Anda di halaman 1dari 12

ASSESMENT TEKNIK TES JAWABAN SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER Jawaban Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata

Kuliah Teknik Tes

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Nyoman Dantes

Disusun Oleh : I Made Sumadiyasa ( 1011011103 )

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2013

1.

Pengertian assesment psikologis teknik tes. Menurut James A. Me. Lounghlin & Rena B Lewis. Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif. Menurut Robert M Smith (2002). Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran. Menurut Lidz (2003). Proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis anak yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala-kendala yang dialami kelebihan dan kelemahannya, serta peran penting yang dibutuhkan anak. Assesment psikologi teknik tes menurut saya adalah suatu proses pengumpulan data tentang peserta didik yang dilakukan oleh seorang yang memiliki hak atau memiliki lisensi untuk melakukan tes tersebut dengan menggunakan suatu instrumen tes seperti tes IQ, tes minat bakat maupun bentuk tes lainnya yang fungsi dari masing-masing bentuk tes tersebut digunakan untuk mengumpulkan suatu data atau informasi tertentu pada individu yang di tes, misalnya tes IQ digunakan untuk mengukur tingkat intelegensi dari seseorang, tes minat bakat digunakan untuk mengetahui minat bakat seorang individu. Berdasarkan hal tersebut juga dapat diketahui aspek yang diukur atau di tes adalah hanya aspek psikologisnya saja.

2.

Contoh tes kognitif dan afektif. Afektif. Bagan partisipasi. Keikutsertaan peserta didik merupakan salah satu usaha peserta didik untuk mempermudah dalam memahami konsep yang sedang dibicarakan dan meningkatkan daya ingatan tentang isi pelajaran tertentu. Kemauan untuk melibatkan diri dalam kegiatan belajar mengajar dapat dijadikan salah satu indikasi tentang kemampuan peserta didik dalam menyesuaikan diri dalam

kelompok belajarnya. Oleh karena itu, pengukuran keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan belajar menjadi penting artinya untuk menjelaskan hasil belajar yang bersifat non kognitif. Bagan mengamati kegiatan diskusi kelas. Daftar cek. Daftar cek digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perilaku yang sedang diamati bukan memberikan peringkat atau derajat kualitas pada perilaku tersebut. Daftar cek sangat berguna sekali untuk mengukur hasil belajar yang berupa produk, proses atau prosedur yang dapat dirinci ke dalam beberapa komponen yang lebih kecil, terdefinisi secara operasional dan sangat spesifik. Skala nilai ( Rating Scale ). Skala nilai merupakan suatu prosedur yang terstruktur untuk memperoleh informasi tentang objek yang diamati yang menyatakan posisi objek tersebut dalam hubungannya dengan yang lain. Beberapa bentuk dari skala nilai ini antara lain: skala numerik, grafik, rangking, dan komparasi. Skala Sikap ( Attitude scale ). Beberapa bentuk skala sikap antara lain: skala Likert, skala Thurstone, skala Guttman, Semantic differential. Di samping itu bisa juga digunakan skala pilihan ganda. Instrumen sikap Instrumen sikap bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek, misalnya terhadap kegiatan sekolah, mata pelajaran, pendidik, dan sebagainya. Sikap terhadap mata pelajaran bisa positif bisa negatif. Hasil partisipasi sangat berguna untuk

pengukuran sikap berguna untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat. Instrumen minat Instrumen minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran, yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran. Instrumen konsep diri Instrumen konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Peserta didik melakukan evaluasi secara objektif terhadap potensi yang ada dalam dirinya. Karakteristik potensi peserta didik sangat penting untuk
2

menentukan jenjang karirnya. Informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik digunakan untuk menentukan program yang sebaiknya ditempuh Instrumen nilai Instrumen nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan peserta didik. Informasi yang diperoleh berupa nilai dan keyakinan yang positif dan yang negatif. Hal-hal yang bersifat positif diperkuat sedangkan yang bersifat negatif dikurangi dan akhirnya dihilangkan. Instrumen moral Instrumen moral bertujuan untuk mengungkap moral. Informasi moral seseorang diperoleh melalui pengamatan terhadap perbuatan yang ditampilkan dan laporan diri melalui pengisian kuesioner. Hasil pengamatan dan hasil kuesioner menjadi informasi tentang moral seseorang. Kognitif. 3. Tes atau pertanyaan lisan di kelas. Pilihan ganda. Uraian obyektif. Uraian non - obyektif. Jawaban atau isian singkat. Menjodohkan. Portofolio. Performans.

