Anda di halaman 1dari 115

LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN (LKPP)

_________________________________________________________________________________________

LAPORAN MODUL PEMBELAJARAN BERBASIS SCL

MATEMATIKA DASAR 1

Oleh : Drs. Raupong, M.Si.

Dibiyai oleh Dana DIPA Universitas Hasanuddin Sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Nomor :469/H.423/PM.05/2008 Tanggal 04 Februari 2008

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS HASANUDDIN FEBRUARI 2008

LEMBARAN PENGESAHAN

RANCANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS SCL Matakuliah : Matematika Dasar 1

Angkatan ke-2 Telah diperiksa dan disetujui Oleh Coach Clinic SCL Universitas Hasanuddin

Cochee,

Drs. Muh. Hasbi, M.Sc. NIP.

Drs. Raupong, M.Si NIP. 131 802 902

Mengetahui, Ketua LKPP-Unhas Ub. Kepala PKPAI-Unhas,

Ir. Machmud Syam, DEA NIP. 131 637 597

MODUL 1
Judul : Induksi Matematika dan Koefisien Binomial

BAB I. Pendahuluan A. Latar Belakang Modul ini adalah suatu pengantar dalam memahami matematika dasar 1 khususnya dalam pembuktian matematika dan pengembangan materi segitiga pascal dengan materi induksi matematika dan rumus Binomium Newton.

B. Ruang Lingkup Isi Adapu ruang lingkup materi modul 1 ini meliputi : Notasi Sigma dan Perkalian, induksi matematika, kombinasi dan koefisien binomial

C. Kaitan Modul Modul ini merupakan pengantar bagi modul-modul selanjutnya

D. Sasaran Pembelajaran 1. Mahasiswa dapat menggunakan notasi sigma pada deret matematika dan polinomial 2. Mahasiswa dapat menyelesaikan perpangkatan dua suku dengan menggunakan rumus binomium Newton 3. Mahasiswa dapat menghitung koefisien binomial pada perpangkatan dua suku

BAB II. Pembahasan 1. Notasi Sigma dan Notasi Perkalian


1.1. Notasi Sigma ( )
Misalkan kita tuliskan polinomial Pn(x) sebagai : Pn(x) = anxn + an-1xn-1 + .+ a1x + a0 atau Pn(x) = a0 + a1x + a2x2 + .+ an-1xn-1 + anxn Mungkin penulisan dan pengucapan bentuk (1) ini dirasa terlalu panjang dan tidak praktis. Sebuah notasi jumlah akan memendekkan dan menghemat penulisan tersebut. Sebagai misal bentuk (1) diatas dapat ditulis dengan menggunakan notasi jumlah sebagai berikut :
n

(1)

Pn ( x) = a i x i
i =0

(2)

huruf i disebut variable dummy yaitu indeks jumlah (disingkat indeks saja). Notasi adalah huruf kapital yunani yaitu sigma yang berkorespondensi dengan huruf latin s (bandingkan dengan SUM dalam bahasa Inggris). Artinya sigma untuk jumlah. Indeks i mengambil harga-harga bilangan bulat dari yang kecil ke yang terbesar. Perhatikan persamaan (2) jika disubtitusikan i = 0 pada aixi , diperoleh a0x0. Jika

disubtitusikan i = 1 pada aixi , diperoleh a1x dan seterusnya. Jika disubtitusikan i = n pada aixi , diperoleh anxn. untuk lebih jelasnya perhatikan ekspresi berikut : Polinom derajat 1 : P1(x) = a0 + a1x =
1

a x
i =0 i

Polinom derajat 2 : P1(x) = a0 + a1x + a2x2 =

a x
i =0 i

Polinom derajat 5 : P1(x) = a0 + a1x + a2x2 + .+ a5x5=

a x
i =0 i

Huruf yang sering digunakan selain huruf i juga biasa digunakan huruf kecil seperti j, k, r, dan lain-lain.
Contoh :
bj + bj+1 + bj+2 + ..+ bk-1 + bk
k

dapat ditulis secara singkat sebagai :

b
i= j

dibaca sigma dari bi, i mulai j sampai k indek i bisa dimulai dari sembarang bilangan yang dikehendaki, misalnya :
a3 + a4 + a5 + .+ a10
10

dapat disingkat sebagai :

a
i =3

Sifat-sifat sigma :

(i)

c = c +442+ ... + c = nc; 1 c + c 44 3


i =1 n suku

c konstan

(ii) (iii) (iv) (v)

ca
i =1 n i =1
n

= c ai
i =1 n n

(ai + bi ) = ai + bi
i =1 i =1

a = a
i =1 i j =0

n 1

j +1

= ai +1
i =0 n n n

n 1

a + b
i =0 i i =1 n

= a0 + ai + bi = a0 + (ai + bi )
i =1 i =1 i =1

Beberapa rumus-rumus sigma 1.


2.

i = 1 + 2 + 3 + ... + n = 2 n(n + 1)
i =1 n

i
i =1

1 = 12 + 2 2 + 3 2 + ... + n 2 = n(n + 1)(2n + 1) 6


2 3 3 3 3

1 3. i = 1 + 2 + 3 + ... + n = n(n + 1) 2 i =1
n 3

1.2. Notasi Perkalian ( )


Untuk menyingkat perkalian a1a2 a3 ...an dapat ditulis dengan menggunakan notasi perkalian
dengan lambang yaitu
a1 a 2 a 3 ...a n = a i
i =1 n

dimana

adalah huruf kapital Yunani untuk Pi yang berkorespondensi dengan huruf

latin P (product).

Contoh :

(a). i = 1. 2 . 3. ... (n 1)n = n !


i =1

(b). 2 = 2. 2 2 . 2 3. 2 4 2 5 = 215
n =1

2. Induksi matematika
Terlebih dahulu simak teladan berikut : Pernahkah anda waktu kecil bermain dengan sekumpulan kaset lagu-lagu dengan cara membariskan kaset-kaset tersebut secara tegak dan berdekatan. Jika sebuah kaset disentuh hingga terjatuh, maka kaset tersebut akan menimpa kaset di belakangnya dan mengakibatkan kaset kedua terjatuh menimpa kaset berikutnya dan seterusnya. Pada akhirnya dapat dibayangkan hasilnya bahwa sederetan kaset-kaset tersebut akan jatuh semua.

Gambar 1.1.

Teladan sederetan kaset yang jatuh di atas mengilustrasikan esensi dari induksi matematika, yaitu suatu metode yang sangat penting untuk pembuktian rumus-rumus atau pernyataan tertentu yang melibatkan bilangan asli. Kebenaran metode induksi matematika itu didasarkan pada teorema berikut.
Teorema 1 ( Prinsip Induksi Matematika)

Misalkan kita mempunyai barisan tak hingga dari pernyataan P(1), P(2), P(3), , P(n), , jika kita dapat menunjukkan bahwa 1. Pernyataan P(1) benar, 2. jika P(k) benar, maka P(k+1) juga benar untuk sembarang bilangan asli k, maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan P(n) benar untuk semua bilangan asli n.
Bukti

Andaikan 1. dan 2. benar tetapi kesimpulan teorema tidak berlaku. Ini berarti bahwa P(n) tidak berlaku untuk setiap bilangan asli n. Misalkan m adalah bilangan asli terkecil sehingga P(m) tidak benar, yaitu P(1), P(2), ,
P(m-1) benar, tetapi P(m) tidak benar . Langkah 1 menyatakan P(1) benar. Untuk n 1,

langkah 2 menyatakan P(2) benar, P(3) benar, dan seterusnya hingga P(m-1) benar dan seharusnya P((m-1)+1) benar. P((m-1)+1)=P(m), sehingga P(m) benar. Hal ini bertentangan dengan untuk m yang pernyataan P(m) tidak benar.

Definisi 1 :

Misalkan S himpunan himpunan bagian dari bilangan asli N, yang mempunyai sifat (1). n0 S , khususnya untuk n0 = 1 (2). Jika k S (k + 1) S, (k n0 ), maka N = S, yaitu bahwa himpunan S mengandung semua bilangan asli yang lebih besar atau sama dengan n0

Catatan

Langkah (1) biasanya dinamakan basis induksi Langkah (2) dinamakan langkah induksi Selain itu, asumsi bahwa n = k pada (2) dinamakan hipotesis induksi.

Contoh :

Kita akan buktikan rumus-rumus berikut dengan induksi matematika.

1+ 2 + 3 +L+ n =

1 n(n + 1) 2

1 Langkah (1) : Untuk n = 1, maka 1 = 1(1 + 1) benar. 2 Langkah (2): Andaikan untuk n = k, pernyataan 1 + 2 + 3 + L + k =
ditunjukkan kebenaran pernyataan di atas untuk n = ( k + 1 ). Dari langkah (2), kedua ruas ditambahkan faktor ( k + 1 ), sehingga diperoleh 1 + 2 + 3 + L + k + (k + 1) = = 1 k (k + 1) + (k + 1) 2 k (k + 1) + (k + 1) 2 1 k (k + 1) benar, akan 2

1.3. Kombinasi dan Koefisien Binomial


1.3.1 Kombinasi
Kombinasi dari sejumlah objek merupakan cara pemilihan objek yang bersangkutan tanpa memperhatikan urutan objek itu sendiri. Misalnya pemilihan 3 wakil mahasiswa secara acak untuk hadir pada lokakarya jurusan dari 4 mahasiswa yang telah terseleksi berdasarkan data

akademiknya. Kombinasi ini memberikan berbagai pilihan yang mungkin tanpa memperhatikan urutan nomor mahasiswa mereka misalnya atau yang indeks prestasinya paling tinggi dari keempat mahasiswa tersebut.

Definisi 7 :
Suatu kelompok yang terdiri dari r objek dan yang ingin dipilih dari n objek berbeda tanpa memperhatikan urutan pemilihannya dinamakan kombinasi r objek dari n objek berbeda dengan 0 < r < n. Banyaknya kombinasi yang mungkin dinotasikan sebagai n C rn atau . r

Teorema 2 :
Jumlah kombinasi r objek yang dipilih dari n obyek berbeda adalah :

C rn =

n! r!(n r )!
n N dan 0!= 1 .

dengan n!= n(n 1)(n 2 )L 2.1 = n(n 1)!,


Contoh :

Berapa carakah sebuah panitia yang beranggotakan 3 orang dapat dibentuk dari 5 pria 2 wanita jika dalamkepanitian tersebut paling sedikit harus terdapat 2 pria

dan

Penyelesaian :
Untuk membentuk panitia dengan syarat paling sedikit ada 2 pria, kita harus mengklasifikasikannya atas dua kasus yaitu : 1. Panitia itu terdiri dari 2 pria dan 1 wanita Pemilihan 2 pria dari 5 pria menghasilkan :
5 C2 =

5! 5! = = 10 cara 2!(5 2 )! 2!.3! 2! 2! = = 2 cara 1!(2 1)! 1!.2!

Sedangkan pemilihan 1 wanita dari 2 wanita menghasilkan C12 =

Jadi banyaknya cara pembentukan panitia yang terdiri dari 3 orang yang beranggotakan 2 pria dan 1 wanita adalah :
5 C 2 .C12 = 10.2 = 20 cara.

2. Panitia itu terdiri dari 3 pria dan 0 wanita. Pemilihan 3 pria dari 5 orang :

5 C3 =

5! 5! = = 10 cara 3!(5 3)! 3!.2! 2! 2! = = 1 cara 0!(2 0 )! 0!.2!

Sedangkan pemilihan 0 wanita dari 2 wanita menghasilkan


2 C0 =

Jadi banyaknya cara pembentukan panitia yang terdiri dari 3 orang yang beranggotakan pria sebanyak 3 orang dan tanpa wanita adalah :
5 2 C3 .C 0 = 10.1 = 10 cara

Kesimpulan :

Kepanitian yang beranggotakan 3 orang yang terbentuk dari 5 pria dan 2 wanita dengan ketentuan anggota prianya paling sedikit 2 orang adalah
5 5 2 C 2 .C12 + C 3 C 0 = 20 + 10 = 30 cara

1.3.2. Koefisien Binomial


n Nilai kombinasi C rn atau C n r sesungguhnya merupakan koefisien binomial. Secara aljabar

dapat dilihat bahwa perpangkatan

(x + y )2 = (x + y )(x + y ) = x 2 + 2 xy + y 2
Koefisien dari setiap suku dalam penguraian binomial dapat diperoleh dengan menghitung
2 2 setiap kombinasinya. Koefisien x2 adalah C 0 = C 2 = 1 , koefisien xy adalah C12 = 2 dan

2 2 koefisien y2 adalah C 2 = C 0 = 1 . Sehingga secara keseluruhan (x + y)2 dengan koefisien


n kombinasi C rn atau C n r sebagai berikut :

(x + y )2 = C02 x 2 + C12 xy + C 22 y 2 = x 2 + 2 xy + y 2 .
yang dapat ditulis singkat sebagai :

( x + y )2 =
Secara umum dapat ditulis

r =0

Cr x

2 2 r

yr .

( x + y )n

n n n = C 0 x n + C1n x n 1 y + C 2 x n 2 y 2 + L + C n y n

= C r2 x 2r y r
r =0

Contoh : 4 Gunakan rumus koefisien binomial untuk menguraikan ( x + y ) .

Penyelesaian :

(x + y )4 = C 04 x 4 + C14 x 3 y + C 24 x 2 y 2 + C34 xy 3 + C 44 y 4
= x 4 + 4 x 3 y + 6 x 2 y 2 + 4 xy 3 + y 4 .

T U G A S 1.
1. Tentukan nilai dari jumlahan berikut a.

(4k 3)
k =1

b.

(k + 5) 2
k =1

c.

(1) 2
i k =0

i +1

2. Diketahui a.
20

a
k =1

20

= 99 dan

b
k =1

20

= 21 . Hitunglah : b.

(ak + bk )
k =1

(4ak + bk + 2)
k =1

20

c.

(a
k =1

20

3bk )

3. Hitunglah a. 1 j =1 j + 1
n

b.

j2 1 j2

j =2

c. Gunakan notasi untuk menuliskan 1 x 3 x 5 x 7 x x 99. 4. Buktikan rumus-rumus berikut dengan induksi matematika : a. 1 + 3 + 5 + L + (2n 1) = n 2 , n N
2

b. 13 + 2 3 + 33 + L + n 3 = (1 n(n + 1)) 2

1 c. 12 + 3 2 + 5 2 + L + (2n + 1)2 = n(2n 1)(2n + 1) 3 d.


n 1 1 1 1 + + +L+ = 1.2 2.3 3.4 n(n + 1) (n + 1)

e. 2 n < n 3 untuk setiap bilangan asli n 10. f.


n 3 + 20 habis dibagi 3 untuk setiap bilangan asli n 2.

5. Hitung nilai kombinasi a.


C5 3

b. C 18 8

c. C 5 .C 8 3 4

3. Dalam berapa cara 5 buah pertanyaan dapat dipilih dari 9 pertanyaan ? 6. Uraikan perpangkatan berikut dengan menggunakan koefisien binomial a.( x + y )7 b.(2x y2)5 c. Tentukan koefisien suku x4y2 dari perpangkatan

1 2

x2 + 3y .

BAB III

PENUTUP

Keberhasilan mahasiswa memahami konsep dasar notasi sigma, notasi perkalian, induksi matematika dan koefisien binomial serta dapat menyelesaikan soal-soal dengan baika akan memudahkan untuk mempelajari modul selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dale Varberg & Edwin J. Purcell (1999) Calculus with Analytic Geometry Sixth Edition. Prentice-Hall, International, Inc. New Jersey. 2. James Stewart (2000) Kalkulus. Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta. 3. Lois Leithold (1987). Kalkulus & Ilmu Ukur Analitik. Edisi Pertam. PT.Bina Aksara. Jakarta.

MODUL 2
Judul : Fungsi Real BAB I. Pendahuluan E. Latar Belakang

Modul ini akan dibahas perbedaan relasi dan fungsi, jenis fungsi, domain dan daerah hasil (Range) suatu fungsi serta grafik fungsi yang sangat berkaitan dengan modul-modul selanjutnya. Pada kegiatan modul 2, khusus akan dibahas mengenai fungsi satu-satu dan pada yang disingkat fungsi satu-satu dan bagaimana menggambarkan grafik fungsi sederhana serta bagaimana pula menentukan invers suatu fungsi dan syarat suatu fungsi komposisi dapat ditentukan.

F. Ruang Lingkup Isi

Adapun ruang lingkup materi modul 2 ini meliputi : Fungsi Real, domain dan range fungsi, grafik fungsi, invers fungsi, fungsi kompusisi,dan fungsi implit .

G. Kaitan Modul

Modul ini merupakan konsep dasar bagi modul berikutnya yang mana mahasiswa tersebut dapat memahami konsep fungsi real untuk dapat digunakan pada modul-modul berikutnya.

H. Sasaran Pembelajaran

1. Mahasiswa dapat membedakan relasi dan fungsi 2. Mahasiswa dapat menentukan domain dan range suatu fungsi 3. Mahasiswa dapat menggambarkan grafik fungsi sederhana 4. Mahasiswa dapat menentukan invers suatu fungsi 5. Mahasiswa dapat syarat suatu fungsi dapat dikomposisi dan menghitungnya 6. Mahasiswa dapat memebedakan fungsi implisit dan fungsi eksplisit

BAB II. Pembahasan 2.1 Fungsi Real dan Grafik


Misalkan A, B himpunan bagian dari R (bilangan Riil) yang tidak kosong, maka suatu fungsi bernilai real dari A ke B adalah suatu aturan yang mengawankan setiap unsur di dalam A dengan tepat satu dan hanya satu unsur di dalam B. Jika fungsi dinotasikan dengan f dan
a A maka bilangan f (a ) disebut nilai fungsi f di titik a. Notasi

a a f (a )

menyatakan bahwa f memetakan a ke f(a).


Definisi 2.1:

Misalkan A, B R , maka fungsi f dari A ke B , ditulis :

f : A B atau A f B yaitu didefinisikan sebagai suatu aturan pemasangan yang mengaitkan setiap unsur x A dengan tepat satu unsur y B . Unsur yang berkaitan dengan unsur x ini dilambangkan y = f (x ) , yang dinamakan aturan fungsi dimana x dinamakan variabel bebas sebagai (independent) dan y disebut variabel terikat (dependent)
Dalam hal ini, A disebut domain fungsi yang dinotasikan Df atau D(f), dan himpunan

{y B : y =

f ( x), x A} disebut Range dari f, yang dinotasikan Rf atau R(f).

Bilamana daerah asal tidak disebutkan secara spesifik, maka daerah asal yang dimaksud adalah daerah asal alamiah (natural domain) dari fungsi f.
Catatan

Istilah fungsi biasa juga disebut pemetaan (mapping). Daerah asal biasa disebut daerah definisi atau domain Daerah hasil biasa juga disebut daerah nilai atau Range

Disini, Df atau Rf semuanya merupakan himpunan bagian dari R sehingga fungsi f ini dinamakan fungsi f dengan peubah real dan bernilai real , disingkat fungsi real. Fungsi real y = f(x) dapat digambarkan gambar 2.1.
f
range Df f domain image x f(x) f Rf

dalam bentuk diagram panah seperti pada

gambar 2.1a gambar 2.1b

Jika diketahui persamaan fungsi y = f(x), x D f , f ( x ) R f , maka : f(x) adalah peta (image) dari x yang dibawa oleh f, dan x adalah prapeta (antesenden) dari y. Jadi sebuah bilangan x dengan bayangannya f(x) direpresentasikan melalui sebuah titik P (x, f(x)), yang biasanya dituliskan sebagai titik P(x,y). Ciri-ciri fungsi ditinjau dari diagram panah adalah a) Setiap unsur di dalam domain , melepaskan sebuah anak panah ke sebuah unsur di dalam daerah hasil (range). Artinya tidak satupun unsur dalam domainnya yang tidak melepaskan sebuah anak panah. b) Setiap anak panah yang dilepaskan dari daerah asal (domain akan mengenai tepat satu sasaran dalam daerah hasil. Ini berarti bahwa tidak mungkin sebuah anak panah akan mengenai lebih dari satu sasaran . memungkinkan hal tersebut bisa terjadi. c) Mungkin saja terjadi kasus beberapa anak panah yang dilepaskan oleh masing-masing unsur di dalam domain akan mengenai sasaran yang sama di dalam daerah hasilnya. Hal ini berbeda dengan suatu relasi yang

2.1.1 Grafik
Grafik fungsi

f : A B adalah himpunan semua titik (x,y) didalam R2, dimana

x A , y = f ( x) B dan A R, B R .
Misal kita mempunyai fungsi y = f(x), x D f , f ( x ) R f . Nilai-nilai x direpresentasikan oleh absis (sumbu-x), sedangkan nilai-nilai f(x) direpresentasikan oleh ordinat (sumbu-y). Jadi Himpunan titik-titik (x,y) yang memenuhi y = f(x) dinamakan grafik fungsi f yaitu

{(x, y ) R R

y = f (x ), x D f dan y R f

2.1.2 Domain Dan Range Suatu Fungsi


himpunan : R f = {f ( x ) R x D f } . Untuk menentukan domain dan range fungsi perhatikan contoh-contoh berikut. Domain f adalah suatu himpunan : D f = x R f (x ) R f

} dan range f adalah suatu

Contoh :

Gambar 2.2 berikut merepresentasikan suatu grafik fungsi perubahan temperatur pada suatu ruangan tertentu selama 24 jam.

f(t) = temperatur dalam oC


25

20

15

Rf
10

0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24

t = waktu dlm jam Df gambar 2.2

Misal persamaan fungsi temperatur adalah y = f (t ) ; t R * maka Df = [0,24] = t R

Rf = [10,21] = f (t ) R t R *

f (t ) R f

};

R* bilangan real non negatif. maka 10 0 f (t ) 210 C

Dari grafik terlihat bahwa untuk 0 t 24

f(14) = 21, menunjukan bahwa pada jam 1400, temperatur ruangan mencapai 21 0 C f(5) = 10, menunjukkan bahwa pada jam 5, temperatur ruangan mencapai 100C

2.1.3. Terminologi Fungsi


Jika A, B R dan f suatu fungsi dari A ke B ditulis f : A B , maka :

1) Fungsi f dikatakan fungsi pada (onto function) atau Surjective jika setiap unsur dalam himpunan B (range) merupakan bayangan satu atau beberapa unsur dalam himpunan A (domain) lihat gambar 2.3a. 2) Fungsi f dikatakan fungsi satu-satu (one to one function) atau Injective bila tidak ada dua unsur dalam himpunan A yang memiliki bayangan yang sama dalam himpunan B lihat gambar 2.3b.

3) Fungsi f dikatakan fungsi satu-satu dan pada (one to one-onto function) atau Bijective jika f fungsi pada dan sekaligus satu-satu, gambar 2.3c.
f f f B A B

* * * *
Fungsi pada gambar 2.3a

* * *

* * *

* * * * *

* * * *

* * * *

Fungsi satu-satu gambar 2.3b

Fungsi pada dan satu-satu gambar 2.3c

Catatan

Untuk fungsi satu-satu, bila x1 , x 2 Df dan x1 x 2 f ( x1 ) f ( x 2 ) Jika A = B, fungsi f dari A ke A dinamakan fungsi pada A

Contoh :

f ( x) = x + 1 adalah fungsi yang bersifat satu-satu, sebab setiap unsur yang berlainan dalam daerah domain mempunyai bayangan berlainan pula.

