99 PEWARISAN SIFAT KETAHANAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.

) TERHADAP PENYAKIT BULAI INHERITANCE OF RESISTANCE TRAIT OF MAIZE TO DOWNY MILDEW Sri Hartatik Jurusan Budidaya Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember ABSTRAK Permasalahan terbesar dalam produksi tanaman jagung manis sebagai saturan impor adalah adaptasi lingkungan tumbuhnya. Penyakit bulai yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis dapat secara serius menurunkan hasil dan kualitas jagung, terutama di musim hujan. Pemuliaan ketahanan terhadap penyakit ini telah dilakukan sejak lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pewarisan sifat ketahanan jagung terhadap penyakit bulai dan mengidentifikasi heritabilitasnya. Percobaan dilaksanakan di Arjasa, Jember. Inokulasi dilakukan dengan metode Semangun (1978). Persentase infeksi ditentukan berdasarkan jumlah bibit dengan gejala sistemik hingga hari ke-30 setelah inokulasi. Hasil menunjukkan bahwa sifat ketahanan tanaman jagung dikendalikan gen-gen dalam inti dan/atau sitoplasma. Nilai heritabilitas untuk semua parameter berkisar antara sedang sampai tinggi. ABSTRACT The most problem of sweet corn, as an imported fresh market vegetable, is adaptation to its growing environment. Downy mildew disease, caused by the fungus Peronosclerospora maydis, can cause serious yield and quality reductions throughout much of the sweet corn growing area, primarily in the rainy season. Breeding for resistance to this disease has been practiced for a long time. The objectives of this research were to evaluate the inheritance of resistance trait of maize to downy mildew and to identify its heritability. The experiment was carried out in Arjasa, Jember. Inoculation was conducted by the method of Semangun (1978). Infection percentages were determined based upon number of seedlings with systemic symptoms until the 30th day after inoculation. Result indicated that maize resistance to downy mildew is controlled by nucleolus and cytoplasmic genes. The heritability values for all parameters varied from moderate to high value. ______________ Kata kunci: jagung manis, P. maydis, bulai, pewarisan, ketahanan Keywords: sweet corn, P. maydis, downy mildew, inheritance, resistance Persilangan antara dua genotip terpilih yang memiliki gen-gen pengendali sifat yang ditargetkan merupakan cara yang dapat dilakukan dalam upaya merakit varietas baru tersebut. Oleh karena itu, pengetahuan tentang gen target, pola pewarisan sifat serta mekanisme ketahanan tanaman sangat diperlukan dalam suatu program seleksi. Beberapa penelitian tentang ketahanan tanaman jagung terhadap penyakit bulai telah dilaporkan ( Sumartini, 1990; Hartatik, 2003). Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya tanaman yang tahan, agak tahan, rentan dan sangat rentan. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jagung lokal lebih tahan terhadap penyakit bulai dibandingkan varietas impor. Dari hasil ini dapat disimpulkan adanya gen-gen yang mengatur ketahanan tanaman terhadap penyakit bulai. Sastrahidayat

PENDAHULUAN Penyakit bulai jagung yang disebabkan oleh P maydis, menjadi pembatas utama produksi jagung, terutama pada penanaman di musim penghujan. Serangan patogen ini mampu menurunkan produksi hingga 100 persen (Hartatik, 1993; Wakman, 2001). Berbagai upaya dapat dilakukan untuk menekan perkembangan penyakit ini, baik melalui pengendalian kimia maupun teknik budidaya yang lain. Pengendalian penyakit bulai dengan cara menanam varietas tahan merupakan cara yang terbaik utamanya untuk pelestarian lingkungan dan pertanian berkelanjutan. Dengan demikian, perakitan varietas jagung baru yang tahan terhadap penyakit bulai perlu segera dikerjakan. Perakitan varietas baru tanaman dapat dilakukan dengan berbagai metode pemuliaan.