Tujuan dan funsi tes IQ, minat dan bakat. Tes IQ. Standar Progressive Matrics ( SPM ). Tes ini dibuat oleh JC. Raven (1938), tes ini untuk mengukur General Faktor Ability. Materi tes terdiri dari 60 item ( 60 soal ), yang terdiri dari 5 seri ( 5 set ). Tiap-tiap set terdiri dari 12 soal. Tes ini dapat disajikan secara individu maupun kelompok ( klasikal ). Dalam penyajian harus urut dari seri ke seri berikutnya. Untuk mengerjakan tes ini secara keseluruhan disediakan waktu 25 menit. Keuntungan dari tes ini yaitu termasuk tes intelegensi yang bebas kebudayaan bangsa yang mempergunakan tes tersebut (culture free). Tes SPM bertujuan untuk mengukur kecerdasan orang dewasa, yang paling banyak diungkap adalah

faktor general ( G Faktor ). Tes ini dapat dipergunakan untuk orang normal usia 6-65 tahun. Advanced Progressive Matrics ( APM ). Advanced Progressive Matrices ( APM ) merupakan salah satu alat tes nonverbal yang digunakan untuk mengukur kemampuan dalam hal pengertian dan melihat hubungan-hubungan bagian gambar yang tersaji serta mengembangkan pola pikir yang sistematis. Penyajian tes ini dapat dilakukan secara klasikal dan individu. Tes ini mengukur general factor dari spearman dan sebagian kecil spatial aptitude, inductive reasoning, dan perceptual accuracy. Tes ini disusun oleh J.C Raven pada tahun 1943. Tes APM terdiri dari dua set dan bentuknya non-verbal. Set pertama disajikan dalam buku tes yang berisikan 12 butir soal. Set kedua berisikan 36 butir soal tes. Untuk mengungkap kemampuan efisiensi intelektual. Tes APM ini

sesungguhnya untuk membedakan secara jelas antara individu-individu yang berkemampuan intelektual lebih dari normal bahkan yang berkemampuan intelektual superior. Digunakan untuk orang normal tanpa batasan waktu. Untuk mengukur kemampuan observasi dan clear thinking. Jika tes ini dipergunakan dengan batasan waktu tertentu selama 40 menit misalnya, berarti tes ini dapat diketahui untuk kecepatan dan ketepatan kemampuan intelektual. Tujuan tes ini adalah untuk mengatur tingkat intelegensi, di samping untuk tujuan analisis klinis. Culture Fair Scale Intelligence ( CFIT ). Tes ini diciptakan oleh Cattell (1920), dan mengalami beberapa kali revisi dan penelitian untuk mengetahui tingkat validasi. Tahun 1949, skala Culture Fair mengalami revisi, dan hasilnya tetap dipakai hingga sekarang, mengalami revisi lagi pada tahun 1961. Menurut manual aslinya, tes Kecerdasan Culture Fair dirancang sedemikian rupa, sehingga pengaruh kelancaran verbal, kondisi budaya, dan tingkat pendidikan terhadap hasil tes diperkecil. Tes kecerdasan Culture Fair berusaha menghindari antara lain: unsur-unsur (1) Bahasa, (2) Kecepatan, (3) Isi yang terikat budaya. Tujuan utama rancangan dan susunan tes ini adalah : v Menciptakan instrumen yang secara psikometris sehat, berdasar teori yang komprehensif, dengan validitas dan reliabilitas semaksimal mungkin.
4

