Anda di halaman 1dari 38

i

ANALISIS DAN PENGENDALIAN MUTU AIR SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUKSI MINUMAN BERKARBONASI DI PT COCA-COLA AMATIL INDONESIA

Laporan Praktik Lapang di Laboratorium Unit Pengolahan Air (UPA) PT Coca-Cola Botling Indonesia Nasional Plant

DIDIN RIZKI WIJAYA

DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

ii

ANALISIS DAN PENGENDALIAN MUTU AIR SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUKSI MINUMAN BERKARBONASI DI PT COCA-COLA AMATIL INDONESIA

DIDIN RIZKI WIJAYA

Laporan Praktik Lapangan sebagai syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Sains Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

iii

Judul Laporan : Analisis dan Pengendalian Mutu Air Sebagai Bahan Baku Produksi Minuman Berkarbonasi Di PT. Coca-Cola Amatil Indonesia Nama : Didin Rizki Wijaya NIM : G44090030

Disetujui Oleh

Dr. Gustini Syahbirin, MS. Pembimbing I

A. Yusuf Baehaqi, S.Kom Pembimbing II

Diketahui Oleh

Prof. Dr. Ir. Tun Tedja Irawadi, MS Ketua Departemen Kimia

Tanggal Lulus:

iv

PRAKATA
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karuniaNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Lapangan. Tema yang dipilih dalam praktek lapang yang dilaksanakan sejak bulan 2 Juli 2012 sampai 16 Agustus 2012 ini ialah Air produk, dengan judul Analisis Dan Pengendalian Mutu Air Sebagai Bahan Baku Produksi Minuman Berkarbonasi di PT. Coca-Cola Amatil Indonesia. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Dr. Gustini Syahbirin, MS. dan Bapak Ahmad Yusuf Baehaqi S.Kom selaku pembimbing, serta Bapak Manampin Sihombing, Bapak Sariman, dan Bapak Sudarto yang telah memberikan banyak pelajaran selama saya praktek kerja dan masukan mengenai penulisan laporan ini. Disamping itu penulis, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Edy Budianto, Bapak Elvizal, dan Bapak Totok Pramudyo beserta seluruh staf unit pengolahan air (water treatment), yang telah banyak memberi saran dan membantu selama proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih tak terhingga kepada papah, mamah, adik dan kaka serta seluruh keluarga atas nasihat, kasih sayang, bantuan materi, dan doa-doanya. Tidak lupa juga penulis ucapan terima kasih penulis sampaikan juga kepada rekan-rekan mahasiswa praktik lapang (Fira, Novi, Nita, Nouval, Reza, dan Okky) serta seluruh temanteman kimia 46 yang selalu memberikan semangat. Semoga laporan Praktik Kerja Lapangan ini dapat menambah wawasan keilmuan dan memberikan informasi yang bermanfaat.

Bogor, September 2012 Didin Rizki Wijaya

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Waktu dan Tempat Pelaksanaan KEADAAN UMUM PERUSAHAAN Sejarah Perusahaan Struktur Organisasi Visi dan Misi Lokasi dan Tata Letak Perusahaan TAHAPAN PROSES UNIT PENGOLAHAN AIR Penurunan Temperatur Air Klorinasi I Penampungan I Koagulasi Filtrasi Penampungan II (Tanki Fanta) Carbon filter I Penurunan Alkalinitas Klorinasi II Penampung III (Tangki Sprite, Diet Coke, dan Coca-Cola) Carbon Filter II Penyaringan Akhir METODE KAJIAN Alat dan bahan Metode Percobaan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Air Setelah Proses Penyaringan Hasil Analisis Air Setelah Proses Pencampuran Hasil Analisis Air Setelah Proses Penyaringan Akhir SIMPULAN DANA SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi vi vi 1 1 1 2 2 2 3 3 3 3 4 4 5 5 5 6 6 7 8 8 8 8 9 9 9 12 12 14 16 21 21 21 21 22

vi

DAFTAR TABEL
1 Data hasil analisis setelah proses penyaringan dengan depth filter 2 Data hasil analisis setelah proses pencampuran 3 Data hasil analisis air setelah proses penyaringan akhir 13 15 18

DAFTAR GAMBAR
Struktur grafit dari karbon aktif 6

DAFTAR LAMPIRAN
1 Stuktur organisasi Coca-Cola Amatil Indonesia Jakarta Plant 2 Diagram alir unit pengolahan air 3 Titik pengambilan sampel 4 Contoh perhitungan 5 Standar baku mutu air produk berdasarkan The Coca-Cola Quality System 6 Standar baku mutu air minum pada Peraturan Menteri Kesehatan (permenkes) 2010 No. 492/MENKES/per/IV/2010 7 Data klorin setelah penyaringan karbon sebelum penukar kation 22 23 25 26 28 29 30

PENDAHULUAN
Latar Belakang Air merupakan bahan baku yang paling utama dalam berbagai produk minuman. Sesuai dengan ketentuan badan kesehatan dunia (WHO) maupun departemen kesehatan, layak tidaknya air yang digunakan untuk kehidupan manusia seperti untuk minuman ditentukan berdasarkan persyaratan kualitas air. Air memiliki karakteristik fisika, kimia dan biologis yang sangat mempengaruhi kualitas air tersebut. Oleh sebab itu, pengolahan air mengacu kepada beberapa parameter guna memperoleh air yang layak untuk keperluan domestik terutama pada industri minuman. Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) adalah salah satu industri yang banyak menggunakan air sebagai bahan baku produksinya. Air berfungsi untuk melarutkan bahan-bahan yang digunakan, penyediaan air dengan kualitas yang tetap baik adalah prioritas utama (Arimurti 2010). Air yang digunakan sebagai bahan baku dari berbagai produk PT. Coca-Cola Amatil Indonesia harus memenuhi standar kualitas dari The Coca-Cola Quality System yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan 2010 NO.492/MENKES/per/IV/2010. CCAI Jakarta Plant mengolah air sendiri yang berasal dari sumur bor (deep well) dengan spesifikasi yang belum memenuhi untuk pembuatan minuman. Oleh sebab itu, sebelum digunakan air tersebut diproses terlebih dahulu di Unit Pengolahan Air (UPA) dengan melewati berbagai proses. Analisis kualitas air produk di Unit Pengolahan Air (UPA) Coca-Cola Amatil Indonesia ialah dengan menguji air tersebut secara fisik dan kimia. Adapun parameter yang digunakan untuk menguji kualitas air olahan CCAI diantaranya warna, penampakkan, bau, rasa, pH, TDS, total klorin, padatan terlarut total, sulfat, kesadahan total, kesadahan kalsium, klorin bebas, alkalinitas, kadar besi total, dan kekeruhan. Pemilihan beberapa parameter tersebut berdasarkan kepada Quality Management System (QMS) The Coca-Cola Company. Semua parameter tersebut akan memengaruhi kualitas air. Oleh karena itu, pengolahan dan pengontrolan air harus dianalisis dan dipantau secara rutin agar diperoleh air yang memenuhi standar QMS dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Tujuan Kegiatan prakik lapangan ini bertujuan menguji kualitas air dengan parameter alkalinitas, total klorin, pH, padatan terlarut (TDS), kekeruhan, klorida, besi, sulfat, kesadahan kalsium, kesadahan total dan warna, bau serta rasa, pada Unit Pengolahan Air (UPA) sebagai bahan baku produksi minuman berkarbonasi di PT. Coca-Cola Amatil Indonesia Jakarta Plant sesuai standar kualitas yang telah ditetapkan dalam The Coca-Cola Company (TCCC).

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilakukan pada tanggal 2 Juli sampai 15 Agustus 2012 di Laboratorium Unit Pengolahan Air (UPA) Coca-Cola Amatil Indonesia Jakarta Plant, yang terletak di jalan Teuku Umar Km 46 Desa Sukadanau Cikarang Barat - Bekasi.

