Anda di halaman 1dari 6

PERENCANAAN KONSTRUKSI LAS PERENCANAAN KONTRUKSI LAS Dalam bab ini akan dibahas klasifikasi sambungan las dan

bentuk alur ampuh las. Contoh-cotoh yang dipakai untuk hal ini diambil dari J,I,S yang sedikit banyak yang berhubungan erat dengan standar dari A.W.S.disamping klasifikasi juga akan dibahas secara singkattentang kekuatan sambungan las, mekanisme patah perubahan bentuk atau deformasi las dan tegangan sisa dalam lasan. Bab ini akan lebih mudah dimengerti bila mempelajarinya dikaitkan dengan pemilihan bahan dan penghindaran cacat las juga dibahas dan dihubungkan dengan prosedur dan perencanaan pengelasan. Untuk melengkapi akhir dari bukun ini ditambahkan standar bentuk alur kampuh dari JSSC (Japan Society of Steel Contruction). Klasifikasi sambungan las Klasifikasi Berdasarkan Jenis Sambungan Dan Bentuk Alur. (1) Sambungan Las Dasar sambungan las dalam kontruksi baja pada dasarnya dibagi dalam sambungan tumpul, sambungan T, sambungan sudut dan sambungan tumpang, sambungan dengan penguat dan smabungan sisi seperti yang ditunjukan dalam gbr. Pembagian lebih lanjut dari sambungan ini dapat dilihat, dalam gbr. (2) Sambungan Tumpul Sambungan tumpul adalah jenis sambunganyang paling efesien, sambungan ini dibagi lagi dalam dua yaitu sambungan penetrasi penuh dan sambungan penetrasi menjadi sambungan tanpa pelat pembantu yang masih dibagi lagi dalam pelat pembantu yang turut menjadi bagian dari kontruksi dan pelat pembantu yang hanya sebagai penolong pada waktu proses pengelasan saja. Bentuk alur dalam sambungan tumpul mempengaruhi efesiensi pengerjaan, efesiensi Sambungan dan jaminan sambungan. Karena itu pemilihan bentuk alur sangat penting, bentuk dan ukuran alur sambungan datar ini sudah banyak distandarkan dalam standar AWS, BS, DIN, GOST, JSSC dan lain-lainnya. Pada dasarnya dalam memilih bentuk alur harus menuju kepada penurunan logam las Sampai kepada harga yang terendah tidak menurunkan mutu sambungan. Karena hal ini maka dalam pemilihan bentuk alur diperlukan kemampuan dan penglaman

yang luas. Bentuk-bentuk yang telah distandarkan pada umumnya hanya meliputi pelaksanaan pengelasan yang sering dilakukan sehingga dalam pengelasan khusus bentuk alur harus ditentukan sendiri berdasarkan penglaman yang dapat dipercaya. (3) Sambungan bentuk T dan silang; Pada kedua sambungan ini secara garis besar dibagi dalam dua jenis yaitu jenis las dengan alur dan jenis las sudut, hal-hal yang dijelaskan untuk sambungan tumpul diatas juga berlaku untuk sambungan jenis ini, dalam pelaksanaan pengelasan mungkin sekali ada bagian batang yang menghalngi yang dalam hal ini dapat diatasi dengan memperbesar sudut alur. (4) Sambungan sudut ; Dalam sambungan ini dapat terjadi penyusunan dalam arah tebal pelat yang dapa menyebabkan terjadinya retak lamel, hal ini dapat dihindari dengan membuat alur pada pelat tegak seperti yang terlihat dalam pengelasan yang tidak dapat dilakukan karena sempitnya ruang maka pelaksanaanya dapat dilakukan dengan pengelasan tembus atau pengelasan dengan pelat pembantu. (5) Sambungan Tumpang Sambungan tumpang dibagi dalam 3 jenis. Karena sambungan ini efisiensinya rendah maka jarang sekali digunakan untuk pelaksanaan penyambungan konstruksi utama. Sambungan tumpang biasanya dilaksanakan dengan las sudut, dan las isi. (6) Sambungan sisi Sambungan sisi dibagi dalam sambungan las dengan alur dan sambungan las ujung. Untuk jenis yang pertama pada pelatnya harus dibuat alur sedangkan pada jenis kedua pengelasan dilakukan pada ujung pelat tanpa ada alur. Jenis kedua ini biasanya hasilnya kurang memuaskan kecuali bila pengelasannya dilakukan dalam posisi datar dengan aliran listrik yang tinggi. (7)Sambungan dengan pelat penguat Sambungan ini dibagi dalam dua jenis yaitu sambungan dengan pelat penguat tunggal dan dengan pelat penguat ganda. Sambungan ini mirip dengan sambungan tumpang. Dengan alasan yang sama dengan sambungan tumpang, maka sambungan ini pun jarang digunakan untuk penyambungan konstruksi utama. Klasifikasi Berdasarkan Cara Pengelasan

