Anda di halaman 1dari 34

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan

yangperanannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan

pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta (Woodruff, W. 1970). Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dan pada tahun 2002 areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha. Perkebunan kakao tersebut sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% dikelola perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Disamping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah (Woodruff, W. 1970). Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana bila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana dan kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka (Woodruff, W. 1970).

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

Meskipun demikian, agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao (Woodruff, W. 1970). Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi agribisnis kakao hingga saat ini khususnya yang terkait dengan perkembangan usahatani dan industri pengolahannya, prospek pasar, potensi dan peluang investasi, serta dukungan kebijakan bagi pengembangan industri kakao secara keseluruhan (Woodruff, W. 1970). Kehidupan manusia modern saat ini tidak terlepas dari berbagai jenis makanan yang salah satunya adalah cokelat. Cokelat dihasilkan dari biji buah kakao yang telah mengalami serangkaian proses pengolahan sehingga bentuk dan aromanya seperti yang terdapat dipasaran. Biji buah kakao (cokelat) yang telah difermentasi dijadikan serbuk yang disebut cokelat bubuk. Cokelat dalam bentuk bubuk ini banyak dipakai sebagai bahan untuk membuat berbagai macam produk makanan dan minuman, seperti susu, selai, roti, dan lainlain. Buah cokelat yang tanpa biji dapat difermentasi untuk dijadikan pakan ternak (Woodruff, W. 1970). Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan

pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta. Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dan pada tahun 2002 areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha (Akhmad Rouf.2009).

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

Perkebunan kakao tersebut sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% dikelola perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar

adalah jenis kakao curah dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Disamping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia bila dilakukan fermentasi dengan baik dimana

dapat mencapai cita

rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana dan kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka (Akhmad Rouf.2009). Meskipun demikian, agribisnis kakao Indonesia masih

menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk

mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao. Varietas, Kategori dan Pemeliharaan Tanaman Kakao 1. Varietas a) Criolo (fine cocoa atau kakao mulia) Jenis varietas Criolo mendominasi pasar kakao hingga pertengahan

abad 18, akan tetapi saat ini hanya beberapa saja pohon Criolo yang masih ada. b) Forastero Verietas ini merupakan kelompok varietas terbesar yang diolah dan ditanami. c) Trinitario / Hibrida

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

Merupakan hasil persilangan antara jenis Forastero dan Criolo. 2. Kategori Kakao Dalam komoditas perdagangan kakao dunia dibagi menjadi dua kategori besar biji kakao : a) kakao mulia (fine cocoa) Secara umum, Kakao mulia diproduksi dari varietas Criolo b) kakao curah (bulk or ordinary cocoa) Kakao curah berasal dari jenis Forastero 3. Panen Buah kakao dapat dipanen apabila terjadi perubahan warna kulit pada buah yang telah matang. Sejak fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang, kakao memerlukan waktu sekitar 5 bulan. Buah matang dicirikan oleh perubahan warna kulit buah dan biji yang lepas dari kulit bagian dalam. Bila buah diguncang, biji biasanya berbunyi. Keterlambatan waktu panen akan berakibat pada berkecambahnya biji di dalam. Terdapat tiga perubahan warna kulit pada buah kakao yang menjadi kriteria kelas kematangan buah di kebun-kebun yang mengusahakan kakao.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

BAB II PEMBAHASAN
A. KAKAO Harga biji kakao Indonesia relative rendah dan dikenakan potongan

harga dibandingkan dengan harga produk sama dari negara produsen lain. Faktor penyebab mutu kakao beragam adalah minimnya sarana pengolahan, lemahnya pengawasan mutu serta penerapan teknologi pada seluruh tahapan proses pengolahan biji kakao rakyat yang tidak berorientasi pada mutu. Kriteria mutu biji kakao meliputi aspek fisik, cita rasa dan kebersihan serta tahapan proses produksinya. Proses pengolahan buah kakao menentukan mutu produk akhir kakao, karena dalam proses ini terjadi pembentukan calon cita rasa khas kakao dan pengurangan cita rasa yang tidak dikehendaki, misalnya rasa pahit dan sepat (Akhmad Rouf.2009).

1) Pemeraman buah Buah yang berdasarkan telah dipanen dikumpulkan dan dikelompokkan

kelas kematangannya. Biasanya dilakukan pemeraman untuk

memperoleh keseragaman kematangan buah dan memudahkan pengeluaran biji dari buah kakao. Pemeraman dilakukan di tempat yang teduh, lamanya sekitar 5-7 hari.

2) Pemecahan buah Buah kakao dipecah atau dibelah untuk mendapatkan biji kakao. Pemecahan buah dapat menggunakan pemukul kayu atau memukulkan buah satu dengan buah lainnya. Perlu diingat untuk menghindari kontak langsung biji kakao dengan benda-benda logam karena dapat menyebabkan warna biji kakao menjadi kelabu. Biji kakao dikeluarkan lalu dimasukkan dalam ember plastik atau wadah lain yang bersih, sedang empulur yang melekat pada biji dibuang

3) Fermentasi

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

Tujuan fermentasi adalah untuk mematikan lembaga biji agar tidak tumbuh sehingga perubahan-perubahan di dalam biji akan mudah terjadi, seperti warna keping biji, peningkatan aroma dan rasa, perbaikan konsistensi keping biji dan untuk melepaskan selaput lendir. Selain itu untuk menghasilkan biji yang tahan terhadap hama dan jamur. Biji kakao difermentasikan di dalam kotak kayu berlubang, dapat terbuat dari papan atau keranjang bambu. Fermentasi memerlukan waktu 6 hari. Dalam proses fermentasi terjadi penurunan berat sampai 25%. Ada dua cara fermentasi : 1. Fermentasi dengan kotak/peti fermentasi a. Biji kakao dimasukkan dalam kotak terbuat dari lembaran papan yang berukuran panjang 60 cm dengan tinggi 40 cm (kotak dapat menampung 100 kg biji kakao basah) setelah itu kotak ditutup dengan karung goni/daun pisang. b. Pada hari ke 3 (setelah 48 jam) dilakukan pembalikan agar fermentasi biji merata. c. Pada hari ke 6 biji-biji kakao dikeluarkan dari kotak fermentasi dan siap untuk dijemur.

2. Fermentasi menggunakan keranjang bambu a. Keranjang bambu terlebih dahulu dibersihkan dan dialasi dengan daun pisang baru kemudian biji kakao dimasukan (keranjang dapat menampung 50 kg biji kakao basah) b. c. Setelah biji kakao dimasukan keranjang ditutup dengan daun pisang. Pada hari ke 3 dilakukan pembalikan biji dan pada hari ke 6 biji-biji dikeluarkan untuk siap dijemur.

4) Perendaman dan Pencucian Tujuan perendaman dan pencucian adalah untuk menghentikan proses fermentasi dan memperbaiki kenampakan biji. Perendaman berpengaruh terhadap proses pengeringan dan rendemen. Selama proses perendaman berlangsung,

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

sebagian kulit biji kakao terlarut sehingga kulitnya lebih tipis dan rendemennya berkurang. Sehingga proses pengeringan menjadi lebih cepat.

