P. 1
Majalah Riau Pos

Majalah Riau Pos

|Views: 207|Likes:
Dipublikasikan oleh Riau Pos

Majalah Riau Pos edisi 004 | 8 - 14 Februari 2013. Kali ini dengan sajian utama Perih Nelayan Pengerih.

Majalah Riau Pos edisi 004 | 8 - 14 Februari 2013. Kali ini dengan sajian utama Perih Nelayan Pengerih.

More info:

Published by: Riau Pos on Feb 06, 2013
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/12/2015

pdf

text

original

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAFTAR ISI
PERIH NELAYAN PENGERIH NELAY

EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013
DAERAH >>
PEDAGANG WAKO BERJANJI, PEDAGANG MENGINGKARI
KONFLIK PEMKO-PEDAGANG KAKI LIMA

LIPUTAN UTAMA >>
KALA IKAN HILANG DI SELAT LALANG MEREKA bingung, kami ini nelayan atau pemulung? Saat pengerih diangkat, bukan ikan yang didapat. Tapi, sampah plastik, botol dan gelas air mineral. Ke mana raibnya ikan mereka?

PEMERINTAH Kota Pekanbaru ingin tertib, pedagang kaki lima (PKL) ingin duit. Dua alasan berbeda inilah yang menjadi punca persoalan sehingga tak kunjung bisa terselesaikan sampai detik ini.

FOTO: GEMA SETARA

OLAHRAGA >>
BERTUAH ASKAR BERTUAH DISELAMATKAN DISELAMATKAN SERAMBI MAKKAH
DI tengah keterpurukan keuangan yang dialami tim sepakbola kebanggaan Riau, PSPS, Jefry Noer muncul sebagai penyelamat. Pria yang kini menjabat Bupati Kampar itu bersedia mengeluarkan dana untuk keperluan kompetisi Askar Bertuah. KRISIS KEUANGAN PSPS

KESEHATAN >>
PENGGODA DARI NEGERI DINGIN PENGGODA DARI
CHATINONE, NARKOBA JENIS BARU DI KASUS RAFFI CS

LINGKUNGAN >>
LADANG MINYAK BARU DARI SAMPAH
COVER: FURQON ELWE

Pemimpin Redaksi: Purnimasari Wakil Pemimpin Redaksi: Furqon LW Redaksi: Amzar, Hasan Hanafi, Eriyanto Hadi, Syamsul Bahri Samin, Menrizal Nurdin, Andi Noviriyanti Online: Ilva Yulianto Kontak Iklan: Bagian Iklan Riau Pos, Telp (62-761) 64638 Presiden Komisaris: Rida K Liamsi Presiden Direktur: Makmur General Manager: Zulmansyah Sekedang Wakil General Manager: Asnida Syukur Group Head Editor: Raja Isyam Azwar Alamat Redaksi: Gedung Riau Pos, Jalan HR Subrantas KM 10,5 Pekanbaru, MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013 Telp (62-761) 64633, Fax (62-761) 64640, e-mail: majalah_riaupos@yahoo.com

PUNGGUR KALAM

Yang Paling Merakyat, Yang Paling Korup

B

FURQON ELWE

OLA panas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini menggelinding ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS) setelah mantan presidennya, Luthfi Hasan Ishaaq menjadi tersangka kasus korupsi impor daging dan akhirnya ditahan. Sekarang, mencari wakil rakyat yang tidak korupsi, ibarat mencari peniti di tumpukan jerami. Survei yang dilakukan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) pada 1424 Mei 2012 ternyata tak menjadi bahan introspeksi bagi para wakil rakyat di negeri ini. Padahal, dari hasil survei itu (dilakukan di 163 kabupaten, di 33 provinsi dengan mewawancara tatap muka 2.192 responden), 47 persen responden menjawab DPR adalah lembaga yang paling korup di Indonesia. Kedua adalah kantor pajak (21,4 persen), lalu diikuti kepolisian (11,3 persen). Lembaga yang selama ini memakai jubah sebagai wakil rakyat, mengaku paling merakyat (apalagi kalau saat kampanye), menganggap dirinya representasi rakyat, ternyata malah dianggap yang paling banyak melakukan rasuah justru oleh rakyatnya sendiri. Jadi, bagaimana mungkin kita bisa punya harapan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

PUNGGUR KALAM
agar korupsi diberangus habis-habisan dari negeri ini. Sebab, salah satu tempat kita menggantungkan asa tersebut ternyata tak lain adalah aktor utama korupsi itu sendiri. Bahkan sekarang, dengan jalan merevisi undang-undang, DPR telah terang benderang ingin mengamputasi UU KPK sebagai sapu abadi antikorupsi. Korupsi pernah begitu merajalela di Cina. Bahkan, sebuah statistik resmi pemerintah Cina mengungkapkan, kerugian akibat korupsi mencapai 16 miliar dolar AS (sekitar Rp120 triliun) sampai tahun 1999. Ini belum termasuk kasus korupsi pada skandal penyeludupan senilai 10 miliar dolar AS yang melibatkan para pejabat teras Provinsi Fujian di Tenggara Cina. Tapi, pemerintah Cina ternyata bersungguhsungguh memberantas korupsi. Surat kabar resmi Cina, China Daily mengungkapkan, upaya itu telah berhasil mengembalikan dana publik sebesar 400 juta yuan atau senilai Rp440 miliar lebih ke kas negara. Caranya juga tidak luar biasa. Mereka ‘cuma’ menyelidiki 10.000 pejabat setingkat kabupaten yang diduga korupsi. Namun, hukumannya yang luar biasa. Siapa terbukti bersalah, dihukum seumur hidup hingga dihukum mati. “Pemberantasan korupsi adalah urusan hidup dan mati partai,” demikian semboyan yang terus didengung-dengungkan pemimpin-pemimpin Cina, terutama PM Zhu Rongji, yang di Cina dikenal sebagai salah seorang “Mr Clean”. Pemerintah Cina membuktikan, mereka tak hanya gertak sambal. Zhu
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Bahkan sekarang, dengan jalan merevisi undang-undang, DPR telah terang benderang ingin mengamputasi UU KPK sebagai sapu abadi antikorupsi

PUNGGUR KALAM
Rongji sendiri bahkan berjanji, takkan ada seorang pejabat pun, seberapapun tinggi jabatannya yang akan diloloskan dari jerat hukum. Apalagi jika benar-benar terlibat. Korea Selatan, yang sama-sama memulai pembangunan ekonomi pada akhir tahun 60-an seperti Indonesia juga pernah bernasib serupa: samasama dicekik korupsi. Rasuah di Negeri Ginseng juga tak kalah parah dibanding Indonesia. Bedanya hanya satu: Korsel sudah menghukum tiga presidennya (Chun Doo-hwan, Roh Tae-woo, Kim Young-sam) lantaran terlibat korupsi. Di Indonesia, menjadi koruptor justru ‘karir’ yang menggiurkan. Jika misalnya saja korupsi Rp10 miliar, dengan bunga bank 0,4 persen per bulan, mereka sudah terima Rp40 juta per bulan. Hukuman juga jarang yang lama. Jadi begitu keluar dari bui, mereka sudah punya tabungan miliaran. Paling-paling cuma kurang beberapa puluh juta untuk membayar kamar mewah di penjara. Inilah sebenarnya potret hasil pengkaderan partai politik kita. Apa jadinya negeri ini jika ternyata yang dikader adalah para perampok? Terlebih, yang mereka rampok adalah uang rakyatnya sendiri —yang dengan suara rakyatlah mereka bisa duduk di parlemen. Kerja mereka tak lebih dari mengkhianati konstituennya sendiri. Mulanya, mereka merampok dalam jalur UU atau Perda. Maka dibuatlah berbagai peraturan untuk memuluskan dan melegalkannya. Seperti peraturan untuk bisa mendapatkan segunung tunjangan dengan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Mulanya, mereka merampok dalam jalur UU atau Perda. Maka dibuatlah berbagai peraturan untuk memuluskan dan melegalkannya.

PUNGGUR KALAM
harga super mahal, fasilitas serba wah, dana rapat ini itu yang besarnya bukan main dan banyak lagi keistimewaan yang lain. Pengesahan peraturan jenis ini takkan pernah mendapat perdebatan sengit atau bahkan rapat hingga berhari-hari. Dengan berbagai peraturan ini, menjadi anggota DPR adalah jaminan hidup mewah. Mereka tak pernah bertanya pada rakyat: relakah melihat para pemimpin hidup bergelimang harta? Kini, modus perampokan malah menemukan kiat yang lebih mangkus. Berbagai revisi Perda adalah jalannya. Padahal, untuk membuat satu Perda saja, sudah jutaan uang rakyat yang tersedot untuk berbagai macam rapat, studi banding dan lain sebagainya. Caranya pun gampang. Tinggal beroperasi bersama eksekutif yang culas dan swasta yang rakus. Kerja sama tiga pihak inilah yang akan melestarikan korupsi. Jadi, hanya dapat apa rakyat dari hasil pengkaderan partai politik selama ini? Rakyat tak lebih hanya dapat lintah, tikus berdasi, perampok kerah putih yang mengkorupsi uang rakyat siang dan malam. Di negeri ini, Parpol dan DPR sama-sama berkomplotan untuk korupsi. Mereka menjadi sekondan untuk merampok uang rakyat. Suara rakyat memang hanya untuk dihitung, bukan untuk didengar. Yang ada sekarang: pemimpin hitung harta, rakyat hitung derita. Maka (sekali lagi) terbuktilah kalimat abadi Lord Acton (1834-1902), seorang anggota parlemen Inggris, bahwa ‘’kekuasaan itu cenderung disalahgunakan’’. (purnimasari)
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Pengesahan peraturan jenis ini takkan pernah mendapat perdebatan sengit atau bahkan rapat hingga berhari-hari. Dengan berbagai peraturan ini, menjadi anggota DPR adalah jaminan hidup mewah

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA

MEREKA BINGUNG, BINGUNG, NELAY KAMI INI NELAYAN PEMULUNG? ATAU PEMULUNG? SAAT SAAT PENGERIH DIANGKAT, BUKAN DIANGKAT DIDAPA IKAN YANG DIDAPAT. SAMPAH TAPI, SAMPAH PLASTIK, BOTOL DAN GELAS AIR MINERAL. KE MANA RAIBNYA RAIBNYA IKAN MEREKA?

ADAHAL dulu, dua atau tiga dasawarsa silam, kawasan perairan Selat Lalang tersebut seumpama ‘’ladang subur’’ bagi nelayan tempatan. Mereka menyebutnya daerah primadona ikan. Kini, dengan mengandalkan alat tangkap yang sama, yaitu pengerih, hasil yang didapat tak sanggup menjadi pengobat letih. Hal ini mungkin, kata Muhammad Ali, salah seorang nelayan di sana, karena sudah tak ada ikan lagi di Selat Lalang. ‘’Tahun 1990-an ikan masih banyak di sini, tapi sekarang nak dapat anak jerait (ikan lomek, red) pun dah susah. Paling tinggi dalam satu pranak (pundi pengerih, red) 2-3 kilo saja,’’ ucap nelayan Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau ini. Mereka merasa, Selat Lalang yang terhampar di depan desa mereka, kini sudah tercemar. Sebab yang masuk dalam pranak bukan ikan saja, tapi sudah bercampur sampah plastik, botol-botol dan gelas air mineral. “Tapi pada siape kite nak mengadu, hanya pada Allah ajelah. Yang penting kita jalankan hidup ini,’’ jelasnya pasrah. Sebagai nelayan pengerih, sebenarnya mereka tak pernah putus asa. Walau kemajuan teknologi alat tangkap terus berkembang, mereka tetap setia dengan perangkat tradisional tersebut, turun temurun. Hebatnya, seperti kata Usman, rekan Ali, dari daratan, mereka sudah hafal di luar kepala di mana letak dan posisi alat tangkap yang mereka pasang nun di perairan Selat Lalang, yang sekilas
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

P

LIPUTAN UTAMA
memang tak tampak oleh mata. Mereka mengenalnya, cukup dengan mengarahkan pandangan pada riak gelombang yang turun naik. ‘’Inilah keahlian kami sejak turun-temurun, hanya mengandalkan alat pengerih. Hasilnya cuma cukup untuk makan, jauh sekali untuk jadi kaya,’’ ucap Wak Seman, sapaan Usman. Desa Bunsur berada sekitar 80 Km dari ibukota Kabupaten Siak. Dari Sungai Apit sebagai ibukota kecamatan, berjarak sekitar 20 Km. Sedang dari Pekanbaru, jarak desa ini mencapai 140 Km. Untuk ke sana bisa menggunakan kendaraan roda empat, roda dua atau melalui jalur laut. Kehidupan masyarakat di desa ini sangat bersahaja. Rumah mereka umumnya berdinding papan dan berbentuk panggung. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai nelayan pengerih, ada juga sebagai nelayan gumbang untuk mengolah ikan bilis, petani, berkebun dan sebagainya. Kata Wak Seman, menjadi nelayan pengerih sudah semacam tradisi. Apalagi, nelayan-nelayan pengerih di desa itu semuanya masih memiliki hubungan keluarga. Biasanya, mereka memasang pengerih di kedalaman air laut. Ikan yang didapat beragam jenis, seperti lomek, biang, debuk dan sekali-sekali ikan kelampai yang bobotnya lebih besar. Menurutnya, ukuran alat pengerih lebih kecil bentangannya dibanding gumbang (alat tangkap untuk ikan bilis, red). Pagi itu, sudah 20 alat pengerih milik beberapa nelayan yang telah dipasang di tengah laut.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Ali, nelayan pengerih.
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS

Tahun 1990-an ikan masih banyak di sini, tapi sekarang nak dapat anak jerait (ikan lomek, red) pun dah susah. Paling tinggi dalam satu pranak (pundi pengerih, red) 2-3 kilo saja

LIPUTAN UTAMA
Biasanya, alat pengerih ini dipasang ketika arus air laut kencang dan akan diangkat saat kondisi air laut sudah tenang. Namun sore itu, meski cuaca dan langit terlihat cerah, di tengah laut angin sedikit kencang. Para nelayan menyebutnya musim utara, saat yang sulit untuk mendapatkan ikan. Hasil tangkapan tidak banyak dibanding hari-hari lain. ‘’Kalau sekarang ini angin sudah mulai kuat. Meski sudah masuk waktunya mencari ikan dengan pengerih, tapi kalau angin kencang seperti ini ikan susah didapat,’’ ucapnya. Pengerih Uzur, Sampan pun Bocor Wak Seman mengaku, hanya pengerih yang bisa mereka andalkan. Masalahnya, jaring pengerih kerap rusak. Terpaksalah, kendati musim ikan, mereka tidak turun ke laut karena harus memperbaiki pengerih. ‘’Sekarang alat tangkap kita sudah banyak yang dimakan usia, seperti usia saya juga. Sampan-sampan kami pun banyak yang bocor. Tapi tetap dipakai melaut, macam mana lagi’’ ungkap Wak Seman. Jarinya menunjuk sampan yang ditambat di bibir pantai. Ada 15 nelayan khusus pengerih di Desa Bunsur dan Desa Lalang. Rata-rata mereka memiliki empat alat tangkap. Jika dipasang semuanya, akan diawasi secara bergantian ke laut. Sengaja pasang empat sekaligus, sebab jika hanya mengandalkan satu pengerih, boleh jadi hasilnya untuk dimakan sendiri
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Wak Seman, nelayan pengerih.
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS

Inilah keahlian kami sejak turuntemurun, hanya mengandalkan alat pengerih. Hasilnya cuma cukup untuk makan, jauh sekali untuk jadi kaya

LIPUTAN UTAMA
saja tak cukup. ‘’Kami masih bertahan karena tak punya keahlian lain maupun kebun yang bisa ditanami. Mau tak mau, kami tetap melaut seperti ini,’’ ucapnya. Tepat di depan mata mereka, beroperasi pengeboran minyak lepas pantai. Dulu, lanjut Wak Seman, untuk membuat alat pengerih, tak perlu membeli bambu. Sekarang harga buluh kian mahal. Makanya diubah dengan menggunakan jaring yang dibuat sendiri oleh Kami masih nelayan. bertahan Ia sendiri sudah memakai alat jaring pengerih ini karena tak selama 30 tahun. Biasanya dalam satu tahun, musim punya keahlian barat, utara, timur yang banyak ikannya. Jika musim lain maupun selatan, paceklik ikan, karena saat itu cuaca dan angin kebun yang di laut sangat kencang, sehingga nelayan tak berani bisa ditanami. melaut. ‘’Sekarang musim utara. Ikan agak lumayan banyak. Hanya kalau musim utara, anginnya kencang. Pengalaman kami, dalam setahun setidaknya ada tiga bulan yang ikannya kurang, yakni sekitar bulan enam, tujuh dan delapan,’’ tuturnya. Sekali melaut, Wak Seman mengaku hasil tangkapannya paling tinggi hanya dapat Rp30 ribu dan bahkan tak dapat sama sekali. Hasil tangkapan ikan ini sebagian untuk dikonsumsi keluarga dan sebagian
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA
kecil saja yang dijual ke masyarakat. Selama ini, belum ada bantuan dari pihak manapun, baik pemerintah Provinsi Riau, Kabupaten Siak maupun perusahaan. Padahal, di depan desanya, tepatnya di Selat Lalang, ada pengeboran minyak lepas pantai yang dilakukan salah satu perusahaan minyak daerah. ‘’Kita tidak mampu membeli jaring, apalagi untuk mengganti sampan-sampan kami yang sudah tua dan banyak yang bocor,’’ ungkap Wak Seman. Nelayan pengerih di sini punya organisasi, namanya Kelompok Tenggiri. Setiap tahun selalu disampaikan ke pihak pemerintahan desa agar kelompoknya dimasukkan sebagai penerima bantuan alat tangkap tradisional. Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan. ‘’Kalau bisa ada perhatian pemerintah, karena hidup kami sampai mati tetap mengandalkan mata pencarian sebagai nelayan. Karena tidak ada yang bisa kami lakukan selain mengandalkan dari hasil laut,’’ tutur lelaki 6 anak, 10 cucu dan dua cicit ini. Trauma Pencemaran Minyak Dua tahun silam, nelayan di Selat Lalang, tepatnya di Desa Bunsur dan Desa Lalang dihebohkan adanya tumpahan minyak yang tak diketahui miliki siapa. Minyak mentah yang berceceran di atas permukaan air laut ini dibawa ombak sampai ke tepi. Ribuan batang bibit bakau pun ikut mati. Kenangan itu kini masih membekas kuat dan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Bakar, nelayan pengerih.
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS.

Sekarang penghasilan kita pas-pasan. Dengan menurunkan empat unit alat pengerih, hasilnya tidak sesuai harapan. Apalagi kalau ingat kejadian itu (tumpahan minyak, red.)

LIPUTAN UTAMA
membayang-bayangi nelayan di sepanjang Selat Lalang. Mereka berharap kasus serupa tak terulang karena sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan. ‘’Sekarang penghasilan kita paspasan. Dengan menurunkan empat unit alat pengerih, hasilnya tidak sesuai harapan. Apalagi kalau ingat kejadian itu,’’ kenang Bakar (62) nelayan pengerih, warga Desa Lalang. Bakar seusia dengan Wak Seman. Ia tetap bersemangat mencari ikan di laut demi menopang ekonomi keluarga bersama anak-anaknya. Hari itu, Bakar memasang empat unit pengerih. Namun, kendati sudah pukul 16.30 WIB, ia belum juga mau melihat pengerihnya. Karena, ia sudah mengukur, dengan kondisi angin laut yang agak kencang, tentu hasil tangkapan sangat sedikit. Penasaran, sore itu kami ikut dengan Ijal, Iwan dan Mansur ke tengah laut untuk mengangkat pengerih mereka. Ijal mengayuh dayung, sementara Iwan dan Mansur mengarahkan haluan sampan ke tempat pengerih dipasang. ‘’Sampan ni bocor sikit, kalau dah nampak air penuh, tolong dibuang ya bang. Kalau tak, alamat kite basah kuyup dan tenggelam,’’ ujar Ijal mengingatkan untuk membantu membuang air di
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Angin kencang, ikan tak ada.
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAU POS

LIPUTAN UTAMA
dalam sampan. Pengerih yang dipasang Iwan dan Mansur tak jauh dari aktivitas penambangan minyak di anjungan lepas pantai salah satu perusahaan minyak di daerah ini. Derasnya aliran minyak belum berimbas pada nelayan pengerih. Nasib mereka tetap saja perih. Mansur mengangkat pengerih pertamanya. Ternyata, hanya beberapa ekor ikan kecil yang berkilauan dalam pranak. Pindah ke pengerih lainnya, malah lebih parah. Tak seekor pun ikan singgah, pranak hanya dijejali tumpukan sampah. ‘’Macam ni lah kondisinya. Karena angin kencang, ikan pun tak ada. Makanya kita malas melihat jaring pengerih yang sudah kita pasang sejak pagi tadi. Tapi semuanya harus disyukuri, karena itulah rezeki kami hari ini,’’ kata Bakar, yang keenam anaknya sudah menikah. Ia kini datuk bagi 18 cucunya. Sekarang, ia tinggal bersama istri dan salah seorang anaknya. Mereka tak punya kebun seperti warga Bunsur lainnya. Hasil tangkapan ikannya selalu dijual di pelataran rumah warga tempat nelayan naik ke daratan. ‘’Hanya dibeli oleh masyarakat dekat sini. Belum mampu jual keluar, karena hasil tangkapan sikit. Kalah dengan nelayan lain yang alat tangkapnya canggih,’’ ujarnya. Ia berharap ada bantuan dari pemerintah berupa jaring gumbang dan yang paling utama adalah sampan.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

GRAFIS: FURQON ELWE

Desa Bunsur berada sekitar 80 Km dari ibukota Kabupaten Siak. Dari Sungai Apit sebagai ibukota kecamatan, berjarak sekitar 20 Km. Sedang dari Pekanbaru, jarak desa ini mencapai 140 Km.

LIPUTAN UTAMA
‘’Dah banyak yang lapuk dan bocor. Kalau sampan tak ada, macam mana kita nak ke tengah laut melihat hasil tangkapan pengerih,’’ tuturnya. Meski alat tangkap sudah banyak yang uzur, Bakar berdoa agar laut selalu bersahabat dan tak ada pencemaran lagi, terutama akibat tumpahan minyak mentah, disengaja maupun tidak. Bertaruh Nyawa di Sampan Bocor Ada pasangan suami-istri yang bertaruh nyawa di tengah ganasnya ombak laut di Selat Lalang, Ismail dan Salbiah. Pasalnya, sampan yang mereka gunakan sudah seusia Salbiah, 31 tahun, bocor lagi. Keduanya pun saling bahu-membahu. Saat sang suami mengangkat pengerih, Salbiah harus siap-siap dengan gayung di tangan untuk menimba air yang menggenangi sampan. ‘’Ya beginilah sampan kami. Kondisinya bocor makanya saya tak berani turun sendiri. Karena khawatir saat melihat hasil jaring malah sampan yang tenggelam. Makanya bersama istri saling bahumembahu. Jika dia yang mengangkat jaring saya yang menimba air atau sebaliknya,’’ ucap Ismail. Pekerjaan mencari ikan di laut harus mereka lakukan bersama-sama demi menghidupi keluarga. Inilah satu-satunya mata pencarian pasangan ini. Maka apapun risikonya di laut, tetap dilakukan, termasuk harus melawan ombak dan arus laut yang kuat. ‘’Tentu setiap saat kami bisa saja tenggelam. Makanya kami bertaruh nyawa di atas sampan yang bocor. Kami berharap, semoga hasil tangkapan ikan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Salbiah
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAU POS

Tentu setiap saat kami bisa saja tenggelam. Makanya kami bertaruh nyawa di atas sampan yang bocor.

LIPUTAN UTAMA
tetap banyak,’’ tutur Ismail. Sore itu Ismail dan istrinya tak melaut, meski jaring pengerih sudah dipasang di tengah laut. Keduanya khawatir melihat kondisi angin yang bertiup cukup kencang. Mereka hanya mampu melihat nelayan lain yang mencoba melihat hasil tangkapan mereka di tengah laut. ‘’Tak beranilah, angin kencang. Kalau dipaksakan bukan ikan yang dapat, bisabisa nyawa melayang. Apalagi sampan kecil yang kami punya banyak bocornya,’’ katanya. Ia mengaku terpaksa karena belum ada sampan pengganti. Untuk membeli sampan baru, uang tak cukup. Salbiah mengaku tak bisa berbuat banyak. Jika tetap bertahan di darat sambil menunggu suaminya melaut, rasa khawatir terus mencekam. Dia gelisah ketika suaminya terlambat sampai di tepi pantai. Karenanya, dia memberanikan diri untuk ikut membantu suaminya di laut. ‘’Kalau saling membantu seperti ini, saya tidak cemas lagi,’’ ucapnya. Ada Rezeki di Pasang Tinggi Cuaca dan arus pasang-surut sangat berpengaruh bagi nelayan pengerih. Dalam sebulan, untuk dapat melihat pengerih menghasilkan ikan hanya sekitar dua pekan. Selebihnya tak bisa, karena air pasang naik dan surut sangat kecil dan tak berarus.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Mempersiapkan pengerih.
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS

LIPUTAN UTAMA
Menurut Saari (47), pada umumnya pendapatan pengerih itu membaik pada saat air pasang menyorong (pasang naik tinggi). Itu dimulai pada 1217 hari di bulan Hijiriah. ‘’Itu untuk pasang naik siang tinggi,’’ jelasnya. Hal yang sama juga dialami saat pasang naik malam tinggi, seperti pada 28 hari bulan hingga 6 hari bulan baru berikutnya. Namun, pendapatan pengerih tak lagi seperti 1020 tahun lalu. Bahkan ikan dalam pengerih kini hanya bisa menghasilkan uang belasan ribu dan paling tinggi kisaran Rp50 ribu per hari. ‘’Itu kita sudah ada tiga atau empat pengerih. Jadi ikan susah betul didapatkan sekarang,’’ kata Saari. Bagi nelayan, untuk memasang pengerih di tengah Selat Lalang memakan waktu 10-20 menit berkayuh sampan. Itu jika dilakukan saat tidak musim angin atau gelombang menggelora. Jika musim angin dan gelombang, bisa 40 menit sampai satu jam baru tiba di tengah selat. Untuk membawa pengerih ukuran cukup besar pun tak semudah yang dibayangkan. Paling tidak, harus mengondan atau menyeret pengerih menggunakan dua sampan. ‘’Kalau cume satu sampan, bisa-bisa kite yang ditarik arus pengerih. Sebab arus selat ini lumayan lajunya, apalagi kalau pasang tinggi,’’ lanjutnya. Lain lagi Muhammad Ali. Baginya, musim angin kuat dan bergelombang terkadang harus ditempuh juga. Sebab dari hasil tangkapan pengerih itulah mereka bisa hidup. ‘’Daripada dapur tak berasap, lebih baiklah kita memasang pengerih. Walaupun angin dan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Kalau cume satu sampan, bisa-bisa kite yang ditarik arus pengerih. Sebab arus selat ini lumayan lajunya, apalagi kalau pasang tinggi

LIPUTAN UTAMA
gelombang kuat. Tapi kalau musim angin, siang aje kite berani menengok pengerih, kalau malam tak berani,’’ ujar Ali. Apa sebab? Karena para nelayan pada umumnya menggunakan sampan yang tidak bermesin. Selain itu, paling maksimal untuk pencahayaan sampan hanya menggunakan lampu lanting kalaupun ada lampu senter. Jadi penerangan sangat terbatas. Kemudian pada sampan-sampan hanya ada kajang yang terbuat dari daun mengkuang dan daun rasau. Semati-mati angin, kata Ali, untuk tempat berlindung di sampan memakai kembes (terpal plastik). ‘’Itu sebabnya kalau hujan dan angin kuat kami tak berani melaut pada malam hari,’’ jelasnya sambil tangannya cekatan membubul, menjahit jala pengerih yang robek. Ia terpaksa nekat menerobos segala risiko, lebih kepada rasa tanggung jawab memenuhi keperluan hidup. Absen melaut, hutang di kedai bakal bertambah. ‘’Jadi menangkap ikan menggunakan pengerih ini untuk hidup aje, bukan untuk cari kaye,’’ ujarnya. Berharap Bantuan Pemkab Nihil bantuan, nelayan terpaksa berutang pada tauke untuk mengganti alat tangkap. Satu pengerih perlu biaya paling sedikit Rp800-900 ribu. Untuk dapat duit sebanyak itu, mereka hanya mengandalkan kepercayaan orang kedai atau yang menjual jaring kepada nelayan Bunsur.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Jadi menangkap ikan menggunakan pengerih ini untuk hidup aje, bukan untuk cari kaye.