Sebenarnya banyak cara untuk mengklasifikasikan pengelasan, tetapi karena dalam hal ini akan di hubungkan dengan benttuk daerah las maka diambil klasifikasi yang didasarkan atas keadaan yang terjadi pada logam yang di las yaitu cair, padat dengan tekanan dan lain sebagainya. Berdasarkan ini sambungaan las dapat dapat dibagi dalam tiga jenis seperti diterangkan dibawah ini. (1) Sambungaan Las Cair Sambungan las cair adalah jenis yang paling banyak digunakan dalam konstruksi las yang masih dibagi lagi kedalam elektroda terumpan dan elektroda tak terumpan. Las busur listrik tangan, las busur listrik dengan pelindung gas dan las busur listrik terendaam kesemuanya termasuk dalam las busur listrik dengan elektroda terumpan. Sedangkan las TIG termasuk dalam las busur listrik dengan elektroda tak terumpan. (2) Sambungan Las Tekan Jenis sambungan yang dapat dilakukan dengan sambungan las tekaan adalah sambungaaan tumpang, di mana pelaksanaannya dapat berupaa las ledakan, las gesekan atau friksi las ultrasonic las tekan dingin, lastekan panas dan las resisteansi. (3) Sambungan Patri Sambungan patri adalah semacam sambungan las yang menggunakan sifat metalurgi dimana ligam dapat dipadu pada temperatur yang lebih rendah dari pada temperatur cairnya. Logam patri biasanya mempunyai kekuatan yang lebih rendah dari pada logam induk dan dibagi dalam dua jenis yaitu logam patri keras dan logam patri lunak yang dibedakan oleh suhu cairnya. PROSEDUR DAN TEKNIK PENGELASAN PROSEDUR DAN TEKNIK PENGELASAN Prosedur pengelasan adalah suatu perencanaan untuk pelaksanaan pengelasan yang meliputi cara pembuatan kontruksi las yang sesuai dengan rencana dan spesifikasinya dengan menentukan semua hal yang diperlukan dalam pelaksanaan tersebut. Karena itu mereka yang menentukan prosedur pengelasan harus mempunyai pengetahuan dalam teknologi las, dapat menggunakan pengetahuan tersebut dan mengerti tentang efesiensi dan ekonomi dari aktivitas produksi. Untuk setiap pelaksanaan pekerjaan harus dibuat prosedur tersendiri secara terperinci termasuk menentukan alat yang diperlukan yang sesuai dengan rencana pembuatan dan kualitas produksi.

Perencanaan Prosedur Pengelasan Prosedur pengelasan akan memberikan hasil yang baik bila sebelumnya telah dibuat Rencana tentang jadwal pembuatan, proses pembuatan, alat-alat yang diperlukan, bahan-bahan, urutan pelaksanaan, persiapan pengelasan, perlakuan setelah pengelasan, pengaturan pekerjaan dan lain-lainnya. Dalam memilih proses pengelasan harus dititik beratkan pada proses yang paling sesuai untuk tiap-tiap sambungan las yang aada pada konstruksi. Dalam hal ini tentu dasarnya adalah efesiensi yang tinggi, biaya yang murah, penghematan tenaga dan penghematan energi sejauh mungkin. Proses pengelasan yang dipilih harus sudah ditentukan dalam tahap perencanaan kontruksi. Dalam pemilihan ini sebaiknya dibicarakan diantara tiga yaitu pihak perencana, pihak pelaksana, dan pihak peniliti dilaboratorium dengan titik berat pada pelaksan. Dalam penentuan ini dengan sendirinya harus dipertimbangkan juga alat yang digunakan. Persiapan Pengelasan Hal-hal umum Mutu dari hasil pengelasan disamping tergantung dari pengerjaan lasnya sendiri juga sangat tergantung dari persiapanya sebelum pelaksanaan pengelasan. Karena itu persiapan pengelasan harus mendapatkan perhatian dan pengawasan yang sama dengan pelaksanaan pengelasan. Persiapan umum dalam pengelasan meliputi penyedian bahan, pemilihan mesin las, penunjukan juru las, penentuan alat perakit dan beberapa hal lainnya lagi. Dalam konstruksi baja umum proses las yang digunakan biasanya adalah las busur listrik dengan elektroda terbungkus, las busur listrik dengan pelindung gas CO2 dan las busur listrik terendam. Proses yang pertama paling banyak dan sangat umum dipakai tetapi kecepatan pengelasanya dan daya tembusnya lebih rendah bila dibandingkan dengan kedua proses yang lainya. Las busur listrik dengan pelindung gas CO2 mempunyai kecepatan dan daya tembus yang lebih tinggi tetapi memerlukan pelindung angin, komponenyang lebih banyak dan pengaturan gas. Pada las busur listrik terendam kecepatan dan daya tembus yang lebih tinggi lagi. Tetapi hanya dapat digunakan pada las datar saja dan lebih sesua untuk pelat tebal dari pada pelat tipis. Jelas disini bahwa masing-masing proses pengelasan mempunyai untung ruginya sendiri yang harus dipertimbangkan masak-masak dalam menentukan proses pengelasan yang akan digunakan.