Agroteksos Vol.17 No.2 Agustus 2007

Informasi tentang efek maternal terhadap suatu sifat sangat penting dalam upaya penentuan arah dan metode seleksi (Permadi. Kesesuaian hipotesis dengan hukum pewarisan sifat Mendell digunakan uji Khikuadrat yaitu suatu uji untuk mengetahui apakah data yang diperoleh benar menyimpang dari nisbah yang diharapkan.26(16 nomor) 30.10.51 (6 nomor) Reaksi Ketahanan Rentan 1.12. Sifat ketahanan tanaman sering dikendalikan oleh gen-gen inti dan atau gen-gen sitoplasma.52. efek maternal.24. disilangkan tanaman jagung Laga-ligo (sebagai sumber genotipe tahan) dengan jagung manis JMT1 ( tetua rentan). 50.11.17.54. Reaksi ketahanan tanaman jagung dari nomor-nomor yang dicoba didasarkan pada kriteria ketahanan tanaman Hartana (1986). Pada beberapa program pemuliaan tanamantanaman bernilai ekonomi tinggi sering dilakukan berdasarkan penampilan fenotipa.27. 2001). Pasangan tetua yang nilai karakternya berbeda nyata menunjukkan adanya efek maternal dalam pewarisan karakter ( Stell dan Torrie.40. jumlah daun diatas tongkol..38. Tabel 1.55. jumlah dan luas stomata. Sifat-sifat yang dipilih haruslah sifat-sifat yang memiliki nilai heritabilitas tinggi.53.45. panjang dan lingkar tongkol.20.36.34. jumlah daun di bawah tongkol.28. dan stabil dalam berbagai lingkungan tumbuh (Hartatik et al.43.19.16.maydis yaitu moderat. Pada percobaan pertama.7. jika gen-gen pengendali sifat adalah gen-gen sitoplasma. Reaksi Ketahanan Nomor-nomor Persilangan Tanaman Jagung Terhadap Penyakit Bulai Populasi F1 F1 res Moderat 2. kabupaten Jember dalam dua kali tanam.8.35. rentan.4. dkk. tidak secara kebetulan (Crowder.57 (16 nomor) Sangat rentan 18 (1 nomor) 33. Penanaman kedua dilakukan untuk menguji hasil persilangan yang dilakukan pada penanaman pertama.42. Pada penanaman ini terpilih 29 nomor persilangan (Laga-ligo x JMT1) dan 30 nomor resiproknya (JMT1 x Laga-ligo).9. Parameter pengamatan terdiri atas intensitas penyakit. 21. Penanaman pertama dilakukan untuk membentuk generasi pertama (F1) dan resiprokalnya (F1 res) dari program seleksi yang dilakukan.14.25.48.59 (8 nomor) Keterangan: F1 F1 res = Laga-ligo (♀) x JMT1 (♂) = JMT1 (♀) x Laga-ligo (♂) Sri Hartatik: Pewarisan sifat … . Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) 2 ulangan .46.22. Akan tetapi. dengan memperhatikan kesamaan ragamnya. Daya waris (heritabilitas) dihitung dalam arti luas dengan membandingkan ragam genetik dengan ragam fenotip didasarkan pada rumus yang dikemukakan oleh Crowder (1997).44. 1991). 1980). 1997). 49. Reaksi ketahanan nomor-nomor persilangan jagung terhadap inokulasi patogen dapat dilihat pada Tabel 1. Inokulasi patogen dilakukan secara alami dengan cara menanam tanaman sakit sebelum penanaman tanaman percobaan dimulai. kandungan fenol total.23.32.56.37. perlu diketahui pola pewarisan sifat.100 (1990) mengemukakan bahwa sifat ketahanan terhadap penyakit bulai bersifat kuantitatif. tinggi tongkol. Kriteria nilai heritabilitas mengikuti Stanfield (1983).15. bobot tongkol.6. METODE PENELITIAN Percobaan dilakukan di desa Arjasa.3. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil persilangan antara tetua tahan (Lagaligo) dan rentan (JMT1) memberikan reaksi ketahanan berbeda terhadap penyakit bulai yang disebabkan oleh P. publikasi tentang efek maternal pada sifat-sifat kuantitatif pada tanaman jagung masih belum banyak.47. 29 (12 nomor) 31. Efek maternal akan muncul.41.13.5. sampai rentan. 58. Efek maternal dianalisis dengan mempergunakan uji-t terhadap populasi F1 dan resiprokalnya. tinggi tanaman.39. Berdasarkan keterangan tersebut. kandungan klorofil. Pengujian dilakukan pada lokasi dan musim yang sama sehingga perbedaan intensitas penyakit antar nomor yang diuji merupakan perbedaan ketahanan nomor tersebut. serta nilai heritabilitas sifat-sifat tanaman yang berkaitan dengan sifat ketahanan tanaman jagung terhadap penyakit bulai agar dapat ditentukan arah seleksi yang dilakukan. dimana pengendalian dan pewarisan sifat kepada keturunannya terjadi secara poligenik.