KEADAAN UMUM PERUSAHAAN


Sejarah Perusahaan Coca-Cola merupakan produk minuman ringan yang dikenal dengan soft drink. Pertumbuhan Coca-Cola sebagai minuman ringan dan salah satu merek minuman ringan yang terkenal di dunia tentu tidak terlepas dari permulaan awal pertumbuhannya. Sejarah produk Coca-Cola semula berawal pada bulan Mei 1886 di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, ketika seorang ahli farmasi dan ahli minuman Dr. Jhon Styth Pemberton memformulasikan suatu ramuan khusus dengan gula murni menjadi sirup dan beraroma segar dan berwarna karamel yang kemudian dikenal dengan Coca-Cola. Coca-Cola semakin berkembang dan digemari masyarakat seiring dengan perjalanan waktu, maka timbul ide dari Joseph Beidenharn untuk membotolkan Coca-Cola. Sejak tahun 1890 distribusi Coca-Cola secara meyakinkan meluas sampai keluar negri. Pada tahun 1907 pembangunan pabrik-pabrik pembotolan Coca-Cola diluar negeri mulai digiatkan. Pembangunan dilakukan dengan cara memakai Franchise System, yaitu sistem kerja sama saling menguntungkan antara dua perusahaan ( The Coca-Cola Company dengan Pabrik Minuman) yang sama sekali terpisah modal kepemilikan dan manajemen. Coca-Cola mulai diperdagangkan di Indonesia pada tahun 1927 ketika Nederland Indische Mineral Water Fabriek (Pabrik Air Mineral Hindia Belanda) membotolkan untuk pertama kali di Batavia. Produksi Coca-Cola lumpuh pada zaman penjajahan Jepang (1942-1945), tetapi setelah kemerdekaan Indonesia, pabrik tersebut beroperasi dibawah nama The Indonesia Bootles Ltd. NV (IBL) dengan status perusahaan nasional. Tahun 1971 IBL menjalin kerjasama dengan tiga perusahaan Jepang, yaitu Mitsui Toatsu Chemical Inc, Mitsui & Co. Ltd dan Mikuni Coca Cola Bottling Co. membentuk PT. Djaya Beverages Bootling Company (DBBC). DBBC diambil alih oleh Coca-Cola Amatil Ltd yang berpusat di Sydney dan DBBC berubah nama menjadi Coca-Cola Amatil Indonesia Jakarta (CCAIJ) yang beralamat di jalan Letjen Suprapto Cempaka Putih, Jakarta Pusat (PT Coca-Cola Botling Indonesia 1999). Sejak berdirinya pabrik Coca-Cola pertama kali pada tahun 1932 hingga tahun 1980 telah berdiri sebelas perusahaan independen, termasuk CCAIJ. Guna memproduksi dan mendistribusikan produk The Coca-Cola Company di Indonesia, pada awal tahun 1990 beberapa diantara perusahaan tersebut bergabung menjadi perusahaan yang kini dikenal dengan nama Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) (PT Coca-Cola Botling Indonesia 1999). Karena perkembangan permintaan produk Coca-Cola yang semakin meningkat, kapasitas pabrik di

Cempaka putih tidak mampu lagi melayani dan karena adanya regulasi pemerintah mengenai aturan tata letak kota menyatakan bahwa lokasi pabrik harus berada di luar pemukiman penduduk. Tahun 1994 perusahaan membangun sarana produksi atau pabrik baru di jalan Teuku Umar Km.46 Desa Sukadanau Cikarang Barat-Bekasi. Tahun 1996 pabrik dengan kapasitas 33.000 botol per menit atau lebih dari 70.000.000 peti per tahun ini secara keseluruhan dioperasikan. Coca-Cola Amatil Indonesia memproduksi berbagai macam jenis minuman ringan dalam kemasan (sof drink) yang berkarbonasi, yaitu Coca-Cola, Sprite, Fanta, schweppes, dan A&W, minuman non karbonasi yaitu Minute Maid Pulpy Orange, minuman isotonik, air mineral, dan minuman teh dalam kemasan.

Struktur Organisasi Puncak pimpinan di Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) Jakarta Plant disebut Plant Manager. Plant Manager memiliki wewenang dan tanggung jawab terhadap semua aktivitas produksi dan operasi perusahaan serta bertugas memimpin, mengendalikan, mengkoordinasi dan mengevaluasi kegiatan penyelenggaraan perusahaan sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan tugasnya Plant Manager dibantu dan bekerja sama dengan bagian-bagian lain yang ada di bawah wewenangnya. Struktur organisasi CocaCola Amatil Indonesia disajikan pada Lampiran 1.

Visi dan Misi Coca-Cola Amatil Indonesia memiliki visi menjadi perusahaan produsen minuman terbaik di Asia Tenggara. Untuk mempertajam visinya, Coca-Cola Amatil Indonesia menetapkan misi sebagai berikut, yaitu memberikan kesegaran kepada pelanggan dan konsumen pelanggan kita dengan rasa bangga dan semangat sepanjang hari, setiap hari.

Lokasi dan Tata Letak Perusahaan Coca-Cola Amatil Indonesia Jakarta Plant berlokasi di jalan Teuku Umar Km 46, Desa Sukadanau, Cikarang Barat Bekasi 17520. Lokasi ini adalah lokasi yang cukup starategis sehingga mudah diakses dari segala arah.

TAHAPAN PROSES UNIT PENGOLAHAN AIR


Sistem pengolahan air di PT CCAI menggunakan sistem multiple barrier. Sistem ini disebut juga sistem tahapan berlapis, yaitu merupakan gabungan berbagai proses pengolahan air yang dirancang secara seksama untuk dapat

berfungsi secara sempurna (PT Coca-Cola Bottling Indonesia 1999). Gabungan proses-proses tersebut ditunjukkan untuk dapat memperoleh air yang memenuhi standar air dengan kualitas terbaik. Proses tersebut antara lain melalui proses pemompaan air dari sumur bor, pendinginan, klorinasi, flokulasi, filtrasi, demineralisasi, dan pelunakan (pelunakan air dengan menghilangkan kesadahan). Kegiatan pengolahan air ini dilakukan untuk menurunkan kekeruhan, mematikan mikroorganisme, mengurangi kadar bahan-bahan yang terlarut dalam air, menurunkan kesadahan, memperbaiki derajat keasaman, serta mengurangi bau, rasa, dan wana. Diagram alir pengolahan air (deep water) untuk air produk disajikan pada Lampiran 2.

Penurunan Temperatur Air Air yang dipompakan dari sumur memiliki temperatur sekitar 33 C. Hal ini akan menggangu proses klorinasi, karena gas klor akan mudah menguap pada suhu yang tinggi. Oleh karena itu, perlu adanya proses penurunan temperatur air yang terjadi pada menara pendingin (cooling tower). Selain itu, menara pendingin berfungsi untuk menghilangkan kandungan gas CH4 dan H2S yang dapat menyebabkan bau. Temperatur setelah melewati manara pendingin ini berkisar 27-25 C. Proses pendinginan air terjadi melalui proses pertukaran panas dari air ke udara. Menara pendingin ini dilengkapi oleh fan sirkulator udara untuk mengatur udara yang masuk, pipa distributor untuk membagi aliran air masuk, dan dinding berbentuk sarang tawon untuk meningkatkan luas dan waktu kontak permukaan air dengan udara.

Klorinasi I Proses klorinasi merupakan penginjeksian gas klor ke dalam air baku. Penginjeksian gas klor ini berfungsi sebagai disinfektan air minum atau mencegah kontaminasi air oleh bakteri luar selama proses pengolahan. Selain itu penginjeksian gas klor ini dapat mencegah tumbuhnya lumut dalam tangki-tangki penampung air (Sjarief 2005). Pada proses klorinasi, sebelum berperan sebagai disinfektan klorin yang ditambahkan berperan sebagai oksidator, seperti yang ditunjukkan pada reaksi berikut: H2S + 4Cl2 + 4H2O H2SO4 + 8HCl Jika kebutuhan klorin untuk mengoksidasi beberapa bahan kimia di perairan telah terpenuhi, klorin yang ditambahkan akan berperan sebagai disinfektan. Bila gas klor dilarutkan dalam air, maka akan terjadi reaksi hidrolisis yang cepat. Cl2 + H2O Cl- + HOCl + H+ HOCl OCl- + H+ Senyawa Cl2, HOCL, dan OCl merupakan bahan aktif yang sangat efisien untuk membasmi bakteri (WHO 2004). Agar klorin bekerja secara efektif, penginjeksian dilakukan hingga kadar klorin di dalam air berkisar 1-5 ppm. Dalam proses digunakan gas klor karena efektifitas gas klor lebih besar (sampai

dengan 98%) dibandingkan dengan klorin cair (40-60%) atau kaporit (40%) (PT Coca-Cola Bottling Indonesia 1999). Penampungan I Setelah air baku diinjeksikan dengan gas klor, kemudian ditampung ke dalam tangki air baku (raw water tank). Proses penampungan ini berfungsi sebagai penyimpanan sementara air baku untuk menjaga kesinambungan prosesproses selanjutnya, memperlama kinerja dari klor yang terkandung dalam air, dan sebagai tempat pengendapan awal partikel-partikel kasar berukuran 100-1000 m.

