Anda di halaman 1dari 6

Altered State of Consciousness: WHAT and HOW? POSTED BY ADI W.

GUNAWAN 7 - AUGUST - 2011 3 COMMENTS | READS : 3,430 VIEWS Dunia pikiran adalah semesta maha luas dan dalam tak berbatas yang sangat menggo da untuk dijelajahi. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pikiran sudah pasti juga berhubungan dengan (kondisi) kesadaran. Setiap saat pikiran bergerak dengan sangat cepat dan sulit dikendalikan. Dalam sekejap kita bisa beralih kesadaran. Bila berdiskusi tentang kesadaran umumnya orang hanya mengenal dua kondisi yaitu sadar dan tidak sadar. Yang dimaksud dengan kondisi sadar adalah keadaan pikira n aktif dan mampu mengenali sekitarnya. Sedangkan kondisi tidak sadar biasanya d ihubungkan dengan keadaan tidur lelap di mana hubungan antara dunia dalam diri d an dunia di luar telah terputus. Tahukah anda bahwa antara kondisi sadar dan tidak sadar ini terbentang lapisan k esadaran yang sangat halus dan sangat beragam yang seringkali kita masuki , baik disengaja atau tidak, namun kita tidak sadar sedang berada dalam kondisi itu? Untuk bisa mengenali kondisi kesadaran yang lain dari biasanya maka kita membutuhk an satu acuan atau baseline. Kondisi kesadaran yang biasa kita alami dalam keseh arian atau disebut dengan kondisi kesadaran normal inilah yang kita gunakan seba gai baseline state of consciousness (b-SoC). Dengan demikian semua kondisi kesad aran yang di atas atau di bawah baseline adalah kondisi kesadaran lain dan kita sebu t dengan Altered State of Consciousness (ASC). Lalu, apakah Altered State of Consciousness (ASC)? ASC adalah suatu konfigurasi subsistem dari struktur psikologis dengan pola unik, dinamis, dan aktif. Strukt ur psikologis merujuk pada organisasi komponen bagian yang relatif stabil yang m enjalankan satu atau lebih fungsi psikologis. Contoh ASC antara lain kondisi tid ur, kondisi hipnosis, kondisi meditatif, kondisi kesadaran saat tegang, takut, a tau waspada, atau kondisi kesadaran di bawah pengaruh alkohol atau obat penenang . Sebagai suatu kondisi kesadaran ASC distabilkan oleh empat proses: 1.Loading Stabilization : proses stabilisasi ini membuat perhatian atau kesadara n dan energi psikis terpusat pada suatu struktur yang diinginkan dengan membanji ri sistem psikologis seseorang dengan tugas tertentu sehingga sistem tidak punya sisa energi untuk melakukan hal lain. 2.Negative Feedback Stabilization: proses stabilisasi ini bertujuan mengoreksi f ungsi struktur atau subsistem psikologis bila mereka menyimpang terlalu jauh dar i rentang operasi normal sehingga dengan demikian sistem dipastikan kembali stab il. 3.Positive Feedback Stabilization: proses stabilisasi ini bertujuan memperkuat a ktivitas dan atau memberikan pengalaman yang menyenangkan saat struktur atau sub sistem psikologis berfungsi dan berjalan dalam koridor atau batasan yang telah d itentukan. 4.Limiting Stabilization: proses stabilisasi ini membatasi rentang atau jangkaua n fungsi struktur dan subsistem psikologis yang bila beroperasi secara intensif akan membuat sistem menjadi tidak stabil. Loading Stabilization dapat, pada kasus tertentu, menjadi Limiting Stabilization namun kedua jenis stabilisasi ini tidaklah sama. Limiting Stabilization secara langsung mempengaruhi struktur atau subsistem tertentu, sementara efek dari Load ing bersifat tidak langsung dan beroperasi lebih banyak dengan cara mengkonsums i energi dan bukan mempengaruhi struktur secara langsung. Keempat proses yang dijelaskan di atas bertujuan agar ASC menjadi stabil sehingg a seseorang bisa tetap berada dalam kondisi kesadaran itu, dalam rentang waktu t ertentu. Untuk mudahnya begini. Keempat proses ini kita analogikan sebagai strategi untuk mengendalikan seseorang agar menjadi warga negara yang baik, yaitu dengan cara: 1.Kita menyibukkan dia dengan kegiatan yang menjadikannya warga negara yang baik , sehingga ia tidak punya waktu dan energi untuk melakukan hal lain. 2.Kita memberikan hadiah bila ia melakukan hal-hal yang baik atau positif. 3.Kita menghukum dia bila ia melakukan kegiatan yang tidak kita ijinkan atau ing inkan. 4.Kita membatasi kesempatannya untuk melakukan hal-hal yang tidak kita ijinkan. Saya beri contoh lain agar penjelasan di atas lebih mudah dimengerti. Pernahkah

anda mengalami, pada suatu saat, misalnya, pikiran anda sangat fokus memikirkan sesuatu, membaca buku, chatting, atau mengetik di komputer anda? Jawabannya pas ti pernah. Pertanyaan berikutnya, Pernahkah anda, dalam kondisi yang sangat fokus ini, tibatiba diajak bicara oleh seseorang, misalnya rekan kerja, anak, suami atau istri? Jawabannya juga pasti pernah. Sekali lagi saya bertanya, Saat anda dalam kondisi yang sangat fokus dan ditanya atau lebih tepatnya pola fokus anda diguncang oleh stimulus dari luar apa yang a nda rasakan atau lakukan? Saya yakin anda pasti akan mengalami antara lain hal berikut: 1.Mengabaikan stimulus yang berasal dari luar. Dengan kata lain anda tidak menan ggapi pertanyaan atau stimulus ini karena ada sedang sangat fokus. 2.Anda berusaha menanggapi pertanyaan atau memberikan respon pada stimulus ini n amun merasa sangat malas dan tidak nyaman. 3.Anda membutuhkan upaya ekstra untuk bisa mengalihkan perhatian atau pikiran an da yang sedang sangat fokus pada sesuatu hal untuk bisa memberikan respon yang b aik. Ini menimbulkan perasaan tidak nyaman. 4.Saat anda kembali pada kondisi fokus, seperti yang sebelumnya anda rasakan dan alami, maka perasaan anda menjadi nyaman kembali. Empat hal yang saya jelaskan di atas sebenarnya adalah hasil kerja dari empat pr oses yang menstabilkan ASC, yang sedang kita alami pada suatu saat, yaitu Loadin g, Positive Feedback, Negative Feedback, dan Limiting Stabilization. Lalu, bagaimana caranya untuk membawa seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal ke dalam kondisi ASC? Untuk membimbing seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal (b-SoC) masuk ke kondisi ASC melibatkan dua operasi dasar induksi berikut: 1.Pertama kita menggunakan disrupting force atau daya pengguncang pada b-SoC ber upa tindakan psikologis atau fisiologis yang mengguncang proses stabilisasi, bai k dengan mengintervensi atau dengan menarik perhatian,fokus, atau energi dari pr oses stabilisasi. Jika induksi ini berhasil maka daya pengguncang akan mendesak berbagai struktur atau subsistem ke ambang batas kestabilan fungsi dan selanjutnya melampaui batas ini dan dengan demikian merontokkan integritas sistem dan mengguncang kestabila n b-SoC sebagai suatu sistem. Setelah itu dilanjutkan dengan. 2.Di tahap kedua proses induksi kita menggunakan patterning forces atau daya pem bentuk pola selama masa transisi baik berupa tindakan psikis dan atau fisik deng an tujuan membentuk pola stuktur atau subsistem menjadi suatu sistem baru, yaitu ASC yang diinginkan. Selanjutnya sistem baru ASC harus membangun proses stabilisasiya sendiri jika in gin bisa bertahan. De-induksi, proses membawa subjek keluar dari ASC kembali ke b-SoC, sama dengan proses induksi. Dalam hal ini disrupting force digunakan untuk mengguncang kesta bilan ASC sehingga terjadi periode transisi dan selanjutnya b-SoC direkonstruksi dengan menggunakan patterning force. Operasi Induksi: Guncang (Disruption) dan Pembentukan Pola (Patterning) Operasi induksi yang pertama adalah mengguncang kestabilan b-SoC, mengganggu pro ses loading, positive dan negative feedback, dan limiting stabilization yang men jaga struktur psikologis beroperasi dalam rentang normal. Dengan demikian, dalam operasi awal, untuk menghasilkan ASC, perlu dilakukan gun cangan pada proses stabilisasi hingga satu titik di mana pola kesadaran normal t idak dapat lagi bertahan. Jika, misalnya, guncangan hanya dilakukan pada satu at au beberapa proses stabilisasi maka proses stabilisasi lainnya akan tetap memper tahankan keutuhan dan integritas sistem sehingga induksi yang dilakukan tidak me nghasilkan ASC. Proses stabilisasi dapat diguncang secara langsung bila mereka dapat dikenali, a tau bisa dengan cara tidak langsung yaitu mendorong fungsi psikologis tertentu m elampui batas fungsinya sehingga menjadi tidak stabil. Subsistem ini, misalnya, dapat diguncang dengan cara membanjirinya dengan stimuli, menghambat stimuli seh ingga tidak mencapai subsistem sehingga subsistem kehilangan stimuli, atau membe rikan susbsitem stimuli yang aneh yang tidak dapat diproses dengan cara biasa.

Selain cara di atas, untuk mengguncang proses stabilisasi fungsi b-SoC dapat jug a menggunakan obat. Demikian pula setiap prosedur yang melibatkan fungsi fisiolo gis secara intens seperti kondisi kelelahan yang parah atau olahraga. Operasi induksi yang kedua adalah menerapkan daya pembentuk pola, stimuli yang s elanjutnya mendorong fungsi psikologis yang telah goyah menuju pola baru yang di inginkan yaitu ASC. Sekarang mari kita lihat tiga contoh induksi untuk menghasilkan ASC, semua diawa li dari kondisi sadar normal (b-SoC): proses masuk kondisi tidur, induksi hipnos is, dan praktik meditasi. Masuk ke Kondisi Tidur Proses masuk ke kondisi tidur biasanya diawali dengan kita berbaring dalam ruang an yang tenang dengan penerangan yang redup, selanjutnya menutup mata, dan menja di rileks, tenang, nyaman. Hal ini serta merta menghilangkan sangat banyak loadi ng stabilization yang membantu menjaga kondisi kesadaran normal (bangun). Dalam kondisi yang tenang ini hanya ada sedikit stimuli yang diterima pikiran se hingga tidak dibutuhkan energi untuk memproses stimuli ini. Energi psikis lainny a, yang tidak terpakai, menjadi bebas. Sebagian dari energi yang terbebas ini ad a yang beralih fungsi menjadi energi yang meningkatkan imajinasi atau bentuk-ben tuk pikiran. Dengan semakin berkurangnya energi yang dibutuhkan untuk memproses stimuli dari lingkungan maka loading stabilization menjadi semakin lemah dalam m enjaga kondisi kesadaran normal. Berbaring dan rileks menghilangkan sumber loading stabilization utama lainnya ya itu input sensori yang berasal dari tubuh. Dalam kondisi ini input dari tubuh sa ngat minim. Dalam kondisi ini orang umumnya akan mengambil sikap bahwa tidak ada yang perlu dikerjakan, tidak ada goal yang perlu dicapai, tidak ada masalah yan g perlu diselesaikan, tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan. Sikap ini m engakibatkan pola yang selama ini menjaga kondisi kesadaran normal menjadi lemah , semakin lemah, dan akhirnya luruh dengan sendirinya. Dengan demikian kita masu k ke kondisi tubuh dan pikiran yang pasif, rileks, dan nyaman. Kondisi pasif ini bila berlanjut akan menarik keluar energi perhatian/kesadaran dari proses feedback stabilization. Tanpa adanya hal yang harus diperhatikan ata u dijaga maka tidak ada kebutuhan untuk mengawasi dan mengkoreksi penyimpangan f ungsi. Dengan demikian pikiran akan masuk ke kondisi yang lebih rileks lagi yang disebut dengan kondisi hypnagogic dan selanjutnya masuk ke kondisi tidur. Masuk ke Kondisi Hipnosis Ada sangat banyak cara atau prosedur untuk membawa subjek masuk ke kondisi hipno sis. Namun bila diperhatikan dengan saksama, semua prosedur ini mengikuti pola u mum yang mirip atau sama. Langkah pertama, biasanya, adalah dengan meminta subje k untuk duduk atau berbaring di kursi dengan nyaman. Hal ini bertujuan agar subj ek tidak perlu melakukan upaya apapun untuk mempertahankan posisi tubuhnya. Selu ruh tubuh subjek, mulai dari kaki hingga kepala, tersangga dengan baik oleh kurs i sehingga terasa sangat nyaman. Subjek juga diminta untuk pasrah dan merilekska n tubuhnya serileks mungkin. Langkah ini mengakibatkan beberapa efek. Pertama, jika subjek merasa cemas, yang mana perasaan cemas ini tampak dalam bentuk ketegangan di tubuh, maka dengan me rilekskan tubuhnya, perasaan cemas ini menjadi banyak berkurang. Dengan menguran gi dan membatasi kecemasan dalam diri subjek akan memudahkan subjek untuk masuk ke kondisi ASC, dalam hal ini kondisi hipnosis. Saat tubuh rileks dan diam maka jumlah stimuli yang tadinya diterima oleh resept or gerak yang ada di sekujur tubuh menjadi sangat berkurang, mirip dengan kondis i saat akan tidur. Dengan demikian keseluruhan tubuh mulai kehilangan kesadaran dan larut dalam keadaan rileks dan berakibat pada hilangnya loading stabilizatio n dan patterning force yang selama ini menjaga kondisi kesadaran normal (b-SoC). Langkah kedua, operator (hipnotis/hipnoterapis) meminta subjek untuk fokus pada suara si operator dan mengabaikan bentuk pikiran atau sensasi yang masuk ke pik iran subjek. Dalam kondisi normal pikiran subjek akan aktif melakukan scanning m emperhatikan kondisi dan situasi di lingkungannya guna menemukan stimuli yang pe nting di sekitarnya. Upaya scanning terus menerus ini membuat berbagai subsistem aktif dan saling ber tukar informasi dan energi sehingga subsistem cenderung terjaga dalam kondisi po

la kesadaran normal (terjaga/bangun). Dengan menarik energi perhatian/kesadaran dari tindakan memindai lingkungan subjek menarik sejumlah besar energi psikis da n menghentikan aktivitas pada sejumlah subsistem dan mengakibatkan proses loadin g dan patterning terganggu dan menjadi lemah. Langkah ketiga, operator biasanya akan meminta subjek untuk tidak perlu memikirk an apa yang dikatakan oleh operator namun cukup hanya mendengar secara pasif dan mengijinkan apa yang diucapkan operator dengan mudah terjadi, dialami, dan dira sakan oleh subjek. Dalam kondisi kesadaran normal subjek cenderung akan terus be rpikir, melakukan analisis atas apa yang ia dengar atau rasakan. Dengan meminta subjek untuk tidak berpikir dan pasrah menjalankan bimbingan operator maka hal i ni mengakibatkan loading stabilization menjadi lemah sehingga subjek mudah dibim bing masuk ke kondisi hipnosis (ASC). Langkah keempat, subjek biasa diminta untuk memusatkan perhatian pada satu objek tertentu, di samping suara operator, misalnya satu titik di tembok, cincin yang dipakai operator, api lilin, pendulum, hypnotic disc, dan sejenisnya. Pemusatan perhatian ini bertujuan untuk semakin mengurangi scanning pikiran terhadap ling kungan dengan tujuan seperti yang telah dijelaskan di atas. Langkah kelima, operator umumnya akan mensugestikan subjek merasa semakin rileks , semakin mengatuk, mata terasa semakin berat. Sugesti ini membangkitkan berbaga i memori yang berhubungan dengan kondisi mengantuk dan atau rileks dan ini memba ntu proses induksi karena mengantuk atau mata terasa berat berarti b-SoC mulai g oyah. Sugesti ini berfungsi mengguncang kestabilan b-SoC. Langkah keenam, dalam memberikan sugesti untuk rileks, operator mengatakan bahwa subjek akan mengalami atau masuk ke dalam kondisi yang mirip dengan tidur namun bukan seperti tidur yang biasa dialami di malam hari, subjek tetap sadar dan bi sa mendengar suara operator. Sugesti ini adalah patterning force yang spesifik. Sugesti yang mengatakan bahwa apa yang dialami subjek mirip dengan tidur bertuju an mengguncang kestabilan b-SoC. Operator tidak ingin subjek tertidur dan untuk itu ia memberikan patterning force untuk menghasilkan kondisi pasif yang mirip s eperti kondisi tidur namun subjek tetap bisa mendengar suaranya. Ketujuh, saat subjek sudah pasif dan rileks, operator selanjutnya memberikan sug esti yang berhubungan dengan otot tubuh. Operator biasanya mensugestikan otot-ot ot di seluruh tubuh subjek terasa berat dan semakin berat, semakin rileks. Demikianlah selanjutnya hingga subjek berpindah dari kondisi kesadaran normal (b -SoC) dan masuk ke kondisi hipnosis yang dalam (ASC). Contoh di atas adalah prosedur yang bersifat progresif. Artinya perpindahan dari b-SoC ke ASC berlangsung gradual. Lalu, bagaimana dengan teknik shock induction atau induksi dengan menggunakan kejutan pada sistem saraf? Sebenarnya secara prinsip sama saja. Shock induction dilakukan dengan cara secar a tiba-tiba, di luar dugaan subjek, operator melakukan kejutan pada sistem saraf subjek. Kejutan ini bisa dalam bentuk secara mendadak menarik lengan, tangan, a tau tubuh subjek. Intinya adalah kondisi kesadaran normal (b-SoC) secara tiba-ti ba, dengan cara yang sangat dahsyat diguncang, dengan disrupting force, sehingga menjadi kacau, dan setelah itu langsung diberikan satu sugesti Tidur yang merupak an patterning force. Saat kejutan dilakukan maka RAS (reticular activating system) akan terbuka sekit ar ? sampai detik. Melalui celah yang sangat sempit inilah patterning force dima sukkan dengan nada yang tegas, pasti, dan bersifat sangat paternal dan subjek la ngsung masuk ke kondisi hipnosis (ASC) yang dalam. Namun bila kondisi ini tidak diperdalam atau dipertahankan, misalnya tidak dilakukan deepening, maka subjek d engan sendirinya akan keluar dari kondisi hipnosis (ASC). Mengapa subjek bisa keluar sendiri? Karena proses stabilisasi lainnya, yang tida k terkena pengaruh guncangan shock induction, akan segera bekerja memulihkan dan mengembalikan kondisi kesadaran subjek ke kondisi sadar normal atau b-SoC. Meditasi dan Kondisi Meditatif Kita mengenal dua jenis meditasi. Pertama, Samatha Bhavana atau Meditasi Ketenan gan, dan yang kedua adalah Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang. Bag aimana proses seseorang berpindah dari kondisi kesadaran normal dan masuk ke dal am kondisi meditatif? Samatha Bhavana dilakukan dengan memusatkan perhatian pada objek tertentu. Objek

ini bisa berupa objek eskternal, seperti satu titik, cahaya lilin, atau objek m editasi lain, dan bisa juga objek internal seperti napas, atau naik turunnya per ut saat bernapas. Sama seperti dalam induksi hipnosis, meditator diminta untuk mempertahankan foku snya pada objek yang telah dipilih. Bila pikirannya beralih fokus atau memikirka n hal lain maka meditator membawa kembali pikirannya, dengan lembut, untuk kemba li fokus pada objek meditasi dan terus berupaya mempertahankan fokus ini. Membawa kembali, dengan lembut, pikiran yang lepas atau beralih fokus untuk bisa kembali fokus pada objek meditasi adalah hal yang penting. Jika meditator memak sa atau membawa kembali fokusnya dengan buru-buru atau melawan gangguan yang mun cul, maka hal ini justru mengirim sejumlah besar energi perhatian atau kesadaran pada gangguan ini dan membuat energi tetap mengalir di dalam sistem. Hal ini ju stru semakin menstabilkan kondisi kesadaran normal dan meditator tidak bisa masu k ke kondisi meditatif yang diinginkan. Pemusatan perhatian pada objek sangat membatasi ragam input yang masuk ke sistem , menghambat proses berpikir, mencegah pikiran melakukan scanning pada lingkunga n, dan secara umum mengurangi energi perhatian/kesadaran dan mengurangi aktivita s dari berbagai subsistem yang mempertahankan kondisi kesadaran normal. Saat meditator memusatkan perhatiannya pada satu objek, baik internal maupun eks ternal, akan menghasilkan fenomena yang tidak lazim yang disebabkan oleh kelelah an pada reseptor. Namun fenomena ini justru harus diabaikan karena akan menjadi penghalang atau batu sandungan dalam proses meditasi. Kebanyakan meditasi dilakukan dengan postur tubuh dalam posisi duduk tegak namun tetap nyaman, di mana tulang belakang, leher, dan kepala berada dalam satu gari s lurus. Hanya dibutuhkan sedikit tenaga otot untuk mempertahankan posisi ini. S ama seperti posisi nyaman yang dialami oleh subjek hipnosis, postur tubuh yang n yaman dalam meditasi membuat berbagai reseptor kinestetik menjadi nonaktif dan m engakibatkan pudarnya citra tubuh. Berbeda dengan proses masuk ke kondisi tidur, di mana seluruh tubuh sangat rilek s dan tidak perlu ada upaya apapun untuk mempertahankan postur tubuh, dalam pro ses meditasi masih dibutuhkan sedikit energi otot untuk mempertahankan postur tu buh agar tetap tegak. Dengan demikian meditator, serileks apapun kondisinya, tid ak akan masuk ke kondisi tidur. Bila sampai terjadi meditator tertidur maka ia t idak akan dapat mempertahankan posisi tubuhnya yang tegak dan akibatnya tubuhnya akan jatuh. Saat meditator berhasil mencapai kondisi meditatif yang dalam (ASC) maka ia akan mengalami suatu kondisi yang disebut dengan void, kosong, hening. Dalam kondisi ini s emua fungsi psikologis, untuk sementara waktu, menjadi tidak berfungsi. Tetap ad a kesadaran namun tidak ada objek kesadaran. Banyak orang telah mencoba bermeditasi mengikuti petunjuk atau langkah tertentu. Mereka bukannya berhasil mencapai kondisi kesadaran tertentu (ASC) yang diingin kan namun yang didapat adalah tubuh yang lelah, sakit punggung, dan kaki yang kes emutan. Duduk tegak dengan psotur yang benar dan mencoba melakukan teknik meditasi terte ntu memang akan mengguncang beberapa proses feedback yang menstabilkan kesadaran normal (b-SoC) anda. Namun jika proses lainnya masih aktif, misalnya pikiran ya ng terus aktif, maka tidak akan pernah terjadi pergeseran kesadaran dari b-SoC k e ASC. Vipassana Bhavana atau Meditasi Pandangan Terang dilakukan dengan postur tubuh y ang sama dengan Samatha Bhavana. Dengan demikian semua pengaruh postur dalam men gguncang b-SoC seperti yang terjadi dalam samatha bhavana juga terjadi dalam vip assan bhavana. Bedanya adalah dalam vipassana bhavana meditator menyadari sepenuhnya sensasi, p erasaan, bentuk pikiran yang muncul. Meditator hanya menyadari sepenuhnya, tidak menerima, tidak menolak, tidak menganalisa, tidak memberi komentar atau penilai an, dan tidak mengidentifikasi. Nonidentifikasi ini mencegah energi perhatian/kesadaran terperangkap dalam prose s otomatis dan habitual dalam mempertahankan kesadaran normal (b-SoC). Dengan de mikian, sementara kesadaran tetap terjaga, aktivitas berbagai subsistem psikolog is perlahan tapi pasti mulai berkurang dan pudar sampai satu titik di mana, seca

ra tiba-tiba, terjadi pergeseran kesadaran masuk ke kondisi meditatif yang dalam , yang ditandai dengan meningkatnya persepsi dan deotomatisasi subsistem Input-P rocessing. Proses berpindahnya kesadaran meditator dari kesadaran normal (b-SoC) ke kondisi meditatif (ASC) sama dengan proses yang terjadi pada subjek hipnosis. Bedanya a dalah bila meditator melakukan prosesnya sendiri sedangkan subjek hipnosis diban tu oleh operator.