LIPUTAN UTAMA
‘’Modal jaring, pranak dan semuanya bisa mencapai Rp1 juta. Untuk pengerih ini, satu orang tak bisa mengandalkan satu, paling tidak tiga atau empat. Kalau satu pengerih saja cukup untuk makan dan tak bisa untuk dijual,’’ jelas Mansur. Satu unit sampan kolek yang mereka gunakan untuk mengangkut pengerih ke tengah Selat Lalang harganya cukup mahal, Rp1,5 juta. ‘’Itu pun sudah yang separuh pakai. Kami tak pernah beli baru, jadi yang ada ini diperbaiki terus,’’ katanya. Mereka berharap Pemkab Siak memberi perhatian serius pada nelayan pengerih. Paling tidak alat transportasi apakah itu stempel atau pompong. Jadi untuk melaut tak lagi mendayung. ‘’Kalau pakai pompong atau stempel kan senang kami. Tak perlulah menongkah dayung ke tengah selat tu. Kalaupun ada gelombang atau angin kuat tak perlu kami rigun (takut, red) untuk membongkar pengerih,’’ harapnya. Dijemur di Lantai Lapuk Keluarga nelayan di Bunsur juga kompak. Jika suami atau anak laki-laki mereka mencari ikan di laut, yang perempuan baik istri maupun anak-anak turut membantu. Baik dengan ikut mencari ikan di laut atau mempersiapkan air panas untuk memasak ikan. ‘’Misal suami dapat ikan bilis. Kita di darat pun
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Rumah nelayan di Desa Bunsur.
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS

LIPUTAN UTAMA
sudah siap-siap dengan air panas untuk memasaknya. Atau ada ikan lain yang langsung dijual ke masyarakat yang mau membeli dan ini jadi urusan perempuan,’’ ucap Sabariah (45) seorang istri nelayan pengerih di Desa Bunsur. Selama 20 tahun mendampingi suami bekerja, bagi Sabariah, mereka selalu bersyukur dengan hasil tangkapan ikan. Selain untuk dikonsumsi keluarga, ada sedikit yang dijual ke masyarakat dan uangnya ditabung untuk keperluan tujuh anaknya yang masih sekolah. Tapi, dia juga miris ketika suaminya dapat hasil tangkapan yang cukup banyak. Karena bingung akan dijemur di mana ikan-ikan itu sebab lantai kayu yang biasa dipakai, sudah banyak yang rusak dan lapuk. Apalagi pelantar itu letaknya di tepi laut. Saat air pasang, tiupan angin kencang, pelantar pun bergoyang membuat gamang, cemas tiba-tiba patah. ‘’Salah-salah memijakkan kaki, bisa jatuh ke laut. Untuk memperbaikinya, kami tak punya uang. Papan dan kayu harganya mahal,’’ tutur Sabariah. ‘’Kalau dibangun permanen dan tiangnya dari beton serta lantainya dicor, kita akan sangat terbantu,’’ lanjutnya. Tetangga Sabariah, namanya Aminah (52), turut iba melihat kondisi lantai jemur milik Sabariah yang juga digunakan bersama-sama nelayan lain. Dia mengharapkan, pemerintah berpihak pada rakyat kecil seperti dirinya. Tak usahlah bantuan uang tunai, cukup berupa alat tangkap ikan dan lantai jemur yang memadai. (amzar/rpg)

Kalau pakai pompong atau stempel kan senang kami. Tak perlulah menongkah dayung ke tengah selat tu. Kalaupun ada gelombang atau angin kuat tak perlu kami rigun (takut, red) untuk membongkar pengerih.

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA

SELAT BERANDA SELAT LALANG DIMASUKI PENCEMAR. ADA SAMPAH SAMPAH PLASTIK, KAYU-KAYU, YU-KAYU KAYU-KAYU, HINGGA ZAT KIMIA. TAK ZAT CUKUP DIPULIHKAN HANYA HANYA DENGAN KERJA BAKTI. BAKAU PUN DIPILIH BAKAU PUN JADI BENTENG ALAMI.

Ingin Pulih, Bakau Dipilih

P

OSISI Selat Lalang terbujur di muara Sungai Siak. Perairannya juga menjadi lintasan lalulalangnya beragam jenis kapal —yang tidak hanya sekadar lewat. Mau tak mau, Selat Lalang terpaksa menjadi penampung apapun yang datang dari hulu sungai. Itu di antara yang menjadi penyebab kenapa sang bahari tak lagi lestari. Pencemaran dan banyaknya sampah-sampah plastik hingga zat kimia inilah membuat tangkapan nelayan di Selat Lalang jauh dari yang diinginkan. Terutama jika dibandingkan tahun
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA
1980 hingga 1990-an dulu. ‘’Kita tak bisa berbuat banyak, hanya dengan cara alami membuang sampah dan membersihkan pesisir pantai,’’ ungkap aktifis kelompok pencinta alam Bina Cinta Alam, Kabupaten Siak, Tarsono. Karenanya, ia mengajak secara massal mengatasi pencemaran lingkungan dan mengembalikan lagi kehidupan bawah air di Selat Lalang. Bersama masyarakat di Desa Bunsur hingga Mengkapan, mereka melakukan aksi nyata. Awalnya, kerja bakti membersihkan lingkungan pesisir pantai Selat Lalang. Langkah lain yang difokuskan adalah melakukan pembibitan dan penanaman kembali berbagai jenis bakau di pesisir pantai Selat Lalang. Diyakini, keberadaan bakau dan perbaikan aliran sungai di Desa Bunsur dan Desa Mengkapan sangat berpengaruh. Dengan perbaikan lingkungan melalui penanaman bakau di sepanjang bibir pantai Selat Lalang, paling tidak bisa memberikan warna baru pencegahan abrasi dan juga perbaikan biota air di selat tersebut. Semua ini dirasa perlu. Kendati masyarakat tempatan memang bukannya biang penyebab kesuburan perairan di sana terganggu, namun pastinya perairan Selat Lalang adalah pekarangan tempat mereka mencari nafkah. Mereka sendiri, walau apapun kondisi, tak bisa tinggal diam karena harus hidup dan makan. Akhirnya dengan alat sangat sederhana yaitu pengerih, tetap dipasang di tengah Selat Lalang. ‘’Secara nyata masyarakat sangat menjaga kearifan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Awalnya, kerja bakti membersihkan lingkungan pesisir pantai Selat Lalang. Langkah lain yang difokuskan adalah melakukan pembibitan dan penanaman kembali berbagai jenis bakau di pesisir pantai Selat Lalang

LIPUTAN UTAMA
lokal. Sebab dengan alat tradisional itu tak merusak biota laut yang ada di Selat Lalang. Namun karena berbagai pencemaran, tangkapan ikan jauh dari harapan,’’ ucap Tarsono. Awalnya, masyarakat kurang yakin dengan ajakannya. Tapi Tarsono tak surut. Ia terus menunjukkan kerja nyata dan turun langsung ke warga. Terus meyakinkan pentingnya menjaga hutan bakau. Akhirnya masyarakat termotivasi. Mulai sudi bergabung dan ramai-ramai melakukan penanaman dan pembibitan. Terutama menanam kembali bibit bakau dan api-api di lahan tidur milik mereka. Saat ini, terutama di Desa Mengkapan yang juga berhadapan langsung pada Selat Lalang, sudah memulai memperhatikan hutan bakau. Bahkan sepanjang aliran Sungai Mengkapan yang panjangnya mencapai 25 kilometer bakau tak bisa ditebang begitu saja oleh masyarakat. Mulai dari bibir sungai hingga berjarak 500 meter ke daratan bakau tak boleh ditebang sembarangan. ‘’Kajian kita, dengan terjaganya bakau, berbagai jenis ikan, udang, kepiting dan juga makanan laut lainnya seperti sepetang, lokan akan berkembang dengan cepat. Dan itu sudah dirasakan masyarakat,’’ jelasnya. Untuk menguatkannya, telah dibuat Peraturan Desa (Perdes) bahwa setiap orang yang menebang bakal dikenakan sanksi. ‘’Kecuali untuk keperluan mendesak dan harus tebang pilih,’’ kataTarsono. Upaya menjaga dan melestarikan bakau ini terus ditularkan ke beberapa desa lainnya, seperti Bunsur,
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Secara nyata masyarakat sangat menjaga kearifan lokal. Sebab dengan alat tradisional itu tak merusak biota laut yang ada di Selat Lalang. Namun karena berbagai pencemaran, tangkapan ikan jauh dari harapan.

LIPUTAN UTAMA
Sungai Rawa dan desa-desa di aliran Sungai Siak. ‘’Alhamdulillah itu sudah mulai berjalan. Walau terkadang harus berkali-kali turun ke masyarakat untuk meyakinkan,’’ ucapnya. Untuk Desa Mengkapan sendiri sudah dilakukan pembibitan bakau sebanyak 35 ribu batang dan apiapi sebanyak 15 ribu. Sekarang tinggal pemilihan tempat untuk penanaman bibit-bibit tersebut. ‘’Ini yang akan kita rundingkan kepada masyarakat Mengkapan dan Bunsur yang kebetulan berdekatan,’’ jelasnya. Kendati program ini baru berjalan tiga tahunan, partisipasi masyarakat sudah tinggi. ‘’Ini yang membuat saya bahagia,’’ kata pegiat lingkungan yang sudah beberapa kali menerima penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Gubernur Riau ini. Pihaknya kini menyisir beberapa daerah untuk dilakukan tindakan serupa, di antaranya Desa Meredan Hilir, Mempura, Bunsur, Mengkapan dan Sungai Rawa. ‘’Jika ini berjalan tentu secara otomatis kita membawa masyarakat untuk cinta terhadap lingkungan dan mengembalikan keasrian alam pesisir pantai terutama menanam dan menghijaukan kembali bakau, api-api dan berembang,’’ jelasnya. (amzar/ rpg)

Dengan perbaikan lingkungan melalui penanaman bakau di sepanjang bibir pantai Selat Lalang, paling tidak bisa memberikan warna baru pencegahan abrasi dan juga perbaikan biota air di selat tersebut

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

Tak Ada Rotan, Jaring pun Oke
ENGERIH, alat tangkap andalan nelayan Selat Lalang, terbuat dari jaring dengan panjang dan lebar bervariasi. Jaring-jaring tadi diikatkan pada dua batang kayu, membentuk segi empat. Jaring pun jadi terbuka lebar. Semakin ke ujung, jaring kian mengecil. Dulunya, pengerih dibuat dari bambu dan rotan. Tapi karena semakin sulitnya bahan baku, kini dibuat dari jaring. Bambu dan rotan tak digunakan lagi, kecuali untuk pranak. Pranak inilah yang dipasang di ujung jaring yang mengerucut. Ke dalam pranak, nantinya beragam jenis ikan, plus sampah, akan terperangkap. Pranak sendiri biasanya dibuat dari bambu yang mereka jalin dan bentuk seperti lukah raksasa. Panjangnya hingga dua meter. Pengerih masih menggunakan batang kayu untuk penimbul jaringnya. Untuk bandul kiri kanan dan alang atas-bawah untuk pengikat jaring, masih menggunakan batang kayu mahang sebagai penimbulnya. Jaring tersebut diikat pada kayu yang sudah dibuat persegi empat. Sedangkan untuk pundi terbuat dari buluh. Jika air surut, pranak akan timbul sendiri karena tidak
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

P

Pengerih terbuat dari jaring.
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS

LIPUTAN UTAMA
ditendang oleh arus air. Jadi tak perlu harus menarik dari dalam dasar air seperti dilakukan untuk pundi gumbang. Karena terbuat dari buluh, secara otomatis saat air tenang, dia akan timbul sendiri. Makanya setiap air tenang atau pasang sudah penuh, para nelayan pengerih akan turun untuk melihat isi pranak. Jadi sangat beda dengan gumbang yang menggunakan pelampung berupa drum plastik yang mengapung di tengah selat-selat atau laut luas. Di Riau, pengerih masih bertahan dan digunakan hanya oleh segelintir nelayan tradisional yang berada di pesisir. (amzar/rpg)

Dulunya, pengerih dibuat dari bambu dan rotan. Tapi karena semakin sulitnya bahan baku, kini dibuat dari jaring

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA

Dibantu Sudah, Dijenguk Belum
KELUHAN KELUHAN MUNCUL, MUNCUL, PEMKAB SIAK PUN PUN ANGGAP, TANGGAP, LALU DIUCAP. JANJI DIUCAP. SETELAH DICEK, APA YANG PERLU APA NELAY BAGI NELAYAN, BAKAL DIPRIORITASKAN. RITASKAN.
DESA Bunsur memang belum pernah ditinjau langsung oleh Susilawati, Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Siak. Namun keluhan di sana, terutama dari nelayah pengerih, sudah sampai ke telinganya. ‘’Kita akan cek ke lapangan. Apa yang dibutuhkan nelayan akan jadi prioritas kita. Jika tak ada dalam plafon anggaran 2013, akan diusulkan dalam APBD Siak 2014,’’ ungkapnya. Pengecekan ke lapangan, kata Susi –sapaannyaadalah tindakan tanggapnya. Dengan begitu, apa yang diperlukan nelayan dapat dilihat secara langsung. Secara umum, pihaknya sudah membuat program yang berpihak pada masyarakat kecil, khususnya nelayan tradisional di wilayah pesisir laut Kabupaten Siak maupun nelayan tradisional lain yang ada di aliran sungai. Setiap tahun, bantuan pada nelayan tradisional yang cukup banyak di sana, terus jadi prioritas. ‘’Pemerintah kabupaten sangat serius terhadap nasib nelayan tradisional. Meski belum semuanya dirasakan nelayan, tapi secara perlahan dan pasti kita akan mengatasi problem mereka,’’ ucap Susi. Dia mengaku, tahun lalu sudah mendistribusikan bantuan alat tangkap ikan tradisional pada kelompok
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA
nelayan laut, maupun nelayan budidaya darat. Meski jumlahnya terbatas, ini akan terus diupayakan. Umumnya nelayan yang sudah menerima berada di pesisir laut Kabupaten Siak seperti di Desa Kayu Ara,Teluk Batil, Penyengat, Tanjung Kuras, Desa Lalang dan Bunsur. Khusus untuk pemberantasan SUSILAWATI Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Siak. kemiskinan terhadap nelayan tradisional, sudah dibentuk Tim Nasional Program Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). ‘’Sudah ada acuannya. Tapi kalau memang Kita akan cek dibutuhkan tentu ini akan disesuaikan di lapangan. ke lapangan. Apa kebutuhan masyarakat akan tetap diinventarisasi, Apa yang sehingga semua persoalan di lapangan dapat dibutuhkan terjawab,’’ ucap Susi didampingi Kabid Perikanan nelayan akan Bahtiar MM dan sekretarisnya, Nasruddin SSos. jadi prioritas Menurutnya, para penerima bantuan harus kita. Jika tak memenuhi persyaratan. Yakni membentuk kelompok ada dalam plafon anggaran yang masuk dalam data TNP2K. Makanya, jika ada kelompok yang belum terdaftar, diharap secepatnya 2013, akan diusulkan dalam mendaftarkan kelompoknya ke UPTD dan BPK di APBD Siak tiap kecamatan. 2014. Dia mengatakan, tahun ini Pemkab Siak sudah membuat program untuk membantu nelayan dan pihaknya dalam waktu dekat akan turun ke lapangan untuk menghimpun keluhan masyarakat serta mendata nelayan di Siak.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA
Pihaknya pun sudah mengingatkan seluruh kepala bidang dan juga UPTD di tiap kecamatan untuk mendata persoalan yang dihadapi masyarakat. Data yang akurat diperlukan agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

CSR yang kita jalankan bukan sekadar program perusahaan, melainkan kolaboratif yang perencanaan dan pelaksanaannya berdasar kesepakatan antar-stakeholders.

Tak Langsung, via CSR Di dekat desa ini, ada perusahaan pengeboran minyak yang beroperasi di Selat Lalang, EMP Malacca Strait SA. Dari sampannya, masyarakat nelayan harus mendongakkan kepalanya untuk melihat aktivitas pekerja di atas anjungan lepas pantai itu. Meski area kerja mereka dengan nelayan tempatan berdampingan, jelas mereka sangat-sangat beda dalam pendapatan. Apakah nelayan tak kecipratan? Secara langsung ke tangan nelayan, memang tidak. Sebab, program CSR EMP Malacca Strait SA pada masyarakat sekitar wilayah kerja, termasuk masyarakat Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, selama ini lebih difokuskan pada bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Kata Kepala Humas EMP, Heru Hardono, hal itu berdasar hasil pemetaan sosial yang melibatkan para pemangku kebijakan termasuk kepala desa, camat dan sejumlah tokoh masyarakat setempat. “CSR yang kita jalankan bukan sekadar program perusahaan, melainkan kolaboratif yang perencanaan dan pelaksanaannya berdasar kesepakatan antar-stakeholders,” ujar Heru. Di bidang kesehatan, EMP Malacca Strait secara
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA
berkala mengadakan program makanan tambahan (PMT) bagi balita dan pelatihan kesehatan bagi ibu hamil. Dilaksanakan sebulan sekali secara Pengeboran minyak yang dikelola EMP Malacca Strait SA. serempak di tiap Posyandu di sekitar wilayah kerja perusahaan. “Tahun 2011, program pelatihan kesehatan ibu hamil telah terbukti secara signifikan mampu menurunkan angka Di bidang ekonomi, kematian bayi dan menaikkan angka partisipasi kata Heru, fokus kontrol kesehatan ibu hamil di Puskesmas Kecamatan pada program Sungai Apit,” tambah Heru. karet yang Di bidang pendidikan, satu di antaranya adalah melibatkan petani bantuan dan binaan terhadap perpustakaan umum getah di wilayah Desa Bunsur. Perpustakaan ini pernah dapat Desa Bunsur dan kehormatan untuk mewakili Siak dalam ajang lomba wilayah Kecamatan Sungai Apit yang perpustakaan tingkat provinsi dan meraih predikat masuk dalam ring perpustakaan desa terbaik se-kabupaten. Di bidang ekonomi, kata Heru, fokus pada prosatu perusahaan gram karet yang melibatkan petani getah di wilayah Desa Bunsur dan wilayah Kecamatan Sungai Apit yang masuk dalam ring satu perusahaan. (amzar/rpg)
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA

Jangan Asal Bantu
NELAYAN DESA NELAY BUNSU NSUR BUNSUR MEMANG PERLU BANTUAN. NAMUN SEBELUM NAMUN SEBELUM BERI MASUKAN, LIHAT LIHAT DULU KONDISI DI LAPANGAN. LAPANGAN. JANGAN ASAL DIBANTU TAPI TAK DIRASAKAN MANFAATNYA. AATNY MANFAATNYA.

K

EHIDUPAN nelayan tradisional di Desa Bunsur, jelas dirisaukan Kepala Desanya, Tengku Arifin. Selain uzurnya peralatan tangkapan ikan, sampan maupun jaringnya, juga buruknya kondisi kesemua lima pangkalan tempat mereka menjual hasil ikan. Ia tak menafikan bantuan yang pernah ada, namun tak sesuai keinginan masyarakat. ‘’Biarlah satu kali membantunya, tapi manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka waktu lama. Seperti lantai jemur ikan yang sudah banyak rusak dan memprihatinkan. Jika dibangun permanen dan tahan lama, tentu manfaatnya dapat dirasakan,’’ ujarnya. Arifin menyebutkan, ia langsung turun ke lapangan dan merasakan kondisi yang dihadapi para nelayan tradisonal. Melaut merupakan satu-satunya sumber kehidupan mereka. Kalau ini tak jadi perhatian bersama, tentu kehidupan nelayan di kampungnya akan tetap seperti dulu: miskin dan tak mampu menyejahterakan keluarganya, khususnya yang memiliki anak-anak usia sekolah. Menurutnya, selama ini masyarakat nelayan hanya mengandalkan hasil penjualan ikan dan dari hasil itu disisihkan untuk memperbaiki lantai jemur. Namun setelah lantai jemur diperbaiki, dalam waktu beberapa bulan kembali rusak, karena terbuat dari kayu yang
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

LIPUTAN UTAMA
mudah lapuk. Makanya, kata Arifin, untuk membantu nasib nelayan setiap tahunnya diusulkan dalam rapat Musrenbang tingkat desa, kecamatan dan kabupaten. Tapi apa yang diusulkan tak pernah disetujui. Ia mencontohkan, bantuan pemerintah yang dinilai cukup baik dan manfaatnya dirasakan masyarakat, yakni pembangunan pelabuhan Desa Bunsur. Selama ini pelabuhan tersebut setiap tahun harus dilakukan perbaikan karena terbuat dari kayu. Kini setelah dibangunan permanen, hasilnya bisa dilihat dan dirasakan masyarakat. ‘’Kita ingin bantuan yang seperti itu. Selain kokoh dan tahan lama juga memiliki keindahan,’’ ujarnya. Desa Bunsur terbentuk tahun 2001, sebagai pemekaran dari Desa Lalang, Kecamatan Sungai Apit. Pembangunan infrastruktur di desa itu sepertinya belum berjalan maksimal. SD saja tak punya. Anakanak bersekolah ke desa tetangga. Seperlima dari jumlah masyarakatnya yang berprofesi sebagai nelayan tradisional, masih hidup seadanya. Padahal, potensi daerah ini cukup besar. Di depannya, di Selat Lalang di mana mereka saban hari mengais rezeki, berdiri pengeboran minyak lepas pantai. ‘’Nelayan tradisional di desa kami masih banyak membutuhkan bantuan dari pemerintah. Alat tangkap serta sampan yang mereka gunakan banyak yang rusak. Padahal sudah kita usulkan ke pemerintah, tapi belum ada tanggapan berarti,’’ ujar Tengku Arifin. (amzar/rpg)
MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Nelayan tradisional di desa kami masih banyak membutuhkan bantuan dari pemerintah. Alat tangkap serta sampan yang mereka gunakan banyak yang rusak. Padahal sudah kita usulkan ke pemerintah, tapi belum ada tanggapan berarti

Tengku Arifin Kades Bunsur
FOTO: GEMA SETARA/MAJALAH RIAUPOS

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH

PEMERINTAH KOTA PEMERINTAH KOTA PEKANBARU INGIN TERTIB, PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DUIT. INGIN DUIT. DUA ALASAN BERBEDA INILAH YANG PUNCA MENJADI PUNCA PERSOALAN SEHINGGA TAK NJUNG KUNJU KUNJUNG BISA TERSELESAIKAN SAMPAI SAMPAI DETIK INI.