Koagulasi Air baku dari air permukaan sering mengandung bahan-bahan yang tersusun oleh partikel koloid yang tidak bisa terendapkan secara ilmiah dalam waktu singkat. Partikel kolid umumnya berukuran antara 0.001 m sampai 1 m. Partikel yang terkandung dalam kisaran tersebut meliputi (1) partikel anorganik, seperti serat asbes, tanah liat, dan lanau/silt, (2) presipitat koagulan, dan (3) partikel organik, seperti zat humat, virus, bakteri, dan plankton (Droste 1997). Agar partikel tersebut dapat diendapkan dan disaring, partikel koloid harus dirubah menjadi partikel-partikel flok yang lebih besar sehingga mudah mengendap. Koagulasi merupakan proses penggumpalan melalui reaksi kimia, reaksi koagulasi ini dapat berjalan dengan menambahkan zat pereaksi (koagulan) sesuai dengan zat terlarut (Ravina 1993). Jenis koagulan yang dipakai pada UPA PT CCAI ialah besi(III)klorida (FeCl3), karena koagulan ini cukup efektif dalam menggumpalkan partikel-pertikel kecil yang terkandung dalam air sumur. Penambahan koagulan FeCl3 menjadikan kation dari koagulan akan menetralkan material yang terdapat dalam air seperti kalsium hidroksida. Adapun reaksinya sebagai berikut: 2FeCl3 + 3Ca(OH)2 2Fe(OH)3 + 3CaCl2 (Cheremisinoff 1995) Hasil reaksi tersebut membentuk senyawa Fe(OH)3, senyawa ini berupa endapan dan dapat membentuk flok-flok endapan. Air yang bertekanan dapat membuat luas permukaan kontak menjadi besar dan kation akan menyelimuti meterial sehingga terbentuk gumpalan halus (mikroflok). Selanjutnya proses flokulasi berlangsung dengan penggumpalan mikroflok yang membentuk padatan halus, lengket, dan lebih besar sehingga dapat mengendap (makroflok). Penambahan flokulan dapat menghilangkan kekeruhan yang ada dalam air (Alaerts dan Santika 1984).

Filtrasi Flok-flok yang terbentuk dalam proses koagulasi selanjutnya akan melewati proses penyaringan dengan cara melewatkan air hasil koagulasi tersebut ke depth filter. Depth filter ini terdiri dari dua lapisan, yaitu antrasit (lapisan atas) dan pasir

(lapisan bawah). Proses filtrasi yang terjadi pada saringan pasir, terjadi dengan memisahkan air dari kandungan kontaminan berupa partikel tersuspensi dan koloid, serta bakteri, dengan cara melewatkan air pada suatu media berpori. Antrasit memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan pasir. Lapisan antrasit ini berfungsi untuk menyerap bau, warna, dan rasa air. Selain itu, lapisan antrasit juga dapat mempertahankan kestabilan lapisan pasir yang berada dibawahnya dari pengaruh aliran air yang masuk dengan laju tekanan yang tinggi. Ukuran partikel antrasit yang relatif lebih besar ini memungkinkan tidak akan menyumbat pori-pori media pasir yang berfungsi sebagai media penyaringan.

Penampungan II (Tanki Fanta) Penampungan ini terjadi di dalam tangki untuk menjaga kesinambungan proses selanjutnya dan memperlama kerja gas klorin dalam mencegah bakteri yang tumbuh dalam air baku. Penampungan ini terhubung ke dua saluran pipa, yaitu satu pipa yang menghubungkan ke proses demineralisasi (carbon filter) dan pipa kedua tanpa melalui proses demineralisasi. Selanjutnya air yang melalui kedua pipa tersebut akan dicampur kembali dalam tangki sprite sebagai penampungan selanjutnya. Pembagian ini bertujuan untuk memperoleh nilai alkalinitas yang diinginkan.

Carbon filter I Air yang akan melalui proses penukaran ion harus dihilangkan kadar klorinnya, karena adanya klorin akan menyebabkan resin penukar ion akan rusak. Penghilangan klorin terjadi di dalam saringan karbon (carbon filter) yang berisi karbon aktif. Karbon aktif adalah arang yang telah mengalami proses aktivasi untuk meningkatkan luas permukaannya dengan jalan membuka pori-porinya sehingga daya adsorpsinya meningkat. Pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa karbon aktif berbentuk grafit, amorf. Karbon aktif tersusun dari atom-atom karbon berikatan secara kovalen membentuk struktur heksagonal datar. Setiap kristal karbon aktif biasanya tersusun dari 3 atau 4 lapisan atom karbon dengan sekitar 2030 atom karbon heksagonal pada tiap lapisan (Jankowska 1991).

Gambar Struktur grafit dari karbon aktif Proses penjerapan klorin berlangsung secara adsorpsi. Adsorpsi oleh karbon aktif bersifat fisik, artinya adsorpsi terjadi jika gaya tarik van der Waals oleh molekul-molekul di permukaan lebih kuat daripada gaya tarik yang menjaga adsorbat tetap berada dalam fluida. Adsorpsi fisik bersifat dapat balik sehingga adsorbat yang diadsorpsi karbon aktif dapat mengalami desorpsi (Roy 1995). Sifat ini dimanfaatkan oleh industri untuk proses regenerasi karbon aktif sehingga

pengolahan air menjadi lebih efisien. Sifat keaktifan karbon terjadi karena adanya radikal aktif dari karbon yang berikatan. Radikal aktif bersifat sangat reaktif dan dapat mengikat klor.

(Cheremisinoff 1995) Air yang telah bebas klorin akan dialirkan ke dalam cation exchanger melalui pipa yang berada di bawah tank, sedangkan karbon aktif yang mengandung adsorbat akan tetap tertahan didalam tank oleh adanya penyaring karbon (strainer).

Penurunan Alkalinitas Air baku hasil dari air sumur umumnya memiliki kadar alkalinitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu, untuk mendapatkan alkalinitas sesuai dengan yang diharapkan dilakukan dengan cara membagi jalur air menjadi 2 bagian, dimana bagian yang satu diproses dengan penukar kation (cation exchanger) sedangkan bagian yang lainnya tidak diproses. Air yang diproses dengan penukar kation memiliki nilai alkalinitas 0, sehingga untuk mendapatkan alkalinitas maksimum 85 ppm, maka kedua jenis air tersebut dengan perbandingan sedemikian rupa (dengan valve ataupun secara otomatis) dicampur sampai didapatkan alkalinitas maksimum 85 ppm. Alat penukar ion ini terdiri dari Weak Acid Cation (WAC) dan Strong Acid Cation (SAC). WAC ini merupakan resin yang bersifat asam lemah karena mengandung gugus karboksilat (-CCOH). Sedangkan SAC merupakan resin yang bersifat asam kuat yang mengandung gugus fungsional sulfonat (-SO3H). Prinsip kerja kedua resin tersebut adalah dengan cara mempertukarkan kation resin dengan ion yang lebih lemah (dalam hal ini kation) yang terikat pada senyawasenyawa alkalinitas, seperti garam-garam karbonat, bikarbonat, hidroksida atau sulfat. Adapun reaksi penukaran kationnya sebagai berikut: NaHCO3 + R-H R-Na + H2CO3. Pertukaran ion terjadi antara kation H+ dari resin dengan kation Na+, dimana kation Na+ diikat oleh resin, dan akan membebaskan asam karbonat (H2CO3). Asam karbonat yang dihasilkan akan menurunkan pH air sehingga bersifat asam (pH 3-4). Air proses pertama kali mengalir melewati tangki WAC, dimana proses pertukaran kation garam-garam sulfat (misalnya kalsium sulfat, magnesium sulfat) terjadi. Selanjutnya air melewati tangki SAC, dimana reaksi pertukaran kation garam-garam karbonat, bikarbonat, atau hidroksida terjadi. Serangkaian proses ini akan lebih mengefektifkan dan mengoptimalkan reaksi pertukaran ion, sehingga alkalinitas air dapat mencapai nol. Unit ini perlu diregenerasi jika air hasil proses menunjukkan alkalinitas tinggi. Proses regenerasi dilakukan dengan menggunakan larutan H2SO4 (PT Coca-Cola Botling Indonesia 1999).

Klorinasi II Air yang telah melalui penurunan alkalinitas (hasil proses pertukaran ion) selanjutnya dicampur dengan air yang tanpa melewati proses penurunan alkalinitas. Proses penghilangan kandungan klor pada tahap penyaringan dengan karbon mengakibatkan penurunan kandungan klor didalam air hasil pencampuran dan dapat mengakibatkan kembalinya bakteri yang terdapat dalam air proses. Oleh sebab itu, perlu adanya penginjeksian gas klor kembali untuk mencegah air dari kontaminasi bakteri.

Penampung III (Tangki Sprite, Diet Coke, dan Coca-Cola) Air hasil klorinasi selanjutnya ditampung di dalam tangki sprite, diet coke dan coca-cola yang dipasang secara paralel, kemudian tersebut dicampur dengan air dari Unit Pengolahan Air Jatiluhur (UPAR) yang sudah mengalami proses Reverse Osmosis (RO). Tahap ini berfungsi untuk memperoleh nilai alkalinitas yang diinginkan dan untuk menjaga kesinambungan proses selanjutnya.