Dalam menentukan alat-alat, disamping menentukan mesin lasnya sendiri, hal yang Juga tidak kalah pentingnya adalah penentuan alat perakit atau alt antu. Alat perakit ini adalah alat-alat khusus yang memegang dengan kuat bagian-bagian yang akan dilas sehingga hasil pengelasan mempunyai bentuk yang tepat, jadi pemilihan alat Bantu yang tepat akan menentukan ketelitian bentuk akhir dan akan mengurangi waktu pengelasan. (1) Persiapan Sisi Las Setelah pentuan proses pengelasan. Maka geometri sambungan harus ditentukan dengan memperhatikan tingkatan teknikdari bagian pembuatan, sifat kemampuan dan pengerjaanya dan kemungkinan penghematan yang akhirnya tertuju pada bentuk alur pada umumnya untuk pengelasan pelat dengan tebal sampai dengan 6mm digunakan alur persegi, untuk pelat dengan tebal 6mm sampai 20mm digunakan alur V tunggal dan yang lebih tebal dengan alur V ganda atau U tunggal atau ganda dan lain sebagainya. (2) Posisi Pengelasan Dan Alat Pemegang pengelasan yang terbaik ilihat dari sudut kualitas sambungan dan efesiensi pengelasan adalah posisi datar. Karena itu dalam menentukan urutan perakitan,harus mengusahakan sejauh mungkin mengunakan posisi datar yaitu: a) memungkinkan pelaksanaan pengelasan posisi datar sebanyak-banyaknya. b) menahan dan menghalang I perubahan bentuk yang terjadi karena pengelasan atau memberikan perubahan bentuk mulauntuk mendapatkan kecepatan bentuk yang lebih tinggi. c) memperbaiki efesiensi dengan memudahkan pelaksanaan pengelasan atau memungkinkan pengelasan otomatik dalam produksi besar-besaran. (3) Las Ikat Dan Perakitan Bagian-bagian yang telah dipersiapkan kemudian distel untuk dirakit. Dalam Penyetelan Ini Seringkali bagian-bagian harus dihubungkan satu sam lain, dengan lasan pendek-pendek pada tempat-tempat yang dinamakan las ikat. Karena sifatnya sementara maka sering sekali las ikat ini dilakasanakan dengan sembarangan sehingga terjadi retak-retak dan ronga halus yang akhirnya akan menurunkan mutu lasan. Karena las ikat juga mempengaruhi kualitas maka dianjurkan agar las ikat juga harus dilaksanakan dengan baik dan oleh juru las

yang mempunyai kualifikasi yang sama dengan juru las yang akan melaksanakan seluruh pengelasan. Kalau hal ini tidak dapat dipenuhi maka sebaiknya tempattempat yang nantinya tidak di las. Las ikat juga biasanya menggunakan elektroda yang sama jenisnya dengan elektroda untuk pengelasan yang sebenarnya. (4) Pemriksaan Dan Perbaikan Alur Bentuk dan alur turut menentukan mutu lasan, karena itu pemeriksaan terhadap Ketelitian bentuk ukuranya juga harus dilakukan pada saat sebelum pengelasan, dalam hal ini yang penting adalah besarnya celah akar, yang harus sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Kalau celah akar lebih besar dari pada spesifikasi maka harus diadakan perbaikan seperlunya. Cara perbaikannya tergantung dari pada celah dan jenis sambunganya. (5) Pembersihan Alur kotoran-kotoran sperti karat, terak, minyak dan gemuk, debu, air dan lain sebagainya bila bercampur dengan logam. Las dapat menimbulkan cacat las seperti retak, lubang halus dan lain sebagainya yang dapat membahayakan kontruksi. Karena itu kotoran kotoran tersebut harus dibersihkan sebelum pelaksanaan pengelasan yang sebelumnya juga harus dibersihkan juga sebaik-baiknya. Cara pembersihan kotoran tersebut ada dua macam yaitu cara mekanik dengan menggunakan sikat kawat baja, penyemprotan pasir dan lain sebaginya, disamping itu juga cara penyemprotan dengan apipada daerah yang akan dilas dengan tujuan menguapkan api,membakar minyak dan gemuk, menghembus terak dan merupakan pemanasan mula