ES Jakarta cet. V 1985 hal 10 2 Ibid hal. 41

agama-agama lain dan mengadakan hubungan timbal balik yang baik dengan para pemeluknya. Misalnya, sebagaimana Al-Qurn menjelaskan bahwa Tuhan telah mengirim nabi kepada setiap umat (Q.s., al-Isr/17:15), baik yang namanya disebut dalam al-Qurn maupun yang tidak (Q.s., al-Mumin/40:78). Dan setiap Muslim harus beriman kepada mereka, tanpa membedabedakan satu sama lain sebagai bagian dari keberagamaan dan keislaman mereka (Q.s., al-Imrn/3:84). Al-Qurn juga menganut prinsip: adanya realitas tentang pluralitas agama (Q.s., al-Baqarah/2:62), kebebasan beragama (Q.s., al-Baqarah/2:256), hidup berdampingan secara damai (Q.s., al-Kfirn/109:1-6), malah menganjurkan untuk saling berlomba dalam kebajikan (Q.s., al-Midah/5:48) dan bersikap positif dalam berhubungan serta bekerja sama dengan umat lain yang tidak seagama (Q.s., al-Mumtahanah/60:8). Al-Qurn juga secara tegas mengharuskan umat Islam untuk bersikap dan bertindak adil terhadap umat non-Muslim (Q.s., al-Mumtahanah/60:80) dan untuk melindungi tempat-tempat ibadah semua agama (Q.s., alHajj/22:40). Syahdan, hingga tak diragukan lagi, bahwa hibriditas antara sikap pluralis dan tradisi kepesantrenan di Indonesia, kiranya mempunyai peran penting dalam menjaga warisan kebhinekaan dan keberagamaan negeri ini untuk masa sekarang dan yang akan datang. Reformasi: Sebuah Mula Pasar Raya Pemikiran Indonesia setelah era reformasi adalah satu masa sakral tentang muasal lahirnya banyak kantong-kantong pemikiran dari rahim ibu pertiwi. Umumnya tahun yang berangkakan 1998 itu disebut sebagai satu babak tersendiri yang dinilai sangat berharga, tidak hanya bagi satu manusia Indonesia, melainkan juga bagi ratusan juta jiwa manusia Indonesia lainnya. Perenungan yang mendalam atas tafsir era reformasi di atas, tentu masih bisa diperdebatkan perihal nilai keshahihannya, akan tetapi sulit pula untuk dipungkiri perihal ketidakbenarannya dikarenakan dukungan sejuta fakta yang mengiringi jejak historis wacana tersebut. Reformasi adalah sebuah era yang sebelumnya dianggap berhasil dalam menggulingkan satu rezim kuasa, yang dikenal dengan sebutan orba. Rezim orba, yang sudah berkuasa kurang lebih sekitar tiga puluh dua tahun lamanya, terhitung sejak tahun 1960-an akhir hingga tahun 1998, meninggalkan satu kesan umum yang berkaitan dengan laku otoritarianisme, sang