2.2 Sifat Simetri Grafik Fungsi


Kadang-kadang dengan melihat kesimetrian dari suatu aturan atau grafik fungsi, sifat fungsi tersebut lebih mudah dikenali atau digambarkan. Sifat simetri yang mudah dikenali adalah simetri terhadap sumbu-x, sumbu-y atau simetri terhadap titik asal. 1. Simetri terhadap sumbu-x. Grafik fungsi y = f(x) dikatakan simetri terhadap sumbu x jika (x,y) terletak pada grafik f maka (x,-y) juga terletak pada grafik f. Ini berarti grafik fungsi f sekaligus memuat titik (x,y) dan (x,-y), dengan kata lain kedua titik tersebut memenuhi persamaan fungsi f. 2. Simetri terhadap sumbu y, yaitu bahwa jika (x,y) terletak pada grafik fungsi f maka (x,y) juga terletak pada grafik fungsi f.

3. Simetri terhadap titik asal, yaitu bahwa jika titik (x,y) terletak pada grafik fungsi f maka (-x,-y) juga terletak pada grafik fungsi f. Ini berarti grafik fungsi f memuat sekaligus titik (x,y) dan (-x,-y).
Contoh o Fungsi x = y2 dan 2y2 3x + 1 = 0, grafiknya simetri terhadap sumbu x. o Fungsi y = x2 , grafiknya simetri terhadap sumbu y. Fungsi Genap dan Fungsi Ganjil Definisi 2.2 :

1.

Fungsi f dikatakan Fungsi Genap jika untuk setiap x Df f ( x) = f ( x)

berlaku Fungsi f dikatakan Fungsi Ganjil jika untuk setiap x Df berlaku f ( x) = f ( x)


Catatan : pada definisi di atas, unsur x dan x Df.

2.

Berdasarkan definisi di atas, maka grafik fungsi genap simetri terhadap sumbu y dan grafik fungsi ganjil simetri terhadap titik asal (0,0). Dari pengertian tersebut, sebuah fungsi bukan fungsi genap jika terdapat suatu x Df sehingga f (-x) f ( x) , dan bukan fungsi ganjil jika terdapat suatu x Df sehingga f (-x) -f (x).
Contoh :

1. Fungsi f(x) = 5x4 3x2 + 1 adalah fungsi genap, karena f(x) = 5(-x)4 3(-x)2 + 1 = 5x4 3x2 + 1 = f(x). 2. Fungsi f(x) = 2x3 + 4x adalah fungsi ganjil, karena f(-x) = 2(-x)3 + 4(-x) = -2x3 - 4x = -(2x3 + 4x) = - f(x).

2.3 Operasi Pada Beberapa Fungsi

Definisi 2.3 :

Misalkan diberikan dua buah fungsi f dan g, dengan peubah bebas x, maka jumlah, selisih, hasil kali dan hasil bagi dari f dan g ditulis sebagai f + g ; f g ; f.g dan f
g

, didefinisikan sebagai b). (f g)(x) = f(x) g(x)

a). (f + g)(x) = f(x) + g(x) c). (f g)(x) = f(x) . g(x)

f f ( x) d). ( x) = , g ( x) 0 g g ( x)

Jika daerah asal fungsi hasil operasi aljabar ini ditentukan setelah aturan operasinya maka a). Df + g = Df Dg b). Df g = Df Dg c). Df . g = Df Dg d). D f
= Df Dg { x R : g(x) = 0 }
g

Tampak bahwa Df + g = Df g = Df . g ; tetapi tidak sama dengan D f .


g

Contoh :

Diberikan f ( x) =

1 x x ; Tentukan aturan fungsi f + g ; f . g dan tentukan dan g ( x) = x +1 x

daerah definisinya masing-masing.

Penyelesaian :

a). Jumlah dari f dan g adalah (f + g)(x) = f(x) + g(x) =


1 x 2 + (1 x)( x + 1 x 1 x + = = x( x + 1) x( x + 1) x +1 x

daerah definisinya adalah Df + g = Df Dg = R {-1} R {0} = R {-1,0} . Jadi daerah asal dari f + g adalah semua bilangan real kecuali -1 dan 0.

b). Hasil kali dari fungsi f dan g adalah

( f .g )(x ) = f (x ).g (x ) =

x 1 x x(1 x ) 1 x = . = x + 1 x x( x + 1) x + 1

dan D fg = D f I Dg = R { 1,0}

2.4 FUNGSI-FUNGSI KHUSUS


2.4.1 FUNGSI POLINOM (FUNGSI SUKU BANYAK)
Definisi 2.4 :

Fungsi f yang didefinisikan sebagai f (x ) = a0 + a1 x + a2 x 2 + L + a n x n dengan n bilangan bulat non negatif dan a0 , a1 , ....., an adalah konstanta real, dinamakan fungsi polinom (fungsi suku banyak). Jika a n 0, maka derajat fungsi polinom tersebut adalah n. Jika n = 0, maka diperoleh f ( x ) = a0 untuk semua x, maka fungsi polinom tersebut adalah fungsi konstan. Jadi suatu fungsi konstan yang nilainya tidak nol dianggap sebagai suatu fungsi polinom yang derajatnya nol Jika a 0 = 0 dan n = 0, maka derajat fungsi polinom tidak terdefinisi. Fungsi polinom
tanpa derajat ini disebut fungsi nol oleh karena nilainya f ( x ) = 0 untuk semua x. Fungsi linier adalah fungsi polinom berderajat 1, yang dapat dituliskan dalam bentuk f (x ) = a 0 + a1 x atau
f ( x ) = ax + b , dengan a dan b adalah konstanta , dan a 0

Grafiknya merupakan garis lurus dengan tanjakan a dan memotong sumbu y dititik (0,b), (gambar 2.27). Jika a = 1 dan b = 0 diperoleh f ( x ) = x yang dinamakan fungsi satuan (fungsi identitas). Fungsi Kuadrat adalah fungsi polinom berderajat 2 yang dapat dituliskan dalam bentuk f (x ) = a 0 + a1 x + a 2 x 2 atau 2 f ( x ) = ax + bx + c dengan a, b, c adalah konstanta dan a 0

Grafiknya adalah suatu parabola yang simetri dengan garis vertikal x = b D 2 , mempunyai titik puncak di dimana D = b 4ac . 2a 4a Contoh : Misalkan C1, C2 , C3 , berturut-turut grafik fungsi kuadrat 1 f ( x ) = x 2 , f ( x ) = 3 x 2 dan f ( x ) = x 2 , lihat gambar 2.4.1 2
C2
14

b , dan 2a

C1

C3

12

10

0 -8 -6 -4 -2 -2 0 2 4 6 8

gambar 2.4.1

Perhatikan bahwa grafik C2 lebih ramping dari grafik C1, sedangkan grafik C3 lebih lebar dari C1. Fungsi Kubik (Fungsi Pangkat Tiga) adalah fungsi polinom berderajat 3 yang dapat dituliskan dalam bentuk
f (x ) = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3

atau

f ( x ) = ax 3 + bx 2 + cx + d ,

a, b, c, d konstanta dan a 0.

Grafik fungsi kubik ini selalu memotong sumbu x paling sedikit di satu titik. Untuk kasus a > 0, grafiknya selalu naik atau mempunyai dua titik puncak (gambar 2.4.1a). Untuk kasus a < 0, grafiknya selalu turun atau mempunyai dua titik puncak (gambar 2.4.1b).

20 02

y = ax a>0

10

y = ax +bx +cx+d a>0


01

y = ax3 a<0

y = ax3+bx2+cx+d a<0

0 -3 -2 -1 0 1 2 3 3 2 1 0 0 123-

-10 01-

-20 02-

gambar 2.4.1a

gambar 2.4.1b

2.4.2 FUNGSI RASIONAL


Fungsi rasional adalah suatu fungsi yang dapat dituliskan sebagai hasil bagi dua fungsi polinom, yaitu :
f (x ) = b0 + b1 x + b2 x 2 + L + bm x m a 0 + a1 x + a 2 x 2 + L + a n x n

untuk semua x yang membuat penyebut tidak nol.


Contoh :

f (x ) =

x2 + 1 ; x 1 adalah fungsi rasional x 1

2.4.3 FUNGSI IRRASIONAL


Fungsi irrasional adalah fungsi aljabar yang tidak rasional yaitu mengandung faktor penarikan akar.
Contoh :

f (x ) = x 2 + x3 x ; g (x ) =
3

2x 1 x 1
2

dan

x x2 + 6

2.4.4 Fungsi Nilai Mutlak


Domain Range Lambang Definisi Grafik : R, himpunan bilangan real : Bilangan real non negatif : x x jika x 0 : f (x ) = x = x jika x < 0 : gabungan dua buah semi garis, yaitu :

f1 ( x ) = x , jika x 0 dan f 2 ( x ) = x , jika x < 0


Fungsi ini mempunyai dua aturan yaitu fungsi f1 ( x ) = x pada selang [0, ) dan fungsi
f 2 (x ) = x pada selang ( ,0] , sehingga D f = D f 1 U D f 2 , dan fungsi f berubah sifat di

titik x = 0.
y

f2
2 1 0 1 x

f1

-2

gambar 2.4.4

Fungsi yang aturannya memuat nilai mutlak dapat dituliskan sebagai fungsi dengan banyak aturan.

Contoh :

1. fungsi f ( x ) = x 2 dapat dituliskan sebagai fungsi dengan dua aturan yaitu : x 2 jika x 2 f (x ) = 2 x jika x < 2 f berubah sifat di x = 2
0 2 gambar 2.4.4a y 2 1 x

2.4.5 Fungsi Bilangan Bulat Terbesar (Fungsi Tangga)


Domain Range : R : Himpunan bilangan bulat

Lambang : [x ] menyatakan bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x, yaitu :

[x] = n

, jika n x < n + 1 , n bilangan bulat.

Fungsi f ( x ) = [x ] dinamakan fungsi bilangan bulat terbesar. Grafiknya : menyerupai tangga (lihat gbr. 2.4.5b). Jika x R , maka tak hingga banyaknya bilangan bulat yang lebih kecil atau sama dengan x, yang pada garis bilangan digambarkan di sebelah kiri x.

[x ]

| n2 | n1 | n | x | n+1 | n+2

......
bilangan bulat yang

x
gambar 2.4.5a

diantara semua bilangan bulat tersebut ada yang terbesar dan bilangan terbesar inilah yang dimaksud [x ]
Contoh :

jika x = 3,6 , maka terdapat bilangan bulat -2, -1, 0 , 1 , 2 , 3 yang semuanya lebih kecil dari 3,6. Dan diantara barisan bilangan tersebut, bilangan bulat 3 yang terbesar, sehingga [3,6] = 3 demikian juga jika x = -2, maka terdapat ......, -5 , -4 , -3 , -2 yang semuanya lebih kecil atau sama dengan -2, dan diantara barisan bilangan tersebut, bilangan bulat -2 yang terbesar sehingga [ 2] = 2 . Jadi :

[3,6] = 3 , sebab bilangan 3 adalah bilangan bulat terbesar yang lebih kecil dari 3,6 [ 1,4] = 2 , sebab bilangan -2 adalah bilangan bulat terbesar yang lebih kecil dari 1,4 Demikian juga [0,3] = 0 ; [ 0,3] = 1 ; 2 = 1 ; [ ] = 3 ; [0] = 0 Untuk menggambarkan grafik fungsi f (x ) = [x ] , perhatikan langkah=langkah berikut : [x] = n , jika n x < n + 1 , n bilangan bulat. Jika dipilih n = -2 , -1 , 0 , 1 , 2 , 3 , diperoleh :

[ ]

n = 1 1 x < 2 [x ] = 1 n = 2 2 x < 3 [x ] = 2

n = 2 2 x < 1 [x ] = 2 f ( x ) = 2 n = 1 1 x < 0 [x ] = 1 f (x ) = 1 n = 0 0 x < 1 [x ] = 0 f (x ) = 0 f (x ) = 1 f (x ) = 2

n = 3 3 x < 4 [x ] = 3 f ( x ) = 3

LLLLL 2 , jika 2 x < 1 1 , jika 1 x < 0 0 , jika 0 x < 1 Jadi f (x ) = [x ] = 1 , jika 1 x < 2 2 , jika 2 x < 3 3 , jika 3 x < 4 LLLLL n , jika n x < n + 1 grafiknya digambarkan pada gambar 2.39

y 3 2 1 x -3 -2 -1 -1 -2 -3
f ( x ) = [x ]
Grafik

Gbr. 2.4.5b

2.5 Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers


2.5.1 Fungsi Komposisi (Fungsi Bersusun)
Misalkan f dan g dua fungsi yang didefinisikan sebagai berikut : f : A B dan g : B C, Jika Rf Dg , maka terdapat fungsi h : A C yang merupakan fungsi komposisi dari f dan g ( f dilanjutkan g) yang ditulis gof dan aturannya ditentukan oleh : h(x) = (g f)(x) = g(f(x)) f > g >

f(x) gof

g(f(x))

gambar 2.5.1

Daerah asal dan daerah hasil fungsi komposisi gof masing-masing adalah :

Dg f = {xA | f(x) B}={x Df |f(x) Dg}, dan Rg f = {yC | y = g(t), tRf } Dalam hal ini Dgof adalah himpunan bagian dari Df. Selanjutnya, fungsi komposisi fog dirancang serupa, dengan f dan g saling bertukar peran. Misalnya Rg Df , maka fungsi komposisi dari f dan g (g dilanjutkan f) ditulis fog dan aturannya ditentukan oleh (fog ) (x) = f ( g(x) ) Daerah asal dan derah hasil fungsi komposisi fog masing-masing adalah Dfog = { x Dg | g(x) Df } dan R fog = { y Rf | y = f(t), t Rg } Dalam hal ini Dfog adalah himpunan bagian dari Dg.

Catatan f o g g o f Contoh :
Tentukan fungsi komposisi fungsi-fungsi berikut: f ( x) = x + 5 , g ( x) = 1 x4
fg;

gf dan tentukan pula daerah definisi fungsi komposisi dari

Penyelesaian : :
f ( x) = x + 5 , g ( x) = 1 x4

1 1 +5 (i). f o g ( x) = f ( g ( x) ) = f = x4 x 4 fungsi komposisinya dijamin oleh : R g D f = [(,0) (0, )] (, ) = R { 0 }

D f o g = x D g g ( x) D f

) = {x R x 0}

(ii). g o f ( x) = g ( f ( x) ) = g ( x + 5) = 1 , fungsi komposisinya dijamin oleh : x +1

R f D g = {x R x 0} D g o f = x D f f ( x) D g = x D f x + 5 D g

} {

= {x D f x + 5 4}

= {x D f x 1}

2.5.2 FUNGSI INVERS (FUNGSI BALIKAN)


Perhatikan kembali definisi fungsi satu-satu pada pembahasan yang lalu. Jika f: :A B suatu fungsi dari A ke B. f dikatakan fungsi satu-satu jika dan hanya jika untuk setiap dua elemen x1, x2 A , x1 x2 mengakibatkan f(x1) f( x2). Dengan kata lain f dikatakan fungsi satu-satu jika hanya jika tidak terdapat dua elemen berlainan dalam daerah asal yang memiliki pemadanan (peta) yang sama dalam daerah nilai. Secara geometri, grafik fungsi satu-satu dapat diperiksa dengan menarik garis mendatar sejajar sumbu x. Setiap garis mendatar y = k , k Rf, hanya memotong grafik fungsi di satu titik. Fungsi f bersifat satu-satu (one-to-one function) menjamin adanya fungsi invers (fungsi balikan ) f 1.
Teorema :

Jika f adalah fungsi satu-satu , maka terdapat satu dan hanya satu fungsi g yang terdefenisi pada range (daerah nilai) f dan memenuhi persamaan f ( g ( x) ) = x, x R f Fungsi g pada teorema 2.5 selanjutnya disebut inverse dari f dan dinotasikan f -1. f A x f (y)
-1

A x

f -1

y
f(x) y = f(x)

y
x = f -1 (y)

gambar 2.5.2

Jika f adalah fungsi satu-satu, maka terdapat satu dan hanya satu fungsi g yang terdefinisi pada range f dan memenuhi persamaan f(g(x) ) = x, x Rf. Fungsi g pada teorema diatas selanjutnya disebut inverse dari f dan dinotasikan oleh f -1.

Contoh: Carilah inversi dari f yang mempunyai aturan : f ( x) = x 3 . Penyelesaian : :

( f (f (f
f f

1 1

( x) = x karena f ( x) = x 3 , maka
1

) ( x) ) = ( f ( x) ) ( x) ) = x
3

f 1 ( x) = x

2.5 Fungsi Transenden


Fungsi yang dibahas pada uraian terdahulu adalah fungsi-fungsi Aljabar. Selanjutnya, fungsi yang bukan fungsi aljabar disebut fungsi transenden, meliputi fungsi trigonometri dan inversnya, fungsi logaritma dan inversnya.

2.6.1 Fungsi Trigonometri


Misalkan bahwa sebuah lingkaran satuan yang berpusat di titik asal 0 dengan jari-jari 1 dalam koordinat kartesian, sebuah sudut (dalam satuan derajat) diperoleh dengan memutar (berlawanan arah jarum jam) dari lingkaran tersebut dari titik (1,0) pada sumbu-x yang panjangnya u (dalam satuan radian) untuk lengkungan tempuhnya. Karena panjang busur lingkaran satuan adalah 2 , maka u , 2

= 360 o

atau u =

360 o

Perhatikan suatu titik P(x,y) pada sistem koordinat kartesian, ditransformasi menjadi titik P(u,r) pada sistem koordinat kutub (polar), maka diperoleh hubungan persamaan: y y = r sin u r x cos u = x = r cos u ; r sin u = r = jari-jari lingkaran yang berpusat di titik asal 0 Apabila dipilih sebuah lingkaran satuan (r =1), diperoleh hubungan : sin u = y; cos u = x ; sin u y = ; cos u x cos u x cot u = = ; sin u y tan u = 1 1 = cos u x 1 1 cosec u = = sin u y sec u =

y r =1 y 0 x
P(x y)=P(cosu sin u)

u 1 x

Lingkaran
Koordinat Kartesian

Gambar

Pilih sudut yang bersesuaian dengan u, P disebut titik tunggal pada lingkaran satuan dengan pusat 0. Perhatikan bahwa titik P(u,r) pada lingkaran satuan di atas berpadanan dengan radian u, dan juga berpadanan dengan tiap bilangan (u+k.2) dengan k bilangan bulat sembarang sehingga berlaku : y = sin u = sin(u+2k) x = cos u = cos(u+2k) ; k = 0,1, 2, Ini berarti nilai-nilai fungsi trigonometri berulang dalam selang-selang kelipatan 2. Oleh karena itu fungsi trigonometri disebut periodik. Suatu fungsi f disebut periodik jika terdapat suatu bilangan positif p sedemikian sehingga: f(x+p) = f(x), untuk setiap x Df bilangan positif p terkecil yang memenuhi persamaan di atas disebut periodik fungsi. Fungsi Sinus, Cosinus, Secan, Cosecan mempunyai periode 2. Fungsi tangen dan cotangen mempunyai perioda .

2.6.2 Grafik Fungsi Trigonometri

1. Grafik y = sin x dan y = cos x y 1 cos x sin x

-2

3 /2

-/2

0 -1
gambar 2.6.2a

/ 2

3/2

2. Grafik y = tan x

-/2

0 -1

/2

3/

gambar 2.6.2b

Contoh :

Tentukan perioda kemudian gambar grafik dari fungsi


Penyelesaian : :

f(x) = 3 sin (1/2)x

a. f(x) = 3 sin (1/2)x; karena sin x mempunyai perioda 2, berarti sin(1/2)x mempunyai perioda 4, berarti f(x) = 3sin(1/2)x berperioda 4 f(x) memotong sumbu x jika 3 sin(1/2)x = 0, yaitu untuk x = 0, 2, 4, 6, f(x) mencapai maksimum 3 bila x = 4k, k = 0, 1, 2, f(x) mencapai minimum -3 bila x = - 4k, k = 0, 1, 2,

Gambar Grafik sebagai berikut: 3 3sin (1/2)x

-4

-3

-2

- -3

gambar 2.55

2.6.3 FUNGSI INVERS TRIGONOMETRI

Telah dijelaskan pada uraian terdahulu bahwa fungsi-fungsi yang mempunyai invers adalah fungsi satu-satu atau fungsi monoton (naik/turun). Fungsi trigonometri adalah fungsi periodik sehingga tidak bersifat satu-satu. Namun kita dapat membatasi domainnya (memilih interval) dimana fungsi trigonometri tersebut bersifat satu-satu.

Perhatikan fungsi sinus dalam domain [-/2 ,/2] bersifat satu-satu (monoton naik), maka fungsi sinus dalam domain [-/2,/2] mempunyai fungsi invers.
Definisi 2.6 :

Misalkan y = f(x) = sin x bersifat satu-satu dalam suatu selang, maka: y = sin x jika hanya jika x = arcsin y atau ditulis: y = sin x f 1(x) = arcsin x) Jadi y=sin x x = arcsin y atau f(x)=sin x f -1(x) = arcsin x Perhatikan kembali: y = f(x) = sin x x = f 1(y) = arcsin y, dengan menukarkan variabel y dengan x

x = arcsin y

(baca: x sama dengan arkus sinus y yang merupakan fungsi invers sinus dinotasikan

diperoleh : x = f 1(x) = arcsin x atau sering ditulis f 1(x) = sin 1(x)(baca: arkus sinus x)
Catatan

Tanda pangkat (-1) adalah pengertian arkus atau invers dan bukannya

1 sin x

Karena fungsi sinus kontinu dan monoton naik pada selang tutup [-/2,/2], maka fungsi invers sinus juga kontinu dan monoton naik pada selang tertutup [-1,1]. Perhatikan grafik berikut: y y=x y =sin x / 2 y y=x y =sin-1

-/2

/2

-1

-1

/ 2 Df 1 =[-1,1] Rf -1 = [-/2,/2]
gambar 2.6.3

Df = [-/2,/2] Rf = [-1,1]

Perhatikan kedua grafik di atas : 1. Domain fungsi sinus merupakan range fungsi invers sinus dan sebaliknya. 2. Grafik arcsin x dan sin x merupakan pencerminan terhadap garis y = x Dengan metode yang serupa di atas kita dapat menentukan fungsi invers kosinus. Fungsi invers cosinus kontinu dan monoton turun pada selang tertutup [0,], maka ia mempunyai invers yaitu Arkus Cosinus yang disebut fungsi invers cosinus. Jadi y = cos x

x = arccos y yang dinotasikan f 1(x) = arccos x yang

merupakan fungsi invers cosinus. Daerah definisi fungsi invers cosinus adalah [-1,1] dan daerah hasilnya (Range) adalah [0,], gambar grafik sebagai berikut: y 1 0 -1 Df = [0,] R [ 1 1] y =cos x /2 x y =arccos x /2 y

gambar 2.6.3a

-1

0 Df 1 =[-1,1] Rf -1 = [0,]

Grafik f dan

-1

simetri terhadap garis y = x. Perhatikan bila kedua grafik di atas

digambar dalam satu sumbu sebagai berikut: y =arccos x /2 1 0 1 1 /2 y=x y = cos x x

gambar 2 6 3b

2.6.4 Fungsi Logaritma Dan Fungsi Eksponen


2.6.4.1 Fungsi Logaritma Asli

Logaritma basis a dari suatu bilangan x ditulis alog x atau logax a>0, a 1 Logaritma basis 10 ( a = 10) dari suatu bilangan x ditulis log x, disebut logaritma biasa. (basis 10 tidak ditulis) Logaritma basis e ( e 2,71828) dari suatu bilangan x ditulis ln x, disebut logaritma asli. Sekarang kita akan membahas fungsi logaritma asli.
Definisi :

Fungsi logaritma asli didefinisikan sebagai: ln x =

t dt
1

; x>0 1 > 0 , t > 0 maka: t

daerah definisi adalah semua bilangan riil positif. Karena

bernilai positif untuk x > 1 ln x = bernilai 0 untuk x = 1 bernilai negatif untuk 0 < x < 1 grafik y = ln x memotong sumbu x hanya dititik (1,0), di sebelah kanan titik (1,0), grafiknya berada di atas sumbu x dan di sebelah kiri titik (1,0), grafiknya berada di bawah sumbu x. Lengkungan grafiknya kontinu, monoton naik dan cekung ke bawah.