Carbon Filter II Air produk yang akan digunakan untuk memproduksi berbagai jenis minuman harus bebas dari klorin (0 ppm). Oleh karena itu, klorin yang terkandung di dalam air produk harus dijerap kembali menggunakan karbon aktif. Selain itu, tangki karbon aktif ini berguna untuk menghilangkan warna, bau, dan rasa air.

Penyaringan Akhir Sebelum air produk dapat digunakan sebagai air baku pembuatan minuman berkarbonasi, air mengalami tahap penyaringan kembali. Penyaringan pada tahap ini menggunakan cartridge filter, yang berfungsi untuk menyaring karbon dan pengotor lain yang kemungkinan lolos dari saringan karbon dan untuk menyaring bakteri yang kemungkinan masih terdapat dalam air. Cartridge filter merupakan saringan yang terbuat dari lapisan kertas saring dengan ukuran pori 0.2 0.5 m. Ukuran pori-pori yang sangat kecil, memastikan serbuk karbon dan kotoran yang lolos dari saringan karbon, bahkan bakteri dengan ukuran 0.25 20 m sekalipun dapat tersaring. Proses produksi yang terus-menerus dapat mengakibatkan kotoran menumpuk pada permukaan saringan sehingga menjadi kotor dan harus diganti. Frekuensi pergantian penyaringan tergantung dari banyak tidaknya kotoran yang terkandung dalam air baku.

METODE KAJIAN
Alat dan bahan Alat-alat yang digunakan ialah spektrofotometer HACH DR/2010, turbidimeter (Turbiquant 1500 IR), pH meter, TDS meter, kuvet, gelas piala 250 mL, gelas ukur 50 mL, Erlenmeyer 250 mL, buret 25 mL dan 50 mL, dan pipet tetes. Bahanbahan yang digunakan ialah air sampel, H2SO4 0.02 N, EDTA (Etilen Diamin Tetra Asetat) 0.01 M, AgNO3 0.02 N, reagen besi fenantrolin, reagen DPD (N,N-dietil p-fenildiamin) klor bebas, reagen DPD total klor, sulfate reagent, T-solution, mix indicator, buffer indicator (pH 10), hardness indicator, indikator K2CrO4, calcium indicator, NaOH 1 N, dan akuades.

Metode Percobaan Penetapan Besi Penetapan besi menggunakan alat spektrofotometer DR/2010, dipilih metode 280 dan diatur pada panjang gelombang 510 nm. Sebanyak 25 mL akuades dimasukkan kedalam kuvet 1 (sebagai blanko) dan 25 mL sampel kedalam kuvet 2, kemudian ditambahkan satu ampul pereaksi besi fenantrolin lalu dihomogenkan. Kuvet 1 (Blanko) dimasukkan kedalam kompartemen sampel dan tekan tombol zero. Setelah muncul 0.00 mg/L pada layar, larutan sampel yang telah ditambahkan pereaksi (kuvet 2) diukur dengan menekan tombol read. Hasil pengukuran dibaca dan dicatat sebagai mg/L Fe (ppm Fe).

Penetapan Sulfat Penetapan sulfat menggunakan alat spektrofotometer DR/2010, dipilih metode 265 dan diatur pada panjang gelombang 450 nm. Sebanyak 25 mL akuades dimasukkan kedalam kuvet 1 (sebagai blanko) dan 25 mL sampel kedalam kuvet 2, kemudian ditambahkan satu ampul pereaksi sulfat lalu dihomogenkan. Kuvet 1 (Blanko) dimasukkan kedalam kompartemen sampel dan tekan tombol zero. Setelah muncul 0.00 mg/L pada layar, larutan sampel yang telah ditambahkan pereaksi (kuvet 2) diukur dengan menekan tombol read. Hasil pengukuran dibaca dan dicatat sebagai mg/L SO42- (ppm SO42-).

Penetapan Klorin Bebas dan Klorin Total Penetapan klorin menggunakan alat spektrofotometer DR/2010, dipilih metode 80 dan diatur pada panjang gelombang 530 nm. Sebanyak 25 mL akuades dimasukkan kedalam kuvet 1 (sebagai blanko) dan 25 mL sampel

10

kedalam kuvet 2, kemudian ditambahkan satu ampul pereaksi DPD (difenil parafenilen diamin) klor bebas untuk penetapan klorin bebas dan DPD klor total untuk penetapan klorin total, lalu dihomogenkan. Kuvet 1 (Blanko) dimasukkan kedalam kompartemen sampel dan tekan tombol zero. Setelah muncul 0.00 mg/L pada layar, larutan sampel yang telah ditambahkan pereaksi (kuvet 2) diukur dengan menekan tombol read. Hasil pengukuran dibaca dan dicatat sebagai mg/L Cl- (ppm Cl-).

Pengukuran pH Pengukuran pH menggunakan pH meter. Alat pH meter dinyalakan, lalu elektroda dibilas dengan akuades, kemudian pH meter dikalibrasi dengan larutan penyangga pH 4, 7 dan 10. Setelah itu elektroda dibilas dengan akuades dan air sampel yang akan diukur pH nya. Elektroda dicelupkan ke dalam sampel air dan nilai pH yang ditunjukkan pada alat dicatat.

Pengukuran Kekeruhan Pengukuran kekeruhan dilakukan menggunakan turbidimeter (turbiquant 1500 IR). Turbidimeter dinyalakan dan diamkan selama beberapa menit agar alat stabil. Kuvet dibilas menggunakan akuades dan air sampel, kemudian sampel dimasukkan ke dalam kuvet hingga penuh lalu kuvet ditutup dan dilap. Kuvet yang berisi sampel tersebut dimasukkan ke dalam kompartemen alat. Hasil dinyatakan dalam satuan NTU.

Penetapan Alkalinitas Sebanyak 50 mL sampel dalam erlenmeyer ditambahkan dengan 3 tetes Tsolution (natrium tiosulfat) dan 3 tetes mix indicator (campuran metal merah dan bromokresol hijau) sampai larutan berwarna biru, jika larutan berwarna merah muda berarti alkalinitas = 0 dan jika berwarna biru, larutan dititrasi menggunakan H2SO4 0.02 N sampai warna larutan berubah menjadi ungu kemerahan. H2SO4 0.02 N yang digunakan dicatat sebagai A. Besarnya alkalinitas dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Alkalinitas ( ppm CaCO3 ) = Keterangan: A = Volume H2SO4 yang terpakai (mL) B = Normalitas H2SO4 (mmol/mL) C = Volume contoh (mL) 50,04 = Bobot ekuivalen CaCO3 (mg/mmol) 1000 = Angka konversi dari mL contoh menjadi L contoh

11

Penetapan kesadahan Total Sebanyak 50 mL sampel dalam erlenmeyer ditambahkan dangan 3 tetes indikator buffer hardness (buffer pH 10) dan 3 tetes indikator hardness (ErioBlack T), jika berwarna biru berarti kesadahan total = 0 dan jika berwarna merah dititrasi dengan larutan EDTA 0.01 N hingga berwarna biru seulas. EDTA 0.01 N yang digunakan dicatat sebagai A. Besarnya kesadahan total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ( ) Kesadahan Total (ppm CaCO3) = Keterangan: A = Volume EDTA yang terpakai (mL) M = Molaritas EDTA (mmol/mL) C = Volume contoh (mL) 100.09 = Berat molekul CaCO3 (mg/mmol) 1000 = Angka konversi dari mL contoh menjadi L contoh

Penetapan kesadahan kalsium Sebanyak 50 mL sampel dalam erlenmeyer ditambahkan dangan 2 mL NaOH 1N dan 1 gram (1 spatula) indikator calcium hardness (campuran Calcon Eriochrome Blue Black R dan Sodium Chloride), jika berwarna ungu berarti kesadahan total = 0, dan jika berwarna merah muda dititrasi dengan larutan EDTA 0.01 N hingga berwarna ungu. EDTA 0.01 N yang digunakan dicatat sebagai A. Besarnya kesadahan kalsium dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: ( ) Kesadahan Total (ppm CaCO3) = Keterangan: A = Volume EDTA yang terpakai (mL) M = Molaritas EDTA (mmol/mL) C = Volume contoh (mL) 100.09 = Berat molekul CaCO3 (mg/mmol) 1000 = Angka konversi dari mL contoh menjadi L contoh

Penetapan Klorida Sebanyak 50 mL sampel dalam erlenmeyer ditambahkan dengan 3 tetes indikator K2CrO4 hingga larutan berwarna kuning, kemudian dititrasi dengan AgNO3 0.02N hingga warna larutan berubah menjadi merah kecoklatan. Kadar klorida dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: ( ) Klorida (ppm NaCl) = Keterangan: A = Volume AgNO3 yang terpakai (mL) N = Normalitas AgNO3 (mmol/mL)

12

C 58.44 1000 0.2

= Volume contoh (mL) = Bobot ekuivalen NaCl (mg/mmol) = Angka konversi dari mL contoh menjadi L contoh = Faktor koreksi

Pengukuran Total Dissolve Solid (TDS) Pengukuran TDS dilakukan menggunakan konduktometer. Alat dinyalakan dan ditekan tombol TDS, elektroda dicelupkan pada sampel dan tekan tombol 200 (hasil dinyatakan dalam satuan mg/L). Jika tidak terbaca, ditekan tombol 2 (hasil dinyatakan dalam satuan g/L), lalu dikalikan 1000 agar diperoleh satuan mg/L (ppm).