Setelah perendaman, dilakukan pencucian untuk mengurangi sisa-sisa lendir yang masih menempel pada biji dan mengurangi rasa asam pada biji, karena jika biji masih terdapat lendir maka biji akan mudah menyerap air dari udara sehingga mudah terserang jamur dan akan memperlambat proses pengeringan.

5) Pengeringan Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air dalam biji dari 60% sampai pada kondisi kadar air dalam biji tidak dapat menurunkan kualitas biji dan biji tidak ditumbuhi cendawan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dengan menjemur di bawah sinar matahari atau secara buatan dengan menggunakan mesin pengering atau kombinasi keduanya. Dengan sinar matahari dibutuhkan waktu 2-3 hari, tergantung kondisi cuaca, sampai kadar air biji menjadi 7-8%. Sedangkan dengan pengeringan buatan berlangsung pada temperatur 65 68 C.

6) Penyortiran/Pengelompokan Biji kakao kering dibersihkan dari kotoran dan dikelompokkan berdasarkan mutunya. Sortasi dilakukan setelah 1-2 hari dikeringkan agar kadar air seimbang, sehingga biji tidak terlalu rapuh dan tidak mudah rusak, sortasi dapat dilakukan dengan menggunakan ayakan yang dapat memisahkan biji kakao dari kotoran. Pengelompokan kakao berdasarkan mutu : Mutu A : dalam 100 g biji terdapat 90-100 butir biji Mutu B : dalam 100 g biji terdapat 100-110 butir biji Mutu C : dalam 100 g biji terdapat 110-120 butir biji

7) Penyimpanan Biji kakao kering dimasukkan ke dalam karung goni. Tiap karung goni diisi 60 kg biji kakao kering kemudian karung tersebut disimpan dalam ruangan yang bersih, kering dan memiliki lubang pergantian udara. Antara lantai dan

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

wadah biji kakao diberi jarak 8 cm dan jarak dari dinding 60 cm. Biji kakao dapat disimpan selama 3 bulan (Woodruff, W. 1970). B. Karet Sejarah Karet Karet pertama kali dikenal di Eropa, yaitu sejak ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Columbus pada tahun 1476. Orang Eropa yang pertama kali menemukan ialah Pietro Martyre dAnghiera. Penemuan tersebut dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul De Orbe Novo (Edisi 1530). Pada tahun 1730an, para ilmuwan mulai tertarik untuk menyelidiki bahan (karet) tersebut (Akhmad Rouf.2009). Istilah rubber pada tanaman karet mulai dikenal setelah seorang ahli kimia dari Inggris (tahun 1770) melaporkan bahwa, karet dapat digunakan untuk menghapus tulisan dari pensil. Kemudian masyarakat Inggris mengenalnya dengan istilah Rubber (dari kata to rub, yang berarti menghapus). Pada dasarnya, nama ilmiah yang diberikan untuk benda yang elastis (termasuk karet) ialah elastomer, tetapi istilah rubber-lah yang lebih populer di kalangan masyarakat pada waktu itu (Woodruff, W. 1970). Pada awal abad ke-19, seorang ilmuwan bernama Charles Macintosh dari Skotlandia, dan Thomas Hancock mencoba untuk mengolah karet menggunakan bahan cairan pelarut berupa terpentin (turpentine). Hasilnya karet menjadi kaku di musin dingin dan lengket di musim panas. Hingga akhirnya Charles Goodyear pada tahun 1838 menemukan bahwa dengan dicampurkannya belerang kemudian dipanaskan maka keret tersebut menjadi elastis dan tidak terpengaruh lagi oleh cuaca. Sebagian besar ilmuwan sepakat untuk menetapkan Charles Goodyear sebagai penemu proses vulkanisasi. Penemuan besar proses vulkanisasi ini akhirnya disebut sebagai awal dari perkembangan industri karet. Menidaklanjuti apa yang disampaikan Charles Marie de la Condamine dan Francois Fresneau dari Perancis bahwa ada beberapa jenis tanaman yang dapat menghasilkan lateks atau karet, kemudian Sir Clement R. Markham bersama Sir Joseph Dalton Hooker berusaha membudidayakan beberapa jenis pohon karet tesebut. Hevea brasiliensis merupakan jenis pohon karet yang memiliki prospek

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

bagus untuk dikembangkan dibanding jenis karet yang lainnya (Akhmad Rouf.2009). Pada saat Perang Dunia II berlangsung, ketersediaan karet alam mengalami penurunan yang cukup drastis. Kemudian pemerintah Amerika mendorong penelitian dan produksi untuk menghasilkan karet sintetik guna memenuhi kebutuhan yang mendesak. Usaha besar ini lambat laun mengakibatkan permintaan terhadap karet sintetis meningkat pesat sehingga mengurangi permintaan karet alam. Dalam jangka waktu 3 tahun sesudah berakhirnya Perang Dunia II, sepertiga karet yang dikonsumsi oleh dunia adalah karet sintetik. Pada tahun 1983, hampir 4 juta ton karet alam dikonsumsi oleh dunia, sebaliknya, karet sintetik yang digunakan sudah melebihi 8 juta ton dan terus bertambah hingga sekarang. Hasil studi dari Task Force Rubber Eco Project (REP) yang dibentuk oleh International Rubber Study Group (IRSG) pada tahun 2004 menyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 diperkirakan mencapai 31,3 juta, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam (Akhmad Rouf.2009). Di Indonesia sendiri, tanaman karet pertama kali diperkenalkan oleh Hofland pada tahun 1864. Awalnya, karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman koleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah. Sejarah karet di Indonesia mencapai puncaknya pada periode sebelum Perang Dunia II hingga tahun 1956. Pada masa itu Indonesia menjadi negara penghasil karet alam terbesar di dunia. Namun sejak tahun 1957 kedudukan Indonesia sebagai produsen karet nomor satu digeser oleh Malaysia. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya mutu produksi karet alam di Indonesia. Rendahnya mutu membuat harga jual di pasaran luar negeri menjadi rendah. Meskipun demikian komoditas karet masih berpengaruh besar terhadap perekonomian negara. Karet mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa negara. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa nonmigas. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