P

ERTANYAANNYA; serumit itu kah persoalan nya sampai-sampai harus bercucur darah untuk bisa tertib dan pedagang bisa tetap dapat duit? Tentu saja, semua punya latar belakang. Sejumlah konflik Pemko dan masyarakat, umumnya berawal dari pembiaran. Mencuatnya kasus pedagang kaki lima di Kota Bertuah, tak terlepas dari keterlambatan Pemko Pekanbaru dalam penertiban. Benih persoalan yang sekarang dipanen Pemko sudah terlihat beberapa tahun lalu. Ketika itu, bibit sudah tumbuh liar di sejumlah tempat di Pekanbaru. Awalnya dengan memanfaatkan lahan kosong yang ramai pemukiman warga. Bahkan, ada yang hanya di sela-sela pohon rambutan seperti yang pernah ramai di Jalan Purwodadi Panam, Pekanbaru. Masih terdapat banyak tempat di mana transaksi pasar dadakan ini bisa dijumpai. Walau berdurasi tiga hingga empat jam saja, tak jarang pasar dadakan ini meluas hingga akhirnya memacetkan jalan umum. Sebut saja seperti yang terlihat di Jalan Melati Sekuntum, Kulim, Pekanbaru setiap Jumat petang. Atau di Jalan Lobak ujung setiap Selasa dan sejumlah tempat lainnya. Awalnya, pedagang lebih menjual keperluan dapur. Namun karena tingginya animo masyarakat untuk bertransaksi, muncullah para pedagang keperluan sekunder lainnya. Akhirnya, pasar yang awalnya tampak lapang, mulai sesak. Semeter tanah pun jadi tempat yang berharga. Ternyata, realita ‘pasar’ di pemukiman ini
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH
menginspirasi para pedagang untuk lebih menampakkan diri. Satu per satu mulai muncul dan menggelar dagangannya di depan toko. Barang yang diperdagangkan pun tak lagi ada cabai, garam, kunyit apalagi jengkol dan petai. Sukses di depan toko, mulai pula dilirik tempat strategis lainnya. Salah satu sasaran itu adalah taman kota di belakang Pustaka Soeman Hs yang sangat strategis karena ramai dilalui. Kelas barang dagangan pun ikut naik kelas seiring meningkatkan kualitas tempat berjualan. Namanya tetap masih pasar jongkok, meski tak jelas apa maksudnya. Pakaian —baju, celana dan sepatu— menjadi barang dagangan yang mendominasi. Harga pun terasa lebih murah dibanding barang yang sama di pasar resmi. Persoalan harga inilah yang menjadi daya tarik pembeli. Awalnya, masyarakat yang datang hanya CNN (cuma nengok-nengok) alias cari angin karena tempat raun minim di Pekanbaru. Namun, karena harga yang menggoda, niat tadi bisa berubah menjadi untuk belanja. Apa sikap Pemko terhadap hal ini? Awalnya, Pemko menaggapinya positif sebagai dampak kota berkembang. Ini terbukti dari beberapa kali pernyataan Wali Kota Pekanbaru yang ketika itu masih dijabat Herman Abdullah. Dalam berbagai pernyataannya menyangkut pedagang, Herman sering
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Pedagang K5 di Cut Nyak Dien.
FOTO: DEFIZAL & TEGUH PRIHATNA/RIAU POS

DAERAH
menyebutkan, silakan saja berjualan, tapi jangan parkir sembarangan karena akan memacetkan lalu-lintas. ‘’Kita tidak larang berjualan di sana, silakan saja. Tapi jaga kebersihan, ketertiban. Dan lebih penting lagi jangan sampai berjualan di trotoar karena mengganggu masyarakat lain sebab jalan macet,” ujar Herman yang ketika itu berkunjung ke Kantor Harian Riau Pos. Pernyataan ini, tentu saja menjadi senjata bagi para pedagang. Dengan PKL masih tetap berjualan di pinggir Jalan HR Soebrantas. menggeser dagangannya lebih ke dalam, mereka seperti telah mengikuti saran Pak Wali. Celakanya, para pedagang pun menolak disebut penyebab kemacetan, karena yang parkir di pinggir jalan itu bukan kendaraan pedagang, tapi masyarakat yang datang ke tempat itu. Amunisi lainnya, para pedagang berpegang pada janji Firdaus ketika masih menjadi calon Wali Kota Pekanbaru. Saat itu mantan Kadis PU Riau ini menyatakan akan melindungi para pedagang dan mencarikan solusi terbaik. Terlepas dari pernyataan itu untuk menarik simpati para pedagang guna meraup suara Pemilukada, pedagang terlanjur punya harapan besar pada Firdaus. Apalagi dengan pernyataan tersebut, mendaulat Firdaus sebagai pembina Aliansi Pedagang Pekanbaru (APP). Pernyataan ini pula yang kini ditagih para pedagang ketika mereka melihat Firdaus tak lagi
FOTO: DEFIZAL/RIAU POS

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH
berfungsi sebagai pembina, tapi lebih pada ‘pembinasa’. Ketika aktivitas pedagang di depan toko di Jalan HR Soebrantas meresahkan, Pemko di bawah kendali Firdaus memang harus bersikap tegas. Berbagai langkah pun telah diambil, termasuk mencarikan solusi untuk pedagang. Salah satu solusi jangka Wali Kota Pekanbaru, Firdaus berbincang dengan petugas pendek, para pedagang disiapkan kebersihan kota. tempat di belakang Metropolitan City (MTC Giant) Panam. Mereka juga diberi tempat strategis di Jalan Arifin Achmad. Solusi ini hanya diikuti sebagian pedagang. Sejumlah besar lainnya menolak dengan alasan sepi pembeli. Ketika aktivitas Alasan lainnya, masyarakat sudah terbiasa di lokasi pedagang di depan toko di lama sehingga khawatir tak ada pembeli di tempat Jalan HR baru. ‘Arogansi’ pedagang ini, membuat geram Soebrantas Pemko. Sikap tegas pun terpaksa diambil setelah meresahkan, berbagai peringatan lisan dianggap angin lalu. Pemko di bawah Penertiban paksa dilakukan dengan melibatkan Satpol kendali Firdaus PP, aparat kepolisian dan TNI. Hasilnya: sudah pasti memang harus bentrok. bersikap tegas Itulah yang terjadi 4 September 2012 lalu. Akibat tetap nekat berjualan, PKL Jalan HR Soebrantas ditertibkan paksa oleh Satpol PP Pekanbaru. Keesokan harinya, Rabu (5/9/2012), pedagang kembali ramai berjualan. Tentu saja Satpol PP makin marah. Kamis (6/9/2012) sekitar pukul 18.30 WIB, Satpol PP turun tangan melakukan pembongkaran paksa lapakFOTO: MIRSHAL/RIAU POS

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH
lapak pedagang. Sebulan berselang, tempat ini kembali ramai dengan PKL. Bahkan, berbagai pernyataan menentang semakin nyaring disuarakan. Puncaknya, Jumat (12/10/2012), penertiban pun dilakukan oleh petugas gabungan dan pedagang memilih melawan. Mereka menolak mengakhiri aktivitas berjualan di depan toko di Jalan Soebrantas. Bentrok pun terjadi. Satu mobil patroli Satpol PP dirusak dan dipecah massa pedagang yang mengamuk. Kuncinya: Pemko Tegas Lantas, apa solusinya? Pengamat ekonomi perkotaan Dr B Isyandi mengatakan, solusi yang bisa diberikan pada para pedagang hanya satu: sediakan mereka tempat berusaha yang tak mengganggu kepentingan umum. Sebab, Kota Pekanbaru ini milik masyarakat umum, bukan hanya pedagang, sehingga kepentingan umum tak boleh diabaikan. ‘’Saya tidak setuju kalau fasilitas umum seperti taman kota, trotoar, depan ruko dan di bawah lampu jalan dijadikan tempat berjualan. Sebab itu mengganggu kepentingan umum,” tegas Isyandi. Di sisi lain, Pemko dan DPRD harus melakukan pengaturan dan penataan kota berdasarkan tata ruang yang sudah dibuat bersama. Sudah menjadi tugas Pemko, mengamankan tempat umum atau fasilitas umum seperti trotoar, taman kota, dekat
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Pasar tradisional di Jalan Agus Salim.
FOTO: DEFIZAL/RIAU POS

DAERAH
lampu jalan dan lain-lain dari ulah pedagang yang menjadikan tempat ini untuk berjualan. ‘’Pemko harus memperhatikan keindahan, ketertiban dan keamanan untuk kepentingan umum. Bagaimana jalan tidak digunakan untuk berdagang, trotoar dan taman kota tidak dipakai untuk berdagang, taman kota tetap terang dan jangan sampai dirusak,” katanya. Intinya, ungkap Isyandi, Pemko harus tegas dalam menata kota. Untuk para pedagang, Pemko bisa saja menempatkan mereka di mana saja, asal disiapkan pusat-pusat kerumunan orang. ‘’Kalau di sana ada fasilitas umum tempat orang berkerumun, sudah pasti pasarnya akan hidup. Tapi, tetap harus ditata pedagangnya,” ujar Isyandi. Dalam penerapan menata kota ini, Pemko bersama DPR mesti menjalankan aturan yang sudah dibuat. Jika diperlukan aturan baru, segera dibuat dan dijalankan dengan konsekuen. Pada majalah.riaupos.co, Isyandi menegaskan, para pedagang yang kini berjualan di tempat-tempat terlarang seperti taman kota, trotoar, fasilitas umum dan tempat lainnya, harus memahami bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. ‘’Saya tidak berpihak ke mana-mana. Tapi sebagai warga kota, saya tidak setuju kalau taman kota, trotoar dan fasilitas umum lainnya dijadikan tempat berjualan. Sebab akan mengganggu kepentingan umum yang lebih besar,” tegasnya. (syamsul bahri samin/lim/rpg)

Dr B Isyandi Pengamat Ekonomi Perkotaan

Saya tidak setuju kalau fasilitas umum seperti taman kota, trotoar, depan ruko dan di bawah lampu jalan dijadikan tempat berjualan. Sebab itu mengganggu kepentingan umum

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH

Andalkan Proyek ”Akan”

M
Pemko tidak mau terus disalahkan karena tidak menyediakan tempat. Saat ini sudah ada beberapa lahan yang kita siapkan, tapi mereka (PKL, red) menolaknya

ENCUATNYA permasalahan pedagang di tempat-tempat terlarang di Kota Pekanbaru, lebih banyak bergantung pada proyek ‘’akan”. Sebab, sampai saat ini belum ada solusi konkret untuk pedagang yang semakin berani dan menjamur ini. Wali Kota Pekanbaru Firdaus hanya bisa bersuara lantang melarang pedagang berjualan di tempat yang dilarang pemerintah. Sementara, solusi yang ditawarkan belum mangkus mengatasi persoalan. Wako sempat menyebutkan sudah disiapkan lima tempat mengatasi PKL yang sudah meresahkan ini. Hanya saja, baru dua tempat yang disebutkan, pertama di belakang MTC Giant dan Pasar Seni Arifin Achmad. Sementara tiga tempat lainnya masih misteri karena baru akan dicari. ‘’Pemko tidak mau terus disalahkan karena tidak menyediakan tempat. Saat ini sudah ada beberapa lahan yang kita siapkan, tapi mereka (PKL, red) menolaknya. Ke depan kita lengkapi menjadi lima tempat dan lokasinya sedang dijajaki. Jadi tidak ada alasan tidak ada lokasi alternatif untuk mereka pindah,” tegas Firdaus beberapa waktu lalu di kediamannya. Diterangkan Wako, selama ini PKL menolak pindah di lokasi yang telah disediakan Pemko dengan alasan sepi pembeli. ‘’Tuduhan tersebut tidak terbukti.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH
Nyatanya, di lokasi belakang MTC Panam sangat ramai pembeli,” kata Firdaus. Sementara untuk di Pasar Seni Arifin Achmad, dijelaskan Wako, memang sudah ditinggalkan pengelolanya. Namun Pemko berencana menata ulang dengan sarana yang lebih bagus sehingga lebih layak. ‘’Banyak keuntungan jika mereka mau pindah. Selain Pasar Senggol belakang Giant, ramai dikunjungi. tempat yang nyaman, juga ke depan akan ada bantuan supaya usaha mereka besar. PKL akan rugi sebab mereka akan selalu dipaksa untuk keluar dari tempat berdagang ilegal tersebut,” tegasnya. Kepala Dinas Pasar Kota Pekanbaru, Sadri mengatakan, kini Pemko tengah mencarikan sejumlah lahan. Namun di mana lokasinya, Pemko masih mencari-cari. ‘’Sekarang kita baru sebatas mencari lahan, di mana yang cocok untuk dijadikan pasar. Kalau ini sudah dapat, baru kita usulkan untuk dianggarkan pada 2014. Karena untuk tahun ini anggarannya tidak ada. Anggaran 2013 lebih banyak di pemerintahan, yang difokuskan untuk pembangunan pasar induk dan terminal kargo,” jelasnya. Disinggung masih banyaknya pasar tradisional yang belum terkelola dengan baik, Sadri pun tak punya solusi konkret. Terhadap sejumlah pasar ini, Pemko bakal melakukan pengkajian ulang. ‘’Untuk Pasar
FOTO: TEGUH PRIHATNA

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH
Rumbai, kita akan mengkaji kembali terhadap Perwako yang sudah ada, terutama menyangkut besarnya tarif kios yang sudah ditetapkan,” ujarnya. Untuk Pasar Cik Puan, masih menunggu investor untuk bekerja sama melanjutkan pembangunan yang kini terbengkalai. ‘’Untuk Agus Salim, akan dilakukan proses ganti rugi lahan. Pasar Cik Puan yang masih terbengkalai. Saya sudah turun ke sana dan masyarakat di sana mau menjual lahannya untuk dijadikan pasar. Rencanya akan kita anggarkan tahun 2014 dan Jalan Agus Salim akan difungsikan lagi sebagai jalan,” katanya. Menanggapi adanya kesan Pemko melakukan pembiaran terhadap PKL hingga akhirnya menjamur dan berani melawan, menurut Sadri sama sekali tidak benar. ‘’Tidak ada yang namanya pembiaran. Dari zaman Pak Herman (wali kota sebelum Firdaus, red) dulu pun tidak ada pedagang yang dibiarkan berjualan di sembarang tempat. Tapi itulah pedagang, selalu ingin berjualan sesuka hati tanpa memikirkan keindahan, kebersihan, ketertiban dan keamanannya sendiri,” paparnya. Pemko, tegasnya, selalu melakukan penertiban, tapi tak langsung menggusur. Bentuknya lebih pada pendekatan persuasif, dengan cara mengajak dan mengingatkan pedagang agar tak berjualan di tempattempat dilarang. ‘’Kita pemerintah ini semuanya serba
FOTO: RIAUPOS.CO

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH
salah. Terlalu tegas dibilang tidak menghargai masyarakat kecil. Tidak tegas malah dibilang pembiaran,” katanya. Bagaimana dengan pasar kaget yang tumbuh subur di banyak tempat dan mengganggu lalu-lintas? Sadri menjawab, Dinas Pasar tak punya wewenang untuk menertibkan. Alasan utamanya, para pedagang sudah dapat izin dari pemilik lahan. ‘’Kita tak bisa menggusur. Upaya menutup juga tidak bisa. Itu tanah masyarakat. Itu pasar masyarakat, masyarakat yang punya, walau ilegal,” katanya. Menurut Sadri, alasan ia menyebut itu pasar ilegal karena memang tak ada izin.Yang dapat diupayakan pemerintah hanya sebatas mengimbau pemilik lahan untuk mengelola dengan baik dan menjaga kebersihan agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari. Sadri mengimbau camat dan lurah menata pasar kaget. ‘’Ini untuk antisipasi menjamurnya pasar kaget. Karena pasar kalau ditempati, semakin lama semakin ramai. Jadi kita harap mereka menempati kios yang telah dimiliki,” jelas Sadri. (syamsul bahri samin/ lim/rpg)

Bagaimana dengan pasar kaget yang tumbuh subur di banyak tempat dan mengganggu lalu-lintas? Sadri menjawab, Dinas Pasar tak punya wewenang untuk menertibkan

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH

Pedagang Terjepit, Grosir Menghimpit
REALITA REALITA BERTOLAK BELAKANG BAK SIANG DAN MALAM DIPERTONTONKAN KOTA DI KOTA PEKANBARU DI WAKTU YANG BERSAMAAN.

K

ETIKA pedagang kecil dihimpit penertiban karena berjualan di tempat terlarang, di sisi lain Pemko Pekanbaru mengeluarkan izin usaha untuk pemilik modal baru di bidang usaha ritel. Tak tanggung-tanggung. 100 izin usaha telah diberikan pada kelompok usaha ritel milik pemodal kakap. Sebut saja Indomaret, Alfamart dan Indo Grosir. Jelas saja, dengan serbuan ratusan gerai ini, usaha-usaha milik pedagang kecil di Kota Bertuah dikhawatirkan akan kian terhimpit. Apalagi, mereka berani buka 24 jam. Informasi yang diperoleh, 100 tempat yang diberikan izin ini tersebar masing-masing dua tempat di setiap kelurahan. Bahkan, beberapa di antaranya telah mulai beroperasi seperti di Jalan Harapan Raya (kini Jalan Imam Munandar), Jalan Durian Labuhbaru, Jalan HR Subrantas, Jalan Tuanku Tambusai, Jalan Paus dan lain-lain. Untuk Indo Grosir sudah beroperasi di Jalan Soekarno Hatta. Langkah Wali Kota Pekanbaru memberi izin untuk pemilik usaha ritel besar dengan jumlah fantastis ini, dikritik banyak pihak termasuk anggota DPRD Kota Pekanbaru. Tapi apa boleh buat, izin itu sudah diteken. Ternyata, setelah dapat izin 100, pengelola usaha ini masih berencana membuka lebih banyak lagi.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH
Targetnya 200 gerai, dua kali lipat dari izin pertama yang sudah dikantongi. Hingga, Rabu (30/1), Indomaret telah mengoperasikan tak kurang dari 14 gerai di Kota Pekanbaru. Regional Senior Manager II Indomaret Feki Oktavianus saat berkunjung ke Kantor Harian Riau Pos, Rabu (30/1) lalu mengatakan, saat ini sudah 12 Indomaret yang beroperasi di Kota Bertuah. ‘’Target kami 200 outlet dan 40 persen di antaranya adalah franchise dengan masyarakat sesuai peraturan,’’ ungkap Feki. Hingga 2014, Feki menargetkan Indomaret akan menambah 1.000 gerai lagi hingga mencapai angka 10.000 di seluruh Indo-nesia. Saat kunjungan, Feki menawarkan, bagi masyarakat yang ingin memiliki waralaba Indomaret. Bisa dengan membeli lisensi sekitar Rp400 juta belum termasuk rumah toko dua pintu yang menjadi persyaratan Indomaret. Meski diberi peluang, angka Rp400 juta tentu bukan jumlah yang sedikit untuk pedagang kecil. Di sisi lain, jaringan pemasar-an dan aliran produk yang kuat juga akan jadi ancaman tersen-diri bagi pedagang yang bermodal pas-pasan. Kondisi inilah yang dikritik banyak pihak. Langkah Wali Kota yang terkesan ‘diam-diam’ memberi izin operasi pada pemilik modal besar ini dikhawatirkan memunculkan monopoli dalam perda-gangan sektor ritel yang banyak melibatkan pedagang kecil. Ketua Himpunan Pedagang Pasar Plaza Sukaramai
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

IndoMaret Panam.
FOTO: DIDIK HERWANTO/RIAU POS

DAERAH
(HP3S) Ismed Bakri mengatakan, sudah banyak keluhan yang disampaikan warga tentang kehadiran grosir dan retail tersebut. Mereka khawatir usahanya akan mati. Langkah Wali Kota ini, dinilai Ismet kurang tepat mengingat pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru selama ini lebih banyak ditopang pedagang kecil dan menengah. ‘’Dengan masuknya usaha grosir dan retail yang dikuasai seke-lompok usaha, akan terjadi monopoli. Akibatnya, pedagang kecil dan menengah tadi terancam tutup. Apalagi harga di toko-toko retail tersebut jauh lebih murah dibanding di ting-kat pedagang kecil dan menengah karena mereka dapat potongan harga yang lebih besar dari grosir,’’ tegasnya. Meski tak melarang izin pengusaha kelas kakap, Ismet menegaskan harus tetap dibatasi dan ditata dengan baik. Jangan diberi izin serampangan sehingga masuk ke perkampungan penduduk. ‘’Yang terancam bukan hanya pedagang kecil dan menengah, tapi juga swalayan,’’ ujar Ismed. Sejalan dengan izin ini, Ismed mendesak Wali Kota Pekanbaru membenahi pasar-pasar tradisional yang sekarang terbengkalai dan tak terurus, seperti Pasar Rumbai, Pasar Sail, Pasar Limapuluh, Pasar Cik Puan dan pasar lainnya. ‘’Ketika kampanye dulu, Pak Wali Kota Firdaus berjanji akan membenahi pasar tersebut dan memperhatikan pedagang kecil dan menengah. Tapi kenyataannya kok seperti ini,’’ ujar pedagang pakaian jadi tersebut.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Dengan masuknya usaha grosir dan retail yang dikuasai seke-lompok usaha, akan terjadi monopoli. Akibatnya, pedagang kecil dan menengah tadi terancam tutup. Apalagi harga di tokotoko retail tersebut jauh lebih murah dibanding di ting-kat pedagang kecil dan menengah karena mereka dapat potongan harga yang lebih besar dari grosir.

DAERAH
Ismed mengimbau DPRD Kota Pekanbaru membantu pedagang kecil dan menengah yang nasibnya sedang terancam ini. ‘’Tolonglah disuarakan hal ini karena pedagang hanya menggantungkan hidup dari pasar,’’ pintanya. Ketua Komisi II DPRD Kota Pekanbaru Nofrizal mengatakan, DPRD Riau tetap mendukung investasi masuk ke Pekanbaru, hanya jangan sampai mematikan para pedagang kecil. ‘’Kita mendukung investasi di Kota Pekanbaru, tapi perlu dilakukan kajian matang apalagi ini melibatkan masyarakat banyak. DPRD juga harus dilibatkan,’’ katanya. Dari kajian sementara yang dilakukan Komisi II, jika izin ritel diberi, akan berdampak terhadap nasib para pedagang. Untuk itu, dalam memberi izin, Pemko harus memperhatikan dan mengatur lokasi, apalagi dengan jumlah yang tidak sedikit. ‘’Kalau dihitung 200 ritel, di setiap kelurahan yang ada di Pekanbaru bisa saja terdapat tiga ritel. Jika ini sudah tereali-sasi, nasib para pedagang kecil akan terancam. Untuk itu wali kota harus melakukan uji kelayakan terhadap pemberian izin ini,’’ tegasnya. Seharusnya, saran Nofrizal, pemerintah menganggarkan pembangu-nan pasar tradisional yang baru. Misalnya, dari enam pasar dija-dikan 12 pasar, sehingga tiap kecamatan ada pasar tradisional. Lalu apa garansi Wali Kota Pekanbaru atas izin yang sudah diberikan ini? Firdaus meyakini, izin yang sudah diber-i takkan menganggu pedagang yang sudah ada, justru seba-liknya akan membantu.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

FOTO: HALLORIAU.COM

NOFRIZAL Ketua Komisi II DPRD Kota Pekanbaru

Kita mendukung investasi di Kota Pekanbaru, tapi perlu dilakukan kajian matang apalagi ini melibatkan masyarakat banyak. DPRD juga harus dilibatkan

DAERAH
‘’Pembangunan ritel ini tidak akan mengganggu PKL dan pasar tradisional yang ada, tapi nanti kita akan bicarakan lagi bagai-mana sebaiknya,’’ ujar Firdaus. Bukankah kini sudah banyak keluhan yang muncul? Firdaus mengungkapkan, izin ritel tersebut tetap akan dievaluasi. Pasalnya, dalam perizinan terda-pat beberapa syarat yang harus dipenuhi pihak ritel. Di antaranya terkait harga yang harus sama dengan pedagang lainnya, penempatan ritel yang tak membunuh pengusaha lainnya serta penjualan yang lebih bersifat umum maupun grosir sesuai harga pasaran. Jika hal ini tak bisa dipenuhi, Wako janji akan mencabut izin. ‘’Bagaiman-apun masih tetap kita pantau dan evaluasi sesuai perjan-jian yang sebelumnya kita buat. Jika tidak mampu dan melanggar perjanjian, izinnya akan kita cabut. Itu konsekuensinya,’’ tegas Firdaus. Semoga saja Pak Wali. (syamsul bahri samin/ rpg)

Pembangunan ritel ini tidak akan mengganggu PKL dan pasar tradisional yang ada, tapi nanti kita akan bicarakan lagi bagai-mana sebaiknya

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

DAERAH

PASAR-PASAR BERMASALAH

PASAR RUMBAI Sudah selesai pembangunannya. Tapi, penghuni sepi, apalagi pengunjung. Solusi yang ditawarkan Pemko, akan ditinjau Perwako soal besarnya tarif retribusi.

PASAR AGUS SALIM Dulu di lokasi ini tidak pasar, tapi jalan umum. Tapi karena pembiaran pemerintah, berubah total di bawah penguasaan pedagang. Akibatnya, statusnya jadi abu-abu; jalan atau pasar? Rencananya, 2014 akan diajukan anggaran untuk mengembalikan fungsinya. PASAR CIK PUAN Setelah dimulai pembangunannya beberapa waktu lalu, kini pasar yang sudah berkali-kali dilalap api ini terbengkalai. Pemko sedang menunggu investor yang berminat. PASAR LIMAPULUH Sudah lama kurang terurus. Belakangan muncul rencana pemerintah menjadikannya sebagai Pasar Budaya. Realitanya, tahun 2013 ini tak dianggarkan, baru rencana tahun depan.

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

NASIONAL
PRAHARA PARPOL JELANG 2014

Menunggu Giliran ”Arisan”
PART ARTAI JELANG 2014, PARTAI POLITIK (PARPOL) DISOROT TAJAM. KASUS KORUPSI YANG DIPREDIKSI SEMAKIN MENJAMUR MENJAMUR YANG MELIBATKAN MELIBATKAN PARPOL JELANG PESTA DEMOKRASI PESTA AHUN DEPAN, TAHUN DEPAN, SEAKAN MENJADI KENYA KENYATAAN. PARPOL DIIBARATKAN DIIBARATKAN SEDANG BERMAIN HANYA ARISAN: HANYA MENUNGGU TINGGAL MENUNGGU GILIRAN!