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa kondisi stomata tidak berbeda nyata antara tanaman yang memberi reaksi moderat.64 a Sangat rentan 5243. 1994). Pola Pewarisan Sifat Ketahanan Hasil Persilangan Terhadap P.al (1976).25 a 155. 1997). Mekanisme ketahanan tanaman yang lain yaitu ketahanan biokimia yang ditandai oleh produksi fenol tanaman.24 a 37. Dengan demikian.2 a 35.67 a 5. Pola pewarisan sifat ketahanan seperti ini juga terdapat pada pewarisan sifat Tabel 2. Dengan demikian. Pada hasil percobaan yang lain dijelaskan bahwa stomata berperanan dalam mekanisme ketahanan struktural.6059 Χ2 0.101 Ketiga kategori ketahanan ini. 1994). sifat ketahanan kemungkinan dikendalikan oleh gen-gen inti dan atau gen sitoplasma.64 a 37. nisbah ketahanan yang sesuai untuk persilangan antara Laga-ligo x JMT1 adalah 9:7.251 a 5. Kemungkinan yang menentukan patogen dapat masuk dan menginfeksi tanaman jagung bukan terletak pada jumlah dan luas stomata tetapi cepat-lambatnya stomata itu membuka (Baswarsiati. Kondisi ini menunjukkan bahwa paling sedikit terdapat dua gen pengendali ketahanan terhadap penyakit bulai dimana sifat rentan terhadap penyakit bulai dikendalikan oleh dua pasang gen yang berinteraksi dominan resesif epistasis. pada persilangan Laga-ligo x JMT1 (F1) menghasilkan keturunan dengan nisbah tahan dan rentan 16:13.38** 0.91 a 162.09 a Kategori ketahanan rentan 5163.59 a 5. rentan maupun sangat rentan.4ns 16.serta bercak daun pada jagung (Bety dan Moedjiono. Tabel 4 menunjukkan kandungan fenol dari tanaman sehat dan sakit dari hasil persilangan tanaman jagung.maydis Kriteria ketahanan tahan rentan 16 13 6 24 Rasio 3:1 9:7 1:3 9:7 Χ2 hitung 8. Sedangkan hasil persilangan resiproknya menunjukkan nisbah yang berbeda yaitu 1:3.84 Persilangan Laga-ligo vs JMT1 JMT1 vs Laga-ligo Keterangan : ** : Berbeda sangat nyata Ns : Berbeda tidak nyata Tabel 3. yang merupakan interaksi antara gen-gen inti dan atau gen sitoplasma. Berarti sifat ketahanan tanaman tidak dipengaruhi oleh jumlah dan luas stomata.17 No. Terdapat dua mekanisme ketahanan tanaman yaitu ketahanan struktural dan ketahanan biokimia.05 3. Sifat ketahanan tanaman yang diekspresikan pada berbagai tingkat ketahanan berhubungan pula dengan mekanisme ketahanan tanaman itu sendiri. Sebaliknya persilangan JMT1 x Laga-ligo (F1 res) menghasilkan keturunan dengan nisbah tahan dan rentan 6:24 (Tabel 2). Kondisi stomata nomor-nomor hasil persilangan Laga-ligo vs JMT1 dan resiproknya Moderat 4903.2 Agustus 2007 . Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Triharso et.84 3. Hal ini sesuai dengan kesimpulan Kaneko dan Aday (1980) yang menyebutkan bahwa ketahanan tanaman jagung terhadap penyakit bulai dikendalikan oleh gen-gen poligenik.48 a Kondisi stomata Jumlah stomata Panjang stomata (μm) Lebar stomata(μm) Luas stomata(μm2) Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf sama pada baris sama menunjukkan berbeda tidak nyata Agroteksos Vol. busuk pelepah. menunjukkan kondisi stomata dari berbagai reaksi ketahanan tanaman jagung hasil persilangan dan resiproknya. Tabel 3. Berdasarkan nilai Khi-kuadrat pada Tabel 2.93 a 168.24ns 0. selanjutnya dapat dikelompokkan kedalam dua kategori yaitu tahan (untuk kategori moderat dan tahan) dan rentan (untuk kategori rentan dan sangat rentan) (Suhartini dan Hanarida.