pemimpin Negara. Laku otoritarianisme yang diterjemahkan sangat rigid oleh sosok yang bernama Soeharto itu, terekam jelas dalam salah satu kebijakan rezim orba yang mengkultuskan Pancasila sebagai satu-satunya asas yang harus diterima oleh seluruh warga, tak terkecuali masyarakat yang beragama Islam. Pemberlakuan asas tunggal ini, sejatinya tidak seluruhnya salah di mata masyarakat muslim Indonesia, hanya saja dengan dalih Pancasila, rezim orba seakan mendapatkan fatwa Negara untuk menghalalkan segala cara dalam upaya menyelesaikan persoalan-persoalan, umumnya soal kesejahteraan warga khususnya yang berkaitan langsung dengan kehidupan beragama. Adalah Goenawan Mohamad (alias GM), seorang darwis asal Batang-Indonesia yang telah melewati tiga rezim penguasa (Orde Lama, Orde baru dan Reformasi) mencatat dengan apik tragedi Pancasila. Bagi GM ide Pancasila yang dibakukan oleh Soeharto dianggap cacat atas tiga perkara, dua diantaranya adalah karena ia menggunakan kekerasan (kuasa militer) dan menjadikan Pancasila sebagai bahasa sakti, sehingga Pancasila yang sejak mula adalah dasar falsafah Negara yang hadir dan bukan sebagai barang jadi yang siap pakai melainkan sebagai suatu nilai luhur kebhinekaan yang harus terus digali, di tangan Orba justru menjadi kaku, ngeri dan bahkan nyaris tidak berarti.3 Tafsir atas kekakuan nilai pancasila ini, kemudian tidak hanya membekas pada sistem otoriter yang cenderung membelenggu sifat heterogen masyarakat bangsa ini saja, namun juga pancasila sebagai asas tunggal justru malah menghancurkan esensi sejati dari dirinya sendiri, semisal penghargaan atas nilai keyakinan bangsa ini yang alamiahnya adalah ragam, justru berubah pada penindasan bagi perbedaan keyakinan, nilai kemanusiaan yang seharusnya menjujung sikap keberadaban malah berubah dalam laku kekasaran kebinatangan, nilai luhung persatuan berakibat pada pemaksaan atas keseragaman, dan hikmah permusyawaratan malah manjadi manipulasi permusyawaratan, serta keadilan yang seharusnya menyeluruh, hanya berdampak bagi segelintir golongan karya-, atau lingkar keluarga- cendana saja. Secara tidak langsung rezim yang ditampilkan dalam tafsir pancasila ala orba itu, ketika harus berhadapan dengan sebuah era reformasi, yang memungkinkan terbukanya kran kebebasan pemikiran, ekspresi kebudayaan, serta kemerdekaan untuk berserikat dan berkumpul, disadari atau tidak dapat pula menghasilkan bentuk penafsiran laku yang ragam. Satu tafsir dapat
3 Goenawan Mohamad Menggali Pancasila Kembali, naskah pidato Politikana.com di Gd. Teater Komunitas Salihara Jakarta, senin 27 April 2009 peluncuran

berbuah pembebekan laku korup dan laku kekerasan ala orba, sangar, bahkan tak terkendali, sedangkan satu tafsir lainnya dapat hadir dalam wajah sadar damai, dialogis, dan harmonis memperbaiki. Fahmina: Satu Tafsir Kaum Santri atas Era Reformasi Era Reformasi adalah babak baru dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Di dalamnya masyarakat Indonesia masuk dalam sebuah euphoria kebahagian yang meniscayakan masingmasing dirinya dapat hadir memperjuangkan satu esensi keberyakinan dan eksistensi keberhidupan. Memulai kembali pencarian atas kebermaknaan hidup setelah era reformasi tidak hanya dilakoni gerbong-gerbong pembaharu di lingkup politik elit, di tataran nasional saja, namun juga merambah pada segelintir individu, di sudut lokal negeri ini. Apabila merujuk dalam konteks lokal, di mana penulis sekarang bertempat tinggal, yaitu di wilayah III Kacirebonan (Kuningan-Cirebon-Majalengka dan Indramayu), wacana-wacana kepesantrenan pelan namun pasti, pun sudah beranjak pada ikhtiar sistematis atas perayaan kajian pluralisme Islam di atas. Tanpa disadari, ide dan pengejawantahan sikap plularis itu, kini tidak lagi berpusat pada pemikiran elit intelektual saja, wa bil khusus kantong-kantong pemikiran islam Ibu Kota, akan tetapi dengan bergulirnya waktu, ide dan sikap tersebut sudah mulai sedikit membumi di kampung-kampung Indonesia. Fahmina, yang terdiri dari segelintir individu-individu yang menamakan diri mereka, sebagai santri-santri jebolan pesantren-pesantren tradisional asal Kota Wali, Cirebon, turut pula mewarnai gegap gempitanya kran kebebasan di awal tahun reformasi. Fahmina yang dengan nafas keislaman seakan ingin menggugat kembali tentang sebuah makna Pancasila yang di masa Orba telah dicederai dengan sedemikian rupa. Secara tersirat Fahmina sebagai gerbong pemikiran islam ingin mewartakan bahwa Pancasila sebagai asas Negara yang lahir dari pemikiran Bung Karno di masa pergerakan kemerdekaan itu, sejatinya menceritakan segala keharmonisan banyak paham dan ajaran yang ada di negeri ini, baik itu etnik, politik juga agama. Di dalam Pancasila, tak ditemukan sedikitpun pertentangan antara Negara dan Agama. Ikhtiar kebebasan Fahmina sedikit demi sedikit mengeruyak di permukaan Kota Wali. Ijtihad pertama Fahmina bagi publik, adalah ketika Fahmina ingin mengembalikan peran