K

ISAH-kisah korupsi di lingkungan partai politik ini diawali oleh Golkar. Ketika berkuasa, banyak kadernya yang terlibat kasus rasuah. Dampaknya cukup menyakinkan: perolehan suara Golkar di parlemen kalah pamor dari Partai Demokrat. Meski tak berkuasa secara nasional, kader Golkar masih banyak tercatat dalam daftar korupsi. Indonesia Cooruption Watch (ICW) melansir, sepanjang 2012, 44 kader terjerat kasus korupsi. “Dari jumlah itu, 21 orang di antaranya anggota dan mantan anggota DPR/D dan 21 orang lagi kepala daerah maupun mantan kepala daerah dan dua pengurus partai. Dari jumlah itu, kader Golkar tercatat paling banyak terjerat kasus korupsi,” kata peneliti dari Divisi Investigasi ICW, Tama S Langkun saat ekpose hasil pemantauan tren korupsi tahun 2012 semester I dari 1 Januari-31 Juli 2012. Tak hanya Golkar, ICW meletakkan Demokrat pada urutan kedua dengan jumlah kader yang terlibat korupsi sebanyak 8 orang. Disusul PDIP dengan 7 kader. Di peringkat empat ada PAN, dengan jumlah tersangka 6 orang, sementara di PKB terdapat tiga
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

NASIONAL
kader yang menjadi tersangka. Untuk partai PKS, Gerindra dan PPP masing-masing terdapat dua kader yang terlibat korupsi. Mengapa itu terjadi? Menurut Sekretaris Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq saat tiba di Kabinet Dipo Alam, meski KPK, beberapa waktu lalu. Luthfi ditetapkan sebagai tersangka dan kini ditahan terkait kasus korupsi impor daging sapi. Golkar tak berkuasa lagi di tingkat nasional, beberapa kadernya masih memimpin di daerah. “Makin banyak partai menguasai kepala daerah dan DPRD, kecenderungan dia korupsi semakin besar,” ujar Dipo. Makin banyak Kasus korupsi yang menimpa Parpol ini, partai menguasai berdampak terhadap kepercayaan masyarakat. Data kepala daerah terbaru yang diungkap Saiful Mujani Research & Condan DPRD, sulting (SMRC) yang menggelar survei pada 6-20 kecenderungan Desember 2012, rata-rata karena kasus korupsi, dia korupsi perolehan suara Parpol semakin menurun. semakin besar. Setelah Golkar, Demokrat jadi sorotan. Keterlibatan kader-kader Demokrat yang duduk di majelis terhormat dalam kasus korupsi Hambalang, mulai dari mantan Bendahara DPP Demokrat Nazaruddin, anggota DPR RI Angelina Sondakh dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng memberi dampak buruk. Kondisi ini semakin terpuruk, karena hingga kini, persoalan hukum belum juga selesai. Bahkan mengarah pada eksistensi Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum.
FOTO: JPNN

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

NASIONAL
Bahkan, karena kasus korupsi ini, kalangan kader Demokrat berani menilai partai yang menang dua Pemilu ini sedang menghadapi kehancuran. Setidaknya, itu menjadi kekhawatiran anggota Dewan Pembina Demokrat, Amir Syamsuddin. Digoyangnya posisi Ketum Anas Urbaningrum semakin mengguncang Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) eksistensi Demokrat. Namun Amir Abraham Samad menegaskan, tak ada konspirasi dengan Presiden Partai Keadilan (PKS) terpilih, Anis Matta, terkait penetapan mantan Presiden PKS Luthfi menegaskan, tak ada niat sesepuh Hasan Ishaaq (LHI) sebagai tersangka kasus dugaan Demokrat untuk melakukan konspirasi suap impor daging. menggulingkan Anas. Hanya ingin mengembalikan kepercayaan rakyat yang tergerus karena dugaan kasus korupsi kadernya. Karena itu Amir merasa terpanggil, bersama-sama Sekretaris Dewan Pembina Demokrat Jero Wacik untuk meminta Ketua Dewan Pembina Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengambil langkah penyelamatan. Jauh dari kisruh dua partai besar ini, secara mengejutkan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang identik dengan partai Islam muncul ke permukaan dengan kasus yang menimpa mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq soal dugaan suap daging impor dan dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Meski sudah bertindak cepat – mengganti presiden—tetap saja citra PKS di mata publik langsung terjun bebas. PKS pun janji akan segera memperbaiki citra negatif tersebut. Bagaimana mengatasinya? Perbaikan harus segera dijalankan. Parpol menilai, faktor kunci untuk
FOTO: JPNN

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

NASIONAL
memperbaiki itu sangat tergantung dari kinerja KPK. Dengan tegas, Ketua Dewan Pembina Demokrat, SBY minta agar KPK segera menuntaskan kasus-kasus dugaan korupsi yang diduga melibatkan kadernya, termasuk Ketua Umum, Anas Urbaningrum. ‘’Ada yang mengatakan ada kesan mengapa kasus ini tidak kunjung selesai, seakan diulurulur, tidak ada konklusi,’’ kata SBY. Namun, lanjutnya, hingga kini ia masih percaya pada KPK, yang menjalankan tugas secara profesional, adil dan tak ada niat buruk apapun. ‘’Saya yakin KPK yang jadi andalan dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, tidak tebang pilih,’’ tegas SBY. Sama dengan Demokrat, untuk meningkatkan kembali citra yang terpuruk, PKS mengambil langkah cepat. ‘’PKS akan melakukan koreksi citra negatif ini,’’ kata Ketua Fraksi PKS, Hidayat Nurwahid. Citra-citra positif yang ditonjolkan PKS adalah pihaknya menyerahkan sepenuhnya kasus Luhtfi Hasan ke ranah hukum. Selain itu, proses transisi pimpinan PKS yang berlangsung cepat adalah bukti tidak adanya konflik internal di dalam PKS. Bagaimana dengan partai lain? Masih menunggu giliran ‘arisan’ ditangkap tangan KPK? (menrizal nurdin/jpnn)

Anis Matta, Presiden baru PKS.
FOTO: MERDEKA.COM

HASIL SURVEI SMRC
Persentase Perolehan Suara Jika Pemilihan Legislatif Digelar Saat Ini

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI BISNIS

Batavia Dipailit, Penumpang Menjerit
JIKA ANDA SERING TERBANG MENGGUNAKAN MENGGUNAKAN PESAW PESAWAT KELAS EKONOMI, KEMUNGKINAN KEMUNGKINAN ANDA PERNAH PESAW NAIK PESAWAT BAT BATAVIA AIR.

M

ASKAPAI yang dioperatori PT Metro Batavia ini sejak diluncurkan pada Januari 2002, sukses membangun merek selama satu dekade terakhir sebagai salah satu perusahaan terkemuka di kelasnya. Mampu menjual tiket dengan harga tergolong murah tanpa mengorbankan profesionalisme dan layanan terhadap penumpang, maskapai bermotto Trust Us to Fly itu terakhir tercatat memiliki 34 pesawat fleet size, termasuk 5 unit A320-200 disamping Boeing 737 dengan menerbangi rute 48, 42 domestik dan 6 rute internasional. Namun apa hendak dikata. Maskapai ini ternyata tak berdaya terhadap ketukan palu di tangan hakim pengadilan niaga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang memutuskan pailit. PT Metro Batavia tampaknya pasrah dan menerima saja keputusan itu. Bahkan, terhitung sejak tengah malam pada 31 Januari 2013, pihak operator telah menghentikan semua aktivitas perusahaan. Keputusan ini juga membuat banyak kalangan tersentak, panik dan akhirnya menjerit. Mulai dari ribuan calon penumpang yang sudah jauh-jauh hari membeli tiket, pihak bandara yang menjadi rute
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI BISNIS
pesawat Batavia, ratusan perusahaan travel dan pemangku kebijakan lainnya. Dampaknya cukup luas dan pada umumnya mereka merasa dirugikan. ‘’Setelah Pesawat Batavia Air di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. keluarnya putusan pailit, dengan sangat terpaksa seluruh kegiatan operasional bisnis penerbangan Batavia Air ditutup mulai pukul 00.00 WIB pada 31 Januari 2013,’’ kata Manajer Humas PR Batavia Air, Elly Simanjuntak. Seperti diketahui, berakhirnya operasional itu karena adanya permohonan pailit oleh perusahaan sewa guna pesawat International Lease Finance Corporation (ILFC) terhadap Batavia ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 20 Desember 2012. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dalam putusannya Nomor 77/ pailit/2012/PN.NIAGA.JKT.PST tanggal 30 Januari 2013 akhirnya menjatuhkan putusan pailit pada Batavia. ‘’Manajemen menerima putusan itu,’’ kata Elly. Gugatan pailit berawal dari ketertarikan Batavia mengambil pesawat untuk angkutan penerbangan jamaah haji. Namun setelah ditunggu-tunggu selama tiga tahun berturut-turut, Batavia tak mendapatkan proyek haji tersebut. Akibatnya, terjadi tunggakantunggakan pembayaran pada pihak pembiayaan yakni
FOTO: RIAU PIOS

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI BISNIS
ILFC. Kedua belah pihak terikat perjanjian sewa atas pesawat berbadan besar jenis Airbus A330-202 dengan nomor seri pabrikan 205. Pesawat itu juga disewakan bersama dua mesin General Electric CFG80EIA4, untuk jangka waktu enam tahun. Namun, sejak dilakukannya perjanjian sewa hingga tanggal jatuh tempo 13 Desember 2012, Batavia dituding tak pernah sekalipun membayar cicilan. Jumlah utang yang belum dibayar terdiri dari uang sewa 2,2 juta dolar AS, biaya tambahan atas cadangan mesin 2,3 juta dolar AS dan biaya bunga 159.231 dolar AS. ILFC juga menuding Batavia memiliki utang yang telah jatuh tempo pada kreditur lain yakni Sierra Leasing limited, sebesar 4,9 juta dolar AS. Tanda-tanda kepailitan sebenarnya sudah mulai terlihat pada tahun lalu, ketika Batavia memangkas frekuensi penerbangan dari semula 64 menjadi hanya 44 penerbangan sehari. Ini membuktikan, ada rute yang tak produktif sehingga memilih untuk tidak dilanjutkan. Rute Indonesia-Cina atau sebaliknya juga ditutup tanpa alasan jelas. Padahal, rute ini juga cukup diminati karena harga tiket yang kompetitif. Padahal, nasib Batavia sebelumnya sempat akan berubah ketika maskapai penerbangan bertarif murah atau low cost carrier (LCC) asal Malaysia, Air Asia sudah serius hendak mengambil alih perusahaan yang dimulai dari bisnis keluarga oleh Yudiawan Tansari tersebut. Sebelumnya, riset yang dibuat OSK Investment Banking, Batavia terus berkembang menjadi
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Tanda-tanda kepailitan sebenarnya sudah mulai terlihat pada tahun lalu, ketika Batavia memangkas frekuensi penerbangan dari semula 64 menjadi hanya 44 penerbangan sehari.

EKONOMI BISNIS
maskapai penerbangan domestik dan telah tumbuh kentara. Keinginan Air Asia mengakuisisi saham Batavia sudah dapat lampu hijau dari Kementerian Perhubungan. Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Herry Bakti mengatakan, pada prinsipnya, pihaknya menyetujui soal jual-beli saham tersebut. Dengan izin ini, rencananya Air Asia bisa segera mewujudkan niatnya dengan melengkapi surat-surat sesuai peraturan. Direncanakan, proses akusisi berjalan secara bertahap. Tahap pertama, maskapai milik Tan Sri Dr Tony Fernandes itu akan mengakuisisi 76,95 persen. Untuk tahap kedua baru mengakuisisi sisanya, 23,05 persen. Pertengahan tahun, lalu Tony Fernandes sempat mengumumkan pihaknya telah mengakuisisi 49 persen saham Batavia. Sisanya, sebesar 51 persen dimiliki PT Fersindo Nusaperkasa yang tak lain adalah mitra Air Asia. Sebelumnya, Presiden Air Asia Indonesia yang juga CEO Fersindo Nusaperkasa, Dharmadi menyebutkan, akuisisi yang dilakukan bukan hanya terhadap infrastruktur Batavia. Pusat pelatihan pilot maskapai tersebut, yaitu Aero Flayer Institute (AFI) juga akan diakusisi. Ia berharap seluruh proses akuisisi bisa selesai tahun depan sesuai dengan kebijakan di Indonesia. Hanya saja, kalaupun jadi diakuisisi, diperkirakan prosesnya akan sulit. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S Ervan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Keinginan Air Asia mengakuisisi saham Batavia sudah dapat lampu hijau dari Kementerian Perhubungan.

EKONOMI - BISNIS
menambahkan, meski sudah diberi lampu hijau, proses akusisi Air Asia ini masih panjang. Sebab masih ada tahap-tahap perizinan lain yang harus dipenuhi Air Asia. Bahkan, dalam surat izin prinsip yang dikeluarkan, Dirjen Perhubungan Udara menyampaikan beberapa ketentuan lain yang harus dipenuhi Air Asia. Misalnya, soal ketentuan izin usaha penerbangan sudah diatur di UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Juga soal aturan penanaman modal asing dan aturan penjualan saham yang diatur Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Selain itu, dalam perubahan surat izin usaha angkutan niaga berjadwal, pemegang saham lokal harus membuat surat pernyataan yang isinya menyatakan bahwa sumber modal sebagian besar adalah modal nasional. “Jadi modal mayoritasnya bukan modal asing. Atau modal asing yang dititipkan, sehingga seolah-olah modal nasional,” katanya Bambang. Terancam Tak Diganti Setelah dipailit, nasib para penumpang pemegang tiket Batavia belum bisa dipastikan hingga proses penyelesaian kepailitan dituntaskan para kurator yang ditunjuk oleh pengadilan. ‘’Kami turut prihatin dengan para penumpang. Namun kami tidak bisa bertanggung jawab untuk mengganti rugi tiket yang telah dibeli,’’ ujar salah seorang anggota tim kurator, Turman M Panggabean.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Kami turut prihatin dengan para penumpang. Namun kami tidak bisa bertanggung jawab untuk mengganti rugi tiket yang telah dibeli.

EKONOMI - BISNIS
Ia mengimbau para penumpang menyimpan tiketnya. ‘’Kami akan berusaha untuk segera menyelesaikan masalah ini. Penyelesaian kepailitan butuh proses sehingga semua penumpang pemegang tiket harap bersabar,’’ tuturnya. Batavia Air tak memiliki jaminan untuk menggantikan tiket perjalanan yang telah dibeli calon penumpang. Menurut Turman, jumlah penjualan karcis yang sudah berada di tangan pembeli itu mencapai Rp95 miliar. Penumpang yang telah membeli tiket untuk perjalanan dua pekan awal Februari 2013, tak bakal mendapat ganti rugi. Alasannya, jadwal penerbangan itu sangat berdekatan dengan tanggal kepailitan Batavia Air, 30 Januari 2013. Sehingga maskapai tak memiliki keleluasan waktu serta kesediaan dana. ‘’Penumpang dengan penerbangan satu atau dua pekan setelah pailit dipastikan tak dapat diganti uangnya,’’ katanya. Sementara bagi penumpang dengan tenggat waktu penerbangan agak lama, Turman mempersilakan untuk mengajukan klaim ke Batavia. ‘’Meski begitu, penggantian uang tiket penumpang bukan prioritas untuk dilunasi,’’ ujarnya. Alasannya, ada beberapa kreditur yang wajib diutamakan mendapat pelunasan ketika terjadi kepailitan, seperti kreditur preferen dan separatis. Bila dari ganti rugi itu terdapat uang sisa, barulah Batavia membayar kembali harga tiket yang sudah terlanjut dibeli calon penumpang. Tapi lagi-lagi ia tak dapat memastikan kapan waktunya. ‘’Sebab kurator masih membutuhkan waktu untuk
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Penumpang dengan penerbangan satu atau dua pekan setelah pailit dipastikan tak dapat diganti uangnya.

EKONOMI - BISNIS
memverifikasi aset serta utang-utang perusahaan,’’ lanjutnya. Soal kebijakan pemerintah yang janji membantu penumpang Batavia, ia menyatakan hal itu bukan lagi urusan maskapai. Karena setelah diputus pailit, Batavia tak lagi bisa menjalankan usaha serta meraup pendapatan. Fokus utama saat ini adalah pelunasan utang-utang yang bertumpuk. ‘’Kalau pemerintah mau bantu silakan, tapi kami tidak mau menanggung Rp95 miliar itu,’’ ujarnya. Menurutnya, kini yang akan dilakukan adalah menjual atau melelang semua aset yang dimiliki Batavia. ‘’Semua harta dari kepailitan itu akan kami ambil. Namun, kami belum tahu secara jelas berapa semua aset yang dimiliki Batavia,’’ ungkapnya. Jika semua proses kepailitan bisa diselesaikan dengan cepat, semua permasalahan ganti rugi termasuk pencairan tiket penumpang, akan segera terselesaikan. ‘’Tapi, batas waktunya tidak bisa dipastikan,’’ kata Turman. Mengenai karyawan, sampai dengan akhir Januari 2013, semua gaji karyawan tetap dibayar normal. ‘’Tapi, ke depannya, kami tidak bisa memastikan,’’ jelasnya. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyesalkan keputusan itu. ‘’Seharusnya, perusahaan yang operasinya menyangkut kepentingan publik diberi kesempatan untuk memenuhi kewajibannya pada masyarakat, bukan langsung dihentikan operasinya,’’ kata Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi. Dicontohkan, ketika PT Telkomsel juga diputus pailit
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Seharusnya, perusahaan yang operasinya menyangkut kepentingan publik diberi kesempatan untuk memenuhi kewajibannya pada masyarakat, bukan langsung dihentikan operasinya.

EKONOMI - BISNIS
Pengadilan Negeri Niaga Jakarta Pusat, operasi mereka tak sampai terganggu sehingga konsumen pun tak dirugikan. Anehnya, Batavia sendiri sama sekali tak memberi sanggahan atau mengajukan kasasi. Menurut Tulus, Batavia tampaknya ingin mempailitkan diri. Dengan hal ini tentu saja konsumen yang paling dirugikan. ‘’Tak ada yang bisa dilakukan penumpang, mau menuntut juga siapa yang dituntut, wong perusahaannya rugi,’’ kata Tulus. Berdasar UU Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004, yang jadi prioritas utama dari penyelesaian kepailitan adalah kreditor istimewa, kreditor sparatis dan kreditor konkuren. Para penumpang pemegang tiket berada di posisi ketiga yaitu kreditur konkuren. Tulus juga menyesalkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap kinerja keuangan perusahaanperusahaan penerbangan. Kasus pailit Batavia dinilainya jadi preseden yang sangat buruk bagi konsumen dan industri penerbangan. ‘’Ke depan, harus ada lembaga penjamin untuk perusahaan penerbangan,’’ sarannya. Asosiasi Perusahaan Penjualan Tiket Penerbangan Indonesia (Astindo) menyatakan, anggotanya paling kurang Rp22 miliar akibat pailit Batavia. Menurut Ketua Bidang Tiketing Astindo, Pauline Suharno, setiap hari agen travel setidaknya menyetor deposit Rp15 juta ke Batavia untuk menerbitkan tiket. Jika di Jakarta ada 1.200 agen travel, maka kerugian minimal diperkirakan Rp18 miliar. Asosiasi berharap deposit
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Anehnya, Batavia sendiri sama sekali tak memberi sanggahan atau mengajukan kasasi. Menurut Tulus, Batavia tampaknya ingin mempailitkan diri.

EKONOMI - BISNIS
para agen travel dipisahkan dari aset maskapai yang dihitung kurator. Agen travel menuntut Batavia mengembalikan dana deposit yang sudah disetorkan. Untuk mencegah timbulnya kerugian beruntun, asosiasi minta Kementerian Perhubungan mengeluarkan peraturan mengenai penempatan dana deposit agen travel. Dana dalam rekening itu dapat sewaktu-waktu ditarik agen travel bila maskapai berhenti beroperasi. Seharusnya, kuasa hukum Batavia mengajukan ‘perlawanan’ agar tak dipailitkan dalam lima hari setelah ada gugatan pailit. Karena itu tak dilakukan, pengadilan mau tidak mau menyidangkan perkara pailit. Dari bukti-bukti yang diajukan ILFC sebagai pemohon, ditemukan bukti adanya utang Batavia. Sehingga sesuai aturan normatif, pengadilan menjatuhkan putusan pailit. Jika menggunakan dalil force majeur (kejadian luar biasa) untuk tak membayar utang, Batavia harus bisa menyebutkan adanya syarat-syarat kondisi itu dalam perjanjian. Namun itu ternyata tak dapat dibuktikan. Batavia pun diberi kesempatan untuk kasasi selama 8 hari. Kegiatan operasional kemudian akan dialihkan ke kurator. Batavia Air sempat disebut-sebut menolak dicabutnya gugatan pailit itu. Kementerian Perhubungan menyatakan, UU Penerbangan tak mengatur kepailitan maskapai. ‘’Tapi mengatur tentang direksi yang di-black list,’’ kata Direktur Angkutan Udara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan,
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Seharusnya, kuasa hukum Batavia mengajukan ‘perlawanan’ agar tak dipailitkan dalam lima hari setelah ada gugatan pailit.

EKONOMI - BISNIS
Djoko Murjatmodjo. Direksi dari maskapai yang dipailitkan seperti Batavia tak bisa lagi menjadi direksi maskapai lain seumur hidup. Salah satu syarat pengangkatan direksi perusahaan penerbangan adalah uji kelayakan dan kepatutan (fit and Salah satu konter tiket Batavia di bandara. proper test). Sedang syarat lainnya, tak pernah memimpin perusahaan angkutan udara yang dipailitkan. Djoko menyebut, maskapai lain seperti Adam Air dan Bouraq, berhenti dengan keputusan perusahaan, Setiap tahun, bukan karena dipailitkan. Kementerian memiliki pada April atau Mei, maskapai mekanisme pengawasan periodik. Setiap tahun, pada menyampaikan April atau Mei, maskapai menyampaikan laporan laporan keuangan. Selain itu, setiap enam bulan, maskapai keuangan. mengajukan izin rute. Selama laporan keuangan, Selain itu, setiap kemampuan membayar kewajiban jangka pendek enam bulan, serta panjang dan cash flow dalam kondisi baik, maskapai Kementerian Perhubungan tak mempersoalkan. mengajukan izin Laporan keuangan Batavia untuk tahun 2011 bagus. rute. Namun kementerian belum melihat laporan keuangan maskapai itu untuk 2012. Kementerian pun telah mengundang Batavia dua kali tahun lalu untuk berdiskusi saat muncul rencana akuisisi oleh mitra Air Asia Berhad, PT Fersindo Nusaperkasa. ‘’Waktu itu Batavia menunjukkan kondisi sehat, pesawat masih 30 unit, kru juga komplit,’’ kata Djoko. Namun, Kementerian Perhubungan memang tak boleh masuk terlalu dalam
FOTO:MERDEKA.COM

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI - BISNIS
ke persoalan keuangan maskapai. Diperkirakan, banyak lagi kerugian yang mesti ditanggung oleh pemangku kebijakan yang selama ini bermitra dengan Batavia. Seperti bandara-bandara yang selama ini disinggahi, hotel-hotel tempat kru pesawat menginap setiap kali mendarat dan lain-lain. Lalu siapa yang harus menanggung semuanya itu? Kapan semuanya dapat terselesaikan baik-baik? Sudah tepat dan adilkah putusan pailit? (hasan hanafi)

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI - BISNIS

Chevron Masih yang Terbesar

P

Pompa minyak Chevron.
FOTO: INTERNET

T CHEVRON Pacific Indonesia (CPI) ternyata masih menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia. Hingga 27 Januari 2013, Chevron memproduksi 327.692 minyak barel per hari (bph). Dalam rilis Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) pekan lalu, angka ini sekitar 39,7 persen dari total produksi minyak dan kondensat nasional sebesar 826.325 bph. Posisi kedua dipegang PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero), yang memproduksi 120.798 bph atau 14,6 persen dari total produksi nasional. Sementara perusahaan asal Prancis, PT Total E&P Indonesie menempati peringkat ketiga dengan tingkat produksi 64.788 bph atau sekitar 7,8 persen dari total produksi nasional. Anak usaha Pertamina lainnya, PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java merupakan kontributor keempat dengan tingkat produksi 38.178 bph, disusul perusahaan Cina CNOOC SES Ltd yang menghasilkan minyak 36.331 bph. Perusahaan minyak asal AS lainnya, ConocoPhillips Indonesia berada di posisi enam dengan laju produksi
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI - BISNIS
35.146 bph. Diikuti Chevron Indonesia Company (CICo) dengan memproduksi minyak 26.910 bph serta Mobil Cepu Limited memproduksi sebanyak 24.083 bph. Produksi minyak nasional memang sempat terganggu akibat cuaca buruk. Deputi Pengendalian Operasi SKK Migas Gde Pradnyana mengatakan, selama seminggu terakhir telah terjadi berbagai masalah operasi akibat cuaca buruk maupun kendala peralatan operasi. Gelombang di Laut Jawa mencapai tinggi 6-7 meter sehingga menyebabkan putusnya tali jangkar maupun hose (pipa salur) tanki penampungan minyak di lapangan lepas pantai Poleng yang dioperasikan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO). Kejadian ini menyebabkan PHE WMO sempat hanya mampu berproduksi kurang dari 2.000 bph, padahal target dari PHE WMO adalah 25 ribu bph. ‘’Sekarang, 6 dari 12 baut pada hose yang putus sudah berhasil dipasang, sehingga produksi akan kembali ke level 6.000 sampai dengan 7.000 bph,’’ ujar Gde. Kerja keras dari pekerja lapangan juga berhasil menghidupkan kembali gas lift compressor pada lapangan yang dioperasikan CICo di Selat Makassar. Belum tercapainya target itu juga disebabkan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore yang kehilangan produksi sebanyak 2.300 barel per hari akibat gangguan cuaca. ‘’Ombak tinggi dan angin kencang menyebabkan pasokan listrik terputus dan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Produksi minyak nasional memang sempat terganggu akibat cuaca buruk. Deputi Pengendalian Operasi SKK Migas Gde Pradnyana mengatakan, selama seminggu terakhir telah terjadi berbagai masalah operasi akibat cuaca buruk maupun kendala peralatan operasi.