52 b 2023.526 0. Akan tetapi. Penampilan karakter Produksi Populasi Jagung pada Berbagai Reaksi Ketahanannya Terhadap Bulai Jagung Panjang Tongkol (cm) 16.47 95.321 kriteria Sedang Tinggi Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Parameter Tinggi tanaman Tinggi tongkol Jumlah daun diatas tongkol Jumlah daun dibawah tongkol Panjang tongkol Lingkar tongkol Bobot tongkol Sri Hartatik: Pewarisan sifat … .30 ns Tinggi tongkol (cm) 101.80 ns 8. Hal ini memberikan harapan yang baik untuk pekerjaan seleksi karena hasil yang diinginkan lebih dipengaruhi oleh genetik dan diwariskan kepada keturunannya.12 ns 100. Kandungan Fenol pada Dua Kondisi Tanaman Kandungan Fenol (mg/g) F1 F1r 0. Nilai heritabilitas beberapa parameter percobaan F1 184.102 Tidak terdapat perbedaan yang nyata pada kandungan fenol F1 dan resiproknya.21 8.91 ns 8.317 0.76 ns 175.18 ns 4.13 5.93 5.388 0.51 ns 16.337 0. rentan dan sangat rentan.51 c Reaksi Ketahanan Moderat Rentan Sangat rentan Tabel 6.69 14 123. Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tanaman Tabel 4.92 ns Reaksi Ketahanan Moderat Rentan Sangat rentan Tabel 7. Selanjutnya penampilan karakter agronomi nomor-nomor hasil persilangan sesuai dengan rekasi ketahanannya terhadap penyakit bulai dapat dilihat pada tabel berikut.37 ns 94.521 a 0.87 ns 125.39 ns Berat Pipilan Krg/tgkl (g) 96.76 16.00 ns Berat Tongkol (g) 123.642 0.88 ns Jumlah Daun Atas Tongkol 5.23 ns 5.9 F1res 182. Akan tetapi. Dengan demikian. dapat diduga bahwa kandungan fenol memiliki peranan dalam mekanisme ketahanan tanaman.56 ns 16.83 ns 184.03 ns Lingkar Tongkol (cm) 14.362 a Kondisi Tanaman Sehat Sakit Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf sama pada baris sama menunjukkan berbeda tidak nyata Tabel 5.388 a 0.78 ns 96.09 1.88 ns 98. tanaman sakit sama sekali tidak dapat menghasilkan buah sehingga hasil perpetak akan berbeda untuk setiap nomor yang moderat.04 1.43 2.44 0.570 a 0.99 a 3426.93 ns Jumlah daun bawah tongkol 8. Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa nilai heritabilitas semua parameter percobaan berkisar antara sedang dan tinggi.96 102. rentan maupun sangat rentan.97 16.31 h2 0.23 14.24 1.16 ns 14.19 124. yang bereaksi moderat.11 8.36 ns Berat Pipilan Krg/ petak (g) 5430.06 ns 14.81 t-hit (5%) 0.64 ns 121.46 2. Selanjutnya nilai heritabilitas dari karakter yang diamati dapat dilihat pada Tabel 7. kedua persilangan menunjukkan bahwa kandungan fenol tanaman yang sakit lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman sehat.462 0. Penampilan Karakter Vegetatif Populasi Jagung pada Berbagai Reaksi Ketahanannya Terhadap Bulai Jagung Tinggi tan (cm) 185.