2 1

y y = ln x

(1,0) 0 2 3 4 x

Df = (0,) Rf = (-,+) gambar 2.6.4

Sifat-Sifat Logaritma Asli Misalkan a dan b bilangan positif dan n bilangan rasional sembarang maka berlaku:

1. ln 1 = 0 ; karena ln 1 = 2. ln ab = ln a + ln b a 3. ln = ln a - ln b b 4. ln an = n ln a

t dt = 0
1

Definisi 2.8 :

(i.) Persamaan ln x = 1 mempunyai Penyelesaian : tunggal yang dinyatakan oleh e, yaitu: ln e = 1 e = 2,71828182845 (nilai hampiran) e disebut bilangan Euler (Leonard Euler) (ii.) Jika x bilangan riil maka ex bilangan tunggal yang memenuhi : ln ex = x, x

Contoh :

Gunakan sifat-sifat logaritma asli untuk menyederhanakan fungsi: f ( x) = ln 5


Penyelesaian : :

x2 x4

x2 x 2 ln 5 x 4 = ln x 4

1 x 2 1 = ln 4 = ln( x 2) ln x 4 5 x 5

1 4 = ln( x 2) ln x 5 5

2.6.4.2 Fungsi Logaritma Dengan Basis Bukan e

Fungsi logaritma dengan basis a ditulis: y = f(x) = alog x atau y = alog x dengan a > 0 dan a 1 Pada pembahasan lebih lanjut akan ditunjukkan bahwa : y = alog x y = ax Sifat-Sifat Misalkan x dan y bilangan positif dan n bilangan rasional sembarang maka berlaku: 1. 2. 3. 4.
a a a

log 1 = 0 x a = log x - alog y y

log xy = alog x + alog y log

log xn = n alog x

5.

log x =

log x ln x = ; a > 0, a 1; p > 0, p 1 log a ln a

2.6.4.3 Fungsi Eksponen Definisi :

Fungsi eksponen didefinisikan sebagai : f(x) = ex (0,+)


Teorema :

atau

y = ex,

x dengan domain (-,+) dan rangenya adalah

y = ex x = ln y y
Bukti:

y =ex y=x

y = ex ln y = ln ex = x ln e = x Jadi y = ex x = ln y (1)

jika x = ln y ln e = ln y e = y
x x

y= ex -2 -1

1 y = ln x 0 1 2 3 x

Jadi x = ln y = ex (2) Dari (1) dan (2) diperoleh: y = ex x = ln y Dari bahwa : fungsi eksponen saling invers dengan fungsi logaritma Jadi : Jika f(x) = ln x Jika f(x) = ex f 1(x) = ex uraian di atas, dapat disimpulkan

Gambar. 2.6.4.3

f 1(x) = ln x

ln (ex) = x, untuk x eln x = x, untuk x > 0

Sifat-Sifat Eksponen

Jika a dan b bilangan riil sembarang, maka berlaku: 1. e0 = 1 2. eaeb = ea+b

3. 4.

(e )

ea = e a e b = e a b b e
a b

= e ab

5. eaeb = ea+b ea 6. b = e a e b = e a b e 7.

(e )

a b

= e ab

2.6.4.4 Fungsi Eksponen Basis Bukan e Definisi :

Jika a bilangan positif dan x bilangan riil, maka fungsi f dengan persamaan: f(x) = ax
Batasan :

atau

y = ax

disebut fungsi eksponen basis a

a x = a x ln a y = alog x Jika y = alog x maka ay = a


y
a

log x

x = ay

dengan a>0 , a 1, dan y positif


a

, tetapi ay = x berarti a

log x

= x dengan a>0

Jika y = ln x maka a = e = e a x = e ln a

ln a

, jika keduanya dipangkatkan x diperoleh:

( )

= e x ln a

jadi

Sifat-Sifat

Jika a dan b bilangan positif dan dan x, y bilangan riil, maka berlaku: a0 = 1 ax = a x a y = a x y y a axbx = (ab)x 4. axay = ax+y 5.

(a )

x y

= a xy

T U G A S 2.
A. Untuk soal no 1 sampai dengan no 6, tentukan daerah asal dan daerah hasil/daerah nilai dari setiap fungsi berikut.

1). f ( x) = 3 2x x 2 1 3). . f ( x) = 1 x2 1 5). f ( x) = (x 1)3

2). f ( x) = 1 2sin x x( x 2) 4). f ( x) = x 1 6). f ( x) = x 1 x

B. Untuk setiap fungsi berikut, tentukan apakah fungsi genap atau fungsi ganjil atau bukan fungsi genap dan bukan fungsi ganjil.

a ). f ( x ) = 5 x 3 7 x

b). f ( x ) =

x 1 x +1

c) f ( x ) = 2 x 4 3 x 2 + 1

C. Tentukan aturan fungsi f + g ; f g dan f/g dari fungsi-fungsi berikut, kemudian tentukan pula daerah asal dari hasil operasinya.

a ). f ( x ) = x 5 ; g ( x ) = x 2 1
D. Gambarkan grafik fungsi berikut: 1. 4.
f (x ) = 2 x

b). f ( x ) = x ; g ( x ) = x 2 + 1
3. f ( x ) =

2. f (x ) = [ x ]; 2 x 2
dan f (x ) =

f (x ) =

[x ]

[x ]
x

x dan f ( x ) = x x x

5. f ( x ) = sin x
, x0 1 7. f ( x) = x + 1 ,0 < x < 2 x 2 1 , x 2

| x | 5 , jika | x | 5 f ( x) = 25 x 2 , jika x < 5

E. Periksa apakah pada soal 1 9 adalh fungsi satu-satu dan jika dia adalah f satu-satu carilah inversnya. 1. 4.

f ( x) = 5 x + 3
f ( x) = x
3 5

2. f ( x) = 1 x 2 5. f ( x) =
x x

3. f ( x) = x 5 + 1 6. f ( x) = 1 2 1 x

BAB III

PENUTUP
akan

Keberhasilan mahasiswa memahami konsep fungsi real secara umum matematika dasar 2 dan lebih mudah untuk menerapkan pada bidang ilmu lain

memudahkan mahasiswa tersebut dalam mempelajari matematika lanjutan seperti

DAFTAR PUSTAKA
4. Dale Varberg & Edwin J. Purcell (1999) Calculus with Analytic Geometry Sixth Edition. Prentice-Hall, International, Inc. New Jersey. 5. James Stewart (2000) Kalkulus. Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta. 6. Lois Leithold (1987). Kalkulus & Ilmu Ukur Analitik. Edisi Pertam. PT.Bina Aksara. Jakarta.

MODUL 3
Judul : Limit Fungsi dan Kontinutas

BAB I. Pendahuluan I. Latar Belakang


Modul ini akan dibahas limit fungsi dan kontinutas suatu fungsi yang sangat berkaitan dengan modul berikut yaitu modul tentang turunan fungsi. Pada kegiatan modul 3 ini akan dibahas secara detail mengenai definisi limit fungsi baik secara intuitif maupun secara formal dan teknik-teknik menghitung limit fungsi dan dilanjutkan pengertian kontinutas suatu fungsi yang sangat erat kaitannya dengan limit fungsi.

J. Ruang Lingkup Isi


Adapu ruang lingkup materi modul 3 ini meliputi : Definisi limit fungsi , limit kiri dan limit kanan suatu fungsi, kontinutas suatu fungsi, kontinu kiri dan kontinu kanan serta kontinu selang pada suatu fungsi.

K. Kaitan Modul
Modul ini merupakan konsep bagi modul berikutnya dan sangat berkaitan dengan modul sebelumnya yang mana mahasiswa dapat memahami konsep limit dan kontinutas suatu fungsi yang akan digunakan pada modul berikutnya.

L. Sasaran Pembelajaran
1. Mahasiswa dapat menulis seraca tepat definisi limit secara formal 2. Mahasiswa dapat menghitung nilai

bila nilai ditentukan dengan

menggunakan definisi limit 3. Mahasiswa dapat menghitung nilai limit suatu fungsi 4. Mahasiswa dapat menentukan kekontinuan suatu fungsi

BAB II. Pembahasan 2.1 Limit Fungsi Di Suatu Titik


2.1.1 Pengertian Intuitif
Untuk memahami pengertian limit fungsi pada suatu titik , pandang sebuah fungsi yang didefinisikan seperti berikut ini :
f (x ) = x3 1 x 1

Fungsi f jelas tidak terdefinisi dititik x = 1 , karena pada titik tersebut nilai fungsi adalah

0 . 0

Tetapi pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana nilai f(x) disekitar x = 1 ? . Apakah f(x) mendekati nilai tertentu bila x mendekati 1 ?. Istilah mendekati disini menggunakan pengertian ukuran jarak dua titik pada garis yang dinyatakan dalam nilai mutlak. Untuk menjawab pertanyaan tersebut , ada beberapa hal yang dapat dilakukan , dua diantaranya adalah : 1. Menghitung nilai-nilai f untuk x yang mendekati 1, seperti yang dinyatakan pada tabel 1. Tabel 1: Nilai f disekitar x = 1.
X x3 1 x 1

0,75 0,9

0,99 0,999

1 ?

1,001 1,01

1,1

1,25

2,313 2,70 2,970 2,997

3.030 3,310 3,813

Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai f(x) akan mendekati 3 apabila x dibuat cukup dekat dengan 1. Dengan kata lain, jika x mendekati 1 dan x 1 maka f(x) mendekati 3. Jadi , f dapat dibuat sedekat mungkin ke 3 dengan cara mengambil nilai x cukup dekat ke 1, tetapi
x 1.

2. Sketsa grafik y = f ( x)
x3 1 ditunjukkan dengan gambar 1 berikut : x 1

Grafik y =

f(x)

3
f(x) 1

gambar 1

Grafik f terpotong di x = 1 (ditandai dengan bulatan kosong 0) menunjukkan nilai


f(1) tidak ada (f tidak terdefinisi di x = 1). Meskipun demikan , dari grafik tersebut terlihat

bahwa apabila x semakin mendekati 1, nilai f(x) semakin mendekati 3. Informasi yang diperlukan dari bagian. 1 dan 2. adalah :
x3 1 mendekati 3 jika x mendekati 1 , x 1 atau x 1 x3 1 ke- 3 dapat dibuat sedekat mungkin dengan cara membuat jarak x 1

f (x ) =

o Jarak f ( x ) =

x ke-1 cukup dekat , x 1 atau

x3 1 3 dapat dibuat sekecil mungkin dengan cara membuat x 1 cukup kecil x 1

pula , dengan x 1 . Informasi-informasi tersebut dalam notasi matematika dinyatakan sebagai : x3 1 lim =3 x 1 x 1 x3 1 disebut limit untuk x mendekati 1 dari adalah 3. x 1 Pengertian limit secara umum dinyatakan dalam definisi berikut :

Definisi 1. (Pengertian Secara Intuisi) Fungsi f mempunyai limit L pada titik x = a berarti bahwa f(x)
mendekati L apabila x cukup dekat (tetapi berbeda) dengan a, dan ditulis : li
f( ) L

Jika pengertian dekat dalam definisi 1, menggunakan ukuran bilangan dan

(yang cukkup kecil), maka definisi limit dapat pula dinyatakan sebagai berikut:
Definisi 2. (Pengertian formal)
Misalkan a adalah sebuah titik dalam selang buka I, dan f fungsi yang terdefinisi pada setiap titik di dalam I, kecuali mungkin di titik a sendiri.
Limit fungsi f di titik a adalah L dan dinotasikan sebagai: lim f ( x) = L jika dan
xa

hanya jika untuk setiap bilangan positif (bagaimanapun kecilnya) selalu dapat ditentukan bilangan positif sedemikian sehingga jika 0 < x a < maka
f ( x) L < .

Penjelasan secra geometri, diperlihatkan pada gambar 2.


f(x) f(x)

{ L {

C- a Sehingga 0 < | x-a | <

Untuk setiap > 0

f(x)

f(x)

L+ L L- a | f(x)-L | < x

a terdapat > 0

gambar 2 : Interpretasi geometri limit fungsi

Jadi yang pertama diberikan adalah bilangan , sedangkan ditentukan kemudian dan pada umumnya bergantung pada .

Contoh :
Buktikan bahwa : lim (3 x 7) = 5
x4

Analisis awal : Kita akan menunjukkan bahwa untuk setiap bilangan > 0 (bagaimana pun kecilnya), dapat ditentukan > 0 sedemikian sehingga apabila
0 < x 4 < (3 x 7 ) 5 <

Pandang ketaksamaan pada ruas kanan

(3x 7 ) 5 <

3 x 12 <

3( x 4) <

3x4 < x4 < Jadi pilih =

(atau bilangan lain yang lebih kecil)

Bukti Formal : Ambil > 0 sebarang, pilih = Akibatnya , Jika 0 < x 4 < maka

(atau bilangan lain yang lebih kecil)

(3x 7 ) 5 = 3x 12 = 3(x 4) = 3 x 4 < 3 =


Jadi terbukti lim (3 x 7) = 5
x4

lim (3 x 7 ) = 5
x4

f(x)

( ) ( ) 3 3 2 = 2 x

{ {

lim
x2

2 x 2 3x 2 =5 x2

gambar 3

2.1.2 Limit Kiri dan Limit Kanan (Limit Sepihak)


Sebelum kita membahas konsep Limit kiri dan limit kanan, perhatikan dengan seksama fungsi f beserta grafik pada contoh berikut :
2 1

y
0

Contoh :

f ( x) =

x 1, = | x | 1,

x>0 x<0
Gambar 4

-1 -2

x x |x|

f(x) =

fungsi f ini terdefinisi pada semua bilangan real kecuali di x = 0 jadi Df = R {0}. Sebagaimana halnya pada contoh di atas, maka berikut ini kita amati perilaku fungsi f(x) = x disekitar x = 0. Bilamana x cukup dekat ke 0, maka f(x) tidak mendekati suatu |x|

nilai tertentu, sehingga kita katakan lim f ( x) = lim


x 0 x 0

x | x|

tidak ada .

Akan tetapi, bilamana x mendekati 0 dari arah kanan (dari arah nilai-nilai x yang besar dari 0), maka f(x) akan mendekati 1. dalam hal ini kita katakan bahwa fungsi x mempunyai limit kanan di 0 dengan nilai limit kanan 1, ditulis
x 0 +

lim f ( x) = lim +
x 0

x =1 | x|

Demikian juga bilamana x mendekati 0 dari arah kiri (dari arah nilai-nilai x yang lebih kecil 0), maka f(x) akan mendekati bilangan -1. Dalam hal ini kita katakan bahwa fungsi f mempunyai limit kiri di 0 dengan nilai limit kiri adalah -1, ditulis
x 0

lim f ( x) = lim
x 0

x = 1 | x|

Dari kenyataan ini kita definisikan limit kanan dan limit kiri sebagai berikut :

Definisi Limit Kanan

Misalkan f sebuah fungsi paling sedikit terdefinisi pada selang terbuka (a,b), maka limit kanan f dititik a ditulis sebagai:
xa +

lim f ( x) = L atau f(x) L bila x a+

jika > 0 terdapat bilangan > 0 sedemikian sehingga 0< x - a < | f(x) - L | < . Perhatikan bahwa 0< xa < mengakibatkan x > a yang berarti x terletak disebelah kanan a.
Definisi Limit Kiri

Misalkan f sebuah fungsi paling sedikit terdefinisi pada selang terbuka (c,a), maka limit kiri f dititik a ditulis sebagai:
xa

lim f ( x) = L atau f(x) L bila x a -

jika > 0 terdapat bilangan > 0 sedemikian sehingga 0< a x < | f(x) - L |< .

Perhatikan bahwa 0< ax < mengakibatkan x < a yang berarti x terletak disebelah kiri a. Perhatikan gambar di bawah ini yang memperlihatkan situasi geometri untuk limit kanan dan limit kiri

y f(x) L f

y L f(x)

a x

Limit Kanan fungsi f di a

x a

Limit Kiri fungsi f di a

gambar 5a

gambar 5b

Bandingkan kedua definisi dari situasi geometri di atas dengan definisi limit fungsi f di titik a. lim f ( x) = L jika > 0 , > 0
x a

sehingga 0 < | x a | < | f(x) L | < Bila x a+ , maka x > a. Akibatnya x a > 0, sehingga | x a | = x a, yang bila digantikan pada definisi limit akan menghasilkan defenisi limit kanan. Demikian juga bila x a- , maka x < a. Akibatnya x a < 0, sehingga | x a | = a x, yang bila digantikan pada definisi limit akan menghasilkan definisi limit kiri.
Catatan

1. Semua sifat-sifat limit fungsi disuatu titik berlaku juga untuk limit sepihak bilamana x a diganti x a+ atau x a-. 2. Jika lim+ f ( x) atau lim f ( x) tidak ada, maka lim f ( x) juga tidak ada.
xa x a xa

3. Jika fungsi f terdefinisi pada selang terbuka (c,d) maka


x c +

lim f ( x) ditulis lim f ( x) , dan lim f ( x) ditulis lim f ( x) .


x c x d xd

Berdasarkan catatan nomor 3, maka dapat dipahami bahwa :

lim x = 0
x 0

karena f terdefinisi pada Df = [ 0, ) yang berarti f terdefinisi pada interval buka (0,), sehingga
x 0 +

lim f ( x) ditulis lim f ( x) = 0.


x0

Hubungan antara limit fungsi di suatu titik dengan limit kiri dan limit kanannya di titik tersebut diberikan dalam teorema berikut :
Teorema 1 :

lim f ( x) lim+ f ( x) = lim f ( x) = L


x a xa xa

Catatan Teorema ini menyatakan bahwa limit kiri dan limit kanan fungsi f di a dapat dihitung dengan cara menghitung limit fungsinya di a, asalkan limit fungsi tersebut ada.
Teorema 2 :

Jika lim f ( x) = L1 dan lim+ f ( x) = L2 dengan L1 L2 , maka lim f ( x) tidak ada.


x a xa x a

Contoh :
2 Diberikan fungsi f ( x) = x ; x 1 2 ; x > 1

Tunjukkan bahwa lim f ( x) tidak ada, dan gambar grafiknya.


x1

Penyelesaian :

Untuk menghitung limit kiri dari f digunakan persamaan : f ( x) = x 2 ; x 1 (domain dari f di sebelah kiri dari 1). Sebaliknya untuk menghitung limit kanan dari f digunakan persamaan f ( x) = 2 ; x > 1 . Sehingga

x 1

lim f ( x) = lim x 2 = 1
x 1

sedangkan
x 1+

lim f ( x) = lim 2 = 2 . +
x 1
x1

Karena limit kiri tidak sama dengan limit kanan maka disimpulkan bahwa lim f ( x ) tidak ada.

y y=
2

y= 2 1

-1

Gambar 6

2.2 Limit Tak Hingga dan Limit di Tak Hingga


2.2.1 Limit di Tak Hingga

Pandang sebuah fungsi yang didefinisikan sebagai berikut : x 1+ x2 grafiknya di perlihatkan pada gambar 3.4. f (x ) = y

-1

gambar 7

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah : Berapa nilai f ( x ) apabila x makin besar dan makin besar ?. Notasi matematika untuk jawaban pertanyaan tersebut adalah lim f ( x )
x

Pada Tabel 2, kita mempunyai daftar nilai-nilai f ( x ) untuk beberapa nilai x. Tampak bahwa f ( x ) mengecil dan makin mendekati 0 (dari kanan) bilamana x membesar dan makin membesar. Berdasarkan nilai pada Tabel tersebut, kita tulis:

lim

x =0 x 1 + x 2

Apabila x membesar ke arah negatif, maka f ( x ) makin mendekati 0 (dari kiri), dan di tulis :
x

lim

x =0 1+ x2

Tabel 2 x 10 100 1000 10000 x 1+ x2 0,099 0,010 0,001 0,0001

(x)
Definisi 3 (Limit untuk x )

Misalkan f terdefinisi pada

[ c , )

untuk suatu c .

Limit f ( x ) adalah L

bilamana x membesar tanpa batas, dan ditulis sebagai :


lim f (x ) = L
x

Jika > 0, M > 0 sedemikian sehingga x > M f ( x) L < Gambar 3.4, diharapkan dapat membantu pemahaman mengenai definisi 3.
Definisi 4 (Limit untuk x )

Misalkan f terdefinisi pada ( , c mengecil tanpa batas, dan ditulis sebagai :

] Suatu

c . Limit f (x ) adalah L bilamana x

lim f ( x ) = L

Jika > 0, bilangan M sedemikian sehingga x < M f ( x) L <


Contoh :

Tunjukkan (dengan definisi) Bahwa jika k adalah bilangan bulat positif, maka:
x

lim

1 =0 xk

Penyelesaian :

Analisis awal : Apabila diberikan bilangan > 0 sebarang, akan ditentukan bilangan M > 0 sedemikian sehingga jika x > M maka Pilih Bukti formal : Ambil > 0 sebarang Pilih M = k 1 1 1 1 1 0 = k < karena < jadi k x M x x 1 = Mk 1 1 < k k x M

M > 0 sedemikian sehingga

1 1 1 1 0 = k = k < k = k x x x M

Maka x > M berakibat

Jadi terbukti lim

1 =0 . xk

Penentuan limit fungsi untuk x atau x dengan menggunakan definisi di atas umumnya rumit dan terkadang sulit untuk dilakukan. tak hingga. Rumus-rumus limit yang disajikan sebelumnya, berlaku umum sehingga dapat digunakan dalam menentukan limit di Berikut ini diberikan contoh-contoh menghitung limit di tak hingga tanpa menggunakan definisi.