10

adanya peningkatan dari 1 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995, dan 1,9 juta ton pada tahun 2004. Sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan produksi mencapai 3,5 juta ton, dan tahun 2035 mencapai 5,1 juta ton (Akhmad Rouf.2009). a. Jenis-jenis karet Seperti yang telah dijabarkan dalam artikel sejarah karet, pada dasarnya karet digolongkan menjadi dua, yaitu karet alam dan karet sintetik. 1. Karet Alam Karet alam ialah jenis karet pertama yang ditemukan oleh manusia. setelah penemuan proses vulkanisasi yang membuat sifat karet menjadi tidak terpengaruh suhu, maka karet mulai degemari untuk digunakan, seperti sol sepatu, telapak ban, dll. Salah satu sifat karet alam yang sampai saat ini sulit disaingi oleh sintetik ialah kepegasan pantul yang baik sekali, sehingga heat build up yang dihasilkan juga rendah, dan sifat ini sangat diperlukan untuk barang jadi karet (vulkanisat) yang kerjanya mengalami hentakan berulang-ulang, contok aplikasinya ialah ban truk dan ban pesawat terbang. Tetapi karet alam mempunyai kelemahan yang mengakibatkan mulai digemarinnya penggunaan keret sintetik, yaitu kurang tahan terhadap panas dan minyak. 2. Karet Sintetik Dimulai dari berakhirnya perang dunia kedua, karet sintetis berkembang lebih pesat dengan lebih banyak jenis-jenisnya. saat ini telah ada belasan jenis karet sintetik dengan berbagai karakteristiknya, dan terus bertambah. Sebelum perang dunia kedua, hanya karet alam yang tersedia. sehingga boleh dikata bahwa untuk keperluan teknik (engineering) tidak ada pilihan lain selain menggunakan karet alam. Sejalan dengan digunakannya karet alam untuk berbagai keperluan, maka mulai ditemukan kelemahan2 karet alam yang menyebabkan para ilmuwan berusaha keras untuk menciptakan jenis-jenis karet sintetik tertentu untuk menggantikan karet alam, antara lain 1). SBR dengan berbagai variasinya

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

11

2). IR dengan berbagai variasinya 3). NBR dengan berbagai variasinya 4). EPDM dengan berbagai variasinya 5). Neoprene dengan berbagai variasinya 6). Butyl dengan berbagai variasinya 7). Hypalon dengan berbagai variasinya 8). Silicone dengan berbagai variasinya 9). Urethane dengan berbagai variasinya 10).Fluorocarbon (viton) dengan berbagai variasinya, dan masih banyak jenis karet lainnya yang terus bermunculan.

b. Pengolahan karet Pengolahan karet dapat dibedakan sesuai dengan jenisnya yaitu. 1. Pengolahan karet alam Penggumpalan dapat dibagi 2 yaitu : a.Penggumpalan spontan b.Penggumpalan buatan Lateks kebun akan menggumpal atau membeku secara alami dalam waktu beberapa jam setelah dikumpulkan. Penggumpalan alami atau spontan dapat disebabkan oleh timbulnya asam-asam akibat terurainya bahan bukan karet yang terdapat dalam lateks akibat aktivitas mikroorganisme. Hal itu pula yang menyebabkan mengapa lump hasil penggumpalan alami berbau busuk. Selain itu, penggumpalan juga disebabkan oleh timbulnya anion dari asam lemak hasil hidrolisis lipid yang ada di dalam lateks. Anion asam lemak ini sebagaian besar akan bereaksi dengan ion magnesium dan kalsium dalam lateks membentuk sabun yang tidak larut, keduanya menyebabkan ketidakmantapan lateks yang pada akhirnya terjadi pembekuan. Prakoagulasi merupakan pembekuan pendahuluan tidak diinginkan yang menghasilkan lump atau gumpalan-gumpalan pada cairan getah sadapan. Kejadian seperti ini biasa terjadi ketika lateks berada di dalam tangki selama pengangkutan menuju pabrik pengolahan. Hasil sadapan yang mengalami prakoagulasi hanya

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

12

dapat diolah menjadi karet dengan mutu rendah seperti karet remah jenis SIR 10 dan SIR 20 (Woodruff, W. 1970). Prakoagulasi dapat terjadi karena kemantapan bagian koloidal yang terkandung di dalam lateks berkurang akibat aktivitas bakteri, guncangan serta suhu lingkungan yang terlalu tinggi. Bagian-bagian koloidal yang berupa partikel karet ini kemudian menggumpal menjadi satu dan membentuk komponen yang berukuran lebih besar dan membeku. Untuk mencegah prakoagulasi, pengawetan lateks kebun mutlak diperlukan, terlebih jika jarak antara kebun dengan pabrik pengolahan cukup jauh. Zat yang digunakan sebagai bahan pengawet disebut dengan zat antikoagulan. Syarat zat antikoagulan adalah harus memiliki pH yang tinggi atau bersifat basa. Ion OH- di dalam zat antikoagulan akan menetralkan ion H+ pada lateks, sehingga kestabilannya dapat tetap terjaga dan tidak terjadi penggumpalan (Woodruff, W. 1970). Terdapat beberapa jenis zat antikoagulan yang umumnya digunakan oleh perkebunan besar atau perkebunan rakyat diantaranya adalah amoniak, soda atau natrium karbonat, formaldehida serta natrium sulfit. Penggumpalan spontan biasanya disebabkan oleh pengaruh enzim dan bakteri, aromanya sangat berbeda dari yang segar dan pada hari berikutnya akan tercium bau yang busus. Proses penggumpalan spontan ini dikenal dengan prakoagulasi lateks. Sedangkan penggumpalan buatan biasanya dilakukan dengan penambahan asam, seperti asam asetat (asam cuka) dan asam formiat (asam semut). Jumlah asam yang dibutuhkan tergantung dari kadar karet kering lateks, yakni 0.04% per kg karet kering (asam formiat) atau 0.02 % per kg karet kering (asam asetat). Dengan cara ini lateks akan menggumpal 3-4 jam sesuai dengan mekanisme pengolahan lateks di pabrik pengolahan karet remah. Dasar penetapan volume asam ini sebenarnya kurang tepat karena prinsip dasar proses koagulasi adalah menurunkan pH lateks segar ( pH 6.9) menjadi pH lateks penggumpalan (pH 4,0-4,7). Dengan cara ini lateks akan menggumpal 1530 menit. Namun demikian, penggunaan asam dapat dipertimbangkan dengan waktu

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

13

mekanisme proses pengolahan. Penggumpalan dengan penggunaaan asam dengan pH sekitar 4,7 membutuhkan waktu singkat, sedangkan persiapan untuk proses selanjutnya dibutuhkan waktu 3-4 jam, sehingga volume asam dapat dikurangi. Penggunaan asam yang berlebihan selain dapat menyebabkan inefisiensi juga menyebabkan pengerasan koagulum. Koagulum yang lebih keras menyebabkan energi yang dibutuhkan lebih besar karena menambah jumlah penggilingan yang sudah barang tentu menambah waktu dan biaya. Penentuan jumlah volume asam yang dibutuhkan untuk koagulasi yang lebih sesuai dengan waktu, maka