EKONOMI - BISNIS
kerusakan kapal tongkang,’’ ujarnya. Insiden ini juga telah membuat seorang kru kapal tenggelam, meski empat awaknya bisa diselamatkan. Saat itu kapal pendukung operasi, seperti kapal akomodasi, kapal material pemboran, semua sudah diamankan dan ditarik ke Gresik. ‘’Kemarin, kecepatan angin sudah turun ke level 12 knot dan kegiatan operasi sudah kembali dilaksanakan. Pemboran sudah kembali dilanjutkan,’’ ungkapnya. Pertamina Hulu Energi mencatat, produksi minyak dan gas dari kilang di Blok West Madura Offshore Produksi minyak lepas pantai bisa terganggu akibat cuaca buruk. turun drastis sejak awal 2013. Sebab, sebagian sumur eksploitasi harus ditutup lantaran ada penggantian hose (pipa salur). Gde menambahkan, faktor alam yang tak bersahabat menjadi kendala utama operasi dalam sepekan terakhir. Kondisi cuaca menyebabkan pemindahan rig (pengeboran) untuk Lapangan Ujung Pangkah yang dioperasikan HESS mengalami kendala sehingga terpaksa dimatikan total dan mengakibatkan kehilangan produksi sekitar 13 ribu bph. Beberapa kebocoran juga dialami Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Meski dalam situasi sulit, para pekerja terus berupaya untuk mengembalikan produksi pada kondisi normal dan berhasil memulihkan berbagai masalah di lapangan. Produksi minyak di Ujung Pangkah sudah mencapai 5.000 bph dari target maksimum 14 ribu
FOTO: KAMPUNGMELAYU.WORDPRESS.COM

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI - BISNIS
bph. Produksi gas juga sudah mulai normal mencapai 37 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Kilang elpiji juga akan mulai dioperasikan kembali. ‘’Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada para pekerja di lapangan yang telah bekerja siang malam menghadapi gelombang besar demi mempertahankan produksi minyak nasional. Mereka adalah tulang punggung industri ini,’’ ujar Gde. Dengan upaya keras itu, kini produksi minyak nasional naik dari level 806 ribu bph menjadi 825 ribu bph. Produksi diharapkan akan terus meningkat seiring pulihnya operasi HESS dan lain-lain. Peningkatan produksi lebih lanjut diharapkan akan datang dari kegiatan pengeboran yang kini sedang gencar dilakukan PHE WMO. Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SK Migas) mencatat, realisasi produksi minyak nasional hingga pertengahan Januari 2013 mencapai 843 ribu barel per hari (bph), atau 6,3 persen di bawah target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2013 sebesar 900 ribu bph. Menurut Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas SK Migas, Hadi Prasetyo, belum tercapainya target itu disebabkan adanya sejumlah kendala teknis di lapangan. ‘’Produksi Hess di Ujung Pangkah turun karena reservoir performance juga turun,’’ katanya. Begitupun produksi minyak PetroChina International (Bermuda) Ltd di Papua juga berkurang karena matinya trafo listrik yang mendukung kegiatan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Kami memberikan apresiasi setinggitingginya pada para pekerja di lapangan yang telah bekerja siang malam menghadapi gelombang besar demi mempertahankan produksi minyak nasional. Mereka adalah tulang punggung industri ini

EKONOMI - BISNIS
operasional. ‘’Tapi hal ini sudah masuk dalam rencana (planned shutdown),’’ ungkap Hadi. Produksi harian minyak PHE WMO sempat menyentuh 6.000 barel oil per day (BOPD) dan produksi gas sebesar 106 milion metric standart cubic feet per day (MMSCFD). Sebelumnya, rata-rata produksi harian untuk minyak sebesar 9.000 BOPD dan gas 120 MMSCFD. ‘’Mulai minggu ini, sebagian sumur sedang kita usahakan untuk dibuka kembali,’’ kata General Manager PHE WMO, Imron Asjhari. Ia menjelaskan, penurunan produksi disebabkan oleh kerusakan pada power barge yang menyuplai tenaga untuk pompa sumur eksploitasi. Ia berharap, produksi PHE WMO kembali normal pada minggu kedua Februari 2013, bahkan bisa meningkat di atas rata-rata harian. ‘’Tahun ini, tiga dari 21 sumur eksploitasi baru mulai berproduksi. Mudah-mudahan pertengahan Februari normal lagi dan ada sumur baru yang siap diproduksi,’’ ujarnya. Setelah 21 sumur eksploitasi beroperasi penuh, Imron yakin produksi minyak dan gas bertambah kentara. Untuk produksi minyak bakal menembus 24 ribu BOPD dan produksi gas sebesar 140 MMSCFD. Sepanjang 2013, pihaknya juga berencana mengebor sembilan sumur eksplorasi di area WMO. Dengan harapan akan ada temuan baru soal potensi migas yang belum tersentuh di area Blok WMO. Juru bicara PT Pertamina, Ali Mundakir menambahkan, produksi minyak Blok WMO kini sangat rendah lantaran ada penggantian pipa fleksibel
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI - BISNIS
yang bocor akibat dihantam cuaca buruk di perairan Laut Jawa. Penggantian ini harus diikuti oleh dimatikannya fasilitas produksi poleng. Status Blok WMO sedang berjuang mengembalikan produksi awal dengan tiga platform baru, lengkap dengan jack up, pasang pipa baru dan satu jack up untuk bor eksplorasi. ‘’Memang produksi terakhir sekitar 6.000 barel per hari,’’ ucapnya. (hasan hanafi)

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI - BISNIS

Kepri Jadi Lumbung Gas Nasional

P
Sekarang Natuna itu nomor satu di Indonesia. Pendistribusian pasokan gas bumi melalui jaringan pipa melalui Grissik

EMERINTAH Provinsi Kepulauan Riau menargetkan Kepri menjadi lumbung gas nasional. Ini mengacu pada ketersediaan gas di Natuna saat ini yang mencapai 51,46 trilions of cubic feet (TSCF). ‘’Ketersediaan gas di Kepri saat ini bisa digunakan sebagai energi primer untuk pembangkit listrik,’’ ujar Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi Dinas Pertambangan dan Industri Provinsi Kepulauan Riau Marzuki, saat menggelar diskusi minyak dan gas di Batam. Sayangnya untuk saat ini pasokan gas untuk Batam dan Kepri masih disalurkan dari Grissik, Sumatera Selatan. Sedang yang dari Natuna akan diupayakan dalam waktu dekat sampai ke Batam. “Sekarang Natuna itu nomor satu di Indonesia. Pendistribusian pasokan gas bumi melalui jaringan pipa melalui Grissik,” kata Marzuki. Rencananya, jaringan pipa West Natuna Transportation System (WNTS) dari laut Natuna ke Singapura melalui WTNS di Pulau Pemping sepanjang 5,5 Km dan ke Tanjung Uncang sepanjang 13,7 Km akan segera dibangun. “Memang belum terealisasi, tapi mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah selesai,” kata Marzuki. Selain itu juga direncanakan pembangunan jaringan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI - BISNIS
pipa gas dari Blok D Alpha ke Batam lalu ke Duri. Pemprov Kepri juga berencana membangun terminal penampungan gas cair (LNG receiving terminal) yang dapat menyimpan gas alam cair dan diangkut dengan tanker dan truk. Pasokan gas itu nantinya akan digunakan sebagai energi utama di Kepri. Masih kata Marzuki, Pemprov Kepri juga berencana membangun jaringan pipa gas dan jaringan listrik antar pulau untuk menjawab keperluan listrik pulau-pulau pesisir di Kepri. “Pemerintah juga sedang berusaha agar Produksi gas Natuna tiap tahunnya mencapai 51,46 triliun kubik TSCF. pulau-pulau di Batam bisa mendapatkan pasokan gas,” tambah Marzuki. Sementara itu, pemerintah mulai habis-habisan dalam upaya pengembangan pemanfaatan energi gas bumi. Ini terlihat dari kebijakan insentif fiskal yang menetapkan gas bumi (natural gas) sebagai barang tidak kena pajak pertambahan nilai (PPN). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro mengatakan, selama ini belum ada kepastian hukum terkait perlakuan PPN atas penyerahan gas bumi. Akibatnya, pelaku industri sektor gas pun waswas dengan bisnisnya. “Karena itu, sekarang kami tetapkan bahwa gas bumi bebas PPN,” ujarnya. Menurut Bambang, ketetapan yang termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.011/ 2012 tersebut merupakan bagian dari upaya
FOTO: INDOMIGAS.COM

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

EKONOMI - BISNIS
pemerintah untuk mendukung kebijakan konversi dari bahan bakar minyak (BBM) ke gas untuk sektor transportasi, listrik, maupun industri. “Salah satu upaya mengurangi konsumsi BBM kan dengan beralih ke gas untuk kendaraan umum, itu yang kami dukung,” katanya. Bambang merinci, ketentuan bebas PPN untuk gas bumi tersebut berlaku bagi gas yang dialirkan melalui pipa, gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), serta compressed natural gas (CNG). Bambang mencontohkan bisnis floating storage receiving unit (FSRU) atau unit penerima gas terapung. Misalnya, gas dari Blok Tangguh di Papua, diubah dari bentuk gas menjadi cair untuk diangkut dengan kapal. (hasan hanafi)

Pemerintah juga sedang berusaha agar pulau-pulau di Batam bisa mendapatkan pasokan gas

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

OLAHRAGA

KRISIS KEUANGAN PSPS

Askar Bertuah Diselamatkan Serambi Mekkah

D

I tengah keterpurukan keuangan yang dialami tim sepakbola kebanggaan Riau, PSPS, Jefry Noer muncul sebagai penyelamat. Pria yang kini menjabat Bupati Kampar itu bersedia mengeluarkan dana untuk keperluan kompetisi Askar Bertuah. Keputusan Jefry terjun di dunia sepakbola harus dihargai. Tak banyak orang di Riau yang mau ’membuang’ uang yang tak sedikit hanya untuk sepakbola. Kalau tak punya jiwa olahraga —khususnya sepakbola— tidak akan berani mengambil keputusan senekat itu. Mengambil klub yang sedang kesulitan dana, bahkan punya utang gaji pemain yang jumlahnya cukup besar. Pemegang teraju di Negeri Serambi Mekkah (julukan Kabupaten Kampar) ini memang cukup berani. Di tengah persepakbolaan Tanah
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

OLAHRAGA
Air yang tak menentu, ia juga berani menceburkan diri di tengah ketidakpastian kompetisi. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo malah sudah mengeluarkan pernyataan akan membubarkan salah satu liga yang ada, Indonesia Super League (ISL) atau Indonesia Primer League (IPL). Pernyataan ini bertolak belakang dengan penyataannya sesaat setelah diangkat menjadi menteri, yang akan membubarkan keduanya, jika memang tak ada titik temu. Jefry tampaknya tidak terlalu peduli dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Yang ingin dilakukan adalah segera menyelamatkan PSPS dari kemungkinan terburuk: mundur dari kompetisi ISL 2013 karena tak lagi mampu membiayai operasional tim. Jika itu yang terjadi, alangkah ruginya. Karena PSPS juga harus terjun bebas ke Divisi I, sebagai konsekuensi tim yang mundur saat kompetisi sedang berlangsung. PSPS harus diselamatkan. Klub ini sudah terlanjur menjadi kebanggaan masyarakat. Bukan hanya Pekanbaru, tapi seluruh warga Riau sudah mencintai tim berjuluk Askar Bertuah ini. Itu bisa dilihat ketika PSPS bertanding di Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai. Ribuan warga dari berbagai daerah di Riau datang ke stadion. Bahkan, saat PSPS bermarkas di Stadion Sport Center Kuantan Singingi pun, warga dari berbagai daerah di Riau rela datang ke stadion
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Tim Askar Bertuah sedang latihan.
FOTO: RIAU POS

OLAHRAGA
untuk menyaksikan PSPS bertanding. Situasinya bisa saja berubah kalau pengelola klub tidak bertindak tepat dalam mengelola tim dan memilih markas. Posisi markas sangat menentukan untuk merebut hati warga. Letak yang tidak strategis akan merugikan tim, karena mengurangi seman-gat warga untuk datang menyaksikan pertandingan. Ini akan berdam-pak pada pendapatan klub dari penjualan tiket masuk. Juga yang tak kalah penting adalah soal nama tim. Adanya rencana mengu-bah nama PSPS tampaknya perlu pengkajian lebih dalam. Perubahan nama disertai perpindahan markas sangat rentan terha-dap perubahan dukungan masyarakat. Nama sangat berpengaruh pada simpati dan rasa memiliki di hati pendukung. Salah satu contoh adalah Pelita Jaya. Klub yang kini bernama Pelita Jaya Bandung Raya ini tak kunjung mendapat simpati warga. Berbagai cara sudah dilakukan untuk ‘mencuri’ hati penonton. Termasuk berpindah-pindah markas, dari Solo, Cilegon, Karawang dan sekarang di Kabupaten Bandung. Nyatanya, tetap saja stadion sepi penonton. Di Indonesia, satu-satunya klub berganti nama dan pindah markas yang sukses adalah Sriwijaya FC. Klub yang dulu bernama Persija-tim Jakarta Timur, lalu berubah menjadi Persijatim Solo, sebelum menjadi Sriwijaya FC ini berhasil mendapat simpati warga Wong Kito. Itu bisa dilihat, betapa sesaknya Stadion Jakabaring ketika Ponaryo Astaman dan kawan-kawan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

JEFRY NOER
FOTO: RIAUPOS.CO

Jefry tampaknya tidak terlalu peduli dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Yang ingin dilakukan adalah segera menyelamatkan PSPS dari kemungkinan terburuk: mundur dari kompetisi ISL 2013 karena tak lagi mampu membiayai operasional tim.

OLAHRAGA
menghadapi lawan. Besarnya dukungan memang tak bisa dilepaskan dari prestasi Sriwijaya FC di liga dan kejuaraan lainnya. Keberhasilannya menjadi juara ganda (double winner) —Liga Djarum Indonesia dan Copa Dji Sam Soe— pertama di pentas sepakbola Tanah Air pada 2007 semakin mengkristalkan simpati warga Sumatera Selatan. Tapi itu bukan satu-satunya penyebab mengalirnya dukungan ke Sriwijaya FC. Pemilihan nama juga punya andil besar. Nama Sriwijaya yang merupakan nama kerajaan besar masa lalu di Sumatera Selatan mampu menyatukan warga. Sriwijaya bukan hanya milik warga Pelembang, tapi seluruh penduduk Sumatera Selatan. Berkaca pada kesuksesan Sriwijaya FC, rasanya Jefry yang berniat mengambil alih PSPS tak perlu melakukan perubahan drastis, baik nama maupun markas PSPS. Kalaupun harus mengubah, sebaiknya memilih nama yang cakupannya lebih luas dan bisa mewakili seluruh masyarakat Riau. Tujuannya tentu agar rasa memiliki warga terhadap Askar Bertuah tetap terjaga. Menyertakan nama Pekanbaru di belakang PSPS rasanya tetap lebih ‘menguntungkan’ dibanding kota dan kabupaten lain dari segi bisnis. Bukan berarti kota dan kabupaten lain kalah hebat, tapi Pekanbaru diuntungkan dengan statusnya sebagai ibu kota
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Asykar Theking, fans setia PSPS.
FOTO: PSPS-PEKANBARU.COM

OLAHRAGA
Provinsi Riau. Sehingga walaupun tinggal di kabupaten dan kota lain, masyarakat Riau tetap punya ikatan emosional dengan Pekanbaru. Dari segi markas pun demikian. Karena PSPS berkompetisi di liga profesional, pengelolaannya juga harus hitung-hitungan bisnis. Selain sponsor, tiket masuk penonton merupakan sumber dana yang cukup besar. Jika ini dikelola dengan baik dan memilih markas yang tepat, bisa membantu pendanaan tim menjalani kompetisi. Dari 12 kabupaten/kota yang ada di Riau, Pekanbaru tetap menempati posisi paling strategis. Warga dari seluruh penjuru Riau punya akses langsung ke Pekanbaru, sehingga membuka peluang yang lebih besar penonton datang ke stadion. Sebagai pemegang hak, Jefry memiliki kewenangan penuh memutuskan apakah mengganti PSPS atau tidak. Begitu juga dengan markas, pindah ke Bangkinang atau tetap di Pekanbaru. Sebagai pencinta PSPS, kita tetap berharap Bupati Kampar tidak melakukan perubahan frontal terhadap tim kesayangan masyarakat Riau, agar kencintaan pendukung yang sudah tumbuh dan berkembang selama ini tidak turun drastis. (abdul gapur)

Sebagai pencinta PSPS, kita tetap berharap Bupati Kampar tidak melakukan perubahan frontal terhadap tim kesayangan masyarakat Riau, agar kencintaan pendukung yang sudah tumbuh dan berkembang selama ini tidak turun drastis.

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

LINGKUNGAN

SUATU SUATU HARI KELAK, ORANG TAKKAN LAGI MEMANDANG TUMPUKAN KANTUNG TUMPUKAN KANTUNG PLASTIK DAN BOTOL PLASTIK BEKAS GUNU NUNGAN SEBAGAI GUNUNGAN SAMPAH. SAMPAH. TAPI IA DIPANDANG DIPANDANG SEBAGAI LADANG-LADANG MINYAK BARU. MINYAK BARU. ITU SEIRING MAKIN AKNYA BANYAKNY BANYAKNYA PENEMUAN ALAT ALAT YANG MAMPU SAMPAH MENGUBAH SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK MINYAK (BBM), MULAI DARI MINYAK MINYAK TANAH, SOLAR HINGGA BENSIN.

Khiarunnas dan bensin hasil olahannya.
FOTO: HENDRAWAN/RIAU POS

K

HAIRUNNAS (28) warga Jalan Garuda Sakti, Panam adalah salah seorang warga Pekanbaru yang memiliki alat pengubah sampah plastik menjadi BBM itu. Alatnya bernama generator destilasi. Bentuknya sederhana, hanya berupa satu tanki pembakar plastik dan empat buah tabung serta berkapasitas 20 kilogram sampah plastik. Setiap satu kilogram sampah plastik bisa diubahnya menjadi satu liter BBM. Saat berkunjung ke rumahnya pekan lalu, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ini sempat memamerkan hasil produksi BBM-nya. BBM yang dihasilkannya jernih seperti air putih. Hanya baunya seperti plastik yang dibakar. Annas, sapaan akrab Khairunnas, sempat mendemokan penggunaan BBM yang diproduksinya. Ia menggunakannya pada lampu teplok dan kendaraan roda dua. Ia mengaku dengan BBM-nya itu, kendaraan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

LINGKUNGAN
bermotornya terasa lebih ringan tarikannya saat dikendarai. Annas menuturkan, alat generator destilasi itu adalah karya almarhum abangnya Muhammad Afdal di Kabupaten Pariaman, Sumatera Barat. Setelah sang abang meninggal dan alat itu terbengkalai, ia memutuskan membawanya ke Pekanbaru. Ia ingin alat itu benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat, khusus di Kota Bertuah tempat ia bermastautin sekarang. Apalagi ia melihat cukup banyak sampah plastik di Kota Pekanbaru seiring pesatnya pertumbuhan penduduk di ibu kota Provinsi Riau tersebut. Untuk bisa mengubah sampah plastik menjadi minyak, pertama-tama bahan baku berupa sampah plastik harus dibakar di dalam tungku pembakaran dengan bahan bakar kayu sisa. Setelah tiga jam dibakar dengan suhu tinggi, plastik akan menguap. “Uap yang dihasilkan inilah yang nanti akan didestilasi atau dipisahkan sehingga menghasilkan minyak tanah, bensin dan gas yang langsung dapat dimanfaatkan,’’ papar ayah satu anak ini. Minyak tanah dan bensin dimanfaatkan Annas untuk lampu teplok dan kendaraan roda duanya, sementara gas untuk kompor gasnya. Gas itulah yang dimanfaatkannnya untuk keperluan sehari-hari. Dengan alat sederhananya itu, ia berharap bisa ikut mengolah sampah plastik di Pekanbaru. “Saya siap mengolah sampah yang diolah pemerintah seperti sampah medis di RSUD (Rumah Sakit Umum
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Saya siap mengolah sampah yang diolah pemerintah seperti sampah medis di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) dan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Namun saya masih terkendala bahan produksi (sampah plastik, red) dan kapasitas mesinnya

LINGKUNGAN
Daerah) dan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Namun saya masih terkendala bahan produksi (sampah plastik, red) dan kapasitas mesinnya,” ujar Annas. Mengetahui tentang keberadaan alat itu, kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pekanbaru Safrudin Sayuti dan Kepala Dinas Kesehatan Rini Hermiati, pekan lalu, langsung mengunjungi rumah Annas. Mereka langsung menyaksikan BBM hasil dari sampah plastik tersebut. ‘’Temuan ini memang bagus, namun perlu ada penelitian lebih lanjut terutama untuk penggunaannya secara berlanjut. Terutama masalah asap hasil pembakarannya yang berbau menyengat. Saya akan koordinasikan dengan Kementerian Lingkungan Hidup,’’ ungkap Safrudin. Perlunya penelitian lebih lanjut tentang BBM dari plastik itu juga dikemukakan Prof Dr Syafrani, peneliti lingkungan dan pengelolaan limbah Universitas Lancang Kuning. Penelitian itu diperlukan untuk mengetahui apa saja kandungan bahan bakar di dalamnya dan pemanfaatannya pada mesin untuk kegunaan sehari-hari. “Mesin yang ada saat ini, terutama yang baru, dirancang untuk bensin atau solar yang sudah terstandar kandungan oktannya. Nah, kandungan oktan inilah perlu diketahui, apakah cocok? Apakah bisa dipakai untuk jangka panjang pada mesin atau tidak? Kalau tidak nanti bisa diproses lebih lanjut dengan proses kimiawi agar terstandar,’’ ungkap
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Temuan ini memang bagus, namun perlu ada penelitian lebih lanjut terutama untuk penggunaannya secara berlanjut. Terutama masalah asap hasil pembakarannya yang berbau menyengat. Saya akan koordinasikan dengan Kementerian Lingkungan Hidup

LINGKUNGAN
Syafrani yang juga Rektor Unilak. Dari Minyak Kembali Jadi Minyak Mengubah sampah plastik menjadi minyak sebenarnya hanyalah mengembalikan plastik ke bentuk dasarnya. Plastik berasal dari minyak bumi dan kembali lagi menjadi minyak bumi. Yang bila dikelola lebih lanjut maka dapat diubah sesuai produk lanjutannya seperti minyak tanah, solar hingga bensin. Konsep sederhana itulah yang melatarbelakangi banyak penemuan alat serupa di berbagai daerah di Indonesia maupun di dunia. Di Indonesia, alat dengan fungsi yang sama telah pernah dipamerkan dan dimanfaatkan oleh Tri Handoko dan para siswanya di SMK 3 Madiun. Pria ini telah menguji penggunaan BBM-nya pada alat pemotong rumput dan sepedamotor Honda Supra. Bahkan, mereka telah menguji kandungan oktan dari BBM yang dihasilkannya. Menurutnya, nilai oktannya sudah mendekati nilai oktan bensin atau premium. Selain itu ada Anim Kartono di Blitar, Jawa Timur yang juga memiliki alat dengan fungsi yang sama. Bahkan lebih modern sehingga mampu mendaur ulang sampah hingga 96.564,522 meter kubik per bulan. Ada juga Hera Ferry, warga Kebayakan Takengon, Aceh Tengah yang juga mengubah limbah plastik menjadi minyak tanah, solar dan premium. Semua penemuan alat itu, dilatarbelakangi dengan makin menggunungnya sampah plastik dan sering terjadinya kelangkaan BBM di sejumlah daerah.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Prof Dr Syafrani
FOTO: RIAU POS

Mesin yang ada saat ini, terutama yang baru, dirancang untuk bensin atau solar yang sudah terstandar kandungan oktannya. Nah, kandungan oktan inilah perlu diketahui, apakah cocok?

LINGKUNGAN
Bahkan di Amerika Serikat yang selalu mengimpor BBM, alat pengubah plastik menjadi BBM telah dikembangkan dalam skala industri. Ada satu perusahaan di Niagara Falls, New York bernama JBI Inc yang mengubah ribuan kilogram potongan botol susu, botol air dan kantung plastik masuk ke ruangan pembakaran yang kemudian menghasilkan BBM. Menurut uji coba yang mereka lakukan, hampir 86 persen dari apa yang masuk ke dalam mesin keluar sebagai bahan bakar. John Bordyniuk, pemilik perusahaan JBI Inc percaya, plastik akan menjadi sumber yang kentara untuk bahan bakar domestik. Mengurangi ketergantungan Amerika terhadap minyak impor dan pada saat yang sama mengurangi jumlah limbah plastik di tempat-tempat pembuangan sampah. JBI menciptakan beberapa tingkat bahan bakar untuk beragam industri dan menjualnya sampai dengan harga 100 dolar AS per barel melalui pengedar-pengedar nasional. Setiap barel perlu biaya produksi 10 dolar AS dan JBI memproduksi beberapa ribu liter minyak setiap harinya. Jika di Amerika dibangun perusahaan yang khusus mengelola plastik menjadi BBM, di Jepang justru ada perusahaan yang khusus menciptakan dan menjual alat pengubah sampah plastik menjadi BBM. Akira Ito menemukan alat itu dan mengembangkannya dengan bendera Blest Corporation. Mereka mensosialiasikan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

John Bordynuik, CEO JBI Inc.
FOTO: VOAINDONESIA.COM

Plastik akan menjadi sumber yang kentara untuk bahan bakar domestik.

LINGKUNGAN
dan menjual alat-alat dengan skala mini itu sehingga bisa juga digunakan di dapur. Sayangnya harganya relatif mahal yakni sekitar Rp100 juta. Namun Akrira ito menjanjikan harganya ke depan akan semakin murah bila di produksi massal. Ia berharap dengan alat yang sudah diperkenalkannya ke sejumlah negara berkembang di Afrika dan juga Asia tersebut, dapat menyelesaikan persoalan lingkungan sampah plastik. Sekaligus juga menghasil-kan sumber energi baru bagi pemenuhan kebutuhan energi dunia. “Anak-anak nanti tidak akan lagi membuang plastik bekas. Karena mereka tahu itu bukan lagi sampah tetapi minyak. Tumpukan-tumpukan sampah plastik itu ke depan merupakan ladang-ladang minyak baru,” ujarnya dalam video yang diunggahnya di laman youtube. Meski memiliki peluang yang besar dalam menyelesaikan persoalan lingkungan sampah plastik dan menghasilkan energi, Allen Hershkowitz, ilmuwan senior Dewan Pertanahan Sumber Daya Alam Amerika Serikat meragukan program tersebut sebagai program hijau. Apakah memproduksi bahan bakar itu tidak menimbulkan polusi yang lebih berbahaya? Apakah cukup aman untuk lingkungan atau tidak?
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Akira Ito, pemilik Blest Corporation.
FOTO: BLEST.CO.JP

Anak-anak nanti tidak akan lagi membuang plastik bekas. Karena mereka tahu itu bukan lagi sampah tetapi minyak.