Pengujian warna, bau, dan rasa Pengujian warna, bau, dan rasa dilakukan secara kualitatif menggunakan indra penglihatan, penciuman, dan perasa.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis dan pengendalian mutu air yang akan dijadikan sebagai bahan baku minuman berkarbonasi di PT. Coca Cola Amatil Indonesia perlu dilakukan secara rutin, guna memperoleh air yang berkualitas baik. Berdasarkan TCCQS terdapat beberapa kriteria, baik secara fisik maupun kimia, yang harus dipenuhi agar syarat mutu air dapat terpenuhi yaitu bau, warna, rasa, klorin bebas, pH, alkalinitas, total klorin, TDS, turbiditas, klorida, Fe, Sulfat, kesadahan kalsium, dan kesadahan total. Setiap unit pengolahan air yang ada mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam mengendalikan parameter-parameter yang diuji, sehingga pengambilan contoh dilakukan pada tiga titik yang berbeda, yaitu setelah proses penyaringan awal, setelah proses pencampuran, dan setelah proses penyaringan akhir. Titik pengambilan sampel dapat dilihat pada Lampiran 3.

Hasil Analisis Air Setelah Proses Penyaringan Pengujian pertama, titik sampling dilakukan setelah air baku mengalami penurunan temperatur di menara pendingin, klorinasi, penambahan koagulan FeCl3, dan penyaringan dengan saringan pasir, kemudian air tersebut diuji kualitasnya. Contoh perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 4. Parameter yang diuji pada tahap ini, yaitu M alkalinitas, klorin bebas, kekeruhan, pH, bau, dan warna. Hasil analisis setelah proses penyaringan dapat dilihat pada tabel 1. Alkalinitas dalam air disebabkan oleh ion bikarbonat (HCO3-), karbonat 2(CO3 ), dan hidroksida (OH-) yang terlarut dalam air (Effendi 2003). Pada Tabel

13

1 dapat dilihat bahwa kadar M alkalinitas setelah penyaringan depth filter relatif tinggi dan tidak ada standar dikarenakan pada tahap ini belum ada perlakuan khusus untuk menurunkan nilai alkalinitas. Hasil analisis selama sepuluh hari menunjukkan nilai M alkalinitas berkisar antara 230.18-246.20 ppm. Kandungan alkalinitas yang tinggi ini diakibatkan kadar ion bikarbonat yang tinggi. Hanya ion bikarbonat yang menyebabkan alkalinitas pada air hasil penyaringan, karena pada saat dilakukan tes P alkalinitas memberikan hasil negatif atau P alkalinitas = 0, yaitu pada saat penambahan phenolphthalein warna merah tidak timbul (PT Coca Cola Botling Indonesia 1999). Tabel 1 Data hasil analisis setelah proses penyaringan dengan depth filter Parameter Uji Sampel Klorin M Alkalinitas Kekeruhan Bau dan kebebas pH (ppm) (NTU) Warna (ppm)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 236.19 231.18 244.20 243.19 232.19 242.19 230.18 240.19 246.20 240.19 1.26 1.15 1.30 1.10 1.31 1.05 0.72 1.05 1.25 2.41 1-3 0.48 0.52 0.30 0.42 0.48 0.50 0.48 0.48 0.48 0.50 < 0.5 7.32 7.21 7.29 7.22 7.00 7.02 7.23 7.31 7.41 7.00 6 - 12.5

Normal

Standar TCCQS

Normal

M alkalinitas adalah total alkalinity. Pengukuran nilai M alkalinitas dilakukan dengan menambahkan indikator T-solution (natrium tiosulfat) untuk mencegah gangguan klorin pada saat titrasi (PT Coca Cola Botling Indonesia 1999), lalu mix indicator. Mix indicator merupakan campuran dari indikator metil merah dan bromokresol hijau. Indikator metil merah memiliki kisaran pH antara 4.4-6.3, indikator ini memberikan warna kuning pada suasana basa dan warna merah pada suasana asam. Sedangkan, indikator bromokresol hijau memiliki kisaran pH antara 3.8-5.4, indikator ini memberikan warna biru pada suasana basa dan warna kuning pada suasana asam. Sehingga titik akhir penitaran M alkalinitas akan berada pada pH 4.3 dan ditandai dengan perubahan warna dari biru ke ungu kemerahan (Harvey 2000). Proses injeksi gas klor sangat mempengaruhi kadar klorin bebas yang terkandung dalam air baku. Tabel 1 menunjukkan bahwa hasil analisis klorin bebas pada umumnya memenuhi standar TCCQS yang berkisar 1-3 ppm dan memiliki kadar yang berbeda setiap ulangannya, hal ini disebabkan adanya jumlah suplai air yang berbeda setiap harinya. Disamping itu, terdapat kadar yang tidak memenuhi standar, yaitu pada ulangan ke-7 (0.72 ppm), hal ini dikarenakan volume penambahan klorin yang terlalu rendah atau diakibatkan proses produksi minuman yang terhenti sehingga proses pengolahan dan pendistribusian air

14

menjadi terhenti dan air hasil saringan tetap pada tangki (tidak terpakai), hal ini akan menyebabkan klorin menguap. Kadar klorin bebas yang lebih kecil dari standar, dapat mengakibatkan masih adanya mikroorganisme air. Oleh karena itu, pada klorinasi pertama perlu adanya penambahan volume gas klorin yang ditambahkan dengan cara memperbesar aliran gas klorin. Kadar klorin yang terlalu tinggi dari standar juga tidak baik, karena dapat membahayakan kesehatan manusia. Hasil analisis terhadap nilai kekeruhan (turbiditas) selama pengamatan memiliki nilai antara 0.30-0.52 NTU, nilai kekeruhan ini masih sesuai standar TCCQS, yaitu 0.50 NTU dan Standar baku mutu air minum pada Peraturan Menteri Kesehatan (permenkes) 2010 No. 492/MENKES/per/IV/2010 (Lampiran 5). Kekeruhan dalam air disebabkan oleh adanya zat tersuspensi (Alaerts dan Santika 1984). Walaupun nilai kekeruhan hasil analisis memenuhi standar, kekeruhan harus diminimalkan sekecil mungkin, sehingga jumlah koagulan FeCl3 harus ditambahkan. Koagulan ini berfungsi untuk menetralkan muatan partikelpartikel koloid sehingga dapat membentuk flok-flok yang memiliki ukuran yang besar dan tidak dapat menembus saringan pasir. Selain kandungan zat tersuspensi yang besar, nilai kekeruhan yang besar ini juga disebabkan oleh pori-pori media pasir yang sudah tersumbat sehingga kerja dari depth filter tidak maksimal dan harus di backwash. Derajat keasaman air hasil penyaringan ini relatif stabil berkisar antara 7.00-7.41, nilai ini masih dalam rentang standar TCCQS. pH pada air dipengaruhi oleh banyaknya senyawa karbonat, bikarbonat, hidroksida, karbondioksida terlarut, dan asam-asam mineral bebas. Warna dan bau menjadi indikator keberadaan bahan organik dan anorganik seperti plankton, humus, dan ion-ion logam (Effendi 2003). Pengamatan bau dan warna dilakukan secara kualitatif, yaitu berdasarkan hasil penciuman dan penglihatan oleh mata. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bau dan warna air setelah proses penyaringan bersifat normal (tidak berbau dan tidak berwarna). hasil ini sangat berbeda dengan air pada giant tank (penampungan pertama), yang memiliki warna keruh dan memiliki bau.

