Anda di halaman 1dari 5

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Air merupakan senyawa yang bersifat pelarut universal, karena sifatnya tersebut maka tidak ada air dan perairan alami yang murni. Didalam air terdapat unsur dan senyawa yang lain karena terlarutnya unsur dan senyawa terutama hara mineral, maka air merupakan faktor ekologi bagi makhluk hidup. Walaupun demikian ternyata tidak semua air dapat secara langsung digunakan memenuhi kebutuhan makhluk hidup, tetapi harus memenuhi kriteria dalam setiap parameternya masing-masing (Darwis Az,2012). Sumber air yang dipergunakan untuk keperluan hidup dapat tercemar oleh berbagai sumber pencemaran. Limbah dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, dan tumbuhtumbuhan dapat menjadi penyumbang pencemaran terhadap air yang akan dipergunakan, baik untuk keperluan makhluk hidup maupun untuk keperluan kehidupan yang lain. Keberadaan Zatzat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih akan menimbulkan gangguan terhadap kualitas air. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air berada pada kondisi yang kritis atau merusak kadar kimia air (Darwis,2012) Limbah merupakan hasil sampingan pengolahan atau kegiatan yang tidak diperlukan dan secara fisik, kimiawi, atau bakteriologis, dapat mencemari lingkunagan serta membahayakan kesehatan dan kelangsungan hidup makhlik hidup. Limbah dapat berupa limbah padat atau cair. Limbah yang mengandung zat bahaya dan beracun dikelompokkan dalam limbah B3. Limbah rumah sakit sangat mungkin mengandung zat berbahaya karena mengandung bakteri atau zat kimia yang beracun. Limbah padat rumah sakit terdiri dari sampah padat noninfeksi dan sampah

padat infeksi yang berasal dari dapur, ruang perawatan, ruang pengobatan, laboratorium dan ruang operasi. Limbah cair dapat berasal dari buangan dapur, kamar mandi, ruang perawatan, ruang poliklinik, radiologi dan laboratorium (Tanty, 2003). Limbah rumah sakit berpotensi mencemari lingkungan dengan menyumbangkan efek yang cukup besar terhadap kondisi lingkungan hidup. Hasil kajian terhadap 100 RS di Jawa dan Bali menunjukkan bahwa rata-rata produksi sampah sebesar 3,2 Kg per tempat tidur per hari. Sedangkan produksi limbah cair sebesar 416,8 liter per tempat tidur per hari. Analisis lebih jauh menunjukkan, produksi sampah (limbah padat) berupa limbah domestik sebesar 76,8 persen dan berupa limbah infektius sebesar 23,2 persen. Diperkirakan secara nasional produksi sampah (limbah padat) RS sebesar 376.089 ton per hari dan produksi air limbah sebesar 48.985,70 ton per hari. Dari gambaran tersebut dapat dibayangkan betapa besar potensi RS untuk mencemari lingkungan dan kemungkinannya menimbulkan kecelakaan serta penularan penyakit (Sebayang dkk, 1996). Menurut Peraturan Menkes RI No. 173/Menkes/Per/VIII/1997. Standar air limbah yang boleh dibuang ke pembuangan umum (sungai) memenuhi kriteria sebagai berikut : (1) Bebas dari mikroorganisme yang pathogen, (2) Zat padat tersuspensi total < 100 mg/liter, (3) Kandungan deterjen < 1 mg/liter, (4) Zat organic (KMnO4) < 8 mg/liter, (5) BOD 75 mg/liter, (6) COD 100 mg/liter, dan (7) Debit limbah air 350 m3/hari Rusaknya kualitas air ditinjau dari parameter kimia air akan berpengaruh terhadap fungsi dari air itu sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan kegiatan biologis yang

dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun (Darwis,2012). Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Pemeriksaan kadar oksigen terlarut didalam air untuk mengetahui tingkat pencemarannya, dapat diketahui melalui pemeriksaan BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan pemeriksaan COD (Chemical Oxygen Demand) (Darwis,2012). Melalui kedua cara tersebut dapat ditentukan tingkat pencemaran air lingkungan. Perbedaan dari kedua cara uji oksigen yang terlarut di dalam air tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut ini. Chemical oxygen demand adalah kapasitas air untuk menggunakan oksigen selama peruraian senyawa organik terlarut dan mengoksidasi senyawa anorganik seperti amonia dan nitrit. Biological (biochemical) oxygen demand adalah kuantitas oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme aerob dalam menguraikan senyawa organik terlarut. jika BOD tinggi maka dissolved oxygen (DO) menurun karena oksigen yang terlarut tersebut digunakan oleh bakteri. akibatnya ikan dan organisme air. Hubungan keduanya adalah sama-sama untuk menentukan kualitas air, tapi BOD lebih cenderung ke arah cemaran organik (Darwis,2012). Berdasarkan latar belakang diatas peneliti ingin meneliti lebih lanjut tentang kadar BOD dan COD pada industri limbah tahu di kawasan , apakah limbah yang dibuang ke sungai telah memenuhi Peraturan Menkes RI No. 173/Menkes/Per/VIII/1997.

1.2 Rumusan masalah Dari latar belakang diatas dapat dirumusan permasalahan sebagai berikut Berapa kadar BOD dan COD air limbah di Industri tahu di kawasan?

1.3 Tujuan 1. Tujuan umum Untuk menentukan tingkat pencemaran air limbah 2. Tujuan khusus Untuk menentukan tingkat pencemaran air limbah industri tahu berdasarkan parameter kadar BOD dan COD.

1.4 Manfaat a. Bagi Peneliti 1) Memperdalam pengetahuan tentang metode analisis air. 2) Memperdalam pengetahuan tentang metode analisis iodometri. b. Bagi Institusi Pendidikan 1) Menambah bahan acuan tentang metode analisis air. 2) Menambah bahan acuan tentang metode analisis iodometri. c. Bagi Profesi 1) Merupakan acuan tentang metode analisis air. 2) Merupakan acuan tentang metode analisis iodometri. 3) Merupakan acuan untuk penelitian selanjutnya. d. Bagi Masyarakat

1) Memberi informasi kepada masyarakat tingkat pencemaran air limbah yang terjadi di sekitar Rumah Sakit Sanglah. 2) Memberi informasi kepada masyarakat tentang bahaya pencemaran limbah rumah sakit yang bermukin di sekitar Rumah Sakit