LINGKUNGAN
“Barangkali pemisahan karbon menjadi botol plastik yang dibuang di tempat sampah lebih baik daripada mengubahnya menjadi bahan bakar cair dan melepaskan serta menggerakkan banyak senyawa karbon,” ujar Allen Hershkowitz di VOA Indonesia. Seperti diketahui, pembakaran yang tidak sempurna pada plastik dapat menyebabkan timbulnya dioksin, yakni zat beracun yang bersifat karsinogenik. Paparan terus menerus dengan zat ini bisa menyebabkan penyakit kanker. Penelitian lebih lanjut dan menyeluruh tentu mustahak dilakukan. Apakah ini akan menjadi solusi baru atau hanya menambah daftar masalah persoalan lingkungan yang baru. (andi noviriyanti/h/rpg)

Alat yang ditemukan Akira Ito.
FOTO: THECOOLGADGETS.COM

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

PUAN

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

PUAN

FOTO: EPAGINI.COM

ANITA SETIAP WANITA CANTIK SELALU MAT MEMILIKI MATA LIHAT YANG INDAH. LIHAT MAT SAJA MATA ANGELINA JOLIE, ELIZATAYLOR, BETH TAYLOR, KRISTIN KREUK DAN SOPHIA LOREN. ANDA ANITA TENTU JUGA WANITA CANTIK YANG INGIN MAT MEMILIKI MATA INDAH.

ata selalu menjadi bagian terpenting dari wajah seseorang. Lewat matalah seseorang memancarkan daya tariknya. Ia pun menjadi jendela hati dari seluruh perasaan yang ada di dalamnya. Mata juga tempat fokus perhatian lawan bicara saat seseorang berbincang dengan orang lain. Itu sebabnya setiap wanita berupaya memiliki mata indah. Inilah beberapa langkah kecil yang harus dilakukan untuk mewujudkan mata indah. Pertama: Jaga kondisi kantung mata. Kantung mata sebenarnya adalah cairan tubuh atau lemak yang tidak dapat dibuang dengan sempurna. Kantung mata yang sembab dapat membuat mata Anda tampak lelah dan tidak bercahaya. Itu terjadi akibat kurang tidur dan kurang minum air putih. Untuk mengatasi mata sembab, kompreslah dengan mentimun atau dengan punggung sendok yang ditaruh di freezer. Lakukan minimal satu minggu sekali. Kedua: Cegah timbulnya lingkaran hitam. Lingkaran hitam pada mata dapat mengganggu penampilan. Biasanya ini disebabkan oleh faktor usia. Semakin bertambah umur, lingkaran hitam di seputar mata
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

M

PUAN
akan makin menggelap. Faktor lain yang membuat timbulnya lingkaran hitam adalah kurang tidur, polusi dan stres. Selain itu juga dapat disebabkan oleh kekurangan nutrisi, hiperpigmentasi, paparan sinar matahari dan kelebihan obat-obatan. Untung menghilangkan lingkaran hitam, Anda dapat menggunakan minyak almond. Caranya, oleskan di bagian bawah mata, kemudian pijatlah secara perlahan sebelum tidur. Lakukan cara ini setiap hari selama tiga minggu. Selain itu Anda dapat juga menggunakan potongan kentang atau mentimun. Gunakan untuk mengompres mata sekitar 10 menit. Hal ini berfungsi untuk memperlancar peredaran darah pada mata. Anda dapat juga menggunakan es batu untuk mengompres. Caranya dengan mengusapkan es batu di sekeliling daerah mata. Ketiga: Cegah kerutan di daerah mata. Kerutan di daerah mata biasanya muncul karena faktor usia. Untuk menghilangkannya, Anda dapat mencoba menggunakan kosmetik. Bisa juga dengan cara alami, yakni buah nenas. Caranya dengan mengiris tipis buah nenas, tempelkan pada bagian mata yang berkerut. Biarkan sari buah nenas menempel dan tunggu sampai kering di wajah. Setelah 15-25 menit, angkat nenas dari wajah kemudian basuh wajah Anda dengan sabun dan air. Keempat: Atasi mata merah atau menguning. Agar mata dapat terlihat indah, Anda harus menjaga kondisi mata tidak merah atau menguning. Hindari
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

FOTO: U-US.BLOGSPOT.COM

Semakin bertambah umur, lingkaran hitam di seputar mata akan makin menggelap.

PUAN
menggosok mata agar tidak terjadi iritasi dan atasi dengan segera bila hal itu telah terjadi. Obat mata yang mengandung Naphozoline Hydrochloride dapat dikatakan efektif untuk menghilangkan mata merah dan membuatnya kembali berbinar indah. Sedangkan untuk mengatasi bola mata yang menguning dan gangguan lainnya, Anda harus konsultasi pada dokter mata. Kelima: Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran. Kandungan mineral dan vitamin pada buah dan sayur merupakan nutrisi yang sangat penting bagi kesehatan mata. Kandungan vitamin C pada buah dan sayur dapat membantu pembentukan kolagen yang menambah elastisitas mata. Keenam: Rawat bulu mata. Bulu mata yang indah dapat membuat Anda tampak lebih mempesona. Mata akan terlihat lebih ekspresif dengan bulu mata yang tebal, lentik dan tegas. Rawat bulu mata menggunakan maskara yang mendukung pertumbuhan bulu mata. Pulas markara beberapa kali di bulu mata untuk menegaskan mata indah Anda. Selamat mencoba merawat jendela hati dan mata indah menjadi milik Anda. (andi noviriyanti)

Buah kiwi berkhasiat mengurangi lingkaran hitam di mata.
FOTO: RACHMANIAF.BLOGSPOT.COM

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

Tips Merias Mata
Merias mata jadi bagian terpenting untuk membuat jendela hati Anda terlihat indah. Beda bentuk mata, beda pula tips meriasnya. Kenali bentuk mata Anda dan cobalah tips ini:

Mata Sipit
- Bila mata sipit, Anda tidak memiliki lipatan atau kelopak mata, gunakan scotch tape. Caranya gunting sebesar 2-3 Mm, bentuk seperti bulan sabit dan tempelkan di atas garis samar kelopak mata. Ini akan membentuk lipatan atau kelopak mata. - Saat menggunakan eyeliner, jangan membuat garis terlalu panjang sampai melewati sudut mata luar karena membuat mata terlihat segaris. - Gunakan riasan smoked eyes dengan menggunakan eyeshadow yang berwarna agak gelap seperti coklat tua, biru tua, ungu tua, hijau tua atau abu-abu tua. - Bila menggunakan bulu mata palsu, pilihlah yang berdiameter setengah atau bulu mata satuan. Hindari bulu mata yang terlalu besar dan tebal karena akan terlihat tidak alami. - Gunakan maskara agak tebal agar memberi kesan mata bulat.

Mata Berjauhan
- Buat shading yang memberi kesan untuk mendekatkan mata. - Perpanjang pangkal alis sehingga mata terlihat dekat. - Hindari penggunaan eyeshadow dengan warna terang pada sudut mata bagian dalam.

Bentuk Mata Berbeda
Bentuk antara mata kanan dan mata kiri umumnya memang tidak sama. Namun bila perbedaannya terlihat cukup jelas dan mengganggu penampilkan, Anda bisa mencoba tips ini: - Gunakan bulu mata palsu. Caranya dengan menggunakan sesuai bentuk mata untuk mata yang lebih bagus. Sedangkan untuk mata lainnya, pasang bulu mata pada bagian sudut luar mata pada posisi yang lebih tinggi. - Buat garis sudut luar mata dengan menggunakan eyeliner lebih tebal. - Usapkan maskara agak tebal pada sudut luar mata yang ingin dikoreksi.

Mata Besar
- Kebalikan dari mata sipit, Anda dapat menggambar garis memanjang dengan menggunakan eyeliner sampai melewati sudut bulu mata. - Hindari eyeshadow berwarna gelap. Sebaliknya gunakan warna perak atau warna terang lainnya. Mata Berkantung Mata akan terlihat sembab, bengkak atau berkantung pada bagian bawah karena kurang tidur atau terlalu lelah. Untuk itu Anda bisa melakukan tips ini: - Setelah menggunakan alas bedak, Anda dapat menutupi kantong mata dengan menggunakan concealer. Namun tipis saja karena penggunaan yang tebal dapat menimbulkan tumpukan dan kerutan yang tidak alami. Pilihlah warna concealer yang mendekati warna alas bedak agar terlihat alami.

Mata Turun
Seiring bertambahnya usia ataupun karena keturunan, mata turun sering membuat penampilan kurang mempesona. Untuk mengatasi masalah itu maka Anda bisa mencoba: - Gunakan scotch tape pada kelopak mata. - Pilih eyeliner warna hitam dan pakai lebih tebal pada sudut luar mata bagian atas maupun bawah. - Baurkan eyeshadow warna gelap agar mata terlihat lebih besar. Gunakan eyeshadow dengan cara ditarik mulai dari 1/3 sudut luar kelopak ke arah atas hingga membentuk sudut 90 derajat.(andi noviriyanti)

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

BELIA
KETIKA REMAJA MEMILIH IDOLA

Tak Mudah Pindah ke Lain Hati
SEMUA remaja pasti terkejut saat mendengar Raffi Ahmad ditangkap oleh Badan Nar-kotika Nasional (BNN), di rumahnya, Selasa (19/ 1). Apalagi ketika sang artis ditetapkan sebagai tersangka dan terbukti positif memakai narkoba. Lalu, bagaiamana dengan remaja yang selama ini mengidolakan pembawa acara terkenal ini?

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

BELIA
AGI Yulia Anggraeni, siswi kelas XII SMA Islam As-Shofa Pekanbaru, sosok Raffi Ahmad adalah keren, lucu, gokil dan tidak sombong pada penggemarnya. Karena alasan itu pulalah, cewek yang punya hobi fotografi ini mengidolakan teman Olga Syahputra menjadi pembawa acara di program “Dahsyat” tersebut. Tentu Yulia tak sendiri. Banyak remaja di Indonesia yang menjadikan pemuda berusia 25 tahun ini sebagai idolanya. Itu bisa dilihat dari setiap kali Raffi tampil di layar kaca. Ratusan bahkan ribuan fansnya rela berpanas-panas dan hujan sekalipun cuma buat melihat sang idola beraksi di atas panggung. Kini Raffi menambah deretan artis yang tersandung masalah. Masih ingat ketika Ariel tersangkut kasus video tak senonoh yang akhirnya menjerat vokalis NOAH itu masuk sel? Berapa banyak remaja yang kecewa, bahkan ada yang menangis —mungkin saja tangis kesal atau sedih— akibat peristiwa ini. Bagi yang sudah mengidolakan Ariel, tentu saja terkejut bercampur heran juga sedih. Lantas setelah dirundung masalah seperti itu, apakah sang idola tak dipuja lagi? Tunggu dulu, ternyata, kecenderungan remaja saat ini sulit pindah ke lain hati. ‘’Ya, masihlah,’’ jawab Yulia saat ditanyakan apakah dia masih mengidolakan Raffi setelah merebaknya kasus ini. ‘’Paling cuman ilfill dikit aja. Hahaha. Ngebayangin sosoknya dengan apa yang terjadi sekarang ini, ya masih tetap berharap dia nggak akan melakukannya
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

B

YULIA ANGGRAENI Siswi kelas XII SMA Islam As-Shofa Pekanbaru

Paling cuman ilfill dikit aja. Hahaha. Ngebayangin sosoknya dengan apa yang terjadi sekarang ini, ya masih tetap berharap dia nggak akan melakukannya lagi. Amin.

BELIA
lagi. Amin,’’ katanya tentang sang idola. Padahal,Yulia mengaku baru mengidolakan Raffi sejak duduk di kelas XI SMA. Pengakuan serupa pun keluar dari mulut Rani Diwati, siswi kelas XI SMKN 3 Pekanbaru. Rani mengaku sangat mengidolakan Agnes Monica sejak 2009 lalu, ketika masih di kelas VIII SMP. Malah, Rani jauh lebih ekstrem memberi pandangan tentang sosok idolanya. ‘’Masih. Karena apa yang diberitakan belum tentu benar. Sekalipun misalnya dia sudah dipenjara, saya masih tetap mengidolakannya. Alasannya, karena dia (Agnes, red) seorang bintang besar dan semangatnya untuk meraih cita-cita sampai go international sangat luar biasa. Apapun yang dialami dan apapun yang diberitakan (berita jelek), saya masih mengidolakan sang bintang itu,’’ ujarnya. Dua siswa lainnya, Handi Virawan, siswa kelas IX SMP Santa Maria Pekanbaru dan Erni Susanti, siswi kelas XII SMAN 10 Pekanbaru pun punya pendapat sama. Keduanya tak mudah dan bisa begitu berpindah idola, walau yang bersangkutan tersandung masalah sekalipun. ‘’Yang namanya mengidolakan seseorang, walaupun terkena kasus apapun tetap akan menjadi fans setianya dan selalu memberi support kepadanya,’’ kata Erni Susanti yang mengidolakan Vidi Aldiano sejak duduk di bangku SMP. Pintar dan Cantik Kira-kira kenapa ya remaja sampai begitu tergilagila sama idolanya? Apakah rasa suka dan senang itu muncul begitu saja atau ada sebab-sebab lain?
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

AGNES MONICA
FOTO: NGOBROLPANAS.BLOGSPOT.COM

Apapun yang dialami dan apapun yang diberitakan (berita jelek), saya masih mengidolakan sang bintang itu,

RANI DIWATI siswi kelas XI SMKN 3 Pekanbaru

BELIA
Jawaban yang mengemuka, para remaja ini punya kriteria sendiri untuk menentukan siapa yang jadi idolanya. Kalau Yulia mengidolakan Raffi karena sosoknya yang keren, lucu, gokil dan tak sombong sama fans, Rani Diwati menyukai Agnes karena pintar dan cantik. Tak hanya bisa nyanyi, Agnes yang memulai karirnya di dunia hiburan sejak jadi pembaca acara “Tralalala-Trililili”, waktu masih kecil lagi, juga pintar dance. Penguasaan Bahasa Inggrisnya juga bagus, yang membawanya ke panggung internasional. Kebolehannya di banyak bidang ini pulalah yang membuat Agnes disenangi kalangan remaja. Penyuka Vidi Aldiano, Erni punya alasan lain VIDI ALDIANO kenapa dia mengidolakan solois berwajah tampan ini. Menurut Erni,Vidi itu orangnya multi talenta atau banyak kebolehannya. Tak hanya sekadar nyanyi,Vidi juga punya aliran musik dan suara khas. ‘’Suaranya bagus dan orangnya ganteng, hahaha,’’ kata Erni sambil tertawa. Sedangkan Handi Virawan, pengidola The Script punya alasan menyukai grup band ini karena lagulagunya bagus dan enak didengar. (khairul amri)
FOTO: INDODOWNLOAD.BLOGSPOT.COM

ERNI SUSANTI siswi kelas XII SMAN 10 Pekanbaru

Yang namanya mengidolakan seseorang, walaupun terkena kasus apapun tetap akan menjadi fans setianya dan selalu memberi support kepadanya,

HANDI VIRAWAN siswa kelas IX SMP Santa Maria Pekanbaru

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

KESEHATAN

NAMA CHATINONE CHATINONE MENDADAK TERKENAL SETELAH BADAN NARKOTIKA NASIONAL (BNN) TUJUH MENCIDUK TUJUH ARTIS DI KEDIAMAN PESINETRON RAFFI AHMAD. AHMAD. MESKI DISEBUT-SEBUT DISEBUT-SEBUT SEBAGAI ZAT BARU ZAT DI INDONESIA, SEJUMLAH SEJUMLAH NEGARA TERNYA TERNYATA TELAH MELARANG PEREDARAN DAN PENGONSUMSIAN PENGONSUMSIAN CHATINONE CHATINONE SECARA BEBAS.

AKNI antara lain AS, Kanada, Australia, Polandia, Norwegia, Belanda, Jerman, Irlandia dan Prancis. Adapun negara yang membebaskan peredaran chatonine mayoritas berada di benua Afrika antara lain Ethiopia, Djibouti, Somalia dan Kenya. Di Inggris, chatinone sudah dilarang sejak 2010, padahal zat ini sudah ada sejak 2007. Menurut laman Wikipedia, chatinone adalah sebuah zat kimia yang ditemukan pada tumbuhan catha edulis atau biasa disebut khat. Tumbuhan ini banyak ditemukan di negara Azerbeijan. Secara susunan kimiawi, chatinone memiliki kemiripan dengan ephedrine, cathine dan berbagai zat amphetamines lainnya. Bahan kimia ini bertanggung jawab untuk perasaan euforia, selalu terjaga, hiperaktif, tidak mudah lelah dan sejenisnya. Merujuk pada laman www.pharmacy.vcu, chatinone diketahui dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti euforia dan kesegaran. Karena itu, dalam konsensus psikotropika internasional pada 1971, dinyatakan sebagai zat terlarang. Bahkan sejak 1993, badan pemberantasan penyeludupan narkoba di negara federal Amerika Serikat (DEA) menyatakan chatinone sebagai salah satu zat terlarang dan keberadaannya memerlukan pengaturan khusus alias bisa dikonsumsi namun harus menggunakan izin medis. Menurut artis yang juga berprofesi dokter, Lula Kamal, chatinone sulit didapat di Indonesia namun
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Y

KESEHATAN
bisa diperoleh dengan mudah di luar negeri, termasuk pembelian lewat internet. ‘’Biasa disebut MI. Efeknya nggak jauh seperti ekstasi, kalau dikonsumsi dengan dosis tertentu bisa menimbulkan halusinasi. Ini sekarang lagi ngetren dan dibawa dari luar negeri,’’ kata Lula. Kini ekstasi sudah banyak ditinggalkan dan banyak yang memakai sabu. Karena adanya chatinone, kemungkinan produk ini yang mulai menyebar. ‘’Memang kemudian bisa bikin sendiri atau impor. Zat ini kan kalau buka di internet ada yang jual. Atau ada saja pabrik yang meracik ini. Dibuat dosisnya ada yang pakai miligram kecil atau ada yang besar, karena orang kan tidak menyangka ini narkoba,’’ tuturnya. Sementara itu, Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan (Badan POM) mengaku belum pernah menemukan chatinone di Indonesia dalam bentuk obat maupun makanan. ‘’Karena itu senyawa yang ada di dalam tanaman, jadi harus diekstraksi,’’ kata Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapeutik dan Napza dari Badan POM, Retno Tyas. Ia terkejut ketika tahu ternyata chatinone telah diatur dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan termasuk golongan I. Golongan 1 itu artinya zat yang berakibat berat dan mematikan serta tidak boleh ada. Pengedarnya bisa diancam hukuman mati. Dalam UU ini telah disebutkan rumus kimia chatinone yakni (-)-S-2-ainopropiofenon. ‘’Itu senyawa yang sudah dimurnikan kalau sampai disebutkan rumus kimianya,’’ ujar Retno.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

LULA KAMAL
FOTO: INDONESIANFILMCENTER.COM

chatinone sulit didapat di Indonesia namun bisa diperoleh dengan mudah di luar negeri, termasuk pembelian lewat internet.

KESEHATAN
Ia menduga chatinone baru masuk ke Indonesia karena tumbuhan yang mengandung zat ini yaitu khat, berasal dari tanaman yang hanya dapat ditemukan di negeri-negeri dingin, seperti di Eropa Timur dan Afrika. Artinya, jalur pengiriman khat lebih jauh dibanding jalur distribusi ganja atau shabu-shabu yang lebih mudah masuk ke Indonesia karena lebih dekat sebab bahan bakunya tumbuh di Cina. Menurut Koordinator Sekretariat Nasional PKNI (Persaudaraan Korban Napza Indonesia), Edo Agustian, chatinone atau dalam Bahasa Indonesia disebut katinona hanya boleh dipakai untuk keperluan riset. Untuk keperluan medis sekalipun, narkotika golongan ini tak diizinkan, apalagi untuk keperluan rekreasional. ‘’Kalau dulu, mungkin sama seperti kokain. Masuknya ke Indonesia juga lebih susah dibanding sabu-sabu karena bahan baku kokain juga didatangkan dari jauh, dari Amerika Selatan,’’ kata Edo. Ancaman hukuman atas kepemilikan narkotika golongan I dalam bentuk tanaman berkisar antara 412 tahun serta denda antara Rp800 juta hingga Rp8 miliar. Sanksi serupa juga berlaku bagi yang menyimpan tidak dalam bentuk tanaman. Dalam bentuk tanaman, kepemilikan lebih dari 1 Kg atau lebih dari 5 batang pohon bahkan bisa diancam dengan hukuman seumur hidup. Sedangkan dalam bentuk bukan tanaman, sanksi hukuman mati juga
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

FOTO: NUSANTARA.PELITAONLINE.COM

Kalau dulu, mungkin sama seperti kokain. Masuknya ke Indonesia juga lebih susah dibanding sabu-sabu karena bahan baku kokain juga didatangkan dari jauh, dari Amerika Selatan

KESEHATAN
bisa dikenakan pada kepemilikan sebanyak lebih dari 5 gram. Sanksi yang lebih berat adalah hukuman mati bagi yang memproduksi atau menyalurkan narkotika golongan I lebih dari 1 Kg atau lebih dari 5 batang pohon, atau 5 gram dalam bentuk bukan tanaman. Ganjaran paling berat untuk pelanggaran ini adalah hukuman mati. Indonesia turut menyepakati konvensi Wina tahun 2009 untuk menggunakan pendekatan kesehatan dalam membina korban narkoba. (purnimasari)

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

KESEHATAN

Hikayat si Khat

C

HATINONE berasal dari tanaman catha edulis atau khat. Tanaman ini tumbuh di Afrika dan sebagian wilayah Arab. Masyarakat Afrika (Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Somalia) dan Jazirah Arab sudah lazim mengunyah khat dan memiliki sejarah panjang sebagai kebiasaan sosial sejak ribuan tahun. Jadi bukan diekstrak kandungan aktifnya yakni chatinone seperti saat ini. Dilihat dari strukturnya, chatinone tak jauh beda dibanding narkoba yang lebih populer di Indonesia yakni amphetamine. Meski tak termasuk
FOTO: FARM4.STATICFLICKR.COM.

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

KESEHATAN
golongan amphetamine, chatinone memiliki efek yang kurang lebih sama yakni mampu membangkitkan stamina. Merujuk laman Wikipedia, catha edulis juga biasa disebut teh Arabian yakni sejenis tanaman berbunga asli Afrika dan Semenanjung Arab. Khat mengandung alkaloid yang Khat menyebabkan kegembiraan, kehilangan nafsu makan dan disebut monoamine cathinone euforia. yang dikatakan menyebabkan kegembiraan, kehilangan nafsu makan dan euforia. Pada 1980, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasi-kannya sebagai penyalahgunaan obat yang dapat menghasilkan efek ringan sampai sedang dalam hal ketergantungan psikologis (kurang dari tembakau atau alkohol). Meski WHO tak mempertimbangkan khat menjadi zat yang serius adiktif, tanaman ini telah ditargetkan oleh organisasi anti-narkoba seperti DEA. Khat adalah semak yang tumbuh lambat atau pohon yang tumbuh antara 1,4 m dan 3,1 m, tergantung pada daerah dan curah hujan. Ia memiliki daun hijau dengan panjang 5-10 Cm dan lebar 1-4 Cm. Bunga-bunga yang dihasilkannya agak pendek, sekitar 4-8 Cm. Setiap bunga kecil memiliki lima kelopak putih. Buahnya seperti kapsul lonjong mengandung 1-3 benih. Hingga kini, daerah asal khat tidak diketahui pasti.
KESEHATAN-CDN.GREENPROPHET.COM.JPG

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

KESEHATAN
Salah satu argumen mengatakan, ia pertama kali ditanam di Ethiopia. Penjelajah Sir Richard Burton menunjukkan tanaman itu dan kemudian diperkenalkan ke Yaman dari Ethiopia pada abad ke-15. Ia secara khusus menyebut kota timur Harar sebagai tempat kelahiran khat. Bagi bangsa Mesir kuno, khat dianggap makanan ilahi. Bangsa Mesir Kuno menganggap khat sebagai makanan ilahi, yang mampu melepaskan keilahian manusia. Deskripsi pertama tentang khat ditemukan dalam Kitab al-Saidala fi alTibb, sebuah karya abad ke-11 di bidang farmasi dan Mereka mengonsumsi medis yang ditulis oleh Abu Rayhan al-Biruni, seorang khat seperti ilmuwan biologi dari Persia. Menurut al-Biruni, khat daun sirih yang berguna untuk mengobati gangguan empedu, lambung memerlukan dan hati. bumbu tertentu. Pada 1854, penulis Melayu Abdullah bin Abdul Kadir mencatat kebiasaan mengunyah khat merata di Al Hudaydah, Yaman. Mereka mengonsumsi khat seperti daun sirih yang memerlukan bumbu tertentu. Jika berkumpul, sisa-sisa daun ini akan menumpuk di depan mereka. Jika meludah, air liur menjadi hijau. Ketika ditanya manfaatnya, masyarakat di sana menjawab tidak ada, hanya karena sudah terbiasa. Secara tradisional, khat digunakan sebagai alat bersosialisasi. Di Yaman, mengunyah khat didominasi
FOTO: COLORFULNATURE.COM.

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

KESEHATAN
kebiasaan laki-laki. Mereka mengenakan kostum tradisional dan mengonsumsi tanaman ini di sore hari. Mengunyah khat juga merupakan bagian dari budaya bisnis Yaman untuk berpromosi, mengambil keputusan, tapi orang asing tak diharapkan berpartisipasi. Beberapa wanita Yaman bahkan memiliki tempat sendiri untuk acara ini dan ikut mengunyah khat dengan suami mereka di akhir pekan. Khat dikenal dengan berbagai nama. Yakni qat dan gat di Yaman, qaat dan jaad di Somalia dan chatting di Ethiopia. Ia juga dikenal sebagai jimma dalam bahasa Oromo. Khat telah berkembang untuk digunakan sebagai stimulan selama berabad-abad di Afrika dan Semenanjung Arab. Di sana, dauh khat segar dikunyah sebelum minum kopi. Jika dikeringkan, khat dikonsumsi sebagai teh. Daun atau bagian lembut batangnya dapat dikunyah layaknya permen karet. Khat sangat populer di Yaman. Diperkirakan, 40 persen dari pasokan air di negara itu digunakan untuk mengairi khat yang produksinya meningkat sekitar 10-15 persen tiap tahun. Salah satu alasan budidaya khat begitu maju di Yaman adalah mudah dipelihara dan memberi pendapatan yang tinggi bagi petani. Yakni mencapai 2,5 juta rial per hektare, sementara buah-buahan hanya 0,570.000 rial per hektare. Selama kurun 1970-2000, daerah yang telah
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Khat sangat populer di Yaman.
FOTO: ENTHEOPEDIA.ORG.

Mengunyah khat juga merupakan bagian dari budaya bisnis Yaman untuk berpromosi, mengambil keputusan

KESEHATAN
dibudidayakan khat tumbuh dari 8.000 hingga 103.000 Ha. Para peneliti memperkirakan, sekitar 70-80 persen orang Yaman antara usia 16-50 tahun mengunyah khat. Sekitar 14,6 juta orang Yaman mengunyah khat saban hari. Tiap keluarga menghabiskan sekitar 17 persen dari pendapatan mereka untuk khat. Di negara-negara lain, di luar wilayah inti pertumbuhan dan konsumsi, khat kadangkadang dikunyah di pesta-pesta atau acara sosial. Ia juga digunakan oleh para petani dan buruh untuk mengurangi kelelahan fisik atau kelaparan. Supir dan siswa juga memakainya untuk meningkatkan perhatian. Dalam kontra-budaya segmen penduduk elit di Kenya, khat (disebut secara lokal sebagai veve atau miraa) digunakan untuk melawan efek mabuk atau pesta minuman keras, mirip dengan penggunaan daun koka di Amerika Selatan. Bahan kimia cathinone lebih ampuh ketika khat belum jadi daun kering. Karena itu, daun dan batang khat dibungkus dalam kantong plastik atau daun pisang untuk menjaga kelembaban. Tak jarang, khat juga diperciki air atau dibawa menggunakan pendingin selama transportasi. Di Mogadishu, khat juga umum dikonsumsi ketika berbincang dengan tamu. Di seluruh dunia, diperkirakan 10 juta orang menggunakan khat setiap
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Mencangkok ranting khat.
FOTO: ENTHEOPEDIA.ORG.