Hasil Analisis Air Setelah Proses Pencampuran Air hasil dari penyaringan menggunakan sand filter, ditampung dalam tangki fanta lalu didistribusikan kedua saluran pipa yang berbeda. Air pada pipa pertama, menuju penyaring karbon dan proses penukaran ion sedangkan air pada pipa kedua, tanpa melalui proses penukaran ion. Selanjutnya air dari kedua saluran tersebut dicampur kembali lalu diinjeksikan gas klorin. Air tersebut ditampung dalam tangki sprite dan dicampur kembali dengan air hasil reverse osmosis (RO). Pengujian kedua dilakukan pada air hasil pencampuran tersebut dengan parameter yang diuji, yaitu kadar alkalinitas dan klorin bebas. Hasil analisis setelah proses pencampuran dapat dilihat pada Tabel 2. Proses penukaran kation berfungsi untuk menurunkan tingkat alkalinitas air. Adanya klorin pada penukar kation akan menyebabkan resin menjadi rusak, sehingga sebelum masuk pada proses demineralisasi, klorin harus dihilangkan. Nilai kadar klorin sebelum masuk penukar kation dapat pada Lampiran 7. Pada

15

proses demineralisasi terjadi proses penukaran kation yang terdapat dalam resin dengan ion-ion dalam air. Ion hidrogen yang dilepaskan pada resin penukar kation asam lemah (WAC) akan bereaksi dengan karbonat menghasilkan bikarbonat dan bikarbonat membentuk asam karbonat yang tidak stabil dan akan terurai menjadi karbondioksida dan air.

Tabel 2 Data hasil analisis setelah proses pencampuran Parameter Uji Sampel Klorin keAlkalinitas bebas (ppm) (ppm)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 68.50 80.06 82.07 88.07 65.05 70.06 74.06 70.06 78.06 62.05 < 85 1.27 1.29 1.15 1.27 1.05 2.68 1.27 1.05 1.05 1.90 15

Standar TCCQS

2RCOOH

Ca2+ Mg2+ Fe2+ Mn2+ H+ H+ HCO3H2CO3

Resin CO32HCO3+ +

Ca(RCOO)2 Mg(RCOO)2 + Fe(RCOO)2 Mn(RCOO)2 Resin jenuh

2H+

CO2 + H2O

Terlihat dalam reaksi tersebut, proses penukaran ion pada WAC ini akan menyebabkan nilai alkalinitas menjadi turun. Namun, masih ada ion bikarbonat yang tidak terurai sehingga tidak menjadikan nilai alkalinitas menjadi 0 (nol). Oleh karena itu, dilakukan proses penukaran ion kedua dengan menggunakan resin penukar kation asam kuat (SAC). Prinsip penukaran kationnya sama seperti WAC, hanya saja reaksi penukarannya lebih kuat karena pada resin SAC memiliki sisi aktif, yaitu gugus sulfonat (-SO3H), sehingga dapat menguraikan ion bikarbonat yang lolos dari proses WAC menjadi karbondioksida dan air. Serangkaian proses ini akan lebih mengefektifkan dan mengoptimalkan reaksi pertukaran ion, sehingga alkalinitas air dapat mencapai nol. Penggunaan resin yang terus menerus akan menyebabkan resin menjadi jenuh, sehingga efektifitas dalam penukaran kation menjadi turun dan resin

16

tersebut perlu diregenerasi. Proses regenerasi ini yang dilakukan di PT. CCAI menggunakan larutan H2SO4 dengan konsentrasi 2-3 ppm. Ca(RCOO)2 CaSO4 Mg(RCOO)2 + H2SO4 2RCOOH + MgSO4 Fe(RCOO)2 FeSO4 Mn(RCOO)2 MnSO4 Resin jenuh Resin Air hasil penukaran kation yang memiliki kadar alkalinitas hampir mendekati angka 0 ini, dicampur dengan air yang tidak mengalami proses penukaran ion yang memiliki nilai alkalinitas tinggi, sehingga diperoleh air dengan alkalinitas sesuai standar yang ditetapkan TCCQS (<85 ppm). Berdasarkan Tabel 2 diatas diketahui kadar alkalinitas memiliki nilai fluktuasi yang tinggi, bahkan pada ulangan ke-4 kadar alkalinitas tidak memenuhi standar, yaitu 88.07 ppm. Hal ini diakibatkan karena resin telah jenuh, kadar alkalinitas air baku yang memang tinggi, atau pengaturan volume pencampuran air yang tidak sesuai. Namun, secara keseluruhan kadar alkalinitas air setelah proses pencampuran telah memenuhi standar TCCQS, yaitu <85 ppm. Penambahan klorin setelah proses pencmpuran bertujuan agar kadar klorin bebas yang terkandung dalam air tetap dalam standar yang ditetapkan TCCQS, yaitu 1-3 ppm. Pada Tabel 2 terlihat bahwa hasil pengujian klorin bebas setelah pencampuran telah memenuhi standar. Namun, hasil analisis kadar klorin bebas memiliki tingkat fluktuasi yang tinggi. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kadar klorin dalam air akibat klorinasi tahap awal.

Hasil Analisis Air Setelah Proses Penyaringan Akhir Sebelum air baku dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan minuman berkarbonasi, air harus melewati proses akhir, yaitu penyerapan dengan karbon aktif dan penyaringan akhir (polishing filter) menggunakan cartridge filter. Penyaringan menggunakan cartridge filter ini bertujuan untuk menyempurnakan hasil akhir, agar air benar-benar terbebas dari partikel-partikel halus, mikroorganisme maupun partikel karbon aktif yang lolos dan terbawa oleh aliran air yang melalui saringan karbon. Sebelum digunakan untuk proses produksi minuman berkarbonasi, air harus memiliki kualitas yang baik agar aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, perlu dilakukannya analisis terhadap air hasil penyaringan akhir dengan parameter uji seperti kandungan alkalinitas, total klorin, pH, TDS, kekeruhan, besi, sulfat, kesadahan kalsium, kesadahan total, klorida, serta warna, bau dan rasa air. Hasil analisis terhadap parameter tersebut disajikan dalam Tabel 3. Nilai alkalinitas hasil analisis berkisar antara 62.05-84.04 ppm. Nilai ini masih memenuhi standar yang ditetapkan TCCQS, yaitu <85 ppm. Perbedaan nilai alkalinitas yang berbeda-beda untuk setiap ulangannya disebabkan oleh perbedaan jumlah ion-ion penyebab alkalinitas seperti bikarbonat, karbonat, dan hidroksida dari proses sebelumnya. Selain itu, proses pengurasan tangki dilakukan dua kali dalam setahun, yang memungkinkan adanya kotoran/endapan yang terakumulasi pada dasar tangki dan ikut mengalir bersama air hasil pengolahan.

17

Berdasarkan kesetimbangan ion penyebab alkalinitas, bentuk bikarbonat terdapat pada pH netral atau sedikit asam. Berdasarkan nilai pH air yang diperoleh, dapat diketahui bahwa penyebab alkalinitas sepenuhnya diakibatnya oleh bikarbonat, karena bentuk bikarbonat hanya terdapat pada pH sekitar netral atau sedikit asam, sedangkan bentuk karbonat hanya terdapat pada pH >8.3. Alkalinitas air yang lebih besar dari 85 ppm dapat memengaruhi rasa dari produk, karena karbonat dan bikarbonat terutama kalsium dan magnesium dapat menetralkan keasaman dalam minuman berkarbonasi sehingga dapat mengubah sifat khas rasa asam pada minuman tersebut (PT Coca-Cola Botling Indonesia 1999). Kadar alkali yang tidak memenuhi standar juga dapat merusak struktur vitamin C yang terkandung dalam minuman (Eder 2004). Klorin total merupakan jumlah klorin antara klorin bebas dan klorin yang terikat dengan senyawa lain. Air hasil saringan akhir ini akan terbebas dari klorin karena terlebih dahulu dilewatkan ke saringan karbon untuk menghilangkan klorin, bau, warna, serta rasa pada air. Penentuan kadar klorin total ditentukan dengan menambahkan DPD Total chlorine pada sampel, kemudian kompleks berwarna merah yang terbentuk dianalisis menggunakan spektrofotometer DR/2010. Intensitas warna merah yang tampak sebanding dengan kadar klorin total. Kadar klorin hasil analisis memiliki nilai nol (0), ini berarti tidak ada klorin yang terkandung dalam air produk dan telah memenuhi standar kualitas TCCQS. Kandungan klorin di dalam air bersih yang disyaratkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan (permenkes) 2010 No. 492/MENKES/per/IV/2010 adalah 0.11.2 ppm. Tingginya kandungan residu klorin menimbulkan bau khas yang banyak dikeluhkan pelanggan. Selain itu, klorin cenderung berikatan dengan senyawa organik untuk membentuk klorinamina dan hal ini meningkatkan risiko kanker yang akan merusak hati, paru-paru, dan ginjal serta sistem saraf pusat (Jaguaribe 2005). pH pada air hasil penyaringan akhir berada pada kisaran 5.68-6.61. jika dibandingkan dengan nilai pH pada air hasil pengeboran yang berkisar antara 7.15-7.51, nilai pH setelah penyaringan akhir mengalami penurunan. Hal ini disebabkan tidak terurai sepenuhnya asam karbonat (H2CO3) menjadi H2O dan CO2 pada hasil proses penukaran kation, sehingga mengakibatkan nilai pH cenderung turun. Nilai pH yang diperoleh masih memenuhi standar yang telah ditetapkan, yaitu 4.9. pH yang terlalu asam tidak baik bagi kesehatan dan juga dapat menyebabkan terjadinya korosi pada pipa saluran air. Sedangkan pH yang terlalu basa dapat memicu terbentuknya kerak pada tangki dan pipa saluran air. Total Dissolve Solid (TDS) merupakan padatan yang tertampung dan dikeringkan pada suhu 105C setelah penyaringan air dengan kertas saring. Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa air produk mengandung TDS kecil jika dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan oleh TCCQS, yaitu 500 ppm. Hal ini berarti padatan yang terlarut baik anion maupun kation serta senyawa lain dapat tersaring dengan baik. Penghilangan padatan tersuspensi ini terjadi pada proses saringan pasir dan penukaran kation. TDS akan mempengaruhi rasa dari produk minuman berkarbonasi.