dan potensi semua anak bangsa, tak terkecuali kaum santri untuk bangkit, berjibaku meneruskan cita reformasi.4 Kehadiran Fahmina di masa awal Reformasi bukanlah suatu kebetulan, Fahmina ada karena momentum Negara memungkinkannya untuk ada. Dan sebelum beranjak kepada pengenalan Fahmina yang lebih jauh, ada baiknya mengungkap sedikit latar sosial-kultural yang mengitari pendirian think-tank kaum santri ini. Tepat satu tahun sebelum didirikannya Fahmina Institute di Tahun 1999, yaitu pada tahun 1998, santri-santri jebolan pesantren-pesantren Tradisional di Cirebon berinisiatif untuk menggabungkan diri dalam satu Klub Kajian, yang mereka namakan Bildung, satu organisasi di bawah koordinasi Lakpesdam NU Kab. Cirebon. Di dalam Klub Kajian Bildung dibahas secara mendalam teks-teks agama, yang jamaknya dikenal dengan nama Kitab Kuning.5 Dukungan penuh yang diberikan langsung dari beberapa Kyai-kyai Sepuh, seperti KH. Syarief Usman Yahya Kempek dan KH. Fuad Hasyim Buntet, kepada Klub Kajian Bildung itu menjadi satu motivasi tersendiri, tidak hanya karena transfer emas pengetahuan dari Kyai-kyai sepuh an sich, namun yang tak kalah penting adalah pancaran status karisma-sosial dari keduanya, yang menjadi modal awal perjuangan kaum jebolan santri itu dalam mendakwahkan kajian Kitab Kuning ke lingkaran yang lebih luas. Bak bola salju, semakin menggelindingnya Klub Kajian Bildung itu ke beberapa sudut Pesantren Kota Wali, maka semakin besar pulalah gumpalan salju pengetahuan yang melekat luar maupun dalam di tubuh Klub Kajian ini. Inspirasi atas Klub Kajian Bildung, tak dinyana turut dirasakan oleh kantong-kantong pemikiran di beberapa fakultas lokal di Kota Wali, sebut saja JILLI, sebuah Jaringan Informasi untuk Layanan Lektur Islam, cukup memperkaya tema wacana kajian yang ada dengan pola yang berbeda. JILLI yang mencoba fokus pada pendataan literatur-literatur klasik yang tersimpan di Maktabah-maktabah Pesantren, untuk selanjutnya dikemas dalam bentuk yang sedikit canggih berupa penghimpunan melalui software (perangkat lunak) yang bisa diakses lebih mudah oleh kaum santri di lingkungan Pesantren,
4 Penjelasan Fahmina dalam hal ini adalah menegaskan kembali peran agama dalam ruang publik, sangat sejalan dengan perkembangan diskursus keagamaan setelah era reformasi. Lihat hasil penelitian The Wahid Institute, Center For Asia Studies Kyoto University, Center for Asia Pacific Area Studies & Academica Sinica, yang berjudul Islam in Contention: Rethinking Islam and State In Indonesia, Tahun 2008-2009, launching April Tahun 2012 Bab I