2.2.2 Limit Tak hingga


1 ; x 0 sebagaimana diperlihatkan pada gambar 3.4 x Nilai-nilai f ( x ) untuk beberapa nilai x yang mendekati nol (baik dari kiri maupun dari kanan) pada tabel 3. Pandang grafik f ( x ) = Tabel 3 : Nilai f(x) disekitar x = 0. 1 1 1 1 1 1 1 0 1 2 x 1000000 10000 10 2 10 10000 1000000 -10 -2 f(x) 2 10 10000 1000000 ? 100000 10000 0 Dari tabel 3, terlihat bahwa : Nilai f(x) akan semakin membesar tanpa batas, bilaman x semakin dekat ke 0 dari arah kanan , dalam hal ini dikatakan
x 0 +

lim f ( x) = +

Nilai f(x) akan semakin mengecil tanpa batas, bilaman x semakin dekat ke 0 dari arah kiri , dalam hal ini dikatakan
x 0

lim f ( x) =

Jadi limit kanan f(x) dan limit kiri f(x) pada x =0 dikatakan tidak ada.
Catatan Lambang - dan + bukan bilangan

Jadi lim
x 0

1 tidak ada. x

Untuk menyatakan nilai limit seperti kasus di atas, akan diberikan definisi berikut ini :
Definisi 5 :

Misalkan f suatu fungsi yang terdefinisi pada suatu selang terbuka yang memuat a , kecuali mungkin pada titik a sendiri, maka : (i) limit f ( x ) dikatakan membesar tanpa batas (+) bilamana x mendekati a, ditulis sebagai: lim f ( x) = +
xa

jika M > 0, > 0 sedemikian sehingga 0 < x a < f ( x) > M . (ii) Limit f(x) dikatakan mengecil tanpa batas (-) bilamana x mendekati a, ditulis sebagai: lim f ( x) =
x a

jika M > 0, >0 sedemikian sehingga 0 < x a < f ( x) < M . Sebagai ilustrasi perhatikan contoh-contoh berikut : Perhatikan grafik dan limit fungsi f di sekitar x = 1 berikut : 1 a. lim = + + x 1 x 1 1 lim = x 1 x 1 maka disimpulkan bahwa 1 lim tidak ada x 1 x 1 1 b. lim = + x 1 x 1 1 lim = + + x 1 x 1 maka disimpulkan bahwa
y

1 ;x >1 x 1
0 1 x

1 ;x <1 x 1
Gambar 8

1 ;x <1 x 1

1 ;x >1 x 1
gambar 9

1 lim tidak ada x 1 x 1 c. lim + 1 = + 2 x 1 ( x 1) 1 lim = + 2 x 1 ( x 1) maka disimpulkan bahwa : 1 lim = + x 1 ( x 1)2

1 ;x <1 (x 1)2

1 ;x >1 (x 1)2
1 x

gambar 10

1 = d. lim 2 + x 1 ( x 1) 1 = lim 2 x 1 ( x 1) maka disimpulkan bahwa : 1 = lim x 1 ( x 1)2

1 ;x <1 (x 1)2

1 ;x >1 (x 1)2

gambar 11

2.3 Kontinuitas Fungsi


2.3.1 Kekontinuan Fungsi Di Suatu Titik
Dalam pembahasan yang lalu tentang konsep limit, dimana eksistensi (keberadaan) nilai limit fungsi di suatu titik tidak tergantung kepada nilai fungsinya di titik tersebut. lim f ( x) = L ,
x a

tidak mempersoalkan apakah fungsi f terdefinisi di titik a atau tidak. Sekarang akan ditinjau hubungan limit fungsi dengan nilai fungsinya di suatu titik. Jika limit fungsi f di titik a adalah f(a), dikatakan bahwa fungsi f kontinu dititik x = a.

Definisi 3.10 (Kekontinuan) Suatu fungsi f dikatakan kontinu di titik a jika

lim f ( x) = f (a )
x a

Definisi 3.10 menjelaskan bahwa sebuah fungsi memenuhi ketiga syarat berikut: 1. lim f ( x) = L
xa

f dikatakan kontinu di titik a

jika

(ada )

2. f(a) ada ( f terdefinisi dititik a) 3. lim f ( x) = L = f (a )


x a

Catatan

Jika salah satu syarat kekontinuan di atas tidak dipenuhi, dikatakan fungsi f tidak kontinu (diskontinu) di titik tersebut.
Contoh

x4 x3 , x 1 x 1 Diberikan fungsi f ( x) = 1 , x =1 2 Selidiki apakah fungsi f kontinu di x =1 dan gambarkan grafik f.


Penyelesaian
x 3 , x 1 Fungsi f di atas dapat dituliskan sebagai f ( x) = 1 , x =1 2 Fungsi f terdefinisi untuk semua bilangan riil x , grafiknya terdiri atas titik terpencil (1,1/2) dan semua titik pada kurva y = x3 kecuali titik (1,1) lihat gambar 12. Sekarang kita periksa syarat-syarat kekontinuan fungsi f dititik x = 1
lim f ( x) = lim x 3 = 1, ( syarat (1) dipenuhi )
x 1 x 1

f(1) = ,
x1

(syarat 2 dipenuhi) ( syarat (3) tidak dipenuhi )

lim f ( x) f (1),

Kesimpulan Fungsi f tidak kontinu dititik x = 1. y 1 -1 0 -1 (1, ) 1 x -1 y 1 0 -1 1 x f(x)=x3

f(x)

gambar 12

gambar 13

Catatan
Dari Contoh di atas, bilamana didefinisikan f(1) = 1 maka dikatakan fungsi f kontinu di titik x = 1 (gambar 13).

2.3.2 Kontinu Kanan dan Kontinu Kiri


Definisi :
1) Suatu fungsi f dikatakan kontinu kanan dititik x = a jika memenuhi tiga syarat berikut: a. lim f ( x) ada (artinya limit kanan di a ada) +
x a

b. f(a) ada, (artinya f terdefinisi di a) c. lim+ f ( x) = f (a )


x a

2) Suatu fungsi f dikatakan kontinu kiri dititik x = a jika memenuhi tiga syarat berikut: a. lim f ( x) ada (artinya limit kiri di a ada)
x a

b. f(a) ada, (artinya f terdefinisi di a) c. lim f ( x) = f (a )


xa

Teorema :
Fungsi f kontinu di titik x = a lim+ f ( x) = lim f ( x) = f (a)
x a x a

Contoh :
f(x) = x 1 y f(x) = 1 x 1

fungsi f terdefinisi pada Df = [ 1, ) sehingga f kontinu = 1. pada selang tersebut, karena f kontinu pada selang terbuka (1, ) dan kontinu kanan di x

2.3.3 Kekontinuan Dalam Suatu Selang


Definisi :

1. Suatu fungsi f dikatakan kontinu pada selang buka (a,b) jika dan hanya jika f kontinu pada setiap titik pada selang buka (a,b). 2. Suatu fungsi f dikatakan kontinu pada selang tutup [a,b] jika dan hanya jika f kontinu pada setiap titik pada selang buka (a,b), kontinu kanan di x=a dan kontinu kiri di x=b 3. Suatu fungsi f dikatakan kontinu pada selang setengah buka [a,b) jika dan hanya jika f kontinu pada setiap titik pada selang terbuka (a,b) serta kontinu kanan di titik a. 4. Suatu fungsi f dikatakan kontinu pada selang setengah buka (a,b] jika dan hanya jika f kontinu disetiap titik pada selang terbuka (a,b) serta kontinu kiri di titik b.

Contoh 1
a. Fungsi f(x) = x yang terdefinisi pada selang [0,+) kontinu pada selang tersebut, karena f kontinu pada selang buka (0,+), dan kontinu kanan di titik x = 0. hal ini dapat dilihat dari : lim x = a , untuk semua a (0,+)
xa x 0+

dan

kontinu kanan

di x=0 , yaitu

lim x = 0 (gambar 15)

b. Fungsi g(x) = 9 x 2 ; kontinu pada selang tertutup [-3,3], oleh karena g kontinu pada setiap x (-3,3), serta kontinu kanan di x = -3 dan kontinu kiri di x = 3 (gambar 16). Perhatikan bahwa:

y f ( x) = x 3

0
Fungsi f kontinu pada [0,)

Fungsi g kontinu pada [-3,3]

gambar 15

Jenis-Jenis Ketakkontinuan 1) Ketakkontinuan yang dapat dihapuskan (removable discontinuity), yang terjadi bilamana lim f ( x)
xa

ada tetapi

lim f ( x) f (a ) . Pengertian dapat


x a

dihapuskan adalah dengan mengganti (mendefinisikan ) f(a) sama dengan nilai


limitnya, maka fungsi f akan menjadi fungsi kontinu dititik tersebut. 2) Ketakkontinuan
xa + xa

loncat

(jump

discontinuity)

terjadi

bilamana

lim f ( x) lim f ( x) . Pengetian loncat adalah limit kiri di x=a berbeda

dengan limit kanan di a (ada loncatan). 3) Ketakkontinuan


x a

tak

hingga,

yang

terjadi

bilamana

x a +

lim f ( x) = atau

lim f ( x) = .
x a +

4)

lim f ( x) atau lim f ( x) tidak ada dan tidak sama dengan .


x a

T U G A S 3.
1. Tuliskan definisi limit secara formal untuk 2. Tentukan x 1

= 0,001

dari lim (2 x + 1) = 3 bila = 0,05

3. Hitung nilai limit fungsi berikut :

a.

lim 5 x 2 + 2 x
x 3

1 1 b. lim x 3 , x 0 x 3 x 3 d. lim
x 0

dan x 3

c.

lim
x c

x2 c2 x3 c3

4+ x 2 x

4. Gunakan limit sepihak untuk menghitung limit fungsi berikut : a. lim | x 1 | x 1 x 1


; x<0 ; 0 x <1 ; x 1

x + 2 b. Diberikan fungsi : f(x) = x 2 x

(i). Gambarkan grafik fungsi f (ii). Hitung lim f ( x) dan lim f ( x) jika ada.
x 0 x1

x c. (i) lim x2 2 d. lim


x 1

x (ii) lim+ x2 2

(iii). lim +
x 1

[2]

| x 1 | x 1

5. Selidiki apakah fungsi yang diberikan kontinu pada titik x = 3? Jelaskan alasannya. 3 x x3 c. h(x) = x 2 d. Q(x) = x3 6. Tentukan semua nilai x sehingga fungsinya kontinu. a. f(x) = x 1 x b. f(x) =
x+2

a. f(x) =

9 x3

b. . f(x)=

9 x

7. Gambar grafik fungsi dan tentukan pada selang manakah fungsi yang diberikan kontinu. a. f(x) = x3 b. g(x) = 1 x3
,x < 0 ,0 x 1 ,1 < x < 4 ,x 4

1 ( x + 2) , x > 0 2 c. F(x) = 0 ,x =0 1 x 2 ,x <0

x 2 2 x 2 d. G(x) = x + 2 x 4 x x 4

8. Selidiki apakah f kontinu pada titik x=5? Jelaskan alasannya. x 2 25 a. f(x) = x5 x 2 25 b. f(x) = x 5 , x 5 6 ,x = 5 x3 , x 3 nilai berapakah yang x 3

9. Diberikan fungsi G dengan persamaan G ( x) = harus diberikan pada G(3) agar G kontinu di x ;x 2 f ( x) = , 2 ( x 2) ; x > 2 2x2 x 3 ; x 1 f ( x) = x + 1 0 ; x = 1 x2 x f ( x) = x ; x 0 , 0 ;x = 0

x = 3?

10. Selidiki jenis ketakkontinuan fungsi-fungsi berikut: a. di titik x= 2

b.

,di titik x= -1

c.

di titik x= 0

BAB III

PENUTUP
akan memudahkan

Keberhasilan mahasiswa memahami konsep limit fungsi aplikasing serta Integral.

mahasiswa tersebut dalam mempelajari modul-modul selanjutannya seperti turunan dan

DAFTAR PUSTAKA

7. Dale Varberg & Edwin J. Purcell (1999) Calculus with Analytic Geometry Sixth Edition. Prentice-Hall, International, Inc. New Jersey. 8. James Stewart (2000) Kalkulus. Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta. 9. Lois Leithold (1987). Kalkulus & Ilmu Ukur Analitik. Edisi Pertam. PT.Bina Aksara. Jakarta.

MODUL 4
Judul : Turunan (Derivative) Fungsi

BAB I. Pendahuluan M. Latar Belakang


Modul ini akan dibahas perbedaan relasi dan fungsi, jenis fungsi, domain dan daerah hasil (Range) suatu fungsi serta grafik fungsi yang sangat berkaitan dengan modul-modul selanjutnya. Pada kegiatan modul 2, khusus akan dibahas mengenai fungsi satu-satu dan pada yang disingkat fungsi satu-satu dan bagaimana menggambarkan suatu fungsi komposisi dapat ditentukan. grafik fungsi sederhana serta bagaimana pula menentukan invers suatu fungsi dan syarat

N. Ruang Lingkup Isi


Adapun ruang lingkup materi modul 2 ini meliputi : Fungsi Real, domain dan range fungsi, grafik fungsi, invers fungsi, fungsi kompusisi,dan fungsi implit .

O. Kaitan Modul
Modul ini merupakan konsep dasar bagi modul berikutnya yang mana mahasiswa tersebut dapat memahami konsep fungsi real untuk dapat digunakan pada modul-modul berikutnya.

P. Sasaran Pembelajaran
1. Mahasiswa dapat membedakan relasi dan fungsi 2. Mahasiswa dapat menentukan domain dan range suatu fungsi 3. Mahasiswa dapat menggambarkan grafik fungsi sederhana 4. Mahasiswa dapat menentukan invers suatu fungsi 5. Mahasiswa dapat syarat suatu fungsi dapat dikomposisi dan menghitungnya 6. Mahasiswa dapat memebedakan fungsi implisit dan fungsi eksplisit

BAB II. Pembahasan 2.1 Turunan Fungsi Di Suatu Titik Dan Interpretasi Geometri
Konsep turunan dan diferensial dewasa ini tampil cemerlang dan memegang peranan penting di dalam menyelesaikan berbagai masalah pada cabang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi . Karena itu banyak pengalaman dari kejadian sehari-hari yang nampak abstrak dan rumit, kemudian dapat ditemukan rumus matematikanya yang selanjutnya dihubungkan dengan suatu pola pikir (logika) dan penalaran yang dapat digunakan semua orang. Misalkan suatu fungsi y = f (x) , maka secara matematis, turunan pertama fungsi f di suatu titik tertentu x = c didefinisikan sebagai berikut:

Definisi 1
Misalkan f suatu fungsi terdefinisi pada selang terbuka I yang memuat c, maka turunan pertama fungsi f di titik x = c didefinisikan sebagai:
f ' (c) = lim
xc

f ( x ) f (c )) xc

..(2.1)

asal limitnya ada Dengan penggantian x = c + x , yang mengakibatkan x c x 0 , dan x c = x , maka turunan pertama fungsi f di titik x = c dapat dituliskan dalam bentuk :
f ' (c ) = lim
x 0

f ( c + x ) f ( c ) y = lim x 0 x x

(2.2)

asalkan limitnya ada, dikatakan mempunyai turunan di x = c Sebaliknya, jika limitnya tidak ada, dikatakan f tidak terturunkan di x = c dimana y disebut hasil bagi selisih atau hasil bagi difernsi x

Perhatikan bahwa jika x berubah sebesar x , maka nilai y juga berubah sebesar y : Perubahan nilai x Perubahan nilai fungsi y dari x = c dari y 0 = f (c)
ke
ke

x = c + x

y 0 + y = f ( c + x )

Besarnya perubahan y akibat perubahan x adalah : y = f (c + x) f (c)

Notasi Turunan Jika y = f ( x) , maka turunan pertama dinotasikan oleh salah satu simbol berikut :

y' ;

d dy ; f ' ( x) ; f ( x) atau Dx y dx dx
dy dx

Sedangkan nilai turunan di suatu titik terntu (misalnya di x = c ) dinotaikan dengan :

y'

x=c

; f ' ( c ) atau

x=c

Untuk menentukan turunan fungsi di suatu titik, gunakan langkah-langkah berikut : (1). Tuliskan y 0 = f (c) (2). Tuliskan y 0 + y = f (c + x) (3). Dapatkan y = f (c + x) f (c) (4). Lakukan pembagian (5). Hitung lim y x

y . Hasil limit ini (jika ada) merupakan turunan pertama dari x fungsi y = f ( x) dititik x = c , dinotasikan f ' (c)
x 0

Contoh :
Tentukan turunan fungsi berikut di titik-titik yang ditentukan f ( x) = x 2 3 x + 1 , di titik x = x0 Penyelesaian f ( x) = x 2 3 x + 1 , x = x0 (1) : Tulis : (2) : Tulis :
y 0 = f ( x 0 ) = x 0 2 3x 0 + 1
y 0 + y = f ( x 0 + x) = ( x0 + x) 2 3 ( x0 + x) + 1 = x0 2 + 2.x0 .x + ( x) 2 3 x0 3.x + 1

(3) : Dapatkan : y = f ( x0 + x) f ( x0 )
= [ x 0 2 + 2.x0 .x + ( x) 2 3 x0 3.x + 1] [ x 0 2 3 x0 + 1] = ( x) 2 + 2.x0 .x 3.x = (x + 2.x 0 3).x

(4): Dapatkan : (5): Hitung


lim

y (x + 2.x 0 3).x = = (x + 2.x0 3). x x

x 0

y = lim (x + 2.x 0 3) = 2.x0 3 x x0

Jadi f ' ( x0 ) = 2.x0 3

2.1.1 FUNGSI TURUNAN


Perhatikan pada contoh 1-a, diatas , jika indeks o dijalankan (dihilangkan), diperoleh f ' ( x) = 2.x 3 , yang juga merupakan fungsi x, yang disebut fungsi turunan.

Turunan fungsi f di sembarang titik dalam domain f didefiniskan sebagai berikut: Definisi 2 Jika f adalah sebuah fungsi maka turunan pertama fungsi f yang nilainya di setiap titik x pada daerah definisi f dinyatakan sebagai : f ' ( x) = lim
x 0

f ( x + x ) f ( x ) .....(2.3) x

asal limitnya ada. Selanjutnya fungsi f dikatakan terturunkan (differentiable) jika f ' ( x) ada untuk setiap x dalam daerah asalnya.

2.1.2 Interpretasi Dari Turunan


Turunan fungsi di suatu titik dapat di artikan sebagai gradient dari suatu garis singgung pada kurva, sebagai kecepatan, sebagai percepatan dan lain sebagainya.

2.1.2.1 Turunan sebagai Gradien (Tanjakan) garis


Secara geometri, turunan fungsi f di titik x = c , dinotasikan sebagai f ' (c) menyatakan tanjakan garis singgung g pada kurva y = f (x) dititik (c , f (c)) , di mana garis singgung g tersebut tidak sejajar sumbu-y. Perhatikan uraian berikut : Misalkan fungsi f terdfinisi dalam daerah asalnya dan grafiknya digambarkan pada gambar (4-1). Misalkan garis l memotong kurva f dititik P dan Q, maka tanjakan garis (tali bususr) l adalah :

ml =

f ( c + x ) f ( c ) f = ; x 0 (2.1.1.) x x
y = f ( x)

y
y 0 + y = f ( c + x )

l
Q(c + x , f (c + x))
Q

y
P (c, f (c)) y0 = f ( c )

g
y

0 c + x c Tanjakan tali busur ini tidak lain daripada kenaikan nilai fungsi f antara c dan c + x

Gambar (41) x

P x

Bilamana titik Q bergerak (sepanjang kurva f) mendekati P sedekat mungkin, maka x akan mengecil menuju nol (x 0), akibatnya tali busur l akan berimpit dengan garis singgung g. Dengan proses limit, tanjakan garis singgung g dititik P dinyatakan sebagai:

m g = lim

f f ( c + x ) f ( c ) = lim x x 0 x x 0

.(2.1.2)

atau notasikan x = h , maka persamaan (4.1.2) dapat ditulis:


m g ( h) = lim
h 0

y f (c + h ) f ( c ) = lim ; h 0 x h

h0

(2.1.3)

Jika limit ini ada, nilainya disebut tanjakan (koefisien arah) garis singgung g pada grafik f dititik P. Jelas bahwa tanjakan garis singgung g diperoleh dengan mengambil limit dari tanjakan tali busur l, (2.1.1)

Teorema 1
Agar supaya representasi grafik fungsi f mempunyai sebuah garis singgung di titik

(c, f (c)) dan tidak paralel sumbu y maka syarat perlu dan syarat cukupnya adalah fungsi
f harus mempunyai turunan (terturunkan) di titik x = c . Tanjakan garis singgung tersebut tidak lain dari turunan f di titik x = c Dengan demikian persamaan garis singgung melalui titik (c, f (c)) pada grafik f adalah:

y f (c) = f ' (c)( x c) atau [2.1.4] y = f ' (c)( x c) + f (c)


Dan persamaan garis normal n melalui titik (c, f (c)) adalah:

y=

1 ( x c) + f (c) ......[2.1.5] f ' (c )

Kedua garis ini (g dan n ) saling tegak lurus di titik (c, f (c)) pada kurva f , gambar (4-2)

y = f ( x)

g : grs singgung
P(c, f (c)) y 0 = f (c )

gambar (42)
c

x n: grs normal

Contoh :
Suatu garis g menyinggung parabola y = f ( x) = x 2 4 x dititik x = 1 , tentukan a. gradien garis singgung tersebut, kemudian tentukan persamaan garis singgungnya b. persamaan garis normal di titik x = 1 Penyelesaian Misalkan garis g menyinggung parabola y = f ( x) = x 2 4 x di titik P(c, f (c) , maka titik tersebut adalah P(1, 3) .Gradien garis singgung adalah : f ' (1) = lim a. (1) y f (1 + x) f (1) = lim x 0 x x

x 0

f (1) = 12 4(1) = 3

(2) f (1 + x) = (1 + x) 2 4(1 + x) = 1 + (x) 2 + 2.x 4 4.x = (x) 2 2.x 3 (3). y = f (1 + x) f (1) = [(x) 2 2.x 3] 3 = (x 2 ).x (4). y (x 2).x = = x 2 x x y = lim (x 2 ) = 2 x x0

(5). lim

x 0

Jadi gradien garis singgung adalah f ' (1) = 2 Dari rumus (4.1.4), maka persamaan garis singgung pada kurva di titik P (1, 3) adalah y 1 = (2) ( x 1) y = 2 x + 3 b. Dengan rumus (4.1.5), maka persamaan garis normal melalui titik P (1, 3)

adalah y =

1 1 .( x 1) + 3 y = x + 3 1 2 (2) 2

2.1.2.2 Turunan sebagai Kecepatan /laju Sesaat


Jika s(t) suatu fungsi waktu dalam t, maka s ' (t ) menyatakan kecepatan sesaat dari perubahan s pada saat t. Khususnya jika s(t) menyatakan jarak yang ditempuh suatu benda bergerak pada suatu garis lurus, maka kecepatan setiap saat t dinyatakan sebagai,
s ' (t ) = lim s (t + t ) s (t ) s = lim t 0 t t 0 t ...... 4.1.6

dimana Catatan :

s menyatkan kecepatan rata-rata benda bergerak. t

Notasi untuk kecepatan pada saat t , biasanya dilambangkan sebagai v(t ) , sedangkan percepatan pada saat t dilambangkan a(t ) . Dimana v(t ) = s ' (t ) , dan a (t ) = v' (t ) = s" (t )

Contoh . (Masalah Laju Sesaat)


Dari tepi sebuah jurang, sebuah batu dilemparkan tegak lurus ke bawah. Jarak yang ditempuh oleh batu tersebut dari titik asal hingga titik akhir t detik pertama dinyatakan oleh persamaan s = 20t + 16t 2 Bila jarak diukur dalam satuan kaki dan waktu diukur dalam satuan detik, tentukanlah 1. Kecepatan sesaaat batu tersebut pada : a. Akhir t detik b. Akhir 3,4 detik 2. Setelah berapa lamakah batu jatuh tersebut mencapai kecepatan 132 kaki/dt.