pemakaian asam dapat lebih efisien, dan menghasilkan koagulum yang lebih seragam sehingga proses penggilingan lebih mudah dan hasil lebih seragam. Penggunaan asam yang bervariasi menyebabkan waktu pengeringan karet berbeda, kekerasan koagulum berbeda, sehingga jumlah penggilingan juga berbeda sehingga mempengaruhi mutu karet yang dihasilkan (Akhmad Rouf.2009). Proses penggumpalan (koagulasi) lateks terjadi karena penetralan muatan partikel karet, sehingga daya interaksi karet dengan pelindungnya menjadi hilang. Partikel karet yang sudah bebas akan bergabung membentuk gumpalan. Penggumpalan karet didalam lateks kebun (pH 6,8) dapat dilakukan dengan penambahan asam untuk menurunkan pH hingga tercapai titik isoelektrik yaitu pH dimana muatan positif sehingga elektrokinetis potensial sama dengan nol. Titik isoelektrik karet didalam lateks kebun segar adalah pada pH 4,5 4,8 tergantung jenis klon. Asam penggumpal yang banyak digunakan adalah asam formiat atau asetat dengan karet yang dihasilkan bermutu baik. Penggunaan asam kuat seperti asam sulphate atau nitratpat merusak mutu karet yang digumpalkan. Penambahan bahan-bahan yang dapat mengikat air seperti alcohol juga dapat menggumpal partikel karet, karena ikatan hidrogen antara alcohol dengan air lebih kuat dari pada ikatan hidrogen antara air dengan protein yang melapisi partikel karet, sehingga kestabilan partikel karet didalam lateks akan terganggu dan akibatnya karet akan menggumpal. Penggumpalan alcohol sebagai penggumpal lateks secara komersil jarang digunakan. Penambahan elektrolit yang bermuatan positif akan dapat menetralkan muatan partikel karet (negatif),

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

14

sehingga interaksi air dengan partikel karet akan rusak, mengakibatkan karet menjadi menggumpal. Sifat karet yang digumpalkan dengan tawas kurang baik, karena dapat mempertinggi kadar abu dan kotoran karet (Akhmad Rouf.2009). 2. Proses Pembuatan Karet Sintetik a) Polymerization Polymerisasi ialah merupakan proses awal dari pembuatan karet sintetik, pada tahap ini ada tiga motode yang digunakan yaitu emulsion, microemulsion, and suspension polymerization. Proses ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar sekelas Du Pont, Dow, GE, Ausimont, Daikin and Dyneon. b) Isolation Pada tahap ini, backbone polymers diisolasi, dikeringkan, dan dibersihkan. Setelah tahap ini, maka polimer tersebut sudah siap untuk diolah oleh compounder. c) Compounding (mixing) Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam menentukan sifat2 tambahan dari suatu polimer/karet. Karena pada tahap inilah compounder meracik resepnya untuk menghasilkan bahan baku yang sesuai keinginannya/pesanan. Pengalaman dan pengetahuan compounder pada tahap ini sangat krusial untuk menghasilkan material yang berkualitas. d) Extrusion/Forming/Premolding Setelah selesai di mixing, maka material yang masih berbentuk lembaran dibentuk lagi menyerupai produk akhir supaya dapat dengan mudah diproses pada molding nantinya. misalnya untuk O-Ring, material tersebut dibentuk menyerupai kabel panjang. e) Molding Proses inilah yang menentukan akan berbentuk seperti apakah produk akhir. dengan kombinasi panas dan tekanan yang sesuai, maka akan didapat produk akhir yang sempurna. f) Flash Removal Setelah dari proses molding, biasanya pada produk masih terdapat sisa-sisa material yang menempel, pada tahap ini sisa-sisa tersebut dipisahkan sehingga

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

15

didapat produk akhir yang sesusai dengan cetakan. g) Post Curing Terkadang pada tahap molding tidak semua proses kimia dapat terjadi dengan sempurna, sehingga untuk menghabiskan sisa-sisanya dilakukan proses curing. h) Finishing & Inspection Setelah selesai diproses, maka produk akhir hendaknya dibersihkan dan dilakukan pengetesan apakah sudah sesuai dengan harapan atau tidak. i) Cleaning Semua proses telah selesai dan produk akhir yang didapat telah sempurna, maka produk tersebut dicuci bersih dari kotoran-kotoran yang mungkin menempel pada proses produksi sebelumnya. j) Packaging Setelah produk akhir sudah bersih, dan siap untuk dikirim/disimpan. sebaiknya dimasukan kemasan agar tidak terkontaminasi dari lingkungan luar. Semua proses diatas ialah teoritis, yang mana pada saat dilapangan seringkali prakteknya tidak sesederhana demikian (Woodruff, W. 1970). Peluang Pasar Hasil kajian peluang investasi pengembangan industri karet dan turunannya, menunjukkan terdapat lima jenis industri yang memiliki peluang investasi dalam kurun waktu beberapa tahun mendatang. Kelima jenis industri tersebut adalah crumb rubber, lateks pekat, sarung tangan karet, conveyor belt dan ban vulkanisir. Sarung tangan karet banyak digunakan untuk keperluan medis, kimia, klinik, industri kimia dan makanan, serta keperluan rumah tangga (house hold). Permintaan komoditas sarung tangan karet dunia selalu meningkat rata-rata 20% per tahun terutama di negara-negara Afrika dan Asia. Produksi sarung tangan dunia saat ini mencapai 100 M pcs. Demikian pentingnya faktor bahan baku, menyebabkan hingga kini produsen sarung tangan karet alam (NRLglove) adalah negara-negara produsen karet alam. Thailand dan Malaysia sangat giat memacu produksi sarung tangannya untuk keperluan ekspor.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

16

Indonesia hanya mampu menguasai pasar sebesar 10%, sedangkan Thaland 29%, bahkan Malaysia menguasai pasar paling tinggi hingga mencapai 58%. Saat ini sekitar 90% sarung tangan dari karet alam, berasal dari ketiga negara ASEAN tersebut. Sarung tangan dari karet sintetik dikuasai oleh China (90%). Negara konsumen utama sarung tangan karet adalah Amerika Serikat, yang mengkonsumsi sekitar 40% produksi dunia, selanjutnya disusul oleh Jepang dan Negara-negara Eropa Barat. Pada 2006, konsumsi sarung tangan USA mencapai 38 juta pcs. Indonesia memiliki peluang yang sangat baik untuk mengisi pasar sarung tangan, karena memiliki sendiri sumber bahan baku lateks. Prospek sarung tangan dunia sesungguhnya sangat cerah. Sebagai gambaran, konsumsi sarung tangan dunia pada tahun 2001 baru mencapai 50 milyar pcs. Menurut Asosiasi Sarung Tangan negara-negara ASEAN (ARGMA), konsumsi sarung tangan dunia pada 2006 mencapai hampir 90 milyar pcs, dan pada 2010 akan meningkat menjadi sekitar 150 milyar pcs, bahkan pada 2030 diramalkan konsumsi sarung tangan dunia akan mencapai 300 milyar pcs, sejalan dengan pertambahan penduduk, dan ke-sadaran terhadap pencegahan penyakit, penggunaan sarung tangan semakin meluas, tidak hanya di negara maju juga ke negara-negara berkembang . Ketersediaan Bahan Baku Sekitar 90% bahan baku yang digunakan untuk pembuatan sarung tangan dari karet alam adalah lateks pekat. Ketersediaan lateks pekat sangat menentukan kesinam-bungan produksi, karena tidak dapat diganti-kan oleh bahan lain. Selain lateks pekat, sejumlah bahan kimia diperlukan untuk proses manufaktur sarung tangan karet, seperti bahan kimia untuk pembuatan dispersi, bahan untuk vulkanisasi, anti oksidan, bahan akselerator, powder, dan lainnya. Jumlah bahanbahan kimia tersebut relatip kecil dan banyak beredar dipasaran. Pengolahan karet yang ingin saya buat disini sebagai sarung tangan karena sarung tangan sangat dibutuhkan, baik petani maupun pelaut. Karena dengan menggunakan sarung tangan maka kegiatan yang dikerjakan sangat lebih cepat dan menghindari tangan dari luka. Baik yang kena semak maupun duri. Dan saya yakin bahwa kegiatan ini atau pen golahan sarung tangan ini sangat maju dan

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

17

diminati oleh masyarakat Nias khususnya.