18 18

Tabel 3 Data hasil analisis air setelah proses penyaringan akhir Parameter Uji Sampel Alkalinitas ke(ppm) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Standar TCCQ S 68.05 80.06 80.06 84.07 64.05 70.06 74.06 70.06 62.05 62.05 < 85 Total klorin (ppm) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 pH 6.30 5.92 5.99 6.21 6.00 5.82 6.61 6.10 6.28 5.69 4,9 TDS (ppm) 113.00 89.00 130.00 78.00 91.00 111.00 101.00 106.00 103.00 114.00 < 500 Kekeruhan (NTU) 0.08 0.08 0.02 0.05 0.08 0.02 0.04 0.06 0.08 0.09 < 0,5 Klorida (ppm) 18.70 23.38 23.38 21.04 25.71 24.54 22.21 23.38 21.04 19.87 < 250 Fe (ppm) 0.01 0.05 0.02 0.04 0.06 0.05 0.03 0.01 0.01 0.01 < 0,1 Sulfat (ppm) 6.00 8.00 8.00 8.00 8.00 7.00 3.00 16.00 21.00 24.00 < 250 Kasadahan kalsium (ppm) 12.01 12.01 12.01 11.01 10.01 12.01 12.01 10.01 12.01 12.01 < 100 Kesadahan Total (ppm) 24.02 23.02 24.02 24.02 20.02 22.02 24.02 19.02 24.02 26.02 < 100 Warna, bau, dan rasa

Normal

Normal

19

Parameter yang diuji selanjutnya, yaitu nilai kekeruhan (turbiditas). Kekeruhan pada air hasil penyaringan akhir berkisar antara 0.02-0.09 NTU, nilai tersebut telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh TCCQS dan Peraturan Menteri Kesehatan (permenkes) 2010 No. 492/MENKES/per/IV/2010, standar baku mutu tersebut dapat dilihat pada Lampiran 5 dan 6. Nilai yang diperoleh membuktikan bahwa air yang dioleh unit pengolahan air di PT CCAI aman untuk digunakan pada produksi minuman berkarbonasi. Kekeruhan air setelah proses penyaringan akhir memiliki nilai yang kecil karena sebelum proses ini air dilewatkan terlebih dahulu melewati proses koagulasi dan penyaringan pada saringan pasir dan karbon, serta melewati proses polishing menggunakan cartridge filter. Nilai kekeruhan harus selalu dipantau, karena kekeruhan dapat mempengaruhi sifat fisik air tersebut. Air yang memiliki tingkat kekeruhan tinggi mengandung zat-zat yang dapat menjadi makanan bakteri, sehingga bakteri tersebut dapat berkembang biak. Hal ini tentu berbahaya bagi kesehatan jika mikroba tersebut bersifat patogen, Selain itu air minum yang memiliki kekeruhan tinggi tentu akan membuat pelanggan tidak berminat untuk membeli minuman berkarbonasi. Uji klorida pada hasil penyaringan akhir menunjukkan nilai yang rendah dibandingkan dengan nilai standar mutu yang telah ditetapkan TCCQS dan Peraturan Menteri Kesehatan (permenkes). Kadar klorida pada air hasil penyaringan berkisar antara 18.70-25.71 ppm. Besarnya peninjeksian gas klor pada saat desinfeksi akan memengaruhi nilai klorida karena klor akan tereduksi membentuk ion korida. Konsentrasi klorida yang berlebih membuat air akan terasa asin dan amis (Winarno 1986). Kadar besi total ditentukan dengan metode spektrofotometri menggunakan reagen 1,10-fenantrolin. Reagen 1,10-fenantrolin bersifat basa lemah dan dapat bereaksi membentuk ion phenantrolinium, phen H+ dalam medium asam. Senyawa kompleks ion besi memberikan warna yang dapat dianalisis dengan metode spektrofotometri, kompleks warna yang terbentuk ialah merah jingga. Dalam spektrofotometer HACH DR 2010 kadar besi total dalam sampel air dapat dibaca langsung pada display dalam satuan mg/L Fe (HACH Company 1997).

Fe(II)-1,10-fenantrolin merah (Rivai 1995) Hasil pengujian kadar besi total dapat dilihat pada Tabel 3. Dari data tersebut terlihat bahwa kadar besi total dalam air untuk produk minuman berkarbonasi masih berada pada batas baku mutu TCCQS dan permenkes. Kadar besi dalam air produk harus dimonitor atau diawasi dalam setiap waktu, karena kandungan besi yang berlebih dapat menyebabkan warna koloid merah (karat) akibat oksidasi oleh oksigen yang terlarut yang dapat menjadi racun bagi manusia. dan dapat memberi rasa yang tidak enak pada minuman (Sutrisno 2006), selain itu besi dapat menimbulkan kekeruhan didalam air.

20

Kandungan besi pada pada air produk untuk minuman berkarbonasi di CCAI Jakarta Plant tergolong baik. Bila terjadi adanya kandungan besi yang melebihi ambang batas yang diizinkan, maka keadaan ini dapat diatasi dengan penyaringan dalam proses pengolahan air. Besi yang bersifat terlarut sebagai ion Fe2+ diikat oleh resin penukar kation, sedangkan ion Fe3+ akan lolos karena resin penukar kation tersebut mempunyai kapasitas yang tinggi terhadap kation-kation bervalensi dua. Besi yang terhubung dengan zat organik dan zat anorganik, tersuspensi dan beberapa koloid akan tertahan pada carbon filter. Kandungan sulfat yang terdapat pada air hasil penyaringan akhir, juga menjadi pertimbangan PT CCAI, karena hal tersebut akan memengaruhi rasa dari produk minuman berkarbonasi. Hasil analisis menunjukkan air hasil penyaringan memiliki kadar sulfat yang cukup rendah dan memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan TCCQS. Hasil analisis sulfat yang bervariasi dikarenakan adanya sulfat yang tertinggal pada saat regenerasi WAC-SAC yang terbawa bersama air. Jumlah sulfat yang berlebihan akan menyebabkan suasana air menjadi asam dan rasa air menjadi pahit. Kesadahan kalsium dianalisis dengan metode titrasi menggunakan larutan EDTA dengan indikator calcium hardness. Kesadahan kalsium disebabkan adanya ion Ca2+ yang terlarut dalam air. Pada pH lebih tinggi, Mg(HCO3)2 akan mengendap membentuk Mg(OH)2. Oleh karena itu, pada penentuan kesadahan kalsium sebelum dititrasi, sampel air diberi 3 tetes NaOH 1N sehingga pH air menjadi lebih basa dan tidak terjadi kesalahan positif saat analisis. Berdasarkan Tabel 3 diatas diketahui bahwa kesadahan kalsium air memenuhi standar TCCQS, yaitu < 100 ppm. Selain kesadahan kalsium, diuji juga nilai kesadahan total air hasil penyaringan akhir. Kesadahan total merupakan jumlah ion Ca2+ dan Mg2+ yang terkandung dalam air (Alaerts dan Santika 1984). Hasil analisis kesadahan total disajikan dalam Tabel 3. Dari hasil dapat dilihat bahwa kesadahan air memiliki nilai relatif kecil jika dibandingkan dengan standar TCCQS, yaitu < 100. Nilai kesadahan total yang bervariasi dipengaruhi proses demineralisasi pada tahap sebelumnya. Kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ pada air yang tidak mengalami proses demineralisasi sangat berpengaruh pada tingginya nilai kesadahan air. Kesadahan air yang tinggi sangat mempengaruhi derajat karbonat. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kadar gas CO2 yang terdapat dalam minuman berkarbonasi sehingga merusak rasa dari minuman dan juga menyebabkan kerak pada pipa saluran air yang terbuat dari besi (PT Coca-Cola Botling Indonesia 1999). Warna, bau, dan rasa merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kualitas air. Analisis dilakukan dengan menggunakan panca-indra penglihatan dan penciuman. Dari hasil analisis, air hasil penyaringan akhir memiliki warna, bau, dan rasa yang normal atau dapat dikatakan air memiliki warna yang bening dan tidak memiliki bau, serta memiliki rasa yang tidak hambar.