Penyelesaian :
Jarak yang ditempuh batu tersebut merupakan fungsi waktu yang dapat ditulis sebagai : s = f (t ) = 20t + 16t 2 1. a. Dengan menggunakan rumus (4.1.4), kecepatan batu pada akhir t detik adalah: f (t + t ) f (t ) s = lim v(t ) = s ' (t ) = lim t 0 t t 0 t = lim = lim

(20(t + t ) + 16(t + t ) ) (20t + 16t )


2 2

t 0

t (20 + 32.t + 16t )t t

t 0

= lim 20 + 32 t + 16t = 20 + 32 t
t 0

Jadi laju (kecepatan) batu jatuh pada akhir t detik adalah

v(t ) = 20 + 32.t

kaki / dt

b. Kecepatan (laju) sesaat batu jatuh pada saat 3,4 detik dapat dihitung dengan menggunakan hasil soal (i)a, dimana dalam hal ini t = 3,4 Jadi kecepatan sesaat batu jatuh pada saat t = 3,4 adalah: v(3,4) = 20 + 32(3,4) = 128,8 yang memenuhi : 132 = 20 + 32 t diperoleh t = 3,5 detik. Sehingga pada saat 3,5 detik jatuh, batu memiliki laju 132 kaki/detik. kaki / dt

2. Diketahui v(t) = 132 kaki/dt, jadi kita harus menentukan nilai t pada hasil soal 1.a ,

2.1.3 Turunan Kiri dan Turunan Kanan


Misalkan f terdefinisi pada selang buka yang memuat a maka 1. Turunan kiri fungsi f di x=a didefinisikan sebagai f ' (a ) = lim
xa

f ( x) f (a ) ; asal limitnya ada xa f ( x) f (a ) ; asal limitnya ada xa

2. Turunan kanan fungsi f di x=a didefinisikan sebagai f ' + (a ) = lim+


x a

Teorema f ' ( a ) ada Contoh .

f '+ ( a ) = f ' ( a )

Selidiki apakah fungsi berikut mempunyai turunan di x = 1

f ( x) = x x + 1

Penyelesain :
; x 1 x + 1 Karena x + 1 = x 1 ; x < 1 x 2 + x ; x 1 Maka f ( x) = x 2 x ; x < 1

y
1

x
-1

0
-1 Grafik f

Dari Definisi di atas diperoleh Turunan kanan :

f ' + (1) = lim+


x 1

f ( x) f (1) x2 + x 0 = lim+ = lim+ x = 1 x 1 x 1 x +1 x +1 f ( x) f (1) x2 x 0 = lim = lim x = 1 x 1 x 1 x +1 x +1

Turunan kiri : f ' (1) = lim


x 1

Karena turunan kanan turunan kiri, maka f ' (1) tidak ada.

2.2 Turunan Fungsi Pada Suatu Selang


Definisi 1. Suatu fungsi f dikatakan terturunkan (dapat diturunkan) pada selang terbuka (a,b), jika f mempunyai turunan di setiap titik pada selang (a,b). 2. Suatu fungsi f dikatakan terturunkan (dapat diturunkan) pada selang tertutup [a,b], jika f mempunyai turunan pada selang (a,b) dan turunan kiri [ f ' (a ) ada ] dan turunan kanan [ f ' + (b) ada]. 3. Suatu fungsi f dikatakan terturunkan (dapat diturunkan) pada selang setengah buka (a,b], jika f mempunyai turunan pada selang (a,b) dan turunan kanan [ f ' + (b) ada ]. 4. Suatu fungsi f dikatakan terturunkan (dapat diturunkan) pada selang setengah buka [a,b), jika f mempunyai turunan pada selang (a,b) dan turunan kiri [ f ' (a ) ada]. Hubungan antara turunan dan kekontinuan diberikan oleh teorema berikut: Teorema Misalkan fungsi f mempunyai turunan di x=a, yaitu f ' (a) ada maka f kontinu di x=a Catatan Kebalikan teorema ini tidak berlaku. Artinya ada beberapa fungsi yang kontinu pada titiktitik tertentu tetapi fungsi tersebut tidak mempunyai turunan di titik tersebut. Kiranya jelas bahwa jika f diskontinu di x=a maka f tidak terturunkan di x=a Perhatikan contoh diatas sebelumnya yang telah dibahas, f kontinu di x = -1, tetapi f tidak mempunyai turunan di x = -1, karena f1(-1) tidak ada

2.3. Rumus-Rumus Dasar Turunan


Menghitung turunan fungsi dengan menggunakan definisi turunan dengan melibatkan limit tidak selalu mudah, bahkan beberapa fungsi yang akan rumit dan bentuknya susah diselesaikan.

Dalam pasal ini akan diberikan rumus-rumus sederhana untuk menghitung turunan fungsi yang mudah dihapal dan mudah digunakan.Disini kita tuliskan x = h 1. Turunan Fungsi Konstan

Teorema-1 Jika f ( x) = c, c = konstanta, maka f ' ( x) = 0 ; x


Bukti: f(x) = c ; c konstanta maka f(x+h) = c sehingga f ( x + h) f ( x ) cc f ' ( x) = lim = lim = lim 0 = 0 h 0 h 0 h 0 h h

2. Turunan Fungsi Identitas Teorema 2 Jika f ( x) = x , maka f ' ( x) = 1 Bukti:

; x

f ( x) = x maka f ( x + h) = x + h sehingga f ( x + h) f ( x ) h ( x + h) x f ' ( x) = lim = lim = lim = 1 h 0 h 0 h 0 h h h

3. Turunan Fungsi pangkat Teorema 3 Jika f ( x) = x n maka f ' ( x) = n.x n 1 ; n Z + ; x 0 Bukti: f ( x) = x n maka f ( x + h) = ( x + h) n sehingga f ( x + h) f ( x ) = ( x + h) n x n = ( x n + nx n1h + n ( n21) x n2 h 2 + ... + h n ) x n f ( x + h) f ( x ) = nx n 1 + n ( n21) x n2 h + ... + h n1 h f ( x + h) f ( x ) Jadi f ' ( x) = lim h 0 h = lim nx n1 + n ( n21) x n 2 h + ... + h n1 = nx n1
h 0

4. Turunan dari hasil kali Fungsi dengan sebuah konstant

Teorema-4 Misalkan f suatu fungsi yang terturunkan dan c sebuah konstanta, maka (cf ) ' = c f '

Bukti:

Misal kita tuliskan F ( x) = cf ( x) ; f dapat diturunkan, maka F ( x + h) F ( x ) cf ( x + h) cf ( x) F ' ( x) = lim = lim h 0 h 0 h h f ( x + h) f ( x ) = c lim = c f ' ( x) h 0 h 5. Turunan Jumlah Dua Buah Fungsi

Teorema-5 (i). Jika f dan g masing-masing terturunkan dan (f+g) juga dapat teturunkan, maka ( f + g )' ( x) = f ' ( x) + g ' ( x) (ii). Dengan cara yang sama juga berlaku : ( f g )' ( x) = f ' ( x) g ' ( x) Teorema ini dapat diperluas menjadi : ( f1 + f 2 + ... + f n )' = f1 '+ f 2 '+... + f n ' Bukti diserahkan kepada pembaca

6. Turunan Perkalian dan Pembagian Dua Fungsi

Teorema -6 (Bukti diserahkan kepada pembaca) Jika f dan g masing-masing fungsi yang dapat diturunkan dan (f g) juga terturunkan maka: (i) Jika y = f ( x).g ( x) , maka y ' = f ' ( x).g ( x) + f ( x).g ' ( x) f ' ( x).g ( x) f ( x).g ' ( x) f ( x) , g ( x) 0 (ii). Jika y = , maka y ' = g ( x) [ g ( x)] 2 f ' ( x) 1 , dengan f ( x) 0; x D f (iii). Jika y = , maka y ' = f ( x) [ f ( x)] 2

7. Teorema -7 Jika y = [ f ( x)] n , maka y ' = n.[ f ( x)]n1 . f ' ( x) , n Z , n > 1

8. Rumus-Rumus Turunan Fungsi Trigonometri maka f ' ( x) = cos x a. Jika f ( x) = sin x maka f ' ( x) = sin x b. Jika f ( x) = cos x maka f ' ( x) = sec 2 x c. Jika f ( x) = tan x maka f ' ( x) = csc 2 x d. Jika f ( x) = cot x maka f ' ( x) = sec x tan x e. Jika f ( x) = sec x maka f ' ( x) = csc x cot x f. Jika f ( x) = csc x (untuk bagian c sampai f gunakan ; x ( + k) ; k Z 2 9. Rumus-Rumus Turunan Fungsi Eksponen dan Logaritma: maka f ' ( x) = e x a. Jika f ( x) = e x

b. Jika f ( x) = a x c. Jika f ( x) = ln x

maka maka

d. Jika f ( x) = a log x maka

f ' ( x) = a x ln a; a > 0 1 f ' ( x) = ; x > 0 x 1 f ' ( x) = ; x > 0; a > 0; a 1 x ln a

Catatan
a

log x =

ln x ln a

2.4. Turunan Fungsi Komposit & Aturan Rantai


Fungsi komposisi sudah dibicarakan pada modul 2. Sekarang misalkan fungsi f terturunkan di x dan fungsi g terturunkan di f(x) maka fungsi komposisi (gf) dapat diturunkan di x , sehingga Jika h( x) = ( g o f )( x) , maka
h' ( x ) = ( g o f )' ( x ) = ( g ( f ( x)) )' = g ' ( f ( x))( f ' ( x)) .......(2.4.1)

Rumus (4.5.1) di atas dikenal dengan nama Aturan Rantai yang dapat dituliskan secara singkat sebagai berikut Misalkan y = g (u ) dan u = f (x) maka fungsi komposisi y = g ( f ( x)) mempunyai turunannya sebagai: dy dy du = .......(2.4.2) dx du dx dy dengan notasi y ' = dx rumus (4.5.2) dapat diperluas untuk sejumlah berhingga komposisi-komposisi fungsi, misalnya y = f (u ) , u = u (v) dan v = v(x) , maka dy dy du dv = ...(2.4.3) dx du dv dx

Contoh Tentukan turunan fungsi komposisi berikut:


a. y = (6 x 5 5 x 4 + 8) 6 b. y = ln 5
x2 x4

Penyelesaian : a. y = (6 x 5 5 x 4 + 8) 6 , dapat dituliskan sebagai y = u 6


Dengan memisalkan u = 6 x 5 5 x 4 + 8 Akibatnya,
y = u6
du = 30 x 4 20 x 3 dx

dy = 6u 5 du

maka dengan aturan rantai, diperoleh :


dy dy du = dx du dx

dy = 6u 5 (30 x 4 20 x 3 ) = 6(6 x 5 5 x 4 + 8) 5 (30 x 4 20 x 3 ) dx

b.

y = ln ( 5

x2 ) x4
x2 x4 du = dv
1 5

Misalkan : v = dan u = v
1 5

dv x 4 4 x 3 ( x 2) 8 3 x = = dx x8 x5 4 1 1 5

5v

x2 4 x

y = ln u

dy 1 1 = = du u 5 v

1
5

x2 x4

, maka

dy dy du dv = dx du dv dx

dy 1 = dx x 2 5 4 5 x

1 8 3 x = 8 3x = 4 x 5 x2 x2 5x 5 4 4 x x

8 3x 5 x( x 2)

2.5. Turunan Fungsi Invers (Fungsi Balikan)


Teorema Misalkan f sebuah fungsi dengan persamaan y = f (x ) , kontinu dan monoton pada selang tutup [a, b] dan fungsi inversnya adalah f 1 ( y ) kontinu dan monoton pada selang [ f (a), f (b)] didalam [a, b] , maka turunan fungsi invers ini dinyatakan sebagai : 1 f 1 ' ( y ) = ; f ' ( x) 0, x [a, b] . (2.5.1) f ' ( x) atau dx 1 .....(2.5.2) = dy dy dx Contoh Tentukan fungsi invers, kemudian tentukan turunan fungsi invers tersebut bila diberi fungsi-fungsi berikut: 2x b. y = f (x) = a. y = f (x) = x2 2x 5; x 1 ;x 3 x3 Solusi : a. Metode pertama

( )

Kita cari dulu fungsi inversnya dengan menyatakan x sebagai fungsi dari y. y = x 2 2 x 5 = ( x 1) 2 6 y + 6 = ( x 1) 2 x 1 = y + 6 x = 1+ y + 6
1

jadi fungsi inversnya adalah : x = f

( y ) = 1 + y + 6 ; y 6

dengan mempertukarkan y dengan x diperoleh f 1 ( x) = 1 + x + 6 ; x > 6

dan turunannya adalah

[f

( x)

'

1 2 x+6

; x > 6

b. Metode kedua y = f ( x) = x 2 2 x 5 Karena f kontinu untuk x 1 , maka dy = 2 x 2 = 2( x 1) dx dan monoton turun pada x 1 serta mempunyai turunan

dx 1 1 = = ; x 1, dy dy 2( x 1) dx dx 1 = selanjutnya karena x 1 = y + 6 maka dy 2 y + 6

atau dalam variabel x diperoleh 2x ;x 3 x3

dx 1 = dy 2 x + 6

b.

y = f ( x) =

Metode 1
2x y ( x 3) = 2 x yx 2 x = 3 y x( y 2) = 3 y x 3 3y maka x = f 1 ( y ) = ;y2 y2 y= atau dalam variabel x dapat ditulis:
f
1

( x) =

3x ;x 2 x2

sehingga turunan fungsi invers ini adalah :


f
1

( x) =

3( x 2) 3x ( x 2) 2

6 ( x 2) 2

6 ( x 2) 2

;x 2

Metode II
y=

dy 2( x 3) 2 x 6 2x = = ;x 3 x3 dx ( x 3) 2 ( x 3) 2

maka

( x 3) 2 1 dx = = 6 dy dy dx
x3=

karena x =

3y maka y2

dan

3y 6 3 = y2 ( y 2) 2 dx = f dalam variabel x dapat dituliskan : dy

( )( x) = ( x 62)
1

2.6. Turunan Fungsi Pangkat rasional


Sudah dibuktikan pada uraian yang lalu bahwa untuk n bilangan bulat positif berlaku:

Jika y = x n , maka y ' = n.x n 1

, n bilangan bulat positif

Sekarang akan diberikan rumus yang sama untuk n bilangan rasional. Dari rumus turunan fungsi untuk r bilangan rasional berlaku Jika y = x r maka y ' = r.x r 1 r bilangan rasional . Selanjutnya, jika y = f ( x) = u r , dengan u = u (x) du dy maka , [Aturan rantai] = r.u r 1 .u ' , dengan u ' = dx dx dy Dalam hal ini notasi y ' = = f ' ( x) dx

Contoh
Tentukan turunan pertama fungsi y = f ( x) = 5 ( x 3 3 x + 2) 2
2

Penyelesaian :
y = f ( x) = 5 ( x 3 3 x + 2) 2 = ( x 3 3 x + 2) 2 / 5 = u 5 Dengan memisalkan : u = x 3 3 x + 2 u ' = 3 x 2 3 sehingga dy 2 2 5 1 = .u .u ' dx 5
=
3 2 3 ( x 3 x + 2) 5 (3 x 2 3) = 5

2(3x 2 2) 5 ( x 3 3 x + 2)
3 5

2.7 Turunan Fungsi Invers Trigonometri


2.7.1 FUNGSI ARC SINUS
Misalkan fungsi

f : x sin x
2 ' 2 [ 1,1]

Maka fungsi inversnya adalah


f
1

: x arcsin x ; [ 1,1]

Untuk setiap x, y , dapat dituliskan : y = arcsin x Untuk setiap x ( 1,1) dan setiap y ( / 2, / 2), diperoleh persamaan
x = sin y 2 y 2

, 2 2

y = arcsin (-1)

x = sin y x = sin y x = sin ( y ) y = arcsin x y = arcsin x

Jadi untuk setiap x [ 1,1] berlaku arcsin (-x)= - arcsin x. Hal ini menunjukan bahwa fungsi arcus sinus adalah fungsi ganjil. Untuk setiap y dimana
, 2 2

turunan fungsi x = sin y adalah f 1 ( y ) = cos y ,

f ( y ) = 0 untuk y = - / 2 dan y = / 2, f ( y ) 0 untuk y ( / 2, / 2)

Jadi untuk setiap x ( 1,1), maka f 1 (x ) = Karena cos 2 y = 1 sin 2 y = 1 x 2 maka cos y = 1 x 2 atau

d 1 (arcsin x) = dx cos y

cos y = - 1 x 2 tetapi y ( / 2, / 2 )

maka cos y > 0, sehingga cos y = 1 x 2 dan dapat ditulis :


f 1 ( x) = d (arcsin x ) = 1 2 ; x ( 1,1) (1) dx 1 x

Dengan penurunan yang sama diperoleh rumus rumus turunan fungsi invers trigonometri :
d 1 (arccos x) = 2 dx 1 x d 1 f (x ) = arctan x f ' (x ) = (arctan x) = ...................(2) 2 dx 1+ x d 1 f (x ) = arc sec x f ' (x ) = (arc sec x) = 2 dx x x 1 f (x ) = arccos x f ' (x ) =

Secara umum jika u = u(x) dan 1. y = arcsin u y ' = 2. 3.


d du 1 (arcsin u ) = 2 dx dx 1 u d 1 du y = arctan u y ' = (arctan u ) = dx 1 + u 2 dx d 1 du y = arc sec u y ' = (arc sec u ) = 2 dx u u 1 dx

Contoh Tentukan turunan fungsi berikut: a. y = arcsin x2 b. y = arctan e 2 x Penyelesaian :

a. y = arcsin x 2 maka dy = dx

Misal u = x 2 u 2 = x 4 1

du = 2x dx

1 x

( )

2 2

2x =

2x 1 x4

b. y = arctan e 2 x

( )
du = 2e 2 x dx 2e
2x

Misal u = e 2 x u 2 = e 4 x maka y =
1

1+ e

( )

2x 2

2e 2 x 1 + e4x

Catatan Dari contoh di atas dapat dituliskan


a). y = arcsin x2 x2 = sin y b). y = arctan e2x e2x = tan y

2.9 Turunan Tingkat Tinggi (Orde Tinggi)


Turunan sebuah fungsi, juga merupakan sebuah fungsi yang dapat diturunkan lagi asal memenuhi syarat-syarat turunan. Turunan kedua dari suatu fungsi f didefinisikan sebagai turunan dari fungsi turunan pertama, turunan ketiga didefinisikan sebagai turunan dari fungsi turunan kedua dan seterusnya. Turunan ke-n didefinisikan sebagai turunan dari fungsi turunan ke (n-1). Notasi Misalkan suatu fungsi f dinyatakan dengan persamaan y = f(x) maka notasi-notasi turunan pertama, kedua sampai turunan ke-n diberikan dalam tabel berikut: Tabel 4.9.1 Persamaan fungsi : y = f (x) dy Notasi y' ; ; f ' ( x) ; Dx y Turunan pertama dx d2y Notasi y' ' ; ; f ' ' ( x) ; D 2 x y 2 Turunan kedua dx d3y Notasi y' ' ' ; ; f ' ' ' ( x) ; D 3 x y Turunan ketiga dx 3 M M M M M n d y Notasi y (n ) ; ; f ( n ) ( x) ; D n x y n Turunan ke-n dx

df ( x) dx 2 d f ( x) ; dx 2 d 3 f ( x) ; dx 3 M n d f ( x) ; dx n
;

Jadi f ' ' ( x) =

2 d ( f ' ( x) ) = d df ( x) = d f ( x) dx dx dx dx 2

3 d ( f ' ' ( x) ) = d d ( f ' ( x) ) = d d df ( x) = d f ( x) dx dx dx dx 3 dx dx dx d ( n1) Secara umum turunan ke- n didefinisikan sebagai: f ( n ) ( x) = f ( x) dx atau dalam bentuk limit f ( n1) ( x + h) f ( n1) ( x) f ( n ) ( x) = lim h 0 h asal limitnya ada Contoh

f ' ' ' ( x) =

a. Tentukan turunan ke-4 dari f ( x) = 3 x 5 x 4 + 2 x 3 x + 1 b. Tentukan nilai turunan ke-3 di x = 0 dan x =/2 dari g ( x) = sin(3 x) 1 ; x 1 c. Tentukan rumus ke-n dari fungsi h( x) = 1 x

Solusi : a. f ( x) = 3 x 5 x 4 + 2 x 3 x + 1 , maka Turunan pertama : f ' ( x) = 15 x 4 4 x 3 + 6 x 2 1


Turunan kedua Turunan ketiga Turunan keempat b. g ( x) = sin(3x) , maka : f ' ' ( x) = 60 x 3 12 x 2 + 12 x : f ' ' ' ( x) = 180 x 2 24 x + 12 : f ( 4) ( x) = 360 x 24

g ' ( x) = 3 cos(3x) ;
Untuk x = 0

g ' ' ( x) = 9 sin(3x) ; g ' ' ' ( x) = 27 cos(3x)

maka g ' ' ' (0) = 27 cos(0) = 27

Untuk x = /2 maka g ' ' ' ( ) = 27 cos( 32 ) = 27(0) = 0 2 c. h( x) = 1 ; x 1 , turunan ken untuk fungsi h adalah: 1 x

h ( n ) ( x) =

n! ; x 1 (tunjukkan) (1 x) n+1

2.9 Turunan Fungsi Implisit


Misalkan sebuah fungsi dinyatakan dalam persamaan

y = f(x) , maka fungsi ini

selalu dapat dinyatakan dalam bentuk

F(x,y) = 0 , dimana

F ( x, y ) = y f ( x) atau

F ( x, y ) = f ( x) y . Sebaliknya, jika diberikan sebuah fungsi dalam bentuk F(x,y) = 0,

dengan diketahui y fungsi dari x, ternyata tidak selalu dapat dinyatakan dalam bentuk y =

f(x). Perhatikan illustrasi berikut:


(i)

y = f ( x) = 2 x 3 x + 3 [bentuk eksplisit]

(ii) F ( x, y ) = x 3 + 2 y 3 3 x 2 y 4 xy 2 y Tampak bahwa bentuk (i) dapat dinyatakan dalam bentuk F(x,y) = 0 yaitu

F ( x, y ) = 2 x 3 x + 3 y = 0 [Bentuk implisist]
Sedangkan bentuk (ii) tidak dapat dinyatakan dalam bentuk y = f(x) secara eksplisit. Fungsi yang dinyatakan sebagai

y = f(x) disebut fungsi eksplisit dan fungsi yang

terkandung dalam bentuk F(x,y)=0 disebut fungsi implisit. Setiap bentuk fungsi eksplisit merupakan bagian dari fungsi implisit, tetapi tidak sebaliknya. Secara geometri, grafik fungsi eksplisit merupakan bagian dari grafik fungsi implisitnya. Perhatikan persamaan (iii) x 2 + y 2 = 4 yang merupakan persamaan lingkaran berpusat di 0 dan berjari-jari 2. Bentuk persamaan (iii) ini dapat dinyatakan dalam beberapa bentuk eksplisit dengan batasan-batasan tertentu; yaitu

f ( x) = 4 x 2 ; x [2,2]
atau

g ( x) = 4 x 2 ; x [2,2]
Persamaan x 2 + y 2 = 4 x 2 + y 2 4 = 0 adalah bentuk fungsi dari F(x,y)=0, dimana F ( x, y ) = x 2 + y 2 4

y f ( x) = 4 x 2

g ( x) = 4 x 2

-2

0 2 Gambar 2.9

Dari gambar 4.5 di atas mudah ditunjukkan bahwa f dan g kontinu pada selang [ 2 , 2] dan terturunkan pada selang [ 2 , 2] . Demikian pula dari aturan x 2 + y 2 = 4 , kita dapat menyatakannya secara eksplisit

h( y ) = 4 y 2 dan l ( y ) = 4 y 2 . Jadi dari aturan F ( x, y ) = 0 , kita mengatakan bahwa y adalah fungsi implicit dari x, dan x adalah fungsi implicit dari y. Dan dari aturan F ( x, y ) = 0 ,mungkin terjadi y dapat dinyatakan secara eksplisit dalam x (atau sebaliknya), atau mungkin juga tidak. Perhatikan pula persamaan: x + 3 y 10 y 2 + 5 y 3 4 y 4 + 2 y 5 = 0 ini mendefinisikan secara implisit fungsi x dalam y atau x = f ( y ) , akan tetapi kita tidak mungkin menyatakan y dengan x atau y = f(x).
Selanjutnya kita pusatkan perhatian bagaimana menentukan turunan fungsi dalam

bentuk implisit.