KESEHATAN
hari, terutama masyarakat di Afrika dan Jazirah Arab. Di Israel, khat populer dalam bentuk koktail arak, khat cincang beku atau dicampur dengan jus jeruk. Pada 2003, Hagigat (nama pil dari cathinone yang diekstraksi), mulai dijual di kios di Israel. Setelah beberapa kasus rawat inap, Departemen Kesehatan Israel menyatakan cathinone sebagai obat berbahaya dan Hagigat telah dilarang. (purnimasari)

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

KESEHATAN

Efek Jangka Pendek
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Peningkatan denyut jantung dan tekanan darah Euforia Hiperaktif Nafsu makan menurun Sembelit Dilatasi pupil mata (mydriasis) menonjol Lekas marah Mimpi buruk dan getaran kecil

Efek Jangka Panjang
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Dampak negatif pada fungsi hati Gigi permanen gelap (dari semburat kehijauan) Rentan terhadap bisul Dorongan seks berkurang Depresi Halusinasi Respon lambat Peningkatan risiko infark Kanker mulut Stroke

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8- 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

SENI BUDAYA

SABTU, 26 JANUARI SABTU, LALU, LALU, ORANGORANG SENI DI KOTA RENGAT KOTA RENGAT, KABUPATEN KABUPA HULU, INDRAGIRI HULU, RIAU PROVINSI RIAU MEREFLEKSI PERISTIWA RENGAT PERISTIWA RENGAT BERDARAH 1949 KE PANGGU ANGGUNG. ATAS PANGGUNG.

ERISTIWA ini bukan hanya mengangkat kenangan tentang peristiwa bersejarah itu, tapi juga menjadi buhul bahwa negeri ini juga menyimpan kejayaan dan kecemerlangan sebuah kerajaan bernama Indragiri. Dua pementasan teater yang disuguhkan malam tersebut untuk mengenang peristiwa Rengat Berdarah 1949 itu, seakan ingin mengorak untuk menyingkap bahwa Rengat banyak menyimpan sejarah. Dulu, kota ini kerap dijuluk sebagai Kota Bersejarah dan kadang dengan nama Kota Kedondong dan terakhir menjadi Gerbang Sari, sebuah nama bercita rasa Orde Baru. Rengat Berdarah 1949 merupakan peristiwa yang sukar dilupakan di negeri ini. Refleksi itulah yang coba digambarkan oleh kelompok teater Sempene Indie Teater, Rengat. Di bawah asuhan Sutradara Dikky, mereka mengangkat cerita “Darah Awal 49”, sebuah naskah teater karya Salimi Yusuf, salah seorang tokoh teater senior di kota ini. Cerita ini berkisah tentang peristiwa yang terjadi pada 1949 lalu, saat Agresi Militer Belanda II. Ruang tamu, ayunan atau buaian bayi dan sebuah bilik, menjadi setting pentas yang diaktori anak-anak muda kota itu. ‘’Anak-anak ini tak mau diam. Mereka terus saja berkarya dan berkarya,’’ ujar Salim, mengomentari para peteater muda yang melakonkan naskahnya. Selain diisi oleh teater dari Sempene Indie Teater Rengat, malam itu pementasan juga diisi oleh Teater
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

P

SENI BUDAYA
Selembayung dari Pekanbaru. Kelompok teater yang cukup punya nama di Riau ini, mengangkat naskah “Gelombang Sunyi”, yang diangkat dari novel sastrawan Taufik Ikram Jamil dengan judul yang sama. Selambayung tampil dalam karya monolog dengan aktor Fedli Azis, yang sekaligus juga sebagai sutradara lakon itu. Walau monolog, tapi Fedli tak tampil sendiri, ia juga didukung anakanak Selembayung lainnya, sebagai wujud-wujud imajiner untuk menguat pergelaran malam itu. “Gelombang Sunyi” berkisah perampasan hakhak atas tanah ulayat masyarakat yang banyak terjadi di ceruk negeri bernama Riau ini. Cerita ini mengalir dari ungkapan-ungkapan seorang wartawan melalui tulisan-tulisannya. Wartawan itu sendiri dalam cerita tersebut disekap oleh oknumoknum, yang dalam lakon tersebut oleh Fedli ditampilkan dalam wujud-wujud realitas imajiner. Fedli adalah sebagai aktor yang melakonkan sang wartawan yang disekap tersebut. Dialog-dialognya mengalir didukung dengan kekuatan olah tubuh dan ekspresi sang aktor. Digambarkan, bagaimana keserakahan pemilik modal merampas hak-hak rakyat dan membungkam suara-suara yang meneriakkan ketidakadilan itu. Kendati lakon tersebut tak berkait dengan peristiwa Rengat Berdarah 1949, tapi novel yang ditulis Taufik tersebut memiliki hubungan emosional dengan Indragiri Hulu. Sebagai penulis, Taufik pernah
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Monolog “Gelombang Sunyi”.
FOTO: SANGGAR SELEMBAYUNG

SENI BUDAYA
mengungkapkan bahwa novelnya itu terinpirasi dari protes masyarakat Inhu berkait dengan perampasan lahan di Bukit Selasih di zaman Orde Baru dulu. Lakon “Gelombang Sunyi” produksi Sanggar Teater Selambayung itu sendiri sebelum tampil pada malam itu, juga telah beberapa kali tampil, di antaranya di Pekanbaru dan di Dumai. ‘’Kita memang berencana mementaskannya di seluruh kabupaten dan kota yang ada di Riau,’’ ujar Fedli. Mengingat sebuah peristiwa sejarah di Kota Rengat tersebut yang dibentangkan melalui pementasan teater, bukan hanya sebatas mengenang satu titik peristiwa. Pilihan teater sendiri sebagai media pengingat tak hanya dapat dipandang sebagai peristiwa pada malam acara itu saja. Paling tidak, bagi sejumlah orang dapat melihat bahwa Rengat memiliki tradisi berteater cukup bagus sejak dulunya. Sesungguhnya, peristiwa berkesenian malam itu hanyalah sebuah titik kecil sebagai pengingat banyak hal-hal yang luar biasa pernah terjadi dan tersuguhkan dari Bumi Indragiri ini. Rengat dan Indragiri secara umum, tak dinafikan merupakan negeri yang cukup besar sumbangannya terhadap kehidupan berkesenian di Riau bahkan Tanah Air. Di bidang teater saja misalnya, siapa yang bisa menafikan peran seorang sosok Indrus Tintin. Kendati belum ada suatu kesepakatan, tapi ia disebut-sebut sebagai tokoh pendobrak teater cis menuju teater modern. Atas keuletannya di dunia teater, gedung teater yang berdiri megah di kawasan Bandar Seni
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Sesungguhnya, peristiwa berkesenian malam itu hanyalah sebuah titik kecil sebagai pengingat banyak hal-hal yang luar biasa pernah terjadi dan tersuguhkan dari Bumi Indragiri ini

SENI BUDAYA
Raja Ali Haji diberi nama Anjung Seni Idrus Tintin. Lalu, pada November 2012 lalu, Dewan Kesenian Riau (DKR) bersama sanggar-sanggar yang ada di Pekanbaru dan Kampar yang melibatkan tidak kurang 300 pekerja teater berkumpul dalam suatu hajat hendak menjadikan 10 November, yang merupakan hari lahir Idrus Tintin sebagai Hari Teater Modern Riau. Dari helat tersebut, DKR telah berazam tiap tahun atau setiap November helat peringatan itu akan digelar. Selain nama Idrus, terdapat sederet nama tenar lainnya. Sebut saja Bustamam Halimy dan Taufik Effendi Aria yang merupakan tokoh teater yang memiliki bersebatian hubungan dengan negeri ini. Di bidang sastra, Rengat atau Indragiri sangat dekat kaitannya dengan Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bahri. Dan beberapa tahun silam, pernah digelar helat secara nasional berjuluk “Penyair Abad 21”, dan Riau diwakili beberapa nama yang tiga antaranya berasal dari Indragiri, yaitu Eddy Ahmad RM, Yoserizal Zen yang keduanya berasal dari Inhu dan seorang lagi Hafney Maulana dari Indragiri Hilir. Di luar konteks kekinian yang berkait dengan sumbangan negeri ini terhadap seni-budaya di Riau dan di Tanah Air, Indragiri juga memiliki sejarah gemilang dalam sejarah Kerajaan Melayu. Kerajaan Indragiri pernah mencapai masa kejayaannya di bawah kesultanan Narasinga.

Di luar konteks kekinian yang berkait dengan sumbangan negeri ini terhadap senibudaya di Riau dan di Tanah Air, Indragiri juga memiliki sejarah gemilang dalam sejarah Kerajaan Melayu.

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

SENI BUDAYA
Kebesaran Kerajaan Indragiri Kebesaran Kerajaan Indragiri tersebut, sampai saat ini bisa dilihat dari jejak-jejak sejarah berupa makam-makam raja-raja atau kekerabatan Kesultanan Indragiri. Kompleks Pemakaman Rajaraja Indragiri terhampar seluas 16,19 hektare di kampung Kota Lama, yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu. Kawasan yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Indragiri itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa di masa lampau, Indragiri merupakan salah satu negeri yang mencatat sejarah kebesaran Melayu. Perjalanan dari Kota Rengat menuju Kampung Kota Lama, tidaklah terlalu jauh. Bisa ditempuh selama 20-25 menit saja. Kondisi jalan dari gerbang kampung menuju Kompleks Makam Raja-raja Indragiri juga tidak terlalu buruk. Hanya di beberapa bagian yang mengalami kerusakan. Jalan yang membelah perbukitan kecil itu seperti mengisyaratkan sebuah perjalanan menuju masa lalu. ‘’Ini yang namanya Desa Kota Lama itu. Di depan sana ada Danau Meduyan dan di bagian atas sini, kawasan cagar budaya Kompleks Makam Raja-raja Indragiri. Di sinilah letak puing-puing istana, benteng dan makam Sultan Narasinga II yang terkenal itu,’’ ungkap Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Indragiri Hulu, H Mailiswin Ssos sambil menunjuk dua kawasan bersejarah tersebut. Kawasan yang telah dipagar dan dibuatkan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Kompleks makam Raja-raja Indragiri.
FOTO: FEDLI AZIZ/RIAU POS

SENI BUDAYA
gerbangnya itu, dipandang dari luar memang terlihat kurang terawat dengan baik, namun jalanjalannya telah diaspal untuk mempermudah para wisatawan menuju makam Sultan Narasinga II dan lainnya. Dalam kawasan itu terasa nyaman dan teduh. Pohon-pohon besar dan rindang di tepian jalan Makam Andi Sumpu Muhammad bergelar Panglima Jukse Besi komplek itu menghalangi orang di sepanjang 12 meter. sana dari sengatan matahari. Setelah memarkirkan kendaraan, tak jauh dari kediaman juru kunci makam, Mailiswin langsung mengarahkan ke makam Sultan Narasinga II yang bergelar Paduka Sri Sultan Alaudin Iskandarsyah Johan Zikrullah Fil Alam (1473-1532). Kondisi makam-makam dalam kawasan seluas kurang lebih 15x15 meter itu cukup terawat. Selain di tepi pagar besi tumbuh beberapa pohon besar, juga terdapat tempat berteduh dari panas dan hujan. Ada beberapa makam di sana seperti makam Sultan Narasinga II di bagian tengah, makam anaknya Sultan Usuluddin Hasansyah (1532-1557) dan makam seorang tawanan yang akhirnya menjadi sahabat Sultan Narasinga II, Jenderal Portugis Frederico Marlos serta kerabat-kerabat lainnya. Selain itu, tak jauh dari makam Sultan Narasinga II, terdapat pula makam Sultan Jamaluddin Keramatsyah (1599-1658), makam Tun Usman Fadillah, makam Raja
FOTO: FEDLI AZIZ/RIAU POS

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

Menurut cerita orang tua-tua panglima ini memiliki tubuh tinggi dan besar karena itu makamnya seperti ini.

Serdang, makam Syeh Abdul Kadir dan makam Andi Muhammad Juksi Besi. Khusus makam Andi Sumpu Muhammad bergelar Panglima Jukse Besi terbilang unik karena ukurannya yang tidak biasa. Makam panglima terbaik Sultan Narasinga II dan Sultan Usuluddin Hasansyah itu di tempatkan tersendiri dengan panjang berkisar 12-13 meter dan lebar dua meter. ‘’Menurut cerita orang tua-tua panglima ini memiliki tubuh tinggi dan besar karena itu makamnya seperti ini,’’ tambah Mailiswin. Kawasan kompleks tersebut berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Indragiri Hulu. Pembangunan dan pengembangan kawasan telah dimulai sejak lama dan penataan secara baik dilakukan sejak 1995 hingga sekarang lewat anggaran kabupaten, provinsi dan pusat. Dijelaskannya, untuk kawasan ini dianggarkan sebesar Rp300.000.000 dan pada 2011 dan 2012 hanya mendapat anggaran pemeliharaan Rp50 juta. Anggaran itu meningkat pada 2013 ini yakni Rp1,5 miliar dari anggaran provinsi dan Rp50.000.000 dari kabupaten. Bahkan untuk pengembangan Danau Meduyan dibantu provinsi sebesar Rp3,5 miliar. ‘’Jumlah ini rasanya lumayan besar untuk pengembangan dan pemeliharaan dua kawasan yakni kompleks makam dan Danau Meduyan. Kami juga selalu berupaya menggali potensi lain yang barangkali masih terkubur di kawasan Kota Lama,’’ jelas Mailiswin. Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batu Sangkar yang bertugas di Indragiri Hulu, tepatnya di
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Saat ini, untuk kawasan Kota Lama yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional hanya dua yakni makam Sultan Narasinga II dan makam Kesedangan Sultan Indragiri atau Ahmad Alamsyah Putra.

kawasan Makam Raja-raja Indragiri Kota Lama, Saharan mengatakan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memaksimalkan kawasan tersebut. Saat ini, untuk kawasan Kota Lama yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional hanya dua yakni makam Sultan Narasinga II dan makam Kesedangan Sultan Indragiri atau Ahmad Alamsyah Putra. Sedang yang lainnya diharapkan agar Pemda membuatkan peraturan daerah (Perda) atau ketetapan Bupati Inhu agar benda-benda bersejarah itu memilki payung hukum yang kuat. ‘’Selama ini kita masih ‘demam’ cagar budaya saja. Upaya yang dilakukan pun baru inventarisasi dan masih sebatas pengenalan, makanya kawasan cagar budaya ini belum semuanya terkelola dengan baik. Kondisi ini, juga disebabkan keterbatasan anggaran. Namun ke depan, kita berharap kawasan ini ditetapkan Pemda sebagai kawasan cagar budaya yang berfungsi sebagai pusat penelitian karya ilmiah, bidang arkeologi,’’ tutur Saharan. Dipaparkannya, Kota Lama sebagai kawasan cagar budaya diduga sebagai daerah yang menyimpan struktur cagar budaya antara lain benda-benda bekas bangunan kuno seperti benteng dan makam serta benda-benda sejarah lainnya. Selain itu, di kawasan itu terdapat berbagai keramik peninggalan Dinasti Ming, Cang serta keramik asal Vietnam berbentuk gerabah. Karenanya, dalam mengurus kawasan ini dituntut tenaga profesional yang melakukan perlindungan, pemeliharaan, pelestarian dan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Kerajaan Indragiri dimulai sejak 1298 dan berakhir pada 1945 setelah mengakui dan bergabung bersama Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

pemanfaatan secara baik. ‘’Perlindungan di sini dalam arti kata, upaya pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2010. Karenanya untuk tahun ini target kami cenderung pada registrasi nasional untuk memacu ketetapan Bupati Inhu terhadap cagar budaya daerah dengan langkahlangkah seperti identifikasi benda, inventarisasi, dokumentasi dan aksi (pemanfaatan),’’ tegasnya. Selama ini, memang sudah ada upaya mengarah ke sana seperti melakukan penelitian dengan berbagai pihak seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang membagi Kota Lama dalam tiga zona yakni zona inti, zona pendukung dan zona pengembangan. Diharapkan, pemerintah, masyarakat dan elemen lainnya memahami arti penting melestarikan nilai budaya daerah, baik nilai budaya benda (tangible) maupun non benda (intangible). Kedua objek ini disebut warisan budaya atau culture haritage baik bentuk aslinya ataupun nilai sejarahnya sesuai data dan faktanya. Kerajaan Indragiri dimulai sejak 1298 dan berakhir pada 1945 setelah mengakui dan bergabung bersama Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI). Kerajaan yang berlangsung selama kurang lebih tujuh abad tersebut diperintah sebanyak 25 sultan/raja. Dalam berbagai catatan sejarah dijelaskan, awalnya kerajaan itu bernama Kerajaan Keritang dengan sultan pertama Raja Kecik Mambang bergelar Raja Merlang (1298-1337).
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Makam Raja-raja Indragiri.
FOTO: FEDLI AZIZ/RIAU POS

Tampuk kekuasan dilanjutkan Raja Iskandar bergelar Narasinga I (13371400) dan Raja Merlang II bergelar Sultan Jamaluddin Inayat Syah (1400-1473). Sultan keempat Keritang yakni Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zukrullah Fil Alam bergelar Narasinga II (1473-1532). Kerajaan Keritang yang dipimpin Raja Kecik Mambang atau Raja Merlang pernah menjadi wilayah taklukkan Kerajaan Majapahit. Namun seiring masukkan ajaran Islam, kerajaan tersebut dikuasai pula oleh Kerajaan Melaka. Sejak itu, raja Keritang pertama hingga keempat yakni Narasinga II tidak diperbolehkan tinggal di negerinya sendiri dan dibawa serta menetap di Melaka. Selama penguasa Kerajaan Keritang menetap di Melaka, roda pemerintahan dijalankan dua orang pembesar di sana yakni Datuk Patih dan Datuk Temenggung Kuning, namun keduanya kerap berselisih karena berbeda keyakinan. Datuk Temenggung memeluk Islam sedang Datuk Patih tetap bertahan dengan keyakinan lamanya yakni Buddha. Konflik internal tersebut dimanfaatkan Narasinga II untuk menyusun siasat untuk pergi ke Keritang. Dengan alasan hendak mencari hiburan bersama permaisurinya Dang Purnama, Narasinga II bertolak ke Keritang dan bersama pengikutnya beliau langsung memindahkan pusat pemerintahan dari Keritang ke Pekan Tua (tak jauh dari Sungai Indragiri).
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Dalam berbagai catatan sejarah, Narasinga II merupakan penguasa pertama yang mendirikan Kerajaan Indragiri.

Di Pekan Tua, Narasinga II dinobatkan sebagai sultan pertama Kerajaan Indragiri. Setelah itu, beliau kembali memindahkan pusat kerajaan dari Pekan Tua ke Mudoyan yang dikenal dengan nama Kota Lama untuk menghindari serangan tentara Portugis dan perompak. Belum ada kepastian kapan persisnya pusat kerajaan dipindahkan ke Kota Lama namun diperkirakan sekurang-kurangnya pada 1532 (wafatnya Narasinga II). Dan 1765 pusat kerajaan kembali dipindahkan, kali ini ke Raja Pura atau Japura. Barulah pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim, 5 Januari 1815 pusat pemerintahan dipindahkan ke Rengat dan berlanjut hingga akhir usia kerajaan yang dikenal dengan nama Kerajaan Negeri Mahligai tersebut. Tiga sultan Kerajaan Indragiri dimakamkan di Masjid Raja Kota Rengat yakni Sultan Ibrahim (17841815), Sultan Isa Mudayat Syah (1883-1902) dan raja terakhir Sultan Mahmud Syah (1912-1963). Tercatat bahwa Sultan Ibrahim-lah yang telah memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Indragiri ke Rengat dari Kota Lama pada 1786 dan membangun Masjid Raya Rengat pada 1787. Sultan Ibrahim juga ikut terlibat langsung dalam peperangan merebut Kota Melaka dari Belanda bersama Raja Haji Fisabilillah yang wafat dalam pertempuran tersebut. Dalam berbagai catatan sejarah, Narasinga II merupakan penguasa pertama yang mendirikan Kerajaan Indragiri. Semangat untuk berdiri sendiri dan lepas dari belenggu penjajahan Melaka membuatnya tetap dikenang sebagai orang yang pantang menyerah
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Padahal, dengan perbaikan yang mereka lakukan, makam-makam tua itu justru tak ada bedanya lagi kuburan zaman sekarang yang bergaya porselin dapur dan toilet.

dan berani mengambil risiko. Perjuangan Narasinga II tidak bisa dipandang sebelah mata sebab tanpa jasa beliau sejarah tentu berkata lain. Sayangnya, material bangunan pusara didominasi lapisan keramik porselin yang banyak digunakan untuk wilayah dapur dan toilet. Sebaiknya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata merawat bentuk dan rasa ‘purba’ makam itu. Padahal, untuk mendapatkan tampilan bergaya ‘purba’, cukup dengan menggunakan batu dan semen yang diberi kesan bangunan lama. Memang, kebanyakan makam-makam tua yang bersejarah ”dikeroyok” oleh Pemda tanpa pengetahuan yang memadai tentang itu. Para pemangku kebijakan kerap mengatakan mereka melakukan pemugaran agar kesannya lebih bagus. Padahal, dengan perbaikan yang mereka lakukan, makam-makam tua itu justru tak ada bedanya lagi kuburan zaman sekarang yang bergaya porselin dapur dan toilet. Tak senyawa dengan nama besar yang disandang nisannya. Padahal, dipugar sejatinya adalah mengembalikan sesuatu hingga menyerupai bentuk asli. Bukan justru dikemas-kini dengan sentuhan yang seakan-akan ‘modern’. Mungkin ke depan, hal-hal seperti ini yang patut diperhatikan. (eriyanto hady/ fed/rpg)

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

Silsilah Raja-raja Indragiri
- Raja Kecik Mambang bergelar Raja Merlang (1298-1337) - Raja Iskandar bergelar Narasinga I (1337-1400) - Raja Merlang II bergelar Sultan Jamaluddin Inayat Syah (1400-1473) - Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zukrullah Fil Alam bergelar Narasinga II (1473-1532) - Sultan Usuluddin Hasansyah (1532-1557) - Raja Ahmad bergelar Sultan Mohammadsyah (1557-1599) - Raja Jamaluddin bergelar Sultan Jamaluddin Keramatsyah (1599-1658) - Sultan Syalahuddin Suleimansyah (1658-1669) - Sultan Jalaluddin Mudayatsyah (1669-1676) - Sultan Usuluddin Ahmadsyah (1676-1687) - Sultan Abdul Jalil Syah (1687-1700) - Sultan Mansyur Syah (1700-1704) - Sultan Muhammad Syah (1704-1704) - Sultan Muzaffar Syah (1707-1715) - Raja Ali Mangkubumi atau Sultan Zainal Abidin (17151735) - Sultan Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah (1735-1765) - Raja Kecik Besar bergelar Sultan Sunan (1765-1784) - Sultan Ibrahim (1784-1815) - Raja Mun bergelar Sultan Mun Bungsu (1815-1827) - Raja Umar bergelar Sultan Berjanggut Keramat Gangsal (1827-1838) - Raja Said bergelar Sultan Said Mudayatsyah (1838-1876) - Raja Ismail bergelar Sultan Ismail Syah (1876/ memerintah satu pekan karena meninggal dunia). - Tengku Husin alias Tengku Bujang bergelar Sultan Husin Syah (1877-1883) - Tengku Isa bergelar Sultan Isa Mudayat Syah (1883-1902) - Tengku Mahmud bergelar Sultan Mahmud Syah (19121963)

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

JELAJAH

Perikanan Rakyat: Kajian Usai yang tak Dipakai
MUCHTAR AHMAD

U

NTUK menyederhanakan, usaha penangkapan ikan dibagi dua saja. Usaha perikanan rakyat yang umumnya skala kecil; tenaga kerja sekitar lima orang dari kalangan keluarga dan kerabat sendiri. Ukuran kapal yang digunakan kurang dari 5 ton dan modal (berupa aset) kurang dari Rp50 juta. Tujuan usahanya adalah sekadar untuk cukup makan mempertahankan hidup belaka (subsistence). Lagi pula Usaha ini umumnya menangkap ikan di perairan pesisir-pantai dengan alat tangkap tetap (pasif). Manakala usaha perikanan industri bersifat komersial, dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Keadaan usaha, semuanya di atas angka perikanan rakyat itulah. Kalau dirinci, maka semua usaha perikanan komersial itu modalnya sekitar Rp500 juta, ukuran kapal 30 ton, dengan awak kapalnya 10 orang, mampu menangkap ikan di perairan lepas pantai (off shore) dan sangkil (efisien). Usaha penangkapan ikan di perairan pesisir yang menggunakan alat tangkap pengerih dan sampan, jelas
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

JELAJAH
termasuk perikanan rakyat kecil, bahkan termasuk usaha mikro. Bila diamati keadaannya sekarang dibandingkan dengan 50 tahun silam hampir tidak ada perubahan teknologinya, kecuali hasilnya semakin kecil dan kehidupan nelayannya semakin terpuruk. Pernah seorang profesor di suatu perguruan tinggi di Pekanbaru menanyakan kepada pembicara pada seminar internasional di kota yang sama: “Bagaimanakah memajukan perikanan rakyat kita?” Jawabannya tak jauh berbeda dengan Dr DH Boeke. Sosiolog Boeke pada tahun 1938 menulis disertasinya tentang sosial-ekonomi pedesaan Jawa. Temuannya amat termasyhur dan masih dirujuk sampai sekarang, oleh hampir setiap pakar pembangunan yang membahas ekonomi di negara terkebelakang atau dunia ketiga. Boeke menyatakan, bahwa keadaan masyarakat, di mana terdapat usaha kecil yang subsisten berdampingan secara damai dengan usaha besar yang efisien dan komersial dinamakannya: masyarakat ekonomi ganda. Karena yang kecil itu sangat terikat kepada sosial dan budaya masyarakatnya, maka menurutnya tidak akan bisa diubah apalagi berubah. Sementara usaha besar yang tentulah kapitalistis, tidak peduli bahkan berusaha menguasai sumber-sumber yang dimiliki oleh kelompok yang pertama. Di desa pesisir, kajian tentang suatu usaha perikanan desa pesisir, potensi sumber, pembangunan perikanan dan masalahnya, merupakan persoalan yang harus dikaji oleh calon sarjana perikanan di Fakultas
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

keadaan masyarakat, di mana terdapat usaha kecil yang subsisten berdampingan secara damai dengan usaha besar yang efisien dan komersial dinamakannya: masyarakat ekonomi ganda

JELAJAH
Perikanan Universitas Riau, sejak tahun 1970-an silam. Sehingga kalau kajian praktik umum mahasiswa itu terdokumentasi dengan baik, tentulah dapat dibandingkan keadaannya dengan sekarang. Bahkan dapat dijadikan rujukan untuk memahami masalah dan pemecahannya, jika dibaca ulang orang yang meminatinya. Keadaan produksi, distribusi dan konsumsi perikanan 30 tahun yang lalu sudah dapat dijadikan petunjuk: apa yang harus dikembangkan? Teknologi yang sudah dipakai sejak dulu tetap saja sama dengan hari ini. Mereka bukanlah menangkap ikan, tetapi menunggu ikan terperangkap ke dalam alat tangkap (pengerihnya). Padahal pertambahan penduduk yang meningkat terus dan kemajuan teknologi perikanan untuk usaha perikanan pantai yang memakai alat tangkap pasif pun sudah maju dan dikembangkan terus. Terutama pada usaha perikanan besar yang memakai alat tangkap aktif mengejar gerombolan ikan, sampai ke semerata perairan, termasuk perairan pesisir, yang dulu masih subur dan banyak ikannya. Tapi penataan perairan dan sumbernya lambat dilakukan. Kalaupun ada pemberdayaan peraturan tak dijalankan dan tidak pula diawasi. Bencana moral (moral hazard) birokrat dan pengurusan perikanan yang buruk menjadikan perikanan semakin terbenam. Proyek sejuta keramba tak jelas ujungnya. Panti benih ikan kurau dan pembenihan ikan terubuk tak jelas ceritanya. Kegiatan mengumpulkan ikan yang akan ditangkap dengan rumpon ikan di perairan Ransang
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

apa yang harus dikembangkan? Teknologi yang sudah dipakai sejak dulu tetap saja sama dengan hari ini. Mereka bukanlah menangkap ikan, tetapi menunggu ikan terperangkap ke dalam alat tangkap (pengerihnya).