v Memperkecil pengaruh-pengaruh budaya dan kondisi masyarakat yang tidak relevan, tetapi tetap mempergunakan/mempertahankan kegunaan prediktif untuk berbagai tingkah laku konkret. v Pelaksanaan penyajian dan pemberian skor yang sangat mudah dan penggunaan waktu tes yang relatif ekonomis. Tes ini dipergunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan faktor kemampuan mental umum atau kecerdasan. a. Skala 1 : Untuk anak usia 4-8 tahun, dan individu yang lebih tua yang mengalami cacat mental. b. Skala 2 : Untuk anak usia 8-14 tahun dan untuk orang dewasa yang memiliki kecerdasan di bawah normal. c. Skala 3 : Untuk usia sekolah lanjutan atas dan orang dewasa dengan kecerdasan tinggi. Weschler Adult Intelligence Scale ( WAIS ). Tes ini disusun oleh David Wechsler ( 1955 ). WAIS diciptakan dengan dasar pikiran inteligensi terdiri dari beberapa aspek : verbal, abstrak, numerikal, bahkan faktor G. Oleh karena itu dalam tes WAIS ada 2 kelompok susunan tes yaitu: Kelompok Verbal ( lisan ) dan Kelompok Performance ( Perbuatan ). WAIS bertujuan untuk mengungkap inteligensi orang dewasa. Tujuan pemisahan verbal dan performance IQ, adalah untuk keperluan diagnosis, jika misalnya seseorang yang mendapat handicap dalam bidang verbal atau cultural. Seperti dalam segala tes psikologi, pemberian WAIS secara layak meminta penguji yang mampu, bahan-bahan yang teratur, ruangan testing yang sesuai ( tenang ), dan waktu yang cukup. Materi tes harus dijaga dari pandangan subjek, sampai sub - tes itu disajikan dalam testing. WAIS ada 2 kelompok susunan tes yaitu : kelompok verbal ( lisan ) dan kelompok non verbal ( perbuatan ). Skala Verbal terdiri dari : a. Informasi. Berisi 29 pertanyaan mengenai pengetahuan umum yang dianggap dapat diperoleh oleh setiap orang dari lingkungan sosial dan budaya sehari-hari dimana ia berada.

b. Rentang angka. Berupa rangkaian angka antara 3 sampai 9 angka yang disebutkan secara lisan dan subjek diminta untuk mengulangnya dengan urutan yang benar. c. Kosa kata. Berisi 40 kata-kata yang disajikan dari yang paling mudah didefinisikan sampai kepada yang paling sulit. d. Hitungan. Berupa problem hitungan yang setaraf dengan soal hitungan di sekolah dasar. e. Pemahaman. Isi sub - tes ini dirancang untuk mengungkap pemahaman umum. f. Persamaan. Berupa 13 soal yang menghendaki subjek untuk menyatakan pada hal apakah dua benda memiliki kesamaan. Untuk skala performansi adalah sebagai berikut : a. Kelengkapan gambar. Subjek diminta menyebutkan bagian yang hilang dari gambar dalam kartu yang jumlahnya 21 kartu. b. Susunan gambar. Berupa delapan seri gambar yang masing-masing terdiri dari beberapa kartu yang disajikan dalam urutan yang tidak teratur. c. Rancangan balok. Terdiri atas suatu seri pola yang masing-masing tersusun atas pola merah putih. Setiap macam pola diberikan di atas kartu sebagai soal. d. Perakitan objek. Terdiri dari potongan-potongan langkap bentuk benda yang dikenal seharihari yang disajikan dalam susunan tertentu. e. Simbol angka. Berupa Sembilan angka yang masing-masing mempunyai simbolnya sendiri-sendiri. Subjek diminta menulis simbol untuk masing-masing angka di bawah deretan angka yang tersedia sebanyak yang dapat dia lakukan selama 90 detik.

Tes Bakat. Differential Aptitude Test ( DAT ). Differential Aptitude Test ( DAT ) adalah tes yang disusun oleh George K. Bennet, Harold G. Seashore, & Alexander G. Wesman. Awalnya tes ini dilatarbelakangi oleh para ahli psikologi bahwa kemampuan mental tidak hanya dari satu faktor saja melainkan banyak faktor sehingga dibutuhkan suatu tes yang dapat mengukur bermacam-macam faktor dengan beberapa skor sesuai dengan kemampuan yang diukur. Tes ini dikembangkan pada tahun 1947 dengan memadukan prosedur ilmiah dan prosedur pembakuan yang baik untuk mengungkap kemampuan ( ability ) pria dan wanita pada para siswa kelas 3 SMP sampai dengan siswa kelas 3 SMA untuk tujuan bimbingan kependidikan dan bimbingan karir, tes DAT ini lalu direvisi beberapa kali pada tahun 1963, 1973, 1981 dan disusun berdasarkan teori multiple factors dari Thurstone. Dengan kata lain tes DAT bertujuan untuk konseling sekolah atau penjurusan & seleksi pekerjaan. Deskripsi materi DAT : a. Penalaran Verbal ( Verbal Reasoning ). Tujuannya untuk mengetahui seberapa jauh seseorang dapat mengerti ideide dan konsep-konsep yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata, selain itu, untuk mengetahui seberapa mudah seseorang dapat berpikir dan memecahkan masalah yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata. b. Kemampuan Angka ( Numerical Ability ). Tujuan dari materi ini adalah mengungkap pemahaman relasi angka dan menangani konsep angka, mengetahui seberapa baik seseorang memahami ide-ide yang diekspresikan dalam bentuk angka, seberapa jelas dapat berpikir dan menalar angka. c. Penalaran Abstrak ( Abstrak Reasoning ). Suatu instrument non verbal yang mengungkap penalaran individu. Individu harus menentukan asas atau prinsip, menentukan perubahan gambar, serta memberi tanda.

d. Kecepatan dan Keteitian Klerikal.