5 Sebutan bagi kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad yang lalu, yang diterima oleh Pesantren-

pesantren di Indonesia sebagai Kitab-kitab Mutabarah (mumpuni). Lihat Martin Van Bruinessen Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat Mizan 1995. Hal.17

sekiranya ingin diperlukan. Transformasi pengetahuan yang semula digagas oleh Bildung dan JILLI sejak awal terhitung masih sangat sederhana. Dampak dari kegiatan di kedua klub kajian ini jika ditilik secara nyata barulah bersifat emosi antar jebolan-jebolan yang menginduk pada satu pesantren tertentu saja, sehingga tingkat kedinamisan yang ada cenderung berjalan kaku dan lamban. Sebab lain dari kelambanan proses gerak intelektual di masa awal ini adalah belum ditemukannya titik fokus yang menjadi program acuan di setiap klub kajian, dan walhasil poin-poin diskusi keagamaan tersebut terkesan hilang pada sisi kebermanfaatannya di lingkup sosial. Dan berdasarkan pada catatan-catatan di atas pula, para pendiri dan point guard pada masing-masing klub kajian bertemu, untuk bertukar tangkap membincangkan tentang masa depan perkembangan pemikiran berbasis turats kepesantrenan yang ada di kota pesisir pantai utara tersebut. Alhasil tepat pada bulan Nopember Tahun 1999, Fahmina didirikan. Sebuah lembaga independen yang menjadikan keterbukaan pemikiran sebagai basis kekuatan dasar, bagi lintas golongan, etnis, gender serta agama. Mulanya Fahmina diniatkan sebagai wadah berkumpulnya kalangan mutakharrijin (alumni) pesantren-pesantren yang masih berhasrat pada dunia kajian keilmuan. Hal ini tampak pada simbol tempat lahirnya Fahmina, yaitu di Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon, serta digawangi oleh beberapa sosok-sosok yang kental dengan identitas kepesantrenan, seperti KH. Husein Muhammad, KH. Affandi Mukhtar, Marzuki Wahid dan Faqihuddin Abdul Kodir ditambah dengan latar kitab-kitab Kuning yang menjadi pusat kajian semisal, Kitab Matan atTaqrib Imam Abu Syuja (434-488 H/1042-1091 M), Kitab Munqidz min adhalal Imam AlGhazali (w.555H/1111M), Kitab al-Muhadzab Iam As-Syirazi dan Syarh Uqud al-Lujjayn, Karya Syekh Nawawi Banten (w.1314 H/1897 M).
6

Seiring berjalannya waktu, aktualisasi awal Fahmina berlanjut pada fase yang menentukan, yaitu ketika buah pemikiran yang mereka diskusikan bergerak dari tradisi dakwah bil lisan ke tulisan. Proses peralihan dapat diikuti melalui jejak yang terpapar di Koran-koran lokal, semisal Koran Cirebon, Radar Cirebon, Mitra Dialog (saat ini Kabar Cirebon), buletin Jumat Warkah Al-Basyar dan lain-lain. Berkenaan dengan media terakhir yang disebutkan di atas, yaitu Warkah Al-Basyar, menempati posisi tersendiri di mata masyarakat Cirebon. Buletin
6 www.fahmina.or.id diakses 16 Juni 2012