BAB III POTENSI INDUSTRI KAKAO INDONESIA


Industri Pengolahan Kakao 1. Wilayah Potensi (Industri Pengolahan Kakao) Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah negara Pantai Gading dan Ghana. Tiga besar Negara penghasil kakao

sebagai berikut ; Pantai Gading (1.276.000 ton), Ghana (586.000 ton), Indonesia (456.000 ton). Luas lahan tanaman kakao Indonesia lebih kurang 992.448 Ha dengan produksi biji kakao sekitar 456.000 ton per tahun, dan produktivitas ratarata 900 Kg per ha . Daerah penghasil kakao Indonesia adalah sebagai berikut: Sulawesi Selatan 184.000 ton (28,26%), Sulawesi Tengah 137.000 ton (21,04%), Sulawesi Tenggara 111.000 ton (17,05%), Sumatera Utara 51.000 ton (7,85%), Kalimantan Timur 25.000 ton (3,84%), Lampung 21.000 ton (3,23%) dan daerah lainnya 122.000 ton (18,74%). Menurut usahanya perkebunan kakao Indonesia

dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok yaitu ; Perkebunan Rakyat 887.735 Ha, Perkebunan Negara 49.976 Ha dan Perkebunan Swasta 54.737 Ha.

2. Jumlah Pelaku Usaha Meskipun sebagian besar hasil perkebunan kakao Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah, di dalam negeri juga terdapat industri pengolahan kakao. Industri pengolahan kakao banyak berada di pulau Jawa.

Perkembangan Kakao Indonesia 1. Standar Mutu Kakao

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

18

Tabel: Standar Nasional Indonesia Biji Kakao (SNI 01 2323 2000)

(Sumber : www.kadin-indonesia.or.id) Keterangan: * Revisi September 1992 * Ukuran biji ditentukan oleh jumlah biji per 100 gr. AA Jumlah biji per 100 gram maksimum 85 A Jumlah biji per 100 gram maksimum 100 B Jumlah biji per 100 gram maksimum 110 C Jumlah biji per 100 gram maksimum 120 Substandar jumlah biji per 100 gram maksimum > 120. Untuk jenis kakao mulia notasinya dengan F (Fine Cocoa)

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

19

Pohon industry kakao

PENGOLAHAN PRODUK PERMEN COKELAT 1. BAHAN BAKU Bahan baku permen cokelat adalah pasta dan lemak kakao, gula dan susu bubuk, dalam proporsi tertentu sesuai jenis produk yang akan dibuat. 2. PENCAMPURAN dan PRA-PENGHALUSAN Pasta cokelat, lemak, gula dan susu dicampur dalam pencampur bola sampai membentuk adonan. Untuk mendapatkan penampilan mengkilap dan homogen,

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

20

adonan cokelat tersebut perlu ditambah sedikit lesitin. Alat ini juga berfungsi sebagai menghalus awal untuk mengecilkan ukuran partikel adonan yang semula 300 mikron menjadi 100 mikron. 3. PENGHALUSAN LANJUT [REFINING] Adonan yang sudah homogen kemudian dihaluskan lanjut dengan alat penghalus tipe silinder mendatar dengan penghalus bola untuk menghasilkan kehalusan adonan dengan ukuran partikel mendekati 20 mikron. 4. PENGONCINGAN Proses koncing ini dilakukan untuk menguapkan sisa air dan senyawa penyebab cacat citarasa [off-flavor] seperti citarasa asam dari dalam adonan cokelat. Suhu koncing diatur antara 60 70 oC selama 18 sampai 24 jam secara terus-menerus tergantung pada jenis makanan yang akan dihasilkan. 5. PENCETAKAN [MOLDING] Adonan cokelat siap cetak melewati proses kondisioning agar diperoleh hasil cetakan yang sempurna. Pada tahap awal, adonan melewati pemanas dari suhu 33 oC menjadi 48 oC selama lebih kurang 10 12 menit. Pada tahap ini seluruh kristal lemak di dalam adonan diharapkan mencair. Setelah itu adonan cair masuk ke pendingin sehingga suhu adonan turun secara perlahan menjadi 33 oC untuk pembentukan kristal lemak yang teratur. Sambil dituang ke dalam cetakan, suhu adonan akan terus turun sampai 26 oC. Di dalam cetakan suhu adonan akan meningkat kembali mendekati suhu kamar. 6. PELEPASAN DARI CETAKAN [DEMOLDING] Adonan cokelat dalam cetakan dimasukkan dalam lemari pendingin bersuhu 20 oC selama 30 menit agar adonan menjadi beku. Adonan padat atau permen cokelat dilepaskan dari cetakan dengan cara membalik cetakannya dan permen cokelat akan terlepas. 7. PERMEN COKELAT BATANGAN [BAR CHOCOLATE] Permen cokelat dibungkus dengan lembaran aluminium tipis [foil] dan dikemas dengan kertas label [merk]. Permen cokelat yang telah dikemas sebaiknya disimpan selama 30 hari sebelum dipasarkan agar pembentukan kristal lemak stabil, keras dan mantap.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

21

PENGOLAHAN PRODUK BUBUK COKELAT a) BUNGKIL KAKAO Bungkil hasil pengempaan umumnya mempunyai tiga [3] tingkatan, yaitu kadar lemak rendah [10-12 %], medium [13-15 %] dan lemak tinggi [ > 15 % sampai 22 %]. b) PRA-PENGHALUSAN Bungkil kakao hasil pengempaan merupakan gumpalan padat yang keras untuk itu perlu ditumbuk menjadi pecahan-pecahan bungkil kecil [diameter 3 sampai 5 mm] sebelum dihaluskan lebih lanjut. c) PENGHALUSAN Pecahan-pecahan bungkil kecil kemudian digiling menjadi bubuk halus. d) PENGAYAKAN Bubuk kakao halus diayak dengan saringan ukuran 120 Mesh untuk menghasilkan ukuran partikel yang relatif seragam antara 95 110 mikron. Bubuk kakao halus murni merupakan bahan baku utama minuman cokelat, es krim dan kue cokelat kering. e) PENCAMPURAN Bubuk kakao halus juga bisa dicampur dengan gula dan susu bubuk atau krimer untuk memperoleh campuran bubuk kakao 3 in 1 [mixed]. Produk ini termasuk jenis siap saji dan bisa diseduh dengan air hangat [matang] atau air panas [mendidih]. f) PENGEMASAN Bubuk kakao murni atau bubuk 3 in 1 dikemas dengan kantong aluminium [foil] @ 200 gr atau kemasan saset @ 25 gr [sebagai pengemas primer] dan kemudian dimasukkan ke dalam kemasan kertas berlabel [sebagai pengemas sekunder] (Akhmad Rouf.2009).

