Anda di halaman 1dari 2

Siang ini, cerita seorang teman menginspirasi saya untuk menulis. Apa isi ceritanya?

Baiklah akan saya ceritakan balik dalam tulisan ini. Teman bercerita ada 2 orang laki-laki bersahabat, salah satunya dia (teman saya). Salah satu dari 2 laki laki tersebut menyukai seorang wanita, namuuuuun si wanita justru menyukai sahabatnya. Yaa.. mungkin boleh dibilang cinta segitiga gitu lah. Mungkin...hehe...:D. Saudara-saudara mungkin bisa membayangkan bagaimana rasanya mencintai seseorang, tetapi tidak kesampaian? Bagaimana rasanya mencintai seorang, tetapi orang yang dicintai itu justru mencintai sahabat Anda? Bagaimana rasanya? Tersiksa? Galau? Gundah? Gulana? Mungkin itu yang dirasakan oleh teman saya.

Kalau saya boleh memberikan jawaban, anda atau siapapun tidak perlu galau gundah gulana dalam menghadapi problem seperti ini. Lha terus harus bagaimana? Cobalah bersihkan dan tata hati, coba baca kisah cinta Salman Al Farisi yang luar biasa dan menyentuh hati ini. Cinta di atas cinta, tentang pemahamannya atas hakikat cinta kepada wanita dan kebesaran hati dalam persahabatan. Bagaimana kisahnya? Inilah kisahnya... treng treng.. Salman Al Farisi (Salman dari Parsi), seorang sahabat Rasulullah shalallahualaihi wassalam yang mulia. Seorang sahabat yang ingin menikah, dengan wanita yang telah dia dambakan. Wanita dambaan itu adalah seorang Anshar. Wanita yang solehah. Wanita yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Wanita yang menjunjung Islam dan kaum muslimin. Wanita yang diharapkan akan memberikan keturunan seorang pejuang yang tangguh. Salman merasa asing di Madinah karena Madinah bukanlah tanah kelahiran dan bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Dia bukanlah orang Anshar. Tidak setiap orang di Madinah dia kenal. Sungguh, akan terasa aneh jika ada orang asing melamar seorang wanita penduduk asli. Tentu menjadi sebuah urusan yang rumit bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran. Maka disampaikannyalah keinginan hatinya itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda. Kemudian Salman pun mendatangi Abu Darda dan mengungkapkan semua perasaan gundahnya selama ini. Ternyata benar. Abu Darda sangat senang dengan curahan hati sahabatnya itu. Subhanallaah. . wal hamdulillaah. ., girang Abu Darda mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Disambutlah keinginan sahabatnya itu dengan kemauan untuk melamarkannya. Mahar pun disiapkan. Setelah persiapan dirasa cukup, kedua shahabat itu pergi menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa. Sesampainya di rumah sang wanita, Abu Darda disambut oleh keluarga sang wanita dan mulai menceritakan perihal maksud kedatangannya. "Saya adalah Abu Darda dan ini saudara saya Salman seorang Parsi. Kami telah dipersaudarakan atas nama Allah. Dia telah dimuliakan Allah dengan Islam,dan dia juga memuliakan Islam dengan amalan dan jihadnya. Di sisi Rasulullah, dia punya tempat yang mulia, sehingga baginda menyebutnya sebagai ahli-bait baginda. Dan kedatangan saya adalah bagi mewakili Salman untuk melamar puteri solehah dari rumah ini. Sungguh baik kata-kata orang Bani Najjar ini.

Kemudian tuan rumah pun tersenyum, dan membalas bicara, Adalah sebuah penghormatan bagi kami menerima kehadiran kalian. Dan adalah penghormatan bagi kami sekiranya bermenantukan sahabat Rasulullah yang mulia. Tetapi, hak untuk menerima atau menolak lamaran ini adalah pada puteri kami. Sang puteri, wanita Anshar yang solehah itu pun bersembunyi di balik hijab. Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Tiba-tiba suara lembut si ibu mulai terdengar mewakili sang wanita Anshar, puteri yang mulia itu. "Maafkan kami atas kejujuran kata dalam jawaban ini. Dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa puteri kami menolak lamaran Salman. Akan tetapi seandainya Abu Darda turut mempunyai keinginan yang sama seperti Salman, puteri kami menerimanya. Seperti disambar petir, semua orang terpana. Terkejut bukan main. Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Tidak disangka orang yang diinginkan si puteri adalah Abu Darda bukan Salman. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Menurut Anda, apa yang akan terjadi selanjutnya? Seketika, Salman pun berkata, Allahu Akbar! dengan mahar dan segala yang telah saya sediakan ini akan saya serahkan kepada sahabat saya Abu Darda untuk pernikahan kalian. Dan saya akan menjadi saksi bagi pernikahan mulia ini.

Subhanallah... Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah dengannya. Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya. Subhanallah.. Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. [HR Bukhari]