ini cukup menyedot perhatian pembaca dikarenakan beberapa isu persoalan yang diangkat, yang secara psikologis massa dapat bersentuhan langsung dengan keadaan riil di lingkungan sekitar, seperti isu ketimpangan sosial yang menimpa pedagang kaki lima, buruh migran, petani, nelayan, kaum minoritas, kaum cacat hingga persoalan kekerasan kaum perempuan di lingkungan kerja dan rumah tangga.7 Dengan suasana keterbukaan bada era reformasi yang melanda negeri ini, peluang Fahmina untuk terus menyuarakan kritik-kritik sosial mendapatkan momentumnya yang paling mengasyikkan. Kontrol Fahmina melalui media dan Advokasi massa, seakan menjadi energi positif baru khususnya bagi perkembangan demokratisasi di daerah dan menjadi sumbu bagi proses sosial politik di tingkat nasional. Sejak lahirnya Fahmina di tahun 1999 hingga masuk di masa kini, telah tampak secara jelas gerakan pembaharuan yang dibawa. Tafsir tentang kerja keras dalam horizon pemikiran Fahmina, dapat diawali dengan cara yang sederhana dan berpijak pada dasar kecintaan mereka yang pada hal sama pula. Prinsip Reformasi yang berseru pada nilai perbaikan kembali tatanan Negara yang tersudut di titik aristokrasi birokrasi, dan memperbaikinya dengan sistem kerja demokrasi, selibat identik dengan prinsip yang dipegang oleh kaum santri tentang bagaimanakah cara menyikapi pembaruan kondisi agama dari ragam segi, demi menghantarkannya pada dengan gerak laju masa kini. Kaum santri mengenalnya dalam satu adigum, al-muhafadzatu ala qadimi shalih wa akhdzu bil jadidi aslah, yaitu keharusan sikap mempertahankan segala suatu yang baik dari agama, dan mengambil segala yang dari luar baik untuk menghiasi sesuatu yang sumir dari agama.

Fahmina: Otokritik Kaum Santri Yang Belum Henti Kesadaran kolektif yang terbangun di setiap benak pemikiran punggawa-punggawa Fahmina, mengisyaratkan tentang pentingnya mengisi relung reformasi bangsa, dengan sedikit cara melongok kembali kelemahan-kelemahan yang masih tertanam di setiap pribadi kaum (pribumi) santri, entah karena ia adalah diri yang sejak lahir terkunci maupun diri yang lama
7 www.fahmina.or.id diakses 16 Juni 2012

ingin bergerak namun mati kutu di hadapan kuasa sang pemilik negeri (Orde lama atau mungkin juga Orde Baru). Apa yang kurang dalam diri itulah yang harus diperbaiki, dan apa yang dianggap baik dalam diri, itu pula yang harus dijaga-sadari. Dalam garis besar kelemahan yang terdapat pada diri kaum santri adalah soal ketidakmampuan mereka dalam menghadapi segala permasalahan yang ada di masa kini dan di sekitar sini. Tuah kebermanfaatan bagi lingkaran sosial yang sedari mula dimiliki oleh kaum santri seakan raib, hilang dan tak tahu kemana pergi. Dan jika persoalan kehilangan nilai keberhargaan diri yang mengidap kaum santri ini sedikit penuh berkaitan dengan rentang masa 32 Tahun laku otoritarianisme yang sebelumnya terjadi, maka mungkin bisa dikatakan ada juga benarnya, namun mungkin tidak sepenuhnya benar. Ada benarnya karena kehidupan umat Islam yang menjadi payung sosial kaum santri itu ditekan sedemikian rupa, dikonstruk seolah Islam hanyalah entitas beragama yang cukup hadir diruang ritual saja, dapat menjadi sebab stagnasi pemikiran kaum santri selama ini. Akan tetapi tidak penuh benar, karena sejatinya belenggu yang hakiki yang menghadang individu setiap diri adalah dirinya itu sendiri, hal ini sebagaimana diucapkan dalam sebuah novel lawas milik pujangga Armijn Pane (Belenggu).8 Masing-masing kebenaran dari sebab stagnannya pemikiran kaum santri bisa menjadi lebih baik, jika ada tawaran ide dan advokasi yang sedikit banyak dapat menjadi solusi.Tanpa ingin terlepas dari caruk maruk teori sebab akibat yang dipaparkan pada paragraph di atas itu, ada baiknya kembali menjadikan Fahmina sebagai simbol perjuangan kebebasan kaum santri reformasi di tengah keterpurukan yang melanda umumnya pesantren-pesantren Indonesia saat ini. Karena itu, di akhir catatan ini, disertakan beberapa terobosan yang sempat disumbangkan Fahmina bagi negeri ini, terhitung sejak Tahun berdirinya 1999 lalu, hingga tahun 2012 kini. Dengan demikian, semoga kajian yang memotret Fahmina sebagai gerakan pemikiran keislaman Indonesia ini, dapat memberi sedikit warna tentang keragaman kajian pemikiran yang lahir pasca era reformasi.