Hartatik. dan T. Toekidjo. and I.V.. 1997. Rektor Universitas Jember atas ijin dan kesempatan penelitian yang diberikan. Puslit Kopi dan Kakao. 1993. dan B. Kepada semua tim peneliti. Crowder. Malang.. Principles and Procedure of Statistics. 1976. dan Moedjiono. Bety. a Biometrical Approach. T. Penilaian stomata dan bulu daun sebagai penciri ketahanan beberapa klon tanaman anggur terhadap Plasmopora viticola.103 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan: 1. Pengujian beberapa populasi jagung manis. Laporan Penelitian dibiayai ARM. 1983.. Sumartini.D. Prosiding Seminar PERIPI. Teknologi untuk mengendalikan penyakit bulai pada jagung. R. Pemuliaan Ketahanan tanaman terhadap penyakit. Nilai heritabilitas sifat sifat agronomi berkisar antara sedang sampai tinggi. Pemuliaan Tanaman. McGraw Hill International Book Company. Inheritance of Resistance to Philippine downy mildew of Maize. Aday. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Zuriat 6: 54-59. 1991. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Koesdiarti. Malang. DAFTAR PUSTAKA Baswarsiati.. Terdapat efek maternal dalam pewarisan sifat ketahanan tanaman jagung terhadap penyakit bulai 2. 1990.17 No.. S. Penampilan dan pewarisan beberapa sifat kuantitatif pada persilangan resiprokal kacang hijau. Sifat ketahanan tanaman jagung dikendalikan gen-gen dalam inti dan atau sitoplasma 3. G. Schaum’s Outline series... Warsa. Hanarida. L. S. dengan demikian seleksi tanaman dapat didasarkan pada fenotipenya. Waktu pengambilan stomata sebaiknya dilakukan jika terdapat sinar matahari UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada Dirjen DIKTI yang telah menyetujui pendanaan penelitian yang dilakukan melalui Hibah Bersaing XI. Zuriat 2: 47-52. 1991. 1994. 633 p. W. 20 (5): 590-594. Murdaningsih. I. Faperta Unibraw. 1986. Saran 1. Penilaian ketahanan visual genotipe jagung terhadap penyakit bulai (Downy mildew).. Hartana. The Kasetsart Journal 10(2):101105.K. and J. 1994. Stansfield. Tidak dipublikasikan. 1980. D. Triharso..2 Agustus 2007 .R. McGraw Hill Book Co. Martoredjo. Agroteksos Vol. A. 2Ed. 15(2): 24-27. Baihaki A. dan L. Zuriat 5(1):44-49. Permadi. Crop Sci. 1997. disampaikan rasa terimakasih dan penghargan yang setinggi-tingginya. H.. Singapore. C. Pewarisan kepekaan panjang hari pada tiga kultivar padi. Torrie. Stell. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Bogor. Sastrahidayat. mahasiswa S1 maupun S2 yang terlibat dalam penelitian ini serta teknisi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Pola Pewarisan Indikator dari Pewarisan Ketahan Penyakit Busuk pelepah pada Jagung. Suhartini. S. Kaneko. Y. H. Recent Problem and Studies on Downy Mildew of Maize in Indonesia.A. Theory and Problem of Genetics. 1980..A. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Jember. 2003. Hartatik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful