Anda di halaman 1dari 9

I.

Definisi riba
- Kata riba dalam pengertian bahasa berarti: tambahan
- Dalam istilah syariat berarti: adanya penambahan terhadap jumlah pokok hutang
sebagai imbalan atas perpanjangan batas waktu pembayaran yang telah diberikan atau
imbalan atas penangguhan hutang.
Jauh sebelum lahirnya Islam, Allah SWT. telah melarang perbuatan riba. Agama islam
bukanlah satu-satunya agama yang mengharamkan riba, sebab agama Yahudi dan Nasrani
pun mengharamkannya.
- Riba menurut Yahudi

Dalam kitab perjanjian lama:
Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umatKu, orang yang miskin
di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap
dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.(Kitab Keluaran, ayat 25 pasal
22)
Janganlah engkau member uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga
makananmu janganlah kau berikan dengan meminta riba. (Kitab Imamat, ayat 36-37
pasal 25)
Namun kaum Yahudi membatasi larangan pengambilan riba dari dan untuk
bangsanya sendiri, sedangkan untuk bangsa lain pengambilan riba tidak dilarangnya,
sesuai dengan ayat yang tersebut di bawah ini:
Janganlah engakau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupu bahan
makanan atau apapun yang dapat dibungakan.
Dari orang asing boleh engaku memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah
engkau memungut bunga supaya TUHAN, Allahmu memberkati engkau dalam segala
usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya. (Kitab Ulangan, ayat 19-
20 pasal 23)

- Riba menurut Nasrani
Dalam kitab perjanjian baru:
Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan
menerima sesuatu daripadanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun
meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama
banyak. (Injil Lukas, ayat34 pasal 6)
Mengingat pengaruh riba yang buruk dan membhayakan bagi kehidupan umat
manusia, maka seluruh agama samawi telah mengharamkannya.
Menurut pandangan Islam, tidak mungkin Allah SWT. mengadakan diskriminasi
dalam soal riba di antara sesama hambaNya, karena Allah Maha Adil.
Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman:

Wahai hamba-hambaKu, Aku telah mengharamkan atas diriKu dan telah Aku tentukan
bahwa kedzaliman itu haram di antara kamu, maka jangnlah kamu saling mendzalimi.
(H.R.Muslim II/429)

Dalam Islam tidak ada perbedaan antara sesame manusia yang disebabkan
karena golongan , warna kulit atau suku, semua adalah hamba Allah SWT.
Berbeda dengan kaum Yahudi, karena keangkuhan mereka tidak mau mengakui
persamaan atau kenyataan ini, sebaliknya mereka mengatakan:

ge~4 1O_4O^- O4O=E4-4
}^4 W-^E4 *.- +^*:gO4
_ ~ =)U 7+OENC 7)O+^7O) W
4 +^
O=E ;}Og)` 4-UE _ NOg^4C }Eg
+7.4=EC COENC4 }4` +7.4=EC _ *.4
lUN` g4OEOO- ^O-4 4`4
E_4LuO4 W gO^O)4 +OOE^-
^g

Artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-
anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah
menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (kamu bukanlah anak-anak Allah dan
kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang
yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa
siapa yang dikehendaki-Nya. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya.
dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).(Q.S. 5:18

II. Pelanggaran kaum Yahudi terhadap Larangan Riba (Menurut Al-Quran)

Menurut kaum Yahudi, larangan riba itu hanya diperuntukkan bagi bangsa Yahudi saja,
oleh karenanya maka riba tidak dapat dipungut dari mereka, tetapi terhadap bangsa lain
larangan tersebut tidak diberlakukan.
Perilaku kaum Yahudi yang demikian itu disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran sebagai
berikut:

Ng-Ou4 W-_O4@O- ;~4
W-Og++ +OuL4N )_)U^4 44O^`
+EEL- gC4l^) _ 4^;4-;N4
4@OgUg gu+g` -EO4N V1g
^g
Artinya: Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah
dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang
batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang
pedih.(Q.S. 4:161)

=}g)` 4g~-.- W-1E-
4pO@OO47 =)U^- }4N
gOg-4OE` ..... ^jg

Artinya: Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah Perkataan dari tempat-
tempatnya(Maksudnya: mengubah arti kata-kata, tempat atau menambah dan
mengurangi)(Q.S.4:46)

uC4O 4g~--g 4pO+l+'4C
=U4-^- jgguC)
4pO7O4C -EOE- ;}g` g4gN *.-
W-+O4;=41g gO)
44E 1E1)U~ W uC4O _-
Og)` ;e4:4- j_CguC uC44
_- Og)` 4pO+lO'4C ^__
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab dengan
tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk
memperoleh Keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang
besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.(Q.S. 2:79)

E): jg^^4^ _VOg)`
_ELE E4UEE_4
_4OU~ LO4OO~ W
]O@OO47 =)UE:^-
}4N gOg-4OE` W-OOOe4 EEO
Og)` W-NOgO gO) ^@.
(tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras
membatu. mereka suka merobah Perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya[407], dan mereka (sengaja)
melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya,..(Q.S. 5:13)
[407] Maksudnya: merobah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi.


ge~4 ...E^U7 W-~u
-4O4^ OEUg E-E;C
+.- _ 4pOEO4C4 O) ^O-
-41=O _ +.-4 OUg47
4gO^^- ^gj
Orang-orang Yahudi berkata: .. Setiap mereka menyalakan api peperangan
Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak
menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.(Q.S. 5:64)

Dari ayat-ayat di atas tampak jelas betapa keangkuhan kaum Yahudi, hingga
menimbulkan rasa cinta diri sendiri secara berlebihan yang pada akhirnya
mengakibatkan malapetaka dan kesenjangan kepada seluruh umat manusia.
Adapun kondisi bangsa Arab pada masa jahiliyah sangat memprihatinkan. Sisa-
sisa ajaran agama yang diwarisi dari leluhur mereka berasal dari ajaran nabi Ibrahim
a.s, dalam rentang kurun puluhan abad hamper tak berbekas, kalaupun masih ada,
telah menyimpang. Satu-satunya yang masih terlihat menonjol hanya upacara haji,
karena adanya Kabah di kota Mekkah.

III. Menjalarnya sistem riba di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah

Sebagai akibat kontak hubungan bangsa arab dengan bangsa yahudi yang tinggal
tersebar di beberapa sudut pelosok Jazirah Arab maka system riba itu menjalar di kalangan
masyarakat Arab dan berperan dalam urusan muamalah.
Setelah lahirnya Islam, maka turunlah ayat-ayat mengenai riba secara bertahap. Dalam
tahapa pertama, ketika turun ayat di Mekkah, hanya bersifat sindiran agar dijauhi. Belum
merupakan larangan yang tegas, oleh karenanya tidak ada reaksi.
Mengingat kondisi masyarakat Jahiliyah yang terlibat sedemikian rupa dalam muamalah
riba, tidaklah mudah menerima larangan sekaligus, maka setelah dipertegas, timbullah
sanggahan dari sebagian orang, bahwa jual beli adalah sama dengan riba seperti disinggung
dalam ayat:

...... W-EO7~ E^^) 7^O4l^-
Nu1g` W-_O4@O- ^g_)
mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, .. (Q.S. 2:275)

Akan tetapi Allah SWT yang tidak dapat dirubah ketetapanNya menolak tanggapan mereka itu, dan
berfirman:

EEO4 +.- E7^O4l^-
4OEO4 W-_O4@O- _ ....... ^g_)
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba


IV. Perbedaan hukum antara jual beli dan riba

Tanggapan mereka yang menyamakan jual beli dengan riba seperti tersebut di atas
sama sekali tidak benar. Hutang dengan syarat berbunga, selama belum dilunasi,
perhitungan bunga berjalan terus, tidak satu saat pun yang terlewatkan, betapapun juga
singkatnya masa penangguhan yang dapat terlepas dari pembayaran bunga/riba.
Berbeda halnya dengan jual beli secara hutang. Sekalipun lebih mahal dari harga tunai,
tetapi jumlah harga yang terhutang tetap seperti semula, sekalipun pembayarannya
mengalami penangguhan sampai waktu tertentu atau kapan saja, sesuai dengan akad atau
persetujuan yang telah disepakati.

-g~-.- 4pOU4C
W-_O4@O- 4pON`O4C )
EE NO4C Og~-.-
+O7C*:EC44C }C^OO=- =}g`
+pE^- _ ElgO _^^)
W-EO7~ E^^) 7^O4l^-
Nu1g` W-_O4@O- EEO4
+.- E7^O4l^- 4OEO4
W-_O4@O- _ }E +47.~E}
OgNO4` }g)` gO)O
_OE_4^ N- 4` E-UEc
+NO^`4 O) *.- W ;4`4
E14N Elj^q CUE;
jOEL- W - OgOg
])-E= ^g_)
275. Orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian
itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang
telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka
kekal di dalamnya.

[174] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan
oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis,
tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti
penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini
Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
[175] Maksudnya: orang yang mengambil Riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan
syaitan.
[176] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

Kata bai (jual beli) dan kata riba dalam ayat tersebut di atas, masing-masing didahului dengan
awalan al, maksudnya untuk membedakan jenis, al riba diharamkan dalam segala bentuknya,
sedangkan al bai dihalalkan dalam segala macamnya, (selama tidak menyangkut enam jenis barang
atau sejenisnya yang tercakup hukumnya dalam ribafadhel menurut hadits Nabi).