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

22

BAB IV ANALISIS HAKI PADA PRODUK KOMODITI


A. Latar Belakang 1. Sejarah HAKI Sebagai dampak dari globalisasi dan liberalisasi perdagangan,

pembangunan industri dan perdagangan di Indonesia dihadapkan pada suatu tantangan yaitu persaingan yang semakin tajam. Dengan adanya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), liberalisasi perdagangan dalam APEC pada tahun 2010 untuk Negara maju dan tahun 2020 untuk Negara berkembang, dan skema CEPT dalam rangka AFTA-ASEAN pada tahun 2003, maka gerak perdagangan dunia akan semakin dinamis dan cepat. HAKI tidak hanya semata-mata masalah teknis hukum tapi juga menyangkut kepentingan ekonomi. Pelanggaran HAKI di samping dapat menimbulkan kerugian terhadap Negara, penemu, masyarakat juga membawa dampak terhadap hubungan ekonomi, sosial budaya, hukum dan bahkan dapat menimbulkan ketegangan politik antar Negara. Sejak berdirinya WTO, banyak kasus sengketa perdagangan yang diadukan karena melanggar ketentuan GATT/WTO. Kasus yang banyak dipersengketakan adalah masalah pembatasan impor, pelanggaran HAKI, subsidi, diskriminasi pasar domestik dan diskriminasi standar barang. Selain masalah dalam ketentuan GATT/WTO tersebut terdapat kecenderungan pada Negaranegara maju menggunakan kebijakan unilateral dan praktek-praktek perdagangan yang bersifat anti persaingan dalam menghambat impor dan melakukan proteksi domestik secara tidak wajar. Hal ini dilakukan dengan mengkaitkan antara perdagangan dengan masalah lain. Kasus-kasus HAKI khususnya Hak Cipta telah menjadi salah satu alasan beberapa Negara untuk menghentikan fasilitas Sistem Preferensi Umum (GSP), sehingga menghambat ekspor produk Indonesia. 2. Pengertian HAKI Secara substantif pengertian HAKI dapat dideskripsikan sebagai hak atas kekayaan yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia. Karya-

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

23

karya intelektual yang dimaksud di bidang ilmu pengetahuan, seni, sastra ataupun teknologi, dilahirkan dengan pengorbanan tenaga, waktu dan bahkan biaya. Adanya pengorbanan tersebut menjadikan karya yang dihasilkan menjadi memiliki nilai. Apabila ditambah dengan manfaat ekonomi yang dapat dinikmati, maka nilai ekonomi yang melekat menumbuhkan konsepsi kekayaan (Property) terhadap karya-karya intelektual. Bagi dunia usaha, karya-karya itu dikatakan sebagai assets perusahaan. Pengenalan HAKI sebagai hak milik perorangan yang tidak berwujud dan penjabarannya secara lugas dalam tatanan hukum positif terutama dalam kehidupan ekonomi merupakan hal baru di Indonesia. Dari sudut pandang HAKI, aturan tersebut diperlukan karena adanya sikap penghargaan, penghormatan dan perlindungan tidak saja akan memberikan rasa aman, tetapi juga mewujudkan iklim yang kondusif bagi peningkatan semangat atau gairah untuk menghasilkan karya-karya inovatif, inventif dan produktif. 3. Manfaat HAKI

a. Bagi dunia usaha, adanya perlindungan terhadap penyalahgunaan atau pemalsuan karya intelektual yang dimilikinya oleh pihak lain di dalam negeri maupun di luar negeri. Perusahaan yang telah dibangun mendapat citra yang positif dalam persaingan apabila memiliki perlindungan hukum di bidang HAKI. b. Bagi inventor dapat menjamin kepastian hukum baik individu maupun kelompok serta terhindar dari kerugian akibat pemalsuan dan perbuatan curang pihak lain. c. Bagi pemerintah, adanya citra positif pemerintah yang menerapkan HAKI di tingkat WTO. Selain itu adanya penerimaan devisa yang diperoleh dari pendaftaran HAKI. d. Adanya kepastian hukum bagi pemegang hak dalam melakukan usahanya tanpa gangguan dari pihak lain. e. Pemegang hak dapat melakukan upaya hukum baik perdata maupun pidana bila terjadi pelanggaran/peniruan.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

24

f. Pemegang hak dapat memberikan izin atau lisensi kepada pihak lain. B. Landasan Hukum HAKI Beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia antara lain : 1. Undang-undang No. 7 tahun 1994 tentang Persetujan Pembentukan Organsasi Perdagangan Dunia 2. Undang-undang No. 32 tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu 3. Undang-undang No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri 4. Undang-undang No. 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang 5. Undang-undang No. 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman 6. Undang-undang No. 15 tahun 2001 tentang Merek 7. Undang-undang No. 14 tahun 2001 tentang Paten 8. Undang-undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta

C. Hak Paten 1. UU No. 14 Tahun 2001 a. Pengertian Umum 1) Paten adalah hak khusus yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya dibidang teknologi, untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan

persetujuannya kepada orang lain untuk melaksanakannya. 2) Invensi adalah ide Inventor yang dituangkan dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik dibidang teknologi yang dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses. 3) Inventor adalah seseorang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara bersama-sama melaksanakan ide yang dituangkan dalam kegiatan yang menghasilkan Invensi. 4) Pemohon adalah pihak yang mengajukan Permohonan Paten

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

25

5) Permohonan adalah permohonan Paten yang diajukan kepada Direktorat Jenderal HAKI Departemen Hukum dan HAM. 6) Pemegang Paten adalah Inventor sebagai pemilik Paten atau orang yang menerima hak tersebut dari Pemilik Paten atau orang lain yang menerima lebih lanjut hak dari orang tersebut diatas, yang terdaftar dalam Daftar Umum Paten. 7) Paten sederhana adalah setiap invensi berupa produk atau alat yang baru dan mempunyai nilai kegunaan praktis disebabkan oleh bentuk, konfigurasi, konstruksi atau komponennya. b. Obyek Perlindungan Invensi yang dapat diberikan perlindungan Paten adalah Invensi yang memenuhi syarat : 1) Novellty Suatu Invensi dianggap baru, jika pada saat pengajuan permintaan paten Invensi tersebut tidak sama dengan pengungkapan teknologi sebelumnya. 2) Inventif Suatu Invensi mengandung langkah inventif, jika Invensi tersebut bagi seorang yang mempunyai keahlian biasa dibidang teknologi merupakan hal yang tidak dapat diduga sebelumnya. 3) Dapat diterapkan dalam industri. c. Jangka Waktu Perlindungan 1) Paten diberikan untuk jangka waktu selama 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tanggal penerimaan dan jangka waktu itu tidak dapat diperpanjang. 2) Paten sedehana diberikan untuk jangka waktu selama 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal penerimaan dan jangka waktu itu tidak dapat diperpanjang. d. Invensi yang tidak diberikan paten 1) Proses atau produk yang pengumuman dan penggunaan atau pelaksanaannya bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum atau kesusilaan.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