Tujuannya adalah untuk mengukur kecepatan memberi jawaban atau tanggapan dalam suatu persepsi sederhana, mengungkap kecepatan persepsi, mengingat dengan cepat, kemampuan memberi tanggapan. e. Penalaran Mekanikal ( Mechanical Reasoning ). Tes ini disusun berdasarkan tes pemahaman mekanikal yang disusun oleh Binet. Tujuannya adalah untuk mengungkap bagaimana seseorang menangkap prinsip umum. Melihat seberapa baik seseorang memahami hukum yang mendasari alat alat, mesin mesin dan alat sederhana. f. Relasi Ruang ( Space Reasoning ). Mengungkap seberapa baik seseorang dapat membayangkan atau

membentuk gambar gambar dari objek objek padat dengan hanya melihat rencana dari atas kertas datar. g. Pemahaman. Mengukur kemampuan membedakan tata bahasa yang baik dan benar, tanda baca, dan penggunaan kata, serta untuk mengukur kemampuan

siswa/seberapa baik seseorang dapat mengenal kesalahan kesalahan tata bahasa, tanda baca, dan pemakaian kata dalam kalimat yang mudah. Kraepelin. Tes Kraepelin diciptakan oleh seorang psikiater Jerman bernama Emilie Kraepelin pada tahun 1856 1926. Alat tes ini terlahir karena adanya dasar pemikiran dari faktor-faktor yang khas pada sensori sederhana, sensori motor, perseptual dan tingkah laku. Pada mulanya merupakan tes kepribadian. Namun dalam pekembangannya telah berubah menjadi tes bakat, dengan cara merubah tekanan skoring dan interpretasi Tes ini untuk mengetahui bakat ( kemampuan ) seseorang dalam bekerja. Faktor-faktor yang dapat diungkapkan dengan tes ini adalah : a. Kecepatan Kerja ( Pan-Ker ), yang ditunjukkan pada berapa prestasi yang dicapai dalam mengerjakan tes. b. Ketelitian Kerja ( Tian-Ker ), yang ditunjukkan pada berapa kesalahan ( salah dan loncatan ) yang diperbuat dalam mengerjakan tes. c. Keajegan Kerja ( Jan-Ker ), yang ditunjukkan dengan irama kerja seseorang di dalam mengerjakan tes.

d. Ketahanan Kerja ( Han-Ker ), dengan ditunjukkan oleh garis ausdauer dalam mengerjakan tes. Tes Minat. Tes minat jabatan ini disusun oleh Lee dan Thorpe ( 1956 ). Inventori ini dirancang untuk mengukur dan menganalisis minat jabatan individu. Alat ini merupakan pengukuran performansi jabatan dan bukan tes kemampuan atau

keterampilan jabatan. Tujuan utama dari inventori ini adalah untuk membantu menemukan minat jabatan dasar pada individu. Informasi ini akan dapat dipergunakan untuk membantu individu yang bersangkutan menjadi pekerja atau orang yang berminat, memiliki penyesuaian diri yang baik, dan efektif. Pada tahun 1977/1978 T. Raka Joni, dkk. Mengadaptasi tes minat jabatan LeeThorpe. Tes yang diadaptasi meliputi 6 bidang minat yaitu: (1) pribadi - sosial (personal-social), (2) natural ( natural ), (3) mekanik ( mechanical ), (4) bisnis ( business ), (5) seni ( the art ), dan (6) sains ( the sciences ). Di samping itu perangkat yang sama dimaksudkan untuk mengungkap tipe-tipe minat yang berkaitan dengan ( i ) verbal, ( ii ) manipulatif, dan ( iii ) komputasional dan tingkat minat yang terdiri atas ( a ) tugas rutin ( tingkat rutin ), ( b ) tugas yang mempersyaratkan keterampilan ( tingkat menengah ), dan ( c ) tugas yang mempersyaratkan pengetahuan, keterampilan, dan pertimbangan keahlian ( tingkat profesional ). 4. Fungsi assesment teknik tes dalam kaitannya dengan kegiatan bimbingan dan konseling. Assesment teknik tes dalam kaitannya dengan kegiatan bimbingan dan konseling dapet diketahui dari fungsi tes itu sendiri, seperti yang diketahui tes digunakan untuk menguji individu dalam upaya mencari tau tentang sesuatu hal dari individu tersebut misalnya, tes IQ digunakan untuk mengetahui tingkatan intelegensi individu yang dites dan begitu pula dengan tes yang lainnya. Pada intinya setiap tes tertentu mengukur aspek individu tertentu misalnya tes yang berada pada ranah afektif digunakan untuk mengukur aspek afektif pada individu. Dalam kaitannya dengan bimbingan dan konseling, berbagai macam bentuk tes yang ada dapat digunakan untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh siswa di sekolah, misalnya dengan menggunakan tes hasil belajar dapat diketahui apakah siswa mengalami masalah atau tidak dalam proses belajarnya di sekolah, tes minat dan bakat dapat digunakan oleh konselor sekolah untuk melaksanakan layanan penempatan dan penyaluran untuk membantu siswa dalam memilih jurusan yang sesuai