Contoh
Tentukan a.

dy dari bentuk implisit berikut: dx x2 + y2 = 4 b. y 3 sin( x 2 ) = y 2 xy

Solusi : a. x 2 + y 2 = 4 , setiap suku diturunkan terhadap x , yaitu :


d 2 d d (x ) + ( y2 ) = ( 4) dx dx dx
2x + 2 y

dy dy x =0 = ; y0 dx dx y

Cara lain, kita tentukan dahulu fungsinya dalam bentuk eksplisit, kemudian kita turunkan. Dalam hal ini kita punyai:

y = f ( x) = 4 x 2
sehingga

atau

y = g ( x) = 4 x 2 , 2x

f ' ( x) = f ' ( x) =

2x
2 4 x x
2

4 x2 x f ' ( x) = y

2 4 x2 x g ' ( x ) = 2 4 x x g ' ( x) = y karena y = 4 x 2

g ' ( x) =

karena y = 4 x 2 b.

y 3 sin( x 2 ) = y 2 xy ,

( y + 2 xy 3 cos( x 2 )) dy (Tunjukkan) = dx (3 y 2 sin( x 2 ) 2 y + x)

Catatan Pada pembahasan bab mendatang akan diberikan rumus sederhana tentang turunan
fungsi implisit, setelah membicarakan turunan parsial. Rumus yang dimaksud sebagai berikut jika F(x, y) = 0 suatu fungsi implisit, maka turunan

F dy = x dx F y

2.10 Fungsi Parameter Dan Turunannya


Untuk memahami konsep fungsi parameter terlebih dahulu perhatikan illustrasi berikut:

Misalkan suatu fungsi f : , yang ditentukan oleh persamaan : 1. y = F ( x) = 2 x x 2 . Fungsi F ini dapat dituliskan sebagai sepasang fungsi dalam variabel lain t dalam beberapa bentuk antara lain:

x = f (t ) = t 1 y = g (t ) = t 2 + 4t 3, t 1 x = f (t ) = t x = f (t ) = e t d. c. t 2t 2t 1 ;t y = g (t ) = 2e e y = g (t ) = 2 ; t , t 0 t Perhatikan bahwa eliminasi t dari keempat persamaan di atas akan menghasilkan persamaan
a. b.

x = f (t ) = t y = g (t ) = 2t t 2 ; t

bentuk asalnya (i). Grafik fungsi F dari persamaan (i) adalah sebuah parabola di R2, dan pada setiap persamaan (a),(b),(c) dan (d) diatas, titik (x,y) = (f(t),g(t)) terletak pada grafik parabola y = 2 x x 2 . (lihat gambar 2.10)

Keempat pasang persamaan di atas disebut persamaan fungsi parameter t dari F ( x) = 2 x x 2

y y = 2x x2 1 0 1
Gambar 2.10

(x,y)=(f(t),g(t) 2 x

Definisi (fungsi parameter)

46

Misalkan f D, maka :

dan g masing-masing adalah fungsi yang terdefinisi pada daerah asalnya x = f (t ) y = g (t ) ; t D t sebagai parameter, dan

menyatakan suatu persamaan fungsi parameter dengan

grafiknya adalah himpunan titik-titik di R2 yaitu {( x, y ) x = f (t ); y = g (t ), t D} .


TURUNAN FUNGSI PARAMETER

Perhatikan fungsi parameter

x = f (t ) = cos t y = g (t ) = 2 cos t + sin 2 t 1 y = H(x)

Bila parameter t dieliminasi dari kedua persamaan tersebut, diperoleh fungsi dengan x = f(t) sebab

y = 2 cos t + sin 2 t 1

= 2 cos t + 1 cos 2 t 1 = 2 cos t cos 2 t , sehingga y = 2 x x 2 ; x = cos t


Persamaan terakhir ini dapat ditulis sebagai bentuk eksplisit : y = 2 x x 2 maka y = H(x) atau bentuk implisit : y 2 x + x 2 = 0 maka G (x,y)=0 Jadi jika diberikan fungsi parameter dengan persamaan menyatakan dalam bentuk sederhana sebagai: y = H ( x) dengan
Dengan menggunakan aturan rantai diperoleh:

dengan x = f(t)

x = f (t ) y = g (t ) ; t D

kita dapat

x = f (t )

dy dy dx = dt dx dt

dy dy dx = dt ; 0 dx dx dt dt

yang merupakan turunan fungsi parameter.


Teorema Misalkan x = f(t) dan y = g(t), t D masing-masing fungsi yang mempunyai turunan

terhadap peubah t dengan

dx 0 dan menyatakan suatu persamaan fungsi parameter yang dt dy dy g ' (t ) = dt = dx dx f ' (t ) dt

dinyatakan dalam bentuk y = H(x) atau G(x,y) = 0, maka turunan y terhadap x adalah:

Turunan kedua diberikan oleh :

y' ' =
Contoh

d 2 y f ' (t ) g ' ' (t ) f ' ' (t ) g ' (t ) = dx 2 ( f ' (t ))3

Tentukan

dy dari fungsi parameter berikut: dx a. x = t ; y = 2t t 2 , t b. x = 5 cos 2t ; y = 5 sin 2t , 0 < t

Penyelesaian : Dengan menggunakan teorema di atas diperoleh: dy dy 2 2t a. = dt = = 2 2x dx dx 1 dt

dy x dy 10 cos 2t cos 2t x b. = dt = = = 5 = dx dx 10 sin 2t sin 2t y y dt 5

T U G A S 4.
I. Tentukan tanjakan (gradien) garis singgung di titik yang diberikan , kemudian tentukan pula persamaan garis singgung tersebut. Gambar kurva dan garis singgungnya
1. 3. 5.

f ( x) = x 2 ; di x = 1 f ( x) = 4 x 3 ; di x = 1

1 ; di x = 2 x 4. f ( x) = 2 x ; di x = 2
2. f ( x) =

II.

III.

x +1 ; di x = -1 f ( x) = x ; x 0 ; di x = 0 6. f ( x) = x ; x>0 x2 Gunakan definisi turunan untuk menentukan turunan fungsi pada titik yang diberikan 2+ x 1. f ( x) = x 2 2 x ; di x = 0 2. f ( x) = ; di x = 1 3 x Gambar grafik fungsi, selidiki apakah f kontinu di x = a dan tentukan turunan kiri dan turunan kanan di x = a serta selidiki apakah f(a) ada. 2 x 2 x ; x 1 1. f ( x) = ; x=4 2. f ( x) = 1 x ; x 1 ; x = -1 dan x 2 ;x <1 x x 1 ; x > 1 Dalam soal nomor 26 sampai 30, misalkan sebuah benda jatuh dari keadaan diam, dalam t detik di tempuh jarak s meter sehingga s = 16t2 . Tentukan kecepatan sesaat atau laju sesaat benda jatuh tersebut pada saat a=3 detik dan a=0,75

=1 IV.

V.

Sebuah partikel bergerak sepanjang suatu garis koordinat. s adalah jarak dari titik asal yang ditempuh pada akhir t detik dalam satuan kaki. Tentukan kecepatan sesaat partikel tersebut pada akhir a detik. a. s = 2t 2 + 5 ; a = 1,7 b. s = t 2 + 7 ; a=3

VI. Tentukan fungsi turunan pertama dari fungsi-fungsi berikut :


1.

f ( x) = 2 x 3 3 x + 4

4. y 2 = 8 x 5. f ( x) = ( x 2) 6. f ( x) =
1 3

2. f ( x) = 1 2 x
2x +1 ; x > 1 3. f ( x) = 2 x ; x 1

1 2 x

VII. Tentukan turunan fungsi berikut dengan menggunakan rumus-rumus dasar turunan 1.
f ( x) = x + 1 + 4 ( x 3) 2

2. f ( x) = ( x 2 x + 2)(2 x 3 3)

2. 5.

f ( x) = ( x 2 x) sin x
f ( x) = 2 x ln x 3

4. g ( x) = 6.
f ( x ) = x. 2 x

1+ x 2 2x 1

7.

f ( x) = x x

VIII. Tentukan Tururnan dari setiap fungsi komposit berikut : 1 t 3 1 f ( x) = x + 3 x 2. F (t ) =


1+ t

3. F ( x) = sin(cos x )

4. F (t ) = sin

1 t 1+ t

IX. Tentukanlah fungsi invers dan turunan fungsi invers dari fungsi: 2

1. y = f ( x ) = x 2 x 3 ; x 1 3. y = x
3 2

; x>0

2. y = 2 x ; x < 2 x 1 4. y = x +1

X.

Tentukanlah turunan pertama fungsi

1 y = arcsin (3x )
XI. Tentukan f(x) 1.

1 2, y = arcsin e x 2

( )
sin x ex

3. y = (3x 1)arccos x 2

( )

f ( x) = x 3 + 3 x 2 5 x + 4

2. f ( x) =

3. f ( x) = ( x 2 + 3) 2 dy , dari persamaan yang dx

XII. Gunakan rumus turunan fungsi implisit untuk menentukan diberikan di bawah ini: 1. 2. 3. 4. 4 x 3 + 11xy 2 2 y 3 = 0
xy + 3 y = 10 x

x 2 xy = x 3 sin y 2
x 2 y 3 x y = 2 x

XIII Tentukan

dy dari fungsi parameter berikut: dx x = 3t + 5 x = t + 9 1 2. 1. y= ; t>0 y= t ; t0 t x = 2 cos t y = 2 cos( 1 t ) ; t 2

3.

BAB III

PENUTUP

Keberhasilan mahasiswa memahami konsep turunan

akan memudahkan

menerapkan matematika ada bidang ilmu lain seperti pada teknik, pertanian dll.

DAFTAR PUSTAKA

10. Dale Varberg & Edwin J. Purcell (1999) Calculus with Analytic Geometry Sixth Edition. Prentice-Hall, International, Inc. New Jersey. 11. James Stewart (2000) Kalkulus. Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta. 12. Lois Leithold (1987). Kalkulus & Ilmu Ukur Analitik. Edisi Pertam. PT.Bina Aksara. Jakarta.

MODUL 5
Judul : Aplikasi Turunan

BAB I. Pendahuluan Q. Latar Belakang

Modul ini akan dibahas penggunaan turunan pada masalah ekstrim (maksimum dan minimum suatu fungsi dan bidang ilmu lain. Pada kegiatan modul 5, khususnya akan dibahas mengenai penggunaan turunan pada masalah ekstrim, penggunaan turunan pada ilmu sains dan rekayasa, dan penggunaan turunan dalam ilmu ekonomi.

R. Ruang Lingkup Isi

Adapun ruang lingkup materi modul 5 ini meliputi : Maksimum dan minmum fungsi , kemonotonan fungsi, Jenis ekstrim, teorema Rolle, teorema nilai rata-rata, dan penggunaan turunan pada ilmu sains dan rekayasa, serta penggunaan turuanan dalam bidang ekonomi..

S. Kaitan Modul

Modul ini merupakan sebelumnya .

konsep dasar bagi pengguna matematika untuk

berbagai bidang ilmu dan sangat erat kaitannnya dengan modul-modul

T. Sasaran Pembelajaran

1. Mahasiswa dapat menetukan jenis dan nilai ekstrim suatu fungsi 2. Mahasiswa dapat rekayasa 3. Mahasiswa dapat menggunakan turunan yang berkaitan dengan masalah ekstrim 4. Mahasiswa dapat menggunakan turunan dalam bidang ilmu ekonomi menggunakan turunan dalam bidang ilmu sains dan

BAB II. Pembahasan


2.1. Maksimum Dan Minimum
Konsep turunan fungsi yang telah dibahas pada bab sebelumnya akan digunakan untuk mempelajari perilaku grafik fungsi. Suatu grafik fungsi dapat ditelusuri jejaknya bilamana kita telah mendapatkan informasi tentang: Selang naik atau turun suatu fungsi (kemonotonan); Titik-titik di mana fungsi mencapai nilai maksimum atau minimum; Perilaku garis singgung terhadap grafik fungsi; Titik balik (Infleksi) dari grafik fungsi (jika ada); Asimtot-asimtot grafik fungsi dan lain sebagainya.

Kita mulai pembahasan pasal ini dengan konsep kemonotonan (naik turunnya) suatu fungsi.

2.1.1 Kemonotonan Suatu Fungsi


Ingat kembali definisi, jika f suatu fungsi yang terdefinisi pada sebuah selang sembarang I (terbuka, tertutup, setengah tutup), maka besarnya kenaikan f antara dua titik berbeda x1 y dan x pada I adalah sebuah bilangan :
2

f ( x2 ) f ( x1 ) x2 x1 Sebuah fungsi f dikatakan (i). monoton naik (increasing) pada I sepasang bilangan x1, x2 I,
x1 < x2 f ( x1 ) < f ( x2 ) . Lihat gambar 5.1.

f(x2) f(x1) 0

monoton naik pada I

x
gambar 5.1

(ii). monoton turun (decreasing) sepasang bilangan x1, x2 I


x1 < x2

pada I f(x1)

f monoton turun pada I

f ( x1 ) > f ( x2 ) . Lihat gambar 5.2

f(x2) 0 x1
gambar 5.2

x I x2

(iii). monoton tak turun pada I sepasang bilangan x1, x2 I


x1 < x2 f ( x1 ) f ( x2 ) . Perhatikan gambar 5.3.

y f(x2 f(x1 0 x I
gambar 5.3

monoton tak turun pada I

(iv). monoton tak naik pada I sepasang bilangan x1, x2 I


x1 < x2 f ( x1 ) f ( x2 ) (gbr.5-4)

y f(x1 f(x2 0 x I f

monoton tak naik pada I

gambar 5.4

(v).(Kasus khusus) f konstan pada I sepasang bilangan x1, x2 I


x1 < x2 f ( x1 ) = f ( x2 )

y f f(x1) = f( ) 0
Konstan pada I

x x I x

gambar 5.5

Jika salah satu sifat di atas dipenuhi oleh f, maka dikatakan f monoton pada I. Ingat kembali bahwa f suatu fungsi satu-satu pada I bilamana untuk setiap pasang x1, x2 I, x1 x2 f(x1) f(x2). Ini berarti bahwa jika f monoton naik (naik murni) pada I maka f adalah fungsi satu-satu pada I, demikian pula kalau f monoton turun (turun murni) pada I maka f adalah fungsi satu-satu pada I. (lihat gambar 5.1 dan 5.2).

Teorema 1

Misalkan f fungsi kontinu pada selang sembarang I dan f terturunkan pada setiap titik dalam I. (i) (ii) Jika f ' ( x) > 0, x I , maka f monoton naik pada I Jika f ' ( x) < 0, x I , maka f monoton turun pada I

Teorema 2 (Titik kritis)

Andaikan f terdefinisi pada selang I yang memuat titik c. Jika (c, f (c) ) adalah titik ekstrim, maka (c, f (c) ) haruslah suatu titik kritis, yakni berupa salah satu dari

(i). titik ujung interval I (ii) titik stasioner dari f ( f ' (c) = 0 ) (iii) titik singular dari f ( f ' (c) = tidak ada ) Titik kritis suatu fungsi adalah titik-titik yang diduga merupakan titik ekstrim fungsi tersebut. Jika nilai-nilai ekstrim fungsi ada, maka nilai-nilai tersebut terdapat pada bilanganbilangan kritis fungsi. Akan tetapi tidak selamanya setiap bilangan kritis c dapat menjamin keberadaan f(c) sebagai ekstrim relatif. Teorema 3 Misalkan f sebuah fungsi yang terdefinisi pada selang terbuka I yang memuat c. Jika f mencapai ekstrim relatif pada x = c maka haruslah f(c) = 0 atau f(c) tidak ada.
Catatan

1. Kebalikan teorema 3 tidak berlaku, yaitu bilamana f(c) = 0, fungsi f belum tentu mencapai ekstrim relatif pada titik x = c. Sebagai contoh : f ( x) = x 3 , jelas bahwa f(0) = 0, namun titik (0,0) bukan titik ekstrim relatif fungsi f (gambar 5-6 a). 2. Bisa juga terjadi kasus di mana f(c) tidak ada, namun fungsi f mencapai ekstrim relatif pada titik x = c. Sebagai contoh: g ( x) = x 1 , maka fungsi g mencapai minimum relatif di x = 1, namun g(1) tidak ada (gambar 5-6 b). Perhatikan ilustrasi dalam gambar 5.6 berikut : y f(x) = x3 x
f(0) = 0, tapi (0,0) bukan titik ekstrim relatif

g ( x) = x 1

x 0 (1,0 ) titik (1,0) merupakan titik


minimum relatif f, namun g(1) tidak ada

gambar 5.6 2.1.2 Hubungan Kemonotonan, Garis Singgung Dan Turunan Pertama

Pandanglah sebuah fungsi f yang dapat diturunkan pada suatu selang I, maka ada cara sederhana untuk menentukan pada selang mana fungsi f naik atau turun.

(i) Jika fungsi f dapat diturunkan pada selang I, maka setiap titik pada grafik f dalam I dapat dibuat (ada) garis singgung pada titik tersebut. (ii) Pada bagian grafik yang naik, tanjakan garis singgung di suatu titik pada grafik f positif (arah garis singgung menunjuk ke kanan atas), maka nilai fungsi dititik berikutnya akan lebih besar dari nilai fungsi di titik sebelumnya, sehingga fungsi f monoton naik. Sebaliknya dalam hal tanjakan garis singgung di suatu titik pada grafik f negatif, maka nilai fungsi f monoton turun. (iii) Oleh karena tanjakan garis singgung dapat disimpulkan bahwa: 1. f naik apabila f(x) > 0 2. f turun apabila f(x) < 0 3. f stasioner apabila f(x) = 0 (Lihat gambar 5.7) y A pada sebuah titik (x,f(x)) adalah f(x), maka

Tanjakan 0
f
Tanjakan (-) Tanjakan (+)

C
Tanjakan (-)

Tanjakan 0
0
Variasi naik turun Prilaku Grafik f
Turun Pada selang [x1,x2] f(x)<0 Turun Pada selang [x1,x2] f(x)<0

x1

x2

x3

x4

Naik Pada

Gambar 5.7 2.1.3 Nilai Maksimum Dan Minimum Fungsi Kontinu

Sebuah fungsi f : A R dikatakan mencapai (i) nilai maksimum di titik a A jika f ( x) f (a ), x A, nilai minimum di titik a A jika f ( x) f (a), x A, (ii)

Teorema 1 (Ekstrim Absolut) Misalkan f sebuah fungsi kontinu dalam interval tertututp [a,b]. Maka fungsi f dijamin mempunyai nilai maksimum dan nilai minimum pada [a,b]

Teorema 2 (Lokasi Ekstrim Absolut) Misalkan f sebuah fungsi kontinu pada interval tertutup [a,b]. Maka ekstrim fungsi f dalam interval ini dicapai pada salah satu dari (i). pada ujung interval a atau b (ii) pada titik x didalam (a,b), dimana f ' ( x) = 0 atau f ' ( x) tidak ada .