26

2) Metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan atau pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan atau hewan 3) Teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan dan matematika 4) Semua makhluk hidup kecuali jasad renik 5) Proses biologis yang esensial untuk memproduksi tanaman atau hewan, kecuali proses mikrobiologis. e. Hak dan Kewajiban Pemegang Paten 1) Pemegang Paten memiliki hak khusus untuk melaksanakan Paten yang dimilikinya, dan melarang orang lain yang tanpa persetujuannya. a) Dalam hal Paten Produk : membuat, memakai, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi paten. b) Dalam hal paten proses : menggunakan proses produksi yang diberi Paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya. 2) Dalam hal Paten proses, larangan terhadap orang lain yang tanpa persetujuannya melakukan impor sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 hanya berlaku terhadap impor produk yang semata-mata dihasilkan dari penggunaan Paten proses yang dimilikinya. 3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan 2 apabila pemakaian paten tersebut untuk kepentingan Pemilikan dan Pendidikan sepanjang tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pemegang Paten. 4) Kewajiban Pemegang Paten wajib membayar biaya pemeliharaan yang disebut biaya tahunan (rincian biaya tahunan terlampir). f. Pelanggaran Dan Sanksi 1) Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak Pemegang Paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). 2) Barang siapa dengan sengaja tanpa hak dan melanggar hak Pemegang Paten Sederhana dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

27

dimaksud dalam pasal 16 dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah).

g. Prosedur Pengajuan Permintaan Paten 1) Mengisi formulir permintaan paten dengan melampirkan : a) Bukti kewarganegaraan berupa foto copy KTP dari Inventor, pemegang hak. b) Foto copy NPWP untuk pemegang hak Badan Hukum c) Akte/salinan resmi pendirian badan hukum yang telah dilegalisir oleh notaris. d) Surat pernyataan bukti kepemilikan hak atas Invensi yang

ditandatangani oleh pemilik, bermaterai Rp. 6000,e) Deskripsi/Uraian Invensi termasuk di dalamnya klaim invensi dan abstrak invensi f) Gambar detail Invensi beserta uraiannya secara terperinci g) Dokumen (permintaan) paten prioritas dan terjemahannya h) Sertifikat penyimpanan jasad renik dan terjemahannya

2) Penulisan deskripsi Invensi a) Penulisan deskripsi Invensi atau uraian Invensi harus secara lengkap dan jelas mengungkapkan suatu Invensi sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang ahli dibidangnya, ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. b) Isi yang diungkapkan dalam deskripsi pada setiap sub judulnya, diuraikan seperti dibawah ini : i. Judul Invensi : menggambarkan Invensi dengan singkat dan dibatasi maksimum 3 (tiga) baris. ii. Bidang teknik Invensi : menjelaskan tentang teknologi yang khusus dari Invensi tesebut. iii. Latar Belakang Invensi : pada bagian ini diungkapkan teknologi teknologi atau Invensi-Invensi yang ada ( prior art) yang relevan,

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

28

sebelum Invensi baru saat ini. Dikemukakan pula masalah atau kekurangan yang ada prior art tersebut dibandingkan dengan Invensi baru tersebut. Sehingga tujuan Invensi ini adalah menyelesaikan masalah dengan mengatasi kekurangan-

kekurangan yang ada. iv. Ringkasan Invensi : mengungkapkan ciri-ciri Invensi atau dengan kata lain mengungkapkan ciri-ciri kelaim mandiri. v. Uraian Singkat Gambar : Berisikan keterangan singkat gambargambar yang ditampilkan untuk mendukung kejelasan uraian Invensi. Contoh : Gambar 1 adalah gambar pandangan depan Invensi. Gambar 2, jika masih dianggap perlu untuk

menjelaskan uraian Invensi. vi. Uraian lengkap Invensi : Bagian ini menguraikan secara lengkap Invensi yang dimaksud. Ciri-ciri Invensi tidak ada yang tertinggal pada bagian ini, karena pada saat pemeriksaan Substantif nantinya pemohon tidak boleh melakukan perubahan dengan menambah ciri Invensi vii. Klaim : mengungkapkan ciri-ciri yang terdapat pada Invensi yang dimintakan paten ( paten : 1 atau > 1 klaim ), dan paten sederhana hanya 1 klaim. viii. Abstrak : merupakan ringkasan dari uraian lengkap Invensi dan dibatasi maksimum 200 kata. Catatan : diketik diatas kertas HVS ukuran A4, berat 100 gram, space pengetikan 1,5 dengan format pengetikannya pada tepi sisi atas 2 cm, bawah 2 cm, kanan 2,5 cm dan sisi kiri 2 cm. 3) Pengumuman Permintaan Paten Pengumuman permintaan Paten berlangsung selama 6 (enam) bulan dapat dilihat pada Papan Pengumuman Permintaan Paten, dikantor Paten dan Buku BRP (Berita Resmi Paten) yang diterbitkan secara berkala.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

29

4) Permohonan pemeriksaan Substantif atas Paten Sederhana dapat dilakukan bersamaan dengan pengajuan permohonan atau paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan dengan dikenai biaya. 5) Pemeriksaan substantif meliputi kebaruan dan industrial application.

D. Hak Merek 1. UU No. 15 Tahun 2001 a. Pengertian Umum Merek adalah tanda berupa gambar, nama, kata, huruf, angka-angka, susunan atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Merek merupakan suatu tanda pembeda atas barang atau jasa bagi satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Sebagai tanda pembeda maka merek dalam satu klasifikasi barang/jasa tidak boleh memiliki persamaan antara satu dan lainnya baik pada keseluruhan maupun pada pokoknya. Pengertian persamaan pada keseluruhannya yaitu apabila mempunyai persamaan dalam hal asal, sifat, cara pembuatan dan tujuan pemakaiannya. Pengertian persamaan pada pokoknya yaitu apabila memiliki persamaan pada persamaan bentuk, persamaan cara penempatan , persamaan bentuk dan cara penempatan, persamaan bunyi ucapan, (yurisprudensi MARI). Merek atas barang lazim disebut sebagai merek dagang adalah merek yang digunakan/ditempelkan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang , atau badan hukum. Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang atau badan hukum. Merek sebagai tanda pembeda dapat berupa nama, kata, gambar, hurufhuruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut. Pemegang/pemilik Hak Merek yaitu : orang (persero), beberapa orang (pemilik bersama), Badan Hukum yang telah mendapatkan Hak atas Merek yang disebut dengan Merek Terdaftar.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