atau tepat dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Jadi kesimpulannya assesment psikologi teknik tes tersebut berkaitan dengan kegiatan bimbingan dan konseling dapat digunakan untuk membantu konselor sekolah dalam hal ini guru BK untuk mengetahui permasalahan peserta didik yang dihadapinya dan juga dapat digunakan untuk pengumpulan data diri siswa guna membantu mereka kedepannya dan membantu konselor dalam melaksanakan tugasnya. 5. Cara mengetahui siswa yang mengalami permasalahan dari tes hasil belajar. Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk mengukur sejauh mana tingkat pemahaman siswa tentang materi pelajaran yang telah diberikan pada suatu saat tertentu misalnya pada 1 semester tertentu. Bentuk tes hasil belajar ini biasanya berupa ulangan baik itu ulangan harian, tengah semester maupun akhir semester. Tes hasil belajar ini merupakan tes kognitif. Dari pengertian tes hasil belajar tersebut dapat diketahui bagaimana cara menentukan siswa yang mengalami permasalahan, dikarenakan permasalahan ini diketahui dari tes hasil belajar maka masalah yang diperoleh dari tes hasil belajar ini adalah masalah belajar siswa atau individu. Jadi untuk dapat menentukan bahwa seorang individu tersebut mengalami masalah dalam hal ini masalah belajar dapat dilihat dari tes hasil belajarnya yaitu jika hasilnya di bawah KKM atau kriteria ketuntasan minimal maka dapat diketahui bahwa anak tersebut mengalami masalah dalam hal belajarnya. Sebagai contoh : Siswa dengan inisial IB sering tidak masuk sekolah dan tidak mengikuti banyak kegiatan belajar di kelas, sesuai dengan kalender pendidikan pada akhir semester diberikan ujian akhir semester dan IB ikut serta dalam ujian semester tersebut. setelah hasil ujian semester keluar, diketahui nilai yang diperoleh IB jauh di bawah KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ), sedangkan agar dapat melanjutkan ke tingkat selanjutnya seorang siswa harus memenuhi KKM tersebut. dan karena siswa dengan inisial IB ini tidak memenuhi kriteria tersebut maka dapat diketahui ia memiliki masalah belajar yang dalam bidang Bimbingan dan Konseling termasuk ke dalam bidang belajar. Nah di sini konselor dapat memberikan bantuan berupa bimbingan belajar kepada IB untuk menyelesaikan masalah belajarnya tersebut.

10

6.

Perbedaan antara orang cerdas dan orang pintar. Orang Cerdas. Orang cerdas sebenarnya berbeda dengan orang pintar, orang cerdas adalah orang yang mampu mengelola kepintaran yang ia miliki atau pun kepintaran orang lain, dalam hal ini mampu mengelola orang-orang pintar, orang cerdas dapat memilih atau memilah mana orang pintar yang dapat diajak bekerja sama atau mengerjakan pekerjaan tertentu dan dapat membantu dalam memperoleh keuntungan dari kombinasi kepintaran yang ada. Orang Pintar. Orang pintar adalah orang yang mampu mengolah, orang yang ketika memperoleh suatu informasi misalnya dengan membaca dari suatu sumber informasi maka orang tersebut sudah termasuk pintar, namun kepintaran tersebut hanya sampai di situ saja, orang pintar banyak memperoleh informasi/pengetahuan dari berbagai sumber dan dapat menghambat individu dalam mengambil keputusan karena pengetahuan yang banyak memberikan banyak informasi pula.

11