Perhatikan gambar 5.8 , fungsi f terdefinisi pada selang tertutup [a,b]. Maka dijamin ada nilai maksimum absolut yaitu f(a) dan nilai minimum absolut yaitu f(b). Titik A=(a,f(a)) sebagai titik minimum absolut dan titik B=(b, f(b)) sebagai titik maksimum absolut. R P Q A
f(a)

T S

B
f(b)

f(x4) f(x5) f(x1) f(x2) f(x3) X1 X2 X3 X X

U f(x6)

x X b
gambar 5.8

5.2. Ekstrim Lokal (Relatif)


Perhatikan gambar 5.9,fungsi f terdefinisi pada (a,b), tetapi f tidak terdefinisi pada ujung-ujung interval (a dan b), sehingga meskipun seolah-olah titik A titik terendah dan titik B titik tertinggi, namun keduanya bukan titik minimum dan maksimum. Titiktitik P, R, dan T merupakan titik-titik maksimum relatif dari fungsi f, dan f(x1), f(x3), dan f(x5) merupakan nilai-nilai maksimum relatif f. Titik-titik Q, S, dan U merupakan titik-titik minimum relatif dari fungsi f, dan f(x2), f(x4), dan f(x6) merupakan nilainilai minimum relatif f. R P Q A
f(a)

T S

B
f(b)

f(x4) f(x5) f(x1) f(x2) f(x3) X1 X 2 X3 X X

U f(x6)

x X b
Gambar 5.9

Definisi (ekstrim lokal(Relatif) (i) f(a) dinamakan nilai maksimum relatif (lokal) fungsi f di x = a bilamana terdapat selang terbuka I yang memuat a, sehingga: f (a) f ( x), x I dan titik (a,f(a)) dinamakan titik maksimum relatif dari fungsi f. (ii) f(a) dinamakan nilai minimum relatif (lokal) fungsi f di x=a bilamana terdapat selang terbuka I yang memuat a, sehingga: f (a) f ( x), x I dan titik (a,f(a)) dinamakan titik minimum relatif dari fungsi f

Pertanyaan Eksistensi ekstrim


Misalkan sebuah fungsi

f : A R , apakah f mempunyai nilai ekstrim pada A ?.


y

Jawabnya tergantung pada : (i). Tergantung pada himpunan A tersebut. Ambillah misalnya f ( x) = x 3 pada A = (, ) , maka fungsi ini tidak mempunyai nilai maksimum dan nilai minimum (gambar 5.10).

f(x) = x3 0 x

gambar 5.10a

Untuk fungsi f yang sama pada selang A = 1 2 , 1 mempunyai nilai maksimum f(1)=1, dan nilai minimum f ( 1 ) = 1 (gambar 5.10b). 2 8
-1/2

f(x) = x3 x 0 1

gambar 5.10b

Untuk fungsi yang sama pada selang A = [ 1 , 1) tidak mempunyai nilai maksimum, 2 tetapi nilai minimumnya f ( 1 ) = 1 2 8

y -1/2 0 1

f(x) = x3

(gambar 5.10c). (ii). Juga tergantung pada tipe fungsinya. Ambillah fungsi tak kontinu

gambar

g : [0,2] R
yang didefinisikan x ; 0 x <1 g ( x) = 2 x + 2 x + 1; 1 x 2 Pada A= [0,2] fungsi g tidak mempunyai nilai maksimum tetapi nilai minimumnya g(0) = 0 (gambar 5.10d). 2 1 0

x 1
gambar

Uji kemonotonan fungsi

(i). Jika f ' ( x) > 0 pada suatu interval I, maka grafik f monoton naik pada I (ii). Jika f ' ( x) < 0 pada suatu interval I, maka grafik f monoton turun pada I Uji ekstrim dengan turunan pertama
Teorema 1 (The first derivative test)

Misalkan c adalah bilangan kritis untuk f dan f kontinu pada di titik c , maka (i). Jika f ' berubah tanda dari positif ke negative pada c, maka (c,f(c)) merupakan titik maksimum lokal. (ii). Jika f ' berubah tanda dari negatif ke positif pada c, maka (c,f(c)) merupakan titik minimum lokal. (iii) Jika f ' tidak berubah tanda pada c, maka (c,f(c)) bukan titik ekstrim lokal.

Turunan kedua sebuah fungsi juga dapat digunakan untuk menyelidiki kecekungan kurva fungsi. Turunan kedua dari fungsi f didefinisikan sebagai
f " ( x) = lim
h 0

f ' ( x + h) f ' ( x ) h

. d2y = f " ( x) . dx 2

Notasi: Jika y = f (x) maka turunan kedua dinotasikan Uji kecekungan (Test for Concavity)

Misalkan f terturunkan dua kali pada interval terbuka I (i). Jika f " ( x) > 0 pada I , maka f cekung keatas pada setiap titik dalam I. (ii). Jika f " ( x) < 0 pada I , maka f cekung kebawah pada setiap titik dalam I. Hubungan antara turunan pertama, turunan kedua dan kecekungan diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Jika f " > 0 dan f ' ( x) monoton naik, grafik f cekung ke atas

Cekung keatas

f ' ( x) < 0

f " ( x) > 0
gambar 5.11

f ' ( x) > 0

Jika f " > 0, dan f ' ( x) monoton naik grafik f cekung ke bawah
` Cekung kebawah

f ' ( x) > 0
f "< 0
gambar 5.12

f ' ( x) < 0

Uji turunan kedua untuk jenis ekstrim lokal Misalkan f ' (c) = 0 1. f (c) merupakan nilai maksimum lokal jika f " (c) < 0 . 2. f (c) merupakan nilai minimum lokal jika f " (c) > 0 . 3. Jika f " (c) = 0 , uji ini gagal (tidak ada kesimpulan jenis ekstrim).
Contoh :

Diberikan fungsi f : R R dengan persamaan: f ( x) = x 3 3 x 2 + 2, Maka 1. 2. 3. f mencapai maksimum lokal dititik (0,2) dengan nilai maksimum lokal f(0)=2. f mencapai minimum lokal dititik (2,-2) dengan nilai minimum lokal f(2)= - 2. Grafik f monoton naik pada selang y

xR 2 f x 0 1 2

( , 0) (2 , )
dan monoton turun pada selang (0,2) . 4. 5. f mencapai titik belok di (1,0). f Cekung ke bawah pada selang ( ,1) dan cekung ke atas pada selang (1, ) .
Teorema 2 (Ekstrim absolut)

(2,-2)

gambar 5.13a

Misalkan fungsi f kontinu pada selang tertutup [a,b], maka ada bilangan-bilangan c1 dan c2 pada selang [a,b] sehingga f(c1) dan f(c2) masing-masing merupakan nilai maksimum mutlak dan minimum mutlak fungsi f pada [a,b].
Catatan

1. Kebalikan teorema ini tidak berlaku, artinya terdapat beberapa fungsi yang mencapai nilai maksimum dan minimum mutlak pada selang tertutup [a,b], tetapi fungsi tersebut tidak kontinu pada [a,b]. 2. Bila suatu fungsi terdefinisi pada selang setengah tutup (a,b] atau [a,b), teorema belum tentu berlaku.
Contoh

f : [0,2] , diskontinu dan didefinisikan


sebagai ; 0 x <1 f ( x) = x 2 x + 2 x + 1; 1 x 2 Jelas bahwa f mencapai nilai maksimum mutlak f(1) = 2 di titik x = 1 dan nilai minimum mutlak f(0) = 0 di titik x = 0, namun dalam hal ini f tidak kontinu di x = 1. Langkah-langkah menentukan ekstrim absolut 2 1 0

x 1 2

Gambar 5-14

i) Tentukan nilai fungsi f(a) dan f(b) yaitu nilai fungsi pada ujung-ujung selang tertutup [a,b]. ii) Tentukan semua titik-titik kritis fungsi f pada selang tertutup [a,b]. iii) Nilai fungsi yang terkecil yang diperoleh dari langkah (i) dan (ii) merupakan nilai minimum mutlak f pada selang tertutup [a,b], dan nilai terbesar merupakan nilai maksimum mutlak f pada selang tertutup [a,b].

2.3. Titik Balik (Titik Infleksi)


Perubahan kemonotonan suatu fungsi kontinu menghasilkan titik ekstrim relatif pada grafik fungsi. Sedangkan perubahan kecekungan suatu fungsi kontinu menghasilkan suatu titik balik (point of inflection) bilamana di titik tersebut terdapat garis singgung pada grafik fungsinya.
Definisi

Misalkan f suatu fungsi kontinu yang terdefinisi pada selang terbuka I yang memuat c. Titik (c,f(c)) dinamakan titik balik dari fungsi f jika kedua syarat berikut dipenuhi: (i) (ii)
Catatan

Terdapat garis singgung pada grafik f di titik (c,f(c)). Terdapat perubahan kecekungan dari fungsi f di sekitar titik x = c.

1. Syarat adanya garis singgung pada fungsi f di titik baliknya tidak ekivalen dengan fungsi f mempunyai turunan di x = c. 2. Perubahan kecekungan yang dimaksudkan adalah apabila ada selang terbuka (a,b) yang memuat c sehingga f cekung ke atas pada (a,c) dan cekung ke bawah pada (c,b) atau sebaliknya. 3. Garis singgung di titik balik akan melintasi grafik fungsi f. lihat gambar 5.17a dan gambar 5.17b. y
Titik balik

y
Titik balik
Garis singgung

Garis singgung

x 0
Teorema

x 0 a c b
gambar 5.17b

gambar 5.17a

Misalkan f terdiferensial pada selang I , dan misalkan c sebuah titik dalam I dan misalkan pula f ' ' kontinu di c. Jika titik (c,f(c)) adalah titik balik dari grafik f maka

f ' ' (c ) = 0 .
Catatan
f ( x) = x 4

1. Kebalikan teorema tersebut tidak benar. Artinya bilamana

2 1 -1 0 1

f ' ' (c) = 0 , belum tentu

(c,f(c))

merupakan titik balik fungsi f. Sebagai ilustrasi fungsi f ( x) = x 4 , maka f ' ' ( x) = 12 x
2

dan f ' ' (0) = 0 akan tetapi titik

Gambar 5.18

(0,0) bukan titik balik karena f " ( x) > 0, x 0 , ini berarti bahwa grafik fungsi f cekung ke atas untuk setiap x 0. lihat gambar 5.18.

2. Sebaliknya, titik (c,f(c))

dapat merupakan titik

balik grafik f meskipun f ' ' (c) tidak ada.

Contoh :

Tentukan titik-titik balik fungsi berikut dan gambar grafiknya. a.

f ( x) = 1 x 3 + 1 2
1

b. g ( x) = x 3 + 3
Penyelesaian :

a.

f ( x) = 1 x 3 + 1 2

f ' ( x) = 3 x 2 2 f ' ' ( x) = 3 x .


Jelas bahwa f ' ( x) = 3 x 2 kontinu di R. Jadi 2 titik (0,1). Turunan kedua

y
Titik balik

(0, 1) 0
gambar 5.19

f(x) = 0. Akibatnya grafik f mempunyai garis singgung di f ' ' ( x) = 3 x jelas bahwa f(x) > 0 untuk x > 0 dan f(x) < 0 untuk x < 0. Jadi f(x) f, lihat

berubah tanda di sekitar x = 0. Karenanya titik (0,1) adalah titik balik dari fungsi gambar 5.19. b. g ( x) = x 3 + 3
1

y
Titik belok
1 3
2 3

g(x) g(x) < (0,3) 0 x

g ' ( x) = x g ' ' ( x) =


2 9

g(x) > 0

Dalam hal ini satu-satunya nilai x = 0 yang membuat g(x) tidak ada. Jadi titik (0,3) merupakan titik kritis. Selanjutnya, untuk x = 0, tampak bahwa g(0)
g ' ' ( x) =

gambar 5.20

tidak ada. Tetapi

2 ada untuk setiap x 0 dan 5 9x 3

g ' ' ( x) > 0, x < 0,

g" ( x) < 0, x > 0

Jadi untuk x < 0 grafik

g cekung ke atas dan untuk x > 0 grafik g cekung ke

bawah. Sehingga terjadi perubahan kecekungan grafik g di sekitar x = 0. Jadi (0,3) merupakan titik balik grafik g, meskipun g(0) tidak ada, lihat gambar 5.20.
Catatan

g ( x) g (0) x 3 +33 g ' (0) = lim = lim x 0 x 0 x0 x0


1

g ' (0) = lim x


x 0

= + .

Ini berarti meskipun g(0) tidak ada, tetapi grafik g masih mempunyai garis singgung di titik (0,3) yaitu sumbu y.

2.4. Teorema Rolle Dan Teorema Nilai Rata-Rata


2.4.1 Teorema Rolle
Misalkan f suatu fungsi yang kontinu pada selang tertutup [a,b] dan mempunyai turunan pada selang terbuka (a,b) serta f(a) = f(b), maka ada bilangan c (a,b) sedemikian sehingga f (c) = 0. Teorema Rolle ini menjelaskan secara geometri bahwa jika f kontinu dan memiliki turunan pada setiap titik (a, b) dan jika f(a) = f(b) maka ada paling sedikit satu titik pada grafik f antara x = a dan x = b yang garis singgungnya sejajar dengan sumbu x. (lihat gambar 5.25a). Jika antara x = a dan x = b ada sebuah titik di mana f tidak memiliki turunan, maka ada kemungkinan grafik f tidak memiliki garis singgung horisontal, walaupun f kontinu dan f(a) = f(b), lihat grafik 5.25b. Dalam hal ini teorema Rolle tidak berlaku. Selanjutnya teorema Rolle ini memungkinkan kita mengetahui lokasi terjadinya titik ekstrim fungsi. y
Teorema Rolle berlaku

y f(a) = f(b) 0a

Teorema Rolle

f(a) = f(b) 0a c b x

gambar 5.25a

gambar 5.25b

Contoh :

Diberikan fungsi dengan persamaan:

f ( x) = 1 x 3 2 x 6

a. Tentukan selang tertutup pada daerah definisi fungsi f dimana syarat teorema Rolle dipenuhi. b. Tentukan nilai c pada selang terbuka dari jawaban (a) yang memenuhi kesimpulan teorema Rolle.
Penyelesaian :

a. Grafik fungsi f memotong sumbu-x bilamana f(x) = 0, yaitu f ( x) = 1 x 3 2 x = x( 1 x 2 2) = 0 6 6 diperoleh titik-titik x = 0; x( x + 2 3 )( x 2 3 ) = 0 x = 2 3 , dengan

x = 2 3 ;

f(0) = 0; f (2 3 ) = 0 ; dan f (2 3 ) = 0 disini jelas pula bahwa fungsi f kontinu dan mempunyai turunan pada R. Karena itu syarat teorema Rolle dipenuhi pada selang tertutup: [2 3 ,0] ; [2 3 ,2 3 ] . b. Karena syarat teorema Rolle dipenuhi oleh fungsi f pada selang tertutup [2 3 ,0] , maka ada bilangan c (2 3 ,0) sehingga f (c) = 0. Karena
1 2

[0,2 3 ] ; dan

f ' ( x) = 1 x 2 2 kontinu pada 2

R sehingga

f ' (c) = 1 c 2 2 , akibatnya 2

c 2 2 = 0 , menghasilkan c1 = -2 dan c2 = 2. Yang dipilih adalah c1 = -2 karena c

harus terletak pada selang (2 3 ,0) . Jadi bilangan c yang memenuhi teorema Rolle pada selang (2 3 ,0) adalah -2. Dengan cara yang sama, maka pada selang (0,2 3 ) , nilai c yang memenuhi teorema Rolle adalah 2. Terakhir pada selang (2 3 ,2 3 ) , nilai c yang memenuhi teorema Rolle -3
gambar 5.26

y 2 3

3 2 1 1

f(x) 2x 3

2 3

adalah c1 = -2 dan c2 = 2. Perhatikan gambar 5.26.

2.4.2 TEOREMA NILAI RATA-RATA

Misalkan f suatu fungsi yang memenuhi syarat : (i) f kontinu pada selang tertutup [a,b]

(ii)

f mempunyai turunan pada selang terbuka (a,b) f (b) f (a) ba y f(b)

maka ada suatu bilangan c (a,b) sehingga: f ' (c ) = atau

f (b) = f (a) + (b a) f ' (c)

f(a) 0

A x a c
Gambar 5.28

Catatan:

Teorema nilai rata-rata adalah perluasan teorema Rolle atau dapat dikatakan teorema Rolle adalah hal khusus dari teorema nilai rata-rata. Secara geometri, teorema nilai ratarata mengatakan bahwa jika grafik fungsi kontinu memiliki garis singgung pada tiap titik antara A dan B gambar 5.28, maka ada paling sedikit satu titik pada kurva antara A dan B yang garis singgungnya sejajar dengan tali busur AB.
Contoh

Diberikan:

f : [4,9] ,

f ( x) = 2 x

Tentukanlah nilai c dalam selang terbuka (4,9) yang memenuhi teorema nilai ratarata.
Penyelesaian :

f ( x) = 2 x , maka f ' ( x) =

1 , sehingga f kontinu dan f ada untuk semua x > 0. Jadi f x

memenuhi syarat-syarat teorema nilai rata-rata pada selang [4,9]. Maka ada bilangan c (4,9) sehingga : f ' (c ) = Dalam hal ini 25 f (9) f (4) 2 f ' = = 94 5 4 merupakan tanjakan garis AB ( tanjakan garis singgung kurva di titik P). Lihat gambar 5.29. 0 1 4 c 9 f (9) f (4) f (b) f (a) f ' (c ) = ba 94 6 4 1 64 25 c= = 5 4 c y B f P A

x
gambar 5.29

(i)

g ( x) =

x;

1 x 9

x Dalam bentuk tidak mengandung nilai mutlak : g ( x) = x 1 ;0< x<9 2 x g ' ( x) = dan 1 ; 1 < x < 0 2 x mudah ditunjukkan bahwa g (0) tidak ada

; 0 x9 ; 1 x < 0

a. Jelas bahwa g kontinu pada selang tertutup [-1,9]. Tetapi g tidak mempunyai turunan di x = 0, maka syarat teorema nilai rata-rata tidak dipenuhi pada selang yang diberikan. b. g(9) = 3 dan g ' (c ) = 1 g(-1) = 1. Misalkan nilai c positif, maka y 3 2 1 -1 0 1 4 c 9 A P B g f (9) f (1) 9 (1)

3 1 1 1 = = c =61 , 4 10 2 c 2 c 5 c positif , Jadi nilai c = 6 1 . 4 Nilai ini masih terletak pada selang (-1,9) Andaikan nilai c negatif , maka 1 1 = 2 c 5 negatif. c = 2 1 2

x
Gambar 5.26

hal ini kontradiksi bahwa hasil penarikan

akar pangkat dua tidak mungkin

Akibatnya bilangan c dalam kasus ini tidak mungkin negatif.

Perhatikan andaikan kita pilih selang [-1,4] maka dalam kasus ini fungsi g tidak memenuhi syarat teorema nilai rata-rata sebab tidak ada bilangan c yang memenuhi g ' (c ) = f (4) f (1) . 4 (1)

2.5 Menggambar Grafik Fungsi


Menggambar grafik fungsi dapat dilakukan dengan menguji persamaan fungsinya, apakah simetri terhadap sumbu-sumbu koordinat atau terhadap titik asal. Bila memungkinkan dapat pula ditentukan titik potong dengan sumbu-x dan sumbu-y, walaupun hanya perkiraan saja. Pengetahuan tentang daerah asal dan daerah nilai fungsi dapat membatasi grafik fungsi pada sebuah daerah yang terbatas pada bidang. Pengetahuan

tentang nilai-nilai ekstrim lokal fungsi dan letaknya titik-titik balik sangat membantu. Selain itu pengetahuan tentang tanda turunan pertama dapat memberikan informasi tentang kemonotonan (naik/turunnya) grafik fungsi, tanda turunan kedua dapat memberikan informasi tentang kecekungan grafik fungsi. Asimptot-asimptot sangat dapat membantu menggambar grafik-grafik. Selain itu titik-titik fungsi f, f dan f yang tidak terdefinisi penting pula diketahui. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, grafik sebuah fungsi dapat digambar dengan mudah dan cermat. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menggambar grafik fungsi adalah sebagai berikut: I. Analisis Pendahuluan meliputi: a. Tentukan daerah asal dan bila mungkin tentukan pula daerah nilai fungsi, serta tentukan titik-titik (daerah) pada bidang yang tak memuat grafik fungsi. b. Tentukan kemungkinan adanya sifat simetri fungsi terhadap sumbu-sumbu koordinat atau terhadap titik asal.
Catatan 1

Grafik fungsi genap simetri terhadap sumbu-sumbu koordinat, grafik fungsi ganjil simetri terhadap titik asal. c. Tentukan titik-titik potong grafik fungsi dengan sumbu-sumbu koordinat bila ada, meskipun hanya perkiraan.

Catatan 2

Titik potong grafik fungsi dengan sumbu grafik fungsi dengan sumbu-y dicapai jika x = 0.

x dicapai jika

y = 0, titik potong

d. Gunakan turunan pertama untuk menentukan selang-selang grafik fungsi monoton naik dan monoton turun.
Catatan 3

f monoton naik pada I, jika f(x) > 0, x I. f monoton turun pada I jika f(x) < 0, x I. e. Tentukan semua bilangan-bilangan kritis fungsi dan gunakan turunan pertama dan turunan kedua untuk menentukan titik-titik ekstrim lokal dan jenisnya.

Catatan 4 Bila c adalah bilangan kritis fungsi maka f(c) = 0 atau f(c) tidak ada.

f. Gunakan turunan kedua untuk menentukan selang-selang grafik cekung ke atas atau cekung ke bawah.
Catatan 5

f ' ' ( x) > 0, x (a, b) , maka grafik f cekung ke atas pada (a,b). f ' ' ( x) < 0, x (a, b) , maka grafik f cekung ke bawah pada (a,b).
g. Tentukan titik-titik balik jika ada, dan asimtot-asimtotnya jika ada.

II. Dari analisa di atas ditambah dengan beberapa titik pada grafik, maka kurva tersebut dapat digambar.
Contoh :

Lakukan analisa pendahuluan, kemudian gambar grafik dari fungsi : f ( x) = 1 x 4 1 x 3 x 2 + 1 4 3


Penyelesaian :

a.

f ( x) = 1 x 4 1 x 3 x 2 + 1 . 4 3
3 2

Domain

adalah

semua

bilangan

real

f ' ( x) = x x 2 x = x( x + 1)( x 2)
f ' ' ( x) = 3 x 2 2 x 2 = ( x 1+3 7 )( x 13 7 ) .

Jelas bahwa f, f dan f kontinu pada setiap bilangan real R. Bilangan kritis f diperoleh
7 2

dengan menyelesaikan persamaan

f(x) = 0,

diperoleh x = -1, x = 0, dan x = 2, dengan nilai-nilai fungsi masing-masing untuk x = 1 f (1) = x = 0 f (0) = 1 dan f ' ' (1) = 3 > 0 dan f ' ' (0) = 2 < 0

x = 2 f (2) = 5 dan f ' ' (2) = 6 > 0 3 Kesimpulan: Titik maksimum relatif dari f adalah (0,1) dan Titik minimum relatif dari f adalah (-1,7/2) dan (2,-5/3).