30

Indikasi Geografis sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Indikasi asal sama dengan Indikasi Geografis, tetapi tidak didaftar atau semata-mata menunjukkan asal suatu barangdan jasa. Tanda yang tidak boleh dijadikan merek 1) Tanda yang tidak memiliki daya pembeda, misalnya hanya sepotong garis-garis yang sangat rumit atau kusut 2) Tanda yang bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum, misalnya gambar porno atau menyinggung perasaan keagamaan. 3) Tanda berupa keterangan barang, misalnya merek kacang untuk produk kacang. 4) Tanda yang telah menjadi milik umum, misalnya tanda lalu lintas. 5) Kata-kata umum, misalnya kata rumah, kota dan sebagainya. b. Obyek Perlindungan 1) Perlindungan atas Merek Hak atas Merek adalah Hak Eksklusif yang diberikan negara kepada Pemilik Merek Yang Terdaftar dalam daftar umum Merek untuk jangka waktu tertentu menggunakan sendiri Merek tersebut atau memberi izin kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama, atau Badan Hukum untuk menggunakannya. 2) Hal penting yang perlu untuk diketahui Perlindungan atas Merek Terdaftar yaitu adanya Kepastian Hukum atas Merek Terdaftar baik untuk digunakan, diperpanjang, dialihkan dan dihapuskan. Sebagai alat bukti bila terjadi sengketa pelanggaran atas Merek Terdaftar. c. Status Pendaftaran Indonesia mengenal atau menganut azas konstitutif yaitu : hak atas Merek diperoleh atas pendaftarannya, artinya pemegang Hak Merek adalah seseorang yang mendaftarkan untuk pertama kalinya di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

31

d. Jangka Waktu Perlindungan Jangka waktu perlindungan merek 10 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan pendaftaran (filing date). Setelah 10 tahun dapat diperpanjang kembali. e. Mutasi Dan Lisensi Pengertian Mutasi meliputi pengalihan hak dan perubahan nama dan alamat. 1) Pengalihan hak. Pengalihan hak atas merek dilakukan dengan cara : a) Pewarisan b) Wasiat c) Hibah d) Perjanjian dan sebab-sebab lain sesuai dengan UU 2) Lisensi Lisensi adalah izin yang diberikan pemilik merek terdaftar kepada seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk menggunakan merek tersebut, baik untuk seluruh atau sebagian jenis barang atau jasa yang didaftarkan. f. Pelanggaran Dan Sanksi Pasal 90 UU Merek No. 15 Tahun 2001 : Pelanggaran atas Hak Merek terdaftar yang sama pada keseluruhannya dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Milyar Rupiah). Pasal 91 UU Merek No. 15 Tahun 2001 : Pelanggaran atas Merek Terdaftar yang sama pada pokoknya dipidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan atau didenda paling banyak Rp. 800.000.000,- (Delapan ratus juta rupiah). Pelanggaran terhadap pasal 94 dikategorikan sebagai Tindak Pidana Pelanggaran. Yang berhak mengajukan gugatan atas pelanggaran Hak atas Merek hanya pemegang Hak Merek, yaitu Merek yang telah terdaftar. Bagi Merek tidak terdaftar tidak mendapat perlindungan hukum, artinya tidak berhak mengajukan gugatan atas merek terdaftar maupun atas merek tidak terdaftar lainnya. g. Prosedur Pendaftaran Merek

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

32

1) Pengajuan permohonan sesuai dengan yang telah disediakan oleh Kantor Merek, dan melampirkan : a) Mengisi formulir pendaftaran Merek rangkap 4 (empat) b) Mengisi Surat Pernyataan kepemilikan merek, bermaterai Rp. 6000,-. c) Fotocopy KTP pemilik merek d) Fotocopy akte pendirian Badan Hukum yang dilegalisir notaris bagi pemohon atas nama Badan Hukum e) Fotocopy NPWP bagi pemohon atas nama Badan Hukum f) Etiket Merek sebanyak 26 (duapuluh enam) lembar, 4 (empat) lembar ditempel pada masing-masing lembaran form dengan ukuran maksimal 9 x 9 cm dan minimal 2 x 2 cm g) Contoh fisik produk yang didaftarkan h) Mencantumkan nama negara dan tanggal permintaan pendaftaran Merek pertama kali bagi merek dengan Hak Prioritas 2) Pemeriksaan permintaan pendaftaran Merek. a) Pemeriksaan formal Pemeriksaan formal adalah pemeriksaan atas kelengkapan persyaratan administratif yang ditetapkan. b) Pemeriksaan Substantif. Pemeriksaan Substantif adalah pemeriksaan terhadap merek yang diajukan apakah dapat didaftarkan atau tidak, berdasarkan persamaan pada keseluruhan, persamaan pada pokoknya, atas merek sejenis milik orang lain, sudah diajukan mereknya lebih dahulu oleh orang lain.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

33

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari urain diatas, dapat saya simpulkan bahwa, 1. Komoditi potensial di Pulau Nias, khususnya di Kab. Nias Utara, Prov. Sumatera Utara terdiri dari kelapa, durian, kakao, cengkeh 2. Yang usulkan untuk produk komoditi di Kab. Nias Utara, Prov. Sumatera Utara saat ini ialah pembuatan bubuk coklat dan kalau bisa sarung tangan dari komoditi karet. 3. Hak Merek dan Hak Paten sangat digunakan dalam memproduksi suatu produk supaya produk kita dikenal orang dan tidak dapat ditiru oleh orang lain .

B. Saran Dari uraian diatas, saran yang bisa saya sampaikan yaitu 1. Sebaiknya para pengusaha membuat atau mengurus surat mengenai hak cipta dan hak merek pada produknya tersebut demi kelancaran kegiatan usaha yang digelutinya saat ini. 2. Pemerintah setempat harus memperhatikan setiap pengusaha yang memiliki surat mengenai hak cipta dan hak merek atas produknya dan menghimbau serta membantu pengusaha (memfasilitasi ; seperti alat, mesin dll) serta membantu pengusaha yang masih belum memiliki hak sipta dan hak merek untuk segera memilikinya.

Nama NIM Mata Kuliah Rekomendasi

: : : :

SIDIELI ZEGA 10 03 027 Hak Atas Kekayaan Intelektual Kabupaten Nias Utara

34

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C. 2006. Manajemen dan teknologi budidaya karet. Makalah pelatihan Tekno Ekonomi Agribisnis Karet . 18 Mei 2006. Jakarta. PS. 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya. Jakarta. Spillane, J.J. 1989. Komoditi Karet. Kanisius. Yogyakarta. Woodruff, W. 1970. Rubber. Encyclopedia Britannica. 1970. Vol : 19. http://hakcipta.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2012 http://balitgetas.wordpress.com/2009/07/21/sejarah-dan-prospek-pengembangankaret/. Diakses hari rabu tgl 19-12-2012, jam 12.06 http://sumantry.com/artikel/pengetahuan-dasar/64-jenis-karet. Diakses hari rabu tgl 19-12-2012, jam 12.06 http://www.iccri.net/index.php?option=com_content&view=article&id=129&Item id=139 http://binaukm.com/2010/06/pengolahan-getah-karet-lateks/ http://mangasasianturi.blogspot.com/2010/09/proses-pengolahan-karet-crumbrubber.html http://pustaka.litbang.deptan.go.id http://www.disbun.jabarprov.go.id