Anda di halaman 1dari 3

Gunung Merapi merupakan gunungapi yang gempa gempanya tergolong berskala kecil, sehingga hampir semua gempa vulkanik

k Gunung Merapi tidak terasa oleh manusia. Magnitude berada di bawah 3 pada skala ritcher. Dari posisi sumber gempa, gempa gempa Merapi terjadi di kedalaman kurang dari 6 kilometer di bawah puncak. Pada umunya gempagempa tergolong dangkal bahkan kurang dari 2 kilometer di bawah puncak. Dari distribusi lateralnya, gempa gempa Merapi tidak terlalu tersebar. Hiposenter gempa berada secara vertikal di bawah puncak. Pada saat ini klasifikasi gempa Merapi yang dipakai bagi pemantauan aktivitas seismik gunung Merapi adalah sebagai berikut : Gempa VTA Gempa ini berasal dari kedalaman antara 2 5 kilometer. Frekuensi dominan gempa, dari analisa frekuensi rekaman seismogram yang tercatat pada elevasi 2625 meter, berkisar antara 5 dan 8 Hz. Sebagai gempa yang mekanisme sumbernya seperti gempa, gempa ini mempunyai fase P dan S yang relatif dapat dibedakan dengan jelas. Beda waktu tiba antara gelombang P dan S (S-P time) pada elevasi 2625 meter biasanya lebih besar dari 0,5 detik. Simpangan (impuls) pertamanya (onset) cukup tegas sehingga mudah dalam membaca waktu tiba gempa. Walaupun masih tergantung pada lintasannya, beberapa stasiun seismograf yang terletak di lereng Merapi pada elevasi yang lebih rendah kadang mencatat gempa jenis ini dengan amplitudo yang lebih besar. Fenomena ini disebabkan karena lokasi pusat gempa yang cukup dalam. Di antara gempa gempa yang terjadi di Merapi, gempa VTA merupakan gempa yang bermagnitude terbesar. Energi gempa yang cukup besar dibanding dengan gempa jenis lainnya, biasanya semua stasiun seismograf di puncak dan lereng Merapi dapat mencatat gempa ini dengan jelas. Gempa VTB Gempa jenis ini bersumber pada kedalaman kurang dari 2 kilometer di bawah puncak. Frekuensi dominan gempa berkisar antara 4 dan 7 Hz. Dari kenampakannya pada seismogram, gempa ini mirip dengan gempa VTA hanya saja fase P dan S tidak jelas terlihat. Karena posisinya dangkal, gempa tercatat dengan jelas pada elevasi tinggi sedangkan seismogram di lereng bawah mencatat gempa jenis ini dengan amplitudo yang jauh lebih kecil.

Gempa MP Gempa MP adalah gempa yang terjadi di kubah lava. Pada saat kubah lava tumbuh cepat, jemlah kejadian gempa MP dapat mencapai 700 gempa per hari. Nampaknya gempa ini terjadi pada kerak kerak kubah lava yang bergesekan pada saat kubah tumbuh. Frekuensi dominannya berkisar antara 3 dan 4 Hz. Dibandingkan dengan gempa VTA dan VTB, awalan gempa yaitu impuls pertamanya tidak begitu tegas. Perkembangan amplitudo gempa juga bersifat gradual, yaitu amplitudo berkembang secara perlahan dan mencapai maksimum setelah 3 4 detik dari impuls pertama.

Gempa LF Gempa LF mempunyai frekuensi dominan sekitar 1,5 Hz. Gempa ini jarang terjadi di Merapi, namun demikian pada masa masa tertentu, misalnya 19889, gempa LF sering muncul. Amplitudo gempa biasanya sangat kecil sehingga hanya bisa dibaca dengan jelas pada stasiun pada elevasi tinggi, atau sekitar puncak.

Tremor Terdapat dua macam tremor di Merapi yaitu tremor frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Tremor frekuensi rendah mempunyai frekuensi dominan 1,5 Hz. Sebagaimana gempa LF, tremor frekuensi rendah jarang terjadi. Nampkanya kejadian tremor berkaitan dengan gempa gempa LF. Hal ini jelas yaitu pada saat banyak terjadi gempa LF, tremor frekuensi rendah juga sering terjadi. Tremor frekuensi tinggi berkaitan dengan kejadian erupsi. Pada saat sebelum letusan, sering tercatat adanya tremor dengan frekuensi tinggi. Kadangkala, kejadian tremor diikuti dengan suara gemuruh dari puncak Merapi. Beberapa kejadian letusan di Merapi diawali dengan suara gemuruh dari puncak Merapi. Beberapa kejadian letusan di Merapi diawali dengan tercatatnya tremor frekuensi beberapa menit sebelum letusan terjadi.

Guguran Guguran lava atau material dari puncak Merapi yang menuju ke lereng terlihat pada rekaman seismogram sebagai sinyal gempa dengan dengan durasi yang panjang. Amplitudo guguran berkembang dari kecil dan mencapai maksimum setelah lebih dari 15 detik dari awal gempa. Dari panjangnya sinyal, guguran sangat mudah dibedakan dari gempa gempa vulkanik.

Gempa gempa VTB dan VTA sangat jarang terjadi di Merapi. Kejadian gempa jenis ini berkaitan dengan suatu letusan. Pada saat tertentu, misalnya pada tahun 1990 1991, seismisitas gunung Merapi didominasi oleh kejadian gempa VTA dan VTB. Namun pada periode lainnya, misalnya tahun 1999, hampir tidak ditemukan sama sekali adanya gempa VTA. Dari pemantauan seismik yang dilakukan selama ini di Merapi, seismisitas didominasi oleh Gempa MP. Gempa MP sering terjadi karena memang aktivitas Gunung Merapi berkaitan dengan pertumbuhan kubah lava. Gempa MP merupakan gempa yang dihasilkan oleh suatu proses pembentukan lava.