Catatan tambahan tentang Terobosan Fahmina yang sudah terealisasi 2001-2012: 1) Pendidikan Publik dan pembangun kesadaran masyarakat atas hak dasarnya sebagai warga Negara, manusia, terutama perempuan.
8 Armijn Pane Belenggu Penerbit Dian Rakyat 1995 cet. Ke 17.

I.Pendirian 10 Radio Komunitas di wilayah 3 Cirebon (Cirebon, Kuningan, Majalengka dan Indramayu) II.Buletin Al-Basyar, yang mengkampanyekan isu kesetaraan gender, demokrasi, HAM, Tracfiking dan Pluralisme III.Buletin Blakasuta (Ekonomi, Demokrasi dan Pendidikan Kritis) IV.Jurnal Ilmiah Fiqh Rakyat 2) Pendidikan kesadaran masyarakat Pesantren. 3) Advokasi Kebijakan Publik (PKL, Pendidikan dan Pelayanan Kesehatan Gratis) 4) Website Fahmina
5) Pendirian Perguruan Tinggi, Institute Studi Islam Fahmina (ISIF)9 6) Pembentukan jaringan dan koordinasi kekuatan civil society (Jaringan Pendidikan

Pemilih rakyat, Jaringan Persaudaraan Sejati, Jaringan masyarakat anti Tracfiking dan Jaringan Silaturahim antar agama)10

Daftar Pustaka Dhofier, Zamakhsyari Tradisi Pesantren: Studi Atas Pandangan Hidup Kyai, Jakarta : LP3ES, Cet. V 1985 Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern
9 Dalam perkembangannya Fahmina bermetamorfosis menjadi sebuah lembaga pendidikan resmi, yaitu dengan berdirinya Perguruan Tinggi Institute Studi Islam Fahmina (2001). Untuk mengetahui lebih lanjut gerakan ISIF kekinian dapat sekilas dinilai dengan lahirnya puluhan karya-karya menarik persis di etalase yang di pajang di ruang tamu kampus tsb, dengan dominasi kajian pemikiran keislaman, perjuangan kaum perempuan, Tracfiking dll. Hasil kunjungan di kampus ISIF 18 Juni 2012. Terakhir di pertengahan Tahun 2012 ini, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dipilih oleh DIRJEN PENDIS KEMENTERIAN AGAMA RI sebagai penyelenggara sebuah project
penelitian studi keislaman dalam bidang Participatory Action Research (PAR) / Community Development (CD) 2012

10 www.fahmina.or.id diakses 16 Juni 2012

Jakarta : LP3ES, 1994 Lembaga Pers Mahasiswa Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) Majalah Latar; Terbuka Untuk Keadilan Edisi 1 Tahun 2011 Mohamad, Goenawan Menggali Pancasila Kembali, Komunitas Salihara Jakarta, 2009 Postman, Neil The End of Education; Redefining the Value of School, Vintage Books, New York 1995 Pane, Armijn Belenggu Penerbit Dian Rakyat 1995 cet. Ke 17 Van Bruinessen, Martin Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat Mizan Bandung 1995 www.fahmina.or.id Sejarah dan Profil Fahmina 2012

Anda mungkin juga menyukai