21

SIMPULAN DANA SARAN


Simpulan Berdasarkan data hasil pengujian yang dilakukan pada air produk di CocaCola Amatil Indonesia Jakarta Plant, dengan parameter bau, warna, rasa, klorin bebas, pH, alkalinitas, total klorin, TDS, turbiditas, klorida, Fe, Sulfat, kesadahan kalsium, dan kesadahan total, diperoleh hasil bahwa kualitas air produk untuk minuman berkarbonasi telah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh TCCQS dan Peraturan Menteri Kesehatan (permenkes) 2010 No. 492/MENKES/per/IV/2010, Sehingga aman digunakan untuk produksi minuman.

Saran Perlu dilakukannya proses standardisasi larutan penitar, H2SO4 dan EDTA agar hasil analisis yang diperoleh dapat lebih dipercaya.

DAFTAR PUSTAKA
Alaerts G, Santika SS. 1984. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional Arimurti S. 2010. Analisis penyediaan dan distribusi air bersih untuk kampus dramaga Institut Pertanian Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Cheremisinoff N P. 1995. Handbook of Water and Wastewater Treatment Technology. New Jersey : Marcel Dekker Inc. Droste, Ronald L. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment. New York: John Wiley & Sons, Inc. Eder R. 2004. Handbook of Food Analusis. New York: Marcell Dekker, Inc. Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelola Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius. HACH Company. 1997. DR/2010 Spectrophotometer Handbook. USA: HACH Company. Harvey D. 2000. Modern Analytical Chemistry. United States of America: McGraw-Hill Higher Education. Jaguaribe EF, Medeiros LL, Barreto MCS, Araujo LP. 2005. The Performance of activated carbons from sugarcane bagasse, babassu, and coconut shells in removing residual chlorine. Brazillian J of Chem Eng 22:41-47. Jankowska H, Andrzes S, Jerzy C. 1991. Active Carbon. Ed ke-1. New York: Ellis Horwood. Permenkes No. 492/MENKES/per/IV/2010. Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air.

22

PT

Coca-Cola Botling Indonesia. 1999. Panduan Pengoperasian dan Pemeliharaan water Treatment Plan (WTP). Jakarta: PT CCBI National Plant Cibitung. Ravina L. 1993. Coagulation and Focculation. Virginia: Zeta meter. lnc. Rivai H. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: UI press. Roy GM. 1985. Activated Carbon Applications in the Food and Pharmaceutical Industries. Lancaster: Tachnomic. Sjarief R, Kodoatie RJ. 2005. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu edisi revisi. Yogyakarta: Andi. Sutrisno, Totok C. 2006. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: Rineka Cipta. Winarno, F.G. 1986. Air Untuk Industri Pangan. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

22 23

LAMPIRAN
Lampiran 1 Stuktur organisasi Coca-Cola Amatil Indonesia Jakarta Plant
Regional Technical Manager & Cibitung Plant Manager

PPIA Manager QS Manager

Secretary

Distributor Manager

Production Manager South

Production Manager North

M&E Manager

QA Manager

Logistic Manager

Plant Adm Manager

Plant HR Manager

Security Manager

Technical Operator Manager

PET Manager

23

Lampiran 2 Diagram alir unit pengolahan air


Gas Cl2

Gas Cl2

M
pompa

Carbon Filter

Carbon Filter Cl2 Air RO

Cooling Tower

Sand filter

Sand filter

Sand filter

Sand filter

Sand filter 1 2 3 WAC

M
Raw water pompa FeCl3 Deep well

Fanta tank Sprite tank 1 2 3 SAC Diet coke tank Coca-cola tank

Carbon Filter

M
Pompa

Carbon Filter Catrige filter 1 2 3

M
Pompa

Carbon Filter Water Product

M
Pompa

Carbon Filter

M
Pompa

24

25

Lampiran 3 Titik pengambilan sampel


Air baku

Pendinginan

Pre-chlorine

Penampungan awal (raw water) Penambahan FeCl3 Penyaringan dengan depth filter X1*

Penampungan pada tangki fanta

Air dipisah menjadi dua

Penyaringan dengan karbon aktif

Demineralisasi UPAR

Pencampuran

Post chlorine

Sistem Reverse Osmosis (RO)

Keterangan: X 1* : Pengambilan sampel setelah proses penyaringan awal X 2* : Penambilan sampel setelah proses pencampuran X 3* : Pengambilan sampel setelah proses penyaringan akhir

Penampungan pada tangki sprite, coke, dan coca-colaBlending

X 2*

Penyaringan dengan karbon aktif

Penyaringan dengan polishing filter X 3*

Air produk

26

Lampiran 4 Contoh perhitungan 1. Uji alkalinitas Contoh perhitungan setelah penyaringan awal ulangan ke-1: Titik awal titrasi = 0.0 mL Titik akhir titrasi = 11.8 mL Volume H2SO4 terpakai (A) = (titik akhir titrasi titik awal tirasi) mL = 11.8 mL 0,0 mL = 11.8 mL Volume contoh (B) = 50 mL Normalitas H2SO4 (C) = 0.02 mmol/mL Alkalinitas ( ppm CaCO3 ) = = = 236.19 mg/L 2. Uji kesadahan total Contoh perhitungan setelah penyaringan akhir ulangan ke-1: Titik awal titrasi = 0.0 mL Titik akhir titrasi = 1.2 mL Volume EDTA terpakai (A) = (titik akhir titrasi titik awal tirasi) mL = 1.2 mL 0.0 mL = 1.2 mL Volume contoh (C) = 50 mL Molaritas EDTA (M) = 0.01 mmol/mL Kesadahan Total (ppm CaCO3) ( ) = = = 24.02 mg/L 3. Uji kesadahan kalsium Contoh perhitungan setelah penyaringan akhir ulangan ke-1: Titik awal titrasi = 0.0 mL Titik akhir titrasi = 0.6 mL Volume EDTA terpakai (A) = (titik akhir titrasi titik awal titrasi) mL = 0.6 mL 0.0 mL = 0.6 mL Volume contoh (C) = 50 mL Molaritas EDTA (M) = 0.01 mmol/mL Lanjutan Lampiran 4

27

Kesadahan Total (ppm CaCO3) ( ) = = = 12.01 mg/L

4. Uji klorida Contoh perhitungan setelah penyaringan akhir ulangan ke-1: Titik awal titrasi = 0.0 mL Titik akhir titrasi = 1.0 mL Volume AgNO3 terpakai (A) = (titik akhir titrasi titik awal tirasi) mL = 1.0 mL 0.0 mL = 1.0 mL Volume contoh (C) = 50 mL Normalitas AgNO3 (N) = 0.02 mmol/mL Klorida (ppm NaCl)
( ) )

=
(

= = 18.70 mg/L

28

Lampiran 5 Equation 5 Standar baku mutu air produk berdasarkan The CocaCola Quality System No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter pH Alkalinitas Total Dissolved Solid (TDS) Kesadahan Total Klorida Sulfat Besi (Fe) Total Klorin Kekeruhan Satuan Ppm Ppm Ppm Ppm Ppm Ppm Ppm NTU Standar yang diperbolehkan TCCQS 4.9-8.5 <85 500.0 100 250 250 <0.1 0 <0.5

29

Lampiran 6 Standar baku mutu air minum pada Peraturan Menteri Kesehatan (permenkes) 2010 No. 492/MENKES/per/IV/2010 Kadar maksimum No Jenis Parameter Satuan yang diperbolehkan Parameter yang berhubungan 1 langsung dengan kesehatan a. Parameter Mikrobiologi Jumlah per 1) E.Coli 100 mL 0 sampel Jumlah per 2) Total Bakteri Koliform 100 mL 0 sampel b. Kimia anorganik 1) Arsen mg/L 0.01 2) Flourida mg/L 1.5 3) Total Kromium mg/L 0.05 4) Kadmium mg/L 0.003 5) Nitrit, (sebagai NO2-) mg/L 3 6) Nitrat, (sebagai NO3-) mg/L 50 7) Sianida mg/L 0.07 8) Selenium mg/L 0.01 Parameter yang tidak langsung 2 berhubungan denan kesehatan a. Parameter Fisik 1) Bau Tidak berbau 2) Warna TCU 15 3) Total at pdat terlarut (TDS) mg/L 500 4) Kekeruhan 5 5) Rasa Tidak berasa 6) Suhu C Suhu udara 3 b. Parameter Kimiawi 1) Alumunium mg/L 0.2 2) Besi mg/L 0.3 3) Kesadahan mg/L 500 4) Khlorida mg/L 250 5) Mangan mg/L 0.4 6) pH 6.5-8.5

30

Lampiran 7 Data klorin setelah penyaringan karbon sebelum penukar kation Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Total Klorin (ppm) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0