V. Ketetapan pengharaman riba dengan Nash Qathi

Oleh karena permasalahan riba ini sudah jelas, maka Allah SWT. tidak lagi memberi
penjelasan dan dengan kekuasaanNya yang mutlak menetapkan : menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba.
Setiap muslim seharusnya mengetahui bahwa riba itu hukumnya haram, karena Al-
Quran telah menerangkan dengan sejelas-jelasnya baik dalam tahap-tahap turunnya ayat
maupun dalam kalimat-kalimatnya.
Riba telah diharamkan dengan hokum nash yang qathI (pasti), oleh karenanya tidak
boleh ada pertentangan tidak ada syubhat, dan karenanya pula maka tidak ada peluang bagi
ijtihad.
Oleh sebab itu janganlah hendaknya kita mencoba-coba untuk menghindari hokum
tersebut dengan bersandar pada pendapat atau ijtihad ulama. Perhatikan kembali arti akhir
ayat (Q.S. 2:275) tersebut di atas: orang yang menghalangi (mengambil riba), maka orang
itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Ahli tafsir berkata:
mereka yang mengingkari hokum Nash, dengan menggunakan kiasan yang salah, yaitu
mengkiaskan jual beli dengan riba, setelah ternyata jelas kesalahannya, dan barang siapa
menghalalkan apa yang diharamkan Allah, maka kafirlah mereka.

VI. Kejelasan definisi riba

Menurut Ibn Abbas, ayat yang terakhir diturunkan adalah ayat riba (H.R. Al-Bukhari VI, hal
33). Al Baihaqi meriwayatkan juga hadits yang sama dari Umar r.a. menurut Imam Suyuti
dalam bukunya Al-Itqan I hal. 27 yang dimaksud dengan ayat terakhir tersebut adalah

E_GC^4C -g~-.-
W-ONL4`-47 W-O4>- -.-
W-+OO4 4` 4O4 =}g`
W--O4@O- p) +L7
4-gLg`uG` ^g_g p) -
W-OUE^> W-O+^O
OE) =}g)` *.-
g).Oc4O4 W p)4 +:>
:U +E+7+O :g4O^`
]O)U;> 4 ]OU;>
^g__
278. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum
dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan
Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok
hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (Q.S. 2:278-279)

Ayat ini merupakan penegasan terakhir, dengan nada bersifat ancaman keras kepada mereka
yang beriman supaya menunggalkan sisa-sisa riba, apabila tidak mengindahkan peringatan ini, maka
Allah dan RasulNya akan memerangi mereka.
Ayat ini menambahkan kejelasan definisi riba, ialah apa yang selebihnya (tambahan) atas pokok
(hutang) betapapun kecilnya, merupakan perolehan jahat.


VII. Hokum pemakan riba sebagai penantang larangan Allah, dosa besar yang tak dapat
diampuni

Orang-orang yang memakan riba jelas menantang hokum Allah. Oleh karena itu mereka
menjadi orang-orang yang murtad yang boleh diperangi.
Dalam hubungan ini, Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan, bahwa Ibn Abbas
berkata:barangsiapa tetap menjalankan riba dan tidak menghentikannya, maka Al-Imam
berkewajiban memperingatkannya untuk bertaubat, bila ia tidak bertaubat, dihukum mati.
(Tafsir Ibn Katsir I hal. 587)
Tidak suatu perintah atau larangan yang ditentukan (oleh syariat) yang tidak
mengandung kepentingan atau hikmat hanya saja terkadang maslahat itu tidak terlihat jelas.
Setelah melalui penelitian secara cermat akhirnya hikmah larangan tersebut baru tampak.
Sedangkan mengatakan bahwa riba itu membawa maslahat, sementara Allah telah
melarangnya, merupakan suatu kelancangan atau koreksi terhadap kepastian Allah SWT.

;eO>4 eE)UE El)4O
+~;g L;4N4 _ 4g-4:N`
gOg-E)Ug _
4O-4 71gOO-
O1)UE^- ^)
115. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada
yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha
mengetahui. (Q.S. 6:115)

p)4 ;7gC> 4O4- }4` )
^O- EOwU_NC }4N
O):Ec *.- _
p) 4pON)l+4C ) O}--
up)4 - ) 4pONO^C
^g
116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan
mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)[500].

[500] Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-
apa yang telah Dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

Riba termasuk dosa besar, menurut riwayat Abu Hurairah, Rasulullah saw. Bersabda:
jauhilah ketujuh dosa besar(diantaranya disebut) syirik dan riba. (H.R. Abu Dawud, NasaI dan
Muslim)
Dalam hadits tersebut, riba digolongkan sederajat dengan syirik (menyekutukan Allah), dosa yang
terbesar dan tidak dapat diampuni.