Selang Grafik

naik diperoleh dengan menyelesaikan pertidaksamaan ------------ ++++++++ ---------+++++++ 0 -1 2


gambar 5.27

f ' ( x) > 0 x( x + 1)( x 2) > 0 ,


Tanda f dapat diperiksa dari gambar berikut dari hasil ini disimpulkan bahwa f naik pada selang (-1,0) (2,+), ini berarti f turun pada selang (-,-1) (0,2). Titik balik f
x = 1 (1 7 ) . 3

diperoleh dengan menyelesaikan persamaan f " ( x) = 0 ,diperoleh

Tanda f(x) dapat diperiksa sebagai berikut:

+++++ 0 ------ 0 +++++


1 7 3 1+ 7 3

f(x) > 0

f(x) < 0
gambar

f(x) > 0

y Sehingga grafik f cekung ke atas pada selang


x < 1 (1 7 ) 3 x > 1 (1 + 7 ) . 3

f(x) 1 (-1, 7 12 ) -1 0 1 2 x

grafik f cekung ke bawah pada selang


1 3

(1 7 ) < x < 1 (1 + 7 ) 3

(- 5 3 )
Gambar 5.29

(2,- 5 3 )

Grafik fungsi 5.29.

f pada gambar

2.6. Penggunaan Turunan Pada Ilmu Sains Dan Rekayasa


2.6.1 Laju Berhubungan (Related Rates)

Misalkan y adalah fungsi dari waktu t dengan persamaan y = f(t), yang dapat diturunkan maka maka dy menyatakan laju perubahan y terhadap waktu t. Dalam hal y menyatakan jarak, dt dy merupakan kecepatan. dt

Akan tetapi banyak masalah yang memuat peubah-peubah x dan y, dan hubungan diantaranya merupakan persamaan yang tidak memuat waktu t. Sedangkan x dan y adalah fungsi-fungsi dari t yang tidak diketahui. Kerapkali mungkin dalam persoalan demikian untuk menghitung dx dy dan yang merupakan laju perubahan/kecepatan sesaat x dan y dt dt

terhadap waktu tanpa menyatakan x atau y secara eksplisit sebagai fungsi dari t, bila salah satunya diketahui. Permasalahan seperti ini yang diselesaikan dengan turunan implisit, dikenal sebagai laju berhubungan dan dapat diselesaikan sebagai berikut : 1. Tentukan semua persamaan yang menghubungkan besaran-besaran yang terlibat didalamnya. 2. Tentukan turunan implisit dari kedua ruas persamaan terhadap peubah t. 3. Gunakan hasil dari langkah kedua untuk menentukan laju perubahan yang tidak diketahui. 4. Tetapkan titik asal O, ambillah arah positif kekanan/keatas, dan arah negatif kekiri/kebawah. Bila partikel bergerak kekanan atau keatas maka bergerak kekiri atau kebawah maka dx dy atau bertanda negatif. dt dt
dinding
Gambar 5.31

dx positif, dan bila dt

Contoh :

Sebuah tangga yang panjangnya 5 m bersandar pada dinding tegak, dan ujung bawahnya terletak pada lantai datar. Jika pada saat ujung atas tangga berada 4 meter di atas lantai, kecepatan meluncurnya adalah 3 meter/detik. Tentukan kecepatan meluncur ujung tangga di lantai pada saat itu. (gambar 5.34)
y 4m

dy dt

Tangga 5m

x
lantai Gambar 5.34

dx dt

Penyelesaian :

Misalkan y meter menyatakan jarak ujung tangga bagian atas ke lantai dan x meter menyatakan jarak ujung tangga bagian bawah ke dinding. Akan dihitung dx dy pada saat y = 4 meter, bila diketahui = -3 meter/detik (tanda negatif dt dt

menyatakan arah ujung tangga meluncur kebawah). Karena panjang tangga = 5 meter maka persamaan yang menghubungkan x dan y (menggunakan Phytagoras) adalah : dx dy + 2y = 0 atau dt dt x2 + y2 = 25 .(1) Turunan implisit terhadap t dari kedua ruas adalah 2x x dx dy +y = 0 (2) dt dt

untuk y = 4 meter maka dari pers.(1) diperoleh x = 25 16 = 3 meter. Dan karena dy dx dx = -3 m/dt maka dari pers.(2) diperoleh : 3. + 4(3) = 0, = 4m . dt dt dt dt

Kesimpulan

Kecepatan meluncurnya ujung tangga di lantai pada saat kecepatan meluncurnya ujung atas tangga 3 m/s ketika berada 4 meter diatas lantai adalah dx = 4 m/s. dt

2.6.2 Penggunaan Turunan Pada Masalah Ekstrim


Banyak masalah dalam kejadian sehari-hari atau dalam sains, teknik, geometri dan ekonomi menentukan penentuan nilai maksimum (atau minimum) mutlak dari suatu fungsi kontinu. Dalam contoh-contoh berikut akan diperlihatkan bagaimana cara menerjemahkan problem yang tersamar ke dalam suatu model matematika dan kemudian menentukan nilai ekstrimnya. Ringkasan langkah-langkah yang diperlukan adalah : a) Amati persoalan yang dihadapi dengan cermat, kemudian tentukan besaran yang mana (atau fungsi yang objektif) yang akan dimaksimumkan (atau diminimumkan). Nyatakan besaran ini dengan suatu huruf. Selanjutnya nyatakan besaran ini sebagai fungsi dari hanya satu peubah. Seringkali kita berhadapan dengan dua persamaan yang terdiri atas tiga peubah, jika demikian halnya, eleminasikan salah satu peubah untuk memperoleh suatu persamaan (atau fungsi objektif) dengan satu peubah bebas saja.

b) Tentukan turunan fungsi objektif yang diperoleh dari langkah a) dan andaikan turunannya sama dengan nol, untuk mendapatkan bilangan-bilangan kritis fungsi. Penyelidikan jenis ekstrim dapat dilakukan dengan salah satu uji coba yang telah dibahas pada bab terdahulu. c) Tentukan nilai maksimum (atau minimum) fungsi dengan membandingkan nilai ekstrim lokal yang nilai-nilai fungsi pada ujung-ujung selang daerah definisi fungsinya.

Contoh :

Sehelai karton berbentuk bujursangkar dengan luas 81 cm2. Pada keempat ujung-ujung karton tersebut digunting bujursangkar yang ukurannya sama. Selanjutnya karton tersebut dilipat keatas sehingga diperoleh sebuah kotak tanpa tutup. Tentukan volume dos yang paling besar yang dapat dibuat dari karton tersebut.

Penyelesaian :

Perhatikan gambar

9 - 2x

9 - 2x LUAS= 81 cm2

x
9 - 2x 9 - 2x

9 cm

x x
Gambar 5.38

9 cm Misalkan x = ukuran sisi bujur sangkar yang dibuang pada ke 4 ujung karton (lihat gambar) v = Volume kotak yang akan dimaksimumkan. Ukuran (atau sisi) kotak yang akan kita buat adalah

Panjang Tinggi Maka volume kotak adalah atau

= 9 2x cm

Lebar = 9 2x cm

= x cm, dengan 0 x 9/2 (mengapa ? ) .

V(x) = (9 2x)(9 2x). x, merupakan fungsi terhadap peubah bebas x. V(x) = 4x3 36x2 + 81x ; 0 x 9/2 .. (1). Syarat agar V mencapai maksimum adalah V1(x) = 0 atau V1(x) tidak ada. Karena V1(x) = 12x2 72x + 81 maka kita selesaikan persamaan V1(x) = 0 yaitu 3 (4x2 24x + 27) = 0 3 (2x 3) (2x 9) = 0 (2). Karena V1(x) ada untuk semua x R, maka dari (2) diperoleh bilangan kritis V adalah x= 3 9 atau x = , keduanya berada dalam selang tertutup 2 2 9 0, 2 .

9 Karena V kontinu dalam selang tutup 0, maka V mempunyai nilai maksimum mutlak 2 9 dalam selang 0, . 2 Nilai ekstrim V dicapai pada bilangan kritisnya atau pada ujung-ujung interval daerah definisinya; yaitu untuk x = 0 ; x = 3 9 ; atau x = , sehingga dari persamaan (1) diperoleh 2 2

V (0) = 0 ;
Kesimpulan

3 9 V = 54 ; dan V = 0 2 2

Volume maksimum kotak yang dapat dibuat dari karton tersebut adalah 3 V = 54 centimeter kubik. 2 Untuk menguji volume maksimum kotak ini, dapat dilakukan uji turunan kedua yaitu V(x) = 72 + 24x , sehingga V(3/2) = - 72 + 24(3/2) = - 36 < 0 3 Jadi V = 54 cm3 merupakan volume maksimum kotak. 2

2.6.3 Penggunaan Turunan Dalam Ekonomi


Di dalam ilmu ekonomi, variasi (perubahan) suatu besaran (peubah) terhadap besaran lainnya dapat dinyatakan (diekspresikan) dalam konsep rata-rata dan konsep marginal

Definisi

Pandang suatu fungsi y = f(x), maka

(i)

Fungsi rata-rata y didefinisikan sebagai hasil bagi y y= y f ( x) = x x

yaitu: .(1)
dx

(ii)

Fungsi marginal y didefinisikan sebagai hasil bagi diferensial dy lain dari turunan pertama f yaitu : y' = dy f ( x + x ) f ( x ) .(2) = lim dx x0 x asal limitnya ada

yaitu tak

Antara fungsi rata-rata y dan fungsi marginal y terdapat hubungan bahwa fungsi y =

y x

mempunyai garis singgung mendatar maka di titik itu kedua fungsi y dan y mempunyai nilai yang sama, yaitu bilamana : y ' = 0 maka y = y. Di sini ini diperlihatkan mengapa hal tersebut terjadi. y xy' y y' = x x2 xy ' y x y = y. x

y= bila

y' = 0 0 =

xy ' = y

y' =

y S R P(x,y) T y= Q

Perhatikan gambar 5.44 berikut yang merupakan definisi y . Nilai y di suatu titik P ditunjukkan dengan tangen sudut yang dibuat garis OP dengan sumbu x positif, karena: y tan = = y . x 0

Gambar

Tampak bahwa garis singgung OR memberikan sudut terbesar dan garis singgung OQ memberikan sudut terkecil, sehingga fungsi rata-rata y di R maksimum dan fungsi ratarata Q minimum.

Selanjutnya fungsi elstisitas E didefinisikan sebagai hasil bagi antara fungsi marginal y dengan fungsi rata-rata y yaitu: E = y' yang dapat dituliskan sebagai: y

dy dy d ln y y = E = dx = y dx d ln x x x

(3)

Fungsi elastisitas ini meskipun jarang digunakan dalam matematika namun merupakan hal sangat penting dalam ekonomi. Grafik elastisitas ditunjukkan dalam gambar 5.45.

y y = f(x) D y 0 x C P(x,y)

A x

Gambar 5.45

Sekarang kita akan definisikan fungsi biaya total, fungsi biaya rata-rata, dan fungsi biaya marginal.
Definisi

Misalkan (i)

menyatakan banyaknya unit (satuan) barang (komoditi) tertentu yang

diproduksi, maka: Biaya total untuk memproduksi x satuan barang atau pengeluaran total untuk memproduksi x satuan barang itu dan dituliskan sebagai:

y = c(x)

.(4)

Fungsi c disebut fungsi biaya total (total cost function) (ii) Biaya rata-rata, yaitu biaya rata-rata untuk memproduksi satu satuan barang yang dituliskan sebagai: Q( x) = c( x) x .(5)

Fungsi Q disebut fungsi biaya rata-rata (everage cost function) (iii) Biaya Marginal, yaitu biaya untuk memproduksi secara tambahan satu satuan barang yang dituliskan sebagai: y ' = c' ( x) = lim
x 0

c ( x + x ) c ( x ) x

(6)

jika limitnya ada, fungsi c disebut biaya marginal (marginal cost function).

Contoh :

Misalkan c(x) menyatakan biaya total dalam rupiah untuk memproduksi x satuan pensil HB (x 10) dan c(x) ditentukan oleh: c( x) = 15 + 800 x + 400 x

maka: Fungsi biaya rata-rata tiap satuan pensil adalah:


Q( x) = c( x) 15 + 800 x + = x x
400

x = 15 + 800 + 400 x x2

a. Fungsi biaya marginal adalah: b. Misalkan dalam satu minggu marginalnya adalah:

c' ( x) = 800 diproduksi

400 x2 x = 500 satuan pensil maka biaya

c' (500) = 800

400 = Rp. 799,9984 500 2

c. Biaya untuk memproduksi pensil yang ke 501 (satu pensil lebih) adalah: c(501) c(500) = 400815,7982 400015,8 = Rp. 799,9982 perhatikan bahwa jawaban (c) dan (d) terdapat perbedaan sebesar Rp. 0,0002 hal ini disebabkan karena biaya marginal merupakan biaya perubahan sesaat dari c(x). Dalam hal ini c(500) merupakan biaya pendekatan untuk memproduksi pensil yang ke 501 (satu pensil lebih). d. Untuk memproduksi 5 batang pensil lebih adalah kira-kira:

(5)(c' (500)) = (5)( 799,9984) = Rp. 3999,9920


Selanjutnya akan didefinisikan biaya rata-rata marginal sebagai berikut:

Definisi

Misalkan Q(x) menyatakan banyaknya biaya dalam rupiah untuk memproduksi satu unit dari x unit barang (komoditi) tertentu, maka biaya rata-rata marginal untuk x = x1 didefinisikan sebagai Q(x1) asal turunannya di x1 ada dan Q disebut fungsi biaya ratarata marginal.

Perhatikan bahwa :

Q( x) =

c( x) x

Q' ( x) =
Selanjutnya turunan kedua adalah: Q' ' ( x) = Bila Q(x) = 0 Maka

xc' ( x) c( x) x2

x 2 c' ' ( x) 2( xc' ( x) c( x)) x3

xc(x) c(x) = 0, sehingga Q' ' ( x) = c' ' ( x) . x

Dalam ekonomi x umumnya positif, sehingga tanda Q(x) sama dengan tanda c(x) dengan demikian: Q(x) = 0 dan c(x) > 0 maka Q(x) mencapai minimum Q(x) = 0 dan c(x) < 0 maka Q(x) mencapai maksimum Selanjunya grafik dari fungsi biaya total, fungsi biaya marginal, dan fungsi biaya rata-rata masing-masing kita namakan TC, MC, dan AM. Perhatikan gambar (5-37 a,b,c) berikut: 1. Fungsi biaya total linier

c( x) = mx + b
m harus positif karena fungsi c monoton naik dan b harus positif. Biaya marginal diberikan oleh: c' ( x) = m adalah garis lurus yang sejajar sumbu x. Jika Q merupakan fungsi biaya rata-rata, maka Q( x) = m + b x b m 0
Gambar 5.46a

y AC TC

dan fungsi biaya rata-rata marginal

adalah:
Q' ( x) = b x2

merupakan hiperbola umum. 2. Fungsi biaya total kuadrat

y
2

c( x) = ax + bx + c
dimana a dan c positif.

TC

c' ( x) = 2ax + b
dan bilangan kritis dari c adalah
b 2a

, di sini
b 2a

c 0
Gambar 5.46b

dibedakan atas 2 kasus yaitu b 0 dan b < 0.


Kasus b 0 ,
b 2a

adalah negatif atau

0. Ini berarti puncak

y TC c 0
b 2a

parabola terletak di sebelah kiri sumbu-y atau pada domain x yang negatif. Selanjutnya karena domain c harus positif, maka sketsa dari TC gambar 5.46b.
Kasus b < 0,
b 2a

untuk

b > 0 ditunjukkan pada

positif maka puncak parabola

Gambar 5.46c

terletak di kanan sumbu-y atau pada domain x > 0,


b dan domain dari c adalah [ a ,+) , sketsa TC 2

untuk b < 0 ditunjukkan pada gambar 5.46c.

Contoh :

Misalkan c(x) adalah biaya total untuk memproduksi persamaan c( x) = 1 x 2 2 x + 8 . 2 Tentukanlah: a. Fungsi biaya rata-rata b. Fungsi biaya marginal c. Fungsi biaya rata-rata marginal

100x

unit produksi dengan

d. Hitung nilai minimum absolut untuk biaya rata-rata dan buat sketsa grafik biaya total, fungsi rata-rata, dan fungsi biaya rata-rata marginal dalam satu sistem sumbu.

Penyelesaian :

a. Fungsi biaya rata-rata adalah Q( x) =

c( x) 1 8 = 2 x2+ x x

b. Fungsi biaya marginal adalah c' ( x) = x 2 c. Fungsi biaya rata-rata marginal adalah Q' ( x) = 1 2 d. Untuk Q(x) = 0, diperoleh dengan Q(4) = 1 (4) 2 + 2 Q' ' ( x ) =
1 2

8 x2

8 = 0 sehingga bilangan kritis untuk Q adalah 4 x2

8 =2 4

16 16 Q' ' (4) = >0 3 x 64

maka Q mencapai minimum relatif yaitu 2 pada saat x = 4. Karena x > 0 maka Q(x) kontinu pada (0,), dan hanya ada minimum relatif pada (0,) yaitu dicapai pada x = 4. Maka disimpulkan bahwa Q mempunyai nilai minimum absolut pada x = 4 dan 100x = 400, maka nilai minimum absolut untuk biaya rata-rata unit adalah Rp. 4,-. Jika 400 unit diproduksi. Sketsa grafik TC, MC, dan AC ditunjukkan pada gambar 5.47.

y 8 6

c( x ) = 1 x 2 2 x + 8 2

MC

c' ( x) = x 2
A

3 2 0 2 4

Q( x) = 1 x 2 + 2

8 x

x
Gambar 5.47

Fungsi Pendapatan, Fungsi Keuntungan dan Fungsi Pendapatan Marginal

Harga satuan barang yang dapat dijual adalah fungsi permintaan. Fungsi permintaan tersebut kita namakan p. Jika ada x satuan barang dapat dijual maka p(x) adalah harga satuan barang yang telah terjual tersebut. Misalkan x banyaknya barang tertentu yang diproduksi dan dipasarkan, Fungsi permintaan (penerimaan) total R, nilainya adalah R(x), kalau x satuan terjual. Jadi R(x) = xP(x) atau R ( x) = p ( x) . x Keuntungan P(x) jika x satuan barang telah diproduksi dan terjual adalah selisih antara pendapatan total dengan biaya total, yaitu: P ( x) = R ( x) c( x) Pendapatan marginal adalah laju kenaikan pendapatan (penerimaan) tiap satuan kenaikan dalam penjualan, dan dinotasikan sebagai R(x); sedang p(x) adalah harga marginal dan P(x) adalah keuntungan marginal. Selanjutnya jika kedua ruas diturunkan diperoleh:

P ' ( x) = R ' ( x) c' ( x)


Jadi keuntungan marginal = pendapatan marginal biaya marginal.

T U G A S 5.
LATIHAN

Untuk soal nomor 1 sampai nomor 34, pada setiap fungsi yang diberikan, tentukanlah: a. Semua bilangan kritis fungsi b. Selang-selang dimana fungsi tersebut monoton naik atau turun c. Selang-selang fungsi cekung ke atas dan cekung ke bawah d. Titik-titik balik fungsi bila ada e. Nilai ekstrim relatif dan jenisnya f. Sketsa grafik fungsi

1. 2.

f ( x) = ( x 5) 2 f ( x) = 9 x 2

3. 4. 6.

f ( x) =

1 1 + x2

f ( x) = 2 x 3 3 x 2 12 x + 8 f ( x) = 1 x
2 3

5. f ( x) = x 4 6 x 3 24 x 2 + x + 2

Selidiki apakah titik (0,0) adalah titik balik dari garfik fungsi berikut, kemudian gambar grafik fungsi tersebut untuk memeriksa kebenarannya.
x 3 ; x<0 1. f ( x) = 2 2x x ; x 0
1

x 2 2. f ( x) = x

; x<0 ; x0

Gambarkan sebuah grafik fungsi yang memiliki karakteristik berikut: a. f kontinu dimana-mana b. f(2) = 3 c. f(2) = 0; f(6) = 3; f(x) > 0 , untuk x 2 d. f(6) = 0; f(x) > 0, untuk 2 < x < 6 dan f(x) < 0, untuk x > 6 Sebuah pesawat terbang Garuda, terbang kearah selatan dengan laju 400 mil/jam. Pada pukul 12.30 pesawat Garuda melintasi kota A. ada pesawat Merpati terbang pada ketinggian yang sama kebarat dengan laju 500 mil/jam dan melintasi kota A pada pukul 13.00. tentukan laju perpisahan kedua persawat tersebut pada pukul 14.00. (Petunjuk : andaikan t = 0 pada pukul 13.00 ). 10 cm V. Sebuah kerucut lingkaran tegak terbalik berjari-jari 10 cm dan tingginya 20 cm berisi penuh air. Jika air keluar dari puncak kerucut dengan laju 5 cm3/dt, tentukan laju turunnya permukaan air di dalam kerucut pada saat tinggi air 5 cm dari bidang atasnya ( Jawab: 4 ). 45 Sebuah jembatan layang jalan raya bersilangan tegak lurus dengan rel kereta api pada ketinggian 15 meter. Jika suatu saat lokomotif kereta api melaju dengan kecepatan 54 km/jam tepat berada pada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan 36 km/jam, tentukanlah kecepatan berpisah antara lokomotif kereta api dan mobil setelah 8 detik. x Rel k.Api
B

20 cm

dh = dt
r

h
3 dv = 5 cm dt dt

y Jembatan P 15m
S

Keliling sebuh persegi panjang adalah 40 meter. Tentukan ukuran persegi panjang tersebut agar luasnya maksimum. selembar aluminium yang berbentuk persegi panjang, dengan panjang 32 cm dan lebar 20 cm. pada ujung-ujungnya dipotong bujur-bujur sangkar yang ukurannya sama. Aluminium yang tersisa dilipat keatas sehingga membentuk sebuah kotak tanpa tutup. Tentukan volume maksimum kotak aluminium tersebut. Misalkan c( x) = 8300 + 3,25 x 0,0002 x 2 adalah fungsi biaya total dengan x merupakan

banyaknya satuan yang diproduksi dan dipasarkan. Tentukanlah: a. Biaya rata-rata tiap satuan dan biaya marginalnya. b. Jika tiap minggu diproduksi dan dipasarkan x = 200 satuan, tentukanlah biaya rata-rata tiap satuan dan biaya marginal untuk memproduksi dan memasarkan satu satuan lebih. Seorang pedagang kain merasa bahwa ia dapat menjual tiap bulan 4000 yard tekstil tertentu apabila ia menjualnya dengan harga $ 6 tiap yard. Penjualan bulan ini akan naik dengan 250 yard apabila ia memberikan potongan harga Tuliskan persamaan untuk pendapatan yang maksimal. Manager pabrik meramalkan bahwa ia dapat menjual 500 satuan hasil pabriknya tiap minggu, jika harganya $ 20 tiap satuan. Penjualan mingguan akan naik dengan 50 satuan apabila ia memberikan potongan $ 0,50 tiap satuan. Biaya pembuatan dan penjualan barang tersebut tiap minggu adalah: c( x) = 4200 + 5,1x + 0,0001x 2 Tentukanlah : a. b. c. d. Fungsi permintaan Besarnya produksi minguan yang dapat menghasilkan keuntungan maksimum. Harga satuan barang pada tingkat maksimum produksi. Harga marginal pada tingkat maksimum produksi. $ 0,15 tiap yard. p(x) dan tentukan harga tiap yard yang menghasilkan

BAB III

PENUTUP

Keberhasilan mahasiswa memahami penggunaan turunan pada modul ini akan memudahkan penerapan matematika pada bidang ilmu lain.

DAFTAR PUSTAKA

13. Dale Varberg & Edwin J. Purcell (1999) Calculus with Analytic Geometry Sixth Edition. Prentice-Hall, International, Inc. New Jersey. 14. James Stewart (2000) Kalkulus. Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta. 15. Lois Leithold (1987). Kalkulus & Ilmu Ukur Analitik. Edisi Pertam. PT.Bina Aksara. Jakarta.