JELAJAH
atau Selatpanjang entah bagaimanalah nasibnya. Masalahnya, sumber ikannya yang semakin menipis. Tapi alat pengumpul ikan yang dikembangkan. Bukankah seharusnya sumber perairan itu yang disuburkan kembali dengan melakukan restocking? Seperti halnya yang dilakukan Rusia dan Jepang dalam menyuburkan sumber kepiting raksasa. Atau Kanada, Amerika Serikat dan Jepang yang melakukan restocking ikan salmon di perairan pantai Lautan Pasifik. Negara itu membangun panti benih ikan salmon dan jenis ikan lainnya. Hasilnya sebagian untuk mengembangkan budidaya keramba jaring apung dan sebagian lagi disebarkan ke perairan bebas di sungai dan laut agar sumber perairan itu subur kembali (restocking). Tetapi sungguh malang bagi sumber perairan dan perikanan di Riau. Rumpon yang dianjurkan atau dibiayai oleh usaha perikanan menengah dan besar dikembangkan. Sementara restocking dilakukan dengan mengumpulkan ikan bilis dari Danau Maninjau dan ditebarkan di Sungai Siak, yang ekosistemnya berbeda sama sekali. Padahal rasionalnya, jika suatu sumber perairan pesisir sudah kelebihan tangkapan (overfishing) dari potensinya, maka tentulah jenis ikan yang ada di perairan itu dibuat panti pembenihannya dan disebarkan bibit yang dihasilkan sebagian ke perairan tersebut. Lalu sebagian lagi sebagai bibit untuk dibudidayakan dengan teknologi keramba jaring apung misalnya. Pengurusan perikanan di Riau melakukan hal yang tak jelas rasionalnya dan tidak logis! Pertanda
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Masalahnya, sumber ikannya yang semakin menipis. Tapi alat pengumpul ikan yang dikembangkan. Bukankah seharusnya sumber perairan itu yang disuburkan kembali dengan melakukan restocking?

JELAJAH
tidak kompeten dan pengurusan atau tata kelola yang buruk. Maka terjadilah perebutan sumber yang menipis dan perairan penangkapan yang ramai. Dampaknya di kawasan pesisir merebak pengangguran, kemiskinan, diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang tak dimungkinkan. Pada gilirannya keadaan itu telah menimbulkan berbagai masalah sosial-ekonomi di kawasan pesisir, seperti pembakaran kapal usaha perikanan pendatang oleh nelayan usaha mikro tempatan. Ingat peristiwa jaring kurau di perairan Bengkalis misalnya. Keadaan seperti itu telah berlangsung terus sampai saat ini. Hal itu seharusnya diatasi dengan perubahan kebijakan pembangunan perikanan. Pembangunan diarahkan kepada perubahan susunan ekonomi perikanan; restorasi sumberdaya dan lingkungan perairan. Juga pengembangan sistem aquabisnis dan teknologi yang memadukan kegiatan penangkapan dengan usaha budidaya perikanan di pesisir dan perairan pantai serta mengintegrasikan usaha perikanan mikro dan kecil dengan usaha perikanan industri atau komersial. Jadi, perlu pemulihan hutan bakau, pembangunan panti benih ikan, penyebaran benih ke perairan (restocking) dan mengembangkan usaha budidaya perikanan laut. Pengembangan aquaindustri, infrastruktur pemasaran, serta usaha penyediaan sarana produksi perikanan (tangkap dan budidaya); akan memungkinkan terjadinya perubahan su-sunan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Pengurusan perikanan di Riau melakukan hal yang tak jelas rasionalnya dan tidak logis!

JELAJAH
ekonomi perikanan maupun penyerapan pengangguran dan terbukanya kesempatan kerja. Pengembangan sumberdaya manusia pengelolaan dan administrasi perikanan ke arah pengurusan dan praktik yang terbaik, penggusuran para birokrat ber‘moral hazard’, diikuti dengan pembangunan sosial yang kohesif merupakan hal yang menentukan keberhasilan pembangunan perikanan. Bagi usaha perikanan kecil dan mikro seperti perikanan pengerih, kuncinya adalah perubahan teknologi dan mental. Pada tahun 1980-an ada dua sarjana lulusan Universitas Riau yang meneliti teknologi pengerih di lapangan dan uji-coba di laboratorium. Produksi pengerih dapat ditingkatkan dengan mengubah bentuk ‘mulutnya’. Sedangkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha itu, diversifikasi usaha diusulkan. Yakni menggunakan alat tangkap lain seperti jaring insang di perairan yang berdekatan dengan pengerih dan usaha budidaya ikan di kawasan pesisirnya. Walau kajian telah usai dilakukan, tapi tiada yang memakai. Siapakah yang seharusnya peduli? ***

Bagi usaha perikanan kecil dan mikro seperti perikanan pengerih, kuncinya adalah perubahan teknologi dan mental.

MAJALAH RIAU POS

EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013

OPINI

Jika Suatu Negeri

U
Oleh UU HAMIDY Budayawan

MAT manusia yang berada si bawah tempurung demokrasi sekuler sangat tergoda oleh kesenangan hidup dunia. Untuk mendapatkan kesenangan dunia yang palsu itu, manusia yang sombong lagi pembangkang ini telah mempergunakan akal pikirannya membuat berbagai teknologi untuk memperoleh kesejahteraan. Tetapi meskipun pada zahirnya mereka hidup bersenang-senang dengan kekayaan hasil ilmu dan teknologi, namun mereka tidak mendapat ketenangan batin. Makin hebat teknologi dan kekayaan yang dicapai, mereka makin gelisah. Manusia dalam alam demokrasi sekuler telah melakukan kesalahan metodologi yang fatal. Mereka menghandalkan kerja keras dengan ilmu dan teknologi untuk mendapatkan kesejahteraan. Padahal di sisi Allah yang menguasai alam semesta serta hidup dan mati sekalian makhluk, hal itu tidak bernilai. Walaupun hanya setipis kulit ari. Apapun yang terjadi yang menimpa umat manusia serta alam semesta ini seisinya, semuanya berada dalam ketentuan rancangan Allah Yang Maha Bijaksana. Tanpa kudrat dan iradat Allah, tak ada satu peristiwa atau perubahan dapat terjadi. Segala sesuatu berada dalam genggaman Allah serta tunduk dan patuh kepada-Nya. Maka Allah telah memberi petunjuk yang benar dengan Alquran yang disampaikan kepada umat
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

OPINI
manusia oleh Nabi Muhammad Saw, bagaimana mendapatkan kesejahteraan hidup yang diridhai oleh Allah Swt. Manusia hanya meminta tolong kepada Allah dengan salat dan sabar. Bukan kutung-katang minta bantuan kepada manusia, minta berhutang dan bantuan teknologi, yang pada hakikatnya tidak berdaya sama sekali. Allah menjamin, jika suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah dilimpahkan berkah oleh Allah kepada mereka dari langit dan Bumi. Siapa yang pasti menepati janji selain Allah, karena Allah mustahil tidak menepati janji. Ini sudah terbukti dalam sejarah Nabi Musa As dengan umatnya yang langsung mendapat makanan berupa manna dan salwa turun dari langit, tanpa mereka kerja keras sama sekali. Jadi menyelesaikan perkara kepentingan dunia tidaklah dengan dengan sudut pandang dunia yang hanya bersandar kepada ilmu dan teknologi. Cara itu tak memadai, sebab manusia hanya diberi ilmu sedikit oleh Allah. Itu bukanlah cara yang benar di sisi Allah. Mencari kesejahteraan bertolak dari ilmu dan teknologi tidaklah logis. Perbuatan itu bagaikan minta air tanpa gelas, kepada gelas tanpa air. Sebab yang mendatangkan kesejahteraan adalah Allah dengan mendatangkan rahmat-Nya. Kenyataannya, manusia yang bersandar kepada demokrasi sekuler telah mencari kesejahteraan dan keamanan dengan menghandalkan ilmu dan teknologi. Tetapi terbukti mereka tak dapat merasa sejahtera dan aman. Teknologi yang mereka buat malah mendatangkan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Allah menjamin, jika suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah dilimpahkan berkah oleh Allah kepada mereka dari langit dan Bumi.

OPINI
bencana bahkan mengancam manusia itu sendiri. Perhatikan bagaimana sekarang ini upaya dunia mendapatkan tatanan dunia yang sejahtera dan aman dengan cara mencampakkan hukum Allah Yang Maha Bijaksana. Hasilnya hanyalah rangkaian krisis pada semua sektor kehidupan, peperangan bahkan penjajahan. Amerika dan sekutunya serta yang berada di bawah ketiaknya tak dapat hidup tentram. Sebab selalu merasa terancam oleh musuh yang mereka sebut teroris. Jika demikian, hanya apa nilai teknologi yang canggih dan kekayaan dunia yang mereka kumpulkan siang dan malam. Mereka terperangkap oleh dunia yang mereka kejar, lalu mendapat siksa karena perbuatannya mendustakan ayat-ayat Allah. Dengan demikian, umat manusia harus sadar dan yakin bahwa yang mengatur Bumi, alam semesta dan seisinya adalah Allah Yang Maha Perkasa. Hanya Dia yang dapat mendatangkan rahmat maupun bencana. Bukan manusia apalagi alam. Karena itu jika suatu negeri ingin hidup sejahtera, jalan yang harus ditempuh ialah beriman dan bertakwa kepada Allah. Kemudian berbuatlah sesuai dengan Syariah Islam, karena itulah aturan yang bersandar pada Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Inilah yang akan menyelesaikan segala perkara kehidupan umat manusia. Inilah satu-satunya jalan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Selain jalan ini hanya akan mengundang malapetaka. Tanpa jalan yang benar itu, segala ikhtiar mencari kesejahteraan hanyalah bagaikan mengejar debu yang beterbangan.***
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Kenyataannya, manusia yang bersandar kepada demokrasi sekuler telah mencari kesejahteraan dan keamanan dengan menghandalkan ilmu dan teknologi. Tetapi terbukti mereka tak dapat merasa sejahtera dan aman.

OPINI

Peran CSR Perusahaan Swasta

P
Oleh SOFIAR ASMADI karyawan swasta dan peminat ekonomi sosial tempatan

ERKEMBANGAN ekonomi khususnya di Riau luar biasa. Harus diakui, geliat ini ikut dipengaruhi oleh kontribusi swasta yang sangat besar. Riau pun didaulat menjadi barometer perkembangan ekonomi di Sumatera, karena keberadaan perusahaan-perusahaan swasta yang sangat besar di daerah ini. Di sektor Migas, ada PT Chevron yang menghasilkan 60 persen produksi nasional, Pertamina dan banyak lagi perusahaan pertambangan yang bersifat onshore maupun offshore. Sektor perkebunan ada Sinar Mas dan lainnya. Jika dilihat dari udara, lahan yang semula hutan dan rawa sekarang sudah jadi perkebunan kelapa sawit. Begitu juga RAPP, Indah Kiat dan lain sebagainya. Secara makro ekonomi, hitung-hitungan di atas kertas, Riau adalah daerah kaya. Pertanyaannya, apa ini sudah punya pengaruh langsung secara sosial terhadap masyarakat Riau –terutama masyarakat sekitar perusahaan besar itu? Kenyataannya, masih banyak masyarakat yang secara kasat mata hidup dalam kemiskinan di sekitar pipa, sumur minyak, kebun sawit atau pabrik-pabrik besar. Indikasi ini bisa dilihat dari banyaknya unjuk
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

OPINI
rasa, ketidakpuasan masyarakat terhadap perusahaan di sekitar mereka. Bila ditanyakan pada perusahaan besar itu, hampir semua mampu memaparkan konsep pengembangan masyarakat yang sangat bagus. Begitu juga dengan kesungguhan manajemen level atas setiap perusahaan, bahwa mereka peduli dengan tanggung jawab sosial terhadap pengembangan masyarakat. Mengapa sepertinya tak bergerak? Kita kesampingkan dulu karut-marut birokrasi pemerintah dalam hal tanggung jawab sosial, yang masih banyak bersifat seremonial, tak berkelanjutan dan tak menyentuh. Namun demikian, jika rasa kepedulian sosial, rasa kebersamaan dengan lingkungan sosial di sekitar daerah operasi perusahaan dapat ditumbuhkembangkan, maka akan memberi nilai tambah tambah bagi sektor swasta itu sendiri maupun masyarakat sekitarnya. Artinya, semua bentuk tanggung jawab sosial atau yang kita kenal dengan CSR (corporate social responsibility) merupakan kewajiban swasta yang harus dilakukan, dengan landasan kepedulian yang tulus membantu, bukan sekadar memenuhi tuntutan aturan atau hanya untuk memberi kesan baik perusahaan di mata birokrasi. Kepedulian adalah suatu sikap empati terhadap kesulitan pihak lain. Kepedulian adalah bagaimana kita bisa merasakan apa yang dirasakan pihak lain. Jika kita perhatikan, apa kesulitan yang dihadapi masyarakat kita saat ini, tentu dengan sangat jelas bisa kita urai.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Artinya, semua bentuk tanggung jawab sosial atau yang kita kenal dengan CSR (corporate social responsibility) merupakan kewajiban swasta yang harus dilakukan, dengan landasan kepedulian yang tulus membantu, bukan sekadar memenuhi tuntutan aturan atau hanya untuk memberi kesan baik perusahaan di mata birokrasi.

OPINI
Pertama, prasarana inftastruktrur, yaitu yang utama jalan. Tentu, swasta akan mengatakan ini adalah tanggung jawab pemerintah. Tapi sejauh mana kontribusi swasta dalam memperhatikan hal ini, masyarakat tidak peduli, karena mereka hanya melihat yang menerbangkan debu saat kemarau dan membuat becek saat hujan adalah mobil-mobil perusahaan. Untuk itu, pihak swata harus bisa mengkomunikasikan pada masyarakat program mereka, sehingga masyarakat mengerti siapa yang berbuat atau tidak berbuat untuk mereka. Rusak dan hancurnya jalan, disebabkan oleh pengguna yang juga pihak swasta, meski ada alasan teknis saat awal jalan dibangun. Jalan akan menentukan denyut semua sektor kehidupan masyarakat. Kedua, listrik. Kini, hampir tak ada aktivitas yang bisa digerakkan tanpa listrik. Meskipun ada, tentu tak ekonomis. Bila kita ingin mengembangkan produksi masyarakat, listrik mutlak diperlukan. Bila kita ingin meningkatkan pendidikan, listrik sangat diperlukan. Bagaimana anak-anak bisa belajar hanya menggunakan penerangan seadanya? Di pihak lain, swasta punya kelebihan listrik. Ini bisa dilihat dari begitu gemerlapnya lingkungan perusahaan di malam hari. Kondisi ini sangat kontras dengan kondisi masih banyak anak-anak di daerah ini belajar dengan penerangan seadanya. Ketiga, sarana air bersih. Masih banyak masyarakat yang berada di sekitar wilayah usaha perusahaan mengonsumsi dan menggunakan air yang tak layak seperti air hujan dan air sungai yang tentu akan
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Di pihak lain, swasta punya kelebihan listrik. Ini bisa dilihat dari begitu gemerlapnya lingkungan perusahaan di malam hari. Kondisi ini sangat kontras dengan kondisi masih banyak anakanak di daerah ini belajar dengan penerangan seadanya.

OPINI
berpengaruh terhadap kualitas kesehatan. Sementara banyak pihak swasta yang punya fasilitas berlebih. Keempat, pendidikan. Fasilitasnya ini sangat menentukan kualitas manusia. Dengan pendidikan, akan mengubah pola pikir, pola hidup dan meningkatkan produktivitas, kreativitas manusia. Saat ini masih terlihat sekolah yang sangat tidak layak digunakan untuk proses belajar-mengajar, ditambah lagi ketersediaan tenaga pendidik yang sangat minim. Kesenjangan antara kampung dan kota kian terasa. Kelima, masalah kesehatan. Tidak tersedianya infrastruktur yang mendukung hidup sehat, rendahnya pemahaman masyarakat terhadap kesehatan karena kurangnya pendidikan, mengakibatkan rendahnya kualitas kesehatan masyarakat. Jadi, diperlukan sarana kesehatan yang memadai untuk melayani masyarakat, baik dari segi fisik maupun ketersediaan tenaga medis. Keenam, penyediaan lapangan pekerjaan. Adanya perusahaan swasta tentu membuka lapangan kerja. Namun sebesar apa serapan tenaga lokal dalam beroperasinya pihak swasta? Hal ini diutamakan untuk menghindari gejolak sosial antara pendatang dan tempatan. Kesenjangan penduduk tempatan dengan pendatang disebabkan kurangnya pembinaan dan pendidikan di sekitar kawasan usaha tersebut. Hal kecil yang cukup memberikan pengaruh, misalnya kegiatan internal perusahaan seperti kumpul keluarga, olahraga yang menggunakan fasilitas yang tak bisa
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Kesenjangan penduduk tempatan dengan pendatang disebabkan kurangnya pembinaan dan pendidikan di sekitar kawasan usaha tersebut.

OPINI
dinikmati masyarakat umum, misalnya dalam hal makanan, pakaian dan lainnya. Tak ada salahnya, acara pembauran yang melibatkan penduduk setempat di sekitar perusahaan dikemas untuk menunjukkan kepedulian pegawai perusahaan dengan masyarakat. Yang harus diingat oleh para karyawan, harus ditanamkan bahwa tingkah sosialnya akan dilihat oleh lingkungan sebagai sesuatu yang mewakili perusahaan. Setelah kepedulian tumbuh, diperlukan adalah kemitraan, yaitu bentuk karja sama dalam kesetaraan, saling memerlukan dan saling mengisi. Kemitraan tentu sudah ada dalam program perusahaan yang kita kenal dengan CSR dan juga sudah diamanatkan oleh undang-undang. Secara teori, CSR sudah banyak dibahas, namun pelaksanaannya belum melihatkan hasil kentara. Kemitraan diharapkan adalah bagaimana perusahaan memberi pancing, bukan umpan. Tujuannya mengubah pola pikir, baik teknis, ekonomi dan intelektual yang berkesinambungan. Jadi tanggung jawab sosial di bidang ekonomi haruslah berdasarkan kepada sumber dan budaya yang ada di sekitarnya. Kemitraan adalah satu kesetaraan, saling memerlukan, maju bersama, baik secara sosial apalagi ekonomi. Di beberapa negara, perusahaan bermitra dengan industri rumah tangga yang ada di sekitar mereka dalam memproduksi suatu produk. Perusahaan juga membantu memasarkan produksi yang dihasilkan.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Tak ada salahnya, acara pembauran yang melibatkan penduduk setempat di sekitar perusahaan dikemas untuk menunjukkan kepedulian pegawai perusahaan dengan masyarakat.

OPINI
Umumnya, usaha industri rumah tangga kesulitan dalam memasarkan produk dan sulit keluar dari cengkraman tengkulak. Jadi dalam hal ini tak hanya mengajarkan bagaimana berproduksi dengan kualitas yang baik, tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana membantu memasarkan produk yang sudah dihasilkan. Jika ini terjadi, akan mengurangi hal-hal yang konfrontatif antara keduanya. Dimasa sebelumnya, masyarakat setempat memang tak diberi kesempatan untuk memperjuangkan haknya, selalu ditekan oleh penguasa dan pengusaha. Tapi di era reformasi, rakyat sudah diberi ruang untuk memperjuangkan hakhaknya. Jadi, sepantasnya program CSR memegang prinsip filantropi, yakni dilaksanakan berlandaskan kedermawanan tanpa ada unsur-unsur lain yang diharapkan, kecuali untuk kemaslahatan bersama. Jika sikap kedermawanan ini tumbuh dan berkembang, dengan sendirinya menjadi ajang promosi, meningkatkan citra dan reputasi perusahaan. Sungguh banyak potensi masyarakat sekitar yang bisa dikembangkan menjadi sentra sentra produktif, baik bidang pertanian, peternakan, industri kecil dan lain-lain, yang juga bisa membantu operasi perusahaan. Berhasilnya program CSR akan punya efek domino untuk perkembangan ekonomi daerah dan negara. Sangat miris, semangat menjadi pengusaha di kalangan masyarakat Riau sangat rendah, tak sampai 1
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

Jadi, sepantasnya program CSR memegang prinsip filantropi, yakni dilaksanakan berlandaskan kedermawanan tanpa ada unsurunsur lain yang diharapkan, kecuali untuk kemaslahatan bersama.

OPINI
persen. Jauh tertinggal jika dibanding dengan Singapura. Kondisi ini jadi tantangan tersendiri bagi program CSR yang dipunyai perusahaan. Sekali lagi, ‘kedermawanan’ sangat diperlukan, tulus tanpa pamrih apapun , senang melihat orang lain maju. Masih banyak masyarakat yang hanya sebagai penonton kalau bukan jadi sapi perahan. Banyak orang berusaha di Riau, tapi masyarakatnya sangat sedikit mendapatkan manfaat. Malah banyak sebaliknya, habisnya sumber daya. Kita sangat berharap, dengan adanya pengusaha-pengusaha besar di Tanah Melayu memberi kontribusi positif yang permanen bagi masyarakat Riau.***

Sekali lagi, ‘kedermawanan’ sangat diperlukan, tulus tanpa pamrih apapun, senang melihat orang lain maju.

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 8-14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

BERSELANCAR BONO DI TELUK MERANTI

Para penongkah kerang Suku Duanu.

Menaklukkan Gelombang Hantu
INI bukan gelombang biasa. Dan banyak peselancar dunia dibuat penasaran oleh bono — sebutan untuk ombak di Semenanjung Kampar, Kelurahan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau. Bono memang

Bersiap sebelum berangkat.

MAJALAH RIAU POS EDISI 0034 MAJALAH RIAU POS EDISI 004

8-14 FEBRUARI 2013 8 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Dia datang!

fenomenal. Kalau biasanya ombak tinggi ada di laut, yang ini ombaknya ada di sungai. Bahkan tingginya mencapai 6 meter! Bono yang ada di Sungai Kampar juga adalah yang terbaik karena lebih indah dari yang ada di Brazil dan Cina. Durasi gelombang ini mencapai hampir 30–40 Km dengan waktu tempuh berkisar antara 1,5 jam sampai 2 jam. Sebab itu bono juga dijuluki Seven Ghost (Gelombang Tujuh Hantu). Bono adalah fenomena alam di Semenanjung Kampar. Dengan tipikal gelombang besar seperti di
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Membuat peselancar ketagihan.

lautan, dulu bono sangat ditakuti oleh para nakhoda. Hari ini, meski mungkin masih ditakuti, bono telah diburu para peselancar. Jika ingin puas bermain ombak, datanglah ke Teluk Meranti sekitar AgustusDesember ketika bono sedang tinggi-tingginya. Beberapa peselancar dunia dari Prancis, Brazil, Inggris, Jerman, AS, Australia dan masih banyak lagi sudah datang Teluk Meranti untuk menaklukkan si gelombang hantu.
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Gelombangnya tak putus-putus.

Pada 9-16 Februari 2013, peselancar dunia asal Inggris, Steve King akan menjajal dahsyatnya gelombang bono. Selain berselancar, King juga akan coba memecahkan rekor berselancar dengan jarak tempuh terpanjang dan terlama di atas gelombang bono. Nantinya, momen ini akan dicatat dalam Guinness World Records. King pun bukan peselancar biasa. Pada 30 Maret 2006, ia berhasil mencatatkan namanya dalam Guinness World Records karena berselancar dengan waktu terlama dan jarak terpanjang di Sungai Severn
MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Memacu adrenalin.

Bore, Inggris. Tercatat, King mampu menempuh jarak 12,23 Km ditambah 2,66 Km, dengan waktu tempuh 1 jam 6 menit. Dalam pemecahan rekor bono, King akan ditemani dua peselancar lainnya dari Inggris yaitu Steve Holmes dan Nathan Maurice. Ada pula dua peselancar asal Prancis, yakni Fabrice Colas dan Dominique Avrilleau. (purnimasari)

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Menongkah di dekat kelong atau rumah ikan.

Tai Graham, peselancar Australia menjajal kedahsyatan Bono di Semenanjung Kampar.

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Tantangan baru yang lebih menggoda.

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Disapu gelombang.

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Yang menonton pun tak kalah ramai.

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Kapal nelayan di Teluk Meranti.

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Bono menyatukan dunia yang berbeda.

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Budak-budak Teluk Meranti bermain bola bersama para peselancar.

MAJALAH RIAU POS EDISI 004 MAJALAH RIAU POS EDISI 004 88-14 FEBRUARI 2013 - 14 FEBRUARI 2013

FOTOGRAFER: SAID MUFTI

Senja di Teluk Meranti.

MAJALAH RIAUPOS EDISI 004 8 - 14 FEBRUARI 2013 004 1 - 7 MAJALAH RIAU POS EDISI 003 8-14 FEBRUARI 2013

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->